Anda di halaman 1dari 15

SATUAN ACARA PENYULUHAN

PEMBERIAN ASI EKSLUSIF BESERTA MANFAATNYA


DI RUANG F1 RUMKITAL DR RAMELAN
SURABAYA

OLEH:
1. Endah Ettriyani

(143.0026)

2. Henny Enarotalis (143.0035)


3. Isfarayini

(143.0039)

4. Jullyana C.H

(143.0042)

5. Nia Aimatul F

(143.0060)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


STIKES HANG TUAH SURABAYA
2015
BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
ASI Ekslusif menurut WHO adalah pemberian ASI saja pada bayi sampai
usia 6 bulan tanpa tambahan cairan ataupun makanan lain. Menurut Depkes RI
(2005) ASI Eklusif adalah pemberian hanya ASI saja tanpa makanan dan
minuman lain. Proses pemberian ASI hingga bayi berusia 2 tahun dapat
mendatangkan kentungan secara psikologis. Kontak fisik antara ibu dan bayinya
melalui aktivitas menyusui ini bisa memberikan rasa tenang dan mengurangi stres.
Bila bayi yang baru lahir dipisahkan dengan ibunya, maka hormon stres akan
meningkat. Peningkatan hormon stres akan menyebabkan turunnya sistem
kekebalan atau daya tahan tubuh bayi. Sementara itu, jika dilakukan kontak antara
kulit ibu dan bayi niscaya hormon stres kembali turun, sehingga bayi menjadi
lebih tenang, tidak stres, serta pernapasan dan detak jantungnya lebih stabil.
Sentuhan dari bayi juga merangsang hormon lain yang membuat ibu menjadi
lebih tenang, rileks, dan mencintai bayinya, serta merangsang mengalirnya ASI
dari payudara (Prasetyono, 2012).
WHO, UNICEF, dan Departemen Kesehatan Republik Indonesia melalui
SK Menkes No 450/ Men.Kes/SK/IV/2004 tanggal 7 april 2004 telah menetapkan
rekomendasi pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan. Dalam rekomendasi ini,
dijelaskan bahwa untuk mencapai pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan
yang optimal, bayi harus diberi ASI eksklusif selama 6 bulan pertama.
Selanjutnya, demi tercukupinya nutrisi bayi, maka ibu mulai memberikan
makanan pendamping ASI dan ASI hingga bayi berusia 2 tahun atau lebih.
Sebagian besar pertumbuhan dan perkembangan bayi ditentukan oleh
pemberian ASI ekslusif. ASI mengandung zat gizi yang tidak terdapat dalam susu
formula. Komposisi zat dalam ASI antara lain 88,1% air , 3,8% lemak , 0,9%
protein, 7% laktosa, serta 0,2% zat lainnya berupa DHA, DAA, shpynogelin, dan
zat gizi lainnya. Angka ASI Eksklusif di Indonesia bervariasi, yakni sekitar 30
60%. Suatu penelitian yang telah dilakukan di NTB dengan metode kohort, baik
di daerah rural maupun urban, menunjukkan bahwa ASI Eksklusif hanya berkisar
2% (angka resmi dari dinas kesehatan diatas 30%).
1.2 Tujuan

1. Tujuan Umum
Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan tentang ASI Eksklusif
diharapkan ibu (peserta) mengetahui, memahami dan menerapkan pemberian
ASI eksklusif.
2. Tujuan Khusus
Setelah mendapatkan penyuluhan diharapkan sasaran penyuluhan mampu:
a. Mengetahui pengertian ASI Eksklusif
b. Mengetahui manfaat ASI Eksklusif
c. Mengetahui cara menjaga kualitas dan kuantitas ASI
d. Mengetahui cara menyusui dengan benar
1.3 Manfaat
a. Bagi Peserta
Peserta dapat memahami ASI ekslusif beserta manfaatnya yang telah
diperoleh dari kegiatan penyuluhan kesehatan.
b. Bagi mahasiswa
1) Sebagai pembelajaran tentang ASI ekslusif
pembelajaran keperawatan maternitas
2) Membantu memberikan penyuluhan

kesehatan

dalam

proses

bagi

peserta

penyuluhan.
3) Menambah pengetahuan tentang pemberian ASI ekslusif

BAB II
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
Pokok Bahasan : Pemberian ASI Eksklusif beserta mafaatnya
Hari/Tanggal

: 14 Mei 2015

Tempat

: Ruang F1

Sasaran

: Pasien dan keluarga

Waktu

: 15 menit

1. Tujuan Pembelajaran
1). Tujuan Instruksional Umum
Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan tentang ASI Eksklusif
diharapkan ibu (peserta) mengetahui, memahami dan menerapkan
pemberian ASI eksklusif.
2). Tujuan Instruksional Khusus
Setelah menerima penyuluhan kesehatan, diharapkan peserta
penyuluhan di Ruang F1 Rumkital DR Ramelan Surabaya mampu :
a. Memahami dan menjelaskan pengertian ASI Eksklusif
b. Memahami dan mampu menjelaskan manfaat ASI Eksklusif
c. Memahami dan mampu menjelaskan bagaimana menjaga kualitas
dan kuantitas ASI
d. Memahami dan mampu menyebutkan cara menyusui dengan benar
2. Sasaran
Pasien (ibu) dan keluarga pasien yang menunggu pasien selama menjalani
perawatan di Ruang F1 Rumkital DR Ramelan Surabaya.

3. Setting tempat

Keterangan :
Peserta / sasaran
Pemateri
Fasilitaor/ observer/ Moderator
4. Materi
a. Pengertian ASI eksklusif
b. Manfaat ASI eksklusif
e.

c. Menjaga Kualitas dan Kuantitas ASI


d. Cara menyusui dengan benar

5. Metode
a. Ceramah
b. Tanya jawab
c. Diskusi

6. Media atau Alat Bantu


a. Flipchart
b. Leaflet

7.
8. Proses Penyuluhan
9.
N

10. Fase

13.
1

17.
2

14. Pem
buka
an:
15. 1
meni
t
18. Pela
ksan
aan:
19. 10
meni
t

25.
3

29.
4

12. Kegiatan
Sasaran

11. Kegiatan

26. Eval
uasi:
27. 3
meni
t
30. Term
inasi:
31. 1

meni
t

Memberi salam pembuka


Memperkenalkan diri
Menjelaskan pokok bahasan dan
tujuan penyuluhan
Membagi leafleat

Menjawab salam
Memperhatikan
Memperhatikan
16.
Memperhatikan

Menjelaskan definisi ASI


Eksklusif
Menjelaskan manfaat ASI
Eksklusif
Menjelaskan Kualitas dan
Kuantitas ASI
Menjelaskan cara menyusui
dengan benar
Memberikan kesempatan
peserta bertanya pada pemateri

Memperhatikan
20.
Memperhatikan
21.
Memperhatikan
22.
Memperhatikan
23.
Tanya jawab
24.

28. Menanyakan kepada peserta


tentang materi yang telah
diberikan

Mengucapkan terima kasih atas


peran serta peserta
Mengucapkan salam penutup

Mendengarkan
32.
Menjawab salam

33.
34. Kriteria Evaluasi
35. Evaluasi Struktur :
a. Satuan acara penyuluhan (SAP) sudah siap
b. 80% alat dan bahan yang diperlukan sudah tersedia
36.
37.

Evaluasi Proses

Menjawab
pertanyaan

a.
b.
c.
d.
e.

Kegiatan berlangsung tepat waktu


Peserta yang hadir 90 % dari total peserta
90 % peserta berada ditempat sesuai waktu yang telahditentukan
90% peserta tetap mengikuti kegiata penyuluhan sampai selesai
70% peserta yang aktif bertanya

38.
39. Evaluasi Hasil
a. Peserta dapat menyebutkan pengertian ASI Eksklusif
b. Peserta dapat menyebutkan manfaat ASI Eksklusif
c. Peserta dapat menyebutkan cara menjaga Kualitas dan Kuantitas ASI
d. Peserta dapat menjelaskan cara menyusui dengan benar
40.
41.
42. Pengorganisasian
MC dan Moderator
: Henny Enarotalis., S.Kep
43.
Fungsi :
44.
Membuka, mengatur dan menutup jalannya penyuluhan
Penyaji
: Endah Ettriyani., S.Kep
45.
Fungsi :
46.
Menyajikan materi penyuluhan
Notulen
: Jullyana Christen., S.Kep
47.
Fungsi :
48.
Mendokumentasikan dan menyimpulkan hasil diskusi saat
penyuluhan
Observer
: Nia Aimatul., S.Kep
49.
Fungsi :
50.
Mengamati dan memberikan evaluasi terhadap jalannya pendidikan
kesehatan
Fasilitator
51.
52.

: Henny E, Jullyana C, Isfarayini, Nia A.


Fungsi
Mendampingi pasien dan memfasilitasi pasien saat jalannya
penyuluhan.
: Isfarayini ., S.Kep

Dokumentasi
53.
Fungsi
54.
Mendokumentasikan setiap kegiatan penyuluhan.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.
62.
63.
64.

65.
66.
67.
68. MATERI
69. PEMBERIAN ASI EKSLUSIF BESERTA MANFAATNYA
A. Pengertian ASI Eksklusif
70. ASI Ekslusif menurut WHO adalah pemberian ASI saja pada bayi
sampai usia 6 bulan tanpa tambahan cairan ataupun makanan lain. Menurut
Depkes RI (2005) ASI Eklusif adalah pemberian hanya ASI saja tanpa
makanan dan minuman lain. Pemberian ASI merupakan metode pemberian
makanan bayi yang terbaik, terutama bayi yang berumur kurang dari 6 bulan.
ASI mengandung berbagai zat gizi dan cairan yang dibutuhkan untuk
mencukupi kebutuhan gizi bayi pada 6 bulan pertama setelah kelahiran
(Prasetyo, 2012).
71.
B. Manfaat ASI Eksklusif
72. Beberapa manfaat ASI bagi bayi :
1. ASI merupakan komposisi makanan yang ideal untuk bayi. Ketika bayi
berusia 6 -12 bulan, ASI bertindak sebagai makanan utama bayi, karena
mengandung lebih dari 60% kebutuhan bayi. Guna memenuhi semua
kebutuhan bayi, maka ASI perlu ditambah dengan Makanan Pendamping
ASI (MP ASI). Setelah berumur 1 tahun, meskipun ASI hanya bisa
memenuhi 30% dari kebutuhan bayi, pemberian ASI tetap dianjurkan karena
masih memberikan manfaat bagi bayi. Manfaat kolostrum dari aspek gizi
adalah : mengandung zat kekebalan terutama IgA untuk melindungi bayi
dari berbagai penyakit infeksi terutama diare. Jumlah kolostrum yang
diproduksi bervariasi tergantung dari hisapan bayi pada hari-hari pertama
kelahiran. Walaupun sedikit tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi
bayi. Oleh karena itu kolostrum harus diberikan pada bayi. Kolostrum
mengandung protein, vitamin A yang tinggi mengandung karbohidrat dan
lemak rendah, sehingga sesuai dengan kebutuhan gizi bayi pada hari-hari
pertama kelahiran. Dan manfaat lainnya yakni, membantu mengeluarkan
mekonium (feses bayi).
2. Pemberian ASI dapat mengurangi resiko infeksi lambung dan usus,
sembelit, serta alergi. Bayi yang diberi ASI lebih kebal terhadap penyakit

ketimbang bayi yang tidak memperoleh ASI. Ketika ibu tertular penyakit
melalui makanan, seperti gastroenteritis atau polio, maka antibodi ibu
terhadap penyakit akan diberikan kepada bayi melalui ASI. Menurut
DEPKES RI (2001) manfaat ASI yakni : ASI mengandung zat anti infeksi,
bersih dan bebas kontaminasi. Immunoglobin A dalam ASI kadarnya tinggi
yang dapat melumpuhkan bakteri patogen E.Coli dan berbagai virus di
saluran cerna. Mengandung Laktoferin yaitu sejenis protein yang
merupakan komponen zat kekebalan yang mengikat zat besi di saluran
cerna. Serta mengandung Lysosom, enzim yang melindungi bayi terhadap
E.Coli, salmonella dan virus. Jumlah lysosim dalam ASI 300 kali lebih
banyak dari pada susu sapi
3. Bayi yang diberi ASI lebih mampu menghadapi efek penyakit kuning.
Jumlah bilirubin dalam darah bayi banyak berkurang seiring diberikannya
kolostrum yang dapat mengatasi kekuningan, asalkan bayi tersebut disusui
sesering mungkin dan tidak diberi pengganti ASI.
4. ASI selalu siap sedia ketika bayi menginginkannya. ASI pun selalu dalam
keadaan steril dan suhunya juga cocok.
5. Bila bayi sakit, ASI adalah makanan yang terbaik untuk diberikan
kepadanya, karena ASI sangat mudah dicerna. Dengan mengkonsumsi ASI
bayi semakin cepat sembuh.
6. Bayi yang prematur lebih cepat tumbuh jika diberi ASI. Komposisi ASI
akan teradaptasi sesuai kebutuhan bayi. ASI bermanfaat untuk menaikkan
berat badan dan menumbuhkan sel otak pada bayi prematur.
7. IQ pada bayi yang memperoleh ASI lebih tinggi 7 9 point ketimbang bayi
yang tidak diberi ASI. Menurut DEPKES RI (2001) dilihat dari aspek
kecerdasan yakni, AS mengandung berbagai zat gizi yang bisa
meningkatkan kecerdasan bayi, seperti asam lemak esensial, protein,
vitamin B komplek, yodium, zat besi dan seng.
8. Menyusui bukan sekedar memberi makan, dari aspek psikologis juga
mendidik anak. Sambil menyusui, ibu perlu mengelus bayi dan
mendekapnya dengan hangat. Tindakan ini bisa memunculkan rasa aman
pada bayi, sehingga kelak ia akan memiliki tingkat emosi dan spiritual yang
tinggi.hal itu menjadi dasar bagi pembentukan sumber daya manusia yang
lebih baik, yang menyayangi orang lain.

73. Manfaat bagi ibu yang menyusui :


1. Isapan bayi dapat membuat rahim menciut, mempercepat kondisi ibu untuk
kembali ke masa prakehamilan, serta mengurangi risiko perdarahan.
2. Lebih cepat langsing kembali. Lemak disekitar panggul dan paha yang
ditimbun pada masa kehamilan berpindah ke dalama ASI
3. Mengurangi risiko terkena kanker. Risiko terkena kanker rahim dan kanker
payudara pada ibu yang menyusui bayi lebih rendah ketimbang ibu yang
tidak menyusui bayi
4. ASI selalu bebas kuman, sedangkan campuran susu formula belum tentu
steril.
5. ASI lebih praktis dan ekonomis. Lantaran ibu bisa berjalan-jalan ke luar
rumah tanpa harus membawa perlengkapan seperti botol, kaleng susu
formula, air panas dan lain-lain.
6. ASI tidak akan basi, karena senantiasa diproduksi oleh pabriknya di
wilayah payudara. Bila gudang ASI kosong, ASI yang tidak dikeluarkan
akan diserap kembali oleh tubuh ibu.
74. ASI bermanfaat bagi keluarga :
1. Tidak perlu menghabiskan banyak uang untuk membeli susu formula, botol
susu, serta kayu bakar atau minyak tanah untuk merebus air, susu, dan
peralatannya.
2. Jika bayi sehat, berarti keluarga mengeluarkan lebih sedikit biaya guna
perawatan kesehatan
3. Kelahiran jarang lantaran efek kontrasepsi LAM dari ASI Eklsklusif
4. Keluarga tidak perlu repot menyediakan botol susu, susu formula, air panas
dan sebagainya.
75. ASI bermanfaat bagi masyarakat dan negara :
1. Menghemat devisa negara lantaran tidak perlu mengimpor susu formula
dan peralatan lainnya.
2. Bayi sehat membuat negara lebih sehat
3. Penghematan pada sektor kesehatan, karena jumlah bayi yang sakit hanya
sedikit
4. Memperbaiki kelangsungan hidup anak dengan menurunkan angka
kematian.
76.
C. Kualitas dan Kuantitas ASI

77. Pada dasarnya, kebutuhan bayi terhadap ASI dan produksi ASI
sangat bervariasi. Oleh karena itu, ibu sulit memprediksi tercukupinya
kebutuhan ASI pada bayi. Terkait hal ini ibu perlu memperhatikan tanda-tanda
kelaparan atau kepuasan yang ditunjukkan oleh bayi, serta pertambahan berat
badan bayi sebagai indikator kecukupan bayi terhadap ASI. Berikut berbagai
hal yang berhubungan dengan kualitas dan kuantitas ASI :
1. Makanan dan gizi ibu saat menyusui
78.
Makanan yang dikonsumsi oleh ibu pada masa menyusui tidak
secara langsung mempengaruhi mutu, kualitas, maupun jumlah air susu
yang dihasilkan. Ibu yang menyusui membutuhkan 300 500 kalori
tambahan setiap hari agar bisa menyusui bayinya dengan sukses. Ibu yang
menyusui

tak

perlu

makan

berlebihan,

cukup

dengan

menjaga

keseimbangan konsumsi gizi. Sebenarnya, aktivitas menyusui bayi dapat


dapat mengurangi berat badan ibu, sehingga ibu bisa langsing kembali.
Terkait itu, bila diet atau menaha lapar akan mengurangi produksi ASI.
79.

81.

Jenis makanan

85.
Susu (sapi atau
kedelai)
89.
Protein hewani,
misalnya daging
matang, ikan, serta
unggas, dan protein
nabati
93.
Telur
97.
Buah dan
sayuran yang
mengandung banyak
vitamin A (sayuran
hijau atau kuning),
brokoli, kailan,
kangkung, caisim, labu,
wortel dan tomat.
101. Buah dan

80.
Tabel Gizi
82.
Ketika ibu tidak
hamil dan 4 bulan pertama
kehamilan
86.

600 ml

83.

5 bulan
terakhir
kehamilan

87.

91.

1200 ml

12
porsi

84.

Sa

at
menyusui
88.
12
00 ml
92.
3
porsi atau
lebih

90.

1 porsi

94.

1 butir

95.

1 butir

96.
1
butir

98.

1 porsi

99.

1 porsi

100. 1
porsi

1 2 porsi

103.

2 porsi

104.

102.

sayuran yang banyak


mengandung vitamin C
(jeruk, taoge, tomat,
porsi
melon, pepaya,
mangga, dan jambu)
105. Biji-bijian
(beras merah, roti
107. 3 4
108. 3
106. 3 4 porsi
wholemeal, havermut,
porsi
4 porsi
kacang2an)
109. Mentega,
margarin, dan minyak
110. Digunakan secukupnya
sayur
111.
2. Kondisi psikis
112.
Produksi ASI sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan,
misalnya kegelisahan, kurang percaya diri, rasa tertekan dan berbagai
bentuk ketegangan emosional. Semuanya itu bisa membuat ibu tidak
berhasil menyusui bayinya dengan baik. Pada dasarnya, keberhasilan
menyusui bayi ditentukan dua hal, yakni refleks prolaktin dan let down
reflex.
113.
114.

Refleks prolaktin didasarkan pada kondisi kejiwaan ibu

yang mempengaruhi rangsangan hormonal untuk memproduksi ASI.


Semakin tinggi tingkat gangguan emosional, semakin sedikit rangsangan
hormon prolaktin yang diberikan untuk memproduksi ASI. Ketika bayi
menghisap puting susu terjadilah rangsangan neurohormonal pada puting
susu dan areola ibu. Rangsangan diteruskan ke hypophyse melalui nervus
vagus dan ke lobus anterior. Dari lobus itulah akan dikeluarkan hormon
prolakti, yang masuk ke peredaran darah dan sampai di kelenjar-kelenjar
pembuat ASI. Kelenjar tersebut akan teragsang untuk membuat ASI.
115.
Let down reflex berhubungan dengan naluri bayi dalam
mencari puting payudara. Bila bayi didekatkan ke payudara ibu, maka bayi
akan memutar kepalanya (rooting reflex) ke arah payudara ibu. Kemudian
menghisap. Untuk menghasilkan air susu maksimal, ibu membutuhkan
ketenangan. Perasaan tenang dapat membuat ibu lebih rileks dalam
menyusui bayi. Dengan demikian air susu lebih maksimal.
3. Penggunaan alat kontrasepsi

116.

Ibu yang menyusui tidak dianjurkan menggunakan alat

kontrasepsi berupa pil yang mengandung hormon estrogen. Sebab, hal ini
dapat mengurangi jumlah produksi ASI, bahka bisa menghentikan produksi
ASI. Oleh karena itu, hendaknya ibu menggunakan KB alami, kondom,
atau IUD ketimbang menggunakan KB hormonal (pil,suntik, dan susuk).
Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) bisa berupa IUD atau spiral dapat
merangsang uterus ibu dan meningkatkan kadar hormon oksitosin, yaitu
hormon yang bisa merangsang produksi ASI.
117.
D. Cara menyusui yang baik dan benar
118. Sesungguhnya, ada tiga posisi dasar menyusui hingga proses menyusui
dapat berjalan lancar dan nyaman. Yakni ;
119.
1. Posisi mulut bayi dan payudara ibu (pelekatan)
a) Bayi datang dari arah bawah, sehingga bayi mendongak dengan hidung
bayi berhadapan dengan puting payudara. Dagu bayi ditempelkan pada
payudara,

dan

pipi

bayi

tampak

menggelembung.
b) Bibir bawah, dagu, atau pipi bayi dirangsang
dengan payudara. Tujuannya agar mulut bayi
terbuka lebar. Saat itu, bayi didekatkan ke
payudara dengan cara menekan punggung dan bahu bayi. Ibu tidak
boleh

menekan

kepala

bayi

atau

membenamkan seluruh bagian wajah bayi ke


payudara, sehingga bayi sulit bernapas.
c) Ibu memastikan bahwa mulut bayi berada pada
posisi sedemikian rupa, sehingga gusinya
menggigit areola atau sekeliling puting payudara.
d) Areola bagian atas mesti terlihat lebih luas ketimbang bagian bawah.
Saat itu, mulut bayi terbuka lebar, sedangkan
bibir bawahnya terputar keluar.
2. Posisi badan ibu
a. Posisi ibu duduk

1) Ibu duduk tegak dan pangkuan rata, serta kaki dipijakkan ke tanah
secara rata
2) Ibu bisa menggunakan bantal atau kantong pangkuan untuk menyangga
berat badan bayi, dan agar bayi sejajar dengan payudara.
3) Ibu menggendong bayi menggunakan lengan kanan bila menyusui
dengan payudara kiri. Demikian pula sebaliknya.
4) Ibu membuat pangkal leher dan kepala bayi leluasa bergerak ke
belakang saat menengadah.
5) Ibu mengangkat bayi agar hidungnya sejajar dengan puting payudara
6) Bila bayi telah
dapat menyusu dengan
baik,

ibu

bisa

memindahkan bayi ke

lengan sebelah
b. Posisi ibu tidur
120.Posisi miring

miring
dinilai

kurang

tepat,

karena posisi payudara

diatas kepala, sehingga

mulut

sulit

mencapai

Bila

keadaan

payudara

bayi
ibu.

berlanjut,bayi

puting
ini

terus

akan

frustasi dan mulai menangis. Jika ibu


menyukai posisi miring, hendaknya ibu
mengusahakan

agar

putingnya

sejajar

mulut bayi, sehingga mulut bayi dapat


lebih mudah mencapai puting dan leluasa menghisapnya.
121.
122.
c. Posisi ibu terlentang
123.Posisi ibu dengan telentang juga dinilai kurang tepat. Sebab, air
susu yang diisap bayi seharusnya menurun,
bukan ke atas. Hal ini akan membuat bayi
bekerja

keras

sekuat

tenaga

untuk

memompa naik air susu ibunya. Untuk


lebih jelasnya mengenai posisi telentang
yang tepat, perhatikan gambar tersebut.
3. Posisi badan ibu dan bayi
124.
Agar ibu mengetahui berbagai posisi menyusui yang tepat,
hendaknya ibu memperhatikan gambar-gambar berikut :

1) Posisi cradle
2) Posisi football
5)

3) Posisi cross cradle (transisi)


4) Posisi tidur miring
6)

7)
8)
9)
10)
11)
12)
13)
14)
15) DAFTAR PUSTAKA
16) Prasetyo, Dwi Sunar. 2012. Buku pintar ASI Eksklusif. Yogyakarta :
DIVA Press
17)

http://babyorchestra.wordpress.com/2010/10/25/asi-dan-manfaat-

hebatnya