Anda di halaman 1dari 37

MAKALAH MIKOLOGI

Superficialis mikosis

Disusun oleh :

Politeknik Kesehatan Tanjungkarang


D-IV Analis Kesehatan
2015
1

KATA PENGANTAR

Bismillahi Rahmani Rahim


Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya
sehingga makalah dengan judul Superfisialis Mikosis dapat di selesaikan tepat waktu.
Pada penulisan makalah ini, kami telah berusaha semaksimal mungkin namun mengingat
kodrat manusia sebagai manusia biasa tidak menutup kemungkinan adanya kekurangankekurangan yang membutuhkan koreksi dan penyempurnaan dari berbagai pihak.
Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Saran dan kritik
sangat kami harapkan demi perbaikan dalam pembuatan makalah,baik yang sekarang maupun
yang akan datang.

PENYUSUN

DAFTAR ISI
COVER.....1
KATA PENGANTAR..2

BAB I PENDAHULUAN.....4
A. LATAR BELAKANG......4
B. RUMUSAN MASALAH......5
C. TUJUAN MAKALAH......5
BAB II PEMBAHASAN......6
A. Dermatofita ......6-10
1. Tinea kapitis...10-12
2. Tinea favosa................................................................................................12-13
3. Tinea korporis................13-14
4. Tinea kruris......................................................................................................14-15
5. Tinea pedis dan manuum.................................................................................15-17
6. Tinea unguium.................................................................................................17-18
7. Tinea barbae....................................................................................................18-19
8. Tinea imbrikata.............................................................................................19
B. Non-dermatofita.................................................................................................21
1. Tinea versikolor...............................................................................................21-25
2. Piedra ..............................................................................................................25-27
3. Otomikosis.......................................................................................................27-29
4. Tinea nigra.......................................................................................................29-30
BAB III PENUTUP.....................31
KESIMPULAN............31
DAFTAR PUSTAKA..32

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari kebersihan merupakan hal yang sangat penting dan
harus diperhatikan karena kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan psikis
seseorang. Kebersihan kulit merupakan mekanisme utama untuk mengurangi kontak dan
transmisi terjadinya infeksi, salah satunya infeksi jamur (Larson E, 2001).
Infeksi jamur kulit cukup banyak ditemukan di Indonesia, yang merupakan negara
tropis beriklim panas dan lembab, apalagi bila higiene juga kurang sempurna (Madani A,
2000).
3

Mikosis adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur. Penyakit jamur atau
mikosis yang mempunyai insidensi cukup tinggi ialah mikosis superfisialis. Penyakit
yang termasuk mikosis superfisialis adalah dermatofitosis dan nondermatofitosis, yang
terdiri atas berbagai penyakit diantaranya Pityriasis versicolor (PV), yang lebih dikenal
sebagai penyakit panu (Budimulja, 2002). Dermatofit berkembang pada suhu 2528"C,dan timbulnya infeksi pada kulit manusia didukung oleh kondisi yang panas
dan lembab. Dermatofit tersebar di seluruh dunia dan menjadi masalah terutama di
Negara berkembang. Mikosis superfisial mengenai

lebih

dari

20%

hingga 25%

populasi sehingga menjadi bentuk infeksi yang tersering.Di berbagai negara saat ini
terjadi peningkatan bermakna dermatofitosis. Tinea kruris, Tinea pedis dan tinea yang
terbanyak ditemukan. Di Indonesia, dermatofitosis merupakan 52% dari seluruh
dermatomikosis

dan tinea

kruris dan tinea

korporis

merupakan dermatomikosis

terbanyak.
Infeksi non-dermatofitosis pada kulit biasanya terjadi pada kulit yang paling luar.
Hal ini disebabkan jenis jamur ini tidak dapat mengeluarkan zat yang dapat mencerna
keratin kulit dan tetap hanya menyerang lapisan kulit yang paling luar.
Penyakit ini dikenal untuk pertama kali sebagai penyakit jamur pada tahun 1846
oleh Eichsted. Robin pada tahun 1853 memberi jamur penyebab penyakit ini dengan
nama Microsporum furfurdan kemudian pada tahun 1889 oleh Baillon diberi nama
Malassezia furfur.(Partogi, 2008)
B. Rumusan Masalah :
1. Apa yang dimaksud dengan mikosis superfisisalis?
2. Bagaimana klasifikasi dari mikosis superfisialis?
3. jamur apa saja yang menyebabkan mikosis superfisialis?
4. Bagaimana gejala klinis,diagnosis,dan pengobatannya?
C. Tujuan Penulisan :
1. Mampu memahami pengertian tentang mikosis superfisialis
2. Mengetahui klasifikasi dari mikosis superfisialis
3. Mengetahui spesies jamur yang menyebabkan mikosis siuperfisialis
4. Mengetahui gejala klinis,diagnosis,dan pengobatan dari mikosis superfisialis

Hematology (ICSH) menganjurkan pemeriksaan hemoganmethehemoglobin. Cara ini


mudah dilakuka

BAB II
PEMBAHASAN

Mikosis superficial adalah penyakit jamur yang menginfeksi lapisan permukaan


kulit,yaitu stratum korneum,rambut dan kuku. Ada dua golongan jamur yang menyebabkan
mikosis superfisialis yaitu Dermatofita dan Non Dermatofita.
A. DERMATOFITA
Dermatofitosis ialah mikosis superfisialis pada jaringan yang mengandung zat
tanduk(keratin) ,yakni kuku,rambut dan stratum pada kulit yang disebabkan oleh
golongan jamur dermatofita.
Dermatofitosis telah dikenal sejak jaman yunani kuno. Orang yunani
menamakannya herpes oleh karena bentuk kelainan merupakan lingkaran yang makin
lama makin besar(ring).Orang romawi menghubungkan kelainan ini dengan larva cacing,

dan menamakannya tinea. Perpaduan antara herpes dengan tinea dalam bahasa inggris
melahirkan istilah ring worm.
ETIOLOGI
Dermatofitosis merupakan kelompok jamur yang memiliki kemampuan untuk
melekat

pada keratin

dan menggunakannya

sebagai sumber

nutrisi yang

memungkinkan jamur tersebut untuk berkoloni pada jaringan yang mengandung


keratin,

seperti stratum

komeum

epidermis, rambut dan

kuku. Dermatofitosis

disebabkan jamur golongan dermatofita yang terdiri dari tiga genus yaitu genus:
Mikrosporon,

Trikofiton

dan

Epidermofiton.

Enam

spesies

penyebab

utama

dermatofitosis di Indonesia ialah Trichophyton rubrum, Trichophytton mentagrophytes,


Microsporum canis, Microsporum gypseum,Trichophyton concentricum, Epidermophyton
floccosum.
Dermatofita berdasarkan habitatnya:

Zoofilik merupakan kelompok spesies dermatofita yang menular ke manusia


melalui hewan. Kucing, anjing, kelinci, babi, unggas, kuda, binatang ternak, dan
binatang lainnya merupakan sumber infeksi pada umumnya. Penularan dapat
terjadi melalui kontak langsung dengan hewan tersebut atau secara tidak langsung
melalui rambut hewan terinfeksi. Area terbuka seperti kulit kepala, janggut,
wajah, dan lengan menjadi tempat infeksi tersering.. Misalnya : Microsporum

canis dan Trikofiton verukosum.


Geofilik merupakan fungi yang menyebabkan infeksi saat manusia kontak

langsung dengan tanah misalnya Mikrosporon gypseum.


Antropofilik merupakan kelompok spesies dermatofita yang hanya berkembang
pada host manusia dan transmisi secara kontak langsung. Kulit yang terinfeksi
atau rambut pada pakaian, topi, sisir, kaus kaki, dan handuk juga dapat menjadi
sumber reservoir. misalnya Mikrosporon audoinii dan Trikofiton rubrum.

TAKSONOMI
Phylum

: Ascomycota

Class

: Eurotiomycetes
6

Order

: Onygenales

Family

: Arthrodermataceae

Genus

: Trichophyton

Species

:Trichophyton rubrum,Trichophyton mentagrophytes,Trichophyton

Kingdom

: Fungi

Phylum

: Ascomycota

Class

: Eurotiomycetes

Ordo

: Onygenales

Family

: Arthrodermataceae

Genus

: Microsporum

Spesies

: Microsporum gypseum,Microsporum canis

Kingdom

:Fungi

Phylum

:Ascomycota

Class

:Euascomycetes

Order

:Onygenales

Family

:Arthrodermataceae

Genus

:Epidermophyton

Spesies

: Epidermophyton floocosum

MORFOLOGI

E.flocossum:
Mempunyai makrokonidia berbentuk tongkat/gada, berdiniding tebal dan terdiri
atas 2-4 sel dan tersusun pada satu konidiofora.beberapa makrokonidia ini
tersusun pada satu konidiofor mempunyai bentuk hifa yang lebarnya biasanya
mikrokonidia tidak ditemukan. Pada gambaran mikroskopis bentuk hifa lebar,dan
tersusun pada satu konidiofora.
Memiliki dinding halus sekitar 1-1,5 mikrometer dengan kurang dari 10 dinding

bagian dalam macroconidia tersebut.


Trichophyton :
Pada umumnya genus trikopiton membentuk makrokonidia berbentuk panjang
menyerupai pensil dan semua dermatofita dapat membentuk hifa spiral.
7

Hifa T. rubrum halus. Jamur ini membentuk banyak mikrokonidia. Mikrokonidia


kecil,berdinding tipis dan berbentuk lonjong. Mikrokonidia ini terletak pada
konidiosfor yang pendek, dan tersusun secara satu per satu pada sisi hifa(en tyrse)
atau berkelompok (en grappe). Makrokonidia berbentuk pensil dan terdiri dari
beberapa sel. Mikrokonidia T.megantrophytes berbentuk bulat dan membentuk

banyak hifa spiral. Makrokonidia T.megantrophytes ini juga seperti pensil.


M.canis mempunyai makrokonidia berbentuk lonjong dan tidak khas. Berbentuk
kumparan yang berujung runcing dan terdiri atas 6 sel atau lebih. Makrokonidia
ini berdinding tebal. Makrokonidia M.gypseum juga berbentuk kumparan terdiri
atas 4-6 sel,dan dindingnya lebih tipis. Makrokonidia M.gypseum berbentuk
lonjong dan tidak khas.

PEMBAGIAN / LOKASI JAMUR


Secara etiologis dermatofitosis disebabkan oleh tiga genus dan penyakit yang
ditimbulkan sesuai dengan penyebabnya. Diagnosis etiologi ini sangat sukar oleh
karena harus menunggu hasil biakan jamur dan ini memerlukan waktu yang agak
lama dan tidak praktis. Disamping itu sering satu gambaran klinik dapat disebabkan
oleh beberapa jenis spesies jamur, dan kadang-kadang satu gambaran klinis dapat
disebabkan oleh beberapa spesies dematofita sesuai dengan lokalisasi tubuh yang
diserang.
Istilah Tinea dipakai untuk semua infeksi oleh dermatofita dengan dibubuhi tempat
bagian tubuh yang terkena infeksi, sehingga diperoleh pembagian dermatofitosis
sebagai berikut :
1. Tinea kapitis: bila menyerang kulit kepala clan rambut
2. Tinea korporis: bila menyerang kulit tubuh yang berambut (globrous skin).
3. Tinea kruris: bila menyerang kulit lipat paha, perineum, sekitar anus dapat
meluas sampai ke daerah gluteus, perot bagian bawah dan
ketiak atau aksila
4. Tinea manus dan tinea pedis :
Bila menyerang daerah kaki dan tangan, terutama telapak
tangan dan kaki serta sela-selajari.
8

5. Tinea Unguium : bila menyerang kuku


6. Tinea Barbae : bila menyerang daerah dagu, jenggot, jambang dan kumis.
7. Tinea Imbrikata: bila menyerang seluruh tubuh dengan memberi gambaran
klinik yang khas.
CARA PENULARAN DERMATOFITA
Cara penularan jamur dapat secara langsung dan secara tidak langsung. Penularan
langsung dapat secara fomitis, epitel, rambut-rambut yang mengandung jamur baik
dari manusia, binatang atau dari tanah. Penularan tak langsung dapat melalui
tanaman, kayu yang dihinggapi jamur, barang-barang atau pakaian, debu atau air.
Disamping cara penularan tersebut diatas, untuk timbulnya kelainan-kelainan di kulit
tergantung dari beberapa faktor :
1. Faktor virulensi dari dermatofita
Virulensi ini tergantung pada afinitas jamur itu, apakah jamur Antropofilik, Zoofilik
atau Geofilik. Selain afinitas ini masing-masing jenis jamur ini berbeda pula satu
dengan yang lain dalam afinitas terhadap manusia maupun bagian-bagian dari
tubuh Misalnya : Trikofiton rubrum jarang menyerang rambut, Epidermatofiton
flokosum paling sering menyerang lipat pada bagian dalam.
2. Faktor trauma
Kulit yang utuh tanpa lesi-lesi kecil, lebih susah untuk terserang jamur.
3. Faktor-suhu dan kelembaban
Kedua faktor ini sangat jelas berpengaruh terhadap infeksi jamur, tampak pada
lokalisasi atau lokal, di mana banyak keringat seperti lipat paha dan sela-sela jari
paling sering terserang penyakit jamur ini.
4. Keadaan sosial serta kurangnya kebersihan
Faktor ini memegang peranan penting pada infeksi jamur di mana terlihat insiden
penyakit jamur pada golongan sosial dan ekonomi yang lebih rendah, penyakit ini
lebih sering ditemukan dibanding golongan sosial dan ekonomi yang lebih baik.
5. Faktor umur dan jenis kelamin
Penyakit Tinea kapitis lebih sering ditemukan pada anak-anak dibandingkan orang
dewasa, dan pada wanita lebih sering ditemukan infeksi jamur di sela-sela jari
9

dibanding pria dan hal ini banyak berhubungan dengan pekerjaan. Di samping
faktor-faktor tadi masih ada faktor-faktor lain seperti faktor perlindungan tubuh
(topi, sepatu dan sebagainya) , faktor transpirasi serta pemakaian pakaian yang
serba nilan, dapat mempermudah penyakit jamur ini.
GEJALA -GEJALA KLINIK UMUM
Umumnya dermatofitosis pada kulit memberikan morfologi yang khas yaitu bercakbercak yang berbatas tegas disertai efloresensi-efloresensi yang lain, sehingga
memberikan kelainan-kelainan yang polimorf, dengan bagian tepi yang aktif serta
berbatas tegas sedang bagian tengah tampak tenang. Gejala objektif ini selalu disertai
dengan perasaan gatal, bila kulit yang gatal ini digaruk maka papel-papel atau vesikelvesikel akan pecah sehingga menimbulkan daerah yang erosit dan bila mengering jadi
krusta dan skuama. Kadang-kadang bentuknya menyerupai dermatitis (ekzema
marginatum), tetapi kadang-kadang hanya berupa makula yang berpigmentasi saja (Tinea
korporis)dan

bila

ada

infeksi

sekunder

menyerupai

gejala-gejala

pioderma

(impetigenisasi).

1. Tinea kapitis (Scalp ring worm ;Tinea Tonsurans)


Tinea kapitis adalah infeksi dermatofita pada kulit kepala,alis mata, bulu mata. Biasanya
penyakit ini banyak menyerang anak-anak dan sering ditularkan melalui binatangbinatang peliharaan seperti kucing, anjing dan sebagainya.
Distribusi geografik
Penyakit terdapat baik di daerah tropic maupun didaerah subtropik,juga ditemukan di
Indonesia.
Penyebab;
Penyebab utamanya ialah spesies dari genus Microsporum dan Trichophyton. Penyakit
terdapat baik didaerah tropis maupun subtropics,juga ditemukan diindonesia.

10

gambar tinea kapitis pada kepala.

Patologi dan gejala klinis


Kelainan ini mengenai kulit dan rambut dan lebih banyak terdapat pada anak. Kelainan
yang terjadi mungkin berat atau ringan tergantung penyebab.

Berdasarkan bentuk yang khas Tinea Kapitis dibagi dalam 3 bentuk :


a. Gray pacth ring worm
Penyakit ini dimulai dengan papel merah kecil yang melebar ke sekitarnya dan
membentuk bercak yang berwarna pucat dan bersisik. Warna rambut jadi abu-abu dan
tidak mengkilat lagi, serta mudah patah dan terlepas dari akarnya, sehingga menimbulkan
alopesia setempat. Dengan pemeriksaan sinar wood tampak flourisensi kekuningkuningan pada rambut yang sakit melalui batas "Grey pacth" tersebut. Jenis ini biasanya
disebabkan spesies mikrosporon dan trikofiton.
b. Black dot ring worm
Terutama disebabkan oleh Trikofiton Tonsurans, T. violaseum, mentagrofites. infeksi
jamur terjadi di dalam rambut (endotrik) atau luar rambut (ektotrik) yang menyebabkan
rambut putus tepat pada permukaan kulit kepala. Ujung rambut tampak sebagai titik-titik
hitam diatas permukaan kulit, yang berwarna kelabu sehingga tarnpak sebagai gambaran
back dot". Biasanya bentuk ini terdapat pada orang dewasa dan lebih sering pada
wanita. Rambut sekitar lesi juga jadi tidak bercahaya lagi disebabkan kemungkinan sudah
terkena infeksi penyebab utama adalah Tricophyiton tonsusurans dan T.violaseum.
c. Kerion
11

Bentuk ini adalah yang serius, karena disertai dengan radang yang hebat yang bersifat
lokal, sehingga pada kulit kepala tampak bisul-bisul kecil yang berkelompok dan kadangkadang ditutupi sisik-sisik tebal. Rambut di daerah ini putus-putus dan mudah dicabut.
Bila kerion ini pecah akan meninggalkan suatu daerah yang botak permanen oleh karena
terjadi sikatrik. Bentuk ini terutama disebabkan oleh Mikosporon kanis, M.gipseum ,
T.tonsurans dan T. Violaseum.
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis pemeriksaan dengan lampu wood dan
pemeriksaan mikroskopik rambut langsung dengan KOH Pada pemeriksaan mikroskopik
akan terlihat spora di luar rambut atau di dalam rambut.

Diagnose laboratorium
Infeksi pada rambut di tandai dengan kerusakan yang ditemukan pada pemeriksaan. Lesi
dapat dilepaskan pada forcep tanpa disertai dengan trauma atau dikumpulkan dengan
potongan-potongan halus dengan ayakan halus atau sikat gigi.
Sampel rambut terpilih di kultur atau di lembutkan dengan KOK 10-20 % sebelum
pemeriksaan di bawah mikroskop. Pemeriksaan dengan preparat KOH selalu
menghasilkan diagnose yang tepat adanya infeksi tinea.
Pada pemeriksaan lampu wood didapatkan infeksi rambut oleh M.canis, M.ferugineum
akan memberikan fluoresensi cahaya hijau terang hingga kuning kehijauan. Infeksi
rambut oleh T.schoeiileinii akan terlihat warna hijau pudar atau biru keputihan dan hifa
didapatkan di dalam batang rambut.
Pengobatan
Pada masa sekarang dermatofitosis pada umunya dapat diatasi dengan pemberian
griseofulfin yang bersifat fungistatik. Namun pengobatan harus berlangsung cukup lama
karena waktu yang dibutuhkan griseofulfin untuk menghasilkan lapisan kreatinin yang
resisten sekitar 4-6 minggu.
12

Beberapa antimikotik terbaru termasuk itraconazole terbinafine dan fluconazole telah


dilaporkan sebagai obat yang efektif dan aman . pengobata yang efektif dan aman untuk
tinea kapitis dengan infeksi endotriks digunakan itraconazole, terbinafine, tablet
fluconazole.
Pencegahan
Rajin mencuci rambut dengan shampoo untuk menjaga kebersihan kulit kepala. Apabila
mempunyai binatang peliharaan jagalah kebersihan nya dengan memandikan nya secara
teratur.

2. Tinea favosa
Distribusi geografik
Penyakit terdapat terutama di Polandia, Rusia, Mesir, Balkan dan negeri-negeri sekitar
laut tengah. Jarang ditemukan di Indonesia.

Tinea favosa adalah infeksi jamur kronis terutama oleh Trichophyton dan Microsporum.
Gejala klinik
Penyakit ini mirip tinea kapitis ditandai kelainan di kepala dimulai dengan bintik-bintik
kecil di bawah kulit yang berwarna merah kekuningan dan berkembang menjadi krusta
yang berbentuk cawan (skutula), serta memberi bau busuk seperti bau tikus "moussy
odor". Rambut di atas skutula putus-putus dan mudah lepas dan tidak mengkilat lagi. Bila
menyembuh akan meninggalkan jaringan parut dan alopesia yang permanen.
Penyebab utamanya adalah Trikofiton schoenleini, T. violasum dan T. gipsum.
Diagnosis

13

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis pemeriksaan dengan lampu wood dan
pemeriksaan mikroskopik rambut langsung dengan KOH Pada pemeriksaan mikroskopik
akan terlihat spora di luar rambut atau di dalam rambut.
Diagnose laboratorium
Infeksi pada rambut di tandai dengan kerusakan yang ditemukan pada pemeriksaan. Lesi
dapat dilepaskan pada forcep tanpa disertai dengan trauma atau dikumpulkan dengan
potongan-potongan halus dengan ayakan halus atau sikat gigi.
Sampel rambut terpilih di kultur atau di lembutkan dengan KOK 10-20 % sebelum
pemeriksaan di bawah mikroskop. Pemeriksaan dengan preparat KOH selalu
menghasilkan diagnose yang tepat adanya infeksi tinea.
Pada pemeriksaan lampu wood didapatkan infeksi rambut oleh M.canis, M.ferugineum
akan memberikan fluoresensi cahaya hijau terang hingga kuning kehijauan. Infeksi
rambut oleh T.schoeiileinii akan terlihat warna hijau pudar atau biru keputihan dan hifa
didapatkan di dalam batang rambut.
Pengobatan
Pada masa sekarang dermatofitosis pada umunya dapat diatasi dengan pemberian
griseofulfin yang bersifat fungistatik. Namun pengobatan harus berlangsung cukup lama
karena waktu yang dibutuhkan griseofulfin untuk menghasilkan lapisan kreatinin yang
resisten sekitar 4-6 minggu.
Beberapa antimikotik terbaru termasuk itraconazole terbinafine dan fluconazole telah
dilaporkan sebagai obat yang efektif dan aman . pengobata yang efektif dan aman untuk
tinea kapitis dengan infeksi endotriks digunakan itraconazole, terbinafine, tablet
fluconazole.
Pencegahan
Rajin mencuci rambut dengan shampoo untuk menjaga kebersihan kulit kepala. Apabila
mempunyai binatang peliharaan jagalah kebersihan nya dengan memandikan nya secara
teratur.

14

3. Tinea korporis
(Tinea circinata=Tinea glabrosa)
Tinea Korporis adalah suatu penyakit kulit menular yang disebabkan oleh jamur
golongan dermatofita. Penyakit kulit ini mempunyai banyak sekali nama lain, yaitu tinea
sirsinata, tinea glabrosa, scherende flechte, kurap, herpes sircine trichophytique, atau
ringworm of the body.
Distribusi geografik
Penyakit terdapat terutama di daerah tropic, banyak terdapat di Indonesia.

Gambar penderita Tinea korporis

Gejala klinik
Penyakit ini banyak diderita oleh orang-orang yang kurang mengerti kebersihan dan
banyak bekerja ditempat panas, yang banyak berkeringat serta kelembaban kulit yang
lebih tinggi. Predileksi biasanya terdapat dimuka, anggota gerak atas, dada, punggung
dan anggota gerak bawah. Bentuk yang klasik dimulai dengan lesi-lesi yang bulat atau
lonjong dengan tepi yang aktif. Dengan perkembangan ke arah luar maka bercak-bercak
bisa melebar dan akhirnya dapat memberi gambaran yang polisiklis, arsiner, atau sinsiner.
Pada bagian tepi tampak aktif dengan tanda-tanda eritema, adanya papel-papel dan
vesikel, sedangkan pada bagian tengah lesi relatif lebih tenang. Bila tinea korporis ini
menahun tanda-tanda aktif jadi menghilang selanjutnya hanya meningggalkan daerahdaerah yang hiperpigmentasi saja. Kelainan-kelainan ini dapat terjadi bersama-sama
dengan Tinea kruris.
Penyebab utamanya adalah : T.violaseum, T.rubrum, T.metagrofites. Mikrosporon
gipseum, M.kanis, M.audolini. penyakit ini sering menyerupai :
1. Pitiriasis rosea
15

2. Psoriasis vulgaris
3. Morbus hansen tipe tuberkuloid
4. Lues stadium II bentuk makulo-papular.
Diagnosis laboratorium
Diagnosis relative mudah dibuat dengan menemukan jamur dibawah mikroskop pada
kerokan kulit.kerokan kulit dapat dikultur dengan media yang cocok. Pertumbuhan dari
jamur pada media kultur paling sering muncul dalam 1 atau 2 minggu.
Pemeriksaan mikroskop
Sampel untuk diagnostic diperoleh dari kerokan dan usapan lesi kulit. Bagian yang
terinfeksi dibersihkan dengan alcohol 70%. Hasil kerokan kemudian diletakkan pada
objek glass steril selanjutnya ditambahkan 1-2 tetes KOH 10%. Sediaan dibiarkan pada
suhu kamar selama 2-5 menit, dilayangkan beberapa kali diatas api kecil dan dilihat
dibawah mikroskop. Adanya hifa atau konidia menunjukkan infeksi disebabkan oleh
jamur.
Pengobatan
Pengobatan sistemik berupa griseofulvin 500 mg sehari selama 3-4 minggu,itrakazol 100
mg sehari selama 2 minggu, obat topical salep witfield.
Pencegahan
Mengurangi kelembapan dari tubuh pasien dengan menghindari pakaian yang
panas,memperbaiki ventilasi rumah dan menghindari keringat berlebih. Menghindari
sumber penularan yaitu binatang kuda,kucing,anjing, atau kontak pasien lain.
Menghilangkan fokal infeksi ditempat lain.

4. Tinea kruris
(Eczema marginatum."Dhobi itch", "Jockey itch")
Tinea kruris adalah penyakit jamur dermatofita didaerah lipatan paha,genitalia dan
sekitar anus yang dapat menyebar kebagian bokong danperut bagian bawah.
16

Distribusi geografik
Penyakit terdapat baik didaerah tropic maupun didaerah dingin. Banyak ditemukan
diindonesia.

Gejala klinik
Penyakit ini memberikan keluhan perasaan gatal yang menahun, bertambah hebat bila
disertai dengan keluarnya keringat. Kelainan yang timbul dapat bersifat akut atau
menahun. Kelainan yang akut memberikan gambaran yang berupa makula yang
eritematous dengan erosi dan kadang-kadang terjadi ekskoriasis. Pinggir kelainan kulit
tampak tegas dan aktif.
Apabila kelainan menjadi menahun maka floresensi yang nampak hanya makula yang
hiperpigmentasi disertai skuamasi dan likenifikasi. Gambaran yang khas adalah lokalisasi
kelainan, yakni daerah lipat paha sebelah dalam, daerah perineum dan sekitar anus.
Kadang-kadang dapat meluas sampai ke gluteus, perot bagian bawah dan bahkan dapat
sampai ke aksila.
Penyebab utama adalah Epidermophyton floccosum, Tricophyton rubrum dan
T.mentografites.
Pengobatan
Tinea cruris lebih baik diobati secara topikal dengan menggunakan antijamur allylamine
(naftifine dan terbinafine) atau antijamur azole (clotrimazole, econazole, miconazole,
ketokonazole, oxiconazole, dan sulconazole). Allylamine memiliki durasi terapi yang
lebih pendek, tingkat kekambuhan yang lebih rendah dan bekerja independen pada
sistem sitokrom P450. Allylamine tersedia dalam bentuk emulsi-gel, krim, dan semprot.
17

Anti jamur ini diberikan satu kali sehari selama satu minggu (Nadalo dan Montoya,
2006).
Menurut Bahroelim Bahri dan R. Setyabudi (2005), golongan imidazol yang efektif
dalam pengobatan tinea cruris yaitu pada clotrimazol. Mekanisme kerjanya yaitu dengan
menghambat sintesis ergosterol yang mengakibatkan permeabilitas membran sel jamur
meningkat dan menyebabkan terjadinya gangguan sintesis asam nukleat atau penimbunan
peroksida dalam sel jamur yang akan menimbulkan kerusakan sehingga obat dapat
menembus ke dalam lapisan tanduk kulit dan akan menetap di sana selama empat hari.
Clotrimazol tersedia dalam bentuk krim dan larutan dengan kadar 1% untuk dioleskan
selama satu hari sekali. Pada pemakaina topikal dapat terjadi rasa terbakar, eritema,
edema, gatal, dan urtikaria.
Pencegahan
1. Perkembangan infeksi jamur diperberat oleh panas, basah dan maserasi. Jika faktorfaktor lingkungan ini tidak diobati, kemungkinan penyembuhan akan lambat. Daerah
intertrigo atau daerah antara jari-jari dan lipatan sesudah mandi harus dikeringkan dan
diberi bedak pengering atau bedak anti jamur.
2. Pasien dengan hiperhidrosis dianjurkan agar memakai pakaian dari bahan katun yang
menyerap keringat dan jangan memakai pakaian yang ketat.
3. Pakaian dan handuk agar sering diganti dan dicuci bersih-bersih dengan air panas.
Diferensial diagnostik
1. Kandidiasis inguinalis
2. Eritrasma
3. Psoriasis vulgaris
4. Pitiriasis rosea

5. Tinea manus et pedis


Tinea pedis merupakan golongan penyakit jamur dipermukaan yang disebabkan oleh
jamur dermatofita.
Distribusi geografik
18

Penyakit terdapat di daerah tropic maupun daerah lainnya. Banyak terdapat diindonesia.

Gejala klinik
Tinea pedis disebut juga Athlete's foot = "Ring worm of the foot". Penyakit ini sering
menyerang orang-orang dewasa yang banyak bekerja di tempat basah seperti tukang cuci,
pekerja-pekerja di sawah atau orang-orang yang setiap hari harus memakai sepatu yang
tertutup seperti anggota tentara. Keluhan subjektif bervariasi mulai dari tanpa keluhan
sampai rasa gatal yang hebat dan nyeri bila ada infeksi sekunder, infeksi tinea manuum,
umumnya hanya satu tangan yang terkena, diikuti dengan infeksi pada kaki dan kuku
kaki yang biasa disebut sindroma two feet-one hand. Tampilan klasik dari manus
menunjukkan infeksi sekunder pada tangan dikarenakan ekskoriasi dan menyentuh kaki
serta kuku kaki yang 20 sudah terinfeksi terlebih dahulu. Tinea manuum tetap harus
dicurigai pada individu dengan angka kelembapan yang rendah, karena dermatofita
penyebab tinea manuum seringkali tersembunyi pada lipatan tangan. Tinea manuum
memiliki penyebaran melalui kontak langsung dengan manusia atau hewan yang
terinfeksi, tanah, atau autoinokulasi.Umumnya hanya satu tangan yang terkena, diikuti
dengan infeksi pada kaki dan kuku kaki yang biasa disebut sindroma two feet-one
hand.

Tampilan klasik dari manus menunjukkan infeksi sekunder pada tangan

dikarenakan ekskoriasi dan menyentuh kaki serta kuku kaki yang 20 sudah terinfeksi
terlebih dahulu. Tinea manuum tetap harus dicurigai pada individu dengan angka
kelembapan yang rendah, karena dermatofita penyebab

tinea

manuum seringkali

tersembunyi pada lipatan tangan. Tinea manuum memiliki penyebaran melalui kontak
langsung dengan manusia atau hewan yang terinfeksi, tanah, atau autoinokulasi.
Ada 3 bentuk Tinea pedis
I.

Bentuk intertriginosa

keluhan yang tampak berupa maserasi, skuamasi serta erosi, di celah-celah jari
19

terutama jari IV dan jari V. Hal ini terjadi disebabkan kelembaban di celah-ceIah jari
tersebut membuat jamur-jamur hidup lebih subur. Bila menahun dapat terjadi fisura
yang nyeri bila kena sentuh. Bila terjadi infeksi dapat menimbulkan selulitis atau
erisipelas disertai gejala-gejala umum.
II.

Bentuk hiperkeratosis

Disini lebih jelas tampak ialah terjadi penebalan kulit disertai sisik terutama ditelapak
kaki, tepi kaki dan punggung kaki. Bila hiperkeratosisnya hebat dapat terjadi fisura-fisura
yang dalam pada bagian lateral telapak kaki.
III.

Bentuk vesikuler subakut

Kelainan-kelainan yang timbul di mulai pada daerah sekitar antar jari, kemudian
meluas ke punggung kaki atau telapak kaki. Tampak ada vesikel dan bula yang
terletak agak dalam di bawah kulit, diserta perasaan gatal yang hebat. Bila vesikel-vesikel
ini memecah akan meninggalkan skuama melingkar yang disebut Collorette.
Bila terjadi infeksi akan memperhebat dan memperberat keadaan sehingga dapat
terjadi erisipelas. Semua bentuk yang terdapat pada Tinea pedis, dapat terjadi pada
Tinea manus, yaitu dermatofitosis yang menyerang tangan.
Penyebab utamanya ialah : T .rubrum, T .mentagrofites, dan Epidermophyton floccosum.
Tinea manus dan Tinea pedis harus dibedakan dengan :
1. Dermatitis kontak akut alergis
2. Skabiasis
3. Psoriasispustulosa
Diagnosis laboratorium
Diagnosa ditegakkan berdasar gambaran klinis dan pemeriksaan kerokan kulit dengan
KOH 10-20% yang menunjukan eleman jamur.
Pengobatan
Pengobatan cukup dengan pengobatan topical saja dengan obat-obat anti jamur untuk
interdigital dan vesikuler selama 4-6 minggu. Oleskan krim/bedak anti jamur yang tepat

20

Pencegahan
Dimulai dari mencuci kaki setiap hari. Kaki yang telah dicuci dikeringkan dengan
baik,khususnya sela-sela kaki. Jika menggunakan kaus kaki,gunakan kaus kaki yang
bersih. Jangan menggunakan kaus kaki yang basah dan lembap. Usahakan memakai kaus
kaki yang terbuat dari bahan yang dapat menyerap keringat.

6. Tinea unguium
(Onikomikosis = ring worm of the nails)
Onikomikosis ini merupakan penyakit jamur yang kronik sekali, penderita minta
pertolongan dokter setelah menderita penyakit ini setelah beberapa lama, karena penyakit
ini tidak memberikan keluhan subjektif, tidak gatal, dan tidak sakit.
Distribusi geografik
Penyakit ini terdapat diseluruh duni ,juga di Indonesia.

Gejala klinik
Penyakit ini dapat dibedakan dalam 3 bentuk tergantung jamur penyebab dan permulaan
dari dekstruksi kuku. Subinguinal proksimal bila dimulai dari pangkal kuku, Subinguinal
distal bila di mulai dari tepi ujung dan Leukonikia trikofita bila di mulai dari bawah kuku.
Permukaan kuku tampak suram tidak mengkilat lagi, rapuh dan disertai oleh subungual
hiperkeratosis. Dibawah kuku tampak adanya detritus yang banyak mengandung elemen
jamur. Kadang-kadang penderita baru datang berobat setelah seluruh kukunya sudah
terkena penyakit.
Penyebab utama adalah : T.rubrum, T.metagrofites

21

Diagnosis banding:
1. Kandidiasis kuku
2. Psoriasis yang menyerang kuku
3. Akrodermatitis persisten
Diagnosis laboratorium
Diagnosis ditegakkan berdasar gejala klinis pada pemeriksaan kerokan kuku dengan
KOH 10-20%.Biakan dengan menemukan elemen jamur.
Histopatologi dengan pewarnaan periodic acid. Pemeriksaan ini paling sensitive,adanya
periodic acid menyebabkan gugus hidroksil pada polisakarida kompleksdinding sel jamur
mengalami oksidasi menjadi aldehid dan bereaksi dengan reagen Schiff sehingga jamur
berwarna merah dan berbeda dari sekitarnya.
Kultur jamur dengan media saboround dextrose agar.
Pengobatan
Pengobatan infeksi jamur pada kuku, jarang atau sukar untuk mencapai kesembuhan
total. Kuku yang menebal dapat ditipiskan secara mekanis misalnya dengan kertas
amplas, untuk mengurangi keluhan-keluhan kosmetika. Pemakaian haloprogin lokal atau
larutan derivat asol bisa menolong. Pencabutan kuku jari kaki dengan operasi, bersamaan
dengan terapi griseofulvin sistemik, merupakan satu-satunya pengobatan yang bisa
diandalkan terhadap onikomikosis jari kaki.
Pencegahan
Dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan sekitar. Hindari
terlalu sering kontak langsung dengan air kotor. Bersihkan tangan dengan sabun setelah
beraktivitas.

7. Tinea barbae
Tinea barbae adalah penyakit jamur yang mengenai janggut, jambang dan kumis

22

Distribusi geografik
Penyakit ini belum pernah ditemukan di Indonesia.

Gejala klinik
Penderita Tinea barbae ini biasanya mengeluh rasa gatal di daerah jenggot, jambang dan
kumis, disertai rambut-rambut di daerah itu menjadi putus.Penyebabnya adalah T.
verrucosum (originating from cattle) dan T. mentagrophytes var. equinum (originating
from horses)
Ada 2 bentuk yaitu superfisialis dan kerion

SUPERFISIALIS

Kelainan-kelainan berupa gejala eritem, papel dan skuama yang mula-mula kecil
selanjutnya meluas ke arab luar dan memberi gambaran polisiklik, dengan bagian
tepi yang aktif. Biasanya gambaran seperti ini menyerupai tinea korporis.

KERION

Bentuk ini membentuk lesi-lesi yang eritematous dengan ditutupi krusta atau abses
kecil dengan permukaan membasah oleh karena erosi.
Tinea barbae ini didiagnosa banding dengan :
1. Sikosis barbae (folikulitis oleh karena piokokus)
2. Karbunkel
3. Mikosis dalam
Diagnosis laboratorium
Diagnosis tinea barbae dikonfirmasi dengan mikroskop dari kerokan kulit dan rambut
kulit ditarik keluar sampai ke akar.

23

Pengobatan
Obat anti jamur topikal mungkin cukup untuk kasus-kasus ringan tinea barbae, tetapi
biasanya diobati dengan obat anti jamur oral termasuk terbinafine dan itrakonazol.
Pencegahan
Menghilangkan sumber infeksi tinea barbae sangat penting. Jika pekerja pertanian
terinfeksi, dapat dilakukan pemeriksaan kepada semua hewan yang terdapat lesi kulit
jamur. Pengobatan infeksi jamur kulit lainnya, seperti tinea pedis atau onikomikosis,
dapat mencegah penyebaran infeksi oleh autoinokulasi.

8. Tinea imbrikata
Tinea imbrikata adalah penyakit yang disebabkan jamur dermatofita yang memberikan
gambaran yang khas berupa makula yang eritematous dengan skuama yang melingkar.
Distribusi geografik
Penyakit ini banyak terdapat didaerah tropic dan endemis di beberapa daerah di Indonesia
(jawa,Kalimantan,irian jaya,dan lain-lain).

Gejala klinik
Penyakit ini adalah bentuk yang khas dari Tinea korporis yang disebabkan oleh Trikofiton
konsentrikum. Gambaran klinik berupa makula yang eritematous dengan skuama yang
melingkar. Apabila diraba terasa jelas skuamanya menghadap ke dalam. Pada umumnya
pada bagian tengah dari lesi tidak menunjukkan daerah yang lebih tenang, tetapi seluruh
makula ditutupi oleh skuama yang melingkar. Penyakit ini sering menyerang seluruh
permukaan tubuh sehingga menyerupai :
24

1. Eritrodemia
2. Pempigus foliaseus
3. Iktiosis yang sudah menahun
Diagnosis laboratorium
1. Kerokan kulit dengan KOH 10%, dipanasi sebentar tidak sampai mendidih. Dapat
ditemukan hifa, miselium, dan spora.
2. Biakan skuama pada media Sabouraud, menghasilkan koloni ragi.
Gambaran klinik yang khas ini, tidak ditemukan pada penyakit lain sehingga
memudahkan diagnosis pasti.
Pengobatan
Pengobatan sistemik pada umumnya mempergunakan griseofulvin 500 mg per hari
selama 4 minggu,sering kambuh setelah pengobatan memerlukan pengobatan ulang yang
lebih lama,ketokonazol 200 mg sehari,obat topical tidak begitu efektif karena daerah
yang terserang luas.
Pencegahan
Dilakukan dengan menjaga kebersihan badan serta lingkungan. Keadaan lembab dan
panas dapat mempengaruhi penyebaran ini. Hindari pemakaian baju yang tidak meyerap
keringat,selain itu mandilah dengan teratur menggunakan sabun antiseptic.
Prognosis dermatofita
Perkembangan penyakit dermatofitosis dipengaruhi oleh bentuk klinik dan penyebab
penyakitnya disamping faktor-faktor yang memperberat atau memperingan
penyakit. Apabila faktor-faktor yang memperberat penyakit dapat dihilangkan,
umumnya penyakit ini dapat hilang sempurna.

B. NON-DERMATOFITA
Infeksi non-dermatofitosis pada kulit biasanya terjadi pada kulit yang paling luar. Hal ini
disebabkan jenis jamur ini tidak dapat mengeluarkan zat yang dapat mencerna keratin
25

kulit dan tetap hanya menyerang lapisan kulit yang paling luar. Yang masuk ke dalam
golongan ini adalah dibawah ini
1. PITYRIASIS VERSICOLOR/ TINEA VERSICOLOR
DEFINISI
Tinea versikolor/Pityriasis versikolor adalah infeksi ringan yang sering terjadi disebabkan
oleh Malasezia furfur. Penyakit jamur kulit ini adalah penyakit yang kronik dan
asimtomatik ditandai oleh bercak putih sampai coklat yang bersisik. Kelainan ini
umumnya menyerang badan dan kadang- kadang terlihat di ketiak, sela paha,tungkai atas,
leher, muka dan kulit kepala.

MORFOLOGI
Pertumbuhannya pada kulit (stratum korneum) berupa kelompok sel-sel bulat, bertunas,
berdinding tebal dan memiliki hifa yang berbatang pendek dan bengkok, biasanya tidak
menyebabkan tanda-tanda patologik selain sisik halus sampai kasar. Bentuk lesi tidak
teratur, berbatas tegas sampai difus dan ukuran lesi dapat milier,lentikuler, numuler
sampai plakat.
Ada dua bentuk yang sering dijumpai :

Bentuk makuler :

Berupa bercak-bercak yang agak lebar, dengan sguama halus diatasnya dan
tepi tidak meninggi.

Bentuk folikuler :

Seperti tetesan air, sering timbul disekitar rambut


PATOGENESIS

26

Mallasezia furfur, merupakan organisme saprofit pada kulit normal. Bagaimana


perubahan dari saprofit menjadi patogen belum diketahui. Organisme ini merupakan
"lipid dependent yeast". Timbulnya penyakit ini juga dipengaruhi oleh faktor hormonal,
ras, matahari,peradangan kulit dan efek primer pytorosporum terhadap melanosit.
GAMBARAN KLINIS
Timbul bercak putih atau kecoklatan yang kadang-kadang gatal bila,berkeringat. Bisa
pula tanpa keluhan gatal sama sekali, tetapi penderita mengeluh karena malu oleh adanya
bercak tersebut.
Pada orang kulit berwarna, lesi yang terjadi tampak sebagai bercak hipopigmentasi, tetapi
pada orang yang berkulit pucat maka lesi bisa berwarna kecoklatan ataupun kemerahan.
Di atas lesi terdapat sisik halus.
Folikulitis:
Merupakan bentuk klinis yang lebih berat, Malasezia furfurdapat tumbuh dalam jumlah
banyak pada folikel rambut dan kelenjar sebasea. Pada pemeriksaan histologis organisme
tersebut terlihat dilobang folikel bagian infudibulum saluran sebasea dan sering disekitar
dermis. Folikel berdilatasi akibat sumbatan dan terdiri dari debris keratin.Secara klinis
lesi terlihat eritem, papula folikular atau pustula dengan ukuran 2-4 mm, distribusinya
dipunggung, dada kadang-kadang dibahu, dengan leher dan rusuk. Bentuknya yang lebih
berat disebut Acneifonn folliculitis.
Dacriosis obstructif :
Malasezia furfur dapat membentuk koloni pada kelenjar lakrimalis, menyebabkan
pembengkakan dan obstruksi. Pada beberapa kasus terbentuk dakriolit, terjadi inflamasi
dan mengganggu produksi air mata.
DIAGNOSA BANDING
Penyakit ini harus dibedakan dari dermatitis seboroik, sifilis stadium tua, pitiriasis
rosea vitiligo, morbus hansen dan hipopigmentasi pasca peradangan.

DIAGNOSE
27

Selain mengenal kelainan-kelainan yang khas yang disebabkan oleh Melasezi fulfur
diagnosa pitiriasis versikolor harus dibantu dengan pemeriksaan-pemeriksaan
sebagai berikut :
a. Pemeriksaan langsung dengan KOH 10%.
Bahan-bahan kerokan kulit di ambil dengan cara mengerok bagian kulit yang
mengalam lesi. Sebelumnya kulit dibersihkan dengan kapas alkohol 70%, lalu
dikerok dengan skalpel steril dan jatuhannya ditampung dalam lempeng-lempeng
steril pula. Sebagian dari bahan tersebut diperiksa langsung dengan KOH% yang
diberi tinta Parker Biru Hitam, Dipanaskan sebentar, ditutup dengan gelas penutup
dan diperiksa di bawah mikroskop. Bila penyebabnya memang jamur, maka
kelihatan garis yang memiliki indeks bias lain dari sekitarnya dan jarak-jarak tertentu
dipisahkan oleh sekat-sekat atau seperti butir-butiir yang bersambung seperti kalung.
Pada pitiriasis versikolor hifa tampak pendek-pendek, lurus atau bengkok dengan
disana sini banyak butiran-butiran kecil bergerombol.
b. Pembiakan.
Organisme penyebab Tinea versikolor belum dapat dibiakkan pada media buatan.
c. Pemeriksaan dengan sinar wood,dapat memberikan perubahan warna pada seluruh
daerah lesi sehingga batas lesi lebih mudah dilihat. Daerah yang terkena infeksi akan
memperlihatkan fluoresensi warna emas sampai orange.
PENGOBATAN
Tinea versikolor dapat diobati dengan berbagai obat yang manjur pakaian, kain sprei,
handuk harus dicuci dengan air panas. Kebanyakan pengobatan akan menghilangkan
bukti infeksi aktif (skuama) dalam waktu beberapa hari, tetapi untuk menjamin
pengobatan yang tuntas pengobatan ketat ini harus dilanjutkan beberapa minggu.
Perubahan pigmen lebih lambat hilangnya. Daerah hipopigmentasi belum akan tampak
normal sampai daerah itu menjadi coklat kembali. Sesudah terkena sinar matahari lebih
lama daerah-daerah yang hipopigmentasi akan coklat kembali.
Meskipun terapi nampak sudah cukup, bila kambuh atau kena infeksi lagi merupakan hal
biasa, tetapi selalu ada respon terhadap pengobatan kembali. Tinea versikolor tidak
memberi respon yang baikterhadap pengobatan dengan griseofulvin.
28

Obat-obat anti jamur yang dapat menolong misalnya salep whitfield, salep salisil sulfur
(salep 2/4), salisil spiritus, tiosulfatnatrikus (25%). Obat-obat baru seperti selenium
sulfida 2% dalam shampo, derivatimidasol seperti ketokonasol, isokonasol, toksilat dalam
bentuk krim atau larutan dengan konsentrasi 1-2% sangat berkhasiat baik.
PROGNOSIS
Umumnya baik bila faktor-faktor predisposisi dapat dieliminer dengan baik.
EPIDEMIOLOGI
Penyakit ini ditemukan diseluruh dunia (kosmopolit) terutama di daerah beriklim panas.
Di Indonesia frekuensinya tinggi. Penularan panu terjadi bila ada kontak dengan jamur
penyebab oleh karena itu kebersihan prinadi sangat penting.

2. PIEDRA
Merupakan infeksi jamur pada rambut sepanjang corong rambut yang memberikan
benjolan-benjolan di luar permukaan rambut tersebut.
Ada dua macam :
Piedra putih : penyebabnya Piedraia beigeli
Piedra hitam : penyebabnya Piedraia horlal

PIEDRA BEIGELl

Merupakan penyebab piedra putih, terdapat pada rambut. Jamur ini dapat ditemukan
ditanah, udara,dan permukaan tubuh.

29

ETIOLOGI
Piedra Beigeli (Trikosporon beigeli) terutama terdapat didaerah subtropis, daerah dingin,
(di Indonesia belum ditemukan).
MORFOLOGI
Jamur ini mempunyai hifa yang tidak berwarna termasuk moniliaceae. Secara
mikroskopis jamur ini menghasilkan arthrokonidia dan blastoconidia.
PATOGENESIS
Biasanya penyakit ini dapat timbul karena adanya kontak langsung dari orang yang sudah
terkena infeksi.
GAMBARAN KLINIS
Adanya benjolan warna tengguli pada rambut, kumis, jenggot, kepala, umumnya tidak
memberikan gejala-gejala keluhan.
DIAGNOSA LABORATORIUM
Diagnosa ditegakkan atas dasar :
- gejala kllinis
- pemeriksaan laboratorium dengan KOH dan kultur pada agar Sabauroud.

PENGOBATAN
Rambut dicukur atau dikeramas dengan sublimat 1/2000 (5 %0) dalam spiritus dilutus.

PIEDRA HORTAE
Merupakan jamur penyebab piedra hitam (infeksi pada rambut berupa benjolan yang
melekat erat pada rambut, berwarna hitam). Penyakit ini umumnya terdapat di
daerah-daerah tropis dan subtropis. Terutama terdapat pada rambut kepala, kumis
ataujambang, dan dagu.
30

MORFOLOGI
Askospora berbentuk seperti pisang. Askospora tersebut dibentuk dalam suatu kantung
yang disebut askus. Askus-askus bersama dengan anyaman hifa yang padat membentuk
benjolan hitam yang keras dibagian luar rambut. Dari rambut yang ada benjolan, tampak
hifa endotrik (dalam rambut) sampai ektotrik (diluar rambut) yang besarnya 4-8 um
berwarna tengguli dan ditemukan spora yang besarnya 1-2 um.
GAMBARAN KLINIS
Pada rambut kepala, janggut, kumis akan tampak benjolan atau penebalan yang keras
warna hitam. Penebalan ini sukar dilepaskan dari corong rambut tersebut. Umumnya
rambut lebih suram, bila disisir sering memberikan bunyi seperti logam. Biasanya
penyakit ini mengenai rambut dengan kontak langsung atau tidak langsung.
DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan atas dasar :
1. Gejala klinis
Objektif rambut lebih suram, benjolan bila disisir terasa seperti logam kasar.
2. Laboratorium
a. Langsung dengan KOH 10-20% dari rambut yang ada benjolan tampak hifa endotrik
(dalam rambut pada lapisan kortek) sampai ektotrik (di luar rambut) yang besar 4-8 mu
berwarna tengguli dan ditemukan spora yang besarnya 1-2 u
b. Kultur rambut dalam media Saboutound tampak koloni mula-mula tumbuh sebagai
ragi yang berwarna kilning, kemudian dalam 2-4 hari akan berubah menjadi koloni
filamen.
31

PENGOBATAN
Sebaiknya rambut dicukur, dapat juga dikeramas dalam larutan sublimat : 1/2000 dalam
alkohol dilutus (spiritus 70%) hasil pengobatan akan tampak dalam 1 minggu.
3. OTOMIKOSIS
Otomikosis adalah infeksi jamur pada liang telinga bagian luar. Jamur dapat masuk ke
dalam liang telinga melalui alat-alat yang dipakai untuk mengorek-ngorek telinga yang
terkontaminasi atau melalui udara atau air. Penderita akan mengeluh merasa gatal atau
sakit di dalam liang telinga. Pada liang telinga akan tampak berwarna merah, ditutupi
oleh skuama, dan kelainan ini ke bagian luar akan dapat meluas sampai muara liang
telinga dan daun telinga sebelah dalam. Tempat yang terinfeksi menjadi merah dan
ditutupi skuama halus. Bila meluas sampai ke dalam, sampai ke membrana timpani, maka
daerah ini menjadi merah, berskuama, mengeluarkan cairan srousanguinos. Penderita
akan mengalami gangguan pendengaran. Bila ada infeksi sekunder dapat terjadi otitis
ekstema. Penyebab biasanya jamur kontaminasi yaitu Aspergillus, sp Mukor dan
Penisilium.

DIAGNOSA
Diagnosa didasarkan pada :
1. Gejala klinik
Yang khas, terasa gatal atau sakit diliang telinga dan daun telinga menjadi merah,
skuamous dan dapat meluas ke dalam liang telinga sampai 2/3 bagian luar.
32

2 .Pemeriksaan Laboratorium
a. Preparat langsung: Skuama dari kerokan kulit Jiang telinga diperiksa dengan KOH
10% akan tampak hifa-hifa lebar, berseptum dan kadang-kadang dapat ditemukan sporaspora kecil dengan diameter 2-3 u.
b. Pembiakan: Skuama dibiak pada media Sabauroud dekst ditemukan dekstrosa agar dan
dikeram pada temperatur kamar. Koloni akan tumbuh dalam satu minggu berupa koloni
filamen berwarna putih. Dengan mikroskop tampak hifa-hifa lebar dan pada ujung-ujung
hifa dapat ditemukan sterigma dan spora berjejer melekat pada permukaannya.
DIFERENSIAL DIAGNOSA
Otitis eksterna atau kontak dermatitis pada liang telinga sering memberi gejala-gejala
yang sama.

PROGNOSIS
Umumnya baik bila diobati dengan pengobatan yang adekuat.
PENGOBATAN
Pengobatan ditujukan menjaga agar liang telinga tetap kering jangan lembab dan jangan
mengorek-ngorek telinga dengan barang-barang yang kotor seperti korek api, garukan
telinga atau kapas. Kotoran- kotoran telinga harus selalu dibersihkan. Larutan timol 2%
dalam spiritus dilutus (alkohol 70%) atau meneteskan larutan burowi 5% satu atau dua
tetes dan selanjutnya dibersihkan dengan desinfektan biasanya memberi hasil pengobatan
yang memuaskan. Neosporin dan larutan gentien violet 1-2% juga dapat menolong.

4. Tinea nigra
Tinea nigra ialah infeksi jamur superfisialis yang biasanya menyerang kulit telapak kaki
dan tangan dengan memberikan warna hitam sampai coklat pada kulit yang terserang.
Makula yang terjadi tidak menonjol pada permukaan kulit, tidak terasa sakit dan tidak
ada tanda-tanda radang. Kadang-kadang makula ini dapat meluas sampai ke punggung,
kaki dan punggung tangan, bahkan dapat menyebar sampai dileher, dada dan
33

muka.Gambaran efloresensi ini dapat berupa polosiklis, arsiner dengan warna hitam atau
coklat hampir sama seperti setetes nitras argenti yang diteteskan pada kulit.
Penyebabnya adalah Kladosporium wemeki dan jamur ini banyak menyerang anak-anak
dengan higiene kurang baik dan orang-orang yang banyak berkeringat.

DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan :
1.Gejala klinis yang khas
2. Pemeriksaan laboratorium
a. Preparat langsung : kerokan kulit dengan KOH 10% akan menunjukkan adanya hifa
dan spora yang tersebar di dalam gel-gel epitel, besar hifa berkisar 3-5 u dan spora
berkisar 1-2u.
b. Pembiakan : Pembiakan skuama pada media Sabauroud glukosa agar (SGA), dikeram
pada temperatur kamar. Dalam 1-2 minggu akan tumbuh koloni menyerupai ragi,
berwarna hijau dan pada bagian tepinya tumbuh daerah yang filamentous berwarna
coklat. Pada pemerikasaan mikroskopis tampak hifa halus bercabang, mengkilat dan
spora-spora yang lonjong.
DIFERENSIAL DIAGNOSA
Lesi-lesi hitam pada kulit seperti pada sifilis stadium kedua pada telapak tangan, harus
dipikirkan. Melanoma memberikan gambaran klinis yang rnirip. Tinea versikolorpun
memberikan gambaran yang hampir sama.

34

PENGOBATAN
Pengobatan dengan obat-obat anti jamur banyak menolong. Salep whitfield I dan II atau
salep sulfursalisil juga dapat menolong. Obat-obat anti jamur, preparat-preparat imidazol
seperti isokotonasol, bifonasol, klotrirnasol juga berkhasiat baik. Umumnya baik bila
faktor-faktor predisposisi dapat dieliminer dengan baik

35

BAB III
PENUTUP
.
Kesimpulan:
Mikosis superficial adalah penyakit jamur yang menginfeksi lapisan permukaan
kulit,yaitu stratum korneum,rambut dan kuku. Ada dua golongan jamur yang
menyebabkan mikosis superfisialis yaitu Dermatofita dan Non Dermatofita.
a. Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk,misalnya
stratum korneum pada epidermis,rambut dan kuku yang disebabkan jamur golongan
dermatofita. Dermatofitosis dibagi berdasarkan lokasi bagian tubuh manusia yang
diserang. Yang termasuk dari dermatofitosis adalah tinea kapitis, tinea favosa, tinea
korporis, tinea kruris, tinea manus et pedis, tinea unguium, tinea barbae, dan tinea
imbrikata.
b. Non-Dermatofitosis pada kulit biasanya terjadi pada kulit yang paling luar. Hal ini
disebabkan jenis jamur ini tidak dapat mengeluarkan zat yang dapat mencerna keratin
kulit dan tetap hanya menyerang lapisan kulit yang paling luar. Yang termasuk dari nondermatofitosis adalah tinea versikolor, piedra hitam, piedra putih dan tinea nigra.

36

DAFTAR PUSTAKA

Boel,trelia,Drg.,M.Kes.2003.MikosisSuperfisial. http://library.usu.ac.id/download/fkg/fkg-

trelia1.pdf Tanggal diakses: 24 mei 2015


Arnold, Odum, James.Andrew's :Desease of the skin, .8th ed ,London. WBSounders Co.,
1989 : 347-349. http://library.usu.ac.id/download/fkg/fkg-trelia1.pdf Tanggal diakses: 24

mei 2015
Balus,
L:

http://library.usu.ac.id/download/fkg/fkg-trelia1.pdf Tanggal diakses: 24 mei 2015


Budi mulja, U : Mikosis. Dalam ilmu penyakit kulit dan kelamin, Jakarta FK UI. 1987 : 84-

88http://library.usu.ac.id/download/fkg/fkg-trelia1.pdf Tanggal diakses: 24 mei 2015


Emmons. CW , Binford. CH, Utz, JP & Kwon Chung: Medical Mycology, 3 rd ed.

Grigoriu

Pityriasis

versicolor.

CILAG-LTD

1982.

Philadelphia, Lea & Febiger. 1977 http://library.usu.ac.id/download/fkg/fkg-trelia1.pdf

Tanggal diakses: 24 mei 2015


Jawetz, Melnick & Adelberg : Mikrobiologi Kedokteran. Edisi 20, EGC Jakarta 1996.

http://library.usu.ac.id/download/fkg/fkg-trelia1.pdf Tanggal diakses: 24 mei 2015


Kenneth J. Ryan: Sherris Medical Micribiology.Pretice Hall International Inc , 1994.

http://library.usu.ac.id/download/fkg/fkg-trelia1.pdf Tanggal diakses: 24 mei 2015


Kuswadji : Dermatimikosis. Budimulja U, Sunoto, Tjokronegoro A . Penyakit Jamur, Jakarta
FKUI. 1983 http://library.usu.ac.id/download/fkg/fkg-trelia1.pdf Tanggal diakses: 24 mei

2015
Rippon.J : Superfisialis Infections.in Medical Mycology, second ed Tokyo, WB saunders

Co. 1988 http://library.usu.ac.id/download/fkg/fkg-trelia1.pdf Tanggal diakses: 24 mei 2015


Siregar.S: Penyakit Jamur Kulit. EGC Jakarta.1982
Gandahusada,srisasi.dkk.1998.parasitologi kedokteran.jakarta:balai penerbit FKUI.

37