Anda di halaman 1dari 18

Tata Cara Memandikan

Jenazah
Nama Kelompok
Ade

Ayu Dwi Riani


Anisa Lucky Ana
Hakam Ezra E.
M. Naufal Rasyidi
Reyhan Gilang S.
Ririn Nur Jannah
Riski Septi Anto
Siti Haryani
Yeni Lusita

(01)
(03)
()
(18)
()
()
()
(31)
(35)

Memandikan jenazah hukumnya adalah


fardhu kifayah. Dalam artian jika ada sebagian
orang yang telah menjalankannya, maka
kewajiban untuk melaksanakannya telah gugur
bagi yang lain. Hal ini dalam rangka
melaksanakan perintah Allah swt. Dan
memenuhi hak bagi kaum muslimin.
Mayat orang yang beragama Islam wajib
dimandikan, kecuali jika mereka mati dalam
peperangan.

MEMANDIKAN
Hadis Nabi:

Artinya : Mandikanlah dia (jenazah) dengan


air serta daun bidara ( sabun).
(H.R. Bukhori dari Ibnu Abbas)

Syarat-syarat yang memandikan

Islam
Berakal
Amanah
Alim
Merahasiakan

Syarat-syarat tempat memandikan


Suci dan bersih (Tidak di WC atau kamar
mandi)
Tertutup atap dan dindingnya
Tidak terdapat patung dan gambar makhluk
bernyawa

A.

PERAWATAN JENAZAH: MEMANDIKAN


Syarat-syarat jenazah wajib dimandikan:
Jenazah itu orang Islam

1. Memandikan Jenazah
Didapati tubuhnya walaupun sedikit
Bukan mati syahid
Catatan dalam memandikan jenazah:
Yang memandikan jenazah harus sejenis, kecuali suami
boleh memandikan istri atau sebaliknya, atau
mahramnya.

SABDA RASULULLAH SAW


TENTANG MEMANDIKAN JENAZAH
Artinya:

Dari Aisyah r.a, Rasulullah SAW bersabda,


Barangsiapa memandikan mayat dan dijaganya
kepercayaan, tidak dibukakannya kepada orang
lain apa-apa yang dilihat pada mayat itu,
bersihlah ia dari segala dosanya seperti
keadaannya sewaktu dilahirkan oleh ibunya.
Sabda beliau lagi, Hendaklah yang
mengepalainya keluarga terdekat kepada mayat
jika pandai memandikan mayat, jika ia tidak
pandai siapa saja yang dipandang berhak, karena
waranya atau karena amanahnya. (HR. Ahmad)

TATA CARA MEMANDIKAN MAYAT


Jenazah dibaringkan ditempat yang tinggi, seperti ranjang
yang diatasnya sudah diletakkan lima atau enam buah
potongan batang pisang (bantalan)
Jenazah dimandikan ditempat tertutup.
Jenazah hendaknya dipakaikan kain basahan (penutup aurat)
Setelah jenazah dibaringkan diatas potongan batang pisang,
lalu dengan air dan sabun jenazah dibersihkan dari najis yang
melekat ditubuhnya. Sesudah itu dubur jenazah dibersihkan
hingga bersih dengan tangan kiri yang memakai sarung
tangan. Kemudian ganti sarung tangan yang bersih untuk
membersihkan gigi dan mulut jenazah.

Setelah selesai dimandikan, kemudian dirapikan rambutnya


serta diwudukan sebagaimana wudu biasa. Kemudian
badannya dikeringkan dengan handuk. Selesailah
memandikan jenazah
Setelah jenazah dibersihkan dari najis, serta gigi dan
mulutnya dibersihkan lalu dengan menggunakan air dan
sabun mandi, seluruh tubuh jenazah dari rambut kepala
sampai telapak kaki dimanmdikan sampai bersih.
Disunahkan memndahulukan bagian tubuh sebelah kanan,
kemudian bagian tubuh sebelah kiri. Juga disunahkan
dimandikan tiga kali atau lima kali.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan


Sebelum memandikan jenazah
Pertama: Jenazah laki-laki harus dimandikan oleh laki-laki dan jenazah wanita dimandikan oleh wanita
pula, kecuali suami istri. Diperbolehkan suami memandikan jenazah istrinya dan sebaliknya istri boleh
memandikan jenazah suaminya menurut pendapat jumhur ulama (Syarhus Sunnah, Al-Baghawi, 5/309,
Al-Muhalla 3/405, Nailul Authar 4/37, Asy-Syarhul Mumti ala Zadil Mustaqni 2/489).
Kedua: Yang memandikan jenazah hendaklah orang yang memiliki pengetahuan tentang tata caranya,
terlebih lagi bila orang tersebut dari kalangan keluarganya (Ahkamul Jana`iz, Asy-Syaikh Al-Albani t hal.
68). Dan diutamakan seorang yang shalih, karena ia dapat menahan dirinya untuk menceritakan aib
(cacat/ cela) yang dilihatnya dari si mayit bahkan menutupinya.
Ketiga: Jenazah yang akan dimandikan jangan diletakkan di atas tanah karena akan mempercepat
kerusakan jasadnya, tapi diletakkan di atas tempat tidur atau papan yang lurus. Papan tersebut pada
bagian kaki mayit agak dimiringkan sehingga air basuhan dapat mengalir ke bawah kaki, tidak mengalir
ke kepala mayat atau menggenang di bawah tubuhnya. (Al-Mughni 2/164, Al-Majmu 5/131, Asy-Syarhul
Mumti 2/479)

cara memandikan jenazah


1.

Ketika hendak dimandikan, pakaian yang masih menutupi tubuh mayat dilepas seluruhnya,
sebagaimana hal ini biasa dilakukan di masa Nabi n yang ditunjukkan dalam hadits Aisyah
x di atas. Dan bagian auratnya ditutup (Asy-Syarhul Mumti 2/492), karena Rasulullah n
bersabda:

Seorang lelaki tidak boleh melihat aurat laki-laki yang lain dan seorang wanita tidak boleh
melihat aurat wanita lain.11
Ibnu Qudamah t berkata: Disenangi melepas pakaian si mayat ketika hendak dimandikan
dan auratnya ditutup dengan kain. (Al-Mughni 2/163)
Mayat dimandikan di tempat yang tertutup dari pandangan mata, yang hanya dihadiri oleh
orang yang memandikannya beserta orang yang membantunya bila memang diperlukan.
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t berkata: Sepantasnya mayat dimandikan di tempat yang tidak
terlihat manusia, bisa di kamar atau di kemah dan semisalnya. Karena menutup mayat
dari pandangan mata lebih utama dari menyingkapnya. Hal ini disebabkan karena mayat
itu terkadang berada dalam keadaan yang tidak disenangi (untuk dipandang) sehingga
menampakkannya di hadapan manusia merupakan satu bentuk penghinaan terhadapnya.
Dan juga terkadang mayat itu menakutkan bagi orang yang melihatnya, terlebih lagi bagi
sebagian manusia yang mereka ini sangat ketakutan bila melihat mayat. Dengan
demikian, menutup mayat dari pandangan manusia lebih utama dan lebih menjaga. (AsySyarhul Mumti 2/493)

2. Mayat

mulai dicuci anggota-anggota wudhunya.

Ibnu Qudamah t mengatakan: Setelah dihilangkan najis dari si mayat (dan dibersihkan, pen.), ia
diwudhukan oleh orang yang memandikannya seperti wudhu untuk shalat. Dicuci kedua telapak
tangannya. Lalu diambil kain yang kasar, dibasahi dan diletakkan pada jari orang yang
memandikan si mayat. Kemudian dengan jari yang dibalut kain tersebut gigi geligi mayat diusap.
Demikian pula bagian dalam hidungnya hingga bersih. Hal ini dilakukan dengan lemah lembut.
Kemudian wajah mayat dicuci dan disempurnakan wudhunya. (Al-Mughni 2/165)
Setelah mayat diwudhukan, rambutnya digerai dengan perlahan dan dicuci bersih. (Al-Hawil
Kabir 3/10, Al Majmu 5/132). Bila mayat itu seorang wanita, rambutnya disisir dan dikepang tiga,
dua kepangan pada dua sisi kepala dan satunya lagi di bagian rambut depan/ jambul,
sebagaimana dinyatakan Sufyan Ats-Tsauri t12. Kemudian, sebagaimana kata Ummu Athiyyah
x:

Kami menjalin rambutnya menjadi tiga pintalan dan meletakkannya di belakangnya.13

3. Setelahnya

dimulai membasuh bagian kanan tubuh mayat.

Mayat dimandikan dengan tiga kali siraman atau lebih bila dipandang perlu oleh
yang memandikan, namun tetap dalam hitungan ganjil. Pada sebagian siraman,
mayat dibasuh dengan air yang dicampur dengan b Namun bila tidak
didapatkan, bisa digantikan dengan pembersih lainnya seperti sabun atau yang
lainnya (Ahkamul Jana`iz, hal. 64) karena Allah I berfirman:
Bertakwalah kalian kepada Allah semampu kalian.
Allah tidak membebani satu jiwa kecuali sekadar kemampuannya.
Pada akhir basuhan, air dicampur dengan wewangian, lebih utama lagi
dicampur dengan kapur barus yang dihaluskan. (Ahkamul Jana`iz, hal. 65, Asy
Syarhul Mumti 2/497)
Air yang digunakan untuk memandikan mayat sebaiknya air dingin, namun bila
ada kebutuhan dan melihat kemanfaatan bagi kebersihan tubuh si mayat, bisa
digunakan air hangat (Al-Hawil Kabir 3/9, Asy Syarhul Mumti 2/497).

4.

Ketika dimandikan, bagian-bagian tubuh mayat digosok perlahan dengan kain perca/
washlap atau semisalnya. Caranya, orang yang memandikan membungkus tangannya
dengan kain tersebut atau menggunakan kaos tangan. Kemudian tubuh mayat digosok
perlahan dari bawah kain penutup tubuhnya. Hal ini dilakukan agar orang yang
memandikan tidak menyentuh aurat si mayit. Sebaiknya disiapkan lebih dari satu kain
perca/ kaos tangan, sehingga setelah kain/ kaos tangan yang satu dipakai untuk
menggosok bagian pembuangan si mayat, kain/ kaos tangan tersebut diganti dengan yang
lain. (Al-Umm 1/302, Al-Hawil Kabir 3/9, Al-Majmu 5/130, Asy Syarhul Mumti, 2/494)
Setiap kali basuhan, tangan orang yang memandikan tidak lepas dari mengurut-urut perut
mayat agar sisa kotoran yang mungkin tertinggal dapat keluar. (Asy Syarhul Mumti, 2/496)
Selesai dari semua itu, seluruh tubuh mayat disiram dengan air yang dicampur dengan
kapur barus.
Usai basuhan terakhir, kedua tangan mayat dirapatkan pada rusuknya dan kedua kakinya
dirapatkan hingga kedua mata kakinya saling menempel, kedua pahanya pun saling
dirapatkan. Bila keluar sesuatu dari tubuh mayat setelah selesai dimandikan maka
dibersihkan dan tubuhnya dibasuh sekali lagi. Terakhir, tubuh mayat dikeringkan dengan
kain. Setelah kering, diletakkan di atas kafan yang telah disiapkan. (Al-Umm 1/303, AlHawil Kabir 5/12)

Bolehkah Wanita yang Sedang Haid atau Nifas


Memandikan Jenazah?
D ita n y a k a n k e p a d a A l-L a jn a h A d -D a `im a h lil B u h u ts A l-Ilm iy y a h w a l Ifta `1 9 te n ta n g
p e rm a s a la h a n in i, m a k a k e lu a rla h fa tw a d a ri la jn a h in i b e rn o m o r 6 1 9 3 d e n g a n p e rn y a ta a n :
b o le h b a g i w a n ita y a n g s e d a n g h a id u n tu k m e m a n d ik a n d a n m e n g a fa n i je n a z a h w a n ita , a ta u
je n a z a h s u a m in y a s e c a ra k h u s u s , k a re n a h a id tid a k te ra n g g a p s e b a g a i p e n g h a la n g u n tu k
m e m a n d ik a n je n a z a h . (F a ta w a A l- L a jn a h A d -D a `im a h 8 /3 6 9 )

Apabila mayat meninggal dalam keadaan haid atau junub maka cukup dimandikan dengan
sekali mandi karena tidak ada larangan dalam hal ini, demikian pendapat sejumlah ulama. (AlMajmu 5/123). Pendapat inilah yang kuat, Insya Allah, walaupun dalam hal ini ada ulama lain
yang memakruhkan bila si mayat hanya dimandikan sekali. Al-Hasan berpendapat mayat yang
junub dimandikan dengan mandi janabah dulu, yang haid juga dimandikan mandi haid dulu,
kemudian baru dimandikan dengan mandi jenazah, sehingga mayat dimandikan dua kali mandi.
(Riwayat Ibnu Abi Syaibah 2/254)
Apakah Janin yang Gugur Harus Dimandikan?
Bila janin tadi belum genap empat bulan maka tidak dimandikan, tidak pula dishalati. Dia dibalut
dalam kain dan dikuburkan, kata Ibnu Qudamah t, karena sebelum berusia empat bulan janin itu
belum ditiupkan ruh sehingga belum menjadi manusia. Adapun bila janin telah genap empat
bulan maka harus dimandikan. (Al-Mughni 2/200, Asy-Syarhul Mumti2/507)

Apa yang Dilakukan setelah Selesai Memandikan Jenazah?


Selesai memandikan jenazah, disunnahkan bagi yang memandikannya untuk mandi menurut
pendapat jumhur ulama15 (Al-Majmu 5/144), dengan dalil sabda Nabi n:
Siapa yang memandikan jenazah, maka hendaklah ia mandi. Dan siapa yang memikul jenazah,
hendaklah ia berwudhu.16
Perintah Rasulullah n dalam hadits di atas tidaklah bermakna wajib karena ada hadits lain yang
mauquf17 namun hukumnya marfu, kata Asy-Syaikh Al-Albani t. Salah satunya dari Ibnu Umar
c, ia menyatakan:
Kami dulunya memandikan mayit, maka di antara kami ada yang mandi dan ada yang tidak
mandi.18