Anda di halaman 1dari 41

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Tinjauan Umum
Jembatan dapat diartikan sebagai suatu konstruksi atau dapat pula disebut struktur
bangunan yang menghubungkan lintasan transportasi yang terpisah oleh sungai, rawa,
danau, selat, saluran, jalan raya, jalan kereta api, dan perlintaasan lainnya. Konstruksi dari
bangunan atas terdiri dari bangunan atas, bangunan bawah, dan pondasi.

Gambar 2.1 Tipikal Jembatan

Jembatan mempunyai arti penting bagi setiap orang yang mana tingkat
kepentingannya tidak sama bagi tiap orang. Sehingga dapat dilihat bahwa jembatan
merupakan suatu sistem transportasi untuk tiga hal, yaitu :
1.
Merupakan pengontrol kapasitas dari sistem
2.
Mempunyai biaya tertinggi per mil dari sistem
3.
Jika jembatan runtuh, sistem akan runtuh
a. Konstruksi Bangunan Atas (Superstructure)

Sesuai dengan istilahnya, bangunan atas berada pada bagian atas suatu jembatan
yang fungsinya menampung beban beban yang ditimbulkan oleh suatu lintasan orang,
kendaraan, dll kemudian menyalurkan pada bangunan bawah. Konstruksi bangunan atas
meliputi :
1. Trotoar, yaitu jalur pejalan kaki yang umumnya sejajar dengan jalan dan lebih tinggi
dari permukaan perkerasan jalan untuk menjamin keamanan pejalan kaki yang

bersangkutan. Bagian dari trotoar meliputi :


Sandaran dan tiang sandaran
Peninggian trotoar
Konstruksi trotoar
2. Lantai kendaraan dan lapis perkerasan
3. Balok diafragma/ikatan melintang
4. Balok gelagar
5. Ikatan pengaku (ikatan angina, ikatan rem, ikatan tumbukan)
6. Perletakan (rol dan sendi)
b. Konstruksi Bangunan Bawah (Substructure)
Bangunan bawah pada umumnya terletak di sebelah bawah bangunan bawah.
Fungsinya untuk menerima beban beban yang diberikan bangunan atas dan kemudian
menyalurkan ke pondasi. Kostruksi bangunan bawah meliputi :

1. Pangkal jembatan (Abutment dan pondasi)


Abutment adalah bangunan bawah jembatan yang terletak pada kedua ujung
pilar pilar jembatan, berfungsi sebagai pemikul seluruh beban hidup (angin,
kendaraan, dll) dan beban mati (gelagar, trotoar, dll) pada jembatan. Selain sebagai
pemikul beban, abutment juga berfungsi sebagai penahan tanah.

Pada perencanaan abutment, gaya dan beban yang bekerja pada abutment
digambarkan sebagai berikut

Gambar 2.2 Gaya yang bekerja pada abutment

Keterangan :
Pa1, Pa2, Pa3
= Gaya tekan aktif tanah pada belakang abutment
Pp1, Pp2
= Gaya tekan pasif tanah pada depan abutment
G
= Berat sendiri abutment
G1
= Gaya gesek akibat bangunan atas
Hg
= Gaya gesek akibat tumpuan bergerak
Hrm
= Gaya akibat rem
Rvd
= Gaya tekan akibat beban dari atas
Gaya gaya yang bekerja pada abutment :
Gaya akibat beban mati
Gaya horizontal akibat gesekan tumpuan bergerak (Hg)
Koefisien gesekan =
Hgesekan = koefisiengesekan . Rvd
P total
Rvd =
= (dalam ton)
2
Gaya akibat muatan hidup
q
RqL =
. l = (dalam ton)
2,75

P
2,75

RPL =

. k . l = (dalam ton)

20
= (dalam ton)
50+ L
Gaya gempa akibat bangunan atas
K = ketetapan (0,10)
G1 = K . Rvd
Gaya horizontal tanah

Ka = tg ( 45 )
2

Kp = tg ( 45 +
)
2
Pa1 = Ka . q . h1 . b
Pa2 = . Ka . 1 . h
Pp = . Kp . 1 . h2 . b
Hitungan daya dukung tanah dasar pondasi
= arc tg (Kr . tan ) dari SNI 03 3446 1994, halaman 8 9
Daya dukung tanah dasar pondasi berdasarkan rumus Terzhagi untuk pondasi
persegi pada kondisi tanah C = t/m
Qult= C . Nc + D . 1. Nq + 0,5 . B . 2. N
Q ult
Qall =
SF
Perhitungan stabilitas abutment
1. Syarat aman terhadap geser
2
V . tan + c . B
3
SF =
H
2. Syarat aman terhadap guling
Mx
SF =
My
3. Syarat aman terhadap eksentrisitas
Koefisien kejut = 1 +

e=

B
2

Mx My
V

4. Kontrol terhadap tegangan


V
6. e
=
-(1
)
B. L
B
maks = Qall (OK)
min Qall (OK)
Penulangan abutment
a. Penulangan balok sanding
b. Penulangan Plat injak
c. Penulangan konsul

<

B
6

d. Penulangan tubuh abutment


e. Penulangan dasar abutment
Batas batas penulangan pada abutment menggunakan rumus yang sama
seperti penulangan di bawah ini :
0,85. 1. f ' c
600
)
bln =
) . ( 600+fy
fy

max = 0,75 . bln


1,4
min =
fy . 1,4/ fy
fy
m=
0,85. f ' c
Mu
Mn =

Mn
Rn =
b .d
2. m . Rn
fy
1
perlu =
1()
m
1

Luas tulangan :
As = min . b . d
Tulangan bagi :
As bagi = 20 % . As pokok
Kontrol tulangan geser :
1
f ' c . b . d
Vc =
6
. Vc < Vu < 3 . . Vc
Vu .Vc
Vsperlu =

Av = 2 . . . d
Av . fy . d
S=
Vs
Jarak sengkang maksimum tulangan geser :
d
Smax =
2
Av . fy . d
Vsada =
S
Vsada > Vsperlu (aman)
2. Pilar (pile cap dan pondasi)
Pilar atau pier berfungsi sebagai pendukung bangunan atas jembatan. Pilar

biasanya letaknya diantara kedua abutment dan jumlahnya tergantung keperluan.

Gambar 2.3 Pilar Jembatan

c. Pondasi
Struktur/bangunan biasanya terdiri dari dua bagian utama yaitu bangunan atas
(upper structure) seperti rangka jembatan dan bangunan bawah (sub structure) seperti
pilar, pangkal jembatan/abutment. Bangunan bawah ini biasa ditopang oleh pondasi yang
berfungsi untuk menjaga bangunan atas stabil dan melimpahkan beban ke lapisan tanah di
bawahnya.
2.2

Aspek Konstruksi Jembatan (Pembebanan Jembatan)


Pedoman pembebanan untuk perencanaan jembatan jalan raya merupakan dasar
dalam menentukan beban beban dan gaya gaya untuk perhitungan tegangan
tegangan yang terjadi pada setiap bagian jembatan jalan raya. Penggunaaan pedoman ini
adalah agar perencanaan yang kita lakukan dapat memenuhi taraf keekonomisan dan
tingkat efisiensi yang sesuai dengan kondisi setempat, tingkat keperluan, kemampuan

pelaksanaan dan syarat teknis lainnya sehingga perencanaan yang telah kita lakukan dapat
menjadi efektif.
1. Beban Primer
Yang termasuk dalam beban primer dalam pembebanan jembatan adalah
sebagai berikut :
a. Beban Mati
Beban mati merupakan beban yang diakibatkan oleh berat sendiri
dari masing masing elemen jembatan. Untuk menentukan besarnya
beban mati yang bekerja harus digunakan nilai berat isi untuk bahan
bahan bangunan penyusun elemen elemen jembatan. Berat isi untuk
bahan bahan bangunan tersebut adalah :
Baja tuang
7,85 t/m
Besi tuang
7,25 t/m
Aluminium paduan ..
2,80 t/m
Beton bertulang/pratekan .
2,50 t/m
Beton biasa, tumbuk, siklop 2,20 t/m
Pasangan batu/bata .. 2,00 t/m
Kayu 1,00 t/m
Tanah, pasir, kerikil (dalam keadaan padat) ...
2,00 t/m
Perkerasan jalan beraspal .
2,00 t/m - 2,50 t/m
Air
1,00 t/m
b. Beban Hidup
Beban hidup yang bekerja pada jembatan harus ditinjau dalam dua
macam beban, yaitu beban T yang merupakan beban terpusat untuk
lantai kendaraan dan beban D yang merupakan beban jalur untuk
gelagar.
Lantai kendaraan dan jalur lalu lintas
Jalur lau lintas mempunyai lebar minimum 2,75 meter dan
lebar maksimum 3,75 meter. Lebar jalur minimum ini harus

digunakan untuk menentukan beban D per jalur


Beban T

Beban T adalah beban yang merupakan beban dari


kendaraan truk yang mempunyai beban roda ganda (dual wheel
load) sebesar 10 ton.

Gambar 2.4 Ketentuan beban T yang dikerjakan pada jembatan jalan raya

Beban D
Untuk

perhitungan

kekuatan

gelaagar

harus

mengguanakanbeban D. Beban ini bias pula beban jalur yang


mana dapat didefinisikan sebagai susunan beban pada setiap jalur
lalu lintas yang terdiri dari beban terbagi rata sebesar q ton per
meter panjang per jalur, dan beban garis P ton per jalur lalu lintas
tersebut.

Gambar 2.5 Distribusi beban D yang bekerja pada jembatan

Besar q ditentukan sebagai berikut :


q = 2,2 t/m, untuk L< 30m
(2.1)
1,1
q = 22 x (L-30) t/m, untuk 30 < L < 60 m (2.2)
60
30
q = 1,1 x 1+
t/m,
untuk L > 60 m
(2.3)
L

Dimana :
L

= Panjang jembatan (m)

t/m

= Ton per meter panjang per jalur


Ketentuan penggunaan beban D dalam arah melintang

jembatan adalah sebagai berikut :


a. Untuk jembatan dengan lebar lantai kendaraan 5,5 meter,
beban D sepenuhnya (100 %) harus dibebankan pada
seluruh lebar jembatan.
b. Untuk jembatan dengan lebar lantai kendaraan > 5,5 meter,
beban D sepenuhnya (100 %) dibebankan pada lebar jalur
5,5 meter sedangkan sisanya hanya akan dibebani 50 % dari
beban D.

Gambar 2.6 Ketentuan penggunaan beban D

Beban D tersebut harus ditempatkan sedemikian rupa


sehingga menghasilkan pengaruh terbesar.

Beban pada trotoir, kerb, dan sandaran


Konstruksi trotoir haruslah diperhitungkan terhadap beban
hidup sebesar 500 kg/m. Dalam perhitungan kekuatan gelagar
Karena pengaruh beban hidup pada trotoir, diperhitungkan beban
sebesar 60 % beban hidup trotoir.
Kerb yang tedapat pada tepi tepi lantai kendaraan pun harus
dihitung untuk dapat menahan satu beban horizontal kea rah
melintang jembatan sebesar 500 kg/m yang bekerja pada puncak
kerb yang bersangkutan atau pada tinggi 25 cm di atas permukaan
lantai kendaraan apabila kerb yang bersangkutan lebih tinggi dari
25 cm.
Tiang tiang sandaran pada setiap tepi trotoir harus
diperhitungkan untuk dapat menahan beban horizontal sebesar 100

kg/m, yang bekerja pada tinggi 90 cm di atas lantai trotoir.


Beban Kejut

Untuk memperhitungkan pengaruh getaran dan pengaruh


dinamis lainnya, tegangan tegangan akibat beban garis P harus
dikalikan dengan koefisien kejut yang akan memberikan hasil
maksimum, sedangkan beban merata q dan beban T tidak perlu
dikalikan dengan koefisien kejut. Koefisien kejut ditentukan dengan
rumus :
k =1+

20
(50+ L)

Dimana :
k = Koefisien kejut
L = Panjang bentang (m)

Gaya akibat tekanan tanah


Bagian bangunan jembatan yang menahan tanah harus
direncanakan dapat menahan tekanan tanah sesuai dengan rumus
rumus yang ada. Beban kendaraan di belakang bangunan penahan

tanah diperhitungkan senilai dengan muatan tanah setinggi 60 cm.


c. Beban Sekunder
Beban angin
Pengaruh beban angin sebesar 150 kg/m pada jembatan
ditinjau berdasarkan bekerjanya beban angina horizontal terbagi rata
pada bidang vertikal jembatan, dalam arah tegak lurus sumbu
memanjang jembatan. Jumlah luas bidang vertikal bangunan atas
jembatan yang dianggap terkena oleh angin ditetapkan sebesar suatu
prosentase tertentu terhadap luas bagian sisi sisi jembatan dan luas
bidang vertikal beban hidup.

Bidan vertikal beban hidup ditetapkan sebagai suatu


permukaan bidang vertikal yang mempunyai tinggi menerus sebesar

dua meter di atas lantaui kendaraan.


Gaya akibat perbedaan suhu
Peninjauan diadakan terhadap timbulnya tegangan tegangan
struktural karena adanya perubahan bentuk akibat perbedaan suhu
antara bagian bagian jembatan baik yang mengguanakan bahan
yang sama ataupun dengan bahan yang berbeda. Perbedaan suhu

ditetapkan sesuai dengan data perkembangan suhu setempat.


Gaya rangkak dan susut
Pengaruh rangkak dan susut bahan beton terhadap konstruksi
harus ditinjau. Besarnya pengaruh tersebut apabila tidak ada
ketentuan lain dapat dianggap senilai dengan gaya yang timbul

akibat turunnya suhu sebesar 15C.


Gaya Rem
Pengaruh gaya gaya dalam arah memanjang jembatan yang
diakibatkan oleh gaya rem haruslah ditinjau. Pengaruh ini
diperhitungkan senilai dengan pengaruh gaya rem sebesar 5 % dari
beban D tanpa koefisien kejut yang memenuhi semua jalur lalu
lintas yang ada dan dalam satu jurusan dengan titik tangkap 1,8

meter di atas permukaan lantai kendaraan.


Gaya Akibat Gesekan pada Tumpuan Bergerak
Gaya gesek yang timbul hanya ditinjau akibat beban mati
saja, sedangkan besarnya ditentukan berdasarkan koefisien gesek
pada tumpuan yang bersangkutan dengan nilai sebagai berikut ini
a. Tumpuan rol baja
1. Dengan satu atau dua rol . 0,01
2. Dengan tiga atau lebih rol 0,05
b. Tumpuan gesekan
1. Antara baja dengan campuran

tembaga keras dan baja 0,15


2. Antara baja dengan baja atau
besi tuang . 0,25
3. Antara karet dengan baja/beton 0,15-0,18
Gaya Akibat Gempa
Pengaruh gempa bumi pada jembatan dihitung senilai dengan
pengaruh suatu gaya horizontal pada konstruksi yang ditinjau dan
perlu ditinjau pula gaya gaya lainnya yang berpengaruh seperti
gaya gesek pada perletakan, tekanan hidro dinamik akibat gempa,
tekanan tanah akibat gempa dan gaya angkat apabila pondasi yang

2.3

direncanakan merupakan pondasi terapung/pondasi langsung.


Pondasi
2.3.1
Arti, Fungsi, dan Klasifikasi Pondasi
Pondasi adalah suatu konstruksi pada bagian bawah struktur/bangunan
yang berfungsi menerima

beban

beban dari

bangunan atas

dan

menyalurkannya ke tanah di bawahnya tanpa mengakibatkan :


Keruntuhan geser tanah
Penurunan tanah/pondasi yang berlebihan
Pondasi secara umum dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) kelompok
besar sebagai berikut :
1. Pondasi Dangkal (Shallow Foundation)
Pondasi dangkal melimpahkan beban struktur yang dipikulnnya
pada lapisan tanah dekat permukaan.
Pondasi telapak (Spread Footing)
a. Isolated Footing (bujur sangkar, lingkaran, persegi panjang)
b. Combined Footing
c. Continous Footing (pondasi menerus)
Pondasi rakit (Raft/mat Foundation)
2. Pondasi Dalam (Deep Foundation)
Pondasi ini digunakan apabila lapisan tanah keras yang mampu
memikul beban letaknya cukup dalam sehingga bebean beban harus
disalurkan melalui suatu konstruksi penerus.
Pondasi tiang (Pile Footing)
Pondasi sumuran (Well Footing)
Pondasi kaison (Caisson Footimg)

Dasar pemilihan suatu pondasi yang akan digunakan berdasar pada kriteria
perencanaan yang harus dipenuhi :
1. Daya dukung ijin tegangan yang terjadi atau angka keamanan terhadap
keruntuhan geser cukup.
2. Penurunan yang terjadi (total and different settlement) masih dalam batas
yang diijinkan
3. Aman terhadap pengaruh luar misalnya penggerusan, dll

Gambar 2.7 Jenis jenis pondasi

2.3.2

Perhitungan Tegangan dan Kontrol Daya Dukung


Persyaratan utama yang harus dipenuhi pondasi adalah bahwa pondasi
harus mampu memikul beban dari bangunan atas tanpa mengalami keruntuhann

geser dan penurunan yang terus menerus. Untuk merencanakan pondasi harus
diketahui jenis, arah, dan besarnya beban yang bekerja misalnya beban
normal/aksial, beban geser, beban momen dan torsi. Perhitungan tegangan dan
daya dukung dilakukan sebagai berikut :

2.3.3

Bearing Pressure (tegangan yang terjadi)


Tegangan yang terjadi ()
Tegangan netto ()
Bearing Capacity (daya dukung)
Daya dukung batas (qult)
Daya dukung ijin (qu)
Agar pondasi tidak mengalami keruntuhan geser maka tegangan yang

terjadi tidak boleh melebihi daya dukung ijin tanah.


Penurunan (Settlement)
Tegangan selalu diikuti dengan regangan sehingga aplikasi beban yang
terjadi pada pondasi selalu akan menimbulkan penurunan. Pondasi dapat
mengalami penurunan dalam berbagai arah yang mana masing masing dari
penurunan yang terjadi dapat mempengaruhi penampilan dan fungsi dari
struktur/bangunan.
Penurunan yang diijinkan baik penurunan total dan perbedaan penurunan
yang terjadi untuk struktur/bangunan akan bervariasi yang tergantung dari
beberapa faktor, antara lain :
Jenis struktur/bangunan
Fungsi/kegunaan struktur/bangunan
Sensitifitas dari elemen struktur/bangunan
Kekakuan struktur/bangunan

2.3.4

Angka Keamanan (Factor of Safety)


Dalam analisis dan perencanaan pondasi banyak anggapan anggapan,
pengabaian, dan ketidak pastian terutama yang berkaitan dengan sifat sifat

tanah. Untuk mengimbangi ketidak pastian yang ada itu maka diperlukan
angka keamanan (factor of safety). Untuk menentukan angka keamanan faktor
yang mempengaruhinya antara lain :

Keandalan yang diperlukan (peluang kegagalan yang diperbolehkan)


Konsekuensi kegagalan
Ketidak pastian (uncertainties) dalam sifat tanah dan beban yang bekerja
Toleransi dalam konstruksi/pelaksanaan
Pengabaian dari perilaku pondasi yang benar
Rasio biaya dan keuntungan akibat perencanaan yang konservatif
Angka keamanan pada pondasi pada umumnya lebih besar dari angka

keamanan pada bangunan atas dikarenakan :


Adanya tambahan beban berat akibat perencanaan pada bangunan atas
Toleransi konstruksi/pelaksanaan pondasi lebih lebar dibandingkan

bangunan atas
Ketidak pastian dalam sifat tanah menambah resiko yang signifikan
Kegagalan pondasi lebih mahal dibandingkan pada kegagalan pada

bangunan atas.
2.4 Pondasi Dalam
2.4.1
Pemilihan pondasi dalam
Pondasi dalam dipilih apabila pondasi dangkal sudah tidak mampu
memikul beban struktur/bangunan karena tidak memenuhi kriteria daya dukung
dan penurunannya. Alasan alasan pemilihan pondasi dalam antara lain :
Tanah lapisan atas yang lunak atau karena beban dari struktur/bangunan
yang sangat besar sehingga apabila menggunakan pondasi dangkal

2.4.2

memerlukan dimensi yang sangat besar


Tanah lapisan atas yang mudah tergerus
Harus memikul beban up lift yang besar
Harus memikul beban horizontal/lateral yang besar
Klasifikasi pondasi dalam
Pengelompokkan pondasi dalam sangat beragam tergantung pada dasar
kriterianya. Pondasi dalam dapat dikelompokkan sebagai berikut :
Pondasi tiang (pile foundation)
Pondasi sumuran (well foundation)


2.4.3

Pondasi kaison (caisson foundation)

Klasifikasi beban kerja


Dalam perencanaan pondasi dalam, dikelompokkan menjadi dua kategori
yaitu beban aksial dan beban lateral. Beban aksial adalah beban yang bekerja
sejajar dengan sumbu pondasi sedangkan beban lateral adalah beban yang
bekerja tegak lurus sumbu pondasi. Oleh karena itu, beban up lift dan beban
vertical dari struktur merupakan beban aksial sedangkan gaya geser dan momen

2.4.4

merupakan beban lateral.


Pelimpahan beban aksial pada tanah
Pondasi dalam melimpahkan beban pada tanah melalui dua mekanisme
yaitu geseran (skin friction) dan kekuatan ujung (end bearing).

Gambar 2.8 Daya dukung pondasi dalam

Daya dukung geseran dan daya dukung ujung pada dasarnya berbeda
dalam pola resistensinya. Secara garis besar daya dukung netto vertical dapat
dihitung sebagai berikut :

Pa =

P ult
F

P t+ P sW f
F

Persamaan di atas dapat disederhanakan dengan mengambil daya dukung


netto Pt = Pt Wf sehingga persamaan menjadi :

Pa =

P ult
F

P t +P s
F

Dan dengan memasukkan harga daya dukung geseran dan daya dukung
ujung maka persamaan mennjadi

Pa =

q t . A t+ f s . A s
F

Dimana :
Pa = beban aksial ijin
Pt = daya dukung ujung
Ps = daya dukung geseran
Wf = berat pondasi
qt = daya dukung ujung netto
At = luas penampang ujung pondasi
fs = daya dukung geser (unit skin friction)
As = luas geseran pondasi tanah
F = angka keamanan

Untuk beban up lift :

(Pupward)a =

W f + f s . A s
F

Jika pondasi sebagian atau keseluruhan berada di bawah muka air tanah
maka perlu mempertimbangkan efek dari muka air tanah ini sehingga Wf akan
berkurang akibat dari gaya angkat.
2.4.5

Angka keamanan (Factor of safety)


Untuk menentukan angka keamanan F, bangunan dapat dikelompokkan ke
dalam beberapa kategori bangunan, yaitu :
Monumental (umur lebih dari 100 tahun)
Permanen (umur antara 25 100 tahun)
Sementara/temporary (umur kurang dari 25 tahun)
Angka keamanan desain F tergantung banyak faktor, antara lain adalah :

Jenis dan kepentingan dari struktur/bangunan


Tingkat keberagaman tanah
Ketelitian penyelidikan tanah
Jenis dan jumlah pengujian tanah
Ada atau tidaknya uji pembebanan pada lokasi atau disekitarmya
Control kualitas dan pengawasan pelaksanaan konstruksi
Peluang terjadinya beban rencana selama umur struktur/bangunan

Berdasarkan faktor faktor di atas, tipikal angka keamanan dapat dibuat


pedoman sebagai berikut
Klasifikasi

Peluang kegagalan

struktur

yang diijinkan

Angka keamanan desain


Good

Norma

Poor

Very

Contro

l
Contro

Contro

l
2,3
2
1,4

l
3
2,5
2

l
3,5
2
2,3

Poor
Monumental
Permanen
Temporary

Control
1.E 05
1.E 04
1.E - 03

4
3,4
2,8

2.5 Pondasi Tiang


Pondasi tiang digunakan untuk mendukung struktur/bangunan bila lapisan kuat
terletak sangat dalam. Alasan memilih untuk menggunakan pondasi tiang antara lain :
Dapat melimpahkan beban ke lapisan tanaah pendukung yang kuat
Dapat menahan gaya angkat
Dapat menahan gayaa horizontal
Dapat memadatkan tanah pasir lepas
Dapat mengurangi bahaya erosi
Dapat menahan beban melalui gesekan antara tanah dan pondasi
Kriteria yang digunakann untuk perencanaan pondasi tiang adalah :

Angka keamanan terhadap keruntuhan geser cukup/daya dukung ijin tiang > beban yang

bekerja
Penurunan yang terjadi baik penurunan total dan perbedann penurunan masih dalam batas

yang diijinkan
Tegangan ijin material > tegangan yang terjadi
2.5.1

Daya dukung tiang


Daya dukung tiang adalah kemampuan atau kapasitas tiang dalam
mendukung/memikul beban. Dalam beberapa literatur digunakan istilah pile
capacity atau pile carrying capacity. Hitungan daya dukung tiang dapat dilakukan
dengan dua cara, yaitu :
Metode Statis

Hitungan dengan metode ini dilakukan menurut teori mekanika


tanah, yaitu dengan mempelajari sifat sifat teknis tanah yang didapatkan

2.5.2

dari uji laboraturium maupun uji lapangan


Metode Dinamis
Hitungan dengan metode ini dilakukan dengan menganalisis

kapasitas ultimit dengan data yang diperoleh dari data pemancangan tiang.
Daya dukung ultimit cara statis
Daya dukung ultimit netto tiang (Qu) adalah jumlah dari tahanan ujung
bawah ultimit (Qb) dengan tahanan gesek ultimit (Qs) antara dinding tiang dan
tanah disekitarnya dikurangi denga berat sendiri tianng (Wp). Bila dinyatakan
dalam persamaan, maka :
Qu = Qb + Qs Wp
Dimana :
Wp = berat sendiri tiang (kN)
Qu = kapasitas dukung ultimit netto (kN)
Qb = tahanan ujung bawah ultimit (kN)
Qs = tahanan gesek ultimit (kN)
Tahanan ujung ultimit secara pendekatan dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan kapasitas dukung ultimit pondasi dangkal, sebagai
berikut:

qu =

Qb
Ab

= cb . Nc + pb . Nq + 0,5 . d . N

dimana :
qu = tahanan ujung per satuan luas tiang (kN/m)
Ab = luas penampang ujung bawah tiang (m)
cb = kohesi tanah disekitar ujung tiang (kN/m)
pb = z = tekanan overburden di dasar tiang (kN/m)
= berat volume tanah (kN/m)
d = diameter tiang (m)
Nc ,Nq, N = faktor faktor kapasitas dukung (fungsi dari )
Dari persamaan di atas, tahanan ujung ultimit (Qb) dapat dinyatakan oleh :
Qb = Ab [cb . Nc + pb .Nq + 0,5 . d . N]
Tahanan gesek sisi tiang (Qs) dapat dianalisis dari teori Coloumb :
Qs
d =
= cd + n . tg d
As
Dimana :
d = Tahanan geser sisi tiang
cd = kohesi anttara dinding tanah

n = h = tegangan normal pada sisi tiang


d = sudut gesek antara sisi tiang dan tanah
Besarnya tegangan normal pada tiang ( n) atau tegangan horizontal (h)
pada tiang bergantung pada koefisien tekanan tanah lateral
h
K=
v
Atau
h = K . v
dimana :
K = koefisien tekanan lateral pada sisi tiang
v = tegangan vertical akibat berat tanah (tekanan overburden)
h = n = tegangan normal yang bekerja tegak lurus sisi tiang
Dengan memberikan notasi yang baru untuk koefisien tekanan tanah lateral
K menjadi Kd, yaitu koefisien tekanan lateral pada sisi tiang, maka persamaan
diatas menjadi :
h = n = Kd . v = Kd . po
dengan v = po = z (z = kedalaman dari muka tanah). Subtitusi persamaan menjadi
:
d = cd + Kd . po . tg d
dimana po = tekanan overburden rata rata.
Tahanan gesek dinding ultimit (Qs)
Qs = As . d = As (cd + Kd . po . tg d)
Dimana As adalah luas selimut sisi tiang, yaitu keliling dikalikan dengan tinggi
tiang (d = ). Dari beberapa persamaan di atas, diddapat persamaan umum untuk

2.5.3

kapasitas daya dukung ultimit tiang tunggal :


Qu = Ab (cb.Nc + pb.Nq + 0,5.. d .N) + As (cd + Kd.po.tg ) - Wp
Dimana :
Po = v = i . zi = tekanan overburden rata rata disepanjang tiang
= d = sudut gesek antara sisi tiang dan tanah
Ab = luas tampang ujung bawah tiang
As = luas selimut tiang
Kd = koefisien tekanan tanah lateral pada sisi tiang
Pb = tekanan overburden di ujung bawah tiang
d = panjang tiang
Daya dukung tiang pada tanah non kohesif/granuler
2.5.3.1 Daya dukung/tahanan ujung batas
Pada tanah granuler tidak mempunyai kohesi (c = 0) dan diameter
tiang relative kecil dibandingkan dengan panjangnya sehingga suku
persamaan cb . Nc = 0 dan 0,5 . d . N dapat diabaikan sehingga :

Qbu = Ab . d . Nq
Dimana :
Qbu = daya dukung ujung batas
Ab = luas penampang ujung
d = tekanan overburden
Nq = faktor daya dukung
2.5.3.2 Daya dukung/tahanan geser batas
Daya dukung/tahanan geser satuan qs atau fs terjadi bila tegangan
geser sepanjang tiang tanah melebihi kuat geser. Hal ini memerlukan
perpindahan (displacement) hanya 5 10 mm. Tahanan geser batas
antara tiang dengan tanah non kohesif (pasir) dapat ditulis berdasarkan
persamaan umum diatas. Tanah non kohesif/granular adalah lolos air
maka analisis didasarkan tinjauan tegangan efektif.
Qsu = As (cs + Ks . v0 . tg )
Karena pada tanah non kohesif/granular, kohesi tanah (c) = 0 maka
Qsu = As . Ks . v0 . tg
Tahanan geser batas satuan qsu atau fsu adalah
qsu = fsu = Ks . v0 . tg
dimana :
Ks = koefisien tekanan tanah horizontal/lateral
= sudut geser tanah tiang
As = luas selimut tiang
v0 = tekanan vertikal efektif rata - rata
Harga koefisien tekanan tanah Ks tergantumg pada kondisi tanah.
Pada pemancangan tiang dalam tanah granular maka gerakaan dan
getaran tiang akan menyebabkan pemadatan tanah di sekitarnya.

Kenaikan kepadatan ini akan menaikkan sudut geser dalam tanah dan
tekanan tanah lateral menuju Kp = koefisien tekanan tanah pasif.
Brom (1965) menyarankan hubungan Ks dengan jenis material
tiang sedangkan Aas (1966) mengusulkan harga yang dapat digunakan
dalam perhitungan daya dukung/tahanan geser sebagai berikut :

Jenis Tiang

Baja (steel)
Beton (concrete)
Kayu (timber)

20

Ks
Lepas (loose)
0,5
1,0
1,5

Padat (dense)
1,0
2,0
3,0

Metode/cara
Karena sulitnya mengukur atau menentukan harga Ks, maka
kita menggabungkan harga Ks dan tg menjadi :
= Ks . tg
sehingga
qsu = fsu = . v0
Format ini disebut dengan metode/cara (Burland, 1973).
Harga dapat diambil berdasarkan hasil hitungan dari uji

pembebanan datau dari korelasi dengan parameter tanah yang lain.


2.5.3.3 Daya dukung batas tiang (Qu)
Untuk menghitung daya dukung batas tiang Qu yang terdiri dari
daya dukung ujung dan geser, maka tinggal menggabungkan persamaan
persamaan di atas.
Qu = Ab . . D . Nq + As . Ks. tg - Wp
Dengan menganggap bahwa berat tiang hampir sama dengan berat
tanah yang dipindahkan oleh tiang maka Wp = Ab . . D sehingga

2.5.4

persamaan daya dukung batas netto tiang dapat ditulis sebagai berikut :
Qu = Ab . . D (Nq 1) + As . Ks. tg
Daya dukung tiang tanah dalam tanah kohesif
2.5.4.1 Daya dukung/ tahanan ujung bata (Qbu)
Bila tiang terletak pada tanah lempung, daya dukung tiang yang
dihitung pada kondisi tak terdrainasi kecuali heavy overconsolidated

clay. Jika lempung jenuh u = 0, Nq = 1, dan N = 0, maka perrsamaan


daya dukung ujung batas netto dapat ditulis sebagai berikut :
qbu = cu . Nc
Qbu = Ab . qbu = Ab . cu . Nc
Dimana :
Qbu = daya dukung batas netto (kN)
qbu = daya dukung batas netto per satuan luas (kN/m)
Ab = luas penampang ujung tiang
Cu = kohesi tanah di bawah ujung tiang pada pondasi tak terdrainasi
(kN/m)
Nc = faktor daya dukung (umumnya diambil = 9, Skemton 1959)
Daya dukung ujung pada tanah kohesif/lempung umumnya
presentasinya kecil terhadap daya dukung total tiang
2.5.4.2 Daya dukung/Tahanan geser batas (Qsu)
Karena tidak adanya kontak antara bagian atas tiang dengan tanah
maka tahanan geser pada 2 m bagian harus diabaikan terutama pada
lempung kaku (stiff clay)
a.

Analisis berdasarkan kekuatan tak terdrainasi


Walaupun tahanan geser pada tanah lempung sebagai
fenomena adhesi, akan lebih akurat apabila ditinjau sebagai
geseran. Oleh karena itu, analisis kekuatan tak terdrainasi pada
dasarnya sama dengan analisis pada tanah non kohesif. Untuk
menghitung daya dukung/tahanan geser dapat dilakukan dengan
cara
qsu = fsu = . v0
Qsu = As . qsu
Sedangkan untuk harga didapatkan dari hasil yang
dikembangkan

oleh

Randolph

dan

Wroth

(1982)

seperti

ditunjukkan pada gambar. Harga adalah sudut geser dalam tanah


lempung pada kondisi terdrainasi

Harga untuk tanah lempung (Randolph dan Wroth, 1982)


Analisis berdasarkan kekuatan tak terdrainasi
Cara ini banyak dipakai antara lain karena untuk
Gambar 2.9

b.

mendapatkan nilai su atau cu dengan uji tekan bebas, uji triaxial


UU sangatlah murah. Walaupun cara ini lebih popular, namun
sebenarnya harus disubtitusi dengan analisis berdasarkan kekuatan
terdrainasi. Analisis ini disebut metode/cara karena dalam
menentukan unit tahanan geser memakai faktor adhesi
qsu = fsu = . cu
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi nilai , diantaranya
adalah :
Remolding lempung selama pelaksanaan/konstruksi
Konsolidaasi lempung selama pelaksanaan/konstruksi
Turunnya satu lapisan lempung terhadap lapisan lainnya

selama pemancangan
Cara menentukan cu
Jenis, diameter, dan panjang tiang
Predrilling
Jetting

Cara terbaik untuk menentukan adalah dengan melakukan


uji pembebanan tiang dan membandingkan daya dukung yang
c.

diukur dengan rata rata cu hasil uji laboraturium dan uji lapangan.
Metode/cara
Metode/cara (Vijayvergiya dan Focht, 1972; Kraft, Focht,
dan Amerasinghe, 1981) adlah gabungan analisis terdrainasi dan
tak terdrainasi. Cara ini menghitung unit skin friction/tahanan geser
satuan sebagai berikut :
qsu = fsu = (v + 2 . su)
dimana :
qsu = fsu = tahanan geser satuan rata rata
= koefisien tahanan geser (tak berdimensi)
v = tegangan vertical efektif rata rata dari muka tanah sampai
ujung tiang
su = kuat geser tak terdrainasi rata rata dari muka tanah sampai
ujung tiang
Harga didapatkan berdasarkan hasil eksperimen dimana
harga merupakan fungsi panjang tiang. Dalam menganalisis
tahanan geser menggunakan cara ini, tidak perlu membagi lapisan
tanah melainkan hanya menggunakan satu harga . Oleh Karen itu
cara ini digunakan hanya untuk profil tanah yang hampir

seluruhnya lempung atau lanau.


2.5.4.3 Daya dukung batas tiang (Qu)
Untuk menghitung daya dukung batas tiang didapat dengan
menjumlahkan daya dukung ujung dan daya dukung geser batas. Dari
persamaan di atas maka persamaan daya dukung batas menjadi :
Qu = Ab . cu2 . Nc + As . . cu1
Dimana :
Qu = daya dukung batas netto
Ab = luas penampang ujung tiang
cu1 = kohesi tak terdrainasi di sepanjang tiang
cu2 = kohesi tak terdrainasi lempung di bawah ujung tiang
As = luas selimut tiang

2.5.5

= faktor adhesi
Nc = faktor daya dukung (diambil = 9, Skempton 1959)
Kelompok Tiang
Tahanan tiang terhadap gaya tarik ke atas kelompok tiang (Q u(tarik)), adalah
jumlah dari 3 komponen, yaitu :
Berat pelat penutup tiang ditambah berat tanah diatasnya (bila ada)
Berat tanah di dalam blok
Tahanan gesek tanah di sekitar area blok
Berat tiang tiang yang berada dalam area kelompok tiang dapat dianggap
sama dengan berat tanah yang dipindahkan. Untuk tanah non kohesif (c = 0) dan
tanah c dengan kohesi yang tidak begitu besar, cara transfer dari tiang ke tanah
sekitarnya merupakan masalah yang komplek, yang bergantung pada elastistas
tiang, lapisan tanah, dan gangguan tanah waktu pemasangan. Tomlinson (1977)
menyarankan penyebaran beban 1H : 4V untuk volume tanah yang tercabut dan
karena tahanan gesek di sekkeliling tiang diabaikan, faktor aman terhadap gaya
tarik dapat diambil F = 1.
Untuk tanah tanah kohesif ( = 0), tahanan kelompok tiang dalam
menahan gaya tarik ke atas (Qu(tarik)) dinyatakan oleh persamaan :
(Qu(tarik)) = 2 . D . cu (L + B) + Wp
Dimana :
L = panjang kelompok tiang (m)
B = lebar kelompok tiang (m)
D = kedalaman blok (m)
cu = kohesi tak terdrainase tanah rata rata di sekitar kelompok tiang (kN/m)
W = berat total dari tanah dalam area kelompok tiang + berat tiang + berat pelat
penutup tiang (pile cap) (kN)
Bila pondasi tiang dirancang untuk menahan gaya tarik ke atas, maka perlu
diperhatikan hal hal berikut :
1. Tiang tiang harus diangker ke dalam pelat penututp tiang dan pelat
penututp harus diikatkan dengan kolom. Perancangan pelat penutup tiang
harus diperhitungkan terhadap tegangan akibat tarikan

2. Tiang beton harus dilengkapi dengan tulangan memanjang untuk menahan


gaya tarik. Sambungan sambungan tiang harus diperhitungkan terhadap
gaya ttarik yang bekerja
3. Tahanan tiang terhadap gaya ke atas tiang tidak selalu sam dengan tahanan
gesek tiang yang gayanya ke bawah. Untuk tiang gesek pada tanah
lempung, kapasitas tiang dalammenahan gaya ke atas kurang lebih
mendekati sama dengan bila arah gaya ke bawah. Untuk tanah granuler, hal
ini tidak sama. Pada lempung lunak, tahanan gaya ke atas sebaiknya
2.5.6

ditentukan dari uji tarik tiang.


Faktor Aman Tiang Pancang
Untuk memperoleh kapasitas ijin tiang, maka kapasitas ultimit tiang dibagi
dengan faktor aman tertentu. Fungsi faktor aman adalah :
a. Untuk memberikan keamanan terhadap ketidakpastian dari nilai kuat geser
dan kompresibilitas yang mewakili kondisi lapisan tanah
b. Untuk meyakinkan bahwa penurunan tidak seragam di antara tiang tiang
masih dalam batas toleransi
c. Untuk meyakinkan bahwa bahan tiang cukup aman dalam mendukung
beban yang bekerja
d. Untuk meyakinkan bahwa penurunan total yang terjadi pada tiang tunggal
atau kelompok tiang masih dalam batas batas toleransi
e. Untuk mengantisipasi adanya ketidakpastian metode hitungan yang
digunakan.
Besarnya beban kerja (working load) atau kapasitas dukung tiang ijin (Qa)
dengan memperhatikan keamanan terhadap keruntuhan adalah nilai kapasitas
ultimit (Qu) dibagi dengan faktor aman (F) yang sesuai. Variasi besarnya
faktoraman yang telah banyak digunakan untuk perancangan tiang pancang :
Qu
Qa =
2,5

Beberapa peneliti menyarankan faktor aman yang tidak sama untuk tahanan
gesek dinding dan tahanan ujung. Kapasitas ijin dinyatakan dalam persamaan
berikut :

Qb
Qs
+
3
1,5
Penggunaan faktor aman F = 1,5 untuk tahanan gesek dinding (Q s) yang
Qa =

lebih kecil dari faktor aman untuk tahanan ujung tiang (yaitu 3) karena nilai
puncak dari tahanan gesek sisi tiang dicapai bila tiang mengalami penurunan 2 -2
7 mm, sedang tahanan ujung (Qb) membutuhkan penurunan yang lebih besar agar
tahanan ujungnya bekerja secara penuh. Jadi, maksud penggunaan faktor faktor
aman tersebut adalah untuk meyakinkan keamanan tiang terhadap keruntuhan
tiang dengan mempertimbangkan penurunan tiang pada beban kerja yang
diterapkan.Disarankan oleh Tomlinson (1977), nilai Qa dalam persamaan di atas
tidak boleh melebihi nilai Qa pada persamaan selanjutnya.
Reese dan ONeill (1989) menyarankan pemilihan faktor aman (F) untuk
perancangan pondasi tiang yang harus dipertimbangkanfaktor faktor sebagai
berikut :
1. Tipe dan kepentingan dari struktur

2.
3.
4.
5.
6.
7.

Variabilitas tanah (tanah tidak seragam)


Ketelitian penyelidikan tanah
Tipe dan jumlah uji tanah yang dilakukan
Ketersediaan data di tempat (uji beban tiang)
Pengawasan/control kualitas di lapangan
Kemungkinan beban desain akutual yang terjadi selama beban layanan
struktur
Nilai nilai faktor aman yang disarankan oleh Reese dan ONeill (1989)

ditunjukkan oleh table dibawah ini. Kisaran faktor aman dari analisis statis yang
umumnya sering digunakan adalah sekitar 2 4, dan kebanyakan digunakan 3.

Faktor aman (F)


Klasifikasi

Kontrol
Kontrol baik

struktur

Kontrol
Kontrol jelek

normal

sangat jelek

Monumental

2,3

3,5

Permanen

2,5

2,8

3,4

1,4

2,3

2.8

Sementara

Tabel Faktor aman yang disarankan oleh Reese dan ONeill (1989)

2.5.7

Kapasitas dukung kelompok tiang


Kapasitas kelompok tiang tidak selalu sama dengan jumlah kapasitas tiang
tunggal yang berada dalam kelompoknya. Hal ini terjadi jika tiang dipancang
dalam lapisan pendukung yang mudah mampat atau dipancang pada lapisan yang
tidak mudah mampat, namun dibawahnya terdapat lapisan lunak. Dalam kondisi
tersebut, stabilitas kelompok tiang tergantung dari dua hal, yaitu :
1. Kapasitas dukung tanah di sekitar dan di bawah kelompok tiang dalam
mendukung beban total struktur
2. Pengaruh penurunan konsolidasi tanah yang terletak di bawah kelompok
tiang
2.5.7.1
Kapasitas dukung
Dalam kasus dimana pondasi tiang secara keseluruhan berada
dalam tanah lempung lunak, maka tiang tiang dalam mendukung
beban sebagian besar didukung oleh tahanan geseknya. Kondisi
pondasi tiang semacam ini, disebut pondasi tiang apung (floating pile)
Kapasitas kelompok tiang apung dipengaruhi oleh salah satu
faktor berikut (Coduto, 1994) :
1. Jumlah kapasitas tiang tunggal dalam kelompok tiang, bila jarak
tiang jauh, atau
2. Tahanan gesek tiang yang dikembangkan oleh gesekan antara
bagian luar kelompok tiang dengan tanah di sekelilingnya, jika
jarak tiang terlalu dekat

Saat tanah yang mendukung beban kelompok tiang ini


mengalami keruntuhan dan tiang tiang juga ikut bergerak turun, maka
model keruntuhan ini disebut keruntuhan blok. Jadi pada keruntuhan
blok, tanah yang terletak di antara tiang bergerak ke bawah bersama
sama dengan tiangnya.
Untuk menghitung kapasitas tiang yang berkaitan dengan
keruntuhan blok, Terzaghi dan Peck (1948) mengambil asumsi
asumsi sebagai berikut
1. Pelat penutup tiang (pile cap) sangat kaku
2. Tanah yang berada di dalam kelompok tiang tiang berkelakuan
seperti blok padat
Dengan asumsi asumsi tersebut, keseluruhan blok dapat
dianggap sebagai pondasi dalam dengan kapasitas ultimit yang
dinyatakan oleh persamaan (Terzaghi dan Peck, 1948)
Qg = 2D(B + L)c + 1,3 . cb . Nc . B . L
Dimana :
Qg = kapasitas ultimit kelompok, nilainya harus tidak melampaui n.Q u
(dengan n = jumlah tiang dalam kelompoknya) (kN)
c = kohesi tanah di sekeliling kelompok tiang (kN/m)
cb = kohesi tanah di bawah dasar kelompok tiang (kN/m)
B = lebar kelompok tiang, dihitung dari pinggir tiang tiang
L = panjang kelompok tiang (m)
D = kedalaman tiang di bawah permukaan tanah (m)
Nc = faktor kapasitas dukung
Dalam hitungan kapasitas kelompok tiang maka dipilih dari hal
hal berikut :
1. Jika kapasitas kelompok tiang (Qg) < kapasitas tiang tunggal
dikali jumlah tiang (n.Qu), maka kapasitas dukung pondasi tiang
yang dipakai adalah kapasitas kelompoknya (Qg)
2. Sebaliknya bila dari hitungan kapasitas kelompok tiang (Q g)
lebih besar, maka dipakai kapasitas tiang tunggal dikali
jumlahnya (n.Qu)

Umumnya model keruntuhan blok terjadi bila rasio jarak tiang


dibagi diameter (s/d) kurang lebih sekitar 2. Whitaker (1957)
memperlihatkan bahwa keruntuhan blok terjadi pada jarak 1,5d untuk
kelompok tiang yang berjumlah 3 x 3, dan lebih kecil dari 2,25d untuk
tiang yang berjumlah 9 x 9. Untuk jarak tiang yang lebih besar,
2.5.7.2

keruntuhan akan berupa keruntuhan tiang tunggal.


Efisiensi tiang dalam tanah kohesif
Kapasitas dukung tiang gesek (friction pile) dalam tanah
lempung akan berkurang jika jarak tiang semakin dekat. Beberapa
pengamatan menunjukkan bahwa kapasitas dukung total dari kelompok
tiang gesek (friction pile), khususnya tiang dalam tanah lempung sering
lebih kecil daripada hasil kali kapasitas dukung tiang tunggal dikalikan
jumlah tiang dalam kelompoknya. Nilai pengali terhadap kapasitas
dukung ultimit tiang tunggal dengan memperhatikan pengaruh
kelompok tiang disebut efisiensi tiang (Eg).
Menurut Coduto (1994), efisiensi tiang bergantung beberapa
faktor antara lain:
Jumlah, panjang, diameter, susunan, dan jarak tiang
Model transfer beban (tahanan gesek terhadap tahanan dukung

ujung)
Prosedur pelaksanaan pemasangan tiang
Urutang pemasangan tiang
Macam tanah
Waktu setelah pemasangan tiang
Interaksi antara pelat penutup tiang (pile cap) dengan tanah
Arah beban yang bekerja
Beberapa persamaan efisiensi tiang talah diusulkan untuk

menghitung kapasitas kelompok tiang, salah satunya adalah persamaan


yang disarankan oleh Converse-Labarre formula sebagai berikut :

Eg = 1 -

( n' 1 ) m+ ( m1 ) n'

90 mn'
Dimana :
Eg = efisiensi kelompok tiang
m = jumlah baris tiang
n = jumlah tiang dalam satu baris
= arc tg d/s, dalam derajat
s = jarak pusat ke pusat tiang (m)
d = diameter tiang (m)
Efisiensi kelompok tiang didefinisikan sebagai :
Qg
Eg =
n. Qu
Dimana :
Eg = efisiensi kelompok tiang
Qg = beban maksimum kelompok tiang yang mengakibatkan
keruntuhan
Qu = beban maksimum tiang tunggal yang mengakibatkan keruntuhan
n = jumlah tiang dalam kelompok

Gambar 2.10 definisi jarak s dalam hitungan efisiensi tiang

Kapasitas

dukung

ultimit

kelompok

tiang

dengan

memperhatikan faktor efisiensi tiang dinyatakan oleh persamaan :


Qg = Eg . n . Qu
Dalam tinjauan tiang tunggal, efisiensi adalah nilai pengali yang
menunjukkan perubahan nilai kapasitas dukung ultimit akibat pengaruh
jarak tiang di dalam kelompoknya, dan dinyatakan oleh persamaan :
Eg = Qu/ Qu
Dimana :

2.5.7.3

Qu = kapasitas dukung ultimit tiang tunggal untuk perancangan


Qu = kapasitas dukung ultimit dari hitungan tiang tunggal
Petunjuk perancangan kelompok tiang
Dalam hitungan untuk perancangan kelompok tiang, Coduto
(1994) memberikan petunjuk sebagai berikut :
1. Cek apakah keruntuhan blok akan lebih menentukan, yaitu
dengan cara : jika keliling dari kelompok tiang tiang lebih
besar daripada jumlah keliling tiang tunggal, maka keruntuhan
blok mungkin tidak terjadi. Keruntuhan blok hanya terjadi jika
jarak tiang sangat dekat, yaitu s/d < 2 sehingga kondisi
keruntuhan ini jarang terjadi. Akan tetapi, jika jarak tiang
tersebut betul betul ada maka efisiensi Eg = (keliling kelompok
tiang)/(jumlah keliling tiang tunggal) harus diperhitungkan
2. Kapasitas dukung kelompok tiang dalam tanah kohesif akan
tereduksi sementara jika terjadi kenaikan kelebihan air pori.
Efisiensi kelompok tiang (Eg) kira kira 0,4 0,8 tapi akan
bertambah dengan berjalannya waktu. Jika s > 2d, E g kadang
kadang mencapai 1. Kecepatan kenaikan Eg tersebut tergantung
pada kecepatan berkurangnya kelebihan tekanan air. Kelompok
tiang yang jumlahnya kecil, mungkin E g = 1 akan tercapai dalam
waktu 1 sampai 2 bulan. Waktu ini mungkin lebih besar daripada
kecepatan pembebanannya. Untuk kelompok tiang yang lebih
besar, waktu untuk mencapai Eg = 1 mungkin lebih dari 1 tahun

3. Kelompok tiang dalam tanah granuler akan mencapai kappasitas


maksimumnya hampir segera setelah pemancangan karena
kelebihan tekanan air pori selalu nol. Efisiensi kelompok tiang
paling sedikit 1 (jika s > 2d) dan sering lebih besar 1 terutama
jika jarak tiang kecil dan tiang dipancang mengakibatkan
perpindahan tanah yang besar (large displacement pile). Untuk
maksud praktis, faktor efisiensi jangan lebih dari 1,25
4. Jika pemancangan dilakukan dengan pengeboran tanah terlebih
dahulu (predrilling), yaitu jika tanah granuler sangat padat maka
tanah granuler menjadi longgar sehingga efisiensi kelompok
tiang kurang dari 1. Karena itu, hindari atau kurangi pengeboran
dengan semprotan atau pengeboran lebih dulu.
Dalam perancangan tiang, nilai efisiensi kelompok tiang (Eg)
dalam tanah granuler sebaiknya tidak lebih dari 1.
2.6

Penurunan
2.6.1 Jenis Penurunan Tanah
Penurunan pondasi akibat pembebanan dapat dikelompokkan dalam 2 (dua)
kelompok utama, yaitu penurunan segera atau penurunan elastis (innediate/elastic
settlement) dan penurunan konsolidasi (consolidation settlement). Penurunan
segera terjadi selama atau segera setelah pelaksanaan struktur/bangunan.
Penurunan konsolidasi tergantung dari waktu yang mana merupakan akibat
dari keluarmya air pori dari rongga pori tanah lempung jenuh. Jumlah dari dua
penurunan tersebut (penurunan segera dan penurunan konsolidasi) adalah
penurunan total yang terjadi.

Penurunan konsolidasi sendiri terbagi menjadi 2 (dua) tahap yaitu


penururnan konsolidasi primer dan penurunan konsolidasi sekunder. Penurunan
konsolidasi primer merupakan akibat dari kenaikan tegangan. Hal ini disebabkan
oleh pembebanan yang membuat keluarnya air pori sehingga tanah akan
mengalami pemampatan. Karena koefisien permeabilitas sangat kecil maka proses
keluarnya air pori ini berjalan sangat lama.
Penurunan konsolidasi sekunder terjadi setelah penurunan konsolidasi
primer telah selesai. Penurunan konsolidasi sekunder disebabkan oleh reorientasi
2.6.2

butiran tanah pada beban yang tetap.


Tekanan Sentuh (Contact Pressure)
Tekanan sentuh atau tekanan kontak adalah tekanan yang terjadi pada bidang
kontak antara dasar pondasi dan tanah. Pada prakteknya, tekanan sentuh ini juga
disebut tegangan (Bearing Pressure). Dalam menghitung penurunan yang terjadi,
penyebaran tekanan pondasi ke tanah dibawah merupakan pertimbangan pertama.
Hal ini sangat bergantung pada kekakuan pondasi dan sifat sifat tanah. Intensitas
tekanan akibat beban pondasi ke tanah dibawahnya semakin ke bawah semakin
berkurang.

Gambar 2.11 Penurunan segera dan tekanan sentuh pada lempung : (a) pondasi flexible
dan (b) pondasi kaku

2.6.3

Distribusi Tegangan Dalam Tanah


Tanah tanpa dibebani oleh suatu beban pondasi telah mengalami tekanan
yang diakibatkan dari beban sendiri tanah tersebut. Tekanan ini disebut tekanan
overburden. Sehingga tegangan tanah yang terjadi akibat beban pondasi di
permukaan tanah dinyatakan dalam istilah tambahan tegangan. Analisis untuk
tegangan yang terjadi dalam tanah berdasarkan pada asumsi bahwa tanah tersebut
bersifat elastis, homogen, isotropis, dan terdapat hubungan linear antara tegangan

2.6.4

dan regangan.
Penurunan Pondasi pada Tanah Kohesif
Untuk mempelajari penurunan pondasi pada tanah lempung, salah satu cara
adalah dengan cara mengukur kompresilitas tanah di laboraturium menggunakan
syarat batas yang sama dengan kondisi di lapangan.
Cara alternative adalah dengan menggunakan hasil konsolidasi standar
dengan memodifikasinya untuk menghitung penurunan yang memperhitungkan
regangan

lateral.

Seperti

telah

dijelaskan

bahwa

penurunan

pondasi

dikelompokkan dalam 3 (tiga) komponen :


Penurunan distorsi atau penurunan elastis atau penurunan segera (si)
Penurunan konsolidasi primer (sc)
Penurunan konsolidasi sekunder (ss)
Sehingga penurunan total s = si + sc + ss
2.6.4.1 Penurunan Segera
Penurunan segera adalah penurunan karena sifat elastis dari tanah
itu sendiri dan penurunan ini terjadi sangatlah cepat sesuai dengan
penerapan beban pada tanah tersebut. Berdasarkan teori elastis,
penurunan segera di bawah pusat beban fleksibel pada tanah lempung
adalah :

d =

( q zD ) B
Eu

I0 . I1

dimana :
d = penurunan segera
q = q zD = tegangan netto pada dasar pondasi
B = lebar pondasi
I0, I1 = faktor pengaruh
Eu = modulus elastisitas tanah pada kondisi tak terdrainasi
2.6.4.2

Penurunan Konsolidasi (Consolidation Settlement)


Pengurangan volume air pori akan menyebabkan pengurangan
volume tanah. Pengurangan volume tanah akan berlangsung lama dan
tergantung waktu (time dependent) yang dikarenakan oleh permeabilitas
tanah lempung yang rendah. Proses pengurangan volume tanah ini
disebut proses konsolidasi. Persamaan untuk menghitung penurunan
konsolidasi di bawah pondasi adalah :
Cc
0+
Sc = 1+ e 0 . H . log
0
Apabila kita memperhitungkan kekakuan pondasi, konsolidasi tiga
dimensi, dan bila perhitungan penurunan konsolidasi dibuat dalam n
lapisan maka secara umum persamaan penurunan konsolidasi adalah :
Cc
0+
Sc = r . 1+ e 0 . H . log
0
Dimana :
Sc = penurunani nkonsolidasi
=1
r = faktor kekakuan pondasi
= koefisien 3 dimensi
Cc = indek kompresi/kemampatan
e0 = angka pori sebelum pembebanan
H = tebal lapisan tanah
0 = tegangan vertical efektif mula mula sebelum pembebanan
= kenaikan tegangan akibat pembebanan

2.6.4.3

Penurunan Konsolidasi Sekunder


Penurunan konsolidasi sekunder adalah regangan tanah yang terus
berlanjut setelah tekanan air pori lebih (Excess Pore Water Pressure)

mencapai keseimbangan. Biasanya penurunan konsolidasi sekunder di


2.6.5

bawah telapak pondasi relative kecil sehingga penurunan ini diabaikan.


Penurunan Ijin
Pada perencanaan struktur/bangunan membutuhkan perkiraan besarnya
penurunan maksimum dan perbedaan penurunan yang masih diijinkan untuk
terjadi. Jika penurunan berjalan lambat maka semakin besar kemungkinan
struktur/bangunan untuk menyesuaikan diri terhadap penurunan yang terjadi tanpa
adanya kerusakan struktur akibat pengaruh rangkak.

Batas penurunan maksimum


Jenis pondasi
Pondasi terpisah pada tanah lempung

(mm)
65

Pondasi terpisah pada tanah pasir

40

Pondasi rakit pada tanah lempung

65 100

Pondasi rakit pada tanah pasir

40 - 65

Tabel Batas penurunan maksimum Skempton dan MacDonald (1995)