Anda di halaman 1dari 2

Perlu adanya proses pendampingan masyarakat secara berkesinambungan

untuk membentuk kebiasaan yang benar dalam mengelola sampah oleh kaderkader lingkungan. Kader lingkungan baik pengurus PKK, pengurus RT/RW atau
tokoh masyarakat berperan sebagai motivator dan fasilitator pada suatu
lingkungan kecil (block leader) dapat membentuk dorongan internal dari
komunitas untuk menginisiasi upaya pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Begitu pula pelaksanaan pemilahan sampah maupun daur ulang di lingkungan
permukiman dipengaruhi oleh adanya dorongan dari dalam komunitas (Maulina,
2012).
Pemerintah sebagai pihak pembuat kebijakan (regulator) berwenang
membuat

kebijakan

tentang

pengelolaan

sampah.

Sehingga

Pemerintah

merupakan pihak yang paling tepat mengambil inisiatif agar program menjadi
gerakan masyarakat. Dalam rangka pelibatan masyarakat dalam perencanaan
program peengelolaan sampah, yang dilakukan adalah manjalin komunikasi
dengan masyarakat melalui pengurus RT/ RW. Pengurus RT/ RW di sini adalah
pihak yang memiliki kapabilitas sebagai fasilitator antara pemerintah dan
masyarakat. Di tempat lain bisa jadi fasilitator tersebut adalah tokoh masyarakat,
tokohagama, LSM, akademisi atau lainnya. Pokok terpenting mereka adalah pihak
yang dipercaya oleh masyarakat dan pemerintah dan memiliki kemampuan
sebagai fasilitator. Hal utama yang harus disampaikan pertama kali dalam
sosialisasi adalah tentang manfaat pengelolaan sampah. Untuk memperkuat
penjelasan tentang manfaat pengelolaan sampah, pemerintah sebaiknya mengajak
pengurus RT/RW untuk melakukan studi banding ke daerah yang telah berhasil
melaksanakan pengelolaan sampah (Praditya, 2012).
Program pengelolaan sampah permukiman berbasis masyarakat yang
sesuai dengan karakteristik permukiman dan masyarakatnya, diharapkan mampu
menumbuhkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah. Program
tersebut tidak lagi hanya bertumpu pada topdown planning, tetapi juga melalui
mekanisme partisipatif, sehingga lebih bersifat bottom-up planning dengan
sebesarbesarnya mengikutsertakan tokoh masyarakat sebagai agent of change. Hal
tersebut menjadi pertimbangan utama bedasarkan pengalaman proyek-proyek
percontohan dengan karakteristik top-down planning yang tidak berjalan, sebab

mengabaikan pentingnya tumbuh dan berkembangnya partisipasi masyarakat


untuk mencapai keberhasilan program. Oleh karena itu, pemerintah sebagai
pemegang kekuasaan (otoritas) dan pengelola sampah, perlu mengembangkan
perangkat kebijakan yang mampu menjawab aspirasi masyarakat untuk
berpartisipasi dalam pengelolaan sampah di lingkungannya (Dinas Kebersihan
DKI Jakarta, 2005).
Sumber:
Dinas Kebersihan DKI Jakarta. 2005. Laporan Survei Lapangan Produksi dan
Komposisi Sampah. WJEMP IBRD Loan 4612-IND / IDA Credit 3519IND. Solid Waste Management for Jakarta : Master Plan Review and
Program Development (TA-Package No. DKI 3- 11).
Maulina, Alin Sri. 2012. Identifikasi Partisipasi Masyarakat Dalam Pemilahan
Sampah Di Kecamatan Cimahi Utara Serta Faktor Yang Mempengaruhinya.
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, Vol. 23 No. 3, Desember 2012, hlm.
177 196. Badan Kerjasama Antar Daerah (BKAD) Kunci Bersama:
Kunigan.
Praditya, Oktyan. 2012. Studi Kualitatif Manajemen Pengelolaan Sampah Di
Kelurahan Sekaran Kota Semarang. Universitas Negeri Semarang:
Semarang.