Anda di halaman 1dari 48

BUKU AJAR

MEKANIKA KEKUATAN BAHAN


OLEH:
Drs. MURDANI, M.Pd

TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK
1

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG


2013
KATA PENGANTAR

Segala puji hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam, yang telah melimpahkan
karuniaNya, sehingga Alhamdulillah buku ajar yang berjudul Mekanika Kekuatan Bahan
telah selesai disusun sesuai dengan rencana.
Penyelenggaraan mata kuliah Mekanika Kekuatan Bahan bertujuan agar mahasiswa
memahami, kekutan bahan dengan mempelari tegangan tarik, tekan, geser, lengkung, puntir
dan tegangan kombinasi pada suatu kontruksi mesin.
Buku ajar ini akan sangat membantu para mahasiswa dalam mempelajari topik-topik
sebagaimana disampaikan diatas. Diharapkan buku ajar ini sebagai dasar dari perkuliahan
Mekanika Kekuatan Bahan. Untuk pendalaman materi perlu dilakukan dengan merujuk pada
daftar pustaka yang dipakai pada buku ajar ini.
Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada pimpinan Fakultas dan Jurusan yang
telah memfasilitasi penyusunan buku ajar ini.. Kritik dan saran kami harapkan demi
sempunanya buku ajar ini. Akhirnya kami berharap buku ajar ini akan bermanfaat khususnya
dalam pengembangan mata kuliah Mekanika Teknik di Jurusan Teknik Masin

Semarang, Oktober 2013.

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL................................................................................................
KATA PENGANTAR..............................................................................................
DAFTAR ISI............................................................................................................
TINJAUAN MATA KULIAH.................................................................................
Diskripsi...................................................................................................................
Standar Kompetensi.................................................................................................
Kompetensi Dasar....................................................................................................
lndikator...................................................................................................................
BAB I. Tegangan Dan Regangan Sederhana...........................................................
1.1.
Tegangan.....................................................................................................

i
ii
iv
4
4
4
4
4
5
5

...
1.2.

Regangan..................................................................................................... 6
...

1.3.

Hukum 6

Hooke................................................................................................
1.4.
Modulus
Elastisitas
(Modulus 7
Young)..........................................................
Deformasi
Karena

1.5.

Gaya

yang 7

Bekrja ...........................................................
1.6.

9
Latihan

1................... ....................................................................................
BAB II. KONSTANTA ELASTISITAS...............................................................
2.1. Regangan Primer atau Linier.........................................................................
2.2. Regangan Skuder atau Lateral..... ..................................................................
2.3. Rasio Poisan........................................ .........................................................
2.4. Regangan Volumetrik..................................... .................................................
2.4.1. Regangan Volumetrik Benda Persegi Empat Yang Mendapat Gaya

10
10
10
11
12

Aksial....................................................................................................................
13
2.4.2 Regangan Volumetrik Benda Empat Persegi Panjang Yang Mendapat Tiga
2.5. Modulus Bulk..................................................................................................
2.6. Hubungan antara Modulus Bulk dengan Modulus Young.............................
2.7. Tegangan Geser ..............................................................................................
2.8 Tegangan Geser Prinsipal..............................................................................
2.9. Modulus Geser Atau Modulus Rigiditas......................................................

17
18
19
20
21
3

2.10. Hubungan antara Modulus Elastisitas dengan Modulus Rigiditas.............


Latihan 2 .............................................................................................................
BAB. III. PEMBEBANAN GESER.......................................................................
Latihan 3. ................................................................................................................
BAB. IV BEBAN PUNTIR........................... ......................................................
Latihan 4 ..............................................................................................................
BAB. V BEBAN LENGKUNG.............................................................................
Latihan 5 ..............................................................................................................
BAB. VI BEBAN TEKUK ...................................................................................
Latihan 6 ...............................................................................................................
BAB. VII BEBAN GABUNGAN .........................................................................
Latihan 7 ...............................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................

22
23
24
27
29
31
33
37
38
40
41
44
45

TINJAUAN MATA KULIAH


4

Nama mata kuliah

: Mekanika Kekuatan Bahan

Nomor Kode MK/ SKS

: E2014107/ 2 sks

Jurusan/ Program Studi

: TM/ PTM

Semester

: Gasal

Diskripsi

: Mendalami kekutan bahan dengan memahami tegangan tarik,


tekan, geser, lengkung, puntir, tekuk dan tegangan kombinasi
pada suatu kontruksi mesin.

Standar Kompetensi

: Menganalisis kekuatan bahan pada konstruksi mesin berdasar


kan beban yang bekerja.

Kompetensi Dasar

lndikator

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Menjelaskan pengertian kekuatan bahan


Menganalisis dan menghitung tegangan dan regangan
Menganalisa dan menghitung tegangan tarik, tekan
Menganalisa dan menghitung tegangan geser
Menganalisa dan menghitung tegangan puntir
Menganalisa dan menghitung tegangan lengkung
Menganalisa dan menghitung tegangan tekuk
Menganalisis dan menghitung tegangan kombinasi

BAB. I
TEGANGAN DAN REGANGAN SEDERHANA

Tegangan
Setiap material adalah elastis pada keadaan alaminya. Karena itu jika gaya luar bekerja pada
benda, maka benda tersebut akan mengalami deformasi. Ketika benda tersebut mengalami
deformasi, molekulnya akan membentuk tahanan terhadap deformasi. Tahanan ini per satuan
luas dikenal dengan istilah tegangan. Secara matematik tegangan bisa didefinisikan sebagai
gaya per satuan luas, atau:
=P
A
dimana
P = beban atau gaya yang bekerja pada benda
A = Luas penampang melintang benda
Pada sistem SI, satuan tegangan adalah pascal (Pa) yang sama dengan 1 N/m2.
1.2 Regangan
Deformasi per satuan panjang disebut dengan regangan. Secara matematis ditulis:

atau

Dimana
= regangan,
l = Perubahan panjang benda
l = Panjang awal benda
1.3 Hukum Hooke
Berbunyi, Jika benda dibebani dalam batas elastisnya, maka tegangan berbanding lurus
dengan regangannya. Secara matematis ditulis:

1.4 Modulus Elastisitas (Modulus Young)


Tegangan berbanding lurus dengan regangan, dalam daerah elastisnya, atau:

atau

dimana
= tegangan
= regangan, dan
E = konstanta proporsionalitas atau disebut juga modulus elastisitas atau modulus Young.
Tabel 1.1: Harga E (modulus elastisitas) dari berbagai material.
N

Material

Modulus Elastisitas (E) dalam GPa

o
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Baja
Besi tempa
Besi cor
Tembaga
Perunggu
Aluminium
Timbal

200 220
190 200
100 160
90 110
80 90
60 80
10

1.5 Deformasi Benda Karena Gaya Yang Bekerja


Misalkan sebuah benda mendapat tegangan tarik.
Misalkan P = Beban atau gaya yang bekerja pada benda
l = Panjang benda
A = Luas penampang benda
= Tegangan yang timbul pada benda
E = Modulus Elastisitas material benda
= Regangan
l = Deformasi benda
Kita tahu bahwa tegangan:
=P
A
Maka regangan:
dan deformasi:
Catatan:
7

1. Rumus di atas baik juga digunakan untuk tekanan


2. Untuk sebagian besar material, modulus elastisitas untuk kompresi sama dengan tarikan.
3. Kadang-kadang dalam perhitungan, tegangan dan regangan tarik diberi tanda positif, dan
tegangan dan regangan tekan/kompresi diberi tanda negatif.
Contoh soal 1.1. Sebuah batang dari baja dengan panjang 1 m dan penampang 20 mm 20
mm mendapat gaya tarik sebesar 40 Kn. Carilah perpanjangan batang, jika modulus
elastisitas material batang adalah 200 Gpa.
Jawab.
Diketahui: panjang (l) = 1 m = 1 103 mm
luas penampang (A) = 20 20 = 400 mm2
gaya tarik (P) = 40 Kn = 40 103 N
Modulus elastisitas (E) = 200 Gpa = 200 103 N/mm2
Perpanjangan batang:
l = P.l
A.E
= (40 103) (1 103)
400 (200 103)
= 0, 5 mm
Contoh Soal 1.2. Silinder berlobang dengan panjang 2 m mempunyai diameter luar 50 mm
dan diameter dalam 30 mm. Jika silinder memikul beban sebesar 25 Kn, carilah tegangan
pada silinder. Cari juga deformasi yang terjadi pada silinder jika harga modulus elastisitas
material silinder adalah 100 Gpa.
Jawab.
Diketahui: panjang (l) = 2 m = 2 103 mm
diameter luar (D) = 50 mm
diameter dalam (d) = 30 mm
beban (P) = 25 Kn = 25 103 N/mm2
modulus elastisitas (E) = 100 Gpa = 100 103 N/mm2
Tegangan Pada Silinder

dan tegangan pada silinder:

Deformasi pada silinder

LATIHAN 1
1. Sebuah batang baja dengan panjang 2 m dan penampang 150 mm2 mendapat tarikan
aksial sebesar 15 Kn. Carilah perpanjangan/elongasi batang. Ambil harga E = 200 Gpa.
(jawab: 1,0 mm)
2. Sebuah batang lurus mempunyai panjang 500 mm dan penampang 500 mm2. Carilah
besar beban kompresi dimana panjangnya berkurang 0,2 mm. Ambil E material 200 Gpa.
(jawab: 40 Kn)
3. Sebuah batang logam paduan dengan panjang 1 mm dan penampang 200 mm2 mendapat
gaya tekan sebesar 20 Kn. Jika modulus elastisitas paduan 100 Gpa, carilah penurunan
panjang batang. (jawab: 0,5 mm)

BAB. II
KONSTANTA ELASTISITAS

Dari eksperimen ditemukan bahwa regangan aksial yang terjadi pada sebuah benda
selalu diikuti regangan dengan tanda yang berlawanan pada bagian lain yang tegak lurus
9

terhadapnya. Secara umum, terdapat dua jenis regangan pada benda jika benda tersebut
mengalami tegangan:
1. Regangan primer atau linier.
2. Regangan sekunder atau lateral.
2.1 Regangan Primer atau Linier

Gambar 2.1: Regangan linier dan lateral


Misalkan sebuah batang mengalami gaya tarik, seperti ditunjukkan oleh gambar 2.1(a).
Jika l = Panjang batang
d = Diameter batang
P = Gaya tarik yang bekerja pada batang
l = Peningkatan panjang batang karena gaya tarik.
Deformasi batang per satuan panjang pada arah gaya, yaitu, l/l di kenal dengan regangan
primer atau linier.
2.2 Regangan Sekunder atau Lateral
Ketika sebuah batang mengalami pertambahan panjang sebesar l searah gaya tarik yang
bekerja padanya, pada saat yang bersamaan terjadi penurunan diameter dari d ke (d d),
seperti yang ditunjukkan oleh gambar 2.1(b). Dengan cara yang sama, jika batang mendapat
gaya tekan, panjang batang akan menurun sebesar l yang diikuti oleh peningkatan diameter
dari d ke (d d).
Jadi jelas bahwa setiap tegangan langsung selalu diikuti oleh regangan pada arah tegangan
dan regangan dengan tanda yang berlawanan pada arah yang tegak lurus terhadap tegangan
tersebut. Regangan yang tegak lurus terhadap tegangan yang bekerja ini disebut dengan
regangan sekunder atau lateral.
2.3 Rasio Poisson
10

Dari eksperimen ditemukan bahwa jika sebuah benda mengalami tegangan pada daerah
elastisnya, regangan lateral mempunyai rasio konstan terhadap regangan linier. Secara
matematik:

Konstanta ini dikenal dengan Rasio Poisson, dan dilambangkan dengan 1/m atau . Secara
matematik:

Tabel 2.1: Harga rasio Poisson dari berbagai material.

Contoh soal 2.1. Sebuah batang yang terbuat dari baja dengan panjang 2 m, lebar 40 mm dan
tebal 20 mm mendapat tarikan searah aksial sebesar 160 Kn pada arah panjangnya. Carilah
perubahan panjang, lebar dan ketebalan batang. Diketahui E = 200 Gpa dan rasio Poisson =
0,3.
Jawab.
Diketahui: l = 2 m = 2 103 mm
b = 40 mm
t = 20 mm
P = 160 Kn = 160 103 N
E = 200 Gpa = 200 103 N/mm2
rasio Poisson, 1/m = 0,3
Perubahan panjang:

Regangan Linier

11

dan regangan lateral:

Jadi perubahan lebar:


b = b regangan lateral = 40 0, 0003 = 0, 012 mm
Perubahan ketebalan:
t = t regangan lateral = 20 0, 0003 = 0, 006 mm
2.4 Regangan Volumetrik
Jika sebuah benda mendapatkan gaya, maka benda tersebut akan mengalami perubahan
dimensi. Perubahan dimensi sebuah benda akan menyebabkan perubahan volumenya.
Rasio perubahan volume terhadap volume awal disebut dengan regangan volumetrik.
Secara matematik, regangan volumetrik:

dimana:
v = Perubahan volume
V = Volume awal.
Walaupun ada berbagai cara gaya bekerja pada benda, kondisi berikut perlu untuk
mengetahui regangan volumetrik pada suatu benda:
1. Benda persegi empat mendapat sebuah gaya aksial.
2. Benda persegi empat mendapat tiga gaya yang saling tegak lurus.

Gambar 2.2: Regangan Volumetrik.


2.4.1 Regangan Volumetrik Benda Persegi Empat Yang Mendapat Gaya Aksial
Misalkan sebuah batang dengan penampang persegi panjang, mendapat gaya tarik aksial,
seperti yang ditunjukkan oleh gambar 2.2.
Misalkan P = Beban atau gaya tarik yang bekerja pada benda
l = Panjang benda
b = Lebar batang
12

t = Tebal batang
E = Modulus Elastisitas
1/m = Rasio Poisson
Kita tahu bahwa perubahan panjang:

(2.1)

dan tegangan linier:


sehingga:
dan regangan lateral:
maka perubahan ketebalan:
dan perubahan lebar:
Sebagai hasil dari gaya tarik ini, misal panjang akhir = l l
lebar akhir (tanda negatif karena kompresi) = b b
dan panjang akhir (tanda negatif karena kompresi) = t t
Kita tahu bahwa volume awal benda:
V = l.b.t
dan volume akhir:

Dengan mengabaikan variabel-variabel yang nilainya kecil, maka:

Perubahan volume:

13

dan regangan volumetrik:

Catatan: Rumus di atas berlaku juga untuk gaya tekan.


Contoh soal 2.2. Sebuah batang yang terbuat dari baja dengan panjang 2 m, lebar 20 mm dan
tebal 15 mm mendapat beban tarik sebesar 30 Kn. Carilah peningkatan volume, jika rasio
Poisson = 0,25 dan modulus Young = 200 Gpa.
Jawab.
Diketahui: l = 2 m = 2 103 mm
b = 20 mm
t = 15 mm
P = 30 Kn = 30 103 N
rasio Poisson, 1/m = 0,25
modulus Young, E = 200 Gpa = 200 103 N/mm2
Volume awal batang:

Jadi peningkatan volume:


v = 0, 00025 V = 0, 00025 (600 103 ) = 150 mm3
2.4.2 Regangan Volumetrik Benda Empat Persegi Panjang Yang Mendapat Tiga Gaya Yang
Saling Tegak Lurus
14

Misalkan sebuah benda persegi empat mendapat tegangan langsung pada ketiga sumbunya
yang saling tegak lurus, seperti yang diperlihatkan oleh Gambar 2.3.

Gambar 2.3: Regangan Volumetrik.


Misalkan
x = Tegangan pada arah x-x
y = Tegangan pada arah y-y
z = Tegangan pada arah z-z
E = Modulus Young
Regangan pada arah X-X karena tegangan x,

dengan cara yang sama,

y = y
E
Regangan pada ketiga arah bisa dicari dengan prinsip superposisi, yaitu dengan
menambahkan secara aljabar regangan di setiap arah karena setiap tegangan individu.
Untuk ketiga tegangan tarik yang ditunjukkan oleh Gambar 2.3 (dengan memakai tanda
positif sebagai regangan tarik dan negatif sebagai regangan tekan), regangan resultan pada
arah x-x:

dengan cara yang sama

Regangan volumetrik bisa dicari dengan:

15

Contoh soal 2.3. Sebuah batang dengan panjang 500 mm dan penampang 100 mm 50 mm
menerima gaya-gaya seperti gambar 2.4. Berapakah perubahan volume batang? Ambil
modulus elastisitas untuk material batang 200 Gpa dan rasio Poisson 0,25.

Gambar 2.4:

Jawab
Diketahui: l = 500 mm
b = 100 mm
t = 50 mm
Gaya pada arah x = Px = 100 Kn = 100 103 N (tarik)
Gaya pada arah y = Py = 200 Kn = 200 103 N (tarik)
Gaya pada arah z = Pz = 300 Kn = 300 103 N (tekan)
E = 200 Gpa = 200 103 N/mm2
rasio Poisson = 1/m = 0,25 atau m = 4
Volume awal batang:
V = l b t = 500 100 50 = 2, 5 106 mm3
dan tegangan pada arah x-x:

dengan cara yang sama:

dan

16

Kita juga tahu bahwa regangan resultan pada arah x-x, dengan mempertimbangkan tarikan
adalah positif dan kompresi adalah negatif adalah:

dengan cara yang sama:

regangan volumetrik:

2.5 Modulus Bulk


Jika sebuah benda mendapat tiga tegangan yang saling tegak lurus, dengan besaran yang
sama, rasio tegangan langsung terhadap regangan volumetrik disebut sebagai modulus bulk,
dilambangkan dengan K. Secara matematik:

2.6 Hubungan Antara Modulus Bulk dengan Modulus Young


Misalkan sebuah kubus ABCD A1B1C1D1 seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 2.5.
Katakan kubus mendapat tiga tegangan tarik yang saling tegak lurus dengan besaran yang
sama.
Ambil
= Tegangan pada permukaan
l = Panjang kubus
E = Modulus Young untuk material kubus

17

Gambar 2.5: Kubus ABCD A1B1C1D1


Misalkan deformasi pada satu sisi kubus (katakan AB) karena tiga tegangan tarik.
Kita tahu bahwa sisi ini mengalami regangan-regangan berikut:
1. Tegangan tarik sebesar

karena tegangan pada permukaan BB1 CC1 dan AA1 DD1.

E
2. Regangan lateral tekan sebesar

karena tegangan pada permukaan AA1 BB1 dan

DD1 CC1.
3. Regangan lateral tekan sebesar

karena tegangan pada permukaan ABCD dan

A1B1C1D1.
Sehingga, regangan tarik netto yang dialami oleh sisi AB karena tegangan-tegangan ini:
(2.2)
Volume awal kubus: V = l3 dan turunannya terhadap l adalah v = 3l2 atau
V

Substitusikan harga

dari persamaan 2.2:

atau

sehingga

atau
18

Contoh soal 2.4. Jika harga modulus elastisitas dan rasio poisson sebuah paduan masingmasing adalah 150 Gpa dan 0,25, carilah harga modulus bulk paduan tersebut.
Jawab
Diketahui: E = 150 GP = 150103 N /mm2
rasio Poisson, 1/m = 0,25 atau m = 4
Modulus bulk paduan:

2.7 Tegangan Geser


Ketika suatu penampang mendapat dua gaya yang sama besar dan berlawanan arah, dan
bekerja secara tangensial pada penampang tersebut, akibatnya benda tersebut cendrung robek
melalui penampang tersebut seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 2.6, tegangan yang
ditimbulkan disebut tegangan geser. Regangannya disebut regangan geser.

Gambar 2.6: Tegangan geser pada keling.

Gambar 2.7: Regangan geser.


Misalkan sebuah kubus dengan panjang l mempunyai tumpuan tetap pada permukaan dasar
AB. Misalkan sebuah gaya P diberikan pada permukaan DC, tangensial terhadap permukaan

19

AB. Karena gaya, misalkan kubus berubah dari ABCE ke ABC1D1 melalui sudut seperti
yang ditunjukkan oleh Gambar 2.7.

Dan Teagangan Geser =


2.8 Tegangan Geser Prinsipal
Tegangan geser prinsipal adalah tegangan geser pada penampang sebuah bidang, dan selalu
diikuti oleh tegangan geser penyeimbang (balancing shear stress) pada penampang bidang
dan normal terhadapnya.

Bukti
Misalkan sebuah blok segiempat ABCD mendapat tegangan geser _ pada permukaan AD dan
CB seperti yang ditunjukkan oleh gambar 2.8. Misalkan ketebalan satu satuan.
Maka gaya yang bekerja pada permukaan AD dan CB:

Gambar 2.8: Tegangan Geser Prinsipal


Dapat dilihat bahwa gaya-gaya ini membentuk sebuah kopel, dimana harga momennya
adalah _.AB x AB yaitu gaya X jarak. Jika balok dalam keadaan setimbang, maka harus ada
kopel penyeimbang yang besar momennya harus sama dengan besar momen ini. Misalkan
tegangan geser _ 0 terdapat pada permukaan AB dan CD seperti yang ditunjukkan oleh
gambar 2.8. Maka gaya-gaya yang bekerja pada permukaan AB dan CD:

20

Kita bisa melihat bahwa gaya-gaya ini juga membentuk kopel yang besar momennya sama
dengan _.AB x AB. Dengan menyamakan kedua momen ini maka:

atau:

Sebagai akibat dari kedua kopel, diagonal BD balok akan mendapat gaya tarik, sedangkan
diagonal AC mendapat gaya tekan.
Tegangan

disebut regangan komplementer.

Modulus Geser atau Modulus Rigiditas


Secara eksperimen diperoleh bahwa di dalam batas elastik, tegangan geser proporsional
(berbanding lurus) terhadap regangan geser. Secara matematik:
atau

Tabel 2.2: Harga modulus Rigiditas berbagai material.

Hubungan Antara Modulus Elastisitas dan Modulus Rigiditas


Misalkan sebuah kubus dengan panjang l mendapat tegangan geser _ seperti yang
ditunjukkan oleh gambar 2.9(a). Terlihat bahwa karena tegangan-tegangan tersebut, kubus
mengalami distorsi, seperti diagonal BD akan bertambah panjang dan diagonal AC akan
bertambah pendek. Misalkan tegangan geser _ akan menimbulkan regangan _ seperti yang
ditunjukkan oleh gambar 2.9(b). Terlihat bahwa diagonal BD akan mengalami distorsi
menjadi BD.

21

Kita lihat bahwa regangan linier diagonal BD adalah setengah dari regangan geser dan berupa
tarik. Dengan cara yang sama dapat dibuktikan bahwa diagonal AC adalah juga setengah dari
regangan geser, tetapi berupa tekan. Regangan linier diagonal BD:

Gambar 2.9:
(2.3)
dimana:

C = Modulus rigiditas
Misalkan tegangan geser ini bekerja pada sisi AB, CD, CB dan AD. Kita tahu bahwa
akibat dari tegangan ini akan berupa tegangan tarik pada diagonal BD dan tegangan
tekan pada diagonal AC. Maka regangan tarik pada diagonal BD karena tegangan tarik
pada diagonal BD:
(2.4)
dan regangan tarik pada diagonal BD karena tegangan tekan pada diagonal AC:
(2.5)
Efek kombinasi dari kedua tegangan di atas pada diagonal BD
(2.6)
Dengan menyamakan persamaan 2.3 dan 2.6:

22

Contoh soal 2.5. Sebuah spesimen paduan mempunyai modulus elastisitas 120 Gpa dan
modulus rigiditas 45 Gpa. Carilah rasio Poisson material tersebut.
Jawab.
Diketahui: E = 120 Gpa
C = 45 Gpa
Modulus rigiditas:

LATIHAN 2
1. Sebuah batang baja dengan panjang 1,5 m dan diameter 20 mm mendapat tarikan aksial
sebesar 100 Kn. Carilah perubahan panjang dan diameter batang, jika E = a dan 1/m =
0,32
2. Carilah perubahan panjang, lebar dan tebal dari sebuah batang baja yang panjangnya 4
m, lebar 30 mm dan tebal 20 mm, jika mendapat tarikan aksial sebesar 120 Kn pada arah
panjangnya. Ambil E = 200 Gpa dan rasio Poisson 0,3.
3. Sebuah pelat baja mempunyai modulus elastisitas 200 Gpa dan rasio Poisson 0,3.
Berapakah harga modulus bulk material tersebut?
4. Pada sebuah eksperimen, sebuah batang paduan dengan panjang 1 m dan penampang 20
mm 20 mm diuji untuk menambah panjang sampai 1 mm ketika diberikan beban tarik
aksial sebesar 6,4 Kn. Jika modulus bulk batang 133 Gpa, carilah harga rasio Poisson.

BAB. III
PEMBEBANAN GESER

23

Pada pembebanan geser, maka akan timbul tegangan geser dan regangan geser.
Tegangan geser merupakan tegangan yang bekerja sejajar atau menyinggung permukaan.
Perjanjian tanda untuk tegangan geser sebagai berikut:
Tegangan geser yang bekerja pada permukaan positif suatu elemen adalah positif apabila
bekerja dalam arah positif dari salah satu sumbu-sumbu positif dan negatif apabila bekerja
dalam arah negatif dari sumbu-sumbu. Tegangan geser yang bekerja pada permukaan negatif
suatu elemen adalah positif apabila bekerja dalam arah negatif sumbu dan negatif apabila
bekerja dalam arah positif.
Prinsip Tegangan Geser
Sifat-sifat suatu bahan dalam keadaan geser dapat ditentukan secara eksperimental dari uji-uji
geser langsung (direct shear) atau puntiran (torsion). Uji-uji yang kemudian dilakukan dengan
memuntir pipa-pipa berongga, sehingga menghasilkan suatu keadaan geser murni.

Sebagai suatu contoh dapat dilihat pada sambungan baut. Tegangan geser pada baut
diciptakan oleh aksi langsung dari gaya-gaya yang mencoba mengiris bahan. Tegangan geser
dapat diperoleh dengan membagi gaya geser terhadap luas.

Bagian awal dari diagram tegangan-regangan geser sebuah garis lurus, seperti dalam keadaan
tarik. Untuk daerah elastis linier, tegangan geser berbanding lurus dengan regangan geser,
jadi diperoleh persamaan berikut bagi hukum Hooke untuk keadaan geser.

24

Tegangan geser pada permukaan-permukaan yang berhadapan besarnya sama tapi arahnya
berlawanan.
Tegangan geser pada permukaan-permukaan yang saling tegak lurus besarnya sama tetapi
memiliki arah-arah yang sedemikian rupa sehingga kedua tegangan mengarah ke, atau
menjauhi garis perpotongan kedua permukaan.

Tegangan geser yang diakibatkan adanya beban P pada sebuah paku keling dengan luas
penampang A, diformulasikan sebagai berikut :

Contoh Soal dan Penyelesaian


Contoh 1
Suatu plat baja sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 4.7 dihubungkan oleh dua buah baut
dengan diameter 19 mm. Apabila bekerja beban tarik sebesar 80 Kn, hitung gaya geser ratarata pada baut.

Penyelesaian
Dianggap beban ditahan sama besar oleh masing-masing baut dan tegangan geser yang
ditimbulkan adalah terdistribusi merata pada setiap baut. Karena hanya ada satu bidang geser
setiap baut, geser reaksi bekerja pada lingkaran dengan diameter 19 mm.
Masing-masing baut menahan 40 Kn (setengah dari total beban). Gaya geser rata-rata adalah:
25

= P = 40.000 N
A

= 141 Mpa

/4. (0,019)2

Contoh 2
Tiga buah kayu yang direkatkan satu sama lain (lihat Gambar 4.8) akan digunakanuntuk
menguji kekuatan geser sambungan lem. Beban P sebesar 50 Kn bekerja padakayu. Hitung
tegangan geser rata-rata tiap sambungan.

Luasan tahanan geser masing-masing sambungan adalah :


A = 0,075 x 0,1 = 7,5 x 10-3 m2
Dianggap bahwa beban P adalah sama dengan gaya reaksi tiap sambungan yang belum yang
ditahan dan bahwa tegangan gesr adalah distribusi merata melalui sambungan. Jadi masingmasing menahan 25 Kn (setengh dari beban total). Tegangan geser rata-rata :
= P = 25 x 103 N

= 3,33 Mpa

A 7,5 x 10-3 m2
Contoh 3
Struktur baja karbon rendah seperti gambar, diameter 25 mm tegangan geser maksimum 300
Mpa dan tebal bahan 10 mm. Jika modulus elastisitas 80 GN/m 2, carilah regangan geser saat
tegangan geser yang diberikan 150 Mpa.

Penyelesaian

26

Latihan 3:
1. Suatu sambungan dengan baut ditunjukan pada gambar dibawah. Besarnya gaya tarik P
adalah 30 kN dan diameter baut adalah 10 mm. Tentukan nilai rata-rata tegangan geser
yang terjadi pada bidang a-a atau b-b.
a
b

a
b

2. Suatu plat titanium campuran dengan tebal 1/16 in, lebar 1.75 in disambungkan dengan
pengelasan laser dengan sudut pengelasan 45 seperti gambar dibawah. Pengelasan
dilakukan dengan menggunakan sistem laser karbon-dioksida 100 kW. Jika tegangan
geser titanium campuran adalah 65,000 lb/in2 dan sambungan diasumsikan mempunyai
efisiensi 100%, tentukan gaya P yang dapat diberikan.
45o

3. Sebuah shaft dan puli pada sebuah lubang


kunci seperti yang diperlihatkan pada gambar,
Las laser
1/16 in

gaya putar T pada puli 1 kNm, kunci berukuran 10 mm x 10 mm x 75 mm. Carilah


tegangan geser yang terjadi pada penampang kunci.

4. Sebatang baja siku dilas pada sebuah plat baja. Tegangan geser yang diijinkan adalah
140 MPa dan besarnya leg 10 mm.Tentukan panjang pengelasan minimum pada
baja siku tersebut agar dapat menahan beban maksimum P sebesar 180 kN.

27

BAB. IV
BEBAN PUNTIRAN
Bila suatu bidang dibebani demikian rupa sehingga pada tiap-tiap penampang normal bekerja
suatu kopel yang terletak dalam bidang penampan tersebut, maka batang itu dibebani
puntiran. Penampang normal adalah penampang yang berdiri tegak lurus terhadap sumbu
batang. Pasangan seperti itu disebut momen puntir dan tegangan tegangan yang terjadi
disebut tegangan puntir Lihat gambar.
Tegangan puntir ditulis secara simbolik dengan p

28

Wp = 0,2 D untuk batang silindris pejal. Dalam momen kelembaman telah kita ketahui bahwa
untuk batang yang berbentuk pipa di mana garis tengah luarnya D, dan garis tengah dalamnya
= d, maka momen tahanan polarnya adalah:

Untuk batang dengan penampang persegi atau persegi empat

b
b

h
b

Wp = 1/6 b3 dan Wp = 1/6 bh2


Tegangan puntir yang terjadi tidak boleh melebihi tegangan puntir yang diizinkan. Sehingga
momen puntir yang diizinkan menjadi:

Torsi pada poros berdiameter konstan

29

T = Torsi (N.m)
L = Panjang batang (m)
J = Momen Inersia Polar, batang silindris pejal = /32.D4 (m4)
G = C = Modulus Geser/Rigiditas (Mpa)
Dalam peristiwa puntiran terdapat hubungan antara Torsi/puntiran, tegangan puntir dan
susdut puntir sebagai berikut:

Dimana:
= tegangan puntir (N/mm2/ Pa)
r = jari-jari poros (m)
T = torsi atau momen puntir (N.m)
J = momen inersia polar (m4)
C = G = modulus geser/gelincir (Mpa)
= sudut puntir (rad)
L = panjang poros (m)
CONTOH- CONTOH SOAL TEGANGAN PUNTIR (PUTAR) :
1.

Untuk pembebanan putar / Vunter pada perancangan poros pejal ( tidak berlobang ) :
Suatu poros pemindah daya memindahkan daya sebesar 97,5 Kw, pada 180 rpm, tegangan
puntir material 60 N/mm2, G = 80x103N/mm2, sudut puntir tidak boleh lebih dari 10/3m.
Tentukan diameter poros tersebut.
Penyelesaian : mencari torsi yang terjadi
P = 2 .n.T/4500
97,5x104 = 2..180.T/60
T = 97,5 x 102 x 60/2..180 = 5172 N.m = 5172 x 103 N.mm
Mencari diameter poros
T = /16. Tegangan puntir material. d3
5172 x 103 = /16.60. d3
d = 76 mm

30

Mempertimbangkan keamanan dengan mempertimbangkan susut puntir tidak boleh lebih dari
10/3m, maka gunakan persamaan T/J = G./L
5172 x 103 = 80 x 103. /180
/32 d4
3000
4
d = 113200000 d = 105 mm
Dengan demikian diameter poros yang dipakai menggunakan yang 105 mm
2.

Untuk pembebanan putar/Vunter pada perancangan poros berlobang (Hollow


Shaft):Suatu poros berlubang memindahkan daya sebesar 800 Hp torsi pada putaran 110 rpm,
torsi maksimum = 20% lebih besar dari rata-rata. Tegangan geser = tegangan puntir tidak
lebih dari 630 kg/cm2, sudut puntir tidak boleh lebih dari 1,4 0/3m, perbandingan diameter luar
dengan diameter dalam = 3:8, modulus rigiditas 8,4x104kg/cm2. Tentukan diameter luar.
Penyelesaian:
Diketahui :
P = 800 h.p
n = 110 r.p.m
Tmax = 1,2 Tmean
Tegangan puntir maximal bahan = 630 kg/cm2
Panjang poros = 300 cm
Sudut puntir maximum = 1,40 = 1,4 x /180 rad
Rasio diameter internal dengan eksternal (k) = 3/8
Modulus rigiditas (G) = 8,4 x 104 kg/cm2
Mencari momen puntir rata-rata atau torsi rata-rata Tmean
P = 2 .n.Tmean /4500
800 = 2 .110.Tmean/4500
Tmean = 5209 kg.m = 520900 kg.cm
Tmax = 1,2 Tmean = 1,2 . 520900 = 625080 kg.cm
Mencari diameter poros
Tmean = /16 x p x do3 [1 (di /do)4]
do3 = 5114
do = 17,23 cm
Mencari diameter poros dengan mempertimbangkan momen inersia polar sebagai berikut :

31

Latihan 4
1.

2.

Pores pejal dari alumunium (G = 4x102) panjang 6 feet, diameter 3 inchi dengan
pembebanan seperti gambar. Tentukan besar sudut Vunter pada C dan

tegangan geser

maksimum pada poros tersebut.

3.

Carilah tegangan puntir pada seksi A dan B dari potongan a-a

32

BAB. V
TEGANGAN LENGKUNG
Misalnya, pada poros-poros mesin dan poros roda yang dalam keadaan ditumpu. Jadi,
merupakan tegangan tangensial.

33

Mb = momen lengkung
= RA.1/2 L
Momen lengkung dapat dicari sesuai dengan konstruksi dan bagaimana pembebanannya dan
jenis beban (beban titik, beban merata, beban campuran).
Wb = momen tahanan lengkung
momen tahanan lengkung (Wb) = I/c
Untuk penampang bulat:
c = jarak dari sumbu netral ke lapisan terluar (untuk bahan berpnampang bulat c = d)
I = momen inersia ( bahan berpenampang bulat I = /64. D4 )
Wb = /64. D4
.d
Wb = /32. D3 = 0,1 d3
Untuk penampang lain, dapat dicari dari tabel momen inersia terhadap garis yang melalui
titik pusatnya
Contoh soal
1. Sebuah batang silindris dijepit seperti gambar, jika tegangan maksimum 150 MN/mm 2
, tentukan diameter batang tersebut.

Penyelesaian :

Mb = 2m x 2 Kn = 4 Kn.m = 400 Kn.mm


Wb = /32. D3 = 0,1 d3
b = 150 x 106 N/mm2
4000 = 150 x 106 N/mm2
/32. D3

Atau dengan cara lain


34

2. Diketahui sebuah balok kantilevel seperti gambar dibawah, mempunyai


penampang balok segi empat.

Tentukan tegangan lentur maksimum yang terjadi pada sebuah irisan 2 m dari
Ujung bebas.
Penyelesaian :

35

3. Seperti soal nomor 2, andaikata penampang potongan c-c seperti gambar berikut :

satuan: mm
Penyelesaian :
Menentukan titik berat penampang

Dicari momen inersia luasan penampang terhadap sumbu z-z. Maka :

36

Besarnya tegangan lentur maksimum pada potongan c-c 2m dari ujung bebas

Latihan 5.
1. Tentukan tegangan lengkung maksimum dalam balok dengan penampang seperti
gambar.

2. Tentukan panjang batang maksimum yang diperbolehkan untuk sebuah balok


sederhana berpenampang empat persegi panjang 150 mm x 300 mm yang
dikenakan suatu beban tersebar merata q = 8 Kn/m, jika tegangan lentur ijinnya 8.2
Mpa.

37

3. Suatu balok kantilever berpenampang bulat dengan diameter 100 mm menahan beban
seperti pada gambar. Tentukan tegangan lentur maksimumnya.

BAB. VI
TEGANGAN TEKUK
Pada batang yang panjang jika diberi beban tekan maka akan terjadi lengkungan dan ini
dinamakan tekukan. Oleh karena penurunan rumus untuk tekukan tidak mudah, maka akan
diberikan rumus-rumus yang banyak dipakai. Euler membedakan empat hal tentang tekukan
seperti dijelaskan dibawah ini.
Keterangan :
38

Ptk = Pembebanan tekuk (kg)

P = Pembebanan yang dijinkan

v = koefisien keamanan

E = Modulus elastisitas (kg/cm2)

Im = momen inersia linier garis terkecil (cm4)

Pd = Panjang batang (cm)

tk = Tegangan tekuk = Ptk/A = tegangan tekuk yang terjadi (kg/cm2)


Hal-Tekukan I (lihat gambar).
Pada batang ini satu udjungnja didjepit sedangkan udjung jang lain bebas.

Pembebanan yang diijinkan P = Ptk/v

Hal-Tekukan II (Lihat gambar).


Pada batang ini kedua ujung ditumpu secara engsel dan titik engsel hanya dapat bergerak
kearah sumbu batang.

Pembebanan yang diijinkan P Ptk/v


dalam praktiknya pembebanan yang diijikan P 10. Ptk/v

Hal-Tekukan III (lihat gambar).


Batang dijepit pada satu ujung, sedangkan ujung yang tain dapat bekerkerja sebagai
engsel. Ujung yang engsel hanya dapat bergerak kearah sumbu batang.

39

dan pembebanan yang diijinkan P Ptk/v

Halt-Tekukan IV (lihat gambar).


Batang dijepit pada kedua-belah ujung, sedangkan gerakan dari dari ujung hanja dapat
dilakukan kearah sumbu batang.
Ptk

dan pembebanan yang diijinkan P Ptk/v


dalam praktiknya pembebanan yang diijikan
P 40. Ptk/v

Rumus Euler hanya berlaku jika angka kerampingan batang () >


Jika angka kerampingan batang lebih kecil, maka menggunakan rumus empiris dari Von
Tetmajer.
Apabila untuk suatu bahan tertentu diketahui E dan p, maka kita dapat menghitung
angka kerampingan batang, hasilnya untuk menentukan apakah boleh memakai rumus
Euler atau tidak.
Berikut adalah tabel, besarnya E, p dan dari bahan

Rumus berikut ini dapat dipakai untuk kerampingan antara 10 dan 105.
Untuk badja dengan E:2.100.0000 kg/cm2 dan p : 1900 kg/cm , maka untuk hal tekukan II
(kedua ujung bekerdja sebagai engsel), rumus Von Tetmayer untuk pembebanan tekuk:

40

Pembebanan yang diijinkan :


Untuk baja dengan E :2.200.000 dan p:2500. Maka pembebanan tekuk :

Pembebanan yang diijinkan :


Rumus berikut ini dapat dipakai untuk kerampingan batang antara 10 dan 90.
Untuk besi tuang dengan E : 1000.000 dan p : 1500

Pembebanan jang diidjinkan


Contoh soal :
1. Suatu batang mempunyai panjang 3 m dan penampang jang berbentuk lingkaran dari
5 cm. Bahan itu terdiri dari badja dengan E : 2.100.000 kg/cm 2 dan p, : 1900
kg/cm2. Berapa pembebanan-tekan yang diijinkan maks, apabila kedua udjung dari
batang dilekatkan hingga dapat bekerja sebagai engsel dan koefisien-keamananya
harus = 5.
Penyelesaian :
Pertama-tama dihitung kerampingan batang yaitu

= 300

= 230

33/19,7
Jadi harus memakai rumus Euler, karena 230 > 105. Untuk hal ini kita harus
memakai rumus

41

2. Pandjang dari suatu batang adalah 1 m, ketentuan lain seperti contoh soal nomor 1.
Berapakah besarnja pembebanan jang diidjinkan?
Penyelesaian :

Karena angka kerampingan bahan lebih kecil yaitu 76,5 < 105, maka menggunakan
rumus empiris dari Von Tetmajer

Latihan. 6
1. Suatu batang berpenampang persegi panjang
30mm x 20mm, dibebani tekuk seperti gambar.
Panjang batang 2 m, E = 200 Gpa.
hitunglah tegangan tekuknya.
2. Suatu batang berpenampang persegi
dibebani tekuk seperti gambar.
E = 2.109 psi. hitunglah tegangan tekuknya.

42

BAB. VII
TEGANGAN BEBAN GABUNGAN
1. Beban tekan dan lengkung/bending
P1

P2
A

+P2.a
Wb
A

-P2.a
Wb
-P1

-P1
A
+P2. a
Wb
Jadi Tegangan di A = +P2 - P1

- P1
A

-P2.a P1
Wb
A

dan Tegangan di B = -P2.a P1

Wb A

Wb

2. Beban tidak sejajar sumbu batang


P

P Sin

a
B

P
B

P Sin
P

A a

Teg. A = P.Cos + P Sin . a


A
Wb
Teg. B = P.Cos - P Sin . a
A
Wb

Teg. A = - P.Cos + P Sin . a


A
Wb
Teg. B = - P.Cos - P Sin . a
A
Wb

Da

Dalam hal terakhir, perlu diperiksa terhadap tegangan tekuk yang diijinkan, yaitu

tk = P1
A
43

P1 = Beban tekuk yang diijinkan


Pada bahaya tekuk maka tk + b 1
tk
b

tk = P.Cos dan b = P Sin . a


A
Wb

3. Lengkung berganda

P1

a1

AA
A
DD

P1

BB

P2

CC

a2

P2
b

P1 menyebabkan momen lengkung terhadap ABCD yaitu Mb1 = P1.a1.


Tegangan bengkok/bending (b1) = Mb1/Wb1 = P1.a1
1/6.b.h2
b1 adalah tegangan tarik pada AB dan tegangan tekan pada CD
P2 menyebabkan momen lengkung terhadap ABCD yaitu Mb2 = P2.a2
Tegangan bengkok/bending (b2) = Mb2/Wb2 = P2.a2
1/6.h.b2
b2 adalah tegangan tarik pada AD dan tegangan tekan pada BC
Dititik A dari penampang ABCD, kedua momen tersebut menyebabkan tegangan tarik
maksimum sehingga didapat bA = b1 + b2. Sedangkan dititik C, kedua momen tersebut
menyebabkab tegangan tekan maksimum sehingga didapat bC = - b1 - b2.
4. Lengkung dengan puntiran
P1
a1

Pada penampang yang diarsir terjadi Momen


bengkok Mb = P1 x a1 dan Momen puntir Mpt
= P x a2
Akibat adanya dua momen ini, maka terjadi
apa yang disebut dengan Momen Bengkok
Ideal Mi = Mb2 + Mpt2

a2
P

P2

(Rumus Guest untuk bahan yang liat)


Mi Wb . b atau b

Mi/Wb

Untuk bahan keras


Mi = 0,35.Mb + 0,65 Mb2 + Mpt2
b = tegangan bengkok ijin, b = tegangan bengkok yang terjadi, b = b,
v
44

v = faktor keamanan (safety factor)


5. Tarik atau tekan dengan puntiran
P1

P2
a/2
a/2
P1

Bahwa peristiwa yang menimbulkan momen lengkung akan terdapat tegangan lengkung dan
tegangan tersebut juga merupakan tegangan tarik atau tekan. Maka pada peristiwa tarik/tekan
dengan puntiran dapat dipakai rumus peristiwa lengkung dan puntiran yaitu M i (momen
ideal). Adanya momen ideal dapat dicari tegangan ideal yaitu : i = Mi / Wb = Mb2 + Mpt2
i2 = Mb2 + Mpt2

untuk penampang bulat Wb = Mpt

Wb

Wb2 Wb2
i2 = Mb2 + Mpt2
Wb2

= b2 + 4 pt2 .. jadi i = b2 + 4 pt2

Wpt2

Oleh karena tegangan lengkung sama dengan tegangan tarik atau tekan, maka untuk peristiwa
tarik atau tekan dengan puntir diperoleh : jadi i = t2 + 4 pt2
t = P2/A
pt = Mpt = P1. a
Wpt

0,2.d3

Pada peristiwa tekan dengan puntir untuk bahan getas


i = 1. t + + 1. t2 + 4 pt2
2.

2.

= koefesien kontraksi, untuk bahan dari baja 1. = 0,35 dan


2.
Contoh soal tegangan gabungan.
a
P1

+ 1. = 0,65
2.

P2

1. Bila pada gambar diketahui :


P1 = P2 = 6000 kg
a = 10 cm
A

45

Penampang dari tiang adalah segi panjang dengan sisi sisi 10 cm dan 6 cm. Maka tegangan
maksimumnya dapat kita cari sebagai berikut :
Penyelesaian :
Tegangan di A = a =

+P2.a - P1
Wb A

Dalam hal ini :


A = 10 x 6 = 60 cm2

Jadi

Wb

= 1/6 x lebar x tinggi kwadrat.

Wb

= 1/6 x 10 x 62 = 60 cm3

= 6000 x10 - 6000 = 900 kg/cm2


60

60

= 900 kg / cm2

Tegangan di titik B : B = - P2.a - P1


Wb
A
= - 6000 x 10 60
= - 1100 kg / cm2
Jadi tegangan maksimum adalah suatu tegangan tekan sebesar 1100 kg / cm2 , sedangkan
tegangan tarik maksimum adalah 900 kg / cm2.
Latihan. 7

4
0
k
N

1. Suatu plat seperti gambar disamping, dibebani tarik.


Tentukan distribusi tegangan pada penampang A-A.
2. Suatu konstruksi seperti gambar dibawah ini.
Tentukan tegangan di titik A dan B

B EFD
A

11
0
30
3

0 00
C 6
X k
N

3. Kait baja yang ukurannya terlihat pada gambar, memikul beban kebawah sebesar 71,2 kN
Tentukan tegangan maksimum dalam pengait ini.
46

150 mm

71,2 kN
50 mm

150 mm

DAFTAR PUSTAKA

47

A. Nash, B., Sturgess, C.E.N., 1972. Theoy and Problem of Strength of


Material,
Schaums Outline series, McGraw-Hill International Book Company, Singapore.
Hearn, E.J., 1985, Mechanical of Material, Second Edition, Volume 1; 2, UK: Pergamon
Press Limited.
Khurmi, R.S., 1984, Strength of Materials, New Delhi: S. Chand & Company Ltd.
Mott, R.L., 1985, Machine Elements in Mechanical Design, Charles E. Merrill Publishing
Compan, Columbus, Ohio, USA.
Popov, E.P., Nagarajan, S., Lu, Z.A., Tanisan Zainul Astamar, Z., Mekanika Teknik,Edisi
kedua (versi SI), Penerbit Erlangga, Jakarta, 1994.
Ress, D.W.A., 1922, the Mechanic of Solid and Structures, Singapore: McGraw-Hil Book
Company.
Singer, F.L., Sebayang, D., Kekuatan Bahan, Penerbit Erlangga, Edisi3, Jakarta, 1985.
Timoshenko, S., Strength of Material,Part 1 Elementry, Third Edition, Robert E. Kriager
Publishing Company, Huntington, New York, 1976.
Timoshenko, S., Strength of Material,Part 2 Advanced, Third Edition, Robert E. Kriager
Publishing Company, Huntington, New York, 1976b.

48