Anda di halaman 1dari 13

BAB I

LAPORAN KASUS
A. IDENTITAS PASIEN
Nama
: By. H
Tanggal Lahir
: 24 Mei 2015
Umur
: 1 hari 12 jam
Jenis kelamin
: Laki-laki
BBL
: 2500 Gram
PBL
: 45 CM
BB masuk
: 2500 Gram
TB masuk
: 45 CM
Agama
: Islam
Suku/Bangsa
: Bungku
Alamat
: Bungi, Kabupaten Morowali.
No. RM
: 44 21 29
Tanggal masuk : 26 Mei 2015
B. ANAMNESIS
Alloanamnesis dengan Ayah penderita
Keluhan utama : Tidak menangis.
Anamnesis Terpimpin :
Bayi H, laki-laki, umur 1 hari 12 jam, pasien rujukan RSUD kabupaten
Morowali masuk ke RSUB di antar oleh ayahnya dengan keluhan tidak
langsung menangis saat lahir yang disertai sesak nafas selama 36 jam, selain
itu denyut jantung lemah. Dalam perjalanan ke tempat rujukan bayi H sempat
menjerit/merintih dan keluar cairan dari hidung berwarna bening kecoklatan.
Penanganan yang telah diberikan: oksigen, cairan infus serta dopamin.
Riwayat kehamilan: G1P1A0, selama hamil ibu pasien sering melakukan
kunjungan ke dokter di puskesmas, pada saat usia kehamilan mencapai 7
bulan lebih sempat melakukan pemeriksaan USG dan hasilnya tampak lilitan
tali pusat. Ibu pasien juga pernah mengalami demam dan berobat ke dokter
diberikan obat penurun panas.
Riwayat imunisasi
-

Belum ada imunisasi yang berikan

Riwayat mulai lahir

Lahir di rumah sakit, di tolong oleh dokter, proses kelahiran secara SC,
Apgar Skor , gawat janin dan ketuban pecah dini 24 jam, merintih,
frekuensi jantung < 90 x/menit, pernapasan 100x/menit, SPO2 98-99 %,
usia kehamilan cukup bulan, Berat Badan Lahir 2500 Gram, dan Panjang
Badan Lahir 45 cm.

C. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
Tekanan darah
Nadi
Pernapasan
Suhu
Berat badan
Tinggi badan
Pucat
Ikterus
Busung/edema
Keadaan spesifik
Kulit
Gigi

: Sakit berat, tidak sadar, Gizi baik (90%)


:: 60 x/menit
: 84x/menit
: 36,5 oC
: 2500 Gram
: 45 CM
: (-) Sianosis
: (-)
: (-) Tonus
: baik
: (-)
: merah, halus, lanugo
:
-------

Kepala
Bentuk
Muka
Rambut
UUB
Telinga
Mata
Hidung
Bibir
Lidah
Mulut
Tenggorok
Tonsil
Leher
Dada
Paru-paru
Inspeksi
Palpasi

-------

:
: Normosefal
: Simetris kiri dan kanan
: Hitam, tidak mudah tercabut
: terbuka, cekung (-), cembung (-)
: Otorhea (-)
: Konjungtiva pucat (-), sclera ikterik (-), cekung (-)
: Rinorhea (-), pernapasan cuping hidung (+)
: Kering (+), refleks isap (-)
:: Stomatitis (-) kandidiasis (-)
:::: simetris kiri dan kanan.
:
: Simetris Kiri = Kanan, Retraksi (+) (IC, SC,
epigastrium)
: Sela iga simetris Kiri = Kanan

Perkusi
Auskultasi

Jantung
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Abdomen
Inspeksi
Auskultasi
Perkusi
Palpasi
Kelenjar limfe
Alat kelamin
Anggota gerak
Tasbeh
Col. vertebralis
Reflex patologis

: Sonor pada kedua lapangan paru


: Bunyi pernapasan : bronchovesikuler
Bunyi tambahan
: ronkhi basah halusi -/- pada
basal kedua paru, wheezing -/:
: Iktus cordis tidak nampak
: Iktus cordis tidak teraba
: Pekak
: Batas kiri Linea Midclavicularis sinistra
: Batas kanan Linea parasternalis dekstra
: Bunyi jantung I/II, murni regular
:
: Datar, ikut gerak napas.
: Peristaltik (+) kesan normal
: Timpani (+)
: Nyeri tekan perut kanan (-), massa tumor (-)
: Tidak ada pembesaran
: Tidak ada kelainan
: Tidak ada kelainan
: (-)
: skoliosis (-), cifosis (-)
: (-)

D. DIAGNOSA KERJA
Asfiksia
E. ANJURAN PEMERIKSAAN
- Analisa gas darah
F. PENATALAKSANAAN
Non Medikamentosa
- Bersihkan jalan nafas
- O2 3-4 lpm
- OGT (ASI)
Medikamentosa
R/

IVFD DS 10% 10 tpm (mikrodrips)


Vit K 1 gram
Ampicilin 2 x 125 mg/iv
Gentamicin 1 x 12,5 mg/iv

G. RESUME
Bayi H, laki-laki, umur 1 hari 12 jam, pasien rujukan RSUD kabupaten
Morowali masuk ke RSUB di antar oleh ayahnya dengan keluhan tidak
langsung menangis saat lahir yang disertai sesak nafas selama 36 jam, selain

itu denyut jantung lemah. Dalam perjalanan ke tempat rujukan bayi H sempat
menjerit/merintih dan keluar cairan dari hidung berwarna bening kecoklatan.
Penanganan yang telah diberikan: oksigen, cairan infus serta dopamin.
Riwayat kehamilan: G1P1A0, selama hamil ibu pasien sering melakukan
kunjungan ke dokter di puskesmas, pada saat usia kehamilan mencapai 7
bulan lebih sempat melakukan pemeriksaan USG dan hasilnya tampak lilitan
tali pusat. Ibu pasien juga pernah mengalami demam dan berobat ke dokter
diberikan obat penurun panas.
Riwayat mulai lahir
-

Lahir di rumah sakit, di tolong oleh dokter, proses kelahiran secara SC,
Apgar Skor , gawat janin dan ketuban pecah dini 24 jam, merintih,
frekuensi jantung < 90 x/menit, pernapasan 100x/menit, SPO2 98-99 %,
usia kehamilan cukup bulan, Berat Badan Lahir 2500 Gram, dan Panjang
Badan Lahir 45 cm.

Keadaan Umum: Sakit berat, tidak sadar, Gizi baik (90%)


Nadi : 60 x/menit, pernapasan : 84 x/menit, suhu : 36,5 oC, berat badan : 2500 g,
tinggi badan : 45 CM, pucat : (-), sianosis: (-), pernapasan cuping hidung (+),
bibir: Kering (+), refleks isap (-), inspeksi dada

: Simetris Kiri = Kanan,

Retraksi (+) (IC, SC, epigastrium)


FOLLOW UP
TANGGAL
27 Mei 2015

KELUHAN
- N : 90 x/menit, S :

INSTRUKSI DOKTER
IVFD DS 10 tpm

(mikrodrips)
O2 1-2 L/menit nasal
OGT (ASI 20 cc)

IVFD DS 10 tpm

(mikrodrips)
O2 1-2 L/menit nasal
OGT (ASI 20-25 cc)

IVFD DS 10 tpm

(mikrodrips)
O2 -1 L/menit nasal

36,5 0C, P :

28 Mei 2014

78x/menit
- BAK BAB Biasa
- N : 92 x/menit, P :
65x/menit, S :

18 Mei 2014

37.50C
- BAK BAB Biasa
- N : 90 x/menit, P :
68x/menit, S :
37.50C

BAK BAB Biasa

OGT (ASI 25-30 cc)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Asfiksia neonatorum adalah kegagalan napas secara spontan dan teratur
pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir yang ditandai dengan keadaan
PaO2 di dalam darah rendah (hipoksemia), hiperkarbia PaCO2 meningkat dan
asidosis.1 Hipoksemia yang terdapat pada penderita asfiksia ini merupakan faktor
terpenting yang dapat menghambat adaptasi bayi baru lahir terhadap kehidupan
ekstrauteri.2
B. Epidemologi
Asfiksia pada bayi baru lahir menjadi penyebab kematian 19 % dari 5 juta
kematian bayi baru lahir setiap tahun. Di Indonesia, angka kejadian asfiksia di
rumah sakit provinsi Jawa Barat ialah 25,2 % dan angka kematian karena asfiksia
di rumah sakit pusat rujukan provinsi di Indonesia sebsar 41,9 %. Data
mengungkapkan bahwa kira-kira 10 % bayi baru lahir membutuhkan bantuan
untuk mulai bernafas, dari bantuan ringan (langkah awal dam stimulasi untuk
bernafas) sampai resusitasi jantung untuk intensif.3
C. Etiologi
Towell (1966) mengajukan penggolongan penyebab kegagalan pernapasan
pada bayi yang terdiri dari:
1. Faktor Ibu
Hipoksia ibu, hal ini akan menimbulkan hipoksia janin dengan segala
akibatnya. Hipoksia ibu ini dapat terjadi karena hipoventilasi akibat
pemberian obat analgetika atau anasteisa dalam.
Gangguan aliran darah uterus, mengurangnya aliran darah pada uterus
akan menyebabkan berkurangnya pengaliran oksigen ke plasenta dan
demikian pula ke janin. Hal ini sering ditemukan pada keadaan: (a)
gangguan kontraksi uterus, misalnya hipertoni, hipotoni atau tetani uterus

akibat penyakit atau obat, (b) hipotensi mendadak pada ibu karena
perdarahan, (c) hipertensi pada penyakit eklampsia dan lain-lain.
2. Faktor plasenta
Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan kondisi
plasenta. Asfiksia janin akan terjadi bila terdapat gangguan mendadak
pada plasenta, misalnya solusia plasenta, perdarah plasenta dan lain-lain.
3. Faktor fetus
Kompresi umbilikus akan mengakibatkan terganggunya aliran darah dalam
darah umbilikus dan menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin.
Ganguan aliran darah ini dapat ditemukan ada keadaan tai pusat
menumbung, tali pusat melilit dileher, kompresi tali pusat antara janin dan
jalan lahir dan lain-lain.
4. Faktor neonatus
Depresi pusat pernapasan pada bayi baru lahir dapat terjadi karena
beberapa hal, yaitu: (a) pemakaian obat anastesia atau analgetika yang
berlebihan pada ibu secara langsung dapat menimbiulkan depresi pusat
pernapasan janin, (b) trauma yang terjadi pada persalinan, misalnya,
perdarahan intrakranial, (c) kelainan kongenital pada bayi misalnya hernia
diafragmatika, atresia atau stenisis saluran pernapasan, hipoplasia paru dan
lain-lain.
D. Patofisiologi
Bayi baru lahir mempunyai karakteristik yang unik. Transisi dari kehidupan
intrauterin ke kehidupan bayi ekstrauterin, menunjukkan perubahan sebagai
berikut. Alveoli paru janin dalam uterus berisi cairan paru. Pada saat lahir dan
bayi mengambil napas pertama, udara memasuki alveoli paru dan cairan paru
diabsorpsi oleh jaringan paru. Pada napas kedua dan berikutnya, udara yang
masuk alveoli bertambah banyak dan cairan paru diabsorpsi sehingga kemudian
seluruh alveoli berisi udara yagn mengandung oksigen. Aliran darah paru
meningkat secara dramatis. Hal ini disebabkan ekspansi paru yang membutuhkan
tekanan puncak inspirasidan tekanan akhir ekspirasi yang lebih tinggi. Ekspansi
paru dan peningkatan tekanan okksigen alveoil, ke duanya, menyebabkan
penurunan resistensi vaskuler paru dan peningkatan aliran darah paru setelah lahir.

Aliran intrakardial dan ektrakardial mulai beralih arah yang kemudian diikuti
penutupan dukus arteriosus. Kegagalan penurunan resistensi vaskuler paru
menyebabkan hipertensi pulmonal persisten pada bayi baru lahi (Persisten
Pulmonary Hypertension of the Neonate), dengan aliran darah paru yang
inadekuat dan hipoksemia relatif. Ekspansi paru yang inadekuat menyebabkan
gagal napas.
E. Klasifikasi Asfiksia
Berdasarkan nilai APGAR (Appearance, Pulse, Grimace, Activity,
Respiration) asfiksia diklasifikasikan menjadi:
1. Asfiksia berat dengan nilai APGAR 0-3
2. Asfiksia sedang dengan nilai APGAR 4-6
Tabel 1. Apgar Skor

F. Langkah Diagnostik
1. Anamnesis
- Gangguan atau kesulitan waktu lahir (lilitan tali pusat, sungsang, ekstra
2.
3.
-

vakum dan ekstraksi forsep dan lain-lain)


Lahir tidak bernafas / menangis
Air ketuban bercampur mekonium
Pemeriksaan fisis
Bayi tidak bernafas atau megap-megap
Denyut jantung < 100 kali/menit
Kulit sianosis, pucat
Tonus otot menurun
Pemeriksaan penunjang
Laboratorium: analisa gas darah menunjukkan hasil:
PaO2 < 50 mm H2O
7

- PaCO2 > 55 mm H2O


- Ph < 7,30
G. Penatalaksanaan
Penilaian bayi baru lahir
Penilaian awal dilakukan pada setiap bayi baru lahir untuk menetukan apakah
tindakan resusitasi harus segera dimulai. Segera setelah lahir, dilakukan penilaian
pada semua bayi dengan cara petugas bertanya pada dirinya sendiri dan harus
menjawab segera dalam waktu yang singkat.
-

Apakah bayi lahri cukup bulan?


Apakah air ketuban jernih dan tidak bercampur dengan mekonium?
Apakah bayi bernapas adekuat atau menangis?
Apakah tonus otot baik?

Bila semua jawaban di atas Ya, berarti bayi baik dan tidak memerlukan tindakan
resusitasi. Pada bayi ini segera dilakukan asuhan bayi normal. Bila salah satu atau
lebih jawaban Tidak, bayi memerlukan tindakan resusitasi segera dimulai
dengan langkah awal resusitasi.

Gambar 1. Diagram Alur Resusitasi Neonatus

Penatalaksanaan secara umum pada bayi baru lahir dengan asfiksia menurut
Wiknjosastro (2005) adalah sebagai berikut:
1) Pengawasan suhu
Bayi baru lahir secara relatif kehilangan panas yang diikuti oleh penurunan suhu
tubuh, sehingga dapat mempertinggi metabolisme sel jaringan sehingga
kebutuhan oksigen meningkat, perlu diperhatikan untuk menjaga kehangatan suhu
bayi baru lahir dengan:
a) Mengeringkan bayi dari cairan ketuban dan lemak.
b) Menggunakan sinar lampu untuk pemanasan luar.
c) Bungkus bayi dengan kain kering.
2) Pembersihan jalan nafas
Saluran nafas bagian atas segera dibersihkan dari lendir dan cairan amnion, kepala
bayi harus posisi lebih rendah sehingga memudahkan keluarnya lendir.
3) Rangsangan untuk menimbulkan pernafasan
Rangsangan nyeri pada bayi dapat ditimbulkan dengan memukul kedua telapak
kaki bayi, menekan tendon achilles atau memberikan suntikan vitamin K. Hal ini
berfungsi memperbaiki ventilasi.
Menurut Perinasia (2006), Cara pelaksanaan resusitasi sesuai tingkatan
asfiksia, antara lain:
a. Asfiksia sedang (Apgar score 4-6)
Caranya:
1. Bersihkan jalan napas.
2. Berikan oksigen 2 liter per menit.
3. Rangsang pernapasan dengan menepuk telapak kaki apabila belu ada
reaksi, bantu pernapasan dengan melalui masker (ambubag).

10

4. Bila bayi sudah mulai bernapas tetapi masih sianosis berikan natrium
bikarbonat 7,5%sebanyak 6cc. Dextrosa 40% sebanyak 4cc disuntikan
melalui vena umbilikus secara perlahan-lahan, untuk mencegah tekanan
intra kranial meningkat.
b. Asfiksia berat (Apgar skor 0-3)
Caranya:
1. Bersihkan jalan napas sambil pompa melalui ambubag.
2. Berikan oksigen 4-5 liter per menit.
3. Bila tidak berhasil lakukan ETT.
4. Bersihkan jalan napas melalui ETT
5. Apabila bayi sudah mulai benapas tetapi masih sianosis berikan natrium
bikarbonat 7,5% sebanyak 6cc. Dextrosa 40% sebanyak 4cc.
H. Langkah promotif / preventif
Pencegahan secara Umum
Pencegahan terhadap asfiksia neonatorum adalah dengan menghilangkan atau
meminimalkan faktor risiko penyebab asfiksia. Derajat kesehatan wanita,
khususnya ibu hamil harus baik. Komplikasi saat kehamilan, persalinan dan
melahirkan harus dihindari. Upaya peningkatan derajat kesehatan ini tidak
mungkin dilakukan dengan satu intervensi saja karena penyebab rendahnya
derajat kesehatan wanita adalah akibat banyak faktor seperti kemiskinan,
pendidikan yang rendah, kepercayaan, adat istiadat dan lain sebagainya. Untuk itu
dibutuhkan kerjasama banyak pihak dan lintas sektoral yang saling terkait.
Pencegahan saat persalinan
Pengawasan bayi yang seksama sewaktu memimpin partus adalah penting,
juga kerja sama yang baik dengan Bagian Ilmu Kesehatan Anak. Yang harus
diperhatikan:
- Hindari forceps tinggi, versi dan ekstraksi pada panggul sempit, serta
pemberian pituitarin dalam dosis tinggi.
- Bila ibu anemis, perbaiki keadaan ini dan bila ada perdarahan berikan O2 dan
darah segar.
Jangan berikan obat bius pada waktu yang tidak tepat, dan jangan
11

menunggu lama pada kala II.


I. Komplikasi
Komplikasi yang mungkin terjadi mungkin dapat disebabkan oleh
kerusakan organ yang terjadi akibat asfiksia, yaitu :
-

Otak : Apneu dan kejang

Paru-paru : Hipertensi pulmoner, pneumonia, pneumotoraks, takipnu


transien, MAS, difisiensi surfaktan

Kardiovaskuler : Hipotensi

Ginjal : Nekrosis tubular akut

Gastrointestinal : Ileus, enterokolitis

Metabolik/ Hematologi : Hipoglikemia, hipokalsemia, hiponatremia,


anemia, trombositonemia

J. Prognosis
Hasil akhir asfiksia perinatal bergantung pada apakah komplikasi metabolik
dan kardiopulmonalnya (hipoksia, hipoglikemia, syok) dapat diobati, pada umur
kehamilan bayi (hasil akhir paling jelek jika bayi preterm), dan pada tingkat
keparahan ensefalopati hipoksik-iskemik. Prognosis tergantung pada kekurangan
O2 dan luasnya perdarahan dalam otak. Bayi yang dalam keadaan asfiksia dan
pulih kembali harus dipikirkan kemungkinannya menderita cacat mental seperti
epilepsi dan bodoh pada masa mendatang.

12

DAFTAR PUSTAKA
1. Standar Pelayanan Medik. 2009. Asfiksia Neonatorum. Makassar : Bagian
Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Rumah
Sakit DR. Wahidin Sudirohusodo
2. Kosim S, Yunanto A, Dewi R, at al. 2009. Asfiksia dan resusitasi bayi baru
lahir dalam neonatologi, ed. pertama, hal. 103 109. Jakarta
3. Hassan R, Alatas H. 2011. Asfiksia neonatorum dalam ilmu kesehatan anak,
ed. Pertama, hal 1072 -1081. Jakarta

13