Anda di halaman 1dari 3

Untuk memudahkan pembaca dalam memahami konsep dana hibah yang

ada di program nasional pemberdayaan masyarakat mandiri pedesaan,


maka dibuat skema tentang alur transaksi dana hibah program nasional
pemberdayaan masyarakat mandiri pedesaan:

Pemerintah pusat
1

Pemerintah daerah
(kecamatan)

2
Masyarakat

Dari skema tersebut dapat difahami bahwa yang dimaksud dana hibah
disini adalah:
1. Dana yang diberikan pemerintah pusat kepada daerah (kecamatan).
Dana hibah tersebut terdiri dari dua macam, yang pertama adalah
dana hibah yang berbentuk Bantuan Langsung untuk Masyarakat
(BLM) yang diperuntukkan untuk membangun sarana/prasarana
penunjang

produktivitas

desa,

atau

kegiatan

sosial

seperti

kesehatan dan pendidikan. Kemudian yang kedua adalah dana


hibah berupa pinjaman bagi kelompok ekonomi masyarakat untuk
modal usaha, atau bisa disebut sebagai dana perguliran, sasaran
dari program dana perguliran ini adalah RTM. Proses yang pertama
inilah yang bisa dikategorikan sebagai akad hibah, karena hal

tersebut sesuai dengan pasal 694 Kompilasi Hukum Ekonomi


Syariah yang menyatakan transaksi hibah juga dapat terjadi
dengan suatu tindakan seperti seseorang penghibah memberikan
sesuatu dan di terima oleh penerima hibah. Dalam transaksi
tersebut tidak menuntut pemerintah daerah untuk mengembalikan
dana

hibah

ketentuan

kepada

bahwa

pemerintah

dana

pusat,

perguliran harus

hanya

saja

terdapat

dipergunakan

untuk

kegiatan Usaha ekonomi produktif (UEP), dan simpan pinjam


keompok perempuan (SPP).
2. Dikarenakan dana hibah tersebut sudah diberikan oleh pemerintah
pusat kepada daerah (kecamatan) maka pemerintah daerah berhak
untuk mengelola dana tersebut sesuai dengan ketentuan yang
berlaku. Pemerintah daerah (kecamatan) menyalurkan dana hibah
tersebut

kepada

masyarakat

dalam

bentuk

kelompok

pemanfaat/kelompok usaha dengan cara memberi pinjaman, dan


masyarakat berkewajiban untuk mengembalikan pokok pinjaman
ditambah jasa pinjaman dengan cara mengangsurnya, karena hal
tersebut termasuk dalam bentuk pelestarian dana perguliran. Hal
tersebut sesuai dengan pasal 725 Kompilasi Hukum Ekonomi
Syariah yang menyatakan Jika orang yang menerima hibah
memanfaatkan kepemilikannya dengan cara menjual hibah itu atau
membuat hibah lain dari hibah itu dan memberikannya kepada
orang lain, maka penghibah tidak mempunyai hak untuk menarik
kembali hibahnya .

Dari penjelasan tersebut dapat difahami yang termasuk dalam akad


hibah adalah transaksi antara pemerintah pusat dengan pemerintah
daerah (kecamatan), sedangkan transaksi antara pemerintah daerah
(kecamatan)

dengan

masyarakat

(kelompok

pemanfaat/kelompok

usaha) tidah dapat dikatakan hibah karena terdapat ketentuan bahwa


kelompok berkewajiban untuk mengembalikan dana yang telah mereka
dapatkan dengan cara mengangsurnya, sehingga transaksi tersebut
lebih tepat disebut dengan perjanjian kredit, dan hal tersebut temasuk
hak

yang

dimiliki

kepemilikannya

oleh

dan

penerima

penghibah

hibah

tidak

yakni

memanfaatkan

mempunyai

hak

untuk

memintanya kembali.
Berdasar praktek tanggung renteng dalam simpan pinjam dana hibah
program nasional pemberdayaan masyarakat mandiri pedesaan yang
telah di paparkan di sub bab sebelumnya, yaitu simpan pinjam yang
menggunakan sistem tanggung renteng sebagai bentuk pelestarian
dana

perguliran,

dan

dalam

prakteknya

sebelum

kelompok

mendapatkan dana pinjaman dari dana hibah atau bisa disebut dengan
dana perguliran, terlebih dahulu dia menyetorkan proposal usulan yang
di

dalamnya

terdapat berbagai

macam surat

pernyataan

yang

menandakan bahwa kelompok tersebut menyetujui bahwa dana hibah


yang diberikan tadi wajib dikembalikan oleh kelompok usaha/kelompok
pemanfaat kepada pihak UPK, maka penarikan kembali dana hibah
PNPM-MPd tersebut apabila ditinjau dari hukum islam secara umum
maka,