Anda di halaman 1dari 148

KAJIAN

AN EKONOMI REGIO
IONAL
JAWA TIMUR

TRIWULAN II - 2013

KANTOR
R PERWAKILAN BANK IND
NDONESIA
WILAYAH IV

Penerbit :
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV
Divisi Kajian Moneter
Jl.Pahlawan No.105
SURABAYA
Telp. : 031-3520011 psw. 8301/8258
Fax
: 031-3554178
Email : kke_sby@bi.go.id

Bahan soft copy dari kajian ini dapat di download pada web BI (http://www.bi.go.id)

Visi, Misi dan Nilai Strategis


Bank Indonesia
Misi Bank Indonesia
ia :
Mencapai dan memelihara
m
kestabilan nilai rupiah melal
lalui pemeliharaan
kestabilan moneterr dan sistem keuangan untuk mendukun
ng pembangunan
nasional yang berkes
esinambungan.

Visi Bank Indonesia


ia :
Menjadi bank sent
ntral yang kredibel secara nasional maup
upun internasional
melalui penguatan n
nilai-nilai strategis serta pencapaian inflasi
si yang rendah dan
stabil.

Nilai Nilai Strategi


gis :
Kompetensi Intergr
gritas Transparansi Akuntabilitas Keber
ersamaan.

Visi dan Misi


Kantor Perwaki
kilan Bank Indonesia Wilayah IV
V (Jawa Timur)
Misi Kantor Kanto
tor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV
IV::
Mendukung pen
ncapaian kebijakan Bank Indonesia dii bidang moneter,
perbankan

dan

sistem

pembayaran

secara

efisien

dan
da

optimal

serta

memberikan saran
n kepada Pemda dan lembaga terkait lainn
nya di daerah dalam
rangka mendukung
ng pembangunan ekonomi daerah.

akilan Bank Indonesia Wilayah IV:


IV:
Visi Kantor Perwak
Menjadi kantor Bank Indonesia yang dapat dipercaya di daerah melalui
peningkatan peran
ran dalam menjalankan tugas-tugas Ban
ank Indonesia yang
diberikan.

KATA PENGANTAR
Pertama-tama kam
mi panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan
n Yang Maha Esa
atas rahmat dan hidayah--Nya sehingga Kajian Ekonomi Regional Provi
vinsi Jawa Timur
Triwulan II - 2013 dapat dis
diselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Kajia
jian triwulanan ini
disusun untuk memenuhi
hi kebutuhan informasi bagi stakeholders eks
ksternal maupun
internal yang terkait den
ngan perkembangan perekonomian, perbank
nkan dan sistem
pembayaran di Jawa Timur
ur baik pada triwulan dimaksud maupun prospeek ke depan.
Secara garis besa
sar, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pad
ada triwulan ini
mencapai kinerja yang membanggakan sebesar 6,97% (yoy), leb
lebih tinggi dari
pertumbuhan ekonomi n
nasional (5,81%) maupun provinsi lainnya di Pulau Jawa.
Sementara laju inflasi Jaw
awa Timur di triwulan II-2013 mulai kemba
bali kepada pola
normalnya di level 5,93% (yoy), meskipun lebih tinggi dibandingkan nasional
na
(5,90%).
Di sisi lain, kinerja kreditt perbankan
p
sebagai salah satu penopang sum
mber pendanaan
perekonomian Jawa Timu
ur, mencatatkan pertumbuhan sebesar 26,1
,16% (yoy) lebih
tinggi dari nasional yang tu
tumbuh sebesar 20,77% untuk Bank Umum.
Kinerja pertumbuh
han ekonomi Jawa Timur pada triwulan III-201
013 diperkirakan
lebih tinggi dari triwulan sebelumnya
se
di kisaran 6,95% - 7,15% (yoy), did
didukung dengan
peningkatan kredit perban
ankan di level 26,5%, meskipun dibayangi la
laju inflasi yang
tinggi dengan proyeksi dii kkisaran 8,20% - 8,50% (yoy).
Analisa kajian inii didasarkan pada data dan informasi yang
g diperoleh dari
berbagai pihak seperti perb
erbankan, instansi pemerintah daerah, BUMN maupun
m
swasta.
Atas kerjasama tersebutt kami mengucapkan terima kasih yang se
sebesar-besarnya.
Harapan kami, hubungan kkemitraan yang terjalin selama ini dapat lebih
ih ditingkatkan di
masa yang akan datang.. Kami juga mengharapkan masukan dan sar
aran untuk lebih
meningkatkan kualitas kajia
jian sehingga dapat memberikan manfaat yang
ng optimal.
Semoga Tuhan Y
Yang Maha Pemurah selalu memberikan kekuatan dan
kemudahan kepada kitaa semua dalam memberikan kontribusi yan
ng terbaik bagi
masyarakat Jawa Timur pad
ada khususnya dan Indonesia pada umumnya.
Surabaya, 13 Ag
gustus 2013
KEPALA PERWAKILAN BAN
ANK INDONESIA
WILAYAH IV (JAW
WA TIMUR)

Mohamad
ad Ishak
Direktur Eksekutif
Ek

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

ii

DAFTAR TABEL

iii

DAFTAR GRAFIK

iv

RINGKASAN EKSEKUTIF

ix

INDIKATOR MAKRO EKONOMI JAWA TIMUR

xiii

INDIKATOR PERBANKAN JAWA TIMUR

xiv

DAFTAR ISTILAH

xv

DAFTAR SINGKATAN
BAB 1

xviii

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL


1.1 KONDISI UMUM

1.2 SISI PERMINTAAN

a.

Konsumsi

b.

Investasi

c.

Ekspor - Impor

11

1.3 SISI PENAWARAN

BAB 2

BAB 3

13

a.

Sektor Perdagangan, Hotel & Restoran

16

b.

Sektor Industri Pengolahan

18

c.

Pertanian

19

d.

Keuangan, Persewaan dan Jasa

21

e.

Bangunan

23

f.

Pengangkutan dan Komunikasi

24

PERKEMBANGAN INFLASI

26

2.1 KONDISI UMUM

26

2.2 INFLASI BULANAN (mtm)

27

2.3 INFLASI TRIWULAN (qtq)

31

2.4 INFLASI TAHUNAN (yoy)

36

2.5 INFLASI MENURUT KOTA

38

2.6 DISAGREGASI INFLASI

40

PERKEMBANGAN PERBANKAN &SISTEM PEMBAYARAN


3.1 PERKEMBANGAN KINERJA BANK UMUM

47
48

3.1.1.

ASET DAN AKTIVA PRODUKTIF

50

3.1.2.

DANA PIHAK KETIGA (DPK)

52

3.1.3.

KREDIT

55

3.1.4

KREDIT USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (UMKM)

60

3.1.5

KREDIT USAHA RAKYAT (KUR)

62

3.2 STABILITAS SISTEM PERBANKAN


3.2.1.

63

RISIKO KREDIT

64

ii

3.3 PERBANKAN SYARIAH

66

3.4 BANK PERKREDITAN RAKYAT (BPR)

68

3.5 BANK BERKANTOR PUSAT DI SURABAYA

71

3.6 PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN

74

3.6.1

TRANSAKSI KEUANGAN TUNAI

74

a.

Aliran Uang Masuk/Keluar (inflow/Outflow)

74

b.

Uang Kartal Tidak Layak Edar

76

3.6.2

TRANSAKSI KEUANGAN SECARA NON TUNAI

77

a.

Transaksi RTGS (Real Time Gross settlement)

77

b.

Transaksi Kliring

79

3.7 PENEMUAN UANG PALSU DI JAWA TIMUR

80

BOKS 1 SHORT TERM RESPONSE KEBIJAKAN LTV DI JAWA TIMUR


BAB 4

BAB 5

PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH

85

4.1

UMUM

85

4.2

ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR

85

4.2.1

Anggaran Pendapatan Daerah

86

4.2.2

Realisasi Pendapatan Daerah

87

4.2.3

Anggaran Belanja Daerah

89

4.2.4

Realisasi Belanja Daerah

90

KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

92

5.1 UMUM

92

5.2 KETENAGAKERJAAN

92

5.2.1

Data Ketenagakerjaan Jawa Timur

92

5.2.2

Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU)

95

5.3 KESEJAHTERAAN MASYARAKAT PEDESAAN

96

5.3.1

Kesejahteraan Petani

97

5.3.2

Kesejahteraan Nelayan

98

5.4 PROFIL KEMISKINAN JAWA TIMUR

99

BOKS 2DAMPAK KENAIKAN HARGA BBM DAN PEMBERIAN BLSM PADA KEMISKINAN DI JAWA TIMUR

BAB 6

PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA

108

6.1 PERKIRAAN PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TIMUR

108

6.2 PERKIRAAN INFLASI JATIM

110

6.3 PROSPEK PERBANKAN JAWA TIMUR

111

6.4 PROSPEK EKONOMI JAWA TIMUR TAHUN 2013

112

iii

DAFTAR TABEL
Tabel 1.1

Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi Kawasan Jawa

Tabel 1.2

Pertumbuhan Ekonomi Sisi Jawa Timur Sisi Permintaan Provinsi Jatim

Tabel 1.3

Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur Sisi Penawaran

14

Tabel 1.4

Pertumbuhan Ekonomi Sektor Pertanian


Inflasi Triwulan I Tahun 2013 & Triwulan II 2013 di Jawa Timur (mtm)

19
28

Tabel 2.1
Tabel 2.2
Tabel 2.3

Inflasi & Sumbangan Inflasi di Jawa Timur (qtq)

32

Inflasi Jawa Timur (yoy) Per Kelompok Barang

36

Tabel 2.4

Inflasi 7 Kota di Jawa Timur

38

Tabel 2.5

Inflasi 7 Kota di Jawa Timur per Kelompok Barang & Jasa Triwulan II - 2013 (%yoy)

39

Tabel 2.6

Sumbangan Inflasi 7 Kota di Jawa Timur per Kelompok Barang & Jasa Triwulan II-2013
(%yoy)

40

Tabel 2.7

Perkembangan Kapasitas Utilisasi Industri Pengolahan

43

Tabel 3.1

Perkembangan Indikator Perbankan ( Bank Umum & BPR ) di Jawa Timur

47

Tabel 3.2

Perkembangan Indikator Bank Umum di Jawa Timur

48

Tabel 3.3

Perkembangan NPL per Kelompok Bank

64

Tabel 3.4

Perkembangan Indikator Bank Perkreditan Rakyat di Jawa Timur

69

Tabel 3.5

Perkembangan Indikator Bank Berkantor Pusat Di Surabaya

71

Tabel 3.6

Perkembangan Arus Uang Tunai (Inflow-Outflow) Kantor Bank Indonesia

75

Tabel 3.7

Perputaran Kliring dan Tolakan Cek, Bilyet Giro Tw.I - 2013

79

Tabel 4.1

Anggaran Pendapatan Daerah Prop. Jatim Triwulan I - 2013 (Juta Rupiah)

86

Tabel 4.2

Realisasi Anggaran Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Timur Tahun 2013 (Juta Rupiah)

87

Tabel 4.3

Anggaran Belanja Daerah Provinsi Jatim Tahun 2013 (Juta Rp)

89

Tabel 4.4

Realisasi Anggaran Belanja Daerah Provinsi Jatim Tahun 2013 (Juta Rp)

91

Tabel 5.1

Kondisi Ketenagakerjaan di Jawa Timur (2008 - 2012)

93

Tabel 5.2

Survei Kegiatan Dunia Usaha SKDU Jawa Timur

96

Tabel 5.3

Garis Kemiskinan, Jumlah & Presentase Penduduk Miskin Menurut Daerah

100

Tabel 6.1

Tendensi Arah Inflasi dan Faktor Resiko

110

Tabel 6.2

Tendensi Arah Inflasi dan Faktor Resiko

114

iv

DAFTAR GRAFIK
Grafik 1.1

Kontribusi PDRB Sektoral Prov. Jawa Timur

Grafik 1.2

Kontribusi PDRB Sisi Permintaan Prov. Jawa Timur

Grafik 1.3

Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi Prov. Jawa Timur

Grafik 1.4

Struktur Perekonomian Prov. Jawa Timur

Grafik 1.5

Sisi Permintaan PDRB Prov. Jawa Timur

Grafik 1.6

Sisi Permintaan PDRB Prov. Jawa Timur

Grafik 1.7

Indeks Penjualan Eceran

Grafik 1.8

Konsumsi Listrik Rumah Tangga

Grafik 1.9

Perkembangan Kredit Konsumsi

Grafik 1.10

Dana Simpanan Perbankan Perorangan

Grafik 1.11

Survei Konsumen Keyakinan Konsumen

Grafik 1.12

Survei Konsumen - Kondisi Erkonomi Saat ini

Grafik 1.13

Perkembangan PMTB

Grafik 1.14

InfraStruktur Transportasi Jawa Timur

Grafik 1.15

Infrastruktur Pendukung Sektor Industri Pengolahan

Grafik 1.16

Perkembangan Jumlah Proyeksi Investasi

Grafik 1.17

Perkembangan Nilai Proyek Investasi

Grafik 1.18

Perkembangan Kredit Investasi

10

Grafik 1.19

Perkembangan Volume Penjualan semen

11

Grafik 1.20

Perkembangan Impor Barang Modal

11

Grafik 1.21

Perkembangan Kinerja Ekspor Jatim

12

Grafik 1.22

Perkembangan Kinerja Ekspor Luar negeri Jatim

12

Grafik 1.23

Perkembangan Nilai Ekspor per Jenis Barang

12

Grafik 1.24

Pertumbuhan Ekspor per jenis barang

12

Grafik 1.25

Perkembangan Nilai Ekspor

13

Grafik 1.26

Perkembangan Nilai Impor

13

Grafik 1.27

Nilai Impor per Jenis Barang

13

Grafik 1.28

Pertumbuhan Impor per jenis Barang

13

Grafik 1.29

Pertumbuhan tiga sektor utama

14

Grafik 1.30

Pertumbuhan Sektor pendukung

14

Grafik 1.31

Pertumbuhan Sektor pendukung

14

Grafik 1.32

Utilisasi kapasitas produksi

15

Grafik 1.33

Utilisasi kapasitas produksi sektoral

15

Grafik 1.34

Indeks realisasi Usaha

16

Grafik 1.35

Indeks realisasi Usaha Sektoral

16

Grafik 1.36

Tingkat Hunian Kamar Hotel Berbintang di Jatim

17

Grafik 1.37

Lama Tinggal tamu di Hotel Berbintang di Jatim

17

Grafik 1.38

Jumlah Wisatawan Asing Melalui bandara Juanda

17

Grafik 1.39

Konsumsi Listrik Golongan Bisnis

17

Grafik 1.40

Pertumbuhan Sektor Industri Pengolahan

18

Grafik 1.41

Pertumbuhan Produksi Pengolahan

18

Grafik 1.42

Perkembngan Pertumbuhan Impor barang Bahan Baku

19

Grafik 1.43

Konsumsi Listrik Golongan industri

19

Grafik 1.44

Luas Lahan Tanam dan Panen Padi

21

Grafik 1.45

Luas Lahan Tanam dan PanenJagung di Jatim

21

Grafik 1.46

Luas Lahan Puso di Jatim

21

Grafik 1.47

Pertumbuhan Kredit & DPK Perbankan Jatim

22

Grafik 1.48

Perkembngan NIM Perbankan Jatim

22

Grafik 1.49

Perkembangan Fee Based Incame

22

Grafik 1.50

Perkembangan Interest Based Income

22

Grafik 1.51

Perkembangan Pendapatan Biaya Operasional Bank Umum

22

Grafik 1.52

Pertumbuhan Sektor Pendukung

23

Grafik 1.53

Volume Penjualan semen di jatim

23

Grafik 1.54

Rata-Rata Pembangunan Properti Residensial

23

Grafik 1.55

Rata-Rata Penjualan Properti Residensial

23

Grafik 1.56

Arus Penumpang di Tanjung Perak

24

Grafik 1.57

Arus Barang di tanjung Perak

24

Grafik 1.58

Penumpang Domestik di Bandara Juanda

25

Grafik 1.59

Penumpang Internasional di Bandara Juanda

25

Grafik 2.1

Inflasi Jawa Timur & Nasional (yoy)

25

Grafik 2.2

Perkembangan Inflasi Jawa Timur

25

Grafik 2.3

Inflasi Jawa Timur (qtq)

25

Grafik 2.4

Disagregasi Inflasi Jawa Timur (qtq)

25

Grafik 2.5

Perbandingan Inflasi di Kawasan Jawa (yoy)

25

Grafik 2.6

Inflasi per Kelompok Barang Tw II-2013 (mtm)

27

Grafik 2.7

Inflasi April 2013 per Kelompok Barang

27

Grafik 2.8

Inflasi Mei 2013 per Kelompok Barang

27

Grafik 2.9

Inflasi Juni 2013 per Kelompok Barang

27

Grafik 2.10

Perkembangan Harga Sub Kelompok Bumbu-Bumbuan

29

Grafik 2.11

Perkembangan Harga Sub Kelompok Daging dan Telur

29

Grafik 2.12

Ekspektasi Inflasi Konsumen 3&6 bulan yad


Inflasi Sub Kelompok Bahan Makanan

30
31

Inflasi (qtq) Sub Kelompok Bahan Makanan


Inflasi (qtq) Sub Kelompok Bahan Makanan Tw I-2013 & Tw II-2013
Harga Beras Internasional dan Lokal s.d. Juni 2013

31
31

Grafik 2.17

Stok Setara Beras Jawa Timur

Grafik 2.18

Luas Panen dan Produksi Padi Kab.Jember

33
34

Grafik 2.19

Luas Panen dan Produksi Padi Prov.Jawa Timur

34

Grafik 2.20

Inflasi Sub Kel. Bumbu-Bumbuan (qtq)

35

Grafik 2.13
Grafik 2.14
Grafik 2.15
Grafik 2.16

33

Grafik 2.21

Inflasi Sub Kel. Daging, Telur dan Hasil-Hasilnya (qtq)

37

Grafik 2.22

Inflasi Tahunan (yoy) Sub Kelompok 2012 - 2013

37

Grafik 2.23

Inflasi Kelompok Bahan Makanan, Makanan Jadi & Transpor (yoy) 2010-2013

37

Grafik 2.24

Inflasi Tahunan (yoy) Kelompok Bahan Makanan Tahun 2012 - 2013

Grafik 2.25

Inflasi (yoy) Kelompok Makanan Jadi, Minuman & Tembakau

Grafik 2.26

Perbandingan Inflasi Tahunan (yoy) 7 Kota di Jawa Timur

38

Grafik 2.27

Inflasi Jatim per Komponen (yoy)

39

Grafik 2.28
Grafik 2.29
Grafik 2.30

Perbandingan Inflasi Jatim & Rata-Ratanya (yoy)


Perbandingan Disagregasi Inflasi Jawa Timur (mtm)
Disagregasi Inflasi (mtm) Jawa Timur

39
39
39

Grafik 2.31

Perkembangan Nilai Tukar Rupiah

50

Grafik 2.32

Perkembangan Capacity Utilization

50

Grafik 2.33

Perkembangan Harga Minyak Internasional

50

Grafik 2.34

Perkembangan Harga CPO

50

Grafik 2.35

Perkembangan Batu Bara

51

Grafik 2.36

Perkembangan Harga Karet

51

Grafik 2.37

Perkembangan Inflasi Inti Tradeable & Non Tradeable

52

Grafik 2.38

Perkembangan Inflasi Inti - Exclude Gold Price

52

Grafik 2.39

Perkembangan Inflasi Inti Tradeable - Food & Non Food

53

Grafik 2.40

Perkembangan Inflasi Inti Manufacturing & Services

53

Grafik 2.41

Perkembangan Inflasi Traded - Konstruksi dan Non Kontruksi

53

Grafik 2.42

Perkembangan Inflasi Non Traded - Konstruksi dan Non Konstruksi

53

Grafik 2.43

Indeks Keyakinan & Ekspetasi Konsumen

54

Grafik 2.44

Ekspektasi Harga yang Akan Datang

54

Grafik 3.1

Perkembangan LDR

49

Grafik 3.2

Perkembangan LDR per Kelompok Bank

49

Grafik 3.3

Pertumbuhan Indikator Utama Perbankan (yoy)

50

Grafik 3.4

Pertumbuhan Indikator Utama Perbankan (qtq)

50

Grafik 3.5

Perkembangan Total Aset Bank Umum

50

Grafik 3.6

Proporsi Aset Bank Umum

50

Grafik 3.7

Proporsi Aset Bank Umum Per Kabupaten/Kota

51

Grafik 3.8

Jumlah Aset Bank Umum Per Kabupaten/Kota

51

Grafik 3.9

Pertumbuhan Aset Bank Umum Per Kabupaten/Kota (% yoy)

52

Grafik 3.10

Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (y-o-y)

52

Grafik 3.11

Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (y-o-y)

53

Grafik 3.12

Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (qtq)

53

Grafik 3.13

Perkembangan DPK per Jenis Simpanan

53

Grafik 3.14

Komposisi DPK Bank Umum (%)

53

Grafik 3.15

Perbandingan Suku Bunga Simpanan - BI Rate

54

Grafik 3.16

Proporsi DPK Per Kabupaten/Kota

54

37

Grafik 3.17

Jumlah DPK Per Kabupaten/Kota

54

Grafik 3.18

Pertumbuhan DPK Bank Umum Per Kabupaten/Kota (% yoy)

55

Grafik 3.19

Pertumbuhan Kredit (yoy)

56

Grafik 3.20

Pertumbuhan Kredit (qtq)

56

Grafik 3.21

Proporsi Penyaluran Kredit Berdasarkan Jenis Penggunaan

57

Grafik 3.22

Proporsi Penyaluran Kredit Berdasarkan Kelompok Bank

57

Grafik 3.23

Pertumbuhan Kredit Per Jenis Penggunaan(y-o-y)

57

Grafik 3.24

Pertumbuhan Kredit Per Jenis Penggunaan (q-t-q)

57

Grafik 3.25

Proporsi Kredit Sektoral

58

Grafik 3.26

Perkembangan Kredit Sektoral Dominan (yoy)

59

Grafik 3.27

Perbandingan Suku Bunga Kredit & BI Rate

59

Grafik 3.28

Proporsi Penyaluran Kredit Per Kabupaten/Kota

59

Grafik 3.29

Pertumbuhan Kredit Per Kabupaten/Kota

60

Grafik 3.30

Perkembangan Kredit UMKM

61

Grafik 3.31

Proporsi Kredit UMKM Berdasarkan Bank

62

Grafik 3.32

5 Besar Provinsi Penyalur KUR

63

Grafik 3.33

Perkembangan Penyaluran KUR di Jatim

63

Grafik 3.34

Perkembangan NPL Bank Umum

65

Grafik 3.35

Perkembangan NPL per Jenis Penggunaan

65

Grafik 3.36

NPL Per Sektor Ekonomi

65

Grafik 3.37

Perkembangan Indikator Perbankan Syariah (qtq)

66

Grafik 3.38

Perkembangan Indikator Perbankan Syariah (yoy)

66

Grafik 3.39

Proporsi DPK Perbankan Syariah di Jatim

67

Grafik 3.40

Pertumbuhan DPK Perbankan Syariah (yoy)

67

Grafik 3.41

Pertumbuhan Pembiayaan Syariah Per Jenis Penggunaan

67

Grafik 3.42

Pangsa Pembiayaan Syariah per jenis pengunaan


Non Performing Financing (NPF) dan Financing to Deposits Ratio (FDR)
Perbankan Syariah di Jawa Timur
Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga BPR (%-yoy)

67

Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga BPR (%-qtq)

69

Grafik 3.46

Pertumbuhan Kredit BPR per-Jenis Penggunaan (yoy)

70

Grafik 3.47

Proporsi Kredit BPR PerJenis Penggunaan

70

Grafik 3.48

Perkembangan LDR & NPL BPR

70

Grafik 3.49

Pertumbuhan Indikator Bank Ber-KP di Surabaya (yoy)

71

Grafik 3.50

Pertumbuhan Indikator Bank Ber-KP di Surabaya (qtq)

71

Grafik 3.51

Proporsi DPK Per Jenis Simpanan Pada Bank Ber KP di Surabaya

72

Pertumbuhan DPK Per Jenis Simpanan Pada Bank Ber-KP di Surabaya (qtq)
Perkembangan Kredit Per Jenis Penggunaan Pada Bank Ber-KP di Surabaya
(qtq)
Proporsi Kredit Perjenis Penggunaan Bank Ber KP di Surabaya

72

Perkembangan LDR dan NPL Bank Berkantor Pusat di Surabaya

73

Grafik 3.43
Grafik 3.44
Grafik 3.45

Grafik 3.52
Grafik 3.53
Grafik 3.54
Grafik 3.55

68
69

73
73

Grafik 3.56

Perkembangan Arus Uang Tunai (inflow - out flow) dalam juta rupiah

76

Grafik 3.57
Grafik 3.58
Grafik 3.59
Grafik 3.60
Grafik 3.61

Perkembangan Net Flow Jawa Timur


Pemusnahan Uang Tidak Layak Edar (PTTB)
Perkembangan Transaksi Non Tunai Di Jawa Timur
Perkembangan Transaksi RTGS Di Jawa Timur

76
76
77
78

6 Kota Dengan Aktivitas Transaksi Outgoing RTGS Terbesar Tw I -2013

78

6 Kota Dengan Aktivitas Transaksi Incoming RTGS Terbesar Tw I 2013


Perkembangan Transaksi Kliring di Jatim

78
80

Grafik 3.62
Grafik 3.63
Grafik 3.64

Tolakan Transaksi Kliring di Jatim

80

Grafik 3.65

Statistik Uang Palsu yang Ditemukan

80

Grafik 4.1

Perkembangan APBD Provinsi Jatim

85

Grafik 4.2

Proporsi Pendapatan Asli Daerah Provinsi Jatim

87

Grafik 4.3

Realisasi PAD Provinsi Jatim Tahun 2013 (Juta Rupiah)

88

Grafik 4.4
Grafik 4.5
Grafik 4.6
Grafik 4.7
Grafik 5.1
Grafik 5.2
Grafik 5.3
Grafik 5.4
Grafik 5.5
Grafik 5.6

Proporsi Anggaran Belanja Tidak Langsung Provinsi Jawa Timur


Proporsi Anggaran Belanja Langsung Provinsi Jawa Timur
Realisasi Anggaran Belanja Tidak Langsung
Realisasi Anggaran Belanja Langsung
Penyerapan Tenaga Kerja Sisi Sektoral

90
90
91
91
93

Penyerapan Tenaga Kerja


Komposisi Tenaga Kerja Formal
Komposisi Bidang Tenaga Kerja Informal
Penyerapan Tenaga Kerja 3 Sektor Utama

94
94
94
96

Penyerapan Tenaga Kerja Sektoral

96

Grafik 5.7

NTP Nasional & Jawa Timur

97

Grafik 5.8

NTP dan Pertumbuhan (Nasional & Jatim)

97

Grafik 5.9

lt Serta Pertumbuhan Nasional & Jatim

98

Grafik 5.10

lb dan Pertumbuhanan Nasional & Jatim

98

Grafik 5.11

NTN Nasional & Jawa Timur

99

Grafik 5.12

NTN Serta Pertumbuhan (Nasional & Jatim)

99

Grafik 5.13

99

Grafik 5.14

Perkembangan Penduduk Miskin di Jawa Timur (%)


Komoditas Penyumbang Garis Kemiskinan Makanan (%)

101

Grafik 5.15

Komoditas Penyumbang Garis Kemiskinan Non Makanan (%)

101

Grafik 5.16

Pertumbuhan Pengeluaran RT dan Pertumbuhan Inflasi di Jatim (%)

102

Grafik 5.17

Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2)

Grafik 6.1

Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK)

108

Grafik 6.2

Indeks Ekspektasi Penghasilan

108

Grafik 6.3

Estimasi realisasi usaha Tw.II-2013

110

Grafik 6.4

Estimasi Penggunaan Tenaga Kerja Tw.II-2013

110

104




Ringkasan
Eksekutif

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV

RINGKASAN
EKSEKUTIF

KAJIAN EKONOMI REGIONAL (KER)


TRIWULAN IIII 2013
201 3

Assesmen Perkembangan Makro Ekonomi


Kinerja ekonomi
Jatim meningkat
sebesar 6,97%
(yoy), lebih tinggi
dibandingkan
nasional (5,81%).

Pada triwulan II-2013, perekonomian Jawa Timur (Jatim) tumbuh 6,97%


(yoy), lebih tinggi dari perkiraan Kantor Perwakilan Bank Indonesia
Wilayah IV (Jawa Timur) di kisaran 6,60% - 6,80% (yoy). Angka ini juga
lebih tinggi dari pertumbuhan triwulan sebelumnya, yaitu sebesar
6,62% (yoy). Pertumbuhan ekonomi Jatim masih di atas angka
pertumbuhan ekonomi nasional (5,81%) maupun provinsi lainnya di
Kawasan Jawa. Bahkan beberapa wilayah di kawasan Jawa terjadi
perlambatan pertumbuhan seperti DKI Jakarta dan Banten.
Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga dan investasi swasta
(Pembentukan Modal Tetap Bruto PMTB) menjadi sumber pendorong
pertumbuhan. Meningkatnya kegiatan konsumsi rumah tangga Jatim
utamanya didorong oleh belanja kelompok non makanan terutama
pembelian barang tahan lama sejenis peralatan rumah tangga, pakaian,
alat tulis serta konstruksi. Membaiknya kondisi ketenagakerjaan di Jawa
Timur menjadi salah satu pendorong meningkatnya konsumsi barang
tahan lama karena adanya kepastian pendapatan. Kinerja investasi swasta
periode ini didominasi oleh Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN)
sehingga turut mengkonfirmasi stabilnya kinerja investasi Jatim di atas
level 8% (yoy).
Ditinjau dari sisi penawaran, sektor Perdagangan Hotel dan Restoran
(PHR), sektor Industri Pengolahan dan sektor Pertanian masih menjadi
sektor utama pendorong pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur. Ketiga
sektor tersebut, secara berurutan menyumbang pertumbuhan ekonomi
masing-masing sebesar 2,89%, 1,56% dan 0,43%.

Assesmen Inflasi
Inflasi IHK pada
triwulan II-2013,
secara tahunan,
mencapai sebesar
5,93% (yoy), lebih
tinggi dibandingkan
nasional (5,90%).

Inflasi IHK pada triwulan II-2013, secara tahunan, mencapai sebesar


5,93% (yoy), lebih tinggi dibandingkan nasional (5,90%). Sementara itu,
secara triwulanan, inflasi Jatim sudah kembali pada pola normalnya yang
tercatat 0,11% (nasional 1,54%), lebih rendah dibandingkan triwulan
sebelumnya sebesar 2,87% (nasional 1,54%).

Kajian Ekonomi Regional Wilayah Jawa Bagian Timur


Triwulan II-2013

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV


Tekanan inflasi dari volatile foods yang cukup kuat pada triwulan I-2013
terutama dari komoditas bumbu-bumbuan dan buah-buahan terlihat
mereda memasuki awal hingga akhir triwulan II-2013. Disamping itu,
terjadi pula penurunan harga pada komoditas emas perhiasan yang
masuk dalam kelompok core, sebagai dampak melemahnya harga
komoditas ini di pasar internasional.
Namun demikian, koreksi harga dari kelompok volatile foods dan core,
kembali tertahan dengan naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada
kelompok administered prices di penghujung triwulan ini, mengakibatkan
kenaikan tarif angkutan dan berpengaruh kuat terhadap ekspektasi.
Kenaikan BBM ini, diyakini menjadi faktor dominan pendorong utama
inflasi pada triwulan berikutnya, selain dorongan permintaan memasuki
tahun ajaran baru, bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.
Secara historis, inflasi Jatim selalu sejalan dengan nasional dengan tingkat
inflasi yang relatif lebih tinggi. Berbeda dibandingkan periode sebelumnya
dimana Jatim mengalami inflasi tertinggi di kawasan Jawa, pada periode
ini inflasi Jatim berada di urutan ketiga tertinggi. Realisasi inflasi di
kawasan Jawa, terendah ditempati Jawa Tengah (5,44%), DIY (5,66%),
Jawa Timur (5,93%), Jawa Barat (6,54%) dan tertinggi terjadi pada
Provinsi Banten (6,80%). Berdasarkan grafik di samping, inflasi bergerak
naik yang terjadi di seluruh provinsi di Jawa sejak tahun 2011 sampai
triwulan II-2013.

Assesmen Perbankan
Kinerja
perbankan di
Jawa Timur
masih terus
menunjukkan
perkembangan
positif dengan
pertumbuhan
kredit mencapai
26,16% (yoy).

Pada pertengahan tahun 2013 (Triwulan II), kinerja perbankan di Jawa


Timur baik Bank Umum maupun Bank Perkreditan Rakyat (BPR) terus
menunjukkan

perkembangan

positif

dalam

mendukung

kinerja

perekonomian Jawa Timur. Hal tersebut tercermin dari indikator total


aset, kredit dan DPK yang terus mengalami pertumbuhan dan didukung
oleh tingkat risiko kredit yang rendah (kurang dari 5%). Aset Bank Umum
dan BPR tumbuh sebesar 17,63% (yoy) hingga mencapai Rp.388,44
triliun. Kredit tumbuh sebesar 26,16% (yoy) dari sebesar Rp.251,4 triliun
pada Triwulan I 2013 menjadi sebesar Rp.272,05 triliun pada Triwulan II
2013. Demikian pula dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Umum dan
BPR yang mencatat pertumbuhan sebesar 12,10% (yoy) menjadi sebesar
Rp.298,89 triliun.
Sementara itu, perkembangan transaksi sistem pembayaran di wilayah
Kantor Perwakilan (Kpw) Bank Indonesia di Jawa Timur yang meliputi KPw
BI Wilayah IV, Malang, Jember dan Kediri pada Triwulan

Kajian Ekonomi Regional Wilayah Jawa Bagian Timur


Triwulan II-2013

II-2013

xi

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV


menunjukkan peningkatan, baik untuk transaksi tunai maupun transaksi
non-tunai. Transaksi tunai mengalami net-outflow sebesar Rp.411,54
miliar.

Kondisi

tersebut

berbeda

apabila

dibandingkan

triwulan

sebelumnya yang mencatat net intflow sebesar Rp.7,83 triliun. Hal serupa
juga ditunjukkan oleh transaksi non-tunai melalui sistem BI-RTGS yang
tumbuh mencapai 19,54% (qtq) dan Sistem Kliring Nasional Bank
Indonesia (SKNBI) yang meningkat sebesar 5,08% dibandingkan triwulan
sebelumnya. Peningkatan kedua transaksi non tunai tersebut turut
mengkonfirmasi peningkatan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada
triwulan ini.

Prospek Ekonomi, Inflasi dan Perbankan Tw III 2013


Ekonomi Jatim
pada Tw III-2013
diperkirakan
tumbuh
pada
rentang 6,95%
7,15% (yoy).

Pada triwulan III 2013, pertumbuhan ekonomi Jatim diprediksi tumbuh


pada rentang pertumbuhan 6,95%7,15% (yoy). Perekonomian Jawa
Timur pada triwulan ini diperkirakan lebih tinggi dibandingkan triwulan
sebelumnya yang mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,97% (yoy).
Dari sisi permintaan, pertumbuhan perekonomian Jawa Timur masih
ditopang oleh tingkat konsumsi masyarakat, sebagaimana tercermin pada
hasil survei konsumen. Pertumbuhan konsumsi periode ini didorong oleh
momentum bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri di bulan Juli Agustus
2013. Selain itu, tibanya liburan tahun ajaran baru dan cukup panjangnya
cuti bersama selama lebaran turut mendorong konsumsi masyarakat,
khususnya pada sub sektor hotel dan restoran. Komponen terbesar
selanjutnya, yaitu investasi swasta (PMTB) diproyeksikan tumbuh stabil
pada level tinggi seiring meningkatnya optimisme pelaku usaha
sebagaimana dikonfirmasi dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU)
dan liaison Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV (Jawa Timur).
Di sisi penawaran, seiring meningkatnya permintaan dari luar pulau dalam
merespon lonjakan permintaan di masa tahun ajaran baru dan lebaran
turut mendorong kinerja sektor PHR. Meskipun perdagangan luar negeri
Jatim mengalami tekanan cukup dalam akibat pelemahan ekonomi Eropa,
namun masih kuatnya perdagangan dalam negeri Jatim diprediksi masih
cukup baik untuk menyokong kinerja sub sektor perdagangan besar
Jatim.

Inflasi IHK pada


triwulan III-2013,
diperkirakan berada
di kisaran 8,20%
s/d 8,50% (yoy).

Mencermati perkembangan inflasi terkini dan tracking beberapa indikator


harga, maka inflasi kota Jawa Timur pada Triwulan III-2013 diperkirakan
secara tahunan (yoy) berada di kisaran 8,20% s/d 8,50%.
Adanya gagal panen pada beberapa komoditas seperti tembakau dan
bawang merah serta gagalnya pembibitan komoditas cabe, menyebabkan

Kajian Ekonomi Regional Wilayah Jawa Bagian Timur


Triwulan II-2013

xii

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV


tekanan inflasi untuk kelompok volatile food masih cukup tinggi.
Ditambah lagi dengan masih berlanjutnya anomali cuaca di Jawa Timur
yang akan mempengaruhi hasil panen. Selain itu, terbatasnya produksi
lokal daging sapi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat juga menjadi
potensi peningkatan inflasi. Masih berlanjutnya kebijakan kenaikan Tarif
Tenaga Listrik (TTL) serta adanya potensi kenaikan cukai rokok menjadi
pendorong utama meningkatnya inflasi di kelompok administered price
meskipun pada tingkat yang relatif lebih rendah dibandingkan akhir Tw II2013 dengan adanya kenaikan harga BBM. Dari sisi fundamental, potensi
dorongan inflasi inti atau core inflation diperkirakan berasal dari
kelompok non tradeable seiring meningkatnya kebutuhan di bidang
pendidikan. Sedangkan dari sisi kelompok tradeable, tekanan inflasi
diperkirakan sedikit meningkat seiring dengan pelemahan kurs Rupiah
terhadap dollar yang mempengaruhi harga emas dunia. Peningkatan TTL
pada Tw III-2013 berpotensi direspon masyarakat dengan peningkatan
tarif sewa rumah serta kenaikan harga barang seiring dengan
peningkatan biaya produksi. Faktor penahan inflasi kelompok ini adalah
rendahnya tekanan dari output gap sebagai dampak telah berlalunya
masa Hari Raya Idul Fitri. Para produsen diperkirakan meningkatkan
kapasitas produksi pada akhir Tw III-2013 untuk memenuhi tingginya
permintaan pada akhir tahun seiring dengan tibanya momen Natal dan
Tahun Baru.
Pada triwulan III 2013, kinerja industri perbankan di Jawa Timur
diperkirakan sedikit mengalami perbaikan. Struktur dan pondasi sistem
perbankan yang cukup baik diperkirakan masih dapat terjaga terutama
ditopang

oleh

peningkatan

fungsi

intermediasi

oleh

perbankan.

Penyusunan strategi pengembangan usaha yang tepat oleh perbankan


diharapkan mampu meningkatkan peran sektor perbankan untuk
mendorong perekonomian daerah.
Pertumbuhan
kredit perbankan
pada triwulan
III 2013
diperkirakan
meningkat di
kisaran 26,5%
(yoy).

Pertumbuhan kredit oleh perbankan pada triwulan III 2013 diperkirakan


mengalami peningkatan sekitar 26,5%. Masih terbukanya peluang
investasi diharapkan mampu mendorong pertumbuhan kredit, khususnya
pada sektor produktif, namun dalam batas pertumbuhan yang terjaga.
Sektor ekonomi andalan Jatim seperti sektor perdagangan, sektor industri
pengolahan, sektor konstruksi serta sektor transportasi dan komunikasi
pertanian masih menjadi sektor unggulan untuk dibiayai perbankan.
Disamping itu, kredit konsumsi juga diperkirakan masih tetap tumbuh
stabil.

Kajian Ekonomi Regional Wilayah Jawa Bagian Timur


Triwulan II-2013

xiii

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV


Prospek Ekonomi dan Inflasi Tahun 2013
Secara
keseluruhan,
pertumbuhan
ekonomi
Jatim
diproyeksikan
tumbuh
pada
rentang 6,70%
s.d 6,90% (yoy).

Di sepanjang tahun 2013, pertumbuhan ekonomi Jatim diproyeksikan


tumbuh pada rentang 6,70% s.d 6,90% (yoy), lebih rendah dari angka
perkiraan

sebelumnya

di

kisaran

7,00%

s.d

7,25%.

Perkiraan

pertumbuhan ekonomi Jatim di tahun 2013 ini masih lebih rendah


dibandingkan tahun 2012 (7,27%-yoy), namun pertumbuhan ini diyakini
masih yang tertinggi dibandingkan provinsi lainnya di Pulau Jawa.
Dari sisi permintaan, masih tingginya konsumsi masyarakat seiring
meningkatnya proporsi usia produktif di Jawa Timur masih menjadi
pendorong utama pertumbuhan ekonomi Jatim. Sementara itu, berbagai
upaya pemerintah melalui perbaikan infrastruktur, penyederhanaan
birokrasi pengajuan izin usaha serta upaya peningkatan kerjasama
investasi melalui kunjungan antar negara/daerah diharapkan dapat terus
mendorong minat investor asing dan dalam negeri. Selanjutnya,
optimisme pengusaha akan perbaikan kinerja ekspor luar negeri Jatim
dengan berbagai strategi perusahaan dan pemerintah diharapkan terus
mengalami perbaikan, khususnya dengan adanya insentif pemerintah
untuk mengembangkan produk hortikultura dan pertanian organik di
beberapa sentra produksi Jatim. Selain itu, adanya momentum PILKADA
pada Agustus 2013 diperkirakan turut mendorong pertumbuhan ekonomi
Jatim baik dari sisi konsumsi rumah tangga maupun pemerintah.
Di sisi penawaran, dengan strategi penambahan Kantor Perwakilan
Dagang oleh Pemprov Jatim ke seluruh Indonesia, diperkirakan kinerja
subsektor perdagangan mengalami perbaikan. Meningkatnya kebutuhan
masyarakat dalam kegiatan wisata turut mendorong kinerja subsektor
hotel dan restoran, ditambah dengan meningkatnya peranan Kota
Surabaya sebagai sub hub ke Indonesia Timur yang terindikasi dari
bertambahnya jumlah hotel kelas bisnis di Surabaya. Optimisme pelaku
usaha sektor industri pengolahan yang tercermin melalui berbagai survei
diharapkan terus berlanjut hingga akhir tahun, dengan didorong berbagai
insentif pemerintah melalui peningkatan peran serta usaha mikro, kecil
dan menengah di Jatim. Adanya pergeseran musim diharapkan tidak
signifikan mempengaruhi kinerja sektor pertanian dengan didukung telah
diselesaikannya beberapa proyek irigasi serta tersedianya debit air di
waduk pada level tinggi diharapkan mendorong kinerja sektor pertanian
tahun ini. Sementara itu, secara keseluruhan pertumbuhan sektor lainnya

Inflasi IHK di akhir


tahun 2013,
diperkirakan berada
di kisaran 8,30%
s/d 8,60% (yoy).

masih relatif stabil.


Inflasi sampai dengan akhir tahun 2013, diproyeksi bersumber dari
kelompok administered price sebagai dampak kenaikan harga BBM, tarif

Kajian Ekonomi Regional Wilayah Jawa Bagian Timur


Triwulan II-2013

xiv

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV


listrik serta cukai rokok. Dengan demikian inflasi Jatim pada tahun 2013
diperkirakan secara tahunan berada di kisaran 8,30% s/d 8,60% (yoy).
Faktor lainnya terlihat dari hasil panen pada tahun 2013 yang belum
mencapai titik optimalnya karena adanya anomali cuaca (kemarau basah)
yang berlangsung sepanjang tahun sehingga beberapa komoditas
mengalami gagal panen atau panen tetapi tidak maksimal.
Dari sisi fundamental, potensi dorongan inflasi inti diperkirakan berasal
dari kelompok tradeable yang berasal dari kelompok perumahan dan
pendidikan, meskipun di sisi lain tren pelemahan harga emas dunia
(walaupun semakin berkurang) dapat menahan laju inflasi di kelompok
ini. Cukup baiknya eskpektasi para pelaku usaha akan kondisi
perekonomian Jawa Timur, diimbangi dengan peningkatan kapasitas
utilisasi produksi sehingga dapat meminimalkan terjadinya output gap
dan mendukung stabilnya inflasi kelompok ini sampai dengan akhir
tahun 2013

Kajian Ekonomi Regional Wilayah Jawa Bagian Timur


Triwulan II-2013

xv

LAMPIRAN
INDIKATOR MAKRO EKONOMI JAWA TIMUR
INDIKATOR
INDEKS HARGA KONSUMEN (IHK)
JAWA TIMUR
- Kota Surabaya
- Kota Malang
- Kota Kediri
- Kota Jember
- Kota Probolinggo
- Kota Madiun
- Kota Sumenep
LAJU INFLASI TAHUNAN (Y-O-Y)
JAWA TIMUR
- Kota Surabaya
- Kota Malang
- Kota Kediri
- Kota Jember
- Kota Probolinggo
- Kota Madiun
- Kota Sumenep
PDRB Harga Konstan (Milliar Rp)
- Pertanian
- Pertambangan dan Penggalian
- Industri Pengolahan
- Listrik, gas, dan air bersih
- Bangunan
- Perdagangan, Hotel dan Restoran
- Pengangkutan dan komunikasi
- Keuangan, persewaan, dan jasa
- Jasa

Pertumbuhan (yoy)
- Pertanian
- Pertambangan dan Penggalian
- Industri Pengolahan
- Listrik, gas, dan air bersih
- Bangunan
- Perdagangan, Hotel dan Restoran
- Pengangkutan dan komunikasi
- Keuangan, persewaan, dan jasa
- Jasa
Pertumbuhan PDRB (yoy )

2012
Tw I

2013
Tw II

Tw III

130.58
130.32

131.75
131.39

134.29
133.80

130.51
129.34
131.12
133.59
134.42
128.26

131.63
130.90
132.22
135.90
135.20
129.81

134.34
134.04
134.39
139.28
137.51
132.63

3.97
4.19
3.80
4.34
2.46
3.19
3.36
5.10
95,330,557
15,982,668
1,893,917
23,409,626
1,257,835
2,893,702
30,081,571
6,945,037
5,156,525
2,145,164

4.63
4.69
4.44
5.06
4.12
4.66
3.93
5.46
98,085,149
14,177,715
2,120,466
23,871,800
1,320,473
3,224,522
31,799,848
7,627,427
5,439,472
8,503,427

4.50
4.29
4.58
5.26
4.40
5.55
3.91
6.06
100,427,099
13,591,281
2,160,927
24,936,426
1,310,535
3,314,209
32,958,742
7,949,406
5,544,158
8,661,415

2.76
5.09
6.23
7.07
10.18
9.69
13.17
7.76
4.75
7.27

4.68
1.66
5.74
6.69
5.58
10.61
8.05
8.92
4.96
7.31

4.36
1.01
7.21
5.25
6.84
9.79
8.79
8.18
4.63
7.41

Tw IV

Tw I

Tw II

135.50
135.02
135.89
134.62
135.86
140.56
138.20
133.44

139.39
138.95
139.65
138.00
139.66
144.54
142.52
137.77

139.55
139.09
140.14
138.82
139.33
137.07
144.58
142.10

4.50
4.37
4.60
4.63
4.49
5.88
3.51
5.06
99,823,633
10,712,279
2,225,952
25,799,205
1,349,589
3,408,133
33,535,338
8,119,044
5,662,313
2,996,662

1.95
1.11
6.17
5.90
6.10
10.13
9.10
7.20
4.97
7.09

6.75
6.63
7.01
6.70
6.51
8.20
6.04
7.42
101,637,322
16,295,361
1,944,490
24,587,026
1,324,308
3,132,579
32,903,774
7,707,809
5,594,390
2,239,473

1.96
2.67
5.03
5.28
8.26
9.38
10.98
8.49
4.40
6.62

5.93
5.86
6.46
6.05
5.38
5.59
6.39
5.10
104,923,561
14,596,007
2,169,220
25,398,705
1,381,232
3,564,182
34,637,806
8,393,503
5,857,555
8,925,351

2.95
2.30
6.40
4.60
10.53
8.92
10.04
7.69
4.96
6.97

xviii

LAMPIRAN
INDIKATOR PERBANKAN JAWA TIMUR
A. Perbankan
INDIKATOR

2012
Tw I

Tw II

2013
Tw III

Tw IV

Tw I

Tw II

Bank Umum :
Total Asset (Rp. Triliun)
DPK (Rp. Triliun)

304.22
252.81

322.89
262.25

342.66
273.66

353.60
289.09

362.32
287.82

379.47
293.80

- Tabungan (Rp. Triliun)


- Giro (Rp. Triliun)
- Deposito (Rp. Triliun)
Kredit (Rp. Triliun) - Bank Pelapor
- Modal Kerja
- Investasi
- Konsumsi
Non Performing Loan (NPL-Gross)
Loan to Deposit Ratio - LDR (%)
Kredit UMKM (Triliun Rp)-Bank Pelapor
NPL UMKM Gross (%)

109.95
42.85
100.00
192.75
112.31
26.13
54.32
2.96
76.25%
63.21
4.22

116.20
43.54
102.50
210.06
123.45
28.75
57.86
2.73
80.10%
68.87
3.82

122.89
46.07
104.70
223.51
129.66
31.21
62.64
2.64
85.07%
63.65
3.68

134.22
47.67
107.20
239.48
139.52
33.72
66.25
2.60
82.84%
68.53
3.63

130.08
46.57
111.16
245.21
142.72
33.43
69.06
2.26
85.20%
70.40
3.89

133.15
45.98
114.67
265.35
153.43
38.62
73.31
2.12
90.32%
78.65
3.56

6.98
4.18
1.33
2.85
5.15
3.36
0.16
1.64
4.29%
123.38%

7.35
4.39
1.35
3.03
5.57
3.63
0.17
1.77
4.14%
127.08%

8.01
4.74
1.47
3.27
5.81
3.78
0.20
1.83
4.24%
123%

8.33
4.89
1.57
3.32
5.94
3.80
0.28
1.85
3.39%
121%

8.57
4.98
1.61
3.38
6.19
4.11
0.20
1.88
3.84%
124%

8.97
5.09
1.60
3.50
6.70
4.48
0.23
1.99
3.88%
131%

16.57
12.39
1.39
4.83
6.18
11.99
5.08
2.29
4.61
1.43
96.72

17.27
13.13
1.22
4.95
6.97
12.46
5.24
2.30
4.92
1.91
94.84

18.74
13.83
1.27
7.29
5.27
13.53
5.74
2.57
5.22
1.97
97.84

BPR :
Total Asset (Rp. Triliun)
DPK (Rp. Triliun)
- Tabungan (Rp. Triliun)
- Deposito (Rp. Triliun)
Kredit (Rp. Triliun)
- Modal Kerja
- Investasi
- Konsumsi
Non Performing Loan (NPL-Gross)
Loan to Deposit Ratio - (LDR) %

SYARIAH :
Total Asset (Rp. Triliun)
DPK (Rp. Triliun)
- Giro (Rp. Triliun)
- Tabungan (Rp. Triliun)
- Deposito (Rp. Triliun)
Pembiayaan (Rp. Triliun)
- Modal Kerja
- Investasi
- Konsumsi
Non Performance Financing (NPF) %
Financing to Deposit Ratio (FDR) %

12.01
9.32
0.84
4.90
3.58
8.93
3.60
1.51
3.83
1.36
95.77

13.14
9.88
0.88
5.08
3.92
10.03
4.16
1.75
4.12
1.43
101.59

14.08
10.59
0.88
5.43
4.28
10.68
4.54
1.89
4.25
1.63
100.80

B. SISTEM PEMBAYARAN
INDIKATOR
Inflow (Rp. Triliun)
Outflow (Rp. Triliun)
Pemusnahan Uang (Rp- Triliun)
Nominal Transaksi RTGS
Volume Transaksi RTGS
Nominal Kliring Kredit (Rp. Triliun)
Volume Kliring Kredit (juta lembar)
Tolakan Kliring (Rp. Juta)
Tolakan Kliring (lembar)

2012
Tw I
12.70
6.52
4.76
122.21
141,322
44.05
1.40
632,814
20,065

Tw II
20.08
12.08
5.10
182.77
172,750
46.32
1.40
638,541
19,361

2013
Tw III
14.91
14.30
0.29
185.10
146,738
38.59
1.28
637,615
23,280

Tw IV
9.99
11.53
0.88
197.88
189,920
46.11
1.29
979,293
21,770

Tw I
15.99
8.16
0.93
126.58
79,223
36.69
1.12
964,720
25,418

Tw II
11.35
11.77
0.25
220.10
170,050
49.46
1.38
774,711
21,488

Bab 1


PERKEMBANGAN EKONOMI
MAKRO REGIONAL

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL

1
1.1.

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL


KONDISI UMUM
Pada triwulan II-2013, perekonomian Jawa Timur (Jatim) tumbuh 6,97% (yoy) sedikit

lebih tinggi dari perkiraan KPwBI Wilayah IV (Jawa Timur) sebelumnya yang berada pada kisaran
6,60% - 6,80% (yoy). Dibandingkan nasional dan pertumbuhan ekonomi di Kawasan Jawa,
ekonomi Jatim masih tumbuh lebih tinggi (lihat tabel 1). Bahkan di beberapa wilayah terjadi
perlambatan seperti DKI Jakarta dan Banten yang mengalami perlambatan pertumbuhan
sebesar 0,1% (yoy). Angka ini juga lebih tinggi dari pertumbuhan triwulan sebelumnya, yaitu
sebesar 6,62% (yoy).
Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga dan investasi swasta (Pembentukan Modal
Tetap Bruto PMTB)

menjadi sumber pendorong pertumbuhan. Meningkatnya kegiatan

konsumsi rumah tangga Jatim utamanya didorong oleh belanja kelompok non makanan
terutama pembelian barang tahan lama sejenis peralatan rumah tangga, pakaian, alat tulis
serta konstruksi. Membaiknya kondisi ketenagakerjaan di Jawa Timur sebagaimana
diinformasikan pada Bab V Kesejahteraan Masyarakat menjadi salah satu pemicu meningkatnya
konsumsi barang tahan lama dimana terdapat kepastian pendapatan dimasyarakat.
Berdasarkan informasi anekdotal, wilayah Jawa Timur marak didirikan industri skala mikro dan
sedang, khususnya industri makanan, minuman dan tembakau, seiring melimpahnya sumber
daya alam dan akses infrastruktur yang memadai jika dibandingkan provinsi lainnya di Pulau
Jawa. Peningkatan suku bunga acuan Bank Indonesia pada pertengahan Juni 2013 belum
berdampak pada tingkat bunga kredit konsumsi, sehingga daya beli kelompok low income
masih relatif stabil dengan berbagai alternatif sumber pembiayaan yang tersedia. Kinerja
investasi swasta periode ini didominasi oleh Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sehingga
turut mengkonfirmasi stabilnya kinerja investasi Jatim di atas level 8% (yoy). Selain itu, minat
investor asing pun terjaga di atas nilai USD 700 juta per triwulannya. Beragamnya potensi
daerah mendorong penyebaran investasi di tingkat kab/kota, meskipun masih belum merata,
khususnya di wilayah pesisir Selatan. Berdasarkan hasil survei dan liaison yang dilakukan Bank
Indonesia, masih lemahnya infrastruktur wilayah Selatan menjadi salah satu penyebab
minimnya penanaman investasi, hal ini berdampak pada tingkat kesejahteraan masyarakat
daerah ini masih rendah.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL

Sementara itu ditinjau dari sisi penawaran, sektor Perdagangan Hotel dan Restoran
(PHR), sektor Industri Pengolahan dan sektor Pertanian masih menjadi sektor utama pendorong
pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur. Ketiga sektor tersebut, secara berurutan menyumbang
pertumbuhan ekonomi masing-masing sebesar 2,89%, 1,56% dan 0,43%. Jika dibandingkan
dengan triwulan sebelumnya, pertumbuhan sektor Industri Pengolahan dan sektor Pertanian
mengalami peningkatan, yaitu dari 5,03% (yoy) menjadi 6,40% serta 1,96% (yoy) menjadi
2,95%. Sementara itu, sektor PHR cenderung melambat, yaitu dari sebelumnya 10,98% (yoy)
menjadi 10,04%. Proporsi ketiga sektor utama pada perekonomian Jawa Timur Triwulan II
2013 masih stabil dengan pangsa mencapai 72,87%, sedikit lebih rendah apabila dibandingkan
dengan proporsi ketiganya pada Triwulan I 2013 yang tercatat sebesar 74,43%. Penurunan
proporsi ini didorong meningkatnya kinerja sektor pendukung meliputi sektor konstruksi, sektor
pengangkutan dan komunikasi serta

sektor pertambangan dan penggalian. Berbeda dengan

triwulan sebelumnya, sektor industri pengolahan tumbuh membaik di atas level 6%, yang
didorong pertumbuhan sub sektor tekstil dan alas kaki seiring meningkatnya konsumsi
masyarakat menjelang tahun ajaran baru.
Tabel 1.1
Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi Kawasan Jawa

PROVINSI DI
PULAU JAWA
DKI Jakarta
Jawa Timur
Jawa Barat
Jawa Tengah
Banten
DKI Yogyakarta
NASIONAL

2007 2008 2009 2010 2011 2012


6.44
6.11
6.48
5.59
6.04
4.31
6.35

6.23
5.94
6.21
5.61
5.77
5.03
6.01

5.02
5.01
4.19
5.14
5.45
4.43
4.63

6.50
6.68
6.20
5.84
6.08
4.88
6.20

6.71
7.22
6.48
6.01
6.43
5.16
6.46

6.55
7.27
6.21
6.37
6.13
5.33
6.23

2013
I

II

6.49
6.62
5.94
5.70
5.76
5.06
6.02

6.30
6.97
6.13
6.10
5.66
5.71
5.81

Sumber: BPS, diolah

Grafik 1.1
Kontribusi Pertumbuhan PDRB Sektoral
Prov.Jawa Timur

Grafik 1.2
Kontribusi PDRB Sisi Permintaan
Prov.Jawa Timur

Jasa-Jasa

Tw II 2012

Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan

Tw II 2013

Pengangkutan & Komunikasi

Tw I 2013

Tw I 2013

Ekspor

Tw II 2012

Perdagangan, Hotel & Restoran

Perubahan Stok

Bangunan

Pembentukan Modal Tetap Bruto

Listrik, Gas & Air Bersih

Konsumsi Pemerintah

Industri Pengolahan

Tw II 2013

Impor

Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba

Pertambangan dan Penggalian

Konsumsi Rumah Tangga


Pertanian
0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 4.00
Sumber: BPS Jatim, diolah

-4.00%

-2.00%

0.00%

2.00%

4.00%

6.00%

Sumber: BPS Jatim, diolah

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL


Grafik 1.3
Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi
Jawa Timur

6.64 6.58
6.44
6.03

y
o
y

5.79

6.32
5.89 5.85

Indonesia

6.42
6.25 6.53 6.40
6.41
5.87 5.83
5.28

5.81
5.42

100%

Tren-Jawa Timur
7.29 7.29 7.27 7.31
7.14 7.20
7.17
7.11
6.90
6.17 6.50 6.50 6.50 6.40 6.50

6.53

Grafik 1.4
Struktur Perekonomian Prov. Jawa Timur

5.70

7.09

70%
6.62

60%
50%
40%

5.18

30%

5.01
4.37

4.33

Keuangan, Persewaan &


Jasa Perusahaan
Pengangkutan &
Komunikasi
Perdagangan, Hotel &
Restoran
Bangunan

80%

6.97

6.20 6.11
6.02
5.81

5.80

Jasa-Jasa

90%

7.41

4.58

Listrik, Gas & Air Bersih

20%

4.20

10%

4.00

Industri Pengolahan

0%
3

II III IV I

II III IV I

II III IV I

II III IV I

II III IV I

II III IV I II*

2007

2008

2009

2010

2011

2012

II

III IV

2011

2013

Sumber: BPS Jatim, diolah

II

III IV

2012

II

Pertambangan dan
Penggalian
Pertanian

2013

Sumber: BPS Jatim, diolah

1.2. SISI PERMINTAAN


Dari sisi permintaan, pertumbuhan pada triwulan ini masih didorong oleh kinerja
konsumsi

rumah

tangga

dan

investasi

(PMTB),

yang

masing-masing

menyumbang

pertumbuhan ekonomi sebesar 4,80% (yoy) dan 1,27%. Sebagaimana diinformasikan pada
tabel 1.2, tingkat pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan investasi mencapai 6,94% (yoy)
dan 8,67%. Selanjutnya, peningkatan belanja pemerintah dari 0,25% (yoy) menjadi 2,83%
diharapkan terus berlanjut hingga akhir tahun. Sementara itu, masih belum membaiknya
transaksi perdagangan luar negeri Jawa Timur kembali melemahkan kinerja transaksi ekspor
dan impor masing-masing pada level 6,89% dan 5,39%.
Tabel 1.2 Pertumbuhan Ekonomi Sisi Permintaan Provinsi Jawa Timur
2011
2012
I
II
III
IV
I
II
III
SISI PERMINTAAN
Konsumsi
7.93 6.34 7.44
6.97 5.95 6.40 5.66
Konsumsi Lemb. Swasta Nir 5.39 10.54 6.26
8.95 6.48 3.77 8.36
Konsumsi Pemerintah
-8.40 5.09 8.65
2.02 4.14 2.59 0.02
PMTB
6.21 8.59 13.96
10.61 2.41 5.32 4.84
Perubahan Stok
-18.08 -41.76 -87.56 -3251.34 20.84 92.73 456.32
Ekspor
9.70 10.11 12.30
12.19 11.71 10.44 11.00
Impor
5.59 6.11 8.83
9.52 8.56 10.37 9.93
PDRB
7.17 7.29 7.29
7.11
7.27 7.31 7.41

IV

2013
I

II

6.57
6.80
6.94
4.49
4.34
3.83
-4.06
0.25
2.83
8.80
8.20
8.67
39.86 -16.21 -19.50
12.97
8.47
6.89
10.36
6.64
5.39
7.09
6.62
6.97

Sumber: BPS Jatim, diolah

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL


Grafik 1.5
1.5
Sisi Permintaan PDRB Prov.Jawa Timur

Grafik 1.6
1. 6
Sisi Permintaan PDRB Prov.Jawa Timur

Konsumsi Pemerintah
Konsumsi Rumah Tangga
Pembentukan Modal Tetap Bruto

30%
25%

20%
15%

%
10%

y
o
y

5%
0%
I II III IV I

II III IV I II III IV I

II III IV I II III IV I

2008

2009

2010

2011

R
p

2012

2013

-10%

600

4
400

200
2
0
1

Y
O
Y

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II


-400

-1
2008

2009

2010

2011

2012

2013
-600

-2

-15%

2007

Sumber: BPS Jatim, diolah

Net Ekspor Antar Pulau


g_Net Ekspor Antar Pulau (rhs) 800

-200

II III IV I II

-5%
2007

T
r
i
l
i
u
n

Net Ekspor Luar Negeri


g_Net Ekspor Luar Negeri (rhs)

Sumber: BPS Jatim, diolah

a. Konsumsi
Pada triwulan II 2013, pertumbuhan konsumsi rumah tangga tetap menjadi pendorong
utama pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur. Tercatat pertumbuhan konsumsi ini meningkat
dari 6,80% (yoy) menjadi 6,94%. Tibanya tahun ajaran baru di akhir triwulan menjadi pemicu
kenaikan konsumsi rumah tangga. Selain itu, hadirnya Surabaya Shopping Festival di sepanjang
bulan Mei dan beberapa perayaan hari keagamaan serta cuti bersama turut mendorong
peningkatan belanja masyarakat. Dukungan pemerintah di sektor perumahan untuk ekonomi
menengah ke bawah menjadi bumper pertumbuhan properti residensial seiring membaiknya
daya beli masyarakat dan stabilnya kinerja investasi swasta yang tersebar di berbagai daerah
tingkat kab/kota.
Membaiknya konsumsi rumah tangga Jatim pada triwulan ini turut dikonfirmasi oleh
meningkatnya beberapa indikator konsumsi, seperti hasil survei penjualan eceran, survey
konsumsi, jumlah konsumsi listrik rumah tangga, kredit konsumsi dan simpanan perorangan.
Sebagaimana dapat dilihat pada grafik 1.7, salah satu indikator konsumsi rumah tangga Jatim
yaitu indeks omset penjualan relatif stabil di atas indeks 110. Survei Penjualan Eceran (SPE) yang
dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia turut mengkonfirmasi perkembangan ekonomi
Jawa Timur. Hasil survei menginformasikan kenaikan tertinggi indeks penjualan barang tahan
lama meliputi kelompok barang konstruksi (indeks 192,64), peralatan rumah tangga (374,08),
pakaian (141,24) serta alat tulis (182,83).
Sementara itu, indikator konsumsi listrik rumah tangga juga meningkat (lihat grafik 1.8),
yaitu dari 816,82 juta Kwh menjadi 886.54 juta Kwh atau setara dengan peningkatan Kwh per
pelanggan dari 102,02 menjadi 108.79. Jumlah pelanggan rumah tangga yang dilayani terlihat
mengalami peningkatan sebesar 7,44%(yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2013 (4,40%
- yoy). Kenaikan Tarif Tenaga Listrik (TTL) per tanggal 1 Januari 2013 pada kelompok konsumen
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur
Triwulan II 2013

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL

rumah tangga hanya berlaku pada golongan pelanggan Rumah Tangga Besar (R3 daya 6600
VA ke atas). Besaran populasi kelompok ini relatif kecil namun memiliki konsumsi cukup besar
sehingga menyebabkan perlambatan pertumbuhan konsumsi. Konsumen golongan daya
tersambung 450 VA dan 900 VA tidak mengalami kenaikan TTL sehingga pertumbuhan jumlah
pelanggan rumah tangga masih cukup tinggi mengingat besarnya permintaan layanan
sambungan listrik khususnya di daerah terpencil. Dengan mekanisme kenaikan secara bertahap
diharapkan kebijakan ini tidak memberikan efek kejut pada tingkat konsumsi masyarakat
namun dapat mengurangi biaya subsidi pemerintah yang tidak tepat guna.
Grafik 1.8
1. 8
Konsumsi Listrik Rumah Tangga

Grafik 1.7
Indeks Penjualan Eceran
140

Indeks Omset Riil


Pakaian & Perlengkapannya
Alat Tulis
Barang Budaya dan Rekreasi

Indeks

120

600

Peralatan Rumah Tangga


Makanan, Minuman, Tembakau
Konstruksi

Konsumsi Listrik

Kwh/pelanggan

150
500

1,000
900

140

800
100

130
700

400

120

80
300

600

110

500

60

400

100
200

300
90

40

200
100

20

80

100
0

70
-

II III IV I

II III IV I

II III IV I

II III IV I

II III IV I

II III IV I

II III IV I

2006

2007

2008

2009

2010

2011

2012

II III IV I

II III IV I

II III IV I

II III IV I

II III IV I

II III IV I

2007

2008

2009

2010

2011

2012

II

II

2013

2013

Sumber : PLN (diolah)

Sebagai salah satu sumber pembiayaan belanja rumah tangga, indikator simpanan
perorangan terindikasi tumbuh melambat yaitu dari 14,43% (yoy) menjadi 12,81%. Arah
perlambatan indikator ini juga mengkonfirmasi meningkatnya konsumsi rumah tangga dengan
didorong oleh penurunan pertumbuhan simpanan jenis tabungan (dari 18,72% menjadi
15,06%), giro (dari 8,69% menjadi 6,31%) , sedangkan deposito meningkat dari 9,36%
menjadi 10,47%. Meningkatnya pertumbuhan deposito dipicu oleh pelemahan harga emas
dunia, sehingga masyarakat cenderung meningkatkan kembali investasi konvensionalnya dalam
bentuk simpanan di bank.
Konsumsi yang masih tinggi tercermin pula dari terjaganya stabilitas pertumbuhan kredit
konsumsi Bank Umum pada level tinggi, yaitu di atas 26% (yoy). Konsistennya pertumbuhan
kredit ini turut mendukung pembiayaan konsumsi masyarakat pada triwulan laporan. Ke depan
diperkirakan kinerja kredit konsumsi terjaga stabil meskipun suku bunga acuan BI Rate
meningkat sebesar 0,75 basis poin, Disisi lain adanya Kebijakan Bank Indonesia yang mengatur
batas maksimum suku bunga kartu kredit sebesar 2,95% per bulan diharapkan tidak
mengganggu pertumbuhan kredit ini. Kebijakan ini diluncurkan dalam rangka meningkatkan

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL

aspek perlindungan konsumen dan mendukung praktek pemberian Kartu Kredit yang lebih
memperhatikan manajemen risiko pemberian kredit.
Grafik 1.9
1.9
Perkembangan Kredit Konsumsi

Grafik 1.1
1.10
Dana Simpanan Perbankan Perorangan
35

Modal Kerja

% yoy

50,00
45,00
40,00
35,00
30,00
25,00
20,00
15,00
10,00
5,00
-

Investasi

Konsumsi

25

Tw I

Tw II

Tw III

Tw IV

Tw I

Tw II

60

gDPK Perorangan
gGiro Perorangan (rhs)
gTab Perorangan (rhs)
gDep Perorangan (rhs)

30

50
40

20

30

15

20

10

10

(10)
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II

2012

2007

2013

2008

2009

2010

2011

2012 2013

Peningkatan konsumsi masyarakat dikonfirmasi berbeda oleh hasil survei konsumsi, yang
mengindikasikan stabilnya tingkat keyakinan konsumen (IKK) di atas indeks 120, dengan
komposisi meningkatnya kepercayaan konsumen pada kondisi ekonomi saat ini (IKE), dan
ekspektasi konsumen (IEK) yang relatif stabil. Tingkat kepercayaan konsumen pada kondisi
ekonomi saat ini (IKE) kembali membaik seiring meningkatnya indikator tingkat ketersediaan
lapangan kerja saat ini. Faktor kejutan terkait kenaikan harga beberapa tarif pembentuk biaya
produksi diperkirakan hanya bersifat temporary, mengingat sektor produktif skala menengah
dan besar telah menganggarkan kenaikan ini di awal tahun meskipun nilai realisasinya masih
lebih tinggi dari perkiraan awal tahun. Sementara itu, terjaganya IEK pada level 135 didukung
oleh indikator keyakinan ketersediaan lapangan kerja 6 (enam) bulan yang akan datang dan
stabilnya indeks ekspektasi penghasilan (indeks 131,60) serta indeks keyakinan kondisi ekonomi
indonesia (indeks 100,60). Relatif terjaganya kondisi ekonomi di Jawa Timur dan didukung
dengan kondusifnya iklim investasi sehingga menambah jumlah lapangan pekerjaan khususnya
di wilayah kab/kota turut menjaga keyakinan responden dalam level optimis.
Grafik 1.1
1.11
Survei Konsumen Keyakinan Konsumen
160

Grafik 1.1
1.12
Survei Konsumen Kondisi Ekonomi Saat Ini
Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE)

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK)

Indeks

Indeks Pen ghasilan Saat Ini

Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE)

140

Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja

Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK)

160

120

140

100

120

80

100

Indeks Ketepatan Waktu Pembelian Barang Tahan Lama


Indeks

80

60

60
40

40
20

20

0
I

II

III IV

2007

II

III IV

2008

II

III IV

2009

II

III IV

2010

II

III IV

2011

II

III IV

2012

II

2013

II III IV
2007

II III IV I

II III IV

2008

2009

II III IV I

II III IV I

II III IV

2010

2011

2012

II

2013

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL

b. Investasi
Kinerja investasi Jawa Timur yang tercermin

Grafik 1.13
1.13
Perkembangan PMTB
25

pada

16%

Pembentukan Modal Tetap Bruto


20

12%

8%
10

Y
O
Y

6%
4%

5
2%
0%

0
2008

2009

2010

2011

2012

dari 8,20% (yoy) menjadi 8,67%. Namun, jika


diukur

berdasarkan proporsinya terindikasi

mulai mengalami penurunan sejak triwulan


I-2012yang

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II


2007

investasi

pada triwulan II 2013 mengalami perbaikan

10%

15

R
p

pertumbuhan

(Pembentukan Modal Tetap Bruto PMTB)

14%

T
r
i
l
i
u
n

tingkat

gPMTB (rhs)

2013

disebabkan

oleh

indikator

konsumsi rumah tangga cenderung meningkat

Sumber: BPS Jawa Timur, diolah

sehingga

patut diwaspadai dampak lanjutan di masa mendatang atas kinerja pertumbuhan ekonomi
Jatim, mengingat pentingnya investasi guna mencapai pertumbuhan ekonomi yang sustainable.
Grafik 1.1
1. 14
Infrastruktur Transportasi Jawa Timur

Grafik 1.1
1. 15
Infrastruktur Pendukung Sektor Industri Pengolahan

Turut men

Sumber: BPM Jatim, diolah

Sumber: BPM Jatim, diolah

Grafik 1.1
1.17
Perkembangan Nilai Proyek Investasi

Grafik 1.1
1.16
Perkembangan Jumlah Proyek Investasi
350

Jumlah Proyek PMA


Perubahan Jumlah Proyek PMA

12,000

Jumlah Proyek PMDN


Perubahan Jumlah Proyek PMDN

Nilai Proyek PMA (USD million)


g Nilai Proyek PMA

300%

300

1200%

Nilai Proyek PMDN (Rp miliar)


g Nilai Proyek PMDN

1000%
10,000
800%

250
200%

8,000
600%

200
6,000

400%

100%

150

200%
4,000

100
0%
50

0%
2,000
-200%

-100%
I

II III IV
2007

II III IV
2008

Sumber: BKPM

II III IV
2009

II III IV
2010

II III IV
2011

II III IV

2012

2013

II

-400%

II

III

IV

2007

II

III

2008

IV

II

III

2009

IV

II

III

2010

IV

II

III

2011

IV

II

III

2012

IV

II

2013

Sumber: BKPM

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL

Masih tingginya minat investasi ke wilayah Jawa Timur turut dikonfirmasi dari hasil
kegiatan Liaison dan searah pula dengan rilis data Badan Penanaman Modal Provinsi Jawa
Timur akhir semester I 2013. Meskipun kinerja Penanaman Modal Asing (PMA) mengalami
perlambatan, namun diperkirakan akan membaik seiring tingginya pengajuan investasi asing
yang didominasi sub sektor minyak dan gas di Tuban, Gresik dan Pasuruan senilai Rp. 9 Triliun.
Meskipun penetapan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) masih lebih tinggi dibandingkan
Jawa Tengah, namun investor lebih memilih berinvestasi di Jawa Timur dengan adanya fasilitas
infrastruktur pelabuhan, jalan tol dan bandara serta ketersediaan tenaga kerja yang terampil.
Selain itu, pangsa pasar sebesar 120 juta jiwa ke wilayah Indonesia Timur menjadi daya
tarik tersendiri, mengingat kuatnya jaringan perdagangan pengusaha Jawa Timur di wilayah ini.
Kuatnya perdagangan antar pulau turut didukung dengan fasilitas Pemprov Jatim yang
menyediakan Kantor Perwakilan Dagang (KPD) di 15 (lima belas) Provinsi yang tersebar di
wilayah Indonesia Timur dan Indonesia Barat. Hingga akhir tahun 2013, ditargetkan sebanyak
24 (dua puluh empat) KPD didirikan, tambahan sebanyak 9 (sembilan) KPD ini menggunakan
APBD Provinsi Jawa Timur Tahun 2013. Dalam pelaksanaan operasionalnya, teknis kerjasama
dagang antar daerah diemban oleh Duta Dagang yang notabene merupakan pelaku usaha di
kawasan yang menjadi target pemasaran produk Jatim. Sistem ini diharapkan dapat menekan
biaya operasional sehingga tidak membebani APBD Jatim terlalu tinggi. Selain itu Pemprov
Jatim tengah mempersiapkan perbaikan konektivitas logistik dengan memanfaatkan skema
Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi (MP3EI) antar Provinsi,
khususnya di wilayah Indonesia Timur.
Dari sisi investasi bangunan, beberapa proyek pembangunan di Jawa Timur yang
sedang berjalan diantaranya pembangunan pabrik pengolahan susu di Kabupaten Pasuruan
dan pembangunan pabrik baja beton. Selain itu adanya pembangunan pabrik untuk produksi
gula di wilayah Jember dan Malang, pabrik tembakau di Kab. Bojonegoro dan Kab. Tuban serta
pabrik pengolahan makanan laut di Kab. Sidoarjo dan Kab. Pasuruan turut mendorong realisasi
investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) periode ini sehingga lebih dominan
dibandingkan investasi Penanaman Modal Asing (PMA). Dari subsektor transportasi dan
komunikasi turut terinformasi rencana pembelian mesin dan peremajaan alat angkut
transportasi khususnya di sektor jasa angkutan darat dan laut.
Guna mendukung iklim investasi di Jatim, pembangunan beberapa proyek infrastruktur
telah dianggarkan pada tahun ini, dengan total nilai investasi sebesar Rp. 8 Triliun. Anggaran ini
dialokasikan untuk pembangunan tiga proyek jalan tol baru dan satu proyek jalan tol
pengganti, meliputi jalan tol Gempol-Pandaan (13,6 km), Gempol-Pasuruan (34,15 km),
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur
Triwulan II 2013

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL

Surabaya-Mojokerto (36,27 km) dan relokasi jalan tol Porong-Gempol (10 km). Sealin itu,
pembangunan Pelabuhan guna mengakomodir kebutuhan transaksi perdagangan luar dan
dalam negeri, mengingat tidak efisiennya proses bongkar muat melalui Pelabuhan Tanjung
Perak juga terus dilakukan. Pada tanggal 29 April 2013 telah diresmikan Pelabuhan
Penyeberangan Paciran yang dapat melayani kapal penumpang berkapasitas 500 orang dan
100 kendaraan roda empat.
Sementara itu, pembangunan pelabuhan Teluk Lamong tengah memasuki tahap
finalisasi berupa proses penambahan fasilitas pengerukan kolam dermaga domestik,
pembangunan Jembatan, fly over, kelengkapan gudang dan gedung operasional Pelabuhan.
Berdasarkan hasil liaison ke salah satu operator pelabuhan di Jawa Timur, guna mendukung
ketersediaan listrik di Jawa Timur, pertengahan tahun ini direncanakan pembangunan
Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) di Teluk Lamong bekerjasama dengan BUMD
setempat. Diharapkan PLTMG ini dapat beroperasi pada Mei 2014. Pembangunan fasilitas ini
juga untuk mengakomodir kebutuhan listrik operasional kereta api monorel tanpa operator
(Automated Container Transport ACT) di Pelabuhan Teluk Lamong guna mengurangi
kepadatan lalu lintas antara pelabuhan Tanjung Perak dan terminal Teluk Lamong. Proyek
lainnya yang diharapkan selesai di akhir tahun meliputi penambahan kapasitas Terminal
Bandara Juanda senilai Rp. 946 miliar, operasional Pelabuhan Tanjung Tembaga dan Pelabuhan
Probolinggo.
Namun demikian, tidak dimungkiri masih terdapat beberapa kendala, khususnya dalam
pembangunan kawasan industri di daerah. Dalam beberapa kesempatan Pemprov Jatim
menginformasikan rencana ini masih terkendala belum terkumpulnya kelompok investor yang
berkomitmen untuk berinvestasi pada pembangunan kawasan industri, karena prasyarat
minimal harus berada di lahan seluas 1000 ha. Masih belum terintegrasinya kawasan pabrik di
daerah menjadi kesulitan tersendiri bagi investor baru, khususnya untuk skala mikro dan kecil
mengingat masih minimnya akses jalan ke daerah, meskipun potensi sumber daya alam dan
manusia tersedia melimpah. Sebagai langkah awal, diperlukan koordinasi anggaran tingkat
kab/kota untuk membangun infrastruktur pendukung sehingga menjadi daya tarik tersendiri
bagi calon investor. Hal ini turut dikonfirmasi oleh hasil liaison yang dilakukan Kantor
Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV (Jawa Timur) dimana pengusaha menyuarakan
pentingnya ketersediaan infrastruktur di daerah serta jaminan integrasi sistem perijinan investasi
tingkat kab/kota, provinsi hingga level nasional guna memberikan kepastian biaya dan waktu
bagi kelompok calon investor baru.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL

% yoy

Grafik 1.1
1. 18
Perkembangan Kredit Investasi

Modal Kerja

50,00
45,00
40,00
35,00
30,00
25,00
20,00
15,00
10,00
5,00
Tw I

Tw II

Tw III
2012

Investasi

Tw IV

Konsumsi

Tw I

Tw II
2013

Sebagai salah satu sumber pembiayaan sektor produktif, kinerja penyaluran kredit
investasi periode ini tumbuh tinggi jika dibandingkan triwulan I 2013 dari 27,96% (yoy)
menjadi 34,32% seiring masih tingginya prospek positif perekonomian Jawa Timur yang
disertai dengan dukungan penciptaan iklim usaha yang kondusif. Di sisi lain, kredit modal kerja
masih relatif terjaga stabil di atas 20%, meskipun sedikit melemah dibandingkan triwulan I
2013.
Sementara itu, perlambatan investasi barang modal (mesin, peralatan, dll) diperkirakan
telah berlalu terutama karena kebijakan pemerintah membebaskan bea impor mesin dan
barang untuk pengembangan industri, dalam rangka mendukung peningkatan investasi dan
program industri perkapalan serta industri kendaraan bermotor nasional yang terangkum dalam
proyek MP3EI Nasional. Hal ini kemudian mendorong peningkatan investasi terutama oleh
industri perkapalan, sebagaimana diindikasikan oleh peningkatan impor barang modal
(Grafik 1.21).
Selanjutnya, indikator kinerja impor barang modal terindikasi adanya pertumbuhan
transaksi dari 0,96% menjadi 27,88% atau senilai USD 588 Juta. Tren ini turut mengkonfirmasi
membaiknya iklim investasi di Jatim, selain faktor upaya penambahan investasi berupa lahan
atau pabrik baru. Hasil kegiatan Liaison yang dilakukan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia
Wilayah IV pun mengindikasikan hal serupa dengan bertambahnya jumlah investor baru baik
dari dalam dan luar negeri di wilayah Jatim. Sedikit berbeda dengan triwulan sebelumnya,
beberapa pelaku usaha mengkonfirmasi telah membaiknya kinerja penjualan ekspor di berbagai
di negara tujuan, kecuali ke kawasan Eropa.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

10

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL

Grafik 1.2
1.20
Perkembangan Impor Barang Modal

Grafik 1.19
1.19
Perkembangan Volume Penjualan Semen
Penjualan Semen

2,500,000

800

g_Penjualan Semen

Capital Goods

30%

g_Capital Goods (rhs)

140

700
20%
2,000,000

10%
1,500,000

120

600

100

500

80

400

60

300

40

0%
1,000,000
-10%

20

200

100

500,000

(20)

-20%

(40)

0
0

-30%
I

II

III

2008

IV

II

III

IV

2009

II

III

2010

IV

II

III

2011

IV

II

III

2012

IV

160

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II

II

2013

2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

2012 2013

Sumber: Asosiasi Semen Indonesia

c. EksporEkspor-Impor
Pada pertengahan tahun 2013, tercatat transaksi perdagangan barang dan jasa Jatim
sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya dengan mencatatkan kinerja net ekspor
sebesar Rp. 4,04 trilyun, namun masih dalam tren positif net ekspor sejak triwulan II-2010.
Membaiknya kinerja ekspor impor Jatim utamanya didorong oleh peningkatan nilai net ekspor
perdagangan antar pulau (dari Rp. 2,69 triliun menjadi Rp. 3,47 triliun) dengan didukung
tercapainya net ekspor dari transaksi luar negeri sebesar Rp. 0,57 triliun.
Sedikit berbeda dengan pencatatan transaksi perdagangan luar negeri yang dilakukan
oleh BPS Jawa Timur, berdasarkan Laporan Aplikasi Permohonan Ekspor Barang (PEB) dan
Permohonan Impor Barang (PIB) dengan sumber Bea Cukai Jawa Timur, kembali mencatatkan
kondisi net impor sebesar USD 1291,57 juta. Meskipun transaksi ekspor luar negeri Jatim
mengalami perbaikan dari -10,12% (yoy) menjadi -0,31%, namun meningkatnya kebutuhan
impor (dari -4,70% (yoy) menjadi 5,51%) mengakibatkan neraca perdagangan luar negeri
kembali defisit.
Membaiknya transaksi ekspor luar negeri Jatim didominasi oleh jenis barang konsumsi
yang tumbuh sebesar 11,54% lebih tingga dari periode sebelumnya pada level 1,13%, serta
ekspor barang bahan baku yang membaik dari -14,66% (yoy) menjadi -5,53%. Sedangkan
ekspor barang modal mengalami perlambatan dari 42,18% menjadi 17,57%. Berdasarkan
komoditasnya, ekspor barang konsumsi didominasi oleh kelompok makanan olahan, perabot,
perhiasan dan alas kaki. Sedangkan untuk kelompok barang bahan baku didominasi oleh
ekspor karet mentah, kayu, lemak atau minyak hewan/nabati serta bahan kimia organik.
Selanjutnya untuk kelompok barang modal didominasi ekspor mesin/peralatan listrik.
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur
Triwulan II 2013

11

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL

Peningkatan transaksi impor utamanya didorong peningkatan pertumbuhan impor untuk


kelompok barang konsumsi (dari -9,26% (yoy) menjadi 59,13%), barang modal (dari 0,96%
(yoy) menjadi 27,88%) serta barang bahan baku (dari -5,00% (yoy) menjadi -1,86%).
Berdasarkan komoditasnya, impor barang konsumsi didominasi oleh kelompok aneka buah,
aneka biji berminyak serta aneka gandum. Sedangkan untuk kelompok barang bahan baku
didominasi oleh impor besi dan baja, aneka olahan plastik, pupuk serta bijih logam. Selanjutnya
untuk kelompok barang modal didominasi impor mesin/pesawat mekanik serta mesin/peralatan
listrik. Kinerja impor triwulan ini relatif membaik dibandingkan periode sebelumnya, meskipun
demikian Pemprov Jatim telah mengupayakan perumusan kebijakan lokal sebagai insentif bagi
sektor industri pengolahan yang memanfaatkan barang impor untuk diolah menjadi barang
ekspor baik keluar maupun dalam negeri.
Grafik 1.2
1. 21
Perkembangan Kinerja Ekspor Jatim

6,000,000

Grafik 1.22
1.22
Perkembangan Kinerja Ekspor Luar Negeri Jatim

(Rp Juta)

1,000

Net Ekspor LN

5,000,000

(USD Juta)

Net Ekspor Antar Pulau


500

4,000,000
3,000,000

2,000,000

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II

1,000,000

(500)

2006

2007

2008

2009

2010

2011

2012

2013

(1,000,000)
(2,000,000)

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II


2009

2010

2011

2012

2013

(1,000)

NET EKSPOR
Net Intermediate Goods

(1,500)

Net Capital Goods


Net Consumption Goods

Sumber: BPS Jatim, diolah


Grafik 1.23
1.23
Perkembangan Nilai Ekspor Per Jenis Barang
4,500

(USD Juta)

Grafik 1.24
1.24
Pertumbuhan Ekspor Per Jenis Barang

3,500

g_Total Ekspor
g_Capital Goods (rhs)
g_Intermediate Goods (rhs)
g_Consumption Goods (rhs)

80

Consumption Goods
Intermediate Goods
Capital Goods

4,000

70
60

3,000

50

2,500

40

2,000

30

1,500

20

(%, yoy)

250
200
150
100
50

10

1,000

500

(10)

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II


(50)

0
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II
2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

2012

2013

(20)
(30)

2006

2007

2008

2009

2010

2011

2012 2013
(100)

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

12

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL

Grafik 1.26
1.26
Perkembangan Nilai Impor

Grafik 1.25
1.25
Perkembangan Nilai Ekspor
4,500

Total Ekspor
g_Total Ekspor

(USD Juta)

4,000

(%, yoy)

80

6000

60

5000

40

4000

3,500
3,000

Total Impor
g_Total Impor (rhs)

(USD Juta)

(%, yoy)

60
40

2,500
20
2,000

20
3000

1,500

80

2000

(20)

1,000
(20)
500

1000

(40)

(40)

(60)

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II

2006

2007

2008

2009

2010

2011

2012 2013

2005

160.0

Consumption Goods
Intermediate Goods
Capital Goods

140.0

2009

2010

2011

2012 2013

g_Total Impor (rhs)

g_Capital Goods (rhs)

g_Intermediate Goods (rhs)

g_Consumption Goods (rhs)

120.0
100.0

3,500

U 3,000
S 2,500
D 2,000

80.0
60.0

y
o
y

1,500
1,000
500

40.0
20.0
0.0

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II

-20.0

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II


-40.0

2005

1.2.

2008

Pertumbuhan Impor per Jenis Barang

5,500

J 5,000
U
4,500
T
4,000
A

2007

Grafik 1.28
1.28

Grafik 1.2
1.27
Nilai Impor per Jenis Barang

C
I
F

2006

2006

2007

2008

2009

2010

2011

2012

2013

2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

2012

2013

-60.0

SISI PENAWARAN
Dari sisi penawaran, struktur perekonomian Jawa Timur pada triwulan II-2013 secara

keseluruhan masih didominasi oleh tiga sektor utama, yaitu Sektor Perdagangan, Hotel dan
Restoran, Sektor Industri Pengolahan dan Sektor Pertanian, dengan rincian kontribusi 31,04%
(Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran), 26,21% (Industri Pengolahan), dan 15,63%
(Sektor Pertanian). Secara umum, jumlah kontribusi ketiga sektor utama tersebut mencapai
72,87%, sedikit lebih rendah apabila dibandingkan dengan proporsi ketiganya pada Triwulan I
2013 yang tercatat sebesar 74,43%. Penurunan proporsi ini didorong meningkatnya kinerja
sektor pendukung meliputi sektor konstruksi, sektor pengangkutan dan komunikasi serta
sektor pertambangan dan penggalian. Berbeda dengan triwulan sebelumnya, sektor industri

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

13

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL

pengolahan tumbuh membaik di atas level 6%, yang didorong pertumbuhan sub sektor tekstil
dan alas kaki seiring meningkatnya konsumsi masyarakat menjelang tahun ajaran baru.
Tabel.1.
Tabel.1.3
bel.1.3 Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur Sisi Penawaran
LAPANGAN USAHA

2011
II
III
3.35
2.06
5.44
4.55
6.08
5.60
7.05
5.17
10.98
8.90
9.47 10.44
12.14 11.61
8.50
8.17
4.48
5.96
7.29
7.29

I
2.82
10.34
6.66
7.22
7.42
9.60
12.37
8.21
1.41
7.17

Pertanian
Pertambangan dan Penggalian
Industri Pengolahan
Listrik, Gas & Air Bersih
Bangunan
Perdagangan, Hotel & Restoran
Pengangkutan & Komunikasi
Keuangan, Persew & Jasa Persh
Jasa-Jasa
PDRB

IV
1.64
4.85
5.96
5.65
8.99
9.69
9.85
7.87
4.81
7.11

2012
I
II
III
IV
2.76 4.68 4.36 1.95
5.09 1.66 1.01 1.11
6.23 5.74 7.21 6.17
7.07 6.69 5.25 5.90
10.18 5.58 6.84 6.10
9.69 10.61 9.79 10.13
13.17 8.05 8.79 9.10
7.76 8.92 8.18 7.20
4.75 4.96 4.63 4.97
7.27 7.31 7.41 7.09

2013
I
II
1.96 2.95
2.67 2.30
5.03 6.40
5.28 4.60
8.26 10.53
9.38 8.92
10.98 10.04
8.49 7.69
4.40 4.96
6.62 6.97

Sumber: BPS Jatim, diolah

Grafik 1.30
1.30
Pertumbuhan Sektor Pendukung

Grafik 1.29
1.29
Pertumbuhan Tiga Sektor Utama
16

(%, yoy)

18 (%, yoy)
16
14
12
10
8
6
4
2
0

Pertanian
Industri Pengolahan
Perdagangan, Hotel & Restoran

14
12
10
8
6
4
2
0
I

II

III
2011

IV

II

III

IV

2012

II

Jasa-Jasa
Pengangkutan & Komunikasi
Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan

II

2013

III

IV

2011

Sumber: BPS Jatim, diolah

II

III
2012

IV

II
2013

Sumber: BPS Jatim, diolah

Grafik 1.31
1.31
Pertumbuhan Sektor Pendukung
16

(%, yoy)

Listrik, Gas & Air Bersih


Bangunan
Pertambangan dan Penggalian

14
12
10
8
6
4
2
0
I

II

III
2011

IV

II

III
2012

IV

II
2013

Sumber: BPS Jatim, diolah

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

14

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL

Berbeda dengan triwulan sebelumnya,sektor Konstruksi mengalami pertumbuhan


tertinggi yaitu sebesar 10,53% (yoy), yang diikuti oleh sektor Pengangkutan dan Komunikasi
(10,04%) serta sektor Perdagangan, Hotel & Restoran (PHR) di level 8,92%. Selanjutnya, secara
berurutan pertumbuhan di atas 4% terjadi pada sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa
Perusahaan dengan pertumbuhan mencapai 7,69% (yoy), sektor Industri Pengolahan (6,40%),
sektor Jasa-Jasa (4,96%) serta sektor Listrik, Gas dan Air Bersih (4,60%). Berbeda dengan
triwulan sebelumnya, pertumbuhan sektor primer, sekunder serta tersier relatif tersebar merata.
Salah satu indikator perkembangan kegiatan usaha di Jawa Timur, yaitu hasil Survei
Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV
menunjukkan adanya peningkatan tingkat utilisasi kapasitas produksi dari 76,91% menjadi
79,28%. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya utilisasi sektor listrik, gas dan air bersih
(7,13%),

industri

pengolahan

(2,79%)

serta

pertanian

(2,60%).

Sedangkan

sektor

pertambangan mengalami perlambatan sebesar -0,29% dibandingkan triwulan I 2013. Secara


keseluruhan tingkat utilisasi kapasitas produksi sektor utama Jatim masih berada di atas 70%,
hanya sub sektor gas yang berada pada level 62%.
Grafik 1.32
1.32
Utilisasi Kapasitas Produksi
82

Grafik 1.33
1.33
Utilisasi Kapasitas Produksi Sektoral

Kapasitas Produksi Terpakai (Persen)


Perkembangan Kegiatan Usaha (left axis)

SBT

41

80

36

78

31

76

26

74

21

72

16

120

%, SBT

Total

Pertanian

Industri Pengolahan

Listrik Gas Air Bersih

Pertambangan

100
80
60

70

11

68

66

40
20

-4

64
I

II

III

2009

IV

II

III

2010

IV

II

III

2011

IV

II

III

2012

IV

II

2013

0
I

II

III

IV

2009

II

III

2010

IV

II

III

2011

IV

II

III

IV

2012

II
2013

Peningkatan kinerja ekonomi pada triwulan II 2013 turut dikonfirmasi oleh indeks
realisasi usaha pada Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang mengalami penurunan dari
2,60 menjadi 37,72. Secara sektoral, tingkat pertumbuhan sektor utama pun searah dengan
indeks realisasi usaha, salah satunyaadanya panen beberapa kelompok bahan makanan turut
mendorong indeks realisasi usaha sektor pertanian mencapai 7,58. Demikian pula dengan
kedelapan sektor lainnya, tercatat hanya sektor Pertambangan, sektor Listrik, Gas dan Air Bersih
serta sektor Bangunan yang berada pada kisaran level indeks 0,50.
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur
Triwulan II 2013

15

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL


Grafik 1.34
1.34
Indeks Realisasi Usaha

Grafik 1.35
1.35
Indeks Realisasi Usaha Sektoral

40

37.72

35.87

30

25.86
23.29
22.32
21.6

22.1
20

26.35

15.81

11.35
10

S
B
T

12.65

11.6

7.05

30

16.30
12.71

25

8.49

6.43

6.47

4.15

20

2.60
1.1

15

0
I

II

III

IV

II

III

-10

2006

IV

II

III

IV

II

III

-1.85

-0.45
2007

IV

II

III

IV

II

III

IV

II

III

IV

II

10

-1.46
2008

PERTANIAN
PHR

35

20.88

19.5518.54

TOTAL
INDUSTRI PENGOLAHAN

40

31.82

2009

2010

2011

2012

2013

5
-20

-18.91

Indeks Realisasi Usaha

-5

-30 -27.23

-10

II

III

IV

2009

II

III

IV

2010

II

III

2011

IV

II

III

2012

IV

II

2013

-40

a.

Sektor Perdagangan, Hotel & Restoran (PHR)


Masih sama dengan pola historisnya, pertumbuhan sektor PHR termasuk dalam 2 (dua)

besar sektor dengan pertumbuhan tertinggi dalam struktur ekonomi Jatim. Pada
triwulan II 2013, Sektor Perdagangan Hotel dan Restoran tercatat mengalami pertumbuhan
kedua tertinggi yaitu mencapai 8,92% (yoy), namun demikian melemah dibandingkan
dengan

pertumbuhan

triwulan

sebelumnya.

Perlambatan

ini

dipicu

melemahnya

pertumbuhan sub sektor perdagangan besar dan eceran dari 11,06% (yoy) menjadi 8,78%.
Sedangkan kedua sub sektor lainnya yaitu hotel dan restoran masing-masing meningkat
menjadi 9,04% (yoy) dan 9,65%. Perlambatan sub sektor perdagangan besar dan eceran
dipicu oleh melemahnya kinerja transaksi perdagangan luar negeri daerah sebagaimana telah
diinformasikan sebelumnya bahwa kinerja ekspor antar daerah mengalami penurunan dari
13,73% (yoy) menjadi 9,73%. Selain itu, dari kegiatan perdagangan luar negeri sumber
penurunan kegiatan perdagangan berasal dari transaksi impor luar negeri dari 6,72% (yoy)
menjadi 1,62%.
Meningkatnya kinerja subsektor hotel di Jawa Timur dikonfirmasi oleh peningkatan
pertumbuhan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) dan lama tinggal tamu di Hotel Berbintang.
TPK Hotel Berbintang tercatat mengalami peningkatan pada level 52,69%. Demikian pula
dengan rata-rata lama menginap tamu mengalami peningkatan baik dari jumlah tamu asing
maupun domestik, sehingga secara keseluruhan mencapai 2,07 hari per tamu. Meningkatnya
rata-rata lama menginap terbesar berasal dari tamu asing dari 3,12 hari menjadi 4,08.
Sedangkan tamu domestik meningkat dari 1,7 hari menjadi 1,88 hari. Pencanangan Jawa
Timur sebagai salah satu tujuan favorit wisata mancanegara melalui pameran dan kerjasama
maskapai penerbangan turut mendorong peningkatan jumlah wisatawan mancanegara
hingga mencapai 13,68% (yoy) atau mencapai 19.898 orang, yang merupakan angka

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

16

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL

tertinggi selama 12 (dua belas) tahun terakhir. Selain itu, meredanya ancaman bencana pada
beberapa tujuan wisata favorit seperti Bromo dan Kelud menjadi daya tarik bagi wisatawan
asing.
Grafik 1.36
1.36

Grafik 1.3
1.37

Tingkat Hunian Kamar Hotel Berbintang di Jatim

Lama Tinggal Tamu di Hotel Berbintang Jatim

60%

TPK Hotel Berbintang Jatim

Asing

55%

Indonesia

Total

50%

H
A
R
I

45%

40%

1
35%

30%
I

II

III IV

2007

II

III IV

II

2008

III IV

II

2009

III IV

II

2010

III IV

2011

II

III IV

2012

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II

II

2013

2007

2008

2009

2010

2011

2012

2013

Sumber : BPS Jatim (diolah)

Sumber : BPS Jatim (diolah)

Grafik 1.3
1.38

Grafik 1.39
1.39

Jumlah Wisatawan Asing melalui Bandara Juanda


100%
80%

Konsumsi Listrik Golongan Bisnis


280

TPK Hotel Berbintang Jatim

260

30%

240

25%

Kwh

Konsumsi Listrik Bisnis

Pertumbuhan

20%

220

60%

15%

200

40%

10%

180

5%

160

20%

0%

140

0%
I

II III IV

II III IV

II III IV

II III IV

II III IV

II III IV

II

2012

2013

-20%
2007

2008

35%

gJumlah Wisman Melalui Juanda

2009

2010

2011

-40%

-5%

120

-10%

100

-15%

80

-20%
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II
2007

-60%
Sumber : BPS, diolah

2008

2009

2010

2011

2012

2013

Sumber : PLN (diolah)

Berbeda dengan ketiga indikator sebelumnya, indikator konsumsi listrik bisnis di Jawa
Timur pada triwulan ini mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya. %.
Kenaikan Tarif Tenaga Listrik (TTL) per tanggal 1 Januari 2013 pada kelompok bisnis menengah
(B-2 daya 6600 VA s.d 200 kVA) dan bisnis besar (R-3 daya 6600 VA ke atas) turut
mempengaruhi konsumsi listrik, berupa penggiatan kegiatan penghematan khususnya pada
jenis usaha perhotelan dan shopping mall

segmen bawah. Hal ini juga turut

berpengaruh pada biaya operasional pedagang sehingga turut mengurangi marjin usaha.
Pertumbuhan konsumsi listrik golongan bisnis/industri mencatat perlambatan dari
255,8 juta Kwh menjadi 260,9 juta Kwh atau sama dengan penurunan pertumbuhan dari
sebesar 10,38% (yoy) pada triwulan I 2013 menjadi 3,24
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur
Triwulan II 2013

17

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL

b. Sektor Industri Pengolahan


Sektor industri pengolahan mengalami pertumbuhan sebesar 6,40% (yoy), tumbuh
lebih tinggi apabila dibandingkan dengan pertumbuhan sebelumnya yang mencatat
pertumbuhan sebesar 5,03% (yoy). Perbaikan sektor ini dipicu meningkatnya sub sektor
industri makanan, minuman dan tembakau (6,86% - yoy), sub sektor industri barang kayu dan
hasil hutan lainnya (15,35%), sub kelompok industri semen dan barang galian bukan logam
(15,87%) serta sub kelompok industri barang lainnya (5,75%). Hanya sub sektor industri tekstil,
barang kulit dan alas kaki serta sub sektor industri alat angkut, mesin dan peralatannya yang
mengalami perlambatan sebesar 0,5%.
Berdasarkan rilis data survei pertumbuhan produksi industri manufaktur skala mikro,
kecil, sedang dan besar diperoleh informasi sub sektor industri merupakan sub sektor yang
paling dominan mendorong kinerja industri pengolahan Jawa Timur pada triwulan II 2013.
Membaiknya kinerja sektor industri pengolahan untuk kategori jenis industri mikro dan kecil
didominasi oleh meningkatnya pertumbuhan sub sektor industri barang logam (30,34%), kulit
(26,82%), makanan (24,80%), minuman (23,12%) serta peralatan listrik (19,05%). Sedangkan
untuk kategori industri manufaktur besar dan sedang didorong oleh perbaikan pertumbuhan
sub sektor farmasi (21,06% - yoy), bahan kimia (19,65%) serta industri kayu (19,01).
Berdasarkan informasi anekdotal, wilayah Jawa Timur banyak didirikan industri skala
mikro dan sedang, khususnya industri makanan, minuman dan tembakau, seiring melimpahnya
sumber daya alam dan akses infrastruktur yang memadai dibandingkan provinsi lainnya di
Pulau Jawa. Selain itu, kenaikan tarif komponen biaya produksi hanya bersifat temporary
sebagaimana diinformasikan dari hasil liaison bahwa perusahaan industri pengolahan skala
menengah dan besar telah mengalokasikan perkiraan kenaikan biaya tersebut, meskipun angka
realisasinya masih lebih besar dari perkiraan anggarannya.
Grafik 1.40
1.40
Pertumbuhan Sektor Indusri Pengolahan

Grafik 1.41
1.41
Pertumbuhan Produksi Industri Pengolahan
40

Makanan, Minuman dan Tembakau


Tekstil, Brg. Kulit & Alas kaki
Kertas dan Barang Cetakan
Logam Dasar Besi & Baja

16

12

30
20

%
y
o
y

10
0

-10
0

I 2013

-20
I

II

III

IV

II

III

IV

II

III

IV

II 2013

II
Sumber : BPS Jatim (diolah)

-4

-30
2010

Sumber: BPS Jatim , diolah

2011

2012

2013
Sumber: BPS Jatim , diolah

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

18

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL

Perbaikan kinerja sektor industri pengolahan turut dikonfirmasi oleh impor bahan baku
dan modal. Tercatat impor bahan baku dan barang modal mengalami kenaikan menjadi
59,13% (yoy) dan 27,88%. Kondisi ini merefleksikan masih tingginya minat investasi para
pelaku usaha untuk mengganti maupun menambah mesin produksi di wilayah Jawa Timur.
Jika dilihat dari

indikator konsumsi listrik bisnis di Jawa Timur pada triwulan ini

mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan konsumsi listrik


golongan industri mencatat perlambatan dari 1102,5 juta Kwh menjadi 841,6 juta Kwh atau
sama dengan penurunan pertumbuhan dari sebesar 16,72% (yoy) pada triwulan I 2013
menjadi -22,05%.
Grafik
Grafik 1.42
1.42
Perkembangan Pertumbuhan Impor
Impor Barang Bahan Baku
160.0

g_Total Impor (rhs)

140.0

g_Intermediate Goods (rhs)

Grafik 1.43
1.43
Konsumsi Listrik Golongan Industri

g_Capital Goods (rhs)

980

g_Consumption Goods (rhs)

880

120.0
100.0

80.0

Pertumbuhan

60%
%

50%

780

40%

680

30%

580

20%

480

10%

380

0%

40.0

280

-10%

20.0

180

-20%

0.0

80

60.0

y
o
y

Konsumsi Listrik Industri

Kwh

-30%
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II


-20.0
-40.0

2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

2012

2013

2007

2008

2009

2010

2011

2012

2013

Sumber : PLN (diolah)

-60.0

Sumber: BPS Jatim , diolah

Sumber: BPS Jatim , diolah

c. Pertanian
Pertumbuhan ekonomi sektor pertanian Jawa Timur sedikit meningkat dibandingkan
triwulan sebelumnya, yaitu sebesar 2,95% (yoy), yang didorong oleh meningkatnya produksi
sub sektor tanaman bahan makanan (3,36% - yoy) dan perikanan (4,24%). Sedangkan sub
sektor lainnya mengalami perlambatan, dengan penurunan terbesar terjadi pada sub sektor
kehutanan, perkebunan dan peternakan.
Tabel 1.3 Pertumbuhan Ekonomi Sektor Pertanian
2011

2012

2013

LAPANGAN USAHA
I
PERTANIAN
1.1. Tanaman Bahan Makanan
1.2. Tanaman Perkebunan
1.3. Peternakan
1.4. Kehutanan
1.5. Perikanan

2.82
1.88
3.76
5.91
4.60
3.92

II

III

IV

II

III

IV

3.35 2.06 1.64 2.76 4.68 4.36 1.95


2.18 2.43 0.90 1.91 5.09 4 .94 -1.49
3.97 -1.53 9.36 3.94 2.82 1.0 2 2.81
6.40 4.42 0.61 3.34 3.42 3.24 4.68
4.83 7.62 8.04 23.03 16.52 40.51 26.89
4.28 3.00 -2.78 4.02 4.55 5.10 4.12

I
1.96
0.94
3.52
3.39
9 .83
4.08

II
2.95
3.36
1.71
1.18
4.27
4.24

Sumber: BPS Jatim , diolah

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

19

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL

Berdasarkan rilis data ARAM I Tahun 2013 diperoleh informasi adanya penurunan
produksi padi tahun 2013 dibandingkan 2012 sebesar -4,17% atau 508,53 ribu ton. Penyebab
utama penurunan ini adalah turunnya produktivitas sebesar 2,23 kuintal per hektar atau
-3,61% sebagai akibat panjangnya musim penghujan di awal tahun sehingga menyebabkan
bulir padi kosong. Namun demikian, dengan membaiknya cuaca di pertengahan tahun dan
ketersediaan infrastruktur irigasi menjelang memasuki musim tanam di bulan Agustus 2013
diharapkan terjadi perbaikan produktivitas sehingga produksi padi ditargetkan minimal sama
dengan tahun 2012. Sebagaimana terkonfirmasi pada grafik di bawah ini, pertumbuhan luas
panen padi dan jagung meningkat hal ini mengkonfirmasi meningkatnya panen kelompok
tanaman bahan makanan pada triwulan ini. Sementara itu, luas lahan puso padi dan jagung
mengalami penurunan setelah berkurangnya curah hujan di wilayah Jawa Timur sejak Maret
2013.
Untuk mengatasi dampak akibat anomali cuaca, Dinas Pertanian wilayah Jawa Timur telah
menganggarkan pemberian bantuan sarana dan prasarana pertanian berupa jaringan irigasi,
lampu pembasmi hama dan mengoptimalkan program system of rice intensification (SRI) yang
telah berjalan sejak tahun 2011. Permasalahan makin berkurangnya luas lahan tanam

di

daerah selain diatasi melalui penerbitan RTRW tingkat kab/kota juga dengan mengkoodinasikan
gerakan pemanfaatan lahan tadah hujan dan bantaran sungai oleh seluruh Dinas Pertanian di
Jawa Timur.
Pada tanaman hortikultura, tercatat beberapa sentra produksi seperti di
Nganjuk memiliki

Kabupaten

luas lahan bawang merah sebesar 10.200 hektar, dengan produktifitas

mencapai 14 15 ton/hektar. Dari sisi harga terdapat potensi kenaikan harga terutama pada
komoditas bawang merah yang disebabkan kelangkaan stok bibit bawang merah lokal yang
habis terjual ketika harga bawang merah sedang tinggi pada triwulan I 2013. Untuk komoditas
hortikultura lainnya u, dapat diinformasikan pula beberapa Kab/Kota telah berhasil mengekspor
hasil pengembangan tanaman hortikultura, salah satunya yaitu komoditas buah Melon. Total
produksi pada tahun 2012 mencapai 111.597 ton melon dengan luas tanam seluas 368 hektar.
Terkait dengan kenaikan harga BBM, sebanyak 15 ribu hektar lahan padi di Kabupaten
Ngawi masih sangat bergantung pada solar yang digunakan untuk pembangkit pompa air.
Namun demikian beberapa petani di Kabupaten Ngawi tengah mengembangkan pompa air
dengan tenaga listrik yang dapat menghemat biaya sekitar 50% dari biaya menggunakan solar.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

20

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL

Luas Panen Padi (Ha)

Luas Tanam Padi (Ha)

gLuas Panen Padi (%)

gLuas Tanam Padi (%)

Ha
1,000,000

Grafik 1.4
1. 45
Luas Lahan Tanam & Panen Jagung di Jawa Timur
900,000

200

(Ha)

800,000
150

800,000

Luas Panen Jagung (Ha)

Luas Tanam Jagung (Ha)

gLuas Panen Jagung (%)

gLuas Tanam Jagung (%)

(%)

Grafik 1.4
1.44
Luas Lahan Tanam dan Panen Padi

140
120
100

700,000

80
600,000

100
600,000
50
400,000

60

500,000

40

400,000

20
-

300,000

(20)
200,000

200,000

(50)

2008

2009

2010

2011

2012

(80)
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II


2007

(60)

(100)

2006

(40)

100,000

2013

2006

Sumber : Dinas Pertanian Provinsi (diolah)

2007

2008

2009

2010

2011

2012

2013

Sumber : Dinas Pertanian Provinsi (diolah)

Grafik 1.4
1.46
Luas Lahan Puso di Jawa Timur
(Ha)

Luas Puso Padi (Ha)

Luas Puso Jagung (Ha)

gLuas Puso Padi (%)

gLuas Puso Jagung (%)

30,000

(%)

35,000

12,000
10,000

25,000

8,000

20,000

6,000

15,000

4,000

10,000

2,000

5,000

(2,000)
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II
2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

2012

2013

Sumber : Dinas Pertanian Provinsi (diolah)

d. Keuangan, Persewaan, dan Jasa


Pada periode laporan, kinerja Sektor Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan sedikit
melambat dari 8,49% (yoy) menjadi 7,69%. Perlambatan ini disebabkan oleh perlambatan
hampir seluruh sub sektornya, kecuali sub sektor jasa perusahaan. Tercatat sub sektor bank,
lembaga keuangan bukan bank serta sewa bangunan mengalami penurunan sebesar 1% s.d
2% (yoy). Namun demikian, sub sektor jasa perusahaan tercatat mengalami peningkatan
sebesar 3% (yoy).
Terjaganya kredit penyaluran perbankan pada level tinggi dengan tingkat risiko yang
terjaga rendah mendorong terjadinya pertumbuhan subsektor ini pada periode laporan.
Demikian pula dengan indikator perbankan lainnya, seperti pertumbuhan laba net interest

margin dan fee based income. Sementara itu, Rasio Biaya Operasional dibandingkan dengan
Pendapatan Operasional mengalami penurunan sebagai konsekwensi atas meningkatnya
pendapatan bunga dan tingkat efisiensi yang semakin tinggi.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

21

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL


Grafik 1.4
1.47

Grafik 1.4
1.48

Pertumbuhan Kredit dan DPK Perbankan Jawa Timur

Perkembangan NIM Perbankan Jawa Timur

20%

gDana Pihak Ketiga

30.00%

gKredit

7,000,000

Nilai Net Interest Margin (NIM)

160.00%

gNet Interest Margin (NIM)

18%

140.00%

6,000,000

25.00%

16%

120.00%
5,000,000

14%
20.00%

100.00%

12%

4,000,000

10%

80.00%

15.00%

3,000,000
8%

60.00%
10.00%

6%

2,000,000
40.00%

4%
5.00%

1,000,000

20.00%

2%

II

2010

III

IV

II

2011

III

IV

2012

2013

II

III

II

III

2011

2012

2013

Grafik 1.50
1.50

Interest--Based Income
Perkembangan Interest

Fee-- Based Income


Perkembangan Fee
Fee Based Income
g.Fee Based Income

700,000

2010

Grafik 1.49
1. 49
800,000

II

III

II

IV

IV

IV

III

IV

II

0.00%

0.00%

II

0%

600,000

60%

10,000,000

50%

9,000,000

40%

8,000,000

50%

40%

7,000,000

30%

500,000

Interest Based Income


g.Interest Based Income

30%

6,000,000

20%
400,000

5,000,000

20%

10%

4,000,000

300,000

0%

200,000
100,000
I

II

III IV

2009

II

III IV

2010

II

III IV

2011

II

III IV

2012

10%

3,000,000

-10%

2,000,000

-20%

1,000,000

-30%

II

0%

-10%
I

2013

II III IV I

II III IV

2009

2010

II III IV
2011

II III IV I
2012

II

2013

Grafik 1.51
1.51
Perkembangan Pendapatan Biaya Operasional Bank Umum
5,000,000

Pendapatan Operasional - Biaya Operasional


BO/PO

140.60

4,000,000

120.60

3,000,000

100.60

2,000,000

80.60

1,000,000

60.60
40.60

I II
2009

III IV

I II
2010

III IV

I II
2011

III IV

I II
2012

III IV

I II
2013

(1,000,000)

20.60

(2,000,000)

0.60

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

22

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL

e. Bangunan
Kinerja sektor bangunan di awal tahun 2013 kembali mencatatkan peningkatan dari
sebelumnya 8,26% (yoy) menjadi 10,53%. Beberapa indikator yang mengkonfirmasi
peningkatan kinerja sektor bangunan antara lain data pembangunan dan penjualan properti
residensial beberapa segmen di Jawa Timur. Meskipun pertumbuhan volume penjualan semen
berdasarkan nilainya masih lebih rendah dibandingkan triwulan I 2013, namun masih berada
pada level pertumbuhan yang sama. Indikator lainnya yaitu Survei Harga Properti Residensial
menginformasikan adanya peningkatan pada rata-rata jumlah pembangunan dan penjualan
properti residensial, khususnya pada kelompok kecil, yang diikuti pula peningkatan kelompok
sedang dan besar. Beberapa faktor yang diperkirakan menahan pertumbuhan kinerja sektor
bangunan antara lain kenaikan harga bahan bangunan, kenaikan upah pekerja, mahalnya biaya
perizinan serta kebutuhan penambahan fasilitas umum pada perumahan.
Grafik 1.52
1.52
Pertumbuhan Sektor Pendukung
16

(%, yoy)

Grafik 1.53
1.53
Volume Penjualan Semen di
di Jawa Timur

Listrik, Gas & Air Bersih


Bangunan
Pertambangan dan Penggalian

14
12

Penjualan Semen

2,500,000

g_Penjualan Semen

30%

20%

2,000,000

10

10%
1,500,000

0%

6
1,000,000

-10%

500,000

-20%

0
I

II

III

IV

II

III

IV

II

-30%

0
I

2011

2012

2013

Sumber: BPS Jatim (diolah)

Grafik 1.54
1.54
RataRata-Rata Pembangunan Properti Residensial

II

III

2008

IV

II

III

IV

2009

II

III

2010

IV

II

III

2011

IV

II

III

2012

IV

II

2013

Sumber: Asosisasi Semen Indonesia

Grafik 1.55
1.55
RataRata- Rata Penjualan Properti Residensial

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

23

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL

f.

Pengangkutan dan Komunikasi


Kinerja sektor Pengangkutan dan Komunikasi pada periode laporan mengalami

perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya, yaitu dari 10,98% (yoy) menjadi 10,04%. Hal
tersebut didorong oleh melambatnya seluruh sub sektornya yaitu sub sektor pengangkutan dan
komunikasi. Namun demikian kedua sektor ini masih tumbuh tinggi di atas level 8%, yaitu sub
sektor angkutan mencapai 8,46% (yoy) dan sub sektor komunikasi (11,51%). Masih sama
dengan periode sebelumnya, pertumbuhan tertinggi sub sektor transportasi disumbang oleh
jenis transportasi udara (10,08%), diikuti oleh transportasi jalan raya (9,09%) dan jasa
penunjang angkutan (7,74%). Dengan adanya strategi pemasaran maskapai penerbangan yang
cukup baik antara lain dengan penerapan efisiensi biaya penerbangan, kemudahan pembelian
tiket secara on line tanpa harus melalui agen, serta promosi penjualan tiket dengan harga
promo masih menjadi faktor pendorong peningkatan jumlah penumpang moda transportasi
udara. Tren peningkatan tersebut dapat dijadikan alasan tingginya pertumbuhan industri
transportasi udara di Indonesia, yaitu mencapai 20% dalam 5 (lima) tahun terakhir.
Meskipun mengalami perlambatan, sub sektor komunikasi masih mencatat pertumbuhan
tinggi di atas 11% (yoy). Semakin beragamnya kebutuhan komunikasi individu turut
mendorong pertumbuhan sektor ini tidak hanya di faktor layanan telekomunikasi namun juga
di jasa penunjangnya. Tidak hanya kebutuhan komunikasi, mengikuti perkembangan terkini
kebutuhan sosial dalam komunitas dan transaksi pun menjadi dimudahkan, sehingga
kebutuhan sub sektor ini semakin tidak terlepaskan dari sendi sendi kehidupan
bermasyarakat.
Grafik 1.56
1.56

Grafik 1.5
1.57

Arus Penumpang di Tanjung Perak


Jml Penumpang
150

Arus Barang di Tanjung Perak


g Jml Barang (rhs)
% yoy

3500

% yoy

Ribu Orang

Vol Barang

Ribu Ton

g Jml Penumpang (rhs)

40%

130

100%

50%

80%
3000
60%

30%
2500

110

20%
10%

90

40%
2000

20%

0%
70
-10%
50

0%

1500

-20%
-30%

30

-20%
1000
-40%

-40%
10
-10

500

-50%
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II

-60%

-60%

-80%

0
I

2007

2008

2009

2010

2011

2012

II

III IV

2007

Sumber : BPS Provinsi Jatim

II

III IV

II

III IV

II

III IV

II

III IV

II

III IV

II

2013
2008

2009

2010

2011

2012

2013

Sumber : BPS Provinsi Jatim (diolah)

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

24

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL

2000

Grafik 1.5
1. 58

Grafik 1.59
1.59

Penumpang Domestik di Bandara Juanda

Penumpang Internasional di Bandara Juanda

Jml Penumpang Domestik


g Jml Penumpang Domestik (rhs)

Ribu Orang

40%

% yoy

250

(Ribu Orang)

50%

(% yoy)

Jml Penumpang Intl


gPenumpang Intl (rhs)

1800

40%

30%
200

1600

30%

1400
20%
1200

150
20%

1000

10%
10%

800

100

0%
600
0%

400
-10%

50
-10%

200
0

-20%
I

II III IV I

II III IV I

II III IV I

II III IV I

II III IV I

II III IV I

2007

2008

2009

2010

2011

2012

II

-20%
I

II

III IV

2007

Sumber : BPS Provinsi Jatim (diolah)

II

III IV

II III IV

II

III IV

II

III IV

II

III IV

II

2013
2008

2009

2010

2011

2012

2013

Sumber : BPS Provinsi Jatim (diolah)

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

25

Bab 2


PERKEMBANGAN INFLASI
JAWA TIMUR

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI

PERKEMBANGAN INFLASI

2.1 KONDISI UMUM


UMUM
Inflasi IHK pada triwulan II-2013, Secara tahunanmencapai sebesar 5,93% (yoy), lebih
tinggi dibandingkan nasional (5,90%). Sementara secara triwulanan, inflasi Jatim sudah
kembali pada pola normalnya yang tercatat 0,11% (nasional 1,54%), lebih rendah
dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 2,87% (nasional 1,54%).
Tekanan inflasi dari volatile foods yang cukup kuat pada triwulan I-2013 terutama
dari komoditas bumbu-bumbuan dan buah-buahan terlihat mereda memasuki awal hingga
akhir triwulan II-2013. Disamping itu, terjadi pula penurunan harga pada komoditas emas
perhiasan yang masuk dalam kelompok core sebagai dampak melemahnya harga komoditas
ini di pasar internasional.
Namun demikian, koreksi harga dari kelompok volatile foods dan core kembali
tertahan dengan naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada kelompok administered

prices di penghujung triwulan ini, mengakibatkan

kenaikan tarif angkutan dan

berpengaruh kuat terhadap ekspektasi. Kenaikan BBM ini, diyakini menjadi faktor dominan
pemicu inflasi pada triwulan berikutnya, selain dorongan permintaan memasuki tahun
ajaran baru, bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.
Grafik 2.1.
Inflasi Jawa Timur & Nasional (yoy)

Grafik 2.2.
2.2.
Perkembangan Inflasi Jawa Timur

Grafik 2.3.
2.3.
Inflasi Jawa Timur (qtq)
4.00

Grafik 2.4
2.4.
Disagregasi Inflasi Jawa Timur (qtq)
12.00

2009
2010
2011
2012
2013

3.50
3.00

10.00
8.00

2.50

Umum
Core
Volatile Foods
Administered Prices

6.00

2.00

4.00
1.50

2.00
1.00

0.50

(2.00)

0.00
-0.50
-1.00

Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Sumber : BPS Jatim (diolah)

Jun

Jul

Aug

Sep

Okt

Nov

Des

(4.00)
(6.00)

4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6
2011

2012

2013

Sumber : BPS Jatim (diolah)

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

26

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI

Secara historis, inflasi Jatim selalu sejalan dengan nasional dengan tingkat inflasi yang
relatif lebih tinggi. Berbeda dibandingkan periode sebelumnya dimana Jatim mengalami
inflasi tertinggi di kawasan Jawa, pada
periode ini inflasi Jatim berada di urutan
ketiga

tertinggi.

Realisasi

inflasi

Grafik 2.5
2.5
Perbandingan Inflasi di Kawasan Jawa (yoy)

di

kawasan Jawa, terendah ditempati Jawa


Tengah (5,44%), DIY (5,66%), Jawa
Timur (5,93%), Jawa Barat (6,54%) dan
tertinggi terjadi pada Provinsi Banten
(6,80%). Berdasarkan grafik di samping,
inflasi bergerak naik yang terjadi di
seluruh provinsi di Jawa sejak tahun 2011
sampai triwulan II-2013.

2.2 INFLASI BULANAN (mtm)


Secara bulanan, inflasi Jatim pada akhir Tw II-2013 sebesar 0,68% lebih rendah
dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 1,03% dan rata-rata inflasi 5 tahun terakhir
yang mencapai 0,94%. Walaupun lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya (0,89%mtm) namun inflasi pada Tw II-2013 ini meningkat jika dibandingkan 2 (dua) bulan
sebelumnya yang sempat mengalami deflasi. Peningkatan inflasi ini utamanya didorong oleh
meningkatnya inflasi pada kelompok bahan makanan, transport dan komunikasi, serta
makanan & minuman (mamin), rokok dan tembakau. Sedangkan kelompok sandang dan
kesehatan masih relatif stabil.
Setelah mengalami anomali inflasi yang cukup tinggi pada Tw I-2013 yang
disebabkan kelangkaan pasokan terutama dari sub kelompok bumbu-bumbuan dan buahbuahan dampak pengendalian impor hortikultura serta keterbatasan produksi lokal, Jatim
mengalami deflasi pada awal Tw II-2013 yang disumbang oleh aneka bumbu (-0,24%) dan
sayur (-0,06%) seiring tibanya musim panen dan kelancaran pengurusan dokumen
importasi dari kementerian terkait sehingga tumpukan kontainer hortikultura di Pelabuhan
Tanjung Perak Surabaya dapat dikeluarkan dan didistribusikan kepada masyarakat.
Mengakhiri Tw II-2013, terdapat tekanan pada inflasi yang diakibatkan oleh kebijakan
pemerintah meningkatkan harga bahan bakar minyak (BBM) sehingga mendorong
peningkatan signifikan inflasi kelompok transpor dari 0,20% menjadi 3,18%. Demikian pula
dengan kelompok bahan makanan yang didorong oleh peningkatan harga sub kelompok
daging dan hasil-hasilnya serta telur, susu dan hasil-hasilnya yang masing-masing mencapai
1,03% dan 4,07%.
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur
Triwulan II Tahun 2013

27

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI

Namun demikian, tingginya kenaikan inflasi di kelompok bahan makanan, diredam


oleh koreksi harga (deflasi) pada kelompok sandang sebesar -0,91% dan melambatnya
inflasi kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar dari 0,78% menjadi 0,10%.
Tabel 2.1
2.1
Inflasi Triwulan I Tahun 2013 & Triwulan II Tahun 2013 di Jawa Timur (mtm)

No
1
2
3
4
5
6
7

Kelompok Barang
Umum
Bahan Makanan
Mamin, Rokok & Tembakau
perumahan, Air, Listrik, Gas & BB
Sandang
Kesehatan
Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga
Transpor, Komunikasi

Tw I-2013
Tw II-2013
Rata-Rata
Rata-Rata
Jan Feb Mar
Apr Mei Jun
0.97 0.97 0.89
0.95
-0.36 -0.20 0.68
0.04
3.73 2.71 2.63
3.02
-1.38 -1.39 0.40
-0.79
0.22 0.49 1.00
0.57
0.35 0.19 0.34
0.30
0.40 1.37 0.06
0.61
0.09 0.78 0.10
0.32
0.32 -1.04 -0.94
-0.55
-1.69 -1.83 -0.91
-1.48
0.39 0.26 0.33
0.33
0.34 0.47 0.30
0.37
0.13 0.11 0.07
0.10
0.09 0.07 0.02
0.06
-0.39 0.06 0.59
0.09
-0.07 0.20 3.18
1.11

Sumber: BPS Provinsi Jatim, data diolah

Berdasarkan kelompok barang sesuai tabel di atas, rata-rata laju inflasi bulanan
sepanjang Tw II-2013 ditandai dengan inflasi yang berada di bawah rata-rata bulanan dari
triwulan sebelumnya, kecuali untuk kelompok kesehatan dan kelompok transpor &
komunikasi.
Secara keseluruhan, pola inflasi di sepanjang triwulan II-2013 cenderung meningkat
sama dengan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. Hal ini selain sejalan
dengan semakin besarnya tekanan permintaan menjelang bulan Ramadhan dan Hari Raya
Idul Fitri yang saat ini berada pada tw III, juga adanya kebijakan-kebijakan Pemerintah
sebagaimana telah diuraikan sebelumnya terkait peningkatan tarif listrik, BBM dan cukai
rokok.
Grafik 2.6
2.6.
Inflasi per Kelompok Barang Tw II-2013 (mtm)

Grafik 2.7
2.7.
Inflasi Juni 2013 per Kelompok Barang

Berdasarkan grafik inflasi bulanan di atas (untuk bulan April, Mei Juni 2013), terlihat jika
tidak terdapat kebijakan pemerintah, pendorong inflasi berasal pada kelompok yang sama,
yaitu mamin, rokok dan tembakau, perumahan, serta kesehatan. Demikian pula dengan
pendorong deflasi yaitu kelompok bahan makanan dan sandang. Setelah adanya rencana

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

28

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI

kenaikan BBM, tampak mulai terdapat pergerakan inflasi yang meningkat untuk kelompok
transpor dan komunikasi dari -0,07% (April 2013) menjadi 0,20% (Mei 2013).
Grafik 2.8
2.8.
Inflasi Mei 2013 per Kelompok Barang

Grafik 2.9
2.9.
Inflasi Juni 2013 per Kelompok Barang

Hal ini menunjukkan betapa besarnya ekspektasi inflasi masyarakat mampu


mendorong inflasi itu sendiri. Walaupun realisasi kenaikan BBM baru terjadi mendekati akhir
Juni 2013, namun sejak Mei sudah mulai terjadi peningkatan harga walaupun tidak pada
level yang besar.
Perkembangan inflasi bulanan secara ringkas selama Tw II-2013 tersaji sebagai berikut :
1. Bulan April 2013
- Pada periode ini untuk pertama kalinya pada tahun 2013, Jatim mengalami deflasi
sebesar -0,36% sehingga inflasi Jatim menjadi 6,20% (yoy), sedikit lebih rendah
dibandingkan Maret 2013 (6,75%), namun masih lebih tinggi dari rata-rata inflasi
selama 5 (lima) tahun terakhir yang
sebesar 5,77%.

Grafik 2.10
2.10.
10.
Perkembangan Harga Sub Kelompok Bumbu-Bumbuan

- Perubahan terbesar pada April 2013


adalah mulai turunnya harga aneka
bumbu khususnya bawang putih dari
55,32% (Maret 2013) menjadi -26,60%
(April 2013) dan bawang merah dari
90,19% menjadi 6,66%. Hal ini diikuti
pula dengan penurunan inflasi pada sub
kelompok sayur-sayuran dari 3,54%
menjadi -3,19%. Lancarnya proses importasi terutama komoditas bawang putih,
tibanya musim panen bawang merah dan sayur-sayuran, berpengaruh kuat terhadap
penurunan harga pada ketiga komoditas ini.
- Berdasarkan disagregasinya, inflasi Jatim terutama didorong oleh peningkatan harga
kelompok administered price yaitu pada level 0,07% (mtm), sedangkan kelompok

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

29

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI

volatile food dan core inflation mengalami deflasi sebesar -1,21% dan -0,06%.
Kenaikan harga pada kelompok administered price disebabkan penyesuaian harga
rokok kretek filter, rokok kretek dan rokok filter yang ketiganya menyumbang inflasi
dengan total sebesar 0,022% dampak kenaikan cukai rokok di awal tahun 2013.
2. Bulan Mei 2013
- Pada Mei 2013, Jatim mengalami deflasi sebesar -0,07% (mtm) dan secara tahunan
(yoy) sebesar 5,83%. Deflasi yang terjadi di bulan Mei 2013 ini lebih tinggi
dibandingkan deflasi nasional yang tercatat sebesar -0,03% (mtm) dan 5,47% (yoy).
- Trend

penurunan

inflasi

kelompok

volatile food masih terus berlanjut

Grafik 2.11
2.11.
11.
Perkembangan Harga Sub Kelompok Bumbu-Bumbuan

seiring dengan tibanya masa panen


untuk komoditas bawang merah dan
cabe, yang terkonfirmasi dari masingmasing mengalami deflasi sebesar 24%
dan 25%. Namun mulai terdapat trend
kenaikan harga daging ayam ras dan
telur ayam ras masing-masing sebesar
3% dan 2% sebagai dampak tingginya permintaan dan produksi yang belum optimal
karena faktor cuaca. Berdasarkan grafik 2.11 tampak bahwa harga komoditas daging
ayam dan telur ayam memang berfluktuatif sehingga peningkatan harga pada
periode ini masih berpotensi turun pada periode-periode selanjutnya.
- Penyumbang utama inflasi pada bulan ini adalah kenaikan tarif listrik yang mencapai
3,68% (dengan sumbangan sebesar 0,098%) yang merupakan kebijakan lanjutan
peningkatan Tarif Tenaga Listrik (TTL) sebesar 15% yang dilakukan bertahap selama
tahun 2013. Dengan mempertimbangkan pola kenaikan tarif listrik, pelaksanaan
kebijakan ini dilakukan setiap tengah triwulan sekali maka
diprediksi terjadi pada Juli 2013.
- Pada bulan ini mulai terdengar rencana

kenaikan selanjutnya

Grafik 2.12
2.12.
12.
Ekspektasi Inflasi Konsumen 3&6 bulan yad

pemerintah untuk menaikkan harga BBM


sebesar

33,33%

untuk

bensin

dan

22,22% untuk solar. Rencana kenaikan


harga ini direspon negatif oleh masyarakat
sehingga

meningkatkan

ekspektasi

kenaikan harga pada 3 (tiga) bulan yang


akan datang dari nilai indeks 184,60 menjadi 189,04 (sumber: survei ekspektasi
konsumen - BI Wilayah IV Jatim).
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur
Triwulan II Tahun 2013

30

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI

3. Bulan Juni 2013


- Setelah mengalami deflasi selama 2 (dua) bulan berturut-turut, pada Juni 2013 Jatim
mengalami inflasi sebesar 0,68% (mtm) dan 5,93% (yoy). Secara bulanan, inflasi
Jatim lebih rendah dibandingkan inflasi nasional (1,03%) namun secara tahunan lebih
tinggi dari nasional (5,90%).
- Berbeda dengan periode sebelumnya, pada bulan ini penyumbang inflasi terbesar
adalah bensin yang mengalami inflasi 12,77% (menyumbang 0,39% dari total inflasi
bulanan) seiring dengan ditetapkannya kenaikan BBM pada 22 Juni 2013. Kenaikan
harga bensin tersebut mempengaruhi terhadap tarif angkutan dalam kota dan luar
kota yang masing-masing naik sebesar 7,8% dan 4,2%.
- Tekanan inflasi pada bulan ini tidak

Grafik 2.1
2.13. Inflasi Sub Kelompok Bahan Makanan

hanya dari kelompok administered

price, Kelompok volatile food juga


mulai mengalami kenaikan sebagai
respon menyambut bulan Ramadhan
dan

terbatasnya

komoditas

pangan

stok

beberapa

karena

belum

memasuki masa panen.


- Walaupun terdapat potensi tekanan harga pada komoditas pangan, namun beberapa
sentra produksi di Jawa Timur antara lain Probolinggo (bawang merah), Kediri dan
Banyuwangi (cabe merah), masih memiliki lahan yang siap dipanen untuk memasok
kebutuhan pada bulan Ramadhan dan Idul Fitri.

2.3. INFLASI TRIWULANAN (qtq)


Pada Tw II-2013, laju inflasi Jatim secara triwulanan mencapai 0,11% (qtq)melambat
dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 2,87% (qtq). Hampir seluruh kelompok
barang mengalami perlambatan inflasi, khususnya kelompok bahan makanan yang
mengalami penurunan terbesar dari 9,34% (Tw I-2013) menjadi -2,36% (Tw II-2013).
Sumbangan utama turunnya inflasi kelompok bahan makanan adalah penurunan harga sub
kelompok bumbu-bumbuan karena telah lancarnya impor hortikultura dan mulainya musim
panen. Kelompok sandang masih mengalami perlambatan karena terus turunnya harga
emas perhiasan sebagai dampak penurunan harga emas di pasar internasional.Namun
demikian, kelompok transportasi dan komunikasi yang mengalami kenaikan dari 0,25%
menjadi 3,32% dan kelompok kesehatan dari 0,98% menjadi 1,11%.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

31

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI

Berdasarkan sumbangannya, kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan


memberikan sumbangan inflasi terbesar pada Tw II-2013 sebesar 0,58% sehubungan
dengan kenaikan BBM (bensin dan solar) serta tarif angkutan dalam dan luar kota.
Tingginya sumbangan inflasi kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan tersebut
tertahan oleh kelompok bahan makanan yang menyumbang penurunan sebesar -0,56%.
Kenaikan tarif listrik maupun Upah Minimum Kota (UMK) masih belum terlihat pengaruhnya
secara signifikan pada periode ini karena penerapan secara penuh kebijakan UMK untuk
semua perusahaan baru dilaksanakan pada Semester II-2013.
Tabel 2.2
2.2
Inflasi & Sumbangan Inflasi di Jawa Timur (qtq)

No

Kelompok Barang

1
2
3
4
5
6
7

Umum
Bahan Makanan
Mamin, Rokok & Tembakau
Perumahan, Air, Listrik, Gas & BB
Sandang
Kesehatan
Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga
Transpor, Komunikasi

Tw I
0.70
0.56
1.28
0.67
1.06
0.50
0.25
0.42

Inflasi QTQ
2012
Tw II Tw III Tw IV
0.89 1.93 0.91
0.90 2.55 1.62
1.90 2.59 0.79
1.18 0.68 0.97
-0.48 3.61 0.31
0.54 0.86 0.68
0.27 3.56 0.32
0.40 0.80 0.79

2013
Tw I Tw II
2.87 0.11
9.34 -2.36
1.73 0.89
1.84 0.97
-1.66 -4.37
0.98 1.11
0.32 0.18
0.25 3.32

Tw I
0.70
0.13
0.23
0.14
0.07
0.02
0.02
0.07

Sumbangan Inflasi QTQ


2012
2013
Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II
0.89 1.93 0.91 2.87 0.11
0.06 0.87 0.24 2.28 -0.56
0.25 0.56 0.17 0.31 0.16
0.18 0.23 0.19 0.38 0.20
-0.06 0.16 0.13 -0.10 -0.27
0.02 0.04 0.04 0.04 0.05
0.00 0.34 0.03 0.03 0.02
0.06 0.20 0.09 0.04 0.58

Sumber : BPS, data diolah

Pola sumbangan inflasi pada tahun 2013 ini sedikit berbeda dengan pola inflasi
triwulanan pada umumnya. Sebagaimana tabel di atas, tampak bahwa seharusnya inflasi
merangkak naik sejak awal tahun dengan puncak pada Tw III (sehubungan dengan adanya
perayaan hari keagamaan Idul Fitri) dan melambat pada Tw IV. Namun adanya
permasalahan hortikultura di awal tahun menyebabkan inflasi Jawa Timur melambung pada
Tw I-2013, kemudian sedikit mereda pada Tw II dan masih berpotensi meningkat pada Tw
III-2013 seiring dengan adanya hari keagamaan dan tahun ajaran baru.
Grafik 2.14
2.14
Inflasi (qtq) Sub Kelompok Bahan Makanan

Sumber : BPS, data diolah

Grafik 2.15
2.15
Inflasi (qtq) Sub Kelompok Bahan Makanan
Tw I-2013 & Tw II-2013

Sumber : BPS, data diolah

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

32

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI

Sebagaimana terlihat pada grafik 2.15, meskipun sub kelompok bumbu-bumbuan


yang merupakan penyebab utama naiknya inflasi Jatim pada Tw I-2013 mengalami
penurunan, namun potensi inflasi dari sub kelompok buah-buahan serta sub kelompok
telur, susu dan hasil-hasilnya sudah mulai meningkat. Selain itu, berdasarkan Survei
Pemantauan Harga bulan Juli 2013 diketahui bahwa mulai terdapat peningkatan harga
untuk beberapa komoditas di sub kelompok bumbu-bumbuan sehingga perlu diwaspadai
potensi inflasi kelompok bahan makanan ke depan.
Perkembangan inflasi beberapa komoditas yang mempengaruhi inflasi Jatim adalah
sebagai berikut :
Beras
Pada Tw II-2013 ini, komoditas beras yang merupakan makanan pokok masyarakat Jawa
Timur mulai mengalami sedikit kenaikan harga (1,11% - mtm) khususnya pada jenis beras
premium sebagai dampak belum tibanya musim panen sampai dengan Juni 2013. Meskipun
demikian, berdasarkan informasi dari Bulog Provinsi Jawa Timur, penyerapan Bulog relatif
baik dan terdapat kecukupan stok untuk memastikan tidak terjadi shortage akibat
kekurangan pasokan. Selain itu, adanya panen pada bulan Juli 2013 akan meminimalkan
naiknya harga beras lebih tinggi lagi.
Grafik 2.16
2.16
Harga Beras Internasional dan Lokal s.d. Juni 2013

Grafik 2.17
2.17
Stok Setara Beras Jawa Timur

Berdasarkan grafik di atas tampak bahwa dibandingkan dengan harga beras lokal,
harga komoditas beras internasional relatif stabil bahkan mengalami penurunan. kondisi
tersebut tidak terlalu berpengaruh pada harga beras domestik karena minimnya
penggunaan beras impor seiring dengan kecukupan stok Bulog dan adanya panen dalam
waktu dekat, sehingga diharapkan mampu menstabilkan kembali harga komoditas beras di
triwulan selanjutnya. Beberapa sentra produksi beras di Jatim mengkonfirmasi hal tersebut,
yaitu :
- Luas areal panen wilayah Jember pada Tw II-2013 mencapai 12.567 Ha atau sekitar
80.664 ton gabah, meningkat 61,12% dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

33

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI

hasil panen diiringi dengan upaya pengendalian hama yang semakin intensif. Stok beras
di Bulog mencapai 56 ribu ton atau mencukupi kebutuhan sampai dengan 19 bulan ke
depan.

- Produksi padi wilayah Kediri kumulatif sampai dengan April 2013, mencapai 321.026
ton Gabah Kering Giling (GKG), dengan luas area panen sebesar 9.639 Hektar.
Walaupun

produksi

diperkirakan

masih

melambat,

namun

pemerintah

telah

mengantisipasi dengan memberikan bantuan sarana dan prasarana pertanian berupa


jaringan irigasi, lampu pembasmi hama dan mengoptimalkan program system of rice

intensification (SRI) yang telah berjalan sejak tahun 2011.


Kinerja produksi tanaman padi wilayah Jawa Timur pada periode ini dapat dilihat pada
grafik 2.17, yang menunjukkan adanya penurunan luas panen dari 758.759 hektar pada Tw
I-2013 menjadi 566.446 hektar pada Tw II-2013. Untuk mengantisipasi turunnya panen
pada Tw II-2013 tersebut, dilakukan peningkatan terhadap luas tanam padi yaitu dari
523.947 hektar menjadi 564.331 hektar. Walaupun tingkat produksi padi turun
dibandingkan periode sebelumnya, namun tingkat puso yang dihadapi petani turun yaitu
dari 5.998 hektar menjadi 2.932 hektar.
Grafik 2.18
2.18
Luas Panen dan Produksi Padi Kab.Jember

Grafik 2.19
2.19
Luas Panen dan Produksi Padi Prov.Jawa Timur

Untuk memitigasi dan menjaga kecukupan beras di masyarakat, Bulog telah


melakukan antisipasi dengan menjaga kecukupan stok setara beras yang sampai dengan
akhir Mei 2013 mencapai 862.645 ton atau setara dengan pasokan sampai dengan 13
bulan ke depan serta melakukan bulan raskin yang mencapai 41.644 ton.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

34

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI

BumbuBumbu -Bumbuan
Berdasarkan

grafik

berikut,

Grafik 2.20
2.20
Inflasi Sub Kel. Bumbu-Bumbuan (qtq)

terlihatsetelah mengalami lonjakan signifikan


pada Tw I-2013, terdapat penurunan inflasi
untuk sub kelompok bumbu-bumbuan yang
terus berlanjut sampai dengan Tw II-2013.
Beberapa kendala yang terjadi di sentra produksi
bawang merah dan cabe di Jatim antara lain :

- Luas lahan bawang merah di Kabupaten


Ngajuk adalah sebesar 10.200 hektar, dengan produktifitas sebesar 14-15 ton/ha.
Namun, terdapat potensi kenaikan harga terutama pada komoditas bawang merah yang
disebabkan :

a. Kelangkaan stok bibit bawang merah lokal yang habis terjual ketika harga bawang
merah sedang tinggi pada triwulan I-2013.

b. Hasil panen diperkirakan kurang optimal (hasil tidak bagus) karena bawang Merah
yang dihasilkan cenderung busuk akibat hujan yang masih terjadi pada bulan Juni.

c. Harga pada komoditas ini akan tergantung pada impor bibit dari Thailand, Vietnam,
Philipina dan India. Apabila bibit bawang merah langka dipasaran dan impor bibit
tidak terelisasi, maka kemungkinan besar harga bawang merah akan mengalami
kenaikan.
- Beberapa sentra produksi cabe pada Tw II-2013 tidak berproduksi karena musim tanam
baru dilakukan pada bulan September (karena menggunakan sistem tadah hujan).
Sedangkan sentra cabe lainnya yang berproduksi mengalami permasalahan serangan
lalat buah dan virus yang membusukkan tanaman cabe, sehingga diprediksi produksi
cabe akan mengalami penurunan.
Dengan mempertimbangkan hal tersebut maka, turunnya inflasi sub kelompok bumbubumbuan akan terkoreksi pada triwulan selanjutnya sehingga berpotensi mendorong
inflasi lebih tinggi.
Untuk mengantisipasi hal-hal tersebut beberapa hal yang dilakukan oleh Pemerintah
Jawa Timur yaitu :
a. Mengoptimalkan produksi cabe di sentra-sentra cabe lainnya di Jawa Timur antara lain
Probolinggo dan Banyuwangi,
b. Melakukan koordinasi waktu penanaman untuk komoditas aneka bumbu di 38
kab/kota di Jatim sehingga dapat mengantisipasi tingginya permintaan pada moment
tertentu,

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

35

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI

c. Melakukan kerja sama dengan Asosiasi Cabe Indonesia untuk memenuhi pasokan cabe
di wilayah-wilayah yang tingkat konsumsi cabenya tinggi.
Peternakan

Grafik 2.21
2.21
Inflasi Sub Kel. Daging, Telur dan Hasil-Hasilnya (qtq)

Dibandingkan triwulan sebelumnya, pada


Tw II-2013 ini terdapat peningkatan harga sub
kelompok daging dan hasil-hasilnya serta telur,
susu dan hasil-hasilnya. Hal ini terkonfirmasi pula
di beberapa daerah di Jawa Timur, antara lain :
- Adanya penurunan pasokan di wilayah Jember
sehingga menyebabkan harga daging ayam
ras dan daging sapi mengalami peningkatan

sebesar 2%, sementara harga telur ayam ras meningkat 12%.


- Peningkatan harga juga terjadi di wilayah Malang yang disebabkan kurangnya pasokan
akibat anomali cuaca dan tingginya permintaan.
- Berdasarkan hasil survei terlihat bahwa harga daging sapi secara perlahan mulai
meningkat seiring dengan tingginya permintaan menjelang bulan Ramadhan dan Hari
Raya Idul Fitri.

2.4. INFLASI TAHUNAN (yoy)


Meningkatnya inflasi Jawa Timur sejak awal tahun 2013, secara langsung juga
mempengaruhi pencapaian inflasi tahunan pada Tw II-2013 mencapai 5,93%. Kebijakan
Pemerintah antara lain pengendalian impor hortikultura, kenaikan harga BBM, kenaikan
Tarif Tenaga Listrik (TTL), tarif Upah Minimum Kota (UMK) dan cukai rokok secara
keseluruhan memberikan sumbangan peningkatan inflasi pada tahun 2013 ini. Hal-hal
tersebut, didukung dengan minimnya sustainabilitas dari aspek penawaran menyebabkan
ekspektasi masyarakat akan inflasi semakin meningkat sehingga mendorong inflasi menjadi
lebih tinggi.
Tabel 2.3
2.3
Inflasi Jawa Timur (yoy) Per Kelompok Barang

No

1
2
3
4
5
6
7

Kelompok Barang
Umum
Bahan Makanan
Mamin, Rokok & Tembakau
Perumahan, Air, Listrik, Gas & BB
Sandang
Kesehatan
Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga
Transpor, Komunikasi

Tw I
3.97
4.00
5.09
2.74
8.95
2.76
6.35
1.62

Inflasi YOY
2012
Tw II Tw III Tw IV
4.63 4.50 4.50
6.14 6.65 5.74
6.32 6.69 6.71
3.29 3.18 3.54
6.27 3.99 4.53
1.83 2.43 2.60
6.26 4.51 4.43
1.86 1.87 2.43

2013
Tw I Tw II
6.75 5.93
14.98 11.27
7.18 6.12
4.75 4.53
1.72 -2.25
3.10 3.69
4.50 4.40
2.26 5.23

Tw I
3.97
0.89
0.93
0.58
0.60
0.13
0.57
0.29

Sumbangan Inflasi YOY


2012
2013
Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II
4.63 4.50 4.50 6.75 5.93
1.37 1.50 1.30 3.61 2.65
1.17 1.24 1.24 1.32 1.13
0.70 0.67 0.75 0.99 0.96
0.42 0.27 0.30 0.11 -0.14
0.09 0.11 0.12 0.14 0.17
0.56 0.41 0.40 0.40 0.39
0.32 0.32 0.42 0.38 0.91

Sumber: BPS, data diolah

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

36

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI

Dibandingkan tahun sebelumnya, inflasi Tw II-2013 mengalami peningkatan dan


lebih tinggi dibandingkan rata-rata 5 (lima) tahun terakhir sebagai akibat dari tekananharga
baik dari kelompok bahan makanan, transportasi, listrik maupun rokok dan tembakau.
Pendorong inflasi pada triwulan ini adalah masih tingginya kenaikan harga kelompok
bahan makanan (11,27% - yoy) dengan sumbangan sebesar 2,65%, meskipun telah turun
dibandingkan triwulan sebelumnya, namun masih memberikan kontribusi tertinggi inflasi
Jatim. Selanjutnya kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau (6,12%)
dengan sumbangan sebesar 1,13% seiring dengan kenaikan tarif cukai rokok dan harga
bahan makanan. Kelompok penahan inflasi Jatim adalah sandang yang mengalami deflasi
sebesar -2,25% karena terus berlanjutnya penurunan harga emas perhiasan.
Grafik 2.2
2.22
Inflasi Tahunan (yoy) Sub Kelompok 2012 - 2013

Grafik 2.2
2.23
Inflasi Kelompok Bahan Makanan, Makanan Jadi dan
Tranpor (yoy) 2010-2013

Berdasarkan grafik 2.23 di atas tampak bahwa selama triwulan laporan, 2 (dua)
kelompok utama penyumbang inflasi Jatim menunjukkan perkembangan yang sama,
dimana kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau mulai mengalami
penurunan seiring dengan turunnya inflasi kelompok bahan makanan walaupun pada
tingkat yang relatif lebih kecil. Penurunan inflasi kelompok bahan makanan karena telah
terpenuhinya komoditas bawang putih sebagai dampak lancarnya proses impor hortikultura
sehingga mendorong penurunan inflasi sub kelompok bumbu-bumbuan dari 95,50% (yoy)
pada Tw I-2013 menjadi 24,70% pada Tw II-2013. Selain 2 (dua) kelompok utama tersebut,
tekanan inflasi yang cukup besar pada periode ini dibandingkan tahun sebelumnya adalah
kebijakan kenaikan BBM pada Juni 2013 yang mendorong inflasi sub kelompok transpor
meningkat dari 3,08% menjadi 7,89% dimana kenaikan BBM direspon pengusaha
angkutan dengan menaikkan tarif angkutan. Selain itu , meskipun tidak meningkat
signifikan sebagaimana bumbu-bumbuan dan buah-buahan namun mulai terdapat
peningkatan harga pada sub kelompok daging dan hasil-hasilnya serta telur, susu dan hasilKajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur
Triwulan II Tahun 2013

37

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI

hasilnya yang ditengarai akan menjadi salah satu penyumbang inflasi pada periode
mendatang.
Grafik 2.24
2.24
Inflasi Tahunan (yoy) Kelompok Bahan Makanan Tahun
2012 - 2013

Grafik 2.25
2.25
Inflasi (yoy)
Kelompok Makanan Jadi, Minuman & Tembakau

2.5. INFLASI MENURUT KOTA


Pada Tw II-2013, 7 (tujuh) kota di Jatim yang masuk dalam perhitungan inflasi
nasional secara umum menunjukkan perlambatan laju inflasi triwulanan. Tercatat, inflasi
tertinggi pada periode laporan terjadi di kota Kediri dengan inflasi sebesar 0,60% (qtq)
sedangkan terendah terjadi di kota Sumenep (-0,53%). Jika dibandingkan dengan inflasi
pada triwulan sebelumnya dimana seluruh kota mengalami inflasi lebih dari 2%, pada
triwulan ini 7 (tujuh) kota tersebut mengalami penurunan yang sangat signifikan.
Tabel 2.4
2.4
Inflasi 7 Kota di Jawa Timur

Wilayah
Jatim
Surabaya
Malang
Kediri
Jember
Sumenep
Probolinggo
Madiun

Tw I
0.70
0.73
0.46
0.53
0.84
0.97
0.63
0.68

Inflasi Triwulanan
2012
Tw II Tw III Tw IV
0.89 1.93 0.91
0.82 1.83 0.91
0.86 2.05 1.15
1.20 2.40 0.43
0.84 1.65 1.09
1.21 2.17 0.61
1.73 2.49 0.92
0.58 1.71 0.50

(qtq)
2013
Tw I Tw II
2.87 0.11
2.90 0.11
2.78 0.35
2.51 0.60
2.81 -0.25
3.26 -0.53
2.83 0.03
3.14 -0.31

Tw I
3.97
4.19
3.80
4.34
2.46
5.10
3.19
3.36

Inflasi Tahunan (yoy)


2012
2013
Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II
4.63 4.50 4.50 6.75 5.93
4.69 4.29 4.37 6.61 5.86
4.44 4.58 4.60 7.01 6.46
5.06 5.26 4.63 6.69 6.05
4.12 4.40 4.49 6.53 5.38
5.46 6.06 5.06 7.44 5.59
4.66 5.55 5.88 8.19 6.39
3.93 3.91 3.51 6.04 5.10

Sumber: BPS, Data diolah.

Terjadinya inflasi (qtq) di beberapa kota di Jawa Timur tersebut terutama didorong
oleh peningkatan harga BBM yang mempengaruhi kenaikan harga sub kelompok transport.
Selain BBM, kenaikan juga dipicu oleh inflasi pada kelompok bahan makanan khususnya
sub kelompok telur dan hasil-hasilnya serta sayur-sayuran. Sementara sub kelompok buahbuahan dan bumbu-bumbuan justru mengalami peningkatan harga di beberapa kab/kota.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

38

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI

Grafik 2.2
2.26
Perbandingan Inflasi Tahunan (yoy)
7 Kota di Jawa Timur

Secara tahunan (yoy), inflasi tertinggi


terjadi di Kota Malang (6,46%), disusul
Probolinggo

(6,39%),

Kediri

(6,05%),

Surabaya (5,86%), Sumenep (5,59%),


Jember (5,38%) dan Madiun (5,10%).
Tingginya

inflasi

kota

Malang

selain

disebabkan kelompok bahan makanan


yang mencapai inflasi sebesar 12,67%,
kelompok

pendidikan,

rekreasi

dan

olahraga serta transport, komunikasi dan


jasa keuangan juga mengalami inflasi yang
tinggi, yaitu masing-masing sebesar 7,68% dan 6,24%.
Masih sama dengan periode sebelumnya, rendahnya inflasi Kota Madiun
dibandingkan kota lain karena terpenuhinya kebutuhan pangan masyarakat yang didukung
kelancaran arus distribusi barang sehingga tingkat inflasi untuk kelompok bahan makanan
relatif rendah. Rendahnya inflasi kelompok bahan makanan menjadi pemicu rendahnya
tekanan inflasi pada sub kelompok makanan jadi sehingga inflasi kelompok makanan jadi,
minuman, rokok dan tembakau relatif lebih rendah dibandingkan kota lainnya. Walaupun
memiliki tingkat inflasi yang berbeda-beda, namun sumber utama inflasi adalah kelompok
bahan makanan, khususnya sub kelompok bumbu-bumbuan yang rata-rata berada di
kisaran 15%-35%. Pada periode ini kenaikan harga BBM memberikan dampak cukup
signifikan bagi semua kota di Jawa Timur yang terlihat dari peningkatan inflasi sub
kelompok transportasi di kisaran 5%-8%.

Tabel 2.5
2.5
Inflasi 7 kota di Jawa Timur per Kelompok Barang & Jasa
Triwulan II-2013 (% yoy)

Kelompok Barang
Umum
Bahan Makanan
Mamin, Rokok & Tembakau
Perumahan, Air, Listrik, Gas & BB
Sandang
Kesehatan
Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga
Transpor, Komunikasi

Jatim Surabaya Malang Kediri Jember Sumenep Probolinggo Madiun


5.93
5.86
6.46
6.05
5.38
5.59
6.39
5.10
11.27
11.80
12.67 9.65
7.91
8.96
10.06
8.33
6.12
6.54
4.46
6.14
6.86
5.12
8.07
4.04
4.53
4.79
3.10
4.55
5.86
4.98
3.10
5.31
-2.25
-3.89
1.27
-0.45 -2.13
1.34
-1.97
3.28
3.69
4.53
1.37
4.58
1.90
4.14
3.95
1.73
4.40
2.56
7.68
5.30
3.63
4.96
17.63
4.17
5.23
5.44
6.24
5.51
4.24
2.63
2.86
3.79

Sumber : BPS (diolah)

Sementara itu, berdasarkan kelompok barang penyumbang inflasi, sumber tekanan


inflasi di ketujuh kota pada Tw II-2013 ini relatif sama yaitu pada kelompok bahan
makanan. Hal ini dengan mempertimbangkan tingginya permintaan masyarakat akan bahan
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur
Triwulan II Tahun 2013

39

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI

makanan untuk menyambut bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri sedangkan supply
yang ada relatif terbatas karena belum optimalnya hasil produksi lokal yang diakibatkan
faktor cuaca dan pola produksi yang belum mampu mendukung produksi massal.
Tabel 2.6
2.6
Sumbangan Inflasi 7 Kota di Jawa Timur Per Kelompok Barang & Jasa
Triwulan IV-2012 (% YOY)

Kelompok Barang
Umum
Bahan Makanan
Mamin, Rokok & Tembakau
Perumahan, Air, Listrik, Gas & BB
Sandang
Kesehatan
Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga
Transpor, Komunikasi

Jatim Surabaya Malang Kediri Jember Sumenep Probolinggo Madiun


5.93
5.86
6.46
6.05
5.38
5.59
6.39
5.10
2.65
2.63
3.28
2.46
2.18
2.94
2.76
1.97
1.13
1.21
0.87
1.12
1.13
0.80
1.48
0.77
0.96
1.01
0.62
0.99
1.27
0.98
0.68
1.20
-0.14
-0.25
0.07
-0.02 -0.14
0.10
-0.13
0.18
0.17
0.21
0.06
0.21
0.08
0.18
0.18
0.10
0.39
0.23
0.72
0.41
0.26
0.28
1.21
0.33
0.91
0.99
0.98
0.94
0.68
0.38
0.41
0.60

Sumber : BPS, data diolah

2.5 DISAGREGASI INFLASI


Berdasarkan disagregasinya, inflasi Jatim terutama didorong oleh peningkatan harga
kelompok volatile food dan administered price yaitu pada level 12,72% (yoy) dan 6,24%
(yoy), sedangkan kelompok core inflation relatif stabil sebesar 3,71%. Bila dibandingkan
dengan rata-rata (lima) tahun terakhir, pada periode ini kelompok administered price dan

volatile food mencapai level yang lebih tinggi dibandingkan trend rata-ratanya, sedangkan
kelompok core inflation sebaliknya, lebih rendah. Kelangkaan komoditas hortikultura dan
penerapan berbagai kebijakan pemerintah yang berdampak pada pergerakan harga menjadi
pemicu utama peningkatan inflasi pada 2 (dua) kelompok tersebut.
Grafik 2.2
2.27
Inflasi Jatim per Komponen (yoy)

Grafik 2.2
2.28
Perbandingan Inflasi Jatim & Rata-Ratanya(yoy)

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

40

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI

Grafik 2.2
2.29
Perbandingan Disagregasi Inflasi Jawa Timur (mtm)

Grafik 2.30
2.30
Disagregasi Inflasi (mtm) Jawa Timur

Sedangkan berdasarkan disagregasi bulanan, inflasi Jatim terutama didorong oleh


peningkatan harga kelompok administered price yaitu pada level 2,53% (mtm), kelompok

core inflation relatif stabil sebesar 0,07% dan kelompok volatile food mulai meningkat
menjadi sebesar 0,48% dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini disebabkan:
a. Komoditas bawang merah masih terjaga pasokannya sebagai dampak masa panen
periode sebelumnya, ditambah pula dengan cukupnya pasokan bawang putih sebagai
dampak dari lancarnya impor. Hal ini terkonfirmasi dengan terjadinya deflasi pada 2
(dua) komoditas tersebut pada Juni 2013. Namun demikian, laju deflasi sub kelompok
bumbu-bumbuan tersebut tertahan oleh peningkatan harga komoditas pangan lainnya
sebagai dampak akan tibanya bulan Ramadhan dan belum tibanya masa panen
sehingga pada periode ini kelompok volatile food mulai mengalami inflasi.
b. Inflasi kelompok core inflation relatif stabil yang dipicu dari masih melemahnya harga
emas perhiasan. Selain itu, harga komoditas global yang stabil serta masih adanya
ruang peningkatan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan juga menjadi
faktor penahan inflasi. Tekanan kelompok inflasi inti pada periode ini berasal dari sub
kelompok biaya tempat tinggal yang mengalami inflasi sebesar 0,20%.
c. Inflasi kelompok administered price menjadi penyumbang utama inflasi pada periode
ini yaitu mengalami inflasi sebesar 2,53%, dengan pemicu utama kenaikan tarif BBM
(bensin dan solar) yang mengakibatkan kenaikan inflasi pada sub kelompok transpor
sebesar 4,94% dan sub kelompok sarana dan penunjang transport sebesar 0,05%.
Sedangkan tarif listrik dan cukai rokok tidak mengalami kenaikan pada Juni 2013
sehingga masih terdapat potensi peningkatan inflasi kelompok ini pada periode
mendatang.
Pada Tw II-2013 ini, tekanan inflasi Jatim yang berasal dari faktor fundamental atau
inflasi inti sebesar 3,71% (yoy), atau turun dibanding Tw I-2013 yang mencapai 4,44%.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

41

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI

Inflasi inti sendiri terbentuk dari nilai tukar rupiah, harga komoditas dunia, ekspektasi inflasi
itu sendiri, serta gap antara permintaan dan penawaran. Ekonomi Amerika dan Eropa yang
relatif melandai juga mempengaruhi ekspektasi para pelaku ekonomi sehingga kinerja
ekspor belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Walaupun rupiah masih melemah,
namun harga komoditas dunia yang cenderung bergerak mendatar atau stabil sedikit
mengurangi tekanan terhadap inflasi inti.
Grafik 2.31
Perkembangan Nilai Tukar Rupiah

Grafik 2.3
2.32
Perkembangan Capacity Utilization

Sumber: Kurs Tengah Bank Indonesia

Hal tersebut diperkuat pula dengan terkendalinya output gap (yang menunjukkan
kesenjangan antara sisi permintaan dan penawaran) yang terkonfirmasi dari peningkatan
tingkat kapasitas utilisasi dunia usaha berdasarkan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU)
Jatim pada Tw II-2013 yang menunjukkan peningkatan dari 76,91% (Tw I-2013) menjadi
79,28%. Peningkatan kapasitas tersebut disinyalir sebagai antisipasi dunia usaha untuk
memenuhi tingginya permintaan masyarakat pada awal Tw III-2013 sebagai dampak adanya
Hari Raya Idul Fitri dan dimulainya tahun ajaran baru.
Grafik 2.3
2.33
Perkembangan Harga Minyak Internasional

Grafik 2.3
2.34
Perkembangan Harga CPO

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

42

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI

Grafik 2.3
2.35
Perkembangan Batu Bara

Grafik 2.3
2.36
Perkembangan Harga Karet

Tabel 2.7
2.7
Perkembangan Capacity Utilization Industri pengolahan
SEKTOR
REALISASI
PERTANIAN
A. Tanaman Pangan
B. Tanaman Perkebunan
C. Peternakan dan Hasil - hasilnya
D. Kehutanan
E. Perikanan
PERTAMBANGAN
A. Minyak dan gas bumi
B. Pertambangan tanpa migas
C. Penggalian
INDUSTRI PENGOLAHAN
A. Industri Non Migas
1. Makanan, minuman dan tembakau
2. Tekstil, barang kulit dan alas kaki
3. Barang kayu dan hasil hutan lainnya
4. Kertas dan barang cetakan
5. Kimia dan barang dari karet
6. Semen dan barang galian bukan logam
7. Logam dasar, besi dan baja
8. Alat angkutan, mesin dan peralatannya
9. Barang Lainnya
B. Industri Migas
LISTRIK, GAS DAN AIR BERSIH
A. Listrik
B. Gas
C. Air bersih
TOTAL SELURUH SEKTOR

Dilihat

2011
I

II

74.47
81.56
59.44
75.88

72.17
68.00
70.47
83.75

77.93
78.33
0.00
75.00
80.00
73.80

2012
III

IV

2013

II

III

IV

II

80.32
69.00
85.08
86.88
0.00
87.84
100.00
0.00
100.00
0.00
77.32

84.38
91.47
72.50
88.40
0.00
86.25
91.43
0.00
80.00
93.33
74.44

79.20
78.93
69.57
89.44

70.71
69.24
62.01
83.89

79.43
81.33
67.17
92.22

81.18
81.09
78.87
92.50

83.78
83.00
76.64
88.00

83.22
68.33
0.00
80.00
62.50
74.85

74.82
71.94
74.38
85.86
100.00
66.94
61.67
0.00
80.00
52.50
74.26

86.96
92.14

76.00
86.25

80.01
81.67

73.50
89.29

92.50
89.00

70.00
95.83
76.54

80.00
87.14
73.56

75.00
83.00
74.22

75.00
91.67
74.57

75.00
92.50
77.36

73.98
80.11
59.67
83.63
80.91
90.00
73.17
64.63
67.13

75.38
74.37
65.81
86.38
83.54
99.00
68.67
73.13
68.00

74.40
78.37
56.73
71.63
83.86
92.33
74.29
73.57
69.55

77.40
78.98
59.91
84.14
87.23
80.00
77.64
80.00
71.88

76.06
77.94
65.45
77.57
80.29
75.50
68.00
73.57
67.80

71.82
85.15
71.25
84.67
81.31
90.00
71.97
80.00
67.92

76.11
77.59
60.44
74.00
81.23
63.33
52.50
79.43
71.73

71.93
75.43
73.90
85.86
82.45
57.78
81.13
70.00

72.46
82.12
76.78
70.00
80.96
90.00
60.57
76.88
65.20

77.00
84.31
76.80
78.89
84.33
86.00
63.88
73.89
68.63

64.56
35.00
80.00
70.99
73.26

64.83
45.00
0.00
69.79
73.64

78.49
46.50
81.67
86.27
74.47

76.06
66.25
72.00
81.78
78.14

82.99
95.00
75.00
81.99
78.53

67.69
44.31
69.33
72.33
77.09

79.08
75.00
82.00
79.67
73.73

72.01
44.25
72.00
78.18
75.66

69.49
38.50
100.00
73.99
76.91

76.62
80.24
62.00
77.44
79.28

faktor pembentuknya, secara bulanan meningkatnya inflasi inti tersebut

dibandingkan bulan sebelumnya (dari 0,001% pada Mei 2013-mtm, menjadi 0,07% pada
Juni 2013) dipengaruhi oleh inflasi sub kelompok biaya tempat tinggal yang mengalami
inflasi sebesar 0,20% (mtm).
Penahan inflasi untuk kelompok inflasi ini adalah sub kelompok barang pribadi dan
sandang lain (-0,04% - mtm) sedangkan pendorongnya adalah sub kelompok biaya tempat
tinggal (0,20%). Emas perhiasan masih memberikan kontribusi deflasi seiring dengan terus
turunnya harga emas di pasar internasional yang berimbas pada harga emas perhiasan
lokal.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

43

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI

Grafik 2.37
2.37
Perkembangan Inflasi Inti Tradeable & Non Tradeable

Grafik 2.39
2.39
Perkembangan Inflasi Inti Tradeable Food & Non Food

Grafik 2.38
2.38
Perkembangan Inflasi Inti Exclude Gold Price

Grafik 2.40
2.40
Perkembangan Inflasi Inti Manufacturing & Services

Tekanan inflasi kelompok barang pabrik (0,32%) lebih tinggi dibandingkan kelompok
jasa (0,06%), yang dipicu oleh peningkatan harga bahan bangunan antara lain batu
bata/batu tela (1,78%), genteng (0,22%), pasir (0,25%) dan semen (0,18%). Melambatnya
inflasi kelompok jasa disebabkan stabilnya pengaruh penerapan kenaikan UMK yang
tercermin dari rendahnya inflasi upah pembantu rumah tangga (0,16%) dan tukang bukan
mandor (0,00%). Peningkatan inflasi kelompok core tradable untuk makanan (Core

Inflation Traded Food) dari 0,06% (Mei 2013-mtm) menjadi 0,54% (Juni 2013) dipicu oleh
peningkatan harga beberapa bahan makanan seperti beras jagung (4,07%), mie kering
instant (3,48%), daging ayam kampung (0,68%) dan keju (1,50%). Peningkatan harga
pada volatile food juga mempengaruhi bahan makanan lain baik yang bersifat substitutif
maupun komplemen.
Sementara itu, berdasarkan aspek core tradable untuk non konstruksi, terdapat
peningkatan tekanan inflasi pada kelompok ini yang tercermin dari inflasi sebesar 0,25%,
meningkat dibandingkan Mei 2013 (-0,02%). Hal tersebut utamanya dipicu oleh kenaikan
biaya sewa rumah sebesar 0,40%.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

44

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI


Grafik 2.41
2.41
Perkembangan Inflasi
Traded Konstruksi dan Non Konstruksi

Grafik 2.42
2.42
Perkembangan Inflasi
Non Traded Konstruksi dan Non Konstruksi

Sedangkan core tradeable untuk konstruksi mengalami penurunan karena turunnya


harga beberapa bahan bangunan pada periode ini, seperti kaca dan kayu balokan yang
masing-masing mengalami deflasi sebesar 1,76% dan 3,53% (mtm). Dari sisi inflasi inti non

tradable, tekanan inflasi baik pada konstruksi maupun non konstruksi relatif rendah. Core
non traded-konstruksi dari 0,86% menjadi 0,43%% yang disebabkan stabilnya tarif tukang
bukan mandor.
Grafik 2.44
2.44
Ekspektasi Harga yang Akan Datang

Grafik 2.43
2.43
Indeks Keyakinan & Ekspektasi Konsumen
160

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK)

Indeks

Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE)

140

Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK)


120
100
80
60
40
20
0
I

II

III IV

2007

II

III IV

2008

II

III IV

2009

II

III IV

2010

II

III IV

2011

II

III IV

2012

II

2013

Ekspektasi inflasi masyarakat (yang tercermin dari hasil survei konsumen) juga menjadi
faktor pendorong inflasi inti, baik pada ekspektasi harga 3 (tiga) dan 6 (enam) bulan yang
akan datang (grafik 2.44), meningkat dari 171,00 menjadi 183,27. Disisi lain konsumen
masih bersikap optimis pada Tw II-2013, tercermin dari meningkatnya indeks keyakinan
konsumen dari 121,66 (Tw I-2013) menjadi 122,07 (Tw II-2013), terutama dari indeks
pembentuknya yaitu Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini yang meningkat dari 107,94 (Tw I2013) menjadi 108,87 (Tw II-2013) . Kedepan terdapat kecenderungan keraguan dari
konsumen menyikapi kondisi ekonomi yang akan datang, salah satunya disebabkan adanya
kenaikan harga BBM, sebagaimana tercermin dari menurunnya indeks ekspektasi konsumen
dari 135,38 menjadi 135,27, meskipun belum terlalu signifikan terutama dari Ekspektasi

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

45

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI

Penghasilan 6 bulan yang akan datang yang turun dari 158,53 (Tw I-2013) menjadi 155,40
(Tw II-2013).

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

46

Bab 3



PERKEMBANGAN
PERBANKAN DAN
SISTEM PEMBAYARAN

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

Pada pertengahan tahun 2013 (T


( Triwulan II),
II), kinerja
kinerja perbankan di Jawa Timur baik
Bank Umum maupun Bank Perkreditan Rakyat (BPR) masih terus menunjukkan
perkembangan positif.
positif. Hal tersebut tercermin dari indikator total aset, kredit dan DPK
yang terus mengalami pertumbuhan dan didukung oleh tingkat risiko kredit yang rendah
(kurang dari 5%) dan stabil. Aset Bank Umum dan BPR tetap tumbuh tinggi yaitu sebesar
17,63% (yoy) hingga mencapai Rp 388,44 triliun pada Triwulan II 2013. Kredit tumbuh sebesar
26,16% (yoy) dari sebesar Rp 251,4 triliun pada Triwulan I 2013 menjadi sebesar Rp 272,05
triliun pada Triwulan II 2013. Demikian pula dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Umum dan
BPR di Jawa Timur yang mencatat pertumbuhan sebesar 12,10% (yoy) menjadi sebesar Rp
298,89 triliun pada periode laporan.
Peningkatan kinerja Bank Umum dan BPR di Jawa Timur terutama didorong oleh
terjaganya kondisi perekonomian nasional dan daerah. Dengan mempertimbangkan tren
pertumbuhan kredit yang terus meningkat hingga mencapai 26,16% (yoy) pada Triwulan II
2013, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Triwulan II 2012 yang tercatat 22,26% (yoy),
maka potensi sumbangan sektor perbankan atas peningkatan pertumbuhan ekonomi Jawa
Timur diperkirakan akan terus meningkat.
Tabel 3.1
Perkembangan Indikator Perbankan (Bank Umum & BPR) di Jawa Timur
INDIKATOR BANK UMUM DAN BPR
Total Aset (Miliar Rupiah)

2012
I

II

2013
III

IV

II

311.206,26

330.235,29

350.677,74

361.922,83

370.892,76

388.441,32

Pertumbuhan (%yoy)

18,65

19,47

22,13

20,79

19,18

17,63

Pertumbuhan (%qtq)

2,71

5,38

3,88

4,36

3,86

6,11

256.985,03

266.634,97

278.400,34

293.979,22

292.804,92

298.892,15

Pertumbuhan (%yoy)

17,60

16,77

18,03

16,46

13,94

12,10

Pertumbuhan (%qtq)

5,82

5,75

0,46

1,55

8,52

1,61

Dana Pihak Ketiga (Miliar Rupiah)

Kredit (Miliar Rupiah)

197.908,02

215.635,55

229.312,65

245.419,66

251.401,19

272.050,57

Pertumbuhan (%yoy)

19,65

22,26

24,38

26,18

27,03

26,16

Pertumbuhan (%qtq)

3,81

6,63

4,53

5,49

1,75

8,96

Perkembangan transaksi sistem pembayaran


pembayaran di wilayah Kantor Perwakilan Bank
Indonesia Jawa Timur yang meliputi KPwBI Surabaya, Malang,
Malang, Jember dan Kediri pada

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

47

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

Triwulan

II - 2013 menunjukkan peningkatan,


peningkatan, baik untuk transaksi tunai maupun

transaksi nonnon-tunai. Transaksi tunai mengalami net-outflow sebesar Rp 411,54 miliar. Kondisi
tersebut berbeda apabila dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencatat net intflow sebesar
Rp 7,83 triliun. Hal serupa juga ditunjukkan oleh transaksi non-tunai melalui sistem BI-RTGS
dan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) yang peningkatan dibandingkan triwulan
sebelumnya.
Peningkatan jumlah uang yang keluar dari Bank Indonesia kepada perbankan (outflow)
pada periode laporan merupakan dampak dari tingginya penggunaan uang kartal di
masyarakat. Momen tahun ajaran baru dan liburan sekolah menyebabkan transaksi ekonomi
masyarakat yang menggunakan uang kartal meningkat pada pertengahan tahun 2013
sehingga mendorong terjadinya net outflow.

3.1.

PERKEMBANGAN KINERJA BANK UMUM


Sampai dengan Triwulan II 2013, kinerja Bank Umum di Jawa Timur secara umum masih

menunjukkan perkembangan positif dan mencerminkan pelaksanaan fungsi intermediasi yang


berjalan dengan baik. Peningkatan kinerja Bank Umum di Jawa Timur tersebut tercermin dari
pertumbuhan total aset, Dana Pihak Ketiga (DPK) dan kredit masing-masing sebesar 17,52%,
12,03% dan 26,32% (yoy). Perlambatan pertumbuhan DPK menyebabkan rasio Loan to

Deposit Radio (LDR) Bank Umum meningkat dari sebesar 85,20% pada Triwulan I 2013,
menjadi sebesar 90,32% pada Triwulan II 2013. Hal tersebut disebabkan oleh adanya
peningkatan konsumsi masyarakat pada pertengahan tahun karena adanya momen tahun
ajaran baru, liburan sekolah dan jelang lebaran 2013. Namun demikian, peningkatan LDR
dimaksud tetap ditopang dengan NPL yang tetap terjaga di level 2,12%.
Tabel 3.2
Perkembangan Indikator Bank Umum di Jawa Timur
INDIKATOR BANK UMUM
Total Aset (Jt Rp)
Pertumbuhan (yoy %)
Pertumbuhan (qtq %)
Dana Pihak Ketiga (Jt Rp)
Pertumbuhan (yoy %)
Pertumbuhan (qtq)
Kredit (Jt Rp)
Pertumbuhan (yoy %)
Pertumbuhan (qtq)
LDR (%)
NPL (%)

Tw I
304,224,004.00
18.64
3.89
252,807,903.00
17.62
1.78
192,754,345.00
19.63
1.64
76.25%
3.03

2012
Tw II
Tw III
322,889,656.00 342,663,960.00
19.48
22.05
6.14
6.12
262,249,932.00 273,662,910.00
16.75
17.94
3.73
4.35
210,063,135.00 223,506,097.00
22.30
24.49
8.98
6.40
80.10%
81.67%
2.73
2.64

Tw IV
353,595,712.00
20.75
3.19
289,087,210.00
16.39
5.64
239,483,201.00
26.28
7.15
82.84%
2.60

2013
Tw II
Tw I
362,320,071.28 379,474,342.11
19.10
17.52
2.47
4.73
287,820,030.32 293,799,081.36
13.85
12.03
(0.44)
2.08
245,211,529.00 265,353,368.89
27.21
26.32
2.39
8.21
85.20%
90.32%
2.26
2.12

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

48

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

Secara umum, kinerja bank umum di Jawa Timur terus menunjukkan peningkatan
selama beberapa waktu terakhir. Hal tersebut terlihat dari peningkatan rasio penyaluran kredit
terhadap dana pihak ketiga atau Loan to Deposit Ratio (LDR) yang didukung oleh tren
penurunan risiko kredit atau Non Performance Loan (NPL).

Grafik 3.1 Perkembangan LDR

LDR (%)

Grafik 3.2 Perkembangan LDR per Kelompok Bank

NPL (%) rhs


3,50
3,00
2,50
2,00
1,50
1,00
0,50
0,00

95,00
90,00
% 85,00
80,00
75,00
70,00
65,00
Tw I

Tw II

Tw III
2012

Tw IV

Tw I

Tw II
2013

120

LDR (%)

Bank Pemerintah

Bank Swasta

Bank Asing

100
80
60
40
20
0
Tw I

Tw II

Tw III
2012

Tw IV

Tw I

Tw II
2013

Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank Umum di Jawa Timur terus menunjukkan peningkatan
hingga mencapai 90,32% pada Triwulan II 2013 lebih besar apabila dibandingkan dengan LDR
triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 85,20%, atau periode yang sama tahun sebelumnya
(Triwulan II 2012) yang tercatat sebesar 80,10% (grafik 3.1). Peningkatan ini terutama
didorong oleh rata-rata pertumbuhan kredit triwulanan (8,21% qtq) yang lebih tinggi daripada
pertumbuhan DPK (2,08% qtq). Hal tersebut disebabkan oleh meningkatnya konsumsi
masyarakat pada periode tahun ajaran baru dan liburan sekolah, dengan sumber dana dari
pinjaman perbankan maupun penarikan simpanan di bank. Berdasarkan kelompok bank, rasio
LDR terbesar masih didominasi oleh kelompok Bank Pemerintah dengan LDR sebesar 110,62%,
diikuti oleh kelompok Bank Asing sebesar 96,93% dan Bank Swasta sebesar 72,79% (grafik
3.2).
Berdasarkan nominal, proporsi penyaluran kredit masing-masing kelompok bank
terhadap total kredit perbankan di Jawa Timur masih didominasi oleh Bank Pemerintah sebesar
Rp 137,66 triliun atau 52% dari total kredit. Proporsi terbesar selanjutnya adalah Bank Swasta
sebesar Rp 109,94 triliun atau 41%, dan Bank Asing memiliki porsi penyaluran kredit terkecil
dengan nominal sebesar Rp 17,75 triliun atau 7% dari total kredit.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

49

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

Grafik 3.3 Pertumbuhan Indikator Utama Perbankan (yoy)

Aset
G Aset (yoy)

Kredit
G Kredit (yoy)

Grafik 3.4 Pertumbuhan Indikator Utama Perbankan (qtq)

Dana
G DPK (yoy)

Aset
25

400,000,000

Kredit

DPK

10.00

350,000,000

20

8.00

250,000,000

15

200,000,000

y
10
o
y
5

150,000,000
100,000,000

6.00

50,000,000

Tw I

Tw II

Tw III

Tw IV

Tw I

2012

Rp Juta

300,000,000

4.00
2.00
0.00

Tw II

2013

II

III
2011

IV

II

III

IV

2012

II
2013

3.1.1. ASET DAN AKTIVA PRODUKTIF


Pada Triwulan II - 2013, total aset bank umum menunjukkan pertumbuhan sebesar
17,52% (yoy), sedikit lebih rendah apabila dibandingkan dengan pertumbuhan pada Triwulan I
- 2013 yang tercatat sebesar 19,10% (yoy). Penurunan pertumbuhan aset bank umum tersebut
disebabkan oleh pilihan bank untuk mengalokasikan sumber dana yang dimiliki untuk
penyaluran kredit kepada masyarakat. Selain itu, perlambatan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga
(DPK) yang disebabkan oleh tingginya penarikan dana oleh masyarakat untuk konsumsi tahun
ajaran baru dan liburan sekolah turut mendorong penurunan aset dan aktiva produktif bank
umum di Jawa Timur.
Grafik 3.6
3.6 Proporsi Aset Bank Umum

Grafik 3.5
3.5 Perkembangan Total Aset Bank Umum

Aset

G Aset (yoy) rhs

Bank Pemerintah Bank Swasta Bank Asing


25

400,000,000

6%

350,000,000

20

Rp Juta

300,000,000

250,000,000

15

200,000,000

y
10 o
y

150,000,000
100,000,000

45%
49%

50,000,000

Tw I

Tw II

Tw III
2012

Tw IV

Tw I

Tw II
2013

Searah dengan perkembangan ekonomi masing-masing Kabupaten / Kota di Jawa


Timur, besar aset perbankan masih didominasi oleh Bank Umum yang berlokasi di wilayah
Surabaya. Tercatat jumlah aset bank umum yang berlokasi di wilayah Kota Surabaya pada
Triwulan II 2013 adalah sebesar Rp 225,11 triliun, dengan proporsi sebesar 59,32% dari total

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

50

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

aset Bank Umum di Jawa Timur. Proporsi terbesar selanjutnya secara berurutan adalah Kota
Malang dengan nilai aset sebesar Rp 30,83 triliun (8,13%), Kediri sebesar Rp 20,58 triliun
(5,42%), Jember sebesar Rp 16,48 triliun (4,34%) dan Sidoarjo dengan nilai aset sebesar Rp
10,11 triliun (2,66%).
Grafik 3.7
3. 7 Proporsi Aset Bank Umum Per Kabupaten Kota

1%
1%
2%

3%

1%

1% 1% 0% 0% 0% 0% 0%
0% 0%
0%
0%
1% 1% 0%
0%
0%
1% 0%0%
1% 1% 1%

Grafik 3.8
3.8 Jumlah Aset Bank Umum Per Kab / Kota

0%
Miliar Rp
250.000,00

2%
200.000,00

4%
5%

150.000,00

59%
8%

100.000,00

50.000,00

Kota Surabaya

Kota Malang

Kota Kediri

Kab. Jember

Kab. Sidoarjo

Kab. Gresik

Kota Madiun

Kab. Banyuwangi Kab. Mojokerto

Kota Probolinggo Kab. Tulungagung Kota Pasuruan

Kab. Bojonegoro

Kota Blitar

Kab. Pamekasan

Kab. Jombang

Kab. Tuban

Kab. Ponorogo

Kab. Lamongan

Kab. Ngawi

Kab. Nganjuk

Kab. Situbondo

Kab. Magetan

Kab. Lumajang

Kab. Bangkalan

Kab. Bondowoso

Kab. Trenggalek

Kab. Pacitan

Kab. Malang

Kab. Sumenep

Kab. Sampang

Kota Mojokerto

Kab. Kediri

Kab. Madiun

0,00

Berdasarkan perkembangan kinerja pertumbuhan aset pada periode laporan, bank


umum yang berhasil mencatat pertumbuhan jumlah aset tertinggi adalah yang berlokasi di
Kabupaten Malang, yaitu sebesar 41,03% (yoy). Disusul kemudian dengan bank umum yang
berlokasi di Kabupaten Madiun, Bondowoso, Bojonegoro dan Kediri dengan pertumbuhan
masing-masing sebesar 34,27% (yoy), 32,72% (yoy), 28,23% (yoy) dan 28,20% (yoy).
Sementara itu, jumlah aset yang dimiliki Bank Umum yang berlokasi di wilayah Kabupaten
Kediri menunjukkan tren penurunan hingga sebesar -36,24% (yoy) pada periode laporan.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

51

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN


Grafik 3.9
3. 9 Pertumbuhan Aset Bank Umum Per Kab / Kota (% yoy)
25,00

200,00

150,00

20,00

100,00
15,00
50,00
10,00
0,00
Tw I

Tw II

Tw III

Tw IV

Tw I

Tw II
5,00

-50,00
2012
-100,00

2013

PROVINSI JAWA TIMUR (rhs)

Kab. Malang

Kab. Madiun

Kab. Bondowoso

Kab. Bojonegoro

Kota Kediri

Kab. Lamongan

Kab. Gresik

Kab. Mojokerto

Kab. Lumajang

Kab. Ngawi

Kab. Bangkalan

Kota Pasuruan

Kab. Banyuwangi

Kota Probolinggo

Kab. Ponorogo

Kota Surabaya

Kab. Sumenep

Kab. Sidoarjo

Kab. Pacitan

Kota Malang

Kab. Situbondo

Kab. Jember

Kab. Pamekasan

Kab. Tulungagung

Kab. Nganjuk

Kota Madiun

Kab. Jombang

Kab. Magetan

Kota Mojokerto

Kab. Trenggalek

Kab. Tuban

Kota Blitar

Kab. Sampang

Kab. Kediri

0,00

3.1.2. DANA PIHAK KETIGA (DPK)


Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun bank umum di Jawa Timur pada
Triwulan II - 2013 terus menunjukkan pertumbuhan positif. Tercatat jumlah DPK pada periode
laporan adalah sebesar Rp 293,79 triliun, atau tumbuh sebesar 12,03% (yoy) dibandingkan
periode sebelumnya. Pertumbuhan tersebut sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan pada
periode sebelumnya yaitu Triwulan I 2013 yang tercatat sebesar 13,85%, dan Triwulan II 2013
yang tercatat sebesar 16,75%.
Grafik 3.10
3. 10 Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (yoy)

Dana

G DPK (yoy)

G DPK (qtq)

300,000,000

20

290,000,000

15

Rp Juta

280,000,000

270,000,000

10

260,000,000

5 o

y
y

250,000,000
0

240,000,000
230,000,000

-5

Tw I

Tw II

Tw III
2012

Tw IV

Tw I

Tw II
2013

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

52

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

Perlambatan pertumbuhan tahunan DPK pada periode laporan disebabkan oleh


tingginya konsumsi masyarakat sehubungan dengan tibanya tahun ajaran baru dan liburan
sekolah. Namun demikian, apabila ditinjau secara triwulanan, pertumbuhan DPK menunjukkan
peningkatan dari sebesar -0,44 % (qtq) pada Triwulan I 2013, menjadi 2,08% (qtq) pada
Triwulan II 2013..
Sebagaimana periode sebelumnya, struktur DPK Bank Umum di Jawa Timur masih
didominasi oleh tabungan dengan nominal mencapai Rp 133,1 triliun atau proporsi sebesar
45,32% dari total DPK. Menyusul kemudian deposito dengan prosentase sebesar 38,62% dan
nominal Rp 114,67 triliun, serta giro dengan prosentase sebesar 16,18% dan nominal Rp 45,98
triliun. Apabila ditinjau dari sisi pertumbuhan, pada periode ini tabungan mengalami
pertumbuhan tertinggi sebesar 14,58% (yoy), disusul oleh deposito dan giro dengan
pertumbuhan masing-masing sebesar 11,87% (yoy) dan 5,6% (yoy).

Grafik 3.11
3. 11 Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (yoy))
Giro

Deposito

Grafik 3.12
3.12 Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (qtq)

Tabungan

Giro

Deposito

Tabungan

10.00

30.00
25.00

5.00

15.00
% qtq

% yoy

20.00
10.00
5.00
0.00

Tw I

Tw II

Tw III

Tw IV

Tw I

II

III

IV

2012

2012

2013

Giro

2013

(5.00)

Grafik 3.13
3.13 Perkembangan DPK Per Jenis Simpanan
(Rp. Milyar)

Tabungan

II

Tw II

Grafik 3.14
3.14 Komposisi DPK Bank Umum (%)
Giro

Deposito

Deposito

Tabungan

150,000,000
16%
Rp Juta

100,000,000

%
y
o
y

50,000,000

45%
39%

Tw I

Tw II

Tw III

2012

Tw IV

Tw I

Tw II
2013

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

53

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

Grafik 3.15 Perbandingan Suku Bunga Simpanan BI Rate


DPK

Giro

Tabungan

Deposito

BI Rate

8,00
7,00
6,00
5,00
4,00
3,00
2,00
1,00
Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II
2011

2012

2013

Trend penurunan suku bunga tabungan, giro dan deposito selama beberapa tahun
diharapkan mampu mendorong perbankan di Jawa Timur khususnya bank umum untuk
beroperasi dengan lebih efisien. Kenaikan BI Rate sebesar 0,25 basis point menjadi 6%
berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur pada bulan Juni 2013 tidak seketika direspon oleh
perbankan dnegan menaikkan suku bunganya (lag antara bi rate dan suku bunga perbankan)
Apabila ditinjau berdasarkan lokasinya, bank umum di wilayah Kota Surabaya mencatat
jumlah penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) tertinggi dibandingkan dengan Kabupaten /
Kota lain di Jawa Timur. Tercatat DPK Bank Umum di wilayah Kota Surabaya mencapai sebesar
Rp 172,29 triliun, atau 57,34% dari total DPK bank umum di Jawa Timur. Wilayah dengan DPK
terbesar selanjutnya adalah Kota Malang sebesar Rp 26,81 triliun (8,92%), Kota Kediri sebesar
Rp 15,15 triliun (5,04%), dan Kabupaten Jember sebesar Rp 12,99 triliun ( 4,32%).
Grafik 3.16 Proporsi DPK per Kabupaten Kota
1%

1%

1%

1%

2%

1%

0% 0%0% 0% 0% 0%
1% 0%
1% 1% 1% 1%1% 0%
1% 0% 0%
1%1%

0%

0%

0%

2%

3%
57%

4%
5%

9%

Kab. Sidoarjo

Grafik 3.17 Jumlah DPK per Kabupaten Kota

Kota Surabaya

Kota Malang

Kota Kediri

Kab. Jember

Kota Madiun

Kab. Mojokerto

Kab. Banyuwangi

Kab. Tulungagung Kota Pasuruan

Kab. Gresik
Kota Blitar

Kota Probolinggo

Kab. Bojonegoro

Kab. Pamekasan

Kab. Jombang

Kab. Tuban

Kab. Ponorogo

Kab. Lamongan

Kab. Nganjuk

Kab. Ngawi

Kab. Magetan

Kab. Bangkalan

Kab. Lumajang

Kab. Trenggalek

Kab. Situbondo

Kab. Pacitan

Kab. Sumenep

Kab. Sampang

Kab. Bondowoso

Kab. Malang

Kota Mojokerto

Kab. Kediri

Kab. Madiun

200.000,00
180.000,00
160.000,00
140.000,00
120.000,00
100.000,00
80.000,00
60.000,00
40.000,00
20.000,00
0,00

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

54

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

Berdasarkan

perkembangan

pertumbuhan

DPK,

Kabupaten

Madiun

mencatat

pertumbuhan tahunan tertinggi dengan prosentase pertumbuhan sebesar 66,58% (yoy), lebih
tinggi apabila dibandingkan dengan pertumbuahn DPK pada periode yang sama tahun
sebelumnya yang tercatat sebesar 61,51% (yoy). Wilayah dengan pertumbuhan kinerja
penghimpunan DPK terbesar selanjutnya adalah Kabupaten Malang, Kabupaten Sidoarjo dan
Kabupaten Mojokerto dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 37,48% (yoy), 27,55%
(yoy) dan 21,08% (yoy). Senada dengan perkembangan pertumbuhan aset, DPK yang berhasil
dihimpun bank umum di wilayah Kabupaten Kediri pada periode lapoan mencatat
pertumbuhan negatif sebesar -1,83% (yoy).
Grafik 3.18
3. 18 Pertumbuhan DPK Bank Umum Per Kab / Kota (% yoy)
300,00
250,00
200,00
150,00
100,00
50,00
0,00
Tw I

-50,00

Tw II

Tw III

Tw IV

Tw I

Tw II

Tw III
2012

3.1.3.

Tw IV

Tw I

Tw II

20,00
18,00
16,00
14,00
12,00
10,00
8,00
6,00
4,00
2,00
0,00

2013

PROVINSI JAWA TIMUR (rhs)

Kab. Madiun

Kab. Malang

Kab. Sidoarjo

Kab. Mojokerto

Kab. Bojonegoro

Kab. Ngawi

Kab. Bangkalan

Kab. Ponorogo

Kota Mojokerto

Kab. Lumajang

Kota Pasuruan

Kab. Lamongan

Kab. Sumenep

Kab. Magetan

Kab. Banyuwangi

Kab. Nganjuk

Kota Surabaya

Kota Malang

Kota Probolinggo

Kota Kediri

Kab. Pamekasan

Kota Madiun

Kab. Jember

Kab. Trenggalek

Kab. Tulungagung

Kab. Jombang

Kab. Sampang

Kab. Tuban

Kota Blitar

Kab. Gresik

Kab. Situbondo

Kab. Bondowoso

Kab. Pacitan

Kab. Kediri

KREDIT
Penyaluran kredit oleh bank umum di Jawa Timur sampai dengan pertengahan tahun

2013 masih terus menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Tercatat pada bulan Juni
2013, kredit tumbuh sebesar 26,32% (yoy) dan 8,21% (qtq) hingga mencapai Rp 265,35
triliun. Secara tahunan, pertumbuhan kredit tersebut sedikit lebih rendah apabila dibandingkan
dengan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 27,21% (yoy).

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

55

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

Secara triwulanan penyaluran kredit bank umum pada periode ini lebih besar
dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang hanya tercatat sebesar 2,39% (qtq). Tingginya
penyaluran kredit hingga mencapai Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 90,32% tersebut
didukung oleh terjaganya risiko kredit yang tercermin dari besar Non Performance Loan (NPL)
sebesar 2,12% pada Triwulan II 2013, lebih rendah apabila dibandingkan dengan NPL Triwulan
I 2013 yang tercatat sebesar 2,26%. Hal tersebut mencerminkan baiknya kinerja bank umum
Jawa Timur dalam melaksanakan fungsi intermediasi dengan penyaluran kredit kepada
masyarakat.
Grafik 3.20
3.20 Pertumbuhan Kredit (qtq)

Grafik 3.19
3.19 Pertumbuhan Kredit (yoy)

Kredit

G Kredit (yoy)
30

300.000.000

250.000.000

25

250.000.000

200.000.000

20 %

150.000.000

15 y
o
10 y

G Kredit (qtq)
10
9
8
7
6 %
5
4 y
3
o
2
1 y
0

200.000.000

Rp Juta

Rp Juta

Kredit
300.000.000

150.000.000

100.000.000
50.000.000

100.000.000
50.000.000
Tw I

Tw I

Tw II

Tw III

Tw IV

Tw I

Tw II

Tw II

Tw III

Tw IV

Tw I

2012

Tw II

2013

Sebagaimana periode sebelumnya, pada Triwulan II 2013 kredit yang disalurkan bank
umum di Jawa Timur masih didominasi oleh kredit produktif yaitu kredit modal kerja yaitu
mencapai Rp 153,43 triliun dengan prosentase sebesar 57,82% dari total kredit. Jenis kredit
dengan proporsi terbesar selanjutnya adalah kredit konsumsi dengan nominal sebesar Rp 73,3
triliun dan prosentase sebesar 27,63% dari total kredit. Kredit investasi mencatat proporsi yang
lebih kecil yaitu 14,55% dari total kredit, dengAn nominal sebesar Rp 38,61 triliun.
Pertumbuhan tahunan kredit investasi yang disalurkan bank umum di Jawa Timur pada
bulan Juni 2013 mencatat prosentase tertinggi diantara jenis kredit lainnya, yaitu mencapai
34,32% (yoy). Meningkatnya pertumbuhan kredit investasi dimaksud merupakan trend
tahunan dimana penyaluran kredit investasi kembali meningkat pasca perlambatan di awal
tahun. Sementara itu, jenis kredit lainnya yaitu kredit konsumsi dan investasi mencatat
pertumbuhan yang juga cukup tinggi, yaitu masing-masing sebesar 26,29% dan 24,29% (yoy).
Secara triwulanan, ke-tiga jenis kredit bank umum dimaksud mencatat pertumbuhan
positif. Tercatat kredit modal kerja tumbuh sebesar 7,5% (qtq), kredit investasi tumbuh
15,51% (qtq), dan kredit konsumsi tumbuh sebesar 6,15% (qtq). Pertumbuhan kredit

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

56

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

dimaksud antara lain dipengaruhi oleh momen tahun ajaran baru dan liburan sekolah yang
jatuh.
Berdasarkan kelompok bank, Bank Pemerintah masih menjadi penyalur kredit terbesar
dengan proporsi 51,88% dari total kredit, disusul oleh Bank Swasta sebesar 41,43% dan Bank
Asing sebesar 6,69%. Ditinjau dari kinerja pertumbuhan kredit, pada periode ini bank asing
mencatat pertumbuhan tahunan tertinggi yaitu mencapai 54,66% (yoy), sementara bank
pemerintah dan bank swasta masing-masing mencatat pertumbuhan sebesar 26,08% (yoy) dan
22,98% (yoy).
Tingginya pertumbuhan penyaluran kredit tersebut menunjukkan baiknya kinerja bank
umum di Jawa Timur dalam meningkatkan fungsi intermediasinya. Tingkat persaingan yang
semakin kondusif antara kelompok bank diharapkan dapat mendorong peningkatan kualitas
penyaluran kredit kepada masyarakat.
Grafik 3.21
3. 21 Proporsi Penyaluran Kredit Berdasarkan
Jenis Penggunaan

Modal Kerja

Investasi

Grafik 3.22
3.22

Konsumsi

Proporsi Penyaluran Kredit Berdasarkan


Kelompok Bank

Bank Pemerintah

Grafik 3.23
3.23 Pertumbuhan Kredit Per Jenis
Penggunaan (yoy)

Modal Kerja

Investasi

52%

41%

58%

14%

Grafik 3.24
3. 24 Pertumbuhan Kredit Per Jenis Penggunaan
(qtq)

Konsumsi

Modal Kerja

Investasi

Konsumsi

20,00

15,00

% qtq

% yoy

Bank Asing

7%

28%

50,00
45,00
40,00
35,00
30,00
25,00
20,00
15,00
10,00
5,00
-

Bank Swasta

Tw I

Tw II

Tw III

Tw IV

Tw I

Tw II

10,00

5,00

0,00
I

2012

2013

(5,00)

II

III
2012

IV

II
2013

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

57

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

Grafik 3.25
3.25 Proporsi Kredit Sektoral

1. PERTANIAN, PERBURUAN DAN KEHUTANAN

0% 0%

2. PERIKANAN

1%
3. PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN

3%
28%

4. INDUSTRI PENGOLAHAN

28%

5. LISTRIK, GAS DAN AIR

0% 0%
2%

6. KONSTRUKSI
7. PERDAGANGAN BESAR DAN ECERAN

0%

8. PENYEDIAAN AKOMODASI DAN PENYEDIAAN MAKAN MINUM

0%
0%
0%
4%

0%
3%
1%

26%

0%
3%

9. TRANSPORTASI, PERGUDANGAN DAN KOMUNIKASI


10. PERANTARA KEUANGAN
12. REAL ESTATE, USAHA PERSEWAAN, DAN JASA PERUSAHAAN
13. ADMINISTRASI PEMERINTAHAN, PERTAHANAN DAN JAMINAN SOSIAL WAJIB
14. JASA PENDIDIKAN
14. JASA KESEHATAN DAN KEGIATAN SOSIAL

Secara sektoral, kredit yang disalurkan oleh bank umum di Jawa Timur pada periode
laporan (Triwulan II 2013) sebagian besar tersalur pada Sektor Industri dan Pengolahan (28%
dari total kredit), kredit kepada Sektor Jasa Pendidikan (28%), dan Sektor Perdagangan Besar
dan Eceran (26%). Tingginya peyaluran kredit kepada ketiga sektor tersebut diyakini
merupakan dampak dari tingginya konsumsi masyarakat pada pertengahan tahun sehubungan
dengan tahun ajaran baru dan liburan sekolah.
Sementara itu, kredit yang disalurkan kepada sektor pertanian, perkebunan dan
kehutanan memperoleh proporsi kredit yang masih relatif kecil yaitu sebesar 3,08%. Namun
demikian, proporsi tersebut meningkat dibandingkan dengan prosentase periode sebelumnya
yang tercatat sebesar 2,78%. Hal tersebut dapat dijadikan indikasi perhatian perbankan kepada
sektor pertanian yang merupakan salah satu sektor utama penyumbang pertumbuhan ekonomi
di Jawa Timur, dan adanya peningkatan penyaluran kredit seiring dengan datangnya musim
panen dan tanam pada pertengahan tahun.
Sementara itu, apabila dilihat dari angka pertumbuhannya, peningkatan penyaluran
kredit tertinggi adalah pada sektor jasa perorangan yang melayani rumah tangga, sektor

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

58

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

penyediaan akomodasi dan makan minum serta sektor perikanan dengan pertumbuhan
masing-masing sebesar 168,49%, 54,89% dan 49,75% (yoy).
Grafik 3.26
3.26 Perkembangan Kredit Sektoral Dominan (yoy)
180,00

30.000,00

160,00

Grafik 3.27
3.27 Perbandingkan Suku Bunga Kredit & BI rate

1. PERTANIAN, PERBURUAN DAN KEHUTANAN

Kredit

Modal kerja

2. PERIKANAN

Konsumsi

BI Rate

25.000,00

140,00

3. PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN

120,00

20.000,00

100,00

4. INDUSTRI PENGOLAHAN

6. KONSTRUKSI

15.000,00

80,00
60,00

10.000,00

40,00

7. PERDAGANGAN BESAR DAN ECERAN

8. PENYEDIAAN AKOMODASI DAN PENYEDIAAN


MAKAN MINUM
9. TRANSPORTASI, PERGUDANGAN DAN KOMUNIKASI

20,00

5.000,00

10. PERANTARA KEUANGAN

16. JASA PERORANGAN YANG MELAYANI RUMAH


TANGGA (rhs)

Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II

(20,00)

2012

Investasi

18,00
16,00
14,00
12,00
10,00
8,00
6,00
4,00
2,00
Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II

19. PENERIMA KREDIT BUKAN LAPANGAN USAHA

20. Lain-lain

2013

2011

2012

2013

Ditinjau dari wilayah lokasi bank pelapor, penyaluran kredit terbesar masih didominasi
oleh bank umum di Kota Surabaya dengan nominal sebesar Rp 150,91 triliun dan prosentase
sebesar 56,87% dari total kredit yang disalurkan. Proporsi terbesar selanjutnya adalah bank
umum di wilayah Kota Malang, Kota Kediri dan Kabupaten Jember dengan prosentase masingmasing sebesar 8,17%, 5,92% dan 4,36% dari total kredit yang disalurkan Jawa Timur.

Grafik 3.28
3.28 Proporsi Penyaluran Kredit per Kabupaten Kota
1% 1%
0%
0%
1% 0%0%0%0%
1%
1% 1% 1%
0% 0%
1%
0%
0%
0%
1%
1%
1%
1% 1%

160.000

1% 1% 1%

140.000

2% 2%

120.000

3%

100.000

4%

57%

6%

80.000
60.000

8%

40.000
20.000

Kab. Lumajang

Kab. Bondowoso

Kab. Pacitan

Kab. Malang

Kab. Trenggalek

Kab. Bangkalan

Kab. Sumenep

Kab. Sampang

Kota Mojokerto

Kab. Kediri

Kab. Madiun

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

Kab. Tulungagung

Kab. Situbondo

Kab. Jombang

Kab. Magetan

Kab. Pamekasan

Kab. Ngawi

Kab. Nganjuk

Kota Pasuruan

Kab. Ponorogo

Kab. Mojokerto

Kab. Tulungagung

Kab. Lamongan

Kab. Bojonegoro

Kab. Pamekasan

Kab. Tuban

Kota Probolinggo

Kab. Jombang

Kota Blitar

Kota Madiun

Kab. Banyuwangi Kota Probolinggo Kab. Bojonegoro

Kota Pasuruan

Kab. Banyuwangi

Kota Madiun

Kab. Mojokerto

Kab. Gresik

Kab. Sidoarjo

Kab. Sidoarjo

Kab. Gresik

Kota Kediri

Kab. Jember

Kab. Jember

Kota Kediri

Kota Malang

Kota Malang

Kota Surabaya

Kota Surabaya

59

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

Pertumbuhan kredit berdasarkan lokasi bank pelapor tertinggi pada periode laporan
adalah di Kota Kediri dengan pertumbuhan tahunan mencapai 26,32%. Pertumbunan tertinggi
selanjutnya adalah pada Kabupaten Malang, Kabupaten Madiun dan Kabupaten Lumajang
dengan prosentase pertumbuhan masing-masing sebesar 42,27% (yoy), 37,15% (yoy) dan
37,15% (yoy). Kabupaten Kediri masih mencatat pertumbuhan penyaluran kredit terkecil
dengan prosentase negatif yaitu sebesar -44,56% (yoy).
Grafik 3.29
3.29 Pertumbuhan Kredit per Kabupaten Kota
80,00
60,00
40,00
20,00
Des-12

Jan-13

Feb-13

Mar-13

Apr-13

Mei-13

Jun-13

(20,00)
(40,00)
(60,00)

Kota Kediri

Kab. Malang

Kab. Madiun

Kab. Lumajang

Kab. Situbondo

Kab. Banyuwangi

Kab. Bondowoso

Kota Pasuruan

Kab. Pacitan

Kota Surabaya

Kab. Jember

Kab. Gresik

Kota Probolinggo

Kab. Tulungagung

Kota Blitar

Kab. Mojokerto

Kab. Tuban

Kab. Lamongan

Kota Malang

Kab. Nganjuk

Kota Madiun

Kab. Bangkalan

Kab. Pamekasan

Kab. Ngawi

Kab. Trenggalek

Kab. Ponorogo

Kab. Sidoarjo

Kab. Sampang

Kab. Bojonegoro

Kab. Sumenep

Kab. Magetan

Kab. Jombang

Kota Mojokerto

Kab. Kediri

3.1.4 KREDIT USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (U MKM)


Perbankan di Jawa Timur terus berperan aktif dalam meningkatkan peran UMKM dalam
mendukung perekonomian daerah. Hal tersebut ditunjukkan dengan adaya peningkatan
penyaluran kredit kepada sektor UMKM. Jumlah UMKM yang sangat banyak di Jawa Timur
menunjukkan bahwa peluang perbankan dalam penyaluran kredit di sektor ini masih sangat
luas.
Berdasarkan hasil survey yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jatim
hingga akhir 2012, jumlah UMKM di Jawa Timur mencapai lebih dari 6,8 juta UMKM dengan
konsentrasi jumlah terbesar di kabupaten Jember, Malang dan Banyuwangi. Berdasarkan sektor
usahanya, jumlah tersebut terdiri atas UMKM yang bergerak di sektor pertanian sebesar

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

60

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

60,25% dengan jumlah unit usaha sebanyak 4.112.443 usaha, dan sektor non pertanian
sebesar 39,75% dengan jumlah unit usaha sebanyak 2.713.488 usaha.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, Bank Indonesia dan Pemerintah menyediakan
berbagai fasilitas dan kebijakan sebagai upaya pengembangan UMKM, antara lain dengan
pembentukan PT. Jamkrida (Lembaga Penjaminan Kredit Daerah), penyaluran kredit linkage,
pemberian bantuan teknis/pelatihan dan pendampingan kepada UMKM untuk memperoleh
pembiayaan dari perbankan dengan mengoptimalkan fungsi Konsultan Keuangan Mitra Bank
(KKMB), pengembangan klaster komoditas potensial, serta Program Kerjasama Sertifikasi Tanah
antara Bank Indonesia dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk meningkatkan aksesibilitas
kredit UMKM. Upaya dimaksud diharapkan mampu menjadi pendorong bagi industri
perbankan di Jawa Timur untuk terus meningkatkan penyaluran kredit kepada UMKM.
Grafik 3.30
3.30 Perkembangan Kredit UMKM

60.000.000

12

50.000.000

10

40.000.000

30.000.000

20.000.000

10.000.000

0
Tw I

Tw II

Tw III
2012

Tw IV

Tw I

Tw II

%
y
o
y

4,40
4,20
4,00
3,80
3,60
3,40
3,20

100.000.000
80.000.000
60.000.000
40.000.000
20.000.000
Tw II

14

Tw I

16

70.000.000

NPL (%) Skala Kanan

Tw IV

80.000.000

Tw III

J
u
t
a

Kredit UMKM Juta Rupiah


18

Tw II

R
p

Growth % (yoy)

Tw I

Kredit UMKM Juta Rupiah


90.000.000

2013

2012

2013

Perkembangan kredit UMKM yang disalurkan oleh perbankan di Jawa Timur secara
umum terus menunjukkan peningkatan dari waktu ke waktu. Tercatat pada Triwulan II 2013
jumlah kredit UMKM adalah sebesar Rp 78,64 triliun atau tumbuh sebesar 14,2% (yoy), lebih
tinggi apabila dibandingkan dengan pertumbuhan Triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar
11,48% (yoy). Secara triwulanan, pertumbuhan kredit yang disalurkan bank umum di Jawa
Timur kepada sektor UMKM pada Triwulan II 2013 tumbuh sebesar 11,71% (qtq), jauh lebih
tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Triwulan I 2013 yang hanya tercatat sebesar 2,72%
(qtq). Dengan mempertimbangkan perkembangan ekonomi Jawa Timur yang kondusif,
pertumbuhan kredit UMKM Jawa Timur diperkirakan terus tumbuh positif.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

61

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN


Grafik 3.31
3.31 Proporsi Kredit UMKM Berdasarkan Bank

Bank Pemerintah

Bank Swasta

Bank Asing

1%

40%
59%

Proporsi penyaluran kredit UMKM oleh bank umum di Jawa Timur masih didominasi
oleh Bank Pemerintah sebesar 59% dengan jumlah nominal mencapai Rp 45,94 triliun. Bank
swasta menyumbang proporsi terbesar kedua dengan prosentase sebesar 40% dan nominal Rp
31,61 triliun. Proporsi penyaluran kredit UMKM terkecil adalah bank asing dengan nominal
sebesar Rp 1,09 triliun dan prosentase 1% dari total kredit. Peningkatan kredit UMKM
dimaksud mengindikasikan peran aktif perbankan di Jawa Timur dalam mendukung
pengembangan UMKM.
1

3.1.5 KREDIT USAHA RAKYAT (KUR)1


Sampai dengan pertengahan tahun atau Triwulan II 2013, kinerja penyaluran Kredit
Usaha Rakyat (KUR) di Jawa Timur masih konsisten menunjukkan perkembangan yang positif.
Berdasarkan data Kementerian Koordinator Perekonomian RI, plafon KUR yang disiapkan oleh
bank pelaksana KUR di Jawa Timur hingga periode laporan mencapai Rp 18 triliun dengan
jumlah debitur mencapai 1,54 juta nasabah. Plafon KUR yang disalurkan tersebut tumbuh
47,44% (yoy) dan 10,37% (qtq).
Apabila ditinjau berdasarkan wilayah, pada akhir Triwulan II 2013 Provinsi Jawa Timur
masih berada pada urutan kedua secara nasional daerah penyalur KUR dengan plafon tertinggi
setelah Jawa Tengah. Namun demikian, jumlah plafon KUR yang disalurkan tidak jauh berbeda,
yaitu Jawa Tengah sebesar Rp 18,35 triliun atau 15,39% dari total plafon, sementara Jawa
Timur sebesar Rp 18,01 triliun atau 14,37% dari total plafon. Plafon KUR Jawa Barat

KUR merupakan kredit/pembiayaan kepada kelompok Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dalam
bentuk pemberian kredit modal kerja dan kredit investasi yang didukung fasilitas penjaminan untuk usaha
produktif.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

62

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

menempati posisi terbesar ketiga secara nasional, dengan jumlah penyaluran KUR sebesar Rp
15,25 triliun dengan prosentase sebesar 12,79% dari total plafon KUR nasional.
Jumlah outstanding kredit atau baki debet KUR bank pelaksana di Jatim pada periode
laporan adalah sebesar Rp 6,49 triliun, meningkat 18,63% (yoy) dan 6,24% (qtq) dibandingkan
dengan periode sebelumnya. Peningkatan jumlah outstanding kredit KUR dimaksud didorong
oleh adanya peningkatan omzet penjualan usaha pada saat tahun ajaran baru dan liburan
sekolah yang jatuh pada bulan Juni 2013.
Grafik 3.32
3.32

5 Besar Provinsi Penyalur KUR

JAWA TENGAH

JAWA TIMUR

JAWA BARAT

Grafik 3.33
3. 33 PerkembanganPenyaluran KUR di Jatim

Debitur (Jt Rp) Skala Kanan

Plafon (Jt Rp)

Outstanding (Jt Rp)

SULAWESI SELATAN SUMATERA UTARA

2011

3.2.

2012

Tw II

Tw I

Tw IV

Tw III

Tw I

Tw II

Tw I

28%

Tw III

24%

1.800.000
1.600.000
1.400.000
1.200.000
1.000.000
800.000
600.000
400.000
200.000
0

20.000.000,00
18.000.000,00
16.000.000,00
14.000.000,00
12.000.000,00
10.000.000,00
8.000.000,00
6.000.000,00
4.000.000,00
2.000.000,00
0,00
Tw IV

11%

28%

Tw II

9%

2013

STABILITAS SISTEM PERBANKAN


Stabilitas sistem perbankan yang tercermin dari berbagai risiko yang dihadapi dalam

pelaksanaan transaksi selama Triwulan II 2013 relatif stabil dan terjaga. Peningkatan kredit
perbankan sebesar 26,32% (yoy) hingga mencapai Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 90,32%
didukung oleh kecukupan likuiditas dan rendahnya risiko kredit. Peningkatan penyaluran kredit
yang diimbangi dengan terjaganya rasio NPL di kisaran 2,12% mengindikasikan adanya
peningkatan stabilitas sistem perbankan yang didukung oleh kesadaran dan kemampuan
masyarakat dalam melaksanakan kewajibannya sebagai debitur.
Namun demikian, beberapa risiko lain yang tetap harus diwaspadai perbankan adalah
risiko operasional yang terkait dengan mekanisme proses internal, kesalahan manusia,
kegagalan sistem dan atau kejadiankejadian yang mempengaruhi operasional bank. Untuk itu,
perlu adanya optimalisasi fungsi pengawasan atas kegiatan operasional perbankan baik oleh
internal bank melalui fungsi Satuan Kerja Audit Intern (SKAI) maupun oleh pihak eksternal
dalam hal ini Bank Indonesia sebagai regulator dan masyarakat sebagai pengguna jasa
perbankan.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

63

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

Bank Indonesia terus berupaya meningkatkan perlindungan dan pemberdayaan


nasabah dengan Transparansi Produk, Penyelesaian Pengaduan, Mediasi Perbankan, dan
Edukasi Konsumen. hal tersebut dilakukan untuk mendorong terciptanya iklim perbankan yang
kondusif dengan cara mendorong peningkatan kualitas pelayanan perbankan maupun
perlindungan konsumen.

3.2.1. RISIKO KREDIT


Tabel 3.3
3. 3
Perkembangan NPL perper- Kelompok Bank

KETERANGAN
NPL Bank Umum (%)
a. Bank Pemerintah
b. Bank Swasta
c. Bank Asing

Tw I
3,03
3,90
1,66
4,12

2012
Tw II
Tw III
2,73
2,64
3,62
3,37
1,51
1,69
3,87
3,05

Tw IV
2,60
3,46
1,64
1,98

2013
Tw I
Tw II
2,26
2,12
2,74
2,56
1,70
1,66
2,01
1,60

Risiko kredit perbankan yang tercermin dari rasio kredit bermasalah terhadap total
kredit atau Non Performing Loan (NPL) di Jawa Timur secara umum terus menunjukkan
perbaikan dari waktu ke waktu. NPL bank umum pada triwulan II 2013 tercatat membaik
dibandingkan periode sebelumnya, yaitu dari sebesar 2,26% pada Triwulan I 2013 menjadi
2,12% pada Triwulan II 2013. Penurunan NPL ini disebabkan pertumbuhan kredit yang lebih
tinggi dibandingkan pertumbuhan nominal kredit bermasalah.
Berdasarkan kelompok bank, persentase NPL tertinggi adalah kelompok bank
pemerintah dengan NPL sebesar 2,56%. NPL bank asing dan bank swasta di Jawa Timur
memiliki NPL lebih rendah, yaitu masing-masing sebesar 1,6% dan 1,66%. Berdasarkan jenis
penggunaannya, NPL kredit tertinggi terjadi pada kredit konsumsi dengan prosentase sebesar
5,51%, disusul oleh kredit modal kerja sebesar 2,65%. Sementara kredit investasi mencatat
NPL terkecil yaitu sebesar 0,91%.
Secara individual debitur, kredit konsumsi merupakan kredit yang memiliki tingkat risiko
terbesar karena bukan merupakan sektor produktif sehingga jaminan terhadap pengembalian
kredit lebih kecil dibandingkan kredit produktif. Namun secara aggregat perbankan, kredit
konsumsi memiliki tingkat risiko yang lebih rendah dibandingkan kredit lainnya karena risiko
kredit tersebar pada banyak debitur sehingga dapat meminimalkan signifikansi default debitur
kredit konsumsi.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

64

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN


Grafik 3.34
3.34 Perkembangan NPL Bank Umum

Pemerintah (Jt Rp)

Swasta (Jt Rp)

NPL Pemerintah (%)

NPL Swasta (%)

Grafik 3.35
3.35 Perkembangan NPL per Jenis Penggunaan

Asing (Jt Rp)

NPL Bank Umum

Modal Kerja

NPL Asing (%)

Investasi

Konsumsi

50,000,000

9.00
8.00
7.00
6.00
5.00
4.00
3.00
2.00
1.00
0.00

8.00
7.00
6.00
5.00
4.00
3.00
2.00
1.00
0.00

40,000,000
30,000,000
20,000,000
10,000,000
Tw I

Tw II

Tw III

Tw IV

Tw I

Tw I

2012

Tw II

Tw III

Tw IV

Tw I

2013

Tw II
2013

Secara sektoral, penyaluran kredit dengan NPL terbesar pada bulan Triwulan II 2013
adalah sektor perikanan dan sektor pertanian, perburuan dan kehutanan, dengan besar NPL
masing-masing sebesar 4,29% dan 4,41% Tingginya NPL sejalan dengan tingginya komposisi
penyaluran kredit utama perbankan kepada sektor dimaksud, serta risiko yang dimiliki.
Grafik 3.36
3.36

NPL per Sektor Ekonomi

PERIKANAN

NPL %
12.00

PERTANIAN, PERBURUAN
DAN KEHUTANAN

10.00
KEGIATAN YANG BELUM
JELAS BATASANNYA

8.00

PERDAGANGAN BESAR
DAN ECERAN

6.00
4.00

PERANTARA KEUANGAN

2.00
0.00
Tw I

Tw II Tw III Tw IV

Tw I

Tw II

PENYEDIAAN AKOMODASI
DAN PENYEDIAAN MAKAN
MINUM

2013

Secara umum NPL kredit dari sektor utama menunjukkan tren penurunan. Meskipun
kredit sektor pertanian dan perikanan sempat mengalami peningkatan di akhir tahun 2012,
namun hinga Triwulan II 2013 NPL kredit keduanya kembali mengalami penurunan. Hal
tersebut diperkirakan disebabkan oleh berlalunya musim penghujan di akhir tahun, serta
masuknya musim panen di pertengahan tahun.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

65

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

3.3. PERBANKAN SYARIAH


Terus tumbuh dan berkembangnya kegiatan usaha perbankan syariah di Provinsi Jawa
Timur didukung oleh pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang terus menunjukkan
perkembangan positif, serta masih terbukanya potensi pengembangan pasar perbankan syariah
di Jawa Timur. Selain itu, peningkatan kinerja perbankan syariah di Jawa Timur juga dapat
menjadi indikasi meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap Bank Syariah.

Grafik 3.38
3.38 Perkembangan Indikator Perbankan Syariah
(yoy)

Aset

Pembiayaan

Dana

G DPK (qtq)

G Aset (qtq)

G Kredit (qtq)
20
18
16
14
12
10
8
6
4
2
0

20,000,000
18,000,000
16,000,000
14,000,000
12,000,000
10,000,000
8,000,000
6,000,000
4,000,000
2,000,000
Tw I

Tw II

Tw III

Tw IV

Tw I

%
q
t
q

Rp Juta

Rp Juta

Grafik 3.37
3. 37 Perkembangan Indikator Perbankan Syariah
(qtq)

Aset

Pembiayaan

Dana

G DPK (yoy)

G Aset (yoy)

G Kredit (yoy)
100
90
80 %
70
60 y
50 o
40
y
30
20
10
0

20,000,000
18,000,000
16,000,000
14,000,000
12,000,000
10,000,000
8,000,000
6,000,000
4,000,000
2,000,000
Tw I

Tw II

Tw III
2012

2012

Tw IV

Tw I

Tw II

Tw II

2013

2013

Secara tahunan, indikator kinerja utama Perbankan Syariah di Jawa Timur yang terdiri
atas aset, Dana Pihak Ketiga (DPK) dan pembiayaan pada triwulan II 2013 mencatat
pertumbuhan dibandingkan periode sebelumnya. Aset tumbuh sebesar 42,67% (yoy) dan
8,51% (qtq) dari Rp 17,27 triliun pada Triwulan I - 2013 menjadi Rp 18,74 triliun pada Triwulan
II - 2013. Sementara itu, dana masyarakat yang disimpan pada Bank Syariah di Jawa Timur
tumbuh cukup tinggi yaitu mencapai 40,18% (yoy) dan 5,32% (qtq) dari sebesar Rp 13,13
triliun menjadi Rp 13,83 triliun.
Berdasarkan komposisinya, peningkatan dana masyarakat didorong oleh cukup
tingginya pertumbuhan ketiga jenis simpanan yaitu giro, tabungan dan deposito yang masing
masing secara tahunan tumbuh sebesar 45,97%, 43,18% dan 34,98% (yoy).

Secara

triwulanan, pertumbuhan dari masing-masing Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Syariah di Jawa
Timur adalah sebesar 4,59% (qtq) untuk tabungan, 4,54% untuk giro (qtq), dan 6,54% (qtq)
untuk deposito.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

66

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

Grafik 3.39
3.3 9 Proporsi DPK Perbankan Syariah
di Jawa Timur

GIRO

DEPOSITO

Grafik 3.40
3.40 Pertumbuhan DPK Perbankan Syariah (yoy)
GIRO

TABUNGAN

DEPOSITO

TABUNGAN

140.00

9%

120.00

53%

% yoy

100.00

38%

80.00
60.00
40.00
20.00
(20.00)

II

III

IV

II

2011

III

IV

2012

II
2013

Pembiayaan yang disalurkan oleh Bank Syariah di Jawa Timur selama Tw II 2013
tumbuh sebesar 3% (qtq) atau 34,87 % (yoy) dengan baki debet sebesar Rp 13,53 triliun.
Berdasarkan jenisnya, penyaluran pembiayaan modal kerja memperoleh porsi tertinggi dengan
prosentase sebesar 42,43% dari total pembiayaan. Sementara kredit konsumsi dan investasi
memperoleh prosentase yang lebih kecil yaitu masing-masing sebesar 38,57% dan 18,98%.

Grafik 3.41
3. 41 Pertumbuhan Pembiayaan Syariah
Per Jenis Penggunaan

Modal Kerja

Konsumsi

Grafik 3.42
3. 42 Pangsa Pembiayaan Syariah
Per Jenis Penggunaan

Investasi

Modal Kerja

Investasi

Konsumsi

120.00

% yoy

100.00

39%

42%

80.00
60.00
40.00
20.00

19%

II

III

2011

IV

II

III

2012

IV

II

2013

Tingginya proporsi pembiayaan modal kerja Bank Syariah di Jawa Timur menunjukkan
bahwa masyarakat telah mulai mempercayai perbankan syariah sebagai mitra bisnis, tidak
hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja. Hal ini tercermin dari pertumbuhan
pembiayaan modal kerja dan investasi yang masing-masing tumbuh sebesar 37,97% (yoy) dan
46,73% (yoy) jauh di atas pertumbuhan pembiayaan konsumsi yang hanya mencapai 26,7%.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

67

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

Dengan demikian, perbankan syariah juga secara bertahap mendukung pengembangan sektor
produktif di Jawa Timur.
Kinerja penyaluran pembiayaan yang baik tersebut didukung dengan kualitas
pembiayaan yang terjaga, tercermin dari rasio Non Performing Financing (NPF) sebesar 1,97%.
Walaupun secara nominal dan rasio meningkat dibandingkan periode sebelumnya yaitu dari Rp
237,9 milyar menjadi Rp 266,23 milyar, namun jumlah tersebut masih berada dalam kendali
perbankan dan telah dimitigasi serta dikelola penanganannya dengan baik.
Rasio Financing to Deposit Ratio (FDR) yang mencerminkan proporsi penyaluran
pembiayaan dibandingkan dengan dana yang dihimpun secara umum menunjukkan
pertumbuhan yang stabil dan terus meningkat. Pada Triwulan II 2013, FDR Bank Syariah di
Jawa Timur berada di kisaran 97,84%.
Grafik 3.43
3. 43
Non Performing Financing (NPF) dan Financing to Deposits Ratio (FDR)
Perbankan Syariah Jawa Timur
FDR (%)

NPF (%)

2.50

104.00
102.00

2.00

100.00
98.00

1.00

96.00

1.50

94.00
0.50

92.00
90.00

Tw I

Tw II

Tw III

Tw IV

2012

Tw I

Tw II
2013

3.4. BANK PERKREDITAN RAKYAT (BPR)


Indikator kinerja utama BPR di Jawa Timur pada Triwulan II - 2013 menunjukkan
pertumbuhan yang menurun. Secara tahunan, total aset pada periode laporan tumbuh sebesar
22,07% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat tumbuh sebesar
22,78% (yoy). Penghimpunan dana tumbuh sebesar 16,15% (yoy) pada periode laporan, lebih
rendah dibandingkan periode sebelumnya yang tercatat sebesar 19,03%. Demikian pula
penyaluran kredit BPR yang tumbuh sebesar 20,18% (yoy), sedikit meningkat dibandingkan
dengan Triwulan IV 2012 yang tercatat sebesar 22,10%.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

68

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN


Tabel 3.4
3.4
Perkembangan Indikator Bank Perkreditan Rakyat di Jawa Timur
2012

BPR (Jut a
Rupiah)

II

2013

III

IV

II

7,345,637.90

8,013,778.03

8,327,121.45

8,572,688.72

8,966,979.50

Per Jenis Pengg5,572,412.65

5,806,554.24

5,936,457.31

6,189,661.28

6,697,200.83

- M odal Kerja

3,631,661.39

3,781,187.73

3,801,754.08

4,105,147.67

4,481,919.86

171,125.72

195,047.51

284,087.75

202,962.20

225,223.48

1,769,625.53

1,830,319.00

1,850,615.48

1,881,551.41

1,990,057.50

1 Tot al Asset
2 Kredit

- Invest asi
- Konsumsi

4.14%

4.24%

3.39%

3.84%

3.88%

4,385,038.08

4,737,430.48

4,892,008.90

4,984,884.84

5,093,065.67

- Deposit o

3,032,046.00

3,271,588.62

3,319,944.46

3,377,434.88

3,497,001.49

- Tabungan

1,352,992.08

1,465,841.86

1,572,064.44

1,607,449.96

1,596,064.18

127.08%

122.57%

121.35%

124.17%

131.50%

3 NPL (% )
4 Dana (dpk)

5 LDR (% )

Sampai dengan Triwulan II 2013, total dana masyarakat yang disimpan pada BPR di
Jawa Timur mencapai Rp 5,09 triliun. Penghimpunan dana pihak ketiga oleh BPR didominasi
oleh deposito yang mencapai 68,66% terhadap total DPK. Namun, dilihat dari sisi
pertumbuhannya, tabungan mampu tumbuh sebesar 17,97% (yoy) dibandingkan periode
sebelumnya. Sementara deposito tumbuh di level yang sedikit lebih rendah yaitu 15,33% (yoy).
Hal ini menunjukkan bahwa BPR mulai meningkatkan penghimpunan dana murah dari
masyarakat yang berbentuk tabungan. Di sisi lain, stabilnya peningkatan dana masyarakat
dalam bentuk deposito dan tabungan yang disimpan di BPR hingga Triwulan II - 2013,
menunjukkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap kinerja BPR. Selain itu, adanya
fenomena peningkatan BI Rate dan LPS rate masing-masing 50 bps, turut mendongkrak
peningkatan suku bunga simpanan di BPR yang secara rata-rata berada di atas tingkat suku
bunga deposito bank umum.
Grafik 3.44
3.44 Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga BPR (% - yoy)

TABUNGAN

DPK

DPK

30.00

12.00

25.00

10.00

20.00

8.00

15.00
% qtq

% yoy

DEPOSITO

Grafik 3.45
3.45 Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga BPR (%-qtq)

10.00

Deposito

Tabungan

6.00
4.00

5.00
2.00

II

III

IV

II

III

IV

II

0.00
(2.00)

2011

2012

2013

II

III
2011

IV

II

III
2012

IV

II
2013

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

69

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN


Grafik 3.46
3.46 Pertumbuhan Kredit BPR per-Jenis Penggunaan (yoy)

Kredit

Modal Kerja

Investasi

Konsumsi

120.00
100.00

% yoy

80.00
60.00
40.00
20.00
-

II

III

IV

II

2011

III

IV

2012

II
2013

Kredit yang disalurkan oleh BPR didominasi oleh kredit modal kerja (mencapai 66,92%
dari total kredit). Dari sisi pertumbuhannya, pada Triwulan II 2013, kredit investasi tumbuh
paling tinggi, yaitu sebesar 30,94% (yoy), sementara itu kredit modal kerja tumbuh 24,72%
dan kredit investasi tumbuh 10,95%. Tingginya pertumbuhan kredit investasi dan modal kerja
yang disalurkan mengindikasikan bahwa BPR mulai meningkatkan penyaluran kreditnya pada
sektor produktif sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di sekitarnya.
Grafik 3.48
3.48 Perkembangan LDR & NPL BPR

Grafik 3.47
3.47 Proporsi Kredit BPR Per Jenis Penggunaan

Modal Kerja

Investasi

LDR

Konsumsi

NPL Skala Kanan


6.00%
5.00%
4.00%
3.00%
2.00%
1.00%
0.00%

135.00%
130.00%

29.71%
%

125.00%
120.00%
115.00%

66.92%

110.00%
105.00%
II

3.36%

III
2011

IV

II

III

2012

IV

II
2013

Pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dari pertumbuhan DPK selama 3 (tiga) periode
terakhir menyebabkan Loan to Deposit Ratio (LDR) meningkat dari 124,17% pada Triwulan I 2013 menjadi sebesar 131,50% pada Triwulan II - 2013. Sementara itu, kualitas kredit yang
ditunjukkan dengan rasio Non Performing Loan (NPL) sedikit meningkat dari 3,84% menjadi
3,88%. Hal ini mencerminkan perlunya peningkatan kewaspadaan dan pengawasan BPR
terhadap kredit yang disalurkan melalui penyeleksian profil debitur secara efisien dengan
memperhatikan konsep 5 C (Capital, Collateral, Capacity, Character, dan Condition of

Economy).

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

70

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

3.5. BANK BERKANTOR PUSAT DI SURABAYA


SURABAYA
2

Kinerja 6 (enam) bank umum yang berkantor pusat di Surabaya pada Triwulan II 2013
menunjukkan tren pertumbuhan yang stabil dan cenderung meningkat. Tercatat pertumbuhan
total aset Bank Berkantor Pusat di Jawa Timur meningkat 5,15% (qtq) dan 13,11% (yoy)
dibandingkan denagn periode sebelumnya.
Tabel 3.5
3.5
Perkembangan Indikator Bank Berkantor Pusat di Surabaya
2012

Bank KP di Jatim
Total Aset (Juta Rupiah)
Pertumbuhan (yoy %)
Pertumbuhan (qtq %)
Dana Pihak Ketiga (Juta Rupiah)
Pertumbuhan (yoy %)
Pertumbuhan (qtq)
Kredit (Juta Rupiah)

I
36.657.865,00
36,85
19,95
26.344.525,00
29,74
21,09
17.436.071,00

II
38.361.025,00
29,30
4,65
26.605.346,00
15,66
0,99
18.919.553,00

III
42.254.532,00
35,28
10,15
27.931.448,00
16,60
4,98
19.726.756,00

22,19
2,82
66,18%
1,40%

21,83
8,51
71,11%
1,89%

18,26
4,27
70,63%
2,01%

Pertumbuhan (yoy %)
Pertumbuhan (qtq)
LDR (%)
NPL (%)

Kredit

DPK

16,79
0,40
82,54%
2,06%

15,71
1,87
80,15%
2,03%

14,96
7,80
80,96%
2,27%

Aset

Kredit

DPK

20,00
15,00
10,00
5,00

% yoy

Aset

IV
I
II
35.941.107,00 41.263.366,55 43.389.416,06
17,61
12,56
13,11
(14,94)
14,81
5,15
23.996.099,00 25.173.780,01 26.866.224,34
10,30
(4,44)
0,98
(14,09)
4,91
6,72
19.805.245,00 20.175.683,58 21.750.303,72

Grafik 3.50
3.50 Perumbuhan Indikator Bank Ber-KP di
Surabaya (qtq)

Grafik 3.49
3.4 9 Pertumbuhan Indikator Bank BerKP di Surabaya (yoy)
50,00
45,00
40,00
35,00
30,00
25,00
20,00
15,00
10,00
5,00
0,00
(5,00)
(10,00)

2013

0,00
(5,00)
(10,00)

II

III

2011

IV

II

III

2012

IV

II
2013

II

III

2011

IV

II

III

2012

IV

II

2013

(15,00)
(20,00)

Sumber utama pertumbuhan aset bank berkantor pusat di Surabaya adalah


peningkatan dana pihak ketiga yang pada triwulan ini mencapai 6,72% (qtq) dibandingkan
2

) 6 Bank BerkantorPusat di kota Surabaya : Bank Jatim, Bank Maspion, Bank Antardaerah (Bank Anda),
Bank Anglomas Internasional (Bank Amin), Bank Centratama Nasional Bank (CNB) dan Bank Prima Master.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

71

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

triwulan sebelumnya. Komposisi Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun dari masyarakat relatif
merata antara giro, deposito dan tabungan dengan proporsi masing-masing sebesar 35,01%,
36,24% dan 28,75% dari total DPK. Pertumbuhan ketiga jenis DPK bank ber Kantor Pusat di
Jawa Timur pada Triwulan II menunjukkan penurunan yang didorong oleh penarikan dana
masyarakat untuk memenuhi kebutuhan tahun ajaran baru dan liburan sekolah.
Grafik 3.
3.51
51 Proporsi DPK Per Jenis Simpanan
Pada Bank Ber KP di Surabaya

Giro

Deposito

29%

Grafik 3.52
3.52

Giro

Tabungan

% qtq

35%

36%

Pertumbuhan DPK Per Jenis Simpanan


Pada Bank Ber-KP di Surabaya (qtq)

50,00
45,00
40,00
35,00
30,00
25,00
20,00
15,00
10,00
5,00
0,00
(5,00)
(10,00)
(15,00)
(20,00)
(25,00)
(30,00)
(35,00)
(40,00)
(45,00)

II

Deposito

III

IV

Tabungan

II

2011

III

IV

2012

I
2013

Penyaluran kredit Bank Umum yang berkantor pusat di Surabaya tumbuh sebesar
14,96% (yoy) dan 7,8% (qtq), meningkat dari sebesar Rp 20,17 triliun pada Triwulan I-2012
menjadi Rp 21,75 triliun pada periode laporan. Berdasarkan jenis kreditnya, kredit konsumsi
masih memiliki porsi terbesar yaitu mencapai 60,84%, disusul kemudian oleh kredit modal
kerja dan Investasi dengan proporsi masing-masing sebesar 33,61% dan 5,56%.
Tren pertumbuhan kredit modal kerja berfluktuasi dan membentuk pola tertentu yaitu
sedikit melambat pada akhir tahun dan meningkat kembali di pertengahan tahun. Sedangkan
kredit konsumsi walaupun secara komposisi mendominasi, namun tren pertumbuhannya terus
menurun dibandingkan periode sebelumnya. Dengan demikian diharapkan perpaduan dua
kondisi tersebut akan tetap meningkatkan penyaluran kredit produktif kepada masyarakat.
Kinerja penyaluran kredit Bank Umum Berkantor Pusat di Surabaya pada Triwulan I 2013 didukung oleh terjaganya kualitas kredit yang ditunjukkan oleh rasio NPL yang cukup
rendah dan stabil, yaitu di kisaran 2,27%.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

72

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN


Grafik 3.
3.53
53 Perkembangan Kredit Per Jenis Penggunaan
Pada Bank Ber-KP di Surabaya (qtq)

% qtq

Modal Kerja
40,00
35,00
30,00
25,00
20,00
15,00
10,00
5,00
0,00
(5,00)
(10,00)
(15,00)
(20,00)
(25,00)
(30,00)

Investasi

Grafik 3.54
3. 54 Proporsi Kredit Per Jenis Penggunaan
Bank Ber KP di Surabaya

Konsumsi

Modal Kerja

Investasi

Konsumsi

34%
61%
I

II

III

IV

2011

II

III

IV

2012

II
2013

5%

Dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga intermediasi, Bank Umum Berkantor


Pusat di Jawa Timur menunjukkan perkembangan kinerja positif yang terlihat dari terjaganya

Loan to Deposit Ratio (LDR) di kisaran 80,96% pada periode laporan. Peningkatan LDR
dibandingkan dengan periode sebelumnya (Triwulan I 2013) yang tercatat sebesar 80,15%
tersebut mencerminkan peningkatan fungsi intermediasi perbankan yang baik. Risiko kredit
yang tercermin dari besar rasio Non Performance Loan (NPL) bank ber kantor pusat di Jawa
Timur tetap stabil dan terjaga di kisaran 2,27%. Namun demikian, tren pertumbuhan NPL yang
menunjukkan peningkatan dari waktu ke waktu perlu mendapat perhatian agar tetap terus
terjaga.

Grafik 3.55
3. 55 Perkembangan LDR dan NPL Bank Berkantor Pusat di Surabaya

LDR

NPL ( rhs)

90,00%
80,00%
70,00%
60,00%
50,00%
40,00%
30,00%
20,00%
10,00%
0,00%

2,50%
2,00%
1,50%
1,00%
0,50%
0,00%
I

II

III
2011

IV

II

III
2012

IV

II
2013

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

73

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

3.6 PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN


Sistem pembayaran merupakan salah satu komponen terintegrasi dengan fungsi
Bank Indonesia lainnya yaitu moneter dan perbankan. Kebijakan dan pelaksanaan Sistem
Pembayaran mempunyai keterkaitan dengan efektivitas pengendalian moneter dan
pengawasan perbankan.
Sampai dengan pertengahan tahun 2013, kegiatan Sistem Pembayaran di Jawa
Timur baik tunai maupun non tunai berjalan dengan sangat baik, disertai komitmen Bank
Indonesia dalam menjamin kelancaran sistem pembayaran dan pemenuhan kebutuhan
uang masyarakat, baik dalam jumlah maupun pecahan yang cukup.
Beberapa indikator yang dapat digunakan untuk melihat perkembangan kinerja
Sistem Pembayaran di Jawa Timur. Indikator tersebut antara lain peningkatan jumlah
transaksi keuangan tunai yang terdiri atas aliran uang masuk dari perbankan ke Bank
Indonesia (inflow) dan aliran uang keluar dari Bank Indonesia ke perbankan (outflow),
transaksi keuangan non tunai (BI-Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) dan Sistem
Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI), serta jumlah temuan uang palsu di Wilayah
Jawa Timur.
3.6.1 Transaksi Keuangan Tunai
Transaksi pembayaran tunai di Bank Indonesia tercermin dari beberapa kegiatan,
antara lain: jumlah aliran uang keluar dari Bank Indonesia ke perbankan (outflow), jumlah
aliran uang masuk dari perbankan ke Bank Indonesia (inflow), serta kegiatan pemusnahan
Uang Tidak Layak Edar (UTLE) atau Pemberian Tanda Tidak Berharga (PTTB).
a. Aliran Uang Masuk/Keluar (Inflow/Outflow)
Pada Triwulan II 2013, jumlah aliran uang kartal dari dan ke Bank Indonesia di
wilayah Jawa Timur yang meliputi KPwBI Wilayah IV (Surabaya), Malang, Kediri, dan
Jember secara kumulatif menunjukkan posisi net outflow. Hal tersebut dapat diartikan
bahwa jumlah aliran uang yang keluar dari Bank Indonesia kepada perbankan (outflow)
lebih besar dibandingkan dengan jumlah aliran uang dari perbankan yang masuk ke Bank
Indonesia (intflow).

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

74

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

Tabel 3.6
Perkembangan Arus Uang Tunai (Inflow Outflow)
Kantor Perwakilan Bank Indonesia
dalam miliar rupiah
Wilayah

2012

Keterangan
Tw I

SURABAYA

KEDIRI

MALANG

JEMBER

JAWA TIMUR

Tw II

2013
Tw III

Tw IV

Tw I

Tw II

OUTFLOW

3.350,88

6.080,74

6.803,54

6.192,91

4.728,70

7.026,66

INFLOW

6.422,70

5.078,72

8.120,04

4.776,87

7.502,76

4.975,73

NET FLOW

3.071,82

(1.002,03)

1.316,50

(1.416,04)

2.774,06

(2.050,92)

OUTFLOW
INFLOW
NET FLOW
OUTFLOW
INFLOW
NET FLOW
OUTFLOW

1.546,42
1.851,00
304,59
875,65
3.105,34
2.229,69

3.027,60
1.113,18
(1.914,42)
1.359,03
2.181,97
822,93

3.585,98
2.309,86
(1.276,12)
1.996,30
2.823,32
827,02

2.561,01
1.269,90
(1.291,11)
1.417,27
2.792,64
1.375,38

1.657,39
2.194,90
537,51
826,44
4.205,10
3.378,66

2.183,55
1.656,83
(526,72)
1.105,54
3.069,28
1.963,74

845,27
1.249,74
404,48
6.618,21
12.628,79
6.010,57

1.518,28
1.331,97
(186,30)
11.985,65
9.705,83
(2.279,82)

1.915,09
1.654,95
(260,14)
14.300,91
14.908,16
607,25

1.359,02
1.154,19
(204,83)
11.530,20
9.993,60
(1.536,60)

943,13
2.088,87
1.145,75
8.155,66
15.991,64
7.835,97

1.450,60
1.652,96
202,35
11.766,34
11.354,80
(411,54)

INFLOW
NET FLOW
OUTFLOW
INFLOW
NET FLOW

Keterangan :
Net Flow (+) : Net Inflow
Net Flow (-) : Net outflow

Tercatat net outflow Jawa Timur pada periode laporan adalah sebesar Rp.411,54
miliar. Kondisi tersebut berbeda apabila dibandingkan triwulan sebelumnya yaitu Triwulan I
2013 yang mencatat net intflow sebesar Rp.7,83 triliun. Net outflow yang terjadi disebabkan
oleh peningkatan outflow yang cukup tinggi hingga mencapai 44,27% (qtq), yaitu dari
sebesar Rp 8,15 triliun pada Triwulan I 2013 menjadi Rp.11,76 triliun pada Triwulan II 2013.
Di lain pihak, penurunan inflow sebesar -29% (qtq) dari Rp.7,83 triliun pada Triwulan I 2013
menjadi Rp.11,35 triliun pada Triwulan II 2013 turut mendorong terjadinya net outflow.
Peningkatan jumlah uang yang keluar dari Bank Indonesia kepada perbankan
(outflow) pada periode laporan merupakan dampak dari tingginya penggunaan uang kartal
di masyarakat. Momen tahun ajaran baru dan liburan sekolah menyebabkan transaksi
ekonomi masyarakat yang menggunakan uang kartal meningkat pada pertengahan tahun
2013 sehingga mendorong terjadinya net outflow.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

75

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

Gambar 3.56
Perkembangan Arus Uang Tunai (Inflow Outflow)
Dalam Juta Rupiah
INFLOW

NETFLOW

18.000.000,00
16.000.000,00
14.000.000,00
12.000.000,00
10.000.000,00
8.000.000,00
6.000.000,00
4.000.000,00
2.000.000,00
0,00

10.000.000,00
8.000.000,00
6.000.000,00
Juta Rupiah

Juta Rupiah

OUTFLOW

Gambar 3.57
Perkembangan Net Flow JawaTimur

4.000.000,00
2.000.000,00
-

Tw I

Tw II

Tw III

Tw IV

Tw I

2012

Tw II

(2.000.000,00)

Tw I

Tw III
2012

(4.000.000,00)

2013

Tw II

Tw IV

Tw I

Tw II
2013

b. Uang Kartal Tidak Layak Edar


Salah satu upaya yang dilakukan Bank Indonesia dalam memelihara kualitas uang
kartal yang diedarkan kepada masyarakat (Clean Money Policy) adalah pelaksanaan
kegiatan pemusnahan Uang Tidak Layak Edar (UTLE) atau Pemberian Tanda Tidak
Berharga (PTTB) secara rutin.
Selama Triwulan II 2013, jumlah uang tidak layak edar yang dimusnahkan adalah
sebesar Rp.252,78 milyar. Jumlah tersebut mengalami penurunan signifikan hingga
mencapai -105,25% (qtq) atau -81,95% (yoy) apabila dibandingkan dengan jumlah pada
periode sebelumnya. Penurunan jumlah uang tidak layak edar yang dimusnahkan pada
periode laporan merupakan dampak dari tingginya tingkat peredaran uang pada periode
laporan sehubunan dengan tingginya konsumsi masyarakat pada pertengahan tahun.
Gambar 3.58
Pemusnahan Uang Tidak Layak Edar (PTTB)

Juta Rupiah

PTTB

Rasio PTTB thdp Inflow (%) rhs


40,00

5.000.000,00
4.500.000,00
4.000.000,00
3.500.000,00
3.000.000,00
2.500.000,00
2.000.000,00
1.500.000,00
1.000.000,00
500.000,00
0,00

35,00
30,00
25,00
20,00
15,00
10,00
5,00
Tw I

Tw II

Tw III

2012

Tw IV

Tw I

Tw II
2013

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

76

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

Tren penurunan jumlah uang kartal tidak layak edar terkait dengan upaya Bank
Indonesia yang terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya
perlakuan yang tepat terhadap uang kartal, antara lain melalui brosur, pamflet, serta
edukasi perbankan. Dengan demikian diharapkan usia edar uang kartal dapat lebih
panjang sehingga mengurangi besarnya volume PTTB yang pada akhirnya mengurangi
biaya percetakan uang baru.
3.6.2 Transaksi Keuangan Non Tunai
Transaksi sistem pembayaran non tunai dalam kajian ini mencakup kegiatan
transaksi non tunai masyarakat melalui perbankan dengan menggunakan sistem BI-Real
Time Gross Settlement (BI-RTGS) dan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI).
Secara umum perkembangan keduanya jenis sistem pembayaran tersebut di Jawa
Timurterus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu dengan dominasi terbesar
transaksi RTGS.
Gambar 3.59
PerkembanganTransaksi Non Tunai Di JawaTimur

Share Kliring Share RTGS

Kliring (Rp triliun)

250,00

100%
80%
60%
40%
20%
0%

RTGS (Rp triliun)

200,00
150,00
100,00
50,00
0,00

Tw I

Tw II

Tw III
2012

Tw IV

Tw I

Tw II

Tw I

Tw II

Tw III
2012

2013

Tw IV

Tw I

Tw II
2013

a. Transaksi BI-RTGS ( Real Time Gross Settlement)


Sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) dikembangkan
sebagai upaya mitigasi risiko dalam sistem pembayaran antar bank bernilai besar (highvalue payment system).

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

77

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

Gambar 3.60
Perkembangan Transaksi RTGS di Jawa Timur

Volume

Nominal (Rp Triliun) rhs

1.000.000
100.000
10.000
1.000
100
10
1

250,00
200,00
150,00
100,00
50,00
0,00
Tw I

Tw II

Tw III

Tw IV

Tw I

2012

Tw II
2013

Transaksi keuangan dengan menggunakan sistem RTGS di Jawa Timur pada


Triwulan II - 2013 masih terus menunjukkan tren peningkatan dibandingkan periode
sebelumnya. Tercatat volume transaksi RTGS (outgoing) dari 30 kota di Jawa Timur pada
periode laporan adalah sebanyak 170 ribu transaksi dengan nominal mencapai Rp.220,1
triliun. Nominal tersebut meningkat 19,54% (qtq) dibandingkan periode sebelumnya
mengkonfirmasi terjadinya pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur dari 6,62% pada triwulan
I-2013 menjadi 6,97% pada triwulan II-2013. Sementara apabila ditinjau dari volume
transaksi, meningkat cukup tinggi mencapai 39,93% (qtq).
Searah dengan perkembangan perekonomian di beberapa kota di Jawa Timur,
besar transaksi RTGS di tingkat kota/kabupaten masih menunjukkan terpusatnya kegiatan
perekonomian pada wilayahwilayah tertentu. Berdasarkan asal kotanya, pada transaksi
outgoing dan incoming RTGS masih didominasi oleh kota/kabupaten dengan karakteristik
perekonomian yang cukup menonjol, dimana Kota Surabaya sebagai Ibu Kota provinsi
Jawa Timur masih mendominasi besarnya transaksi.
Gambar 3.61
6 Kota dengan aktivitas Transaksi Outgoing RTGS
Terbesar Tw II -2013

Gambar 3.62
6 Kota dengan aktivitas Transaksi Incoming
RTGS Terbesar Tw II -2013
160000

160000

140000

140000

120000

120000
Nilai (Miliar Rp)

100000
80000

Nilai (Miliar Rp)

100000

Volume

Volume

80000

60000

60000

40000

40000

20000

20000

0
SURABAYA

MALANG

KEDIRI

GRESIK

BATU

SIDOARJO

SURABAYA

MALANG

KEDIRI

GRESIK

BATU

SIDOARJO

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

78

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

Tercatat transaksi RTGS pada Triwulan II - 2013 dari kota Surabaya ke kota
lainnya (outgoing) mencapai Rp.133,47 triliun dengan volume sebanyak 55.541
transaksi. Sementara itu transaksi RTGS yang masuk ke rekening perbankan di
Surabaya (incoming) tercatat sebanyak 111.204 transaksi dengan nilai mencapai
Rp.141,79 triliun. Kota lain di Jawa Timur yang memiliki transaksi RTGS cukup tinggi,
baik outgoing maupun incoming pada periode ini adalah Malang, Kediri, Gresik, Batu dan
Sidoarjo.
b. Transaksi Kliring
Dalam rangka mendukung kelancaran sistem pembayaran, khususnya melalui
transaksi Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI), kegiatan kliring di Jawa Timur
diikuti oleh 460 kantor/bank umum peserta kliring baik langsung maupun tidak langsung
yang tersebar di 38 kabupaten/kota. Penyelenggaraan kegiatan kliring dilaksanakan di 4
(empat) Kantor Perwakilan Bank Indonesia di wilayah Jawa Timur yaitu Surabaya,
Malang, Kediri dan Jember.
Tabel 3.7
Perputaran Kliring dan Tolakan Cek, Bilyet Giro Tw II - 2013
Kota

Surabaya
Malang
Kediri
Jember
Jatim

Jumlah
Kantor
Peserta
260
65
78
56
459

Perputaran Kliring ( D )
Lembar
(satuan)
1.137.804
113.330
81.015
52.645
1.384.794

Nominal
(juta Rp)
41.504.123
4.219.367
2.170.585
1.566.846
49.460.921

Rata-2 Perputaran
Kliring Sehari
Lembar
Nominal
(satuan)
(juta Rp)
54.196
1.979.385
5.405
201.147
3.824
100.674
2.524
75.046
65.948
2.603.206

Jumlah Penolakan Cek


Dan Giro Kosong
Lembar
Nominal
(satuan)
(juta Rp)
16.977
636.403
2.051
63.483
1.437
40.724
1.023
34.101
21.488
774.711

Rata-2 Penolakan Cek Persentase Rata-2 Penolakan


Dan BG Kosong Sehari Cek Dan BG Kosong Sehari
Lembar
Nominal
Lembar
Nominal
(satuan)
(juta Rp)
(%)
(%)
810
30.438
4
5
98
3.026
5
5
68
1.951
5
8
49
1.620
6
7
1.025
37.035
1,55
1,42

Secara nominal, transaksi perputaran kliring di Jawa Timur yang berlangsung


pada Triwulan II 2013 menunjukkan tren meningkat. Tercatat sebanyak 1,38 juta warkat
keuangan (cek, bilyet giro, nota kredit dan nota debet perbankan) ditransaksikan melalui
kliring dengan nominal mencapai Rp 49,46 triliun. Jumlah nominal tersebut meningkat
5,08% (qtq) atau 6,78% (yoy) dibandingkan periode sebelumnya. Selain mencerminkan
tingginya aktifitas ekonomi dengan menggunakan sistem pembayaran non tunai, hal
tersebut juga mengindikasikan peningkatan kesadaran masyarakat untuk menggunakan
alat pembayaran non tunai.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

79

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

Sementara itu, secara nominal jumlah tolakan kliring juga menunjukkan


peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya yaitu dari sebesar Rp.717,45 miliar pada
Triwulan I 2013 menjadi sebesar Rp.774,71 miliar pada Triwulan II 2013. Jumlah tersebut
meningkat 7,98% (qtq) atau 21,33% (yoy). Demikian pula dengan jumlah tolakan warkat
keuangan atau warkat kliring yang meningkat dari sebanyak 20.538 lembar pada
Triwulan I 2013 menjadi sebesar 21.488 lembar pada periode laporan.
Mencermati tingginya peningkatan jumlah nominal dan lembar cek/bilyet giro
kosong, penting bagi pelaku dunia usaha untuk mewaspadai munculnya peluang
kejahatan white colar crime khususnya bagi pihak-pihak yang sengaja menyalahgunakan
penggunaan cek/bilyet giro.
Gambar 3.63

Gambar 3.64

Perkembangan Transaksi Kliring di JawaTimur

Tolakan Transaksi Kliring di JawaTimur

Nominal (Rp triliun)

Tolakan Kliring (Rp juta)

Warkat (juta lembar)

50,00
49,00
48,00
47,00
46,00
45,00
44,00
43,00
42,00
41,00

1,45
1,40

Tolakan Kliring (Warkat-lembar)-Skala Kanan

1.200.000

25.000

1.000.000

20.000

800.000

15.000

1,35

2012

2012

2013

Tw II

Tw I

1,20

5.000

Tw IV

200.000
Tw III

1,25

10.000

Tw II

400.000

Tw I

1,30

Tw II

Tw I

Tw IV

Tw I

Tw II

Tw III

600.000

2013

5.3 PENEMUAN UANG PALSU DI JAWA TIMUR


Gambar 3.65
Statistik Uang Palsu yang Ditemukan
Surabaya

Malang

Kediri

Jember

9.000
8.000
7.000
6.000
5.000
4.000
3.000
2.000
1.000
0
Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II
2011

2012

2013

Surabaya

Jatim (rhs)

4.500
4.000
3.500
3.000
2.500
2.000
1.500
1.000
500
0

Malang

Kediri

Jember

Jatim (rhs)

450,00
400,00
350,00
300,00
250,00
200,00
150,00
100,00
50,00
0,00

800,00
700,00
600,00
500,00
400,00
300,00
200,00
100,00
0,00
Tw I

Tw II

Tw III Tw IV

2011

Tw I

Tw II

Tw III Tw IV

2012

Tw I

Tw II

2013

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

80

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

Pada Triwulan II-2013, penemuan uang palsu di Jawa Timur baik melalui perbankan
maupun berdasarkan laporan masyarakat menunjukkan peningkatan dibandingkan periode
sebelumnya. Tercatat penemuan uang palsu pada periode laporan sebanyak 8.067 lembar
dalam berbagai pecahan. Dilihat dari jumlah lembar uang palsu yang ditemukan, pada periode
ini terjadi peningkatan sebesar 7,92% (qtq) dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat
sebanyak 7.475 lembar.
Gambar 3.67
Statistik Uang Palsu yang ditemukan
(nilai)

Gambar 3.66
Statistik Uang Palsu yang ditemukan
(lembar)
1%
1% 0% 0%

0%
0% 0% 0%

40%

26%
58%

74%

100.000

50.000

20.000

10.000

5.000

2.000

100.000

50.000

20.000

10.000

5.000

2.000

Sebagaimana periode sebelumnya, sebagian besar uang palsu yang beredar di Jawa Timur
pada Triwulan laporan didominasi oleh nominal Rp100.000,- dengan proporsi mencapai 74%
(berdasarkan lembar) dan 58% (berdasarkan nominal). Surabaya sebagai kota terbesar dan
pintu gerbang perdagangan dengan Indonesia Timur, hingga saat ini masih menjadi kota
dengan penemuan uang palsu tertinggi di wilayah Jawa Timur, baik lembar maupun nominal.
Melanjutkan program tahun-tahun sebelumnya, Bank Indonesia berupaya melakukan
sosialisasi ciri-ciri keaslian uang dan security features guna menekan potensi penyebaran uang
palsu. Meskipun jumlah uang palsu di wilayah Jawa Timur masih tinggi, namun dengan upaya
sosialisasi hingga ke pelosok dan bekerjasama dengan Badan Koordinasi Pemberantasan Uang
Palsu (Botasupal) Jawa Timur diharapkan terus menekan penyebaran uang palsu di masa
mendatang.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

81

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

Boks 1. Short Term Response Kebijakan Loan to Value di Jawa Timur


Bank Indonesia melalui SE No.14/10/DPNP tanggal 15 Maret 2012 mengatur batas
maksimum rasio LTV (Loan to Value) maksimal 70% atau uang muka minimal 30% untuk
2

kredit kepemilikan rumah dengan tipe bangunan diatas 70 m . Hal ini merupakan upaya untuk
memperkuat ketahanan sektor keuangan, terutama properti residensial dari risiko peningkatan
harga aset properti yang tidak mencerminkan harga sebenarnya (bubble). Aturan LTV berlaku
untuk rumah tipe besar (>70 m2) karena tipe ini mengalami pertumbuhan KPR paling tinggi.
Konsumen rumah tipe ini juga merupakan golongan menengah ke atas sehingga tidak
berdampak langsung pada masyarakat ekonomi bawah.
Surabaya merupakan lima besar kota dengan peningkatan harga properti residensial
tertinggi (setelah Manado, Medan dan Makassar) pada tw.II-2013. Grafik 1 menunjukkan
pertumbuhan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) di Surabaya yang meningkat setiap
tahun. Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) di Surabaya, Gresik dan Sidoarjo,
memprediksi harga rumah pada triwulan III-2013 meningkat mencapai sebesar 29,8% (yoy).
Aturan LTV yang efektif berlaku pada Juni 2012 direspon oleh konsumen pada triwulan
ketiga 2012. Harga rumah tipe menengah dan besar pasca kebijakan LTV (2012-tw.III) di
Surabaya justru naik masing-masing sebesar 10,6% dan 9,7% (yoy) dengan pertumbuhan
kenaikan sebesar 34,74% dan 9,05% (yoy). Sedangkan secara q to q, harga rumah tipe
menengah naik sebesar 5,06% dan tipe besar turun sebesar 2,82% dengan pertumbuhan
kenaikan sebesar 57,63% pada rumah tipe menengah serta penurunan sebesar 21,68% pada
rumah tipe besar. Sementara itu, harga rumah tipe kecil menurun dengan pertumbuhan
penurunan harga sebesar 11,32% (yoy) dan 91,06% (qtq). Kebijakan LTV hanya direspon
dalam jangka sangat pendek oleh pelaku pasar. Pada 2012-IV hingga 2013-I, harga kembali
terkoreksi naik baik untuk rumah tipe kecil, menengah dan besar.
Terjadinya kenaikan harga properti yang persisten meskipun sudah dikenakan aturan
LTV disebabkan oleh beberapa hal, antara lain : 1) keterbatasan supply dibanding dengan

demand rumah. Pada tw.II-2013 dari 92 responden SHPR, sebagian besar berada di siklus
bisnis maturity (41,8%) dan decline (34,5%). 2) faktor lain yang menyebabkan kenaikan harga
rumah adalah kenaikan harga bahan baku bangunan (semen, batu bata, dsb.) serta kenaikan
harga tanah. Harga tanah di Surabaya berkisar antara Rp250.000-Rp2.000.000/m2 atau
menyumbang 28% dari harga jual rumah. Hasil Survey Harga Properti Residensial pada 2013-

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

82

BAB III PERKEMBANGAN PERB


BANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

tw.II menyatakan bahwaa kenaikan harga properti residensial disebab


abkan karena kenaikan
bahan bangunan (91,4%),
), kenaikan harga BBM (68,6%), dan kenaikan
an upah pekerja (57%),
biaya perizinan yang maha
hal (48,6%) dan penambahan fasilitas umum p
perumahan (21,4%). 3)
faktor ketiga penyebab tin
tingginya harga properti residensial adalah eks
kspektasi di masyarakat.
Masyarakat beranggapan
n bahwa harga properti akan selalu naik dalam
d
jangka panjang
sehingga sebagian masya
yarakat yang memiliki kelebihan dana berin
rinvestasi dalam wujud
properti. Hal ini turut mendorong
me
permintaan properti lebih besarr daripada jumlah yang
dibutuhkan untuk dihuni pada
p
segmen tertentu.
G rafik 1 Perk
rkembangan Indeks Harga Properti Residensial Surab
abaya (yoy)
45.0
40.0
35.0
30.0
25.0
20.0
15.0
10.0
5.0
0.0

Total IHPR
MENENGAH
Total Pertumbuhan
an IHPR

290.0
270.0
250.0
230.0
210.0
190.0
170.0
150.0

KECIL
BESAR

Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II

Tw
III*

Indeks
2009

2010

2011

2012

2013

Tingginya perminta
taan rumah belum diimbangi dengan kemamp
puan membayar secara
tunai, sehingga dibiayai melalui
m
Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Sebe
besar 52% kepemilikan
rumah tipe kecil, menengaah, dan besar dibiayai melalui KPR, 28% melal
lalui cash bertahap, serta
19% melalui pembayaran
n cash keras. Kredit properti yang disalurkan
an bank sebagian besar
dinikmati oleh masyarakatt kelas menengah atas. Outstanding kredit prop
roperti pada Juni 2013 di
2

Jatim sebagian besar (41,8


,87%) berasal dari KPR tipe menengah (21 s.d
.d 70 m ) dan sebanyak
2

35,71% berasal dari KPR ttipe besar (>70 m ), sementara KPA hanya berkontribusi
be
kecil. Oleh
karena itu, shock dalam sektor
se
properti, khususnya landed house akan
an berdampak langsung
pada kinerja KPR yang disa
salurkan oleh bank-bank.
Sebelum adanya kebijakan
k
LTV Juni 2012, pertumbuhan kredit
dit properti cukup stabil
2

dengan fluktuasi yang ting


inggi pada KPA tipe s.d 21 m . Namun setelah
lah penerapan kebijakan
LTV, pada Juli 2012 KPA tipe
t
menengah meningkat tajam dan KPR tip
ipe kecil menurun tajam
dan stabil kembali padaa periode selanjutnya. Di sisi lain, penerapan
an kebijakan LTV yang
2

dikhususkan untuk memba


batasi KPR tipe >70 m dinilai cukup efektif meenurunkan outstanding
KPR tipe tersebut di Jawa
Ja
Timur dalam jangka sangat pendek (Grafik 3). Sebelum

Kajian Ekonomi Region


onal Provinsi Jawa Timur
Triwulan II 2013

83

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN & SISTEM PEMBAYARAN

diberlakukannya kebijakan LTV, pertumbuhan KPR tipe ini cukup tinggi dan mencapai
puncaknya pada bulan Mei 2012 yang meningkat sebesar 23,28%. Hal ini merupakan dampak
dari announcement effect pemberlakuan maksimum LTV yang direspon oleh masyarakat. Pada
saat kebijakan LTV diumumkan dan akan efektif per Juni 2012, masyarakat mengantisipasi
dengan cepat-cepat melakukan realisasi KPR pada periode sebelum penerapan aturan LTV yang
baru. Pertumbuhan tersebut terus menurun, namun pada Maret hingga Juni 2013 terdapat
indikasi penyaluran KPR tipe ini mulai meningkat kembali.
1
0.5
0
-0.5

KPR Tipe 22 s.d. 70


KPA Tipe s.d 21
KPA Tipe > 70

2013.6

2013.4

2012.1

2012.12
2013.2

2012.8

2012.6

KPR Tipe s.d 21


KPR Tipe >70
KPA Tipe 22 s.d. 70

2012.4

2012.2

2011.1

2011.12

2011.8

2011.6

2011.4

2011.2

-1

Grafik 3 Pertumbuhan KPR Tipe >70m di Jatim (mtm)


25.00%
20.00%
15.00%
10.00%
5.00%
0.00%
-5.00%
-10.00%
2011.2
2011.4
2011.6
2011.8
2011.1
2011.12
2012.2
2012.4
2012.6
2012.8
2012.1
2012.12
2013.2
2013.4
2013.6

Grafik 2 Pertumbuhan Kredit Properti di Jatim (mtm)

Pola peningkatan KPR tipe besar pun terjadi di beberapa wilayah lain di Indonesia. Oleh
karena itu, Bank Indonesia kembali melakukan pengaturan kebijakan LTV yang kedua. Bank
Indonesia akan mengatur pemilikan rumah melalui penurunan batas maksimal rasio LTV Kredit
Pemilikan Rumah (KPR), Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) serta Kredit Pemilikan Ruko/Rukan
yang efektif dilaksanakan per September 2013.
Tabel 1 Batas Minimal Uang Muka KPR,KPA,KP Ruko & Rukan Per September 2013
Tipe
2

>70 m
70 m2
2
22-70 m
2
21 m
Ruko/Rukan

Rumah keke -1

Rumah keke- 2

Rumah ke3
ke - 3

30%
30%
20%
-

40%
40%
30%
30%
-

50%
50%
40%
40%
40%

Kebijakan tersebut diperkirakan mampu mengendalikan KPR dengan adanya momentum


pengetatan kebijakan moneter seperti peningkatan BI Rate dan Deposit Facility Rate masingmasing sebesar 50 bps menjadi 6,50% dan 4,75%. Diharapkan kebijakan tersebut berdampak
pada efektifitas kinerja KPR dalam menyeleksi KPR tipe menengah dan besar dari para
spekulan.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II 2013

84

Bab 4



PERKEMBANGAN
KEUANGAN DAERAH

BAB IV PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH

PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH

4.1. UMUM
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan suatu gambaran atau
tolok ukur pentingnya keberhasilan suatu pemerintahan daerah dalam meningkatkan potensi
perekonomian daerah. Pertumbuhan ekonomi daerah akan berdampak positif terhadap
peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), khususnya penerimaan pajak daerah.
APBD merupakan rencana keuangan tahunan pemerintah daerah yang disetujui oleh
DPRD dan ditetapkan dengan peraturan daerah (UU No.17 tahun 2003). APBD memiliki fungsi
otorisasi, perencanaan, pengawasan, alokasi, distribusi dan stabilisasi. Fungsi otorisasi
mengandung arti bahwa Perda tentang APBD menjadi dasar untuk melaksanakan pendapatan
dan belanja pada tahun yang bersangkutan. Fungsi perencanaan berarti bahwa APBD menjadi
pedoman bagi manajemen dalam merencanakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan.
Sedangkan fungsi pengawasan terlihat dari digunakannya APBD sebagai standar dalam
penilaian penyelenggaraan pemerintahan daerah.
Kebijakan desentralisasi fiskal yang ditetapkan dalam Undang-Undang Republik
Indonesia No.25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat Daerah
bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas pengelolaan sumber daya keuangan
daerah dalam rangka peningkatan kesejahteraan dan pelayanan kepada masyarakat. Oleh
sebab itu, proses pengelolaan keuangan Pemerintah Daerah dalam pelaksanaannya mengacu
kepada prinsip transparansi dan akuntabilitas.
4.2 Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Jawa Timur
Grafik 4.1
Perkembangan APBD Provinsi Jawa Timur
Juta Rupiah

Pendapatan

Belanja

18,000,000.00
16,000,000.00
14,000,000.00
12,000,000.00
10,000,000.00
8,000,000.00
6,000,000.00
4,000,000.00
2,000,000.00
0.00
2010

2011

2012

2013

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

85

BAB IV PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH

Seiring dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah, Anggaran Pendapatan dan


Belanja Daerah (APBD) Provinsi Jawa Timur terus menunjukkan peningkatan dari waktu ke
waktu. Total anggaran pendapatan daerah tahun 2013 adalah sebesar Rp 15,29 triliun,
meningkat 1,27% dari total anggaran pendapatan daerah setelah perubahan tahun 2012 yang
dianggarkan sebesar Rp 15,09 triliun. Jumlah anggaran belanja daerah juga meningkat sebesar
1,3%, dari Rp 16,01 triliun pada tahun 2012 menjadi Rp 16,21 triliun pada tahun 2013.
4.2.1 Anggaran Pendapatan Daerah
Tabel 4.1
Anggaran Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Timur Tahun 2013
(Juta Rupiah)

Uraian
PENDAPATAN DAERAH
PENDAPATAN ASLI DAERAH
PAJAK DAERAH
RETRIBUSI DAERAH

APBD
Th. 2012
(Juta Rp)
15.094.258
9.385.804
7.733.400
110.985

APBD
Perubahan
Tahun 2013
%
(Juta Rp)
15.286.013
1,27
9.523.901
1,47
7.863.719
1,69
126.405
13,89

HASIL PENGELOLAAN KEKAYAAN DAERAH YANG


DIPISAHKAN

352.884

328.891

-6,80

LAIN-LAIN PENDAPATAN ASLI DAERAH YANG SAH

1.188.535

1.204.884

1,38

DANA PERIMBANGAN

2.832.022

2.895.842

2,25

DANA BAGI HASIL PAJAK/BAGI HASIL BUKAN PAJAK

1.287.674

1.177.549

-8,55

DANA ALOKASI UMUM


DANA ALOKASI KHUSUS
LAIN-LAIN PENDAPATAN DAERAH YANG SAH
PENDAPATAN HIBAH
DANA PENYESUAIAN DAN OTONOMI KHUSUS

1.491.561
52.788
2.876.431
25.380
2.851.051

1.632.648
85.644
2.866.268
10.615
2.855.652

9,46
62,24
-0,35
-58,18
0,16

Anggaran Pendapatan Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada tahun anggaran
2013 mencapai Rp 15,29 triliun atau meningkat 1,27% dibandingkan anggaran tahun 2012.
Peningkatan tertinggi adalah pada Dana Alokasi Khusus dengan prosentase sebesar 62,24%
dan Retribusi Daerah dengan prosentase sebesar 13,89%. Sementara itu, anggaran
pendapatan hibah dianggarkan lebih kecil dengan prosentase penurunan sebesar -58,18%
dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Sebagaimana pola-pola anggaran di daerah, struktur pendapatan daerah di Jawa Timur
didominasi oleh Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang bersumber dari penerimaan pajak daerah
seperti Pajak Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, Pajak Air Bawah
Tanah, Pajak Air Permukaan, Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor serta penerimaaan asli
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur
Triwulan II Tahun 2013

86

BAB IV PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH

daerah lainnya yang sah. Proporsi PAD yang dianggarkan pada tahun 2013 adalah sebesar
62,3% dari total pendapatan. Sementara itu, Dana Perimbangan dan Pendapatan Lain yang
Sah memperoleh proporsi anggaran yang hampir sama, yaitu masing-masing sebesar 18,94%
dan 18,75% dari total pendapatan.
Grafik 4.2
Proporsi Pendapatan Asli Daerah Provinsi Jawa Timur

Pada bagian Pendapatan Asli Daerah, Pajak Daerah masih menjadi sumber pendapatan
terbesar dengan prosentase sebesar 83% dari total PAD yang direncanakan diperoleh pada
tahun 2013. Proporsi tersebut lebih besar apabila dibandingkan dengan proporsi tahun
sebelumnya (2012) yang tercatat sebesar 82%. Proporsi terbesar selanjutnya adalah Lain-lain
Pendapatan Asli Daerah yang Sah (13%), Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan
(3%), dan Retribusi Daerah (1%).
4.2.2 Realisasi Pendapatan Daerah
Tabel 4.2
Realisasi Anggaran Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Timur Tahun 2013 (Juta Rupiah)
Uraian
PENDAPATAN DAERAH
PENDAPATAN ASLI DAERAH
PAJAK DAERAH
RETRIBUSI DAERAH
HASIL PENGELOLAAN KEKAYAAN
DAERAH YANG DIPISAHKAN

APBD
Th. 2012
(Juta Rp)
15.094.258
9.385.804
7.733.400
110.985
352.884

Realisasi
Tw II-2012
Juta Rp
%
7.489.459
49,62
4.639.555
49,43
3.589.606
46,42
51.979
46,83

APBD
Tahun 2013
(Juta Rp)
15.286.013
9.523.901
7.863.719
126.405

343.393

97,31

328.891

Realisasi (Juta Rp)


Tw II 2013
Juta Rp
4.828.021
3.116.246
2.345.035
28.903

%
31,58
32,72
29,82
22,87

315.713

95,99

35,41

LAIN-LAIN PENDAPATAN ASLI


DAERAH YANG SAH

1.188.535

654.576

55,07

1.204.884

426.594

DANA PERIMBANGAN

2.832.022

1.466.101

51,77

2.895.842

1.012.775

34,97

DANA BAGI HASIL PAJAK/BAGI


HASIL BUKAN PAJAK

1.287.674

580.187

45,06

1.177.549

604.613

51,35

DANA ALOKASI UMUM


DANA ALOKASI KHUSUS

1.491.561
52.788

870.077
15.836

58,33
30,00

1.632.648
85.644

408.162
0

25,00
0,00

LAIN-LAIN PENDAPATAN DAERAH


YANG SAH

2.876.431

1.383.803

48,11

2.866.268

698.999

24,39

PENDAPATAN HIBAH
DANA PENYESUAIAN DAN
OTONOMI KHUSUS

25.380

15.847

62,44

10.615

9.229

86,94

2.851.051

1.367.956

47,98

2.855.652

689.770

24,15

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

87

BAB IV PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH

Realisasi total Pendapatan Daerah sampai dengan Triwulan II 2013 mencapai Rp 4,83
triliun, atau baru mencapai 31,58% dari total anggaran sebesar Rp 15,29 triliun. Realisasi
tersebut lebih rendah apabila dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama tahun
sebelumnya (Triwulan II 2012) yang mencapai 49,62%. Penurunan prosentase realisasi
anggaran juga terjadi pada ke-tiga sub anggaran pendapatan daerah, yaitu Pendapatan Asli
Daerah (PAD), Dana Perimbangan dan Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah. Realisasi PAD
pada periode laporan adalah sebesar Rp 3,12 triliun, atau 32,72% dari anggaran, lebih kecil
dibandingkan realisasi triwulan II 2012 yang tercatat sebesar 49,43%.
Namun demikian, beberapa pos seperti Pendapatan Hibah dan Dana Bagi Hasil Pajak /
Bukan Pajak mencatat peningkatan prosentase realisasi dibandingkan dengan periode yang
sama tahun sebelumnya. Dana Bagi Hasil Pajak / Bukan Pajak telah terealisasi sebesar Rp
604,61 triliun atau 51,35% dari yang telah dianggarkan, lebih besar dibandingkan realisasi
triwulan II 2012 yang tercatat sebesar 45,06%. Demikian pula dengan pendapatan hibah yang
pada periode laporan telah terealisasi sebesar Rp 9,22 milliar atau 85,94%, lebih besar
dibandingkan realisasi triwulan II 2012 yang tercatat sebesar 62,44%.

Grafik 4.3
Realisasi Pendapatan Asli Daerah Provinsi Jawa Timur Tahun 2013 (Juta Rupiah)

9,000,000
8,000,000
7,000,000
6,000,000

PAD

5,000,000

Realisasi PAD Tw II 2013

4,000,000
3,000,000

32,72%

2,000,000
1,000,000

22,87%

95,99%

35,41%

0
PAJAK DAERAH

RETRIBUSI DAERAH

LAIN-LAIN
HASIL
PENDAPATAN ASLI
PENGELOLAAN
KEKAYAAN DAERAH DAERAH YANG SAH
YANG DIPISAHKAN

Pada Pos Pendapatan Asli Daerah (PAD), realisasi anggaran terbesar adalah pada Hasil
Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan (95,99%). Realisasi terbesar selanjutnya adalah
Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah (35,41%) dan Pajak Daerah (32,72%).
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur
Triwulan II Tahun 2013

88

BAB IV PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH

4.2.
4.2.3.
2.3. Anggaran Belanja Daerah
Anggaran Belanja Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada tahun 2013
direncanakan sebesar Rp 16,21 triliun atau meningkat 1,30% dibandingkan anggaran belanja
tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 16,01 triliun. Berdasarkan kelompoknya, Belanja
Langsung mencatat peningkatan tertinggi yaitu 1,81%, sementara Belanja Tidak Langsung
meningkat sebesar 1% dibandingkan tahun sebelumnya. Belanja Bantuan Sosial dicadangkan
cukup tinggi yaitu sebesar Rp 77,19 miliar, meningkat 64,6% dibandingkan tahun 2012. Hal
tersebut terkait dengan perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Timur terhadap dampak kenaikan
BBM, TDL dan UMK Provinsi Tahun 2013 terhadap kesejahteraan masyarakat Jawa Timur.

Tabel 4.3
Anggaran Belanja Daerah Provinsi Jawa Timur Tahun 2013
(Juta Rupiah)
Uraian
BELANJA DAERAH
BELANJA TIDAK LANGSUNG
BELANJA PEGAWAI
BELANJA HIBAH

APBD
Th. 2012
(Juta Rp)
16.007.746
10.088.960
1.557.539
4.092.243

APBD
Perubahan
Tahun 2013
%
(Juta Rp)
16.215.603
1,30
10.189.908
1,00
1.725.859
10,81
4.988.320
21,90

BELANJA BAGI HASIL KEPADA PROVINSI/KABUPATEN/


KOTA DAN PEMERINTAHAN DESA

2.810.071

2.427.977

-13,60

BELANJA BANTUAN KEUANGAN KEPADA PROVINSI/


KABUPATEN/KOTA DAN PEMERINTAHAN DESA

1.516.532

903.036

-40,45

BELANJA LANGSUNG
BELANJA PEGAWAI
BELANJA BARANG DAN JASA
BELANJA MODAL

5.918.785
1.010.964
3.767.461
1.140.361

6.025.695
1.086.920
3.947.256
991.518

1,81
7,51
4,77
-13,05

Berdasarkan sub kelompoknya, proporsi Anggaran Belanja Tidak Langsung Provinsi


Jawa Timur masih didominasi oleh belanja hibah dengan prosentase sebesar 49% dari total
anggaran Belanja Tidak Langsung. Prosentase terbesar selanjutnya adalah Belanja Bagi Hasil
kepada Kabupaten / Kota dan Belanja Pegawai dengan prosentase masing-masing sebesar 24%
dan 17%. Belanja Pegawai yang diperuntukkan untuk pembayaran gaji pegawai mencatat
peningkatan dibandingkan tahun lalu yang hanya sebesar 15% dari total Belanja Tidak
Langsung Provinsi.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

89

BAB IV PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH


Grafik 4.4
Proporsi Anggaran Belanja Tidak Langsung Provinsi Jawa Timur

Pada kelompok anggaran Belanja Langsung, anggaran Belanja Barang dan Jasa masih
mendominasi dengan prosentase sebesar 66%, disusul kemudian dengan Belanja Pegawai dan
Belanja Modal dengan prosentase masing-masing sebesar 18% dan 16%. Peningkatan
prosentase belanja barang dan jasa dari sebesar 64% pada tahun 2012 menjadi sebesar 66%
pada tahun 2013 terkait dengan peningkatan kebutuhan operasional Pemerintah Provinsi Jawa
Timur. Demikian pula dengan peningkatan proporsi belanja pegawai dari sebesar 17% pada
tahun 2012 menjadi 18% pada tahun 2013 yang mengindikasikan peningkatan kebutuhan
tenaga kerja langsung untuk mendukung kegiatan operasional. Sementara itu, alokasi Belanja
Modal yang mencerminkan kegiatan investasi menunjukkan penurunan proporsi dari sebesar
19% pada tahun 2012, menjadi sebesar 16% pada tahun 2013.
Grafik 4.5
Proporsi Anggaran Belanja Langsung Provinsi Jawa Timur

4.2.3. Realisasi Belanja Daerah


Sampai dengan Triwulan II 2013, realisasi belanja daerah Provinsi Jawa Timur adalah
senilai Rp 4,37 triliun, atau baru mencapai 26,95% dari anggaran yang direncanakan. Realisasi
tersebut lebih rendah bila dibandingkan dengan realisasi anggaran belanja pada periode yang
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur
Triwulan II Tahun 2013

90

BAB IV PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH

sama tahun sebelumnya (Triwulan II 2012) yang mencatat realisasi sebesar 41,86%. Apabila
ditinjau berdasarkan sub kelompoknya, realisasi tertinggi adalah Belanja Tidak Langsung yaitu
mencapai 29,43% dari yang dianggarkan. Sementara itu, Belanja Langsung terealisasi lebih
rendah yaitu sebesar 22,74% dari yang telah dianggarkan.
Tabel 4.4
Realisasi Anggaran Belanja Daerah Provinsi Jawa Timur Tahun 2013
(Juta Rupiah)
APBD
Th. 2012

Realisasi
Tw II-2012

Realisasi (Juta Rp)


Tw II 2013
Juta Rp
%
4.369.295 26,95
2.998.811 29,43
439.053 25,44
1.038.536 20,82

(Juta Rp)
16.007.746
10.088.960
1.557.539
4.092.243

Juta Rp
6.701.623
4.767.420
734.444
1.838.820

%
41,86
47,25
47,15
44,93

APBD
Tahun 2013
(Juta Rp)
16.215.603
10.189.908
1.725.859
4.988.320

BELANJA BAGI HASIL KEPADA


PROVINSI/KABUPATEN/ KOTA DAN
PEMERINTAHAN DESA

2.810.071

1.221.342

43,46

2.427.977

1.168.100

48,11

BELANJA BANTUAN KEUANGAN


KEPADA PROVINSI/
KABUPATEN/KOTA DAN
PEMERINTAHAN DESA

1.516.532

907.796

59,86

903.036

306.597

33,95

BELANJA LANGSUNG
BELANJA PEGAWAI
BELANJA BARANG DAN JASA
BELANJA MODAL

5.918.785
1.010.964
3.767.461
1.140.361

1.934.203
416.649
1.199.321
318.233

32,68
41,21
31,83
27,91

6.025.695
1.086.920
3.947.256
991.518

1.370.484
279.948
917.371
173.163

22,74
25,76
23,24
17,46

Uraian
BELANJA DAERAH
BELANJA TIDAK LANGSUNG
BELANJA PEGAWAI
BELANJA HIBAH

Realisasi belanja tertinggi adalah Belanja Tidak Terduga yaitu sebesar 54,73%, disusul
kemudian dengan Belanja Bagi Hasil kepada Kabupaten / Kota dan Belanja Bunga dengan
prosentase realisasi masing-masing sebesar 48,11% dan 39,12%. Belanja Pegawai baik di Pos
Belanja Langsung maupun Belanja Tidak Langsung masih menunjukkan prosentase realisasi di
kisaran 25% hingga pertengahan tahun 2013.
Grafik 4.6
Realisasi Anggaran Belanja Tidak Langsung

Grafik 4.7
Realisasi Anggaran Belanja Langsung

Juta

6,000,000
5,000,000

Belanja Tidak Langsung

4,000,000

Realisasi Tw II 2013

3,000,000
2,000,000

20,82%
25,44%

48,11%
33,95%

1,000,000
0
BELANJA PEGAWAI

BELANJA HIBAH

BELANJA BAGI HASIL


BELANJA BANTUAN
KEPADA
KEUANGAN KEPADA
PROVINSI/KABUPATEN/
PROVINSI/
KOTA DAN
KABUPATEN/KOTA DAN
PEMERINTAHAN DESA PEMERINTAHAN DESA

4,500,000
4,000,000
3,500,000
3,000,000
2,500,000
2,000,000
1,500,000
1,000,000
500,000
0

APBD
Realisasi Tw II 2013

23,24%
25,76%
BELANJA PEGAWAI BELANJA BARANG
DAN JASA

17,46%

BELANJA MODAL

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

91

Bab 5


KESEJAHTERAAN
MASYARAKAT

BAB V KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

5 KESEJAHTERAAN MASYARAKAT
5.1. UMUM
Peningkatan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur dari 6,62% pada triwulan I-2013
menjadi 6,97% pada triwulan II-2013, mendorong peningkatan kesejahteraan
masyarakat sebagaimana tercermin kenaikan angka nilai tukar petani (NTP) dari 101,51
menjadi 102,95 dan nilai tukar nelayan (NTN) dari 156,15 menjadi 158,07. Disisi lain,
akselerasi pertumbuhan ekonomi yang terus terjaga, mampu menurunkan angka
kemiskinan di Jawa Timur dari 13,08% (September'12) menjadi 12,55% (Maret'13).
Peningkatan pertumbuhan ini, juga meningkatkan penyerapan tenaga kerja di
Jawa Timur dari 19,08 juta orang (Agustus'12) menjadi 19,29 juta orang (Februari'13).
Peningkatan penyerapan tenaga kerja tersebut diperkirakan terus berlanjut pada triwulan
ini, terlihat dari meningkatnya angka indeks penyerapan tenaga kerja dari hasil Survei
Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan Bank Indonesia dari -6,95% (triwulan I2013) menjadi -4,81% (triwulan II-2013).
Peningkatan penyerapan tenaga kerja diperkirakan akan terus berlanjut hingga
triwulan III-2013 ditunjukan dengan kenaikan angka indeks dari pelaku usaha yang
mencapai angka positif 1,95. Sikap optimis tersebut diyakini untuk memenuhi tingginya
permintaan menjelang akhir tahun terkait keperluan natal dan tahun baru, meskipun
dibayangi potensi penurunan daya beli terutama dampak kenaikan bahan bakar minyak
(BBM).
5.2.
5.2. KETENAGAKERJAAN
5.2.1. Data Ketenagakerjaan Jawa Timur
Situasi ketenagakerjaan di Jawa Timur menunjukkan adanya perbaikan. Jumlah
angkatan kerja di Jawa Timur per Februari 2013 sebanyak 20,1 juta orang, meningkat
dibandingkan data ketenagakerjaan di bulan Agustus 2012 (19,9 juta orang).
Peningkatan ini menyebabkan menurunnya rasio penduduk yang menganggur terhadap
jumlah angkatan kerja yang biasa disebut dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT).
Pada periode laporan tercatat TPT mengalami penurunan dari 4,12% menjadi sebesar
4,00%.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

92

BAB V KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

Sementara itu, perbaikan perekonomian Jawa Timur yang sedang berlangsung


juga diyakini menjadi faktor pendorong terjadinya peningkatan penyerapan tenaga kerja.
Tercatat terjadi peningkatan jumlah penduduk yang bekerja, dari 19,08 juta menjadi
19,29 juta jiwa.
Tabel 5.1
Kondisi Ketenagakerjaan di Jawa Timur (2008 2013)
2008
Kegiatan
Total
Angkatan Kerja
Bekerja
Menganggur
TPAK (%)
TPT (%)

Feb

2009
Aug

20.117.245
18.861.360
1.255.885
69,69%
6,24%

Feb

20.178.590
18.882.277
1.296.313
69,32%
6,42%

2010
Aug

20.316.773
19.123.221
1.193.552
69,36%
5,87%

2011

Feb

20.338.568
19.305.056
1.033.512
69,25%
5,08%

Aug

20.623.490
19.611.540
1.011.950
69,77%
4,91%

Feb

19.527.051
19.698.108
828.943
69,08%
4,25%

2012
Aug

20.251.672
19.406.025
845.647
71,39%
4,18%

Feb

19.761.885
18.940.340
821.546
69,49%
4,16%

19.831.685
19.012.225
819.460
69,55%
4,14%

Aug

19.901.558
19.081.995
819.563
69,62%
4,12%

2013
Feb

20.095.752
19.291.374
804.378
70,12%
4,00%

Sumber : BPS Jatim, (diolah)

Grafik 5.1
Penyerapan Tenaga Kerja Sisi Sektoral
Jasa Kemasyarakatan

Industri

Perdagangan

Pertanian

TOTAL

18000

19.600

16000

19.400

14000

19.200

12000
19.000
10000
18.800
8000
18.600

6000

18.400

4000

18.200

2000
Feb

Aug
2008

Feb

Aug
2009

Feb

Aug
2010

Feb

Aug
2011

Feb

Aug
2012

Feb
2013

Sumber : BPS Jatim (diolah)

Secara sektoral struktur penyerapan tenaga kerja di Jawa Timur pada triwulan
laporan tidak banyak mengalami perubahan yang berarti. Distribusi penyerapan tenaga
kerja terbesar masih didominasi oleh tiga sektor unggulan di Jawa Timur, yaitu sektor
pertanian dengan proporsi sebesar 38,81%, diikuti oleh sektor perdagangan sebesar
21,08% dan sektor industri yang menyerap 15,00% dari total tenaga kerja di Jawa
Timur. Dibandingkan posisi Agustus 2012, peningkatan jumlah tenaga kerja didorong
oleh kenaikan jumlah tenaga kerja pada sektor industri, sektor perdagangan dan sektor
Jasa. Kenaikan jumlah tenaga kerja pada sektor-sektor ini seiring dengan membaiknya
kinerja yang sedang berlangsung pada sektor-sektor tersebut. Sebaliknya penurunan
tenaga kerja terbesar terjadi pada sektor pertanian yang diperkirakan beralih ke sektor
lainnya seperti industri, perdagangan dan jasa. Penurunan tenaga kerja di sektor ini,

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

93

BAB V KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

diyakini dampak dari menurunnya lahan pertanian akibat konversi lahan untuk
pemukiman dan industri.
G rafik 5.2
Penyerapan Tenaga Kerja

G rafik 5.3
Komposisi Tenaga Kerja Formal

25

16%
Informal

Formal

G Formal

G Informal

12%

15
13,58

13,76

14,11

14,12

14,10

13,26

12,84

12,84

12,63

12,86

12,67

10

5,29

5,12

5,50

5,19

5,02

5,44

6,11

5,70

6,45

6,15

6,62

Feb

Aug

Feb

2008

Aug

Feb

2009

Aug

Feb

2010

Aug

Feb

2011

Aug
2012

Berusaha dibantu buruh tetap

g berusaha dibantu buruh tetap

g buruh/karyawan

20%
15%

8%

10%

4%

0%

-4%

-8%

-12%

5
-

Buruh/Karyawan

20

5%
4,80

4,54

4,64

4,53

4,99

5,49

5,10

4,88

5,81

5,50

5,92

0%
-5%
-10%
-15%

Feb
2013

0,48

0,58

0,49

0,55

0,51

0,56

0,60

0,62

0,65

0,65

0,70

Feb

Aug

Feb

Aug

Feb

Aug

Feb

Aug

Feb

Aug

Feb

2008

2009

2010

2011

2012

-20%

2013

Sumber : BPS Jatim (diolah)

Sumber : BPS Jatim (diolah)

Grafik 5.4
Komposisi Bidang Tenaga Kerja Informal
Pekerja Tak Dibayar

Pekerja Bebas Non Pertanian

Berusaha dibantu buruh tdk tetap

Berusaha sendiri

Pekerja Bebas di Pertanian

16
14
12
10
8
6

3,56

3,85

3,69

3,99

3,77

3,62

3,62

3,67

3,64

1,00
1,50

1,04
1,51

3,69

0,86
1,48

0,94
1,57

1,01
1,46

0,91
1,47

1,05
1,43

1,05
1,43

1,13
1,41

1,19
1,39

1,21
1,17

4,26

4,25

4,34

4,46

4,36

4,10

3,85

3,85

3,99

3,61

3,82

3,33

3,45

3,40

3,42

3,29

3,02

2,89

2,89

2,67

2,76

2,83

Feb

Aug

Feb

Aug

Feb

Aug

Feb

Aug

Feb

Aug

Feb

3,65

4
2
-

2008

2009

2010

2011

2012

2013

Sumber : BPS Jatim (diolah)

Berdasarkan komposisinya, karakteristik penyerapan tenaga kerja di Jawa Timur


masih didominasi oleh tenaga kerja di sektor informal, dengan komposisi terbesar pada
kelompok berusaha dibantu buruh dan posisi berikutnya diduduki oleh kelompok
pekerja tak dibayar. Tingginya

penyerapan tenaga kerja di sektor informal

mendapatkan perhatian tersendiri bagi pemerintah daerah dalam meningkatkan kualias


kesejahteraan masyarakat di Jawa Timur.
Berbagai program yang telah diluncurkan pemerintah daerah guna mendorong
kapasitas masyarakat dalam meningkatkan taraf dan kualitas hidupnya, diantaranya
program Jalin Kesra (Jalan Lain Menuju Kesejahteraan Masyarakat), Jamkesda untuk
meningkatkan kualitas kesehatan, BOS (Bantuan Operasional Sekolah) untuk
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur
Triwulan II Tahun 2013

94

BAB V KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

meningkatkan kualitas pendidikan, Bantuan Dana Hibah sebagai modal utama koperasi
wanita di pedesaan, pondok pesantren, masyarakat kawasan sekitar hutan, serta
pemberian bantuan lainnya yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan
masyarakat. Selain itu, pemerintah daerah juga berupaya melaksanakan program
percepatan

dan

perluasan

perlindungan

sosial

serta

program

pembangunan

infrastruktur (pembangungan irigasi, jalan, pemukiman dan pengadaan air bersih) yang
diharapkan mampu menyerap tenaga kerja sehingga dapat membantu meningkatkan
kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, perkembangan tenaga kerja di sektor formal mengalami
peningkatan, yang didominiasi oleh tenaga buruh/karyawan yang mencapai 89,43%
dari total tenaga kerja yang bekerja di sektor formal, sedangkan selebihnya merupakan
tenaga kerja yang masuk dalam kategori berusaha dibantu buruh tetap (wirausaha).
1
5.2.2
.2.2. Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU)

Selaras dengan indikator ketenagakerjaan dari BPS Provinsi Jawa Timur, indikator
ketenagakerjaan hasil Survei Kegiatan Usaha (SKDU) yang dilakukan oleh Bank Indonesia
di wilayah kerja Jawa Timur, juga mulai menunjukkan peningkatan tercermin dari
kenaikan nilai Saldo Bersih Terimbang (SBT)2 dari sebesar -6,95% pada triwulan I-2013
menjadi -4,81% (SBT) pada triwulan II-2013.
Secara spesifik dari 9 (sembilan) sektor ekonomi, sektor yang mengalami
peningkatan penyerapan jumlah tenaga kerja adalah sektor pertambangan, sektor
industri pengolahan, sektor konstruksi, sektor perdagangan, hotel & restoran (PHR) dan
sektor pengangkutan & komunikasi. Sementara sektor yang mengalami penurunan
penyerapan tenaga kerja adalah sektor pertanian, sektor listrik, gas dan air, sektor
keuangan, persewaan & jasa perusahaan, dan sektor jasa-jasa.
Sementara itu respon terhadap kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dan harga bahan
bakar minyak (BBM) diperkirakan akan meningkatkan biaya operasional perusahaan yang
berimplikasi terjadinya kenaikan harga produk akhir, sehingga akan menurunkan daya
beli masyarakat. Hal ini akan mempengaruhi pengusaha untuk melakukan strategi
penurunan beban usaha diantaranya melalui pengurangan tenaga kerja.
1

SKDU (Survei Kegiatan Dunia Usaha) adalah survei yang dilakukan Bank Indonesia secara triwulan yang
bertujuan untuk mendapatkan informasi dini mengenai indikasi perkembangan kegiatan ekonomi (sisi
penawaran) di sektor riil pada triwulan berjalan maupun perkiraan triwulan yang akan datang.
2
Diperoleh dari hasil perkalian saldo bersih sektor/subsektor yang bersangkutan dengan bobot sektor/subsektor
yang bersangkutan sebagai penimbangnya.
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur
Triwulan II Tahun 2013

95

BAB V KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

Namun demikian, ekspektasi dari pelaku usaha terhadap kinerja perekonomian


Jawa Timur pada triwulan yang akan datang diperkirakan masih optimis, tercermin dari
prediksi kenaikan tenaga kerja yang cukup signifikan dari -4,81 (triwulan II-2013)
menjadi 1,95 pada triwulan III-2013 guna memenuhi tingginya permintaan menjelang
akhir tahun untuk keperluan natal dan tahun baru. Hampir seluruh sektor optimis terjadi
peningkatan penyerapan tenaga kerja, kecuali sektor pertambangan, sektor konstruksi
dan sektor jasa-jasa, yang ketiganya belum menjadi sektor andalan di Jawa Timur.
Tabel 5. 2
Perkembangan Penggunaan Tenaga Kerja
Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Jawa Timur
SEKTOR

Tw I

2011
Tw II Tw III Tw IV Tw I

2012
Tw II Tw III Tw IV

Tw I

2013
Tw II Tw III*

0.68
0.35
-8.16
0.01
0.00
-1.86
-0.92
-0.20
3.13
-6.95

-0.48 0.47
0.52 0.36
-4.68 -1.04
-0.39 -0.23
0.59 0.30
0.44 1.42
-0.27 0.46
-0.53 0.68
0.00 -0.45
-4.81 1.95

REALISASI

2.89 -0.79
0.00 0.04
-3.18 -0.46
0.07 0.61
1.64 1.32
-0.58 1.65
-0.60 -0.54
2.13 1.72
0.79 0.90
3.16 4.44

PERTANIAN
PERTAMBANGAN
INDUSTRI PENGOLAHAN
LISTRIK, GAS DAN AIR BERSIH
BANGUNAN
PERDAGANGAN, HOTEL DAN RESTORAN
PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI
KEUANGAN, PERSEWAAN & JASA PERUSAHAAN
JASA - JASA

TOTAL SELURUH SEKTOR

-0.82
-0.94
-1.66
-0.08
-0.37
0.63
0.19
1.67
0.84
-0.54

-0.94 1.54
0.04 0.03
0.28 -3.28
-0.05 -0.77
0.35 0.26
-1.38 3.23
0.33 -1.52
1.36 0.32
0.00 -0.42
-0.02 -0.61

Grafik 5. 5
Penyerapan Tenaga Kerja 3 Sektor Utama
TOTAL
10

PERTANIAN

INDUSTRI PENGOLAHAN

-0.39
-0.21
-1.69
-0.03
0.00
7.30
-1.93
-0.21
-1.82
2.70

-0.15
0.37
-4.33
-0.02
0.24
0.84
-0.64
0.34
1.36
-1.99

Grafik 5. 6
Penyerapan Tenaga Kerja Sektoral

PHR

%, SBT

-0.62
-0.21
3.44
-0.82
0.49
3.67
0.46
0.71
0.42
7.54

PERTANIAN

INDUSTRI PENGOLAHAN

PHR

PERTAMBANGAN

LISTRIK, GAS DAN AIR BERSIH

BANGUNAN

PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI

KEUANGAN, PERSEWAAN & JASA PERUSAHAAN

10
%, SBT

JASA - JASA

2
0

0
-2
-4

II

III IV

II

III IV

II

III IV

II

III IV

II II*

-2
-4

2009

2010

2011

2012

2013

II

III

2008

IV

II

III

2009

IV

II

III

2010

IV

II

III

IV

2011

II

III

IV

2012

I
2013

-6
-8

-6

-10

-8
Sumber : Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indoneisa (diolah)

-10

5. 3. KESEJAHTERAAN MASYARAKAT PEDESAAN


Tingkat kesejahteraan masyarakat pedesaan di Jawa Timur pada triwulan II-2013
relatif membaik dibandingkan periode sebelumnya. Hal ini tercermin dari peningkatan
pada Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Nelayan (NTN) pada periode laporan.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

96

BAB V KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

5. 3.1. Kesejahteraan Petani


Pada triwulan II-2013, indikator kesejahteraan petani di Jawa Timur yang
tercermin dari indikator Nilai Tukar Petani (NTP) menunjukkan peningkatan. Tercatat NTP
provinsi Jawa Timur pada periode laporan sebesar 102,95 (indeks >100 cukup baik)
meningkat dibandingkan triwulan I 2013 sebesar 101,51. Namun, NTP Jawa Timur pada
periode ini masih berada di bawah level nasional yang tercatat mencapai angka 105,28.
Peningkatan NTP Jawa Timur didorong oleh pertumbuhan indeks harga yang
diterima petani (lt) lebih tinggi dibandingkan dengan indeks harga yang dibayarkan oleh
petani (lb). Pada triwulan laporan indeks harga yang diterima petani sebesar 156,84
sedangkan indeks harga yang dibayar petani sebesar 152,34. Jika dibandingkan dengan
tahun sebelumnya pada periode yang sama, perkembangan NTP Jawa Timur (yoy)
mengalami kenaikan 1,37 persen.
Kondisi ini terjadi karena di triwulan II 2013, sektor pertanian memasuki masa
puncak musim panen padi yang biasanya terjadi pada triwulan I-2013. Selain itu,
meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang bulan Ramadhan mengakibatkan harga
pangan cenderung naik, turut berpengaruh pada peningkatan indeks harga yang
diterima oleh petani.
Disisi lain, akibat anomali musim yang terus berlanjut produksi beberapa tanaman
lainnya (bawang merah, cabe, kedelai serta tembakau) mempengaruhi pendapatan
petani karena kualitas hasil panen yang menurun. Untuk mengurangi risiko yang lebih
besar lagi, petani melakukan penanaman bertahap dan mengalihkannya ke tanaman
padi.
Grafik
Grafik 5. 7
NTP Nasional & Jawa Timur
108

NTP Nasional

Grafik
Gr afik 5. 8
NTP dan Pertumbuhan (Nasional & Jatim)
NTP Nasional

NTP Jawa Timur

NTP Jawa Timur

g It Nasional

g It Jatim

4,5
4
3,5
3
2,5
2
1,5
1
0,5
0
-0,5
-1

108

106

106

104

104

102

102

100

100

98

98

96

96

94

94

92

92

90

90

II

III

2009
Sumber : BPS Jatim (diolah)

IV

II

III

2010

IV

II

III

2011

IV

II

III

2012

IV

II

2013

II

III

IV

2009

II

III

2010

IV

II

III

2011

IV

II

III

2012

IV

II

2013

Sumber : BPS Jatim (diolah)

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

97

BAB V KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

Grafik
Gr afik 5.
5 .9

Grafik
Grafik 5.10

It serta Pertumbuhan Nasional & Jatim


lt Nasional

lt Jatim

g lt Nasional

Ib Nasional

g lt Jatim

180

4,5
4
3,5
3
2,5
2
1,5
1
0,5
0
-0,5
-1

160
140
120
100
80
60
40
20
0
I

II

III IV

2009

II

III IV

2010

II

III IV

2011

Ib dan Pertumbuhan Nasional & Jatim

II

III IV

2012

II

2013

Sumber : BPS Jatim (diolah)

Ib Jatim

g Ib Nasional

g Ib Jatim

160

3,5

140

120

2,5
2

100

1,5

80

60

0,5

40

20

-0,5
-1

0
I

II

III

IV

2009

II

III

2010

IV

II

III

IV

2011

II

III

2012

IV

II

2013

Sumber : BPS Jatim (diolah)

5. 3.2. Kesejahteraan Nelayan


Sebagaimana yang ditunjukkan oleh indikator kesejahteraan petani (NTP), kondisi
kesejahteraan nelayan yang tercermin pada Nilai Tukar Nelayan (NTN) Provinsi Jawa
Timur pada triwulan II-2013 juga mengalami peningkatan dibandingkan triwulan
sebelumnya. Tercatat Nilai Tukar Nelayan (NTN) pada triwulan I-2013 sebesar 156,15
meningkat menjadi 158,07 pada triwulan II-2013. Berbeda dengan Nilai Tukar Petani
(NTP), karakteristik Nilai Tukar Nelayan (NTN) Jawa Timur memiliki nilai lebih baik
dibandingkan nasional atau cenderung berada di atas level nasional, dengan kisaran nilai
berada di atas level 150.

Masih rendahnya biaya produksi dan barang konsumsi

dibandingkan dengan hasil tangkapan menjadi faktor peningkatan Nilai Tukar Nelayan
(NTN) Jawa Timur.
Perhitungan NTN di Jawa Timur dilakukan pada 6 kabupaten/kota yang
merupakan penghasil komoditas perikanan laut, yaitu Trenggalek, Banyuwangi,
Situbondo, Tuban, Lamongan dan Pamekasan. NTN tertinggi terjadi di Trenggalek
sedangkan

terendah

di

Pamekasan.

Sementara

itu,

berdasarkan

komposisinya

peningkatan indeks harga yang diterima nelayan pada periode ini disebabkan oleh
kenaikan harga ikan selar, ikan tongkol dan ikan teri. Sedangkan kenaikan indeks harga
yang dibayar oleh nelayan dipicu oleh kenaikan indeks harga konsumsi rumah tangga
yaitu beras, cabe merah dan cabe rawit. Sedangkan indeks harga biaya produksi dan
penambahan barang modal yaitu biaya buruh dan biaya sewa.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

98

BAB V KESEJAHTERAAN MASYA


ARAKAT

Grafik
.11
Grafik 5.1
.11

Grafik
5 2
Gr afik 5.12
5.1

NTN Nasional & Jaw


awa Timur
NTN Nasional

180
160
140
120
100
80
60
40
20
0

NTN serta Pertumbuha


han (Nasional & Jatim)

NTN Jawa Timur

Nasional

180

Jatim

g NTN Nasional

g NTN Jatim

160

140

120

100
0

80
-2

60

II III IV
2009

II III IV
2010

II III IV
201
2011

II III IV

2012

2013

40

-4

20

-6

II

-8

II

III

IV

2009

II

III

IV

2010

II

III

2011

IV

II

III

2012

IV

II

2013

Sumber : BPS Jatim (diolah)

Sumber : BPS Jatim (diolah)

5.4. PROFIL KEMISK


SKINAN JAWA TIMUR
Angka kemiskinan
n di Jawa Timur terus menurun secara gradu
dual sejak tujuh tahun
terakhir. Berdasarkan hasil
sil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), jumlah
ju
penduduk Jawa
Timur yang berada di baw
awah garis kemiskinan (penduduk miskin)3 paada Maret 2013 turun
sebesar 0,53%, yaitu dar
ari 13,08% pada September 2012 menjadi 12,55%
1
atau menjadi
sebesar 4.771.260 jiwa (g
(grafik 5.13). Tingginya upaya pemerintah d
dan masyarakat dalam
memberantas kemiskinan m
menjadi faktor pendorong penurunan kemiskin
kinan di Jawa Timur.
Grafik 5.13
5.13
Perkembangan Penduduk Miskin di Jawa Timur (%
(%)
%

25
20
15

21.09
19.98
19.95
18.51
16.68
15.26
13.8513.08
12.55
.55

10
5
0

Sumber : BPS Jatim (diolah)

Penduduk miskin adalah pen


enduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita
ka
per bulan di bawah
Garis Kemiskinan.
Kajian Ekonomi Reg
gional Provinsi Jawa Timur
Triwulan II Tahun 2013

99

BAB V KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

Penurunan persentase penduduk miskin pada Maret 2013 sebagian besar disumbang
oleh penurunan penduduk miskin di pedesaan, yaitu sebesar 0,73%, sementara penurunan
persentase penduduk miskin di kota hanya sebesar 0,33%. Penurunan angka kemiskinan
tersebut, tidak terlepas dari komitmen dan konsistensi melaksanakan berbagai program
pengentasan kemiskinan yang dilakukan pemerintah pusat dan pemerintah daerah, terutama
yang dilakukan di desa-desa. Konsistensi Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam pengentasan
kemiskinan tersebut dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
(RPJMD)

Provinsi

Jawa

Timur

Tahun

2009-2014,

dengan

memposisikan

Program

Penanggulangan Kemiskinan sebagai salah satu Program Prioritas di Jawa Timur.


Tabel 5.3
5.3 Garis Kemiskinan, Jumlah & Persentase Penduduk Miskin Menurut Daerah
Garis Kemiskinan (Rp/Kapita/Bulan)
Daerah/ tahun

(1)
Perkotaan
Maret 2008
Maret 2009
Maret 2010
Maret 2011
Sept 2011
Maret 2012
Sept 2012
Maret 2013
Pedesaan
Maret 2008
Maret 2009
Maret 2010
Maret 2011
Sept 2011
Maret 2012
Sept 2012
Maret 2013
Kota + Desa
Maret 2008
Maret 2009
Maret 2010
Maret 2011
Sept 2011
Maret 2012
Sept 2012
Maret 2013

Makanan

Bukan
Makanan

Total

(2)

(3)

(4)

Jumlah
Persentase
Penduduk Miskin
Penduduk Miskin
(Ribu)
(5)

Perubahan
Persentase
Penduduk Miskin
(%)

(6)

(7)

131,487
145,676
152,965
169,242
174,210
175,806
182,073
187,350

51,921
56,948
60,418
65,303
68,193
69,499
71,874
77,853

183,408
202,624
213,383
234,546
242,403
245,305
253,947
265,209

2,438.76
2,148.51
1,873.55
1,768.23
1,734.31
1,630.63
1,605.96
1,550.46

13.15
12.17
10.58
9.87
9.66
9.06
8.90
8.57

-0.98
10.58
-0.71
-0.21
-0.81
-0.16
-0.33

118,971
131,522
139,806
155,457
161,141
167,352
176,674
189,172

36,461
43,106
46,073
50,818
53,025
54,864
57,882
61,358

155,432
174,628
185,879
206,275
214,166
222,216
234,556
250,530

4,581.19
3,874.07
3,655.76
3,587.98
3,493.00
3,440.34
3,354.58
3,220.80

23.64
21.00
19.74
18.19
17.66
17.35
16.88
16.15

-2.64
19.74
-1.55
-0.53
-0.84
-0.47
-0.73

125,091
138,440
146,240
162,017
167,360
171,375
179,244
188,306

44,020
49,874
53,087
57,711
60,243
61,827
64,540
69,205

169,112
188,317
199,327
219,727
227,603
233,202
243,783
257,510

7,019.95
6,022.59
5,529.30
5,365.21
5,227.31
5,070.98
4,960.54
4,771.26

18.51
16.68
15.26
14.23
13.85
13.40
13.08
12.55

-1.47
-1.83
-1.42
-1.03
-0.38
-0.83
-0.32
-0.53

Sumber : BPS Jatim

Program-program Penanggulangan dan pengentasan kemiskinan di Jawa Timur


dimaksudkan untuk meningkatkan dan mengembangkan peran masyarakat serta fungsi
lembaga-lembaga desa, untuk mendorong kesadaran kaum miskin dalam memperbaiki
nasibnya. Program-program mengentas kemiskinan melalui dua cara, yaitu (i) mengurangi
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur
Triwulan II Tahun 2013

100

BAB V KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

beban biaya bagi Rumah Tangga Sangat Miskin, seperti misalnya : biaya pendidikan, biaya
kesehatan, infrastruktur seperti air bersih, jalan desa dan sebagainya, (ii) meningkatkan
pendapatan Rumah Tangga Miskin dan Hampir Miskin dengan jalan antara lain pelatihan
ekonomi produktif, usaha ekonomi, stimulan modal kerja/ usaha, pasar desa, dan kegiatan
pemberdayaan ekonomi lokal serta peningkatan produksi melalui teknologi tepat guna.
Salah satu contoh program yang dilaksanakan adalah Program Pemberdayaan Potensi
Desa/Kelurahan (P3D/K) yang telah dialokasikan oleh Badan Pemberdayaan Masyarakat
(Bapemas) Provinsi Jawa Timur sejak tahun 2011 dan sekarang ini telah memasuki tahap
penguatan.

Program

tersebut

memperkuat

perekonomian

masyarakat

desa

melalui

pengembangan potensi ekonomi unggulan Desa/Kelurahan.

45.00
40.00

37.48

Grafik 5.14
5.14

Grafik 5.15
5.15

Komoditas Penyumbang

Komoditas Penyumbang

Garis Kemiskinan Makanan (%)

Garis Kemiskinan Non Makanan (%)

40.76

30.00

35.00

25.00

27.21
24.02

30.00

20.00

25.00
20.00

12.72

15.00

15.00

11.43

10.00

10.28

5.52

5.32

5.02

5.00

4.54

4.64

Rokok Kretek
Filter

Gula pasir

Perkotaan

Tempe

Pedesaan

Sumber : BPS Jatim

11.88

3.97

Tahu

11.15
10.50
8.00

10.00

0.00
Beras

10.44

9.05
6.64

5.00
0.00
Perumahan

Listrik

Pendidikan

Perkotaan

Bensin

Kayu Bakar

Pedesaan

Sumber : BPS Jatim

Garis kemiskinan merupakan harga yang dibayar oleh kelompok acuan untuk
memenuhi kebutuhan pangan sebesar 2.100 kkal/kapita/hari dan kebutuhan non-pangan
esensial seperti perumahan, sandang, kesehatan, pendidikan, transportasi dan lainnya. Garis
kemiskinan pada Maret 2013 meningkat sebesar 5,63 persen atau Rp.13.727,- perkapita
perbulan, yaitu dari Rp.243.783,- perkapita perbulan pada September 2012 menjadi
Rp.257.510,- perkapita perbulan pada Maret 2013. Peranan komoditi makanan terhadap garis
kemiskinan jauh lebih besar dibanding peranan komoditi bukan makanan (perumahan,
sandang, pendidikan dan kesehatan), yaitu sebesar 73,13 persen. Beras merupakan komoditas
yang berkontribusi paling besar terhadap garis kemiskinan makanan (37,48% di perkotaan dan
40,76% di pedesaan). Sementara itu, dari sisi non makanan, komoditas perumahan
merupakan penyumbang garis kemiskinan terbesar, seperti yang ditunjukkan pada grafik 5.14

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

101

BAB V KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

dan 5.15. Peningkatan garis kemiskinan merupakan konsekuensi atas tingginya inflasi dan
harga barang, terutama pada kedua komoditas tersebut.
Inflasi yang tinggi akan diikuti dengan peningkatan harga barang dan jasa. Pengeluaran
rumah tangga terhadap komoditas tertentu akan terpengaruh sebagai dampak dari
peningkatan harga. Grafik 5.16 menunjukkan perkembangan pertumbuhan konsumsi
makanan dan non makanan rumah tangga serta rata-rata inflasi makanan dan non makanan
di Jawa Timur. Pada triwulan II-2013, inflasi dari komoditas makanan secara rata-rata bulanan
mengalami penurunan dibanding rata-rata bulanan pada triwulan sebelumnya, karena adanya
musim panen di beberapa wilayah di Jawa Timur, kelancaran impor hortikultura dan kebijakan
pemerintah daerah untuk melakukan operasi pasar terhadap beberapa komoditas makanan
pokok.
Penurunan harga komoditas terutama di kelompok bahan makanan, direspon
masyarakat dengan meningkatkan konsumsi terhadap komoditas tersebut yang tumbuh
sebesar 0,95% (sumber BPS Jatim). Sementara itu, rata-rata inflasi non makanan mengalami
penurunan 10,38% dari 34,76% pada Triwulan I 2013 menjadi 24,38% pada Triwulan II
2013. Hal ini direspon dengan peningkatan pertumbuhan konsumsi non makanan sebesar
3,47%.
Grafik 5.16
5.16 Pertumbuhan Pengeluaran Rumah Tangga dan Pertumbuhan Inflasi di Jawa Timur (%)
0.2

6
5

0.15

4
0.1

0.05

2
1

0
-0.05

-1
-2

-0.1

Rata-rata Inflasi Makanan

Rata-rata Inflasi Non Makanan

g Konsumsi Makanan

g Konsumsi Non Makanan

Sumber: BPS Jatim

Inflasi yang meningkat akan diikuti oleh peningkatan batas kemiskinan sehingga jumlah
penduduk miskin akan bertambah jika tidak diikuti dengan peningkatan daya beli dan
pendapatan, terutama masyarakat kelompok berpenghasilan bawah. Pada triwulan II inflasi
komoditas non makanan sub sektor transportasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur
Triwulan II Tahun 2013

102

BAB V KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

peningkatan yang cukup signifikan seiring dengan adanya kebijakan kenaikan harga BBM oleh
pemerintah. Diperkirakan terjadi peningkatan Garis Kemiskinan (GK) sebesar 0,77%, dari
Rp257.510 pada bulan Maret 2013 menjadi Rp259.502 pada Juni 2013. Di sisi lain, kebijakan
pemerintah melalui pemberian BLSM (Bantuan Langsung Sementara untuk Masyarakat) akan
menurunkan GK menjadi Rp222.002. Penjelasan lebih lanjut tentang dampak kenaikan harga
BBM dan pemberian BLSM terhadap kemiskinan di Jawa Timur akan diulas tersendiri dalam box
2 (dua).
Kemiskinan tidak hanya mencakup persentase penduduk miskin, tetapi juga
menyangkut seberapa besar jarak dan keragaman pengeluaran penduduk miskin terhadap
garis kemiskinan. Indikator tersebut dapat dihat dari (P1) dan (P2). Indeks Kedalaman
Kemiskinan/Poverty Gap Index (P1), merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran
masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi nilai indeks,
semakin jauh rata-rata pengeluaran penduduk dari garis kemiskinan. Indeks Keparahan
Kemiskinan/Poverty Severity Index (P2), merupakan ukuran tingkat ketimpangan pengeluaran
diantara penduduk miskin. Semakin tinggi nilai indeks maka semakin tinggi ketimpangan
pengeluaran diantara penduduk miskin.
Dari data kemiskinan rilis Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur (BPS Jatim)
digambarkan bahwa indeks kedalaman kemiskinan (P1) mengalami penurunan 0,09 poin atau
sebesar 1,93 pada September 2012 menjadi 1,84 pada Maret 2013. Penurunan nilai P1
tersebut terjadi di pedesaan (0,21 poin), sedangkan di perkotaan terjadi sedikit peningkatan
(0,03 poin). Sementara itu, nilai P2 juga mengalami penurunan 0,01 poin atau menjadi 0,43
pada Maret 2013. Penurunan nilai yaitu P1 memberikan indikasi rata-rata pengeluaran
penduduk miskin cenderung mendekati garis kemiskinan sebagai akibat dari semakin tingginya
harga-harga komoditas yang harus dipenuhi masyarakat. Disisi lain, penurunan P2
menunjukkan ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin juga semakin menyempit.
Dari sisi wilayah, pola kemiskinan di desa menunjukkan semakin banyak penduduk yang
mendekati garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin yang
lebih tinggi daripada di kota sebagaimana ditunjukkan pada grafik 5.18.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

103

BAB V KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

Grafik 5.17
5.17 Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2)
di Jawa Timur Menurut Daerah
5
4.5
4
3.5
3
2.5
2
1.5
1
0.5
0
Mar 08 Mar 09 Mar 10 Mar 11 Sept 11 Mar 12 Sept 12 Mar 13
P1 Kota

P1 Desa

P2 Kota

P2 Desa

Sumber : BPS Jatim

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

104

BAB V KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

DAMPAK KENAIKAN HARGA BBM DAN KOMPENSASI BLSM PADA KEMISKINAN DI


JAWA TIMUR

Kebijakan pengurangan subsidi BBM (Bahan Bakar Minyak) yang berlaku efektif
pada Juni 2013 memberikan konsekuensi yang cukup signifikan bagi perekonomian
dan kondisi sosial masyarakat Indonesia. Salah satunya adalah meningkatnya garis
kemiskinan yang disebabkan karena peningkatan inflasi dan harga barang pokok
pembentuk garis kemiskinan sebagai dampak dari peningkatan harga BBM dan
ongkos angkut. Grafik 1 menunjukkan perkembangan inflasi dan kemiskinan di Jawa
Timur. Fluktuasi inflasi setiap periode diikuti oleh peningkatan Garis Kemiskinan
Makanan (GKM) dan Non Makanan (GKNM), sementara itu pertumbuhan penduduk
miskin mengalami penurunan setiap tahunnya.
Grafik 1 Perkembangan Inflasi dan Kemiskinan di Jawa Timur

200000

20.00
15.00

150000

10.00
100000
5.00
50000

0.00

-5.00
II-2008

II-2009

II-2010

II-2011

II-2012

I-2013

GKM

GKNM

Rata-rata Inflasi Makanan

Rata-rata Inflasi Non Makanan

g Penduduk Miskin

Untuk

mengukur

kemiskinan,

BPS

menggunakan

konsep

kemampuan

memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini,


kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi
kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. BPS
menentukan Garis Kemiskinan (GK) yang merupakan penjumlahan dari Garis
Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM). Garis
Kemiskinan Makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum
makanan yang disetarakan dengan 2100 kilokalori perkapita perhari. Paket komoditi

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

105

BAB V KESEJAHTERAAN MASYA


ARAKAT

kebutuhan dasar makan


nan diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi-p
padian, umbi-umbian,
ikan, daging, telur dan
n susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-b
buahan, minyak dan
lemak, dll). Sementara itu,
it Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM
M) adalah kebutuhan
minimum untuk perum
mahan, sandang, pendidikan dan kesehat
atan. Paket komoditi
kebutuhan dasar non m
makanan diwakili oleh 51 jenis komoditii di
d perkotaan dan 47
jenis komoditi di pedes
esaan. Jadi Penduduk Miskin adalah pend
duduk yang memiliki
rata-rata pengeluaran pe
perkapita perbulan dibawah garis kemiskina
nan tersebut.
Grafik 2 Pergeseran Ga
Garis Kemiskinan Pasca Kenaikan Harga BBM da
an Pemberian BLSM
40.00%

37.91%

35.00%
Rp222.002

Rp259.502

30.00%
Rp257.510

25.00%
20.00%

17.50%

18.15%
%

15.00%
10.00%

6.95%
4.93%

6.60%

7.38%

5.00%
0.09%

0.58%
8%

0.00%
<99.999 100.000
00 s/d150.000 s/d200.000 s/d257.511 s/d300.000 s/d500.000 s/d
s/ 750.000 s/d1.000.000
149.9
.999 199.999 257.510 299.999 499.999 749.999 999.999
Keterangan:
: Garis Kemiskina
an pasca peningkatan harga BBM
: Garis Kemiskina
an pasca pemberian BLSM

Peningkatan GK pasca kenaikan harga BBM (bensin Rp4.5


.500 menjadi Rp6.500
dan solar Rp4.000 me
enjadi Rp5.500) pada bulan Juni 201
013 disebabkan oleh
peningkatan sumbanga
an inflasi pada komoditas non makanan
an yang membentuk
GKNM. Sumbangan infla
flasi ke-51 komoditas non makanan tersebu
but meningkat sebesar
0,55%, terutama diseba
babkan karena kenaikan sumbangan infla
flasi bensin, angkutan
dalam kota, serta perum
umahan. GKNM setelah memperhitungkan
an peningkatan inflasi
meningkat tipis, dari Rp
Rp69.205 pada Maret 2013 menjadi Rp69.
9.586 pada Juni 2013.
Sementara itu, sumbang
ngan inflasi ke-52 komoditas makanan yan
ang membentuk GKM
meningkat 0,22%. Penin
ningkatan tersebut terutama disumbang oleh
o
komoditas telur
ayam, beras dan cabe rawit.
ra
Oleh karena itu, GKM setelah di-inf
nflate meningkat tipis
dari Rp188.306 pada bulan
bu
Maret 2013 menjadi Rp188.723 pad
ada Juni 2013. Secara
total, peningkatan harga
ha
BBM tidak terlalu mempengaru
ruhi pergeseran GK.
Kajian Ekonomi Reg
gional Provinsi Jawa Timur
Triwulan II Tahun 2013

106

BAB V KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

GK bulan Juni 2013 meningkat dengan deviasi 0,77% dari GK Maret 2013, dari
Rp257.510 menjadi Rp259.502 (seperti yang ditunjukkan pada garis merah di Grafik 2).
Peningkatan GK sebagai dampak dari kenaikan harga BBM tersebut akan
menggeser penduduk yang rawan yang berada di sekitar garis kemiskinan. Dengan
asumsi jumlah penduduk terdistribusi merata pada setiap kelompok pengeluaran,
maka pada bulan Juni terdapat 5-10% penduduk pada kelompok pengeluaran
Rp257.511 s/d Rp299.999 yang bergeser statusnya, semula dikategorikan berada di atas
GK, namun saat ini menjadi berada di bawah GK.
Di sisi lain, pemerintah berupaya untuk meredam dampak kenaikan harga BBM
tersebut melalui pemberian kompensasi berupa Bantuan Langsung Sementara untuk
Masyarakat (BLSM) pada 15.530.897 Rumah Tangga Sasaran (RTS) di seluruh Indonesia.
Di Jawa Timur terdapat 2.857.469 RTS yang diberikan BLSM dengan nilai Rp.857,24
milyar (http://blsm.posindonesia.co.id/lap_prop.php), yang sebagian besar dialokasikan
di wilayah-wilayah tapal kuda, yaitu Jember, Banyuwangi, Probolinggo, Pasuruan,
Bojonegoro dan Malang. BLSM tersebut diberikan sejumlah Rp.150.000/kepala
keluarga per bulan selama tiga tahap pasca kenaikan harga BBM. Kompensasi BLSM
mampu menggeser GK setelah kenaikan BBM (garis merah) ke garis hijau sebesar
14,45%, yaitu dari Rp.259.502 menjadi Rp222.002 (grafik 2). Pada Juni 2013, penduduk
yang miskin yang berada di bawah garis kemiskinan akan turun 20-27%. Hal ini berarti
bahwa sebesar 20-27% penduduk rawan yang berada di kelompok pengeluaran
Rp.200.000-Rp.257.510 akan mengalami pergeseran status dari penduduk miskin
menjadi tidak miskin.
Pemberian kompensasi BLSM tersebut hanya bersifat temporer dalam
mengurangi kemiskinan termasuk di Jawa Timur pasca kenaikan harga BBM. Apabila
program ini tidak berlanjut di tahun 2014, diprediksi angka kemiskinan di Jawa Timur
akan meningkat. Oleh karena itu, BLSM perlu diiringi bantuan lainnya yang lebih
bersifat produktif dalam mendorong sektor-sektor ekonomi. Sehingga, pada saat shock
kebijakan dan dampak inflasi belum teredam, masyarakat masih memiliki daya beli
yang sustainable.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

107

Bab 6



PERKIRAAN EKONOMI DAN
HARGA

BAB VI PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA

PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA

6.1 PERKIRAAN PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TIMUR


Pada triwulan III 2013, pertumbuhan ekonomi Jatim diproyeksikan tumbuh pada
rentang pertumbuhan 6,95%7,15% (yoy). Perekonomian Jawa Timur triwulan ini
diperkirakan mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencatat
pertumbuhan pada level 6,97% (yoy).
Dari sisi permintaan, pertumbuhan perekonomian Jawa Timur masih ditopang oleh
tingkat konsumsi masyarakat, sebagaimana tercermin pada hasil survei konsumen.
Pertumbuhan konsumsi periode ini didorong oleh momentum bulan puasa dan Hari Raya
Idul Fitri di bulan Juli Agustus 2013. Selain itu, tibanya liburan tahun ajaran baru dan
cukup panjangnya cuti bersama selama lebaran turut mendorong konsumsi masyarakat,
khususnya pada sub sektor hotel dan restoran. Komponen terbesar selanjutnya, yaitu
investasi swasta (PMTB) diproyeksikan tumbuh stabil pada level tinggi seiring
meningkatnya optimisme pelaku usaha sebagaimana dikonfirmasi dari hasil Survei
Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) dan liaison Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV
(Jawa Timur).
Grafik 6.1
6.1
Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK)
160

Grafik 6.2
6.2
Indeks Ekspektasi Penghasilan

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK)

Indeks

170

Indeks Penghasilan Saat Ini

Indeks

Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE)

140

Indeks Ekspektasi Penghasilan Saat Ini

160

Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK)


150

120

140

100

130
80

120
60

110

40

100

20

90
80

0
I

II

III IV

2007

II

III IV

2008

II

III IV

2009

II

III IV

2010

II

III IV

2011

II

III IV

2012

II
2013

III

II

III IV

2007

II

III IV

2008

II

III IV

2009

II

III IV

2010

II

III IV

2011

II

III IV

2012

II

III

2013

Selanjutnya, dengan membaiknya indikator ekspor luar negeri Jatim pada


Tw II-2013, diharapkan tren ini masih berlanjut seiring meningkatnya permintaan di negara
tujuan baru seperti Asia, Timur Tengah dan Afrika. Selain itu, semakin dikenalnya beragam
produk unggulan Jatim, seperti bahan kimia organik, buah buahan tropis, furnitur dan
alas kaki, turut mempengaruhi tingkat permintaan dunia internasional, selain permintaan
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur
Triwulan II Tahun 2013

108

BAB VI PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA

untuk bahan baku industri, seperti bahan kimia cair, timah dan baja juga terus mengalami
peningkatan. Kembali meningkatnya kinerja impor bahan baku pada Tw II-2013 turut
mengkonfirmasi perbaikan kinerja sektor industri pengolahan. Hingga saat ini ketersediaan
bahan baku lokal diyakini masih belum dapat menggantikan kualitas bahan baku impor.
Secara keseluruhan, transaksi perdagangan luar negeri diperkirakan kembali mencatat nilai
net ekspor. Selain itu peningkatan perdagangan antar pulau Jatim untuk memenuhi
permintaan tibanya tahun ajaran baru terutama untuk Indonesia Bagian Timur juga
mendorong peningkatan ekspor Jatim. Selanjutnya, belanja pemerintah diperkirakan juga
mengalami peningkatan, mengikuti pola belanja yang terus meningkat hingga akhir tahun,
di samping faktor pendukung berupa membaiknya awareness pemerintah daerah tingkat
kab/kota terkait realisasi belanja APBD.
Di sisi penawaran, seiring meningkatnya permintaan dari luar pulau dalam
merespon lonjakan permintaan di masa tahun ajaran baru dan lebaran, kinerja sektor PHR
diperkirakan mengalami peningkatan. Meskipun perdagangan luar negeri Jatim mengalami
tekanan cukup dalam akibat pelemahan ekonomi Eropa, namun masih kuatnya
perdagangan dalam negeri Jatim diprediksi masih cukup baik untuk menyokong kinerja
sub sektor perdagangan besar Jatim. Sementara itu, kinerja industri pengolahan
diproyeksikan masih relatif stabil, seiring masih berlanjutnya permintaan dalam dan luar
negeri sebagai respon dari peningkatan impor bahan baku pada triwulan sebelumnya.
Sementara itu, beberapa daerah yang sudah berada dalam musim tanam diperkirakan
optimis mengalami peningkatan produktivitas dengan didukung perbaikan infrastruktur
irigasi yang telah dilakukan Dinas Pertanian se Jawa Timur guna mengejar target produksi
tahun ini. Sektor pendukung yang turut mengalami kenaikan diperkirakan adalah Sektor
Pengangkutan dan Komunikasi, Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan serta
Sektor Jasa-Jasa. Kondisi sektoral pada triwulan II 2013 ini searah dengan hasil Survei
Kegiatan Dunia Usaha KBI Surabaya yang menunjukkan optimisme pelaku usaha yang
dituangkan dalam nilai indeks estimasi realisasi usaha dan penggunaan tenaga kerja
sektoral tiga sektor utama.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

109

BAB VI PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA


Grafik 6.4
Estimasi Penggunaan Tenaga Kerja Tw III 2013
2013

Grafik 6.3
6.3
Estimasi Realisasi Usaha Tw III 2013
2013
TOTAL

40.00

PERTANIAN

INDUSTRI PENGOLAHAN

PHR

TOTAL
10

35.00

30.00

25.00

20.00

15.00

PERTANIAN

INDUSTRI PENGOLAHAN

PHR

%, SBT

10.00

-2

II

III IV

II

III IV

II

III IV

II

III IV

II II*

5.00

-4

0.00
-5.00

II III IV

II III IV

II III IV

II III IV

II III*

2009

2010

2011

2012

2013

-6
-8

-10.00
2009

2010

2011

2012

2013

-10

6.2 PERKIRAAN INFLASI JAWA TIMUR


Mencermati perkembangan inflasi terkini dan tracking beberapa indikator harga,
maka inflasi kota Jawa Timur pada Tw III-2013 diperkirakan secara tahunan (yoy) berada di
kisaran 8,20% s/d 8,50%.
Tabel 6.1 Tendensi Arah Inflasi dan Faktor Risiko
Faktor Risiko

Tw II-2013 Tw III-2013

Tw II-2013
- Musim hujan masih belum selesai sehingga panen tidak optimal
- Adanya gangguan produksi untuk telur dan cabe sehingga harga
meningkat
Tw III-2013
- Belum adanya penetapan pelaksanaan impor daging sapi untuk
memenuhi kekurangan pasokan lokal
- Produksi cabe sebagian dikirim kepada Provinsi lain
- Tingginya ekspektasi masyarakat terhadap kenaikan harga
sebagai dampak kenaikan BBM pada Juni 2013
- Masih berlanjutnya anomali cuaca
Tw II dan III 2013
- Berlanjutnya dampak kenaikan harga BBM khususnya pada tarif
angkutan dalam dan luar kota
- Masih adanya kenaikan tarif dasar listrik dan cukai rokok
- Tibanya Hari Raya Idul Fitri yang akan meningkatkan
penggunaan alat transportasi sehingga memicu inflasi sub
kelompok ini
Tw II-2013
- Masih berlanjutnya penurunan harga emas
- Penurunan ekspektasi masyarakat akan inflasi 6 bulan ke depan
Tw III-2013
- Penurunan rupiah secara bertahap
- Tingkat deflasi emas yang semakin kecil
- Dimulainya tahun ajaran pendidikan baru

Volatile Food

Administered
Price

Core Inflation

Menurun

Meningkat

Stabil

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

110

BAB VI PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA

Berdasarkan tabel di atas, tekanan inflasi pada Tw III-2013 dari ketiga kelompok
inflasi mengalami peningkatan yang lebih tinggi dibandingkan Tw II-2013 dengan ulasan
sebagai berikut :
1. Volatile Food
Adanya beberapa gagal panen seperti terjadi pada komoditas tembakau dan bawang
merah serta gagal pembibitan untuk komoditas cabe, menyebabkan tekanan inflasi
untuk kelompok ini masih cukup tinggi. Ditambah lagi dengan masih berlanjutnya
anomali cuaca di Jawa Timur yang akan mempengaruhi hasil panen. Selain itu,
terbatasnya produksi lokal daging sapi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat juga
menjadi potensi peningkatan inflasi.
2. Administered Price
Masih berlanjutnya kebijakan kenaikan Tarif Tenaga Listrik (TTL) serta adanya potensi
kenaikan cukai rokok menjadi pendorong utama meningkatnya inflasi kelompok ini
meskipun pada tingkat yang relatif lebih rendah dibandingkan akhir Tw II-2013
dimana Pemerintah meningkatkan harga BBM.
3. Core Inflation
Dari sisi fundamental, potensi dorongan inflasi inti diperkirakan berasal dari kelompok

non tradeable seiring meningkatnya kebutuhan di bidang pendidikan. Sedangkan dari


sisi kelompok tradeable, tekanan inflasi diperkirakan sedikit meningkat seiring dengan
pelemahan kurs Rupiah terhadap dollar yang mempengaruhi harga emas dunia.
Peningkatan TTL pada Tw III-2013 berpotensi direspon masyarakat dengan
peningkatan tarif sewa rumah serta kenaikan harga barang seiring dengan
peningkatan biaya produksi. Faktor penahan inflasi kelompok ini adalah rendahnya
tekanan dari output gap sebagai dampak telah berlalunya masa Hari Raya Idul Fitri.
Para produsen diproduksi mulai meningkatkan kapasitas produksi pada akhir
Tw III-2013 untuk memenuhi tingginya permintaan pada akhir tahun seiring dengan
tibanya moment Natal dan Tahun Baru.

6.3
6.3 PROSPEK PERBANKAN JAWA TIMUR
Pada triwulan III 2013, kinerja industri perbankan di Jawa Timur diperkirakan sedikit
mengalami perbaikan. Struktur dan pondasi sistem perbankan yang cukup baik
diperkirakan masih dapat terjaga terutama ditopang oleh peningkatan fungsi intermediasi
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur
Triwulan II Tahun 2013

111

BAB VI PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA

oleh perbankan. Pelonggaran suku bunga disertai penyusunan strategi pengembangan


usaha yang tepat oleh perbankan diharapkan mampu meningkatkan peran sektor
perbankan untuk mendorong perekonomian daerah.
Selanjutnya, pertumbuhan kredit oleh perbankan pada triwulan III 2013 diperkirakan
mengalami peningkatan, bahkan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tahun
sebelumnya. Tren penurunan suku bunga perbankan diharapkan mampu mendorong
pertumbuhan kredit, khususnya pada sektor produktif, namun dalam batas pertumbuhan
yang terjaga. Sektor ekonomi andalan Jatim seperti sektor perdagangan, sektor industri
pengolahan, sektor konstruksi serta sektor transportasi dan komunikasi pertanian masih
menjadi sektor unggulan bagi perbankan untuk dibiayai. Disamping itu, kredit konsumsi
juga diperkirakan masih tetap tumbuh stabil.
6.4
6.4 PROSPEK EKONOMI JAWA TIMUR TAHUN 2013
Di sepanjang tahun 2013, pertumbuhan ekonomi Jatim diproyeksikan tumbuh
pada rentang 6,70% s.d 6,90% (yoy), ), lebih rendah dari angka perkiraan sebelumnya di
kisaran 7,00% s.d 7,25%. Perkiraan pertumbuhan ekonomi Jatim tahun 2013 ini masih
lebih rendah dibandingkan tahun 2012 (7,27% - yoy), namun pertumbuhan ini diyakini
masih yang tertinggi dibandingkan provinsi lainnya di Pulau Jawa.
Dari sisi permintaan, masih tingginya konsumsi masyarakat seiring meningkatnya
proporsi usia produktif di Jawa Timur masih menjadi pendorong utama pertumbuhan
ekonomi Jatim. Sementara itu, berbagai upaya pemerintah melalui perbaikan infrastruktur,
penyederhanaan birokrasi pengajuan izin usaha serta upaya peningkatan kerjasama
investasi melalui kunjungan antar negara/daerah diharapkan dapat terus mendorong minat
investor asing dan dalam negeri. Selanjutnya, optimisme pengusaha akan perbaikan kinerja
ekspor luar negeri Jatim dengan berbagai strategi perusahaan dan pemerintah diharapkan
terus mengalami perbaikan, khususnya dengan adanya insentif pemerintah untuk
mengembangkan produk hortikultura dan pertanian organik di beberapa sentra produksi
Jatim.
Di sisi permintaan, masih tingginya konsumsi masyarakat seiring meningkatnya
proporsi usia produktif di Jawa Timur masih menjadi pendorong utama pertumbuhan
ekonomi Jatim. Selain itu, adanya momentum PILKADA pada Agustus 2013 diperkirakan
turut mendorong pertumbuhan ekonomi Jatim baik dari konsumsi rumah tangga maupun
pemerintah. Namun demikian, konsumsi barang tahan lama khususnya kendaraan
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur
Triwulan II Tahun 2013

112

BAB VI PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA

bermotor roda

empat menjadi sedikit

tertahan

pasca pemberlakuan kebijakan

pengurangan subsidi BBM di pertengahan Juni 2013. Sementara itu, berbagai upaya
pemerintah melalui perbaikan infrastruktur, penyederhanaan birokrasi pengajuan izin
usaha serta upaya peningkatan kerjasama investasi melalui kunjungan antar negara/daerah
diharapkan dapat terus mendorong minat investor asing dan dalam negeri. Selanjutnya,
optimisme pengusaha akan perbaikan kinerja ekspor luar negeri Jatim dengan berbagai
strategi perusahaan dan pemerintah diharapkan terus mengalami perbaikan, khususnya
dengan adanya insentif pemerintah untuk mengembangkan produk hortikultura dan
pertanian organik di beberapa sentra produksi Jatim. Mencermati perkembangan sektor
industri pengolahan yang diperkirakan mengalami peningkatan pada triwulan III dan stabil
tinggi di triwulan IV, yang dipicu oleh meningkatnya konsumsi domestik dengan berbagai
momentum perayaan keagamaan akan mempengaruhi perbaikan transaksi impor luar
negeri terutama untuk intermediate goods yang menjadi bahan baku sektor industri
pengolahan. Secara keseluruhan, transaksi perdagangan luar negeri diperkirakan kembali
mencatat nilai net ekspor. Indikator berikutnya yaitu belanja modal pemerintah
berdasarkan data rencana APBD 2013 diperkirakan mengalami peningkatan dengan
didukung membaiknya awareness pemerintah daerah tingkat kab/kota.
Di sisi penawaran, dengan strategi penambahan Kantor Perwakilan Dagang oleh
Pemprov Jatim ke seluruh Indonesia, diperkirakan kinerja subsektor perdagangan
mengalami perbaikan. Meningkatnya kebutuhan masyarakat dalam kegiatan wisata turut
mendorong kinerja subsektor hotel dan restoran, ditambah dengan meningkatnya peranan
Kota Surabaya sebagai sub hub ke Indonesia Timur yang terindikasi dari bertambahnya
jumlah hotel kelas bisnis di Surabaya. Optimisme pelaku usaha sektor industri pengolahan
yang tercermin melalui berbagai survei diharapkan terus berlanjut hingga akhir tahun,
dengan didorong berbagai insentif pemerintah melalui peningkatan peran serta usaha
mikro, kecil dan menengah di Jatim. Adanya pergeseran musim diharapkan tidak signifikan
mempengaruhi kinerja sektor pertanian dengan didukung telah diselesaikannya beberapa
proyek irigasi serta tersedianya debit air di waduk pada level tinggi diharapkan mendorong
kinerja sektor pertanian tahun ini. Sementara itu, secara keseluruhan pertumbuhan sektor
lainnya relatif stabil.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

113

BAB VI PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA

6.5
6.5 PROSPEK INFLASI JAWA TIMUR TAHUN 2013
Tingginya tekanan harga komoditas hortikultura pada Tw I-2013 telah dapat
kembali normal pada Tw II-2013. Meskipun terdapat tekanan pada Tw III-2013, namun
tekanan tersebut hanya merupakan dampak dari tingginya permintaan masyarakat
sehubungan dengan banyaknya hari raya keagamaan dan bukan karena faktor produksi
maupun permasalahan impor. Tekanan inflasi sampai dengan akhir tahun 2013, diproyeksi
bersumber dari kelompok administered price sebagai dampak kenaikan harga BBM, tarif
listrik serta cukai rokok. Dengan demikian inflasi Jatim pada tahun 2013 diperkirakan
secara tahunan berada di kisaran 8,30% s/d 8,60%.
Tabel 6.2 Tendensi Arah Inflasi dan Faktor Risiko
Th. 2012

Faktor Risiko

Th. 2013

Th. 2013
- Impor hortikultura lancar sehingga anomali kenaikan harga
seperti di awal tahun 2013 bisa dihindari
- Bulog mampu menjaga stok beras sehingga memastikan
kecukupan ketahanan pangan Jawa Timur
- Anomali cuaca (musim hujan) berkelanjutan
- Rendahnya produksi daging sapi dibandingkan dengan
pertumbuhan konsumsinya
- Tata niaga komoditas hortikultura yang belum baik
menyebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan melalui pasokan
lokal

Volatile Food

Th. 2013
- Kenaikan harga BBM di tengah tahun masih mempengaruhi
proses pembentukan harga s.d. akhir tahun
- Masih adanya kenaikan tarif dasar listrik dan cukai rokok yang
berkelanjutan
- Adanya Hari Natal dan Tahun Baru di akhir 2013 memicu
peningkatan tarif transportasi sehingga meningkatkan inflasi
kelompok ini
Th. 2013
- Berlanjutnya penurunan harga emas walaupun semakin mengecil
karena depresiasi Rupiah
- Relatif stabilnya harga komoditas internasional
- Membaiknya ekspektasi masyarakat akan kondisi usaha Jawa
Timur

Administered
Price

Core Inflation

Menurun

Meningkat

Stabil

Hasil panen pada tahun 2013 belum mencapai titik optimalnya karena adanya
anomali cuaca (kemarau basah) yang berlangsung sepanjang tahun sehingga beberapa
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur
Triwulan II Tahun 2013

114

BAB VI PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA

komoditas mengalami gagal panen atau panen tetapi tidak optimal. Anomali cuaca
tersebut juga menjadi pertimbangan petani untuk melakukan penanaman sehingga
beberapa komoditas mengalami penundaan masa tanam. Selain mempengaruhi
produktivitas komoditas hortikultura, anomali cuaca juga berpengaruh terhadap produksi
telur, susu dan hasil-hasilnya. Mulai dibukanya keran impor untuk komoditas daging sapi
diharapkan dapat meminimalkan shortage permintaan daging dengan tingkat produksinya,
sehingga diproyeksi pada akhir tahun 2013, tingkat inflasi untuk kelompok volatile food
relatif stabil.
Berbeda dengan volatile food, kelompok administered price diproyeksi mengalami
peningkatan seiring dengan masih berlanjutnya kenaikan TTL, cukai rokok dan transportasi
di akhir tahun. Dari sisi fundamental, potensi dorongan inflasi inti diperkirakan berasal dari
kelompok tradeable yang berasal dari kelompok perumahan dan pendidikan, meskipun di
sisi lain tren pelemahan harga emas dunia (walaupun semakin berkurang) dapat menahan
laju inflasi di kelompok ini. Cukup baiknya eskpektasi para pelaku usaha akan kondisi
perekonomian Jawa Timur, diimbangi dengan peningkatan kapasitas utilisasi produksi
sehingga dapat meminimalkan terjadinya output gap dan mendukung stabilnya inflasi
kelompok ini sampai dengan akhir tahun 2013.

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

115

DAFTAR ISTILAH

DAFTAR ISTILAH
Administered price
Harga barang yang diatur oleh pemerintah, misalnya harga bahan bakar minyak dan tarif dasar
listrik

APBD
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Rencana keuangan tahunan pemerintah daerah
yang dibahas dan setujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD dan ditetapkan dengan
perauran daerah

BI Rate
Suku bunga referensi kebijakan moneter dan ditetapkan dalam Rapat Dewan Gubernur setiap
bulannya

BI--RTGS
BI
Bank Indonesia Real Time Gross Settlement, yang merupakan suatu penyelesaian kewajiban
bayar-membayar (settlement) yang dilakukan secara on-line atau seketika untuk setiap instruksi
transfer dana

Bobot inflasi
Besaran yang menunjukkan pengaruh suatu komodias terhadap tingkat inflasi secara
keseluruhan yang diperhitungkan dengan melihat tingkat konsumsi masyarakat terhadap
komoditas tersebut

Dana Pihak Ketiga (DPK)


Simpanan pihak ketiga bukan bank yang terdiri dari giro, tabungan dan simpanan berjangka

Ekspor dan Impor


Dalam konteks PDRB adalah mencakup perdagangan barang dan jasa antar negara dan antar
provinsi

Faktor Fundamental
Faktor pendorong inflasi yang dapat dipengaruhi oleh kebijakan moneter, yakni interaksi
permintaan-penawaran atau output gap, eksernal serta ekspektasi inflasi masyarakat

Fakor Non Fundamental


Faktor pendorong inflasi yang berada di luar kewenangan otoritas moneter, yakni produksi
maupun distribusi bahan pangan (volatile foods) serta harga barang/jasa yang ditentukan oleh
pemerintah (adminisered price)

Financing tto Deposit Ratio (FDR) aau Loan to Deposit


Deposit Ratio (LDR)
Rasio pembiayaan atau kredit terhadap dana pihak ketiga yang diterima oleh bank, baik dalam
rupiah dan valas. Terminologi FDR unuk bank syariah, sedangkan LDR untuk bank konvensional

Imported inflation
Salah satu disagregasi inflasi, yaitu inflasi yang berasal dari pengaruh perkembangan harga di
luar negeri (eksternal)

Indeks Ekspektasi Konsumen


Salah satu pembentuk IKK, indeks yang menunjukkan level keyakinan konsumen terhadap
ekspektasi kondisi ekonomi 6 bulan mendatang dengan skala 1 100

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

DAFTAR ISTILAH

Indeks Kondisi Ekonomi


Salah satu pembentuk IKK, indeks yang menunjukkan level keyakinan konsumen terhadap
kondisi ekonomi saa ini dengan skala 1 100

Indeks Keyakinan Konsumen


Indeks yang menunjukkan level keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dan
ekspektasi kondisi ekonomi enam bulan mendatang dengan skala 1 100

Inflasi IHK
Kenaikan harga barang dan jasa dalam satu periode yang diukur dengan perubahan indeks
harga konsumen (IHK), yang mencerminkan perubahan harga barang dan jasa yang dikonsumsi
oleh masyarakat luas

Inflasi Inti
Inflasi IHK setelah mengeluarkan komponen volatile foods dan administered prices

Inflow
Uang yang diedarkan aliran masuk uang kartal ke Bank Indonesia

Investasi
Kegiatan meningkatkan nilai tambah suatu kegiatan produksi

Kredit
Penyediaan uang atau tagihan yang sejenis, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjammeminjam antara Bank dengan pihak lain yang mewajibkan peminjam untuk melunasi
hutangnya setelah jangka waktu tertenttu dengan pemberian bunga, termasuk
Pembelian surat berharga nasabah yang dilengkapi dengan note purchase agreement
(NPA)
Pengambilan tagihan dalam rangka kegiatan anjak piutang

Liaison
Kegiatan pengumpulan data/statistik dan informasi yang bersifat kualitatif dan kuantitatif yang
dilakukan secara periodik melalui wawancara langsung kepada pelaku ekonomi mengenai
perkembangan dan arah kegiatan ekonomi dengan cara yang sistematis dan didokumentasikan
dalam bentuk laporan

Mtm
Month to month. Perbandingan antara data satu bulan dengan bulan sebelumnya

Net Inflow
Uang yang diedarkan inflow lebih besar dari outflow
Non Performing Financing (NPF) atau Non Performing Loan (NPL)
Rasio pembiayaan atau kredit macet terhadap otal penyaluran pembiayaan atau kredit oleh
bank, baik dalam rupiah dan valas, Terminologi NPF dan pembiayaan untuk bank syariah,
sedangkan NPL dan kredit untuk bank konvensional.Kriteria NPF atau NPL adalah (1) kurang
lancar, (2) diragukan dan (3) macet

Omset
Nilai penjualan bruto yang diperoleh dari satu kali proses produksi

Outflow
Outflow
Aliran keluar uang kartal dari Bank Indonesia

Pendapatan Asli Daerah (PAD)


Pendapatan yang diperoleh dari aktivitas ekonomi suatu daerah seperti hasil pajak daerah,
restribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur
Triwulan II Tahun 2013

DAFTAR ISTILAH

Qtq
Quarter to quarter. Perbandingan anara data satu triwulan dengan triwulan sebelumnya

Sektor Ekonomi Dominan


Sektor ekonomi yang mempunyai nilai tambah besar sehingga mempunyai pengaruh dominan
pada pembenttukan PDRB secara keseluruhan

Volatile Food
Salah satu disagregasi inflasi, yaitu untuk komoditas yang perkembangan harganya sanga
bergejolak karena faktor-faktor tertentu

Yoy
Year on year. Perbandingan antara daa sau tahun dengan tahun sebelumnya

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

DAFTAR SINGKATAN

DAFTAR SINGKATAN
APBD
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

BBM
Bahan Bakar Minyak

BOPO
Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional

BPS
Badan Pusat Statistik

IHK
Indeks Harga Konsumen

IKK
Indeks Keyakinan Konsumen

KPR
Kredit Pemilikan Rumah

LDR
Loan to Deposit Ratio

LTV
Loan to Value

NIM
Net Interest Margin

NPF
Non Performing Financing

NPL
Non Performing Loan

PHR
Perdagangan, Hotel dan Restoran

PLN
Perusahaan Listrik Negara

PMA
Penanaman Modal Asing

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013

DAFTAR SINGKATAN

PMDN
Penanaman Modal Dalam Negeri

PMTB
Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto
Q-t- Q
Quarter to quarter

RBB
Rencana Bisnis Bank

Yoy
Year on year

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur


Triwulan II Tahun 2013