Anda di halaman 1dari 2

Vit.

A
Seperti halnya lemak, pencernaan dan absorbsi karoten dan retinoid
membutuhkan empedu dan enzim pancreas. Vitamin A yang di dalam makanan
sebagian besar terdapat dalam bentuk ester retinil, bersama karotenoid bercampur
dengan lipida lain di dalam lambung. Di dalam sel-sel mukosa usus halus, ester
retinil dihidrolisis oleh enzim-enzim pancreas esterase menjadi retinol yang lebih
efisien di absorbsi daripada ester retinil. Sebagian dari karotenoid, terutama beta
karoten di dalam sitoplasma sel mukosa usus halus dipecah menjadi retinol.
Retinol di dalam mukosa usus halus harus bereaksi dengan asam lemak dan
membentuk ester dan dengan bantuan cairan empedu menyeberangi sel-sel vili
dinding usus halus untuk kemudian diangkut oleh kilomikron melalui system limfe
ke dalam aliran darah menuju hati. Hati berperan sebagai tempat menyimpan
vitamin A utama di dalam tubuh. Dalam keadaan normal, cadangan vitamin A
dalam hati dapat bertahan hingga enam bulan. Bila tubuh mengalami kekurangan
konsumsi vitamin A , asam retinoat di absorbsi tanpa perubahan. Asam retinoat
merupakan sebagaian sebagian kecil vitamin A dalam darah yang aktif dalam
deferensiasi sel dan pertumbuhan.
Vit. D
Vitamin D diabsorbsi dalam usus halus bersama lipida dengan bantuan cairan
empedu. Vitamin D dari bagian atas usus halus diangkut oleh D-plasma binding
protein (DBP) ke tempat-tempat penyimpanan di hati, kulit otak, tulang dan
jaringan lain.
Vitamin D

di dalam hati diubah menjadi bentuk aktif

kolekalsiferol [25(OH)D3]

25-hidroksi

yang lima kali lebih aktif daripada vitamin D 3. bentuk

[25(OH)D3] adalah bentuk vitamin D yang paling banyak di dalam darah dan
banyaknya bergantung pada konsumsi dan penyingkapan tubuh terhadap matahari.
Bentuk paling aktif adalah kalsitriol atau 1,25 dihidroksi kolekalsiferol [1,25(OH) 2D3]
yang 10 kali lebih aktif fari vitamin D 3. bentuk aktif ini dibuat oleh ginjal. Kalsitriol
pada usus halus meningkatkan absorpsi kalsium dan fosfor dan pada tulang
meningkatkan mobilitasnya.
Vit. E

Absorpsi, Transportasi, dan Metabolisme. Sebanyak 20-80% tokoferol


diabsorpsi di bagian atas usus halus dalam bemuk misel yang pembemukannya
bergamung

pada

garam

empedu

dan

lipase

pankreas.

Absorpsi

tokoferol

tampaknya dibamu oleh trigliserida ramai sedang dan dihambat oleh asam lemak
ramai panjang tidak jenuh ganda. Mekanisme transportasi vitamin E melimasi sel
epitel usus halus belum diketahui dengan pasti. Transportasi dari mukosa usus halus
ke dalam sistem limfe dilakukan oleh kilomikron umuk di bawa ke hati. Dari hati
bentuk alfa-tokoferol diangkut oleh very low-density lipoprotein/VLDL masuk ke
dalam plasma, sedangkan sebagian besar gama-tokoferol dikeluarkan melalui
empedu. Tokoferol di dalam plasma kemudian diterima oleh reseptor sel-sel perifer
low-density lipoprotein/LDL dan masuk ke membran sel. Tokoferol menumpuk di
bagian-bagian sel di mana produksi radikal bebas paling banyak terbentuk, yaitu di
mitokondria dan retikulum endoplasma.
Vit. K
Absorpsi dan Transportasi. Sebanyak 50-80% vitamin K dalam usus halus
diabsorpsi dengan bantuan empedu dan cairan pankreas. Setelah diabsorpsi di
dalam usus halus bagian atas, vitamin K dikaitkan dengan kilomikron untuk
diangkut melalui sistem limfe ke hati. Hati merupakan tempat simpanan vitamin K
utama di dalam tubuh. Dari hati vitamin K diangkut terutama oleh lipoprotein VLDL
dan juga fraksi HDL di dalam plasma ke sel-sel tubuh. Vitamin K terutama
dihubungkan dengan membran sel, yaitu dengan retikulum endoplasma dan
mitokondria. Taraf vitamin K dalam serum meningkat pada hiperlipidemia, terutama
pada trigliseridemia. Hal-hal yang menghambat absorpsi lemak akan menurunkan
absorpsi vitamin K.
Dalam keadaan normal, sebanyak 30--40% vitamin K yang diabsorpsi dikeluarkan
melalui empedu, dan 15% melalui urin sebagai metabolit larut air. Simpanan
vitamin K di dalam tubuh tidak banyak dan penggantiannya terjadi cepat. Simpanan
di dalam hati sebanyak 10% berupa filokinon dan 90% berupa menakinon yang
kemungkinan disintesis oleh bakteri saluran cerna. Namun, kebutuhan akan vitamin
K tampaknya tidak dapat hanya dipenuhi dari sintesis menakinon, akan tetapi
sebagian perlu didatangkan dari makanan.