Anda di halaman 1dari 7

Kelainan jamur kulit mirip jerawat = Pitirosporum folikulitis

Pitirosporum folikulitis (malasezia folikulitis) merupakan penyakit yang sudah cukup


lama dikenal didunia kedokteran, khususnya dikalangan para ahli kulit, oleh karena
klinisnya mirip acne vulgaris atau jerawat. Di daerah tropis penyakit ini menarik
perhatian para dokter kulit setelah di publikasikan di korea, filipina dan Indonesia. Di
indonesia telah diteliti oleh harjandi dkk. (2000) dan indrarini (2001)
Penyakit Pitirosporum folikulitis, merupakan penyakit jamur superfisial atau mikosis
superfisial yang termasuk golongan non-dermatofitosis yaitu disebabkan oleh jenis
jamur yang tidak dapat mengeluarkan zat yang dapat mencerna keratin kulit tetapi
hanya menyerang lapisan kulit yang paling luar dan Lebih sering terjadi pada dewasa
muda.
Pityrosporum folliculitis bukanlah infeksi. Weary dkk pertama kali menjelaskan
Pityrosporum folikulitis pada tahun 1969, dan kemudian pada tahun 1973, Potter dkk
mengidentifikasi Pityrosporum folliculitis sebagai diagnosis klinis dan histologis yang
terpisah.
DEFENISI
Pitirosporum folikulitis adalah penyakit kronis pada folikel polisebasea yang disebabkan
oleh spesies pitirosporum, berupa papul (Penonjolan kulit yang solid dengan diameter <
1 cm) dan pustul folikular, yang biasanya gatal dan terutama berlokasi dibatang tubuh,
leher dan lengan bagian atas.
Pityrosporum folliculitis adalah suatu kondisi kulit yang berkembang karena jamur dalam
folikel rambut dan menyebabkan pruritus (gatal) yang papulopustules, dengan bentuk
menyerupai jerawat hanya saja pada pityrosporum folliculitis papulnya berwarna lebih
merah terang. Pustula ini terbentuk dari pertumbuhan berlebih dari jamur penyebabnya.
SINONIM
Malasezia folikulitis

ETIOLOGI ATAU PENYEBAB


Jamur penyebab adalah spesies pityrosporum yang identik dengan malassezia furfur,
penyebab pitiriasis versikolor atau panu. Spesies ini sekarang disebut sebagai
malassezia setelah ditemukan 7 spesies, sehingga penyakit yang disebabkan oleh
jamur ini atau dihubungkannya yang dahulu dinamai pitirosporosis sekarang disebut
malaseziosis.
Jamur penyebab yang sekarang disebut sebagai Malassezia khususnya Malassezia
furfur, adalah agen patogen pada Pityrosporum folliculitis. M furfur juga dikaitkan dengan
penyakit kulit lainnya, termasuk dermatitis seboroik, folikulitis, pityriasis versicolor, dan
dermatitis atopik.
SIAPA SAJA DAN BAGIAN TUBUH APA SAJA YANG TERKENA
Pitirosporum folikulitis atau Malasezia folikulitis sering terkena pada usia dewasa muda
ataupun paruh baya, paling sering terjadi pada mereka yang berusia 13-45 tahun baik
laki-laki maupun perempuan.
Kondisi ini biasanya terbentuk pada bagian atas dada dan punggung, kadang-kadang
dapat mempengaruhi daerah lain termasuk wajah, leher, lengan atas dan wajah. jamur
ini biasanya ditemukan pada kulit dan tidak menimbulkan masalah. Namun, bila
dibiarkan jamur ini tumbuh tidak terkendali, kondisi seperti Pityrosporum folliculitis dapat
berkembang. Karena tampaknya mirip dengan jerawat, kadang-kadang tidak dirawat
dengan benar.
Masyarakat yang tinggal di iklim hangat dan lembab memiliki insiden yang lebih tinggi
mengalami Pityrosporum folliculitis
FAKTOR PREDISPOSISI
Faktor eksternal

Jamur penyebab pityrosporum folliculitis atau malasezia folikulitis cenderung

tumbuh terlalu cepat di tempat yang panas, lembab, dan lingkungan yang berkeringat.

Pemakaian pakian yang ketat sehingga menyebabkan timbul keringat

Tabir surya dan pelembab berminyak dapat menutup jalan folikel.

Faktor Host atau individu

Kulit berminyak (diprovokasi oleh pengaruh hormonal)

Kegemukan

Kehamilan

Stres atau kelelahan

Penyakit Sistemik, termasuk:

Diabetes mellitus

Defisiensi imun

Obat-obatan, seperti:
Antibiotik oral spektrum luas (sering diresepkan untuk jerawat), antibiotik ini akan
menekan bakteri kulit, bakteri yang tertekan ini malahan memungkinkan jamur untuk
berkembang biak.
Steroid Oral seperti prednisone ( jerawat steroid), penggunaan steroid akan
menyebabkan imun menurun yang berakibat mudahnya terinfeksi jamur
Kontrasepsi Oral atau pilGAMBARAN KLINIS
Mallassezia folikulitis atau pitirosporum folliculitis memberikan keluhan gatal pada
tempat predeleksi, klinis morfologi terlihat papul dan pustul perifolikuler, berukuran
diameter 2-3mm, dengan peradangan minimal. Bentuknya menyerupai jerawat, karena
gatal maka akan timbul juga erupsi papular.
Tempat predeleksinya yaitu dada, punggung dan lengan atas,. Kadang-kadang terdapat
di leher dan jarang dimuka.

Mallassezia folikulitis atau pitirosporum folliculitis

Mallassezia folikulitis atau pitirosporum folliculitis

Mallassezia folikulitis atau pitirosporum folliculitis

Mallassezia folikulitis atau pitirosporum folliculitis

PATOGENESIS ATAU PERJALANAN PENYAKIT

Spesies malassezia merupakan penyebab pitirosporum folliculitis dengan sifat


dimorfik(berada dalam dua bentuk atau struktur yang berbeda), lipofilik ( membutuhkan
asam lemak yang ada dalam kulit berminyak untuk berkembang biak) dan komensal.
Jamur Malassezia yang merupakan penyebab pitirosporum folliculitis ini membutuhkan
asam lemak bebas untuk bertahan hidup. Biasanya, mereka ditemukan dalam stratum
korneum dan folliculi pilar di daerah dengan peningkatan aktivitas kelenjar sebaceous
seperti dada dan punggung.
Bila pada hospes terdapat faktor predisposisi, maka spesies malassezia akan tumbuh
berlebihan dalam folikel, sehingga folikel dapat pecah. Dalam hal ini reaksi peradangan
terhadap produk, tercampur dengan asam lemak bebas yang dihasilkan melalui aktifitas
lipase.
Perluasan folikel rambut mengarah ke letusan putih pada kulit yang mengelilingi folikel
rambut. Letusan ini juga dapat tampak merah, ini tergantung pada cuaca. Ketika folikel
banyak terinfeksi oleh jamur, maka kulit akan tampak sebagai ruam putih atau merah.
Pesatnya pertumbuhan dan multiplikasi dari jamur di wilayah folikel rambut
menyebabkan pengembangan ruam pada kulit. Kulit membentuk patch gatal dan
jerawatan.DIAGNOSIS DAN DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis Pitirosporum folikulitis didasarkan pada kecurigaan klinis dari presentasi
klasik papulopustules pruritus dalam pola folikuler ditemukan di punggung, dada, lengan
atas, dan, terkadang leher. serta jarang hadir pada wajah. Perbaikan atau pengobatan
lesi dengan terapi empirik antimycotic mendukung diagnosis klinis Pityrosporum
folliculitis. Di bawah lampu Wood, fluoresensi biru terang atau putih yang diamati pada
folikel di lokasi lesi. Diagnosa dengan biopsi juga dapat dilakukan, yang kemudian
seperti penyakit jamur umumnya di gunakan KOH 10%
Gambaran Histologis:
Dilated folikel rambut dengan sumbat keratin mengandung spora jamur
Intra-dan perifollicular inflamasi infiltrat terdiri dari neutrofil, limfosit dan histiosit
Intra-dan perifollicular musin kolam Folikel rambut bisa pecah, menghasut reaksi tubuh
granulomatosa asing
Diagnosa banding atau penyakit yang mirip, meliputi:

Akne vulgaris (jerawat)

Folikulitis bakterial

Erupsi akne formis.''

MEMBEDAKAN AKNE (JERAWAT) DENGAN PITIROSPORUM FOLIKULER


Pada Pitirosporum folikulitis tidak ada komedo atau kista berhubungan dengan
Pityrosporum folliculitis, ini berbeda dengan jerawat.
Lokasi predileksi, dimana pada Pitirosporum folikulitis jarang ditemukan dimuka,
sedangkan jerawat lebih banyak di daerah muka atau wajah
Pada jerawat atau Acne vulgaris biasanya papulnya berwarna merah lebih ungu, tapi
tidak gatal, ini berbeda dengan Pitirosporum folikulitis yang berupa papul berwarna
merah terang di sertai gatal.
Pitirosporum folikulitis tidak dapat diobati dengan obat jerawat maupun antibiotik,
melainkan harus dengan obat anti jamur.PENGOBATAN
Pengobatan dilakukan dengan mengunakan obat antijamur atau anti mikotik oral,
misalnya :
Ketokonazol 200 gr selama 2-4 minggu
Itrakonazol 200gr sehari selama 2 minggu
Flukonazol 150gr seminggu selama 2-4 minggu
Pengobatan dengan anti jamur topikal biasanya kurang efektif, walaupun dapat
menolong.
JANGAN GUNAKAN ANTIBIOTIK
Dalam beberapa kasus, penggunaan antibiotik

untuk melawan

infeksi dapat

menyebabkan pitirosporu folliculitis. Hal ini terjadi karena antibiotik dapat mengganggu
keseimbangan alami jamur dan bakteri yang hadir pada kulit, menyebabkan jamur
tumbuh di luar kendali. Dalam kasus ini, Anda dapat mengobati folikulitis Pityrosporum
dengan menghentikan pengobatan antibiotik.
DAFTAR PUSTAKA

Buku ilmu penyakit kulit dan kelamin : pitirosporum folikulitis, edisi kelima, fakultas kedokteran UI.2008:100-101

Potter BS, Burgoon CF Jr, Johnson WC. Pityrosporum folliculitis. Report of seven cases and review of the Pityrosporum organism
relative to cutaneous disease. Arch Dermatol. Mar 1973;107(3):388-91.
Levin NA. Beyond spaghetti and meatballs: skin diseases associated with the Malassezia yeasts. Dermatol Nurs. Jan-Feb
2009;21(1):7-13, 51; quiz 14.
Gaitanis G, Magiatis P, Hantschke M, Bassukas ID, Velegraki A. The malassezia genus in skin and systemic diseases. Clin Microbiol
Rev. Jan 2012;25(1):106-41.
Akaza N, Akamatsu H, Sasaki Y, et al. Malassezia folliculitis is caused by cutaneous resident Malassezia species. Med Mycol.
2009;47(6):618-24.
Jacinto-Jamora S, Tamesis J, Katigbak ML. Pityrosporum folliculitis in the Philippines: diagnosis, prevalence, and management. J Am
Acad Dermatol. May 1991;24(5 Pt 1):693-6.
Bulmer GS, Pu XM, Yi LX. Malassezia folliculitis in China. Mycopathologia. Jun 2008;165(6):411-2.
Gupta AK, Batra R, Bluhm R, Boekhout T, Dawson TL Jr. Skin diseases associated with Malassezia species. J Am Acad Dermatol. Nov
2004;51(5):785-98.