Anda di halaman 1dari 15

Kata Pengantar

Rencana Induk Pengembangan Teknologi Informasi (RIPTI) disusun dengan


tujuan, menterjemahkan rencana strategis IAIN SMH Banten, menjadi kegiatan
operasional bidang Teknologi Informasi, untuk meningkatkan kualitas pendidikan
dan pengajaran, penelitian serta pengabdian masyarakat. Selain berperan dalam
pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, Teknologi Informasi juga jadi sarana
efektif dan efisien, untuk melaksanakan prinsip Good University Governance,
dengan mendorong transparansi, membangun partisipasi sehingga memperkokoh
akuntabilitas. Upaya penyusunan RIPTI ini, hendaknya dilandasi oleh semangat
untuk meningkatkan kepuasan stakeholder perguruan tinggi (mahasiswa, orang
tua, dunia kerja, pemerintah, dosen, tenaga penunjang, serta pihak-pihak lain yang
berkepentingan), keinginan untuk menyempurnakan internal proses dan
mendorong seluruh civitas academica untuk terus belajar dan mengembangkan
diri (learn and growth).
Tangible asset berupa sarana prasarana hanyalah salah satu dari 5 indikator kinerja
penting (key performance indicator) dari borang akreditasi, yang merupakan
indikator mutu program studi. Indikator lainnya adalah tata kelola, sumber daya
manusia, keuangan, dan ketersediaan sistem informasi manajemen. RIPTI
nantinya diharapkan dapat mendeskripsikan peran Teknologi Informasi dalam :
Mendorong keberhasilan mahasiswa IAIN SMH Banten agar mampu
bersaing di pasar tenaga kerja.
Memperkokoh ciri khusus IAIN SMH Banten (differentiation) sehingga
dapat menjadi Institut pilihan masyarakat.
Mendorong peningkatan kualitas, menambah jumlah kepemilikan hak
kekayaan intelektual dan mewartakan hasil penelitian ke seluruh dunia.
Mempublikasi berbagai upaya keras yang telah dilakukan telling the
story dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran, penelitian
dan pengabdian masyarakat, dalam kerangka pembangunan citra IAIN
SMH Banten (image building).
Memperbaiki internal proses untuk meningkatkan kualitas layanan kepada
stakeholder perguruan tinggi.
Membantu upaya untuk menjamin standard mutu akademis yang tinggi di
IAIN SMH Banten.
Upaya dibidang perencanaan, pengorganisasian, pembangunan dan pengawasan
sistem informasi, tentu harus diselaraskan dengan upaya memperbaiki indikator
kinerja lainnya. Dan pada akhirnya, segala upaya tersebut, diukur dari
keberhasilan kita, dalam meningkatkan status akreditasi program-program studi,
yang tercakup dalam lingkup The Development and Upgrading IAIN SMH
Banten Project.
Dalam menyusun sebuah Information Technology Strategic Planning, kerja keras
diiringi doa saja tidaklah cukup. Diperlukan metodologi yang tepat dan kerja
keras semua pihak.
Akhir kata, tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada seluruh civitas akademika
kampus IAIN SMH Banten, dan Selamat bekerja.
Wassalamualikum Wahramatullahi Wabarakatuh,

1. LATAR BELAKANG
Dewasa ini hampir semua kampus menggunaan teknologi informasi sebagai
medai pembelajaran mahasisswa dangan dosen, sebagai media penelitian,
media publikasi dan komunikasi, berbagai bentuk teknologi informasi untuk
mendukung operasionalnya. Teknologi informasi dan komunikasi (TI)
memungkinkan dunia pendidikan tinggi membangun diferensiasi persaingan,
memperkaya lingkungan pembelajaran, dan meningkatkan keefektifian
organisasi, di samping memainkan peranan strategis dalam mendukung
prioritas pendidikan dan kegiatan lembaga pendidikan tinggi
(business.cisco.com, 2004). Teknologi informasi tidak hanya mengubah cara
yang dilakukan pada kegiatan operasional, namun juga bagaimana proses
belajar-mengajar dilakukan. Saat ini kegiatan PBM dapat dilakukan melalui
pembelajaran jarak jauh (distance learning), menggunakan teknologi
teleconference, Internet, video streaming, dan sebagainya. Untuk
meningkatkan efisiensi, banyak perguruan tinggi telah membangun jaringan
komputer untuk menghubungkan unit-unit kerja yang ada di lingkungannya
maupun dengan pihak eksternal.
Di lain pihak, sumber daya informasi tersebar di seluruh bagian organisasi.
Informasi dikirimkan dari satu bagian ke bagian lain di dalam organisasi, dan
juga antar organisasi. Akibatnya, TI sebagai sumber daya fisik sistem
informasi dan komponen sistem informasi lainnya dapat menjadi rentan
terhadap bermacam-macam gangguan di berbagai tempat sepanjang waktu.
Pada gilirannya hal ini akan mengancam keamanan sistem informasi itu
sendiri. Kerentanan ini meningkat sejalan dengan berkembangnya
pengelolaan data dan informasi dengan menggunakan jaringan (Turban, et al,
2002). Gangguan ini dapat berupa gangguan yang tidak disengaja maupun
yang disengaja. Gangguan yang tidak disengaja dapat berupa kesalahan
teknis, gangguan lingkungan, dan karena kesalahan manusia. Sementara
gangguan yang disengaja dilakukan oleh manusia untuk tujuan tertentu
(Jogiyanto, 2005).
IAIN SMH Banten telah memanfaatkan TI untuk menunjang kegiatan
akademik maupun administrasinya. Teknologi informasi dan komunikasi
telah dimanfaatkan untuk memperluas akses pendidikan sehingga
memungkinkan diselenggarakannya penyelenggaraan pembelajaran jarak
jauh, meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar maupun pelayanan
administrasi yang ada, serta untuk meningkatkan pencitraan publik IAIN
SMH Banten. Jaringan yang ada dimanfaatkan juga untuk mendiseminasikan
keberadaan IAIN SMH Banten kepada dunia, sehingga pada pertengaahan
tahun 2009 IAIN SMH Banten berhasil telah berhasil menduduki peringkat
ke-29 di Indonesia menurut pemeringkatan yang dilakukan oleh
Webometrics.
Tidak dapat dipungkiri bahwa dewasa ini TI sangat berperan di dalam
menunjang kegiatan akademik maupun non-akademik yang diselenggarakan

oleh IAIN SMH Banten di dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi.


Luasnya kampus IAIN SMH Banten dan lokasi kampus yang tersebar dalam
radius yang cukup luas sangat mempengaruhi tingkat aksessibilitas masingmasing unit atau lembaga yang ada di lingkungan kampus IAIN SMH
Banten, baik yang berlokasi di Kawasan KP3B provinsi Banten.
Pengembangan dan Implementasi TI di IAIN SMH Banten terbagi dalam
beberapa tahapan, yang terbagi dalam beberapa sub kegiatan, antara lain:
pengembangan infrastruktur, pengembangan konten, dan pengembangan
pusat data. Pengembangan infrastruktur jaringan difokuskan pada
peningkatan aksessibilitass dari fakultas, lembaga, dan unit-unit yang ada
dilingkungan IAIN SMH Banten dengan mengoptimalkan infrastruktur yang
ada sehingga setiap unit, lembaga, dan fakultas dapat terhubung dengan
jaringan internet dan intranet IAIN SMH Banten yang saat ini telah memiliki
bandwidth sebesar 2 Mbps.

2. KONDISI EKSISTING DAN PERMASALAHAN


Tujuan dari pengembangan dan implementasi teknologi informasi dan
komunikasi (TI) IAIN SMH Banten selain untuk menjamin ketersediaan
layanan jaringan kampus guna mendukung kegiatan akademik maupun nonakademik, dan sebagai gerbang diseminasi informasi mengenai IAIN SMH
Banten kepada lingkungan luar, juga diharapkan dapat memberikan
konstribusi terhadap tuntutan pengakuan global dan nasional terhadap
perguruan tinggi.
Untuk melaksanakan berbagai Kegiatan Pengembangan dan implementasi TI
di lingkungan Institut, kegiatan-kegiatan dipisahkan atas tiga kegiatan utama,
yaitu:
1) Pengembangan Jaringan;
2) Pengembangan Konten dan
3) Pengembangan Pusat Data.
Pada tahap awal kegiatan difokuskan pada kegiatan pengembangan jaringan
dan pengembangan konten, sedangkan kegiatan pengembangan pusat data
baru pada tahap evaluasi kebutuhan dan mekanisme pengumpulan data.
Selain ke tiga kegiatan tersebut, hal lain yang memerlukan perhatian adalah
peningkatan Tatakelola TI dan penyiapan SDM TI.
Guna melaksanakan pengembangan dan implementasi TI, Rektor telah
membentuk sebuah tim dengan sebutan tim pengembangan TIK, dengan
tugas dan wewenang untuk melaksanakan kegiatan pengembangan dan
implementasi TI. Selain tim pengembangan TI, IAIN SMH Banten memiliki
UPT Puskom yang memiliki tugas dan fungsi sebagai unit pengolahan data
akademik, dengan tugas tambahan sebagai pengelola jaringan internet dan
intranet institut. Rendahnya posisi strata TI dalam struktur tata kelola,
merupakan masalah tersendiri dalam pengembangan dan implementasi TI.
Sasaran utama kegiatan pengembangan jaringan adalah meningkatkan
aksessibilitas jaringan internet dan intranet IAIN SMH Banten bagi Fakultas,

Lembaga dan Unit-Unit dilingkungan kampus, sehingga setiap Fakultas,


Lembaga dan Unit-Unit dilingkungan IAIN SMH Banten dapat terhubung
dengan jaringan Institut. Saat ini hampir seluruh Fakultas di lingkungan
kampus sudah terhubung semua. Untuk ampus baru yang ada di kawasan
pemerintahan KP3B provinsi banten yang akan dibangun akan diintegrasikan
secara menyeluruh sehingga antara kampus I (di kota serang) denagn kampus
II di kawasan pemerintahan provinsi banten dapat terhubung.
Dari hasil pembacaan MRTG dapat terlihat berapa besar bandwidth yang
dikomsumsi, baik yang meninggalkan server dan masuk ke jaringan ISP,
maupun trafik yang datang ke server Institut. Dari data MRTG diperlihatkan
bahwa utilitas badwidth pada saat-saat tertentu telah mencapai utilisasi
mendekati 2 MBps. Namun demikian, dari laporan lain juga terlihat bahwa
jaringan Institut kerap mengalami kehilangan trafik, dari hasil pemantauan,
dalam bulan Januari saja peristiwa kehilangan trafik terjadi lebih dari 3 x 24
Jam. Hal ini terjadi akibat peralatan yang ada belum mecukupi dan peralatan
yang ada merupakan pengadaan peraalatan dari tahun 2004 yang semestinya
harus sudah diganti dikarenakan sudah berumur 7 tahun. Disamping
kehilangan trafik, dari catatan operasi jaringan, ditengarai adanya ketidak
sinambungan koneksi pada saat browsing atau aktifitas jaringan lain,
sehingga mengakibatkan bandwidth tersumbat. Kondisi ini diperlihatkan
dengan melambatnya akses dan atau tidak responsifnya server. Hal ini dapat
terjadi, disebabkan oleh kecilnya bandwidth yang kecil yang cuma hanya 2
Mbps dari Astinet PT. Telkom seharusnya pihak kampus menambah
bandwidh diatas 10MBps.
Dalam kegiatan pengembangan konten, dari segi layanan informasi, saat ini
telah dilakukan updating pada situs resmi IAIN SMH Banten yang beralamat
di:http://www.iainbanten.ac.id, perubahan terhadap mail server IAIN SMH
Banten, implementasi SIMKEU dan SIMAK dengan registrasi dan KHS
online. Pengembangan website IAIN SMH Banten ini kedepan harus dapat
diikuti oleh Fakultas, PPS, Lembaga dan Unit-Unit yang berada dilingkungan
IAIN SMH Banten sehingga tersusun sebuah sistem layanan informasi yang
akurat, efisien, akuntabel dan transparan. Peningkatan sistem layanan berbasis
TI akan diterapkan pada semua sistem layanan mulai dari layanan akademik,
keuangan, aset dan lainnya.
Untuk mendukung terselenggaranya kegiatan, Tim Pengembangan TI telah
melaksanakan beberapa workshop dan pelatihan untuk meningkatkan
kemampuan individu yang akan terlibat secara langsung dalam kegiatan ini,
namun demikian rendahnya keterlibatan pengambil keputusan di tingkat
fakultas, terbatasnya akses point dan jumlah tenaga terampil yang mengusai
bidang TI menyebabkan kegiatan ini belum dapat dilaksanakan sesuai tenggat
waktu yang diberikan. Dalam penerapan SIMAK, baik dalam proses registrasi
online maupun KHS online belum seluruh mahasiswa dapat
melaksanakannya secara penuh, dari hasil evaluasi yang dilakukan oleh Tim
hal ini terjadi karena terbatasnya informasi yang diterima mahasiswa,
kurangnya dukungan dari Fakultas, dan ketidaksiapan petugas lapangan pada
saat sistem mengalami gangguan. Diharapkan pada semester Genap

2011/2012 ini, implementasi SIMAK dan SIMKEU telah dapat berjalan


sesuai dengan fungsinya, sebagian besar tenaga akademik IAIN SMH Banten
sudah memiliki email account dari mail server IAIN SMH Banten, dan
sebagian mahasiswa juga mendapat email account masing-masing, terutama
bagi mahasiswa angkatan 2010 dan 2011, dan setiap Fakultas, PPS, Lembaga
dan Unit-Unit dilingkungan IAIN SMH Banten memiliki website sendiri
yang dapat di link dengan website IAIN SMH Banten.
Disamping permasalahan diatas, disisi lain ditemukan fakta-fakta dan
persoalan lain yang terungkap, antara lain:
1. Rendahnya aware dan belum dipahaminya tanggung jawab dan peran
masing-masing Fakultas/Unit kerja dalam mendukung pelaksanaan
layanan dan pengembangan TI.
2. Belum tersedianya Rencana pengembangan TI pada level strategis atau
detil, termasuk roadmap dan portofolio proyek TI kedepan, rencana
pengembangan TI hanya ada dan terbatas pada level Institut.
3. Belum adanya buku pedoman yang mengatur prosedur operasi standar
layanan pengaduan gangguan dan perbaikan.
4. Mekanisme penyelesaian konflik terkait perencanaan, pertukaran data dan
penyediaan sumber daya belum ditetapkan.
5. Mapping kebutuhan arsitektur aplikasi belum mengacu kepada mapping
kebutuhan infrastruktur.
6. Pengembangan Arsitektur Infrastruktur belum berorientasi pada pengadaan
teknologi dan sistem informasi terbaru.
7. Masih rancu dan tidak jelasnya Tatakelola TI
8. Terbatasnya SDM TI yang tersedia.

3. PERBAIKAN DAN PEMECAHAN MASALAH


Mengacu pada permasalahan dan fakta-fakta yang terungkap dalam
pengembangan dan implementasi TI diatas, agar tujuan pengembangan dan
implementasi dapat berjalan sesuasi dengan sasaran, berbagai program dan
kegiatan percepatan implementasi dan pengembangan perlu dilakukan.
Adapun program dan kegiatan yang perlu segera dilaksanakan, antara lain:
1. Melaksanakan assesment menyeluruh terhadap keberadaan TI.
2. Merealisasikan segera struktur Tata Kelola TI, dan menyusun buku
pedoman prosedur operasi standar layanan gangguan dan perbaikan.
3. Merealisasikan segera perbaikan dan peningkatan infrastruktur pendukung
layanan TI, seperti sistem pengaman internal dan eksternal menara dan
perangkat TI lainnya, dan pengoperasian sistem cadangan daya.
4. Merealisasikan segera kebutuhan peralatan kerja Helpdesk layanan TI.
Diharapkan dengan terlaksananya percepatan program dan kegiatan diatas,
permasalahan dan fakta-fakta yang terungkap saat dapat segera dapan
diminimalisasi sehingga pengembangan dan implementasi TI dapat berjalan
sesuai dengan rencana. Adapun kegiatan yang dapat dilaksanakan segera,
adalah:

A. Self Assement
Selain pengakuan global, kredibilitas perguruan tinggi dalam perspektif
nasional juga mempertimbangkan apakah perguruan tinggi terkait memiliki
kredibilitas yang baik dalam perspektif industri partner atau masyarakat
secara luas. Selain adopsi TI untuk layanan utama (seperti pendidikan,
administrasi pendidikan, penelitian & kemitraan dan manajemen organisasi)
dan layanan pendukung, TI juga diadopsi dengan tipikal tambahan lainnya.
Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana merealisasikan keselarasan TI
dengan kebutuhan IAIN SMH Banten. Bagaimana otoritas untuk sumberdaya,
risiko, resolusi konflik, dan tanggung jawab untuk TI di-share di antara unit
kerja, partner-partner organisasi, manajemen TI dan penyedia jasa. Termasuk
juga di sini isu seleksi dan prioritisasi proyek-proyek TI.
Untuk menjawab, semua pertanyaan diatas, perlu dilakukan self assessment
sehingga kita dapat mengetahui pada posisi mana IAIN SMH Banten berada.
Self Assessment yang dilaksanakan dapat dilakukan dengan menggunakan
instrumen yang sudah dikembangkan dalam COBIT Quickstart 2nd Edition.
Selain itu, untuk mengetahui daya dukung dan ketersediaan infrastruktur TI
yang ada saat ini perlu juga dilaksanakan Re-assessing the Existing Network
and Identifying Customer Objectives yang dapat dilakukan secara bersama
antara tim pengembangan TI, UPT Puskom, dan PT. Telkom tbk atau pihak
lainnya.

A.1. Struktur Tata Kelola TI


Permasalahan umum yang terjadi pada Tata Kelola TI, umumnya
disebabkan beberapa hal, antara lain:
1. Posisi TI memiliki strata dibawah Unit lainnya.
2. Tidak ada standar-standar TI
3. SDM yang sangat terbatas
Untuk dapat merealisasikan IT Leadership, salah satu cara adalah
merealisasikan fungsi komisi TI. Pendekatan ini dapat menutupi
permasalahan utama sulitnya mereposisi TI pada posisi yang paling ideal,
dengan demikian rancangan tata kelola TI yang diusulkan adalah sebagai
berikut:
1. Komisi Pengarah TI, peran utamanya menetapkan Renstra TI dan Cetak
Biru TI.
2. Komisi Kerja TI, peran utamanya sebagai penyusun kebijakan TI
3. CIO (Chief Information Officer). Keberadaan CIO ditujukan untuk
memastikan kepemimpinan TI institusi yang memadai dalam
mengeksekusi berbagai agenda strategis TI dalam rangka mendukung
obyektif strategis institusi.
4. Struktur Internal Organisasi TI, dalam hal ini peningkatan tugas dan fungsi
UPT Puskom IAIN SMH Banten.
5. Staf SI/TI dilingkungan Fakultas/Unit Kerja lainnya.

A.2. Komisi Pengarah TI

Peran komisi pengarah TI yaitu:


1) Menetapkan Rencana Strategis TI dan Cetak Biru TI;
2) Mereview dan memberikan persetujuan Rencana TI Institut
(khususnya yang bersifat strategis) yang mengakomodir
kepentingan seluruh stakeholder melalui penetapan cetak biru TI;
3) Melakukan evaluasi secara berkala atas keberjalanan inisiatif TI
strategis dan ketercapaian benefit nya;
4) Menetapkan Kebijakan dan SOP TI yang telah direview oleh
Komite Kerja TI.
Keanggotaan
Ketua: Rektor
Anggota: ( Pembantu Rektor I, Pembantu Rektor II dan Pembantu
Rektor III)
Deskripsi Umum
Komite Pengarah TI bertemu minimal 6 bulan sekali, selain pertemuan
on demand yang dapat diselenggarakan sesuai kebutuhan berdasarkan
permintaan dari Rektor, Pembantu Rektor atau Komite Kerja TI;
Topik yang menjadi pembahasan dalam pertemuan Komite Pengarah TI
di antaranya adalah:
1) Review dan persetujuan Rencana TI Strategis (dan perubahannya
jika ada) yang akan ditetapkan oleh Rektor;
2) Review dan persetujuan Rencana TI Tahunan (dan perubahannya
jika ada) yang akan ditetapkan oleh Rektor;
3) Evaluasi program TI strategis dan pencapaian target benefitnya;

A.3.3 Komisi Kerja TI


Peran Komisi Kerja TI adalah melakukan review akhir atas Rencana
Strategis TI, Cetak Biru TI, Rencana Tahunan TI dan kebutuhan
aplikasi bisnis oleh seluruh unit kerja.
1) Melakukan evaluasi berkala atas dukungan TI kepada seluruh
stakeholder.
2) Menjadi clearing house bagi penyelesaian masalah-masalah
eksekusi program-program TI, khususnya antara UPT Puskom dan
unit-unit kerja.
3) Melakukan review akhir atas kebijakan dan SOP TI yang disiapkan
oleh UPT Puskom, untuk selanjutnya akan ditetapkan oleh Komite
Pengarah TI atau Rektor.
Keanggotaan
Ketua: Pembantu Rektor I
Anggota: ( Kepala UPT Puskom, Perwakilan UPT, Perwakilan BiroBiro,
Perwakilan
Fakultas/Lembaga/Badan-Badan,
Perorangan karena kepakaran)
Deskripsi Umum
Komite Kerja TI bertemu minimal 3 bulan sekali, selain pertemuan on
demand yang dapat diselenggarakan sesuai kebutuhan berdasarkan
permintaan dari Wakil Rektor I, UPT Puskom atau unit kerja terkait;

Topik yang menjadi pembahasan dalam pertemuan Komite TI di


antaranya adalah:
1) Review permintaan kebutuhan akan sistem TI oleh bagian bisnis
lain kepada TI, khususnya untuk permintaan yang bersifat
strategis dan akan memerlukan sumberdaya yang signifikan;
2) Evaluasi rutin seluruh implementasi inisiatif TI yang telah
direncanakan sebelumnya;
3) Evaluasi rutin indeks kepuasan stakeholder atas layanan TI.

B. Re-Organisasi struktur UPT Puskom


Tidak ada satu struktur yang fit for all, sehingga tiap PT harus melakukan
modifikasi disesuaikan dengan kebutuhan dan batasan-batasan yang ada.
Yang juga harus menjadi pertimbangan dari awal adalah apakah
diperlukan staff SI/TI di tiap fakultas atau unit kerja lain? Dan bagaimana
mekanisme pertanggungjawaban dan koordinasi antara Unit Pengelola TI
dengan staff SI/TI di tiap unit kerja tersebut?
Mengacu pada model pengembangan dan implementasi TI serta tugas
dan fungsi UPT Puskom, maka struktur UPT Puskom ke depan di
usulkan sebagai berikut
1. Kepala UPT Puskom,
2. Divisi Pengembangan Sistem, dengan tugas dan fungsi
melaksanakan pengembangan aplikasi, pemberian technical
3. Divisi Operasi Sistem
4. Divisi Layanan
Setelah dilakukan estimasi kebutuhan SDM TI dalam struktur organisasi
TI, cetak biru Tata Kelola TI juga harus menetapkan program
pengembangan SDM TI. Program pengembangan SDM TI dapat merujuk
pada value chain kompetensi TI.
1) Pengembangan aplikasi-aplikasi, baik secara inhouse atau kerjasama
dengan pihak ketiga
2) Pemberian technical support atas aplikasi atas eskalasi dari IT
Helpdesk
3) Pemeliharaan aplikasi dan perubahannya
4) Pengelolaan rutin infrastruktur jaringan, server dan data center
5) Pengelolaan keamanan TI jaringan
6) Pengelolaan backup data aplikasi kritikal
7) Pelaksanaan Technical Support atas infrastruktur atas eskalasi dari IT
Helpdesk
8) Penyelenggaraan training TI untuk civitas, baik yang mendukung
kurikulum atau di luar kurikulum
9) Pelaksanaan fungsi IT Helpdesk
10) Pelaksanaan Desktop Services untuk pengguna
Gambar 3. Struktur Organisasi UPT Puskom dan tusi masing-masing divisi

Puskom terbentuk berdasarkan : Kepmen No.05 Tahun 2005 Ortaker dan


Kepmen No.34 Tahun 2008 tentang Statuta IAIN SULTAN MAULANA HASANUDDIN
BANTEN
A. Pusat Komputer menurut Pasal 58 yaitu :
(1) Pusat Komputer adalah Unit Pelaksana Teknis di bidang
pengembangan sistem informasi Institut serta pendidikan dan layanan
komputer, dipimpin oleh Kepala yang diangkat oleh dan
bertanggungjawab kepada Rektor.
(2) Struktur organisasi dan uraian tugas Pusat Komputer ditetapkan
dengan Keputusan Rektor.
(3) Pembinaan teknis Pusat Informasi dan Komputer dilakukan oleh
Pembantu Rektor Bidang Akademik.
B. Untuk melaksanakan Tugas Pusat Komputer tersebut, bagian Pusat
Komputer menyelenggarakan tugas :
1) Penyusunan rencana dan program kerja;
2) Penyusunan rencana dibidang Pusat Komputer dan ICT;
3) Pelaksana pengadaan dan pengembangan sistem informasi OnLine;
4) Pelayanan jasa konsultasi dan penyelenggaraan pelatihandi bidang komputer baik di
dalam lembaga kampus IAIN SMH Banten atau antar lembaga perguruan tinggi;
5) Penelitian dan Pengembangan Teknologi Informasi dan Komputer.
6) Pelaksana program pengembangan Website kampus;
7) Pelaksana koordinasi tugas-tugas sub bagian;
8) Pelaksana pemberian petunjuk dan bimbingan bagi pelaksana tugas masing-masing;
9) Pelaksana penilaian prestasi dan proses penyelenggaraan kegiatan serta penyusunan
laporan.
Struktur Organisasi

C. Topologi ICT IAIN SMH Banten

ISP ASTINET

Modem ASTINET

Mikrotik RB 1100

Switch WAN

Mikrotik RB 450
Router
Mikrotik
118.97.72.13

Database
Server

Router
Fakultas
192.168.7.1/29

DNS & Web Server


118.97.72.10
IP PUBLIC

Proxy Server
118.97.72.12

Switch LAN

Router
Rektorat
192.168.0.1/29

Router
UKM + Mahasiswa

Mikrotik RB 1100
1. Tarbiyah &
Adab
2. Syariah &
Ekonomi
Islam
3. Ushuludin
& Dakwah

Mail Server
118.97.72.11

1. Rektorat
2. Puskom
3. Perpus
4. LBB
5. Lab. Kom

Keterangan :
1. Server disusun dalam Rackmount
2. Router Mnimal Mikrotik / Linux. Maksimal CISCO.
3. Operating Sistem Server LINUX (Open Source).
4. Untuk koneksitas cepat dan stabil agar
menggunakan Fiber Optic / UTP Out Dor.

1. BEM
2. Kopma
3. Gema
4. PMI
5. Laptop
Mahasiswa
6. Dll

Wireless
AP

TOWER WAN

D. Menara dan Sistem Proteksi Terpasang


Untuk mengurangi kemungkinan kegagalan operasi dan kerusakan
peralatan dipandang perlu untuk sesegera mungkin membangun ulang
menara dan sistem proteksi yang optimum sehingga kerusakan pada
peralatan dapat dihindarkan. Sistem proteksi yang dibangun harus
mengikuti prosedur seperti dibawah ini:
Ruang Lingkup Pekerjaan
Survey sitem prtokesi petir yang ada
Desain sistem proteksi petir yang baru
Perencanaan Sistem Proteksi Petir
Konsep Zona Proteksi
D.1. Konsep Perencanaan Yang Diminta
Konsep dasar desain sistem proteksi yang diajukan dalam laporan ini
mengacu pada standar IEC 61024 - 1 tentang proteksi terhadap
sambaran petir, IEC 1312 tentang proteksi terhadap impuls
elektromagnetik, serta standar Amerika NFPA 780 tentang Proteksi
Petir. Menurut standar IEC, daerah yang ditempati personil dan
peralatan dibagi dalam zona-zona proteksi sebagai berikut:
a. Zona 0A : daerah dengan kemungkinan disambar petir langsung.
b. Zona 0B : daerah yang terlindung dari bahaya sambaran
langsung, namun mendapat pengaruh impuls elektromagnetik
seperti sambaran petir langsung.
c. Zona 1 : daerah yang terlindung dari bahaya sambaran petir
langsung, namun mendapat pengaruh elektromagnetik yang
teredam struktur bangunan.
d. Zona 2 : zona dalam zona 1 yang mendapat tambahan
perlindungan seperti kabinet.
e. Zona 3 : zona dalam zona 2 dengan mendapat tambahan
perlindungan seperti casing atau shielding lainnya.
Konsep dasar desain sistem proteksi mengacu pada standar IEC
61024 - 1 tentang proteksi terhadap sambaran petir, IEC 1312
tentang
proteksi
terhadap
impuls
elektromagnetik.
Konsep umum sistem proteksi petir menurut standar IEC 1024 - 1
dan IEC 1312 dikelompokan menjadi 2 komponen:
a. Proteksi eksternal untuk mencegah bahaya sambaran petir
langsung pada personil, struktur dan peralatan. Dengan kata lain
membuat zona 0B dari zona 0A. Proteksi ini dilaksanakan
dengan memasang finial udara, down conductor, dan sistem
grounding.
b. Proteksi internal untuk mencegah bahaya impuls elektromagnetik
pada peralatan akibat sambaran petir, atau membentuk zona 1
dan seterusnya.
Proteksi ini dilaksanakan secara bertingkat pada tiap zona proteksi
dengan cara:

a. Shielding dan manajemen rute kabel Bonding semua komponen


metal dalam zona proteksi
b. Pemasangan arrester pada semua saluran listrik dan data yang
masuk dari zona yang lebih rendah dibagian luar
struktur/bangunan ke zona yang lebih tinggi di bagian dalam.
Selanjutnya sistem proteksi petir diimplementasikan dengan
mempertimbangkan Kerugian ekonomis akibat sambaran petir yang
dirinci sebagai berikut:
a. Kerugian akibat perbaikan yang harus dilaksanakan.
b. Kerugian akibat tidak berfungsinya peralatan.
c. Kerugian akibat hilangnya material.
d. Kerugian akibat hilangnya keuntungan.
Selanjutnya sistem proteksi petir diimplementasikan dengan
mempertimbangkan dua macam resiko:
a. Resiko ekonomis
b. Resiko teknis
Proteksi Terhadap Bahaya Sambaran Langsung Gedung atau struktur
yang ditempati peralatan elektronik sensitif seperti sentral radio,
telekomunikasi, dan pusat komputer harus diamankan dari bahaya
sambaran langsung serta bahaya ikutannya berupa impuls
elektromagnetik. Dalam hal ini sistem proteksi eksternal harus
dilaksanakan sedemikian rupa sehingga persoalan-persoalan berikut
dapat diperkecil.
Sistem grounding yang terintegrasi diimplementasikan sedemikian
rupa sehingga arus petir cepat terdissipasi tanpa menimbulkan
kenaikan tegangan yang membahayakan peralatan dan personil,
Grounding untuk menyalurkan arus petir secara efektif sebaiknya
menggunakan banyak saluran/paralel dan sependek mungkin.
Kombinasi antara grounding ring, grounding radial, dan driven rod
diprioritaskan untuk instalasi-instalasi sensitif. Grounding petir, jika
karena suatu alasan tidak boleh dihubungkan dengan grounding lain,
maka dibonding satu sama lain menggunakan spark gap.

E. Cadangan Daya yang dibutuhkan


Masalah ketersedian energi listrik merupakan persoalan krusial di
kampus IAIN SMH Banten kampus I (kota serang), seringnya terjadi
pemadaman aliran listrik baik karena perbaikan rutin, maupun gangguan
sudah mencapai tahap kritis bagi pengoperasian jaringan internet dan
intranet IAIN SMH Banten, ketersedian UPS dipandang sudah tidak
memadai dibandingkan dengan lamanya waktu pemadaman yang terjadi,
oleh karena itu dibutuhkan cadangan daya untuk menjaga kontinuitas
layanan jaringan. Saat ini IAIN SMH Banten telah memiliki Genset,
namun pengelolaan dan penanganan Genset perlu pengaturan khusus.

DAFTAR PUSTAKA
Jogiyanto, Prof. Dr. 2005. Sistem Teknologi Informasi. Yogyakarta: Penerbit Andi
Turban, Efraim; McLean; Wetherbe; & James. 2002. Information Tehcnology for
Management: Transforming Business in The Digital Economy. USA: John Wiley