Anda di halaman 1dari 16

BAB I.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Budidaya kakao (Theobroma cacao L.) dewasa ini ditinjau dari penambahan
luas areal di Indonesia terutama kakao rakyat sangat pesat, karena kakao merupakan
salah satu komoditas unggulan nasional setelah tanaman karet, kelapa sawit, kopi,
dan teh. Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang berperan penting
bagi pertumbuhan perekonomian Indonesia terutama dalam penyediaan lapangan
kerja baru, sumber pendapatan petani dan penghasil devisa bagi negara.
Kakao merupakan tanaman tahunan yang mulai berbunga dan berbuah umur 3-4
tahun setelah ditanam. Apabila pengelolaan tanaman kakao dilakukan secara tepat,
maka masa produksinya dapat bertahan lebih dari 25 tahun, selain itu untuk
keberhasilan budidaya kakao perlu memperhatikan kesesuaian lahan dan faktor bahan
tanam. Penggunaan bahan tanam kakao yang tidak unggul mengakibatkan pencapaian
produktivitas dan mutu biji kakao yang rendah, oleh karena itu sebaiknya digunakan
bahan tanam yang unggul dan bermutu tinggi (Raharjo,1999).
Indonesia merupakan negara terbesar ketiga mengisi pasokan kakao dunia yang
diperkirakan mencapai 20% bersama Negara Asia lainnya seperti Malaysia, Filipina,
dan Papua New Guinea. Peningkatan luas areal pertanaman kakao belum diikuti oleh
produktivitas dan mutu yang tinggi.
1.2. Tujuan
1. Untuk mengetahui cara perbanyakan kakao secara generative (biji) dan secara
.vegetative (okulasi).
2. Untuk mengetahui kelemahan dan keunggulan perbanyakan secara vegetative dan
.generatif
3. Untuk mengetahui factor yang harus diperhatikan supaya okulasi tanaman kakao
.berhasil.

BAB 2.TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Tanaman Kakao
Kakao termasuk tanaman perkebunan berumur tahunan. Tanaman tahunan ini
dapat mulai berproduksi pada umur 3-4 tahun . Tanaman kakao menghasilkan biji
yang selanjutnya bisa diproses menjadi bubuk coklat. Sistematik tanaman kakao
menurut Tjitrosoepomo (1988) adalah sebagai berikut:
Divisio

: Spermatophyta

Subdivisio

: Angiospermae

Ordo

: Malvales

Famili

: Sterculiaceae

Genus

: Theobroma

Spesies

: Theobroma cacao L.

Kakao merupakan tanaman perkebunan di lahan kering, dan jika di usahakan


secara baik dapat berproduksi tinggi serta menguntungkan secara ekonomis. Sebagai
salah satu tanaman yang dimanfaatkan bijinya, maka biji kakao dapat dipergunakan
untuk bahan pembuat minuman, campuran gula-gula dan beberapa jenis makanan
lainnya bahkan karena kandungan lemaknya tinggi biji kakao dapat dibuat cacao
butter/mentega kakao, sabun, parfum dan obat-obatan.
Sunanto (1994) mengatakan bahwa sesungguhnya terdapat banyak jenis
tanaman kakao, namun jenis yang paling banyak ditanam untuk produksi cokelat
secara besar-besaran hanya tiga jenis, yaitu:
1) Jenis Criollo, yang terdiri dari Criollo Amerika Tengah dan Criollo Amerika
Selatan. Jenis ini menghasikan biji kakao yang mutunya sangat baik dan dikenal
sebagai kakao mulia. Jenis kakao ini terutama untuk blending dan banyak dibutuhkan
oleh pabrik-pabrik sebagai bahan pembuatan produk cokelat yang bermutu tinggi.
Saat ini bahan tanam kakao mulia banyak digunakan karena produksinya tinggi serta
cepat sekali mengalami fase generatif.

2) Jenis Forastero, banyak diusahakan diberbagai negara produsen cokelat dan


menghasilkan cokelat yang mutunya sedang atau bulk cacao, atau dikenal juga
sebagai ordinary cacao. Jenis Forastero sering juga disebut sebagai kakao lindak.
Kakao lindak memiliki pertumbuhan vegetatif yang lebih baik, relatif lebih tahan
terhadap serangan hama dan penyakit dibandingkan kakao mulia. Endospermanya
berwarna ungu tua dan berbentuk bulat sampai gepeng, proses fermentasinya lebih
lama dan rasanya lebih pahit dari pada kakao mulia.
3) Jenis Trinitario, merupakan campuran atau hibrida dari jenis Criollo dan Forastero
secara alami, sehingga kakao ini sangat heterogen. Kakao jenis Trinitario
menghasilkan biji yang termasuk fine flavour cacao dan ada yang termasuk bulk
cacao. Jenis Trinitario antara lain hybride Djati Runggo (DR) dan Uppertimazone
Hybride (kakao lindak). Kakao ini memiliki keunggulan pertumbuhannya cepat,
berbuah setelah berumur 2 tahun, masa panen sepanjang tahun, tahan terhadap
penyakit VSD (Vascular streak dieback) serta aspek agronominya mudah.
2.2 Karakteristik tanaman kakao
2.2.1 Akar
Kakao adalah tanaman dengan surface root freeder, artinya sebagian akar
lateralnya (mendatar) berkembang dekat permukaan tanah, yaitu pada kedalaman
(jeluk) 0 30 cm. Menurut Himme (Smyth, 1960 dalam Puslit Kopi dan Kakao 2004)
56% akar lateral tumbuh pada jeluk 0-10 cm, 26% pada jeluk 11- 20 cm, 14% pada
jeluk 21-30 cm, dan hanya 4% tumbuh pada jeluk diatas 30 cm dari permukaan tanah.
Jangkauan akar lateral jauh dari luar proyeksi tajuk tanaman, selain itu pada akar
kakao terdapat cendawan mikoriza yang membantu penyerapan unsur hara tertentu
terutama unsur P. Tanaman kakao yang dikembangkan secara vegetatif tidak memiliki
akar tunggang, namun nantinya akan membentuk dua akar yang menyerupai akar
tunggang (Susanto, 1994).

2.2.2 Batang dan cabang


Habitat asli tanaman kakao adalah hutan tropis dengan naungan pohonpohon
yang tinggi, curah hujan tingi, suhu sepanjang tahun relatif sama, serta kelembaban
tinggi dan relatif tetap. Kondisi habitat seperti itu, tanaman kakao akan tumbuh tinggi
tetapi bunga dan buahnya sedikit. Jika dibudidayakan dikebun, tinggi tanaman umur
tiga tahun mencapai 1,8 3,0 meter dan pada umur 12 tahun dapat mencapai 4,50
7,0 meter (Hall, 1932 dalam Puslit Kopi dan Kakao 2004). Tanaman kakao bersifat
dimorfisme, artinya mempunyai dua bentuk tunas vegetatif. Tunas yang arah
pertumbuhannya ke atas disebut dengan tunas ortotrop atau tunas air (wiwilan atau
chupon), sedangkan tunas yang arah pertumbuhannya ke samping disebut dengan
plagiotrop (cabang kipas atau fan).
2.2.3 Daun
Sama dengan sifat percabangannya, daun kakao juga bersifat dimosfirme artinya
bersifat tumbuh ke dua arah. Pada tunas ortotrop, tangkai daunnya panjang, yaitu 7,510 cm, sedangkan pada tunas plagiotrop panjang tangkai daunnya hanya 2,5 cm
(Hall, 1932, dalam Puslit Kopi dan Kakao, 2004). Bentuk helai daun bulat
memanjang (oblongus), ujung daun meruncing (acuminatus), dan pangkal daun
runcing (acatus). Susunan tulang daun menyirip dan tulang daun menonjol
kepermukaan bawah helai daun. Permukaan daun licin dan mengkilap.
2.2.4 Bunga
Tanaman kakao berbunga sepanjang tahun dan tumbuh secara berkelompok
pada bantalan bunga yang menempel pada bunga tua, cabangcabang dan rantingranting (Sunanto, 1994). Tanaman kakao bersifat kauliflori, artinya bunga tumbuh
dan berkembang dari bekas ketiak daun pada batang dan cabang. Tempat bunga
tersebut semakin lama semakin membesar dan menebal atau biasa disebut dengan
bantalan bunga ( cushion) (Puslit Kopi dan Kakao, 2004).
2.2.5 Buah dan biji
Warna buah tanaman kakao sangat beragam, tetapi pada dasarnya hanya ada dua
macam warna. Buah yang ketika muda berwarna hijau atau hijau agak putih jika
4

sudah masak akan berwarna kuning. Sementara itu, buah yang ketika muda berwarna
merah, setelah masak berwarna jingga (orange). Kulit buah memiliki 10 alur dalam
dan dangkal silih berganti. Untuk jenis Criollo dan Trinitario alur buah nampak jelas,
kulit tebal tetapi lunak dan permukaan kasar.
Sedangkan jenis Forastero umumnya permukaan halus atau rata dan kulit buah tipis
(Susanto, 1994; Puslit Kopi dan Kakao, 2004).
2.3 Syarat tumbuh kakao
Di daerah tempat asalnya (Amerika Selatan), tanaman kakao tumbuh subur di
hutan-hutan dataran rendah dan hidup dibawah naungan pohon-pohon yang tinggi.
Kesuburan tanah, kelembaban udara, suhu dan curah hujan berpengaruh besar
terhadap pertumbuhan tanaman kakao. Susanto (1994) mengatakan bahwa kakao
mempunyai persyaratan tumbuh sebagai berikut : curah hujan 1.600 3.000 mm
tahun-1 atau rata-rata optimalnya 1.500 mm tahun-1 yang terbagi merata sepanjang
tahun (tidak ada bulan kering), garis lintang 20 LS samapai 20 LU, tinggi tempat 0
s/d 600 m dpl, suhu yang terbaik 24C s/d 28C dan angin yang kuat (lebih dari 10 m
detik-1) berpengruh jelek terhadap tanaman kakao. Kecepatan angin yang baik bagi
tanaman kakao adalah 2-5 m detik-1 karena dapat membantu penyerbukan,
kemiringan tanah kurang dari 45% dan tekstur tanah terdiri dari 50% pasir, 10% 20% debu dan 30% - 40% lempung. Tekstur tanah yang cocok bagi tanaman kakao
adalah tanah liat berpasir dan lempung liat berpasir.
2.4 Perbanyakan Tanaman Kakao
Tanaman kakao dapat diperbanyak dengan dua cara yaitu perbanyakan secara
generatif maupun vegetatif. Cara perbanyakan generatif dewasa ini sangat jarang
digunakan lagi dalam penyediaan bahan tanam untuk usaha perkebunan, karena
dengan cara ini akan menghasilkan tanaman dengan tipe pertumbuhan yang tidak
seragam dan terjadi segregasi genetis. Tujuan dari perbanyakan tanaman adalah untuk
menghasilkan tanaman baru
5

sejenis yang sama unggul atau bahkan lebih. Caranya adalah dengan menumbuhkan
bagian-bagian tertentu dari tanaman induk yang memiliki sifat unggul
2.4.1 Teknik perbanyakan kakao secara generatif
Perbanyakan secara generatif dilakukan dengan menanam biji yang dihasilkan
dari penyerbukan bunga jantan (serbuk sari) dan bunga betina (kepala putik). Benih
kakao termasuk golongan benih rekalsitran sehingga memerlukan penanganan khusus
(Puslit Kopi dan Kakao, 2004). Dikatakan benih rekalsitran karena ketika masak
fisiologi kadar airnya tinggi yakni lebih dari 40%, viabilitas benih akan hilang
dibawah ambang kadar air yang relatif tinggi yaitu lebih dari 25%, untuk tahan dalam
penyimpanan memerlukan kadar air yang tinggi. Benih kakao yang dikeluarkan dari
buahnya tanpa disimpan dengan baik akan berkecambah dalam waktu 34 hari dan
dalam keadaan normal benih akan kehilangan daya tumbuhnya 10 15 hari.
Keunggulan tanaman hasil perbanyakan secara generatif adalah system
perakarannya yang kuat dan rimbun, oleh karena itu sering dijadikan sebagai batang
bawah untuk okulasi atau sambungan. Selain itu, tanaman hasil perbanyakan secara
generatif juga digunakan untuk program penghijauan dilahan kritis yang lebih
mementingkan konservasi lahan dibandingkan dengan produksi buahnya. Sementara
itu ada beberapa kelemahan perbanyakan secara generatif, yaitu sifat biji yang
dihasilkan sering menyimpang dari sifat pohon induknya. Jika ditanam ratusan atau
ribuan biji yang berasal dari satu pohon induk yang sama akan menghasilkan banyak
tanaman baru dengan sifat yang beragam. Ada sifat yang sama atau bahkan lebih
unggul dibandingkan dengan sifat pohon induknya, namun ada juga yang sama sekali
tidak membawa sifat unggul pohon induk, bahkan lebih buruk sifatnya. Keragaman
sifat dipengaruhi oleh mutasi gen dari pohon induk jantan dan betina
2.4.2 Teknik perbanyakan kakao secara vegetative
Perbanyakan tanaman secara vegetatif akan menghasilkan populasi tanaman
homogen dalam sifat-sifat genetiknya. Perbanyakan secara vegetative dilakukan
dengan menggunakan bagian-bagian tanaman seperti cabang, ranting, pucuk, daun,
umbi dan akar. Prinsipnya adalah merangsang tunas adventif yang ada dibagian6

bagian tersebut agar berkembang menjadi tanaman sempurna yang memiliki akar,
batang dan daun sekaligus. Perbanyakan secara vegetatif dapat dilakukan dengan cara
cangkok, rundukan, setek dan kultur jaringan
Perbanyakan vegetatif pada tanaman kakao dikenal tiga macam cara yang lazim
digunakan, yaitu okulasi (budding), sambung pucuk (top grafting) dan sambung
samping (side grafting), namun akhir-akhir ini dikembangkan juga perbanyakan
tanaman dengan kultur jaringan (tissue culture) atau yang lebih dikenal dengan istilah
Somatik Embryogenesis (SE).
1. Okulasi (budding)
Penempelan atau okulasi (budding) adalah penggabungan dua bagian tanaman
yang berlainan sedemikian rupa, sehingga merupakan satu kesatuan yang utuh dan
tumbuh sebagai satu tanaman setelah terjadi regenerasi jaringan pada bekas luka
sambungan atau tautannya. Bagian bawah (yang mempunyai perakaran) yang
menerima sambungan disebut batang bawah (rootstock atau understock) atau sering
disebut stock. Bagian tanaman yang ditempelkan atau
disebut batang atas, entres (scion) dan merupakan potongan satu mata tunas.
Hal yang penting untuk diperhatikan dalam perbanyakan tanaman dengan
okulasi adalah persyaratan batang bawah dan batang atas. Batang bawah harus
memenuhi persyaratan antara lain: pertumbuhan dan perakarannya baik (kuat), tahan
kekurangan dan kelebihan air, memiliki pertumbuhan yang seimbang dengan batang
atas dan tahan terhadap hama dan penyakit. Persyaratan batang atas adalah
berproduksi tinggi, berpenampilan menarik, tahan terhadap hama dan penyakit dan
digemari oleh masyarakat luas. Syarat lain yang perlu diperhatikan pada waktu
pengambilan entres adalah kesuburan dan kesehatan pohon induk. Peningkatkan
kesuburan pohon induk, biasanya tiga minggu sebelum pengambilan batang atas
dilakukan pemupukan dengan pupuk NPK. Kesehatan pohon induk ini penting karena
dalam kondisi sakit, terutama penyakit sistemik mudah sekali ditularkan pada bibit.
Entres diambil setelah kulit kayu cabangnya dengan mudah dapat dipisahkan dari
kayunya (dikelupas). Bagian dalam kulit kayu (kambium) akan tampak berair
7

menandakan kambiumnya aktif, sehingga bila mata tunasnya segera diokulasikan


akan mempercepat pertautan dengan batang bawah.
Pada okulasi tanaman kakao telah dibuktikan bahwa batang bawah juga
mempengaruhi kadar unsur hara daun batang atas dan kualitas hasilnya, tetapi tidak
berpengaruh nyata terhadap mutu hasil biji. Penyambungan tanaman dari satu varietas
atau dari satu spesies memang dapat dilakukan tanpa mengalami kesukaran. Lain
halnya dengan okulasi yang dilakukan antar spesies biasanya sedikit mengalami
kesukaran karena antar batang atas dan batang bawah kadang-kadang terdapat
perbedaan fisiologis. Okulasi dilakukan dengan metode okulasi fokert. Kulit batang
bawah disayat secara melintang dengan lebar 6-12 mm, kemudian dikupas ke arah
bawah dengan panjang 2-3 cm sehingga terbentuk lidah. Lidah kemudian dipotong
dengan menggunakan pisau okulasi dan disisakan seperempat bagian. Mata tunas dari
cabang entres disayat dengan kayunya sepanjang 2 cm. Selanjutnya mata tunas
disisipkan pada sayatan batang bawah, lalu diikat dengan tali plastik yang telah
disiapkan (Gambar 2.1). Pengikatan dimulai dari bagian bawah ke atas (sistem
genting bertingkat) agar pada waktu hujan atau penyiraman air tidak masuk ke dalam
okulasian. Setelah okulasi berumur dua minggu, tali plastic dibuka. Mata tunas yang
berwarna hijau menandakan bahwa okulasi berhasil (hidup). Batang bawah kemudian
dipotong dengan menyisakan dua helai daun. Mata tunas yang berwarna coklat
menandakan okulasi mengalami kegagalan. Keberhasilan okulasi sangat tergantung
pada kondisi batang bawah dan jenis tali okulasi. Waktu terbaik pelaksanaan okulasi
adalah pada pagi hari, antara jam 07.00 - 11.00, karena saat tersebut tanaman sedang
aktif berfotosintesis sehingga cambium tanaman juga dalam kondisi aktif dan
optimum, diatas jam 12.00 daun mulai layu, tetapi ini bisa diatasi dengan menempel
di tempat yang teduh sehingga terhindar dari sinar matahari langsung (Puslit Kopi
dan Kakao Indonesia, 2004)

BAB 3. METODELOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Tempat dilaksanakannnya ialah di Politeknik Negeri Jember
3.2 Alat dan Bahan
1. Alat yang digunakan yaitu:
a. Perbanyakan generatif (biji) yaitu: timba, nampan penjemuran dll
b. Perbanyakan vegetative (okulasi ) yaitu : pisau dll
2. Bahan yang digunakan yaitu:
a. Perbanyakan generatif (biji) yaitu: buah kakao, pasir, kertas label dll
b. Perbanyakan vegetative (okulasi ) yaitu : batang bawah kakao, batang atas untuk
okulasi, tali pengikat, pelastik sungkup, label dll
3.3. Prosedur kerja
1. Prosedur kerja perbanyakan generatif ( biji) yaitu:
a. Sortasi buah kakao dan pilih yang baik untuk perbanyakan tanaman kakao.
b. Buka buah kakao dengan cara membanting buah kakao hingga terbelah
c. Ambil biji dalam buah kakao.
d. Pisahkan biji kakao dari daging buah dengan cara menggosoknya menggunakan
pasir
e. Cuci biji kakao yang sudah terpisah dari daging buah.
f.Jemur biji kakao
g. Simpan biji kakao
h. Minggu berikutnya baru dikecambahkan di media pasir.

10

2. Prosedur kerja perbanyakan vegetatif ( okulasi) yaitu:


a. Sediakan alat dan bahan
b. Ambil bibit kakao untuk dijadikan bagian bawah dan kakao yang akan diambil
mata tunasnya
c. Ambil mata tunas kakao
d. Sayat batang kakao bagian bawah dengan lebar sesuai mata tunas dan buat jendela.
e. Tempel mata tunas ke batang kakao yang telah disayat.
f. Ikat mata tunas yang telah disayat dengan pelastik pengikat
g. Buang daun pada tanaman yang di okulasi sisakan 2 buah.
h. Sungkup tanaman yang telah diokulasi dengan pelastik sungkup
i. Beri label.
j. Hasil okulasi diletakkan ditempat yang naung tidak terkena matahari secara
langsung

11

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN


Biji kakao dikatakan benih rekalsitran karena ketika masak fisiologi kadar
airnya tinggi yakni lebih dari 40%, dan apabila kadar airnya diturunkan kurang dari
25% maka viabilitas benih akan menurun dan kualitas benih akan rendah. Karena itu
benih kakao tidak tahan disimpan lama. Untuk perbanyakan tanaman kakao dapat
diperbanyak secara generatif dan vegetative
1. Perbanyakan secara generative (biji)
Perbanyakan secara generatif ialah perbanyakan dengan menanam biji yang
dihasilkan dari penyerbukan bunga jantan (serbuk sari) dan bunga betina (kepala
putik). Biji yang dihasilkan dari hasil penyerbukan bunga jantan (serbuk sari) dan
bunga betina (kepala putik) bila ditanam kembali tumbuhnya tidak seragam, Ada sifat
yang sama dengan indukannya, ada yang lebih unggul dibandingkan dengan sifat
pohon induknya, namun ada juga yang sama sekali tidak membawa sifat unggul
pohon induk, bahkan lebih buruk kualitasnya. Keragaman tersebut dipengaruhi oleh
mutasi gen dari pohon induk jantan dan betina. Tetapi perbanyakan secara generative
juga memiliki kelebihan yaitu system perakarannya yang kuat dan rimbun, oleh
karena itu sering dijadikan sebagai batang bawah untuk okulasi
Perbanyakan secara generatif akan menghasilkan tanaman kakao semaian
dengan batang utama ortotrop (pertumbuhan cabang atau tunas yang mengarah ke
atas) yang tegak, mempunyai rumus daun 3/8, dan pada umur tertentu akan
mempunyai jorket (jorquet) dengan cabang-cabang plagiotrop yang mempunyai
rumus daun . Rumus daun 3/8 artinya sifat duduk daun seperti spiral denga letak
duduk daun pertama sejajar sejajar dengan daun ketiga pada jumlah daun delapan.
Sementara itu, rumus daun artinya sifat duduk daun berseling denga letak daun
pertama sejajar kembali setelah daun kedua.

12

2. Perbanyakan secara vegetative (okulasi)


Perbanyakan secara vegetative adalah perbanyakan menggunakan bagian
tanaman selain biji bisa berupa akar, batang, cabang, daun dll. Perbanyakan vegetatif
pada tanaman kakao dikenal tiga macam cara yang lazim digunakan, yaitu okulasi
(budding), sambung pucuk (top grafting) dan sambung samping (side grafting),
namun akhir-akhir ini dikembangkan juga perbanyakan tanaman dengan kultur
jaringan (tissue culture) atau yang lebih dikenal dengan istilah Somatik
Embryogenesis (SE).
Sampai saat ini perbanyakan vegetatif tanaman kakao yang banyak digunakan
sebagai bahan tanam adalah perbanyakan secara okulasi dengan penempelan (entres)
batang atas pada batang bawah. Ciri entres yang baik antara lain tidak terlalu muda
dan tua, ukuran batang tempat entres yang akan diambil relatif sama dengan batang
bawah, tidak terkena hama dan penyakit, dan masih segar.
Dalam melaksanakan kegiatan okulasi kakao maka batang bawah yang
digunakan harus kakao dengan varietas perakarannya baik (kuat), tahan kekurangan
dan kelebihan air. Sedangkan untuk batang atas entres yang diambil ialah dari
tanaman yang memiliki keunggulan hasil produksi yang tinggi dan tahan hama
penyakit, dan memiliki batang yang kuat. Sehingga hasil okulasi akan menghasilkan
tanaman yang lebih unggul dari indukannya karena merupakan gabungan dari sifat
unggul batang bawah (perakaran bagus) dan batang atas (hasil produksi tinggi dan
tahan hama penyakit).
Dalam melaksanakan kegiatan okulasi ada berapa factor yang harus
diperhatikan supaya okulasi berhasil yaitu:
a. Dalam menyayat batang bawah harus menggunakan pisau yang tajam dan tidak
berkarat
b. Saat menyayat kulit pada batang bawah harus berhati2 supaya batangnya tidak
terluka

13

c. Dalam melaksanakan okulasi harus cepat karena semakin lama maka semakin
tinggi tingkat kegagalan okulasi karena saat penempelan bila terlalu lama maka
kambium yang terkandung pada batang akan kering.
d. Ukuran penyayatan pada batang bawah harus sama dengan ukuran entres pada
batang atas yang diambil.
e. Batang bawah dan mata entres untuk batang atas yang diambil bebas penyakit.

14

BAB 5. PENUTUP
KESIMPULAN
1. Perbanayakan tanaman kakao dapat dilaksanakan secara vegetative dan secara
generative. Perbanyakan generatif ialah perbanyakan menggunakan biji yang
dihasilkan dari penyerbukan bunga jantan (serbuk sari) dan bunga betina
(kepala putik). Sedangkan perbanyakan vegetative ialah perbanyakan tanaman
menggunakan bagian tanaman selain biji bisa berupa akar, batang, cabang,
daun dll.
2. Biji (perbanyakan secara generative) yang dihasilkan dari hasil penyerbukan
bunga jantan (serbuk sari) dan bunga betina (kepala putik) bila ditanam
kembali tumbuhnya tidak seragam, Ada sifat yang sama dengan indukannya,
ada yang lebih unggul dibandingkan dengan sifat pohon induknya, namun ada
juga yang sama sekali tidak membawa sifat unggul pohon induk, dan
kualitasnya buruk.
3. Okulasi (perbanyakan secara vegetative) akan menghasilkan tanaman yang
lebih unggul dari indukannya karena merupakan gabungan dari sifat unggul
batang bawah (perakaran bagus) dan batang atas (hasil produksi tinggi dan
tahan hama penyakit).

15

DAFTAR PUSTAKA
Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, 2006, Panduan Lengkap Budidaya
Kakao (Kiat mengatasi permasalahan praktis), PT. Agromedia Pustaka.
Rahardjo, 1999. Pengantar Sosiologi dan Pedesaan. Yogyakarta. University Gajah
Mada
Tjitrosoepomo, Gembong, 1988, Taksonomi Tumbuhan (Spermathopyta),Yogyakarta
Universitas Gadjah Mada.
Sunanto, H. 1994. Buku Pintar Budidaya Kakao. Yogyakarta Kanisius

16