Anda di halaman 1dari 231

BAB I

DASAR - DASAR IRIGASI

A. TUJUAN STRUKSIONAL KHUSUS (TM)


Adapun yang menjadi tujuan instruksional khusus dalam bab ini adalah bahwa
setelah mengikuti kuliah, mahasiswa akan dapat :
1. Menjelaskan pengertian dan tujuan irigasi
2. Menjelaskan pengaruh iklim, siklus air dan topografi
3. Menjelaskan kaitan saluran irigasi dan drainase
4. Menjelaskan satuan air dalam irigasi
5. Menjelaskan pembagian daerah irigasi.
Dalam bab ini mahasiswa diharapkan mengikuti materi kuliah dengan memiliki
literatur pokok yaitu Bahan Ajar Irigasi I, Kriteria Perencanaan Irigasi (KP), Petunjuk
Perencanaan Irigasi serta literatur lain yang berkaitan dengan materi materi yang dibahas
dalam perkuliahan ini serta dalam perkuliahan menggunakan metode ceramah dan tanya
jawab serta pembahasan soal - soal.

B. PENDAHULUAN
Sebagaimana halnya penduduk dunia yang meningkat terus, kebutuhan makanan
dan bahan-bahan sandang untuk masyarakat juga akan meningkat. Masyarakat yang
mempunyai pengetahuan tentang irigasi akan ditantang untuk mencari penyelesaian
masalah kebutuhan makanan dan bahan - bahan sandang tersebut. Air harus harus
disediakan untuk tanah yang lebih luas, tanah yang tandus menjadi sangat produktif
apabila ada air irigasi. Produktivitas tanah yang sekarang menghasilkan makanan dan
bahan-bahan sandang yang mengandalkan curah hujan alamiah secara umum dapat
ditingkatkan secara bermakna dengan pemakaian air irigasi.
Irigasi adalah kegiatan-kegiatan yang bertalian dengan usaha mendapatkan air
untuk sawah, ladang, perkebunan dan lain-lain usaha pertanian, dan dalam tujuan irigasi
dibahas tujuan irigasi secara langsung adalah membasahi tanah dan tujuan irigasi secara
tidak langsung mencakup antara lain : mengatur suhu, membersihkan, memberantas hama,
mempertinggi permukaan air tanah, penggelontoran dan kolmatasi.

Pengaruh iklim, siklus air dan topografi mambahas pengaruh iklim yang berkaitan
dengan suhu udara dan suhu udara berpengaruh pada penguapan dan transpirasi yang
membahas pengaruh siklus air yang memberikan gambaran tentang prosesnya air di alam
mengalami penguapan karena faktor angin dan panas matahari, uap tersebut membubung
tinggi ke atas sampai pads titik tertentu mengalami penggumpalan air berupa awan, karena
tebal, luas dan berat maka gumpalan air berupa awan itu jatuh dalam bentuk hujan jatuh ke
bumi, tanaman laut, sungai dan danau ada yang bermuara pada areal baru sehingga terjadi
penguapan pula, sehingga proses ini berlangsung terus sepanjang waktu dalam kurun
waktu tak terhingga, dan terakhir pengaruh topografi yaitu pengaruh tinggi rendahnya
permukaan tanah terhadap daerah yang memberikan keuntungan atau kerugian bagi
masyarakat penghuni daerah tersebut.
Dalam kaitan saluran irigasi dengan saluran drainase disini dibahas tentang fungsi
saling menunjang dan berkaitan tetapi di dalam proses perencanaannya ditentukan oleh
faktor atau dasar asumsi yang berbeda.
Satuan air kolam irigasi dibahas tentang tebal air, volume air, debit air dan satuan
air yang digunakan oleh negara lain. Pembagian daerah irigasi disini membahas tentang
pembagian suatu daerah irigasi dari petak-petak yang lebih besar ke petak-petak yang lebih
kecil seperti : petak primer yang merupakan petak terbesar, petak sekunder, petak tersier
sampai petak kwarter yang merupakan petak terkecil.

D. POKOK MATERI
1.1. PENGERTIAN DAN TUJUAN .IRIGASI
1. Pengertian Irigasi.
Yang dimaksud dengan istilah irigasi adalah kegiatan - kegiatan yang bertalian dengan
usaha mendapatkan air untuk sawah, ladang, perkebunan dan lain-lain usaha pertanian,
rawa - rawa, perikanan. Usaha tersebut terutama menyangkut pembuatan sarana dan
prasarana untuk membagi-bagikan air ke sawah-sawah secara teratur dan membuang air
kelebihan yang tidak diperlukan lagi untuk memenuhi tujuan pertanian. Masih sering kita
jumpai istilah irigasi ini diganti dengan istilah "Pengairan". Untuk sementara istilah irigasi
kita anggap punya pengertian yang sama dengan istilah pengairan.

2. Tujuan Irigasi
Dalam tujuan irigasi dibahas : tujuan irigasi secara langsung dan secara tidak langsung.
a. Tujuan irigasi secara langsung
Tujuan irigasi secara langsung adalah membasahi tanah, agar dicapai suatu kondisi
tanah yang baik untuk pertmbuhan tanaman dalam hubungannya dengan prosentase
kandungan air dan udara diantara butir-butir tanah. Pemberian air dapat juga
mempunyai tujuan sebagai pengangkut bahan-bahan pupuk untuk perbaikan tanah.
b. Tujuan irigasi secara tidak langsung
Tujuan irigasi secara tidak langsung adalah pemberian air yang dapat menunjang usaha
pertanian melalui berbagai cara antara lain :
1. Mengatur suhu tanah, misalnya pada suatu daerah suhu tanah terlalu tinggi dan
tidak sesuai untuk pertumbuhan tanaman maka suhu tanah dapat disesuaikan
dengan cara mengalirkan air yang bertujuan merendahkan suhu tanah.
2. Membersihkan tanah, dilakukan pada tanah yang tidak subur akibat adanya unsurunsur racun dalam tanah. Salah satu usaha misalnya penggenangan air di sawah
untuk melarutkan unsur-unsur berbahaya tersebut kemudian air genangan dialirkan
ketempat pembuangan.
3. Memberantas hama, sebagai contoh dengan penggenangan maka Jiang tikus bisa
direndam dan tikus keluar, lebih mudah dibunuh.
4. Mempertinggi permukaan air tanah, misalnya dengan perembesan melalui dindingdinding saluran, permukaan air tanah dapat dipertinggi dan memungkinkan
tanaman untuk mengambil air melalui akar-akar meskipun permukaan tanah tidak
dibasahi.
5. Membersihkan buangan air kota (penggelontoran), misalnya dengan prinsip
pengenceran karena tanpa pengenceran tersebut air kotor dari kota akan
berpengaruh sangat jelek bagi pertumbuhan tanaman.
6. Kolmatasi, yaitu menimbun tanah-tanah rendah dengan jalan mengalirkan air
berlumpur dan akibat endapan lumpur tanah tersebut menjadi cukup tinggi
sehingga genangan yang terjadi selanjutnya tidak terlampau dalam kemudian
dimungkcinkan adanya usaha pertanian.

1.2. PENGARUH IKUM, SIKLUS AIR DAN TOPOGRAFI


1. Pengaruh iklim
Iklim mempunyai kaitan dengan suhu udara dan suhu udarapunya pengaruh pada
evaporasi dan transpirasi. Terjadinya perbedaan suhu udara merupakan salah satu
sebab terjadinya angin dan angin tersebut berpengaruh pula pada laju penguapan.
Di Indonesia dikenal dua musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan,
dengan ciri utama banyak hujan pada musim penghujan dan jarang hujan pada
musim kemarau.
2. Pengaruh Siklus Air
Hidrologi telah memberitahukan adanya siklus. Kita membutuhkan air
untuk mengairi tanaman dengan kualitas dan kuantitas yang sesuai menurut
kebutuhan tanaman agar berproduksi maksimum pada waktu yang diharapkan.
Sayanglah adanya bahwa sirkulasi air yang berlangsung tidak merata dan
distribusi air di alam tidak berlangsung sesuai kebutuhan tanaman ditiap-tiap
daerah pertanian.
Ketidakmerataan sirkulasi air itu menimbulkan persoalan-persoalan bagi
pemakai air termasuk para petani. Pada suatu saat petani bisa mendapat air yang
berlebihan sampai mengganggu usaha pertanian, tetapi pada saat lain bisa sangat
kekurangan air sehingga tanaman tidak bisa tumbuh dengan baik. Pada daerah
tertentu bahkan terjadi banjir pada musim penghujan dan dilanda bahaya
kekurangan air pada musim kemarau.
Siklus air ini dimulai dari penguapan pada daratan, sungai, danau dan
lautan, uap air ini membumbung tinggi pada ketinggian tertentu air itu
menggumpal menjadi gumpalan awan, dalam kurun waktu tertentu suhu semakin
rendah gumpalan awan menjadi tebal dan berat maka karena sinar matahari awan
itu jatuh berupa hujan yang diterpa angin kemudian jatuh di bumi melalui darat,
sungai, danau, laut terus masuk ketanah sebagian sebagai limpasan kemudian air
ini kemabali menguap dan selanjutnya berputar tak henti-hentinya sehingga
merupakan siklus yang tak pernah berhenti.

Gambar I.1 Siklus Air

3. Pengaruh Topografi
Topografi daerah seringkali kurang menguntungkan. Hujan yang jatuh
airnya sebagian mengalir dipermukaan menuju tempat yang rendah bahkan
akhirnya sebagian besar air hujan berada pada tempat-tempat yang lebih rendah
dari permukaan tanah daerah sekitarnya. Apabila pada suatu saat suatu daerah
kekurangan air terpaksa berpaling pada air pada tempat-tempat yang rendah
tersebut. Jadi pada suatu saat petani bisa diganggu air berlebihan dan perlu
memikirkan saluran drainase pada saat lain bisa kekurangan air dan perlu
memikirkan saluran pemberi untuk mengalirkan air ke tempat yang
membutuhkan, tetapi karena sebagian besar air berada pada tempat yang rendah
maka umumnya ada masalah tenaga untuk mengalirkan air tersebut.

1.3. KAITAN SALURAN IRIGASI DAN SALURAN DRAINASE


Irigasi dan drainase di Indonesia hampir selalu mempunyai fungsi saling
rnenunjang dalam usaha mencapai hasil optimum dalam bidang pertanian. Penetapan suatu
jaringan pemberi perlu mengingat kaitannya dengan jaringan drainase, dan pada kondisi
yang tidak memaksa maka jaringan pemberi dan jaringan drainase perlu dibuat terpisah
walaupun memiliki fungsi saling menunjang dalam usaha pelayanan kebutuhan pertanian.
Saluran irigasi yang berfungsi ganda sebagai saluran pemberi dan saluran drainase
akan menimbulkan kesulitan - kesulitan pengoperasian dan saluran lebih cepat rusak. Juga
mengingat dasar penentuan kapasitas antara saluran pemberi dan saluran drainase memang
berbeda maka baik saluran maupun bangunan-bangunan yang mempunyai fungsi ganda itu
menjadi sukar perhitungannya dan mahal biaya pembuatannya. Jadi pada keadaan umum
sebagai prinsip dikehendaki adanya jaringan irigasi tersendiri dan jaringan drainase
tersendiri.
Saluran drainase ditentukan berdasar jumlah air pada suatu daerah yang harus
dibuang dalam waktu tertentu, sedangkan saluran pemberi ditentukan berdasar kebutuhan
maksimum untuk tanaman dengan memperhatikan adanya koefisien-koefisien kehilangan
air. Selanjutnya istilah saluran irigasi kits anggap punya pengertian sebagai saluran
pemberi, bahkan kata saluran umumnya dapat berarti pula sebagai saluran pemberi dalam
konteks pembicaraan lebih lanjut. Maka untuk saluran drainase selalu ditegaskan dengan
lengkap, saluran drainase atau saluran pembuangan.

1.4. SATUAN AIR DALAM IRIGASI


1.

Tebal Air yang dinyatakan dalam nun,cm atau m, misal suatu jenis tanaman pads
suatudaerah membutuhkan 20 kali penyiraman sampai saat dipanen dan tiap kali
penyiraman 5 mm. Hal ini berarti bahwa sampai saat panen air yang dibutuhkan
untuk 20 kali penyiraman tersebut setebal 20 x 5 mm = 100 mm. Untuk tiap ha
tanaman dibutuhkan air 100 mm x 10.000 m2 = 1000 m3.

2.

Volume Air untuk sate jenis tanaman tertentu selama masa tanam. Misal untuk satu
tanaman selama masa tanam dibutuhkan air a m3, maka apabila kita punya waduk
lapangan berisi air V m3 dan kehilangan air diperhitungkan b m3 berarti jumlah
tanaman yang bisa diairi dari waduk itu = (V-b)/a batang.

3.

Satuan Debit Air yang menyatakan debit air untuk melayani suatu satuan luas.

4.

Umumnya

dinyatakan

dalam

satuan

liter/detik/hektar

atau

dalam

satuan

m3/detik/hektar. Cara ini hampir selalu dipakai dalam perhitungan-perhitungan untuk


menetapkan dimensi saluran baik saluran pemberi maupun saluran drainase.
Seringkali perhitungan kebutuhan air dengan satuan-satuan lain perlu diubah ke
dalam satuan ini supaya rumus-rumus yang menggunakan debit sebagai parameter
dapat diselesaikan dengan mudah.
5.

Duty of Water, Merupakan luas areal yang dapat diairi oleh debit tertentu. Satuan ini
dinamai " duty of water". Misalnya untuk suatu jenis tanaman tertentu pada suatu
areal dty of water = A acres. Negara yang sering menggunakan satuan ini misalnya
USA, dan debit umumnya dinyatakan dalam second foot atau cusec. Duty of water A
acres berarti debit aliran 1 cusec dapat melayani areal seluas a acres. Untuk merubah
ke dalam satuan metrik 1 cusec = 28,3 liter/det dan 1 acre = 4047 m2. Yang dimaksud
1 cusec adalah debit sebesar 1 ft3/detik.

1.5. PEMBAGIAN DAERAH IRIGASI


Pembagian suatu daerah irigasi ke dalam petak-petak lebih kecil.
1. Petak Primer adalah saluran induk yang mengambil air langsung dari bangunan
penangkap air, misalnya bendung pada sungai. Daerah pengairan yang dilayani saluran
induk ini merupakan suatu kesatuan daerah irigasi yang disebut petak primer. Saluransaluran sekunder mengambil air dari saluran induk (saluran primer) dan melayani
sebagian daerah petak primer.
2. Petak Sekunder adalah petak irigasi yang mengambil / memperoleh air dari saluran
sekunder.
3. Petak Tersier adalah petak irigasi yang lebih kecil dari petak sekunder yang mengambil
air dari bangunan bagi pada saluran sekunder maupun pada saluran.
4. Petak kwarter
Cabang-cabang saluran tersier ini merupakan saluran-saluran kwarter dan melayani
petak-petak kwarter. Dalam suatu daerah irigasi, pembagian daerah ke dalam petak petak lebih kecil dengan makdud mencapai pembagian daerah yang ideal untuk
menunjang pengelolaan air yang efektif tidak selalu mudah berhubung keadaan daerah
yang sudah punya batas-batas alam dan kerap kali batas-batas alam tersebut kurang
teratur. Maka untuk maksud pembagian daerah secara baik kerap kali dibuat saluran
sub sekunder yang melayani petak sub sekunder, saluran sub tersier yang melayani

petak sub tersier dan saluran sub kwarter yang melayani petak sub kwarter. Saluran
kwarter dalam pembicaraan irigasi Bering juga disebut saluran distribusi. Pengelolaan
air pada tingkat tersier pada umumnya dilakukan oleh petani sendiri, dan kontrol yang
dilakukan pemerintah umumnya masih terbatas pada saluran sekunder keudik, meliputi
saluran primer dan bangunan penangkap airnya.
Pada beberapa petek tersier percontohan pemerintah membantu petani mengatur
penggunaan air pada tingkat tersier dengan maksud hasil-hasil yang baik dapat ditiru di
tempat lain. Demikian pula untuk beberapa daerah pemerintah telah membuat
perencanaan teknis sampai tingkat tersier.

D. EVALUASI
1.

Apakah yang dimaksud dengan irigasi ? Jelaskan !

2.

Coba sebutkan tujuan irigasi secara tidak langsung ? Jelaskan !

3.

Gambarkanlah siklus air dengan lengkap, sehingga menggambarkan suatu siklus


yang tak pernah putus !

4.

Apa yang menentukan di dalam merencanakan saluran irigasi dan drainase ? Jelaskan
!

5.

Apa yang dimaksud dengan satuan debit air ? Jelaskan!

6.

Apa perbedaan antara petak primer dengan petak sekunder ? Jelaskan !

7.

Siapakah yang mengelola air pada tingkat tersier ? Jelaskan !

BAB II
KEBUTUHAN AIR DAN PENGELOLAAN AIR IRIGASI

A. TUJUAN STRUKSIONAL KHUSUS (TM)


Adapun yang menjadi tujuan instruksional khusus dalam bab ini adalah bahwa setelah
mengikuti kuliah, mahasiswa akan dapat :
1. Menjelaskan pengertian dan tujuan pemberian air irigasi berdasarkan kebutuhan air
2. Menjelaskan tentang evaporasi, transpirasi dan evapotanspirasi.
3. Menjelaskan tentang kebutuhan air tanaman serta kehilangan air akibat penguapan.
4. Menghitung besarnya kebutuhan air yang digunakan serta kehilangan air akibat penguapan
5. Menghitung besarnya areal sawah ideal yang dapat diairi dengan sistem rotasi maupun
pemberian air secara sekaligus dengan memperhatikan cara cara pemberian air yang
efektif serta effisien.
Dalam bab ini mahasiswa diharapkan mengikuti materi kuliah dengan memiliki
literatur pokok yaitu Bahan Ajar Irigasi I, Kriteria Perencanaan Irigasi (KP), Petunjuk
Perencanaan Irigasi serta literatur lain yang berkaitan dengan materi materi yang dibahas
dalam perkuliahan ini serta dalam perkuliahan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab
serta pembahasan soal - soal.

B. PENDAHULUAN
Pemberian air irigasi pada tanaman dipengaruhi ketersediaan air pada sumber air di
lokasi calon pelaksanaan pekerjaan irigasi serta besarnya kehilangan air yang tergantung pada
kondisi iklim dimana lokasi bangunan air akan direncanakan, baik penyinaran matahari,
tingkat kelembaban udara, kecepatan angin serta besarnya temperatur udara yang terjadi serta
pola tanam dan besarnya kebutuhan air tanaman sendiri. Perencanaan kebutuhan air harus
dilakukan dengan memperhatikan faktor faktor yang mempengaruhi pemberian air irigasi
dan kehilangan air selama pemberian agar nantinya air tidak banyak terbuang sehingga luasan
areal irigasi dapat terairi secara lebih optimal.

C.

POKOK MATERI

2.1 Kebutuhan Air Di Sawah untuk Padi


Kebutuhan air di sawah untuk padi ditentukan oleh faktor faktor berikut :
1. Penyiapan lahan.
2. Penggunaan konsumtif
3. Perkolasi dan rembesan
4. Pergantian lapisan air
5. Curah hujan efektif
Kebutuhan total air (GFR) mencakup faktor 1 sampai dengan 4, kebutuhan air bersih di sawah
(NFR) juga memperhitungkan curah hujan efektif. Kebutuhan air di sawah dinyatakan dalam
mm/hari atau lt/dtk.ha. Effiensi juga dicakup dalam memperhitungkan kebutuhan pengambilan
irigasi (m3/Dtk).

2.2 Penyiapan Lahan


Kebutuhan air untuk penyiapan lahan umumnya menentukan kebutuhan maksimum air irigasi
pada suatu proyek irigasi. Faktor faktor yang penting yang menentukan besarnya kebutuhan
air untuk penyiapan lahan adalah :
a. Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan penyiapan lahan.
b. Jumlah air yang diperlukan untuk penyiapan lahan.
c. Jumlah air yang diperlukan selama penyiapan lahan.
Gambar 2.1 Pola Tanam Padi Kedelai - Padi
N
1

D
2

J
2

F
2

M
2

A
2

Padi
LP

LP
90 Hari setelah
Transplantasi

M
2

J
2

J
2

A
2

S
2

O
2

Padi

Kedelai

90 Hari setelah
Transplantasi

85 Hari setelah
Transplantasi

10

A. Jangka Waktu Penyiapan Lahan


Faktor faktor penting yang menentukan lamanya jangka waktu penyiapan lahan adalah :

Tersedianya tenaga kerja dan ternak atau traktor untuk menggarap tanah.

Perlunya memperpendek jangka waktu tersebut agar tersedia cukup waktu untuk
menanam padi sawah atau padi ladang kedua.

Faktor faktor tersebut saling berkaitan. Kondisi social budaya yang ada didaerah
penanaman padi akan mempengaruhi lamanya waktu yang diperlukan untuk penyiapan
lahan. Untuk daerah daerah proyek baru, jangka waktu penyiapan lahan akan ditetapkan
berdasarkan kebiasaan yang berlaku pada daerah daerah didekatnya, sebagai pedoman
diambil jangka waktu penyiapan lahan 1,5 (satu setengah) bulan untuk menyelesaikan
penyiapan lahan di seluruh petak tersier.
Bilamana untuk penyiapan lahan diperkurakan akan dipakai peralatan mesin secara luas,
maka jangka waktu penyiapan lahan akan diambil 1 (satu) bulan. Transplantasi
(pemindahan bibit ke sawah) sudah dimulai setelah 3 sampai 4 minggu di beberapa
bagian petak tersier dimana pengelolaan lahan sudah selesai.

B. Kebutuhan Air Untuk Penyiapan Lahan


Pada umumnya jumlah air yang dibutuhkan untuk penyiapan lahan dapat ditentukan
berdasakan kedalaman serta porositas tanah di sawah. Rumus berikut yang biasanya
dipergunakan untuk penyiapan lahan :
PWR =

( Sa Sb).N .d
+ Pd + Fl .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......( 2.1)
10

Dimana :
PWR = Kebutuhan air untuk penyiapan lahan (mm)
Sa

= Derajat kejenuhan tanah setelah penyiapan lahan dimulai (%)

Sb

= Derajat kejenuhan tanah sebelum penyiapan lahan dimulai (%)

= Porositas tanah dalam % prosentase pada harga rata rata untuk kedalaman
tanah.

11

= Asumsi kedalaman tanah setelah pekerjaan penyiapan lahan (mm)

Pd

= Kedalaman genangan setelah pekerjaan penyiapan lahan (mm)

Fl

= Kehilangan air disawah selama 1 hari (mm)

Untuk tanah bertektur berat tanpa retak retak kebutuhan air untuk penyiapan lahan diambil
200 mm. Ini termasuk air untuk penjenuhan dan pengelolaan tanah. Pada permulaan
transplantasi tidak akan ada lapisan air yang tersisa di sawah. Setelah transplantasi selesai,
lapisan air disawah akan ditambah 50 mm. Secara keseluruhan, ini berarti bahwa lapisan air
yang diperlukan menjadi 250 mm untuk penyiapan lahan dan untuk lapisan air awal setelah
transplantasi selesai.
Bila lahan telah dibiarkan selama jangka waktu yang lama (2,5 bulan atau lebih), maka lapisan
air yang diperlukan untuk penyiapan lahan diambil 300 mm, termasuk yang 50 mm untuk
penggenangan setelah transplantasi.
Untuk tanah-tanah ringan dengan laju perkolasi yang lebih tinggi, harga-harga kebutuhan air
untuk penyelidikan lahan bisa diambil lebih tinggi lagi. Kebutuhan air untuk penyiapan lahan
sebaiknya dipelajari dari daerah-daerah di dekatnya yang kondisi tanahnya serupa dan
hendaknya didasarkan pada hasil-hasil penyiapan di lapangan.
Walaupun pada mulunya tanah-tanah ringan mempunyai laju perkolasi tinggi, tetapi laju
ini bisa berkurang setelah lahan diolah selama beberapa tahun. Kemungkinan ini
hendaknya mendapat perhatian tersendiri sebelum harga-harga kebutuhan air untuk
penyiapan lahan ditetapkan menurut ketentuan di atas.

C. Kebutuhan Air Selama Penyiapan Lahan


Untuk perhitungan kebutuhan irigasi selama penyiapan lahan, digunakan metode yang
dikembangkan oleh van de Goor dan Zijlstra (1968). Metode tersebut didasarkan pada
laju air konstan dalam 1/dt selama periode penyiapan lahan dan menghasilkan rumus
berikut :
IR =

M .e k
(e k 1)

...........................................................................................................( 2.2)

12

Dimana :
IR

= Kebutuhan air irigasi di tingkat persawahan (mm/hari).

= Kebutuhan air untuk mengganti/ mengkompensasi kehilangan air akibat


evaporasi dan perkolasi di sawah yang sudah dijenuhkan
M = Eo + P (mm/hari)
Eo

= Evaporasi air terbuka yang diambil 1,1 ETo selama penyiapan lahan,
mm/hari

P
K

= Perkolasi

= MT/S
T

= Jangka waktu penyiapan lahan, hari

= Kebutuhan air, untuk penjenuhan ditambah dengan lapisan air 50 mm,


yakni 200 + 50 = 250 mm

Contoh 1:
M
= Eo + P
M.T
k
=
S
e

=
=

IR

0,60
1,82
M. ek
(ek 1)
11,08

=
=

5,00
5,00

5,00
1,82
(mm/hari)
=

mm/hari
x 30 Hari
250 mm

x
-

1,82
1,00

13

Tabel 2.1 Kebutuhan Air Selama Penyiapan Lahan


T =30 Hari

T =45 Hari

Eo + P
(mm/Hari)

S =250 mm

S =300 mm

S =250 mm

S =300 mm

5,00
5,50
6,00
6,50
7,00
7,50
8,00
8,50
9,00
9,50
10,00
10,50
11,00

11,082
11,384
11,690
12,002
12,318
12,638
12,964
13,294
13,628
13,967
14,310
14,658
15,010

12,707
13,001
13,298
13,600
13,905
14,214
14,528
14,845
15,166
15,491
15,820
16,152
16,489

8,426
8,752
9,085
9,425
9,772
10,125
10,484
10,849
11,221
11,598
11,980
12,369
12,762

9,476
9,791
10,111
10,437
10,768
11,105
11,448
11,796
12,150
12,508
12,872
13,241
13,615

2.3 Penggunaan Konsumtif


Penggunaan Konsumtif (ETc) air oleh tanaman diperkirakan berdasarkan metode perkiraan
empiris, dengan menggunakan data iklim, koefisien tanaman pada tahap pertumbuhan, seperti
dinyatakan di bawah ini.
Penggunaan konsumtif dihitung dengan rumus :
ETc

Kc x ETo .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... ........( 2.3)

Dimana :
ETc

= Evaporasi tanaman (mm/hari).

ETo

= Evapotranspirasi tanaman acuan (mm/hari)

kc

= Koefisien tanaman

14

A. Evapotranspirasi
Evapotranspirasi adalah nilai transpirasi tanaman dan evaporasi dari permukaan tanah yang
merupakan efek integrasi dari temperatur, lamanya penyinaran matahari, kecepatan angin dan
kelembaban udara yang berinteraksi satu dengan lainnya. Evapotranspirasi yang sering disebut
sebagai kebutuhan konsumtif tanaman diareal irigasi adalah suatu proses penguapan dan
transpirasi, kebutuhan komsutif tersebut merupakan nilai penjumlahan air untuk evaporasi dari
permukaan areal dengan air untuk transpirasi dari tubuh tanaman.
Evapotranspirasi potensial (ETo), adalah suatu konsepsi yang pada tahun 1948 didefinisikan
oleh Thornthwaite sebagai evapotranspirasi dari areal tumbuhan yang menutupi permukaan
tanah dengan lengas tanah cukup setiap waktu.
Tahun 1947 Penman telah mengusulkan definisi yang serupa yaitu ETo merupakan
evapotranspirasi dan tumbuhan pendek berdaun hijau yang tumbuh baik dan menutup
permukaan tanah yang tidak pernah kekurangan air. Definisi ETo berbagai macam, namun
intinya satu, yaitu suatu usaha memberi definisi pada batas atas evapotranspirasi, untuk suatu
tanaman dalam kondisi klimatologi tertentu, yaitu pada keadaan tumbuhan subur, dan tanah
tidak kekurangan air.
Perkiraan ETo dapat dilakukan dengan pengukuran di lapangan atau dengan metode analisis.

1. Pengukuran di lapangan:
Pengukuran dengan Lisimeter yang menghasilkan jumlah air untuk diberikan dan diserap oleh
tanaman secara tepat. Pengukuran dilakukan dalam jangka waktu panjang dan mencakup
semua musim dan variasi tanaman, sehingga prosedur menjadi sulit dan membutuhkan waktu
yang lama. Petak-petak percobaan, studi perubahan kelembaban air (metode inflow - outflow).
Metode ini sulit karena membutuhkan waktu dan kebutuhan air musiman.

2. Metode analisis:
Perkiraan ETo dengan metode analisis, yaitu memperkirakan ETo dari data-data klimatologi
yang ada dan menyediakan sederetan pembacaan secara berkesinambungan untuk dianalisis
dengan teknik keandalan (dipendebility technique)
Perkiraan ETo dengan metode analisis, dapat dihitung dengan rumus-rumus empirik yang
dikemukakan oleh Blaney-Criddle, Thorntwaite, Penman, Penman modifikasi
15

Rumus-rumus oleh Blaney - Criddle dan Thorntwaite (Lihat di buku Hidrologi untuk
Pengairan)

3. Penman modifikasi
Perhitungan ETo dengan Penman modifikasi lebih realistis, karena menggunkan sebagian
besar data klimatologi
ETo

= B (Hi - Hb) + (1 - B) Ea .(2.4)

Hi

= (1 - r) Ra (a1 + a2 . s) ...(2.5)

Hb

= CTa4 (a3 - a4 fed) (a5 + a6.s) ....(2.6)

Ea

= a7 (ea - ed) (a8 + a9.U2) ....(2.7)

Dimana:
ETo

= Evapotranspirasi (mm/hari)

Hi

= incoming radiation (mm/day)

Hb

= outgoing radiation (mm/day)

Ea

= aerodynamic term (mm/day)

= values of weighting factor for the effect of radiation on ETo at different


temperatures and altitudes, (Tabel 2.7)

= 0,25 (albedo)

Ra

= extra terrestrial radiation (mm/day), depending on latitude and month (Tabel 2.4 )

= ratio of actual sunshine hours to potential sunshine hours (%)

CTa4 = theoretical long wave radiation from a surface with temperature Ta (mm/day),
(Tabel 2.5)
ed

= actual vapour pressure (mb), (ed = Rh x ea)

ea

= saturated vapour pressure (mb), (Tabel 2.6)

Rh

= relative humidity (%)

U2

= wind velocity at 2 m above ground level (km/day)

a1, a2 .. a9 = empirically derived coefficient


a1

0,240

a4 =

0,080

a7 =

0,260

a2

0,410

a5 =

0,280

a8 =

1,000

a3

0,560

a6 =

0,550

a9 =

0,006

16

A.1 Evaporasi
Evaporasi (penguapan) adalah suatu proses pada peristiwa perubahan cairan menjadi gas.
Proses penguapan air yang terjadi didalam merupakan suatu komponen fundamental dalam
siklus hidrologi. Dalam proses penguapan ini, air berubah menjadi uap dengan menyerap
energi panas. Proses ini merupakan satu-satunya bentuk transfer yang mengubah air daratan
dan lautan, menjadi uap yang memasuki atmosfir.
Laju evaporasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
a. Ketersediaan energi, (sinar matahari, angin)
b. Kesempatan uap memasuki udara yang tergantung kelembaban udara.
Untuk menghitung laju evaporasi dapat menggunakan rumus-rumus empirik (lihat di dalam
buku-buku hidrologi) dan pengukuran langsung di lapangan (panci evaporasi). Laju evaporasi
dengan panci evaporasi lebih besar daripada laju evaporasi dari permukaan air yang luas.
Laju evaporasi dari permukaan air dapat dihitung dengan :0,70 x laju evaporasi terukur
dengan panci evaporasi

A.2 Transpirasi
Transpirasi adalah suatu proses pada peristiwa uap air meninggalkan tubuh tanaman dan
memasuki atmosfir. Laju transpirasi dipengaruhi oleh faktor ketersediaan air pada zona
perakaran, yang diatur dengan teknik irigasi dan drainase. Pemberian air pads zona perakaran
perlu mempertimbangkan sistem akar, kemampuan akar menyerap air, luas daun, dan struktur
daun yang semuanya mempengaruhi laju transpirasi. Faktor iklim yang mempengaruhi laju
transpirasi adalah intensitas penyinaran matahari, tekanan uap air di udara, suhu dan kecepatan
angin.

17

Contoh 2 :
Di bawah ini data-data iklim bulanan rata rata pada suatu daerah irigasi, dari data data
tersebut dibawah hitunglah besarnya evapotranspirasi (ETo) yang terjadi pada wilayah
tersebut dengan menggunakan metode Penman Modifikasi .
Tabel 2.2 Rekapitulasi Data Klimatologi
A. DATA PENYINARAN MATAHARI RATA-RATA (%)
JAN
61,0

FEB
56,3

MAR
69,3

APR
83,3

MEI
92,0

JUN
90,8

JUL
89,3

AUG
92,8

SEP
92,6

OKT
88,4

NOV
81,2

DES
73,3

OKT
28,3

NOV
29,1

DES
28,7

OKT
69,6

NOV
70,6

DES
73,9

NOV
29,1

DES
28,7

B. TEMPERATUR UDARA RATA-RATA (Derajat)


JAN
28,4

FEB
27,7

MAR
27,9

APR
28,0

MEI
27,9

JUN
26,9

JUL
26,0

AUG
26,1

SEP
27,0

C. KELEMBABAN UDARA RATA-RATA (%)


JAN
79,0

FEB
80,5

MAR
80,0

APR
75,4

MEI
69,8

JUN
67,8

JUL
66,7

AUG
67,5

SEP
70,3

D. KECEPATAN ANGIN RATA -RATA (KNOTS).


JAN
28,4

FEB
27,7

MAR
27,9

APR
28,0

MEI
27,9

JUN
26,9

JUL
26,1

AUG
26,1

SEP
27,0

OKT
28,3

Sumber : Stasiun Meterologi Terdamu


Dari data-data tersebut maka dapat dilakukan perhitungan ETo, dengan menggunakan metode
Penman modifikasi seperti yang tercantum pada tabel 2.4

18

Tabel 2.3 Perhitungan Nilai Eto.


No

Uraian

A.
1
2
3
4
B.
5

DATA
Temperature Udara (T)
Sinar Matahari (S=n/N)
Kelembaban Relatif (RH)
Kecepatan Angin (U)
Perhitungan Hi, (r=0,25)
Ra (Tabel 2.4)

6
C
7
8
9

Hi = (1- r) x Ra x (a1+a2 x s)
Perhitungan Hb
CTa4 (Tabel 2.5)
ea (Tabel 2.6)
ed = RH x ea

Satuan

Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Aug

Sep

Okt

Nop

Des

C
%
%
km/hr

28,40
61,00
79,00
28,40

27,70
56,30
80,50
27,70

27,90
69,30
80,00
27,90

28,00
83,30
75,40
28,00

27,90
92,00
69,80
27,90

26,90
90,80
67,80
26,90

26,00
89,30
66,70
26,10

26,10
92,80
67,50
26,10

27,00
92,60
70,30
27,00

28,30
88,40
69,60
28,30

29,10
81,20
70,60
29,10

28,70
73,30
73,90
28,70

mm/hr

16,46

16,30

15,47

14,14

12,71

11,88

12,28

13,41

14,77

15,87

16,26

16,29

mm/hr

8,07

7,67

8,11

8,22

7,84

7,27

7,44

8,32

9,15

9,56

9,32

8,81

mbar
mbar

16,38
38,72
30,59

16,24
37,17
29,92

16,28
37,59
30,07

16,30
37,80
28,50

16,28
37,59
26,24

16,00
34,86
23,64

15,90
33,74
22,50

15,90
33,74
22,77

16,10
35,70
25,10

16,36
38,49
26,79

16,52
40,33
28,47

16,44
39,41
29,12

5,53

5,47

5,48

5,34

5,12

4,86

4,74

4,77

5,01

5,18

5,34

5,40

0,12
0,62
1,19

0,12
0,59
1,17

0,12
0,66
1,31

0,13
0,74
1,60

0,15
0,79
1,92

0,17
0,78
2,13

0,18
0,77
2,21

0,18
0,79
2,24

0,16
0,79
2,02

0,15
0,77
1,83

0,13
0,73
1,60

0,13
0,68
1,44

2,11
1,17
2,47

1,88
1,17
2,20

1,95
1,17
2,28

2,42
1,17
2,82

2,95
1,17
3,45

2,92
1,16
3,39

2,92
1,16
3,38

2,85
1,16
3,30

2,76
1,16
3,20

3,04
1,17
3,56

3,08
1,17
3,62

2,67
1,17
3,13

0,77
0,23
6,88
5,86

0,76
0,23
6,50
5,48

0,77
0,23
6,80
5,74

0,77
0,23
6,62
5,75

0,77
0,23
5,92
5,35

0,76
0,24
5,14
4,71

0,75
0,25
5,23
4,77

0,75
0,25
6,08
5,39

0,76
0,24
7,13
6,18

0,78
0,23
7,73
6,81

0,78
0,23
7,72
6,81

0,77
0,23
7,36
6,41

10 (ed)^(0,5)
11
12
13
D
14
15
16
E
17
18
19
20

0,5

(a3-(a4 x (ed)^ )
(a5 + (a6 x S))
Hb= (7) x (11) x 12
Perhitungan Ea
a7x (ea-ed)
(a8 + ((a9 x U))
Ea = (14) x (15)
Perhitungan Eto
B (Tabel 2.7)
(1-B) (Tabel 2.8)
(Hi - Hb)= (6) - (13)
Eto = B x (Hi-Hb) + (1-B)Ea

mm/hr

mm/hr
mm/hr

Sumber : Hasil Perhitungan

19

Tabel 2.4

20

Tabel 2.5 Faktor (CTa4) Efek Temperatur Udara

Tabel 2.6

Tabel 3.6.

21

Tabel 2.7

Tabel 2.8

22

B. Koefisien Tanaman
Harga-harga koefisien tanaman padi yang diberikan pada Tabel 2.9 akan dipakai.
Tabel 2.9 Harga-harga koefisien tanaman padi
FAO

Nedeco/Prosida
Bulan
Varietas
biasa

2)

V a r ie t a s ' )
unggul

Varietas
biasa

Varietas
unggul

0,50
1,00

1,20
1,20

1,20
1,27

1,10
1,10

1,10
1,10

1,50

1,32

1,05

1,40
1,35

1,33
1,30
1,30

1,10

2,0
2,5

1,10
1,10

1,05
0,95

3,0

1,24

0,00

1,05

0,00

3,5
4,0

1,12
0 4)

0,95
0,00

Sumber. Dirjen Pengairan, Bina Program PSA 010, 1985


Keterangan:
1. Harga-harga koefisien ini akan dipakai dengan rumus evapotranspirasi Penman yang sudah dimodifikasi,
dengan menggunakan metode yang diperkenalkan oleh Nedeco/Prosida atau FAO.
2. Varietas padi biasa adalah rarietas padi yang masa tumbuhnya lama.
3. Varietas unggul adalah varietas padi yang jangka waktu tumbuhnya pendek.
4. Selama setengah bulan terakhir pemberian air irigasi ke sawah dihentikan; kemudian koefisien tanaman
diambil nol dan padi akan menjadi masak dengan air yang tersedia.

2.4 Perkolasi
Laju perkolasi sangat bergantung kepada sifat-sifat tanah. Pada tanah lempung
berat dengan karakteristik pengolahan (puddling) yang baik, laju perkolasi dapat mencapai
1-3 mm/hari. Pada tanah-tanah yang lebih ringan, laju perkolasi bisa lebih tinggi. Dari
hasil-hasil penyelidikan tanah pertanian dan penyelidikan kelulusan, besarnya laju
perkolasi serta tingkat kecocokan tanah untuk pengolahan tanah dapat ditetapkan dan
dianjurkan pemakaiannya. Guna menentukan laju perkolasi, tinggi muka air tanah juga
harus dipehitungkan. Perembesan terjadi akibat meresapnya air melalui tanggul sawah.

23

2.5 Pergantian Lapisan Air


a. Setelah pemupukan, usahakan untuk menjadwalkan dan mengganti lapisan air
menurut kebutuhan.
b. Jika tidak ada penjadwalan semacam itu, lakukan penggantian sebanyak 2 kali,
masing-masing 50 mm (atau 3,3 mm/hari selama 112. bulan) selama sebulan dan dua
bulan setelah transplantasi.

2.6 Curah Hujan Efektif


Untuk irigasi padi curah hujan efektif bulanan diambil 70 persen dari curah hujan
minimum tengah-bulanan dengan periode ulang 5 tahun.
Re = 0,70

1
R ( setengah bulanan ) 5
15

..................................................................( 2.8)

Dimana :
Re

Curah Hujan Efektif (mm/hari)

R(Setengah bulan)5

Curah hujan minimum tengah bulan dengan periode ulang 5


tahun/ mm.

Tabel 2.10 Perhitungan Curah Hujan Efektif


Periode

95,00%

90,00%

80,00%

75,00%

50,00%

20,00%

10,00%

5,00%

Re = ((0,7 x (
R80%/15))

JAN I

18

27

49

54

76

121

158

196

2,300

JAN II

24

38

44

46

84

139

162

204

2,100

FEB I

21

28

36

41

59

89

121

143

1,700

FEB II

22

32

44

49

71

111

129

147

2,100

MAR I

28

35

41

53

70

113

124

151

2,000

MAR II

32

40

49

57

85

112

146

159

2,300

APR I

31

37

46

52

78

124

159

172

2,200

APR II

33

48

54

63

92

146

172

218

2,600

MEI I

45

54

73

81

109

168

218

240

3,500

MEI II

50

66

77

84

116

152

240

210

3,600

JUN I

50

60

83

91

106

158

210

205

3,900

JUN II

40

50

57

59

94

137

205

190

2,700

Dilanjutkan

24

Lanjutan Tabel 2.10 Perhitungan Curah Hujan Efektif


Periode

95%

9,%

80%

75%

50%

20%

10%

5%

Re = ((0,7 x (
R80%/15))

JUL I

31

38

45

51

88

115

190

183

2,100

JUL II

17

30

49

52

90

183

107

1,400

AGT I

10

12

23

74

107

110

0,500

AGT II

22

35

110

90

0,300

SEP I

27

90

85

0,000

SEP II

12

15

43

85

95

0,300

OKT I

10

24

58

95

125

0,400

OKT II

10

13

36

102

125

175

0,500

NOV I

12

40

44

80

88

175

164

1,900

NOV II

28

10

42

46

80

112

164

180

2,000

DES I

23

40

46

49

61

108

180

169

2,200

DES II

27

42

55

61

79

112

169

166

2,600

Sumber : Hasil Perhitungan

Untuk mendapatkan curah hujan dengan probabilitas 80 % dengan cara mengurutkan


data dari yang terkecil sampai ke terbesar dengan mempergunakan rumus berikut :
P

x 100

n+1

(2.9)

Dimana :
P

Probabilitas (%).

Nomor urut

Banyak data

Contoh 3 ;
Untuk R80%

Banyaknya data hujan

=
=

20,0%
25

Tahun

Maka :
20,0%

m
26
5,2

x 100,0%
dibulatkan m

5,0

Jadi curah hujan efektif dengan kemungkinan gagal 20 % berada pada no urut 5

25

Curah hujan efektif adalah 70 % dari curah hujan tengah bulanan yang terlampaui 80 %
dari waktu dalam periode tersebut.
Tabel 2.10 memperlihatkan frekunsi terjadinya curah hujan tengah bulanan serta
perhitungan curah hujan efektif untuk padi. Curah hujan efektif untuk palawija ditentukan
dengan periode bulanan (tabel 2.11) dan dihubungkan dengan curah hujan rata - rata
bulanan (terpenuhi 50 %) pada tabel 2.10 serta rata - rata bulanan evapotranspirasi
tanaman (lihat Perhitungan ETo).

Tabel 2.11 Curah Hujan Efektif untuk Palawija

1,15

Etc
(mm)
61,50

R
(mm)
140

Re
(mm)
55

Re
((mm/ Hari)
1,800

Agustus

1,15

126,00

45

36

1,200

September

1,15

186,00

23

20

0,700

Oktober

1,15

166,00

60

38

1,200

November

1,15

80,00

160

100

3,300

Periode

Fk

Juli

Sumber : Hasil Perhitungan

Contoh 4 ;
ETc Juli =
=
=
Rjuli
=
=
=
=
Rejuli
Rejuli

=
=

Kc
x ETojuli x 30 Hari
0,50
x 4,10
x 30 Hari
61,50
Juli I50%
Juli II50%
+
52,00
88,00
+
140,00
mm
Curah Hujan Bulanan (Tabel 2.10)
Re
55
=
30
30
1,833
mm/hari

26

Tabel 2.12 Curah Hujan Efektif Rata rata bulanan dikaitkan dengan ET
tanaman rata rata bulanan dan curah hujan mean bulanan.

2.7 Efisiensi Irigasi


Untuk tujuan perencanaan, dianggap bahwa seperempat sampai sepertiga dari jumlah air
yang diambil akan hilang sebelum air tersebut sampai ke sawah.
Kehilangan air disebabkan oleh :

Eksploitasi (pemanfaatan).

Evaporasi (penguapan), biasanya nilai ini lebih kecil dibandingkan dengan akibat
eksploitasi.

Perembesan (perkolasi), dihitung apabila faktor kelulusan tanah cukup tinggi.

Contoh 5 ;
Jaringan Tersier

80,00%

Jaringan Sekunder

90,00%

Jaringan Primer

90,00%

Jumlah

65,00%

Eff total

Eff1

Eff2

Eff3

80,0%

90,0%

90,0%

65,0%

27

2.8 Pola Tanam


Pola tanam merupakan salah satu faktor yang cukup menentukan dalam perhitungan
besarnya areal irigasi yang dapat diairi karena ketersediaan air disungai pada musim hujan
atau bulan bulan tertentu cukup tersedia serta kondisi sawah yang ada dalam keadaan
jenuh air akan tetapi pada saat musim kemarau besarnya pemakaian air dapat bertambah
lagi. Pemakaian sistem rotasi teknis sangat dibutuhkan untuk dapat memperoleh luasan
areal irigasi yang lebih luas lagi.

Tabel 2.13 Pola Tanam dengan Koefisien Tanam

0,45
0,00
0,00

0,45

0,15

0,00
0,42

0,82

0,82

0,45
0,76

1,00

1,00

0,82
0,94

1,00

1,00

1,00
0,92

0,75

0,75

1,00
0,75

0,50

0,50

0,75
0,42

0,00

0,50
0,48

0,95

1,05
0,95
0,00
0,67

0,00

1,05
1,05
0,95
1,02

1,10
1,05
1,05
1,07

1,10
1,10
1,05
1,08

LP
1,10
1,10
LP

LP
LP
1,10
LP

LP
LP
LP
LP

0,00
0,00
0,00
0,00

0,95
0,00
0,32

0,00

1,05
0,95
0,00

0,67

1,05

1,05

0,95

1,02

LP

LP

LP

C3
C2

1,10

1,05

1,05

1,07

1,10

1,05

1,08

1,10

1,10

LP

LP

1,10

LP

LP

LP

LP

C1

CRERATA

1,10

Sumber : Hasil Perhitungan

28

Pergantian lapisan air setinggi 50 mm satu atau dua bulan setelah transplantasi juga
disajikan dalam bentuk tabel, seperti pada tabel 6.14 lapisan air setinggi 50 mm diberikan
dengan jangka waktu satu setengah bulan (45 hari), jadi kebutuhan tambahan air adalah :
WLR

50 mm
15 hari

50 mm
15 hari

3,333

mm/hari

Tabel 2.14 Pergantian Lapisan Air

0,00

3,33

0,00

1,11

2,22

3,33

3,33
1,11

3,33

0,00

0,00

1,11

0,00

0,00

0,00

0,00

3,33

1,11

3,33

3,33
1,11

2,22

1,11

3,33

0,00

3,33

3,33

C3
C2
C1
CRERATA

0,00

1,11

0,00

3,33

1,11

3,33

0,00

0,00

0,00

Sumber : Hasil Perhitungan

29

Dari tabel 2.13 diberikan kebutuhan air untuk penyiapan lahan selama 45 hari dan harga
Eo + P. Yang diandaikan adalah kebutuhan untuk penjenuhan = 300 mm

Contoh 6 :
November I
P

2,0 mm/hari

Eo + P

(1,10 x EToNovember )+ P

1,10

7,72

mm/hari

7,72

7,00

7,50

7,00

5,20

2,0

IRx

10,77

11,11

10,77

11,25

IRx

11,25

NFR

IRx

9,30

mm/hari

DR

mm/hari

mm/hari
Re

NFR
eff
1,657

8,64

1,95

9,30
65,0%

8,64

mm/hari

Tabel 2.15 memberikan perhitungan untuk skema pola tanam seperti diperlihatkan pada
tabel 2.13 Rotasi teknis (golongan) dapat mengurangi kebutuhan debit puncak. Saat mulai
penyiapan lahan untuk berbagai golongan berbeda setengah bulan. Perhitungan diatas
dibuat untuk penyiapan lahan yang dimulai tanggal 01 November (golongan A).
Pada tabel 2.16 dan tabel 2.17 perhitungan ini diulangi lagi untuk penyiapan lahan yang
dimulai tanggal 15 November dan 01 Desember (Golongan B dan C berturut - turut).
Untuk menentukan luas optimal jaringan irigasi akan diteliti berbagai jadwal tanam.
Alternatif - alternatif berikut yang akan dilihat pola tanam yang memberikan areal
terbesar yang mampu diairi :

30

Tabel 2.15 Kebutuhan Air Kelompok A (golongan A)


Period
e

Eto

Re

WL
R

C1

C2

C3

Crera

Etc

NFR

DR

(mm/h
ari)

(mm/h
ari)

(Ltr/
Dtk.
ha)

10 = (
2 x 9)

11 = (10
+3+54)

12 =
(11/(ef
fx
8,64))

LP

LP

11,25

9,354

1,67

LP

LP

LP

11,25

9,254

1,65

1,10

1,10

LP

LP

10,30

8,100

1,44

1,11

1,05

1,10

1,10

1,08

4,55

5,061

0,90

2,30

1,11

1,05

1,05

1,10

1,06

4,69

6,616

1,18

2,0

2,10

2,22

0,95

1,05

1,05

1,01

4,47

5,484

0,98

4,50

2,0

1,70

1,11

0,00

0,95

1,05

0,66

3,00

4,411

0,79

FEB II

4,50

2,0

2,10

1,11

0,00

0,95

0,32

1,43

1,325

0,24

MAR I

4,40

2,0

2,00

0,00

0,00

0,00

0,000

0,00

MAR II

4,40

2,0

2,30

LP

LP

LP

LP

9,40

7,100

1,26

APR I

4,30

2,0

2,20

1,10

LP

LP

LP

9,40

7,200

1,28

APR II

4,30

2,0

2,60

1,10

1,10

LP

LP

9,40

6,800

1,21

MEI I

4,00

2,0

3,50

1,11

1,05

1,10

1,10

1,08

4,33

3,944

0,70

MEI II

4,00

2,0

3,60

1,11

1,05

1,05

1,10

1,06

4,27

3,778

0,67

JUN I

3,60

2,0

3,90

2,22

0,95

1,05

1,05

1,01

3,66

3,982

0,71

JUN II

3,60

2,0

2,70

1,11

0,00

0,95

1,05

0,66

2,40

2,811

0,50

JUL I

4,10

2,0

1,17 *

1,11

0,50

0,00

0,95

0,48

1,98

3,926

0,70

JUL II

4,10

2,0

0,78 *

1,8

0,75

0,50

0,00

0,41

1,71

2,931

0,52

AGT I

4,90

2,0

0,42 *

1,2

1,00

0,75

0,50

0,75

3,68

5,258

0,94

AGT II

4,90

2,0

0,25 *

1,2

1,00

1,00

0,75

0,91

4,49

6,242

1,11

SEP I

5,40

2,0

0,00 *

0,7

0,82

1,00

1,00

0,94

5,08

7,076

1,26

SEP II

5,40

2,0

0,43 *

0,7

0,45

0,82

1,00

0,75

4,09

5,657

1,01

OKT I

5,90

2,0

0,57 *

1,2

0,00

0,45

0,82

0,42

2,50

3,926

0,70

OKT II

5,90

2,0

0,71 *

1,2

0,00

0,00

0,45

0,15

0,89

2,171

0,39

(mm/hari)

(mm/ha
ri)

(mm/h
ari)

(mm/
hari)

(mm/
hari)

(mm/
hari)

NOV I

5,20

2,0

1,90

LP

LP

NOV II

5,20

2,0

2,00

1,10

DES I

4,20

2,0

2,20

DES II

4,20

2,0

2,60

JAN I

4,40

2,0

JAN II

4,40

FEB I

(mm/
hari)

ta

(mm/
hari)

Keterangan :
Untuk Palawija

1,17 *

1,8

2,100
Re padi (tabel 2.10)
1,800
Re palawija (tabel 2.11)
Re palawija (tidak dipengaruhi/ mempengaruhi) aritmatik

31

Tabel 2.16 Kebutuhan Air Kelompok B (golongan B)


Period
e

Eto
(mm
/hari
)

P
(mm/
hari)

Re
(mm/
hari)

WLR
(mm/
hari)

C1
(mm/
hari)

C2
(mm/
hari)

Crerata
(mm/
hari)

Etc
(mm/ha
ri)

NFR
(mm/
hari)

DR
(Ltr/
Dtk.
ha)

10 = ( 2
x 9)

11 =
(10 +
3+5
-4)

12

0,45

0,15

0,78

2,20

0,39

C3
(mm/
hari)

NOV I

5,20

2,00

0,58

3,30

NOV II

5,20

2,00

2,00

LP

LP

LP

LP

11,25

9,25

1,65

DES I

4,20

2,00

2,20

1,10

LP

LP

LP

10,30

8,10

1,44

DES II

4,20

2,00

2,60

1,10

1,10

LP

LP

10,30

7,70

1,37

JAN I

4,40

2,00

2,30

1,11

1,05

1,10

1,10

1,08

4,77

5,58

0,99

JAN II

4,40

2,00

2,10

1,11

1,05

1,05

1,10

1,07

4,69

5,70

1,02

FEB I

4,50

2,00

1,70

2,22

0,95

1,05

1,05

1,02

4,58

7,10

1,26

FEB II

4,50

2,00

2,10

1,11

0,00

0,95

1,05

0,67

3,00

4,01

0,71

MAR I
MAR
II

4,40

2,00

2,00

1,11

0,00

0,95

0,32

1,39

2,50

0,45

4,40

2,00

2,30

0,00

0,00

0,00

-0,30

-0,05

APR I

4,30

2,00

2,20

LP

LP

LP

LP

9,60

7,40

1,32

APR II

4,30

2,00

2,60

1,10

LP

LP

LP

9,60

7,00

1,25

MEI I

4,00

2,00

3,50

1,10

1,10

LP

LP

9,40

5,90

1,05

MEI II

4,00

2,00

3,60

1,11

1,05

1,10

1,10

1,08

4,33

3,84

0,68

JUN I

3,60

2,00

3,90

1,11

1,05

1,05

1,10

1,07

3,84

3,05

0,54

JUN II

3,60

2,00

2,70

2,22

0,95

1,05

1,05

1,02

3,66

5,18

0,92

JUL I

4,10

2,00

2,10

1,11

0,00

0,95

1,05

0,67

2,73

3,74

0,67

JUL II

4,10

2,00

0,78

1,11

0,50

0,00

0,95

0,48

1,98

4,32

0,77

AGT I

4,90

2,00

0,50

1,80

0,75

0,50

0,00

0,42

2,04

3,54

0,63

AGT II

4,90

2,00

0,30

1,80

1,00

0,75

0,50

0,75

3,68

5,38

0,96

SEP I

5,40

2,00

0,00

0,70

1,00

1,00

0,75

0,92

4,95

6,95

1,24

SEP II

5,40

2,00

0,43

0,70

0,82

1,00

1,00

0,94

5,08

6,65

1,18

OKT I

5,90

2,00

0,33

1,20

0,45

0,82

1,00

0,76

4,46

6,13

1,09

OKT II

5,90

2,00

0,42

1,20

0,00

0,45

0,82

0,42

2,50

4,08

0,73

32

Tabel 2.17 Kebutuhan Air Kelompok C (golongan C)


Period
e

Eto
(mm/
hari)

P
(mm/
hari)

Re
(mm/
hari)

WLR
(mm/
hari)

C1
(mm/
hari)

C2
(mm/
hari)

C3
(mm/
hari)

Crerata
(mm/
hari)

Etc
(mm/
hari)

NFR
(mm/
hari)

DR
(Ltr/
Dtk.
ha)

10 = (
2 x 9)

11 =
(10 + 3
+ 5 -4)

12

NOV I

5,20

2,00

0,58

3,30

0,00

0,45

0,82

0,42

2,20

3,63

0,65

NOV II

5,20

2,00

0,61

3,30

0,45

0,15

0,78

2,17

0,39

DES I

4,20

2,00

2,20

LP

LP

LP

LP

10,30

8,10

1,44

DES II

4,20

2,00

2,60

1,10

LP

LP

LP

10,30

7,70

1,37

JAN I

4,40

2,00

2,30

1,10

1,10

LP

LP

10,80

8,50

1,51

JAN II

4,40

2,00

2,10

1,11

1,05

1,10

1,10

1,08

4,77

5,78

1,03

FEB I

4,50

2,00

1,70

1,11

1,05

1,05

1,10

1,07

4,80

6,21

1,11

FEB II

4,50

2,00

2,10

2,22

0,95

1,05

1,05

1,02

4,58

6,70

1,19

MAR I
MAR
II

4,40

2,00

2,00

1,11

0,00

0,95

1,05

0,67

2,93

4,04

0,72

4,40

2,00

2,30

0,00

0,95

0,32

1,39

1,09

0,19

APR I

4,30

2,00

2,20

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

APR II

4,30

2,00

2,60

LP

LP

LP

LP

9,60

7,00

1,25

MEI I

4,00

2,00

3,50

1,10

LP

LP

LP

9,40

5,90

1,05

MEI II

4,00

2,00

3,60

1,10

1,10

LP

LP

9,40

5,80

1,03

JUN I

3,60

2,00

3,90

1,11

1,05

1,10

1,10

1,08

3,90

3,11

0,55

JUN II

3,60

2,00

2,70

1,11

1,05

1,05

1,10

1,07

3,84

4,25

0,76

JUL I

4,10

2,00

2,10

2,22

0,95

1,05

1,05

1,02

4,17

6,29

1,12

JUL II

4,10

2,00

1,40

1,11

0,00

0,95

1,05

0,67

2,73

4,44

0,79

AGT I

4,90

2,00

0,50

1,11

0,50

0,00

0,95

0,48

2,37

3,87

0,69

AGT II

4,90

2,00

0,30

1,20

0,75

0,50

0,00

0,42

2,04

3,74

0,67

SEP I

5,40

2,00

0,00

0,70

1,00

0,75

0,50

0,75

4,05

6,05

1,08

SEP II

5,40

2,00

0,43

0,70

1,00

1,00

0,75

0,92

4,95

6,52

1,16

OKT I

5,90

2,00

0,33

1,20

0,82

1,00

1,00

0,94

5,55

7,21

1,28

OKT II

5,90

2,00

0,42

1,20

0,45

0,82

1,00

0,76

4,46

6,05

1,08

33

Keterangan :
(2)

Eto

Evapotranspirasi

(3)

Perkolasi (2 mm/hari andaian)

(4)

Re

Curah hujan efektif

(5)

WLR

Pergantian lapisan air

(6)

C1

Koefisien Pola Tanam 1

(7)

C2

Koefisien Pola Tanam 2

(8)

C3

Koefisien Pola Tanam 3

(9)

CRERATA

Koefisien Pola Tanam Rata - rata

(10)

Etc

Penggunaan konsumtif (2) x (9)

(11)

NFR

(10) + (3) + (5) - (4)

(12)

DR

11/ (eff total x 8,64)

Tabel 2.18 Kebutuhan Pengambilan Air (Ltr/ Dtk. Ha)


Periode

Alt 1

Alt 2

Alt 3

Alt 4

Alt 5

Alt 6

NOV I

1,67

0,39

0,65

1,03

0,90

0,52

NOV II

1,65

1,65

0,39

1,65

1,23

1,02

DES I

1,44

1,44

1,44

1,44

1,44

1,44

DES II

0,90

1,37

1,37

1,14

1,21

1,37

JAN I

1,18

0,99

1,51

1,09

1,23

1,25

JAN II

0,98

1,02

1,03

1,00

1,01

1,02

FEB I

0,79

1,26

1,11

1,02

1,05

1,18

FEB II

0,24

0,71

1,19

0,48

0,71

0,95

MAR I

0,00

0,45

0,72

0,22

0,39

0,58

MAR II

1,26

-0,05

0,19

0,61

0,47

0,07

APR I

1,28

1,32

0,00

1,30

0,87

0,66

APR II

1,21

1,25

1,25

1,23

1,23

1,25

MEI I

0,70

1,05

1,05

0,88

0,93

1,05

MEI II

0,67

0,68

1,03

0,68

0,80

0,86

JUN I

0,71

0,54

0,55

0,63

0,60

0,55

JUN II

0,50

0,92

0,76

0,71

0,73

0,84

JUL I

0,70

0,67

1,12

0,68

0,83

0,89

JUL II

0,52

0,77

0,79

0,65

0,69

0,78

34

Lanjutan
Periode

Alt 1

Alt 2

Alt 3

Alt 4

Alt 5

Alt 6

AGT I

0,94

0,63

0,69

0,78

0,75

0,66

AGT II

1,11

0,96

0,67

1,03

0,91

0,81

SEP I

1,26

1,24

1,08

1,25

1,19

1,16

SEP II

1,01

1,18

1,16

1,10

1,12

1,17

OKT I

0,70

1,09

1,28

0,90

1,03

1,19

OKT II

0,39

0,73

1,08

0,56

0,73

0,90

Keterangan :
Alt 1 = Golongan A (mulai tanggal 01 November)
Alt 2

Golongan B (mulai tanggal 15 November)

Alt 3

Golongan B (mulai tanggal 01 Desember)

Alt 4

2 Golongan (A + B) =

(Alt 1 + Alt 2)/2

Alt 5

3 Golongan (A + B + C)

Alt 6

2 Golongan (B + C)

(Alt 2 + Alt 3)/2

(Alt 1 + Alt 2 + Alt 3)/3

2.9 Ketersediaan Air


Limpasan air sungai (river run off) bulanan rata - rata yang telah diamati dengan
melakukan pengkuran lapangan, diberikan pada tabel 2.19
Debit andalan untuk satu bulan adalah debit dengan kemungkinan terpenuhi 80 % dan
tidak terpenuhi 20 %dari waktu bulan tersebut. Untuk menentukan kemungkinan
terpenuhi atau tidak terpenuhi, debit yang sudah diamati disusun dengan urutan kecil ke
besar. Catatan mencakup n tahun sehingga nomor tingkatan m debit dengan kemungkinan
tidak terpenuhi 20 %, dapat dihitung.
m =
=
=

0,20
0,20
4,80

x
x
=

24
24
5,00

(No unit debit ke 5).

35

Tabel 2.19 Debit Rata - Rata Bulanan (m3/ Dtk).


TAHUN

JAN

FEB

MAR

APR

MEI

JUN

JUL

Aug

SEP

OKT

NOP

DES

1960
1961
1962
1963
1964
1965
1966
1967
1968
1969
1970
1971
1972
1973
1974
1975
1976
1977
1978
1979
1980
1981
1982
1983

25,80
38,10
14,50
36,20
20,60
24,50
27,70
10,60
11,70
34,60
34,40
22,90
19,30
12,10
38,10
23,40
38,10
29,20
22,20
21,90
20,10
27,70
24,90
6,40

30,80
44,70
24,90
10,70
12,20
26,70
20,30
18,60
44,60
22,50
22,90
17,50
29,20
24,60
33,90
22,90
24,00
29,60
21,70
15,40
11,40
16,20
30,80
26,60

17,50
42,90
32,50
15,70
42,90
10,80
35,70
42,90
27,30
25,70
21,20
31,40
38,00
29,90
14,40
42,90
25,40
42,90
25,20
28,90
23,00
28,00
23,40
13,80

16,50
10,50
26,00
22,50
36,00
15,50
12,70
22,40
25,90
22,80
36,90
42,70
7,70
26,90
7,40
8,10
20,60
20,40
29,00
19,80
8,70
19,00
15,20
18,20

6,00
9,80
7,20
18,00
31,30
13,70
9,00
17,40
15,70
25,60
9,10
3,40
2,30
15,20
2,50
2,60
3,80
23,10
3,00
21,70
12,50
6,00
28,40
10,90

8,70
2,00
1,00
3,00
6,20
11,40
2,40
2,80
3,20
3,20
0,90
5,40
1,30
3,90
1,10
1,10
0,80
8,90
1,10
1,60
1,20
0,80
24,00
0,90

0,90
0,90
1,30
0,90
30,60
9,80
12,70
5,10
0,90
0,90
0,90
1,00
0,90
0,90
0,90
0,90
0,90
5,90
0,90
0,90
0,90
0,90
0,90
1,00

0,90
0,90
0,90
1,00
12,10
2,20
0,90
8,70
0,90
0,90
0,90
0,90
0,90
0,90
0,90
0,90
0,90
2,80
0,90
0,90
0,90
0,90
0,90
5,10

1,70
0,30
0,30
0,70
1,50
3,00
0,30
0,60
0,30
0,30
0,30
0,30
0,30
1,80
0,30
0,30
0,30
0,30
0,30
0,30
0,30
0,30
5,70
5,30

0,60
20,30
0,40
4,20
22,60
3,70
0,40
17,40
2,90
2,10
0,40
11,40
0,40
26,40
0,40
8,80
1,50
6,70
11,90
1,70
24,80
0,40
8,60
33,90

8,30
36,30
11,50
36,30
35,30
25,80
11,30
17,40
26,40
36,30
5,40
11,50
7,60
23,80
12,10
24,80
34,60
35,10
17,10
29,20
5,40
17,60
36,30
36,30

36,40
19,90
9,90
18,70
21,30
9,70
36,40
36,40
16,00
28,10
36,40
36,40
10,70
29,50
32,30
36,40
34,30
36,40
16,60
36,40
19,60
17,50
15,70
11,00

1984

38,10

15,20

42,90

40,40

20,70

1,00

0,90

0,90

18,10

21,80

32,40

33,60

Sumber : Hasil Pengukuran Penampang Basah Sungai

Tabel 2.20. Memperlihatkan debit bulanan dengan urutan kecil ke besar dengan
prosentase kemungkinan tak terpenuhi. Angka - angka di atas tanda tak terpenuhi 20 %,
memberikan debit andalan untuk bulan - bulan tertentu (lihat juga gambar 6.2).

36

Tabel 2.20 Debit Rata - Rata Bulanan Dari Urutan Kecil ke Besar (m3/ Dtk).
%

JAN

FEB

MAR

APR

MEI

JUN

JUL

Aug

SEP

OKT

NOP

DES

4,00%
8,00%
12,00%

6,40
10,60
11,70

10,70
11,40
12,20

10,80
13,80
14,40

7,40
7,70
8,10

2,30
2,50
2,60

0,80
0,80
0,90

0,90
0,90
0,90

0,90
0,90
0,90

0,30
0,30
0,30

0,40
0,40
0,40

5,40
5,40
7,60

9,70
9,90
10,70

16,00%

12,10

15,20

15,70

8,70

3,00

0,90

0,90

0,90

0,30

0,40

8,30

11,00

20,00%

14,50

15,40

17,50

10,50

3,40

1,00

0,90

0,90

0,30

0,40

11,30

15,70

24,00%
28,00%
32,00%
36,00%
40,00%
44,00%
48,00%
52,00%
56,00%
60,00%
64,00%
68,00%
72,00%
76,00%
80,00%
84,00%
88,00%
92,00%
96,00%

19,30
20,10
20,60
21,90
22,20
22,90
23,40
24,50
24,90
25,80
27,70
27,70
29,20
34,40
34,60
36,20
38,10
38,10
38,10

16,20
17,50
18,60
20,30
21,70
22,50
22,90
22,90
24,00
24,60
24,90
26,60
26,70
29,20
29,60
30,80
30,80
33,90
44,60

21,20
23,00
23,40
25,20
25,40
25,70
27,30
28,00
28,90
29,90
31,40
32,50
35,70
38,00
42,90
42,90
42,90
42,90
42,90

12,70
15,20
15,50
16,50
18,20
19,00
19,80
20,40
20,60
22,40
22,50
22,80
25,90
26,00
26,90
29,00
36,00
36,90
40,40

3,80
6,00
6,00
7,20
9,00
9,10
9,80
10,90
12,50
13,70
15,20
15,70
17,40
18,00
20,70
21,70
23,10
25,60
28,40

1,00
1,10
1,10
1,10
1,20
1,30
1,60
2,00
2,40
2,80
3,00
3,20
3,20
3,90
5,40
6,20
8,70
8,90
11,40

0,90
0,90
0,90
0,90
0,90
0,90
0,90
0,90
0,90
0,90
0,90
0,90
1,00
1,00
1,30
5,10
5,90
9,80
12,70

0,90
0,90
0,90
0,90
0,90
0,90
0,90
0,90
0,90
0,90
0,90
0,90
0,90
0,90
1,00
2,20
2,80
5,10
8,70

0,30
0,30
0,30
0,30
0,30
0,30
0,30
0,30
0,30
0,30
0,30
0,60
0,70
1,50
1,70
1,80
3,00
5,30
5,70

0,40
0,60
1,50
1,70
2,10
2,90
3,70
4,20
6,70
8,60
8,80
11,40
11,90
17,40
20,30
21,80
22,60
24,80
26,40

11,50
11,50
12,10
17,10
17,40
17,60
23,80
24,80
25,80
26,40
29,20
32,40
34,60
35,10
35,30
36,30
36,30
36,30
36,30

16,00
16,60
17,50
18,70
19,60
19,90
21,30
28,10
29,50
32,30
33,60
34,30
36,40
36,40
36,40
36,40
36,40
36,40
36,40

100,00%

38,10

44,70

42,90

42,70

31,30

24,00

30,60

12,10

18,10

33,90

36,30

36,40

Sumber : Hasil Pengukuran Penampang Basah Sungai

Gambar 2.2 Debit Andalan


20,00
18,00
16,00

(m3/Dtk)

Debit Banjir

14,00
12,00
10,00
8,00
6,00
4,00
2,00
0,00
JAN

FEB

MAR

APR

MEI

JUN

JUL

Aug

SEP

OKT

NOP

DES

Bulan Pengukuran

37

Untuk masing - masing alternatif areal irigasi maksimum untuk setiap periode pemberian
air irigasi dihitung dengan rumus :
Qandalan
x 1000
DR

A =

..........................................................................................( 2.10).

Dimana :
A

= Luasan areal yang dapat diairi untuk alternatif tertentu (ha)

Qandalan

= Debit andalan selama jangka waktu tertentu

DR

= Kebutuhan pengambilan untuk alternatif yang bersangkutan selama periode


tertentu (ltr/dtk. Ha)

Contoh 7 ;
1. Hitunglah berapa luas areal yang dapat diairi berdasarkan debit andalan bulan Nov I,
dengan alternatif pengambilan I.
Jika diketahui ;
Qandalan nov

11,30 m3/Dtk

Kebutuhan pengambilan air (DR NOV Alt 1)

1,67

Ltr/Dtk. Ha

Jawab :
maka luas areal yang dapat diairi berdasarkan kondisi diatas adalah ;
Qand
A
=
x
1000 m
DR
11,30
=
x
1000 m
1,67
=

6.784,52

Ha

38

Alt 2

Alt 3

Alt 4

Alt 5

Alt 6

NOV I

6.784,5

28.790,3

17.503,6

10.981,3

12.538,7

21.771,1

NOV II

6.857,8

6.857,8

29.191,6

6.857,8

9.205,5

11.106,5

DES I

10.885,3

10.885,3

10.885,3

10.885,3

10.885,3

10.885,3

DES II

17.421,3

11.450,8

11.450,8

13.818,7

12.927,6

11.450,8

JAN I

12.309,2

14.599,4

9.580,2

13.356,8

11.805,5

11.568,9

JAN II

14.847,8

14.275,2

14.094,0

14.555,9

14.398,6

14.184,0

FEB I

19.606,5

12.186,0

13.924,5

15.896,2

15.239,0

13.055,2

FEB II

65.272,8

21.561,7

12.913,8

43.417,2

33.249,4

17.237,7

MAR I

39.242,2

24.300,0

78.484,5

45.021,4

31.771,1

MAR II

13.842,3

89.890,2

28.905,9

37.353,0

247.764,7

APR I

8.190,0

7.968,6

8.077,8

12.116,7

15.937,3

APR II

8.671,8

8.424,0

8.424,0

8.546,1

8.505,0

8.424,0

MEI I

4.840,8

3.236,3

3.236,3

3.879,2

3.638,3

3.236,3

MEI II

5.054,4

4.966,8

3.292,1

5.010,2

4.267,8

3.959,7

JUN I

1.410,3

1.840,6

1.805,1

1.597,0

1.660,8

1.822,7

JUN II

1.997,8

1.083,7

1.321,1

1.405,2

1.376,0

1.190,7

JUL I

1.287,4

1.349,8

803,5

1.317,9

1.086,1

1.007,4

JUL II

1.724,7

1.171,4

1.137,2

1.395,2

1.297,1

1.154,0

AGT I

961,2

1.427,1

1.306,6

1.148,7

1.196,9

1.364,2

AGT II

809,8

940,4

1.350,8

870,2

987,3

1.108,8

SEP I

238,1

242,4

278,5

240,2

251,8

259,2

SEP II

297,8

253,5

258,3

273,8

268,5

255,9

OKT I

572,2

366,4

311,5

446,7

390,2

336,7

OKT II
MIN A PADI
RENDENG

1.034,9

550,5

371,4

718,7

547,9

443,6

6.784,5

6.857,8

9.580,2

6.857,8

9.205,5

10.885,3

MIN A PADI GADU

1.410,3

1.083,7

803,5

1.317,9

1.086,1

1.007,4

MIN PALAWIJA

238,1

242,4

258,3

240,2

251,8

255,9

Padi Gadu

Alt 1

Palawija

Periode

Padi Rendeng

Tabel 2.21 Maksimum Luas Areal Yang Dapat Diairi

39

Luas areal maksimum yang dipergunakan/ ideal yang dapat dipergunakan adalah nilai
tertinggi dari setiap jenis tanaman berdasarkan nilai maksimum dari setiap alternatif.
Luas Areal Irigasi Minimum selama musim tumbuh :
Padi rendeng = 10.885,3 Ha

Alternatif V

Padi Gadu

1.410,3

Ha

Alternatif I

Palawija

258,3

Ha

Alternatif III

Debit Rencana Pengambilan Pada Bangunan.


Jaringan irigasi dapat dimanfaatkan dengan baik jika dipakai alternatif V (tiga golongan)
A

10.885,3 Ha

Qrencana

=
=

Alternatif V

10.885,3

18,13

NFR
Ha

1,67

Ltr/Dtk. Ha

m /Dtk

D. EVALUASI
1. Berikanlah penjelasan dari beberapa pengertian dibawah ini :
a. Evapotranspirasi
b. Tranpirasi
c. Evaporasi
2. Faktor faktor apa sajakah yang mempengaruhi penyiapan lahan irigasi ? Jelaskan.
3. Kehilangan air irigasi disebabkan oleh hal hal apa sajakah ? Jelaskan !
4. Hitunglah besarnya kebutuhan air untuk pengelolaan lahan jika diketahui waktu
penyiapan lahan selama 30 hari, air yang dibutuhkan untuk penjenuhan sebesar 300
mm serta besarnya Kebutuhan air untuk mengikuti/ mengkompensasi air yang hilang
akibat evaporasi dan perkolasi disawah yang telah dijenuhkan 6,60 mm/hari !
5. Hitunglah kebutuhan air bersih disawah pada bulan November jika diketahui ETo =
5,6 mm/hari , koefisien tanaman = 1,05, Curah Hujan bulanan rata rata = 110 mm,
pergantian lapisan air tengah bulanan = 50 mm dan perkolasi = 1,75 mm!
6. Buatlah pola tanam tertentu serta kumpulkanlah data data klimatologi pada wilayah
sungai tertentu dan data hidrolis sungai kemudian hitunglah luasan / areal sawah yang
mampu diairi oleh sungai tersebut !

40

BAB III
JARINGAN IRIGASI

A. TUJUAN STRUKSIONAL KHUSUS (TM)


Adapun yang menjadi tujuan instruksional khusus dalam bab ini adalah bahwa
setelah mengikuti kuliah, mahasiswa akan dapat :
1. Menjelaskan tingkatan tingkatan jaringan Irigasi
2. Menjelaskan kelebihan dan kekurangan dari setiap tingkatan irigasi/ menjelaskan
kriteria dari masing masing tingkatan Irigasi
3. Menjelaskan tentang bangunan utama atau jenis jenis bangunan pengambilan irigasi
4. Mengetahui dan dapat menjelaskan semua komponen komponen yang merupakan
bagian dari suatu jaringan irigasi.
Dalam bab ini mahasiswa diharapkan mengikuti materi kuliah dengan memiliki
literatur pokok yaitu Bahan Ajar Irigasi I, Kriteria Perencanaan Irigasi (KP), Petunjuk
Perencanaan Irigasi serta literatur lain yang berkaitan dengan materi materi yang dibahas
dalam perkuliahan ini serta dalam perkuliahan menggunakan metode ceramah dan tanya
jawab.

B. PENDAHULUAN
Jaringan Irigasi merupakan suatu kesatuan saluran dan bangunan yang
dipergunakan untuk mengalirkan air dari sungai ke sawah berdasarkan besarnya kebutuhan
air pada petak - petak kuarter, besarnya kebutuhan akan air dipetak kuarter untuk Irigasi ini
akan mempengaruhi kapasitas saluran kuarter. Besarnya kapasitas saluran pada petak
kuarter akan mempengaruhi besarnya kapasitas saluran di saluran tersier, besarnya,
kapasitas saluran tersier akan berpengaruh pada kapasitas saluran sekunder kemudian akan
berpengaruh terhadap kapasitas saluran primer dan bangunan utama (Headworks).
Dalam suatu jaringan irigasi dapat dibedakan adanya empat unsur pokok yaitu :

Bangunan Utama (Headworks), dimana air diambil dari sumbernya (Sungai, Waduk,
dll).

Jaringan Pembawa, berupa saluran yang mengalirkan air irigasi ke petak petak Tersier.

41

Petak Tersier, dengan sistem pembagian air dan sistem pembuangan kolektif ; air
irigasi dibagi - bagi dan dialirkan kesawah - sawah dan kelebihan air ditampung
didalam suatu sistern pembuangan didalam petak tersier.

Sistem Pembuang, yang ada diluar daerah irigasi untuk membuang kelebihan air
kesungai atau kesaluran - saluran alamiah.

Unsur jaringan Irigasi yang akan dibicarakan disini adalah Saluran Irigasi, saluran
pembuang, Bangunan Pembawa, Petak Tersier Sedangkan Bangunan Utama dan Bangunan
Pengukur Debit akan dibicarakan pada MK. Irigasi II.

C. MATERI
3.1. Tingkat - Tingkat Jaringan Irigasi
Berdasarkan cara pengaturan, pengukuran air dan kelengkapan fasilitas dari jaringan irigasi
maka jaringan irigasi dapat digolongkan ke dalam tiga tingkatan yakni Sederhana, Semi
Teknis, dan Teknis.

A. Jaringan Irigasi Sederhana.


Jaringan irigasi sederhana adalah suatu jaringan irigasi yang biasanya tidak mempunyai
bangunan pengambilan permanen biasanya berupa pengambilan bebas (Free Intake),
biasanya saluran irigasinya terbuat dari tanah.
Klasifikasi Jaringan Irigasi Sederhana :

Pembagian air irigasi tidak diatur atau diukur, air lebih akan mengalir ke saluran
pembuang.

Saluran irigasi dan saluran pembuang tidak pisah.

Pemakai air dari satu kelompok sosial yang sama.

Kemiringan daerah biasanya dari sedang sampai curam. laringan irigasi terletak pada
daerah yang tinggi sehingga air yang terbuang tidak selamanya mencapai daerah yang
rendah yang lebih subur.

Persediaan air biasanya berlimpah. Terdapat banyak penyadapan yang memerlukan


lebih banyak biaya dari penduduk setempat.

42

Gambar 3.1. Jaringan Irigasi Sederhana

B. Jaringan Irigasi Semi Teknis


Jaringan irigasi semi teknis adalah suatu jaringan irigasi yang biasanya sudah mempunyai
bangunan pengambilan berupa bendung, akan tetapi belum sepenuhnya terdapat pemisahan
antara saluran irigasi dan saluran pembuang.
Klasifikasi Jaringan Irigasi Semi Teknis :

Bendungnya terletak disungai lengkap dengan pengambilan dan bangunan pengukur di


hilimya.

Terdapat beberapa bangunan permanen dijaringan saluran. Daerah layanan irigasi semi
teknis lebih besar dari dari irigasi sederhana. Diperlukan keterlibatan Pemerintah dalam
pemeliharaan dan pengelolaan bangunan pengambilan.

Terdapat pemisahan antara saluran irigasi dan saluran pembuang tetapi tidak
semuanya.

43

Gambar 3.2. Jaringan Irigasi Semi Teknis

C. Jaringan Irigasi Teknis


Jaringan irigasi teknis adalah salah satu model jaringan yang didasarkan atas cara
pembagian air yang paling effisien dengan mempertimbangkan waktu merosotnya air serta
kebutuhan - kebutuhan pertanian.

Klasifikasi Jaringan Irigasi Teknis :

Terdapat bangunan pengambilan yang permanen.

Pemanfaatan air lebih ekonomis dengan biaya pembuatan saluran lebih rendah karena
saluran pembawa dapat dibuat lebih pendek dengan kapasitas yang lebih kecil.

Jaringan irigasi teknis memungkinkan dilakukannya pengukuran aliran, pembagian air


irigasi dan pembuangan air lebih effisien..

Terdapat pemisahan antara jaringan irigasi dan jaringan pembuang.

44

Saluran irigasi mengalirkan Air kesawah - sawah dan saluran pembuang mengalirkan
air lebih dari sawah - sawah ke selokan - selokan atau saluran pembuang alamiah yang
kemudian membuangnya ke laut.

Petak tersier menduduki posisi sentral dalam jaringan irigasi teknis, luas petak 50 - 100
ha kadang - kadang dapat mencapai 150 ha.

Biaya eksploitasi dan pemeliharaan lebih murah.

Gambar 3.3. Jaringan Irigasi Teknis

45

TABEL 3.1 KRITERIA KLASIFIKASI JARINGAN IRIGASI

Untuk ketiga tingkatan jaringan irigasi yang ada yang hanya dibahas adalah jaringan irigasi
teknis yang selanjutnya hanya disebut Jaringan Irigasi

3.2. Bangunan Pengambilan (Bangunan Utama)


Bangunan Utama (Headworks) dapat didefinisikan sebagai kompleks bangunan yang
direncanakan di atau sepanjang sungai atau aliran air untuk membelokan air kedalam
jaringan Irigasi atau saluran irigasi agar air tersebut dapat dimanfaatkan untuk keperluan
irigasi.
Bangunan Utama terdiri dari bangunan - bangunan antara lain :

Bangunan Pengelak yaitu bagian dari bangunan utama yang berfungi untuk
membelokan arah aliran sungai menaikan muka air di sungai atau dengan
memperlebar pengambilan dasar sungai kedalam saluran (misalnya : bendung)
dengan peredam energi.

46

Peredam Energi yaitu bagian dari bangunan pengelak yang berfungsi untuk
meredam tenaga aliran air pada saat melewati pembendungan (misalnya : kolam
olak).

Kantong Lumpur yaitu bagian dari bangunan utama yang berfungsi untuk
mengendapkan atau menampung sedimen dari sungai agar tidak masuk kedalam
saluran irigasi sampai pada saat pembilasan.

Bangunan Pembilas yaitu bagian dari bangunan utama yang berfungsi untuk
membilas sedimen.

Bangunan pengelak adalah bagian dari

Ada beberapa macam bendung yang biasanya dipakai antara lain bendung pelimpah,
bendung gerak (barrage) dan kombinasi antara bendung gerak dan bendung tetap seta
bendung saringan bawah.
a).

Bendung tetap adalah bangunan pelimpah melintang sungai yang memberkan tinggi
muka air minimum kepada bangunan pengambilan untuk keperluan irigasi, bendung
merupakan suatu penghalang selama terjadi banjir dan dapat menyebabkan genangan
Iuas didaerah daerah hulu bendung tersebut.

b).

Bendung Gerak adalah bangunan berpintu yang dibuka selama aliran besar, masalah
yang ditimbulkannya selama banjir kecil, bendung gerak dapat mengatur muka air
didepan pintu pengambilan agar air yang masuk tetap sesuai dengan kebutuhan
irigasi. (bendung gerak ini mempunyai kesulitan yaitu pada penggunaannya serta
perlu pemeliharaan dan perawatan agar bendung gerak tidak cepat rusak).

c).

Bendung Saringan Bawah adalah tipe bangunan yang dapat menyadap air dari sungai
tanpa terpengaruh oleh tinggi muka air. Tipe ini terdiri dari sebuah pant terbuka yang
terletak tegak lurus terhadap aliran sungai. Biasanya bendung saringan bawah ini
dilengkapi dengan jeruji baja (saringan) berfungsi untuk mencegah masuknya batu
batu besar kedalam saluran. Bendung saringan bawah ini biasanya hanya digunakan
pada sungai yang mengangkut batu batu besar.

47

Bangunan utama juga dapat meliputi bangunan pengambilan bebas, pengambilan dengan
waduk dan pengambilan air dari sumber dengan pompa.
a.

Pengambilan Bebas, adalah pengambilan yang dilakukan dengan membuat suatu


saluran pengambilan ditepi sungai tanpa mengatur tinggi muka air di sungai.
Pengambilan bebas dapat dilakukan jika elevasi disungai lebih tinggi dari daerah
yang diairi dan jumlah air yang dapat dibelokan kearah saluran harus cukup.

Gambar 3.4 Pengambilan Bebas

Pengambilan bebas di buat ditempat yang tepat sehingga dapat mengambil air dengan baik
dan sedapat mungkin menghindari masuknya sedimen. Terlepas dari pemilihan lokasi
pengambilan yang benar disungai, masuknya sedimen dipengaruhi oleh :

Sudut antara pengambilan dan sungai

Penggunaan dan ketinggian ambang penahan sedimen (skimming wall).

Kecepatan aliran masuk dan sebagainya.

(b).

Pengambilan Dengan Waduk (Bendungan), digunakan untuk menampung sumber


air permukaan pada waktu musim hujan dan digunakan pada saat saat
kekurangan air, fungsi utama waduk adalah mengatur aliran sungai. Waduk
dibangun dengan banyak tujuan antara lain : keperluan irigasi, tenaga pembangkit
listrik, pengendali banjir dll.

48

Gambar 3.5 Pengambilan Dengan Waduk

(c).

Stasiun Pompa, digunakan apabila pengambilan secara gravitasi tidak dapat


dilakukan berdasarkan pertimbangan teknis maupun ekonomis,hal ini karena
dimana elevasi dari sawah lebih tinggi dari elevasi. Irigasi dengan pompa
biasanya modal awal kecil (hanya untuk pembelian pompa) akan tetapi biaya
operasional dan pemeliharaan besar.

Gambar 3.6 Irigasi Dengan Pompa

49

3.3. Saluran Irigasi Dan Pembuang Dalam Jaringan Irigasi.


Saluran irigasi dan saluran pembuang pada sebuah jaringan irigasi, biasanya terdiri dari
saluran primer, saluran sekunder, saluran tersier dan saluran kuarter.

Gambar 3.7 Model Saluran Irigasi dan Saluran Pembuang

50

a. Saluran Irigasi.

Saluran Primer, membawa air dari bangunan utama ke saluran sekunder dan ke petak
- petak tersier yang diairi. Batas ujung saluran primer adalah bangunan bagi terakhir.

Saluran Sekunder, membawa air dari saluran primer ke saluran tersier dan ke petak petak tersier yang diairi. Batas ujung saluran sekunder adalah bangunan sadap
terakhir.

Saluran Tersier, membawa air dari bangunan sadap tersier ke petak tersier yang
terletak dipetak tersier lainnya lalu ke saluran kuarter. Batas ujung saluran ini adalah
boks bagi kuarter terakhir.

Saluran Kuarter, membawa air boks bagi kuarter melalui bangunan sadap tersier atau
parit sawah ke sawah - sawah.

Keterangan :

Gambar 3.7 Saluran Irigasi pada Jaringan Irigasi

51

b. Saluran Pembuang.

Saluran Pembuang Kuarter, terletak di dalam satu petak tersier, menampung air
langsung dari sawah dan membuang air tersebut ke dalam saluran pembuang tersier.

Saluran Pembuang Tarsier, terletak di dan antara petak - petak tersier, yang termasuk
dalam unit irigasi sekunder yangsama danmenampung air baik dari pembuang kuarter
maupun dari sawah sawah, air tersebut kemudian dibuang ke dalam jaringan
pembuang sekunder.

Saluran Pembuang Sekunder, menampung air dari jaringan pembuang tersier dan
membuang air tersebut ke pembuang primer atau langsung ke jaringan pembuang
alamiah dan keluar daerah irigasi.

Saluran Pembuang Primer, mengalirkan air Iebih dari saluran pembuangan sekunder
ke Iuar daerah irigasi. Pembuang primer sering berupa saluran pembuang alamiah
yang mengalirkan ke laut.

Gambar 3.8 Saluran Pembuang pada Jaringan Irigasi

52

D. EVALUASI
1. Berikanlah penjelasan dari beberapa pengertian dibawah ini :
a. Bangunan Utama
b. Bangunan Pembilas
c. Bangunan Pengelak.
d. Kantong lumpur
e. Kolam Olak
2. Sebutkan dan jelaskan perbedaan tingkatan tingkatan jaringan irigasi.
3. Saluran irigasi terdiri atas berapa bagian ? Jelaskan !
4. Saluran irigasi terdiri atas berapa bagian ? Jelaskan !
5. Pengambilan air yang dilakukan secara bebas dapat dilakukan dengan baik harus
memperhatikan faktor apa saja ? jelaskan.

53

BAB IV
STANDARD TATA NAMA DAN TATA WARNA
PADA JARINGAN IRIGASI DAN PETA.

A. TUJUAN STRUKSIONAL KHUSUS (TM)


Adapun yang menjadi tujuan instruksional khusus dalam bab ini adalah bahwa setelah
mengikuti kuliah, mahasiswa akan dapat :
1. Mengenali dan menandai simbol simbol pada peta serta jaringan irigasi sesuai
dengan kriteria kriteria yang berlaku dalam perencanaan irigasi.
2. Memberikan nama jaringan Irigasi sesuai dengan kriteria kriteria yang berlaku
dalam perencanaan irigasi.
3. Memberikan tata warna jaringan Irigasi sesuai dengan kriteria kriteria yang
berlaku dalam perencanaan irigasi.
Dalam bab ini mahasiswa diharapkan mengikuti materi kuliah dengan
memiliki literatur pokok yaitu Bahan Ajar Irigasi I, Kriteria Perencanaan Irigasi (KP),
Petunjuk Perencanaan Irigasi serta literatur lain yang berkaitan dengan materi
materi yang dibahas dalam perkuliahan ini serta dalam perkuliahan menggunakan
metode ceramah dan tanya jawab serta pembahasan soal - soal.

B. PENDAHULUAN
Nama - nama yang diberikan untuk saluran - saluran irigasi dan pembuang, serta
daerah irigasi harus jelas dan logis dengan mengikuti ketentuan ketentuan yang ada.
Nama yang diberikan harus pendek dan tidak mempunyai tafsiran ganda, nama nama harus dipillih sedemikian rupa sehingga jika dibuat bangunan baru kita tidak
perlu mengubah semua nama yang sudah ada.

4.1. Daerah Irigasi.


Daerah irigasi dapat diberi nama sesuai dengan nama daerah setempat, atau
desa penting di daerah itu, yang biasanya terletak dekat jaringan bangunan utama atau
sungai yang aimya diambil untuk keperluan irigasi. Contohnya adalah Daerah Irigasi
Haliwen atau Daerah Irigasi Kambaniru, apabila ada dua pengambilan atau Iebih

54

maka daerah irigasi tersebut sebaiknya diberi nama sesuai dengan nama desa - desa
terkenal didaerah layanan.
Sebagai contoh lihat gambar di 4.2. dibawah Bendung Barang merupakan
salah satu dari bangunan - bangunan utama di sungai/ kali Dolok. Bangunan bangunan tersebut melayani Daerah Makawa dan Lamogo, keduanya diberi nama
sesuai nama - nama desa utama di daerah itu.
4.2. Jaringan Irigasi.
Saluran primer sebaiknya diberi nama sesuai dengan daerah irigasi yang dilayani,
contoh : Saluran Primer Makawa merupakan saluran primer yang rnelewati dan
melayani desa Makawa.
Saluran sekunder, sering diberi nama sesuai dengan desa yang terletak pada petak
sekunder. Petak sekunder akan diberi nama sesuai dengan nama saluran sekundernya.
Sebagai contoh saluran sekunder Sambak mengambil nama desa Sambak yang
terletak di petak Sekunder Sambak.
Saluran dibagi menjadi ruas - ruas yang berkapasitas hampir sama, misalnya RS2
adalah Ruas Saluran Sekunder Sambak 2 yang terletak antara bangunan Sambak 1
(BS1) dan bangunan Sambak 2 (BS2). Bangunan sadap atau bangunan bagi adalah
bangunan terakhir disuatu ruas. Bangunan itu diberi nama sesuai dengan ruas hulu,
tetapi huruf R (Ruas) dirubah menjadi B (bangunan) misal BS2 adalah Bangunan
Sambak 2 yang terletak pada ujung Ruas Sambak 2 (RS2).
Bangunan - bangunan yang terdapat diantara bangunan - bangunan bagi sadap
(gorong-gorong, jembatan, siphon, talang, di!) diberi nama sesuai dengan nama ruas
dimana bangunan tersebut terletak, juga dimulai dengan huruf B (bangunan) lalu
diikuti dengan huruf kecil sehingga bangunan yang terletak diujung hilir dimulai
dengan "a dan bangunan bangunan selanjutnya memakai b, c, d, dst). Sebagai
contoh BS2b adalah bangunan kedua pada ruas RS2 di saluran Sambak, terletak
diantara BS1 dan BS2.

55

56

57

4.3. Sistem Tata Nama.


Petak Tersier diberi nama seperti bangunan sadap tersier dari jaringan utama.
Misalnya petak tersier S1ki mendapat air dari pintu kiri bangunan bagi BS1 yang
terletak di saluran Sambak.
Ruas - ruas saluran tersier diberi nama sesuai dengan nama yang terletak diantara
kedua boks. Misalnya (T1 -T2), (T3 - K2) (lihat gambar 4.3) Boks tersier diberi kode
T, diikuti dengan nomor urut menurut arah jarum jam, mulaidari boks pertama dihilir
bangunan sadap tersier T1, T2 dan sebagainya.
Petak kuarter diberi nama sesuai dengan petak rotasi, diikuti dengan nomor urut
menurut arah jarum jam. Petak rotasi diberi kode A, B, C, D dan seterusnya menurut
arah jarum jam.
Boks kuarter diberi kode K, dikuti dengan nomor urut menurut arah jarum jam, mulai
dari boks kuarter pertama dihilir boks tersier dengan nomor urut tertinggi : K1, K2
dan seterusnya.
Saluran irigasi kuarter diberi nama sesuai dengan petak kuarter yang dilayani tetapi
dengan huruf kecil, misalnya : a1, a2 dan seterusnya.

Gambar 4.3 Sistem Tata Nama Pletak Rotas/ Dan Kuarter

Saluran Pembuang Kuarter diberi nama sesuai dengan petak kuarter yang
dibuang airnya, menggunakan huruf kecil diawali dengan drainase kuarter (dk),
misalnya dka1, dka2 dan seterusnya.
Saluran pembuang tersier diberi kode dt1,dt2 juga menurut arah jarum jam.

58

Pada umumnya pembuang primer berupa sungai sungai alamiah kesemuanya akan
diberikan nama. Apabila ada saluran - saluran pembuang primer baru yangakan
dibuat, maka saluran saluran itu harus diberi nama tersendiri. Jika saluran
pembuang dibagi menjadi ruas ruas, maka masing masing ruas akandiberi nama,
mulai dari ujung hilir.
Pembuang sekunder pada umumnya berupa sungai atau anak sungai yang Iebih kecil.
Beberapa diantaranya sudah mempunyai nama tetap yang sudah dapat dipakai, jika
tidak sungai/ anak sungai tersebut akan ditunjukan dengan sebuah huruf bersama
sama dengan nomor serf. Nama nama ini akan diawali dengan huruf d (drainase).
Pembuang tersier adalah pembuang kategori terkecil dan akan dibagi menjadi ruas
ruas dengan debit yang hampir seragam, masing masing diberi nomor. Masing
masing petak tersier mempunyai nomor sendiri sendiri.

Gambar 4.4 Standard Tata Nama Saluran Pembuang

4.4. Tata Warna Peta


Warna warna standard akan digunakan untuk menunjukan berbagai
tampilan irigasi pada peta :

Biru untuk jaringan irigasi, garis penuh untuk jaringan yang ada dan garis putus
putus untuk jaringanyang sedang direncanakan.

Merah untuk sungai dan jaringan pembuang ; garis penuh untuk jaringan yang
sudah ada dan garis putus putus untuk jaringan yang sedang direncanakan.
59

Coklat untuk jaringan jalan;

Kuning untuk daerah yang tidak diairi (dataran tinggi, rawa rawa).

Hijau untuk perbatasan kabupaten, kecamatan, desa dan kampung.

Merah untuk tata nama bangunan.

Hitam untuk jalan kereta api.

Warna bayangan akan dipakai untuk batas batas petak sekunder; batas petak
tersier akan diarsir dengan warna yanglebih muda dari warna yang sama (untuk
petak sekunder); semua petak tersier yang diberi air Iangsung dari saluran primer
akan mempunyai warna yang sama.

4.5. Definisi Mengenai Daerah Daerah Irigasi.


a. Daerah Studi adalah daerah proyek ditambah dengan seluruh Daerah Aliran
Sungai (DAS) dan tempat- tempat pengambilan air ditambah dengan daerah
daerah lain yang ada hubungannya dengan daerah studi.
b. Daerah Proyek adalah daerah dimana pelaksanaan pekerjaan dipertimbangkan
dan atau diusulkan dan daerah tersebut akan mengambil manfaat Iangsung dari
proyek tersebut.
c. Daerah

Irigasi

Total/Bruto

adalah

daerah

proyek

dikurangi

dengan

perkampungan dan tanah tanah yang dipakai untuk mendirikan bangunan,


daerah yang tidak diairi, jalan utama, rawa rawa dan daerah daerah yang tidak
akan dikembangkan untuk irigasi di bawah proyekyang bersangkutan.
d. Daerah Iriaasi Bersih/Netto adalah tanah yang ditanami (padi) dan ini adalah
daerah total yang bisa diairi dikurangi dengan saluran irigasi, saluran pembuang,
jalan inspeksi, jalan setapak tanggul sawah. Daerah ini dijadikandasar untuk
perhitungan kebutuhan air, panenan, manfaat/ keuntungan yang dapat diperoleh
dari proyek yang bersangkutan. Sebagai angka standar, luas netto daerah yang
diairi diambil 0,9 kali Iuas total daerah - daerah yang dapat diairi.
e. Daerah Potensial adalah daerah yang mempunyai kemungkinan untuk
dikembangkan. Luas daerah ini sama dengan daerah irigasi netto tetapi biasanya
belum sepenuhnya dikembangkan akibat terdapatnya hambatan - hambatan non
teknis.

60

f. Daerah fungsional adalah bagian dari daerah Potensial yang telah memiliki
jaringan irigasi yang telah dikembangkan. Daerah fungsional luasnya sama atau
lebih kecil dari daerah potensial.

Gambar 4.5 Defenisi Daerah Irigasi

61

4.6. Simbol Dan Map

62

63

64

65

66

67

68

69

70

71

D. EVALUASI
1. Bagaimanakah prinsip pemberian nama saluran saluran dan bangunan
bangunan dalam suatu jaringan irigasi ? jelaskan !
2. Bagaimanakah system pemberian nama pada saluran primer, sekunder dan tersier
? Jelaskan.
3. Bagaimanakah sistem pemberian nama pada saluran drainase ? Jelaskan.
4. Bagaimanakah system pemberian warna pada peta irigasi ? Jelaskan.
5. Coba gambarkan tanda tanda bangunan untuk bendung, jembatan dan talang !

72

BAB V
PETAK TERSIER
A. TUJUAN STRUKSIONAL KHUSUS (TM)
Adapun yang menjadi tujuan instruksional khusus dalam bab ini adalah bahwa
setelah mengikuti kuliah, mahasiswa akan dapat :
1. Menjelaskan suatu model atau layout petak tersier
2. Merencanakan petak tersier yang ideal sesuai dengan kondisi wilayah.
3. Menjelaskan sistem pembagian air pada petak tersier.
4. Mengetahui dan menjelaskan ukuran ukuran petak ideal pada petak kuarter dan
tersier .
5. Menjelaskan cara cara pemberian air pada layout petak tersier.
Dalam bab ini mahasiswa diharapkan mengikuti materi kuliah dengan memiliki
literatur pokok yaitu Bahan Ajar Irigasi I, Kriteria Perencanaan Irigasi (KP), Petunjuk
Perencanaan Irigasi serta literatur lain yang berkaitan dengan materi materi yang dibahas
dalam perkuliahan ini serta dalam perkuliahan menggunakan metode ceramah dan tanya
jawab serta pembahasan soal - soal.

B. PENDAHULUAN
Dalam rangka meningkatkan produksi tanaman pangan, pembangunan sektor
pertanian mengutamakan program intensifikasi, ekstensisifikasi dan diversifikasi. Seiring
dengan perkembangan teknologi pertanian serta kenyataan bahwa varietas tanaman
modern menuntut pengelolaan air secara tepat guna, maka seluruh prasarana didaerah daerah pertanian harus dikembangkan.
Untuk mengatur aliran air dari sumbernya ke petak - petak sawah, diperlukan
pengembangan sistem irigasi didalam petak tersier.
Segi - segi hukum menyangkut pengembangan petak tersier tertuang dalam :

Undang - undang No. II, 1974 mengenai sumber daya air.

Peraturan Pemerintah No. 22, 1982 mengenai pengaturan air.

Peraturan pemerintah No. 23, 1982 tentang irigasi.

Instruksi presiden No. 2, 1984 mengenai bimbingan kepada Perkumpulan Petani


Pemakai Air.

73

Dalam instruksi presiden No. 2, 1984 diuraikan tugas - tugas dan tanggung jawab
Departemen Dalam Negeri, Pekerjaan Umum Dan Pertanian atas bimbingan (penyuluhan)
kepada petani pemakai air.
Tugas Departemen Pekerjaan Umum Didefenisikan sebagai berikut :
"...Melakukan pembinaan dalam eksploitasi irigasi dan pemeliharaan jaringan irigasi di
tingkat petak tersier, guna terselenggaranya pengelolaan air secara tepat guna, berdaya
guna dan berhasil guna".
Dalam lampiran instruksi tersebut pada bab IX pasal 12 tugas bimbingan dijelaskan
sebagai berikut :
"...Memberikan petunjuk dan bantuan kepada P3A dalam hal yang berhubungan dengan
survey dan desain, konstruksi serta eksploitasi dan pemeliharaan jaringan tersier dan
tingkat usaha tani lainnya".
Tugas Departemen Dalam Negeri adalah "memberikan petunjuk - petunjuk kepada
Pemerintah Daerah tentang bimbingan dan pembentukan Perkumpulan Petani Pemakai
Air".
Tugas Departemen Pertanian adalah "memberikan petunjuk mengenai penggunaan air
irigasi secara benar dan adil ditingkat kuarter.

C. MATERI
5.1 Perencanaan Petak Tersier Dan Peristilahan.
Tujuan perencanaan petak tersier atau jaringan irigasi tersier adalah untuk
mendapatkan suatu pengelolaan air yang balk, Eksploitasi dan pemeliharaan jaringan
dapat dengan mudah dilakukan oleh para petani pemakai air dengan biaya rendah.
Petak tersier adalah petak dasar disuatu jaringan irigasi, petak ini merupakan
bagian dari daerah irigasi yang mendapat air irigasi dari suatu bangunan sadap tersier dan
dilayani oleh suatu jaringan tersier. Petak tersier dibagi menjadi petak - petak kuarter.
Sebuah petak kuarter merupakan bagian dari petak tersier yang menerima air dari saluran
kuarter.
Jaringan Tersier adalah jaringan saluran yang melayani areal didalam petak tersier.
Jaringan Tersier terdiri dari :

74

Jaringan Bagi adalah saluran dan bangunan yangmembawa dan membagi air dari
bangunan sadap tersier ke petak - petak kuarter (Saluran Tersier). Jaringan Pemakai
adalah saluran dan bangunan yang membawa air dari jaringan bagi ke petak - petak
sawah (saluran kuarter).

Jaringan pembuang adalah saluran dan bangunan yangmembuang kelebihan air dari
petak - petak sawah ke jaringan pembuang utama.

Saluran tersier membawa air dari bangunan sadap tersier di jaringan utama ke petak petak kuarter. Batas ujung saluran tersier adalah boks bagi kuarter yang terakhir. Para
petani tidak diperkenankan mengambil air dari saluran tersier.

Saluran Kuarter membawa air dari boks bagi kuarter melalui lubang sadap sawah atau
saluran cacing ke sawah - sawah. Jika pemilikan sawah terletak Iebih dari 150 m dari
saluran kuarter, saluran cacing dapat mengambil air Iangsung disaluran kuarter tanpa
bangunan.

Saluran Kuarter sebaiknya berakhir di saluran pembuang agar air irigasi yang tak
terpakai bisa dibuang. Supaya saluran tidak tergerus diperlukan bangunan akhir.

Boks kuarter hanya membagi air irigasi ke saluran kuarter saja. Boks tersier membagi
air irigasi antara saluran kuarter dan saluran tersier.

Saluran Pembuang kuarter terletak di dalam petak tersier untuk menampung air
langsung dari sawah dan membuang air itu ke saluran pembuang tersier.

Saluran Pembuang Tersier terletak di dan dan antara petak - petak tersier dari jaringan
irigasi sekunder yang sama serta menampung air dari pembuang kuarter maupun
langsung dari sawah.

75

Gambar 5.1 Peristilahan Dan Tata Nama

5.2 Data Dasar.


Untuk perencanaan diperlukan data data dasar berikut :
a).

Data Topografi
Data ini diperlukan untuk perencanaan detail jaringan irigasi tersier dan pembuang,
data ini harus menunjukan gambaran muka tanah yang ada. Untuk masing masing
jaringan irigasi akan digunakan titik referensi dan elevasi yang sama.

Peta peta topografi harus mencakup informasi yang berkenan dengan :

Garis garis kontur.

Batas batas petak sawah (Kalau ada foto udara).

Tata guna lahan.

Saluran Irigasi, pembuang dan jalan jalan yang sudah ada beserta bangunannya.

76

Batas batas wilayah administratif (desa, kampung).

Rawa rawa dan kuburan.

Bangunan.

Skala peta dan interval garis-garis kontur bergantung kepada keadaan topografi:
Tabel 5.1. Defenisi Medan Untuk Topografi Makro.
Kondisi Medan
Sangat Datar
Datar
Bergelombang
Terjal

Kemiringan
Medan

Skala

Interval
Kontur

< 0,25 %
0,25 % - 1,00 %
1%-2%

1 : 5.000
1 : 5.000
1 : 2.000

0,25 m
0,50 m
0,50 m

>2%

1 : 2.000

1,00 m

Selain itu juga harus diperlihatkan kerapatan/ densitas titik-titik di petak petak sawah
agar arah aliran antar petak dapat ditentukan. Peta Ikhtisar juga harus disiapkan dengan
skala 1 : 25.000 dengan layout jaringan utama dimana petak tersier terletak. Peta ini harus
mencakup trase saluran irigasi, saluran pembuang, batas batas petak tersier dan
sebagainya.

b).

Gambar - Gambar Rencana Dari Jaringan Yang Ada.


Di daerah - daerah yang sudah ada fasilitas irigasinya, diperlukan data - data

perencanaan yang berhubungan dengan daerah - daerah irigasi, kapasitas saluran irigasi
dan muka air maksimum dari saluran - saluran yang ada dan gambar - gambar desain dari
bangunan dan jaringan yang telah ada (Kalau Tersedia), untuk menentukan tinggi muka
air dan debit rencana. Jika data - data ini tidak tersedia, maka harus menentukan tinggi
muka air rencana pada pintu sadap dan elevasi bangunan sadap lainnya harus dilakukan
pengukuran.

c).

Genangan Dan Kekeringan Yang Terjadi Secara Teratur.


Di daerah petak tersier yang akan dikembangkan, kondisi genangan dan

kekeringan harus diketahui. Bila genangan sering terjadi (setiap tahun), maka jaringan
tersier akan mengalami kerusakan berat. Hal ini biasanya berakibat pada biaya E & P yang
tinggiakan menjadi beban berat bagi petani dan akibatnya jaringan tersier akan
terbengkalai. Sebelum petak dilengkapi dengan jaringan tersier, harus diambil tindakan 77

tindakan khusus guna mengurangi frekuensi genangan. Hal yang sama juga berlaku bagi
daerah - daerah yang terlanda kekeringan. Jika persediaan air tidak dapat diandalkan,
maka para petani tidak akan mengeksploitasi dan memelihara jaringan dengan balk.
Perbaikan persediaan air perlu dilakukan sebelum petak dapat dikembangkan. Bila
tersedianya air merupakan faktor penghambat, maka pengembangan petak tersier
sebaiknya ditinjau kembali.

d).

Pembagian Air Di Petak Tersier.

Sistem pembagian air yang diterapkan merupakan masalah pokok sebelum jaringan tersier
dapat direncana. Ada tiga sistem pembagian air, yakni :
Pengaliran secara terus menerus.
Rotasi permanen.
Kombinasi antara pengaliran terus menerus dan sistem rotasi.
Sistem pengaliran secara terus - menerus memerlukan pembagian air yang proporsional,
jadi besarnya bukaan pada boks harus proporsional/ sebanding dengan daerah irigasi di
sebelah hilir. Pemberian air irigasi ke petak - petak kuarter di petak tersier belangsung
terus - menerus. Pemberian air ini dialirkan ke tiap blok sawah dipetak kuarter. Khususnya
pada waktu debit kecil, effisiensi penggunaan air sangat rendah akibat kehilangan air yang
relatif tinggi.
Agar pemanfaatan air menjadi lebih effisien, aliran air irigasi dapat konsentrasi
dan dibagi berselang - seling ke petak - petak kuarter tertentu. Sistem ini disebut rotasi
permanen (permanent rotation). Konsekuensi teknis dari sistem ini adalah kapasitas saluran
yang lebih tinggi, pemberian pintu pada semua boks serta pembagian air yang tidak
proporsional. Jadi ssitem ini Iebih mahal dan eksploitasi lebih rumit. Perencanaan petak
tersierharus didasarkan pada sistem pengaliran terus - menerus. Sistem pemberian air
secara rotasi dipakai di jaringan irigasi selama debit rendah untuk mengatasi kehilangan air
yang relatif tinggi. Sistem rotasi ini diterapkan jika debit yang tersedia dibawah 60 - 80 %
dari debit rencana. Bila tersedia debit Iebih dari itu maka dipakai sistem pengaliran terus menerus.
Penerapan sistem kombinasi memerlukan boks - boks bagi yang
1. Memungkinkan pembagian air yang proporsional dan,
2. memungkinkan pembagian air secara rotasi.

78

Pengaturan dan pembagian air yang adil memerlukan pintu yang dapat disetel sesuai
dengan daerah hilir yang akan diberi air. Karena pembagian air air ini bisa berbeda - beda
selama rotasi, maka setelan harus fleksibel. Fluktuasi debit akan mempengaruhi pembagian
air secara proporsional dipakai pintu sorong untuk mengatur aliran selama pemberian air
secara rotasi.

5.3 Layout Petak tersier.


Perencanaan teknis petak tersier harus menghasilkan perbaikan kondisi peratanian.
Masalah - masalah yang diperkirakan akan menghalangi tujuan pembagian air yang balk
harus dikenali dan dipertimbangkan dalam pembuatan layout dan perencanaan jaringan
tersier.
Untuk menentukan layout, aspek - aspek berikut akan dipertimbangkan :

Luas petak tersier.

Batas - batas petak tersier.

Bentuk yang optimal.

Kondisi medan.

Jaringan irigasi yang ada.

Eksploitasi jaringan.
Berhubung para petani harus mengelola dan memelihara sendiri jaringan tersier,

maka kebutuhan untuk eksploitasi dan pemeliharaan harus dibuat minimum. Pembagian
air harus adil, seimbang dan efisien.
Para petani akan memberikan sebagian tanah yang diperlukan untuk pembuatan
jaringan tanpa mendapat ganti rugi (kompensasi). Oleh sebab itu diusahakan seminimumn
mungkin, agar para petani tidak terlalu banyak mengorbankan tanah mereka.
Perencana hendaknya terbiasa dengan daerah yang bersangkutan dan selalu
berkonsultasi dengan para petani. Dengan demikian rencana yang dihasilkan akan lebih
dapat diterima, sehingga pengembangan petak tersier lebih berhasil.

a). Petak Tersier Yang Ideal.


Petak tersier dikatakan ideal jika masing - masing pemilikan sawah memiliki
pengambilan sendiri dan membuang kelebihan air langsung ke jaringan pembuang. Juga
para petani dapat mengangkut hasil pertanian mereka dan peralatan mesin atau temak
mereka ke dan dari sawah melalui jalan petani yang ada.
79

Untuk mencapai pola pemilikan sawah yang ideal didalam petak tersier, para
petani harus diyakinkan untuk agar membentuk kembali petak petak sawah mereka
dengan cara sating menukar bagian bagian tertentu dari sawah mereka atau menurut
ketentuan hukum yang berlaku.
Kebalikan dari hal diatas adalah, mempertahankan situasi yang ada dimana
pengaturan air sangat sulit dan menyebabkan ineffisiensi yang tinggi. Dalam hal ini,
perencanaan yang paling cocok adalah memperbaiki situasi yang ada tersebut, kemudian
diusahakan sedapat mungkin untukmencapai karakteristik yang ideal misalnya :
6 8 dari pemilikan sawah yang ada diorganisasi (atau direorganisasi menjadi jalur
jalur. (Lihat Gambar 5.2 5.4).
Air diberikan dari saluran kuarter dan kelebihan air dibuang melalui pembuang kuarter.
Jalan petani dibangun di sepanjang saluran kuarter.
Pembagian air proporsional dengan boks bagi dilengkapi dengan pintu guna
memungkinkan pembagian air secara berselang- seling ke petak petak kuarter.

80

Gambar 5.2 Jalur Jalur Irigasi

81

b). Ukuran Dan Bentuk Petak Tersier Dan Kuarter.


Ukuran petak tersier bergantung pada besarnya biaya pelaksanaan jaringan irigasi
dan pembuang (utama dan tersier) serta biaya eksploitasi dan pemeliharaan jaringan.
Menurut pengalaman, ukuran optimum suatu petak tersier adalah antara 50 dan 100 ha,
ukurannya dapat ditambah sampai maksimum 150 ha jika keadaan topografi memaksa
demikian.
Dipetak tersier yang berukuran kecil biasanya effisiensi irigasi akan menjadi lebih
tinggi karena :

Diperlukan lebih sedikit titik - titik pembagian air.

Saluran - saluran yang Iebih pendek menyebabkan kehilangan air yang lebih sedikit.

Lebih sedikit petani yang terlibat, jadi kerja sama dapat menjadi Iebih baik.
Pengaturan (air) yang lebih baik sesuai dengan kondisi tanaman.

Perencanaan lebih fleksibel sehubungan dengan batas- batas desa.

Gambar 5.3 Bentuk Optimal Petak Tersier

82

Bentuk optimal petak tersier adalah bujur sangkar, karena pembagian air akan
sulit pada petak tersier berbentuk memanjang (lihat gambar 5.3.). Ukuran petak kuarter
bergantung kepada ukuran sawah, keadaan topografi, tingkat teknologi yang dipakai,
kebiasaan bercocok tanam, biaya pelaksanaan, sistem pembagian air dan effisiensi.
Jumlah petani pemilik sawah di petak kuarter sebaiknya tidak boleh lebih dari 30
orang agar koordinasi antar petani balk. Ukuran petak itu sebaiknya tidak lebih dari 15 ha
agar pembagian air menjadi effisien. Lebar petak akan bergantung kepada cara
pembagian air yakni apakah air dibagi dari satu sisi atau kedua sisi saluran kuarter. Aliran
antar petak hendaknya dibatasi sampai kurang lebih 8 petak sawah atau 300 m panjang
maksimum. Didaerah - daerah datar atau bergelombang, petak kuarter dapatmembagi air
ke kedua sisi. Dalam hal ini lebar maksimum petak dibatasi sampai 400. Pada Tanah
terjal, dimana saluran kuarter mengalirkan air ke satu sisi saja, lebar maksimum diambil
300 m, panjang maksimum petak ditentukan oleh panjang saluran kuarter yang diizinkan
500 m.

Tabel 5.2. Kriteria Umum Untuk Pengembangan Petak Tersier.


Ukuran Petak Tersier

50 100 Ha

Ukuran Petak Kuarter

8 -15 Ha

Panjang Saluran Tersier

< 1500 m

Panjang Saluran Kuarter

< 500m

Jarak Antara saluran Kuarter Dan Pembuang

< 300m

c).

Batas Petak.
Batas - batas petak tersier didasarkan pada kondisi topografi. Daerah itu

hendaknya diatur sebaikmungkin, sedemikian rupa sehingga satu petak tersier terletak
dalam satu daerah administrative desa agar E & P jaringan menjadi lebih baik. Jika dua
desa di petak tersier yang sangat luas, maka dianjurkan untuk membagi petak tersebut
menjadi dua sub petak tersier yangberdampingan sesuai dengan daerah masing - masing.
Batas - batas petak kuarter biasanya akan berupa saluran irigasi dan pembuang
kuarter yang memotong kemiringan medan dan saluran irigasi tersier serta pembuang
tersier atau primer yang mengikuti kemiringan medan. Jika mungkin baths - batas ini
bertepatan dengan batas hak milik tanah.

83

d). Identifikasi Daerah - Daerah Yang Tidak Diairi.


Di beberapa petak tersier ada bagian - bagian yang tidak diairi karena alasan - alasan
tertentu, misalnya :

Tanah tidak cocok untuk pertanian.

Muka tanah terlalu tinggi.

Tidak ada petani penggarap.

Tergenang Air.

e). Layout Petak Tersier Pada Beberapa Tipe Medan.


Topografi suatu daerah akan menentukan layout serta konfigurasiyang paling efektif
untuksaluran dan pembuang. Dari kebanyakan tipe medan, layout yang paling cocok dapat
digambarkan secara skematis.

Layout Untuk Medan Terjal.


Ciri - ciri medan Terjal

Tanah hanya sedikit mengandung lempung, sangat rawan terhadap bahaya erosi oleh
aliran yang tidak terkendali.

Erosi terjadi jika kecepatan aliran pada saluran Iebih besar dari kecepatan yang
diizinkan, ini mengakibatkan saluran pembawa tergerus sangat dalam dan penurunan
elevasi muka air sehingga mengakibatkan Iuas daerah yang diairi berkurang.

84

Gambar 5.4 Layout Petak Tersier Untuk Medan Terjal Tipe I

85

Gambar 5.5 Layout Petak Tersier Untuk Medan Terjal Tipe II

Cara Dan Sistem Pengaliran Air Pada Daerah Terjal

Sistem pembagian air yang cocok untuk petak adalah seperti pada gambar 5.4 &
gambar 5.5.

Saluran tersier mengikuti kemiringan medan dari boks bagi pertama.

Saluran tersier pararel dengan saluran sekunder dapat memberikan airnya pada satu sisi
kesaluran kuarter (Gambar 5.4.).

Saluran tersier dapat memberikan airnya kesaluran kuarter pada kedua sisinya (Gambar
5.5.)

Paling baik jika saluran tersier ini sama jauhnya dari batas - batas petak tersier,
sehingga memungkinkan Iuas petak kuarter yang hampir sama.

86

Saluran kuarter biasanya mengikuti kemiringan medan.

Aliran air pada saluran tersier biasanya aliran super kritis pada bagian yang diberi
pasangan dan harus melewati kolam peredam energi agar energinya dapat diredam
secara efektif sebelum memasuki boks tersier atau kuarter.

Dalam boks bagi diperlukan aliran yang tenang agar air dapat dibagi secara efektif.

Sebagian saluran kuarter adalah saluran garis tinggi dan direncana pada kemiringan
sekitan 0,001 (yakni 1,0 m/km).

Panjang saluran kuarter umumnya ditentukan oleh jarak antara saluran sekunder dan
saluran pembuang (gambar 5.5).

Layout Untuk Medan Agak Terjal.


Banyak petak tersier mengambil airnya sejajar dengan saluran sekunder yang akan
merupakan batas petak tersier di salah satu sisinya. Batas di sisi lainnya adalah pembuang
primer. Jika batas - batas jalan atau desa tidak ada, maka batas atas dan bawah akan
ditentukan oleh trase saluran garis tinggi dan saluran pembuang.
Cara Dan Sistem Pengaliran Air Pada Daerah Agak Terjal

Untuk petak tersier lebih kecil dari 500 m serupa dengan gambar 5.6. kecuali saluran
irigasi dan tersier terpisah.

Jika batas - batas blok terpisah lebih dari 500m, maka saluran kuarter mengikuti garis
tinggi kedua.

Pada umumnya saluran yang mengikuti lereng adalah saluran tersier, biasanya terbuat
dari saluran tanah dengan bangunan terjun di tempat - tempat tertentu.

Saluran kuarter akan memotong lereng tanpa bangunan terjun dan akan memberikan
air ke arah bawah.

Pembagian air kearah bawah lereng akan memerlukan sedikit ketrampilan para petani.

Adalah mungkin juga untuk memberikan air kearah melintang dari satu sawah
kesawah lainnya.

Keuntungan dari cara ini adalah saluran kuarter dapat diambil airnya dari kedua
sisinya, jadi blok kuarter yang dilayani dapat lebih luas.

Dalam prakteknya sering sulit untuk mengalirkan air melintang lereng.

Tanggul saluran kuarter atas harus cukup lebar agar jarak antara saluran irigasi dan
saluran pembuang cukup jauh.

87

Jika diperlukan saluran tersier kedua, maka saluran itu hendaknya dipisahkan dari
pembuang tersier oleh jalan inspeksi.

Gambar 5.6 Layout Petak Tersier Untuk Medan Agak Terjal

Layout Untuk Medan Datar.,


Pada umumnya tidak ada daerah datar yang luas sekali di lapangan (proyek)
kecuali daerah pantai dan rawa rawa. Potensi pengairan daerah daerah semacam ini
sering terhambat oleh sistem pembuang yang jelek dan air yang tergenang terus menerus
merusak kesuburan tanah. Sebelum tanah semacam ini bisa dibuat produktif, harus dibuat
sistem pembuang efisien terlebih dahulu.
Tetapi saluran pembuang ini tidak dapat direncana secara terpisah dari saluran
pembawa. Keduanya saling melengkapi dan kedua layout harus direncanakan bersamaan.

88

Cara Dan Sistem Pengaliran Air Pada Daerah Datar

Saluran pembuang harus mengikuti titik titik yang lebih rendah.

Sistem yang paling baik adalah tipe tulang ikan (herringbone type) atau sistem

mengikuti gelombang bawah. Kemudian posisi saluran dapat ditentukan.

Pada medan yang berat mungkin juga diperlukan saluran pembuang sub kuarter.

Saluran pembuang dapat memberikan air dari kedua sisinya dan panjangnya bisa
dibuat sama dengan pembuang kuarter.

Lebar maksimum petak kuarter dapat mencapai 400 m.

Kesulitan yang dialami dalam memberikan air dari sawah kesawah pada tanah datar
dapat dikurangi dengan membuat saluran tegak lurus terhadap saluran kuarter.

Jalan inspeksi akan mengikuti saluran tersier.

Jalan jalan di daerah datar berawa-rawa sebaiknya diberi dasar (base) dan bahan bahan
pembuang bebas (Free Draining) dan ditinggikan 0,50 m diatas muka tanah disekitarnya.

Gambar 5.7 Layout Petak Tersier Untuk Medan Datar

89

Gambar 5.8 Layout Petak Tersier Untuk Daerah Agak

90

Gambar 5.9 Layout Petak Tersier Untuk Daerah Rawa - rawa

91

Kolam Ikan.
Pengembangan budidaya ikan tawar termasuk dalam program diversifikasi dari
pemerintah. Yang bertanggung jawab menyediakan airnya oleh dinas pengairan.
Ada empat sistem budidaya ikan air tawar, yakni :

Kolam biasa (dengan air berkecepatan rendah) dengan tanggul tanah dilengkapi
dengan pintu masuk dan keluar, memerlukan air segar 10 % dari volume kolam
biasa perhari. Debit air yang keluar dialirkan kembali ke jaringan irigasi.

Pengembangbiakan ikan disawah bersama sama dengan pengolahan padi (sistem


padi - mina).

Keramba disaluran atau disungai. (keramba disalurantidak dianjurkan dapat merusak


dinding saluran).

Kolam air deras dengan tanggul yang diperkuat dengan beton atau pasangan,
memerlukan pergantian air setiap hari. Untuk kolam air deras diperlukan fasilitas
fasilitas khusus untuk memenuhi persyaratan persyaratan berikut :
Debit relatif tingi untuk pergantian air secara terus menerus (untuk
menggelontor kotoran, mengatur temperatur) agar air dapat berganti ganti
setiap hari.
Aerasi tambahan untuk air yangmasuk guna menambah kadar oksigen,
misalnya : penggunaan bangunan terjun (a = 0,40m).
Kekeruhan air harus dijaga sedemikian sehingga jarak penglihatan ikan
sekurang kurangnya 40 cm.
Air kolam tidak tercemar oleh limbah atau pestisida.

92

Gambar 5.10 Layout Untuk Kolam Ikan

Pengecekan Dan Penyelesaian Layout Pendahuluan.


A). Layout Pendahuluan.
Layout pendahuluan yang sudah selesai "digabungkan" dengan peta ikhtisar, peta foto
udara dengan skala 1 : 5.000 yang memperlihatkan jalan - jalan, bangunan, tata guna tanah
dan batas - batas desa. Layout pendahuluan hendaknya meperlihatkan batas - batas petak
tersier dan kuarter, semua saluran irigasi, saluran dan bangunan.

93

B).

Pengecekan Lapangan.

Pengecekan di lapangan hendaknya dilakukan bersama dengan para petani atau organisasi
petani dan kepala desa, guna mendapatkan informasi mengenai pemilikan tanah, dan batas
pembebasan tanah serta juga pemerintah daerah setempat. Layout yang sudah diterima
dan disetjui oleh semua pihak akan disebut "layout akhir".

C). Layout Akhir.


Layout akhir akan merupakanhasil konsultasi dengan parapetani yangakan menggunakan
jaringan tersier. Saran - saran dari petani akan sebanyak mungkin dimasukan, sejauh hal
ini dapat diterima dari segi teknis. Kemudian layout akan digambar pada peta dengan
skala yang sesuai 1 : 5.000 atau 1 : 2.000.
Peta dengan garis - garis ketinggian tapi tanpa titik - titik rincian ketinggian akan dipakai
sebagai dasar layout ini. Pada peta harus ditunjukan hal - hal berikut:
Batas - batas petak tersier, sub tersier dan kuarter, batas - batas tiap sawah.
Indikasi daerah yang bisa diairi dan yang tidak.

Saluran - saluran primer, sekunder, tersier dan kuarter serta pembuang.

Semua bangunan, termasuk indikasi tipe bangunan, seperti boks tersier, gorong gorong, jembatan dan sebagainya.

Jalan - jalan inspeksi dan jalan petani.

Sistem tata nama (nomen klatur) saluran, pembuang dan bangunan.

Ukuran petak tersier dan masing- masing petak kuarter.

D. EVALUASI
1. Sebutkan dan jelaskan ciri ciri layout petak tersier untuk kondisi medan :
a. Datar
b. Agak terjal
c. Terjal
d. Rawa
2. Sebutkan dan jelaskan tata cara pemberian air pada petak tersier.
3. Untuk menentukan layout suatu petak tersier hal hal apa sajakah

yang perlu

diperhatikan ? Jelaskan !

94

4. Dalam

merencanakan suatu layout petak tersier tentunya harus dilaksanakan

pengumpulan data, sebutkan dan jelaskan data data yang butuhkan dalam
merencakan petak tersier.
5. Sebutkan dan jelaskan ukuran dan batas batas petak tersier yang ideal.
6. Sebutkan serta jelaskan tata cara pemberian air pada kondisi medan :
a. Datar
b. Agak terjal
c. Terjal
d. Rawa

95

BAB VI
SALURAN IRIGASI DAN SALURAN PEMBUANG
A. TUJUAN STRUKSIONAL KHUSUS (TM)
Adapun yang menjadi tujuan instruksional khusus dalam bab ini adalah bahwa setelah
mengikuti kuliah, mahasiswa akan dapat :
1. Menjelaskan data data yang dibutuhkan dalam perencanaan saluran irigasi maupun
pembuang.
2. Menjelaskan fungsi dan cara cara merencanakan saluran irigasi dan saluran pembuang.
3. Mengetahui dan menjelaskan jenis jenis saluran irigasi dan pembuang.
4. Menghitung besarnya kapasitas tampung saluran irigasi dan pembuang.
5. Menjelaskan dan menghitung besarnya kecepatan saluran irigasi dan saluran pembuang.
6. Menjelaskan setiap bagian potongan saluran beserta dengan fumgsi - fungsinya.
7. Merencanakan saluran irigasi dari bangunan utama sampai ke petak petak sawah..
Dalam bab ini mahasiswa diharapkan mengikuti materi kuliah dengan memiliki literatur
pokok yaitu Bahan Ajar Irigasi I, Kriteria Perencanaan Irigasi (KP), Petunjuk Perencanaan
Irigasi serta literatur lain yang berkaitan dengan materi materi yang dibahas dalam
perkuliahan ini serta dalam perkuliahan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab serta
pembahasan soal - soal.

B. PENDAHULUAN
Perencanaan peta dipetak irigasi harus terlebih dahulu direncanakan trase saluran irigasi yang
harus membawa air dari bangunan pengambilan ke petak petak sawah, tetapi belum
ditentukan ukuran ukuran saluran saluran tersebut. Untuk menetapkan ukuran ukuran
tersebut harus diketahui terlebih dahulu jenis tanaman yang akan diberikan air (telah dibahas
Bab II), tingkat effisiensi irigasi yang dapat dicapai, kemiringan medan, serta jenis jenis
bahan yang dipakai dalam saluran tersebut.
Perencanaan saluran irigasi terdiri dari kegiatan - kegiatan seperti penentuan trase saluran,
penentuan kapasitas debit rencana, Penentuan muka air rencana, penentuan dimensi saluran
dan tanggul.

96

C. MATERI
6.1. Data Perencanaan Saluran Irigasi.
a). Data Topografi.
Peta topografi dengan garis - garis ketinggian dan tata letak jaringan irigasi dengan
skala 1 : 25.0000.

Peta situasi trase saluran berskala 1 : 2.000 dengan garis - garis ketinggian pada
interval 0.50 m untuk daerah datar dan 1,0 untuk daerah berbukit.

Profil memanjang pada skala horisontal 1 : 2.000 dan skala vertikal 1 : 200 (atau 1 :
100 untuk saluran berkapasitas kecil, bilamana diperlukan). Potongan melintang
pada skala horizontal dan vertical 1 : 200 (atau 1 : 100 untuk saluran berkapasitas
kecil bilamana diperlukan).

Potongan melintang pada skala horisontal dan vertikal 1 : 200 (atau 1 : 100 untuk
saluran - saluran berkapasitas kecil) dengan interval 50 m untuk bagian lurus dan
interval 25 m pada bagian tikungan.

Peta lokasi titik tetap/ benchmark.

b). Kapasitas Rencana Saluran.


Kapasitas saluran - saluran irigasi ditentukan menurut banyaknya kebutuhan air
untuk tanaman padi, karena tanaman padi memerlukan lebih banyak air dibandingkan dengan
tanaman - tanaman lainnya.
Debit rencana saluran
dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Q

C . NFR. A
Eff

Dimana :
Q

= Debit Banjir rencana (Ltr/dtk)

= Koefisien Pengurangan Karena adanya sistem golongan

NFR

= Kebutuhan bersih (netto) air di sawah, (m. Ltr/dtk)

= Luas Daerah Yang Diairi. (ha)

Eff

= Effisiensi irigasi secara keseluruhan.

97

Jika air yang dialirkan oleh jaringan saluran juga untuk keperluan selain irigasi, maka debit
rencana harus ditambah dengan jumlah yang dibutuhkan untuk keperluan itu dengan
memperhitungkan effisiensi pengaliran.
Kebutuhan Air Disawah untuk padi ditentukan oleh faktor - faktor sebagai berikut :
1).

Cara penyiapan lahan.

2).

Kebutuhan airuntuk tanaman.

3).

Perkolasi dan rembesan.

4).

Pergantian lapisan air.

5).

Curah hujan effektif.

Kebutuhan total air di sawah (GFR) mencakup factor 1 sampai dengan 4. Kebutuhan air
bersih (netto) di sawah (NFR) juga memperhitungakan curah hujan efektif. Besarnya
kebutuhan air di sawah bervariasi menurut tahap pertumbuhan tanaman dan bergantung
kepada cara pengelolaan lahan. Besarnya kebutuhan air di sawah dinyatakan dalam mm/hari.

Effisiensi Irigasi,
Untuk tujuan perencanaan, dianggap bahwa seperempat sampai sepertiga dari jumlah air yang
diambil akan hilang sebelum air tersebut sampai ke sawah.
Kehilangan air disebabkan oleh :

Eksploitasi (pemanfaatan).

Evaporasi (penguapan), biasanya nilai ini lebih kecil dibandingkan dengan akibat
eksploitasi.

Perembesan (perkolasi), dihitung apabila faktor kelulusan tanah cukup tinggi.

Rotasi Teknis.
Keuntungan - keuntungan yang diperoleh dari sistem golongan teknis adalah :
Berkurangnya kebutuhan

pengambilan puncak (koefisien pengurangan akibat rotasi).

Kebutuhan pengambilan bertambah secara berangsur - angsur pada awal pemberian air irigasi
(pada periode peyiapan lahan), seiirng dengan makin bertambahnya debit sungai ; kebutuhan
pengambilan puncak dapat ditunda.
Sedangkan hal - hal yang tidak menguntungkan adalah :

Timbulnya komplikasi sosial yang rumit.


98

Eksploitasi lebih rumit

Kehilangan air akibat eksploitasi sedikit lebih tinggi, dan

Jangka waktu irigasi untuk tanaman pertama lebih lama, akibatnya sedikit lebih waktu
tersedia untuk tanaman kedua.

Agar kebutuhan pengambilan puncak dapat dikurangi, maka areal irigari harus dibagi - bagi
menjadi sekurang - kurangnya tiga atau empat sistem golongan dan tidak lebih dari lima atau
enam golongan. Karena alasan - alasan diatas, biasanya untuk proyek irigasi tertentu
mencakup daerah yang dapat diairi seluas 10.000,00 Ha dan pengambilan air langsung dari
sungai, tidak ada pengurangan debit rencana. (Koefisien pengurangan = 1,0). Pada jaringan
yang telah ada, factor pengurangan lebih kecil dari 1,0 mungkin dipakai dapat sesuai.

c). Data Geoteknik.


Hal utama yang harus diperhatikan dalam perencanaan saluran adalah stabilitas
tanggul, kemiringan talut galian serta rembesan ke dan dari saluran. Data tanah yang
diperoleh dari hasil penyelidikan tanah akan memberikan petunjuk mengenai sifat - sifat
tanah daerah trase saluran yang direncanakan.
Perhatian khusus harus diberikan kepada daerah - daerah yang mengandung :
o

Batu singkapan.

Lempung tak stabil yang plastisitasnya tinggi.

Tanah gambut dan bahan - bahan organik.

Pasir dan kerikil.

Bahan (tanah) timbunan yang cocok.

Muka air tanah.

d).

Data Sedimen.
Data sedimen terutama diperlukan untuk perencanaan jaringan pengambilan di sungai

dan kantong Lumpur. Bangunan pengambilan dan kantong Lumpur akan direncanakan agar
mampu mencegah masuknya sedimen kasar ( > 0,06 - 0,07) ke dalam jaringan saluran.
Untuk perencanaan saluran irigasi yang mantap kita harus mengetahui konsentrasi
sedimen dan pembagian diameter butir. Data - data ini akan menentukan faktor - faktor untuk

99

perencanaan kemiringan saluran atau potonongan melintang yang mantap dimana sedimentasi
dan erosi harus berimbang dan terbatas.
6.2. Langkah-Langkah Perencanaan Saluran Irigasi Perencanaan Pendahuluan
Perencanaan pendahuluan saluran irigasi harus dapat menghasilkan :
-

trase saluran

muka air

lokasi dan tipe bangunan pembawa, bagi dan sadap.

Perencanaan pendahuluan harus mengikuti langkah-langkah berikut :


1.

Pemplotan trase saluran pada peta dengan skala 1: 25.000.

2.

Penentuan batas-batas petak tersier pada peta dengan skala 1 : 25.000 dan 1 : 5.000.

3.

Pemplotan trase saluran dengan lokasi bangunan sadap pada peta berskala 1: 5.000.

4.

Penentuan muka air yang dibutuhkan pada bangunan pengambilan pada peta dengan
skala 1: 5.000 atau 1: 2.000 (kalau ada).

5.

Perhitungan debit rencana.

6.

Penentuan lokasi bangunan pembawa dan pembagian kehilangan 1tinggi energi di


bangunan tersebut.

7.

Penentuan kemiringan rencana pada ruas-ruas saluran berikutnya.

8.

Penentuan dimensi saluran.

9.

Penentuan muka air saluran.

10. Pembuatan profil memanjang


11. Penyelusuran trase di lapangan dengan melakukan pengukuran topografi, pengukuran
geoteknik pendahuluan di sepanjang as saluran.
12. Penyesuaian trase saluran dan profil memanjang pendahuluan termasuk lokasi
bangunan.
13. Pembuatan program kerja untuk penyelidikan geoteknik dan pengukuran topografi.

100

Perencanaan Detail
1. Pengukuran trase dan penyelidikan geoteknik
2. (Sedikit) penyesuaian as saluran
3. Mencek elevasi muka air dan muka air rencana
4. Muka air rencana akhir (definitif)
5. Kapasitas rencana akhir
6. Dimensi akhir
7. Potongan melintang dan potongan memanjang akhir

6.3. Saluran Irigasi


Saluran Irigasi adalah saluran pembawa air untuk menambah air ke saluran irigasi ke daerah
lain. Untuk perencanaan saluran, ada dua parameter pokok yang harus ditentukan apabila
kapasitas rencana yang diperlukan sudah diketahui, yaitu :

Perbandingan kedalaman air dengan lebar dasar (n).

Kemiringan memanjang (i).

A. Rumus Dan Kriteria Hidrolis Saluran.


Untuk perencanaan ruas, aliran saluran dianggap sebagai aliran tetap, dan untuk itu diterapkan
rumus Strickler.
V

= K. R2/3 .I1/2

= (b + mh) . h

R =

A
P

P
Q

= b + 2 .h
= A.V

= n. h

(m

Dimana :
Q

= Debit Saluran (m3/dtk)

= Kecepatan Aliran (m/dtk)

101

= Potongan Melintang (m2).

= Jari-jari hidrolis (m).

= Keliling Basah (m).

= Lebar dasar (m).

= Kemiringan energi (kemiringan saluran)

= Koefisien Kekasaran Strickler (m1/3/dtk)

= Kemiringan Talut ( 1 Vert : m hor).

Gambar 6.1 Parameter Potongan Melintang

Koefisien Kekasaran Strickler


Koefisien kekasaran bergantung kepada faktor - faktor berikut :

Kekasaran permukaan saluran.

Ketidakteraturan permukaan saluran.

Trase saluran.

Vegetasi (tumbuhan).

Sedimen.

102

Tabel 6.1 Harga harga koefiesien kekasaran Strickler (k) untuk saluran saluran
Irigasi Dari Tanah.
K
Debit Rencana (m3/dtk)
ii3
M /dtk
Q > 10

45

5 < Q < 10

42,5

1<Q<5

40

Q < 1 Dan saluran Tersier

35

KP 03 Standard Perencanaan Irigasi.

Tabel 6.2 Harga harga koefiesien kekasaran Strickler (k) Yang Diizinkan untuk
saluran saluran Irigasi Dari Pasangan
K
Jenis Pasangan
1/3
M /dtk
Pasangan Batu

60

Pasangan Beton

70

KP 03 Standard Perencanaan Irigasi.

Untuk potongan melintang dengan kombinasi berbagai macam bahan pasangan, kekasaran
masing - masing permukaan akan berbeda - beda (bervariasi). Koefisien kekasaran campuran
dihitung dengan rumus berikut :
n Pi
k = p 1,5
1 ki
Dimana :
2
3

2
3

= Koefisien Kekasaran Strickler untuk potongan melintang, (m1/3/Dtk)

= Keliling basah (m)

pi

= Keliling basah bagian I dari potongan melintang (m)

ki

= Koefisien kekasaran bagian i dari potongan melintang, (m1/3/Dtk)

103

B. Sedimentasi
Kecepatan minimum yang dizinkan adalah kecepatan terendah yang tidak menyebabkan
pengendapan partikel dengan diameter maksimum yang diizinkan 0,06 mm - 0,007 mm.
Rumus utama untuk perencanaan saluran yang stabil adalah bahwa semua sedimen
yang masuk ke dalam saluran harus semuanya terangkut tanpa terjadi penggerusan atau
sedimentasi. Oleh sebab itu, kapasitas angkutan relatif T/Q (T = angkutan sedimen, Q = debit)
harus konstan sepanjang ruas saluran. Jika kapasitas angkutnya mengecil, akan terjadi
sedimentasi dan jika kapasitasnya membesar, saluran akan tergerus.
Ada dua Cara pengangkutan sedimen, yaitu :
1. Angkutan bahan dalam keadaan melayang (sedimen layang).
2. Angkutan sedimen dasar.

1.

Jika dipertimbangkan angkutan sedimen laying, Vlugther memberikan aturan bahwa


partikel - partikel yang lebih kecil dari 0,05 sampai 0,07 mm, v.I adalah konstan.
Kriteria yang sama dikemukakan De Vos (1925), yang menggunakan perrimbangan
energi, sebagai berikut :
T/Q . g . v . I
Dimana :
T

= Banyaknya sedimen yang diangkut (m3/dtk).

Q = Debit (m3/Dtk)
p

= Kerapatan air (Kg/m3)

= Percepatan gravitasi (m/dt2)

= Kecepatan aliran (m/dtk)

= Kemiringan energi

Pengukuran di daerah Serayu menunjukan bahwa untuk mengangkut sedimen laying <
0,06, p g v I = 1,0 sampai 1,25 Watt/m3 per m saluran. Pengukuran yang sama
menunjukan bahwa per Watt dapat mengangkut sedimen kira - kira 1,5 L (diukur pada
waktu sedimen dalam keadaan mengendap).

104

2.

Bahan - bahan yang Iebih besar dari sekitar 0,06 mm (pasir halus atau lanau) akan diangkut
terutama di sepanjang dasar saluran. Untuk angkutan bahan ini, bisa dipakai rumus angkutan
sedimen Einstein - Brown, yakni :
T b h3 I3
Dimana :
b = Lebar dasar saluran (m).
h = Kedalaman air (m)
T = Banyaknya sedimen yang diangkut (m3/dtk)
I

= Kemiringan energi

Jika rumus angkutan sedimen ini digabungkan dengan rumus Strickler/ Manning, maka :
T / Q h3/15 I
Jika digabungkan dengan rumus debit Chezy, rumus kapasitas angkutan sedimen relatif
menjadi :
T / Q h6/10.I
Penggabungan dengan rumus debit Lacey ( V a c Ks h3/4 I1/2) menghasilkan : T / Q
h1/2.I
Kesimpulan :

Kriteria yang terbaik untuk perencanaan saluran yang stabil yang harus mengangkut
bahan sedimen adalah bahwa kapasitas angkutan sedimen relatif T / Q tidak boleh
kurang kearah hilir, atau jika ada bahaya penggerusan, kapasitas angkutan sedimen
harus tetap konstan ke arah hilir.

Kriteria perencanaan yang akan diikuti bergantung kepada tipe dan volume sedimen
yang akan diangkut, dengan kata lain bergantung pada rumus angkutan sedimen
atau rumus debit yang dipakai. Kriteria bahwa :
H1/2 I = Konstan.

Memberikan perkiraan yang dapat diterima untuk keadaan yang biasa ditentukan
pada saluran irigasi.

105

C. Erosi
Kecepatan maksimum yang diizinkan adalah kecepatan aliran (rata - rata) maksimum yang
tidak akan menyebabkan erosi permukaan saluran. Konsep itu didasarkan pada hasil riset yang
diadakan oleh US Soil Conservation Service (USDA - UCS, Design Open Channels, 1977)
dan hanya memerlukan sedikit saja data lapangan seperti klasifikasi tanah (unified System),
indeks plstisitas dan angka pori.
Kecepatan Maksimum Yang di Izinkan Untuk Saluran Tanah ditentukan dalam dua langkah :
1.

Penetapan kecepatan dasar (vb) untuk saluran lurus dengan ketinggian air 1 m seperti
pada gambar 6.2.; vb adalah 0,6 m/dtk untuk harga Pi yang lebih rendah dari 10.

2.

Penentuan faktor koreksi pada vb untuk lengkung saluran, berbagai ketinggian air dan
angka pori seperti pada gambar 6.3.

Untuk deskripsi tanah lihat


tabel 6.4.

Gambar 6.2 Kecepaten Kecepatan Dasar Untuk Tanah Kohern

106

Gambar 6.3 Faktor Faktor Koreksi Terhadap Kecepatan Dasar

Vmaks = Vb x A x B x C
Dimana :
Vmaks = Kecepatan maksimum yang dizinkan (m/dtk)
Vb

= Kecepatan dasar (m/dtk)

= Faktor koreksi untuk angka pori permukaan saluran

= Faktor koreksi untuk kedalaman air

= Faktor koreksi untuk lengkung

Dan kecepatan dasar yang diizinkan vba = vb x A

107

D. Potongan Melintang Saluran


a).

Bentuk Geometri.
Untuk mengalirkan air dengan penampang basah sekecil mungkin, potongan melintang
yang berbentuk setengah lingkaran adalah yang terbaik. Untuk saluran tanah bentuk
trapesium adalah bentuk yang ideal akan tetapi akan cenderung menghasilkan potongan
melintang yang terlalu dalam dan sempit. Hanya dengan debit rencana sampai dengan
0,50 m3/dtk Baja yang potongan melintangnya dapat mendekati bentuk setengah
lingkaran.

b).

Kemiringan Talut.
Untuk menekan biaya pembebasan tanah dan penggalian, talut saluran direncana
securam mungkin. Bahan tanah, kedalaman saluran dan terjadinya rembesan akan
menentukan kemiringan maksimum untuk talut yang stabil.

Tabel 6.3. Kemiringan Minimum Talut untuk berbagai bahan tanah saluran tanpa
pasangan
Bahan Tanah
Simbol
Kisaran Kemiringan
Batu
Gambut kenyal
Lempung kenyal, Geluh*), tanah Lus
Lempung pasiran, tanah pasiran
kohesif
Pasir lanauan
Gambut Lunak

< 0,25
Pt

1 2

CL, CH, MH

1 2

SC, SM

1,5 2,5

SM

23

Pt

34

KP 03 Standard Perencanaan Irigasi.

108

Tabel 6.4 Kemiringan Minimum Talut untuk berbagai bahan tanah Saluran Pasangan
H < 0,75 m
0,75 m < h < 1,5 m
Bahan Tanah
Lempung pasiran

Tanah pasiran kohesif

Tanah pasiran lepas

1,25

Geluh pasiran, lempung berpori

1,5

1,25

1,5

Tanah gambut lunak


KP 03 Standard Perencanaan Irigasi.

Tabel 6.5 Kemiringan Talut Minimum Untuk Saluran Timbunan Yang Dipadatkan Dengan
baik.
0,75 m < h < 1,5 m
Kedalaman Air + Tinggi Jagaan (D)
D < 1,0

1:1

1,0 < D < 2,0

1:1,5

D>2,0

1:2

KP 03 Standard Perencanaan Irigasi.

E. Lengkung Saluran
Lengkung yang diizinkan untuk saluran tanah bergantung kepada :

Ukuran dan kapasitas saluran.

Jenis Tanah

Kecepatan aliran.

Jari jari minimum lengkung saluran seperti yang diukur pada as harus diambil sekurang
kurangnya 8 kali lebar atas pada lebar permukaan air rencana.
Jika lengkung diberi diberi pasangan, maka jari jari minimumnya dapat dikurangi. Pasangan
semacam ini sebaiknya mempertimbangkan apabila jari jari lengkung saluran tanpa
pasangan terlalu besar untuk keadaan topografi setempat. Panjang pasangan harus dibuat
paling sedikit 4 kali kedalaman air pada tikungan saluran.
Jari jari minimum untuk lengkung saluran diberi pasangan harus sebagai berikut:

3 kali lebar permukaan air untuk saluran saluran kecil (Q < 0,60 m3/dtk).

109

7 kali lebar permukaan air untuk saluran saluran kecil (Q > 10,00 m3/dtk).

F. Tinggi Jagaan
Tinggi jagaan berguna untuk :

Menaikan muka air diatas tinggi muka air maksimum.

Mencegah kerusakan tanggul di saluran.

Meningginya muka air sampai di atas tinggi yang telah direncana bisa disebabkan oleh
penutupan pintu secara tiba tiba di sebelah hilir ; variasi ini akan bertambah dengan
membesarnya debit. Meningginya muka air dapat pula diakibatkan oleh pengaliran air
buangan kedalam saluran.
Tinggi jagaan minimum yang diberikan pada saluran primer dan saluran sekunder dikaitkan
dengan debit rencana saluran seperti diperlihatkan dalam Tabel 6.6
Tabel 6.6. Tinggi Jagaan Minimum Untuk Saluran Tanah.
Q
(m /dtk)
3

Tinggi Jagaan
(m)

< 0,50

0,40

0,50 1,50

0,50

1,50 - 5,00

0,60

5,0 10,0

0,75

10,0 15,0

0,85

> 15,0

1,00

KP 03 Standard Perencanaan Irigasi.

110

Tabel 6.7 Tinggi Jagaan Minimum Untuk Saluran Pasangan.


Q
3
(m /dtk)

Tanggul (F)
(m)

Tinggi Jagaan
(m)

< 0,50

0,40

0,20

0,50 - 1,50

0,50

0,20

1,50 - 5,00

0,60

0,25

5,0 - 10,0

0,75

0,30

10,0 - 15,0

0,85

0,40

> 15,0

1,00

0,50

KP 03 Standard Perencanaan Irigasi.

G. Lebar Tanggul.
Untuk tujuan - tujuan eksploitasi, pemeliharaan dan inspeksi akan diperlukan tanggul
disepanjang saluran dengan lebar minimum seperti pada tabel 6.8
Tabel 6.8. Lebar Minimum Tanggul
Q
(m /dtk)
3

Tanpa Jalan
Inspeksi

Tinggi Jagaan
(m)

(m)
< 1,00

1,00

3,00

1,00 - 5,00

1,50

5,00

5,0 - 10,0

2,00

5,00

10,0 - 15,0

3,50

5,00

> 15,0

3,50

5,00

KP 03 Standard Perencanaan Irigasi.

Jalan inspeksi terletak ditepi saluran di sisi yang diari agar bangunan sadap dapat dicapai
secara langsung dan usaha penyadapan liar makin sulit dilakukan. Lebar jalan inspeksi dengan
perkerasan adalah 5,00 m atau lebih dengan lebar perkerasan sekurang - kurangnya 3,00 m.

111

Gambar 6.4 Tipe tipe Potongan Melintang Saluran Irigasi

112

H. Rembesan Pada Saluran Pasangan


Saluran pasangan (lining) dimaksudkan untuk :

Mencegah kehilangan air akibat rembesan.

Mencegah gerusan dan erosi.

Mencegah merajalelanya tumbuhan air.

Mengurangi biaya pemeliharaan.

Memberi kolanggaran untuk lengkung saluran yang lebih kecil.

Tanah yang dibebaskan lebih kecil.

Tanda - tanda adanya kemungkinan terjadinya perembesan dalam jumlah besar dapat dilihat
dari peta tanah. Penyelidikan tanah dengan cara pengeboran dan penggalian sumuran uji di
alur saluran akan lebih banyak memberikan informasi mengenai kemungkinan terjadinya
rembesan. Pasangan mungkin hanya diperlukan untuk ruas - ruas saluran yang panjangnya
terbatas.

Besarnya rembesan dapat dihitung dengan rumus Moritz (USBR)


S

= 0,035 C (Q/V)

Dimana :
S

= Kehilangan akibat rembesan (m3/Dtk) per km panjang saluran

= Debit (m3/Dtk)

= Kecepatan (m/Dtk)

= Koefisien tanah rembesan (m/hari)

0,035 = Faktor Konstanta (m/Km)

113

Tabel 6.9. Harga Harga Koefsien Tanah Rembesan C


Jenis Tanah

Harga C
(m/Hari)

Kerikil sementasi dan lapisan penahan (Hardpan) dengan


geluh pasir

0,10

Lempung dan geluh lempungan

0,12

Geluh pasiran

0,20

Abu volkanik

0,21

Pasir dan abu volkanik atau lempung

0,37

Lempung pasiran dengan batu

0,51

Batu pasiran dan kerikilan

0,67

Kp - 03 Saluran (Standard Perencanaan Irigasi).

I. Jenis - Jenis Pasangan


Banyak bahan yang dapat dipakai untuk pasangan saluran (Lihat Kraatz), tetapi pada
prakteknya di Indonesia hanya ada tiga bahan yang dianjurkan pemakaiannya:

Pasangan Batu.

Pasangan beton

Tanah.

Tebal minimum pasangan berdasarkan jenis pasangan :

Pasangan Batu tebal minimum 30 cm.

Pasangan Beton Tumbuk minimum 8 cm untuk saluran kecil yang dikonstruksi dengan
baik sampai 6 m3/dtk.

Pasangan beton bertulang tebal minimum 7 cm.

Untuk pasangan semen tanah yang dipadatkan tebal minimum diambil 10 cm untuk
saluran kecil dan 15 cm untuk saluran yang Iebih besar.

Tebal saluran tanah diambil minimum 60 cm dan 75 cm untuk talut saluran.

114

Gambar 6.5 Tipe Tipe Pasangan Saluran

115

J. Kecepatan Maksimum
Kecepatan - kecepatan maksimumuntuk aliran subkritis berikut dianjurkan pemakaiannya :

Pasangan Batu

= 2,0 m/dtk

Pasangan Beton

= 3,0 m/dtk.

Pasangan tanah

= Kecepatan maksimum yang diizinkan.

Perhitungan Bilangan Froude adalah penting apabila dipertimbangkan pemakaian kecepatan


aliran dan kemiringan saluran yang tinggi. Untuk aliran yang stabil bilangan Froude harus
memenuhi ketentuan ketentuan sebagai berikut :

Bilangan Froude harus kurang dari 0,55 untuk aliran sub kritis.

Bilangan Froude Iebih besar dari 1,40 untuk aliran superkritis.


Saluran dengan bilangan Forude 0,55 - 1,40 memiliki pola aliran dengan gelombang

tegak (muka air bergelombang yang akan merusakan kemiringan talut). Untuk perencanaan
saluran dengan kemiringan medan yang teratur bilangan Froude akan kurang dari 0,30.
Bilangan Froude untuk saluran ditentukan sebagai :

A
F = v g
W
Dimana :

1
2

m+n

= v g .h

2m + n

1
2

= Bilangan Froude

= Kecepatan aliran (m/dtk)

= Lebar pada permukaan air (m)

= Luas potongan melintang basah (m2)

= Percepatan Gravitasi

= Kemiringan talut saluran 1 vert : m hor

= Perbandingan lebar dasar/ kedalaman air.

116

K. Potongan Memanjang Saluran Irigasi.


a). Muka Air Yang Diperlukan.
Tinggi muka air yang dinginkan dalam jaringan utama didasarkan tinggi muka air yang
diperlukan di sawah - sawah yang diairi. Prosedurnya adalah pertama - tama menghitung
tinggi muka air yang diperlukan di bangunan sadap tersier. Lalu seluruh kehilangan di saluran
kuarter dan tersier serta bangunan dijumlahkan menjadi tinggi muka air di sawah yang
diperlukan dalam petak tersier. Ketinggian ini ditambah agi dengan kehilangan tinggi energi
di bangunan sadap tersier dan Ionggaran persediaan untuk variasi muka air akibat eksploitasi
jaringan utama pada tinggi muka air parsial (sebagian).
Gambar 6.6. berikut memberikan ilustrasi mengenai cara perhitungannya. Selanjutnya untuk
kehilangan tinggi energi standard yang dipilih.

Gambar 6.6 Tinggi Bangunan Sadap Tersier Yang Diperlukan

= A + a + b + c + d + e + f + g + H + Z

Dimana :
P

= Muka air di saluran sekunder

= Elevasi sawah tertinggi

= Lapisan air disawah = 10 cm

= Kehilangan energi di saluran kuarter ke sawah = 5 cm

= Kehilangan tinggi energi diboks kuarter 5 cm

117

= Kehilangan tinggi energi selama pengaliran di saluran irigasi (I x L)

= Kehilangan tinggi energi di boks bagi tersier 5 cm

= Kehilangan tinggi energi di bangunan pembawa 5 cm

= Kehilangan tinggi energi di bangunan sadap tersier

H = Variasi tinggi muka air, 0,18 h100 (h100 = kedalaman air pada muka air normal 100
%).
Z

= Kehilangan tinggi energi di bangunan bangunan tersier yang lain.

b). Kemiringan Memanjang.


Kemiringan memanjang ditentukan terutama oleh keadaan topografi, kemiringan saluran akan
sebanyak mungkin menikuti garis muka tanah pada trase yang dipilih. Kemiringan memanjang
saluran mempunyai harga maksimum dan minimum. Usaha pencegahan terjadinya
sedimentasi memerlukan kemiringan memanjang minimum. Untuk mencegah terjadinya erosi,
kecepatan maksimum aliran harus dibatasi.

Kemiringan Minimum.
Untuk mencegah terjadinya sedimentasi harga IVR hendaknya diperbesar kearah hilir.
Dalam prakteknya kriteria ini tidak sulit untuk diikuti.

Kemiringan Maksimum.
Bilaman kondisi tanah trase sudah diketahui, maka kecepatan dasar yang diizinkan vba
untuk mencegah terjadinya erosi pada ruas saluran. Untuk tanah - tanah yang tidak stabil
kecepatan harus diambil lebih kecil dari kecepatan yang di izinkan.

118

6.3. Perencanaan Saluran Irigasi.


Secara planimetris perencanaan trase saluran harus mengacu kepada :
-

Garis-garis lurus sepanjang mungkin yang dihubungkan dengan kurve/lengkung bulat

diusahakan agar muka air mendekati elevasi medan atau sedikit di atas elevasi sawah di
sebelahnya yang akan diairi.

Muka air tanah mendekati muka air rencana atau sedikit di bawahnya.

Perencanaan harus menghasilkan bagian yang seimbang sehingga jumlah galian sama
dengan atau lebih dari jumlah timbunan.
Pada jaringan irigasi biasanya trase saluran primer sejajar dengan garisgaris tinggi (saluran
garis tinggi) dan saluran sekunder yang mengambil air dari saluran primer tersebut terletak di
sepanjang punggung medan.

119

Tabel 6.10 Tabel Perhitungan Untuk Perencanaan Pendahuluan Saluran Irigasi

120

a).

Debit Rencana
C
x
NFR
x A
Qt
=
Efftersier
Dimana :
Q
= Debit (m3/Dtk)
NFR = Kebutuhan air bersih sawah (ltr/dtk. Ha)
c
= Koefisien rotasi
c =
1,0
(karena tidak ada sistem golongan karena daerah layanan < 10.000 ha)
Eff
= Effisiensi
1,24
x
A
1,0 x
Q
=
=
1,60
x
A
77,50%
=
=

a
148,8

x A =
Ltr/Dtk =

1,6
0,149

x
93
3
m /Dtk

b). Elevasi bangunan sadap yang diperlukan

Gambar 6.7 Elevasi Bangunan Sadap Tersier Yang Diperlukan

= A + a + b + c + d + e + f + g + H + Z

Dimana :
P

= Muka air di saluran sekunder

= Elevasi sawah tertinggi

= Lapisan air disawah = 10 cm

= Kehilangan energi di saluran kuarter ke sawah = 5 cm

= Kehilangan tinggi energi diboks kuarter 5 cm

= Kehilangan tinggi energi selama pengaliran di saluran irigasi (I x L)

= Kehilangan tinggi energi di boks bagi tersier 5 cm

= Kehilangan tinggi energi di bangunan pembawa 5 cm

121

= Kehilangan tinggi energi di bangunan sadap tersier

H = Variasi tinggi muka air, 0,18 h100 (h100 = kedalaman air pada muka air normal 100
%).
Z

= Kehilangan tinggi energi di bangunan bangunan tersier yang lain.

Gambar 6.8 Tinggi Bangunan Sadap Tersier Yang Diperlukan

122

Tabel 6.11 Perhitungan Muka Air Yang Dibutuhkan Pada Bangunan Sadap Tersier
TITIK

m. c

n.e

Phitung

p70

(ha)

(m)

(m)

(Bh)

(m)

(Bh)

(m)

(m)

(m)

(m)

(m)

(m)

(m)

(m)

10

11

12

13

14

P1

13,50

0,10

0,05

0,00

0,00

1,00

0,05

330,00

0,33

0,00

0,11

14,14

0,05

14,19

P2

13,67

0,10

0,05

0,00

0,00

2,00

0,10

530,00

0,53

0,00

0,11

14,56

0,10

14,66

P3

13,20

0,10

0,05

0,00

0,00

2,00

0,10

850,00

0,85

0,00

0,11

14,41

0,10

14,51

P4

12,35

0,10

0,05

1,00

0,05

3,00

0,15

1680,00

1,68

0,05

0,11

14,54

0,15

14,69

P5

12,06

0,10

0,05

1,00

0,05

3,00

0,15

2000,00

2,00

0,05

0,11

14,57

0,15

14,72

P6

12,05

0,10

0,05

3,00

0,15

3,00

0,15

1400,00

1,40

0,05

0,11

14,06

0,05

14,11

Andaikan kemiringan saluran


ITersier = Ikuarter = 0,001

c). Dimensi Saluran


1. Andaikan kedalaman air

h0

0,7300 m

2. Hitung Kecepatan Aliran yang sesuai (V0)


ho ( n + m )
x Ia 0 , 50
Vo = k x
n' + 2 1 + m 2

Dimana :
k

= 35,000 Koefisien kekasaran Strickler

n'

= 1,07 Perbandingan kedalaman air berbanding lebar dasar saluran

= 1,00 Koefisien kekasaran manning

Ia

= 3,20E-04

= 0,37 m3/Dtk

V0 = 0,33 m/dtk

Ao =

Q
Vo

= 1,12 m 2

3. Hitung Kedalaman Air Baru.

h1 =

Ao
( n' + m)

1,12
2,07

= 0,7349

4. Kontrol Kedalaman air Baru

h1 h0

0,005

0,7349 0,7349

maka h1 = hrencana
0,005

OK

(ukuran dapat dipakai )

123

5. Hitung Lebar Dasar Saluran (b)

b = n' x h = 1,07 x 0,7349 = 0,7884 m

Tabel 6.12 Karakteristik Saluran

Debit Rencana
(m3/Dtk)

Kemiringan
Talud (1 :
m)

Perbandingan
n = (b/h)

Koef. Strickler
(m1/3/Dtk)

0,15 - 0,30

1,0

35,0

0,30 - 0,50

1,0

1,0 - 1,2

35,0

0,50 - 0,75

1,0

1,2 - 1,3

35,0

0,75 -1,00

1,0

1,3 - 1,5

35,0

1,00 - 1,50

1,0

1,5 - 1,8

40,0

1,50 - 3,00

1,5

1,8 - 2,3

40,0

3,00 - 4,50

1,5

2,3 - 2,7

40,0

4,50 - 5,00

1,5

2,7 - 2,9

40,0

5,00 - 6,00

1,5

2,9 - 3,1

42,5

6,00 - 7,50

1,5

3,1 - 3,5

42,5

7,50 - 9,00

1,5

3,5 - 3,7

42,5

9,00 - 10,00

1,5

3,7 - 3,9

42,5

10,00 - 11,00

2,0

3,9 - 4,2

45,0

11,00 - 15,00

2,0

4,2 - 4,9

45,0

15,00 - 25,00

2,0

4,9 - 6,5

45,0

25,00 - 40,00

2,0

6,5 - 9,0

45,0

d).

Panjang Saluran
BG19 =

Sta

23.256 m

BG18 =

Sta

22.036 m

Panjang saluran (LR19)

Sta. BG19

Sta. BG18

23.256

22.036

1.220

124

e). Penentuan kemiringan medan


Untuk menekan biaya pelaksanaan, saluran harus sebanyak mungkin mengikuti
arah kemiringan medan.
Untuk perencanaan pendahuluan, elevasi permukaan tanah diperoleh dari peta skala
1: 5.000 di mana trase saluran pendahuluan di plot.
Cara yang terbaik adalah memplot harga-harga elevasi pada titik potong garis-garis
kontur dan trase, serta membuat perkiraan-perkiraan dengan melakukan interpolasi antara
titik-titik rincik ketinggian. Harga-harga elevasi medan yang diperoleh diplot pada profil
memanjang, bersama-sama dengan muka air yang diperlukan yang didapat dari hasil
perhitungan.

Gambar 6.9 Muka Air Yang Diperlukan Untuk Bangunan Sadap Pada Contoh Saluran

125

Gambar 6.10 Penentuan Kemiringan Medan

f).

Kemiringan yang ada (Io)

Kemiringan yang ada (Io) sekarang dapat dihitung untuk masing-masing ruas:
Io =

RWLu RWLd H 0
L

dimana :
RWLu = Muka air yang dibutuhkan di bangunan sadap hulu
RWLd = Muka air yang dibutuhkan di bangunan sadap hilir
AH0

= Jumlah perkiraan kehilangan tinggi energi di bangunan di ruas saluran yang


bersangkutan (tidak termasuk bangunan terjun).

Kadang-kadang muka air yang diperlukan di bangunan sadap hulu lebih rendah
daripada di bangunan sadap hilir. Io-nya minimal. Pada kemiringan yang lebih curam, Io
mungkin terlalu tinggi, sehingga terjadi erosi. Kemudian kemiringan harus dijaga agar
tetap di bawah garis kecepatan dasar rencana (lihat g). DH0 dimasukkan dalam kolom
(10) dan Io pada kolom (11) tabel perhitungan.

126

g).

Kemiringan rencana
Untuk memperkecil sedimentasi, kemiringan saluran harus dibuat sedemikian rupa

sehingga faktor I(R)0,5 sama atau makin besar ke arah hilir. Untuk menipermudah hal ini,
dibuat grafik seperti pada gambar 6.9. Grafik ini menunjukkan garis-garis I(R)0,5 yang
sama dan garis-garis untuk kecepatan dasar rencana. Di sepanjang sumbu grafik tersebut
diberikan harga debit rencana Q dan kemiringan dasar saluran Ia.
Guna menetukan kemiringan saluran untuk masing-masing ruas, harus dipilih garis
I(R)0,5 konstan atau semakin besar (garis A). Agar pemilihan garis A tersebut dapat
dilakukan dengan baik, pertama-tama titik-titik yang memberi karakteristik masingmasing ruas harus diplot (Io versus Qrencana). Garis A akan diplot di antara titik-titik ini.
Selama melakukan pengeplotan, harus tetap diingat bahwa titik-titik itu tidak boleh
melebihi garis kecepatan dasar rencana (di atas garis ini, akan terjadi erosi). Dalam
contoh ini, kecepatan dasar yang diinginkan dianggap 0,60 m/dt dan akan dicek lagi
setelah dimensi saluran diketahui.

Gambar 6.11 Grafik Untuk Perencanaan Kemiringan Saluran

127

Dengan garis A itu, (Ia) rencana masing-masing ruas saluran dapat dibaca untuk mengetahui debit rencana. Ia dimasukkan ke tabel perhitungan kolom (13).

h). Muka Air Rencana


Muka air rencana di saluran pada 70 % dari debit rencana (Q70%) harus sama atau
lebih tinggi dari muka air yang diperlukan. Muka air rencana adalah muka air pada Q70%
ditambah dengan variannya (0,18 x hloo) atau lebih tinggi, karena muka air tersebut dapat
juga ditentukan dengan kebutuhan muka air untuk ruas-ruas saluran hilir.
Ikutilah prosedur berikut (lihat juga tabel perhitingan) :
1. Ambilah muka air tertinggi (P) pada bangunan bagi yang paling hilir. Ini adalah muka
air hilir selama terjadi Q70% diruas saluran tersebut.
PRG19

4,31 m

2. Hitunglah dimensi saluran untuk memperoleh kedalaman air pada debit rencana (lihat
perencanaan saluran).
Untuk ruas RG 19:
h100%

0,734 m

3. Hitunglah varia :
V = 0,18 x h100% = 0,18 x 0,734 m
= 0,132 m
4. Muka air hilir di bangunan bagi yang terletak paling hilir (BG 19) selama terjadi debit
rencana (MAR) sekarang menjadi :
MAR

= P+V
= 4,310 m + 0,132

= 4,442 m

5. Hitunglah muka air di ujung hilir ruas saluran tersebut (Maud)


MAud = MAR + Ia x L + DHa
Dimana :
Ha

= kehilangan tinggi energi melalui bangunan, termasuk bangunan terjun


(kolom 2.3)

Ia

= Kemiringan rencana

= Panjang Saluran

MAud = MAR

Ia. L

128

6. Ambilah muka air tertinggi yang diperlukan pada bangunan bagi berikutnya
PBG18

= 4,46

h100%

= 0,828

Hitunglah
V

= 0,18 x h100% = 0,18 x 0,828 m


= 0,149 m

7. Bandingkan muka air yang diperlukan untuk BG 18 pada Q100% dengan muka air hulu
di ruas hilir RG 19 ditambah dengan kehilangan energi di bangunan bagi (0,05 m).
MAR1 = P

= 4,460 m + 0,149

= 4,609 m
MAR2 = Maud19

DHBg

= 4,833 m + 0,050 m
= 4,883 m
MAR

= 4,883 m

8. Untuk ruas-ruas lainnya ikuti langkah-langkah 5, 6 and 7


9. Plotlah muka air yang diperoleh pada potongan memanjang pendahuluan bersamasama dengan elevasi sawah. Jika muka air jauh di atas. elevasi sawah, maka ulangi
lagi perhitungan itu untuk "Garis. A" yang lebih rendah pada grafik perencanaan
untuk kemiringan. Jika bagian saluran yang harus digali menjadi terlalu banyak,
pilihlan garis A yang Lebih tinggi dan ulangi lagi perhitungan itu.

i). Pengecekan trase di lapangan,


1. Sampai tahap ini semua kegiatan perencanaan saluran semata-mata "didasarkan
pada peta-peta topografi saja (1 : 25.000 dan 1 : 5.000). Diperlukan cek lapangan
secara menyeluruh guna meneliti apakah ketelitian peta-peta topografi yang
digunakan telah memadai.

129

Penyelidikan lapangan dilakukan dengan prosedur berikut :

Penyelusuran saluran dan pengukuran elevasi medan pada as saluran setiap


jarak 200.m dengan benchmark pada setiap 2000 m, sesuai dengan trase yang
diplot pada peta dengan skala 1: 5.000.

Untuk penyelusuran ini, diperlukan tiga ahli pendamping, ahli irigasi, untuk
'mencek tampakan-tampakan teknis trase, guna membuat penyesuaianpenyesuaian di lapangan dan untuk menentukan lokasi bangunan bersama-sama
dengan ahli geoteknik.

ahli geoteknik, untuk mencek tampakan-tampakan

geologi trase, membuat penyesuaian-penyesuaian di lapangan jika sifat-sifat


tanah atau kondisi tanah pondasi bangunan kalau perlu serta, menentukan
lokasi-lokasi yang memerlukan penyelidikan geoteknik. ahli geodetik, untuk
memberikan petunjuk-petunjuk kepada staf pengukuran dalam menentukan
kordinat-kordinat lokasi bangunan dan trase saluran (titik potong) serta
menentukan lokasi-lokasi yang membutuhkan pengukuraniletail.
2. Pengolahan data-data pengukuran dan pemplotan elevasi yang telah diperoleh
pada profit dan posisi dan posisi memanjang pada peta berskala 1: 5000.
3. Perbandingan data-data yang telah diamati dari data-data yang didapat dari peta
topografi.
4. Setelah perbedaan-perbedaan elevasi tinggal sedikit, lakukan penyesuaian trade di
lapangan bersama-sama dengan para petugas pengukuran. Jika masih terdapat
perbedaan-perbedaan besar, cek dulu hasil pengukuran. Jika pengukuran tidak ada
masalah, kemudian lakukan pencekan dan penyesuaian peta-peta topografi.
Jika ditemukan banyak ketidaktelitian pada peta-peta tersebut, diperlukan
penyelidikan topografi tambahan guna menyesuaikan muka air yang diperlukan pada
bangunan sadap.

6.4. Perencanaan Detail Saluran Irigasi


A.

Penyelidikan

Penyelidikan Trase
Trase pendahuluan diplot pada peta dengan skala 1: 5.000. Pengukuran trase dibuat
berdasarkan peta tersebut.
Peta berskala 1: 5.000 tersebut harus mencakup informasi berikut:
-

trase saluran

130

titik-titik potong dengan koordinat

benchmark dengan koordinat

batas-batas trase yang akan diukur

Penyelidikan geoteknik (detail)


Penyelidikan geoteknik detail meliputi kegiatan-kegiatan berikut :
-

menentukan kemiringan rencana talut saluran galian

menentukan karakteristik tanah untuk tanggul

menentukan daya dukung tanah pondasi

menentukan karakteristik penurunan tanah.

B. Trase
Untuk perencanaan pendahuluan as saluran, lokasi bangunan dan panjang ruas saluran
hanya diambil dari peta saja, jadi tidak tepat. Berdasarkan pengukuran trase, as saluran
dan lokasi bangunan dapat ditentukan. Ini menghasilkan :
-

angka-angka yang tepat untuk jarak bangunan

panjang ruas saluran yang tepat

Koordinat yang tepat untuk titik potong yang menentukan as saluran pada lurus (yang
menetukan as saluran pada ruas-ruas lurus) data kurve/lengkung yang tepat (yang
menentukan as saluran pada potongan saluran yang melengkung).

C. Potongan memanjang dan melintang


Penyelesaian potongan memanjang membutuhkan :
-

muka air yang tepat yang dibutuhkan pada bangunan sadap.

panjang ruas saluran yang tepat

kehilangan tinggi energi yang tepat pada bangunan

kemiringan saluran yang tepat untuk setiap ruas saluran potongan melintang yang
tepat lokasi ruas-ruas saluran yang harus diberi pasangan.

Selama pembuatan perencanaan pendahuluan, dibuat asumsi-asumsi untuk kehilangan


tinggi energi di bangunan. Ini berarti bahwa karakteristik hidrolis bangunan harus
dihitung kembali berdasarkan hasil-hasil penyelidikan.
Sebelum potongan melintang saluran dapat ditentukan, karakteristik tanah atau batuan di
mana saluran akan dibuat harus diselidiki guna mengetahui :
-

penurunan tanggul timbunan

131

kehilangan air akibat perkolasi

erosi.

stabilitas talut (timbunan dan galian)

Sifat-sifat tanah menentukan apakah standar yang diberikan untuk dimensi saluran.
Mungkin diperlukan perubahan-perubahan jika :
-

kemiringan talut disesuaikan demi stabilitas talut tersebut (m lebih besar) atau bila
saluran terletak pada formasi batuan (m lebih kecil)

jika terdapat kehilangan air akibat perkolasi atau erosi maka diperlukan pasangan (k
lebih besar)

aspek ekonomi atau tanah yang tersedia memerlukan penyesuaian perbandingan


antara lebar dasar dan kedalaman air (misalnya jika saluran itu melewati daerah
pedesaan).

Dengan kehilangan tinggi energi yang tepat di bangunan, panjang ruas saluran dan
potongan melintang yang ada, mungkin diperlukan penyesuaian kemiringan saluran.

Ikutlah langkah-langkah berikut :


1.

menenetukan kemiringan talut masing-masing rims saluran (m)

2.

menentukan ruas saluran yang akan diberi pasangan (k)

3.

menentukan perbandingan lebar/kedalaman air (m)

4.

menghitung dimensi saluran dengan menggunakan kemiringan dari perencanaan


pendahuluan (Ia) dengan rumus Strickler.

5.

mencek naiknya nilai banding I( R )0,50 ke arah hilir. Jika perbandingan itu tidak
bertambah, sesuaikan kemiringan saluran

6.

menentukan kehilangan tinggi energi yang tepat di bangunan

7.

menghitung prof ii memanjang dengan menggunakan tabel perhitungan (tetapi tanpa


Io dan H0 dan dengan Ia dan Ha)

8.

menyiapkan penggambaran potongan memanjang dan melintang sesuai dengan KP 07 Standar Penggambaran.

132

6.3. Data Perencanaan Saluran Pembuang.


A. Data Topografi.
Data - data topografi yang diperlukan untuk perencanaan saluran pembuang adalah :

Peta topografi dengan jaringan irigasi dan pembuang dengan skala 1 : 25.0000 dan 1 :
5.000

Peta situasi trase saluran berskala 1 : 2.000 dengan garis - garis ketinggian pada
interval 0.50 m untuk daerah datar dan 1,0 untuk daerah berbukit.

Profil memanjang pada skala horisontal 1 : 2.000 dan skala vertikal 1 : 200 (atau 1 :
100 untuk saluran berkapasitas kecil, bilamana diperlukan).

Potongan melintang pada skala horizontal dan vertical 1 : 200 (atau 1 : 100 untuk
saluran berkapasitas kecil bilamana diperlukan).

Potongan melintang pada skala horisontal dan vertikal 1 : 200 ( atau 1 : 100 untuk
saluran - saluran berkapasitas kecil) dengan interval 50 m untuk bagian lurus dan
interval 25 m pada bagian tikungan.

B. Langkah-Langkah Perencanaan Saluran Pembuang


Perencanaan pendahuluan
1. Pemplotan trase saluran pada peta dengan skala 1: 25.000 dan 1: 5.000
2. Penentuan luas daerah yang akan dibuang airnya dari peta dengan skala 1: 25.000 dan
1: 5.000
3. Penentuan muka air maksimum
4. Penetapan kehilangan tinggi energi untuk bangunan
5. Pembuatan profil memanjang sementara
6. Penyelusuran trase di lapangan dengan melakukan pengukuran topografi di sepanjang
as saluran
7. Penyesuaian trase saluran
8. Perhitungan debit rencana
9. Penentuan kemiringan rencana
10. Penentuan dimensi saluran
11. Pembuatan profil memanjang.
Perencanaan detail
1. Pengukuran trase
2. (Sedikit) penyesuaian as saluran

133

3. Perencanaan muka air dan debit akhir (definitif)


4. Dimensi akhir
5. Potongan melintang dan memanjang akhir.

C. Debit Rencana.
1. Jaringan Pembuang.
Pada umumnya jaringan pembuang direncanakan untuk mengalirkan kelebihan air
secara gravitasi. Pembuangan kelebihan air dengan pompa biasanya tidak layak dari segi
ekonomi. Daerah -- daerah irigasi dilengkapi dengan bangunan - bangunan pengendali
banjir untuk mencegah masuknya air banjir ke dalam sawah - sawah irigasi.
Pembuangan air di daerah datar (misalnya dekat laut) dan daerah pasang - surut yang
dipengaruhi oleh muka air laut, sangat bergantung kepada muka air sungai, saluran atau
laut yang menampung air buangan ini. Muka air ini sangat memegang peranan penting
dalam perencanaan kapasitas saluran pembuang maupun perencanaan bangunan bangunan khusus di lokasi di ujung (muara) saluran pembuang. Bangunan - bangunan
khusus yang dimaksud misalnya pintu otomatis yang tertutup selama muka air tinggi untuk
mencegah agar air tidak masuk lagi ke saluran pembuang.
Di daerah - daerah yang diairi secara teknis jaringan pembuang mempunyai dua
fungsi yaitu :

Pembuang Intern untuk mengalirkan kelebihan air dari sawah untuk mencegah
terjadinya genangan dan kerusakan tanaman, atau untuk mengatur banyaknya air tanah
sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman. Dalam hal pembuang intern, kelebihan air
ditampung didalam saluran pembuang kuarter dan tersier yang akan mengalirkannya
ke dalam jaringan pembuang utama dari saluran pembuang sekunder dan primer.

Pembuang Ekstern untuk mengalirkan air dari luar daerah irigasi melalui daerah
irigasi. Air buangan dari luar daerah irigasi biasanya memasuki daerah proyek irigasi
melalui saluran - saluran pembuang alamiah yang akan merupakan bagian dari
jaringan pembuang utama di dalam proyek tersebut.

2. Kebutuhan Pembuang Untuk Tanaman Padi


Kelebihan air di dalam petak tersier bisa disebabkan oleh :

Hujan lebat.

134

Melimpahnya air irigasi atau buangan yang berlebihan dari jaringan primer atau
jaringan sekunder didaerah tersebut.

Rembesan atau limpahan kelebihan air irigasi didalam petak tersier.

Besar kecilnya penurunan hasil panen yang diakibatkan oleh air yang berlebihan
bergantung kepada :

Dalamnya lapisan air yang berlebihan.

Berapa lama genangan yang berlebihan berlangsung.

Tahap pertumbuhan yang berlebihan itu berlangsung.

Tahap pertumbuhan tanaman, dan

Varietas padi.

Jumlah kelebihan air yang harus dikeringkan per petak disebut modulus pembuang atatu
koefisien pembuang dan ini bergantung pada :

Curah hujan selama periode waktu tertentu.

Pemberian air irigasi pada waktu itu.

Kebutuhan air tanaman.

Perkolasi tanah.

Tampungan di sawah - sawah selama atau akhir periode yang bersangkutan.

Luasnya daerah yang akan di drainase.

Sumber - sumber kelebihan air yang lain.

Pembuang permukaan untuk petak dinyatakan sebagai :


D(n) = R(n)T + n.(I - ET - P) -

Dimana :
n

= Jumlah hari berturut - turut

D(n)

= Limpasan pembuang permukaan selama n hari (mm).

R(n)T = Curah hujan dalam n hari berturut - turut dengan periode ulang T tahun (mm).
I

= Pemberian air irigasi (mm/hari).

ET

= Evapotranspirasi (mm/hari)

= Perkolasi (mm/hari)

= Tampungan tambahan (mm).

135

Untuk perhitungan modulus pembuang, komponennya dapat diambil sebagai berikut :


a). Dataran Rendah
Pemberian air irigasi (I) sama dengan nol jika irigasi dihentikan atau, Pemberian air irigasi
(I) sama dengan Evapotranspirasi (Et) jika irigasi diteruskan. Kadang - kadang pemberian
air irigasi dihentikan di dalam petak tersier, tetapi air dari jaringan irigasi utama dialirkan
kedalam jaringan pembuang.
Tampungan tambahan di sawah pada 150 mm lapisan air maksimum, tampungan tambahan
S pada akhir hari - hari berurutan diambil maksimum 50 mm. Perkolasi (P) sama dengan
nol.
b). Dataran Terjal
Seperti untuk kondisi dataran rendah, tetapi perkolasi sama dengan 3 mm/hari.
Untuk modulus pembuang rencana, dipiiih curah hujan 3 hari berturut - turut dengan
periode ulang 5 tahun.
Kemudian modulus pembuang tersebut adalah :
Dm =

D (3)
3 x 8,64

Dimana :
Dm = Modulus pembuang (Ltr/dtk. Ha)
D(3) = Limpasan pembuang permukaan selama 3 hari (mm) 1 mm/Hari = 1/(8,64)
(Lt/dtk.ha).
Debit pembuang dari sawah dihitung sebagai berikut :
Qd

= 1,62 Dm A0,92

Dimana :
Qd

= Debit pembuang rencana (ltr/dtk)

Dm = Modulus pembuang (ltr/dtk.ha)


A

= Luas daerah yang dibuang airnya (ha).

Kebutuhan Pembuang Untuk sawah Non padi


Untuk pembuang sawah yang ditanami selain padi, ada beberapa daerah yang perlu
diperhatikan, yakni :

Daerah - daerah aliran sungai yang berhutan.

Daerah - daerah dengan tanaman - tanaman ladang (daerah - daerah terjal).

Daerah - daerah permukiman.

136

Dalam merencanakan saluran - saluran pembuang untuk daerah - daerah dimana padi
tidak ditanam, ada dua macam debit yang perlu dipertimbangkan yaitu :
Debit puncak maksimum dalam jangka waktu pendek dan
Debit rencana yang dipakai untuk perencanaan saluran.

a).

Debit Puncak.

Debit puncak untuk daerah - daerah yang dibuang airnya sampai seluas 100 km2 dihitung
dengan " rumus Der Weduwen" yang didasarkan pada pengalaman mengenai sungai sungai di Jawa; rumus lain bisa digunakan juga.
Rumus tersebut adalah :
Qp

= . . q. A

Dimana :
Qp

= Debit puncak (m3/Dtk).

= Koefisien limpasan air hujan

= Koefisien pengurangan luas daerah hujan.

= Curah hujan (m3/Dtk . km2)

b).

Debit Rencana.

Debit rencana didefinisikan sebagai volume limpasan air hujan dalam waktu sehari dari
suatu daerah yang akan dibuang airnya yang disebabkan oleh curah hujan sehari di daerah
tersebut.
Air hujan yang tidak tertahan atau merembes dalam waktu satu hari, diandaikan mengalir
dalam waktu satu hari juga. Ini menghasilkan debit rencana yang konstan.
Debit rencana dihitung sebagai berikut :
Qd

= 0,116 . . R(1)5 . A0,192

Dimana :
Qd

= Debit rencana (ltr/dtk)

Dimana :
Qp

= Debit puncak (m3/dtk)

= Koefisien Limpasan Air hujan.

R(1)5 = Curah hujan sehari, m dengan kemungkinan terpenuhi 20%


A

= Luas areal yang dibuang airnya (ha).

137

Tabel 6.10 Harga - harga koefisien limpasan air hujan () untuk perhitungan Qd
Kelompok Hidrologis Tanah
Penutup Tanah
Kelompok C
Kelompok D
Hutan lebat

0,60

0,70

Hutan tidak lebat

0,65

0,75

0,75

0,80

Tanaman ladang (daerah


terjal)

KP - 03 Saluran (Standard Perencanaan Irigasi).

Penjelasan Kelompok Hidrologis tanah adalah sebagai berikut :


Kelompok C :
Tanah yang mempunyai laju infiltrasi rendah apabila dalam keadaan jenuh sama sekali
dan terutama terdiri dari tanah dengan lapisan yang menahan gerak turun air, atau tanah
dengan tekstur agak halus sampai halus. Tanah - tanah ini memiliki laju penyebaran
(transmisi) yang rendah.

Kelompok D (Potensi Limpasan Tinggi):


Tanah yang mempunyai laju infiltrasi amat rendah apabila dalam keadaan jenuh sama
sekali dan terutama terdiri dari tanah lempung dengan potensi mengembang yang tinggi,
tanah dengan muka air tanah tinggi yang permanen, tanah dengan lapisan Iiatdi atau di
dekat permukaan, dan tanah dangkal pada bahan yang hampir kedap air. Tanah - tanah ini
memiliki laju penyebaran air yang lamban.

B. Data Mekanika Tanah.


Masalah utama dalam perencanaan saluran pembuang adalah ketahanan bahan saluran
terhadap erosi dan stabilitas talut. Data - data yang diperlukan ini hampir sama dengan data
- data yang dibutuhkan untuk perencanaan saluran irigasi. Pada umumnya data yang
diperoleh dari penelltian tanah pertanian akan memberikan petunjuk indikasi yang balk
mengenai sifat - sifat mekanika tanah yang akan dipakai untuk trase saluran pembuang.

138

6.4. Saluran Pembuang.


Perencanaan saluran pembuang harus memberikan pemecahan dengan biaya pelaksanaan
dan pemeliharaan yang terendah. Ruas - ruas saluran harus stabii terhadap erosi dan
sedimentasi minimal setiap potongan melintang dan seimbang.

A. Rumus Dan Kriteria Hidrolis.


Rumus Aliran.
Untuk perencanaan potongan saluran pembuang, aliran dianggap sebagai aliran tetap dan
untuk itu diterapkan rumus Strickler (manning) (lihat juga pasal 6.2).
v

K . R213. I1/2

Dimana :
v

Kecepatan aliran (m/dtk)

Koefisien Kekasaran Strickler

Jari - jari hidrolis (m).

Kemiringan Energi

Koefisien Kekasaran Strickler.


Koefisien Strickler k bergantung kepada sejumlah faktor, yakni :

Kekasaran dasar dan talut saluran.

Lebatnya vegestasi.

Ketidakteraturan dan trase.

Jari - jari hidrolis dan dalamnya saluran.

Karena saluran pembuang tidak selalu terisi air, vegetasi mudah sekali tumbuh di situ dan
banyak mengurangi harga k. Penyiangan yang teratur akan memperkecil harga
pengurangan ini. Harga - harga k pada tabel 6.11. yang dipakai untuk merencanakan
saluran pembuang, mengandaikan bahwa vegetasi dipotong secara teratur.

139

Tabel 6.11 Harga k Untuk Jaringan Pembuang


Jaringan Pembuang Utama

K (m1/3/ Dtk)

H*) > 1,50 m

30

H 1,50m

25

KP - 03 Saluran (Standard Perencanaan Irigasi).

Kecepatan Maksimum Yang Diizinkan


Penentuan kecepatan maksimum yang diizinkan untuk saluran pembuang dengan bahan
kohesif mirip dengan yang diambil untuk saluran irigasi
vmaks = Vb x A xB x C x D
Faktor D ditambahkan apabila dipakai banjir rencana dengan periode ulang yang tinggi.
Dianggap bahwa kelangkaan terjadinya banjir dengan periode ulang di atas 10 tahun
menyebabkan sedikit kerusakan akibat erosi. Ini dinyatakan dengan menerima vmaks yang
Iebih tinggi untuk keadaan semacam ini; Iihat gambar 5.6. untuk harga - harga D. D sama
dengan 1 untuk periode ulang di bawah 10 tahun.

Tinggi Muka Air


Tinggi muka air saluran pembuang di jaringan intern bergantung kepada fungsi saluran
tersebut. Di jaringan tersier, tanah membuang airnya langsung ke saluran pembuang
(kuarter dan tersier) dan tinggi muka air pembuang rencana mungkin sama dengan tinggi
permukaan tanah.

140

Jaringan pembuang primer menerima air buangan dari petak - petak tersier di lokasi yang
tetap. Tinggi muka air rencana di jaringan utama ditentukan dengan tinggi muka air yang
diperlukan diujung saluran pembuang tersier.

Tinggi muka air di jaringan pembuang primer berfungsi untuk pembuang sawah dan
mungkin daerah - daerah buka sawah dihitung sebagai berikut :

Untuk pengaliran debit rencana, tinggi muka air mungkin naik sampai sama dengan
tinggi permukaan tanah.

Untuk pengaliran debit puncak, pembuang dari sawah dianggap sama dengan noi;
harga - harga tinggi muka air yang diambil ditunjukan pada gambar 5.7.

Metode perhitungan ini hanya boleh digunakan untuk debit Iebih kecil atau sama dengan
30 m3/dtk saja. Bila diperkirakan akan terjadi debit yang lebih besar, maka debit puncak
dari daerah - daerah non sawah dan debit pembuang sawah yang terjadi secara bersamaan
harus dipelajari bersama - sama dengan kemungkinan pengurangan debit puncak dan
pengaruh banjir sementara yang mungkin juga terjadi.
Muka air rencana pada titik pertemuan antara dua saluran pembuang sebaiknya diambil
sebagai berikut :

Elevasi muka air yang sesuai dengan banjir rencana dengan periode ulang 5 kali
pertahun untuk sungai (1/5).

Muka air rencanauntuk saluran pembuang intern lebih tinggi.

Mean muka air taut (MSL) untuk laut.

141

Gambar 6.12 Tipe Tipe Potongan Melintang Saluran Pembuang

142

B. Potongan Melintang Saluran Pembuang.


Geometri Saluran.
Potongan melintang saluran pembuang direncana relatif lebih dalam daripada saluran
irigasi dengan alasan sebagai berikut :

Untuk mengurangi biaya pelaksanaan dan pembebasan tanah.

Variasi tingkat muka air lebih besar; perubahan - perubahan pada debit pembuang
dapat diterima untuk jaringan pembuang permukaan. Saluran pembuang yang dalam
akan memiliki aliran yang lebih stabil pada debit - debit rendah, sedangkan saluran
pembuang yang lebar akan menunjukan aliran yang berkelok - kelok.

Perbandingan kedalaman air dibanding lebar dasar (n = b/h) untuk saluran pembuang
sekunder diambil antara 1 sampai 3. Untuk saluran - saluran pembuang yang lebih besar,
nilai banding ini harus paling tidak sama dengan 3. Tipe - tipe potongan melintang dapat
dlihat pada gambar 6.12.

Kemiringan Talut Saluran Pembuang.


Pertimbangan - pertimbangan untuk kemiringan talut sebuah saluram pembuang buatan
mirip dengan pertimbangan saluran irigasi. Harga - harga kemiringan talut untuk saluran
pembuang pada berbagai tanah diambil dari tabel 6.12. dan gambar 6.12.

Tabel 6.12 Kemiringan Talut Minimum Saluran Pembuang.


Kedalaman Galian (D),

Kemiringan Minimum Talut

(m)

(1 Hor : m Vert)

D < 1,0

1,0

1,0 < D < 2,0

1,5

D > 2,0

KP - 03 Saluran (Standard Perencanaan Irigasi).

Mungkin diperlukan kemiringan talut yang lebih landai jika diperkirakan akan terjadi
aliran rembesan ang besar kedalam saluran.

143

Lengkung Saluran Pembuang


Jari - jari minimum lengkung sebagai yang diukur dalam as untuk saluran pembuang
buatan adalah sebagai berikut :

Tabel 6.13. Jari - Jari Lengkung Saluran Pembuang Tanah.


Q rencana
3

(m /Dtk)
Q < 5,0

Jari jari minimum


(m)
3 x Lebar Dasar*)

5,0 < Q < 7,5

4 x Lebar Dasar

7,5 < Q <10

5 x Lebar Dasar

10 < Q < 15

6 x Lebar Dasar

Q > 15

7 x Lebar Dasar

Kp - 03 Saluran (Standard perencanaan Irigasi).

Jika diperlukan jari - jari yang lebih kecil, jari - jari tersebut boleh dikurangi sampai 3 x
lebar dasar dengan cara memberi pasangan pada bagian luar Iengkung saluran.

Tinggi Jagaan
Karena debit pembuang rencana akan terjadi dengan periode ulang rata - rata 5 tahun,
maka tinggi muka air rencana maksimum diambil sama dengan tinggi muka tanah. Galian
tambahan tidak lagi diperlukan.

Apabila jaringan pembuang utama juga mengalirkan air hujan buangan dari daerah daerah bukan sawah dan harus memberikan perlindungan penuh terhadap banjir, maka
tinggi jagaan diambil 0,40 m - 1,00 m. (gambar 5.8).

144

Gambar 6.13 Kapasitas Debit dan Tinggi Lindungan Tanggul

6.5

Perencanaan Pendahuluan Saluran Pembuang

A.

Trase

Saluran pembuang umumnya terletak di daerah cekungan jika mungkin mengikuti saluran
pembuang yang ada. Untuk saluran pembuang ekstern, saluran yang sudah ada akan lebih
dikembangkan daripada saluran pembuang intern. Oleh karena itu, trase baru untuk
jaringan pembuang intern harus ditentukan berdasarkan peta berskala 1 : 5.000
di.sepanjang daerah cekungan dan daerah-daerah rendah (Gambar 4.9).

145

Gambar 6.14 Trase Yang Akan Diukur

B.

Pembuang intern Debit rencana

Kapasitas rencana jaringan pembuang intern untuk sawah dihitung dengan rumus berikut

Gambar 6.15 Contoh Tata Letak Jaringan Pembuang

146

Qd

1,62

Dm x

A0,92

dimana :
Qd

debit rencana, l/dt

Dm

modulus pembuang, Ltr/Dtk. Ha

luas daerah yang akan dibuang airnya, ha.

Untuk modulus pembuang rencana, Dm adalah curah hujan 3 hari dengan periode ulang 5
tahun.
D(n)
Dm

8,64

D(n) adalah pembuang permukaan untuk satuan luas dan dinyatakan sebagai:
D(n)

R(n) + n(IR - ET - P) - s

dimana :
n

D(n) =

jumlah hari berturut-turut


limpasan air hujan pembuang permukaan selama n hari, mm R(n)T = curah hujan
selam n hari berturut-turut dengan periode ulang T tahun, mm

IR

pemberian air irigasi, 'mm/hari

ET

evapotranspirasi, mm/hari

perkolasi, mm/hari

tampungan tambahan, mm.

Untuk perhitungan modulus pembuang, komponen-komponennya dapat diambil sebagi


berikut (dengan mengandaikan kondisi tanah rendah) :
-

Pemberian air irigasi IR sama dengan nol jika pemberian dihentikan, atau

Tampungan di sawah dengan lapisan air maksimum 150 mm ; tampungan tambahan


DS di akhir n hari berturut - turut maksimum 50 mm

Perkolasi P sama dengan nol

Dari analisis data curah hujan, jumlah curah hujan 3 hari dengan periode ulang R(3)s
ditetapkan 198 mm. Curah hujan per hari adalah 139, 33 dan 26 milimeter berturut-turut.
Evapotranspirasi ET diandaikan 6 mm/hari.

147

D(n)

Dm

R(n) + n(IR - ET - P) - s

198

130

mm

3 0

D(n)
n x

8,64

50

5,0

130
3 x

8,64

Ltr/Dtk.ha

Gambar 6.16 Contoh Perhitungan Modulus Pembuang

Kemiringan Rencana
Dari peta topografi (skala ,1 : 5000) elevasi sawah dapat diplot pada grafik memanjang.
Muka air selama terjadi debit rencana harus dijaga agar tetap di bawah elevasi sawah.
Muka air hilir ditentukan oleh muka air pada titik cabang atau muara (saluran pembuang
yang tingkatnya lebih tinggi, sungai atau laut), sehingga ini harus ditentukan lebih dahulu.
Muka air rencana di sungai adalah muka air yang terjadi bertepatan dengan banjir yang
terjadi 5 kafi setahun (Q115). Jika banjir lebih tinggi, maka terjadinya aliran balik harus
dicegah dengan memberi pintu bagian pengeluaran (outlet).

148

Dimensi Saluran
Perbandingan lebar - kedalaman untuk saluran pembuang intern dengan potongan
melintang trapesium dapat diandaikan sebagai berikut :
n

dimana :
n

perbandingan lebar-kedalaman

lebar dasar saluran

kedalaman air rencana

kemiringan talut.

Tabel 6.17 Kemiringan Minimun Talut Saluran Pembuang (m)


kedalaman galian D
Kemiringan Min. Talut
(m)

(m)

D < 1,0

1,0< D<2,0

1,5

D>2,0

Sekarang dimensinya dapat dihitung dengan rumus Strickler dengan koefisien kekasaran
k 30. Perhitungan saluran pembuang Blater (Gambar 6.6) diberikan pada Tabel 6.17

Tabel 6.18 Perhitungan Perencanaan Untuk Saluran Pembuang Sekunder Blater


Luas
Drai
n
A

Qd

ha

m3/Dt
k

d1

862

d2

707

RUAS
(Strecth)

Ia x
10-3

m1/3/Dt
k

4,078

1.50

0,70

1,5

1,5

25,00

1,49

3,398

825

1,02

1,5

1,5

25,00

h0

Vo

A0

|h0 h1| <

DWL

0,005

m/Dt
k

m2

6,72

1,49

0,0002

4,3000

1,46

0,61
0,53

6,37

1,46

0,0002

5,3500
6,1900

(m)

d3

624

3,029

375

1,02

1,5

1,5

25,00

1,39

0,52

5,84

1,39

0,0002

d4

538

2,643

675

1,02

1,5

1,5

25,00

1,32

0,50

5,27

1,33

0,0002

6,5700

d5

442

2,206

400

1,02

1,5

1,5

25,00

1,24

0,48

4,61

1,24

0,0002

7,2600

d6

370

1,873

800

1,02

1,5

1,5

25,00

1,16

0,46

4,07

1,16

0,0001

7,6700

d7

165

0,891

1.30

1,02

2,0

1,0

25,00

0,82

0,44

2,02

0,82

0,0001

8,4900

149

Dimensi Saluran
1. Andaikan kedalaman air

h0

1,4963 m

2. Hitung Kecepatan Aliran yang sesuai (V0)


ho ( n + m )
x Ia 0 , 50
Vo = k x
n' + 2 1 + m 2

Dimana :
k

= 25,000 Koefisien kekasaran Strickler

n'

= 1,50 Perbandingan kedalaman air berbanding lebar dasar saluran

= 1,50 Koefisien kekasaran manning

Ia

= 7,00E-04

= 4,08 m3/Dtk

V0 = 0,41 m/dtk

Ao =

Q
Vo

= 6,718 m 2

3. Hitung Kedalaman Air Baru.

h1

Ao
( n ' + m)

1,12
2,07

= 1,496

4. Kontrol Kedalaman air Baru

h1 h0

0,005

1,496 1,496

maka h1 = hrencana

0,005

OK

(ukuran dapat dipakai )

5. Hitung Lebar Dasar Saluran (b)

b = n' x h = 1,5 x 1,496 = 2,245

150

C.

Pembuang Ekstern

Debit Rencana
Debit puncak untuk daerah yang akan dihitung airnya sampai seluas 100 km2 dihitung
dengan rumus Der Weduwen.
Rumus itu adalah :
=

Qp

debit puncak ms/dt

koefisien limpasan air hujan (runoff)

koefisien pengurangan luasan hujan

curah hujan, ms/dt.kma

luas daerah yang akan dibuang airnya, km2

Qp

dimana:

Debit puncak diperlukan untuk menentukan kapasitas bangunan di saluran pembuang dan
tinggi tanggul banjir di atas elevasi sawah.
Dari analisis statistik, diketahui bahwa 1 kali dalam 5 tahun curah hujan harian adalah
160 m. Sebagai contoh, untuk daerah seluas 35 km2 dengan kemiringan 0,0005, debit
puncak dapat dilihat pada Gambar 6.17 Debit puncak menjadi 70 m3/dt.

Dasar air yang rendah dapat direncana dengan menggunakan debit rencana. Debit rencana
didefinisikan sebagai volume limpasan air hujan (runoff) dalam jangka waktu sehari dari
daerah yang dibuang airnya, yang diakibatkan oleh curah hujan sehari di daerah itu.
Volume air hujan yang tidak hilang atau

merembes dalam waktu sehari,

diandaikan/dianggap mengalir ke luar dalam tempo sehari itu juga; akibatnya debit
rencana konstan.
Debit rencana dihitung sebagai berikut :
Qd
dimana:
Qd

R(1)5
A

= 0,116. . R(1)5 A0,92

= debit rencana (Ltr/Dtk)


= koefisien limpansan air hujan
= curah hujan sehari dengan periode ulang 5 tahun, mm
= luas daerah yang akan dibuang airnya, ha.

151

Tabel 6.19 Harga-harga koefisen limpasan air hujan a untuk perhitungan Qd


Kelompok hidrologi tanah

Penutup tanah

hutan lebat

0,60

0,70

hutan tidak lebat

0,65

0,75

tanaman ladang (daerah terjal)

0,75

0,80

Deskripsi kelompok hidrologi tanah adalah sebagai berikut:


Kelompok C

tanah-tanah yang memiliki laju infiltrasi rendah jika tanal itu dalam
keadaan jenuh sama sekali, dan terutama terdiri dari tanah-tanal yang
mampu menahan gerak turun air, atau tanah-tanah bertekstur sedan
sampai halus. Tanah jenis ini memiliki laju transmisi air yang rendah.

Kelompok D

(air hujan bisa melimpas cepat), tanah yang memiliki lap, infiltrasi
sangat rendah jika dalam keadaan jenuh samasekali, dan terutanu
terdiri dari tanah keras dengan potensi mengembang yang tinggi,
tanal dengan lapisan keras (claypan) atau lempung di dekat
permukaan, dal bahan-bahan tanah yang hampir kedap air. Jenis-jenis
tanah ini memiliki laju transmisi air yang sangat rendah.

Sebagai contoh, daerah terjal dengan tanaman ladang (upland crop), yang terutama berupa
tanah lempung. Koefisien limpasan air hujan menjadi 0,80.
Qd

0,116

x a

R(1)5

0,116

x 0,80

160

27053 Ltr/Dtk

27,05

A0,92
x

3500

0,92

m3/Dtk

Kemiringan dasar sungai rencana


Pada saluran pembuang alamiah yang digunakan untuk membawa kelebihan air dari luar
daerah, biasanya kemiringan dasar makin mengecil ke arah hilir. Saluran itu harus dibagibagi menjadi bagian-bagian tertentu guna menentukan kemiringan rencana. Berdasarkan
kemiringan ini, direncana dasar air rendah. Elevasi dasar sungai diperoleh dari
pengukuran pertama di sepanjang sungai tersebut.
152

Dimensi rencana dasar air rendah


Dimensi dasar air rendah ditentukan oleh :
- muka air di bawah elevasi sawah
- elevasi dasar sungai
- kemiringan elevasi dasar sungai.

Perhitungan untuk masing-masing bagian dibuat sebagai berikut :


1. Tentukan beda elevasi terkecil antara elevasi sawah dan elevasi dasar sungai.

Gambar 6.17 Grafik Untuk Menentukan Debit Banjir Puncak

2.

Tentukan kecepatan aliran dengan rumus Strickler dengan jari - jari hidrolis
sama dengan h1 dan kemiringan dasar sungai Ib, k sebaiknya diambil 30
m1/3/dt.
V

h12/3

Ib1/2

153

3.

Tentukan lebar dasar dengan rumus :


A

B1 . h1 + m. h12

(Q/V.h1) + m. h12 = Q/V

dimana:

4.

luas basah, m2

lebar dasar, m

kedalaman air, m

kemiringan talut (m = 2)

debit rencana (ms/dt)

kecepatan aliran dari langkah 2 (m/dt).

Bandingkan lebar dasar yang sudah ada Be dengan lebar dasar hasil perhitungan B.
Bila Be lebih lebar dari B maka hitung kembali kedalaman air dengan rumus
Strickler.
V

R2/3

Ib1/2

Perencanaan elevasi tanggul


Selisih antara debit rencana dan debit puncak harus dibawa oleh luas dasar di atas dasar
air rendah. B1 adalah lebar terbesar B dan Be.

Gambar 6.18 Potongan Melintang Saluran Pembuang Dengan Tanggul


Untuk menentukan muka air puncak, aliran dianggap seragam. Perhitungan dibuat
menurut langkah-langkah berikut :
1.

A = A1

A2
2

= B1. h1 + m1 .h1 + B2. h2 + m2 .h22

154

B2 = B1 + 2. Bb + 2. m1. h1 + 2. m2. h2
2.

P = B1 + 2.h1(1,0 + m12)0,5 +2. Bb + 2.h2(1,0 - m22)0,5

3.

R = A/P

4.

V = k x R2/3 x Ib1/2

5.

A0 = Qpuncak /V

6.

7.

h2'

(- B2 + B22 4 A1 A x m2)/ V

Kontrol Kedalaman air Baru


(h2 - h2) <

0,005

0,000 - 0,000

<

0,005

Jika tidak maka hitunglah

h2

h2'

Di atas ketinggian air maksimum (hm) diperlukan jagaan. Perkiraannya dapat dibuat
yang menggunakan gambar 6.10

6.6 Perencanaan Saluran Pada Petak Irigasi


Perencanaan petak tersier mencakup kegiatan-kegiatan berikut :
-

Penentuan layout dan trase saluran

Penentuan muka air rencana

Perencanaan dimensi saluran

Perencanaan boks bagi

Perencanaan bangunan-bangunan pelengkap.

A. Data
Untuk keperluan perencanaan diperlukan data-data berikut :
-

peta topografi dengan skala 1.5000 atau 12000

kebutuhan air irigasi dan pembuang

kondisi fasilitas pemberian air irigasi dan pembuang (gambar-gambar perencanaan


dan/atau gambar-gambar purnalaksana)

prosedur eksploitasi yang berlaku.


Contoh petak tersier seluas 99,6 ha terletak di daerah irigasi yang sedang direncana

seluas 6.800 ha. Data topografi diberikan pada gambar 5.19. Peta ini juga memberikan
informasi mengenai saluran yang sudah ada. Kebutuhan air irigasi untuk bangunan sadap
tersier ditetapkan 1,4 L/dt ha dan kebutuhan pembuang ditetapkan 5,0 ltr/dt ha. Fasilitas
155

jaringan irigasi dan pembuang yang dibangun akan men jamin pemberian air dan
pembuangan kelebihan air yang baik pada petak tersier.
Karena cara-cara eksploitasi yang berlaku sekarang didasarkn pada pemberian air
irigasi secara terus-menerus dari jaringan pembuang maka cara ini yang akan dipakai pada
perencanaan.

B. Layout dan Trase Saluran


Kegiatan pertama adalah mencek peta topografi 1 : 5000. Pada peta ini ditunjukkan
jaringan saluran yang sudah ada. Untuk mencek berfungsinya saluran yang sudah ada
tersebut, diperlukan inventarisasi data-data di lapangan bersama-sama dengan para petani
pemakai air. Berdasarkan hasil-hasil penyelidikan dan peta topografi, dapat dibuat layout
dengan sebanyak mungkin memanfaatkan jaringan irigasi dan pembuang yang sudah ada

Gambar 6.19 Topografi Contoh Petak Tersier

156

Kriteria yang akan diterapkan adalah:


- ukuran petak kuarter

8 - 15 ha

- panjang saluran tersier

< 1.500 m

- panjang saluran kuarter

< 500 m

- jarak antara saluran kuarter dan saluran pembuang

< 300 m

Atas dasar kriteria ini, jaringan yang sudah ada dan keterangan dan keinginan para petani
dibuat layout sebagai berikut (Gambar 6.20)

Gambar 6.20 Layout Petak Tersier

157

Pada medan bergelombang, saluran tersier mengikuti garis-garis kontur dan saluran kuarter
mengikuti arah punggung medan dan memberi air ke satu atau dua sisi. Agar saluran
kuarter tidak terlalu panjang, sebuah saluran tersier kedua membagi petak menjadi dua
petak kuarter. Karena jaringan tersebut terletak pada medan bergelombang, saluran
pembuang terletak pada cekungan (depresi).
Skema layout jaringan tersebut diberikan pada Gambar 6.21 berikut ini

Gambar 6.21 Skema Layout Petak Tersier

C.

Saluran Irigasi

a). Muka Air Rencana


Dengan layout yang sudah disetujui, trase saluran dapat diselusuri dan diukur.
Elevasi sawah, di sepanjang trase saluran, diplot pada profil memanjang (Gambar 6.22).

Gambar 6.23 Pemeplotan Elevasi Sawah Pada Profil Memanjang

158

Untuk menentukan muka air di saluran tersier, pertama-tama harus ditentukari muka air di
bagian hulu saluran kuarter. Elevasi sawah didapat dari hasil pengukuran. Muka air di
saluran kuarter sebaiknya 0,15 cm di atas permukaan sawah (lapisan air 0,10 cm + tinggi
energi 0,05 cm). Harga elevasi yang diperoleh menentukan kemiringan rata-rata saluran
kuarter.
Pada prakteknya saluran kuarter akan mengikuti kemiringan medan. Karakteristik saluran
kuarter dicantumkan dalam tabel 6.20 kolom 1 sampai 7

159

Tabel 6.20 Muka Air Dan Kapasitas Rencana Saluran


I x 10-

I x 103

b=
h

MAH

Io x
L

MA.ud

(m/dtk)

m2

(m)

(m/Dtk)

(m)

(m)

(m)

(11)

(12)

(13)

(14)

(15)

(16)

(17)

(18)

20,00

28,00

235,00

0,45

0,30

0,20

27,500

0,106

27,61

T2 - T3

28,70

40,18

360,00

0,35

0,350

0,200

27,66

0,13

27,78

T1 - T2

46,00

64,40

180,00

0,30

0,40

0,20

27,832

0,054

27,89

T6 - K2

18,60

26,04

200,00

0,60

0,30

0,20

25,950

0,120

26,07

0,300

T5 - T6

28,20

39,48

390,00

0,35

0,300

0,200

26,120

0,14

26,26

1,900

0,300

T4 - T5

37,30

52,22

270,00

0,30

0,300

0,250

26,307

0,08

26,39

26,650

1,400

0,300

T1 - T4

53,60

75,04

440,00

0,90

0,40

0,25

26,700

0,396

27,10

26,500

1,000

0,300

O - T1

99,60

139,44

35,00

0,20

0,55

0,20

27,936

0,007

27,94

Sal.
Kuarter

Qd

MAH

MAU

(Ha)

(Ltr/Dtk)

(m)

(m)

(m)

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

b2

10,4

14,56

620,00

27,200

b1

9,6

13,44

440,00

a3

8,7

12,18

a2

10,1

a1

b=
h

Sal.
Tersier

Qd

(m)

m2

(Ltr/Dtk)

(7)

(8)

(9)

(10)

27,350

2,000

0,300
T3 - K1

27,300

27,450

3,800

0,300

450,00

27,400

27,550

3,800

0,300

14,14

420,00

27,500

27,650

2,600

0,300

7,2

10,08

620,00

27,500

27,650

1,600

0,300

d3

9,8

13,72

640,00

25,750

25,900

1,600

0,300

d2

8,8

12,32

440,00

25,650

25,800

1,600

0,300

d1

9,6

13,44

460,00

25,700

25,850

2,000

c3
c2

9,1
6,5

12,74

320,00

26,150

26,300

9,10

420,00

26,500

c1

9,8

13,72

700,00

26,350

160

Dalam kolom 6 diberikan muka air di bagian hulu saluran kuarter (MAud). Pemberian air ke
saluran tersebut diatur dalam boks tersier atau kuarter. Sebagai asumsi awal, kehilangan
tinggi energi diambil 0,05 m. Setiap boks membagi air kepada sekurang-kurangnya dua
saluran, jadi muka air tertinggi dari kedua saluran (atau lebih) akan diambil sebagai elevasi
rencana.

Contoh :

Boks K1
K1
b2
T3 - K1

MAH

27,450

27,500

DWL

27,350

0,05
DWL

27,450

b1
Gambar 6.24 Muka Air Boks K1

Boks tersier, tidak hanya untuk saluran kuarter yang harus dipertimbangkan tetapi juga untuk
saluran tersier.
Elevasi hilir yang diperlukan dan kemiringan saluran menentukan muka air di hulu saluran
tersier. Harus selalu diingat bahwa kecepatan minimum yang diizinkan selama terjadi debit
rencana adalah 0,20 m/dt.
Contoh : Boks T3
MAU

T2 - T3

27,500

27,61

T3 - K1

0,106

MAH

27,500

K1
MAH

27,61

27,66

T3

0,05

I.L

0,106

Gambar 6.25 Muka Air Boks K3


a3

161

Muka air di hulu yang diperlukan pada boks K1 adalah + 27,50. Untuk boks T3 diperlukan
muka air hulu +27,50 + 0,106 = 27,61, untuk memberikan air ke saluran kuarter a3. Untuk
menjaga agar kecepatan aliran minimum 0,20 m/dtk di ruas saluran T3 - K1, diperlukan
kemiringan saluran minimum.
Untuk tujuan ini dapat dipergunakan grafik perencanaan saluran dengan k = 35 (Gambar
6.26), untuk debit sebesar 28,0 l/Dtk diperlukan kemiringan I = 0,00045 dan kecepatan 0,20
m/dtk.

b). Dimensi
Untuk menentukan dimensi saluran, dapat digunakan grafik perencanaan dengan k = 35
untuk saluran tersier dan K = 30 untuk saluran kuarter.
Contoh :
Qd
=
=
=
I

Saluran Kuarter b2
A
x
1,40
10,4
x
1,40
14,56
Ltr/Dtk

0,002

Grafik k = 30 (gambar 5.18) titik - titik potong terletak diluar dimensi yang diizinkan (bmin =
0,30 m) diambil b = 0,30 m (minimum).
Jika titik potong diluar grafik dimensi yang diizinkan, maka lebar b tidak lagi sama dengan
kedalaman air. Untuk menentukan kedalaman air dengan lebar dasar 0,30 m, dapat digunakan
tabel - tabel dalam lampiran 1.
Perhitungan
F

Q
I

1/2

0,0146
0,002

0,5

0,326

m2

Carilah dalam tabel tersebut untuk b = 0,30 m di dalam kolom K = 30 (saluran kuarter) untuk
0,326 dan diambil kedalaman air h yang sesuai (h = 0,14 m).

162

Karakteristik saluran tersebut sekarang menjadi:


b

0,30

0,14

0,20

0,002

1,00

Contoh :
Saluran tersier T1 - T4
Qd

1,40

53,60

1,40

75,04

Ltr/Dtk

Dari grafik untuk

v
Qd

0,200

m/Dtk

75,040

Ltr/Dtk

Grafik k = 35 ( untuksaluran tersier tanpa pasangan, lihat gambar 6.26)


b

0,40

0,40

Tidak ada penyimpangan karena titik potongnya terletak di dalam dimensi yang diizinkan, jadi
tidak diperlukan pencekan dengan tabel.

Gambar 6.26 Grafik Perencanaan Untuk Saluran Tersier

163

Gambar 6.27 Grafik Perencanaan Untuk Saluran Kuarter

D.

Saluran Pembuang
Elevasi sawah diukur di sepanjang trase saluran pembuang dtl. Harga harga elevasi

ini diplot pada profil memanjang.


Elevasi air di ujung hilir saluran pembuang ditentukan oleh saluran , pembuang yang
tingkatnya lebih tinggi, di mana saluran yang sedang direncana akan mengalir ke saluran
pembuang yang disebut terkahir ini. (WLo = + 25,15). Muka air di saluran pembuang sama
dengan atau lebih rendah daripada elevasi sawah di sepanjang saluran irigasi. Pada profil
memanjang tercantum harga-harga elevasi tanah, maka dapat ditarik sebuah grafik lurus
antara muka air di saluran pembuang yang tingkatnya lebih tinggi (titik 0) dan elevasi sawah
terendah (+ 26,25) (titik D).
Garis ini menentukan gradien atau kemiringan saluran pembuang pada ruas tersebut.
Kemiringan ruas berturut-turut ditentukan oleh garis antara dua titik elevasi sawah rendah
atau oleh kemiringan medan (titik E).

164

Gambar 6.28 Profil Memanjang Pada Trase Saluran Dt1

Menentukan kemiringan saluran untuk ruas O - D


I

25,65

25,15

650

0,0007692

Kemiringan ruas D - E
I

26,40

25,65

275

= 0,0027273

Kapasitas rencana saluran pembuang dihitung dengan rumus :


Qd

Dm

Dimana:
Qd

= debit rencana, l/dt

= luas daerah yang akan dibuang airnya, ha

Dm

modulus pembuang, 1/ha.

165

Harga-harga debit rencana diberikan pada Gambar 6.29

Gambar 6.29 Skema Layout Saluran Pembuang Dt1

Tabel 6.21 Muka Air Dan Kapasitas Rencana Saluran Pembuang


RUAS
SAL.

Qd

(Ha)

(Ltr/Dtk)

(m)

(1)

(2)

(3) = (2) x
(Dm)

(4)

0 - b1

41,1

206,13

b1 - a3

30,9

154,98

a3 - a2

22,2

111,34

a2 - a1

7,2

36,11

Ix
10-3

MAH

IxL

MAU

b=h

(m)

(m)

(m)

(m)

(5)

(6)

(7) =
(5) x (4)

(8) = (6)
+ (7)

(9)

250,00

0,770

25,150

0,193

25,343

0,550

170,00

0,770

25,470

0,131

25,601

0,500

280,00

0,770

25,660

0,216

25,876

0,450

225,00

0,770

25,830

0,173

26,003

0,300

Setelah diperoleh harga-harga debit rencana dan kemiringan saluran rencana, dimensi saluran
dapat ditentukan dengan menggunakan grafik perencanaan dengan k = 30 (saluran pembuang
tersier, lihat Gambar 6.27).

166

E. Boks Bagi
Boks bagi dari pasangan direncanakan dengan menggunakan rumus ambang lebar atau:
Q

dan dengan
Q

B x h11/2

cd

0,85

= cd x 1,7

1,445

h11/2

dimana :
Q

= Debit (m3/Dtk)

= Lebar ambang (m)

h1

= Muka air hulu (m)

Cd = Koefisien Debit

Contoh Perencanaan Dimensi Boks T1


T1

T1 - T2

T1 - T4

Boks tersier T1 harus membagi air kepada dua saluran tersier T1 - T2 dan T1 - T4. Debit yang
diperlukan adalah (lihat Gambar 7.3)
T1 - T2 = 64,40 Ltr/Dtk = 0,064 m3/Dtk
T1 - T4 = 75,04 Ltr/Dtk = 0,075 m3/Dtk
Elevasi muka air yang diperlukan pada saluran tersier sebelah hilir boks adalah:
T1 - T2

27,89

T1 - T4

27,10

Lebar maksimum bukaan = 0,60 m

167

Perhitungan :
1. Menentukan lebar bukaan :
= 0,18 m
Andaikan h1 (kedalaman air di atas ambang)
dengan
T1 - T2
Q
=
1,445
x b x
h11/2
0,064 =
1,445
x
b
x 0,18 1,5
b1
=
0,584 m
diambil
T1 - T4
Q
0,075
b
diambil

b1

=
=
=

1,445
1,445
0,68
b2

0,60

x
x
m

0,70

x
b

h21/2
x 0,18

1,5

Lebar maksimum bukaan


= 0,60
maka dibuat dua bukaan masing - masing

m
=

0,35

Meskipun demikian lebih disukai satu bukaan dengan lebar =


Jadi h harus dikoreksi.
T1 - T4
0,075
= 1,445 x b x h21/2
1,5
0,075
= 1,445 x
0,60 x
h2
b
= 0,196 m
diambil

b2

0,20

0,60 m

Lebar bukaan b1 sekarang menjadi :

168

T1 - T2
Q
0,064
b1
diambil

=
=
=

1,445
1,445
0,515

x b x
x
b
m

b1 =

0,50

2. Menentukan elevasi ambang


Muka ir pada boks adalah :
dari saluran tersier T1 - T2
= 27,89 +
T1 - T2
= 27,89 +
= 27,95 m
dari saluran tersier T1 - T4
T1 - T4
= 27,10 +
= 27,10 +
= 27,16 m
Elevasi Muka Air Tertinggi
Elevasi ambang

h11/2
x 0,196

1,5

1/3 H
0,07

1/3 H
0,07

= 27,95 m
= 27,95 m = 27,76 m
Persyaratan yang harus selalu diingat
bmin

0,196 m
=

0,20 m

169

Tabel 6.22 Dimensi Bukaan Boks


BOKS

MA.ud

(m)

(1)

(2)

T1

27,95

T2

T3

K1

T4

T5

T6

K2

27,84

27,66

27,50

26,70

26,35

26,12

25,95

Sadap
Outlet

Qd
(Ltr/Dtk)

ELV.
AMBANG

(m)

(m)

(m)

(6)

(7)

0,196

27,76

(3)

(4)

(5)

T2

64,40

0,50

T4

75,04

T3

40,18

0,60
2x
0,40

a1

10,08

0,20

a2

14,14

0,30

K1

28,00

0,50

a3

12,18

0,20

b1

13,44

0,20

b2

14,56

T5

52,22

0,25
2x
0,60

c1

13,72

0,30

c2

9,10

0,20

T6

39,48

0,60

c3

12,74

0,20

K2

26,04

0,60

d1

13,44

0,30

d2

12,32

0,25

d3

13,72

0,30

MUKA
AIR
HILIR

(8)

27,89
27,10
27,78

0,110

27,73

27,65
27,65

0,120

27,54

27,61
27,50

0,130

27,37

27,45
27,35
26,43

0,100

26,60

26,50
26,65

0,130

26,22

26,26
26,30

0,100

26,02

26,07
25,85

0,100

25,85

25,80
25,90

170

B
b1 box

Bsalu

Bsalu

B
b2 box
h2 box

h1 box

b2 box
Bsalu

Gambar 6.30 Tipe Potongan Box Bagi

171

D. EVALUASI
1. Sebutkanlah data data yang diperlukan dalam perencanaan saluran irigasi dan saluran
pembuang ? jelaskan !
2. Bagaimanakah cara atau prinsip prinsip mendesain suatu saluran irigasi ? Jelaskan !
3. Sebutkan dan jelaskan tipe tipe saluran irigasi dan saluran pembuang.
4. Sebutkan serta jelaskan fungsi dari saluran irigasi dan saluran pembuang.
5. Bagamanakah cara menentukan muka air rencana saluran !
6. Apa yang dimaksudkan dengan lengkung saluran, tinggi jagaan, efisiensi irigasi, rembesan
saluran.
7. Diketahui suatu saluran irigasi dengan debit Q = 2,75 m3/Dtk

dan saluran berupa

pasangan batu, desainlah dimensi saluran tersebut.

172

BAB VII
BANGUNAN PEMBAWA

A. TUJUAN STRUKSIONAL KHUSUS (TM)


Adapun yang menjadi tujuan instruksional khusus dalam bab ini adalah bahwa setelah
mengikuti kuliah, mahasiswa akan dapat :
1. Menjelaskan tentang fungsi, lokasi penempatan serta kriteria bangunan pembawa.
2. Menjelaskan dan merencanakan bangunan gorong gorong.
3. Menjelaskan dan merencanakan bangunan sipon
4. Menjelaskan dan merencanakan bangunan terjun
5. Menjelaskan dan merencanakan bangunan got miring
6. Menjelaskan dan merencanakan bangunan pelimpah samping.
7. Mengetahui dan menjelaskan bagian bagian bangunan pembawa .
Dalam bab ini mahasiswa diharapkan mengikuti materi kuliah dengan memiliki
literatur pokok yaitu Bahan Ajar Irigasi I, Kriteria Perencanaan Irigasi (KP), Petunjuk
Perencanaan Irigasi serta literatur lain yang berkaitan dengan materi materi yang dibahas
dalam perkuliahan ini serta dalam perkuliahan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab
serta pembahasan soal - soal.

B. PENDAHULUAN
Dalam saluran terbuka, ada berbagai bangunan yang digunakan untuk membawa air dari
suatu ruas hulu ke ruas hilir. Bangunan-bangunan ini bisa dibagi menjadi dua kelompok,
yaitu:
(i)

bangunan-bangunan dengan aliran subkritis, dan

(ii)

bangunan-bangunan dengan aliran superkritis.

Contoh untuk kelompok bangunan pertama adalah gorong-gorong (lihat Gambar 7.1), flum
(lihat Gambar 7.2), talang (lihat Gambar 7.3) dan sipon (lihat Gambar 7.4). Contoh untuk
kelompok kedua adalah bangunan - bangunan pengukur dan pengatur debit (akan dibahas

173

pada MK. Irigasi II), bangunan terjun serta got miring. Kelompok subkritis bangunan
pembawa akan dibicarakan dalam pasal 7.2 sampai 7.5, bangunan terjun dan got miring
dalam pasal 7.7 dan 7.8..

C. MATERI
7.1 Kelompok Bangunan Sub Kritis.
Perencanaan Hidrolis
A. Kecepatan di bangunan pembawa
Untuk membatasi biaya pelaksanaan bangunan pembawa subkritis, kecepatan aliran di
bangunan tersebut dibuat lebih besar daripada kecepatan di ruas saluran hulu maupun hilir.
Untuk menghindari terjadinya gelombang-gelombang tegak di permukaan air dan untuk
mencegah agar aliran tidak menjadi kritis akibat berkurangnya kekasaran saluran atau gradien
hidrolis yang lebih curam, maka bilangan Froude dari aliran yang dipercepat tidak boleh lebih
dari 0,5.

Dengan istilah lain,


Fr

Va

0,50
g . ( A / B )

Dimana:
Fr

bilangan Froude

va

kecepatan rata-rata dalam bangunan, m/dt

percepatan gravitasi, m/dta (c_- 9,8)

luas aliran, m2

lebar permukaan air terbuka, m.

174

Kecepatan aliran rata-rata di saluran pembawa terbuka dapat dihitung dengan persamaan
Strickler/Manning.
Untuk pipa sipon beraliran penuh, lebar permukaan air sama dengan nol, jadi bilangan
Froude tidak bisa ditentukan. Kecepatan yang diizinkan di dalam pipa diakibatkan olh
optimasi ekonomis bahan konstruksi, biaya, mutu konstruksi dan kehilangan tinggi energi
yang ada. Untuk sipon yang relatif pendek, biasanya kecepatan alirannya kurang dari 2 m/dt.

B. Kehilangan akibat gesekan


Kehilangan energi akibat gesekan dapat dihitung dengan persamaan berikut:

V 2. L V 2 .L V 2
Hf = 2 = 2 x
C . R C .R 2g
dimana :
Hf

kehilangan akibat gesekan, m

kecepatan dalam bangunan, m/dt

panjang bangunan, m

jari-jari hidrolis, m (A/P)

luas basah, m2

keliling basah, m

koefisien Chezy (= k R1/6)

koefisien kekasaran Strickler, m1/3/dt (lihat tabel 8.1)

percepatan gravitasi, m/dt2 (9,8).

175

Tabel 7.1 Koefisien Kekasaran Strickler


Bahan

k (m1/3/dt)

Baja beton

76

Beton, bentuk kayu, tidak selesai

70

Baja

80

Pasangan batu

60

C. Kehilangan energi pada peralihan


Untuk peralihan dalam saluran terbuka di mana bilangan Froude aliran yang dipercepat tidak
melebihi 0,5, kehilangan energi pada peralihan masuk dan peralihan keluar Hmasuk atau
Hkeluar dinyatakan dengan rumusan Borda :
2

Va V1

H masuk = masuk x
2.g
Va V1

H keluar = keluar x
2. g
Dimana :

Keluar ,
masuk
Va

= faktor kehilangan energi yang bergantung kepada bentuk hidrolis peralihan dan
apakah kehilangan itu pada peralihan masuk atau keluar

= kecepatan rata-rata yang dipercepat dalam bangunan pembawa, m/dt

V1,
V2

= kecepatan rata-rata di saluran hulu (v1) atau hilir (v2), m/dt.

Harga-harga faktor kehilangan energi untuk peralihan yang biasa dipakai dengan permukaan
air bebas diperlihatkan pada Gambar 5.1. Faktor-faktor yang diberikan untuk perencanaanperencanaan ini tidak hanya berlaku untuk gorong-gorong, tetapi juga untuk peralihan talang
dan saluran flum pembawa. Disini ditunjukkan tiga tipe peralihan yang dianjurkan. Anjuran
ini didasarkan pada kekuatan peralihan, jika bangunan dibuat dari pasangan batu. Jika

176

peralihan itu dibuat dari beton bertulang, maka akan lebih leluasa dalam memilih tipe yang
dikehendaki, dan pertimbanganpertimbangan hidrolik mungkin memainkan peranan penting.
Bila permukaan air di sebelah hulu gorong-gorong sedemikian sehingga pipa gorong-gorong
itu mengalirkan air secara penuh, maka bangunan ini biasa disebut sipon. Aliran penuh
demikian sering diperoleh karena pipa sipon condong ke bawah di belakang peralihan masuk
dan condong ke atas lagi menjelang sampai di peralihan keluar.
Kehilangan peralihan masuk dan keluar untuk "sipon" seperti ini, atau saluran pipa pada
umumnya, lain dengan kehilangan untuk peralihan aliran bebas. Harga-harga emasuk dan ekeluar
untuk peralihan-peralihan yang biasa digunakan dari saluran trapesium ke pipa, dan
sebaliknya, ditunjukkan pada Gambar 8.2. Alasan dianjurkannya penggunaan tipe-tipe
tersebut adalah, karena dipandang dari segi konstruksi tipe-tipe itu mudah dibuat dan kuat

177

Gambar 7.1

178

Gambar 7.2

179

D. Bagian siku dan tikungan


Bagian siku dan tikungan dalam sipon atau pipa menyebabkan perubahan arah aliran dan,
sebagai akibatnya, perubahan pembagian kecepatan pada umumnya. Akibat perubahan dalam
pembagian kecepatan ini, ada peningkatan tekanan piesometris di luar bagian siku atau
tikungan, dan ada penurunan tekanan di dalam. Penurunan ini bisa sedemikian sehingga
aliran terpisah dari dinding padat (solid boundary), dan dengan demikian menyebabkan
bertambahnya kehilangan tinggi energi akibat turbulensi/ olakan (lihat Gambar 7.3).

Gambar 7.3. Peralihan Aliran Pada Bagian Siku

Kehilangan energi pada bagian siku dan tikungan, DHb, yang jumlahnya lebih besar dari
kehilangan akibat gesekan (lihat Persamaan kehilangan energi akibat gesekan), bisa
dinyatakan sebagai fungsi tinggi kecepatan di dalam pipa itu:
Va

Hb = Kb.
2.g

dimana Kb adalah koefisien kehilangan energi, yang harga-harganya akan disajikan di bawah
ini.

180

Bagian Siku
Untuk perubahan arah aliran yang mendadak (pada bagian siku), koefisien kehilangan energi
Kb ditunjukkan pada tabel 7.2. Seperti tampak pada tabel, harga-harga Kb untuk profil
persegi ternyata lebih tinggi daripada untuk profil bulat. Hal ini disebabkan oleh pembagian
kecepatan yang kurang baik dan turbulensi yang timbul di dalam potongan segi empat.

Tabel 7.2 Harga harga Kb untuk bagian siku sebagai fungsi sudut dan potongannya
SUDUT

POTONGAN
5

10

15

22.5

30

45

60

75

Bulat

0,02 0,03 0,04

0,05

0,11

0,24

0,47

0,8

1,1

Segi empat

0,02 0,04 0,05

0,06

0,14

0,3

0,6

1,4

90

Tikungan
Kehilangan energi pada tikungan di dalam saluran pipa tekan (conduit) yang mengalirkan air
secara penuh, di samping kehilangan akibat gesekan dalam Persamaan akibat gesekan dapat
dinyatakan sebagai fungsi nilai banding Rb/D, di mana Rb adalah jari-jari tikungan dan D
adalah diameter pipa atau tinggi saluran segi empat pada tikungan tersebut. Gambar 7.4a
menyajikan harga-harga Kb yang cocok untuk tikungan saluran berdiameter besar dengan
tikungan 90.
Gambar tersebut menunjukkan bahwa jika nilai banding Rb/D melebihi 4, maka harga Kb
menjadi hampir konstan pada 0,07, jadi, tikungan berjarijari lebih besar tidak lebih
menghemat energi.
Untuk tikungan-tikungan yang tidak 90, harga Kb pada Gambar 7.4a dikoreksi dengan
sebuah faktor seperti yang disajikan pada Gambar 7.4b. Harga-harga faktor ini diberikan
sebagai fungsi sudut .

181

Gambar 7.4.a

Gambar 7.4.b

7.2 Gorong-gorong
A. Umum
Gorong-gorong adalah bangunan yang dipakai untuk membawa aliran air (saluran irigasi atau
pembuang) melewati bawah jalan air lainnya (biasanya saluran), bawah jalan, atau jalan
kereta api.
Gorong-gorong (lihat Gambar 7.5) mempunyai potongan melintang yang lebih kecil daripada
luas basah saluran hulu maupun hilir. Sebagian dari potongan melintang mungkin berada di
atas muka air. Dalam hal ini gorong-gorong berfungsi sebagai saluran terbuka dengan aliran
bebas.
Pada gorong-gorong aliran bebas, benda-henda yang hanyut dapat lewat dengan mudah,
tetapi biaya pembuatannya umumnya lebih mahal dibanding gorong-gorong tenggelam.
Dalam hal gorong-gorong tenggelam, seluruh potongan melintang berada di bawah
permukaan air. Biaya pelaksanaan lebih murah, tetapi bahaya tersumbat lebih besar.

182

Karena alasan-alasan pelaksanaan, harus dibedakan antara gorong-gorong pembuang silang


dan gorong-gorong jalan ;
-

pada gorong-gorong pembuang silang, semua bentuk kebocoran harus dicegah. Untuk ini
diperlukan sarana-sarana khusus

gorong-gorong jalan harus mampu men ahan berat beban kendaraan.

B. Kecepatan aliran
Kecepatan yang dipakai di dalam perencanaan gorong-gorong bergantung pada jumlah
kehilangan energi yang ada dan geometri lubang masuk dan keluar. Untuk tujuan-tujuan
perencanaan, kecepatan diambil : 1,5 m/dt untuk gorong-gorong di saluran irigasi dan 3 m/dt
untuk gorong-gorong di saluran pembuang.

C. Ukuran-ukuran standar
Hanya diameter dan panjang standar saja yang mempunyai harga praktis. Diameter minimum
pipa yang dipakai di saluran primer adalah 0,60 m.

Gambar 7.5. Perlintasan Dengan Jalan Kecil (Gorong - Gorong)


183

Gambar 7.6 Standard Pipa Beton

184

D. Penutup minimum
Penutup di atas gorong-gorong pipa di bawah jalan atau tanggul yang menahan berat
kendaraaan harus paling tidak sama dengan diameternya, dengan minimum 0,60 m.
Gorong-gorong pembuang yang dipasang di bawah saluran irigasi harus memakai
penyambung yang kedap air, yaitu dengan ring penyekat dari karet. Seandainya sekat
penyambung ini tidak ada, maka semua gorong-gorong di bawah saluran harus disambung
dengan beton tumbuk atau pasangan.

E. Gorong-gorong segi empat


Gorong-gorong segi empat dibuat dari beton bertulang atau dari pasangan batu dengan pelat
beton bertulang sebagai penutup. Gorong-gorong tipe pertama terutama digunakan untuk
debit yang besar atau bila yang dipentingkan adalah gorong-gorong yang kedap air. Goronggorong dari pasangan batu dengan pelat beton bertulang sangat kuat dan pembuatannya
mudah. Khususnya untuk tempat-tempat terpencil, goronggorong ini sangat ideal. Gambar
7.7 menyajikan contoh tipe gorong-gorong yang telah dijelaskan di atas.

Gambar 7.7 Gorong - Gorong segi Empat

F. Kehilangan tinggi energi untuk gorong-gorong yang mengalir penuh


Untuk gorong-gorong Rendek (L < 20 m) seperti yang biasa direncana dalam jaringan irigasi,
harga-harga seperti yang diberikan pada tabel 7.3. dapat dianggap sebagai mendekati benar
untuk rumus:

185

m. A. 2.g.z

dimana:
Q

debit, m3/dt

koefisien debit (lihat Tabel 7.3)

luas pipa, m2

percepatan gravitasi, m/dt2 (~ 9,8)

kehilangan tinggi energi pada gorong-gorong, m.

Tabel 7.1 Harga-harga dalam gorong-gorong pendek


Tinggi dasar di bangunan sama
dengan di saluran

Tinggi dasar di bangunan lebih tinggi


daripada di saluran

Sisi

Ambang

Sisi

segi empat

0,8

segi empat

segi empat

0,72

bulat

0,9

bulat

segi empat

0,76

bulat

bulat

0,85

Untuk gorong-gorong yang lebih, panjang dari 20 m atau di tempat-tempat di mana diperlukan
perhitungan yang lebih teliti, kehilangan tinggi energi berikut dapat diambil:
Kehilangan Pada Bagian Masuk

H masuk = masuk

Va V1

x
2.g

Kehilangan Pada Bagian Keluar

Va V1

H keluar = keluar x
g
2
.

186

Kehilangan akibat gesekan


Kehilangan energi akibat gesekan dapat dihitung dengan persamaan berikut:

V 2. L V 2 .L V 2
Hf = 2 = 2 x
C . R C .R 2g
Dimana :

Hf

kehilangan akibat gesekan, m

kecepatan dalam bangunan, m/dt

panjang bangunan, m

jari-jari hidrolis, m (A/P)

luas basah, m2

keliling basah, m

koefisien Chezy (= k R1/6)

koefisien kekasaran Strickler, m1/3/dt (lihat tabel 8.1)

percepatan gravitasi, m/dt2 (9,8).

Keluar

masuk

= faktor kehilangan energi yang bergantung kepada bentuk hidrolis


peralihan dan apakah kehilangan itu pada peralihan masuk atau
keluar

Va

V1, V2 =

kecepatan rata-rata yang dipercepat dalam bangunan pembawa, m/dt


kecepatan rata-rata di saluran hulu (v1) atau hilir (v2), m/dt.

187

Contoh Soal :
01. Sebuah Gorong - gorong L = 15,00 m, dia. Pipa gorong gorong = 80cm,

0,90

ditanya berapa besarnya Q yang dapat melewati gorong gorong tersebut ?

Jawab :
Q

= m. A. 2.g.z

=
=
=
=
=

1,50
0,90
0,25
0,25
0,503

m/Dtk
x
p
x
p
2
m

d2
0,64

x
x

V2
Hf =

2.g
1
m2

0,235

1,5

0,031

(1 + a + b (L/D))

1
0,81

0,01989

0,0005078
0,80

V2
Hf =

2.g

(1 + a + b + (L/D))

2,25
=
=

19,6
0,208

= m. A.
=
=

0,90
0,913

15,00
x

(1

0,235

0,031

9,8

0,80

(2.g.z)0,50
x
0,503
3/
m Dtk

0,208

188

02.

Sebuah Gorong - gorong

25,00

m.

Dengan dimensi saluran sebagai berikut :


b

0,79

0,73

0,33

m/Dtk

0,37

m3/Dtk

Ditanya berapa besar debit yang dapat melewati gorong - gorong tersebut ?
Jawab :
m. A. 2.g.z

1,50

m/Dtk

0,80

(Segi Empat)

Coba Gorong - gorong Uk.


A

0,45

0,45

0,45

0,203

m2

2.h

+
A
P

H masuk = masuk
hmasuk

0,45
0,203

1,35

Va V1

x
2
.
g

0,50

0,0347

Va V1

H keluar = keluar x
2.g

0,45

0,9
0,15

1,50

masuk

0,33

0,33

19,6
1,50

19,6

m
2

189

Dhkeluar

keluar

1,0

0,0694

1,50

0,33

0,33

19,6
1,50

19,6

V 2. L V 2 .L V 2
Hf = 2 = 2 x
C . R C .R 2g

70

51,02

hf

0,729

V2

C2

2,25

25,00

2604

0,15

R1/6

0,144

0,0347

0,2481

m
+

0,0694

0,1440

9,8

= m. A. 2.g.z

0,80

0,357

m3/Dtk

0,203

0,2481

190

7.3 Sipon
Sipon (Gambar 8.9) adalah bangunan yang membawa air melewati bawah saluran lain
(biasanya pembuang) atau jalan. Pada sipon air mengalir karena tekanan. Perencanaan hidrolis
sipon harus mempertimbangkan kecepatan aliran, kehilangan pada peralihan masuk,
kehilangan akibat gesekan, kehilangan pada bagian siku sipon serta kehilangan pada peralihan
keluar.
Diameter minimum sipon adalah 0,60 m untuk memungkinkan pembersihan dan
inspeksi. Karena sipon hanya memiliki sedikit fleksibilitas dalam mengangkut lebih banyak air
daripada yang direncana, bangunan ini tidak akan dipakai dalam pembuang. Walaupun debit
tidak diatur, ada kemungkinan bahwa pembuang mengangkut lebih banyak benda-benda
hanyut. Agar pipa sipon tidak tersumbat dan tidak ada orang atau binatang yang masuk secara
kebetulan, maka mulut pipa ditutup dengan kisi-kisi penyaring (trashrack). Biasanya pipa
sipon dikombinasi dengan pelimpah tepat di sebelah hulu agar air tidak meluap di atas tanggul
saluran hulu. Di saluran-saluran yang lebih besar, sipon dibuat dengan pipa rangkap (double
barrels) guna menghindari kehilangan yang lebih besar di dalam sipon jika bangunan itu tidak
mengalirkan air pada debit rencana. Pipa rangkap juga menguntungkan dari segi pemeliharaan
dan mengurangi biaya pelaksanaan bangunan.
Sipon yang panjangnya lebih dari 100 m harus dipasang dengan lubang periksa
(manhole) dan pintu pembuang, jika situasi memungkinkan, khususnya untuk jembatan sipon.
Pemasangan sipon (yang panjangnya lebih dari 100 m) memerlukan seorang ahli mekanik dan
hidrolik.

A. Kecepatan aliran
Untuk mencegah sedimentasi kecepatan aliran dalam sipon harus tinggi. Tetapi, kecepatan
yang tinggi menyebabkan bertambahnya kehilangan tinggi energi. Oleh sebab itu
keseimbangan antara kecepatan yang tinggi dan kehilangan tinggi energi yang diizinkan harus
tetap dijaga. Kecepatan aliran dalam sipon harus dua kali lebih tinggi dari kecepatan normal
aliran dalam saluran, dan tidak boleh kurang dari 1 m/dt, lebih disukai lagi kalau tidak kurang
dari 1,5 m/dt. Kecepatan maksimum sebaiknya, tidak melebihi 3 m/dt.

191

B. Perapat pada lubang masuk pipa


Bagian atas lubang pipa berada sedikit di bawah permukaaan air normal. ini akan
mengurangi kemungkinan berkurangnya kapasitas sipon akibat masuknya udara ke dalam
sipon. Kedalaman tenggelamnya bagian atas lubang sipon disebut air perapat (water seal).
Tinggi air perapat bergantung kepada kemiringan dan ukuran sipon, pada umumnya:
1,1 hv < air perapat < 1,5 hv (sekitar 0,45 m, minimum 0,15 m)
dimana:
hv = beda tinggi kecepatan pada pemasukan.

C. Kehilangan tinggi energi


Kehilangan tinggi energi pada sipon terdiri dari: .
- kehilangan masuk
- kehilangan akibat gesekan
- kehilangan pada siku
- kehilangan keluar.
Kehilangan-kehilangan ini dapat dihitung dengan kriteria yang diberikan dalam pasal 7.1

Gambar 7.8 Contoh Sipon

192

D. Kisi-kisi penyaring
Kisi-kisi penyaring (lihat Gambar 7.9) harus dipasang pada bukaan/lubang masuk bangunan di
mana benda-benda yang menyumbat menimbulkan akibat-akibat yang serius, misalnya pada
sipon dan gorong-gorong yang panjang. Kisi-kisi penyaring dibuat dari jeruji-jeruji baja dan
mencakup seluruh bukaan. Jeruji tegak dipilih agar bisa dibersihkan dengan penggaruk (rake).

Kehilangan tinggi energi pada kisi-kisi penyaring dihitung dengan:


V2
hf

2.g
s
b

4/3

Sin

Dimana :
hf

Kehilangan tinggi energi (m)

Kecepatan melalui kisi - kisi (m/dtk)

Percepatan gravitasi (m/Dtk2)

Koefisien berdasarkan :

Faktor bentuk (2,4 untuk segi empat dan 1,8 untuk jeruji bulat)

Tebal jeruji

Jarak bersih antar jeruji (m)

Sudut kemiringan dari bidang horisontal

Gambar 7.9 Kisi - kisi Penyaring

193

E. Pelimpah
Biasanya sipon dikombinasi dengan pelimpah tepat di hulu bangunan itu (lihat Gambar 7.8)
Pelimpah samping adalah tipe paling murah dan sangat cocok untuk ini. Debit rencana
pelimpah sebaiknya diambil 60% atau 120% dari Qrencana.

Gambar 7.10 Profil Memanjang Perlintasan Sungai


Contoh Perencanaan :
Karakteristik saluran adalah :
Qmaks

2,88

m3/Dtk

5,77

1,65

0,14

1,5

0,46

0/00

m/Dtk

Sipon persegi akan dibuat dengan menggunakan beton bertulang. Untuk mencegah
sedimentasi dalam sipon selama debit renda, diperlukan sipon tipe rangkap, pipa yang satu
ditutup selama debit rendah (Q < 0,50 Qmaks).

194

a. Potongan Melintang (Luas Basah Sipon)


Luas basah sipom (A) dihitung dengan kecepatan rencana V = 2 m/Dtk agar sedimen dapat
terangkut melalui Sipon.
A

2,88
2,0

1,44

m2

Karena dipakai sipon pipa persegi, dimensinya menjadi :


A

2(h x b) - 4 x (0,5 x 0,25 x h 2)

2,0 h2 - 0,25 h2

1,750 h2

1,44 =

1,750 h2

= 0,907 m

Gambar 7.11 Potongan Melintang Sipon

Jika dipakai sipon pipa persegi tunggal, dimensinya menjadi :


A

= 1,0 (h x b) - 4 x (0,5 x 0,25 x h 2)

= 1,0 h2 - 0,125 h2
= 0,8750 h2

1,44

= 0,8750 h2

= h

= 1,283 m

195

b. Profil Memanjang
Sebelum

profil

memanjang

sipon

ditentukan,

kondisi-kondisi

berikut

harus

dipertimbangkan :
1. Sipon dalam keadaan kosong harus menahan gaya tekan ke atas, dengan demikian
diperlukan penutup tanah yang memadai. Situasi kritis untuk gaya tekan ke atas terjadi jika
muka air tanah setinggi pipa sipon.
Gaya tekan keatas :

Gaya resistensi

Fu

w x g

x H

(HK. Achimedes)

1.

Penutup Tanah

F1

x g

hc

2.

Sipon beban mati

F2

ct x g

Vct

Dimana :
Fu

Gaya tekan keatas, KN

F1

Tekanan tanah, KN

F2

Beban mati, KN

Berat jenis spesifik,

1000

kg/m3

Berat jenis tanah,

1700

kg/m3

ct

Berat jenis beton,

2400

kg/m3

Lebar total sipon

Tinggi total sipon

hc

Tinggi penutup tanah

Vct

Volume beton sipon

fs

Faktor keamanan,

Percepatan gravitasi, 9.80 m/Dtk2

2,70 m
=

1,5000 m

1,82

t = 0,45 m

1,50

196

Untuk Keseimbangan :
< F1 + F2

1,50

Fu

1,50

w x

59.535,00

<

59.535,00

<

59.535,00

16.669,80

<

hc >

1,001

x B x

x g

hc + ct x g

16.660,0

hc +

42.865,20
16.660,0

<

x g

x hc + ct x g x Vct
x Vct

42.865,20
16.660,00 hc

hc

Jadi penutup tanah minimum sipon

2.

< s

1,001

Pipa sipon harus ditempatkan cukup dalam di bawah dasar sungai - atau saluran
pembuang berhubung adanya kemungkinan degradasi sungai dan penggerusan lokal
akibat dasar sungai yang terganggu. Jika sipon terlalu dekat dengan permukaan, tanah
penutupnya dapat terkikis oleh aliran sungai yang deras, karena tanah penutup itu adalah
tanah tak terganggu. Untuk mencegah terjadinya hal di atas, penutup sipon) hendaknya
dibuat dari bronjong bukan pasir atau kerikiL Membuat perkiraan yang tepat mengenai
degradasi sungai yang akan terjadi merupakan pekerjaan yang sulit, karena hal ini
betbeda-beda untuk ruas yang satu dengan ruas yang lain pada sungai yang sama.

3.

Dalam contoh ini diandaikan bahwa bagian atas sipon harus berada di bawah lebih dari
1,50 m di bawah titik terdalam di dasar sungai (mengandaikan degradasi 030). Harus
dipertimbangkan pula bahwa dasar sungai mungkin berpindah ke samping, sehingga
palungnya dapat berpindah pada potongan melintang dasar sungai. Oleh sebab itu pipa
sipon di bawah sungai harus direncana secara horisontal, dan pan janganya ke masingmasing tebing sungai harus cukup, karena pada tebing sungai itu dapat terjadi erosi.

4.

Untuk memenuhi persyaratan ini, dianjurkan untuk membuat lindungan tebing sungai.

5.

Untuk mengurangi gays tarik radial pada potongan melintang sipon, dapat dipakai tanah
penutup

6.

Untuk mengurangi kehilangan akibat gesekan, jumlah siku atau tikungan harus minimaL
Dengan pertimbangan itu, profil memanjang sipon dapat dibuat

197

Gambar 7.12 Potongan Memanjang Sipon

C.

Perhitungan Hidrolis

Kehilangan energi
1.

Akibat Gesekan.
hf

V2

k2

R4/3

dimana :
DHf

= kehilangan akibat gesekan, m

= kecepatan dalam bangunan, m/dt

= panjang bangunan, m

= jari-jari hidrolis, m (A/P)

= Kofisien kekasaran srickler

Beton tidak halus

2,00

2,00

1,44
2
x

70 m1/3/ Dtk

m/Dtk
=
0,5.h

0,72

m2

(Dua pipa)

1,00

0,25

198

1,81

2,72
A

= L1 + L2

hf

0,91

0,72

2,72
+

19,40

59,05

V2

k2

R4/3

4,00

59,05

4900

0,17

0,284

0,265

22,25

L3

2.

17,40

Bagian Siku :
Kehilangan energi pada bagian siku dinyatakan sebagai fungsi kecepatan :
hb

V2

Kb.

2.g

Dimana :

hb

= Kehilangan energi dibagian siku

Kb

= Koefisien (andaikan aliran melingkar)

Harga - harga Kb
15o

0,04

16,5o

0,042

Kb =

0,04

0,082

hb

0,082

0,082

0,042
V2
2.g
4,00
19,6

0,017

199

3.

Bagian Peralihan :
emasuk

0,20

ekeluar

0,40

Dhmasuk =

Dhkeluar

4.

0,46

emasuk

0,20

0,0242

0,40

0,0484

2,00

2,00

0,46

0,46

19,6
0,46

19,6

2,00

ekeluar

19,6

2,00
x

19,6

Kisi - kisi penyaring


hf =

V2

2.g
s

4/3

Sin d

Dimana :
hf = Kehilangan tinggi energi (m)
v

= Kecepatan melalui kisi - kisi (m/dtk)

= Percepatan gravitasi (m/Dtk2)

= Koefisien berdasarkan :
b

1,80

10

mm

100

mm

75

Derajat

200

4/3

10

1,80

0,081

hf =

0,081

0,016

0,966

100

4,00
19,6
m

Jumlah kehilangan energi


Z

DHf

Dhb

Dhmasuk +

Dhkeluar +

0,284

0,017

0,0242

0,0484

0,3896

0,3900

ambil

hf
0,016

Muka air di sebelah hulu sipon menjadi :


14,36

0,3900

14,7500

7.4 Pelimpah Samping


Metode numeris didasarkan pada cara pemecahaan masalah analitis yang diperkenalkan oleh
Marchi. Pelimpah samping dibuat di sebelah hulu sipon yang diterangkan di atas. Debit
rencana pelimpah samping adalah beda debit masuk (Q1) dan debit keluar (Q2)
Q1

Q2

1,8

Qrenc

1,8

2,88

5,184

1,2

Qrenc

1,2

2,88

3,456

Qpelimpah

m3/Dtk

m3/Dtk

Q1

Q2

5,184

3,456

1,728

m3/Dtk

201

Aliran subkritis dan panjang bangunan pelimpah dapat dihitung sebagai berikut :
1. Di dekat ujung bangunan pelimpah, kedalaman aliran dan debit Q0 sama dengan
kedalaman tersebut, dan debit saluran bagian hula bangunan pelimpah (iihat gambar 4.10
untuk memperoleh keterangan simbol). Dengan Ho = ho + vo2/2g beda tinggi energi di
ujung bangunan pelimpah dapat dihitung.

Gambar 7.13 Sketsa Defenisi Bangunan Pelimpah Samping

Debit di sebelah hilir bangunan pelimpah adalah 120% dari debit rencana. Debit ini
mempengaruhi muka air ho akibat debit itu sendiri tetapi juga akibat bertambahnya
kehilangan tinggi energi di dalam sipon. Kemudian muka air Qa adalah :
14,75

0,20

0,15

15,10

>

kedalaman air ditambah (dari kurve saluran Q - h)

>

kehilangan tinggi energi ditambah pada sipon

>

muka air rencana (Q100%).

h0

15,10

1,56

13,54

Kemudian kecepatannya adalah :


Vo

= Qo/ Ao

Ao

b.ho

m.ho2

9,001

3,65

12,65

Vo

= Q1/ Ao

202

=
Ho

0,41

= ho +

Vo2/2.g

1,56

1,57

0,009

2. Pada jarak ox di sebelah hulu ujung hilir bangunan pelimpah, tinggi energi juga Ho karena
telah diandaikan bahwa tinggi energi di sepanjang bangunan pelimpah adalah konstan.

Contoh Perhitungan
Andaikan Dx = 2,00 m. Koefisien debit () untuk pelimpah yang dipilih adalah 0,38.
Untuk pelimpah samping, diambil 95% jadi persamaan untuk pelimpah tersebut menjadi :
x

qx

0,95

1,598

(ho - c)3/2 . x

ho

1,56

14,36

1,32

1,598

(ho - c)3/2 . x

1,598

0,376

m3/Dtk

Qo

3,456

3,832

m3/Dtk

qx

Qx1

2.g

(ho - c)3/2 . x

qx

0,38

13,09 +

1,0

19,6

(ho - c)3/2 . x

0,05

(0,05 m di atas muka air rencana)

0,118

2,0

qx1
0,376

203

Ax

hx

ho

1,56

8,21

Ho

(B + m. ho)

1,57

1,5589

2,92

1,5

1,56

Qx12/(2.g .Ax2)
-

0,011

3. Setelah hx dan Qx kedalaman air h2x dan Q2x dapat dihitung untuk bagian sejauh lox di
sebelah hulu ujung pelimpah dengan cara seperti yang telah diuraikan pada (2) Qo dan ho
harus diganti dengan Qx dan hx ; Qx , qx dan hx dalam langkah kedua ini mcnjadi Q2x,
a2x dan hsx.
4. Perhitungan-perhitungan ini harus diteruskan sampai Qnx adalah sama dengan debit banjir
rencana ruas saluran di sebelah hulu bangunan samping. Panjang bangunan pelimpah
adalah nox dan jumlah kelebihan air yang akan dilimpahkan adalah Qnx - Q0. Hasil-hasil
perhitungan ini diberikan pada tabel berikut :

Tabel 7.2 Hasil - hasil perhitungan bangunan pelimpah samping


Dx

Qo

Ho

ho

(ho-c)3/2

qx

Qo +qx

Ax

Vx

hx

Dx

2,00

3,46

1,57

1,56

0,118

0,376

3,832

8,206

0,467

1,559

2,00

2,00

3,83

1,57

1,56

0,117

0,373

4,205

8,197

0,513

1,557

4,00

2,00

4,21

1,57

1,56

0,115

0,368

4,573

8,180

0,559

1,554

6,00

1,00

4,57

1,57

1,55

0,113

0,181

4,754

8,160

0,583

1,553

7,00

Jumlah

1,298

Panjang total bangunan pelimpah

7,0 m

Dengan kapasitas

1,298

m3/Dtk

204

7.5 Talang dan Flum


Talang (Gambar 7.14) dan flum (Gambar 7.15) adalah saluran-saluran buatan yang
dibuat dari pasangan, beton, baja atau kayu. Di dalamnya air mengalir dengan permukhan
bebas, dibuat melintas lembah, saluran pembuang, saluran irigasi, sungai, jalan atau rel kereta
api, atau di sepanjang lereng bukit dan sebagainya.

A. Potongan melintang
Potongan melintang bangunan tersebut ditentukan oleh nilai banding b/h, di mana b
adalah lebar bangunan dan h adalah kedalaman air. Nilai-nilai banding berkisar antara 1
sampai 3 yang menghasilkan potongan melintang hidrolis yang lebih ekonomis.

B. Kemiringan dan kecepatan


Kecepatan di dalam bangunan lebih tinggi daripada kecepatan di potongan saluran
biasa. Tetapi, kemiringan dan kecepatan dipilih sedemikian rupa sehingga tidak akan terjadi
kecepatan superkritis atau mendekati kritis, karena aliran cenderung sangat tidak stabil. Untuk
nilai banding potongan melintang pada pasal 8.6.A, ini memberikan kemiringan maksimum i
= 0,002.

C. Tinggi jagaan
Tinggi jagaan untuk air yang mengalir dalam talang atau flum didasarkan pada debit,
kecepatan dan faktor-faktor lain. Harga-harga tinggi jagaan dapat diambil dari KP - 03
Saluran, pasal 4.3.6 Saluran Pasangan.
Untuk talang yang melintas sungai atau pembuang, harus dipakai hargaharga ruang bebas
berikut:
-

Pembuang intern Q5 + 0,50 m

Pembuang ekstern Q25 + 1,00 m

Sungai: Q25 + ruang bebas bergantung kepada keputusan perencana, tapi tidak kurang dari
1,50 m. Perencana akan mendasarkan pilihannya pada karakteristik sungai yang akan dilintasi,
seperti kemiringan, bendabenda hanyut, agradasi atau degradasi.

205

D. Bahan
Pipa-pipa baja sering digunakan untuk talang kecil karena mudah dipasang dan sangat
kuat. Untuk debit kecil, pipa-pipa ini lebih ekonomis daripada tipe-tipe bangunan atau bahan
lainnya. Tetapi baja memiliki satu ciri khas yang harus mendapat perhatian khusus: baja
mengembang (eksponsi) jika kena panas. Ekspansi baja lebih besar dari bahan-bahan lainnya.
Oleh sebab itu harus dibuat sambungan ekspansi. Sambungan ekspansi hanya dapat dibuat di
satu sisi saja atau di tengah pipa, bergantung kepada bentang dan jumlah titik dukung (bearing
point).Pipa-pipa terpendam tidak begitu memerlukan sarana-sarana semacam ini karena variasi
temperatur lebih kecil dibanding untuk pipa-pipa di udara terbuka.
Flum dibuat dari kayu, baja atau beton. Untuk menyeberangkan air lewat saluran pembuang
atau irigasi yang lain, petani sering menggunakan flum kayu. Flum baja atau beton dipakai
sebagai talang. Untuk debit-debit yang besar, lebih disukai flum beton. Kedua tipe bangunan
tersebut dapat berfungsi ganda jika dipakai sebagai jembatan orang (baja) atau kendaraan
(beton). Flum merupakan saluran tertutup jika dipakai sebagai jembatan jalan.

Gambar 7.14 Contoh Gambar Talang

206

E. Perencanaan
Talang Pada Saluran Primer Atau Sekunder
Untuk perlintasan saluran dapat dipakai talang. Untuk memperkecil biaya pelakasanaan,
kemiringan talang harus dibuat setinggi mungkin, tetapi aliran tidak boleh menjadi kurang
stabil atau superkritis (Fr < 0,7).
Dengan mengandaikan kecepatan

1,50

m/dt

dengan debit rencana = 2,88 m3/dt luas basah menjadi :


A

Q
V

2,88

1,5

m2

1,92

Untuk mengurangi efek pengempangan di ruas saluran hulu, kedalaman air rencana di dalam
talang diambil sama dengan kedalaman air rencana di saluran yakni :
h

hrenc. Sal

1,27

Lebar talang dapat dihitung sebagai berikut :


A

1,512

1,27

Kemiringan yang diperlukan dihitung dengan rumus Strickler :


=

70

m1/3/dtk

1,5

m/dtk

R2/3

+
1,5

4,1

A
P

I1/2

2 h

2,54

1,92
4,1

0,474

207

Jadi :
2

V
I
=

R2/3

1,5
70

0,608

0,0012429

Bilangan Froude ialah


F

(g.h)0.5

1,5

3,528

0,4

<

0,7

OK !

Jadi kehilangan tinggi energi dibagian peralihan dapat diperoleh dengan rumus :

hmasuk

hkeluar

masuk

0,20

0,0110

1,50
x

0,40

0,0221

0,46

0,46

1,50

1,50

19,6
1,50

19,6

m
0,46

keluar

19,6

0,46
x

19,6

Kehilangan energi total pada talang adalah :


h

IxL

hmasuk

hkeluar

0,001

31,00

0,0110

0,0221

0,072

diambil

Dh

0,0800

208

Gambar 7.15 Potongan Memanjang Talang

Talang Pada Saluran Tersier


Talang pada saluran tersier melewati saluran pembuang (lihat gambar 7.16).
Diketahui :
Saluran Tersier
b

h1

Qd

85

EL1

EL3

Saluran Pembuang
=

0,50

2,0

Ltr/Dtk

15,8

1,25

16,3

EL6

13,8

El4

16,6

El7

15,05

0,2

m/dtk

Hitunglah dimensi dan kehilangan energi pada talang untuk Flum Beton
Perhitungan :
1. Panjang Flum
L = B + 2.m. (EL4 - EL6)
=
2,0
+ 2 x 1 x (16,6 - 13,8)
=
7,60
m
ambil
L =
8,00
m (Standard)

209

2. Dimensi Flum Beton


Lebar minimum flum (b3) adalah
0,50 m
h1 =
A

=
=
O =
=
=
Jadi :
v

b3 x
0,20
b +
0,4
1,4

h1
=
0,4
2
m
2 h
+
1,00
m

0,4

dari kedalaman air disaluran

0,50

Q
A

0,085
0,2

0,425 m/Dtk

A
O

0,2
1,4

0,143 m

dan
R

Kemiringan yang diperlukan dihitung dengan rumus Strickler :

2/3
= k x R

0,4

70 x 0,273

= 0,0004936
Jadi kehilangan tinggi energi dibagian peralihan dapat diperoleh dengan rumus :
hmasuk =

masuk

0,20

x
x

0,43 - 0,20
19,6
0,43 - 0,20
19,6

0,20 - 0,43
19,6
0,20 - 0,43
19,6

= 0,0005 m
hkeluar =

keluar

0,40

=
=

= 0,0010 m

210

Kehilangan energi total pada talang adalah :


h = I x L + hmasuk + hkeluar
= 5E-04 x
12,00 + 0,0005 + 0,0010
= 0,007 m diambil
h
= 0,0100 m
4. Pondasi
t2 = 0,5 x
= 0,5 x
=
1,40

(EL4 - EL6)
(16,6
m

13,8)

Gambar 7.16 Potongan Memanjang Talang Pada Saluran Tersier

7.6 Bangunan Terjun


Bangunan terjun mempunyai 4 bagian fungsional yaitu :
1. Bagian gengontrol, berfungsi untuk mencegah penurunan muka air secara berlebihan
diruas saluran hulu.
2. Bagian pembawa ke elevasi yang lebih rendah
3. Peredam energi, berfungsi untuk meredam energi yang berlebihan di ruas saluran hulu.
4. Lindungan aliran keluar, berfungsi untuk mencegah kerusakan akibat gerusan dan erosi

211

Bagian pengontrol
Agar sesuai dengan besaran kedalaman air di saluran irigasi, bagian pengontrol dibuat
sedemikian rupa sehingga akan terjadi peninggian dan penurunan muka air yang minimum.
Aliran irigasi mengangkut sedimen yang berupa sedimen dasar atau layang. Meningginya
muka air akan menyebabkan terjadinya sedimentasi dan menurunnya muka air akan
menyebabkan erosi di ruas saluran sebelah hulu.
Oleh sebab itu harus dibuat kurve Q - h saluran dan bagian pengontrol.
Untuk bagian pengontrol ada dua alternatif:
1. Mempersempit luas basaah tanpa ambang,
2. Pemakaian ambang dengan permukaan hulu miring.
Mempersempit luas basah berarti memperbaiki kurve Q-h bahkan bagian pengontrol segi tiga
bisa sesuai dengan kurve Q-h saluran. Tetapi bagian pengontrol segi empat lebih murah.
Pemberian ambang memberikan pengaruh yang baik terhadap besaran debit di sebelah hulu.
Pada debit rendah, efek pengempangan sangat besar. Untuk saluran yang mengangkut aliran
dengan kandungan sedimen tinggi, tidak perlu dibuat ambang, agar tidak terjadi sedimentasi ;
dengan demikian mengurangi biaya pemeliharaan.

212

Contoh :
Qmaks

7,50

m3/Dtk

Y1

1,65

5,77

0,00014

1,5

42,30

Gambar 7.17 Kondisi Batas Bangunan Terjun

Kurve Q-h saluran. diiberikan pada gambar 8.19. Lebar bagian peagontrol segi empat
ditentukan dengan menggunakan kriteria bahwa pada 70% dari debit rencana saluran (0,7 x
Q100%) tidak diperkenankan terjadi penurunan muka air.
Q70%

0,7

7,50

Y70%

1,36

(Lihat Kurva Q - H)

A70%

b.Y

m. y2

5,77

1,36

10,62

m2

5,25

1,50

m3/Dtk

1,85

213

V70%

H70%

5,25

A
Y70%

1,372

10,62
V02

0,494

1,36

m/dtk

0,244

2.g

19,6

di mana :
Q

debit, m3/dt

lebar bagian pengontrol, m

kedalaman energi, m

gravitasi konstan, 9,8 m/dt2 Cd= 0,93 + 0,10 H/L

panjang bagian pengontrol [m]

Dengan L =
Cd70

1,50

koefisien debit pada Q7o menjadi

0,93

0,10

0,93

(0,10

1,021 m

(H70%/L)
x

0,91)

Sekarang lebar bagian pengontrol dapat dihitung


Q70%

Cd70

2/3 x

2/3 g x B x H70%1,5

5,25

1,021 x

2/3 x

2/3 x

5,25

2,799 B

1,876

9,80

x 1,6079

214

Gambar 7.18 Lebar Bagian Pengontrol


Untuk lebar air (B =1,90 m), crapat digambar kurve Q-h bagian pengontrol (gambar 7.18)
dapat dilihat bahwa pada debit di bawah Q70%, penurunan muka air dapat terjadi maksimum
0,07 m. Untuk saluran-saluran irigasi, harga-harga ini adalah marginal, dengan
mempertimbangkan asumsiasumsi mengenai kekasaran saluran dan ketelitian dimensi setelah
pelaksanaan .

Gambar 7.19 Q - Y1 Bagian Pengontrol

215

Bagian pengontrol trapesium


Perencanaan bagian pengontrol trapesium didasarkan pada rumus untuk flum trapesium
Q

Cd x (b. Yc + S. Yc2) ( 2g . (H - Yc))0,50

Dimana :
Q

debit, m3/dt

Cd

Koefisien debit Cd = 1,05

Lebar dasar celah (m)

Yc

Kedalaman kritis bagian pengontrol (m)

Kemiringan samping celah

Tinggi energi di saluran, (m)

Percepatan gravitasi

Untuk mempermudah perencanaan, telah- dikembangkan beberapa grafik Kisaran validitas


Q20% sampai Q100% (atau 1,51 sampai 7,57 ms/dt. Untuk kondisi tertentu

diambil dari

biasanya terdapat lebih dari satu celah yang dapat memberikan kontrol yang kurang lebih
sama untuk besaran debit yang dikontrol.
Untuk memulai proses pemilihan celah kontrol yang akan dipakai, ambillah gntfik yang
mempunyai harga b terkecil yang akan memberikan besaran debit penuh dari 1,57 sampai
7,57 m3/dt. Dalam contoh ini akan dipilih dahulu grafik dengan harga b = 1,00 m (lihat
gambar 7.20)

Gambar 7.20 Celah Kontrol Trapesium B = 1,00 m

216

Masukan ke grafik H =1,67 m dan kemudian teruskan ke arah vertikal ke.titik potong dengan
garis horisontal 7,57 m3/dt. Bacalah harga S untuk kurve kemiringan yang terletak tepat di
sebelah KANAN titik ini Kurve ini untuk kemiringan S = 0,75. Dengan cara yang sama,
ceklah kurve mana yang mengontrol Q =1,51 m3/dt dan H = 0,64 m. Inilah kurve S = L
Kurve kemiringan ini harus sama untuk kedua debit, namun ini tidak terjadi:

Gambar 7.21 Celah Kontrol Trapesium B = 1,25 m

Contoh Pembuatan Grafik ;


Cd

1,05

0.25, 0.50, 0.75, 1.00, 1.50

1,25 m

Cd x (b. Yc + S. Yc2) ( 2g . (H - Yc))0,50

Variabel

Yc

0,7

x H

217

Tabel 7.3 Contoh Perhitungan Celah Trapesium B = 1,25


Cd

S1

Yc

Q1

S2

m /Dtk

Q2

S3

Q3

S4

m /Dtk

Q4

S5

m /Dtk

Q5
3

m /Dtk

m /Dtk

1,05

0,25

1,25

0,10

0,07

0,07

0,50

0,07

0,75

0,07

1,00

0,07

1,50

0,08

1,05

0,25

1,25

0,20

0,14

0,20

0,50

0,21

0,75

0,22

1,00

0,22

1,50

0,23

1,05

0,25

1,25

0,30

0,21

0,38

0,50

0,40

0,75

0,41

1,00

0,43

1,50

0,46

1,05

0,25

1,25

0,40

0,28

0,60

0,50

0,63

0,75

0,66

1,00

0,69

1,50

0,75

1,05

0,25

1,25

0,50

0,35

0,84

0,50

0,90

0,75

0,95

1,00

1,01

1,50

1,12

1,05

0,25

1,25

0,60

0,42

1,12

0,50

1,21

0,75

1,30

1,00

1,38

1,50

1,56

1,05

0,25

1,25

0,70

0,49

1,43

0,50

1,56

0,75

1,69

1,00

1,82

1,50

2,07

1,05

0,25

1,25

0,80

0,56

1,77

0,50

1,95

0,75

2,13

1,00

2,31

1,50

2,67

1,05

0,25

1,25

0,90

0,63

2,14

0,50

2,38

0,75

2,62

1,00

2,86

1,50

3,34

1,05

0,25

1,25

1,00

0,70

2,54

0,50

2,85

0,75

3,16

1,00

3,48

1,50

4,10

1,05

0,25

1,25

1,10

0,77

2,97

0,50

3,36

0,75

3,76

1,00

4,15

1,50

4,95

1,05

0,25

1,25

1,20

0,84

3,42

0,50

3,91

0,75

4,40

1,00

4,90

1,50

5,88

1,05

0,25

1,25

1,30

0,91

3,90

0,50

4,50

0,75

5,11

1,00

5,71

1,50

6,91

1,05

0,25

1,25

1,40

0,98

4,41

0,50

5,14

0,75

5,86

1,00

6,58

1,50

8,03

1,05

0,25

1,25

1,50

1,05

4,95

0,50

5,81

0,75

6,67

1,00

7,53

1,50

9,25

1,05

0,25

1,25

1,60

1,12

5,52

0,50

6,53

0,75

7,54

1,00

8,55

1,50

10,57

1,05

0,25

1,25

1,70

1,19

6,11

0,50

7,29

0,75

8,46

1,00

9,64

1,50

11,99

1,05

0,25

1,25

1,80

1,26

6,74

0,50

8,09

0,75

9,45

1,00

10,80

1,50

13,51

1,05

0,25

1,25

1,90

1,33

7,39

0,50

8,94

0,75

10,49

1,00

12,04

1,50

15,15

1,05

0,25

1,25

2,00

1,40

8,07

0,50

9,83

0,75

11,59

1,00

13,36

1,50

16,89

218

GRAFIK CELAH KONTROL TRAPESIUM B = 1,25 M


18,00
17,00
16,00
15,00
14,00
13,00
12,00
11,00
10,00
9,00
8,00
7,00
6,00
5,00
4,00
3,00
2,00
1,00
0,00
0,00

0,25

0,50

S = 0,25

0,75

S = 0,50

1,00

1,25

S = 0,75

1,50

1,75

S = 1,00

2,00

2,25

S = 1,50

Bagian Pembawa
Pemilihan bagian pembawa hanya bergantung kepada tinggi terjun saja. Jika tinggi terjun
lebih dari 1,50 m akan dipakai bangunan terju miring. Untuk tinggi terjun yang lebih rendah,
dapat dipakai bangunan terjun tegak.

Kolam Olak Untuk Bangunan Terjun Miring Segi Empat


Untuk menentukan tipe kolam olak yang akan dipakai, pertama tama harus dihitung bilangan
Froude pada bagian masuk kolam olak.

219

Vu
Fru

Vu

g.Yu

q
Yu
Q
B

Dimana :
Hu

Tinggi energi pada u, (m)

Debit (m3/Dtk)

Debit persatuan lebar (m2/Dtk)

Lebar bukaan bangunan terjun (m)

Yu

Kedalaman air di bagian masuk kolam olak

Diketahui :
H

1,61

H1

1,65

H2

1,65

maka :
H
H1

1,61

0,976

1,65

220

Tabel 7.22 Perbandingan Tanpa Dimensi Untuk Loncatan Air

Dari Tabel 7.22 diperoleh


= 0,26
Yu/H1
Hu/H1
= 2,44
= 1,46
Hd/H1
Yd/H1
= 1,38

maka
maka
maka
maka

Yu
Hu
Hd
Yd

=
=
=
=

0,26
2,44
1,46
1,38

x
x
x
x

1,65
1,65
1,65
1,65

=
=
=
=

0,429
4,026
2,409
2,277

m
m
m
m

Elevasi dasar kolam sekarang dapat diperkirakan


EL. Dsr

13,96 -

13,96 -

11,55 m

13,96 -

1,01

Hd
2,409
diambil =
1,65

11,30 m
11,30

221

Bilangan Froude, dihitung sebagai berikut :


Hu

4,026

7,50

1,876

3,998 m

Langkah

H = Yu + Vu2/2.g

Yu

v = q/Yu

0,429

9,320

4,861

0,500

7,996

3,762

0,470

8,507

4,162

0,479

8,347

4,034

0,479

8,347

4,034

Vu
Fru

8,347
=

g.Yu

=
9,80

3,853

0,479

Tipe yang dianjurkan pada kolam olak untuk bilangan Froude tersebut adalah USBR Tipe IV
atau Vlugther
USBR Tipe IV
Panjang kolam :

L =
=
=

2,0 x Yu

1,0 +

2,0 x

0,479

9,525

1,0

8
+

Fru2
8

1,0
14,84

1,0

Kedalaman muka air hilir minimum :


Y2

>

1,10

Yd

1,65

1,01

>

1,10

2,409

2,66

>

2,65

OK ! DAPAT DILANJUTKAN

222

Gambar 7.22 Kolam Olak USBR Tipe IV

Tipe Vlugter
q2

hc

hc
t

15,99
=

1/3

1,61

1/3

1,177

2,40

diambil =

10,69

9,80

1,368

1,177
=

2,40

3,25

hc

0,42

1,177

0,42

Elevasi dasar kolak sekarang menjadi :


EL. Dsr

13,94

13,94

10,69

R = L

13,94

3,25

3,25

10,69

223

Gambar 7.23 Kolam Olak Tipe Vlugther

BANGUNAN TERJUN TEGAK


Saluran tersier
=

b1

h1

0,50

Qd =

85,00

Ltr/Dtk

0,80

=
q

0,8 x B

85,00

0,40

212,5

Ltr/Dtk

0,213

m3/Dtk

Dari grafik diperoleh


hc

C1

q2
=
=

1/3

g
2,50

2,50

2,73

0,045
=

1,1

9,80
Hc

1,1

1/3

0,7

Z
0,166
0,80

Hc

0,166

0,166

Z
+

0,7

0,80

224

L2

L1
a

t1

2,73

1,247

2,40

0,50

0,08

0,5 x

h1

0,5

=
=

0,64

hc

3,00

0,25
0,166

0,25

0,80

m
x

0,65
0,8

x
0,80

=
B

C1

hc

=
diambil

0,50

0,17

0,10

0,50 + 0,80
m

0,80

0,80

225

Gambar 7.26 Grafik Perencanaan Untuk Panjang Kolam Olak

Gambar 7.27 Bangunan Terjun

226

7.7 Bangunan Got Miring


Diketahui
Saluran Tersier

Qd

102

0,00024

b1

h1

Ltr/Dtk

0,50

Muka air hulu

166,59

Muka air hilir

154,49

Beda Z

12,1

Panjang Got Miring

128,00

Hitung dimensi got miring dan kolam olak tersebut.


Jawab :

a).

Bagian Masuk

Cd x

1,7 x

h11,5

dimana :
Qd

= Debit rencana (102 Ltr/ Dtk)

b1

= Lebar bukaan

h1

= Kedalaman air

Cd

= Koefisien Debit

0,102

0,85

0,102

0,51

0,20

A1

V1

h1

bc

0,067

m,

A1
1,533

1,70

0,50

1,5

0,333

0,85

2
3

0,20

0,50

0,333

0,102
0,067

m/dtk

227

b).

Bagian Untuk Aliran Normal


ambil
n
=
Kt

Tg

Sin a
Ko
Kt

Fb
Ob

=
=
=
=
=
=

Rb

=
=

Q
Q

=
=

Ko

2 atau
x

=
=
=
=

0,095
5,4
5 0
0,094

2 hb

( 1 - Sin a)
Z
L

Derajat
24,0

12,1
128,00

"

50 m1/3/ Dtk
(Pasangan Batu)
Ko x
( 1 - Sin a)
1
50
x
0,094
1/3
45,29
m / Dtk
2
n . Hb
b + 2.hb
=
n.hb + 2.hb
Fb
n . Hb2
=
=
Ob
(n + 2). Hb
2.Hb
=
0,5 x hb
(2 + 2)
Fb
x
2
n . Hb
2 hb2
17,51
17,51
0,145

Vs
x

0,102
0,102
0,102
hb

=
=
=
=

b2

=
=
=

2 hb
2
x
0,30

=
=
=

n . Hb2
2
x
0,15
2
0,045
m

Fb

b2

x
hb2
hb
m

(n + 2). Hb
n.Hb
(n + 2)

Kt . Rb2/3 . (Sin a) 1/2

45,29
x
hb

x
2/3

0,5
=

hb
17,51

2/3

hb6/3

0,094
x hb

0,15

0,5
2/3

8/3

diambil

hb

0,15
m

228

Fb

c).

=
=
=

Vs

Rb

Ob

=
=
=

b2
0,30
0,045
Qb
Fb
0,5

x
x

Hb
0,15
0,102
0,045

hb

0,075
m
(n + 2). Hb
0,60
m

2,267

0,5

4,0

m/Dtk

0,15
x

0,15

Bagian Peralihan
Vs

- V1

(2.g.h)0,50

0,85

2,267

1,533

H0,5

0,195

0,442

4,427

H0,5

128,00

Panjang bagian peralihan

l1

=
=

H
I
4,693

0,442
0,094

Panjang bagian aliran normal

l2

=
=

123,31

l1

4,693

229

d).

Kolam Olak
Bukaan Peredam Gelombang
Q

2.g.z

0,03

9,8

m/dtk2

0,102

m3/Dtk

0,102

0,85

0,102

0,652

0,156

m2

dengan

Dipakai

2.g.z
F

2 Bukaan

2,00

9,8

0,03

0,30

0,30

0,180

m2

Panjang kolam olak


Kedalaman

Lebar

h3

b3

h0

0,50

0,80

=
Panjang

l3

0,90
1,5

1,5

1,350

b2
0,30
m

0,30

b3
0,90
m

dipakai

l3

1,450

230

Gambar 7.28 Got Miring

Gambar 8.28 Kolam Olak Dengan Peredam Gelombang

231