Anda di halaman 1dari 11

Yoyoh Yusroh

Yoyoh Yusroh <a href=Hom e Blog P hotos M usic C alendar R eviews L inks KONDISI EKONOMI INDONESIA ANTARA REALITA & IDEALITA Category: Other A ug 5, '08 10:16 P M for everyone A. Muqaddimah Indonesia Negara yang kita cintai saat ini telah mengalami pasca reformasi yang faktanya sampai saat ini masih belum sehat secara ideal baik perkembangan pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, pertahanan maupun keamanannya bahkan kalau kita tidak ikut turun tangan untuk mempertahankannya akan cenderung menjadi Negara gagal (Failled State) ibaratnya point of safe return, tinggal sejengkal, setapak lagi kita akan mnyentuh point of no return ke arah kebangkrutan nasional. Reformasi gagal karena terbajak oleh kekuatan neoliberalisme, sehingga posisi ekonomi-politik nasional terseret jauh masuk kedalam neo-imperialisme yang ganas dan mewabah. Reformasi 1998 lebih membuka jalan untuk bertekuk lutut pada Washington Concensus, yang kemudian bertengger menjadi “madzhab resmi” bagi pelaksanaan kebijaksanaan liberalisasi, deregulasi, privatisasi dan pencabutan subsidi bagi rakyat. Nasionalisme Indonesia yang terwujudkan dalam demokrasi ekonomi (Pancasila) sesungguhnya sangatlah modern, artinya pembangunan nasional dengan landasan naionalisme terwejantahkan dalam bentuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Semestinya Pembangunan Nasional dilakukan untuk mencapai tujuan Nasional, yaitu ”melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejateraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa”. Fakta Dunia saat ini • Menurut survei Merrill Lynch dan Konsultan Teknologi Capgemini yang disiarkan 15 Juni 2004, orang kaya sejagat 7,7 juta, di posisi akhir tahun 2003. • Sejak 2001 membaiknya bursa harga saham dunia dan adanya pertumbuhan ekonomi membuat orang kaya semakin berani berinvestasi dengan imbal hasil (yield) tinggi • Peningkatan kekayaan sekitar 7,7 % mencapai total US$ 28,8 trilyun pada 2003. • Jika dikonversikan ke rupiah dg kurs Rp.9000,- per dollar AS mencapai Rp.259,2 triliun. Total kekayaan ini kembali ke level sebelum resesi dunia tahun 2001. • Diperkirakan jumlah kekayaan ini akan semakin meningkat setiap tahunnya dengan pertumbuhan 7% dan jumlah kekayaan mereka akan melampaui US$ 40,7 triliun. • Sekjen PBB Kofi Annan pada pertemuan G77 yang diselenggarakan oleh UN Conference on Development and Trading (UNCTAD) di Sao Paulo Brasil tanggal 15 Juni 2004 menyatakan setiap lima detik ada seorang bayi yang meninggal akibat kegagalan dunia memerangi kemiskinan. • Kegagalan menjangkau pendidikan, kesehatan, dan target-target anti kelaparan pada tahun 2015 akan membawa generasi berikutnya di negara berkembang ke kehidupan yang malang. Fakta Indonesia Sebagai Negara muslim 1. Jumlah populasi muslim di dunia lebih dari 1,2 milyar. Indonesia terbesar dengan 180 juta muslim. 2. Dari jumlah 1,2 milliar tersebut, 250 juta miskin absolut, 200 juta tidak akses ke kesehatan, 300 juta kurang sarana air bersih dan 400 juta kurang sanitasi. " id="pdf-obj-0-12" src="pdf-obj-0-12.jpg">

Category: Other

Aug 5, '08 10:16 PM for everyone

A. Muqaddimah Indonesia Negara yang kita cintai saat ini telah mengalami pasca reformasi yang faktanya sampai saat ini masih belum sehat secara ideal baik perkembangan pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, pertahanan maupun keamanannya bahkan kalau kita tidak ikut turun tangan untuk mempertahankannya akan cenderung menjadi Negara gagal (Failled State) ibaratnya point of safe return, tinggal sejengkal, setapak lagi kita akan mnyentuh point of no return ke arah kebangkrutan nasional. Reformasi gagal karena terbajak oleh kekuatan neoliberalisme, sehingga posisi ekonomi-politik nasional terseret jauh masuk kedalam neo-imperialisme yang ganas dan mewabah. Reformasi 1998 lebih membuka jalan untuk bertekuk lutut pada Washington Concensus, yang kemudian bertengger menjadi “madzhab resmi” bagi pelaksanaan kebijaksanaan liberalisasi, deregulasi, privatisasi dan pencabutan subsidi bagi rakyat. Nasionalisme Indonesia yang terwujudkan dalam demokrasi ekonomi (Pancasila) sesungguhnya sangatlah modern, artinya pembangunan nasional dengan landasan naionalisme terwejantahkan dalam bentuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Semestinya Pembangunan Nasional dilakukan untuk mencapai tujuan Nasional, yaitu ”melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejateraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa”. Fakta Dunia saat ini • Menurut survei Merrill Lynch dan Konsultan Teknologi Capgemini yang disiarkan 15 Juni 2004, orang kaya sejagat 7,7 juta, di posisi akhir tahun 2003. • Sejak 2001 membaiknya bursa harga saham dunia dan adanya pertumbuhan ekonomi membuat orang kaya semakin berani berinvestasi dengan imbal hasil (yield) tinggi • Peningkatan kekayaan sekitar 7,7 % mencapai total US$ 28,8 trilyun pada 2003. • Jika dikonversikan ke rupiah dg kurs Rp.9000,- per dollar AS mencapai Rp.259,2 triliun. Total kekayaan ini kembali ke level sebelum resesi dunia tahun 2001. • Diperkirakan jumlah kekayaan ini akan semakin meningkat setiap tahunnya dengan pertumbuhan 7% dan jumlah kekayaan mereka akan melampaui US$ 40,7 triliun. • Sekjen PBB Kofi Annan pada pertemuan G77 yang diselenggarakan oleh UN Conference on Development and Trading (UNCTAD) di Sao Paulo Brasil tanggal 15 Juni 2004 menyatakan setiap lima detik ada seorang bayi yang meninggal akibat kegagalan dunia memerangi kemiskinan. • Kegagalan menjangkau pendidikan, kesehatan, dan target-target anti kelaparan pada tahun 2015 akan membawa generasi berikutnya di negara berkembang ke kehidupan yang malang.

Fakta Indonesia Sebagai Negara muslim 1. Jumlah populasi muslim di dunia lebih dari 1,2 milyar. Indonesia terbesar dengan 180 juta muslim. 2. Dari jumlah 1,2 milliar tersebut, 250 juta miskin absolut, 200 juta tidak akses ke kesehatan, 300 juta kurang sarana air bersih dan 400 juta kurang sanitasi.

3.

Perlu dicatat, baahwa 50% cadangan minyak dunia ada di negara mayoritas populasinya

muslim.

  • 4. Dari 60 negara dengan mayoritas penduduknya muslim, dapat dikatagorikan 4 negara kaya

sekali, 6 negara menengah, 19 dibawah rata-rata dan 21 miskin.

  • 5. Jika seluruh GDP Negara-muslim Digabung maka totalnya hanya kurang dari 5% GDP

dunia.

  • 6. Indeks produksi makanan perkapita rendah padahal punya tanah pertanian sekitar 2,6 juta

hektar termasuk 16% hutan didalamnya.

  • 7. Mayoritas Juara KKN dan terkena debtrap, khususnya Indonesia.

    • B. Sebuah Perbandingan Kemiskinan Indonesia Dulu dan Kini

Dalam salahsatu diskusi Setiap hari selasa, Prof. Mubyarto, Begawan Ekonomi Kerakyatan Indonesia pernah mengutip tulisan Pierre Van der Eng, seorang sejarawan Belanda menulis yang tentang strata ekonomi penduduk di jaman penjajahan. Pada tahun 1930, dua tahun setelah Sumpah Pemuda, 51,1 juta penduduk pribumi (Indonesia) yang merupakan 97,4% dari seluruh penduduk yang berjumlah 60,7 juta hanya menerima 3,6 juta gulden (0,54%) dari pendapatan “nasional” Hindia Belanda, penduduk Asia lain yang berjumlah 1,3 juta (2,2%) menerima 0,4 juta gulden (0,06%) sedangkan 241.000 orang Eropa (kebanyakan Belanda) menerima 665 juta gulden (99,4%). Sangat “njomplangnya” pembagian pendapatan nasional inilah yang sulit diterima para pejuang perintis kemerdekaan Indonesia yang bersumpah tahun 1928 di Jakarta. Kemerdekaan, betapapun sangat “mahal” harganya, harus dicapai karena akan membuka jalan ke arah perbaikan nasib rakyat dan bangsa Indonesia. Kini setelah Indonesia merdeka 63 tahun, ketimpangan ekonomi tidak separah ketika jaman penjajahan, tetapi konglomerasi (1987-1994) yang menciptakan ketimpangan ekonomi luar biasa, sungguh-sungguh merupakah “bom waktu” yang kemudian meledak sebagai krismon 1997. Dalam 26 tahun (1971-1997) rasio pendapatan penduduk daerah terkaya dan daerah termiskin meningkat dari 5,1 (1971) menjadi 6,8 (1983) dan 9,8 (1997), dan Gini Rasio meningkat berturut-turut dari 0,18 menjadi 0,21 dan 0,24.

Dari sisi penguasaan asset, dapat dilihat dari piramida terbalik dibawah ini:

Indonesia Saat Ini Studi yang dilakukan oleh IMD dari Swiss sebelum krisis menempatkan Indonesia di nomor 45 dari 47 bangsa-bangsa di dunia. Kemampuan IPTEK No. 42 Kemampuan Manajemen No. 44. Keadaan Sarana dan Prasarana No. 46 Akses terhadap Permodalan No. 43 Lobby & Hubungan Internasional No. 43 Kekuatan Ekonomi Domestik No. 45 Kualitas Pemerintahan No. 36 HDI indonesia saat ini (2007/2008) menurut UNDP, menempatkan indonesia pada posisi 107 dibawah Vietnam (105) dan Otoritas Palestina (106) dari 177 negara di Dunia.

  • C. Ekonomi Indonesia

Indonesia memiliki ekonomi berbasis-pasar di mana pemerintah memainkan peranan penting.

Pemerintah memiliki lebih dari 164 BUMN dan menetapkan harga beberapa barang pokok, termasuk bahan bakar, beras, dan listrik. Setelah krisis finansial Asia yang dimulai pada pertengahan 1997, pemerintah menjaga banyak porsi dari aset sektor swasta melalui pengambilalihan pinjaman bank tak berjalan dan asset perusahaan melalui proses penstrukturan hutang. Selama lebih dari 30 tahun pemerintahan Orde Baru Presiden Soeharto, ekonomi Indonesia tumbuh dari GDP per kapita $70 menjadi lebih dari $1.000 pada 1996. Melalui kebijakan moneter dan keuangan yang ketat, inflasi ditahan sekitar 5%–10%, rupiah stabil dan dapat diterka, dan pemerintah menerapkan sistem anggaran berimbang. Banyak dari anggaran pembangunan dibiayai melalui bantuan asing.

Table (a) Kenaikan harga-harga Table (b) fluktuasi Inflasi di Indonesia Di Indonesia di Indonesia

Pada pertengahan 1980-an pemerintah mulai menghilangkan hambatan kepada aktivitas ekonomi. Langkah ini ditujukan utamanya pada sektor eksternal dan finansial dan dirancang untuk meningkatkan lapangan kerja dan pertumbuhan di bidang ekspor non-minyak. GDP nyata tahunan tumbuh rata-rata mendekati 7% dari 1987–1997, dan banyak analisis mengakui Indonesia sebagai ekonomi industri dan pasar utama yang berkembang. Tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dari 1987–1997 menutupi beberapa kelemahan struktural dalam ekonomi Indonesia. Sistem legal sangat lemah, dan tidak ada cara efektif untuk menjalankan kontrak, mengumpulkan hutang, atau menuntut atas kebangkrutan. Aktivitas bank sangat sederhana, dengan peminjaman berdasarkan-"collateral" menyebabkan perluasan dan pelanggaran peraturan, termasuk batas peminjaman. Hambatan non-tarif, penyewaan oleh perusahaan milik negara, subsidi domestik, hambatan ke perdagangan domestik, dan hambatan ekspor seluruhnya menciptakan gangguan ekonomi. Krisis finansial Asia Tenggara yang melanda Indonesia pada akhir 1997 dengan cepat berubah menjadi sebuah krisis ekonomi dan politik. Respon pertama Indonesia terhadap masalah ini adalah menaikkan tingkat suku bunga domestik untuk mengendalikan naiknya inflasi dan melemahnya nilai tukar rupiah, dan memperketat kebijakan fiskalnya. Pada Oktober 1997, Indonesia dan International Monetary Fund (IMF) mencapai kesepakatan tentang program reformasi ekonomi yang diarahkan pada penstabilan ekonomi makro dan penghapusan beberapa kebijakan ekonomi yang dinilai merusak, antara lain Program Permobilan Nasional dan monopoli, yang melibatkan anggota keluarga Presiden Soeharto. Rupiah masih belum stabil dalam jangka waktu yang cukup lama, hingga pada akhirnya Presiden Suharto terpaksa mengundurkan diri pada Mei 1998. Di bulan Agustus 1998, Indonesia dan IMF menyetujui program pinjaman dana di bawah Presiden B.J Habibie. Presiden Gus Dur yang terpilih sebagai presiden pada Oktober 1999 kemudian memperpanjang program tersebut.

D. Kajian Pengeluaran Publik Sejak krisis keuangan Asia di akhir tahun 1990-an, yang memiliki andil atas jatuhnya rezim Suharto pada bulan Mei 1998, keuangan publik Indonesia telah mengalami transformasi besar. Krisis keuangan tersebut menyebabkan kontraksi ekonomi yang sangat besar dan penurunan yang sejalan dalam pengeluaran publik. Tidak mengherankan utang dan subsidi meningkat secara drastis, sementara belanja pembangunan dikurangi secara tajam. Saat ini, satu dekade kemudian, Indonesia telah keluar dari krisis dan berada dalam situasi dimana sekali lagi negara ini mempunyai sumber daya keuangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pembangunan. Perubahan ini terjadi karena kebijakan makroekonomi yang berhati-hati, dan yang paling penting defisit anggaran yang sangat rendah. Juga cara

pemerintah membelanjakan dana telah mengalami transformasi melalui ”perubahan besar” desentralisasi tahun 2001 yang menyebabkan lebih dari sepertiga dari keseluruhan anggaran belanja pemerintah beralih ke pemerintah daerah pada tahun 2006. Hal lain yang sama pentingnya, pada tahun 2005, harga minyak internasional yang terus meningkat menyebabkan subsidi minyak domestik Indonesia tidak bisa dikontrol, mengancam stabilitas makroekonomi yang telah susah payah dicapai. Walaupun terdapat resiko politik bahwa kenaikan harga minyak yang tinggi akan mendorong tingkat inflasi menjadi lebih besar, pemerintah mengambil keputusan yang berani untuk memotong subsidi minyak. Keputusan tersebut memberikan US$10 milyar tambahan untuk pengeluaran bagi program pembangunan. Sementara itu, pada tahun 2006 tambahan US$5 milyar telah tersedia berkat kombinasi dari peningkatan pendapatan yang didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang stabil secara keseluruhan dan penurunan pembayaran utang, sisa dari krisis ekonomi. Ini berarti pada tahun 2006 pemerintah mempunyai US$15 milyar ekstra untuk dibelanjakan pada program pembangunan. Negara ini belum mengalami ‘ruang fiskal’ yang demikian besar sejak peningkatan pendapatan yang dialami ketika terjadi lonjakan minyak pada pertengahan tahun 1970an. Akan tetapi, perbedaan yang utama adalah peningkatan pendapatan yang besar dari minyak tahun 1970-an semata-mata hanya merupakan keberuntungan keuangan yang tak terduga. Sebaliknya, ruang fiskal saat ini tercapai sebagai hasil langsung dari keputusan kebijakan pemerintah yang hati hati dan tepat. Walaupun demikian, sementara Indonesia telah mendapatkan kemajuan yang luar biasa dalam menyediakan sumber keuangan dalam memenuhi kebutuhan pembangunan, dan situasi ini dipersiapkan untuk terus berlanjut dalam beberapa tahun mendatang, subsidi tetap merupakan beban besar pada anggaran pemerintah. Walaupun terdapat pengurangan subsidi pada tahun 2005, total subsidi masih sekitar US$ 10 milyar dari belanja pemerintah tahun 2006 atau sebesar 15 persen dari anggaran total. Berkat keputusan pemerintahan Habibie (Mei 1998 - Agustus 2001) untuk mendesentralisasikan wewenang pada pemerintah daerah pada tahun 2001, bagian besar dari belanja pemerintah yang meningkat disalurkan melalui pemerintah daerah. Hasilnya pemerintah propinsi dan kabupaten di Indonesia sekarang membelanjakan 37 persen dari total dana publik, yang mencerminkan tingkat desentralisasi fiskal yang bahkan lebih tinggi daripada rata-rata OECD. Dengan tingkat desentralisasi di Indonesia saat ini dan ruang fiskal yang kini tersedia, pemerintah Indonesia mempunyai kesempatan unik untuk memperbaiki pelayanan publiknya yang terabaikan. Jika dikelola dengan hati-hati, hal tersebut memungkinkan daerah-daerah tertinggal di bagian timur Indonesia untuk mengejar daerah-daerah lain di Indonesia yang lebih maju dalam hal indikator sosial. Hal ini juga memungkinkan masyarakat Indonesia untuk fokus ke generasi berikutnya dalam melakukan perubahan, seperti meningkatkan kualitas layanan publik dan penyediaan infrastruktur seperti yang ditargetkan. Karena itu, alokasi dana publik yang tepat dan pengelolaan yang hati-hati dari dana tersebut pada saat mereka dialokasikan telah menjadi isu utama untuk belanja publik di Indonesia kedepannya. Sebagai contoh, sementara anggaran pendidikan telah mencapai 17.2 persen dari total belanja publik- mendapatkan alokasi tertinggi dibandingkan sektor lain dan mengambil sekitar 3.9 persen dari PDB pada tahun 2006, dibandingkan dengan hanya 2.0 persen dari PDB pada tahun 2001 - sebaliknya total belanja kesehatan publik masih dibawah 1.0 persen dari PDB. Sementara itu, investasi infrastruktur publik masih belum sepenuhnya pulih dari titik terendah pasca krisis dan masih pada tingkat 3.4 persen dari PDB. Satu bidang lain yang menjadi perhatian saat ini adalah tingkat pengeluaran untuk administrasi yang luar biasa tinggi. Mencapai sebesar 15 persen pada tahun 2006 menunjukkan suatu penghamburan yang signifikan atas sumber daya publik. Paradigma Pembangunan Ekonomi Indonesia antara MDGs dan Visi Indonesia 2030,

Millenium Development Goals atau disingkat MDG's adalah sebuah inisiatif pembangunan yang dibentuk pada tahun 2000, oleh perwakilan-perwakilan dari 189 negara dengan menandantangani deklarasi yang disebut sebagai Millennium Declaration. Millennium Declaration ini mengandung 8 poin yang harus dicapai sebelum tahun 2015.

Delapan poin ini tergabung dalam tujuan yang dinamakan Millennium Development Goals (MDGs). Sebutan bahasa Indonesianya adalah Tujuan Pembangunan Milenium. 189 negara yang hadir dan menandatangani deklarasi Milenium itu ngga cuman negara-negara kaya, tapi juga negara-negara dari belahan selatan dunia, yang termasuk dalam jajaran negara miskin dan berkembang. 8 MDGs yang disetujui adalah:

  • 1. Radicate extreme poverty and hunger: Penghapusan kemiskinan.

  • 2. Achieve universal primary education: Pendidikan untuk semua.

  • 3. Promote gender equality and empower women: Persamaan gender.

  • 4. Combat HIV/AIDS, malaria, and other diseases: Perlawanan terhadap penyakit.

  • 5. Reduce child mortality Penurunan angka kematian anak.

  • 6. Improve Maternal Health: peningkatan kesehatan ibu.

  • 7. Ensure environmental sustainability: Pelestarian lingkungan hidup.

  • 8. Develop a global partnership for development: Kerjasama global.

    • E. Visi Indonesia 2030

Pada tahun 2030 nanti, dengan jumlah penduduk sebesar 285 juta jiwa, PDB Indonesia bisa mencapai 5,1 triliun $US. Dengan pendapatan perkapita US$ 18.000 per tahun maka Indonesia akan berada pada posisi kelima ekonomi terbesar setelah China, India, Amerika Serikat dan Uni Eropa. Untuk mencapai cita-cita dan impian ini, beberapa asumsi harus dapat tercapai, yaitu: pertumbuhan ekonomi riil rata-rata 7,62 %, laju inflasi 4,95 %, dan pertumbuhan penduduk rata-rata hanya 1,12 % per-tahun. Untuk mewujudkan impian pada 23 tahun dari sekarang ini, beberapa tokoh mencoba menanggapi. Menurut Haryono Suyono, sukses dari impian Visi Indonesia 2030 mengharuskan pemerintah bersama-sama masyarakat untuk mempersiapkan sumber daya manusia bermutu, lewat bidang pendidikan dan pelatihan selama 15 tahun pertama. Cita-cita ini hanya akan bisa terwujud jika kita semua komit memberi perhatian dan prioritas yang tinggi terhadap bidang pendidikan, terutama di bidang ilmu murni dan terapan, ilmu komputer dan elektronika, selain juga pendidikan budi pekerti dan pengetahuan global.

Hartarto yang dulu sempat menjabat sebagai Menperindag dan berbagai jabatan Menko lainnya di kabinet selama 16 tahun, sejak 1983 s.d. 1999, meringkas Visi Indonesia pada tahun 2030 sebagai berikut:

  • 1. Demokrasi dan otonomi daerah telah mantap/dewasa perkembangannya.

  • 2. Prudent macro economic management dengan balance budget dan inflasi yang rendah.

  • 3. Neraca perdagangan yang positif, ekonomi Indonesia tumbuh rata–rata 6% pertahun

syukur lebih tinggi, didukung investasi.

  • 4. Angka pertumbuhan penduduk 0,9%, dengan jumlah 300 juta orang.

  • 5. Pendapatan perkapita menjadi US $ 6000 – US $ 7000 dan jumlah penduduk miskin yang

rendah.

  • 6. Ratio pendapatan pajak terhadap PDB 30%, hutang amat kecil, memiliki kemandirian

bangsa dalam administrasi negara, pelaksanaan pembangunan dan pertahanan/keamanan.

  • 7. Industri, pertanian dan jasa tumbuh pesat, dan mampu:

    • a. Mencapai swasembada pangan secara lestari.

    • b. Menjadi bangsa niaga yang maju.

    • c. Jasa yang luas

Hartanto, ada beberapa langkah pembangunan Ekonomi yang perlu dilakukan dalam mewujudkan impian ini:

• Pertama, menciptakan iklim usaha yang benar–benar kondusif. • Kedua, membenahi peranan aparatur pajak.

• Ketiga, menyisihkan sebagian dana APBN untuk dialokasikan bagi pengembangan bank pemerintah dengan fokus pada pembangunan industri (mesin, perkapalan) dan pertanian (perkebunan, kelautan) dengan bunga rendah. • Keempat, pengembangan sektor pertanian dalam arti luas termasuk pula kehutanan dan kelautan. • Kelima, mengembangkan dan melaksanakan strategi dan visi industrialisasi. Selanjutnya kekuatan ekonomi ketiga yang perlu dikembangkan secara terpadu adalah sektor jasa. Upaya pemerintah dalam bidang perekonomian:

  • 1. Penanggulangan kemiskinan.

  • 2. Peningkatan investasi dan ekspor non migas.

  • 3. Daya saing Industri Manufaktur.

  • 4. Revitalisasi sektor pertanian, perikanan dan kehutanan.

  • 5. Pemberdayaan UMKMK.

  • 6. Peningkatan pengelolaan BUMN.

  • 7. Perbaikan Iklim Ketetnagakerjaan.

  • 8. Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro.

Indonesia dan ASEAN Selain Singapore & Brunei, semua negara di kawasan Asia Tenggara punya kesamaan karakteristik dlm pembangunan ekonominya, yaitu berbasis pada pertanian. Namun demikian, sejak tahun 70-an, telah terjadi transformasi besar2an dlm sistem ekonomi negara2 di kawasan ini, dari pertanian ke industri (industrialisasi). Namun demikian, terdapat tahapan industrialisasi yg berbeda-beda diantara negara2 di kawasan ini. Implikasi dari kondisi tsb adalah terdapat gap yg sangat besar diantara negara2 tsb, terutama menyangkut Gross National Product (GNP). Gap ini bertambah besar manakala terjadi krisis ekonomi yg menghantam beberapa negara di kawasan ini (Indonesia & Malaysia). Selain Myanmar, semua negara di kawasan ini sedang berupaya utk mengadopsi kapitalisme & liberalisme dlm sistem ekonominya. Meski Vietnam & Laos mengaku bhw mrk adalah negeri sosialisme, namun dlm kenyataannya, mrk juga sedang berupaya utk mengadopsi sistem kapitalisme dan liberalisme. Secara umum dpt dikatakan bhw negara2 di kawasan ini sedang berada dlm situasi transisi ekonomi, dari ekonomi yg terpusat (the planned economic model) menuju sistem yg lebih berorientasi kepada pasar. Sebagai contoh, Tidak mengherankan jika saat ini Vietnam mulai melepas harga2 produk berdasar mekanisme pasar & mata uang Vietnam telah didevaluasi & diambangkan di pasar mata uang internasional.

Namun demikian, derajad kapitalisme & liberalisme diantara negara2 di kawasan ini sangat berbeda-beda. Menurut Christiansen, keanggotaan ASEAN telah memayungi neo-liberal & authoritarian tiger economies pada satu sisi, dan transisi ekonomi sosialist pada sisi yg lain. Dengan demikian, kecuali Myanmar, dpt dikatakan bhw secara umum sistem ekonomi negara2 di kawasan Asia Tenggara sedang dilanda gelombang kapitalisme & liberalisme ekonomi. Tidak pernah negara2 anggota ASEAN mengekespresikan concern mereka untuk membangun regionalisme di Asia Tenggara sampai pada tgl October 7th, 2003, melalui the Declaration of ASEAN Concord II (dikenal sbg Bali Concord II), mereka mendeklarasikan “the ASEAN Community”. the ASEAN Community terdiri dari 3 pilar:

  • 1. Political and security cooperation in order to build the ASEAN Security Community or

ASC.

2.

The ASEAN Economic Community or AEC.

  • 3. The ASEAN Socio-Cultural Community or ASCC.

Menghadapi hal tersebut, paling tidak, ASEAN memiliki masalah sebagai berikut:

Masalah Ekonomi. • Negara2 di Asia Tenggara harus berkompetisi diantara mrk sendiri dg produk yg sama. • Tidak mengherankan jika mrk melakukan balance of power dlm kaitan dengan ekonomi. • Disparitas kemakmuran. • Perbedaan dlm derajad kapitalisme & liberalisme ekonomi. Masalah: Sosio Cultural • Absennya identitas bersama diantara bangsa2 di Asia Tenggara. • Masih kuatnya sentimen nasionalisme (bertentangan dg semangat regionalisme). • Lemahnya institusi ASEAN utk mendorong proses ini. • Masalah menuju terbentuknya Asean community. Masalah politik • Tidak adanya kepemimpinan yg mendorong proses integrasi. • Tidak adanya institusi yg kuat utk mendorong proses integrasi. • Masih kurangnya Political Will dari negara2 di Asia Tenggara utk menciptakan integrasi.

F. Perekonomian Dunia Perekonomian Indonesia tidak terlepas dari perkembangan ekonnomi Dunia secara menyeluruh. Dalam tahun 2006, perekonomian Dunia tumbuh 5,4 %, lebih tinggi dari tahun 2005 (4,9 %) didorang oleh pertumbauhan ekonomi Negara maju dan Negara berkembang. Perekonomian Amerika tumbuh 3,3 % dengan kecendrunag melambat karena melemahnya sector perumahan. Perekonomian jepang dan eropa tumbuh relative tinggi yaitu berturut-turut 2,2 % dan 2,6 %. Asia masih merupakan penggerak utama ekonomi Dunia terutama didorong oleh China, India, dan Negara-negara Emerging market lainnya. Pada tahun 2006 perekonomian China tumbuh 10,7 % sedangkan India tumbuh 9,2 %. Bahkan dalam tahun 2006 perekonomian Asia tumbuh mencapai 94%. tertinggi disbanding kawasan-kawasan lainnya. Pertumbuhan Ekonomi dunia yang tinggijuga didorong oleh pertumbuhan ekonomi di kawasan lain. Kawasan Ameika Latin, timur tengah, dan Afrika dalam tahun 2006 tumbuh lebih tinggi atau paling tidak sama dengan tahun 2005 yaitu berturut-turut 5,5 % 5,7 % dan 5,5 %. Ekonomi dunia yang tumbuh didukung oleh kegiatan perdagangan dunia an harga komoditi yang meningkat. Dalam tahun 2006, volume perdagangan Dunia mencapai meningkat 8,9% dari tahun sebelumnya. Pun dengan haarga komoditi di pasar internasional, mengalamai kenaikan hingga 28,4 %. Tingginya pertumbuhan Ekonomi Dunia meningkatkan permintaan akan minyak mentah dunia. Harga Spot dari West Texas Intermediate (WTI) mencapai 75 US dollar pada tahun 2006, sempat menurun pada tahun 2007, dan di tahun 2008 ini, harga minyak dunia menembus angka 100 Us dollar, 105 US dollar perbarelnya. Sehingga pemerintah menetapkan asumsi harga minyak Dunia yang tinggi: 95 US dollar per barelnya. Komitmen OPEC yang cukup kuat untuk mengendalikan Produksi, gangguan produksi di beberapa tempat (pada tahun 2006 di Nigeria), kekhawatiran adanya badai dan bencana Alam lainnya menjadi penyebab kenaikan Harga minyak Dunia: selain penyebab Utama: Negara-negara industry berkemabng membutuhkan lebih dan lebih banyak pasokan Energi. Dalam konteks keuangan Negara, Tentunya hal ini menyebabkan pembiayaan pemerintah mengalami kenaikan, dengan besarnya beban subsidi yang harus ditanggung pemerintah dengan komitmennya mensejahterakan rakyat dan menjaga kestabilan ekonomi. Perekonomian dunia yang tumbuh tinggi berpengaruh terhadap bursa saham Global. Pada tahun 2007, Indeks Dow Jones di New York, Nikkei di Jepang, Strait Times di Singapura, dan

Indeks Hang seng mengalami kenaikan masing-masing sebesar 22,4 %, 19,9 %, 50,2 %, dan 37,0% pada priode yang sama tahun 2006. dorongan terhadap bursa Saham Global juga menimbulkan Sentimen Negatif. Pada tahun 2007 kemarin, terjadi beberapa sentiment negative regional, antara lain rencana pengendalian modal jangka pendek di Tahiland, gejolak saham di China, dan kekhawatiran kredit macet di Amerika. Kebijakan moneter AS dan Negara-negara lain mulai berhati-hati tehadap inflasi Global.sejak tahun 2004 sampai tahun 2007, suku bunga Fed Funds dinaikkan secara bertahap lebih dari 17 kali.dan coba dipertahankan tetap netral. Sebagai Empunya US Dollar kebijakan ini memiliki pengaruh besar bagi tekanan inflasi, selain harga minyak mentah dunia dan harga komoditi dunia yang terus merangkak naik. Hal ini menyebabkan bank Sentral di beberapa Negara berhati-hati meningkatkan suku bunganya. Petumbuhan perekonomian dunia yang tinggi ini disamping memberikan pengaruh Positif bagi perekonomian Nasional, pertumbuhan Ekonomi Dunia tetap membutuhkan kehati-hatian dengan resiko ketidakstabilan yang mungkin timbul.

G. Kesimpulan Sebagai Warga Indonesia kita tetap optimis, bahwa Indosesia dimasa yang akan dating menjadi warga dunia yang dapat memberikan sumbangsihnya terhadap peradaban ummat manusia, walaupun secara factual saat ini Indonesia sedang mengalami keterpurukan, namun sebagai bangsa berpenduduk mayoritas Muslim optimisme tetap akan terbangun, saatnya bangsa ini bangkit mendaya gunakan kekuatan sumberdaya alamnya, dan kebesaran jumlah Sumber daya manusianya, karena jumlah sumber daya yang besar bukanlah suatu aib manakala dibangun dan diarahkan untuk menjadi contributor, dengan contoh baik dari para pemangku jabatan di negeri ini. Wallohu A’lam Bissawab.

Minggu, Mei 09, 2010

  • 1. Di masa Raffles (1811) pemilik modal swasta hanya boleh menguasai lahan

maksimal 45 tahun; di masa Hindia Belanda (1870) hanya boleh menguasai lahan maksimal selama 75 tahun; dan di masa Susilo Bambang Yudhoyono (UU 25/2007) pemilik modal diperbolehkan menguasai lahan selama 95 tahun. Teritorial Indonesia (tanah dan laut) telah dibagi dalam bentuk KK Migas, KK Pertambangan, HGU Perkebunan, dan HPH Hutan. Total 175 juta hektar (93% luas daratan Indonesia) milik pemodal swasta/asing.

  • 2. Hutang Luar Negeri Indonesia (Pemerintah dan Swasta) sebesar dua ribu lima

ratus trilyun rupiah (2.500.000.000.000.000). Bunga dan cicilan pokok 450 trilyun. Pertumbuhan ekonomi 4 - 6 % per tahun hanya untuk biaya bunga dan cicilan pokok hutang luar negeri. Kekuatan ekonomi bangsa Indonesia telah terjebak dalam hutang berkepanjangan (debt trap) hingga tak ada jalan keluar!

Kita akan terus hidup bergantung pada hutang.

  • 3. Sebanyak 85% kekayaan migas, 75% kekayaan batubara, 50% lebih kekayaan

perkebunan dan hutan dikuasai modal asing. Hasilnya 90% dikirim dan dinikmati

oleh negara-negara maju. Sementara China tidak mengekspor batubara, Jepang

terus menumpuk cadanganbatubaranya. Sekarang kita harus bertarung di pasar

bebas dagang dengan China - Asean. Ibarat petinju kelas bulu diadu dengan

petinju kelas berat dunia. Pasti Knock-Out dan babak belur, dong melindungi rakyat dan tanah tumpah-darah kita ini?

...

! Siapa yang

  • 4. 40 tahun lalu pendapatan rakyat Asia Timur rata-rata sebesar US$ 100,

bahkan China cuma US$ 50. Kini Malaysia tumbuh 5 kali lipat lebih besar dari pendapatan Indonesia, Taiwan (16 kalilipat), Korea (20 kalilipat), China (1,5 kalilipat) dan telah jadi raksasa ekonomi, politik, dan militer di ASIA. Ke mana hasil sumber daya alam kita yang sudah dikuras selama hampir 40 tahun ini?

  • 5. Ekonomi Indonesia hanya dikendalikan oleh 400-an keluarga yang

menguasai ribuan perusahaan. Sejak Orde Baru mereka dapat monopoli kredit murah, perlindungan tarif, kuota, dan sebagainya. Semua itu karena mereka memberi upeti kepada penguasa. Sementara usaha kecil yang puluhan juta dianiya, digusur, dan dipinggirkan.

  • 6. Akibat dari BLBI 1997, di mana Boediono terlibat dan dipecat oleh Soeharto,

maka banyak bank berantakan. Kemudian direkapitalisasi ratusan trilyun. Bunga rekapitalisasi setiap tahunnya ditanggung oleh rakyat Indonesia melalui APBN sebesar puluhan trilyun untuk jangka 30 tahun ke depan. Yang menikmati BLBI di antaranya Syamsul Nursalim dkk, ongkang-ongkang kaki di Singapura. Parahnya lagi, sekarang keadaan perbankan 66-70% sudah dikuasai oleh modal asing. Sebagian bank yang dikuasai asing itu menikmati bunga rekapitalisasi yang ditanggung oleh APBN tersebut. Kesimpulannya, negara Indonesia ini sudah berantakan dalam aspek-aspek mendasarnya (teritori, keuangan, hutang).

  • 7. Dengan iming-iming pinjaman US$ 400 juta dari the World Bank, Undang-

Undang Migas harus memuat ayat: Indonesia hanya boleh menggunakan maksimal 25% hasil produksi gas-nya. Bayangkan, kita eksportir gar terbesar di Asia, tapi penggunaan gas-nya diatur dari luar. Akibatnya PT Pupuk Iskandar Muda dan PT Asean Aceh Fertilizer, tutup karena kekurangan pasokan gas. Ini tikus mati di lumbung padi! Bahkan sekarang harga gas untuk rakyat mau dinaikkan lagi.

  • 8. Dengan total anggaran belanja 3.660 trilyun (tahun 2005 s/d 2009), selama

1825 hari kerja, rezim ini hanya mampu menurunkan jumlah orang miskin dari

36,1 juta (16,6%) menjadi 32,5 juta (14,15%). Sementara pengangguran terbuka makin meningkat dari 7% menjadi lebih-kurang 8,5%. Padahal sebagian

rakyatnya sudah rela jadi "kuli" di negeri orang

...

!!!

negeri ini dibawa

...

?

Mau ke mana rakyat dan

  • 9. Setiap tahun kita impor 1,6 juta ton gula, 1,8 juta ton kedelai, 1,2 juta ton

jagung, 1 juta ton bungkil makanan ternak, 1,5 juta ton garam, 100 ribu ton

kacang tanah, bahkan pernah mengimpor sebanyak 2 juta ton beras. Pastinya ada yang salah dengan kebijakan yang diambil oleh Pemerintah Indonesia menyangkut sektor pertanian. Pasti juga ada agen kapitalis yang bermain di balik

penindasan yang terjadi terhadap para petani Indonesia ini.

  • 10. Untuk pemenangan PEMILU dan PILPRES, demi bertahannya rezim 'anak

manis' ini, maka majikan dari luar memberi bantuan pinjaman sekitar 50 trilyun

untuk mengambil hati orang desa, masyarakat miskin,dan pegawai negeri (PNPM, BLT, GAJI ke-13, JAMKEMAS, KUR, RASKIN, dll). Utang makin bertambah

demi citra rezim di mata rakyat 'bodoh'. Ditambah lagi dengan UTANG, untuk kesejahteraan pegawai DEPKEU atas nama REFORMASI BIROKRASI, sebesar

hampir 15 trilyun, yang menghasilkan GAYUS MARKUS. Alamak sempurna kejahatan rezim ini!

...

,

makin

  • 11. Penerimaan negara dari mineral dan batubara (minerba) hanya 3 persen (21

trilyun pada tahun 2006). Padahal kerusakan lingkungan dan hutan yang terjadi sangat dahsyat dan mengerikan!. Devisa remittance dari para tenaga kerja Indonesia (TKI) saja bisa mencapai 30 trilyun pada tahun sama. Jadi kemanakah larinya hasil emas, tembaga, nikel, perak, batubara, hasil hutan lainnya, dan seterusnya, yang ribuan trilyun itu?

  • 12. Dari permainan ekspor-impor minyak mentah, pelaku perburuan rente migas

'terpelihara', dan setiap tahun negara dirugikan sampai 4 trilyun. Namun

menguntungkan 'oknum' tertentu. Siapakah dia

...

?

  • 13. Disepakati kontrak penjualan gas (LNG) ke luar negeri dengan harga antara

tiga hingga 4 dollar Amerika/mmbtu. Padahal saat kontrak disepakati harga pasar internasional US$ 9/mmbtu. Gas dipersembahkan buat siapa? Siapa yang bermain?

  • 14. Dugaan kekayaan negara yang hilang sia-sia:

1>. Dengan memakai asumsi Prof. Soemitro 30% bocor, maka kalau APBN 2007 sebesar 750 trilyun, maka bocornya lebih kurang 250 trilyun. 2>. Penyelundupan kayu/pencurian hasil laut, pasir, dan lain-lain 100 trilyun. 3>. Potensi pajak yang tidak masuk kas negara tahun 2002 (menurut Kwik Kian Gie) sekitar 240 trilyun kalau sekarang misalnya dua kali lipat, maka angkanya berkisar 500 trilyun. 4>. Subsidi ke bank yang sakit menurut Kwik 40 trilyun tahun 2002. Maka secara kasar potensi pendapatan negara yang hilang sia-sia totalnya 890 trilyun. Itulah salah satu sebab rakyat tetap miskin, segelintir orang mahakaya, dan negara tertentu kecipratan menjadi kaya.

  • 15. Dengan standar buatan Indonesia orang miskin di negeri ini tahun 2006

berjumlah 39 juta (pendapatan perhari 5.950,-) Tapi kalau memakai standar Bank Dunia/standar internasional US$ 2 per hari, maka orang miskin di Indonesia lebih

kurang 144 juta orang (65%).

Lalu apa yang kita banggakan dari pemimpin bangsa ini?

  • 16. Tahun 2005 BPK menemukan 900 rekening gelap senilai 22,4 trilyun milik 18

instansi pemerintah. Pada waktu itu ada 43 instansi yang belum diaudit. Jadi

masih banyak uang negara yang gelap yang belum dimanfaatkan. Kenapa mesti menghutang untuk memberi rakyat raskin dan BLT? Kenapa jalan-jalan raya di tengah kota banyak yang bolong-bolong? Kenapa begitu banyak orang yang mengemis di pinggir-pinggir jalan?

17. Dengan 63 hypermarket, 16 supermarkets di 22 kota (termasuk 29 hypermartket Alfa dan jaringannya di seluruh Indonesia), maka Carefour Indonesia (komisarisnya jenderal-jenderal) total menguasai bisnis ritel. Bagaimana nasib jutaan warung-warung kelontong milik rakyat kecil? Atas nama liberalisme pasar semua digusur?

Itulah beberapa butir yang membuat kita termotivasi untuk mengadakan perlawanan terhadap rezim penghisap, penindas, dan penjajah gaya baru dan antek-anteknya di Indonesia kita yang tercinta ini.

http://pakbodong.blogspot.com/2010/05/sekilas-keadaan-ekonomi-

indonesia-copy.html