Anda di halaman 1dari 3

1.

Jelaskan tentang pengertian studi kelayakan serta sebut dan jelaskan macam-macamnya
studi kelayakan merupakan kajian untuk menilai kelayakan dari kegiatan kegiatan
PSDA yang terdapat didalam rencana PSDA yang dapat dilaksanakan dalam jangka
menengah
(Kodoatie, Robert J dan Sjarief Roestam. 2010. Tata Ruang Air. C.V ANDI OFFSET.
Yogyakarta)
2. Carilah hasil penelitian yang menganalisis tentang perhitungan usahatani tanaman semusim
serta berikan review hasilnya
Review Jurnal Analisis Usahatani dan Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang kabupaten
Cianjur Jawa Barat oleh Nora Meryan
Sektor tanaman pangan mempunyai peranan penting bagi penduduk Indonesia sebagai penghasil
bahan makanan pokok. Kedelai merupakan salah satu komodoti pangan utama setelah padi dan
jagung. Di Indonesia sendiri tingkat konsumsi penduduk terhadap komoditi kedelai pertahun
mengalami fluktuasi. Pada periode tahun 1996-2005, rata-rata Indonesia mengimpor kedelai
sebanyak 2.3 juta ton pertahun. Kabupaten Cianjur merupakan kabupaten kedua sebagai sentra
produksi kedelai di Jawa Barat setelah Kabupaten Garut. Kecamatan Ciranjang merupakan salah
satu sentra produksi kedelai di Kabupaten Cianjur. Berdasarkan hasil panennya usahatani kedelai
di Kabupaten Cianjur dibagi ke dalam dua bentuk, yaitu hasil panen kedelai dalam bentuk biji
tua dan panen dalam bentuk polong muda. Harga kedelai di pasar dunia berdampak langsung
terhadap kenaikan harga kedelai impor di dalam negeri juga meningkat. Ketersediaan
sumberdaya lahan yang cukup luas, iklim yang cocok, teknologi yang telah dihasilkan, serta
sumberdaya manusia yang cukup terampil dalam agribisnis dapat membantu dalam
pengembangan kedelai dalam negeri.
Tujuan penelitian dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat pendapatan
usahatani kedelai, mengkaji saluran tataniaga, struktur pasar dan permasalahan yang ada di setiap
pelaku pasar dan menganalisis tingkat efisiensi tataniaga kedelai di Kecamatan Ciranjang,
Kabupaten Cianjur. Keberhasilan suatu usahatani sangat ditentukan oleh karakteristik petani
pelaku usahatani itu sendiri, sebagai pengambil keputusan. Karakteristik petani mencakupumur,
tingkat pendidikan, luas dan status penguasaan lahan, dan kepemilikan alat pertanian serta
ternak. Rata-rata luas sawah yang diusahakan di Kecamatan Ciranjang Kabupaten Cianjur yaitu

sebesar 0.778 hektar per petani dan mayoritas berstatus sewa atau sakap (60.00 persen). Petani
yang memiliki hand sprayer (36.67 persen), biaya sewa hand sprayer Rp 5 000 per hektar, sewa
pompa air Rp 20 000 per hektar, dan sewa alat perontok kedelai Rp 25 000 per tiga kuintal
kedelai. Petani yang memiliki usaha sampingan hewan ternak sebesar 10 persen. Di Kecamatan
Ciranjang, rata-rata produksi per hektar sebesar 1 370.97 kilogram dengan produktivitas kedelai
yang diperoleh sebesar 1.37 ton per hektar, sedangkan harga jual rata-rata Rp 3 095.60 per
kilogram. Jenis pembiayaan usahatani kedelai terdiri atas pengadaan bibit, pupuk dan pestisida,
upah tenaga kerja, sewa alat dan pajak. Biaya usahatani baik biaya tunai maupun biaya
diperhitungkan untuk kedelai yang dipanen polong muda (Rp 1 563 010.60 per hektar) lebih
rendah dari biaya usahatani kedelai yang dipanen polong tua (Rp 3 312 778.73 per hektar).
Dibawah ini merupakan table analisis pendapatandan R/C ratio usahatani kedelaipolong muda
dan polong tua per hektar.

Besarnya biaya tunai yang dikeluarkan oleh petani yang panen polong muda dan panen
polong tua disebabkan petani banyak menggunakan tenaga kerja yang berasal dari luar keluarga.
Berdasarkan analisis usahatani kedelai per hektar untuk kedelai yang dipanen polong muda, total
penerimaan mencapai Rp 1 871 269.84 dan total penerimaan untuk kedelai polong tua mencapai
Rp 4 243 974.73. R/C rasio yang diperoleh petani yang panen polong tua (1.35) dan petani yang
panen polong muda (1.27). Angka ini memberikan arti bahwa dari setiap rupiah biaya yang
dikeluarkan oleh petani kedelai akan memberikan penerimaan sebesar Rp 1.35 untuk polong tua
dan penerimaan sebesar Rp 1.27 untuk polong muda. Saluran tataniaga kedelai yang ada di
Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, ada dua saluran tataniaga yaitu saluran tataniaga
kedelai polong muda dan saluran tataniaga kedelai polong tua. Saluran tataniaga kedelai polong
muda mempunyai tujuan yang sama, yaitu dari petani kedelai dibawa ke pedagang pengumpul,
kemudian kedelai tersebut dibawa ke pedagang pasar induk parung. Di pedagang pasar induk,
kedelai diserap oleh pedagang pengecer dan konsumen akhir. Di Kecamatan Ciranjang terdapat
delapan saluran tataniaga polong tua yang digunakan petani dalam menyampaikan barangnya ke
konsumen. Struktur yang dihadapi antara petani dan pedagang pengumpul, petani dan pedagang
kecamatan, serta antara petani dan pedagang besar adalah persaingan dan oligopsoni. Struktur
pasar yang dihadapi oleh pedagang pengumpul adalah persaingan dan struktur pasar yang
dihadapi oleh pedagang kecamatan/kabupaten adalah oligopsoni. Struktur pasar yang dihadapi
antara pedagang besar (kecamatan dan kabupaten) dan pedagang propinsi, dan antara pedagang
besar dan pedagang pengecer mengarah ke pasar oligopoli dan persaingan.
Berdasarkan perhitungan marjin tataniaga kedelai, saluran tataniaga yang efisien yaitu
saluran tataniaga enam karena memiliki total marjin tataniaga yang paling kecil yaitu sebesar Rp
1 000 per kilogram (22.22 persen) dengan volume kedelai 26.67 persen dengan rasio keuntungan
dan biaya yang diperoleh saluran tataniaga sebesar Rp 6.30 per kilogram. Selain itu saluran
tataniaga ini juga memiliki farmers share yang paling tinggi sebesar 77.78 persen.. Alternatif
saluran tataniaga yang dianggap juga efisien adalah saluran tataniaga satu dan dua dengan
volume kedelai 73.33 persen. Rasio keuntungan dan biaya pada saluran tataniaga satu dan dua
lebih tinggi dibandingkan dengan saluran tataniaga enam yaitu masing-masing sebesar Rp 9.35
dan Rp 8.54 per kilogram. Total marjin tataniaga yang diperoleh sebesar 24.50 persen dan
farmers share sebesar 75.50 persen. Selain ini saluran tataniaga ini jua memperlihatkan pangsa
marjin dan net marjin yang cenderung sudah merata di setiap tingkat lembaga tataniaga.