Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN KASUS

FRAKTUR Os. RADIUS 1/3 MEDIAL DISERTAI


FRAKTUR Os. ULNA 1/3 PROKSIMAL DAN 1/3
MEDIAL

Dibimbing Oleh :
dr. Shofia Agung Priyatno, SpB, MSi.Med

Disusun Oleh :
Asiah
(1320221137)

Kepaniteraan Klinik Departemen Ilmu Bedah


FAKULTAS KEDOKTERAN UPN VETERAN JAKARTA
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH AMBARAWA

PERIODE 20 Oktober 22 November 2014

LEMBAR PENGESAHAN

Presentasi Kasus
Carsinoma Duktus Mammae Sinistra
Disusun oleh :
Asiah

1320.221.137

Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik


Departemen Ilmu Bedah
RSUD Ambarawa, Semarang

Telah disetujui tanggal :......................................................

Pembimbing

dr. Shofia Agung Priyatno, Sp.B, Msi.Med

Mengesahkan :
Koordinator Kepaniteraan Ilmu Bedah

dr. Hery Unggul, SpB


2

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME, berkat


karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan pembuatan Laporan Kasus yang berjudul
Carsinoma Duktus Mammae Sinistra yang merupakan salah satu syarat dalam
mengikuti ujian kepaniteraan klinik Pendidikan Profesi Dokter Departemen Ilmu
Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa Periode 13 Maret 23 Mei 2015.
Dalam menyelesaikan Presentasi Kasus ini penulis mengucapkan rasa terima
kasih kepada dr. Shofia Agung P, SpB, MSi.Med sebagai dokter pembimbing. Penulis
menyadari bahwa dalam penyusunan Laporan Kasus ini banyak terdapat kekurangan
dan juga masih jauh dari kesempurnaan, sehingga penulis mengharap kritik dan saran
dari pembaca.
Semoga Laporan Kasus ini dapat bermanfaat bagi teman-teman pada
khususnya dan semua pihak yang berkepentingan bagi pengembangan ilmu
kedokteran pada umumnya. Amin.

Ambarawa,

Mei 2015

Penulis

DAFTAR ISI
COVER ...............................................................................................................

LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................

KATA PENGANTAR ........................................................................................

DAFTAR ISI ......................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang .......................................................................................

BAB II LAPORAN KASUS


Identitas Pasien ......................................................................................

Anamnesa ..............................................................................................

Pemeriksaan Fisik .................................................................................

Pemeriksaan Penunjang............................................................................... 9
Diagnosis ...............................................................................................

11

Terapi dan Planning ..................................................................................... 11


Prognosis ................................................................................................

12

Follow Up .....................................................................................12
BAB III PEMBAHASAN
Pembahasan

...................................................................................................

14
BAB IV TINJAUAN PUSTAKA
Definisi ....................................................................................................

16

Epidemiologi..................................................................................................16
Etiologi..................................................................................................

16

Diagnosis...................................................................................................

16

Penatalaksanaan............................................................................................ 19
Penyembuhan Fraktur................................................................................... 25
BAB V KESIMPULAN
Kesimpulan ................................................................................................... 27
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................

28

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dengan meningkatnya mobilitas disektor lalu lintas dan faktor kelalaian
manusia sebagai salah satu penyebab paling sering terjadinya kecelakaan yang dapat
menyebabkan fraktur. Penyebab yang lain dapat karena kecelakaan kerja, olah raga
dan rumah tangga.
Patah tulang antebrachii sering terjadi pada bagian distal yang umumnya
disebabkan oleh gaya pematah langsung sewaktu jatuh dengan posisi tangan
hiperekstensi. Hal ini dapat diterangkan oleh karena adanya mekanisme refleks jatuh
di mana lengan menahan badan dengan posisi siku agak menekuk seperti gaya
jatuhnya atlit atau penerjun payung.(1)
Fraktur adalah gangguan pada kontinuitas tulang dengan atau tanpa letak
perubahan letak fragmen tulang. Menurut Lane and Cooper, fraktur atau patah tulang
adalah kerusakan jaringan atau tulang baik komplet maupun inkomplete yang
berakibat tulang yang menderita tersebut kehilangan kontinuitasnya dengan atau
tanpa adanya jarak yang menyebabkan fragmen.(2)
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik.
Kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang itu sendiri, dan jaringan
lunak di sekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau
tidak lengkap. Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah, sedangkan pada
fraktur tidak lengkap tidak melibatkan seluruh ketebalan tulang. (3)

BAB II
LAPORAN KASUS
5

2.1. IDENTITAS
Nama : Tn. ABT
Umur : 18 thn
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Pelajar
Alamat : Panjang Kidul 4/1 Ambarawa Kab. Semarang
Status: Belum Menikah
Kelompok pasien: Umum
Cara Masuk : IGD
Tanggal masuk/ Ruangan: 18 April 2015/ Melati
Nomor RM : 078406
2.2. ANAMENESA
Keluhan utama
Post kecelakaan lalu lintas 30 menit SMRS.
Riwayat penyakit Sekarang
Pasien post kecelakaan tunggal sepeda motor menghindari kucing,
pasien mengaku tidak menggunakan helm. Pasien tidak mengingat saat
terjadinya kecelakaan. Pasien merasakan adanya benturan pada kepala, dan
terdapat nyeri pada daerah wajah dan tangan kiri. Pada bibir terdapat luka
terbuka. Pusing (+), mual (+), muntah (-), pingsan (+) kurang lebih 5 menit,
keluar darah dari mulut, hidung maupun telinga disangkal.
Tangan kiri pasien merasa sangat sakit, terdapat luka lecet, jari-jari
dapat digerakkan, namun pergerakan siku minimal. Pada daerah luka juga
bengkak.

Riwayat Penyakit Dahulu


Hipertensi (-), DM (-), alergi (-), Asma (-).
Riwayat Operasi
Menyangkal pernah dioperasi sebelumnya.
Riwayat Penyakit Keluarga
DM(-), Hipertensi (-), Penyakit Ginjal (-), Penyakit Darah (-)
Riwayat Kebiasaan dan Gizi
Merokok (+), meminum alkohol (-), makan sehari 3 kali dengan porsi cukup.
2.3. PEMERIKSAAN FISIK
A. Status Generalis
Keadaan umum: tampak sakit sedang, kesadaran compos mentis (GCS
E4V5M6), status gizi baik
Tanda Vital

: TD : 121/61 mmHg
Nadi : 101 x/menit, reguler
RR

: 20 x/menit

Suhu : 36,3oC
Rambut: distribusi pertumbuhan rambut rata, berwarna hitam, benjolan (-), VL
dan VE (-)
Kepala dan wajah: bentuk kepala mesocephal, wajah simetris, luka (-), warna
kulit coklat, pucat (-)
Mata

: konjungtiva warna merah muda, subkonjungtiva hematom (-/+)


anemis (-/-), sklera warna putih, edema periorbita (-/+)

Hidung : rhinorrhea (-/-), epistaksis (-/-), deformitas hidung (-/-)


Mulut : mukosa bibir pucat (-/-), VL pada mukosa bibir atas ukuran 1,5 x 0,1
x 0,3 cm

Telinga : otorrhea (-/-), kedua cuping telinga normal


Leher

: simetris, lesi kulit (-), pembesaran kelenjar tiroid (-), pembesaran


KGB (-)

Thorax : normochest, simetris


Cor : Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis kuat angkat
Perkusi : Batas kiri atas
: SIC II LPSS
Batas kanan atas
: SIC II LPSD
Batas kiri bawah : SIC V 1 cm lateral LMCS
Batas kanan bawah : SIC IV LPSD
Batas jantung kesan tidak melebar
Auskultasi: bunyi jantung I-II intensitas normal, regular
Pulmo : Inspeksi : pengembangan dada kanan sama dengan dada kiri
Palpasi: fremitus taktil kiri sama dengan kanan
Perkusi : sonor di seluruh lapang paru
Auskultasi :

+ +

suara dasar vesikuler +

wheezing

+ +

ronkhi basah & kering -

Abdomen :
Inspeksi

: Dinding perut cembung, venektasi (-), jaringan parut/bekas


luka (-), tumor/benjolan (-) didaerah hipogastrium sinistra,

darm steifung(-), darm contour (-)


Auskultasi : Bising usus 6x/menit (+) normal
Palpasi
: Supel, hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan abdomen(-)
Perkusi
: Timpani seluruh regio, nyeri ketok (-)
Sistem Collumna Vertebralis
Inspeksi
Palpasi
Ektremitas

: Deformitas (-), kiphosis (-), lordosis (-), skoliosis (-)


: Nyeri tekan (-), krepitasi (-)
: Regio Cruris Dextra

Look : Pemendekan (+), bengkak (+), deformitas (+) angulasi ke lateral, Kulit
utuh (tidak terdapat luka robek)

Feel : Terdapat nyeri tekan (+), pulsasi distal (+), sensibilitas (+)

Movement : Nyeri gerak aktif (+), nyeri gerak pasif (+), ROM sulit dinilai

Pemeriksaan Neurologik

:
8

Sistem motorik Sistem sensorik


-

2.4. PEMERIKSAAN PENUNUNJANG


4.1 Hematologi (30 Maret 2015)
Pemeriksaan
HEMATOLOGI
Darah Rutin
Hb
Leukosit
Eritrosit
Hematokrit
MCV
MCH
MCHC
RDW
Tombosit
PDW
MPV
Limfosit
Monosit
Granulosit
Limfosit %
Monosit %
Granulosit %
PCT
Golongan Darah
KIMIA KLINIK
GDS
SGOT
SGPT
Ureum
Kreatinin
SEROLOGI
HbsAg

Hasil

Nilai Rujukan

Satuan

13.5
7.3
4.74
40.2
84.8
28.5
33.6
12.8
150
15.3
9.7
2.1
0.5
4.7
28.7
6.8
64.5
0.155

12.5-15.5
4-10
3.8-5.4
35-47
3.8-5.4
35-47
82-98
>= 27
32-36
10-18
7-11
1.0-4.5
0.2-1.0
2-4
25-40
2-8
50-80
0.2-0.5
O

g/dL
Ribu
Juta
%
Mikro m3
Pg
g/dL
%
Ribu
%
Mikro m3
103/mikro
103/mikro
103/mikro
%
%
%
%

109
19
17
24.8
0.76

70-100
0-35
0-35
10-50
0.45-0.75

mg/dL
IU/dL
IU/dL
mg/dL
mg/dL

Non reaktif

4.2. Pemeriksaan Radiologi

2.5. DIAGNOSIS KERJA


Fraktur Os Radius 1/3 medial
Fraktur Os. Ulna 1/3 proximal dan 1/3 medial
2.6. TERAPI DAN PLANNING
Rawat luka (hecting)
Bidai daerah antebrachii sinistra
Rencana Program Open Reduction Internal Fixation
Infus RL 20 tpm
Inj Cefotaxim 3 x 1 gram
Inj. Ketorolac 3 x 30 mg
Laporan Operasi:

Os terlentang di meja operasi dengan general anestesi


Lakukan aseptik antiseptik pasang duk steril

10

Lakukan

perdalam
Identifikasi fraktur pada ulna

lakukan reposisi
Fiksasi
dengan

pemasangan plate dan scrup


Jahit
Lakukan reposisi pada radius

fiksasi dengan plate


Jahit kulit lapis demi lapis, kulit

dijahit interupted
Tutup luka dengan perban

insisi

diatas

fraktur,

melakukan

Post Operasi

Infus RL 20 tpm

Inj cefotaxim 3 x 1 gram

Inj Ketorolac 3 x 30 mg

2.7. PROGNOSIS
Quo ad Vitam

: ad bonam

Quo ad Functionam

: ad bonam

Quo ad Sanationam

: ad bonam

2.8. FOLLOW UP POST OPERASI


Tanggal
23/4/2015

S
Nyeri pada
antebrachii sinistra,
pusing (+), puasa
(+)

O
KU/Kes: TSS/
Composmentis
TTV: TD: 108/86 mmHg;
N. 80x/mnt; RR: 18x/mnt;
S: 36,20C
Status Generalis: dbn

11

A
Carsinoma
duktus mammae
sinistra

P
Pre OP ORIF
Inf. RL 20 tpm
Cefotaxim 1 gr IV
(Skin test)
Konsul SpAn

24/4/2015

25/4/2015

Nyeri pada
antebrachii sinistra,
pusing (+).

Nyeri pada
antebrachii sinistra,
pusing (+)

Status Lokalis:
orbita sinistra: edema
periorbita (+), hematoma
subkonjungtiva (+), VOS
> 3/60
facialis: luka post hecting
di labium superior
antebrachii sinistra:
deformitas (+), krepitasi
(+), edema (+), NT (+),
ROM digiti manus
sinistra (+)
KU/Kes: TSS/
Composmentis
TTV: TD: 108/86 mmHg;
N. 80x/mnt; RR: 18x/mnt;
S: 36,20C
Status Generalis: dbn
Status Lokalis:
orbita sinistra: edema
periorbita (+), hematoma
subkonjungtiva (+), VOS
> 3/60
facialis: luka post hecting
di labium superior
antebrachii sinistra:
deformitas (+), krepitasi
(+), edema (+), NT (+),
ROM digiti manus
sinistra (+)
KU/Kes: TSS/
Composmentis
TTV: TD: 108/86 mmHg;
N. 80x/mnt; RR: 18x/mnt;
S: 36,20C
Status Generalis: dbn
Status Lokalis:
orbita sinistra: edema
periorbita (+), hematoma
subkonjungtiva (+), VOS
> 3/60
facialis: luka post hecting
di labium superior
antebrachii sinistra:
deformitas (+), krepitasi
(+), edema (+), NT (+),
ROM digiti manus
sinistra (+)

12

Post ORIF H2
pada fr.os radius
1/3 medial dan
fr os ulna 1/3
proksimal dan
1/3 medial

Inf. RL 20tpm
Cefotaxim 3x1gr
IV
Ketorolac 3x30
mg IV

Post ORIF H2
pada fr.os radius
1/3 medial dan
fr os ulna 1/3
proksimal dan
1/3 medial

Inf. RL 20tpm
Cefotaxim 3x1gr
IV
Ketorolac 3x30
mg IV

BAB III
PEMBAHASAN
Pasien laki-laki usia 18 tahun datang dengan post kecelakaan tunggal sepeda
motor dengan keluhan adanya nyeri pada bagian lengan bawah kiri. Saat kejadian
pasien mengaku jatuh dan tidak mengingat jelas kejadian kecelakaan.
Dari anamnesis pasien mengaku pingsan selama kurang lebih 5 menit, terasa
pusing (+), mual (+), muntah (-). Pasien mengaku adanya bentruran pada kepala dan
saat kejadian pasien tidak menggunakan helm. Kemungkinan pada pasien terdapat
cedera kepala ringan. Pada anamnesis lanjut pasien mengeluh adanya nyeri pada
bagian lengan bawah kiri dan terasa sulit digerakkan. Hal itu dapat diakibatkan
adanya kerusakan jaringan sekitar karena terjadi diskontinuitas tulang.
Pada pemeriksaan fisik antebrachii sinistra didapatkan adanya pemendekan (+),
bengkak (+), deformitas (+) angulasi ke lateral, nyeri tekan (+), pulsasi distal (+),
13

sensibilitas (+), nyeri gerak aktif (+), nyeri gerak pasif (+). Dari pemeriksaan ini
sudah dapat disimpulkan adanya fraktur. Namun untuk memastikan frakturnya maka
dilakukan pemeriksaan penunjang berupa foto rontgen.
Dari pemeriksaan foto rontgen didapatkan fraktur komplit pada Os Radius 1/3
medial, Os ulna 1/3 proksimal dan 1/3 distal.
Pada orang dewasa, fraktur ditangani secara konservatif dengan traksi skelet,
baik pada tuberositas tibia maupun suprakondiler. Cara ini biasanya berhasil
mempertautkan fraktur femur. Yang penting ialah latihan otot dan gerakan sendi,
terutama m. quadriceps otot tungkai bawah, lutut, dan pergelangan kaki. Akan tetapi,
cara traksi skelet memerlukan waktu istirahat di tempat tidur yang lama sehingga
untuk mempercepat mobilisasi dan memperpendek masa istirahat di tempat tidur,
dapat dianjurkan untuk melakukan reposisi terbuka dan pemasangan fiksasi interna
yang kokoh. Fiksasi interna biasanya berupa pin Kuntscher intramedular. Untuk
fraktur yang tidak stabil, misalnya fraktur batang femur yang kominutif atau fraktur
batang femur bagian distal, pin intramedular ini dapat dikombinasi dengan pelat
untuk neutralisasi rotasi.
Penatalaksanaan fraktur selain reposisi, diberikan medikamentosa untuk
mencegah adanya infeksi sekunder pasca pembedahan serta pemberian anti nyeri
untuk memperingan rasa nyeri. Antibiotik yang diberikan pada pasien yaitu

14

BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan
epifise, baik yang bersifat total maupun parsial. (1) Tulang lengan bawah terdiri dari
radius dan ulna. Umumnya fraktur pada radius ulna terjadi pada bagian tengah, jarang
terjadi fraktur pada salah satu tulang tapi tidak menyebabkan dislokasi pada tulang
lainnya.
B. Epidemiologi
Pada tahun 2005 jumlah pasien yang mengalami fraktur terutama daerah
lengan bawah bagian distal yaitu laki laki 12.357 dan wanita 19.319 pasien,
sedangkan insidennya pada laki laki yaitu 152 per 100.000 pasien laki-laki dan 157
per 100.000 pasien perempuan. Insiden tertinggi dan faktor resiko yaitu pada usia 10-

15

14 tahun pada pasien laki-laki dan diaatas 85 tahun pada wanita. Insiden fraktur
diperkirakan pada usia 50 tahun keatas akan meningkat 81%, dibandingkan dengan
11% untuk usia dibawah 50 tahun.
C. Etiologi
Trauma dengan kekuatan besar, contohnya kecelakaan kendaraan bermotor,
jatuh dari tempat yang tinggi, crushing injury, Tangkisan pukulan (nigt stick
fracture) . pada kasusu ini penderita mengalami trauma akibat kekuatan besar yang
disebabkan oleh tangkisan pukulan. Trauma dengan kekuatan kecil, contohnya jatuh.
D. Diagnosis
Foto polos tetap merupakan pemeriksaan penunjang radiologis yang utama
pada sistem skeletal. Gambar harus selalu diambil dalam dua proyeksi.
Foto polos merupakan metode penilaian awal utama pada pasien dengan
kecurigaan trauma skeletal. Setiap tulang dapat mengalami fraktur walaupun
beberapa diantaranya sangat rentan.Tanda dan gambaran yang khas pada fraktur adalah
Garis fraktur : garis fraktur dapat melintang di seluruh diameter tulang atau
menimbulkan keretakan pada tepi kortikal luar yang normal pada

frakturminor.
Pembengkakan jaringan lunak : biasanya terjadi setelah terjadi

fraktur.
Iregularis kortikal : sedikit penonjolan atau berupa anak tangga padakorteks.
Fraktur Distal Radius Fraktur Distal Radius dibagi dalam :

1. Fraktur Galeazzi
Fraktur Galeazzi yaitu Fraktur pada 1/3 distal radius disertai dislokasi sendi
radio-ulna distal. Fragmen distal mengalami pergeseran dan angulasi kearah
dorsal. Dislokasi mengenai ulna ke arah dorsal dan medial. Fraktur iniakibat
terjatuh dengan tangan terentang dan lengan bawah dalam keadaanpronasi,
atau

terjadi karena

pukulan

langsung

pada

pergelangan

tangan

bagiandorsolateral. Fraktur Galeazzi jauh lebih sering terjadi daripada fraktur

16

Monteggia. Ujung bagian bawah ulna yang menonjol merupakan tanda yangmencolok.
Perlu dilakukan pemeriksaan untuk lesi saraf ulnaris, yang sering terjadi.
2. Fraktur Colles
Fraktur ini akibat terjatuh dengan tangan terentang. Fraktur radius terjadidi
korpus distal, biasanya sekitar 2 cm dari permukaan artikular. Fragmendistal
bergeser ke arah dorsal dan proksimal, memperlihatkan gambaran deformitas..
Kemungkinan dapat disertaidengan fraktur pada prosesus styloideus ulna.
Fraktur radius bagian distal (sampai 1 inci dari ujung distal) denganangulasi
ke posterior, dislokasi ke posterior dan deviasi pragmen distal keradial. Dapat
bersifat kominutiva. Dapat disertai fraktur prosesus stiloid ulna.
3. Fraktur radius bagian distal (sampai 1 inci dari ujung distal) denganangulasi
ke posterior, dislokasi ke posterior dan deviasi pragmen distal keradial. Dapat
bersifat kominutiva. Dapat disertai fraktur prosesus stiloid ulna.Fraktur collees
dapat terjadi setelah terjatuh, sehingga dapat menyebabkanfraktur pada ujung
bawah radius dengan pergeseran posterior dari fragmendistal
4. Fraktur Smith
Fraktur ini akibat jatuh pada punggung tangan atau pukulan keras secara
langsung

pada

pergelangantangan,

punggung
tetapi

tangan.

tidak

Pasien

mengalami

terdapat deformitas.

Fraktur

cedera
radius

bagian distal denganangulasi atau dislokasi fragmen distal ke arah ventral


dengan diviasi radius tangan yang memberikan gambaran deformitas.
5. Fraktur Lempeng Epifisis
Fraktur Lempeng Epifisis merupakan fraktur pada tulang panjang didaerah
ujung tulang pada dislokasi sendi serta robekan ligamen. Klasifikasi menurut
Salter-Harris merupakan klasifikasi yang dianut dandibagi dalam 5 tipe :
a. Tipe I
Terjadi pemisahan total lempeng epifisis tanpa adanya fraktur pada
tulang,sel-sel pertumbuhan lempeng epifisis masih melekat pada
epifisis.
b. Tipe II
Merupakan jenis fraktur yang sering ditemukan. Garis fraktur melalui
sepanjang lempeng epifisis dan membelok ke metafisis dan akan
membentuk suatu fragmen metafisis yang berbentuk segitiga yang
disebut tanda Thurson-Holland.
17

c. Tipe III
Fraktur lempeng epifisis tipe III merupakan fraktur intra-artikuler.
Garisfraktur mulai permukaan sendi melewati lempeng epifisis
kemudiansepanjang garis lempeng epifisis. Jenis fraktur ini bersifat
intra-artikulerdan biasanya ditemukan pada epifisis tibia distal.
d. Tipe IV
Fraktur tipe ini juga merupakan fraktur intra-artikuler yang
melaluipermukaan sendi memotong epifisis serta seluruh lapisan
epifisis danberlanjut pada sebagian metafisis.
e. Tipe V
Fraktur tipe V merupakan fraktur akibat hancurnya epifisis yang
diteruskan pada lempeng epifisis. Biasanya terjadi pada daerah sendi
penopang badan yaitu sendi pergelangan kaki dan sendi lutut.
6. Fraktur Monteggia
Fraktur jenis ini disebabkan oleh pronasi lengan bawah yang dipaksakansaat
jatuh atau pukulan secara langsung pada bagian dorsal sepertigaproksimal
dengan angulasi anterior yang disertai dengan dislokasi anteriorkaput radius.
CT scan di gunakan untuk mendeteksi letak struktur fraktur yang kompleks
dan menentukan apakah fraktur tersebut merupakan fraktur kompresi,burst
fraktur atau fraktur dislokasi. Biasanya dengan scan MRI fraktur ini akanlebih
jelas mengevaluasi trauma jaringan lunak, kerusakan ligament dan adanya
pendarahan.
E. Penatalaksanaan
Terapi fraktur diperlukan konsep empat R yaitu : rekognisi,
reduksi/reposisi, terensi/fiksasi, dan rehabilitasi.
Prinsip penanganan kasus fraktur adalah mereduksi fraktur dan menstabilkan
reduksi

fraktur

menggunakan

fiksasi.

Tekhnik

fiksasi

fraktur

biasanya

diklasifikasikan dalam tiga golongan, yaitu: external coaptation, internal fixation,


dan external-internal fixation (Piermattei, 1997).
External coaptation merupakan salah satu bentuk fiksasi yang paling
sederhana. Fiksasi ini disukai karena ekonomis dan non invasif. Keterbatasan dari
bentuk fiksasi ini adalah keterbatasan aplikasinya pada dan tidak memberi stabilitas
yang cukup pada kasus-kasus berat. External coaptation pada prinsipnya membatasi
18

aktivitas dari persendian dan otot pada bagian fraktur. Hal ini dapat menyebabkan
rasa nyeri akibat tekanan terus menerus dan seringkali menyebabkan komplikasi pada
jaringan disekitar area fraktur. Selain itu, karena kurang stabilnya fiksasi yang
diberikan, pembentukan kalus menjadi lambat sehingga kesembuhan fraktur juga
menjadi lebih lambat (Harasen, 2003a).
Fiksasi internal adalah fiksasi fraktur dimana pada tulang yang mengalami
fraktur difiksasi menggunakan pin, plat, screw, dan wire. Salah satu bentuk dari
internal fixation adalah intramedullary pin atau Steinman pin (Slatter, 2002).
Terapi pada fraktur tertutup
Pada dasarnya terapi fraktur terdiri atas manipulasi fraktur untuk memperbaiki
posisi fragmen, diikuti dengan pembebatan untuk mempertahankannya bersamasama sebelum fragmen-fragmen itu menyatu; sementara itu gerakan sendi dan fungsi
harus di pertahankan.
1. Reduksi
Meskipun terapi umum dan resusitasi harus selalu di dahulukan, tidak boleh
ada keterlambatan dalam menangani fraktur; pembengkakan bagian lunak
selama 12 jam pertama akan mempersukar reduksi. Tetapi terapat beberapa
situasi yang tak memerlukan reduksi;
bila pergeseran tidak banyak atau tidak ada;
bila pergeseran tidak berarti (misalnya pada fraktur clavicula); dan
bila reduksi tampak tak akan berhasil (misalnya pada fraktur kompresi
pada vertebra).
Fraktur yang melibatkan permukaan sendi; ini harus di reduksi sempurna
mungkin karna setiap ketidakberesan akan memudahkan timbulnya arthritis
degenerative. Terdapat dua metode reduksi; tertutup dan terbuka.
(1) Reduksi tertutup
Dengan anastesi yang tepat dan relaksasi otot, fraktur dapat direduksi dengan
manuver tiga tahap:
bagian distal tungkai di tarik ke garis tulang;
sementara fragmen-fragmen terlepas, fragmen itu di reposisi (dengan
membalikkan arah kekuatan asal kalau ini dapat di perkirakan); dan

19

penjajaran di sesuaikan ke setiap bidang. Beberapa fraktur (misalnya


pada batang femur) sulit di reduksi dengan manipulasi karena tarikan
otot yang sangat kuat dan membutuhkan traksi yang lama.

(2) Reduksi terbuka


Reduksi bedah pada fraktur dengan penglihatan langsung di indikasikan:
Bila reduksi tertutup gagal, baik karena kesukaran mengendalikan
fragmen atau karena Terdapat jaringan lunak di antara fragmen

fragmen itu;
bila terdapat fragmen artikular besar yang perlu di tempatkan secara

tepat; atau
bila terdapat fraktur traksi yang fragmennya terpisah. Namun biasanya
reduksi terbuka hanya merupakan langkah pertama untuk fiksasi

internal.
(3) Mempertahankan Reduksi
Metode yang tersedia untuk mempertahankan reduksi adalah:
a.
Traksi terus menerus
Traksi dilakukan pada tungkai di bagian distal fraktur, supaya melakukan
suatu tarikan yang terus menerus pada poros panjang tulang itu. Cara ini
sangat berguna untuk fraktur batang yang bersifat oblik atau spiral yang
mudah bergeser dengan kontraksi otot.

20

b.
Pembelatan dengan gips
Mempertahankan reduksi biasanya tak ada masalah dan pasien dengan
fraktur tibia dapat menahan berat pada pembalut gips. Tetapi, sendi-sendi
yang terbungkus dalam gips tidak dapat bergerak dan cenderung kaku,
kekakuan yang mendapat julukan penyakit fraktur merupakan masalah
dalam penggunaan gips konvensional.
c.Bracing fungsional
Bracing fungsional menggunakan gips salah satu dari bahan yang ringan
merupakan salah satu cara mencegah kekakuan pada sendi sambil masih
memungkinkan pembebatan fraktur. Segmen dari gips hanya dipasang pada
batang tulang itu, membiarkan sendi-sendi bebas, segmen gips itu
dihubungkan dengan engsel dari logam atau plastic yang memungkinkan
gerakan pada suatu bidang. Bebat bersifat fungsional dalam arti bahwa
gerakan sendi tidak banyak terbatas dibandingkan gips konvensional.

d.
Fiksasi internal
Fragmen tulang dapat di ikat dengan sekrup, pen atau paku pengikat, plat
logam yang di ikat dengan sekrup, paku intramedular yang panjang
(dengan atau tanpa sekrup pengunci), circumferential bands, atau
kombinasi dari metode ini. Bila di pasang dengan semestinya, fiksasi
internal menahan fraktur secara aman sehingga gerakandapat segera di

21

mulai; dengan gerakan lebih awal penyakit fraktur (kekakuan dan edema)
dapat di hilangkan.

Indikasi fiksasi internal sering menjadi bentuk terapi yang paling di


perlukan. Indikasi utamanya adalah:
1. Fraktur yang tidak dapat di reduksi kecuali dengan operasi
2. Fraktur yang tak stabil secara bawaan dan cenderung mengalami
pergeseran kembali setelah reduksi
3. Fraktur yang penyatuannya kurang baik dan perlahan-lahan, terutama
fraktur pada leher femur.
4. Fraktur patologik, di mana penyakit tulang dapat mencegah
penyembuhan.
5. Fraktur multiple, bila fiksasi dini (dengan fiksasi internal atau luar)
mengurani resiko komplikasi umum dan kegagalan organ pada
berbagai sistem.
6. Fraktur pada pasien yang sulit perawatannya (penderita paraplegia,
pasien dengan cedera multiple) dan sangat lansia).
7. Teknik banyak tersedia metode, termasuk pengunaan kawat, skrup,
plat, batang intramedula dan kombinasi dari semua itu. Bila plat di
gunakan, kalau mungkin plat harus di pasang pada permukaan yang
Dapat di tegangkan, yang biasanya pada sisi cembung tulang, bila paku
intramedula di gunakan, paku itu dapat dikuncikan dengan sekrup
melintang (muller dkk., 1991)

22

8. Fraktur ulang tidak boleh melepas logam terlalu cepat, atau tulang
akan patah lagi. Paling cepat satu tahun dan 18 atau 24 bulan lebih
aman; beberapa minggu setelah pelepasan, tulang itu lemah, dan di
perlukan perawatan atau perlindungan.
e.Fiksasi luar
Fraktur dapat di pertahankan dengan sekrup pengikat atau kawat penekan
melalui tulang di atas dan di bawah fraktur dan di lekatkan pada suatu
kerangka luar. Cara ini dapat di terapkan terutama pada tibia dan pelvis,
tetapi metode ini juga digunakan untuk fraktur pada femur, humerus, radius
bagian bawah dan bahkan tulang-tulang pada tangan.

Indikasi fiksasi luar sangat berguna untuk:


1. Fraktur yang di sertai dengan kerusakan jaringan lunak yang hebat di
mana luka dapat dibiarkan terbuka untuk pemeriksaan, pembalutan
atau pencangkokan kulit.
2. Fraktur yang disertai dengan kerusakaan saraf atau pembuluh.
3. Fraktur yang sangat kominutif dan tak stabil, sehingga sebujur
tulangnya dapat dipertahankan hingga mulai terjadi penyembuhan.
4. Fraktur yang tak menyatu, yang dapat dieksisi dan dikompresi;
kadang-kadang fraktur ini di kombinasi dengan pemanjangan.
5. Fraktur pada pelvis, yang sering tidak dapat di atasi dengan metode
lain.
6. Fraktur yang terinfeksi, di mana fiksasi internal mungkin tidak cocok.
7. Cidera multipel yang berat, bila stabilisasi lebih awal mengurangi
resiko komplikasi yang berbahaya (phillips dan contreras, 1990)

23

Teknik prinsip fiksasi eksternal sederhana: tulang di tranfiksikan di atas


dan di bawah fraktur dan sekrup atau kawat di transfiksikan bagian
proksimal dan distal kemudian di hubungkan satu sama lain dengan suatu
batang yang kaku. Terdapat berbagai teknik dan alat fiksasi: transfiksi
dengan pen, sekrup atau kawat; batang penghubung pada kedua sisi tulang
atau pada satu sisi saja.
Komplikasi Operasi

Malunion

Kompartemen sindrom

Cross union

Atropi sudeck

Trauma N. Medianus

Rupture tendo ekstensor sendi pergelangan tangan, pronasi,


supinasi, fleksi palmar, pergerakan serta ekstensi

F. PENYEMBUHAN FRAKTUR
FRAKTUR HEALING
Penyembuhan fraktur merupakan suatu proses biologis yang menajubkan. Tidak
seperti jaringan lainnya, tulang yang mengalami fraktur dapat sembuh tanpa jaringan
parut. Pengertian tentang reaksi tulang yang hidup dan periosteum pada
penyembuhan fraktur merupakan dasar untuk mengobati fragmen fraktur. Proses
penyembuhan pada fraktur mulai terjadi segera setelah tulang mengalami kerusakan
apabila lingkungan untuk penyembuhan memadai sampai tejadi konsolidasi. Factor
mekanis yang penting seperti imobilisasi fragmen tulang secara fisik sangat penting
dalam penyembuhan, selain factor biologis yang juga merupakan suatu factor yang
sangat essential dalam penyembuhan fraktur. Proses penyembuhan fraktur berbeda
pada tulang kortikal pada tulang panjang serta tulang kanselosa pada metafisis tulang
panjang atau tulang pendek, sehingga kedua jenis penyembuhan tulang ini harus
dibedakan.

24

Proses penyembuhan fraktur terdiri dari beberapa fase, sebagai berikut :


1. Reactive Phase
i. Fracture and inflammatory phase
ii. Granulation tissue formation
2. Reparative Phase
iii. Callus formation
iv. Lamellar bone deposition
3. Remodeling Phase
v. Remodeling to original bone contour

BAB V
KESIMPULAN
Kesimpulan
Fraktur adalah gangguan pada kontinuitas tulang dengan atau tanpa letak
perubahan letak fragmen tulang. Menurut Lane and Cooper, fraktur atau patah tulang
adalah kerusakan jaringan atau tulang baik komplet maupun inkomplete yang

25

berakibat tulang yang menderita tersebut kehilangan kontinuitasnya dengan atau


tanpa adanya jarak yang menyebabkan fragmen.
Fraktur pada lengan bawah dapat mengakibatkan diskontinuitas pada tulang
radius maupun ulna ataupun keduanya. Fraktur pada lengan bawah berupa fraktur
galeazzi, fraktur colles, fraktur smith, maupun fraktur monteggia tergantung dari
bentuk patahan serta mekanisme traumanya.
Pada fraktur dapat diperbaiki dengna cara reduksi baik dengan traksi, gips,
fiksasi dalam maupun fiksasi luar tergantung pada jenis patahannya. Jika fraktur
dalam posisi baik dapat diperbaiki dengan pemakaian gips, namun jika fraktur dengan
patahan kecil (fragmen) maupun dengan jarak yang jauh dapat diperbaiki dengna
fiksasi luar maupun dalam.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Handkerchief el-Ahmed. Refarat Fraktur Tulang Radius. Diunduh


dari:http://www.kumpulaninformasi.com/article-el-ahmed-handkerchiefreferat-fraktur-tulang-radius.html.

26

2.

Weblog

Heris.

Fraktur

dan

Fraktur

Radius

Ulna.

Diunduh

dari:http://heriblog.wordpress.com/page/2/.
3.

Carter Michel A., Fraktur dan Dislokasi dalam: Price Sylvia A, Wilson
Lorraine McCarty. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.
Edisi 6. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2006. Hal 1365-1371.

4.

Goh Lesley A., Peh Wilfred C. G., Fraktur-klasifikasi,penyatuan, dan


komplikasi dalam : Corr Peter. Mengenali Pola Foto-Foto Diagnostik.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2011. Hal 112-121.

5.

Patel Pradip R., Trauma Skeletal dalam: Patel Pradip R.

Lecture Notes

Radiologi. Edisi kedua. Penerbit Buku Erlangga. Jakarta. 2005. Hal 221-230.
6.

Ekayuda Iwan, Trauma Skelet (Rudapaksa Skelet) dalam: Rasad Sjahriar,


Radiologi Diagnostik. Edisi kedua, cetakan ke-6. Penerbit Buku Balai
Penerbitan FKUI. Jakarta. 2009. Hal 31-43.

7.

Rasjad Chairuddin, Struktur dan Fungsi Tulang dalam: Rasjad Chairuddin.


Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Cetakan keenam. Penerbit PT. Yarsif
Watampone. Jakarta. 2009. Hal 6-11.

8.

Buranda Theopilus et. al., Osteologi dalam : Diktat Anatomi Biomedik I.


Penerbit Bagian Anatomi FK Unhas. Makassar. 2011. Hal 4-7.

9.

Puts R and Pabst R.. Ekstremitas Atas dalam: Atlas Anatomi Manusia
Sobotta. Edisi 22. Penerbit Buku Kedokteran EGC Jilid 1. Jakarta. 2006. Hal
158, 166, 167, dan 169.

10.

Carter Michel A., Anatomi dan Fisiologi Tulang dan Sendi dalam: Price
Sylvia A, Wilson Lorraine McCarty. Patofisiologi Konsep Klinis ProsesProses Penyakit. Edisi 6. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2006. Hal
1357-1359.

27

11.

Patel Pradip R., Sistem Skeletal dalam: Patel Pradip R.

Lecture Notes

Radiologi. Edisi kedua. Penerbit Buku Erlangga. Jakarta. 2005. Hal 191-194.
12.

Begg James D., The Upper Limb in : Accident and Emergency X-Rays
Made Easy. Publisher Churchill Livingstone. UK. 2005. Page 162-167.

13.

Eiff et. al., Radius and Ulna Fractures in : Fracture Management For
Primary Care. Second Edition. Publisher Saunders. UK. 2004. Page 116-119.

14.

Kune Wong Siew, Peh Wilfred C. G., Trauma Ekstremitas dalam : Corr Peter.
Mengenali Pola Foto-Foto Diagnostik. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta. 2011. Hal 97-107.

15.

Malang

Unmuh.

Fraktur

Radius

Ulna.

Diunduh

dari

http://bedahunhum.wordpress.com/2010/05//fraktur-radius-ulna/.
16.

Helmes Erakinc. J and Misra Rakesh.R. in: A-Z Emergency Radiology. from
GMM. Cambridge. Page 94-101.

17.

Rujito S. Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Fraktur Dengan Pemasangan


illizarov. Diunduh dari:http:// www.rujito-fisioterapi.com/category/fisioterapi
-pada-fraktur/.

18.

Sjamsuhidayat R., dan de Jong Wim. Patah Tuland dan Dislokasi dalam:
Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-2. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
2005. Hal 840-854.

19.

Bone Healing, Komlpikasi dan Prognosis Fraktur. Diunduh dari:

http://www.wrongdiagnosis.com/f/fracture/prognosis.htm
20.

Soetikno, R. Cedera Epifisis dalam : Radiologi Emergensi. Cetakan Pertama.


Penerbit Refika Aditama. Bandung. 2011. Hal 170-202.

21.

Rasjad, C. Trauma Pada Tulang dalam : Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi.


Edisi Ketiga. Penerbit Yarsif Watampone. Jakarta. 2007. Hal 374-377.
28

22.

Fraktur

Radius

Ulna.

Diunduh

dari:

http://www.artikelkedokteran.com/838/fraktur-radius-ulna.html
23.

Fracture assesment and surgical strategy illustrative case. Diunduh


dari : https://www2.aofoundation.org/wps/portal/Distal radius - Reduction &
Fixation - Bridge plating - AO Surgery Reference.htm

24.

Patel Pradip R., Trauma Skeletal dalam: Patel Pradip R.

Lecture Notes

Radiologi. Edisi kedua. Penerbit Buku Erlangga. Jakarta. 2005. Hal 218-219.

29