Anda di halaman 1dari 27

KURSUS KESETIMBANGAN AIR (METODE NRECA)

Untuk mengetahui potensi sumber daya air pada suatu wilayah


perlu dilakukan analisis ketersediaan debit. Analisis ini pada
prinsipnya adalah untuk mendapatkan data turut waktu (time
series) yang andal yang cukup panjang pada setiap simpul aliran
(pada sub-DPS yang terletak dibagian hulu). Permasalahannya
terletak

pada

data

debit

yang

sangat

terbatas

jumlah

ketersediaannya, sehingga perlu dilakukan analisis pembangkitan


data debit atas dasar data-data hujan dan iklim. Sebagai ilustrasi
dapat dilihat pada Gambar 1.
D a ta h u ja n

D a t a I k li m

A re a l R a in f a ll

E v a p o tr a n s p ir a s i

M o d e l R a in f a ll- R u n o f f

K l a s if ik a s i & V e r if i k a s i

D a ta D e b it

K e te rs e d ia n a ir :
t im e s e r ie s r u n o f f
u n tu k s e tia p S W S /S u b - S W S

Gambar 1 Skema pembangkitan debit aliran sintesis dalam bentuk


time-series.
Secara garis besar langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah:
1.

Analisis data hujan dan iklim,

2.

Analisis data debit aliran

3.

Pembangkitan data debit,dan

4.

Analisis frekwensi mengenai debit aliran rendah.

Model rainfall-runoff merupakan model hidrologi analisis hubungan


curah hujan dan debit aliran sungai yang dikembangkan sesuai
dengan kebutuhan yang bersifat hidrologis.
Model yang dipakai pada studi ini adalah model parametrik atau
model

yang

mencoba

mensimulasikan

kondisi

fisik

dengan

deskripsi matematik yang deterministik yang mengikut-sertakan


sebanyak mungkin perkiraan hukum fisika yang berkaitan dengan
hidrologi

permukaan.

Interprestasi

fisik

diekspresikan

dalam

bentuk parameter dari model.


Dalam

model

ini

tidak

dilakukan

simulasi

stokastik

yang

menggambarkan rekaman hidrologi dalam cara statistik dan


menggunakan

deskripsi

statistik

untuk

membentuk

rekaman

sintentik yang hampir mirip. Setiap model punya kelebihan dan


kekurangan dalam mencapai suatu kepentingan tertentu.
Kumpulan parameter yang mewakili prilaku hidrologi di daerah
aliran sungai haruslah diturunkan dari data. Data yang diperlukan
untuk model parametrik adalah curah hujan, debit dan data
hidrologi lainnya. Bila ada data lain yang dapat memperjelas
informasi data aliran debit disungai atau aerah pengaliran sungai,
hal ini sangat mebantu mempercepat pengumpulan data dalam
usaha mencapai tingkat ketetapan perkiraan yang tinggi.
Model-model curah hujan-debit aliran menggunakan anggapan dari
runtut waktu yang stasioner, untuk periode kalibrasi. Dengan
demikian

parameter

model

tidak

berubah

karena

waktu.

Anggapan lain yang digunakan adalah, bila terjadi perubahan


parameter, perubahan tersebut dapat dikaitkan dengan terjadinya
perubahan fisik di DPS, yang terjadi oleh adanya kegiatan manusia.

1.

INVENTARISASI DATA HIDROLOGI

Adapun lingkup pekerjaan inventarisasi pekerjaan hidrologi adalah


sebagai berikut :
1. Pengumpulan data curah hujan
2. Pengumpulan data iklim, yang meliputi :

Data mengenai temperatur / suhu


Data mengenai kelembaban udara
Data mengenai lama penyinaran matahari
Data mengenai kecepatan angin
1.1

Pengumpulan Data Curah Hujan

Pekerjaan

pengumpulan

mendapatkan

data

data

curah

curah

hujan,

hujan

minimal

adalah

untuk

10

untuk
tahun

pengamatan agar analisa dengan prosedur yang benar ataupun


mendekati kebenaran dapat dilakukan.
Untuk data curah hujan yang kurang lengkap, yang mungkin
disebabkan oleh berbagai hal seperti kerusakan alat ataupun hal
lainnya akan dilengkapi dengan menggunakan metode rata-rata
aljabar (rasio normal).
1.2

Pengumpulan Data Iklim

Untuk inventarisasi atau pengumpulan data iklim tidak disyaratkan


jumlah minimal dari data iklim yang dibutuhkan. Selanjutnya dari
Badan Meteorologi dan Geofisika didapat data iklim dari wilayah
yang dianggap mewakili wilayah yang ditinjau. Data iklim tersebut
dapat

dilihat

pada

perhitungan

debit

andalan

dengan

menggunakan model NRECA.


2

ANALISA DATA HIDROLOGI

2.1

Analisa Curah Hujan Rencana

Berdasarkan data hidrologi yang dikumpulkan, dilakukan analisa


data curah hujan untuk mendapatkan debit rencana. Data hujan
yang dikumpulkan adalah data hujan harian maksimum (R H max).

Dari data hujan harian maksimum tersebut dilakukan analisa curah


hujan rencana, dimana curah hujan rencana diambil untuk periode
ulang 5, 10, 25, 50 dan 100 tahun. Perhitungan atau analisa curah
hujan harian maksimum ini dapat dilakukan dengan berbagai
macam analisa frekuensi. Untuk analisa ini digunakan Metode
Gumbel.
Menurut Gumbel, curah hujan untuk suatu periode tertentu dapat
diperoleh dari persamaan berikut :
XT = X + KT SX
SX =

x x

n 1

KT = ( YT Yn ) / Sn
Dimana :
XT : Curah hujan rencana dalam periode T tahun
X : Curah hujan rata-rata
KT : Faktor frekuensi Gumbel
SX : Standar deviasi
T : Periode ulang
N : Jumlah tahun pengamatan
YT : Reduced variated ( tabel )
Yn : Reduced mean ( tabel )
Sn : Reduced standard deviation ( tabel )
Tabel 3

Koefisien Faktor Frekwensi.

Sampel

Yn

Sn

Sampel

Yn

Sn

Sampel

Yn

Sn

10

0.4952

0.9496

41

0.5442

1.1436

71

0.5550

1.1854

11

0.4996

0.9676

42

0.5448

1.1458

72

0.5552

1.1873

12

0.5035

0.9833

43

0.5453

1.1480

73

0.5555

1.1881

13

0.5070

0.9971

44

0.5458

1.1499

74

0.5557

1.1890

14

0.5100

1.0095

45

0.5463

1.1519

75

0.5559

1.1898

15

0.5128

1.0206

46

0.5468

1.1538

76

0.5561

1.1906

16

0.5157

1.0316

47

0.5473

1.1557

77

0.5563

1.1915

17

0.5181

1.0411

48

0.5477

1.1574

78

0.5565

1.1923

18

0.5202

1.0493

49

0.5481

1.1590

79

0.5567

1.1930

19

0.5220

1.0565

50

0.5485

1.1607

80

0.5569

1.1938

20

0.5236

1.0628

51

0.5489

1.1623

81

0.5570

1.1945

21

0.5252

1.0696

52

0.5493

1.1638

82

0.5572

1.1953

22

0.5268

1.0754

53

0.5497

1.1658

83

0.5574

1.1959

23

0.5283

1.0811

54

0.5501

1.1667

84

0.5576

1.1967

24

0.5296

1.0864

55

0.5504

1.1681

85

0.5578

1.1973

25

0.5309

1.0915

56

0.5508

1.1696

86

0.5580

1.1987

26

0.5320

1.0861

57

0.5511

1.1708

87

0.5581

1.1987

27

0.5332

1.1004

58

0.5515

1.1721

88

0.5583

1.1994

28

0.5343

1.1047

59

0.5519

1.1734

89

0.5583

1.2001

29

0.5353

1.1086

60

0.5521

1.1747

90

0.5586

1.2007

30

0.5362

1.1124

61

0.5524

1.1759

91

0.5587

1.2013

31

0.5371

1.1159

62

0.5527

1.1770

92

0.5589

1.2020

32

0.5380

1.1193

63

0.5530

1.1782

93

0.5591

1.2026

33

0.5388

1.1226

64

0.5533

1.1793

94

0.5592

1.2032

34

0.5396

1.1255

65

0.5535

1.1803

95

0.5593

1.2038

35

0.5402

1.1287

66

0.5538

1.1814

96

0.5595

1.2044

36

0.5410

1.1313

67

0.5540

1.1824

97

0.5596

1.2049

37

0.5418

1.1339

68

0.5543

1.1834

98

0.5598

1.2055

38

0.5424

1.1363

69

0.5545

1.1844

99

0.5599

1.2060

39

0.5430

1.1388

70

0.5548

1.1854

100

0.5600

1.2065

40

0.5436

1.1413

Perhitungan

untuk

mendapatkan

hujan

rencana

dengan

menggunakan metode Gumbel dilakukan dalam bentuk tabel, yaitu


sebagai berikut :

Curah Hujan Rata-rata

Kedalaman
berdasarkan

hujan
satu

rata-rata
kali

pada

hujan

daerah

musiman

tertentu,

atau

ditinjau

tahunan

yang

dibutuhkan dalam berbagai jenis masalah hidrologi. Bila suatu


daerah tangkapan memiliki stasiun pengamatan hujan lebih dari
satu, maka akan terdapat hujan maksimum tahunan

yang juga

lebih dari satu.

Metode Aritmatik

Metode yang paling sederhana untuk memperoleh kedalaman ratarata adalah dengan menghitung rata-rata jumlah yang terukur
dalam daerah tersebut secara aritmatik. Metode ini menghasilkan
perkiraan yang baik di daerah datar, bila alat-alat ukurnya
ditempatkan tersebar merata dan masing-masing tangkapannya
tidak bervariasi banyak dari nilai rata-ratanya. Kendala ini dapat
diatasi bila pengaruh-pengaruh topografi dan derajat keterwakilan
daerahnya dipertimbangkan pada waktu pemilihan lokasi-lokasi
alat ukur. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

d 1 d 2 d 3 ... d n
n

di mana
d

Tinggi curah hujan rata-rata areal

dI

Tinggi curah hujan pada pos penakar.

Kelemahannya dari metode ini adalah bila dalam suatu luasan, pos
perhitungan tidak menyebar secara merata.

Metode Thiessen

Cara ini dibuat untuk mengimbangi tidak meratanya distribusi alat


ukur dengan menyediakan faktor pembobot bagi masing-masing
stasiun. Stasiun-stasiunnya diplot pada suatu peta dan garis-garis
yang menghubungkannya digambar. Garis-garis bagi tegak lurus
dari garis-garis penghubung ini membentuk poligon-poligon di

sekitar masing-masing stasiun. Sisi-sisi setiap poligon merupakan


batas luas efektif yang diasumsikan untuk stasiun terserbut.
Curah

hujan

rata-rata

untuk

seluruh

luas

dihitung

dengan

mengalikan hujan pada masing-masing stasiun dengan presentasi


luas yang ada dan kemudian menjumlahkannya. Metode ini
menganggap variasi hujan adalah linier antar stasiun-stasiun dan
menyerahkan masing-masing segmen pada segmen terdekat. Hasil
perhitungan dengan metode ini lebih teliti dibandingkan dengan
menggunakan metode aritmatik.
Rumusnya adalah sebagai berikut
d

A .d
A
i

dimana :
AI =

Luas areal ke-i

1,2,3,...,n

Tinggi curah hujan rata-rata areal

dI

Tinggi curah hujan dipos ke-i

2.2 Analisa Debit Banjir Rencana


Dari hasil yang didapat melalui analisa curah hujan, kemudian
dilanjutkan dengan menganalisa atau menghitung debit banjir
rencana. Metode yang akan digunakan adalah metode Weduwen
(untuk luas daerah pengaliran yang kurang dari 100 km2), metode
Haspers

dan

pengaliran

metode

yang

tidak

Hidrograf

Satuan

ditentukan.

(untuk

Ketiga

luas

metode

daerah
tersebut

memungkinkan jika digunakan untuk luas DAS dari daerah yang


ditinjau lebih kecil dari 100 km2.
2.2.1 Metode Hidrograf Satuan
Metode ini dapat dipakai untuk luas daerah pengaliran sembarang.
Hidrograf satuan yang akan dipergunakan dalam perhitungan

adalah

Hidrograf

Satuan

Sintetik

Snyder.

Unsur-unsur

yang

dipergunakan dalam hidrograf ini antara lain :


A = Luas daerah pengaliran ( km2 )
L = Panjang aliran utama ( km )
Lc = Panjang antara titik berat daerah pengaliran dengan outlet
Koefisien-koefisien Ct dan Cp sebenarnya harus ditentukan secara
empirik karena besarnya berubah-ubah antara daerah yang satu
dengan daerah yang lainnya. Dalam satuan metrik besar Ct antara
0.75 dan 3.00 sedangkan Cp berada antara 0.9 hingga 1.4.
Belakangan banyak digunakan rumus Snyder yang telah diubah.
Perubahan

rumus

Snyder

yang

telah

banyak

digunakan

di

Indonesia adalah sebagai berikut :


- tp = Ct*( L*Lc )0,3
- tc = tp/5,5

tr = 1 jam

Jika :
tc > tr,

maka

t'p

tp + 0,25 ( tr - tc )

sehingga ;

Tp = t'p + 0,5
tc < tr, maka : Tp = t'p + 0,5
- qp = 0,278 ( Cp / Tp )
- Qp = qp*A
Dimana

untuk hujan 1 mm/jam

qp = Puncak hidrograf
Qp = Debit puncak ( m3/s/mm )
tp =

Waktu antara titik berat curah hujan hingga puncak


(time lag) dalam

jam

Tp = Waktu yang diperlukan antara permulaan hujan hingga


puncak hidrograf.
Selanjutnya

perhitungan

dilakukan

secara

tabelaris

sehingga

didapatkan besarnya debit banjir rencana ( Qn ) untuk beberapa


periode ulang, yaitu sebagai berikut :

2.2.2 Metode Der Weduwen


Untuk metode Der Weduwen rumus yang akan digunakan adalah :

t 1
*A
t 9
120 A

120

0.476 * A 0.375
( a * b * q ) 0.125 * I 0.25

Qn = mn . a. b .A . q . ( R70 / 240 )
4 .1
a 1 q 67.65
(b *t
q )1.45
7

Dimana :
Qn

= Debit maksimum untuk periode ulang n tahun

mn

= Koefisien yang tergantung pada periode ulang yang

ditetapkan
A

= Luas DAS dalam km2

= Koefisien aliran

= Koefisien reduksi

= Intensitas hujan maksimum untuk periode ulang


tertentu

periode

10

25

50

100

0.49

0.602

0.705

0.845

0.940

1.050

dilakukan

secara

ulang
Mn
Selanjutnya

2
perhitungan

tabelaris

sehingga

didapatkan besarnya debit banjir rencana ( Qn ) untuk beberapa


periode ulang
2.2.3 Metode Haspers
Untuk cara Haspers rumus yang digunakan adalah :
Qn = a.b.q. A

a = ( 1 + 0,012 A

0,7

) / ( 1 + 0,075 A

0,7

1
t 3.7 * 10 0.4*t A 0.75
1
*
b
12
(t 2 15)

t = 0,1 L

0,8

0,3

Untuk t < 2 jam, maka :

t * Rt
1 t 0.0008 * ( 260 Rt ) * ( 2 t ) 2

Untuk 2 jam < t < 19 jam, maka :

t * Rt
t 1

r 0.707 * Rt * (t 1) 0.5

Untuk 19 jam < t < 30 hari, maka :

q = r / 3,6 t ---------------- untuk t dalam jam


q = r / 86,4 t --------------- untuk t dalam hari
Dimana :
Qn

= Debit maksimum untuk periode ulang n tahun

mn

= Koefisien yang tergantung pada periode ulang yang

ditetapkan
A

= Luas DAS dalam km2

= Koefisien aliran

= Koefisien reduksi

= Intensitas hujan maksimum untuk periode ulang


tertentu

Selanjutnya

perhitungan

dilakukan

secara

tabelaris

sehingga

didapatkan besarnya debit banjir rencana ( Qn ) untuk beberapa


periode ulang

10

2.2.4 Metode Rasional


Metode ini adalah tertua untuk menghitung debit banjir dari curah
hujan. Rumus ini banyak digunakan untuk perencanaan drainase
daerah pengaliran yang relatif sempit. Metode rasional hanya
digunakan untuk menentukan banjir maksimum bagi saluransaluran kecil, kira-kira 100 200 acres atau 40 80 hektar.
Metode ini pertama kali digunakan di Irlandia oleh Mulvaney pada
tahun 1847. Bentuk umum rumus yang digunakan adalah sebagai
berikut :
Q = 0,278 . C . I . A
Dimana :
Q

= Debit banjir maksimum, m3 / dtk

= Koefisien pengaliran

= Intensitas curah hujan, mm / jam

= Luas DAS, km2

3. KETERSEDIAAN AIR
Untuk mengetahui potensi air pada suatu daerah aliran sungai baik
untuk tujuan khusus seperti untuk pembuatan bendungan untuk
keperluan pembangkit listrik atau untuk keperluan irigasi maupun
untuk tujuan yang lebih umum seperti pembuatan master plan
konservasi sumber daya air, perkiraan tentang ketersediaan air
adalah penting. Tujuan tersebut tidak akan pernah terwujud jika air
yang diperlukan tidak tersedia ataupun tidak mencukupi.
Oleh karena itu masalah siklus hidrologi , dimana air berada pada
suatu mata rantai yang terus berputar tanpa henti harus dipahami
terlebih dahulu. Perputaran yang terus-menerus ini mengakibatkan
air di bumi secara kuantitas tidak berubah. Berkurang atau

bertambahnya komponen-komponen yang mempengaruhi siklus


akan mengakibatkan terganggunya kesetimbangan yang ada.
3.1

Siklus Hidrologi

Panas matahari akan menyebabkan terjadinya evapotranspirasi.


Uap air hasil dari penguapan ini pada ketinggian tertentu akan
berubah menjadi awan, yang kemudian akan mengalami proses
kondensasi

yang

akhirnya

akan

menjadi

presipitasi.

Adapun

presipitasi di Indonesia hanya dalam bentuk embun atau air hujan.


Sebagian air hujan yang sampai ke permukaan tanah dikenal
dengan water surplus akan wasuk ke dalam tanah atau mengalami
proses infiltrasi. Bagian yang lain merupakan kelebihan dan kan
mengisi lekuk-lekuk permukaan tanah, mengalir ke daerah yang
lebih rendah, masuk ke sungai dan akhirnya akan menuju ke laut.
Air ini dikenal sebagai surfase run water (direct run of) .
Tidak semua butir air yang mengalir di permukaan tanah akan
sampai di laut, dalam perjalanannya sebagian akan menguap
kembali ke atmosfir. Sebagian air yang masuk ke dalam tanah akan
mengalir ke sungai yang disebut dengan aliran intra (interflow)
atau sering juga disebut base flow. Namun sebagian besar akan
tersimpan sebagai air tanah . Air tanah ini juga menyumbang base
flow, tetapi karena letaknya yang dalam, air tanah ini hanya akan
keluar di daerah rendah seperti pantai dan akhirnya ke laut dan di
laut terjadi juga proses penguapan. Begitu seterusnya dan siklus
kembali berputar.
3.2

Model NRECA

Salah satu model yang dipakai dalam menghitung ketersediaan air


adalah

model

NRECA.

Model

NRECA

menstimulasikan

kesetimbangan air bulanan pada suatu daerah tangkapan yang


ditujukan untuk menghitung total run off dari nilai curah hujan

12

bulanan, evapotranspirasi, kelembaban tanah dan tersediaan air


tanah. Model kesetimbangan air dari NRECA ini didasarkan pada
proses kesetimbangan air yang telah umum yaitu hujan yang jatuh
di atas permukaan tanah dan tumbuhan penutup lahan sebagian
akan menguap, sebagian akan menjadi aliran permukaan dan
sebagian lagi akan meresap masuk ke dalam tanah. Infiltrasi air
akan menjenuhkan tanah permukaan dan kemudian air merambat
menjadi perkolasi dan keluar menuju sungai sebagai aliran dasar.
Perbedaan model NRECA dengan model kesetimbangan air yang
lain hanyalah pada jumlah parameter yang diambil.
3.2.1 Data Masukan
Data masukan yang diperlukan untuk model NRECA ini antara
lain ;

Hujan bulanan
Evapotranspirasi
Temperatur rata-rata bulanan
Sinar matahari
Kelembaban relatif
Kecepatan angin
Kondisi awal kadar kelembapan tanah
Tampungan awal air tanah
Index soil moisture storage capacity

pada

daerah

tangkapan

Persentase run of yang mengalir pada jalur subsurface


Persentase air yang masuk menjadi aliran air tanah
3.2.2 Hujan Bulanan

13

Hujan bulanan yang dipakai dalam perhitungan NRECA adalah


hujan bulanan hasil pengukuran.Berdasarkan curah hujan yang
turun, bulan hujan dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu :

Kelompok bulan kering : Jumlah curah hujan kurang dari


60 mm

setiap bulannya.

Kelompok bulan lembab : Jumlah curah hujan antara 60100 mm

Kelompok bulan basah

setiap bulannya.

Jumlah curah hujan lebih dari

100 mm setiap bulannya.

3.2.3 Evapotranspirasi
Faktor penentu yang lain pada tersedianya air permukaan setelah
hujan

adalah

evapotranspirasi.

Evapotranspirasi

merupakan

banyaknya air yang dilepaskan ke udara dalam bentuk uap air yang
dihasilkan dari proses evaporasi dan transpirasi. Evaporasi /
penguapan adalah suatu proses perubahan dari molekul air dalam
wujud cair ke dalam wujud gas. Evaporasi terjadi apabila terdapat
perbedaan tekanan uap air antara permukaan dan udara di
atasnya. Evaporasi terjadi pada permukaan badan-badan air,
misalnya danau, sungai dan genangan air.
Transpirasi adalah suatu proses ketika air di dalam tumbuhan
dilimpahkan ke atmosfir dalam wujud uap air. Pada saat transpirasi
berlangsung, tanah tempat tumbuhan berada juga mengalami
kehilangan kelembaban akibat evaporasi. Transpirasi dapat terjadi
jika tekanan uap air di dalam sel daun lebih tinggi daripada
tekanan uap air di udara. Dalam beberapa penerapan hidrologi,
proses evaporasi dan transpirasi dapat dianggap sebagai satu
kesatuan sebagai evapotranspirasi.

14

Besarnya limpasan atau run off dapat diperkirakan dari selisih


antara hujan evapotranspirasi. Cara ini memberikan pendekatan
yang lebih memuaskan dari pada pemakaian koefisien run off
terutama untuk daerah tropis seperti Indonesia, dimana daerah
tersebut mempunyai curah hujan dan kelembaban dalam tanah
sehingga air tidak membatasi evapotranspirasi sepanjang tahun
kecuali untuk beberapa wilayah di Indonesia.
Pada kondisi atmosfir tertentu evapotranspirasi tergantung pada
keberadaan air. Jika kandungan air dalam tanah selalu dapat
memenuhi kelembaban yang dibutuhkan oleh tanaman, digunakan
istilah

evapotranspirasi

potensial.

Evapotranspirasi

yang

sebenarnya terjadi pada kondisi spesifik tertentu, dan disebut


evapotranspirasi

aktual.

Faktor-faktor

yang

mempengaruhi

evapotranspirasi antara lain adalah temperatur, kecepatan angin,


kelembapan udara dan penyinaran matahari.

Temperatur

Jika faktor lain dibiarkan konstan, tingkat evaporasi meningkat


seiring dengan peningkatan temperatur air. Walaupun secara
umum terdapat peningkatan evaporasi seiring dengan peningkatan
temperatur udara, ternyata tidak terdapat korelasi yang tinggi
antara tingkat evaporasi dengan temperatur udara.

Kecepatan angin

Angin berperan dalam proses pemindahan lapisan udara jenuh dan


menggantikannya dengan lapisan udara lain sehingga evaporasi
dapat berjalan terus. Jika kecepatan angin cukup tinggi untuk
memindahkan seluruh udara jenuh, peningkatan kecepatan angin
lebih lanjut tidak berpengaruh terhadap evaporasi. Maka tingkat
evaporasi meningkat seiring dengan kecepatan angin hingga suatu
kecepatan kritis, dimana kecepatan angin tidak lagi mempengaruhi
tingkat evaporasi.

15

Kelembaban udara

Jika kelembaban naik, kemampuannya untuk menyerap uap air


akan

berkurang

sehingga

laju

evaporasi

akan

menurun.

Penggantian lapisan udara pada batas tanah dan udara dengan


udara yang sama kelembaban relatifnya tidak akan menolong untuk
memperbesar laju evaporasi.

Penyinaran matahari

Evporasi merupakan konversi air ke dalam uap air. Proses ini


terjadi hampir tanpa berhenti di siang hari dan kadangkala di
malam

hari.

Perubahan

dari

keadaan

cair

menjadi

gas

ini

memerlukan input energi yaitu berupa panas untuk evaporasi.


Proses tersebut akan sangat aktif jika ada penyinaran langsung dai
matahari. Awan merupakan penghalang radiasi matahari dan akan
mengurangi input energi.
Banyak

metode

telah

dikembangkan

untuk

memperkirakan

besarnya evapotranpirasi dengan menggunakan data klimatologi.


Hal ini disebabkan karena kurangnya data lapangan dan sulitnya
untuk mendapatkan data evapotranspirasi yang akurat.
Ada beberapa metode dalam penentuan evapotranspirasi potensial
diantaranya yaitu metode Thornwaite, Blaney Criddle dan Penman
modifikasi. Ketiga metode tersebut berbeda dalam macam data
yang

digunakan

untuk

perhitungan.

Metode

Thornwaite

memerlukan data temperatur dan letak geografis. Metode Blaney


Criddle

memerlukan

data

temperatur

dan

data

prosentase

penyinaran matahari. Metode Penman modifikasi memerlukan data


temperatur, kelembaban udara,

prosentase penyinaran matahari

dan kecepatan angin.

16

Pemilihan metode tergantung dari data yang tersedia. Di lapangan


biasanya

digunakan

lysimeter

untuk

mempercepat

dan

mempermudah perhitungan. Untuk perhitungan di atas kertas,


lebih

baik

menggunakan

metode

Penman

modifikasi,

sebab

menghasilkan perhitungan yang lebih akurat. Selain itu, metode


Penman modifikasi ini mempunyai cakupan data meteorologi yang
digunakan adalah yang paling lengkap di antara metode-metode
yang lain.
3.2.4 Persamaan Penman
Perhitungan evapotranspirasi dengan metode Penman Modifikasi
memasukkan faktor-faktor sebagai berikut ;

Temperatur udara
Penyinaran matahari
Kelembaban udara
Kecepatan angin
Persamaan

yang

digunakan

untuk

menghitung

besarnya

evapotranspirasi metode ini adalah:

E = C *(W*Rn + (1-W)*f(u)*(ea-ed))
dimana:
E = evapotransprasi potensial harian (mm/hari)
C = faktor pengatur
W = faktor pemberat (weigting factor)
Rn = Radiasi netto
= Rnl- Rns dimana :
Rns

Radiasi

gelombang

pendek

yang

diserap

(mm/hhari)
Rns

= (1 w)*Rs

17

Rs

= Radiasi gelombang pendek yang diterima

(mm/hari)
u
)*Ra
N

Rs

= (0,25 +

Ra

= Extra terestrial radiation

Rnl

Radiasi

gelombang

pendek

yang

dipancarkan(mm/hhari)
= f(T)*f(n/N)*f(ed)
f(T)

= TK4

= konstanta Stefan-Boltzman = 2.01 x 10 -9


mm/hari
TK

= temperatur (Kelvin)

f(n/N) = 0,1 + 0,9(n/N)


n/N

= perbandingan penyinaran matahari aktual dan

maksimal
f(ed) = 0,34 0,044

ed

Dengan
f(u) = Fungsi dari kecepatan angin
= 0,27 (

1 u
) dimana u = kecepatan angin (km/hari)
100

ea

= Tekanan uap jenuh

ed

= Tekanan uap aktual


= ea *

Rh
100

Penyinaran Matahari

Temperatur Udara

Data Kecepatan Angin

Data Kelembaban Udara

3.2.5 Perhitungan evaporasi

18

Besarnya

evaporasi

dihitung

menggunakan

Formula

Meyer.

Persamaan yang digunakan adalah :


u

E L K M ew ea 1 9
16

dimana:
u9 = rata-rata kecepatan angin bulanan 9 m dari permukaan
tanah (km/hari)
KM =

koefisien, besarnya berkisar antara 0,36 0,50 ( K.


Subramanya, 1989)

3.2.6 Perhitungan ketersediaan air dengan Model NRECA


Metode perhitungan yang dilakukan untuk ketersediaan air ini
menggunakan data hujan bulanan dan evapotranspirasi untuk
menghitung

debit

bulanan

yang

terjadi.

Persamaan

dasar

tangkapan

yang

keseimbangan air yang digunakan :


RO = P AE + S
dimana :
P

= presipitasi

AE

= penguapan aktual

= perubahan tampungan

RO

= aliran permukaan

Beberapa

parameter

karakteristik

daerah

digunakan dalam model hujan limpasan ini diuraikan sebagai


berikut :
*0 NOMINAL
Index soil moisture storage capacity pada daerah tangkapan.
*1 PSUB
Persentase runoff yang mengalir pada jalur subsurface.
*2 GWF
Persentase air yang masuk menjadi aliran air tanah

19

Karakteristik-karakteristik tersebut dapat diperkirakan dengan


cara sebagaimana berikut:
*3 NOMINAL
100 +C*( hujan tahunan rata-rata), dimana
C = 0.2, untuk daerah dengan hujan sepanjang tahun, dan
C < 0.2, untuk daerah dengan hujan musiman.
Harga NOMINAL dapat dikurangi hingga 25% untuk daerah
dengan tetumbuhan terbatas dan penutup tanah yang tipis.
*4 PSUB
PSUB = 0.5 untuk daerah tangkapan hujan yang normal / biasa,
0.5 < PSUB 0.9 untuk daerah dengan akuifer permeabel yang
besar
0.3 PSUB < 0.5 untuk daerah dengan akuifer terbatas dan
lapisan tanah yang tipis.
*5 GWF
GWF = 0.5 untuk daerah tangkapan hujan yang normal / biasa,
0.5 < GWF 0.8 untuk daerah yang memiliki aliran menerus
yang kecil,
0.2 GWF < 0.5 untuk daerah yang memiliki aliran menerus
yang dapat diandalkan.

Contoh tampilan model NRECA yang telah dimodifikasi dapat


dilihat pada Tabel 11.

20

Tabel 11

Contoh Tampilan Model NRECA

1
DATE

2
Precip

3
PET

4
MOISTR
STORAGE

5
STOR
RATIO

yyyy-mm

days

(mm)

(mm)

(mm)

Nominal:
443

1993-01
1993-02
1993-03
1993-04
1993-05
1993-06
1993-07
1993-08
1993-09
1993-10
1993-11
1993-12

31
28
31
30
31
30
31
31
30
31
30
31

225
153
188
176
204
140
83
36
81
103
149
180

63
57
63
61
63
61
63
63
61
63
61
63

768
772
774
777
780
783
784
784
761
761
762
765

1.77
1.77
1.71
1.72
1.72
1.72
1.73
1.74
1.75
1.77
1.77
1.77

10
EXCESS
MOIST
RATIO

0.97
0.98
0.98
0.98
0.98
0.98
0.98
0.00
0.97
0.97
0.97
0.97

11
EXCESS
MOIST

12
DELTA
STORAGE

13
RECHG
TO GW

(mm)

(mm)

(mm)
PSUB :
0.6

158
94
122
113
138
78
20
0
20
39
86
114

4
2
3
2
3
2
0
-24
1
1
2
3

95
56
73
68
83
47
12
0
12
23
51
68

6
PRECIP/
PET

3.58
2.69
2.99
2.89
3.24
2.30
1.32
0.57
1.33
1.64
2.45
2.86

7
AET/PET

1.00
0.95
1.00
1.00
1.00
1.00
1.00
1.00
1.00
1.00
1.00
1.00

8
AET

9
WATER
BALANCE

(mm)

(mm)

62.9
56.8
62.9
60.9
62.9
60.9
62.9
59.8
60.9
62.9
60.9
62.9

162
96
125
115
141
79
20
-24
20
40
88
117

14
BEGIN
STOR
GW
(mm)

15
END
STOR
GW
(mm)

16
GW
FLOW

17
18
DIRECT Observed
FLOW
DISC

19
Total

(mm)
GWF :
0.7

(mm)

(mm)

(mm)

26
36
28
30
29
34
24
11
3
4
8
18

121
93
101
98
112
80
36
11
15
28
60
86

85
65
71
69
79
56
25
8
10
19
42
60

63
38
49
45
55
31
8
0
8
16
34
46

139
95
113
121
136
84
75
14
20
26
82
106

148
102
120
114
134
87
33
8
18
35
76
106

Keterangan :
KOLOM
1
2
3
4

KETERANGAN
Tanggal dan jumlah hari data yang bersangkutan
Presipitasi (mm)
Evapotranspirasi potensial (PET) (mm)
Penyimpanan kadar kelembaban tanah (moisture
storage)

(mm).

Harga

kadar

kelembaban

tanah

ditetapkan sebagai kondisi awal dan digunakan untuk

21

perhitungan selanjutnya.
Moisture Storage (i) = Moisture Storage (i-1) + Delta
5

Storage (i-1)
Rasio peyimpanan (Storage Ratio)
MoistureSt orage i
No min al
Presipitasi / Evapotranspirasi potensial
Evapotranspirasi aktual (AET) / Evapotranpirasi

Storage Ratio (I) =


6
7

potensial (PET). Harga ini didapatkan dengan bantuan


8

grafik pada Gambar 5.3.


Evapotranspirasi aktual (AET). Harga ini didapatkan
dengan mengalikan kolom (3) dengan kolom (7).

AET (i) = PET(i) x [AET(i)/PET(i)]


Kesetimbangan
air
(water

balance).

kesetimbangan

dari

air

didapatkan

Harga

pengurangan

antara kolom (2) dengan kolom (8)


10

Water Balance (i) = Presipitasi (i) AET (i)


Rasio kelebihan kelembaban tanah (excess moisture
ratio). Jika harga kesetimbangan air pada kolom (9)
positif maka harga rasio kelebihan kelembaban tanah
didapatkan menggunakan bantuan grafik pada gambar
5.10. Jika harga kesetimbangan air pada kolom (9)
negatif maka harga rasio kelebihan kelembaban tanah

11

sama dengan nol.


Kelebihan kelembaban tanah (excess moisture). Harga
ini didapatkan dengan mengalikan harga kolom (10)
dengan kolom (9)
Excess Moisture (i) = Excess Moisture Ratio (i) x

12

Water Balance (i)


Perubahan
tampungan

(delta

storage).

Harga

perubahan tampungan didapatkan dari kolom (9)


dikurangi dengan kolom (11)
Delta Storage (i) = Water Balance (i) Excess
13

Moisture (i)
Pengisian air tanah (recharge to groundwater). Harga
pengisian air tanah didapatkan dengan mengalikan

22

PSUB dengan kolom (11)


Rech. to GW (i) = PSUB x Excess Moisture (I)
14

Tampungan awal air tanah (begin storage GW). Harga


tampungan awal air tanah ditetapkan sebagai kondisi
awal dan digunakan pada perhitungan selanjutnya.
Begin Storage (i) = [End Storage (i 1)] [ Ground

15

Waterflow (I 1)]
Tampungan akhir air tanah (end storage GW). Harga
tampungan

akhir

air

tanah

didaparkan

dari

penjumlahan antara kolom (13) dan kolom (14)


End Storage GW (i) = Rech. to GW (i) + Begin Storage
16

GW (i)
Aliran air tanah (GW flow). Harga aliran air tanah
didapatkan dari perkalian antara GWF dengan kolom
(15)

17

GW Flow (i) = GWF x End Storage (i)


Direct Flow. Harga direct flow didapatkan

dari

pengurangan antara kolom (11) dengan kolom (13)


18

Direct Flow (i) = Excess Moisture (i) Rech. to GW (i)


Debit total (total discharge). Harga debit total
didapatkan dari penjumlahan antara kolom (16) dan
kolom (17)

19

Total (i) = GW Flow (i) + Direct Flow (i)


Debit pengamatan (observed discharge). Harga debit
pengamatan digunakan untuk proses kalibrasi model.
1

A E T /P E T

0.8

0.6

0.4

0.2

0
0

0.2

0.4

0.6

0.8

1.2

1.4

1.6

Pre cip/PET

23

Gambar 2 Grafik Rasio AET/PET (Crawford)


3.2.7 Kalibrasi model
Dari hasil pemodelan dengan model NRECA maka diperoleh
karakteristik DPS yang akan digunakan dalam pemodelan hujanlimpasan sebagai berikut:
*6 NOMINAL

: 443

*7 PSUB

: 0.60

*8 GWF

: 0.70

Nilai nominal didapatkan dari pendekatan :


Nominal = 100+C*(hujan tahunan rata-rata)
Dengan C = 0,2 dan hujan tahunan rata-rata = 1718
mm/tahun
Nominal = 100+0,2(1718) = 443 mm
Nilai PSUB dan GWF didapatkan dengan cara coba-coba sampai
didapatkan nilai debit total hasil NRECA yang mendekati nilai debit
hasil

pengukuran.

Nilai

PSUB

yang

digunakan

adalah

0,6

sedangkan GWF adalah 0,7. Perbandingan beberapa parameter


statistik antara data pengamatan dan hasil pemodelan NRECA
dapat dilihat pada grafik antara data pengamatan dan hasil
pemodelan pada Gambar 2.
Dari hasil kalibrasi model ini selanjutnya dilakukan simulasi untuk
data hujan bulanan dari tahun 1995 sampai dengan tahun 2000 dan
data evapotranspirasi potensial bulanan rata-rata. Pembangunan
yang

pesat

dalam

beberapa

tahun

terakhir

memungkinan

terjadinya perubahan tata guna dan vegetasi penutup lahan.


Sebagai implikasi perubahan tata guna lahan tersebut parameter
model pun dapat mengalami perubahan. Mengingat kalibrasi model

24

menggunakan data tahun 1993 maka untuk simulasi berikutnya


parameter Nominal hasil kalibrasi dikurangi sebanyak 15% untuk
mengantisipasi perubahan tata guna lahan yang terjadi. Nilai
parameter nominal yang digunakan dalam simulasi adalah 377 mm.
3.2.8 Debit masuk total
Daerah tangkapan situ terdiri dari daratan dan muka air situ itu
sendiri. Debit total yang masuk ke situ adalah penjumlahan dari
debit yang berasal dari daratan dan debit yang berasal dari air
hujan yang langsung jatuh ke permukaan situ. Debit yang berasal
dari

daratan

telah

dihitung

menggunakan

model

NRECA

sedangkan debit yang berasal dari air hujan yang jatuh langsung ke
permukaan air situ dihitung menggunakan persamaan yang lebih
sederhana sebagai berikut:
RE
A
t

Q k

dimana:
Q

= debit bulanan (m3/det)

= curah hujan bulanan (mm)

= evaporasi bulanan rata-rata (mm)

= jumlah hari dalam satu bulan (hari)

= luas muka air situ rata-rata (km2)

= faktor konversi satuan = 1/86,4

Pemisahan ini dilakukan karena terdapat perbedaan karakteristik


antara air hujan yang jatuh di permukaan tanah dan di permukaan
air situ. Air yang jatuh di permukaan tanah akan mengalami
proses-proses

seperti

infiltrasi,

pengisian

kelembaban

tanah,

pergerakan air baik di sebagai aliran permukaan maupun air tanah.


Air yang jatuh di permukaan tanah memerlukan selang waktu
tertentu sebelum akhirnya masuk ke dalam tampungan situ. Selain
itu jika permukaan tanah tertutup oleh vegetasi maka akan terjadi

25

evapotraspirasi. Sedangkan air hujan yang jatuh di permukaan situ


langsung mengisi tampungan tanpa memerlukan selang waktu
tertentu.

Air

yang

terdapat

dalam

tampungan

situ

akan

mengalami

evaporasi. Jika pada suatu waktu jumlah curah hujan yang turun
lebih kecil daripada besarnya evaporasi air situ maka debit yang
dihitung menggunakan persamaan di atas akan berharga negatif.
Seandainya debit yang berasal dari daratan di sekitar situ lebih
kecil daripada harga mutlak debit negatif yang berasal dari air
hujan yang jatuh langsung ke permukaan air situ maka debit masuk
total ke situ pun akan berharga negatif. Jika dari hasil simulasi data
didapatkan beberapa debit yang bernilai negatif, maka dalam
perhitungan peramalan debit yang akan dilakukan, debit negatif
diasumsikan

berharga

nol.

Hal

ini

dilakukan

karena

dalam

peramalan debit tidak diperkenankan terdapat hasil perhitungan


debit yang berharga negatif.

3.2.9 Debit Andalan Ketersediaan Air


Untuk mencari debit andalan dilakukan dengan mengurutkan data
debit ketersediaan air dari kecil ke terbesar. Selanjutnya untuk
perencanaan digunakan Q80 dengan kemungkinan tidak terpenuhi
sebesar 20%. Q80 adalah merupakan data ke-M, dimana :
M = (N/5) + 1
Dengan :
Maka

N = jumlah data.
M = ( 6 / 5 ) + 1 = 2,1 2

26

27