Anda di halaman 1dari 24

E-LEARNING DAN TANTANGAN GURU DALAM

PENERAPAN ICT DI SEKOLAH

(Review Jurnal)

Diajukan Untuk Memenuhi UTS Mata Kuliah


Sistem Informasi Manajemen (SIM) Pendidikan Islam

Dosen Pembimbing:
H. Slamet, SE., MM., Ph.D.

Oleh:
M. Junaidi Marasabessy NIM. 13710003

PROGRAM PASCASARJANA
PRODI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM (MPI)
UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2014

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

ii

DAFTAR ISI

iii

BAB I

: PENDAHULUAN

BAB II

: PEMBAHASAN

A. ICT Dalam Dunia Pendidikan

B. ICT dan Pembelajaran

C. Manfaat E-Learning .

D. Tantangan Guru Dalam Penerapan ICT Si Sekolah

13

BAB III

: PENUTUP

A. Keesimpulan
DAFTAR RUJUKAN

22

E-LEARNING DAN TANTANGAN GURU DALAM


PENERAPAN ICT DI SEKOLAH
A. PENDAHULUAN
Negara Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki sumber daya
alam dan sumber daya manusia yang melimpah. Pertumbuhan Indonesia
mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. hingga pada atahun 2012
pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6,2 persen. Negara Indonesia termasuk
salah satu anggota ASEAN (perkumpulan bangsa-bangsa di Asia Tenggara). Pada
tahun 2015, ASEAN merencanakan penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN
(MEA), untuk menjaga stabilitas politik dan keamanan regional ASEAN,
meningkatkan daya saing kawasan secara keseluruhan di pasar dunia, dan
mendorong pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan, serta meningkatkan
standar hidup masyarakat.
Dengan adanya MEA tersebut, maka secara otomatis pendidikan menjadi
bagian yang harus di perhatikan sehingga Indonesia tidak di pandang sebelah
mata dengan negara Asia lainnya.olehnya itu kekuragan secara kuantitatif SDM
saat ini membuat keprihatinan dan menjadi motifasi agar kedepan mampu
bersaing di era MEA.
Untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, dunia
pendidikan harus membuat terobosan dalam meningkatkan kualitas pendidikan,
sehingga pendidikan mampu mencetak tenaga-tenaga profesional. Namun
masalah yang di hadapi dunia pendidikan indonesia saat ini adalah tidak
meratanya pendidikan yang berkualitas.
Menurut hasil Studi Political and Economical Risk Consultancy (PERC)
tahun 2005, mencerminkan betapa rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia
saat ini. Derajat pendidikan di Indoensia di urutan ke-12 dari 12 negara di Asia.
Indonesia berada pada posisi paling buncit. Malaysia, Singapura, Brunei,
Thailand, dan Filipina, berada di atas Indonesia.
Problematik sebesar ini tidak cukup sekadar jadi pengetahuan. Tetapi kita
harus menerjemahkannya. Apa implikasi dan apa yang harus kita siapkan dalam
menghadapi perubahan pasar, perubahan interaksi sosial? Sehingga kompetensi,
sertifikasi, dan skill tertentu menjadi bagian yang harus kita persiapkan, olehnya
itu pentingnya mengelola seluruh sumber daya (dalam hal ini guru) yang ada di
sekolah dengan mengedepankan prinsip transparan dan akuntabel. Dan tidak
terjebak dengan urusan-urasan yang jauh dari yang dibayangkan, hanya karena
mereka tidak tahu atau belum tahu tentang sistem aturan yang harus di ikuti.
Indonesia diuntungkan pada sektor anggaran pendidikan, dukungan
pemerintah, dan sarana prasarana. Namun ketiga sektor tersebut membutuhkan

keterampilan tinggi. Oleh karena itu, berbagai program peningkatan SDM dapat
dilaksanakan dengan bekerja sama antara pemerintah, swasta, perguruan tinggi
dan masyarakat untuk menyiapkan angkatan kerja berketerampilan tinggi. Selain
itu dapat juga dilakukan melalui pengenalan IPTEK, karena dampak yang
ditimbulkan oleh teknologi dalam era globalisasi, khususnya teknologi informasi
dan komunikasi, sangat luas. Teknologi ini dapat menghilangkan batas geografis
pada tingkat negara maupun dunia. Dalam aspek pendidikan dengan adanya
IPTEK, guru Indonesia akan semakin meningkat seiring dengan proses alih
pengetahuan dari teknologi tersebut. sehingga secara tidak langsung juga akan
mempengaruhi peningkatan ekonomi di Indonesia.
Tantangan dunia pendidikan saat ini adalah bagaimana memanfaatkan
teknologi informasi dan komunikasi (ICT) dalam konteks akademis. Indonesia
adalah Negara yang besar terdiri dari ribuan pulau yang dipisahkan oleh lautan
yang luas pula. Kebaradaan wilayah yang sangat luas dan terpisahkan oleh lautan
tersebut sering menjadi kendala dalam upaya pemerataan kesejahteraan termasuk
masalah pemerataan kesempatan kepada warga negara dalam mendapatkan
pendidikan sesuai dengan amanat Undang Undang Dasar 1945. Salah satu contoh
permasalahan dalam pendidikan adalah kesulitan peserta didik untuk melanjutkan
studi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi karena keterbatasan daya tampung
lembaga pendidikan. Di sejumlah Negara maju seperti Amerika dan Jepang
permasalahan tersebut mungkin bukan merupakan hal yang serius, karena negaranegara tersebut telah memiliki teknologi untuk mengatasinya.
Penerapan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) seperti radio, televisi
dan internet dalam pendidikan di negara-negara terbut bukanlah hal yang baru.
Teknologi tersebut telah dikemas sedimikian rupa, sehingga menjadi salah satu
alternative untuk mengatasi pemerataan kesempatan kepada warga negaranya
untuk mendapatkan pendidikan sesuai dengan keinginannya.
Teknologi informasi dan komunikasi (ICT) adalah teknologi yang
menjadikan informasi sebagai komoditas yang diolah (Budi Rahardjo, 2000).
Implementasi pendidikan dalam bentuk pembelajaran di sekolah-sekolah atau
perguruan tinggi sarat sekali dengan informasi yang harus diolah para pembelajar
dan pengajar sehingga menjadi sesuatu yang bermakna. Ditinjau dari pihak
pembelajar seberapa banyak, seberapa penting dan sebarapa menarik informasi
tersebut sehingga dapat diasimilasikan menjadi sesuatu yang bermakna. Ditinjau
dari pihak pengajar bagaimana informasi tersebut disajikan atau disampaikan
sehingga pembelajar dapat dengan mudah menerimanya. Di sinilah teknologi
informasi akan memegang peranan yang sangat penting bagaimana mengolah
bahan ajar sebagai bentuk informasi sehingga menarik, mudah diterima dan setiap
peserta didik memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkannya.

Pemanfataan teknologi informasi dan komunikasi dalam pendidikan


sangat erat kaitannya dengan penggunaan computer, TV, radio dan perangkat
keras lainnya. Munculnya teknologi dunia maya melalui internet telah
menyemarakan dan menyempurnakan komunikasi jarak jauh dalam pendidikan
yang telah dirintis radio dan televisi. Namun demikian teknologi internet yang
mebutuhkan jasa satelit komunikasi dan perangkat computer masih terbilang
mahal jika dibandingkan dengan radio dan TV. Aplikasi internet dalam dunia
pendidikan telah mendukung system pendidikan dalam bentuk distance learning,
web based education,e-learning atau bentuk virtual university. Virtual University
memiliki karakteristik yang scalable, yaitu dapat menyediakan pendidikan yang
dapat diakses oleh orang banyak. Hal tersebut dapat menjadi peluang untuk
pemerataan pendidikan di Indonesia yang wialayahnya sangat luas.
Dari beberapa masalah diatas maka penulis mencoba menggambil hasil
beberapa penelitian dalam bentuk jurnal-jurnal yang telah memuat masalah yang
terjadi di dunia pendidikan saat ini serta solusi-solusi yang telah di paparkan dan
telah di konsumsi di berbagai tempat yang berbeda secara geografis. Dan jurnal
yang di review ini berdasarkan tema pembahasan E-Learning dan Tantangan
Guru dalam Penerapan ICT di sekolah.
B. PEMBAHASAN
1. ICT dalam dunia Pendidikan
Teknologi Informasi dan Komunikasi (Information and Communication
Technology), yang terdiri atas teknologi informasi dan teknologi komunikasi,
mampu menghasilkan teknologi unggul yang berperan penting dalam pemrosesan,
manipulasi, pengelolaan dan transfer data antar perangkat/media. Pengaruh ICT
telah dirasakan di hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk di dalamnya di
dunia pendidikan. Pengenalan komputer sebagai alat yang memungkinkan akses,
transmisi, pemrosesan, dan manipulasi informasi telah menunjukkan peluang
untuk memanfaatkan komputer dalam pendidikan karena keduanya berhubungan
dengan informasi. Meskipun demikian, untuk mendapatkan manfaat yang optimal
dari teknologi, kita harus bergerak dari information-centric view dan
menggunakan teknologi untuk mengubah pendidikan melalui pendekatan baru
yang akan menciptakan knowledge society, atau bahkan lebih maju lagi, untuk
menciptakan creative society (Resnick, 2002).1
ICT mempunyai potensi untuk mengubah pendidikan dan pembelajaran
melalui dua cara penting, yaitu: (1) melakukan hal-hal yang telah kita lakukan
dengan lebih cepat, lebih fleksibel, dan lebih efisien dengan akses yang lebih luas,

Resnick, M. 2002. Chapter 3: Rethinking Learning in the Digital Age. The Global
Information Technology Report 2001-2002, 32-37.

dan (2) melakukan hal-hal yang belum dapat kita lakukan atau melakukannya
dengan cara-cara yang berbeda dari sebelumnya (Roca et al, 2006)2.
Murphy dan Greenwood (1998) dalam Agboola mengemukakan bahwa
penggunaan ICT oleh guru dan siswa dalam pembelajaran masih sangat kurang.
Masalah ini merupakan masalah lazim dijumpai di berbagai belahan dunia.
Berbagai penjelasan dari hasil pelbagai penelitian mengenai fenomena ini dikutip
lebih lanjut oleh Agboola, antara lain: kurangnya ketersediaan dan atau
kurangnya aksesibilitas sumber daya ICT di sekolah, langkanya kesempatan
untuk menggunakan komputer, kurangnya pengalaman dan pelatihan untuk
menggunakan ICT, kurangnya motivasi dan dorongan guru untuk menggunakan
ICT, serta masih rendahnya tingkat kepercayaan diri dari guru dan siswa terkait
dengan kemampuan komputernya.
Alat-alat berbasis ICT seperti TV, radio, komputer, kamera digital, dan lainlain telah begitu akrab dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kita, termasuk
dalam kehidupan mahasiswa yang merupakan kelompok terpelajar dan melek
teknologi. Hal ini mengindikasikan adanya potensi yang besar untuk
memanfaatkan ICT dalam aktivitas belajar mahasiswa. Komputer sepertinya
merupakan alat teknologi yang paling intens digunakan dalam aktivitas belajar,
yaitu untuk mengerjakan tugas kuliah, presentasi di kelas, serta memanfaatkan
akses internet untuk mencari informasi yang berkaitan dengan perkuliahan.
Selain komputer dan internet, smartphone menawarkan jalur komunikasi dan
informasi yang lebih fleksibel. Meskipun demikian, ada kecenderungan bahwa
kepemilikan ICT yang begitu marak di kalangan mahasiswa belum diimbangi
dengan
pemanfaatan ICT untuk tujuan edukasi. ICT lebih banyak dimanfaatkan
sebagai media komunikasi, sosialisasi, dan hiburan. Oleh karenanya diperlukan
suatu usaha untuk memotivasi penggunaan ICT untuk menunjang aktivitas
belajar sehingga mampu meningkatkan kompetensi di bidang masing-masing.
Uraian berikut ini akan membahas kemajuan Teknologi Informasi dan
Komunikasi (TIK) dan berbagai kemungkinan penerapannya, khususnya pada
pembelajaran. Pembahasan akan dimulai dengan kekuatan TIK pada
pembelajaran, yang di antaranya melahirkan konsep e-learning, manfaat elearning, dan bahan-bahan pembelajaran untuk e-learning

Roca, et.al. 2006. Understanding e-learning continuance intention: An Extension of the


Technology Acceptance Model. International Journal Human-Computer Studies, 64, 683-696.

2. ICT dan Pembelajaran


Kemajauan TIK telah mendorong manusia untuk meningkatkan efisiensi
dan efektivitas pada setiap kegiatannya. Bidang-bidang seperti e-commerce, ebanking, egovernment misalnya, telah banyak memanfaatkan kemajuan TIK
dalam aktivitasnya. Memasuki abad XXI ini, banyak institusi pendidikan,
khususnya di luar negeri, berusaha meningkatkan kualitas pembelajarannya
dengan memanfaatkan kemajuan TIK melalui program e-learning. Bahkan di
Malaysia, program e-learning ini mendapat dukungan penuh dari pemerintahnya
melalui program Agenda Information Technology National yang dilancarkan
oleh National Information Technology Council (NITC). Untuk membawa
Malaysia siap bersaing di era global abad XXI ini, NITC melancarkan lima
agenda, yaitu bidang e-community, e-public services, e-learning, e-economy, dan
esovereignity (Koran, 2003)3. Sedangkan di Singapura, yang mempunyai basis
TIK lebih baik, telah melangkah lebih maju menuju era e-government dengan
visinya to be a leading e-Government to better serve the nation in the digital
economy (Djunaedi, 2003)4.
Walaupun infrastruktur TIK di Indonesia masih kalah dari beberapa Negara
di luar negeri, sebaiknya para insan pendidikan, khususnya para tenaga pengajar
dan pengelola lembaga pendidikan, harus mulai berpikir dan bertindak untuk
memajukan elearning. Jika tidak segera bertindak, dimungkinkan sekolah-sekolah
di Indonesia akan kehilangan para peserta didiknya, yang lebih suka mengikuti
program distance learning dari sekolah-sekolah di luar negeri. Di samping itu,
UNESCO juga telah menetapkan standar bagi guru untuk dapat menggunakan
TIK bagi keperluan pembelajarannya (Majumdar, 2005)5.
Kekuatan TIK (power of ICT) telah mendorong para insan pendidikan untuk
memannfaatkannya dalam bidang pendidikan. Kekuatan TIK telah mendorong
terjadinya perubahan dalam kurikulum, yang meliputi perubahan tujuan dan isi,
aktivitas belajar, latihan dan penilaian, hasil akhir belajar, serta nilai tambah yang
positip (Yuk, 2006)6.

Koran, J.K.C., 2003, Aplikasi E-Learning dalam Pengajaran dan Pembelajaran di


Sekolah-sekolah Malaysia : Cadangan Pelaksanaan pada Senario Masa Kini.
4
Djunaedi, A., 2003, Beberapa Pemikiran Penerapan E-Government dalam
Pemerintahan Daerah di Indonesia makalah dalam Seminar Nasional E-government di FMIPA
UGM Yogyakarta tanggal 30 Oktober 2003.
5
Majumdar, S. (ed), 2005, Regional Guidelines for Teacher Development for Pedagogy
Technology Integeration, Bangkok : UNESCO.
6
Yuk, V., 2006, ICT in Instruction (e-learning) & The Power of ICT paper in Training
Programme ICT for Quality Improvement of Graduate Study organized by SEAMOLEC, ITB,
DGHE MONE, Bandung, 23 27 June.

Oleh karena itu, muncul istilah-istilah seperti e-teacher, e-test, e-library, eassignment, eeducation, virtual school, virtual university, e-learning, dan
sebagainya. e-learning adalah pembelajaran yang menggunakan TIK untuk
mentransformasikan proses pembelajaran antara pendidik dan peserta didik.
Definisi e-learning ini seringkali berubah-ubah seiring dengan kemajuan
teknologi pada masa kini. la juga seringkali disalah tafsirkan dalam iklan-iklan
promosi pendidikan. Bagaimanapun secara umumnya, e-learning adalah sebatas
pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN,
WAN atau Internet) untuk penyampaian isi kandungan, interaksi ataupun
pemudahcaraan. Internet, Intranet, satelit, tape audio/video, TV interaktif dan
CD-ROM adalah sebahagian dari media elektronik yang dimaksudkan di dalarn
kategori ini. Pengajaran belch disampaikan secara synchronously (pada waktu
yang sama) ataupun asynchronously (pada waktu yang berbeda). Bahan
pengajaran dan pembelajaran yang disampaikan melalui media ini mempunyai
teks, grafik, animasi, simulasi, audio dan video. Ia juga harus menyediakan
kemudahan untuk discussion group dan bantuan profesional bahan pelajaran
secara dalam online7.
Tujuan utama penggunaan teknologi ini adalah meningkatkan efisiensi dan
efektivitas, transparansi, dan akuntabilitas pembelajaran. TIK yang digunakan
untuk menyampaikan materi pembelajaran dalam elearning ini dapat berupa
komputer, LAN (local area network), WAN (wide area network), internet,
intranet, satelit, TV, CD ROM, dan sebagainya. Proses pembelajaran dapat
disampaikan secara synchronously (pada waktu bersamaan) atau asynchronously
(pada waktu yang berbeda). Bahan pembelajaran yang bercirikan multimedia,
mempunyai teks, grafik, animasi, simulasi, audio, video. Hal ini merupakan
kelebihan yang dimiliki media berbasis komputer. Di samping itu, suatu elearning juga harus mempunyai kemudahan bantuan profesional isi pelajaran
secara on line.
Dari uraian tersebut jelas bahwa e-learning menggunakan teknologi informasi
dan komunikasi sebagai alat; dengan tujuan meningkatkan efisiensi, efektivitas,
transparansi, akuntabilitas, dan kenyamanan belajar; dengan obyeknya adalah
layanan pembelajaran yang lebih baik, menarik, interaktif, dan atraktif. Hasil
akhir yang diharapkan adalah peningkatan prestasi dan kecakapan akademik
peserta didik serta pengurangan biaya, waktu, dan tenaga untuk proses
pembelajaran.

-w-w.elearningshowcase.con-i/eleanifa httD://w _A diakses pada tanggal

E-learning termasuk model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.


Dengan e-learning, peserta didik dituntut mandiri dan bertanggung jawab
terhadap proses pembelajarannya, sebab ia dapat belajar di mana saja, kapan saja,
yang penting tersedia alatnya. E-learning menuntut keaktifan peserta didik.
Melalui e-learning, peserta didik dapat mencari dan mengambil informasi/materi
pembelajaran berdasarkan silabus/kriteria yang telah ditetapkan pengajar /
pengelola pendidikan. Peserta didik akan memiliki kekayaan informasi, sebab ia
dapat mengakses informasi dari mana saja yang berhubungan dengan materi
pembelajarannya. Peserta didik juga dapat berdiskusi secara on line dengan
pakar-pakar pada bidangnya, misalnya melalui e-mail atau chatting. Dengan
demikian jelas bahwa keaktifan peserta didik dalam e-learning sangat
menentukan hasil belajar yang mereka peroleh. Semakin ia aktif, semakin banyak
pengetahuan atau kecakapan yang akan diperoleh. Tabel 1 menunjukkan trend
baru model pembelajaran dengan memanfaatkan kemajuan TIK yang akan segera
bergeser dari model e-learning ke model mobile learning (m-learning).

Generasi ke-5
e-learning Model
Web-based course
Integrated multimedia
Computer mediated communication
Computer intelligent system

Generasi ke-6
m-learning Model
Web-based course
Integrated multimedia
Mobile/handphone mediated communication
Computer intelligent system

Tabel 1. Trend Belajar


Karakteristik lain dari e-learning adalah selalu memuat bahan
pembelajaran yang up-to-date. Hal ini disebabkan oleh kemudahan untuk
melakukan koreksi dan pembetulan terhadap materi pembelajaran setiap saat
dipandang perlu. Sebagai perbandingan, pada sistem tradisional, jika ada buku
atau hand out salah cetak misalnya, perlu cetak ulang edisi berikutnya untuk
membetulkannya, dan ini bisa memerlukan waktu berbulan-bulan, bahkan
bertahun-tahun. Berbeda dengan bahan pembelajaran elearning, jika diketahui ada
kesalahan atau adanya temuan baru, saat itu juga materi pembelajaran dapat
dikoreksi dan di update, sehingga peserta didik selalu memperoleh informasi
terbaru dan terkini.
E-learning juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat
belajar secara bebas tanpa merasa tertekan. Bebas dalam artian ia dapat
mencari bahan-bahan atau materi pembelajaran. Ia juga bebas dari perasaan malu,
yang biasanya terjadi pada kelas tradisional, jika ia merasa lambat, tidak bisa

menjawab pertanyaan guru, atau gagal dalam belajarnya. Mereka dapat bebas
bertanya dan berdiskusi dengan pakar yang ada di bidangnya atau melalui
program bantuan profesional (help) secara on line yang didesain pada materi
pembelajaran e-learning. Ia juga bebas mengulang-ulang materi pembelajaran
pada topik tertentu sampai ia memperoleh pemahaman yang lebih baik. Sementara
itu, bagi peserta didik yang cepat dalam belajarnya, ia dapat saja mempelajari
topik lain, tanpa harus menunggu peserta didik yang lambat dalam belajarnya.
Dengan sistem semacam ini diharapkan bahwa hasil akhir proses belajar dengan
e-learning akan lebih baik, sebab tuntutan belajar tuntas (mastery learning) dapat
dipenuhi. Peserta didik juga bebas mengakses bahan pembelajaran e-learning dari
mana saja ia suka.
E-learning juga dapat didesain untuk dapat menyimpan catatan prestasi
peserta didik yang sangat bermanfaat bagi proses umpan balik (feed back).
Catatan prestasi ini dapat digunakan untuk pengukuhan (reinforcement). Di
samping itu, e-learning juga dapat didesain untuk memeriksa dan memberi skor
secara otomatis terhadap hasil evaluasi belajar, sehingga unsur-unsur transparansi
dan akuntabilitas dipenuhi dalam proses ini. Berdasarkan hasil evaluasi ini,
peserta didik secara otomatis dapat disarankan untuk melakukan kegiatan belajar
tertentu (Pribadi dan Rosita, 2003)8.
3. Manfaat e-Learning
Memperhatikan karakteristik e-learning tersebut di atas, jelas bahwa
model pembelajaran e-learning ini sangat bermanfaat, baik bagi peserta didik
maupun tenaga pengajar (guru), bahkan juga bagi para pengelola lembaga
pendidikan. E-learning juga memungkinkan pelaksanaan belajar jarak jauh
semakin mudah dan terbuka serta dapat memasuki kategori realtime (waktu yang
bersamaan) dengan belajar di sekolah.
Bagi peserta didik jelas bahwa e-learning ini akan melatih kemandirian
peserta didik. Di samping itu, juga memberikan kemudahan bagi peserta didik
untuk mengakses materi pembelajaran dari mana pun berada. Oleh karenanya,
para peserta didik dapat menghemat biaya dan waktu untuk tranportasi dari dan ke
sekolah. Tetapi yang jelas, keuntungan yang terpenting adalah bahwa para peserta
didik dapat belajar sesuai dengan kemampuannya tanpa perlu rasa minder atau
malu dengan teman-teman lainnya, yang barang kali lebih cepat dan pandai dalam
belajarnya. Berikut ini adalah beberapa keuntungan yang dapat diperoleh bagi
peserta didik dengan adanya model e-learning :

Pribadi, P.A., dan Rosita, T., 2003, Prospek Komputer sebagai Media Pembelajaran
Interaktif
dalam
Sistem
Pendidikan
Jarak
Jauh
di
Indonesia.
On
line
:http://202.159.18.43/jsi/82benny.htm tanggal 10 Februari 2003.

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Membangun interaksi ketika peserta didik melakukan diskusi secara


on line.
Mengakomodasi perbedaan peserta didik.
eserta didik dapat mengulang materi pelajaran yang sulit berkali-kali,
sampai pemahaman diperoleh.
Kemudahan akses, kapan saja dan di mana saja.
Peserta didik dapat belajar dalam suasana yang bebas tanpa tekanan,
tidak malu untuk bertanya (secara on line).
Mereduksi waktu dan biaya perjalanan.
Mendorong peserta didik untuk menelusuri informasi ke situs-situs
pada world wide web.
Mengijinkan peserta didik memilih target dan materi yang sesuai pada
web.
Mengembangkan kemampuan teknis dalam menggunakan internet.
Mendorong peserta didik untuk bertanggung jawab terhadap
belajarnya dan membangun self-knowledge dan self-confidence.

Sedangkan bagi tenaga pengajar, e-learning juga memberikan banyak


manfaat. Di antaranya yang terpenting adalah bahwa ia selalu dapat memberikan
materi yang up-todate kepada para peserta didiknya. Keuntungan yang lain adalah
:
a. Kemudahan akses kapan saja dan di mana saja
b. Mereduksi biaya perjalanan dan akomodasi, kaitannya dengan
programprogram pelatihan.
c. Mendorong pengajar mengakses sumber-sumber pelajaran yang up-todate.
d. memungkinkan pengajar mengkomunikasikan gagasan-gagasannya
dalam cakupan wilayah yang lebih luas.
Bagi pengelola lembaga pendidikan, e-learning juga mempunyai manfaat
yang sangat luas, di antaranya adalah meningkatkan prestise dan akuntabilitas
lembaga. Elearning memungkinkan menciptakan sistem distance education, dan
virtual school. Dengan sistem ini jelas bahwa pengelola pendidikan tidak lagi
perlu direpotkan dengan pengadaan ruang-ruang kuliah dan sarana lainnya seperti
dalam kelas-kelas tradisional. Ini berarti e-learning akan menghemat biaya
pengadaan prasarana untuk pembelajaran dan biaya operasional pemeliharaan
peralatan dan gedung.
4. Pemilihan Bahan untuk e-learning

Key menyatakan bahwa kegiatan belajar mengajar akan lebih efektif jika
terdapat keseimbangan antara content (gagasan baru, prinsip, dan konsep),
experience (peluang menerapkan konsep pada lingkungan eksperimental), dan
feedback (umpan balik atas tindakan yang diambil pada saat penerapan di tahap
experience)9. Keseimbangan semacam itu akan sulit ditemukan pada kelas-kelas
tradisional, terutama untuk tahapan experience dan feedback. Akan tetapi,
dengan bantuan TIK tahapan experience dan feedback dapat mudah dilaksanakan,
misalnya, melalui simulasi. Karenanya dalam pemilihan bahan untuk e-learning,
seyogyanya para tenaga pengajar juga mempertimbangkan unsur-unsur tersebut,
sebab jika tidak, elearning juga dapat gagal meningkatkan kecakapan dan prestasi
peserta didik jika bahan pembelajarannya didesain seperti halnya yang ada pada
kelas-kelas pembelajaran tradisional. Jadi, menyiapkan bahan untuk e-learning
tidak seperti memindahkan isi buku atau hand out ke komputer. Untuk itu, para
tenaga pendidik dan pengelola pendidikan umumnya harus dapat memilih atau,
bahkan bila memungkinkan, menyiapkan sendiri bahan-bahan e-learning untuk
para peserta didiknya.
Memperhatikan konsep yang disampaikan Key tersebut di atas, jelas
bahwa bahan pembelajaran untuk e-learning harus didesain atau dipilih
sedemikian rupa sehingga mampu meningkatkan efektivitas dan efisiensi belajar.
Rambu-rambu untuk memilih bahan e-learning atau menyiapkan / mendesain
bahan e-learning adalah : (1) berbasis komputer, (2) perancangan tampilan di
monitor memperhatikan kaidah pembuatan media pembelajaran, (3) penyajiannya
menarik dan berkesan, dan (4) biaya penyusunan / pengadaan bahan
pembelajaran. Bahan pembelajaran yang berbasis komputer di antaranya
mempunyai ciri-ciri memuat informasi baru, menyatakan tujuan pembelajaran
dengan jelas, dapat mengetahui kemampuan peserta didik melalui latihan-latihan
secara on line, dan memberikan ada umpan balik terhadap hasil penilaian.
Sedangkan perancangan tampilan di monitor perlu memperhatikan kaidah
pembuatan media pembelajaran karena penelitian menunjukkan bahwa
pengetahuan seseorang 11% diperoleh dari pendengaran dan 83% diperoleh dari
penglihatan. Sedangkan kemampuan daya ingat seseorang 20% diperoleh dari apa
yang
didengar
dan
50%
diperoleh
dari
apa
yang
dilihat
(http://www.itb.ac.id/lp3/aa/bab08.htm). Oleh karena itu, perancangan tampilan di
monitor juga perlu mendapatkan pertimbangan tersendiri dalam memilih bahan
untuk elearning. Peserta didik umumnya membaca teks di monitor 30% lebih
lambat daripada di kertas. Untuk itu sebaiknya teks dibuat ringkas dan padat,
menggunakan warna yang menarik untuk membantu memudahkan mengingat
9

Khoe Yao Tung, 2000, Pendidikan dan Riset di Internet Strategi Meningkatkan Kualitas
SDM dengan Riset dan Pendidikan Global Melalui Teknologi Informasi, Jakarta : Dinastindo.

informasi, memberikan penekananpenekanan pada bagian yang dianggap penting,


dan informasi penting hendaknya disajikan di bagian atas.
Penyajian bahan juga harus di desain sehingga menarik dan berkesan bagi
peserta didik. Keunggulan komputer adalah mampu melakukan manipulasi obyek,
data, suara, gambar, grafik, atau pun teks, serta warna. Karenanya, penggunaan
variasi teks, warna, grafik, animasi, simulasi, audio, video secara baik akan
mampu meningkatkan kualitas penyajian bahan e-learning. Sebaiknya bahan
untuk e-learning dipilih yang memuat unsur-unsur multimedia. Ahirnya
pertimbangan biaya pengadaan bahan e-learning juga perlu mendapatkan
perhatian. Hendaknya para pendidik dapat memilih bahan yang memadai dan
terjangkau. Biaya untuk pengadaan bahan e-learning perlu mendapatkan
pertimbangan, sebab jangan sampai menimbulkan biaya tinggi. Salah satu tujuan
dari elearning adalah mengurangi biaya proses pembelajaran. Ini penting supaya
biaya yang dikeluarkan sebanding dengan kualitas dan kuantitas isi pelajaran.
Kekuatan TIK telah mendorong terjadinya perubahan dalam pembelajaran.
Pemanfaatan TIK pada pembelajaran memberikan banyak keuntungan, baik bagi
peserta didik, pendidik, maupun pengelola pendidikan. TIK dapat memfasilitasi
model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, sehingga peserta didik
dapat lebih aktif dan kreatif. Model Pengembangan TIK di lembaga-lembaga
pendidikan dapat dilaksanakan dalam empat tahapan, yaitu emerging, applying,
infusing, dan transforming, bergantung pada ketersediaan infrastruktur yang ada
serta kesiapan sumberdaya manusia.
5. Tantangan Guru Dalam ICT
Salah satu tantangan terbesar dalam penggunaan ICT untuk pendidikan
adalah menyeimbangkan antara tujuan-tujuan edukasi dengan realitas ekonomi.
ICT dalam program pendidikan membutuhkan investasi modal yang besar. Maka
negara-negara berkembang perlu hati-hati dalam membuat keputusan tentang
model-model penggunaan ICT yang akan diterapkan, dan mereka juga harus sadar
tentang pemeliharaan kelayakan ekonomi karena skalanya yang besar (economies
of scale).
Pada akhirnya, ini adalah isu tentang apakah nilai tambah yang diperoleh
dari penggunaan ICT cukup layak dan seimbang dengan biaya yang dikeluarkan,
dibandingkan dengan biaya bagi alternatif lain. Jika dinyatakan lewat ungkapan
lain, apakah pembelajaran berbasis-ICT merupakan strategi yang paling efektif
untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan? Dan, jika demikian,
modalitas (pilihan cara) dan skala penerapan yang seperti apa, yang dapat

didukung, berdasarkan ketersediaan sumberdaya keuangan, SDM, dan sumber


lain yang ada

Meskipun teknologi merupakan bagian integral dari pendidikan jarak jauh,


namun program pendidikan harus fokus pada kebutuhan instruksional
mahasiswa, dari pada teknologinya sendiri. Perlu juga untuk dipertimbangkan;
umur, kultur, latar belakang sosioekonomi, interes, pengalaman, level
pendidikan, dan terbiasa dengan metoda pendidikan jarak jauh. Faktor yang
penting untuk keberhasilan sistem pendidikan jarak jauh adalah perhatian,
percaya diri dosen, pengalaman, mudah menggunakan perlatan, kreatif
menggunakan alat, dan menjalin interkasi denganmahasiswa. Pada pembangunan
sistem perlu diperhatikan tentang disain dan pengembangan sistem, interactivity,
active learning, visual imagery, dan komunikasi yang efektif. Disain dan
pengembangan sistem. proses pengembangan instruksional untuk pendidikan
jarak jauh, terdiri dari tahap perancangan, pengembangan, evaluasi, dan revisi.
Dalam mendesain instruksional pendidikan jarak jauh yang efektif, harus
diperhatikan, tidak saja tujuan, kebutuhan, dan karakteristik dosen dan
mahasiswa, tetapi juga kebutuhan isi dan hambatan teknis yang mungkin terjadi.
Revisi dilakukan berdasarkan masukan dari instruktur, spesialis pembuat isi, dan
mahasiswa selama proses berjalan. Beberapa hal harus diperhatikan dalam
penerapan pendidikan jarak jauh, antara laian:
Interactivity.
Keberhasilan sistem pendidikan jarak jauh antara lain ditentukan oleh adanya
interaksi antara dosen dan mahasiswa, antara mahasiswa dan lingkungan
pendidikan, dan antara mahasiswa.
Active learning.
Partisipasi aktif peserta pendidikan jarak jauh mempengaruhi cara bagaimana
mereka berhubungan dengan materi yang akan dipelajari.
Visual imagery.
Pembelajaran lewat televisi dapat memotivasi dan merangsang keinginan
dalam proses pembelajaran. Namun jangan sampai terjadi distorsi karena adanya
hiburan. Harus ada penseleksian antara informasi yang tidak berguna dengan
yang berkualitas, menentukan mana yang layak dan tidak, mengidentifikasi
penyimpangan, membedakan fakta dari yang bukan fakta, dan mengerti
bagaimana teknologi dapat memberikan informasi berkualitas.

Komunikasi yang efektif.


Desain instruksional dimulai dengan mengerti harapan pemakai, dan
mengenal mereka sebagai individual yang mempunyai pandangan berbeda
dengan perancang sistem. Dengan memahami keingingan pemakai maka dapat
dibangun suatu komunikasi yang efektif. Bentuk- bentuk komunikasi dalam
pelaksanaan aktivitas intruksional pada pendidikan jarak jauh ditunjukkan pada
gambar 1.

Audio Conference

Group Conferene

Gambar 1. Contoh aktivitas pelaksanaan instruksional

6. PENUTUP
Roadmap penelitian ICT ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Telah
banyak penelitian dilakukan berkenaan dengan ICT. Beberapa contoh misalnya
Mbangwana (2008) meneliti tentang Pengenalan ICT di sekolah-sekolah dan
kelas di Cameroon untuk menjawab pertanyaan penelitian Apakah pengenalan/
pengintegrasian ICT di sekolah dapat berperan sebagai wahana dan dasar untuk
menggerakkan reformasi pendidikan yang bermakna untuk bergeser dari
instructionism yang bersifat didaktis ke constructivism? Hasil penelitian
menunjukkan bahwa The integration of ICT in Cameroon remains sporadic and
without clear direction. Access to ICT by students and teachers has begun, yet its
use supports traditional teaching rather than the shift to new roles and
pedagogical practice. Penelitian lain yang dilakukan Guild (2006) lebih banyak
menggali aspek-aspek yang berkenaan dengan e-learning sebagai bagian dari
ICT. Tema-tema penelitiannya antara lain The current state of e-learning,
Elearning success factors and priorities, future directions of e-learning, new elearning modalities, etc.
Berbeda dengan penelitian di atas, penelitian ini dilaksanakan dengan
menggunakan pendekatan yang sistematis dan sistemik sesuai dengan konsep dan
prinsip teknologi pembelajaran sebagai supra system dari ICT dan elearning.
Dalam penelitian ini, ingin diketahui potensi SDM di bidang ICT, potensi
sekolah dalam mendisain, mengembangkan, memanfaatkan, mengelola dan
mengevaluasi penerapan ICT.
Jadi peta atau profil potensi sekolah tidak hanya menyangkut pemanfaatan
dalam arti sempit, tetapi juga menyangkut disain, pengembangan pemanfaatan,
pengelolaan, dan penilaian/ evaluasi sesuai dengan konsep teknologi
pembelajaran mutakhir. Konsep teknologi pembelajaran (instructional
technology) mutakhir dapat dilihat dalam definisi yang dikeluarkan oleh
Association for Educational Communications and Technology (AECT) sebagai
berikut:Instructional Technology is the theory and practice of design,
development, utilization, management and evaluation of processes and resources
for learning (Seels & Richey, 1994:10)10. Berdasar definisi tersebut, kawasan
(domain) teknologi pembelajaran dapat dilihat pada Gambar 1.
V
10

Seels, Barbara B. & Richey, Rita C. 1994. Instructional Technology: The Definition
and Domains of the Field. Washington D.C.: Association for Educational Communications &
Technology (AECT).

V
V
DEVELOPMENT

UTILIZATIONS

Print Technologies
Audiovisual Technologies
Computer-Based
Technologies Integrated
Technologies

DESIGN

Media Utilization Diffusion


of Innovations
Implementation and
Institutionalization Policies
and Regulations

THEORY
PRACTICE

Instructional Systems
Design Message Design
Instructional Strategies
Learner Characteristics

MANAGEMENT
Project Management
Resource Management
Delivery System
Management Information

EVALUATION
Problem Analysis CriterionReferenced Measurement
Formative Evaluation
Summative Evaluation

Gambar 1: The Domains of Instructional Technology11


Membantu proses belajar, memicu dan memacu, proses belajar, serta
memberikan kemudahan atau fasilitas belajar merupakan tujuan Teknologi
Pembelajaran. Tercapainya tujuan belajar berupa berubahnya pengetahuan,
keterampilan, dan sikap secara relatif tetap yang diakibatkan oleh pengalaman,
bukan karena kedewasaan atau pertumbuhan merupakan kriteria pokok
keberhasilan pembelajaran. Hal ini sejalan dengan pengertian learning refers to
the relatively permanent change in a persons knowledge or behavior due to
experience (Mayer dalam Seels & Richey, 1994: 12); atau Learning is a change
in human disposition or capability which persists over a period of time, and
which is not ascribable to processes of growth (Gagne, 1997:3)12.
11

Seels, Barbara B. & Richey, Rita C. 1994. Instructional Technology: The Definition
and Domains of the Field. Washington D.C.: Association for Educational Communications &
Technology (AECT) hal. 26.
12
Gagne, Robert M. 1997. The Conditions of Learning. New York: Holt, Rinehart and
inston.

LAMPIRAN :