Anda di halaman 1dari 14

ANALISIS CEKUNGAN

CEKUNGAN SUMATERA TENGAH

Oleh :
Muhamad Ziad Baidhowi
270110120180
Geologi A

FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI


UNIVERSITAS PADJADJARAN
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sejarah geologi Indonesia yang kompleks telah menghasilkan lebih dari enam puluh
cekungan sedimen. Cekungan-cekungan ini berdasarkan persebaran daerahnya dibagi menjadi 2
kelompok, yaitu bagian barat dan bagian timur. Bagian barat Indonesia memiliki sekitar 22
cekungan yang telah berproduksi, sedangkan bagian timur Indonesia memiliki lebih banyak
cekungan, yaitu sekitar 38 cekungan sedimen yang masih berada pada tahap eksplorasi.
Sebagian besar cekungan produktif yang ada di Indonesia berada di bagian barat.
Sedangkan, pada Indonesia bagian timur, sebenarnya memiliki prospek hidrokarbon yang sangat
besar, berdasarkan data stratigrafi pada masa mesozoikum dan Paleozoikum. Namun proses
produksi daerah tersebut masih terkendala oleh besarnya beban biaya, kurangya infrastruktur,
serta area yang didominasi oleh perairan laut dalam (Awang H. Satyana, 2005).
Cekungan-cekungan di Indonesia wilayah barat yang terletak pada bagian Back-arc
Basin Lempeng Sunda (Eurasia), meliputi cekungan Sumatera Utara, cekungan Sumatera
Tengah, cekungan Sumatera Selatan, cekungan Sunda-Asri, Cekungan Utara Jawa, Cekungan
Jawa Timur, Cekungan Barito, Cekungan Kutai, Cekungan Tarakan, Cekungan Natuna Barat,
dan Cekungan Natuna Timur.

B. Rumusan Masalah
1. Bagamanakah Geologi Regional Cekungan Sumatera Tengah?
2. Bagaimanakah Stratigrafi Cekungan Sumatera Tengah?
3. Bagaimanakah Potensi Hidrokarbon Cekungan Sumatra Tengah?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui mengenai Geologi Regional Cekungan Sumatera Tengah.
2. Untuk mengetahui mengenai Stratigrafi Cekungan Sumatera Tengah.
3. Untuk mengetahui potensi cekungan Hidrokarbon Cekungan Sumatra Tengah.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Geologi Regional
Cekungan Sumatra tengah merupakan cekungan sedimentasi tersier penghasil
hidrokarbon terbesar di Indonesia , dengan ketebalan rata rata sedimen-nya mencapai dua (2)
kilometer. Ditinjau dari posisi tektoniknya, Cekungan Sumatra tengah merupakan cekungan
belakang busur. Faktor pengontrol utama struktur geologi regional di cekungan Sumatra tengah
adalah adanya Sesar Sumatra yang terbentuk pada zaman kapur.

Secara fisiografis, cekungan ini terletak di antara Cekungan Sumatera Utara dan
Cekungan Sumatera Selatan. Cekungan Sumatera Tengah ini relatif memanjang baratlaut
tenggara. Cekungan Sumatera Tengah sendiri terbentuk akibat penujaman lempeng Hindia yang
bergerak ke arah utara terhadap lempeng Eurasia pada umur Miosen. Ditinjau dari posisi
tektoniknya cekungan ini merupakan tipe cekungan belakang busur (back-arc basin). Cekungan
ini dibatasi oleh Dataran Tinggi Asahan di sebelah baratlaut, Pegunungan Bukit Barisan (yang
disusun oleh batuan pre-tersier) di sebelah baratdaya, Pegunungan Tigapuluh di sebelah tenggara
(yang merupakan pemisah antara Cekungan Sumatera Tengah dan Cekungan Sumatera Selatan),
dan Paparan Sunda di sebelah timurlaut.

Cekungan Sumatera Tengah merupakan cekungan busur belakang (back arc basin) yang
berkembang di sepanjang pantai barat dan selatan Paparan Sunda di barat daya Asia Tenggara.
Cekungan ini terbentuk akibat penunjaman Lempeng Samudera Hindia yang bergerak relatif ke
arah utara (N 6oE) dan menyusup ke bawah Lempeng Benua Asia.
Cekungan Sumatera Tengah terbentuk pada awal Tersier (Eosen-Oligosen) merupakan
seri dari struktur half graben dan berbentuk asimetris berarah barat laut - tenggara. Bagian yang
terdalam terletak pada bagian barat daya dan melandai ke arah timur laut.
Faktor pengontrol utama struktur geologi regional di Cekungan Sumatera Tengah adalah
kehadiran Sesar Sumatera yang terbentuk pada zaman Kapur. Subduksi lempeng yang miring
dari arah baratdaya Pulau Sumatera mengakibatkan terjadinya strong dextral wrenching stress di
Cekungan Sumatera Tengah (Wibowo, 1995). Hal ini terbukti oleh bidang sesar yang curam yang
berubah sepanjang jurus perlapisan batuan dan struktur sesar naik. Selain itu, terbentuknya
sumbu perlipatan yang searah jurus sesar dengan penebalan sedimen terjadi pada bagian yang
naik (inverted) (Shaw et al., 1999).
Heidrick dan Aulia (1993) membagi perkembangan struktur Cekungan Sumatera Tengah
menjadi beberapa fase pembentukan, yakni :

Gambar 2. Tektonostratigrafi Cekungan Sumatera Tengah

Fase Pertama (F0)

(Heidrick dan Aulia, 1993)

Fase ini merupakan fase deformasi pada zaman Eosen (sekitar 345-65 juta tahun lalu).
Merupakan fase pembentukan batuan dasar yang berarah utara selatan, baratlaut tenggara,
dan timurlaut baratdaya (Heidrick & Aulia, 1993). Pembentukan tersebut terjadi ketika
lempeng benua Sunda terbentuk dari lempeng lempeng kecil Mergui, Malaka, dan Mutus.

Fase Kedua (F1)

3. Peta Pola Struktur Utama Batuan Dasar di Cekungan Sumatera Tengah

(Heidrick dan Aulia, 199

Fase ini merupakan fase rifting yang terjadi pada zaman Eosen Oligosen (sekitar 50

26 juta tahun lalu). Fase ini terjadi diakibatkan oleh tumbukan lempeng Hindia - Australia
terhadap lempeng Eurasia sehingga membentuk sistem rekahan transtensional yang memanjang
ke arah selatan, mulai dari China bagian selatan ke Thailand, Malaysia, Sumatera hingga ke
Kalimantan Selatan (Heidrick & Aulia, 1993). Proses ini menghasilkan serangkaian struktur half
graben di Cekungan Sumatera Tengah yang kemudian menjadi tempat diendapkannya Kelompok
Pematang. Pada tahap akhir fase ini, terjadi pembalikan struktur yang lemah dan pembentukan
peneplain (morfologi yang hampir rata), hasil dari erosi berupa paleosol. Kelompok Pematang
merupakan sedimen tertua yang diendapkan di Cekungan Sumatera Tengah dan berumur Eosen
Oligosen, endapan ini yang mengisi half graben, pull-apart rift, dan graben yang terbentuk pada
fase ini.
Fase Ketiga (F2)
Fase ini merupakan fase sagging dan transtensi pada zaman Miosen Bawah Miosen
Tengah (sekitar 26 13 juta tahun lalu). Fase ini terbagi menjadi dua, yakni fase awal berupa
fase sagging dan fase akhir berupa fase transtensi. Pada fase awal proses tektonik yang terjadi
berupa fase sag basin, ketika terjadi penurunan cekungan regional yang memperbesar highstand

dan transgresi yang dimulai dengan pengendapan Kelompok Sihapas, kemudian terbentuk sesar
sesar normal minor yang berhubungan dengan tahap akhir rifting yang memotong Formasi
Menggala dan Formasi Bekasap. Pada fase akhir terbentuk sesar mendatar dextral berarah utara
selatan yang merupakan reaktivasi sesar pembentuk graben, dan juga terbentuk sesar baru
sepanjang batas batuan dasar yang berarah utara selatan. Struktur struktur yang berkembang
di sepanjang sesar mendatar ini merupakan sesar tumbuh dan kombinasi pull apart graben, halfgraben, lipatan, flower structure (positif dan negatif), sesar listrik, dan sesar normal domino.
Lipatan lipatan yang terbentuk di sepanjang sesar utara selatan ini mempunyai klosur yang
lebih kecil berarah baratlaut tenggara dan tersusun membentuk en-echelon (Heidrick & Aulia,
1993). Formasi yang termasuk dalam Kelompok Sihapas adalah Formasi Menggala, Formasi
Bangko, Formasi Bekasap dan Formasi Duri, pengendapan kelompok ini berakhir pada masa
Miosen Tengah dengan pengendapan transgressive marine shale dari Formasi Telisa.
Fase Keempat (F3)
Fase ini merupakan fase kompresi, terjadi dari zaman Miosen Akhir sampai sekarang
(sekitar 13 juta tahun lalu sekarang). Fase ketiga (F2) berakhir ditandai dengan berakhirnya
proses pengendapan Formasi Telisa dan mulai teredapkannya Formasi Petani (Miosen Tengah
Plistosen). Pengendapan Formasi Petani merupakan akhir dari fase transgresi yang panjang dan
awal dari fase regresi di Cekungan Sumatera Tengah. Selanjutnya Formasi Minas diendapkan
secara tidak selaras di atas Formasi Petani, berlangsung sampai sekarang.

B. Stratigarfi Regional
Menurut Eubank dan Makki (1981) dalam Heidrick dan Aulia (1993), stratigrafi
regional pada Cekungan Sumatera Tengah dibagi menjadi lima unit stratigrafi, yaitu :
1. BATUAN DASAR (BASEMENT)
Batuan dasar berumur pra Tersier ini ini terbagi menjadi empat satuan litologi
(Eubank dan Makki, 1981 dalam Heidrick dan Aulia, 1993), yaitu :
a. Mallaca Terrane

Mallaca Terance atau kelompok kuarsit, yang terdiri dari kuarsit, argilit,
batugamping kristalin, pluton pluton granit dan granodiorit yang berumur Jura
dan dapat ditemui di bagian coastal plain di timurlaut.
b. Mutus Assemblages,
Merupakan zona sutura yang memisahkan antara Mallaca Terrane dan Mergui
Terrane . Kumpula Mutus terletak di sebelah baratdaya coastal plain dan terdiri
dari baturijang radiolarian, meta-argilit, serpih merah, lapisan tipis batugamping,
dan batuan beku basalat.
c. Mergui Terrane,
Kelompok ini terletak pada bagian barat dan baratdaya dari Kelompok Mutus.
Kelompok ini tersusun atas graywacke, pubbly-mudstone yang berasal dari
Formasi Bahorok, serta kuarsit. Selain itu, terdapat juga argilot, filit,
batugamping, dan Tuff dari Formasi Kluet, serta sandstone-shale dan juga
terdapat Batugamping Alas.
d. Kualu Terrane,
Kelompok ini terletak di bagian baratlaut Kelompok Mergui yang berumur
Perm-Karbon. Kelompok ini tersusun atas filit, batusabak, tuff, dan
batugamping.

Gambar 5. Sebaran Batuan Dasar di Cekungan Sumatera Tengah (Pertamin BPPKA, 1996)

2.

KELOMPOK PEMATANG
Kelompok Pematang diendapkan secara tidak selaras di atas batuan dasar,
kelompok ini berumur Eosen Oligosen. Distribusi sedimen diperkirakan berasal
dari blok yang mengalami pengangkatan pada lingkungan fluviatil dan blok lain
turun menjadi danau. Sedimen kelompok ini umumnya diendapkan pada lingkungan
danau, sungai, dan delta. William dan Kelley (1985) membagi Kelompok Pematang
dalam lima formasi, yaitu:
a. Formasi Lower Red Beds
Tersusun oleh batulempung berwarna merah hijau, batulanau, batupasir
kerikilan dan sedikit konglomerat serta breksi yang tersusun oleh pebble kuarsit
dan filit. Kondisi lingkungan pengendapan diinterpretasikan berupa alluvial
braid-plain dilihat dari banyaknya muddy matrix di dalam konglomerat dan
breksi
b. Formasi Brown Shale
Formasi ini cukup banyak mengandung material organik, dicirikan oleh warna
yang coklat tua sampai hitam. Tersusun oleh serpih dengan sisipan batulanau, di
beberapa tempat terdapat selingan batupasir, konglomerat dan paleosol.
Ketebalan formasi ini mencapai lebih dari 530 m di bagian depocenter. Formasi
ini diinterpretasikan diendapkan di lingkungan danau dalam dengan kondisi
anoxic dilihat dari tidak adanya bukti bioturbasi. Interkalasi batupasir batupasir
konglomerat diendapkan oleh proses fluvial channel fill.
c. Formasi Coal Zone
Secara lateral, formasi ini dibeberapa tempat equivalen dengan Formasi Brown
Shale. Formasi ini tersusun oleh perselingan serpih dengan batubara dan sedikit
batupasir. Lingkungan pengendapan dari formasi ini diinterpretasikan berupa
danau dangkal dengan kontrol proses fluvial yang tidak dominan.
d. Formasi Lake Fill
Tersusun oleh batupasir, konglomerat dan serpih. Komposisi batuan terutama
berupa klastika batuan filit yang dominan, secara vertikal terjadi penambahan
kandungan litoklas kuarsa dan kuarsit. Struktur sedimen gradasi normal dengan
beberapa gradasi terbalik mengindikasikan lingkungan pengendapan fluvial-

deltaic. Formasi ini diendapkan secara progradasi pada lingkungan fluvial


menuju delta pada lingkungan danau.
e. Formasi Fanglomerate
Diendapkan disepanjang bagian turun dari sesar sebagai seri dari endapan
aluvial. Tersusun oleh batupasir, konglomerat, sedikit batulempung berwarna
hijau sampai merah. Baik secara vertikal maupun lateral, formasi ini dapat
bertransisi menjadi formasi Lower Red Bed, Brown Shale, Coal Zone dan Lake
Fill.
3. KELOMPOK SIHAPAS
Kelompok ini memiliki umur pada Miosen awal hingga miosen tengah.
Tersusun atas batuan klastika yang diendapkan pada lingkungan fluvial-delatic
sampai laut dangkal.
Berikut ini formasi yang tedapat pada kelompok sihapas:
a. Formasi Menggala
Tersusun oleh batupasir konglomeratan dengan ukuran butir kasar berkisar dari
gravel hingga ukuran butir sedang. Secara lateral, batupasir ini bergradasi menjadi
batupasir sedang hingga halus. Komposisi utama batuan berupa kuarsa yang
dominan, dengan struktur sedimen trough cross-bedding dan erosional basal scour.
Berdasarkan litologi penyusunnya diperkirakan diendapkan pada fluvial-channel
lingkungan braided stream. Formasi ini dibedakan dengan Lake Fill Formation dari
kelompok Pematang bagian atas berdasarkan tidak adanya lempung merah terigen
pada matrik (Wain et al., 1995). Ketebalan formasi ini mencapai 250 m,
diperkirakan berumur awal Miosen bawah.
b. Formasi Bangko
Formasi ini tersusun oleh serpih karbonan dengan perselingan batupasir halussedang. Diendapkan pada lingkungan paparan laut terbuka. Dari fosil foraminifera
planktonik didapatkan umur N5 (Blow, 1963). Ketebalan maksimum formasi
kurang lebih 100 m.
c. Formasi Bekasap

Formasi ini tersusun oleh batupasir masif berukuran sedang-kasar dengan sedikit
interkalasi serpih, batubara dan batugamping. Berdasarkan ciri litologi dan fosilnya,
formasi ini diendapkan pada lingkungan air payau dan laut terbuka. Fosil pada
serpih menunjukkan umur N6 N7. Ketebalan seluruh formasi ini mencapai 400 m.
d. Formasi Duri
Di bagian atas pada beberapa tempat, formasi ini equivalen dengan formasi
Bekasap. Tersusun oleh batupasir halus-sedang dan serpih. Ketebalan maksimum
mencapai 300 m. Formasi ini berumur N6 N8.
e. Formasi Telisa
Formasi Telisa yang mewakili episode sedimentasi pada puncak transgresi tersusun
oleh serpih dengan sedikit interkalasi batupasir halus pada bagian bawahnya. Di
beberapa tempat terdapat lensa-lensa batugamping pada bagian bawah formasi. Ke
arah atas, litologi berubah menjadi serpih mencirikan kondisi lingkungan yang lebih
dalam. Diinterpretasikan lingkungan pengendapan formasi ini berupa lingkungan
Neritik Bathyal. Secara regional, serpih marine dari formasi ini memiliki umur
yang sama dengan Kelompok Sihapas, sehingga kontak Formasi Telisa dengan
dibawahnya adalah transisi fasies litologi yang berbeda dalam posisi stratigrafi dan
tempatnya. Ketebalan formasi ini mencapai 550 m, dari hasil analisis fosil
didapatkan umur formasi ini berkisar dari N6 N11.
4. KELOMPOK PETANI
Kelompok Petani diendapkan secara tidak selaras di atas Kelompok Sihapas.
Kelompok Petani terdiri dari Lower Petani yang merupakan endapan laut (marine)
dan Upper Petani yang merupakan endapan laut sampai delta. Formasi ini
diendapkan mulai dari lingkungan laut dangkal, pantai, dan ke atas sampai
lingkungan delta yang menunjukkan penurunan muka air laut. Kelompok ini terdiri
atas batupasir, batulempung, batupasir gloukonitan, dan batugamping yang dapat
ditemui di bagian bawah seri sedimen tersebut, sementara itu batubara dapat
ditemukan di bagian atas dan terjadi saat pengaruh laut semakin berkurang. Secara
keseluruhan Kelompok Petani berumur Miosen Atas Pliosen Bawah.
5. FORMASI MINAS

Formasi Minas merupakan endapan Kuarter yang terdapat secara tidak selaras
di atas Kelompok Petani. Tersusun atas pasir dan kerikil, pasir kuarsa lepas
berukuran halus sampai sedang serta limonit berwarna kuning yang diendapkan pada
lingkungan fluvial sampai darat. Proses pengendapan Formasi Minas masih
berlangsung sampai saat ini dan menghasilkan endapan aluvial berupa campuran
kerikil, pasir, dan lempung.

C. Potensi Cekungan Sumatra Tengah


Cekungan Sumatra Tengah meupakan salah satu cekungan sedimen penghasil
hidrokarbon terbesar di Indonesia, dimana potensi minyak bumi wilayah Sumatra bagian
tengah tersebar di daerah Minas, Duri, Lirik, Rengat, Cenako, Ungus, dan Kuantan
wilayah Riau daratan sedangkan yang terletak di wilayah Riau kepulauan terletak di
Bunguran, Anambas, Tarempa, Udang, dan Laut Natuna . Hal tersebut dapat dibuktikan
dari banyaknya blok dan lapangan penghasil hidrokarbon, tercatat di Sumatra tegah
terdapat 12 blok dan 211 lapangan dengan Jumlah Sumur: 6,467 (5,960 Aktif/507 Non-Aktif).
Berikut ini adalah daftar blok yang tedapat di Cenkungan Sumatra Tengah:
1. CENTRAL SUMATERA KAMPAR
2. CPP BLOCK
3. KALILA BENTU LIMITED
4. KORINCI BARU
5. MALACCA STRAIT
6. MFK
7. ROKAN
8. SIAK
9. SOUTH JAMBI B

10. SUMATERA SELATAN


11. SUMATERA TENGAH
12. WEST KAMPAR

Daftar Pustaka
Eubank, R.T., dan Makki, A.C., 1981, Structural Geology of the Central Sumatera Back-Arc
Basin, Proceedings of Indonesian Petroleum Association, Tenth Annual Convention, hal.
153-174
Heidrick, T.L., dan Aulia, K., 1993, A Structural and Tectonic Model of The Coastal Plain Block,
Central Sumatera Basin, IPA 22th, hal 285-304
Heidrick, T.L., dan Aulia, K., 1996, Regional Structural Geology of The Central Sumatera
Basin, Petroleum Geology of Indonesian Basin, Pertamina BPPKA Indonesia, hal. 13156
Wibowo, R.A., 1995, Pemodelan Termal Sub-Cekungan Aman Utara Sumatra Tengah, Bidang
Studi Ilmu Kebumian Program Pasca Sarjana Institut Teknologi Bandung, Unpublished.
Anonim. Geologi Cekungan Sumatra Tengah dan Gelogi Kotabatak. Dikutip dari
http://digilib.itb.ac.id/files/disk1/597/jbptitbpp-gdl-rinoalfian-29842-3-2007ta-2.pdf
Pada tanggal 7 juni 2015
Anonim. Sumber Daya Alam. Dikutip dari https://sites.google.com/site/patriotbangsa01/sumberdaya-alam pada tanggal 7 Juni 2015
Anonim. Cekungan Sumtara Tengah. Dikutip dari http://hulu.ametis-institute.com/dasbor-hulumigas-indonesia/cekungan-sumatera-tengah/ pada tanggal 7 Juni 2015
Oksila,

Ratih.

2013.

Geologi

Regional

Cekungan

Sumatra

Utara.

Dikutip

dari

http://chaniago021090.blogspot.com/2013/06/bab-i-pendahuluan-a.html pada tanggal 7


Juni 2015