Anda di halaman 1dari 5

BAB VII

BAITUL MAAL WAT TAMWIL ( B M T )


A. Pengertian
BMT adalah kependekan dari Baitul Maal Wat Tamwil atau Balai Usaha Mandiri Terpadu
adalah Lembaga keuangan mikro yang beroperasi berdasarkan prinsip-prinsip syariah.
Dua fungsi utama BMT :
1. Baitul Tamwil (Bait = Rumah; at-Tamwil =
Pengembangan Harta) kegiatan pengembangan usaha produktif dan investasi dalam
meningkatkan kualitas ekonomi pengusaha mikro dan kecil.
2. Baitul Maal (Bait=Rumah; Maal=Harta) menerima dana ZISWA dan mendistribusikan
sesuai dengansyariah dan amanahnya.
TUJUAN dan STRATEGI
TUJUAN :
Dari waktu ke waktu meningkatkan jumlah (partisipasi) anggota dan mengembangkan usaha
sehingga menambah manfaat dan memperbesar keuntungan yang bisa dirasakan oleh
masyarakat secara lebih luas dan lebih merata (Rahmatan Lil Alamin)
STRATEGI USAHA :
Mengembangkan produk-produk syariah dengan pelayanan terbaik sesuai dengan kebutuhan
dan keinginan anggota/nasabah dan mitra usaha.
Visi BMT
Menjadi lembaga keuangan mikro yang sehat, berkembang dan terpercaya sebagai wadah
solusi ekonomi kerakyatan yang berkeadilan (syariah), sehingga mampu melayani anggota
dan masyarakat lingkungannya berkehidupan salaam, penuh keselamatan, kedamaian dan
kesejahteraan dengan prinsip kerja profesional, amanah dan sejahtera.
Misi BMT
Mengembangkan BMT dan anggotanya sebagai sarana gerakan pembebasan, gerakan
pemberdayaan, dan gerakan keadilan melalui pengelolaan Keuangan, Tabungan dan
Pembiayaan secara profesional dan amanah sehingga terlayani secara prima anggota dan
masyarakat sekitar terhadap akses permodalan usaha sebagaimana terinci dari
aktivitas berikut:

1. Mengembangkan usaha anggota dan Masyarakat sekitar melalui jasa keuangan.


2. Menggalang Dana Anggota dan pihak lain sesuai dengan ketentuan untuk kesejahteraan.
3. Menyalurkan dana permodalan bagi anggota dan pihak lain untuk mengembangkan
usahanya.

4. Memanfaatkan segala keuntungan untuk keberlajutan lembaga dan kemanfaatan bersama.


5. Menghimpun dana-dana kesetiakawanan sosial dan menyalurkan untuk pembangunan
kualitas hidup anggota dan masyarakat sekitar sesuai hak, kebutuhan dan ketentuan.

Fungsi BMT
1. Mengidentifikasi, memobilisasi, mengorganisir, mendorong, dan mengembangkan
potensi serta kemampuan ekonomi anggota, kelompok usaha anggota muamalat
(Pokusma) dan kerjanya;
2. Mempertinggi kualitas SDM anggota dan Pokusma menjadi lebih profesional dan Islami
sehingga semakin utuh dan tangguh menghadapi tantangan global; dan
3. Menggalang dan mengorganisir potensi masyarakat dalam rangka meningkatkan
kesejahteraan anggota.
Prinsip-prinsip utama BMT
61

62

1. Keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, dengan mengimplementasikan prinsipprinsip syariah dan muamalah Islam ke dalam kehidupan nyata;

2. Keterpaduan (kaffah) di mana nilai-nilai spiritual berfungsi mengarahkan dan


3.
4.
5.
6.
7.

menggerakkan etika dan moral yang dinamis, proaktif, progresif, adil, dan berakhlak
mulia;
Kekeluargaan (kooperatif);
Kebersamaan;
Kemandirian;
Profesionalisme; dan
Istiqomah: konsisten, kontinuitas/berkelanjutan

Ciri Utama BMT


1.
2.
3.
4.

Berorientasi bisnis, mencari laba bersama, meningkatkan pemanfaatan ekonomi paling


banyak untuk anggota dan lingkungannya.
Bukan lembaga sosial tetapi dimanfaatkan untuk mengefektifkan penggunaan zakat,
infaq, sadaqah, dan wakaf bagi kesejahteraan orang banyak.
Ditumbuhkan dari bawah berdasarkan peran serta masyarakat dan sekitarnya.
Milik bersama masyarakat kecil dan bawah dari lingkungan BMT itu sendiri, bukan
milik orang seorang atau orang dari luar masyarakat itu.

Ciri-ciri khusus BMT:


1. Staf dan karyawan BMT bertindak aktif, pro-aktif, dinamis tidak menunggu tetapi
menjemput calon nasabah baik sebagai penyetor dana maupun sebagai penerima dana
pembiayaan usaha.
2. Kantor dibuka dalam waktu tertentu dan ditunggui oleh jumlah staf yang terbatas, karena
sebagian besar staf harus bergerak di lapangan untuk mendapatkan nasabah penyetor
dana, memonitor, dan mensupervisi usaha nasabah.
3. BMT mengadakan pengajian rutin secara berkala yang waktu dan tempatnya (biasanya di
madrasah, masjid atau mushalla) ditentukan sesuai dengan kegiatan nasabah atau anggota
BMT.
4. Manajemen BMT adalah profesional dan Islami:
a. Administrasi keuangan, pembukuan dan prosedur ditata dan dilaksanakan dengan
sistem akuntansi sesuai dengan Standar Akuntansi Indonesia yang disesuaikan dengan
prinsip-prinsip Syariah.
b. Aktif, menjemput bola, beranjangsana, berprakarsa, proaktif, menemukan masalah,
menganalisa masalah dengan tajam, dan menyelesaikan masalah dengan bijak,
bijaksana, yang memenangkan semua pihak.
c. Berpikir, bersikap dan berperilaku ahsanu 'amala : service excellence.

Fungsi Didirikannya PINBUK


PINBUK adalah singkatan dari Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil. Ia merupakan badan
pekerja yang dibentuk oleh Yayasan Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (YINBUK). YINBUK
merupakan LPESM yang dibentuk oleh Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), yaitu
Alm. Kyai H. Hasan Basri, ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI),
yaitu Prof. DR. Ir. B.J. Habibie dan direktur utama Bank Muamalah Indonesia (BMI) yaitu
Zainal Bahar Noor dengan akta notaris Leila Yudoparipurno, SH, Nomor 5 Tanggal 13 Maret
1995
Didirikannya PINBUK berfungsi untuk:
1. Mensupervisi dan membina teknis, administrasi, pembukuan, dan finansial BMT-BMT
yang terbentuk.
Page | 62

63

2. Mengembangkan sumber daya manusia dengan melakukan inkubasi bisnis pengusaha


baru dan penyuburan usaha yang ada.
3. Mengembangkan teknologi maju untuk para nasabah BMT sehingga meningkat nilai
tambahnya.
4. Memberikan penyuluhan dan latihan.
5. Melakukan promosi, pemasaran hasil dan mengembangkan jaringan perdagangan usaha
kecil.
6. Memfasilitasi alat-alat yang tak mampu dimiliki oleh pengusaha kecil secara perorangan,
seperti fax alat-alat promosi dan alat-alat pendukung lainnya.

B. PROSEDUR PENDIRIAN BMT

BMT merupakan Lembaga Keuangan Syariah non-perbankan yang sifatnya informal


yang didirikan oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM).
BMT dapat didirikan dan dikembangkan dengan suatu proses hukum secara bertahap,
dimulai dari KSM dengan mendapat sertifikat operasi/kemitraan dari PINBUK dan jika
telah mencapai nilai Asset tertentu segera menyiapkan diri kedalam badan hukum
koperasi.
Penggunaan badan hukum KSM dan Koperasi untuk BMT disebabkan karena BMT tidak
termasuk lembaga keuangan formal yang dijelaskan dalam UU No. 10 Tahun 1998
tentang Perbankan.
Untuk mendirikan BMT terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui, sebagaimana
digambarkan dalam skema berikut:

BMT memerlukan struktur organisasi yang jelas, berikut ini contoh struktur
organisasi BMT:

Page | 63

64

C. Kegiatan Usaha BMT


Cara kerja dan perputaran dana BMT secara sederhana dapat digambarkan sbb:

D. Kebijakan Pengembangan BMT


Sebagai salah satu lembaga keuangan syariah, BMT diyakini dapat berkembang lebih baik
dibandingkan lembaga keuangan konvensional karena hal-hal sebagai berikut:

Page | 64

65

1. Lembaga keuangan syariah dijalankan dengan prinsip keadilan, wajar dan rasional, di
mana keuntungan yang diberikan kepada nasabahpenyipan adalah berasal dari
keuntungan penggunaan dana oleh para pengusaha lembaga keuangan syariah
sehingga terhindar dari negative spread.
2. Lembaga keuangan syariah mempunyai misi yang sejalan dengan program
pemerintah, yaitu pemberdayaan ekonomi rakyat.
3. Tahan uji atas berbagai kondisi ekonomi karena nasabah peminjam dan pengguna
dana mendasarkan kepada sistem bagi hasil.

Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Minako Sakai dan Kacung Marijan mengenai
pertumbuhan BMT di Indonesia, terdapat beberapa rekomendasi yang diusulkan dalam
rangka pengembangan BMT, yaitu:

1. BMT seharusnya berkonsentrasi pada pengelolaan pinjaman bernilai kecil kepada


usaha-usaha mikro dan kecil (di bawah Rp 50.000.000,00).

2. BMT seharusnya menyelenggarakan program-program pelatihan bisnis/kewirausahaan


secara berkala bagi anggotanya.

3. Departemen Koperasi harus memprakarsai dan mendanai kegiatan-kegiatan untuk


peningkatan kemampuan bagi BMT.
4. Departemen Koperasi seharusnya menghimpun pedoman informasi wilayah yang
memuat keterangan mengenai BMT yang ada dan menonjolkan berbagai strategi
bisnis, produk dan jasa BMT terkemuka.
5. Departemen Koperasi dan Departemen Sosial harus memperjuangkan peran yang
lebih besar bagi usaha-usaha sosial dalam pengembangan masyarakat.
6. Asosiasi-asosiasi BMT di daerah sebaiknya direformasi. Kelompok-kelompokini
seharusnya berbagi informasi dan mengembangkan prosedur operasi yang baku
sebagai langkah awal sebagai lembaga yang dapat mengatur diri sendiri.
7. BMT-BMT seharusnya memanfaatkan pengetahuan lokal dan modal sosial untuk
memperluas bisnisnya.
8. BMT-BMT harus memberikan jaminan bahwa dan para anggotanya aman, untuk itu
pemerintah harus membuat kebijakan-kebijakan yang memungkinkan keluwesan yang
diperlukan kegiatan-kegiatan sosial.
9. Dalam jangka pendek, memasukkan BMT ke dalam UU tentang koperasi lebih layak.
Proses perubahan undang-undang sebaiknya melibatkan konsultasi-konsultasi dengan
para operator BMT yang aktif saat ini.
10. Dalam jangka panjang, diperlukan UU khusus dan menyeluruh yang dirancang untuk
memenuhi kebutuhan BMT (pembiayaan mikro, pelatihan bisnis dan pengelolaan
zakat melalui konsultasi dengan pihak yang berkepentingan

Page | 65