Anda di halaman 1dari 25

ANALYSIS ALTERNATIF KELEMBAGAAN REDD+

Abstract
Kajian ini bertujuan untuk memilih kelembagaan untuk REDD+ dari berbagai
alternatif kelembagaan REDD+ yang diusulkan Satgas REDD+. Analisis data dilakukan
dengan menggunakan statistik deskriptif, dengan cara membandingkan kelebihan dan
kekurangan dari berbagai alternatif bentuk kelembagaan, berdasarkan faktor-faktor yang
mempengaruhi pembentukan kelembagaan. Alternatif yang diusulkan mencakup add-on
pada Kementerian Perubahan Iklim, Tata Ruang, dan Lingkungan Hidup, add-on pada
Kementerian Lingkungan Hidup, add-on pada Kementerian Kehutanan, Stand-alone,
Transition dari stand-alone ke add-on, transition dari add-on ke stand-alone, dan
transition dari add-on ke add-on.
Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam jangka pendek, alternatif add-on pada
Kementerian Kehutanan merupakan pilihan terbaik, diikuti dengan transition dari add-on
pada Kementerian Kehutanan menjadi add-on pada Kementerian Perubahan Iklim, dan
transition dari add-on pada kementerian Kehutanan menjadi Organisasi yang stand-alone.
Kajian ini merekomendasikan agar dalam jangka pendek kelembagaan REDD+ dibentuk
sebagai unit yang di add-on pada Kementerian Kehutanan. Selain itu, direkomendasikan
pula agar pada Kementerian / Lembaga teknis yang lain juga dibentuk unit khusus yang
menangani isu perubahan iklim. Dalam jangka panjang, direkomendasikan agar unit-unit
ini dilebur menjadi Kementerian yang mempunyai tugas menangani isu perubahan iklim,
baik pada skala internasional, nasional, regional, dan lokal.
Key word: perubahan iklim, kehutanan, kelembagaan, REDD+

1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perubahan iklim telah menjadi topik diskusi banyak kalangan di Indonesia sejak
diselenggarakannya pertemuan tahunan United Nations Framework Convention on Climate
Change (UNFCCC) oleh para pihak, yang dikenal dengan Conference of Parties (COP) ke
13, yang diselenggarakan di Bali pada bulan Desember 2007. Masyarakat Indonesia mulai
sadar akan bahaya yang timbul sebagai dampak dari perubahan iklim. Bersama dengan
negara-negara lain yang tergabung dalam COP, Indonesia berupaya untuk menurunkan
emisi gas rumah kaca (GRK) yang diyakini oleh para ilmuwan di dunia menjadi penyebab
utama terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim.
Berbagai kajian telah dilakukan oleh para ilmuwan untuk menentukan metode yang
terbaik dalam rangka mengurangi emisi GRK pada setiap sektor kegiatan yang memiliki
kontribusi yang tinggi terhadap emisi GRK di atmosfir. Sektor-sektor tersebut antara lain
sektor energi, kehutanan dan alih fungsi lahan, pertanian, industri, dan transportasi.

Berkaitan dengan upaya penurunan emisi GRK, pada COP-5 di Kyoto pada tahun
1997 telah dideklarasikan kesepakatan yang dikenal dengan Kyoto Protocol. Pada Kyoto
protocol ini negara-negara industri sepakat untuk mengurangi emisi GRK mereka secara
kolektif hingga mencapa 5,2% dari tingkat emisi tahun 1990, yang akan dilaksanakan
dalam kurun waktu 2008-2012.
Dalam Kyoto Protocol ini para negara industri dibebani target penurunan emisi
GRK hingga jumlah tertentu. Target tersebut dapat dicapai dengan upaya nyata dalam
penurunan emisi GRK di negara masing-masing, atau melalu mekanisme fleksibel yang
telah disepakati dalam Kyoto Protocol. Ada tiga mekanisme fleksibel yang disepakati,
yaitu international emission trading (IET), joint implementation (JI) dan Clean
development mechanism (CDM).
Dalam mekanisme IET, suatu negara maju dapat membeli sertifikat penurunan
emisi yang dihasilkan oleh negara maju lainnya. Perdagangan ini akan menarik apabila
harga sertifikat penurunan emisi GRK ternyata lebih rendah dibandingkan dengan usaha
suatu negara maju untuk menurunkan emisi GRK dalam jumlah yang sama. Dengan
mekanisme IET dimungkinkan negara maju dapat memenuhi kewajibannya untuk
menurunkan emisi, baik secara langsung maupun melalui pembelian sertifikat penurunan
emisi dari negara maju lainnya, dengan biaya yang minimum.
JI merupakan kerjasama antara dua atau lebih entitas dari negara maju yang secara
bersama- sama mengerjakan suatu proyek untuk penurunan emisi GRK. Hasil penurunan
emisi dibagi di antara mereka dengan proporsi yang telah disepakati sebelumnya. Kondisi
ini memungkinkan suatu perusahaan atau suatu entitas dapat memenuhi kewajiban
penurunan emisi GRK dengan melakukannya di tempat lain, tanpa harus mengganggu
kegiatan perusahaannya sendiri. Untuk suatu perusahaan tertentu, mekanisme ini dianggap
lebih baik dibandingkan dengan upaya penurunan emisi di perusahaannya sendiri, dengan
alasan tidak mengganggu kegiatan produksi, sehingga kelangsungan hidup perusahaan
dapat berjalan dengan baik.
CDM merupakan mekanisme yang mirip seperti JI, namun kerjasamanya dilakukan
antara entitas bisnis di negara maju dengan entitas bisnis di negara berkembang. CDM
dapat diterapkan pada berbagai sektor, termasuk juga sektor kehutanan. Bagi negara
berkembang yang dalam Kyoto Protocol tidak diwajibkan untuk menurunkan emisi,
mekanisme CDM ini masih dianggap menguntungkan, karena adanya aliran dana dan
teknologi bersih yang masuk ke negara berkembang, dan menghasilkan lingkungan hidup
yang lebih baik.

1.1.1 Upaya Penurunan Emisi Sektor Kehutanan


Sektor kehutanan memiliki peran yang agak berbeda dengan sektor-sektor yang
lain. Disamping sebagai emiter GRK yang tinggi, sektor kehutanan juga memiliki
kemampuan untuk menyerap karbon. Ketika hutan terpelihara dengan baik, hutan memiliki
kemampuan untuk menyerap karbon dalam jumlah yang signifikan, Namun ketika terjadi
penebangan pohon dan alih fungsi lahan hutan yang umumnya dilakukan dengan
pembakaran di area hutan, pada saat itu sektor kehutanan mengasilkan emisi GRK dalam
jumlah besar pula. Dengan melihat kedua peran tersebut, upaya untuk menurunkan emisi
dari sektor kehutanan dapat ditempuh melalu dia cara, yaitu upaya untuk meningkatkan
kemampuan hutan untuk menyerap karbon, upaya untuk mempertahankan kemampuan
hutan untuk menyerap karbon.
Upaya pertama adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan hutan menyerap
karbon, yang pada dasarnya akan meningkat sejalan dengan meningkatnya tutupan hutan.
Secara alami, tutupan hutan akan meningkat karena sejalan dengan meningkatnya umur
pohon, karena pohon akan tumbuh dan daunnya semakin rimbun. Upaya lain yang dapat
dilakukan oleh manusia adalah upaya untuk menanam pohon baru, yang dikenal dengan
istilah Aforestasi / Reforestasi CDM (A/R CDM).
Upaya kedua adalah upaya untuk mencegah terjadinya kerusakan hutan yang
mengakibatkan berkurangnya area hutan (deforestasi) atau berkurangnya tutupan
(degradasi) hutan. Dalam forum diskusi di UNFCCC, metode ini dikenal dengan istilah
Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation (REDD). Pembahasan
REDD di UNFCCC ini berkembang cakupannya, dengan menambahkan metode
pengelolaan hutan lestari yang dikenal dengan istilah sustainable forest management
(SFM) serta menjaga keanekaragaman hayati. Dengan berkembangnya cakupan REDD,
maka mekanisme ini dikenal dengan nama REDD+

1.1.2 REDD+ Saat Ini


Pada saat ini metode penurunan emisi sektor kehutanan melalui mekanisme
REDD+ sedang dalam proses negosiasi dan belum ditetapkan sebagai metode yang
ditetapkan dalam UNFCCC. Namun upaya-upaya untuk menjadikan REDD+ sebagai
metode pengurangan emisi terus dilakukan, terutama oleh negara-negara yang memiliki
hutan luas dengan bantuan dari negara-negara maju.
Indonesia merupakan salah salah satu negara yang digunakan sebagai uji coba
mekanisme penurunan emisi sektor kehutanan melalui mekanisme REDD+. Beberapa
negara ikut berpartisipasi dalam upaya ini, termasuk di antaranya adalah Norway, UK,
Australia, dan Jepang.

Dengan berbagai bantuan internasional, Indonesia berupaya

untuk menyiapkan infrastruktur yang diperlukan agar mekanisme REDD+ dapat


dioperasikan, mulai dari penyiapan kelembagaan, penyiapan regulasi, sistem dan prosedur,
serta berbagai kondisi lain yang memungkinkan REDD+ dapat berjalan.
1.1.3 LOI Indonesia-Norway
Salah satu bantuan internasional yang mendapat perhatian publik saat ini adalah
bantuan dari Norway, yang mulai disepakati pada pertengahan tahun 2009 yang lalu.
Dalam kesepakatan yang dikenal dengan LoI Indonesia-Norway ini, Pemerintah Norwegia
akan memberikan bantuan yang terbagi dalam tiga tahapan, sejalan dengan tahapan
kegiatan yang dilakukan Pemerintah Indonesia untuk mempersiapkan REDD+.
Pada tahap pertama, Pemerintah Norway akan memberikan bantuan sebesar USD
30 juta untuk mempersiapkan kelembagaan REDD+, regulasi, sistem, dan prosedur yang
diperlukan agar REDD+ dapat dioperasikan. Di samping itu, Pemerintah Indonesia juga
harus memutuskan suatu daerah yang akan digunakan sebagai pilot proyek pelaksanaan
REDD+. Untuk melaksanakan pekerjaan yang tercakup pada tahap pertama LoI IndonesiaNorway ini, pemerintah telah membentuk Satgas REDD+.
Pada tahap kedua, Pemerintah Norway akan menyediakan bantuan sebesar US$
170 juta untuk tahap uji coba REDD+. Bantuan tersebut akan dapat dicairkan sesuai
dengan proporsi keberhasilan dalam ujicoba proyek. Dalam tahap ini, sistem dan prosedur
kerja REDD+ dijalankan serta dievaluasi sebagai bahan penyempurnaan mekanisme
REDD+ periode berikutnya. Pada akhir periode kedua, diharapkan Pemerintah Indonesia
telah mendapatkan sistem dan prosedur REDD+ yang mendekati kesempurnaan.
Pada tahap ketiga, Pemerintah Norway akan menyediakan dana sebesar US$ 800
juta. Pada tahap ini diharapkan pemerintah Indonesia akan memperluas wilayah proyek uji

coba REDD. Dana tersebut akan dapat diakses sejalan dengan kemampuan daerah uji coba
dalam upaya penurunan emisi melalui mekanisme REDD+.

1.2 Permasalahan
Pada saat ini Indonesia sedang memasuki periode akhir dari tahap pertama LoI
Indonesia-Norway, di mana Pemerintah Indonesia harus membentuk organisasi-organisasi
pengelola REDD+. Satgas REDD+ yang mendapat mandat untuk melaksanakan tugastugas sebagaimana yang tercantum dalam LoI Inodnesia-Norway telah mengembangkan
berbagai alternatif bentuk organisasi REDD+, yang akan diusulkan ke Presiden untuk
mendapat persetujuan, namun belum mendapatkan kesepakatan alternatif mana yang akan
dipilih. Permasalahan yang dihadapi adalah bagaimana menentukan alternatif kelembagaan
yang baik, yang secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan?

1.3 Tujuan Penelitian


Kajian ini bertujuan untuk memilih kelembagaan REDD+ dari berbagai alternatif
organisasi REDD+ yang diusulkan Satgas REDD+, yang dapat dipertanggungjawabkan
secara ilmiah.

1.4 Metodologi Penelitian


1.4.1 Pengumpulan Data
Data yang diperlukan dalam kajian ini adalah data kualitatif, dan umumnya berupa data
sekunder. Data ini diperoleh melalui review literatur, baik dalam bentuk media cetak
maupun media elektronis.
1.4.2 Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif, dengan cara
membandingkan kelebihan dan kekurangan dari berbagai alternatif bentuk kelembagaan,
berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan kelembagaan. Pengalaman
negara lain yang memiliki kesamaan pola permasalahan dipergunakan sebagai benchmark
dalam pengembangan kelembagaan REDD+.

2 LITERATUR REVIEW
2.1 Teori Tentang Organisasi
2.1.1 Fungsi-Fungsi Organisasi
Menurut Henry Minsberg (1973) suatu organisasi memiliki elemen-elemen dasar
yang menggambarkan fungsi organisasi, sebagai berikut:

Strategic APEX
Strategic APEX merupakan unit di mana top manajemen sebagai penanggung
jawab organisasi berada, seperti Menteri, Pimpinan Lembaga Pemerintahan, atau pimpinan
suatu perusahaan. Untuk lingkup yang lebih mikro, maka pimpinan unit merupakan
strategic apex di unitnya sendiri.
Operating Core
Operating core adalah unit-unit organisasi yang merupakan unsur pelaksana tugas
pokok organisasi yang berkaitan dengan pelayanan langsung kepada masyarakat atau para
stakeholder lainnya.
Middle line
Middle line merupakan unit organisasi yang bertugas membantu top manajemen
(strategic APEX) untuk menterjemahkan kebijakan-kebijakan top manajemen dan
menyampaikannnya kepada unit operating core (Unit Pelaksana) untuk dilaksanakan.

Technostructure
Tecknostructure adalah unit-unit yang berfungsi menganalisis kebijakan-kebijakan
pimpinan dan mengeluarkan berbagai pedoman-pedoman /standarisasi-standarisasi tertentu
yang harus diperhatikan oleh seluruh unit organisasi dalam melaksanakan tugas masingmasing.
Support staff
Support staf adalah staf atau unit yang pada dasarnya bertugas memberi dukungan
untuk kepada berbagai unit organisasi sehingga dapat menjalankan tugas dengan lancar.
Pemahaman tentang fungsi organisasi ini penting diketahui dalam rangka
merancang suatu organisasi, sehinga setiap unit organisasi dapat diidentifikasi, apakah unit
tersebut berfungsi sebagai unit strategic, operating core, middle line, technostructure, atau
supporting staf.

2.1.2 Prinsip pengorganisasian


Prinsip Kejelasan Visi, misi, tujuan
Setiap organisasi dibentuk untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan
merupakan penjabaran dari pernyataan misi sesuatu yang harus dicapai dalam waktu
tertentu, umumnya antara satu sampai lima tahun. Dalam kaitan ini harus diuraikan dengan
jelas apa tujuan yang dicapai, bagaimana dan kapan tujuan akan dicapai. Tujuan ini secara
kuantitatif harus dapat diukur, baik dari sisi waktu, kualitas hasilnya maupun tingkat
pencapaian sasaran.
Prinsip kemitraan dan Pemberdayaan
Prinsip ini menekankan kepada adanya hubungan yang baik antara sumber daya
manusia dalam organisasi dan para stakeholder organisasi. Dalam konteks ini organisasi
yang dibentuk harus dapat memberikan manfaat yang baik kepada para stakeholder, dan
memberikan kesempatan kepada stakeholder untuk memanfaatkan organisasi untuk
kepentingan merekan.
Prinsip Koordinasi
Prinsip ini mengharuskan adanya hubungan yang baik antar unit dalam organisasi
atau antara organisasi dengan pihak lain yang terkait.

Prinsip Keberlangsungan Tugas


Suatu organisasi perlu dibentuk apabila ada kepastian bahwa tugas tugas yang akan
dilaksanakan oleh organisasi akan terus berlangsung dalam jangka waktu lama.
Prinsip Pembagian Tugas
Dalam prinsip ini semua tugas dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan
dibagi habis kepada tugas organisasi atau satuan organisasi yang lebih kecil dibawahnya.
Tugas-tugas tersebut dijabarkan kedalam fungsi-fungsi tertentu yang bila diakumulasikan
secara keseluruhan mengacu pada pencapaian tujuan organisasi.
Prinsip Pendelegasian
Dalam pembagian tugas tersebut perlu diidentifikasi, tugas-tugas apa yang harus
dikerjakan oleh pimpinan organisasi, tugas-tugas apa yang harus dilaksanakan oleh unit
organisasi di bawahnya, hingga tugas-tugas apa yang dapat dilimpahkan kepada unit
organisasi yang paling bawah tingkatannya.
Prinsip Rentang Kendali
Dalam menentukan jumlah satuan organisasi atau orang yang dibawahi oleh
seorang pimpinan, perlu diperhitungkan secara rasional keterbatasan kemampuan
seseorang untuk melaksakan kontrol terhadap kegiatan yang dilakukan bawahannya.
Jumlah bawahan yang sedikit akan memudahkan seseorang untuk melakukan pengendalian
terhadap kegiatan bawahan. Sebaliknya, semakin banyak jumlah bawahan akan semakin
sulit untuk melakukan pengendalian.
Prinsip Proporsionalitas
Prinsip proporsionalitas menekankan bahwa dalam menyusun organisasi harus
diperhatikan keserasian hubungan dan kewenangan dari berbagai pihak, baik internal,
beban tugas, dan kemampuan dan sumberdaya yang ada.
Prinsip Keluwesan
Dalam

merancang

organisasi

pembentukan lingkungan strategis,

perlu

memperhatikan

perkembangan

dan

sehingga dalam rancangannya organisasi tersebut

dapat berkembang atau menciut sesuai dengan perubahan perkembangan lingkungan.


Prinsip Jalur dan Staf
Prinsip ini merupakan turunan dari prinsip pembagian tugas berdasarkan fungsi unit
organisasi, di mana ada unit organisasi melaksanakan tugas pokok dalam pencapaian

tujuan organisasi, dan ada unit organisasi tugas-tugas penunjang terhadap unit organisasi
yang melaksanakan tugas-tugas pokok.
Prinsip Kejelasan Struktur/Bagan
Dalam menyusun organisasi perlu dibuat bagan yang melukiskan secara jelas
mengenai kedudukan, susunan jabatan, pembagian tugas, dan fungsi serta hubungan kerja
antar unit yang ada di suatu organisasi.
Prinsip Legalitas
Prinsip ini menekankan bahwa dalam setiap pembentukan unit organisasi harus
dituangkan dalam suatu dokumen formal sesuai dengan ketentuan hukum dan peraturan
perundangan yang ada
.
2.2 Pembentukan Organisasi
2.2.1 Disain organisasi
Desain organisasi merupakan suatu proses memilih dan mengelola aspek-aspek
struktural dan kultural, yang umumnya dilakukan oleh para pimpinan unit organisasi,
dengan tujuan agar organisasi tersebut mampu mengendalikan kegiatan yang perlu
dilakukan untuk mencapai tujuan atau sasaran bersama. Desain organisasi berkaitan
dengan upaya pembentukan atau rekonstruksi suatu lembaga dalam rangka mencapai
tujuan tertentu.

Melakukan rekronstruksi suatu organisasi tidak sama dengan

merekontruksi bangunan, karena organisasi memiliki jiwa, sistem nilai dan budaya
organisasi.
2.2.2 Tahapan dalam Pembentukan Organisasi
Pembentukan suatu organisasi dapat dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai
berikut:
Penetapan visi, misi, tujuan
Pada tahap awal pembentukan organisasi, perlu ditetapkan visi, misi, dan tujuan
organisasi. Untuk menetapkan visi, misi, dan tujuan organisasi, perlu diketahui terlebih
dahulu ada permasalahan apa sehingga organisasi tersebutperlu dibentuk. Visi, misi, dan
tujuan organisasi dirancang untuk menyelesaikan masalah tersebut. Hal yang perlu
dipertimbangkan dalam menyusun visi, misi dan tujuan organisai adalah keselarasan antara
Visi, Misi, dan Tujuan organisasi dengan visi, misi, dan tujuan organisasi pada level yang

lebih tinggi. Pada dasarnya visi, misi, dan tujuan untuk organisasi harus merupakan bagian
dari pencapaian visi, misi, dan tujuan dari organisasi yang ada di tingkat atasnya. Sebagai
contoh; visi, misi, dan tujuan dari Direktorat Jenderal Pajak harus merupakan bagian dari
pencapaian visi, misi, dan tujuan dari Kementerian Keuangan.
Mengidentifikasi tupoksi
Setelah ditetapkan visi, misi, dan tujuan organisasi, langkah berikutnya adalah
mengidentifikasi tugas-tugas pokok dan fungsi-fungsi yang perlu dilakukan dalam rangka
pencapaian visi, misi, dan tujuan organisasi.
Pengelompokan tupoksi
Langkah berikutnya adalah melakukan pengelompokan tugas-tugas pokok dan
fungsi-fungsi yang sejenis sehingga dapat dilaksanakan oleh sekelompok orang yang
memiliki keahlian yang sama. Output dari tahap ini adalah terbentuknya kelompokkelompok tugas pokok dan fungsi organisasi yang dapat dilakukan oleh sekelompok orang
dengan keahlian tertentu.
Pembentukan organisasi
Pada tahap ini dilakukan pengaturan kewenangan berdasarkan kelompok tugas dan
fungsi yang didapat pada tahap sebelumnya. Dalam pengaturan ini alan menjadi jelas jenis
fungsi organisasinya, mana yang menjadi: (a) kewenangan, tugas, fungsi strategic apex;
(b) kewenangan, tugas, fungsi operating core; (c) kewenangan, tugas, fungsi midle line;
(d) kewenangan tugas dan fungsi techno structure; (e) kewenangan, tugas, fungsi support
staff. Fungsi-fungsi kelompok ini disusun dalam suatu diagram, sehingga kelihatan
hubungan antara satu fungsi dengan fungsi yang lain.

2.3 Pengalaman Negara Lain


2.3.1 Meksiko
Di Meksiko, Interministerial Climate Change Commission (ICCC) dibentuk dalam
rangka meningkatkan koordinasi antar lembaga-lembaga pemerintahan yang mempunyai
tanggung jawab untuk menentukan desain mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Selain
itu, pembentukan ICCC juga dikaitkan dengan implementasi kebijakan nasional untuk
mencegah dan mengurangi emisi GRK serta mempromosikan pengembangan program aksi
perubahan iklim dan strategi nasional, yang diarahkan untuk memenuhi komitmen
Meksiko dalam UNFCCC, khususnya Protokol Kyoto.

Komisi ini terdiri dari The Mexican Ministers of Foreign Affairs; Social
Development; the Environment and Natural Resources (chairman of the Commission);
Energy; the Economy; Agriculture, Livestock, Rural Development, Fisheries and Food;
and Communications and Transportation. The Minister of Finance and Public merupakan
anggota permanen. The Ministry of the Environment and Natural Resources (SEMARNAT)
and the Ministry of Energy (SENER) bekerjasama dengan the Mario Molina Center for
Strategic Studies on Energy and the Environment [CMM in Spanish] bekerjasama untuk
memilih alternatif produksi energi dan konsumsi sektor yang dapat dimasukkan dalam
strategi perubahan iklim nasional. Dalam ICCC, Kelompok Kerja untuk Strategi Perubahan
Iklim Nasional [GT-ENAC] menyiapkan konsep dokumen yang komprehensif, yang akan
ditinjau oleh Climate Change Advisory Board (CCAB).
Kementerian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (Secretara de Medio
Ambiente y Recursos Naturales, Semarnat) adalah lembaga pemerintah federal yang
bertugas untuk meningkatkan perlindungan, pemulihan dan konservasi ekosistem dan
sumber daya alam, serta lingkungan alam dalam rangka mendukung pembangunan
berkelanjutan. Visi yang diemban adalah mewujudkan kenegaraan yang mengusung warga
negaranya mempunyai kepedulian yang mendalam dan tulus untuk melindungi dan
melestarikan lingkungan, serta mendukung pemanfaatan sumber daya alamnya untuk
pembangunan yang berkelanjutan yang harmonis dengan pembangunan ekonomi,
koeksistensi harmonis dengan alam dan keragaman budaya. Sedangkan misi yang ingin
dicapai adalah (1) mengupayakan kebersamaan dalam semua bidang, baik lembaga sosial
dan pemerintah, (2) menyusun kriteria dan instrumen untuk menjamin perlindungan
konservasi, (3) mengoptimalkan penggunaan sumber daya alam yang terintegrasi dan (4)
menempatkan kebijakan lingkungan yang inklusif dalam kerangka pembangunan
berkelanjutan.
Beberapa institusi yang berada di bawah Semarnat, yaitu:
Undersecretary of Planning and Environmental Policy (Subsecretara de Planeacin y
Poltica Ambiental)
Misinya adalah untuk merumuskan dan melakukan perencanaan lingkungan
strategis, kebijakan lingkungan regional dan lokal, serta memperkuat koordinasi antara tiga
tingkat pemerintahan. Selain itu, institusi ini juga bertanggung jawab untuk melaksanakan
proses dan menciptakan instrumen untuk memberikan informasi kepada pemerintah dan
masyarakat perihal status lingkungan dan sumber daya alam, sehingga para pihak yang
terkait dapat membuat keputusan manajerial dengan benar.

Undersecretary of Public Works and Environmental Regulation (Subsecretara de Fomento


y NormatividadAmbiental)
Tujuan utamanya adalah untuk membentuk kerangka peraturan perundangundangan dalam rangka merancang mekansime dan instrumen yang dapat mendorong
koherensi antara pengembangan kegiatan ekonomi, perlindungan lingkungan dan
pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Undersecretary of Management for Environmental Protection(Subsecretara de Gestin
para la Proteccin Ambiental)
Lembaga ini ini bertanggung jawab untuk membentuk mekanisme yang mendorong
praktik-praktik yang sehat dalam melaksanakan pelayanan sipil, termasuk kegiatan yang
diselenggarakan oleh internal lembaga ini sendiri. Selain itu juga memantau kepatuhan
penuh atas penerapan kerangka hukum yang berada di bawah tanggung jawabnya.
The National Commission of Natural Protected Areas (Comisin Nacional de reas
Naturales Protegidas, Conanp)
Lembaga ini adalah badan desentralisasi dari Semarnat. Lembaga ini bertanggung
jawab atas administrasi dan pengoperasian Kawasan Lindung Alam (NPA). Wilayah
tersebut merupakan ekosistem yang khusus dan merupakan sumber daya alam yang masih
belum terpengaruhi oleh kegiatan manusia.
NPA bukan merupakan area taman atau area tertutup. Kawasan ini dibatasi oleh
poligon

perlindungan

imajiner

berdasarkan

nilai

biologis

dan

ekosistem

dan

keanekaragaman hayati. Namun demikian kebijakan dan kegiatan yang dilaksanakan oleh
Conanp's bermanfaat bagi mereka yang tinggal di luar kawasan ini. Di Meksiko ada
berbagai jenis NPA antara lain: cagar biosfer, taman nasional, kawasan lindung flora dan
fauna, sumber daya alam kawasan lindung, monumen alam dan tempat-tempat suci.
Kategori ini didirikan sesuai dengan karakteristik mereka.
The National Water Commission (Comisin Nacional del Agua, Conagua)
Lembaga ini juga lembaga terdesentralisasi yang Semarnat's, yang dibentuk melalui
mandat presiden pada tanggal 16 Januari 1989. Tugas utamanya adalah untuk mengelola
dan melestarikan perairan nasional dan manfaat yang terkandung di dalamnya, dalam
rangka untuk memastikan penggunaan yang berkelanjutan dengan tanggung jawab
bersama dari tiga tingkatan pemerintah dan masyarakat. Visinya adalah untuk
berkolaborasi dalam mewujudkan masyarakat yang mempunyai ketersediaan air dengan
jumlah yang cukup dan berkualitas, menggunakannya secara efisien dan melindungi

kawasan air, serta ikut serta dalam rangka pelaksanaan memastikan pembangunan
berkelanjutan dan pelestarian lingkungan.
The National Forest Commission (Comisin Nacional Forestal, Conafor)
Conafor adalah lembaga Negara yang bersifat desentralisasi yang berada di bawah
Semarnat. Conafor bertanggung jawab atas perumusan rencana dan program yang
menjamin pelaksanaan kebijakan pembangunan hutan yang berkelanjutan. Ini dibentuk
melalui mandat presiden pada tanggal 4 April 2001, dan bertujuan untuk mengembangkan,
mendorong dan membina kegiatan produktif dari hutan konservasi dan restorasi di hutan,
kawasan hutan, daerah kering dan semi- kering, termasuk penggunaan berkelanjutan
produk mereka. Perhatian khusus telah diarahkan dalam program Prorbol, sebuah
program yang tidak hanya menekankan dalam mekanisme reboisasi, tapi desain untuk
pengurangan kemiskinan dan marjinalisasi di wilayah hutan melalui pengelolaan yang
tepat dan penggunaan sumber daya alam.
The Mexican Institute of Water Technology (Instituto Mexicano de Tecnologa del Agua,
IMTA)
IMTA adalah badan yang bersifat desentralisasi dan berada di bawah Semarnat,
yang memiliki tugas memproduksi dan menyebarkan pengetahuan dan teknologi untuk
pembangunan berkelanjutan dan terpadu pengelolaan sumber daya air di Meksiko.
Tanggung jawab ini dilakukan melalui penelitian yang berorientasi pada pengembangan
teknologi, adaptasi dan transfer, manajemen inovasi sumber daya air, melaksanakan
pelatihan sumber daya manusia; penyediaan teknologi tepat guna, memperkuat kapasitas
kelembagaan.
The National Institute of Ecology (Instituto Nacional de Ecologa, INE)
INE adalah lembaga Negara yang bersifat desentralisasi yang berada di bawah
Semarnat. Misinya adalah (1) untuk menghasilkan, mengintegrasikan dan menyebarkan
informasi ilmiah, teknologi dan pengetahuan tentang lingkungan, (2) untuk melatih sumber
daya manusia dalam rangka untuk menginformasikan masyarakat, (3) untuk membantu
dalam proses pengambilan keputusan, dan (4) untuk mempromosikan perlindungan
lingkungan dan pemanfaatan secara berkelanjutan sumber daya alam. Tugas utamanya
merupakan bagian yang utama dalam mendorong progam pembangunan yang
berkelanjutan di Meksiko.
The Federal Attorney of Environmental Protection (Procuradura Federal de Proteccin al
Ambiente, Profepa)

Profepa didirikan pada tahun 1992 dan merupakan lembaga yang bersifat
desentralisasi, dengan otonomi teknis dan operasional yang merupakan bagian dari
Semarnat. Tugas utamanya adalah untuk meningkatkan kepatuhan peraturan lingkungan,
dalam rangka memberikan kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan. Visinya adalah
menghadirkan suatu masyarakat di mana setiap anggota adalah penjaga dan sahabat dari
suatu hubungan antara manusia dan alam. Sebelum menjatuhkan sanksi, Profepa berusaha
untuk mempromosikan budaya ekologi yang benar dan mencapai tingkat kepatuhan
tertinggi hukum. Misinya adalah untuk menjamin keadilan lingkungan melalui penegakan
hukum yang ketat, untuk memberantas kesenjangan impunitas, korupsi, penundaan dan
wewenang, serta melibatkan semua sektor dan semua tiga tingkat pemerintahan
berdasarkan prinsip keadilan dan keadilan.
The National Commission for the Use and Knowledge of Biodiversity (Comisin Nacional
para el Conocimiento y Uso de la Biodiversidad, Conabio)
Conabio yang didirikan pada tahun 1992 sebagai sebuah badan antar lembaga,
dipimpin oleh Presiden Meksiko dan mempunyai anggota Kepala Sekretariat dari masingmasing lembaga yaitu: Environment and Natural Resources; Health; Agriculture,
Livestock, Rural Development and Fisheries; Foreign Affairs; Education; Social
Development; Tourism; Economy; Energy; and Treasury. Komisi ini mempunyai fungsi
utama, antara lain (1) untuk menjembatani antara akademisi, pemerintah dan masyarakat;
(2) menghasilkan pengetahuan terhadap modal alam nasional yang akan diterapkan pada
tingkat lokal, dan (3) untuk melindungi dan mengelola keanekaragaman hayati dengan
mengedepankan kebijakan lokal (local wisdom). Lembaga ini dibentuk sebagai suatu
organisasi untuk mengedepankan sebagai lembaga penelitian terapan, mengumpulkan dan
menghasilkan informasi nasional dan internasional tentang keanekaragaman hayati, dan
sebagai sumber informasi publik dan sumber pengetahuan untuk semua anggota
masyarakat.
2.3.2 Australia
Kasus di Australia memberikan gambaran bahwa pembentukan suatu lembaga
pemerintah di bidang Perubahan Iklim, termasuk upaya penurunan emisi karbon sektor
kehutanan, merupakan suatu proses transformasi yang berkelanjutan. Upaya ini dimulai
sejak tahun 1998, dimana awalnya kebijakan perubahan iklim masih terpecah-pecah secara
fungsional di sejumlah kementerian/departemen pemerintah.

Fragmentasi kebijakan

maupun kelembagaan mulai terpecahkan ketika pada tahun 2007 terbentuk suatu lembaga

setingkat kementerian, yaitu Department of Climate Change, yang bertanggungjawab


langsung kepada Perdana Menteri sebagai pimpinan eksekutif tertinggi.
Kementerian Keuangan Australia, The Australian Treasury, mulai berperan ketika
kebijakan mitigasi diharapkan dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap
kegiatan perekonomian Australia. The Treasury telah memberikan sumbangannya dalam
penyusunan disain kebijakan mitigasi agar dapat memberikan dampak secara ekonomis
dan efisien. Selain itu, lembaga-lembaga ekonomi pemerintah Australia lainnya mulai turut
terlibat aktif ketika pemerintah Australia memutuskan untuk melakukan upaya yang serius
di bidang perubahan iklim, khususnya penggunaan mekanisme pasar karbon.

3 ANALISIS ALTERNATIF KELEMBAGAAN REDD+ DI INDONESIA


3.1 Alternatif Kelembagaan REDD+
Sebagai institusi yang ditugasi untuk membentuk kelembagaan REDD+, Satgas
REDD+ telah menyusun tiga alternatif kelembagaan, yaitu lembaga REDD+ yang bersifat
add-on, lembaga REDD+ yang stand-alone, dan lembaga REDD+ yang sifatnya
transition.
3.1.1 Add-on
Pengertian Add-on adalah pembentukan unit organisasi REDD+ sebagai unit baru yang
berada dalam Kementerian/Lembaga yang sudah ada. Dalam alternatif ini, unit organisasi
REDD+ akan melaporkan dan mempertanggungjawabkan tugasnya kepada menteri yang
membawahinya. Ada tiga usulan add-on yang ditawarkan, yaitu (1) sebagai unit baru pada
Kementerian Perubahan Iklim, Tata Ruang, dan Lingkungan Hidup; (2) sebagai unit baru
pada Kementerian Lingkungan Hidup; dan (3) sebagai unit baru pada Kementerian
Kehutanan.
Alternatif pertama dari pilihan add-on adalah pembentukan lembaga REDD+ di
bawah Kementerian Perubahan Iklim, Tata Ruang, dan Lingkungan Hidup. Dalam
alternatif ini, Kementerian Lingkungan Hidup diperluas fungsinya dengan menambahkan
fungsi perubahan iklim dan fungsi tata ruang. Fungsi perubahan iklim akan mencakup
semua sektor yang terkait dengan upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, termasuk
diantaranya sektor kehutanan, sektor energi, sektor pertanian, sektor kelautan dan
perikanan, sektor industri, dan sektor transportasi. Selain itu, kementerian ini akan
ditambah lagi dengan tugas tata ruang, yang saat ini ditangani oleh beberapa institusi di
beberapa kementerian / lembaga yang berbeda.

Alternatif kedua dari pilihan add-on adalah membentuk unit baru pada Kementerian
Lingkungan Hidup. Dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup tetap menjalankan
fungsinya seperti yang ada saat ini, ditambah dengan satu unit baru yang menangani
REDD+. Pada alternatif ini, lembaga REDD+ melaporkan dan bertanggung jawab kepada
Menteri Lingkungan Hidup.
Alternatif ketiga dari pilihan add-on adalah membentuk lembaga REDD+ di bawah
Kementerian Kehutanan. Pada alternatif ini, tidak banyak upaya yang harus dilakukan,
mengingat selama ini isu REDD+ juga ditangani oleh Kementerian Kehutanan. Dari sisi
substansi pekerjaan maupun dari sisi koordinasi, lebih mudah untuk dilaksanakan.
3.1.2 Stand-alone
Pengertian organisasi yang stand-alone adalah organisasi yang berdiri sendiri, dengan
kewenangan tersendiri, dan tidak menginduk kepada Kementerian/Lembaga yang sudah
ada. Organisasi ini akan melaporkan dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden
atau Wakil Presiden.
3.1.3 Transition
Organisasi yang sifatnya transition adalah organisasi yang dibentuk dalam masa transisi
atau bersifat sementara, dan pada saatnya akan diubah menjadi bentuk organisasi yang
lebih permanen. Dalam usulan ini ada dua usulan yang diajukan oleh Satgas REDD+, yaitu
dari stand-alone ke add-on, dan dari add-on ke stand-alone. Namun perlu dikembangkan
pula alternatif tambahan, yaitu dari add-on di suatu kementerian lembaga menjadi add-on
pada kementerian / lembaga yang lain.
Alternatif pertama dari pilihan transition adalah dari stand-alone menjadi add-on.
Dalam jangka pendek, kelembagaan REDD+ dibentuk sebagai organisasi yang berdiri
sendiri, kemudian pada saat yang tepat akan diubah menjadi unit organisasi pada suatu
Kementerian / Lembaga tertentu. Kementerian / lembaga yang dimaksud bisa Kementerian
Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Perubahan Iklim, atau
kementerian lain, sesuai dengan kondisi pada masa yang akan datang.
Alternatif kedua dari pilihan transition adalah dari add-on menjadi stand-alone.
Dalam jangka pendek, kelembagaan REDD+ dibentuk sebagai organisasi yang berada pada
suatu kementerian/lembaga tertentu yang ada saat ini, kemudian pada saat yang tepat akan
diubah menjadi organisasi yang berdiri sendiri. Kementerian yang dimaksud di sini bisa
Kementerian Lingkungan Hidup, bisa juga Kementerian Kehutanan.

Alternatif ketiga dari pilihan transition adalah dari add-on pada suatu Kementerian /
Lembaga menjadi add-on ke Kementerian / Lembaga yang lain. Dalam jangka pendek,
kelembagaan

REDD+

dibentuk

sebagai

organisasi

yang

berada

pada

suatu

kementerian/lembaga tertentu kemudian pada saat yang tepat akan menjadi bagian dari
Kementerian / Lembnaga lain yang lebih tepat. Dalam jangka pendek, lembaga REDD+
dapat di add-on pada Kementerian Lingkungan Hidup atau Kementerian Kehutanan,
kemudian dalam jangka panjang digabung dengan sektor-sektor yang lain menjadi bagian
dari Kementerian Perubahan Iklim.

3.2 Analisis Pemilihan Alternatif Kelembagaan


3.2.1 Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Organisasi
Pada sub bab berikut ini dijelaskan beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan
dalam pembentukan organisasi, yang antara lain mencakup (1) kejelasan masalah, visi,
misi, dan tujuan organisasi; (2) jenis fungsi organisasi; (3) tanggung jawab dan
pendelegasian tugas; (4) integrasi dengan unit setingkat lainnya; (5) integrasi dengan unit
yang lebih tinggi; (6) penyiapan sumber daya, (7) legalitas dan (8) proporsionalitas.
Kejelasan Masalah, Visi, Misi, dan Tujuan Organisasi
Organisasi REDD+ yang dibentuk harus memiliki visi, misi, dan tujuan yang
jelas.Untuk itu, perlu adanya kejelasan masalah yang dihadapi, yang digunakan sebagai
acuan dalam memformulasikan visi, misi, dan tujuan organisasi. Pemahaman terhadap
masalah ini bukan hanya bagi organisasi REDD+ saja, tetapi juga bagi unit organisasi yang
setingkat dengan lembaga REDD+, dan juga organisasi di atasnya. Hal ini penting agar
dalam memformulasikan visi, misi, dan tujuan organisasi REDD+ mendapatkan dukungan
dari unit-unit tesebut.
Dalam hal pemahaman masalah oleh lembaga REDD+ tidak ada masalah, semua
alternatif memiliki pemahaman yang sama. Namun pemahaman masalah oleh unit-unit
organisasi yang setingkat dengan lembaga REDD+ dan unit organisasi yang ada di atasnya,
agak berbeda antara satu alternatif dengan alternatif yang lain.
Alternatif Add-on pada Kementerian Kehutanan merupakan pilihan terbaik, sebab
unit eselon 1 pada Kementerian Kehutanan bisa memahami masalah REDD+ lebih baik
dibandingkan dengan pemahaman unit eselon 1 di Kementerian Lingungan Hidup maupun
unit eselon 1 di kementerian Perubahan Iklim, Tata Ruang dan Lingkunganj Hidup.

Demikian juga pemahaman oleh unit yang lebih tinggi. Menteri Kehutanan
memiliki pemahaman terhadap masalah REDD+ lebih baik dibandingkan pemahaman
menteri lingkungan hidup, menteri perubahan iklim, presiden, maupun wakil presiden.
Dalam konteks ini, add-on pada kementerian kehutanan juga merupakan alternatif terbaik.
Jenis Fungsi Organisasi
Ditinjau

dari

perannya,

Lembaga

REDD+

merupakan

organisasi

jenis

tecknostructure, yang berfungsi menterjemahkan suatu kebijakan pimpinan menjadi


regulasi, sistem, dan prosedur, yang akan dilaksanakan oleh unit-unit lain yang terkait.
Suatu unit tecknostructure tidak bisa berdiri sendiri, karena akan berkaitan dengan
pimpinan yang mempunyai otoritas pembuatan kebijakan serta unit operating core, yang
menjalankan fungsi melaksanakan kebijakan dengan mengacu kepada regulasi, sistem, dan
prosedur yang dibuat oleh unit technostructure.
Dalam kaitan dengan Lembaga REDD+, pilihan yang tepat adalah lembaga
REDD+ yang di add-on pada Kementerian Kehutanan. Pada pilihan ini jelas, bahwa
lembaga REDD+ adalah unit technostructure, dengan unit strategic adalah Menteri
Kehutanan dan operating core adalah Dinas Kehutanan yang berada di tingkat Propinsi dan
Kabupaten/Kota. Pembentukan lembaga REDD+ yang stand-alone atau add-on pada
kementerian / lembaga non Kehutanan akan memutuskan hubungan antara unit strategis,
technostructure, dan operating core.
Tanggung jawab dan Pendelegasian tugas
Salah satu indikator keberhasilan dari suatu organisasi adalah adanya pendegasian
tugas yang baik dalam organisasi. Pendelegasian tugas akan dapat terlaksana apabila
organisasi memiliki struktur dan tugas pokok organisasi yang jelas. memiliki rentang
kendali yang dapat dikontrol, dan memiliki tanggungjawab yang jelas. Dalam hal kejelasan
struktur organisasi, di manapun organisasi ini akan ditempatkan tidak menjadi persoalan.
Namun dari sisi rentang kendali terhadap organisasi REDD+, organisasi stand-alone
memiliki rentang kendali yang lebih baik dibandingkan dengan organisasi add on.
Sementara dari sisi pertanggungjawaban, lembaga yang stand-alone menjadi
pilihan yang lebih baik, mengingat keberhasilan organisasi dalam mencapai visi misi
maupun tujuan organisasi merupakan keberhasilan dari organisasi tersebut, tanpa
dipengaruhi oleh keberhasilan dan kegagalan unit lain yang setingkat.
Integrasi Dengan Unit Setingkat Lainnya

Mekanisme REDD+ bukanlah suatu upaya penurunan emisi sektor kehutanan yang
berdiri sendiri. REDD+ terkait dengan berbagai kebijakan Kementerian Kehutanan yang
lain. Secara sistem, REDD+ merupakan salah satu kegiatan di Kementerian Kehutanan
yang saling terkait satu sama lain. Untuk itu, koordinasi antar unit yang setingkat di
Kementerian Kehutanan menjadi sangat penting. Dalam konteks ini, alternatif unit REDD
pada Kementerian Kehutanan merupakan pilihan yang tepat, karena mudahnya integrasi
antar unit organisasi yang setingkat. Penempatan unit REDD+ pada kementerian /
Lembaga di luar Kehutanan atau Unit REDD+ yang independent akan menyebabkan
koordinasi menjadi lebih sulit.
Integrasi Dengan Unit Yang Lebih Tinggi
Integrasi dengan unit yang lebih tinggi akan menjadi mudah apabila unit yang lebih
tinggi memahami dengan baik apa yang menjadi tugas pokok dan fungsi dari organisasi
yang dipimpinnya. Dalam hal ini, Kementerian Kehutanan memiliki pemahaman yang
lebih baik dibandingkan dengan Kementerian / lembaga yang lain.
Penyiapan Sumber Daya
Pada saat ini kegiatan terkait REDD+ merupakan bagian dari tugas Kementerian
Kehutanan. Kondisi ini akan menjadi mudah apabila unit REDD+ berada pada
Kementerian Kehutanan. Apabila unit REDD+ berada pada Kementerian / Lembaga lain,
atau unit REDD+ menjadi lembaga yang independent, akan terjadi tarik menarik SDM
antara Kementerian Kehutanan dengan Kementerian / Lembaga di mana unit REDD+
berada.
Pengalaman di Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa pengurusan anggaran
dari unit organisasi baru pada Kementerian / Lembaga yang ada relatif lebih mudah
dibandingkan dengan pengurusan anggaran dari Lembaga Pemerintahan yang independent.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa dalam keterbatasan waktu, pembentukan lembaga
REDD+ pada suatu Kementerian / Lembaga yang sudah ada merupakan pilihan yang lebih
baik dibandingkan pembentukan lembaga REDD+ yang stand-alone.
Legalitas
Kemudahan dalam pembentukan organisasi (aspek legal) menjadi perhatian penting
dalam kajian ini, mengingat waktu yang tersedia sangat pendek. Dengan demikian dari sisi
aspek legalitas, kemudahan dalam pembentukan organisasi REDD+ mendapat perhatian
yang besar. Pengalaman pembentukan organisasi di Kementerian Keuangan menunjukkan
bahwa pembentukan / penambahan unit organisasi pada suatu Kementerian/Lembaga yang

sudah ada (add- on) lebih mudah dibandingkan dengan pembentukan unit organisasi yang
sama sekali baru (stand-alone).
Pertimbangan berikutnya dari aspek legal adalah pengakuan atas keberadaan unit
organisasi oleh stakeholder, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Dalam
konteks ini keberadaan unit REDD+ di Kementerian Kehutanan kiranya mendapat
pengakuan yang lebih baik dibandingkan dengan di Kementerian / lembaga lain ataupun
stand-alone. Pertimbangannya adalah bahwa REDD+ merupakan salah satu upaya sektor
kehutanan untuk menurunkan emisi GRK, di mana pengelolaan sektor kehutanan saat ini
sepenuhnya dipegang oleh Kementerian Kehutanan. Dalam hal unit REDD+ berada di
Kementerian / Lembaga lain, atau menjadi unit yang stand-alone, dikhawatirkan akan
timbul kerancuan antara kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh unit REDD+ dengan
kebijakan yang dibuat oleh Kementerian Kehutanan.
Proporsionalitas
Prinsip

proporsionalitas

mengedepankan

keserasian

antara

beban

tugas,

kewenangan, dan ketersediaan sumber daya yang ada. Di samping itu juga memperhatikan
keserasian hubungan, baik secara internal maupun eksternal. Dalam konteks ini, REDD+
merupakan salah satu mekanisme sektor kehutanan untuk mengurangi emisi. Disamping
itu , masih terdapat mekanisme yang lain, yaitu A/R CDM. Berkaitan dengan hal ini,
seyogyanya unit REDD+ merupakan bagian dari Kementerian Kehutanan, bukan bagian
dari Kementerian / Lembaga yang lain, dan bukan pula menjadi suatu institusi yang berdiri
sendiri.

3.2.2 Matrik Alternatif Kelembagaan dan Faktor-faktor yang mempengaruhi


Berdasarkan uraian atas faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan alternatif
kelembagaan REDD+ di atas dapat dirangkum kelebihan dan kekurangan dari masingmasing alternatif kelembagaan dalam matrik sebagai berikut:
Tabel 1: Matrik Kelembagaan dan Faktor-Faktor yang mempengaruhi

Faktor-faktor yang
dipertimbangkan

Kejelasan
masalah, visi, misi,
tujuan

Add-on
pada
Kemen
Perubah
an Iklim,
Tata
Ruang dan
LH

Add-on
pada
Kemen
Lingkung
an hidup

Add-on
pada
Kemen
Kehutanan

Standalone

Transition:
Standalone ke
Add-on

Transition:
Add-on
ke Standalone

Transition:
Add-on
ke Add-on

- oleh Lembaga
REDD+
- oleh lembaga
yang setingkat
- oleh lembaga
yang lebih tinggi
Tanggung jawab
dan Pendelegasian
tugas:
- Kejelasan Struktur
- Rentang kendali
- Kejelasan
Pertanggungjawaban
Jenis Fungsi
Organisasi
Koordinasi:
- Integrasi dengan
unit setingkat
-Integrasi dengan
unit yang lebih
tinggi
Penyiapan sumber
daya:
- SDM
- Anggaran
Prinsip legalitas:
- kemudahan
pembentukan
- pengakuan
stakeholders
Prinsip
Proporsionalitas
Ringkasan:
baik
sedang
kurang

baik

baik

baik

baik

baik

baik

baik

Kurang

Kurang

baik

Kurang

Kurang

baik

baik

Kurang

Kurang

baik

Kurang

Kurang

baik

baik

baik
Kurang

baik
Kurang

baik
kurang

baik
baik

baik
kurang

baik
baik

baik
kurang

Kurang

Kurang

baik

baik

baik

baik

baik

Kurang

Kurang

baik

Kurang

Kurang

baik

baik

Kurang

Kurang

baik

sedang

sedang

baik

baik

Kurang

Kurang

baik

Kurang

Kurang

Kurang

baik

Kurang
baik

Kurang
baik

baik
baik

kurang
kurang

kurang
kurang

baik
baik

baik
baik

baik

baik

baik

kurang

kurang

baik

baik

kurang

kurang

baik

kurang

kurang

kurang

baik

sedang

sedang

baik

kurang

kurang

sedang

sedang

4
1
9

4
1
9

13
0
1

4
1
9

3
1
10

11
1
2

12
1
1

Berdasarkan matrik di atas, terdapat tiga alternatif kelembagaan yang memiliki


nilai baik di atas 50%. Pertama, alternatif pembentukan lembaga REDD+ yang di add-on
pada Kementerian Kehutanan. Alternatif ini memiliki nilai baik sebanyak 13, sedang 0, dan
kurang 1. Kedua, alternatif kelembagaan REDD+ yang dibentuk dalam masa transisi, di
mana sementara ini di add-on pada Kementerian Kehutanan dan pada saatnya nanti akan
digabung dalam Kementerian / Lembaga lain yang menangani Perubahan Iklim. Alternatif
ini memiliki nilai baik sebanyak 12, sedang 1, dan kurang 1. Ketiga, alternatif
pembentukan lembaga REDD+ dalam masa transisi, yaitu dari Add-on pada Kementerian

Kehutanan menjadi Lembaga REDD+ yang stand- alone.Alternatif ini memiliki nilai baik
sebanyak 11, sedang 1, dan kurang 2.

3.2.3 Analisis berbasis pengalaman negara lain


Apa yang terjadi di Indonesia pada saat ini hampir sama dengan yang dialami Australia
pada tahun 1998, di mana upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dilaksanakan oleh
kementerian / lembaga teknis yang terkait dengan sektor-sektor pengemisi GRK. Pada
tahun 2007, unit-unit mitigasi dan perubahan iklim yang berada pada kementerian/lembaga
teknis dilebur menjadi satu kementerian, yaitu Department of Climate Change.

3.3 Usulan Kelembagaan REDD+


3.3.1 Jangka Pendek
Dalam jangka pendek, alternatif Kelembagaan REDD+ yang di add-on pada
Kementerian Kehutanan merupakan alternatif yang terbaik, berdasarkan pertingbanganpertimbangan berikut:
Pertama, REDD+ merupakan upaya penurunan emisi dari sektor kehutanan, yang
saat ini sepenuhnya ditangani oleh Kementerian Kehutanan. Dengan demikian, Lembaga
REDD yang berada di bawah Kementerian Kehutanan akan lebih baik dibandingkan
dengan alternatif lainnya. Demikian pula pemahaman tentang REDD+, Kementerian
Kehutanan diyakini memiliki pemahaman tentang REDD+ lebih baik dibandingkan dengan
Kementerian Lingkungan hidup, ataupun wakil presiden atau presiden sekalipun.
Kedua, ditinjau dari tanggung-jawab, kelembagaan REDD+ pada Kementerian
Kehutanan merupakan pilihan yang baik, karena lembaga REDD+ berada pada
kementerian yang bertanggungjawab terhadap sektor kehutanan. Di sini, lembaga REDD+
memiliki peran dan tanggung jawab yang jelas, yaitu mencegah terjadinya deforestasi dan
degradasi hutan, serta memperbaiki metode pengelolaan hutan agar dapat dicapai kondisi
hutan yang lestari.
Ketiga, ditinjau dari sisi koordinasi dengan unit-unit lain yang satu level dengan
lembaga REDD+, lembaga REDD+ yang berada di Kementerian Kehutanan akan lebih
mudah berkoordinasi di bandingkan dengan apabila lembaga REDD+ berada di luar
Kementerian Kehutanan.

Keempat, ditinjau dari sisi penyiapan sumber daya, penyiapan anggaran untuk
lembaga REDD+ yang di add-on pada Kementerian / Lembaga relatif lebih mudah
dibandingkan dengan lembaga REDD+ yang stand-alone. Sementara itu penyiapan SDM
untuk lembaga REDD+ yang berada di bawah Kementerian Kehutanan akan relatif lebih
mudah dibandingkan dengan lembaga REDD+ yang stand-alone atau berada di bawah
Kementerian / Lembaga selain Kementerian Kehutanan.
Kelima, ditinjau dari sisi proses pembentukan organisasi, lembaga REDD+ yang di
add-on pada Kementerian / lembaga relatif lebih mudah pembentukannnya dibandingkan
dengan lembaga REDD+ yang stand- alone. Sementara itu pengakuan unit REDD+ yang
berada di Kementerian Kehutanan akan lebih diakui eksistensinya dibandingkan dengan
lembaga REDD+ yang berada di Kementerian/lembaga lain ataupun Lembaga REDD+
yang stand-alone.
Keenam. ditinjau dari proporsionalitas, isu tentang REDD+ merupakan satu bagian
dari kegiatan sektor kehutanan. Oleh karenanya, lembaga REDD+ yang di add-on pada
Kementerian/Lembaga lebih pada tempatnya dibandingkan dengan lembaga REDD yang
bertanggungjawab langsung kepada Presiden atau wakil presiden (lembag REDD+ yang
stand-alone.
3.3.2 Jangka Panjang
Pada dasarnya, isu perubahan iklim adalah isu multi sektoral. Di Indonesia pada
saat ini, upaya mitigasii dan adaptasi perubahan iklim ditangani oleh Kementerian /
Lembaga teknis yang terkait, antara lain Kementerian Kehutanan, Kementerian ESDM,
Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perhubungan,
Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Lingkungan Hidup. Tingkat intensitas dari
masing-masing kementerian juga berbeda. Pada saat ini, penanganan isu perubahan iklim
di Kementerian Kehutanan dan Kementerian ESDM relatif lebih baik dibandingkan dengan
Kementerian / Lembaga yang lain.
Dalam jangka panjang, upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim perlu
diintegrasikan dalam suatu rangkaian kegiatan yang komprehensif. Oleh karenanya lebih
tepat apabila dibentuk suatu Kementerian / Lembaga tersendiri, yang secara khusus
menangani upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dari berbagai sektor yang terkait.
Kementerian / Lembaga ini merupakan kumpulan dari unit-unit yang saat ini menangani
isu perubahan iklim pada berbagai kementerian / lembaga teknis.

4 SIMPULAN DAN SARAN


4.1 Simpulan
Berdasarkan analisis di atas, dapat diambil beberapa simpulan sebagai berikut:
1. Dalam jangka pendek, pembentukan lembaga REDD+ yang di add-on pada
Kementerian Kehutanan merupakan pilihan yang terbaik, dengan pertimbangan
menguasai permasalahan dengan baik, memiliki peran dan tanggungjawab yang
jelas, koordinasi pekerjaan lebih mudah, pembentukan organisasi lebih mudah,
penyediaan anggaran lebih mudah. Selain itu, REDD+ merupakan bagian dari
upaya mitigasi sektoral, sehingga lebih tepat untuk ditempatkan pada sektor yang
terkait dibandingkan dengan unit yang stand-alone yang bertanggung jawab
langsung ke Presiden atau Wakil Presiden.
2. Dalam jangka panjang, Unit REDD+ yang berada di Kementerian Kehutanan ini
akan diintegrasikan dengan unit-unit yang menangani isu perubahan iklim dari
Kementerian / Lembaga teknis lainnya, menjadi suatu Kementerian / Lembaga
tersendiri, yang memiliki tugas khusus untuk menangani isu perubahan iklim dari
berbagai sektor. Pembentukan Kementerian / Lembaga ini perlu untuk
memudahkan koordinasi penanganan isu perubahan iklim, baik pada tingkat
nasional, regional, lokal, maupun internasional.
4.2 Saran
Berdasarkan simpulan diatas, direkomendasikan agar:
1.

Lembaga REDD+ di bentuk sebagai add-on pada Kementerian Kehutanan.

2.

Dalam jangka pendek, diharapkan akan terbentuk juga unit-unit di Kementerian /


Lembaga teknis lainnya yang memiliki tugas khusus untuk menangani isu perubahan
iklim di Kementerian lembaga masing-masing.

3.

Mulai dipersiapkan pembentukan Kementerian / Lembaga yang secara khusus


menangani isu perubahan iklim

DAFTAR PUSTAKA

Satgas REDD, Strategi Nasional REDD+, draft 2, 2011


Robbins, Stephen P. and Mary Coulter. 2002. Management , Prentice Hall International
Mintzberg, Henry. 1973. The Nature of Managerial Work , Harper & Row
http://id.wikipedia.org/, diakses pada 19 Mei 2011
http://id.wikipedia.org/wiki/Gas_rumah_kaca, diakses pada 19 Mei 2011
http://www.cambioclimatico.gob.mx/index.php/en/politica-nacional-sobre-cambioclimatico.html, diakses pada 9 Juni 2011
http://www.cifor.cgiar.org/trofcca/_ref/asia/reginfo/natcomm.htm&mn=trofcca_0_1,
diakses pada 19 Mei 2011
http://www.fahutanipb.com/index.php/news/2011/01/pohon-trambesi-paling-hebatmenyerap-karbon-dioksida-sebasar-285-ton, diakses pada 19 Mei 2011
http://www.ipcc.ch/index.htm, diakses pada 19 Mei 2011
http://ulincool.wordpress.com, diakses pada 19 Mei 2011
http://www.climatechange.gov.au/, diakses pada 20 Mei 2011