Anda di halaman 1dari 13

Dakwah

Dalil
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar;
merekalah orang-orang yang beruntung (TQS. Ali Imran[3]: 104).
Imam Al-Qurthubi mendefinisikan kata ()dalam tafsir al-Jami li Ahkam AlQuran, sebagai sekumpulan orang yang terikat dalam satu akidah. Tetapi,
menurutnya, umat dalam surat Ali Imran ayat 104 ini juga bermakna kelompok
karena adanya lafadz minkum (di antara kalian). Imam Ath-Thabari, seorang
faqih dalam tafsir dan fiqh, berkata dalam kitabnya Jami Al-bayan tentang arti ayat
ini yakni: (Wal takun minkum) Ayuhal muminun (ummatun) jamaatun, artinya:
Hendaknya ada di antaramu(wahai orang-orang beriman) umat )jamaah yang
mengajak pada hukum-hukum Islam(. Al-Qadhi Al-Baydhawi dalam kitabnya,
Tafsir al-Baidhawi tentang arti ayat ini menyatakan: Lafadz Min dalam ayat
tersebut mempunyai konotasi li at-tabidh (menujukkan makna sebagian). Karena
amar makruf dan nahi munkar merupakan fardhu kifayah.
Disamping karena aktivitas tersebut tidak bisa dilakukan oleh setiap orang, ketika
orang yang diperintah oleh nash tersebut harus mempunyai sejumlah syarat, yang
tidak bisa dipenuhi oleh semua orang. Seperti pengetahuan tentang hukum, tingkat
kecakapan, tatacara menunaikannya dan kemampuan melaksanakannya. Perintah
tersebut memang menyerukan kepada seluruhnya (umat Islam), namun yang
diminta mengerjakannya hanya sebagian dari mereka. Itu membuktikan, bahwa
perintah tersebut wajib untuk seluruhnya, sehingga ketika mereka meninggalkan
pokok kewajiban tersebut, semuanya berdosa. Namun, kewajiban tersebut
dinyatakan gugur dengan dikerjakan oleh sebagian di antara mereka. (AlBaidhawi, Tafsir al-Baidhawi, juz I, hal. 374).
Pada titik terakhir ini, Imam as-Syathibi memberikan penegasan, Pada dasarnya
mereka (kaum Muslim) dituntut untuk menunaikannya secara keseluruhan. Namun,
mereka ada yang mampu melaksanakannya secara langsung. Mereka inilah orangorang berkompeten untuk melaksanakannya. Sedangkan yang lain, meski mereka
tidak mampu, tetapi tetap mampu menghadirkan orang-orang yang
berkemampuan. Jadi, siapa saja yang mampu menjalankan pemerintahan (wilayah),
dia dituntut untuk melaksanakannya. Bagi yang tidak mampu, dituntut untuk
melakukan perkara lain, yaitu menghadirkan orang yang mampu dan memaksanya
untuk melaksanakannya. Kesimpulannya, yang mampu dituntut untuk menjalankan
kewajiban tersebut, sementara yang tidak mampu dituntut untuk menghadirkan
orang yang mampu. Alasannya, karena orang yang mampu tersebut tidak akan ada,
kecuali dengan dihadirkan. Ini merupakan bagian dari Ma la yatimmu al-wajib illa
bihi, yaitu kewajiban yang hanya bisa dijalankan dengan sempurna dengan adanya
perkara tadi. (as-Syathibi, al-Muwafaqat fi Ushul al-Syariah, juz I, hal. 128-129)
Ringkasnya, di dalam ayat itu disebutkan Hendaknya ada di antara kamu
segolongan umat , artinya, hendaknya ada sekelompok/segolongan orang dari

kaum Muslim (ummatan minal muslimin atau jamaatan minal muslimin). Ayat ini
menegaskan perintah kepada kaum Muslim tentang keharusan adanya
kelompok/jamaah. Kelompok untuk apa? Untuk menjalankan dua fungsi: pertama,
dawah ilal khair (menyeru kepada al-khoir) dan kedua, amar maruf nahi munkar
(memerintahkan yang maruf dan mencegah dari perkara munkar).
Kata al-khair dalam frase dawah ilal khair menurut tafsir Jalalain berarti al-Islam
(Tafsir al-Quran al-Azhim li al-imamain Jalalain, hal. 58), sehingga makna dawah ilal
khair adalah mendakwahkan/menyeru manusia kepada Islam. Sementara itu, Imam
Ibnu Katsir menyebutkan bahwa al-khair adalah mengikuti al-Quran dan asSunnah. Maksud ayat tersebut, lanjutnya adalah hendaknya ada dari umat ini suatu
kelompok yang solid dalam menjalankan tugas tersebut sekalipun hal itu juga
merupakan kewajiban atas setiap individu umat ini (Ibn Katsir, Tafsir al-Quran
al-Azhim, Juz I, hal. 478). Berdasarkan hal ini, jelaslah kelompok yang dikehendaki
Allah adalah kelompok yang secara penuh berjuang untuk menyerukan Islam.
------Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap
Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah. (Al-Ahzab: 21)
Imam As Sady mengatakan di dalam tafsirnya hal. 609, Sungguh telah ada bagi kalian pada diri
Rasulullah suri teladan yang baik yaitu dari sisi di mana beliau menghadiri sendiri suara hiruk pikuk dan
langsung terjun ke medan laga. Beliau adalah orang yang mulia dan pahlawan yang gagah berani. Lalu
bagaimana kalian menjauhkan diri kalian dari perkara yang Rasulullah bersungguh-sungguh melaluinya
seorang diri? Maka jadikanlah dia sebagai panutan kalian dalam perkara ini dan sebagainya.
Kemudian dikatakan oleh Imam As Sady: Suri teladan itu ada dua macam yaitu yang baik dan yang
buruk. Suri teladan yang baik itu ada pada diri Rasulullah ShallAllahu alaihi wassalam karena orang yang
menjadikannya sebagai suri teladan, sungguh dia telah menempuh jalan yang akan menyampaikan
kepada kemuliaan yang ada di sisi Allah. Itulah jalan yang lurus.
Al Hafidz Ibnu Katsir, dalam tafsir 3/483, mengatakan: Ayat ini merupakan landasan pokok menjadikan
Rasulullah sebagai suri teladan dalam ucapan-ucapan beliau, perbuatan-perbuatan, dan dalam semua
keadaan beliau.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah, pada saat menafsirkan QS. An Nisaa': 65,
menyatakan, Allah SWT bersumpah dengan mengatasnamakan diri-Nya sendiri
Yang Maha Mulia dan Maha Suci, sesungguhnya seseorang belumlah beriman
secara sempurna hingga ia berhakim kepada Rasullah SAW dalam seluruh urusan.

-------

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia
adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.
Al Fath 48:29
------

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu
sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu
berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia
tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan
memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS Ali Imran : 144)

Metode Dakwah Nabi Muhammad S.A.W


Dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah terbagi dalam 2 periode, yaitu di Mekkah
dan Madinah. Pada awal periode Mekkah Rasulullah berdakwah secara sembunyisembunyi, mendatangi orang-orang dekat Beliau antara lain istri Beliau Khadijah,
keponakannya Ali, budak Beliau Zaid, untuk diajak masuk Islam. Ketika turun surat
al Muddatstsir : 1-2, Rasululah mulai melakukan dakwah di tengah masyarakat,
setiap bertemu orang Beliau selalu mengajaknya untuk mengenal dan masuk Islam
(masih dalam keadaan sembunyi-sembunyi). Ketika Abu Bakar menyatakan masuk
Islam, dan menampakkannya kepada orang-orang yang dia percayai, maka
muncullah nama-nama seperti Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman
bin Auf, Saad bin Abi Waqash dan Thalhah bin Ubaidillah yang juga masuk Islam.
Dan seterusnya diikuti oleh yang lain seperti Abu Ubaidah, Abu Salamah, Arqom bin
Abi al Arqom, dll. Beliau menjadikan rumah Arqom bin Abi al Arqom sebagai pusat
pengajaran dan sekaligus pusat kutlah (kelompok) yang dalam bahasa kita tepatnya
disebut sekretariat. Di tempat ini Rasulullah mengajarkan hukum-hukum Islam,
membentuk kepribadian Islam serta membangkitkan aktivitas berpikir para
sahabatnya tersebut. Beliau menjalankan aktivitas ini lebih kurang selama 3 tahun
dan menghasilkan 40 orang lebih yang masuk Islam.
Selama 3 tahun membangun kutlah kaum muslim dengan membangun pola pikir
yang islami (aqliyah islamiyah) dan jiwa yang islami (nafsiyah islamiyah), maka
muncullah sekelompok orang yang memiliki syakhsiyah islamiyah (kepribadian
Islam) yang siap berdakwah di tengah-tengah masyarakat jahiliyah pada saat itu.
Hal ini bertepatan dengan turunnya surat al Hijr : 94, yang memerintahkan
Rasulullah untuk berdakwah secara terang-terangan dan terbuka. Ini berarti
Rasulullah dan para sahabatnya telah berpindah dari tahapan dakwah secara
sembunyi-sembunyi (daur al istikhfa) kepada tahapan dakwah secara terangterangan (daur al ilan). Dari tahapan kontak secara individu menuju tahap
menyeruh seluruh masyarakat. Sejak saat itu mulai terjadi benturan antara
keimanan dan kekufuran, antara pemikiran yang haq dan pemikiran yang batil.
Tahapan ini disebut marhalah al tafaul wa al kifah yaitu tahap interaksi dan
perjuangan. Di tahapan ini kaum kafir mulai memerangi dan menganiayah
Rasulullah dan para sahabatnya. Ini adalah periode yang paling berat dan
menakutkan di antara seluruh tahapan dakwah. Bahkan sebagian sahabat yang

dipimpin oleh Jafar bi Abi Thalib diperintahkan oleh rasul untuk melakukan hijrah ke
Habsyi. Sementara Rasulullah dan sahabat yang lain terus melakukan dakwah dan
mendatangi para ketua kabilah atau ketua suku baik itu suku yang ada di Mekkah
maupun yang ada di luar Mekkah. Terutama ketika musim haji, dimana banyak suku
dan ketua sukunya datang ke Mekkah untuk melakukan ibadah haji. Rasulullah
mendatangi dan mengajak mereka masuk Islam atau minimal memberikan
dukungan terhadap perjuangan Rasulullah.
Benturan antara Rasulullah dengan kafir Quraisy terjadi karena Rasulullah dan para
sahabat selalu melecehkan khayalan mereka, merendahkan tuhan-tuhan mereka,
menyebarkan rusaknya kehidupan mereka yang rendah, dan mencela cara-cara
hidup mereka yang sesat. RASULULLAH TIDAK PERNAH BERKOMPROMI
APALAGI BEKERJASAMA MENJALANKAN SISTEM KEHIDUPAN RUSAK DAN
SESAT BUATAN MANUSIA JAHILIYAH. Al Quran senantiasa turun kepada Beliau,
dan menyerang orang-orang kafir secara gamblang : sesunggunya kalian dan apa
yang kalian sembah selain Allah adalah umpan neraka jahannam. (TQS 21 : 98). al
Quran juga menyerang praktek riba yang telah turun temurun mewarnai kehidupan
jahiliyah : dan segala hal yang kalian datangkan berupa riba agar dapat
menambah banyak harta manusia, maka riba itu tidak menambah apapun di sisi
Allah. (TQS 30:39), demikian juga dengan kecurangan2 dalam takaran yang sangat
biasa terjadi : kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, yaitu orangorang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan
apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.
(TQS 83:1-3). Akibatnya, manusia-manusia jahil itu menghalangi dan menyakiti
Rasulullah dengan fitnah, propaganda yang menyesatkan, pemboikotan bahkan
penyiksaan fisik.
Di tengah cobaan yang sangat berat tersebut, datanglah kabar gembira akan
kemenangan dari Madinah. Hal ini terjadi ketika beberapa orang dari suku khazraj
datang ke Mekkah untuk berhaji. Kemudian Rasulullah mendatangi mereka,
berdakwah kepada mereka dan merekapun akhirnya masuk Islam. Setelah selesai
melaksanakan haji dan mereka kembali ke Madinah, mereka menceritakan
keislaman mereka kepada kaumnya. Sejak saat itu cahaya Islam mulai muncul di
Madinah.
Pada musim haji tahun berikutnya, datang 12 orang dari Madinah ke Mekkah, lalu
mereka membaiat Rasulullah dalam peristiwan Baiat Aqobah pertama. Baiat ini
adalah sebuah pernyataan janji di hadapan Rasulullah bahwa mereka akan
berpegang teguh pada risalah Islam dan meninggalkan semua perbuatan-perbuatan
yang rusak dan sesat yang selama ini mereka praktekkan dalam kehidupan. Ketika
penduduk Madinah ini akan kembali, Rasulullah memerintahkan Mushab bin Umair
untuk ikut bersama mereka dan mengajarkan Islam kepada penduduk Madinah.
Berbeda dengan penduduk Mekkah yang jumud dan berusaha untuk
mempertahankan status quo, terutama para penguasa kekufuran seperti Abu
Lahab, Abu Jahal dan Abu Sofyan, penduduk Madinah lebih baik dan bersahabat
dengan Islam. Mereka mau menerima agama baru tersebut. Bahkan ketika musim
haji tiba dan Mushab kembali ke Mekkah serta melaporkan kepada Rasulullah
tentang kondisi perkembangan Islam di Madinah yang sangat baik, Rasulullah mulai
berpikir untuk memindahkan medan dakwah dari Mekkah ke Madinah. Ketika

rombongan haji dari Madinah yang berjumlah 75 orang datang, terjadilah peristiwah
Baiat Aqobah kedua. Baiat ini adalah sebuah pernyataan dan janji di hadapan
Rasulullah bahwa mereka penduduk Madinah akan melindungi Rasulullah dan
menyerahkan kekuasaan kepada Rasulullah untuk memimpin mereka baik dalam
kehidupan sehari-hari maupun memimpin mereka berperang melawan orang-orang
yang menghalangi risalah Islam. Tidak lama setelah itu Rasulullah memerintahkan
kepada para sahabatnya untuk melakukan hijrah ke Madinah dan Rasulullah
menyusul kemudian.
Sejak tiba di Madinah, Rasulullah memerintahkan para sahabatnya membangun
masjid sebagai tempat sholat, berkumpul, bermusyawarah serta mengatur berbagai
urusan ummat. Sekaligus memutuskan perkara yang ada di antara mereka. Beliau
menunjuk Abu Bakar dan Umar sebagai pembantunya. Beliau bersabda dua
(orang) pembantuku di bumi adalah Abu Bakar dan Umar. Dengan demikian Beliau
berkedudukan sebagai kepala negara, qlodi dan panglima militer. Beliau
menyelesaikan perselisihan yang terjadi di antara penduduk Madinah dengan
hukum Islam, mengangkat komandan ekspedisi dan mengirimkannya ke luar
Madinah. Negara Islam oleh Rasulullah ini dijadikan pusat pembangunan
masyarakat yang berdiri di atas pondasi yang kokoh dan pusat persiapan kekuatan
militer yang mampu melindungi negara dan menyebarkan dakwah. Setelah seluruh
persoalan dalam negeri stabil dan terkontrol, Baliau mulai menyiapkan pasukan
militer untuk memerangi orang-orang yang menghalangi penyebaran risalah Islam.
Wallahalam.
Skema Metode Dakwah Rasulullah
1.
A.
1.
2.
3.

PERIODE MEKKAH
Tahapan Pembinaan dan Pengkaderan
Pemantapan Aqidah
Pembentukan Syakhsiyah Islamiyah
Pembentukan Kutlah/kelompok Dakwah

B. Tahapan Interaksi dan Perjuangan


1. Pertarungan Pemikiran (shiraul fikr)
2. Perjuangan Politik (Kifahus siyasi)
2.

PERIODE MADINAH

C. Tahapan Penerapan Syarat Islam (tathbiq ahkam al Islam)


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Membangun Masjid
Membina Ukhuwah Islamiyah
Mengatur urusan masyarakat dengan syariat Islam
Membuat Perjanjian dengan warga non muslim
Menyusun strategi politik dan militer
Jihad

Tata Cara Dakwah

1. Bil hikmah wal mauizhah


Allah Taala berfirman,
Artinya, Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pengajaran
yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu
Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan
Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. anNahl, 16:125)
Hikmah ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara
yang hak dengan yang bathil. Oleh sebab itulah Allah Taala meletakkan al-Quran
dan as-Sunnah sebagai asas pedoman dakwah bagi Rasulullah dan juga bagi tiap
umat yang bertugas meneruskan dakwah beliau hingga akhir zaman.
Pada ayat tersebut diatas dapat dipahami bahwa cara berdakwah yang diperintah
Allah Taala adalah sebagai berikut,
1. Dakwah bil hikmah, yaitu metode dakwah dengan memberi perhatian yang
teliti terhadap keadaan dan suasana yang melingkungi para madu (orangorang yang didakwahi), juga memperhatikan materi dakwah yang sesuai
dengan kadar kemampuan mereka dengan tidak memberatkan mereka
sebelum mereka bersedia untuk menerimanya. Metode ini juga
membutuhkan cara berbicara dan berbahasa yang santun dan lugas. Sikap
ghiroh yang berlebihan serta terburu-buru dalam meraih tujuan dakwah
sehingga melampaui dari hikmah itu sendiri, lebih baik dihindari oleh seorang
pendakwah.
2. Dakwah dengan cara mauizhah al-hasanah, yaitu metode dakwah dengan
pengajaran yang meresap hingga ke hati para madu. Pengajaran yang
disampaikan dengan penuh kelembutan akan dapat melunakkan kerasnya
jiwa serta mencerahkan hati yang kelam dari petunjuk dien. Pada beberapa
dai, ada yang masih saja menggunakan metode dakwah yang
berseberangan dengan hal ini, yaitu dengan cara memaksa, sikap yang
kasar, serta kecaman-kecaman yang melampaui batas syari.
3. Dakwah dengan perdebatan yang baik, yaitu metode dakwah dengan
menggunakan dialog yang baik, tanpa tekanan yang zalim terhadap pihak
yang didakwahi, tanpa menghina dan tanpa memburuk-burukkan mereka.
Hal ini menjadi penting karena tujuan dakwah adalah sampai atau
diterimanya materi dakwah tersebut dengan kesadaran yang penuh terhadap
kebenaran yang haq dari objek dakwah. Metode ini menghindari dari semata
karena ingin memenangkan perdebatan dengan para madu.
2. Benar dan tegas tanpa kompromi
Sesungguhnya dakwah Rasulullah merupakan dakwah yang tegas tanpa kompromi.
Perkara yang beliau saw sentuh dalam dakwahnya adalah perkara yang paling
pokok dan paling mendasar, laa ilaaha illallah, Muhammadur rasulullah. Beliau saw

menyeru bahwa tidak ada yang wajib diagungkan, diibadahi, ditaati dan dicintai
kecuali Allah Taala. Begitu juga terhadap perkara hukum, tidak ada hukum yang
wajib diterapkan dan dilaksanakan, kecuali hukum-Nya. Oleh karenanya perkara ini
menjadi sangat penting dan oleh karena sifat pembangkangan umat kafir serta
muslim yang munafik, maka dakwah ini juga akan menimbulkan kecaman,
kemarahan, dan permusuhan.
Namun perkara yang tidak menyenangkan hati ini tidak menurunkan semangat
beliau saw untuk tetap berjuang menyampaikan yang haq. Dengan penuh
kesabaran dan sifat welas-asihnya, beliau saw beristiqomah membimbing umatnya
yang keliru kepada jalan yang lurus. Disamping itu, ketegasan pun beliau saw
tampakkan sehingga kebenaran yang hakiki tidak bercampur dengan kebatilan.
Beliau saw juga tidak melazimkan hal-hal diluar syariat yang akan menimbulkan
kecintaan dari umat yang dengan itu beliau saw akan memperoleh dukungan yang
besar.
Allah Taala berfirman,
Artinya, Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang
diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. (QS.
al-Hijr, 15:94)
Tujuan dakwah Rasulullah adalah mengembalikan sifat penghambaan manusia
kepada Rabb-nya semata dan menerapkan hukum yang berlaku di bumi kepada
Sang Pembuat hukum Yang sebenarnya, yaitu Allah azza wa jalla. Perkara ini
merupakan perkara yang amat berat yang akan menimbulkan ujian dan rintangan
berupa penderitaan dan kesakitan, baik jiwa dan fisik.
Melihat kenyataan ini, lalu beranikah kita menuduh Rasulullah tidak mengenal
metode dakwah? Ataukah kita menyatakan bahwa dakwah beliau saw menyalahi
taktik strategi bagi keamanan dan keselamatannya? Atau bagaimana pula dengan
anggapan bahwa dakwah semacam ini seperti membenturkan kepala ke tembok?
Yang patut selalu dipahami adalah bahwa Rasulullah adalah sosok tauladan yang
sempurna di segala aspek kehidupan, termasuk dalam metode dakwah. Hal inilah
yang patut dijadikan contoh oleh para duat. Oleh sebab itu, perkataan sebagian
umat Islam dewasa ini bahwa situasi umat telah berubah, dahulu umat baru sedikit
jumlahnya, sedangkan kini umat Islam merupakan mayoritas sehingga cara yang
harus diambil adalah dengan bersaing bahkan dengan bergabung dengan penguasa
melalui parlemen. Dalilpun diangkat sebagai pemulus hajat, yaitu hadits yang
diriwayatkan Imam Bukhari bahwa Rasulullah pernah bersabda tentang para nabi
keturunan bani Israil yang diutus sebagai para pemimpin politik (siyasah).
Pertanyaan mengenai perkara ini adalah pernahkah Rasulullah dan para sahabatnya
duduk berdampingan dalam parlemen Daarun Nadwah, lalu berbincang masalah
kenegaraan dengan orang kafir dan musyrik? Adakah Rasulullah dan para
sahabatnya masuk ke dalam pemerintahan Abu Jahal dan konco-konconya lalu
membentuk partai Islam sebagai partai oposisi menentang pemerintahan yang
sedang berkuasa? Secara historis kita bisa mempelajari hal ini.

Dahulu, tatkala kaum musyrikin sudah tidak lagi berdaya menghentikan dakwah
Rasulullah melalui cara-cara kekerasan, penekanan, ancaman, serta percobaan
pembunuhanmereka lalu menempuh cara berkompromi dengan berbagai bentuk
diplomasi agar Rasulullah bersikap lembut dan toleran kepada mereka. Banyak para
ahli diplomasi diutus kepada beliau saw untuk melunakkan prinsip dan pendirian
beliau saw. Allah Taala lalu mewahyukan ayat berikut kepada Rasulullah,
Artinya, Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat
Allah), maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka
bersikap lunak (pula kepadamu). (QS. al-Qolam, 68:8-9)
Lalu ketika negosiasi telah gencar-gencarnya ditujukan kepada Rasulullah oleh
pihak musyrikin melalui tekanan fisik dan juga mental, dan ketika Rasulullah hampir
cenderung kepada konsep dan ajakan mereka, Allah Taala kembali mengingatkan,
Artinya, Dan sesungguhnya mereka hampir-hampir memalingkan kamu dari apa
yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara dusta
terhadap Kami, dan kalau sudah demikian tentulah mereka mengambil kamu
sebagai sahabat setia. Dan sekiranya Kami tidak memperkuat kamu, niscaya kamu
condong sedikit kepada mereka. Kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan
timpakan kepadamu (siksaan) berlipat-ganda di dunia, dan (begitu pula berlipatganda) sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapatkan seorang penolongpun
terhadap Kami. (QS. al-Isra, 17:73-75)
Allah Taala mengingatkan bahwa masalah tauhid dan syariat tidak bisa disamakan
dengan masalah perdagangan yang diperbolehkan terjadinya tawar-menawar guna
menemukan titik-pertemuan yang sama-sama menyenangkan bagi kedua-belah
pihak. Masalah akidah merupakan masalah tersendiri yang tidak memerlukan
campuran-campuran baru dari makhluk. Akidah juga merupakan satu hakekat yang
mempunyai bagian-bagian yang terpadu yang tidak dapat ditinggalkan sedikitpun
oleh pejuang-pejuangnya. Jurang yang memisahkan antara kebenaran yang hakiki
dengan kebatilan adalah tidak mungkin dibuatkan perlintasan padanya. Ia
merupakan pertarungan yang mutlak dan tidak mungkin dicari perdamaian atasnya.
3. Tidak menambah dan mengurangi satu huruf pun dari materi dakwah
Orang-orang kafir semasa Rasulullah senantiasa mencari jalan untuk
menyelewengkan Rasulullah dari sifat dan karakter dakwahnya yang benar dan
tegas. Mereka menginginkan agar Rasulullah mengikuti kehendak hawa-nafsu
mereka dengan mengemukakan segala janji dan tipu-muslihat agar beliau saw
meninggalkan prinsip dan bergeser dari jalan yang telah ditetapkan-Nya. Dalam alQuran, sifat keengganan mereka mengikuti al-Quran dan sikap mereka yang
berupaya agar Rasulullah mengganti petunjuk yang haq dengan yang mereka
kehendaki yaitu pada firman-Nya,
Artinya, Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orangorang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata, Datangkanlah
al-Quran yang lain dari ini atau gantilah dia. Katakanlah, Tidaklah patut bagiku
menggantinya dari sisiku sendiri. Aku tidak mengikuti kecuali yang diwahyukan

kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari
yang besar (kiamat). (QS. Yunus, 10:15)
Inilah dalil Rabbani, memperingatkan nabi-Nya agar tidak merekayasa sistem
dakwah dan perjuangan mengikuti konsep orang kafir yaitu memperjuangkan Islam
melalui cara kompromi atau sistem demokrasi. Sekiranya Rasulullah cenderung dan
setuju untuk berkompromi sebagaimana yang ditawarkan musyrikin Mekkah kala
itu, yaitu sesekali mengikuti peribadahan mereka, sehingga mereka pun akan
bergantian mengikuti peribadahan Rasulullah, atau dengan menyetujui usulan
mereka dalam mencampur-adukkan antara sistem Rabbani dengan sistem jahiliyah,
niscaya Allah Taala akan memvonis beliau saw sebagai orang yang berdusta lagi
berkhianat terhadap wahyu-Nya. Berikut firman-Nya,
Artinya, Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.
Dan jika kamu tidak kerjakan (apa yang diperintah itu) kamu tidak menyampaikan
amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS. al-Maidah,
5:67)
Allah Taala amat pengasih lagi penyayang kepada para nabi dan rasul-Nya
sehingga Dia membimbing dan senantiasa memperkuat hati para hamba pilihanNya tersebut dari kecenderungan untuk berkompromi kepada jalannya orang-orang
yang sesat. Sejak hijrah ke Madinah hingga di akhir kehidupan beliau saw, tidak ada
waktu yang terlewatkan melainkan untuk berdakwah menebarkan yang haq dan
berjihad qital dalam rangka membela dien Islam dari serangan kaum yang
memusuhi dien-Nya. Tidak ditemui pada diri beliau saw, meskipun dalam keadaan
lemah, untuk bekerja-sama dengan kafir musyrik dalam memperjuangkan dienullah.
Allah Taala telah memperingatkan,
Artinya, Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi teman
kepercayaanmu, orang-orang yang diluar kalanganmu karena mereka tak hentihentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang
menyusahkan kamu, telah nyata kebencian di mulut mereka dan apa yang
disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh Kami telah menerangkan
ayat-ayat (Kami) jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai
mereka padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitabkitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata, Kami
beriman. Dan apabila mereka menyendiri mereka menggigit ujung jari lantaran
marah dan bercampur benci kepadamu. Katakanlah, Matilah kamu dengan
kemarahanmu itu, sesungguhnya Allah Maha memahami segala isi hati. (QS. Ali
Imron, 3:118-119)
Apabila manusia sekarang ini dan juga yang akan datang tidak mau memahami dan
mengambil pelajaran dari perkara penting ini, maka saksikanlah apa yang sudah
dan yang akan terjadi akibat mendurhakai Allah Taala dan Rasul-Nya. Dan
manakala umat Islam belum bersedia merubah sistem perjuangan parlementer
kepada sistem yang yang telah digariskan al-Quran, yaitu metode iman, hijrah,
idad, jihad, dan qital, maka yakinlah perjuangan itu tidak akan pernah sampai
kepada cita-cita yang dituju.

Pengalaman di Indonesia misalnya, di zaman rezim Soekarno berkuasa pada pemilu


tahun 1955, partai Islam Masyumi berhasil mengungguli perolehan suara partai
nasionalis. Oleh karena itu tokoh-tokohnya berhak menduduki jabatan sebagai
perdana menteri dan jabatan penting lainnya di pemerintahan, seperti M. Natsir,
Syafruddin Prawiranegara, Dr. Soekiman, dan Burhanuddin Harahap. Akan tetapi
kejayaan itu tidak berlangsung lama dan sejarah menjadi saksi bahwa bukan saja
partai Masyumi dibubarkan oleh diktator Soekarno, bahkan mereka ditangkap dan
dipenjarakan tanpa diadili. Sementara harapan mereka untuk membangun
masyarakat Islam dengan berlakunya syariat Islam, belum terwujud di Indonesia,
baik di kala mereka masih memerintah apatah lagi setelah mereka dipenjarakan.
Di Mesir tahun 1945, Imam Hasan al-Bana tampil sebagai calon tunggal melawan
Dr. Sulaiman Ed di daerah Ismailiyah kawasan Terusan Suez. Menurut prediksi
politik, perolehan suara akan dimenangkan oleh Imam Hasan al-Bana, Mursyidul
Am Ikhwanul Muslimin. Akan tetapi setelah pengumuman hasil pemilu ternyata
kemenangan berada di pihak Dr. Sulaiman Ed. Tatkala jamaah ikhwan mengadakan
protes terhadap pemalsuan kartu suara, tiba-tiba mobil-mobil tank angkatan
bersenjata milik Inggris keluar menerjang perhimpunan tersebut dengan
melepaskan tembakan-tembakan ke arah jamaah Ikhwanul Muslimin.
Dua hal tersebut adalah sedikit contoh bentuk kehinaan yang diterima umat Islam
akibat meninggalkan sunnah, kecenderungan bekerja-sama dengan cara-cara yang
tidak diridhai-Nya, serta keengganan mempersiapkan kekuatan fisik untuk berjihad
secara qital melawan musuh yang memerangi dien-Nya.
Camkanlah seruan Allah Taala,
Artinya, Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya,
dan janganlah kamu berpaling dari-Nya padahal kamu mendengar (perintahperintah-Nya) dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (yang munafik)
yang berkata, Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan (karena
hati mereka mengingkarinya). (QS. al-Anfal, 8:20-21)
Semoga bermanfaat wallahu alam bishowwab.

Dakwah kepada sesama muslim.

1. Mengembangkan Tabayyun (Cross-Check)


Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu
berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah
kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu
menyesal atas perbuatanmu itu. (Qs. al-Hujurt [49]: 6).

Jauhilah oleh kamu sekalian prasangka, sebab prasangka itu adalah sedusta-

dustanya pembicaraan. [HR. Bukhari dan Muslim].


2. Mendamaikan Saudara Yang Berseteru
Sesungguhnya orang-orang mumin adalah bersaudara karena itu damaikanlah
antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat
rahmat. (Qs. al-Hujurt [49]: 10).
3. Tidak Mengolok-olok Sesama Muslim
Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang
lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang
mengolok-olok) dan jangan pula wanitawanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain
(karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita
(yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah
kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan
ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat,
maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (Qs. al-Hujurt [49]: 11).
4. Tidak Berburuk Sangka, Mencari-Cari Kesalahan, Menggunjing (Ghibah)
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka,
sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencaricari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian
yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya
yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah
kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
(Qs. al-Hujurt [49]: 12).
dan janganlah kamu sekalian memata-matai dan mencari-cari kesalahan orang
lain, janganlah kamu saling berbantah-bantahan, saling hasud, saling benci dan
saling belakang membelakangi. [HR. Muslim].
Dalam riwayat lain dituturkan, bahwa Muawiyah ra berkata, Saya mendengar
Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya, bila kamu selalu mencari-cari aib-aib
kaum muslim, maka berarti kamu menghancurkannya atau nyaris
menghancurkannya. [HR. Abu Dawud].
Ibnu Masud ra menceritakan, bahwa ada seseorang yang dihadapkan kepadanya,
kemudian dikatakan bahwa si fulan itu jenggotnya meneteskan minuman keras,
kemudian Ibnu Masud berkata: Sesungguhnya kami telah dilarang untuk mencaricari kesalahan, tetapi kalau kami benar-benar mengetahui adanya sesuatu
penyelewengan, maka kami pasti akan menghukumnya. [HR. Abu Dawud].
Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan ghibah? Rasulullah Saw menjawab,
Kamu menyebut sesuatu dari kawanmu yang ia sangat benci jika dikatakan.
Bagaimana seandainya saya menceritakan apa yang memang terjadi pada
saudaraku. Rasulullah Saw menjawab, Jika engkau menceritakan apa yang terjadi
pada saudaramu, berarti kamu telah menggunjingnya; dan apabila engkau

menceritakan apa yang sebenarnya tidak terjadi pada saudaramu, maka engkau
telah membohongkannya. [HR. Abu Dawud].
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Musa ra,
bahwasanya ia pernah bertanya kepada Rasulullah Saw: Ya Rasulullah,
siapakah yang paling utama diantara kaum muslim? Beliau menjawab, Orang
yang kaum muslim lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya. [HR.
Bukhari dan Muslim].
5. Menjaga Lisan Dan Hati
Dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw bahwa beliau Saw bersabda: Barangsiapa
yangberiman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia selalu berkata baik atau
diam. [HR. Bukhari dan Muslim].
Dalamriwayat lain dituturkan, bahwa Rasulullah Saw berkata: Janganlah kamu
sekalian banyak bicara, kecuali untuk dzikir kepada Allah. Sebab, banyak bicara
pada selain dzikir kepada Allah akan menyebabkan kerasnya hati, dan orang
yangpaling jauh dari sisi Allah SWT adalah orang yang keras hatinya. [HR. atTirmidzi].
Dari Uqbah bin Amir ra dikisahkan, bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah
Saw: Wahai Rasulullah, apakah yang dapat menyelamatkan?Rasulullah Saw
menjawab, Kekanglah lidahmu, tetaplah dalam rumahmu, dan tangisilah dosamu.
[HR. at-Tirmidzi].
Dari Said al-Khudri ra dari Nabi Saw diriwayatkan bahwasanya Rasulullah saw
bersabda: Apabila datang waktu pagi,maka semua anggota badan manusia
mengingatkan kepada lidahnya. Anggota-anggota badan itu berkata,
Takutlahkepada Alklah dalam memelihara keselamatan kami, karena nasib kami
tergantung kepadamu, bila kamu lurus, kami pun lurus, dan bila kamu
menyeleweng, kami pun menyeleweng.[HR. at-Tirmidzi].
Dalam sebuah riwayat yang iketengahkan oleh Imam at-Tirmidzi dijelaskan bahwa
kunci untuk meraih keluhuran jiwa adalah menjaga lisan. Muadz ra berkata, Saya
bertanya kepada Rasulullah, Wahai Rasulullah beritahukan kepada saya amal
perbuatan yang dapatmemasukkan saya ke dalam sorga dan menjauhkan dari
neraka? Beliau bersabda: Kamu benar-benar menanyakansesuatu yang sangat
besar. Sesungguhnya hal itu sangat mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah
SWT, yaitu:
Hendaklah kamu menyembah kepada Allah dengan tidak menyekutukanNya dengan
sesuatuapapun, mendirikansholat, membayar zakat, puasa di bulan Ramadlan, dan
berhaji ke Baitullah bila kamu mampu menempuh perjalanannya. Selanjutnya,
beliau bersabda, Maukah engkau aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan? Puasa itu
adalahperisai, shadaqah dapat menghilangkan dosa seperti halnya air
memadamkan api, dan sholat seseorang pada tengahmalam. Beliau lantas
membaca ayat yang artinya, Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang
mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, serta mereka
menafkahkan sebagian rizki yang telah Kamiberikan kepada mereka. Seorang pun

tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu bermacam-macam


nikmat yang menyenangkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang
telah mereka kerjakan. Lalu, beliau bertanya kembali, Maukah engkau aku
tunjukkan pokok dan tiang dari segala sesuatu dan puncak keluhuran?
Sayaberkata, Baiklah ya Rasulullah. Rasulullah Saw berkata, Pokok segala
sesuatu adalah Islam, tiangnya adalah sholat, dan puncak keluhurannya adalah
berjuang di jalan Allah. Kemudian beliau bersabda, Maukah kamu aku
tunjukkantentang kunci dari kesemuanya itu? Saya menjawab, Tentu ya
Rasulullah. Beliau lantas memegang lidahnya seraya berkata, Peliharalah ini.
Saya berkata, Ya Rasulullah, apakah kami akan dituntut atas apa yang kami
katakan? Beliaubersabda Celaka kamu, bukankah wajah manusia tersungkur ke
dalam neraka, tidak lain karena akibat lidah mereka? [HR. at-Tirmidzi].
[Syamsuddin Ramadhan]