Anda di halaman 1dari 37

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Hipertensi
II.1.1. Definisi
Hipertensi berasal dari dua kata, hiper adalah tinggi dan tensi adalah
tekanan darah, merupakan penyakit yang sudah lama dikenal. Menurut
American Society of Hypertension (ASH), pengertian hipertensi adalah suatu
sindrom atau kumpulan gejala kardiovaskuler yang progresif, sebagai akibat
dari kondisi lain yang kompleks dan saling berhubungan.2,5
Hipertensi adalah suatu gangguan pada pembuluh darah yang
mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi, yang dibawa oleh darah, terhambat
sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkannya. Tubuh akan bereaksi lapar,
yang mengakibatkan jantung harus bekerja lebih keras untuk memenuhi
kebutuhan tersebut. Bila kondisi tersebut berlangsung lama dan menetap,
timbulah gejala yang disebut sebagai penyakit tekanan darah tinggi.2
Adanya pemahaman yang keliru bahwa hipertensi bukan merupakan
penyakit akan tetapi merupakan sesuatu yang terjadi secara alamiah dengan
pertambahan usia. Hal ini menyebabkan penanganannya menjadi terlambat.
Hipertensi yang dibiarkan tanpa penanganan akan mengakibatkan komplikasi
berupa penyakit jantung dan pembuluh darah, stroke, gangguan fungsi ginjal,
kerusakan mata dan kematian dini. Tekanan darah yang selalu tinggi adalah
salah satu faktor risiko untuk stroke, serangan jantung, gagal jantung dan
merupakan penyebab utama gagal jantung kronis.2,5
Tekanan jantung tidaklah sama setiap saat. Pada saat berolahraga atau
beraktivitas berat lainnya, atau pada keadaan yang emosional, selain
detakannya bertambah cepat, kekuatan pompa tersebut juga bertambah
5

melebihi angka rata-rata pada keadaan istirahat. Untuk itu, sangat tidak
dianjurkan mengukur tekanan darah sewaktu baru selesai beraktivitas (lari,
jalan jauh, naik/turun tangga dan lain-lain) atau dalam keadaan emosi (marah,
sedih, senang dan lain-lain). Angka 140/90 menurut WHO merupakan angka
paling tinggi yang bisa ditolerir jika diukur pada saat beristirahat (aktivitas
normal). Di atas angka tersebut itulah yang disebut Hipertensi atau keadaan
Tekanan Darah Tinggi.6
Hipertensi adalah salah satu faktor risiko penyakit jantung koroner yang
kurang diwaspadai karena bersifat asimtomatis. Banyak penderita yang
mengabaikan perjalanan lanjut hipertensi sehingga disebut juga pembunuh
tersembunyi. Pengelolaan penyakit hipertensi memerlukan pengetahuan
tentang patogenesis dan karakteristik berbagai obat hipertensi, mengingat
pilihan obat harus disesuaikan dengan indikasi serta karakteristik setiap
individu.6
Hipertensi adalah penyakit yang bisa menyerang siapa saja, baik muda
maupun tua, entah orang kaya maupun miskin. Hipertensi merupakan salah
satu penyakit paling mematikan di dunia. Sebanyak 1 milyar orang di dunia
atau 1 dari 4 orang dewasa menderita penyakit ini. Bahkan, diperkirakan
jumlah penderita hipertensi akan meningkat menjadi 1,6 milyar menjelang
tahun 2025.6
Menurut WHO tekanan darah dianggap normal bila sistoliknya 120-140
mmHg dan diastoliknya 80-90 mmHg sedangkan dikatakan Hipertensi bila
lebih dari 140/90 mmHg dan diantara nilai tersebut dikatakan normal tinggi.
Batasan ini berlaku bagi orang dewasa diatas 18 tahun.7
Krisis hipertensi adalah suatu keadaan klinis yang ditandai oleh tekanan
darah yang sangat tinggi (tekanan darah sistolik 180 mm Hg dan / atau
diastolik 120 mmHg yang membutuhkan penanganan segera. Berdasarkan

keterlibatan organ target, krisis hipertensi dibagi menjadi dua kelompok


yaitu:5,6.
a. Hipertensi darurat (emergency hypertension) : kenaikan tekanan darah
mendadak (sistolik 180 mm Hg dan / atau diastolik 120 mm Hg)
dengan kerusakan organ target yang bersifat progresif, sehingga tekanan
darah harus diturunkan segera, dalam hitungan menit sampai jam.
b. Hipertensi mendesak (urgency hypertension) : kenaikan tekanan darah
mendadak (sistolik 180 mm Hg dan / atau diastolik 120 mm Hg) tanpa
kerusakan organ target yang progresif atau minimal. Sehingga penurunan
tekanan darah bisa dilaksanakan lebih lambat, dalam hitung jam sampai
hari.
II.1.2. Etiologi
Pada umumnya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik.
Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan
tekanan perifer. Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya
hipertensi:2,5,6.
a. Genetik: Respon nerologi terhadap stres atau kelainan ekskresi atau
transport Na.
b. Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkan
tekanan darah meningkat.
c. Stres Lingkungan.
d. Hilangnya Elastisitas jaringan dan arterisklerosis pada orang tua serta
pelebaran pembuluh darah.
Berdasarkan etiologinya Hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu:2,5,6,10.
1. Hipertensi Esensial (Primer)
Penyebab tidak diketahui namun banyak faktor yang mempengaruhi
seperti genetika, lingkungan, hiperaktivitas, susunan saraf simpatik,
systemrennin angiotensin, efek dari ekskresi Na, obesitas, merokok dan
stres.
2.

Hipertensi Sekunder
7

Dapat diakibatkan karena penyakit parenkim renal/vakuler renal.


Penggunaan kontrasepsi oral yaitu pil, gangguan endokrin dan lain-lain.
II.1.3. Faktor Risiko2,5,6.
1. Faktor Genetika (Riwayat keluarga)
Hipertensi merupakan suatu kondisi yang bersifat menurun dalam suatu
keluarga. Anak dengan orang tua hipertensi memiliki kemungkinan dua
kali lebih besar untuk menderita hipertensi daripada anak dengan orang
tua yang tekanan darahnya normal.
2. Ras
Orang orang yang hidup di masyarakat barat mengalami hipertensi secara
merata yang lebih tinggi dari pada orang berkulit putih. Hal ini
kemungkinan disebabkan karena tubuh mereka mengolah garam secara
berbeda.
3. Usia
Hipertensi lebih umum terjadi berkaitan dengan usia, Khususnya pada
masyarakat yang banyak mengkonsumsi garam. Wanita pre menopause
cenderung memiliki tekanan darah yang lebih tinggi daripada pria pada
usia yang sama, meskipun perbedaan diantara jenis kelamin kurang
tampak setelah usia 50 tahun. Penyebabnya, sebelum menopause, wanita
relatif terlindungi dari penyakit jantung oleh hormon estrogen. Kadar
estrogen menurun setelah menopause dan wanita mulai menyamai pria
dalam hal penyakit jantung
4. Jenis kelamin
Pria lebih banyak mengalami kemungkinan menderita hipertensi dari pada
wanita. Hipertensi berdasarkan jenis kelamin ini dapat pula dipengaruhi
oleh faktor psikologis. Pada pria seringkali dipicu oleh perilaku tidak
sehat (merokok, kelebihan berat badan), depresi dan rendahnya status
pekerjaan. Sedangkan pada wanita lebih berhubungan dengan pekerjaan
yang mempengaruhi faktor psikiskuat
5. Stress psikis
Stress meningkatkan aktivitas saraf

simpatis,

peningkatan

ini

mempengaruhi meningkatnya tekanan darah secara bertahap. Apabila


8

stress berkepanjangan dapat berakibat tekanan darah menjadi tetap tinggi.


Secara fisiologis apabila seseorang stress maka kelenjer pituitary otak
akan menstimulus kelenjer endokrin untuk mengahasilkan hormon
adrenalin dan hidrokortison kedalam darah sebagai bagian homeostasis
tubuh. Penelitian di AS menemukan enam penyebab utama kematian
karena stress adalah PJK, kanker, paru-paru, kecelakan, pengerasan hati
dan bunuh diri.
6. Obesitas
Pada orang yang obesitas terjadi peningkatan kerja pada jantung
untuk memompa darah agar dapat menggerakan beban berlebih dari tubuh
tersebut. Berat badan yang berlebihan menyebabkan bertambahnya
volume darah dan perluasan sistem sirkulasi. Bila bobot ekstra
dihilangkan, TD dapat turun lebih kurang 0,7/1,5 mmHg setiap kg
penurunan berat badan. Mereduksi berat badan hingga 5-10% dari bobot
total tubuh dapat menurunkan resiko kardiovaskular secara signifikan.
7. Asupan garam Na
Ion natrium mengakibatkan retensi air, sehingga volume darah
bertambahdan menyebabkan daya tahan pembuluh meningkat. Juga
memperkuat efek vasokonstriksi noradrenalin. Secara statistika, ternyata
bahwa pada kelompok penduduk yang mengkonsumsi terlalu banyak
garam terdapat lebih banyak hipertensi daripada orang-orang yang
memakan hanya sedikit garam.
8. Rokok
Nikotin dalam tembakau adalah penyebab tekanan darah meningkat. Hal
ini karena nikotin terserap oleh pembuluh darah yang kecil dalam paru
paru dan disebarkan keseluruh aliran darah. Hanya dibutuhkan waktu 10
detik bagi nikotin untuk sampai ke otak. Otak bereaksi terhadap nikotin
dengan memberikan sinyal kepada kelenjer adrenal untuk melepaskan
efinephrine (adrenalin). Hormon yang sangat kuat ini menyempitkan
pembuluh darah, sehingga memaksa jantung untuk memompa lebih keras
dibawah tekanan yang lebih tinggi.
9

9. Konsumsi alkohol
Alkohol memiliki pengaruh terhadap tekanan darah, dan secara
keseluruhan semakin banyak alkohol yang di minum semakin tinggi
tekanan darah. Tapi pada orang yang tidak meminum minuman keras
memiliki tekanan darah yang agak lebih tinggi dari pada yang meminum
dengan jumlah yang sedikit.
II.1.4. Epidemiologi
Di negara berkembang, sekitar 80 persen penduduk negara mengidap
hipertensi. Hipertensi diperkirakan menjadi penyebab kematian sekitar 7,1
juta orang di seluruh dunia atau sekitar 13 % dari total kematian. The
American

Heart

Association

memperkirakan

tekanan

darah

tinggi

mempengaruhi sekitar satu dari tiga orang dewasa di Amerika Serikat yang
berjumlah 73 juta orang. Tekanan darah tinggi juga diperkirakan
mempengaruhi sekitar dua juta remaja Amerika dan anak-anak. Hipertensi
jelas merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama.4,6.
Di Indonesia terdapat beban ganda dari prevalensi penyakit hipertensi
dan penyakit kardiovaskuler lainnya dengan penyakit infeksi dan malnutrisi.
Prevalensi hipertensi yang tertinggi adalah pada wanita (25%) dan pria (24%).
Rata-rata tekanan darah sistole 127,33 mmHg pada pria indonesia dan 124,13
mmHg pada wanita indonesia. Tekanan diastole 78,10 mmHg pada pria dan
78,56 mmHg pada wanita. Penelitian lain menyebutkan bahwa penyakit
hipertensi terus mengalami kenaikan insiden dan prevalensi, berkaitan erat
dengan perubahan pola makan, penurunan aktivitas fisik, kenaikan kejadian
stres dan lain-lain.1
Di Indonesia berdasarkan hasil survei INA-MONICA (Multinational
Monitoring of Trends and Determinants In Cardiovascular Disease) tahun
1988 angka hipertensi mencapai 14,9%, jumlah penderita hipertensi terus
meningkat hingga 16,9% pada survei 5 tahun kemudian. Gaya hidup modern
telah membuat hipertensi menjadi masalah besar. Di Indonesia saja prevalensi
hipertensi cukup tinggi 7% sampai 22%. Bahkan berdasarkan hasil penelitian,
10

penderita akan berujung pada penyakit jantung 75%, stroke 15%, dan gagal
ginjal 10%.1
II.1.5. Mekanisme Pengaturan Tekanan Darah

Gambar 2.1 Mekanisme Pengaturan Tekanan Darah2

II.1.6. Patofisiologi
Jantung memompa darah melalui pembuluh darah arteri. Dari pembuluh
darah yang besar ke pembuluh darah yang kecil yang disebut arteriol. Arteriol
membagi darah ke pembuluh darah yang lebih kecil lagi yang disebut kapiler.
Tugas kapiler-kapiler ini adalah memberi organ-organ makanan dan oksigen.
Darah akan kembali kejantung melalui pembuluh darah vena.2
Normalnya, pembuluh darah akan mengembang (menerima darah) dan
mengecil (meneruskan darah) melalui sistem persarafan yang kompleks.
Namun peristiwa ini sering kali tidak berjalan mulus. Banyak keadaan
11

(Penyakit atau kelainan) yang bisa membuat pembuluh darah tidak membesar
atau tidak elastis lagi akibatnya akan terjadi kekurangan darah pada organ
tertentu. Jika suatu organ kekurangan oksigen dan sari makanan, maka suatu
proses umpan balik akan terjadi.2,6.
Organ tersebut akan mengirim tanda keotak bahwa membutuhkan darah
lebih banyak. Reaksinya adalah tekanan darah ditingkatkan sayangnya
peningkatan tekanan darah ini juga terjadi pada organ-organ lainnya yang
tidak mengirim tanda tersebut. Dan yang paling beresiko tinggi pada ginjal dan
otak. Tekanan darah yang tinggi pada ginjal dan otak mengakibatkan kerusakan
kedua organ tersebut.2,5,6.

Vasokontriksi arteriol

Naiknya tonus otot polos pembuluh darah

Besarnya curah jantung

Tahanan perifer

Bila sudah berjalan cukup lama

penebalan tunika interna dan hipertropi tunika media

Hipertrofi

hiperplasi

maka sirkulasi darah dalam otot jantung tidak mencukupi

Anoksia relatif

12

Diperkuat dengan adanya sclerosis koroner

Gambar 2.2 patofisiologi hipertensi2,5,6.

Hipertensi esensial

Hipertensi sekunder

Tidak diketahui penyebabnya

Disebabkan oleh penyakit lain

90% kasus

10% kasus

Faktor predisposisi
13

Faktor keturunan

Kebiasaan hidup

Ciri perseorangan

1. Konsumsi garam yang tinggi


2. Kegemukan atau makanan
yang berlebihan
3. Stres dan ketegangan jiwa
4. Pengaruh lain

Merokok, karena rangsangan sistem


adrenergik dan meningkatkan tekanan
darah, minum alkohol, obat-obatan misal
: epinefrin, prednison

Gambar 2.3 patofisiologi hipertensi2,5,6.

II.1.7. Klasifikasi
Tabel 2.1 klasifikasi hipertensi menurut WHO6

Tekanan darah optimal

Sistolik
(mmHg)
< 120

Diastolik
(mmHg)
< 80

Tekanan darah normal

120-129

80-84

Tekanan darah normal


tinggi
Hipertensi ringan

130-139

85-89

140-159

90-99

Hipertensi sedang

160-179

100-109

>180

> 110

Kategori

Hipertensi berat

14

Tabel 2.2 Klasifikasi hipertensi menurut JNC VII6


Kategori

Sistol

Dan / atau

Diastol (mmHg)

Normal
Pre hipertensi
Hipertensi tahap 1
Hipertensi tahap 2

(mmHg)
<120
120-139
140-159
160

Dan
Atau
Atau
Atau

<80
80-89
90-99
100

Tabel 2.3 Klasifikasi Berdasarkan Organ Yang Terlibat


Kelompok

Biasa

Tekanan Darah
Gejala

< 180/110
Tidak ada, kadang
sakit kepala,
gelisah
Organ target tidak
ada gangguan

Mendesak
(Urgency)
> 220/140
Sakit kepala
hebat, sesak
napas
Gangguan organ
terget

Awasi 1 3 jam
mulai/teruskan
obat oral, naikkan
dosis
Periksa ulang
dalam 3 hari

Awasi 3-6 jam,


obat oral
berjangka kerja
pendek
Periksa ulang
dalam 24 jam

Pemeriksaan
Fisik
Pengobatan

Rencana

Darurat (Emergency)
> 220/140
Sesak napas, nyeri dada,
kacau, gangguan
kesadaran
Ensefalopati, edema
paru, gangguan fungsi
ginjal, iskemia jantung
Pasang jalur intravena,
periksa laboraturium
standar, terapi obat
intravena
Rawat ICU

Faktor utama dalam mengontrol tekanan arterial ialah output jantung


dan tahanan perifer total. Bila output jantung (curah jantung) meningkat,
tekanan darah arterial akan meningkat, kecuali jika pada waktu yang
bersamaan tahanan perifer menurun. Tekanan darah akan meninggi bila salah
satu faktor yang menentukan tekanan darah mengalami kenaikan.4
II.1.8. Gejala
Hampir semua gangguan medis diikuti dengan tanda dan gejala. Namun
hal ini tidak berlaku untuk tekanan darah tinggi karena sebagian besar orang
dengan tekanan darah tinggi atau hipertensi tidak merasakan gejala sampai
mereka mengukur tekanan darahnya. Kondisi hipertensi tidak bisa dianggap
remeh karena merupakan salah satu faktor risiko paling berpengaruh sebagai
15

penyebab penyakit kardiovaskular. Penyebab hipertensi umumnya sulit


ditentukan dan keadaan ini biasanya berhubungan dengan riwayat hipertensi
dalam keluarga. Karena itu, hipertensi seperti ini disebut hipertensi esensial.3
Akan tetapi ada beberapa faktor yang berpengaruh pada hipertensi,
yakni: faktor usia, merokok, kegemukan atau obesitas, kurang aktivitas fisik,
terlalu banyak mengonsumsi garam, minum alkohol secara berlebihan, stres,
kelainan pembuluh darah, adanya gangguan ginjal seperti gagal ginjal,
penyempitan arteri ginjal, dan sebagainya, masalah tiroid, preeklamsia, suatu
komplikasi kehamilan.2,5,6.
Hipertensi berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala
seperti sakit kepala, jantung berdebar-debar, kelelahan, mual, muntah, sesak
nafas, sering buang air kecil terutama di malam hari, telinga berdenging,
gelisah, pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada
otak, mata, jantung dan ginjal, kadang penderita hipertensi berat mengalami
penurunan kesadaran dan bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak.
Keadaan ini disebut ensefalopati hipertensif yang memerlukan penanganan
segera.2,5,6.
Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko timbulnya hipertensi
faktor keturunan pada 70-80% kasus hipertensi essensial, didapatkan riwayat
hipertensi didalam keluarga. Apabila riwayat hipertensi didapatkan pada kedua
orang tua, maka dugaan hipertensi essensial lebih besar. Hipertensi juga
banyak dijumpai pada penderita kembar monozigot (satu telur), apabila salah
satunya menderita hipertensi dugaan ini menyokong bahwa faktor genetik
mempunyai peran didalam terjadinya hipertensi.2,5,6.
II.1.9. Diagnosis
II.1.9.1. Anamnesis
Anamnesis yang perlu ditanyakan kepada seorang penderita hipertensi
meliputi:
a. Lama menderita hipertensi dan derajat tekanan darah
b. Indikasi adanya hipertensi sekunder
Keluarga dengan riwayat penyakit ginjal (ginjal polikistik)
16

Adanya

penyakit

ginjal, infeksi

saluran

kemih

hematuri,

pemakaian oba-obatan analgesic dan obat/ bahan lain.


Episode berkeringat, sakit kepala, kecemasan

palpitasi

(feokromositoma).
c. Faktor-faktor resiko (riwayat hipertensi/ kardiovaskular pada pasien atau
keluarga pasien, riwayat hiperlipidemia, riwayat diabetes mellitus,
kebiasaan merokok, pola makan, kegemukan, insentitas olahraga).
d. Gejala kerusakan organ
Otak dan mata: sakit kepala, vertigo, gangguan penglihatan,
transient ischemic attacks, defisit neurologis
Jantung: Palpitasi,nyeri dada, sesak, bengkak di kaki
Ginjal: Poliuria, nokturia, hematuria
e. Riwayat pengobatan antihipertensi sebelumnya

II.1.9.2. Pemeriksaan Fisik


Pada pemeriksaan fisik dilakukan pengukuran tekanan darah dikedua
lengan, mencari kerusakan organ sasaran (retinopati, gangguan neurologi,
payah jantung kongestif, diseksi aorta). Umumnya untuk penegakkan
diagnosis hipertensi diperlukan pengukuran tekanan darah minimal 2 kali
dengan jarak 1 minggu bila tekanan darah < 160/100 mmHg. Palpasi denyut
nadi di keempat ekstremitas. Auskultasi untuk mendengar ada atau tidak bruit
pembuluh darah besar, bising jantung dan ronki paru.2
Perlu dibedakan komplikasi krisis hipertensi dengan kegawatan
neurologi ataupun payah jantung, kongestif dan oedema paru. Perlu dicari
penyakit penyerta lain seperti penyakit jantung koroner.2
II.1.9.3. Pemeriksaan penunjang6,7,9.
Pemeriksaan penunjang pasien hipertensi terdiri dari:
a. Tes darah rutin (hemoglobin, hematokrit, leukosit, trombosit)
b. Urinalisis terutama untuk deteksi adanya darah, protein, gula
c. Profil lipid (total kolesterol (kolesterol total serum, HDL serum, LDL
serum, trigliserida serum)
d. Elektrolit (kalium)
e. Fungsi ginjal (Ureum dan kreatinin)
f. Asam urat (serum)
17

g. Gula darah (sewaktu/ puasa dengan 2 jam PP)


h. Elektrokardiografi (EKG)
Beberapa anjuran test lainnya seperti:
a.
Ekokardiografi jika diduga adanya kerusakan organ sasaran seperti
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

adanya LVH
Plasma rennin activity (PRA), aldosteron, katekolamin urin
Ultrasonografi pembuluh darah besar (karotis dan femoral)
Ultrasonografi ginjal jika diduga adanya kelainan ginjal
Pemeriksaaan neurologis untuk mengetahui kerusakan pada otak
Funduskopi untuk mengetahui kerusakan pada mata
Mikroalbuminuria atau perbandingan albumin/kreatinin urin
Foto thorax.2

Gambar 2.3

kardiomegali dengan hipertensi pulmonal


II.1.10. Tatalaksana6,8,9.
Tujuan pengobatan pasien hipertensi adalah:
1. Target tekanan darah < 140/90 mmHg, untuk individu berisiko tinggi
(diabetes, gagal ginjal proteinuria) < 130/80 mmHg
2. Penurunan morbiditas dan mortalitas kardiovaskuler
3. Menghambat laju penyakit ginjal proteinuria

18

Berikut ini merupakan bagan algoritma penanganan hipertensi menurut


JNC VII, 2003
Modifikasi gaya hidup
Target tekanan darah tidak terpenuhi (< 140/90 mmHg)
Atau (< 130/80 mmHg pada pasien DM, penyakit ginjal kronik,
3 faktor risiko atau adanya penyakit penyerta tertentu)
Obat antihipertensi inisial
Dengan indikasi khusus

Obat-obatan untuk
indikasi khusus
tersebut ditambah
obat antihipertensi
(diuretic, ACEI, BB,
CCB)

Tanpa indikasi khusus

Hipertensi tk I

Hipertensi tk II

(sistolik 140-159 mmHg


atau diastolic 90-99
mmHg)

(sistolik >160 mmHg atau


diastolic > 100 mmHg)

Diuretic gol tiazid. Dapat


dipertimbangkan
pemberian ACEI, BB,
CCB atau kombinasi

Kombinasi dua obat.


Biasanya diuretic dengan
ACEI atau BB atau CCB

Target tekanan darah tidak terpenuhi

Optimalkan dosis obat atau berikan tambahan obat antihipertensi lain.


Pertimbangkan untuk konsultasi dengan dokter spesialis
Gambar 2.4 Algoritma penatalaksanaan hipertensi6,8.

19

Gambar 2.5 Algoritma Penatalaksanaan Hipertensi Dengan Penyakit


Khusus6,8.

20

Gambar 2.6 Modifikasi Algoritma Penatalaksanaan Hipertensi6,8.


Menurut JNC VIII

21

Algoritma penanganan hipertensi imulai terlebih dahulu dengan perubahan


lifestyle atau gaya hidup. Perubahan lifestyle yang dapat menimbulkan
penurunan terhadap tekanan darah, antara lain3:
Tabel 2.3 Modifikasi Gaya Hidup6,7,9.
Modifikasi
Menurunkan Berat
Badan
Diet
dengan
mengadopsi diet
DASH
(Dietary
Approaches
to
Stop
Hypertension)
yaitu diet sehat
untuk membantu
terapi
ataupun
mencegah
hipertensi.

Rekomendasi

Penurunan Tekanan
Darah
Mengendalikan berat badan 2,5 5 kg menurunkan
sesuai dengan IMT normal diastole 5 mmHg
yaitu 18,5-24,9 kg/
Cukup
asupan
kalium Menurunkan sistolik 8
(potassium)
dengan 14 mmHg
mengkonsumsi
buah,
sayuran dan makanan yang
rendah lemak.

Diet rendah garam

Kurangi
asupan
garam Menurunkan tekanan
sampai kurang dari 2.300 mg sistolik sebanyak 5
(satu sendok teh) setiap hari. mmHg dan tekanan darah
diastolik sekitar 2,5
mmHg
Latihan
fisik Olahraga yang tepat adalah
4-9 mmHg
(Olahraga),
jalan kaki,
meditasi, dzikir
bersepeda,
senam
dan
berenang
atau
olahraga
aerobik. Contohnya : jalan
kaki cepat 3-5 kali seminggu,
dengan lama latihan 20-60
menit dalam sekali latihan
Batasi konsumsi Mengurangi
konsumsi
alkohol
alkohol yaitu 2 gelas/hari
untuk pria, dan 1 gelas untuk
wanita.
Apabila dengan perubahan lifestyle tidak tercapai target tekanan darah
yang diinginkan (tekanan darah < 140/90 mmHg pada pasien tanpa riwayat

22

diabetes ataupun penyakit ginjal kronis dan tekanan darah <130/80 mmHg pada
seseorang dengan diabetes atau penyakit ginjal kronis), maka selanjutnya kita
mulai terapi inisial dengan obat anti hipertensi oral. Untuk keperluan
pengobatan, ada pengelompokkan pasien berdasarkan pertimbangan khusus
(special consederations) yaitu kelompok indikasi yang memaksa (compelling
indications) dan keadaan khusus lainnya (special situations). Indikasi yang
memaksa meliputi:
a. Gagal jantung
b. Pasca infark miokardium
c. Risiko penyakit pembuluh darah koroner tinggi
d. Diabetes melitus
e. Penyakit ginjal kronis
f. Pencegahan stroke berulang
Keadaan khusus lainnya meliputi:
a. Populasi minoritas
b. Obesitas dan sindrom metabolik
c. Hipertrofi ventrikel kanan
d. Penyakit arteri perifer
e. Hipertensi pada usia lanjut
f. Hipotensi postural
g. Demensia
h. Hipertensi pada perempuan
i. Hipertesi pada anak dan dewasa muda
j. Hipertensi urgensi dan emergensi
Pada pasien hipertensi tanpa kondisi medis

yang

memaksa,

penatalaksanaan obat anti hipertensi dibagi berdasarkan derajat tekanan


darahnya. Pada hipertensi derajat 1 regimen pengobatan dilakukan dengan
menggunakan diuretik jenis Thiazid untuk sebagian besar kasus, dan dapatt
dipertimbangkan ACEI, ARB, BB, CCB, atau kombinasi. Sedangkan pada
hipertensi derajat 2 digunakan kombinasi 2 jenis obat untuk sebagian besar
kasusnya, umumnya diuretic jenis thiazid dan ACEI atau ARB atau CCB.
Sedangkan pada pasien dengan indikasi medis yang memaksa, obat yang
diberikan adalah obat-obatan untuk indikasi medis yang memaksa dan anti
hipertensi lain (diuretika, ACEI, ARB, CCB)sesuai dengan kebutuhan.5,6,8.
Jenis-jenis obat antihipertensi untuk terapi farmakologis hipertensi yang
dianjurkan JNC 7 yaitu:8
23

a. Diuretika terutama jenis Thiazide (Thiaz) atau Aldosterone Antagonist


b.
c.
d.
e.

(AldoAnt)
Beta Blocker (BB)
Calcium Channel Blocker atau Calcium Antagonist (CCB)
Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACE-I)
Angiotensin II Receptor Blocker atau AT1 Receptor Antagonist atau Blocker
(ARB)
Masing-masing obat antihipertensi memiliki efektivitas dan keamanan

dalam pengobatan hipertensi tetapi pemilihan obat antihipertensi juga


dipengaruhi beberapa faktor yaitu:
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Faktor sosio-ekonomi
Profil faktor risiko kardiovaskuler
Ada tidaknya kerusakan organ target
Ada tidaknya penyakit penyerta
Variasi individu dari respon pasien terhadap obat antihipertensi
Kemungkinan adanya interaksi dengan obat yang digunakan pasien untuk

penyakit lain
g. Bukti ilmiah kemampuan obat antihipertensi yang akan digunakan dalam
menurunkan risiko kardiovaskuler
Untuk sebagian besar pasien hipertensi, terapi dimulai secara bertahap dan
target tekanan darah tinggi dicapai secara progresif dalam beberapa minggu.
Dianjurkan untuk menggunakan obat antihipertensi dengan masa kerja panjang
atau yang memberikan efikasi 24 jam dengan pemberian sekali sehari. Pilihan
memulai terapi dengan 1 jenis obat antihipertensi atau dengan kombinasi
tergantung tekanan darah awal dan ada tidaknya komplikasi. Jika terapi dimulai
dengan 1 jenis obat dalam dosis rendah dan kemudian tekanan darah belum
mencapai target, maka langkah selanjutnya adalah meningkatkan dosis obat
tersebut atau berpindah ke antihipertensi lain dengan dosis rendah. Efek samping
umumnya bisa dihindarkan dengan dosis rendah baik tunggal maupun
kombinasi. Sebagian besar pasien memerlukan kombinasi obat antihipertensi
untuk mencapai target tekanan darah tetapi terapi kombinasi dapat meningkatkan
biaya pengobatan dan menurunkan kepatuhan pasien karena jumlah obat yang
semakin bertambah.5,6,8.
24

Kombinasi yang telah terbukti efektif dan dapat ditoleransi pasien


hipertensi adalah:6
a.
b.
c.
d.
e.

CCB dan BB
CCB dan ACEI atau ARB
CCB dan diuretika
AB dan BB
Kadang diperlukan 3 atau 4 kombinasi obat

Gambar 2.5 Kemungkinan Kombinasi Obat Antihipertensi6,


Tabel 2.4 Tatalaksana hipertensi menurut JNC 7 meliputi:8
Klasifikasi
Tekanan
Darah

TDS
(mmHg)

TDD
(mmHg)

Perbaikan
Pola Hidup

Normal
Prehipertensi

< 120
120-139

dan < 80
atau 80-89

Dianjurkan
Ya

Hipertensi
derajat 1

140-159

atau 9- 99

Ya

Terapi Obat
Awal tanpa
Indikasi
Memaksa
Tidak indikasi
obat
Diuretika jenis
Thiazide untuk
sebagian besar
kasus, dapat
dipertimbangkan
ACE-I, ARB, BB,
CCB, atau
kombinasi

Terapi Obat
Awal dengan
Indikasi
Memaksa
Obat-obatan
untuk
indikasi yang
memaksa
Obat-obatan
untuk
indikasi yang
memaksa
Obat
antihipertensi
lain
(diuretika,
ACE-I, ARB,
BB, CCB)

25

sesuai
kebutuhan
Hipertensi
derajat 2

160

atau 100

Ya

Kombinasi 2 obat
untuk sebagian
besar kasus
umumnya
diuretika jenis
Thiazide dan
ACE-I atau ARB
atau BB atau
CCB

Pasien yang telah mulai mendapakan pengobatan harus dilakukan evaluasi


lanjutan dan pengaturan dosis obat sampai target tekanan darah tercapai. Setelah
tekanan darah stabil, kunjungan berikutnya datang dengan interval 3-6 bulan,
frekuensi kunjungan ini ditentukan dengan adanya tidaknya komorbiditas seperti
gagal jantung, diabetes dan kebutuhan akan pemeriksaan laboratorium.5,6,9.
Pada beberapa pasien adakalanya terjadi hipertensi yang resisten. Apabila
terjadi hal demikian, perlu dipertimbangkan adanya kedaan sebagai berikut:5,6,9.
a. Pengukuran tekanan darah yang tidak benar
b. Dosis belum memadai
c. Ketidakpatuhan pasien dalam penggunaan obat anti hipertensi

d. Ketidakpatuhan pasien dalam memperbaiki pola hidup

Asupan alcohol berlebih

Kenaikan berat badan berlebih

e. Kelebihan volume cairan tubuh

Asupan garam berlebih

Terapi diuretika tidak cukup

Pennurunan fungsi ginjal berjalan progresif

f. Adanya terapi lain

Masih menggunakan bahan/obat yang dapat meningkatkan tekanan


darah

26

Adanya obat yang mempengaruhi atau berinteraksi dengan kerja obat


anti hipertensi.

g. Penyebab hipertensi lain/ sekunder


Adakalanya seorang dokter umum dianjurkan merujuk ke dokter spesialis/
subspesialis, yaitu pada kondisi:

Jika dalam 6 bulan target pengobatan tidak tercapai

Selain hipertensi ada kondisi lain seperti diabetes mellitus atau


penyakit ginjal (laju filtrate glomerulus mencapai <60 ml/men/1,73
m2 -> konsul penyakit dalam, sedangkan untuk laju filtrate glomerulus
mencapai < 30ml/men/1,73m3-> konsul nefrologi).

II.1.10.1. Penatalaksanaan Hipertensi Pada Keadaan Khusus5,6.


1. Kelainan jantung dan pembuluh darah
Penyakit jantung dan pembuluh darah yang disertai hipertensi yang perlu
diperhatikan adalah penyakit jantung iskemik (angina pektoris, infark
miokard), gagal jantung dan penyakit pembuluh darah perifer.
a. Penyakit Jantung Iskemik
Penyakit jantung iskemik merupakan kerusakan organ target yang
paling sering ditemukan pada pasien dengan hipertensi. Pada pasien
hipertensi dengan angina pektoris stabil obat pilihan pertama bbloker
(BB) dan sebagai alternatif calcium channel blocker (CCB). Pada
pasien dengan sindroma koroner akut (angina pektoris tidak stabil
atau infark miokard), pengobatan hipertensi dimulai dengan BB dan
ACEI dan kemudian dapat ditambahkan antihipertensi lain bila
diperlukan. Pada pasien pasca infark miokard, ACEI, BB dan
antagonis

aldosteron

terbukti

sangat

mengungtungkan

tanpa

melupakan penata laksanaan lipid profil yang intensif dan


penggunaanaspirin.
b.

Gagal Jantung

27

Gagal jantung dalam bentuk disfungsi ventrikel sistolik dan diastolik


terutama disebabkan oleh hipertensi dan penyakit jantung iskemik.
Sehingga penatalaksanaan hipertensi dan profil lipid yang agresif
merupakan upaya pencegahan terjadinya gagal jantung. Pada pasien
asimtomatik dengan terbukti disfungsi ventrikel rekomendasinya
adalah ACEI dan BB . Pada pasien simtomatik dengan disfungsi
ventrikel tau penyakit jantung end stage direkoendasikan untuk
menggunakan ACEI, BB dan ARB bersama dengan pemberian
diuretik loop. Pada situasi seperti ini pengontrolan tekanan darah
sangat penting untuk mencegah terjadinya progresifitas menjadi
disfungsi ventrikel kiri.
c. Hipertensi pada Pasien dengan Penyakit Arteri Perifer (PAP)
Rekomendasi :
Kelas I :
Pemberian antihipertensi pada PAP ekstremitas inferior dengan
tujuan untuk mencapai target tekanan darah < 140/90 mmHg
(untuk non-diabetes) atau target tekanan darah < 130/80
mmHg(untuk diabetes).

BB merupakan agen antihipertensi yang

efektif dan TIDAK merupakan kontraindikasi untuk pasien


hipertensi dengan PAP.
Kelas IIa :
Penggunaan ACEI pada pasien simtomatik PAP ekstremitas bawah
beralasan untuk menurunkan kejadian kardiovaskular.
Kelas IIb :
Penggunaan ACEI pada pasien asimtomatik PAP ekstremitas
bawah dapat dipertimbangkan untuk menurunkan kejadian
kardiovaskular.
Antihipertensi dapat menurunkan perfusi tungkai bawah dan
berpotensi mengeksaserbasi simtom klaudikasio ataupun iskemia
tungkai kronis. Kemungkinan tersebut harus diperhatikan saat
28

memberikan antihipertensi. Namun sebagian besar pasien dapat


mentoleransi terapi antihipertensi tanpa memperburuk simtom PAP
dan penanggulangan sesuai pedoman diperlukan untuk tujuan
menurunkan risiko kejadian kardivaskular.
d. Penanggulangan Hipertensi dengan Gangguan Fungsi Ginjal
Bila ada gangguan fungsi ginjal, maka haruslah dipastikan
dahulu apakah hipertensi menimbulkan gangguan fungsi ginjal
hipertensi lama, hipertensi primer) ataupun gangguan/penyakit
ginjalnya yang menimbulkan hipertensi. Masalah ini lebih bersifat
diagnostik, karena penanggulangan hipertensi pada umumnya sama,
kecuali pada hipertensi sekunder (renovaskular,hiperaldosteronism
primer) dimana penanggulangan hipertensi banyak dipengaruhi
etiologi penyakit.
Hipertensi dengan gangguan fungsi ginjal :

Pada keadaan ini penting diketahui derajat gangguan fungsi ginjal


(CCT, creatinin) dan derajat proteiuria.

Pada CCT < 25 mL/men diuretik golongan thiazid(kecuali


metolazon) tidak efektif.

Pemakaian golongan ACEI/ARB perlu memperhatikan penurunan


fungsi ginjal dan kadar kalium.

Pemakaian golongan BB dan CCB relatif aman.


Hipertensi akibat gangguan ginjal/adrenal:

Pada gagal ginjal terjadi penumpukan garam yang membutuhkan


penurunan asupan garam/diuretik golongan furosemide/dialisis.

Penyakit ginjal renovaskular baik stenosis arteri renalis maupun


aterosklerosis

renal dapat ditanggulangi

secara

intervensi

(stenting/operasi) ataupun medikal (pemakaian ACEI dan ARB


tidak

dianjurkan

bila

diperlukan

terapi

obat.

Aldosteronism primer (baik karena adenoma maupun hiperplasia


29

kelenjar adrenal) dapat ditanggulangi secara medikal (dengan obat


antialdosteron) ataupun intervensi.
Disamping hipertensi, derajad proteinuri ikut menentukan
progresi fungsi ginjal, sehingga proteinuri perlu ditanggulangi secara
maksimal dengan pemberian ACEI/ARB dan CCB golongan non
dihidropiridin.
Pedoman Pengobatan Hipertensi dengan Gangguan Fungsi
Ginjal :

Tekanan darah diturunkan sampai < 130/80 mmHg (untuk


mencegah progresi gangguan fungsi ginjal).

Bila ada proteinuria dipakai ACEI/ARB (sepanjang tak ada


kontraindikasi).

Bila proteinuria > 1g/24 jam tekanan darah diusahakan lebih


rendah ( 125/75 mmHg).

Perlu perhatian untuk perubahan fungsi ginjal pada pemakaian


ACEI/ARB (kreatinin tidak boleh naik > 20%) dan kadar kalium
(hiperkalemia).

e. Penanggulangan Hipertensi pada Usia Lanjut


Hipertensi pada usia lanjut mempunyai prevalensi yang tinggi,
pada usia diatas 65 tahun didapatkan antara 60-80%. Selain itu
prevalensi gagal jantung dan stroke juga tinggi, keduanya merupakan
komplikasi hipertensi. Oleh karena itu, penanggulangan hipertensi
amat

penting

dalam

mengurangi

morbiditas

dan

mortalitas

kardiovaskular pada usia lanjut.


Sekitar 60% hipertensi pada usia lanjut adalah hipertensi sistolik
terisolasi (isolated systolic hypertension) dimana terdapat kenaikan
tekanan darah sistolik disertai penurunan tekanan darah diastolik.
Selisih dari tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik disebut
sebagai tekanan nadi (pulse pressure), terbukti sebagai prediktor
morbiditas dan mortalitas yang uruk. Peningkatan tekanan darah
30

sistolik disebabkan terutama oleh kekakuan arteri atau berkurangnya


elastisitas aorta.
-

Penanggulangan hipertensi pada usia lanjut amat bermanfaat dan


telah

terbukti

dapat

mengurangi

kejadian

komplikasi

kardiovaskular. Pengobatan dimulai bila :


TD sistolik 160 mmHg bila kondisi dan harapan hidup baik
-

TD sistolik 140 bila disertai DM atau merokok atau disertai


faktor risiko lainnya.
Oleh karena pasien usia lanjut sudah mengalami penurunan

fungsi organ, kekauan arteri, penurunan fungsi baroreseptor dan


respons simpatik, serta autoregulasi serebral, pengobatan harus secara
bertahap dan hati-hati (start slow, go slow) hindarkan emakaian obat
yang dapat menimbulkan hipotensi ortostatik.
Seperti halnya pada usia muda, penanggulangan hipertensi pada
usia lanjut dimulai dengan perubahan gaya hidup. Diet rendah garam,
termasuk menghindari makanan yang diawetkan dan penurunan berat
pada obesitas, terbukti dapat mengendalikan tekanan darah. Pemberian
obat dilakukan apabila penurunan tidak mencapai target. Kejadian
komplikasi hipotensi ortostatik sering terjadi, sehingga diperlukan
anamnesis dan pemeriksaan mengenai kemungkinan adanya hal ini
sebelum obat ini.
Obat yang dipakai pada usia lanjut sama seperti yang
dipergunakan pada usia yang lebih muda. Untuk menghindari
komplikasi pengobatan, maka dosis awal dianjurkan separuh dosis
biasa, kemudian dapat dinaikkan secara bertahap, sesuai dengan
respons pengobatan dengan mempertimbangkan kemungkian efek
samping obat. Obat-obat yang biasa dipakai meliputi diuretik (HCT)
12,5 mg, terbukti mencegah komplikasi terjadinya penyakit jantung
kongestif. Keuntungannya murah dan dapat mencegah kehilangan
kalsium tulang. Obat lain seperti golongan ACEI, CCB kerja panjang
31

dan obat-obat lainnya dapat dipergunakan. Kombinasi 2 atau lebih


obat dianjurkan untuk memperoleh efek pengobatan yang optimal.
Target pengobatan harus mempertimbangkan efek samping,
terutama kejadian hipotensi ortostatik. Umumnya tekanan darah
sistolik diturunkan sampai < 140 mmHg. Target untuk tekanan darah
diastolik sekitar 85-90 mmHg. Pada hipertensi sistolik penurunan
sampai tekanan darah diastolik 65 mmHg atau kurang dapat
mengakibatkan peningkatan kejadian stroke. Oleh karena itu
sebaiknya penurunan tekanan darah tidak sampai 65 mmHg.
f. Penanggulangan HIpertensi pada Gangguan Neurologis
- Oleh karena hipertensi merupakan faktor risiko utama maka
penderita hipertensi dapat dianggap sebagai Stroke prone
patient. Pengendalian hipertensi sebagai faktor risiko akan
menurunkan

kejadian

stroke

sebanyak

32%.

Perlu perhatian khusus bila penderita hipertensi disertai dengan


kesemutan dimuka,sekeliling bibir, ujung-ujung jari dan vertigo,
ada kecenderungan insufisiensi basiler.
- Selain itu keluhan lain, seperti gangguan berbahasa, gangguan
daya ingat dan artikulasi perlu medapat perhatian lebih lanjut.
Hipertensi dengan tanda defisit neulorogi akut:
Penatalaksanaan hipertensi yang tepat pada stroke akut sangat
mempengaruhi morbiditas dan mortalitas stroke.

Stroke Iskemik akut


Tidak direkomendasikan terapi hipertensi pada stroke
iskemik akut kecuali terdapat hipertensi berat dan menetap yaitu
sistolik > 220 mmHg atau diastolik > 120 mmHg dengan tandatanda ensefalopati atau disertai kerusakan target organ lain.
Obat-obat antihipertensi yang sudah dikonsumsi sebelum
serangan stroke diteruskan pada fase awal stroke, pemberian obat

32

antihipertensi yang baru ditunda sampai dengan 7-10 hari pasca


awal serangan stroke.
Batas penurunan tekanan darah sebanyak-banyaknya 20-25%
dari tekanan darah arterial rerata(MAP=mean arterial pressure).
(MAP=Tekanan diastolik + 1/3 selisih tekanan sistolik diastolik)
Jika tekanan darah sistolik 180-220 mmHg dan/atau tekanan
darah diastolik 105-120 mmHg, terapi darurat harus ditunda
kecuali terdapat bukti perdarahan intraserebral, gagal ventrikel
jantung kiri, infark miokard akut, gagal ginjal akut, edema paru,
diseksi aorta, ensefalopati hipertensi. Jika peninggian tekanan
darah itu menetap pada 2 kali pengukuran selang waktu 60 menit,
maka diberikan Candesartan Cilexetil(Blopress) 4-16 mg oral
selang 12 jam. Jika monoterapi oral tidak berhasil atau jika obat
tidak dapat diberikan per oral, maka diberikan obat intravena
yang tersedia.
Batas penurunan tekanan darah sebanyak banyaknya sampai
20-25% dari tekanan darah arterial rerata, dan tindakan
selanjutnya ditentukan kasus per kasus.

Stroke hemoragik akut :


Batas penurunan tekanan darah maksimal 20-25% dari
tekanan darah semula. Pada penderita dengan riwayat hipertensi
sasaran (target) tekanan darah sistolik 160 mmHg dan diastolik 90
mmHg.
Bila tekanan darah sistolik > 230 mmHg atau tekanan
diastolik > 140 mmHg diberikan nicardipin/diltiazem/nimodipin
drip dan dititrasi dosisnya sampai dengan tekanan darah sistolik
160 mmHg dan tekanan darah diastolik 90 mmHg (dosis dan cara
pemberian lihat tabel jenis-jenis obat untuk terapi emergensi).

33

Peningkatan tekanan darah bisa disebabkan stres akibat


stroke (efek cushing), akibat kandung kencing yang penuh, respon
fisiologis atau peningkatan tekanan intrakranial dan harus
dipastikan penyebabnya.
g. Penanggulangan Hipertensi pada Diabetes
Indikasi pengobatan :
Bila tekanan darah sistolik 130 mmHg dan /atau tekanan darah
diastolik 180 mmHg. Sasaran (target penurunan) tekanan darah:

Tekanan darah < 130/80 mmHg

Bila disertai proteinuria 1g/24 jam : 125/75 mmHg.

Pengelolaan :
-

Non Farmakologis :
Perubahan gaya hidup, antara lain : menurunkan berat
badan, meningkatkan aktifitas fisik, menghentikan merokok
dan alkohol, serta mengurangi konsumsi garam.

Farmakologis :
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih obat
antihipertensi adalah pengaruh terhadap profil lipid,
pengaruh terhadap metabolisme glukosa, pengaruh terhadap
resistensi

insulin,

pengaruh

terhadap

huipoglikemia

terselubung. Obat anti hipertensi yang dapat dipergunakan :


*ACEI
*ARB
*Beta-bloker
* Diuretik dosis rendah
* Alfa bloker
* CCB golongan non-dihidropiridin.
Pada diabetisis dengan tekanan darah sistolik antara 130-139
mmHg atau tekanan darah diastolik antara 80-89 mmHg diharuskan
34

melakukan perubahan gaya hidup sampai 3 bulan. Bial gagal mencapai


target dapat ditambahkan terapi farmakologis.
Diabetisis dengan tekanan darah sistolik 140 mmHg atau
tekanan darah diastolik > 90 mmHg, disamping perubahan gaya hidup,
dapat diberikan terapi farmakologis secara langsung.
Diberikan terapi kombinasi apabila target terapi tidak dapat
dicapai dengan monoterapi.
Catatan :
-

ACEI,ARB, dan CCB golongan non-dihidropiridin

dapat

memperbaiki mikroalbuminuria.
-

ACEI dapat memperbaiki kinerja kardiovaskular.

Diuretik (HCT) dosis rendah jangka panjang , TIDAK terbukti


memperburuk toleransi glukosa.

Pengobatan hipertensi harus diteruskan walaupun sasaran sudah


tercapai.

Bila tekanan darah terkendali, setelah satu tahun dapat dicoba


menurunkandosis secara bertahap.

Pada orang tua, tekanan darah diturunkan secara bertahap.

h. Penanggulangan Hipertensi pada Kehamilan


Tekanan darah > 160/100 mmHg HARUS diturunkan untuk
melindungi ibu terhadap risiko stroke atau untuk memungkinkan
perpanjangan masa kehamilan, sehingga memperbaiki kematangan
fetus. Obat yang dapat diberikan ialah : methyl dopa dan nifedipin.
Obat-obat yang tidak boleh diberikan saat kehamilan adalah
ACEI (berkaitan dengan kemungkinan kelainan perkembangan fetus)
dan ARB yang kemungkinan mempunyai efek sama seperti penyekat
ACEI. Diuretik juga tidak digunakan mengingat efek pengurangan
35

volume plasma yang dapat mengganggu kesehatan janin. Terapi


definitif ialah menghentikan kehamilan atas indikasi preeklampsia
berat setelah usis kehamilan > 35 minggu.

Gambar 2. Algoritma Tatalaksana Hipertensi


II.1.11. Komplikasi6,7,10.
Adapun komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh hipertensi antara lain:
a. Otak
: Stroke
b. Jantung
: Aterosklerosis, penyakit jantung koroner, gagal
jantung
c. Mata
: Kebutaan (pecahnya pembuluh darah pada mata)
d. Paru-paru
: Edema paru
e. Ginjal
: Penyakit ginjal kronik
f. Sistemik
:Penyakit arteri perifer atau penyakit oklusi arteri
perifer
II.1.12. Prognosis

36

Hipertensi dapat dikendalikan dengan baik dengan pengobatan yang


tepat. Terapi dengan kombinasi perubahan gaya hidup dan obat-obatan
antihipertensi biasanya dapat menjaga tekanan darah pada tingkat yang tidak
akan menyebabkan kerusakan pada jantung atau organ lain. Kunci untuk
menghindari komplikasi serius dari hipertensi adalah mendeteksi dan
mengobati sebelum kerusakan terjadi.10
II.2. Pendekatan Kedokteran Keluarga11
II.2.1. Definisi Keluarga11
Bermacam-macam

batasan

keluarga,

beberapa

di

antaranya

dikemukakan sebagai berikut :


a. UU No. 10 Tahun 1992, keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat
yang terdiri dari suami istri, atau suami istri dan anaknya, atau ayah dan
anaknya, atau ibu dan anaknya.
b. Menurut Friedman, keluarga adalah kumpulan dua orang manusia atau
lebih yang satu sama lain saling terkait secara emosional, serta bertempat
tinggal yang sama dalam satu daerah yang berdekatan.
c. Menurut Goldenberg (1980), keluarga adalah tidak hanya merupakan
suatu kumpulan individu yang bertempat tinggal yang sama dalam satu
ruang fisik dan psikis yang sama saja, tetapi merupakan suatu sistem
sosial alamiah yang memiliki kekayaan bersama, mematuhi peraturan,
peranan, struktur kekuasaan, bentuk komunikasi, tata cara negosiasi, serta
tata cara penyelesaian masalah yang disepakati bersama, yang
memungkinkan berbagai tugas dapat dilaksanakan secara efektif.
II.2.2. Bentuk Keluarga11
Menurut Goldenberg, bentuk keluarga terdiri sembilan macam, antara lain:
a. Keluarga inti (nuclear family)
b. Keluarga besar (extended family)
c. Keluarga campuran (blended family)
37

d. Keluarga menurut hukum umum (common law family)


e. Keluarga orang tua tunggal
f. Keluarga hidup bersama (commune family)
g. Keluarga serial (serial family)
h. Keluarga gabungan (composive family)
i. Hidup bersama dan tinggal bersama (co habitation family)
II.2.3. Fungsi dan Siklus Keluarga11
Berdasarkan peraturan pemerintah No. 21 Tahun 1994 fungsi keluarga
dibagi menjadi delapan jenis, yaitu fungsi keagamaan, fungsi budaya, fungsi
cinta kasih, fungsi melindungi, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi dan
pendidikan, fungsi ekonomi, dan fungsi pembinaan lingkungan. Apabila
fungsi keluarga terlaksana dengan baik, maka dapat diharapkan terwujudnya
keluarga yang sejahtera. Yang dimaksud keluarga sejahtera adalah keluarga
yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah, mampu memenuhi
kehidupan spiritual, dan materiil yang layak.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ogburn (1969), telah
terbukti adanya perubahan pelaksanaan fungsi keluarga. Olehnya disebutkan,
bahwa keluarga memiliki fungsi:
a. Fungsi ekonomi
b. Fungsi pelindungan
c. Fungsi agama
d. Fungsi rekreasi
e. Fungsi pendidikan
f. Fungsi status sosial
8 tahap pokok yang terjadi dalam keluarga (siklus keluarga), yaitu:
a. Tahap awal perkawinan (newly married family)
b. Tahap keluarga dengan bayi (birth of the first child)
c. Tahap keluarga dengan anak usia pra sekolah (family with children
in school)
38

d. Tahap keluarga dengan anak usia sekolah (family with children in


school)
e. Tahap keluarga dengan anak usia remaja
f. Tahap keluarga dengan anak-anak yang meninggalkan keluarga
g. Tahap orang tua usia menengah
h. Tahap keluarga usia jompo
II.2.4. Arti dan Kedudukan Keluarga dalam Kesehatan11
Keluarga memiliki peranan yang cukup penting dalam kesehatan.
Adapun arti dan kedudukan keluarga dalam kesehatan adalah sebaga berikut :
a. Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat dan melibatkan
mayoritas penduduk, bila masalah kesehatan setiap keluarga dapat di atasi
maka masalah kesehatan masyarakat secara keseluruhan akan dapat turut
terselesaikan.
b. Keluarga

sebagai

suatu

kelompok

yang

mempunyai

peranan

mengembangkan, mencegah, mengadaptasi, dan atau memperbaiki


masalah kesehatan yang diperlukan dalam keluarga, maka pemahaman
keluarga akan membantu memperbaiki masalah kesehatan masyarakat.
c. Masalah kesehatan lainnya, misalnya ada salah satu anggota keluarga
yang sakit akan mempengaruhi pelaksanaan fungsi-fungsi yang dapat
dilakukan oleh keluarga tersbut yang akan mempengaruhi terhadap
pelaksanaan fungsi-fungsi masyarakat secara keseluruhan.
d. Keluarga adalah pusat pengambilan keputusan kesehatan yang penting,
yang akan mempengaruhi kebrhasilan layanan kesehatan masyarakat
secara keseluruhan.
e. Keluarga sebagai wadah dan ataupun saluran yang efektif untuk
melaksanakan berbagai upaya dan atau menyampaikan pesan-pesan
kesehatan.
II.2.5 Peran Dokter Keluarga11

39

Strategi penyelesain masalah ini dengan menggunakan prinsip


kedokteran keluarga yang terdiri dari :
1. Continuity of Care (Pelayanan yang Berkesinambungan).
2. Comprehensive of Care (Pelayanan Yang menyeluruh).
3. Coordination of Care (Pelayanan yang terkoordinasi).
4. Community (Masyarakat).
5. Prevention (Pencegahan).
6. Family (Keluarga).
1. Continuity of Care
Merupakan pelayanan kesehatan dimana satu dokter bertemu pasiennya
dalam keadaan sakit maupun keadaan sehat, dan mengikuti perjalanan
penyakit dari pasiennya hingga ia sembuh.
2. Comprehensive of Care
Artinya disini kita memandang pasien tidak hanya dari sisi biologis saja
tetapi juga dari sisi sosial dan psikologisnya. Oleh sebab itu, seorang dokter
keluarga

memandang

pasiennya

secara

keseluruhan,

dalam

konteks

memperhatikan keseluruhan kebutuhan mereka.


3. Coordination of Care
Artinya disini dokter keluarga itu berperan seperti orkestrator pelayanan
kesehatan bagi pasiennya, yang mengkoordinasikan semua pelayanan
kesehatan yang dibutuhkan pasien seperti para dokter spesialis, dan pelayanan
kesehatan lain diluar praktek dokter keluarga. Dokter keluarga bertanggung
jawab dan menjadi guide bagi pasiennya.
4. Community
Dalam komunitas ini pekerjaan, budaya, dan lingkungan merupakan
aspek-aspek dalam komunitas (masyarakat) yang dapat mempengaruhi
penatalaksanaan seorang pasien. Berbagai pihak dalam masyarakat dapat
digunakan oleh dokter keluarga dalam rangka memberikan pelayanan
kesehatan yang optimal.
5. Prevention
Prinsip pencegahan memilki multi aspek, termasuk mencegah penyakit
menjadi lebih berat, mencegah orang lain tertular, pengenalan faktor resiko
dari penyakit, dan promposi kesehatan ( gaya hidup sehat).

40

Pencegahan juga termasuk mengantisipasi masalah-masalah yang


mungkin mempunyai efek terhadap kesehatan emosional pasien dan
keluarganya.
6. Family
Pada prinsip ini seorang dokter keluarga memandang pasiennya sebagai
bagian dari keluarganya dan memahami pengaruh penyakit terhadap keluarga
dan pengaruh keluarga terhadap penyakit. Dokter keluarga juga mengenali
keluarga yang berfungsi baik dan keluarga yang disfungsi.

41