Anda di halaman 1dari 19

BAB IV

JENIS JASA KEUANGAN ISLAM


Konsep Dan Sistem Kerja Perbankan Syariah
Dewasa ini lembaga keuangan berlabel syariat berkembang dalam skala besar dengan
menawarkan produk-produknya yang beraneka ragam dengan istilah-istilah berbahasa Arab.
Banyak masyarakat yang masih bingung dengan istilah-istilah tersebut dan masih ragu
apakah benar semua produk tersebut adalah benar-benar jauh dari pelanggaran syariat
ataukah hanya rekayasa semata.
Untuk menjawab pertanyaaan tersebut marilah kita mencoba mengkaji produk-produk
keuangan syariah.
Kita perlu mengetahui konsep dan sistem kerja perbankan Syariah yang bisa digambarkan
sebagai berikut:

Bank syariah menghimpun dana yang berasal dari pemilik dana/masyarakat yang selanjutnya
disalurkan kepada masyarakat/pengguna dana. Masyarakat/pengguna dana melaksanakan
bagi hasil dengan Bank Syariah, selanjutnya Bank Syariah melakukan bagi hasil dengan
pemilik dana/masyarakat.
Proses penyaluran dana kepada masyarakat dapat digambarkan sbb:

Selanjutnya kita membatasi permasalahan pada pembiayaan (financing) yang terdiri dari:
24

25

A. Bagi Hasil (Profit & Loss Sharing)


Yang dilakukan dalam bentuk kerjasama dengan sistem:
1. Musyarakah
a. Pengertian
Akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu di mana
masing-masing pihak memberikan kontribusi dana atau keahlian dengan
kesepakatan bahwa keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai
dengan kesepakatan.
Musyarakah ditinjau dari besarnya modal selama masa akad kerjasama, dapat
digolongkan atas:
1) Musyarakah permanen
Adalah musyarakah yang jumlah modalnya tetap sampai akhir masa
musyarakah.
2) Musyarakah menurun.
Adalah musyarakah yang jumlah modalnya secara berangsur-angsur menurun
karena dibeli oleh mitra musyarakah.
Musyarakah ditinjau dari partisipasi modal selama masa akad kerjasama
dibedakan atas:
1) Syirkah Inan
Akad kerja sama antara dua orang atau lebih, masing-masing memberikan
kontribusi dana dan berpartisipasi dalam kerja. Porsi dana dan bobot
partisipasi dalam kerja tidak harus sama, bahkan dimungkinkan hanya salah
seorang yang aktif mengelola usaha yang ditunjuk oleh partner lainnya.
Sementara itu, keuntungan atau kerugian yang timbul dibagi menurut
kesepakatan bersama.
2) Syirkah Mufawadhah
Akad kerja sama antara dua orang atau lebih, masing-masing memberikan
kontribusi dana dalam porsi yang sama dan berpartisipasi dalam kerja
dengan bobot yang sama pula. Setiap partner saling menanggung satu sama
lain dalam hak dan kewajiban. Tidak diperkenankan salah seorang
memasukkan modal yang lebih besar dan memeroleh keuntungan yang lebih
besar pula dibandingkan dengan partner lainnya. Keuntungan maupun
kerugian yang diperoleh harus dibagi secara sama.
3) Syirkah Amal
Kesepakatan kerja sama antara dua orang atau lebih yang memiliki profesi
dan keahlian tertentu, untuk menerima serta melaksanakan suatu pekerjaan
secara bersama dan berbagi keuntungan dari hasil yang diperoleh.
4) Syirkah Wujuh
Syirkah ini terbentuk antara dua orang atau lebih, tanpa setoran modal.
Modal yang digunakan hanyalah nama baik yang dimiliki, terutama karena
kepribadian dan kejujuran masing-masing dalam berniaga. Dengan memiliki
reputasi seperti itu, mereka dapat membeli barang-barang tertentu dengan
pembayaran tangguh dan menjualnya kembali secara tunai. Keuntungan yang
diperoleh akan dibagi sesuai dengan kesepakatan bersama.

b. Musyarakah dalam Teknis Perbankan


Musyarakah merupakan akad kerja sama pembiayaan antara Islamic
Banking, atau beberapa lembaga keuangan secara bersama-sama, dan
nasabah untuk mengelola suatu kegiatan usaha. Masing-masing memasukkan
penyertaan dana sesuai porsi yang disepakati. Pengelolaan kegiatan usaha,
dipercayakan kepada nasabah.
Selaku pengelola, nasabah wajib menyampaikan laporan berkala mengenai
perkembangan usaha kepada bank-bank sebagai pemilik dana. Di samping
itu, pemilik dana dapat melakukan intervensi kebijakan usaha.

26

c. Ketentuan Dalam Musyarakah


Dalam definisi yang lain disebutkan bahwa Musyarakah adalah akad kerjasama yang
terjadi diantara para pemilik modal (mitra musyarakah) untuk menggabungkan
modal dan melakukan usaha secara bersama dalam suatu kemitraan, dengan nisbah
pembagian hasil sesuai dengan kesepakatan, sedangkan kerugian ditanggung secara
proporsional sesuai dengan kontribusi modal. Adapun ketentuan dalam musyarakah
menurut fatwa di atas adalah sebagai berikut:
1)

2)

3)

Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk menunjukkan
kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad), dengan memperhatikan
hal-hal berikut:
a) Penawaran dan penerimaan harus secara eksplisit menunjukkan tujuan
kontrak (akad).
b) Penerimaan dari penawaran dilakukan pada saat kontrak.
c) Akad dituangkan secara tertulis, melalui korespondensi, atau dengan
menggunakan cara-cara komunikasi modern.
Pihak-pihak yang berkontrak harus cakap hukum, dan memperhatikan hal-hal
berikut:
a) Kompeten dalam memberikan atau diberikan kekuasaan perwakilan.
b) Setiap mitra harus menyediakan dana dan pekerjaan, dan setiap mitra
melaksanakan kerja sebagai wakil.
c) Setiap mitra memiliki hak untuk mengatur aset musyarakah dalam proses
bisnis normal.
d) Setiap mitra memberi wewenang kepada mitra yang lain untuk mengelola
aset dan masing-masing dianggap telah diberi wewenang untuk melakukan
aktifitas musyarakah dengan memperhatikan kepentingan mitranya, tanpa
melakukan kelalaian dan kesalahan yang disengaja.
e) Seorang mitra tidak diizinkan untuk mencairkan atau menginvestasikan dana
untuk kepentingannya sendiri.
Obyek akad (modal, kerja, keuntungan dan kerugian)
a) Modal
(1) Modal yang diberikan harus uang tunai, emas, perak atau yang nilainya
sama.
(2) Modal dapat terdiri dari aset perdagangan, seperti barang-barang,
properti, dan sebagainya. Jika modal berbentuk aset, harus terlebih
dahulu dinilai dengan tunai dan disepakati oleh para mitra.

27

(3)

Para pihak tidak boleh meminjam, meminjamkan, menyumbangkan atau


menghadiahkan modal musyarakah kepada pihak lain, kecuali atas dasar
kesepakatan.
(4) Pada prinsipnya, dalam pembiayaan musyarakah tidak ada jaminan,
namun untuk menghindari terjadinya penyimpangan, LKS dapat
meminta jaminan.
b) Kerja
(1) Partisipasi para mitra dalam pekerjaan merupakan dasar pelaksanaan
musyarakah; akan tetapi, kesamaan porsi kerja bukanlah merupakan
syarat. Seorang mitra boleh melaksanakan kerja lebih banyak dari yang
lainnya, dan dalam hal ini ia boleh menuntut bagian keuntungan
tambahan bagi dirinya.
(2) Setiap mitra melaksanakan kerja dalam musyarakah atas nama pribadi
dan wakil dari mitranya. Kedudukan masing-masing dalam organisasi
kerja harus dijelaskan dalam kontrak.
c) Keuntungan/Kerugian
(1) Keuntungan/kerugian harus dikuantifikasi dengan jelas untuk
menghindarkan perbedaan dan sengketa pada waktu alokasi
keuntungan/kerugian atau penghentian musyarakah.
(2) Setiap keuntungan/kerugian mitra harus dibagikan secara proporsional
atas dasar seluruh keuntungan/kerugian dan tidak ada jumlah yang
ditentukan di awal yang ditetapkan bagi seorang mitra.
(3) Seorang mitra boleh mengusulkan bahwa jika keuntungan/kerugian
melebihi jumlah tertentu, kelebihan atau prosentase itu diberikan
kepadanya.
(4) Sistem pembagian keuntungan/kerugian harus tertuang dengan jelas
dalam akad.
2. Mudharabah
a. Pengertian
Mudharabah, berasal dari kata dharb, artinya memukul atau berjalan. Pengertian
memukul atau berjalan ini lebih tepatnya adalah proses seseorang memukulkan
kakinya dalam menjalankan usaha.
Secara teknis mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak di mana
pihak pertama (shahibul mal) menyediakan seluruh (100%) modal, sedangkan pihak
lainnya menjadi pengelola.
Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan
dalam kontrak, sedangkan kerugian ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian
itu bukan akibat kelalaian pengelola.
Seandainya kerugian itu diakibatkan karena kecurangan atau kelalaian pengelola,
maka pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut .
Secara lebih spesifik, pengertian mudharabah :
Mudharabah adalah akad kerja sama antara pemilik dana (shahibul mal),
yang menyediakan seluruh kebutuhan modal, dan pihak pengelola usaha
(mudharib) untuk melakukan suatu kegiatan usaha bersama. Keuntungan
yang diperoleh dibagi menurut perbandingan (nisbah) yang disepakati.
Dalam hal terjadi kerugian, maka ditanggung oleh pemilik modal selama
bukan diakibatkan kelalaian pengelola usaha. Sedangkan, kerugian yang
timbul karena kelalaian pengelola akan menjadi tanggung jawab pengelola
usaha itu sendiri.
Pemilik modal tidak turut campur dalam pengeloalaan usaha, tetapi
memunyai hak untuk melakukan pengawasan.
Secara garis besar kerja sama akad Mudharabah dapat digambarkan sebagai berikut:

28

b. Landasan Hukum Mudharabah


QS Al-Jumuah [62]: 10
Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebarkanlah kamu di muka bumi dan
carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.
Hadis riwayat Ibnu Majah
Tiga hal yang didalamnya terdapat keberkatan: jual beli secara tangguh,
muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk
keperluan rumah, bukan untuk dijual.
c. Jenis Mudharabah
1) Mudharabah Muthlaqah
Pemilik dana (shahibul mal) memberikan keleluasaan penuh kepada
pengelola (mudharib) dalam menentukan jenis usaha maupun pola
pengelolaan yang dianggapnya baik dan menguntungkan sepanjang tidak
bertentangan dengan ketentuan syariah.

d.

2) Mudharabah Muqayyadah
Pemilik dana memberikan batasan-batasan tertentu kepada pengelola usaha
dengan menetapkan jenis usaha yang harus dikelola, jangka waktu
pengelolaan, lokasi usaha, dan sebagainya.
Ketentuan dan Rukun Mudharabah
Menurut mazhab Hanafi, dalam kaitannya dengan kontrak tersebut, unsur yang
paling mendasar adalah ijab dan qabul (offer and acceptence).
Artinya bersesuaiannya keinginan dan maksud dari dua pihak tersebut untuk
menjalin ikatan kerja sama (Nyazee,1997).
Mazhab lain, seperti Syafii, mengajukan beberapa unsur mudharabah yang
tidak hanya adanya ijab dan qabul, tetapi juga adanya dua pihak, adanya kerja,
adanya laba, dan adanya modal (Al-Ramli, vol.V).
1) Ijab dan qabul.
Pernyataan kehendak yang berupa ijab dan qabul antara kedua pihak.
Syarat-syarat, yaitu:
a) Harus jelas menunjukkan maksud untuk melakukan kegiatan
mudharabah. Dalam menjelaskan maksud tersebut, bisa menggunakan
kata mudharabah, qiradh, muqaradhah, muamalah, atau semua kata
yang semakna dengannya. Bisa pula tidak menyebutkan kata
mudharabah dan kata-kata sepadan lainnya jika maksud dari
penawaran tersebut sudah dapat dipahami. Misalnya, Ambil uang ini
dan gunakan untuk usaha dan keuntungan kita bagi berdua. (AlKasani, 1990).
b) Harus bertemu. Artinya, penawaran pihak pertama sampai dan
diketahui oleh pihak kedua. Ijab yang diucapkan pihak pertama harus

29

diterima dan disetujui oleh pihak kedua sebagai ungkapan kesediaan


bekerja sama. Kesediaan tersebut bisa diungkapkan dengan kata-kata
atau gerakan tubuh (isyarat) lain yang menunjukkan kesediaan.
Misalnya, dengan mengucapkan, Ya, saya terima, atau Saya setuju,
atau dengan isyarat-isyarat setuju lain seperti menganggukkan kepala,
diam, atau senyum. Oleh karena itu, peristiwa ini harus terjadi dalam
satu majlis akad agar terhindar dari kesalahpahaman.
c) Harus sesuai maksud pihak pertama, cocok dengan keinginan
pihak kedua. Secara lebih luas, ijab dan qabul tidak saja terjadi dalam
soal kesediaan dua pihak untuk menjadi pemodal dan pengusaha, tetapi
juga kesediaan untuk menerima kesepakatan-kesepakatan lain yang
muncul lebih terinci. Dalam hal ini, ijab (penawaran) tidak selalu
diungkapkan oleh pihak pertama. Begitu juga sebaliknya. Keduanya
harus saling menyetujui. Artinya, jika pihak pertama melakukan ijab
(penawaran), maka pihak kedua melakukan qabul (penerimaan). Begitu
juga sebaliknya. Ketika kesepakatan-kesepakatan itu disetujui, maka
terjadilah hukum
2) Adanya dua pihak (pihak penyedia dana dan pengusaha).
Para pihak (shahibul mal dan mudharib) disyaratkan:
a)
Cakap bertindak hukum secara syari.
Artinya, shahibul mal memiliki kapasitas untuk menjadi pemodal
dan mudharib memiliki kapasitas menjadi pengelola. Jadi,
mudharabah yang disepakati oleh shahibul mal yang memunyai
penyakit gila temporer tidak sah. Namun, jika dikuasakan oleh
orang lain, maka sah. Bagi mudharib, asalkan ia memahami
maksud kontrak saja sudah cukup sah mudharabah-nya.
b)
Memiliki walayah tawkil wa wakalah (memiliki kewenangan
mewakilkan/memberi kuasa dan menerima pemberian kuasa),
karena penyerahan modal oleh pihak pemberi modal kepada pihak
pengelola modal merupakan suatu bentuk pemberian kuasa untuk
mengolah modal tersebut.
3) Adanya modal.
disyaratkan:
a) Harus jelas jumlah dan jenisnya dan diketahui oleh kedua belah
pihak pada waktu dibuatnya akad mudharabah, sehingga tidak
menimbulkan sengketa dalam pembagian laba karena ketidakjelasan
jumlah. Kepastian dan kejelasan laba itu penting dalam kontrak ini.
b) Harus berupa uang (bukan barang). Mengenai modal harus
berupa uang dan tidak boleh barang adalah pendapat mayoritas
ulama. Mereka beralasan, mudharabah dengan barang itu dapat
menimbulkan kesamaran, karena barang pada umumnya bersifat
fluktuatif. Jika barang bersifat tidak fluktuatif seperti emas dan
perak, mereka berbeda pendapat. Imam Malik dalam hal ini tidak
tegas untuk melarang atau membolehkannya. Oleh karenanya, para
muridnya berbeda pendapat. Sebagian membolehkan dan sebagian
lain, seperti Ibnu Al-Qasim, membolehkannya dengan catatan emas
dan perak tersebut belum menjadi barang perhiasan. Dalam kaitan
mudharabah dengan emas atau perak ini, Imam Syafii melarangnya.
Secara umum fuqaha yang melarang mudharabah dengan emas atau
perak beralasan bahwa keduanya disamakan dengan barang,
sedangkan yang membolehkannya, termasuk di antaranya Ibnu Abi
Laila, beralasan bahwa keduanya disamakan dengan dinar dan
dirham. Keduanya hanya berbeda sedikit dalam harga (tidak
fluktuatif). Dalam kaitannya dengan modal ini pula, para fuqaha
sepakat bahwa jika barang yang diserahkan tersebut tidak untuk
mudharabah, tetapi untuk dijadikan sebagai sebuah modal
mudharabah dengan cara menjualnya terlebih dahulu, maka hal ini
diperbolehkan. Menurut Ibnu Hazm, karena hal ini telah banyak
disebutkan dalam hadis Nabi Saw.

30

c) Uang bersifat tunai (bukan hutang).


Mengenai keharusan uang dalam bentuk tunai (tidak hutang)
bentuknya adalah, misalnya, shahibul mal memiliki piutang kepada
seseorang. Piutang pada seseorang tersebut kemudian dijadikan
modal mudharabah bersama si berhutang. Ini tidak dibenarkan
karena piutang itu sebelum diterimakan oleh si berhutang kepada si
berpihutang, masih merupakan milik siberhutang. Jadi, apabila ia
jalankan dalam suatu usaha, berarti ia menjalankan dananya sendiri,
bukan dana si berpihutang. Selain itu, hal ini bisa membuka pintu
perbuatan riba, yaitu memberi tangguh kepada si berhutang yang
belum mampu membayar hutangnya dengan kompensasi si
berpihutang mendapatkan imbalan tertentu. Dalam hal ini, para
ulama fikih tidak berbeda pendapat. Perselisihan pendapat para
fuqaha terletak pada orang yang menyuruh orang lain untuk
menerima hutang dari orang ketiga, kemudian orang tersebut
memutarkannya berdasarkan mudharabah. Imam Malik dan para
pengikutnya tidak membolehkan hal tersebut, karena memandang
bahwa pada cara tersebut terdapat penambahan kerja dari orang
tersebut kepada orang yang bekerja (memutarkan harta). Kerja
tambahan tersebut adalah suruhan untuk menerimanya. Alasan ini
didasarkan pada aturan pokok mudharabah dalam mazhab Maliki
bahwa barangsiapa mensyaratkan manfaat yang lebih dalam
mudharabah, maka batal. Sementara itu, Imam Syafii dan Abu
Hanifah membolehkannya dengan alasan orang tersebut telah
mewakilkan penerimaan kepada orang lain. Jadi, ia tidak menjadikan
penerimaan sebagai syarat pemutaran uang.
d) Modal diserahkan sepenuhnya kepada pengelola secara langsung.
Jika tidak diserahkan kepada mudharib secara langsung dan tidak
diserahkan sepenuhnya (berangsur-angsur) dikhawatirkan akan
terjadi kerusakan pada modal, yaitu penundaan yang dapat
mengganggu waktu mulai bekerja dan akibat yang lebih jauh
mengurangi kerjanya secara maksimal. Jumhur fuqaha sepakat akan
hal ini. Hanya, sebagian dari mazhab Hanafi lebih fleksibel
menambahkan apabila pengangsuran kucuran modal tersebut
dikehendaki oleh mudharib, maka tidak batal.
4) Adanya usaha (amal).
Sebagian ulama, khususnya Imam Syafii dan Maliki, mensyaratkan
hanya berupa usaha dagang (commercial). Mereka menolak usaha
yang berjenis kegiatan industri (manufacture) dengan anggapan bahwa
kegiatan industri itu termasuk dalam kontrak persewaan (ijarah) yang
semua kerugian dan keuntungan ditanggung oleh pemilik modal
(investor), sementara para pegawainya digaji secara tetap (Udovitch,
1970). Tetapi, Abu Hanifah membolehkan usaha apa saja selain
berdagang, termasuk kegiatan kerajinan atau industri. Seseorang dapat
memberikan modalnya kepada pekerja yang akan digunakannya untuk
membeli bahan mentah untuk dibuat sebuah produk dan kemudian
dijual. Keuntungan ini dapat dibagi dua antara keduanya. Ini memang
tidak termasuk jenis perdagangan murni yang seseorang hanya terlibat
dalam pembelian dan penjualan. Tetapi, hal tersebut dapat dibenarkan,
sebab persekutuan antara modal dan tenaga terjadi dalam kegiatan ini;
bahkan mengenai keuntungan kadang-kadang lebih dapat dipastikan,
sehingga bagi hasil akan selalu dapat diwujudkan. Kalau ditarik lebih
jauh ke era modern ini, makna perdagangan menjadi meluas. Semua
kerja ekonomi yang mengandung kegiatan membuat atau membeli
produk atau jasa, kemudian menjualnya atau menjadikan produk atau
jasa tersebut menjadi sebuah keuntungan merupakan arti dari
perdagangan. Oleh karena itu, tampaknya semua kegiatan ekonomi itu
mengandung unsur perdagangan. Jadi sesungguhnya, dalam hal ini,

31

dapat dikatakan bahwa jenis usaha yang diperbolehkan adalah semua


jenis usaha. Tentu saja tidak hanya menguntungkan, juga harus sesuai
dengan ketentuan syariah, sehingga merupakan usaha yang halal
(Anwar, 2001).
Dalam menjalankan usaha ini, shahibul mal tidak
boleh ikut campur dalam teknis operasional dan manajemen usaha,
dan tidak boleh membatasi usaha mudharib sedemikian rupa
sehingga mengakibatkan upaya pemerolehan keuntungan maksimal
tidak tercapai. Tetapi, di lain pihak, pengelola harus senantiasa
menjalankan usahanya dalam ketentuan syariah secara umum.
Apabila usaha itu dijalankan di bawah akad mudharabah terbatas,
maka ia harus memenuhi klausul-klausul yang ditentukan oleh
shahibul mal.
5) Adanya keuntungan
Disyaratkan bahwa:
(a) Keuntungan tidak boleh dihitung berdasarkan persentase dari
jumlah modal yang diinvestasikan, melainkan hanya
keuntungannya saja setelah dipotong besarnya modal. Dalam hal
ini, penghitungan harus dilakukan secara cermat. Setiap keadaan
yang membuat ketidakjelasan penghitungan akan membawa kepada
suatu kontrak yang tidak sah.
(b) Keuntungan untuk setiap pihak tidak ditentukan dalam jumlah
nominal, misalnya satu juta, dua juta, dan seterusnya. Jika
ditentukan dengan nilai nominal, berarti shahibul mal telah
mematok untung tertentu dari sebuah usaha yang belum jelas
untung dan ruginya. Ini akan membawa pada perbuatan riba.
(c) Nisbah pembagian ditentukan dengan persentase, misalnya 60:40%,
50:50%, dan seterusnya. Penentuan persentase tidak harus terikat
pada bilangan tertentu. Artinya, jika nisbah bagi hasil tidak
ditentukan pada saat akad, maka setiap pihak memahami bahwa
keuntungan itu akan dibagi secara sama, karena aturan umum
dalam penghitungan ini adalah kesamaan. Namun, tindakan berupa
penyebutan nisbah bagi hasil pada awal kontrak adalah lebih baik
untuk menghindari munculnya kesalahpahaman. Persentase yang
diungkapkan oleh salah satu pihak dianggap cukup. Jika terdapat
pihak ketiga, seorang yang membantu usaha mudharib, maka
persentase bagi hasil tidak boleh dibagi menjadi tiga bagian.
Namun, jika pihak ketiga itu merupakan budak (pekerja) dari
shahibul mal, para ulama berbeda pendapat. Imam Malik, Syafii,
dan Abu Hanifah membolehkannya, sementara para ulama murid
Imam Malik tidak membolehkannya.
(d) Keuntungan harus menjadi hak bersama sehingga tidak boleh
diperjanjikan bahwa seluruh keuntungan untuk salah satu
pihak. Pada dasarnya, mudharabah membagi keuntungan
berdasarkan kesamaan. Namun, jika mudharib mensyaratkan
seluruh keuntungan untuk dirinya, para fuqaha berbeda pendapat.
Imam Malik membolehkannya, karena cara itu merupakan
kebaikan atau kesukarelaan shahibul mal. Di lain pihak, Imam
Syafii melarangnya. Ia menganggap cara seperti itu sebagai suatu
kesamaran, karena jika terjadi kerugian, shahibul mal pun telah
menanggung modalnya. Jadi, menurut Imam Syafii, beban risiko
yang ditanggung shahibul mal itu telah berat dan tidak boleh
ditambahi lagi. Imam Abu Hanifah, berkenaan dengan masalah ini,
berpendapat bahwa hal itu tidak termasuk kategori mudharabah,
melainkan qardh
(pinjaman). Artinya, pelimpahan seluruh
keuntungan ke tangan mudharib menjadikan kegiatan ekonomi itu
sebagai sebuah pinjaman. Maka dari itu, jika terjadi kejadian yang

32

sebaliknya (kerugian), maka seluruh kerugian ditanggung oleh


mudharib.
B. Sistem Pembiayaan Jual Beli (Sale & Purchase) dan Sewa
1. Murabahah
Dewasa ini lembaga keuangan berlabel syariat berkembang dalam skala besar
dengan Jual beli Murabahah (Bai al-Murabahah) demikianlah istilah yang banyak
diusung lembaga keuangan tersebut sebagai bentuk dari Financing (pembiayaan)
yang memiliki prospek keuntungan yang cukup menjanjikan.
Jual beli Murabahah yang dilakukan lembaga keuangan syariat ini dikenal dengan
nama-nama sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

al-Murabahah lil Aamir bi Asy-Syira


al-Murabahah lil Waid bi Asy-Syira
Bai al-Muwaadah
al-Murabahah al-Mashrafiyah
al-Muwaaadah Ala al-Murabahah.

Sedangkan di negara Indonesia dikenal dengan jual beli Murabahah atau Murabahah
Kepada Pemesanan Pembelian (KPP)
a. Pengertian
Murabahah adalah akad jual beli atas suatu barang, dengan harga yang
disepakati antara penjual dan pembeli, setelah sebelumnya penjual menyebutkan
dengan sebenarnya harga perolehan atas barang tersebut dan besarnya
keuntungan yang diperolehnya.
Al-Quran tidak pernah secara langsung membicarakan murabahah meski di sana
ada sejumlah acuan tentang jual beli, laba, rugi, dan perdagangan. Demikian
pula, tampaknya tidak ada hadis yang memiliki rujukan langsung kepada
murabahah.
Para ulama generasi awal, semisal Malik dan Syafii yang secara khusus
mengatakan bahwa jual beli murabahah adalah halal, tidak memperkuat
pendapat mereka dengan satu hadis pun. Al-Kaff (tt), seorang kritikus
murabahah kontemporer, menyimpulkan bahwa murabahah adalah salah satu
jenis jual beli yang tidak dikenal pada zaman Nabi atau para sahabatnya.
b. Landasan Hukum Murabahah
Al- Quran Surah Al-Nisaa [4]: 29
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta
sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan
yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah
kamu membunuh dirimu [larangan membunuh diri sendiri mencakup
juga larangan membunuh orang lain, sebab membunuh orang lain
berarti membunuh diri sendiri, karena umat merupakan suatu
kesatuan]; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.
Hadis riwayat Tirmidzi
Pedagang yang jujur dan terpercaya, maka dia bersama nabi, orang-orang
yang jujur, dan para syuhada.
c. Rukun dan Syarat Murabahah
1) Rukun Murabahah

Baiu (penjual).
Musytari (pembeli).

33

Mabi (barang yang diperjualbelikan).


Tsaman (harga barang).
Ijab qabul (pernyataan serah terima).

2) Syarat Murabahah

Syarat yang berakad (baiu dan musytari) cakap hukum dan tidak dalam
keadaan terpaksa.
Barang yang diperjualbelikan (mabi) tidak termasuk barang yang haram
dan jenis maupun jumlahnya jelas.
Harga barang (tsaman) harus dinyatakan secara transparan (harga pokok
dan komponen keuntungan) dan cara pembayarannya disebutkan dengan
jelas.
Pernyataan serah terima (ijab qabul) harus jelas dengan menyebutkan
secara spesifik pihak-pihak yang berakad.

Secara sederhana skema Murabahah dapat digambarkan sebagai berikut:

d. Murabahah dalam Teknis Perbankan


Umumnya murabahah diadopsi untuk memberikan pembiayaan jangka pendek
kepada para nasabah guna pembelian barang meskipun mungkin si nasabah tidak
memiliki uang untuk membayar. Murabahah, sebagaimana yang digunakan
dalam perbankan syariah, prinsipnya didasarkan pada dua elemen pokok: harga
beli serta biaya yang terkait, dan kesepakatan atas mark-up (laba). Ciri dasar
kontrak murabahah (sebagai jual beli dengan pembayaran tunda) adalah:
1) pembeli harus memiliki pengetahuan tentang biaya-biaya terkait dan harga
asli barang; batas laba (mark-up) harus ditetapkan dalam bentuk persentase
dari total harga plus biaya-biayanya;
2)

apa yang dijual adalah barang atau komoditas, dan dibayar dengan uang;

3) apa yang diperjualbelikan harus ada dan dimiliki oleh penjual, dan penjual
harus mampu menyerahkan barang itu kepada pembeli; dan

34

4) pembayarannya ditangguhkan. Murabahah seperti yang dipahami di sini,


digunakan dalam setiap pembiayaan di mana ada barang yang bisa
diidentifikasi untuk dijual.
2. Baiu Salam
a. Pengertian
Salam adalah akad jual-beli atas suatu barang dengan jenis dan dalam jumlah
tertentu yang penyerahannya dilakukan beberapa waktu kemudian, sedangkan
pembayarannya segera (di muka).
Salam Paralel merupakan dua transaksi Salam yang dilakukan secara simultan
dan melibatkan tiga pihak yang berkepentingan. Salah satu di antaranya
bertindak sebagai pembeli dan sekaligus penjual: membeli suatu barang dari
pihak kedua dan menjualnya kembali kepada pihak ketiga.
b. Landasan Syariah
QS Al-Baqarah [2]: 282
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara
tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.
Ibnu Abbas r.a. mengungkapkan, Aku bersaksi bahwa salam (salaf) yang
dijamin untuk jangka waktu tertentu telah dihalalkan Allah pada kitab-Nya
dan diizinkan-Nya, seraya membaca ayat tersebut di atas.
Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, Barangsiapa
yang melakukan salaf (salam), hendaknya ia melakukan dengan takaran yang
jelas dan timbangan yang jelas pula, untuk jangka waktu yang diketahui.
c. Rukun Salam
1) Pembeli (muslam)
2) Penjual (muslam ilaih)
3) Barang yang diperjualbelikan (muslam fih)
4) Harga barang (rasul mal)
5) Sighat (ijab qabul)

Skema akad salam dapat digambarkan sebagai berikut:

35

d. Salam Pararel dalam Teknis Perbankan


Pengertian:
Salam Paralel merupakan transaksi pembelian atas barang tertentu yang
dilakukan oleh bank dari pihak produsen atau pihak ketiga lainnya dengan
pembayaran di muka, untuk kemudian dijual kembali kepada nasabah dengan
waktu penyerahan yang disepakati.
Pembayaran oleh nasabah kepada bank dapat dilakukan di muka pada saat
ditandatanganinya akad salam atau secara tunai pada saat penyerahan barang
(salam wal baiu muthlaqah) atau dengan cara mengangsur (salam wal
murabahah).
Apabila pembayaran oleh nasabah dilakukan secara tunai atau dengan cara
mengangsur, biasanya bank mensyaratkan agar nasabah terlebih dahulu
membayar sejumlah uang muka yang diperlukan.

3. Bai Istishna

36

a. Syarat Istishna
Produsen dan pemesan (shani dan mustashni) cakap hukum, tidak dalam
keadaan terpaksa, dan tidak ingkar janji.
Produsen (shani) memiliki kapasitas dan kesanggupan untuk
membuat/mengadakan barang yang dipesan.
Barang yang dipesan (mashnu) harus jelas spesifikasinya dan tidak termasuk
yang dilarang syariah, sedangkan waktu penyerahannya sesuai kesepakatan.
Harga barang (tsaman) harus dinyatakan secara jelas dan pembayarannya
dilakukan sesuai dengan kesepakatan

b. Aplikasi Istishna Paralel dalam Teknis Perbankan

Pembiayaan modal kerja; misalnya, untuk modal kerja industri barangbarang konsumsi, termasuk garmen, sepatu, dan sebagainya.

37

Pembiayaan investasi; misalnya, untuk pengadakan barang-barang modal


seperti mesin-mesin.

Pembiayaan konstruksi (construction financing).

4. Ijarah dan Ijarah Wa Iqtina


a. Prinsip Sewa (Ijarah)
Transaksi ijarah dilandasi dengan adanya perpindahan manfaat (hak guna),
bukan perpindahan kepemilikan (hak milik). Jadi, pada dasarnya prinsip ijarah
sama dengan prinsip jual beli. Perbedaannya terletak pada objek transaksinya.
Pada jual beli, objek transaksinya barang, sedangkan pada ijarah, objek
transaksinya adalah barang maupun jasa.
Ijarah didefinisikan sebagai hak untuk memanfaatkan barang/jasa dengan
membayar imbalan tertentu (Sarkhasi, al-Mabshut, 15:74; Al-Umm, 3:250).
Menurut fatwa Dewan Syariah Nasional, ijarah adalah akad pemindahan hak
guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu melalui
pembayaran sewa/upah, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang
itu sendiri (2001). Dengan demikian, dalam akad ijarah tidak ada perubahan
kepemilikan, tetapi hanya perpindahan hak guna dari yang menyewakan kepada
penyewa.

b. Hak dan Kewajiban Kedua Belah Pihak


Apa saja kewajiban penyewa dan pihak yang menyewakan? Pihak yang
menyewakan wajib mempersiapkan barang yang disewakan untuk dapat
digunakan secara optimal oleh penyewa. Misalnya, mobil yang disewa
ternyata tidak dapat digunakan karena akinya lemah, maka yang
menyewakan wajib menggantinya. Bila yang menyewakan tidak dapat
memperbaikinya, penyewa memunyai pilihan untuk membatalkan akad
atau menerima manfaat yang rusak. Bila demikian keadaannya, apakah
harga sewa masih harus dibayar penuh? Sebagian ulama berpendapat, bila
penyewa tidak membatalkan akad, harga sewa harus dibayar penuh (Mula
Khasra, Syarh Al-Durr, 3:278 279, dan Al-Muhattab, 2:405). Sebagian
ulama lain berpendapat, harga sewa dapat dikurangkan dulu dengan biaya
untuk perbaikan kerusakan.

38

Penyewa wajib menggunakan barang yang disewakan menurut syaratsyarat akad atau menurut kalaziman penggunaannya. Penyewa juga wajib
menjaga barang yang disewakan agar tetap utuh. Bagaimana dengan
perawatan barang yang disewa? Secara prinsip tidak boleh dinyatakan
dalam akad bahwa penyewa bertanggung jawab atas perawatan karena ini
berarti penyewa bertanggung jawab atas jumlah yang tidak pasti (gharar).
Oleh karena itu, ulama berpendapat bahwa bila penyewa diminta untuk
melakukan perawatan, ia berhak untuk mendapatkan upah dan biaya yang
wajar untuk pekerjaannya itu. Bila penyewa melakukan perawatan atas
kehendaknya sendiri, ini dianggap sebagai hadiah dari penyewa dan ia tidak
dapat meminta pembayaran apa pun (Al-Fatawa Al-Hindiyah, 4:443; AlBuhuti, Kasyful Qina,4;416; Al-Ramli, Nihayatul Muhtaj, 5:264 265).
c. Kesepakatan Mengenai Harga Sewa

Misalnya, dikatakan, Saya sewakan mobil ini selama satu bulan dengan
harga sewa Rp X. Bila penyewa ingin memperpanjang masa sewa, dapat
saja harga sewanya berubah. Bahkan, pihak yang menyewakan dapat saja
meminta harga sewa dua kali lipat daripada sebelumnya. Sebaliknya,
penyewa dapat saja menawar setengah harga sewa sebelumnya. Semuanya
tergantung kesepakatan antara kedua belah pihak: penyewa dan pihak yang
menyewakan. Namun, dalam periode pertama yang telah disepakati harga
sewanya, itulah kesepakatannya. Mayoritas ulama mengatakan, Syaratsyarat yang berlaku bagi harga jual berlaku juga bagi harga sewa (AlDardir, Syarh Al-Shagir, 4:59; Al-Ramli, Nihayatul Muhtaj, 5:322, Ibnu
Qudhamah, Al-Mughni, 5:327).

Bagaimana dengan praktik para penjahit, misalnya menjelang lebaran, yang


menentukan harga jahit makin tinggi? Ulama mazhab memberikan
keleluasaan dalam menentukan harga sewa semacam itu.Al-Jaziri
mencontohkan, Jika Anda menjahitkan bajuku hari ini, upahnya satu
dirham; jika Anda menjahit bajuku besok, upahnya setengah dirham. Jika
Anda tinggal di rumah ini sebagai tukang besi, sewanya sepuluh dirham;
jika Anda tinggal di rumah ini sebagai penjual minyak wangi, sewanya
lima dirham.

Bagaimana pula dengan kebiasaan sebagian orang yang naik becak atau
ojek tanpa kesepakatan harga terlebih dahulu? Pada prinsipnya, upah harus
diketahui terlebih dahulu, sesuai dengan hadis Rasulullah Saw.,
Barangsiapa mempekerjakan seorang pekerja, harus memberitahukan
upahnya (HR Baihaqi dari Abu Hurairah). Fatwa ulama menjelaskan
bahwa harga sewa yang lazim berlaku bila ditentukan di muka. Bila
manfaat telah dinikmati, sedangkan harga sewa tidak ditentukan, maka
sewa untuk manfaat yang sama harus dibayar. (Al-Fatawa Al-Hindiyah,
4:42; Al-Maushili, Al-Ikhtiyar, 2:507)

d. Ijarah Muntahia Bit tamlik (IMBT)

Baiu wal Ijarah Muntahia Bit Tamlik (IMBT) merupakan rangkaian dua
buah akad, yakni baiu merupakan akad jual beli, dan IMBT merupakan
kombinasi antara sewa-menyewa (ijarah) dan jual beli atau hibah pada
akhir masa sewa. Dalam ijarah muntahia bit tamlik, pemindahan hak
milik barang terjadi dengan salah satu dari dua cara berikut ini:

Pihak yang menyewakan berjanji akan menjual barang yang


disewakan tersebut pada akhir masa sewa;

Pihak yang menyewakan berjanji akan menghibahkan barang


yang disewakan tersebut pada akhir masa sewa.

Pilihan untuk menjual barang pada akhir masa sewa (alternatif 1)


biasanya diambil bila kemampuan finansial penyewa untuk membayar

39

sewa relatif kecil. Karena sewa yang dibayarkan relatif kecil, akumulasi
nilai sewa yang sudah dibayarkan sampai akhir periode belum
mencukupi harga beli barang tersebut dan margin laba yang ditetapkan
oleh bank. Karena itu, untuk menutupi kekurangan tersebut, bila pihak
penyewa ingin memiliki barang tersebut, ia harus membeli barang itu
pada akhir periode.

Pilihan untuk menghibahkan barang pada akhir masa sewa (alternatif 2)


biasanya diambil bila kemampuan finansial penyewa untuk membayar
sewa relatif lebih besar. Karena sewa yang dibayarkan relatif besar,
akumulasi sewa pada akhir periode sudah mencukupi untuk menutupi
harga beli barang dan margin laba yang ditetapkan oleh bank. Dengan
demikian, bank dapat menghibahkan barang tersebut pada akhir masa
periode sewa kepada pihak penyewa.

Pada Baiu wal Ijarah Muntahia Bit tamlik (IMBT) dengan sumber
pembiayaan dari Unrestricted Investment Account (URIA), pembayaran
oleh nasabah dilakukan secara bulanan. Hal ini karena pihak bank harus
memunyai cash in setiap bulan untuk memberikan bagi hasil kepada para
nasabah yang dilakukan secara bulanan juga.

e. Ijarah wa Iqtina dalam Teknis Perbankan


1) Pengertian
Ijarah wa Iqtina (Ijarah Muntahia Bit tamlik) adalah akad sewamenyewa atas barang tertentu antara bank sebagai pemilik barang
(mujir) dan nasabah selaku penyewa (mustajir) untuk suatu jangka
waktu dan dengan harga yang disepakati. Pada akhir masa sewa, bank
memberikan opsi kepada nasabah untuk membeli barang tersebut dengan
harga yang disepakati pula.
2) Aplikasi

Pembiayaan investasi; seperti untuk pembiayaan barang-barang modal,


seperti mesin-mesin.

Pembiayaan konsumer; seperti untuk pembelian mobil, rumah, dan


sebagainya.

3) Pembiayaan Ijarah dan IMBT di Islamic Banking

Pembiayaan ijarah dan ijarah muntahia bit tamlik (IMBT) memiliki


kesamaan perlakuan dengan pembiayaan murabahah. Sampai saat ini,
mayoritas produk pembiayaan Islamic Banking masih terfokus pada
produk-produk murabahah (prinsip jual-beli). Kesamaan keduanya
bahwa pembiayaan tersebut termasuk dalam kategori natural certainty
contract, dan pada dasarnya adalah kontrak jual beli. Perbedaan kedua
jenis pembiayaan (ijarah/IMBT dengan murabahah) hanyahlah objek
transaksi yang diperjualbelikan tersebut. Dalam pembiayaan
murabahah, objek transaksi adalah barang seperti rumah dan mobil,
sedangkan dalam pembiayaan ijarah, objek transaksinya adalah jasa,
baik manfaat atas barang maupun manfaat atas tenaga kerja. Dengan
pembiayaan murabahah, Islamic Banking hanya dapat melayani
kebutuhan nasabah untuk memiliki barang, sedangkan nasabah yang
membutuhkan jasa tidak dapat dilayani. Dengan skim ijarah, Islamic
Banking dapat pula melayani nasabah yang hanya membutuhkan jasa.

e. Ijarah dan Leasing

40

Karena ijarah adalah akad yang mengatur pemanfaatan hak guna tanpa terjadi
pemindahan kepemilikan, maka banyak orang yang menyamakan ijarah ini
dengan leasing. Ini terjadi karena kedua istilah tersebut sama-sama mengacu
kepada hal sewa-menyewa. Menyamakan ijarah dengan leasing tidak
sepenuhnya salah, tapi tidak sepenuhnya benar pula. Pada dasarnya, walaupun
terdapat kesamaan antara ijarah dan leasing, ada beberapa karakteristik yang
membedakannya. Pada bagian ini, perbedaan dan persamaan antara keduanya
akan kita bahas.
Tabel berikut ini memberikan ikhtisar perbedaan dan kesamaan antara ijarah
dan leasing. Sedikitnya ada lima aspek yang dapat kita cermati, yakni objek,
metode pembayaran, perpindahan kepemilikan, lease purchase, dan sale and
lease back.

E. Sistem Pembiayaan Lain (Other Financing)


1. Hawalah
a. Rukun Hawalah:
Pihak yang berhutang (muhil)
Pihak yang berpiutang (muhal)
Pihak yang menerima pengalihan hutang-piutang (muhal alaih)
Sighat (ijab qabul)
b. Hawalah dalam Teknis Perbankan
Pengertian:
Hawalah adalah akad pengalihan piutang nasabah (muhal) kepada bank (muhal
alaih). Nasabah meminta bantuan bank agar membayarkan terlebih dahulu
piutangnya atas transaksi yang halal dengan pihak yang berhutang (muhil).
Selanjutnya bank akan menagih kepada pihak yang berhutang tersebut.
Atas bantuannya membayarkan terlebih dahulu piutang nasabah, bank dapat
membebankan fee jasa penagihan. Penetapannya dilakukan dengan
memerhatikan besar-kecilnya risiko tidak tertagihnya piutang.

41

2. Rahn
a. Rukun Rahn
Pihak yang menggadaikan (rahin)
Pihak yang menerima gadai (murtahin)
Barang yang digadaikan (marhun.
Hutang/pinjaman (marhun bih)
Sighat (Ijab qabul)
b. Syarat Rahn
Pihak yang menggadaikan (rahin) dan pihak yang menerima gadai
(murtahin) cakap hukum serta sama-sama ikhlas
Pihak yang menggadaikan (rahin) memunyai kemampuan untuk
mengembalikan pinjaman.
Barang yang digadaikan (marhun) benar-benar milik rahin dan bebas
dari ikatan atau syarat apa pun.
Jumlah hutang (marhun bih) disebutkan dengan jelas.
c. Rahn dalam Teknis Perbankan
Rahn merupakan produk penunjang sebagai alternatif pegadaian,
terutama untuk membantu nasabah dalam memenuhi kebutuhan
insidentilnya yang mendesak.
Bank tidak menarik manfaat apa pun, kecuali biaya pemeliharaan dan
keamanan atas barang yang digadaikan.
Akad rahn dapat pula diaplikasikan untuk memenuhi permintaan bank
akan jaminan tambahan atas suatu pemberian fasilitas pembiayaan
kepada nasabah.

42

3. Qardh
a. Landasan Syariah
QS Al-Hadiid [57]:11
Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik,
maka Allah akan melipat gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya,
dan dia akan memeroleh pahala yang banyak.
Hadis riwayat Muslim, Barangsiapa yang telah melepaskan
saudaranya yang muslim satu dari kesusahan dunia, maka Allah akan
membantunya di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah senantiasa
membantu seorang hamba selama hamba tersebut membantu
saudaranya.
Hadis riwayat Ibnu Majah, Tidaklah seorang muslim meminjamkan
muslim (lainnya) dua kali kecuali yang satunya adalah (senilai)
sedekah.Hadis riwayat Ibnu Majah, Aku melihat pada waktu malam
di-isra-kan pada pintu surga tertulis: Sedekah dibayar sepuluh kali lipat
dan qardh 18 kali. Aku bertanya, Wahai Jibril, mengapa qardh lebih
utama daripada sedekah? Ia menjawab, Karena peminta, minta
sesuatu dan ia punya, sedangkan yang meminjam tidak akan meminjam
kecuali keperluan.
b. Aplikasi dalam Perbankan
Mengingat sifatnya bukan transaksi komersial dan tanpa kompensasi,
maka qardh menggunakan sumber dana yang berasal:
Untuk membantu dana talangan yang bersifat jangka pendek, digunakan
modal bank.
Untuk membantu usaha sangat kecil dan keperluan sosial, digunakan
dana yang bersumber dari zakat, infak, dan sedekah.