Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Masalah


Seiring dengan perkembangan zaman, produk kosmetik khususnya
kosmetik wanita memberikan suatu peluang bisnis. Kulit wajah dan tubuh
yang menawan sangat penting bagi wanita. Hal ini dapat dibuktikan dengan
banyaknya produk perawatan yang ditawarkan kepada konsumen. Produsen
merespon peluang ini dengan menciptakan beranekaragam produk kosmetik
dan perawatan kulit. Saat ini, banyak beredar produk kosmetik lokal sampai
produk impor. Sehingga konsumen dapat dengan mudah memilih produk
kosmetik yang cocok untuk dirinya. Produk kosmetik tersebut dapat
diperoleh di pusat perbelanjaan maupun di klinik kecantikan.
Meskipun demikian, saat ini banyak produk kosmetik yang beredar
menggunakan
mengganggu

bahan-bahan
kesehatan

kimia

para

berbahaya

pengguna

yang

kosmetik.

diduga

dapat

Menurut

Badan

Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), bahan-bahan kimia yang


berbahaya tersebut antara lain merkuri,hidroquinon, asam retrinoat /
tretinoin/ retinoic acid, bahan pewarna merah K.3 (CI 15585), merah K.10
(rhodamin B), dan jingga K.1 (CI 12075), selain itu, kegiatan produksi di
industri kosmetik sendiri memiliki potensi bahaya bagi tenaga kerja.
Pontensi bahaya yang muncul dapat berasal dari bahan baku pembuatan
kosmetik, cara kerja dari tenaga kerja, peralatan canggih yang digunakan
dalam proses produksi, beban kerja yang berat dan monoton yang dapat
menimbulkan munculnya penyakit akibat kerja yang dapat berakhir menjadi
kecacatan bahkan kematian. Antisipasi terhadap potensi bahaya tersebut
harus

dilaksanakan

sedini

mungkin.

Selain

pengamanan

terhadap

peralatan/teknologi permainan diperlukan juga kondisi yang optimal untuk


tenaga kerja.
Keselamatan dan kesehatan kerja atau K3 merupakan hal yang tidak
terpisahkan dalam sistem ketenagakerjaan dan sumber daya manusia.
Keselamatan dan kesehatan kerja tidak saja sangat penting dalam
meningkatkan jaminan sosial dan kesejahteraan para pekerjanya akan tetapi

jauh dari itu keselamatan dan kesehatan kerja berdampak positif atas
keberlanjutan produktivitas kerjanya.
Oleh sebab itu isu keselamatan dan kesehatan kerja pada saat ini bukan
sekedar kewajiban yang harus diperhatikan oleh para pekerja, akan tetapi
juga harus dipenuhi oleh sebuah sistem pekerjaan. Dengan kata lain pada
saat ini keselamatan dan kesehatan kerja bukan semata sebagai kewajiban,
akan tetapi sudah menjadi kebutuhan bagi setiap para pekerja dan bagi
setiap bentuk kegiatan pekerjaan.
Pencapaian keselamatan dan kesehatan kerja tidak lepas dari peran
ergonomi, karena ergonomi berkaitan dengan orang yang bekerja, selain
dalam rangka efektivitas dan efisiensi kerja. Ergonomi yaitu sebagai salah
satu ilmu yang berusaha untuk menyerasikan antara faktor manusia, faktor
pekerjaan dan faktor lingkungan. Dengan bekerja secara ergonomis maka
diperoleh rasa nyaman dalam bekerja, dihindari kelelahan, dihindari gerakan
dan upaya yang tidak perlu serta upaya melaksanakan pekerjaan menjadi
sekecil-kecilnya dengan hasil yang sebesar-besarnya.
Untuk menjalani hal tersbut, diperlukan suatu system yaitu SMK3.
SMK3 merupakan sistem yang lebih bertanggung jawab dalam berupaya
untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat dan sejahtera
beserta bebas dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Sistem
manajemen ini juga merupakan suatu set elemen yang saling terkait yang
digunakan untuk menetapkan kebijakan, sasaran dan pencapaian sasaran.
Sasaran tersebut meliputi struktur organisasi, rencana aktivitas
(termasuk analisa risiko dan penetapan objektif), tanggung jawab, praktek,
prosedur, proses dan sumberdaya. SMK3 terdiri dari lima prinsip dasar
acuan elemen yaitu kebijakan, perencanaan, penerapan dan operasi
kegiatan, evaluasi atau pemeriksaan dan tinjauan manajemen atau usaha
tindakan perbaikan.
Prinsip dasar SMK3 sebenarnya sudah ada dalam perundang-undangan
sejak tahun 1970. Dalam peraturan Undang-undang Republik Indonesia
Nomor 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja menjelaskan bahwa bahwa
setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatan dalam

melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan dan meningkatkan produksi serta


produktivitas nasional.
Laporan kunjungan perusahaan di PT. Martina Berto ini dibuat
sebagai salah satu syarat tugas pelatihan HIPERKES periode 13 April- 20
April 2015, dalam rangka mempelajari K3 khususnya aspek ergonomi dan
kesehatan kerja
Tujuan
Tujuan Umum
Untuk mengetahui aspek ergonomi dan kesehatan kerja PT. Martina Berto.
Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui definisi ergonomi di PT. Martina Berto.
2. Untuk mengetahui sikap kerja di PT. Martina Berto.
3. Untuk mengetahui cara kerja di PT. Martina Berto.
4. Untuk mengetahui beban kerja di PT. Martina Berto.
5. Untuk mengetahui gizi kerja di PT. Martina Berto.
6. Untuk mengetahui kesehatan kerja di PT. Martina Berto.
7. Untuk mengetahui dampak limbah lingkungan kerja di PT. Martina Berto.
I.2. Landasan Hukum
- Undang Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
- Undang Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
- Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2012 tentang Penerapan SMK3
- Permenaker No. 26 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Penilaian
Penerapan SMK3
I.3. Profil Perusahaan
PT. Martina Berto berdiri pada tahun 1977 sebagai realisasi dari
keinginan besar Dr. Martha Tilaar sebagai pendiri perusahaan. Martha Tilaar
dilahirkan di Kebumen, 4 September 1937. Pada tahun 1963, Martha Tilaar
menyelesaikan pendidikannya dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan di
Jakarta.Kemudian secara khusus, Martha Tilaar melanjutkan pendidikannya
3

di Academy of Beauty Culture di Blooming, USA dan selesai pada tahun


1969. Pada tahun tersebut Martha Tilaar meraih gelar doktor dalam bidang
seni dan kecantikan. Selain itu Martha Tilaar juga mempelajari teknologi
kosmetika di Eropa.
Setelah kembali ke Indonesia, minat Martha Tilaar yang besar
terhadap

ramuan

bereksperimen

tumbuh-tumbuhan

mengembangkan

ditunjukkan

jamu-jamuan

dengan
serta

mulai

berusaha

menggabungkan pengembangan jamu-jamuan tersebut dengan teknologi


kosmetika yang diperolehnya dari berbagai sumber seperti The Academy Of
Beauty Culture di Bloomington, USA dan Keraton Mangkunegaraan di Jawa
Tengah.
Perusahaan besar Martha Tilaar Group (MTG) mulai dirintis oleh DR.
Martha Tilaar pada tahun 1970. Berawal dengan membuka sebuah salon
kecantikan yang diberi nama Martha Salon di rumah orangtuanya, dan
dalam waktu singkat, Martha Salon sudah memiliki cukup banyak
pelanggan. Salon kecil yang dimiliki Martha pun dirasa sudah tidak cukup
menampung pengunjung yang semakin banyak. Pada tahun 1972, dibuka
salon kedua dengan nama Martha Griya Salon.
Berbeda dengan salon pertama, di Martha Griya Salon mulai
diproduksi jamu dan kosmetik dengan skala home industry. Produksi jamu
dan kosmetik juga dilakukan di Jalan Anggur No.3, Cipete, Kebayoran Baru,
Jakarta Selatan. Disanalah pertama kali digunakan merek Sariayu Martha
Tilaar : Sarinya Wong Ayu.
Kegigihan yang disertai keseriusan dan ketekunan Martha Tilaar
dalam bereksperimen terus-menerus mengenai ramu-ramuan tradisional
dan menjalankan usaha salon kecantikannya akhirnya menghasilkan suatu
penemuan yang inovatif yang disebut Total Beauty Concept. Konsep ini
menyebutkan bahwa arti kecantikan yang sebenarnya adalah perpaduan
antara kecantikan dari dalam (inner beauty) dan kecantikan dari luar (outer
beauty), sehingga jika menggunakan formula ramu-ramuan untuk perawatan
kecantikan dari dalam akan sama baiknya dengan perawatan dari luar.
Berdasarkan konsep ini, maka dibuat suatu produk yang menggunakan
bahan-bahan dari alam tetapi diproses dengan teknologi modern saat ini.
4

Pada tahun 1977, Martha Tilaar bekerjasama dengan Theresia


Harsini Setiady, pemilik Kalbe Group membuat perusahaan kosmetik & jamu
dengan nama PT. Martina Berto dengan produk pertama Sariayu Martha
Tilaar. Dengan kedisplinan dan kerja keras Martha Tilaar, tahun 1981, PT.
Martina Berto membuka pabrik pertama di Jl. Pulo Ayang, Kawasan Industri
Pulogadung, Jakarta Timur dan diresmikan oleh Ibu Nelly Adam Malik, istri
Wakil Presiden Republik Indonesia pada saat itu, Bapak Adam Malik.
Sari Ayu sudah menjadi merek kosmetik yang sangat terkenal di
tanah air.Untuk itu, peningkatan distribusi harus terus dilakukan.Pada tahun
1983 didirikan PT. Sari Ayu Indonesia sebagai distributor kosmetik "Sariayu
Martha Tilaar" untuk membantu PT. Martina Berto.
Setiap tahunnya permintaan akan kosmetik Sariayu terus meningkat.
Pada tahun 1986 PT. Martina Berto membuka pabrik yang kedua di Jl.
Pulokambing II/2 Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta Timur dan
diresmikan oleh Ibu Umar Wirahadikusuma, istri Wakil Presiden Republik
Indonesia pada saat itu, Bapak Umar Wirahadikusuma. Walau harus
konsentrasi dalam peningkatan kuantitas produksi, PT. Martina Berto juga
sangat konsisten dalam menjaga kualitas produk.Terbukti pada tahun 1987,
PT. Martina Berto menerima "Asia" dan "Gold Star" Awards untuk kualitas.
Tahun-tahun berikutnya juga merupakan tahun-tahun yang penuh
kerja keras untuk PT. Martina Berto.Tetapi semuanya memang tidak sia-sia.
Pada tahun 1988 hingga 1995 PT. Martina Berto berhasil mengakuisisi
beberapa perusahaan, seperti PT. Kurnia Harapan Raya, PT. Cedefindo, PT.
Estrella Lab, dan PT. Kreasi Boga. Satu demi satu penghargaan diraih PT.
Martina Berto. PT Martina Berto menerima ISO (Internasional Standards
Operation) 9001 pada tahun 1996.Dan pada tahun 1997 giliran PT. Sari Ayu
Indonesia menerima ISO 9002.
Sukses telah diraih PT. Martina Berto.Pada tahun 1999, DR. Martha
Tilaar beserta keluarga membeli saham Kalbe Group di PT. Martina
Berto.Sejak saat itu, PT. Martina Berto sepenuhnya milik Martha Tilaar dan
Keluarga. Pada tahun yang sama dilakukan pula konsolidasi Martha Tilaar
Group yang terdiri atas:

1. PT. Martina Berto (manufacturing dan marketing: Sariayu Martha Tilaar,


Biokos Martha Tilaar, Belia Martha Tilaar, Berto Martha Tilaar, Aromatic Oil
Of Java Martha Tilaar, Dewi Sri Spa Martha Tilaar, Jamu Garden Martha
Tilaar, Mirabella, Cempaka)
2. PT. Cedefindo (manufacturing

dan

marketing:

Rudy

Hadisuwarno

Cosmetics, Madonna)
3. PT. Sari Ayu Indonesia (distributor semua produk PT. Martina Berto, kecuali
produk Cempaka)
4. PT Martha Beauty Gallery (perusahaan jasa untuk Martha Tilaar Salon,
Martha Tilaar Salon & Day Spa, Cipta Busana Martha Tilaar, Art & Beauty
Martha Tilaar, Puspita Martha Tilaar).
Sertifikat ISO 14001 pun diraih PT. Martina Berto pada tahun
2001.Berbagai prestasi telah diraih PT. Martina Berto sebagai pengakuan
kualitas kerja dan produknya. Setiap tahun berbagai penghargaan diberikan
lembaga-lembaga terpercaya sebagai buah dari kerja keras tiada akhir
untuk terus mengharumkan nama bangsa baik di forum nasional maupun
internasional.
Saat ini, Martha Tilaar Grup terdiri dari:
1. PT. Martina Berto (manufactur, marketing untuk pasar Indonesia dan
internasional)
2. PT. Sari Ayu Indonesia (distributor produk kosmetik Martha Tilaar Grup)
3. PT. Martha Beauty Gallery (menawarkan konseling kecantikan dan jasa
pendidikan yang terdiri dari Puspita Martha School of Beauty, Martha Tilaar
Spa, Cipta Busana, Art & Beauty Martha Tilaar).
4. PT. Cantika Puspa Pesona (manajemen franchise lokal dan internasional
untuk Martha Tilaar Spa, Dewi Sri Spa by Martha Tilaar, dan Eastern Garden
Spa by Martha Tilaar)
5. PT. Creative Style (perusahaan agensi periklanan)
6. PT. Estrella Lab (lisensi kosmetik Germany Henkel)
7. PT. Kreasi Boga (agensi sumber daya manusia)
Visi:
Untuk menjadi salah satu perusahaan terkemuka dunia dalam perawatan
kecantikan dan industri spa dengan nuansa alam dan nilai timur, melalui

teknologi modern, penelitian dan pengembangan untuk mengoptimalkan


nilai tambah kepada konsumen dan stakeholder lainnya.
Misi:
-

Untuk mengembangkan, memproduksi, dan memasarkan produk-produk


perawatan kecantikan dan spa dengan nuansa alam & timur dan standar
kualitas internasional untuk memenuhi kebutuhan konsumen di berbagai
segmen pasar dengan portofolio yang sehat mampu mencapai peringkat
tiga besar di setiap segmen di Indonesia.

Untuk menyediakan layanan pelanggan yang sangat baik untuk semua


pelanggan dalam proporsi seimbang, termasuk pelanggan konsumen dan
perdagangan;

Untuk menjaga kondisi keuangan yang sehat dan pertumbuhan yang


berkelanjutan;

Untuk merekrut, melatih, dan mempertahankan tenaga kerja yang kompeten


dan produktif sebagai bagian dari aktiva Perusahaan;

Untuk mempertahankan metode yang efisien dan efektif operasi, sistem,


dan teknologi di seluruh organisasi dan unit bisnis;

Untuk menerapkan Good Corporate Governance secara konsisten untuk


kepentingan semua stakeholder;

Untuk memberikan return atas investasi yang adil untuk dia pemegang
saham;

Untuk memperluas pasar internasional pada kosmetik dan produk herbal


dengan fokus jangka menengah pada kawasan Asia Pasifik dan fokus
jangka panjang di pasar global dengan produk yang dipilih dan merek.

Saat ini PT. Martina Berto merupakan perusahaan kosmetik yang


menguasai pangsa pasar 95% di Indonesia dan 4-5% pangsa pasar luar
negeri

I.4. Alur Produksi


1. Proses produksi kosmetik

Produk kosmetik dibuat di dalam Batch, di bawah pengawasan pengaturan


pemerintah, yaitu : Good manufacturing practices. Peralatan yang
digunakan dapat di kalsifikasikan sebagai berikut: mixing, dispersing,
homogenizer, filling equipment.
a. Mixing
Adapun tujuan mixing adalah untuk mencampur bagian yang ulitter campur,
mempercepat pemanaan bahan-bahan, melarutkan lemak-lemak dan bahan
lainnya, emulsifikasi atau disperse.
b. Pemompaan
Ada dua jenis pompa yang digunakan dalam proses pembuatan kosmetik,
yaitu:
-

Positive displacement pump


Bekerja

dengan

menarik

cairan

dalam

suatu

rongga,

kemudian

mendesaknya keluar dari sisi lain.


-

Centrifugal pumps
Pada pompa ini, cairan dimasukkan pada titik pusat propeller yang berputar
cepat.

c. Pemanasan
Dalam pembuatan kosmetik, bahan bakusering dipanaskan sampai suhu 7080C, dicampur kemudian didinginkan sampai sekitar 30-40 C sebelum
produk akhir dapat dipompa dan disimpan.
d. Filtrasi
Umumnya filtrasi digunakan dalam memurnikan air dan untuk penjernihan
lotion.
e. Filling
Pengisian kosmetik berbentuk cair dapat menggunakan system vakum pada
botol-botol yang berderet, pengisian cream dapat memakai filteram type.
Proses pembuatan lipstick meliputi tiga tahapan, yaitu:
-

Penyiapan campuran komponen : minyak-minyak, zat warna dan campuran

wax
Pencampuran semua itu membentuk masa lipstick
Pencetakan massa lipstick menjadi batangan-batangan lipstick.
8

I.5. Landasan Teori


I.5.1. ERGONOMI
Ergonomi adalah ilmu, seni dan penerapan teknologi untuk menyerasikan
atau menyeimbangkan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam
beraktivitas maupun istirahat dengan kemampuan dan keterbatasan
manusia baik fisik maupun mental sehingga kualitas hidup secara
keseluruhan menjadi lebih baik. Ergonomi juga menurut Badan Buruh
Internasional merupakan penerapan ilmu biologi manusia sejalan dengan
ilmu rekayasa untuk mencapai penyesuaian bersama antara pekerjaan dan
manusia secara optimum agar bermanfaat demi efisiensi dan kesejahteraan.
Dibutuhkan kerjasama antara lingkungan kerja (ahli hiperkes),
manusia (dokter dan paramedik) serta mesin perusahaan (ahli tehnik).
Kerjasama ini disebut segitiga ergonomi. Tujuan dari ergonomi adalah
efisiensi dan kesejahteraan yang berkaitan erat dengan produktivitas dan
kepuasan kerja. Adapun sasaran dari ergonomi adalah seluruh tenaga kerja
baik sektor formal, informal dan tradisional.
Pendekatan ergonomi mengacu pada konsep total manusia, mesin dan
lingkungan yang bertujuan agar pekerjaan dalam industri dapat berjalan
secara

efisien,

selamat

dan

nyaman.

Dengan

demikian

penerapannya harus memperhatikan beberapa hal yaitu:


posisi kerja, proses kerja.

dalam

tempat kerja,

Adapun tujuan penerapan ergonomi adalah

sebagai berikut:
a. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya
pencegahan cidera dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban
kerja fisik dan mental, mengupayakan promosi dan kepuasan kerja.
b. Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas
kontak sosial dan mengkoordinasi kerja secara tepat, guna
meningkatkan jaminan sosial baik selama kurun waktu usia produktif
maupun setelah tidak produktif.
c. Menciptakan keseimbangan rasional

antara

aspek

teknis,

ekonomis, dan antropologis dari setiap sistem kerja yang dilakukan


sehingga tercipta kualitas kerja dan kualitas hidup yang tinggi.
Sedangkan manfaat pelaksanaan ergonomi antara lain menurunnya
9

angka kesakitan akibat kerja, menurunnya kecelakaan kerja, biaya


pengobatan dan kompensasi berkurang,

stress akibat kerja berkurang,

produktivitas membaik, alur kerja bertambah baik, rasa aman karena bebas
dari gangguan cedera, kepuasan kerja meningkat.
Bidang Studi Ergonomi
Beberapa bidang studi yang dipelajari dalam ergonomi merupakan
faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan kerja. Menurut Asosiasi
Internasional Ergonomi terdapat tiga bidang studi dalam ergonomi.
Penjelasan dari ketiga bidang studi tersebut adalah sebagai berikut:
a. Ergonomi fisik: berkaitan dengan anatomi manusia dan beberapa
karakteristik antropometrik, fisiologis, dan biomekanik yang berkaitan
dengan aktivitas fisik.
b. Ergonomi kognitif: berkaitan dengan proses mental, seperti persepsi,
memori,

penalaran,

dan

respon

motorik,

karena

mereka

mempengaruhi interaksi antara manusia dan elemen lain dari sistem.


Topik yang relevan meliputi beban kerja mental, pengambilan
keputusan, kinerja terampil, interaksi manusia-komputer, kehandalan
manusia, stress kerja, dan pelatihan yang berhubungan dengan
manusia-sistem dan desain interaksi manusia computer.
c. Ergonomi organisasi: berkaitan dengan optimalisasi sistem teknis
sosial, termasuk struktur organisasi, kebijakan, dan proses. Topik
yang relevan meliputi komunikasi, awak manajemen sumber daya,
karya desain, kerja tim, koperasi kerja, program kerja baru, dan
manajemen mutu.

Aplikasi/penerapan Ergonomik pada tenaga kerja:


1. Posisi Kerja
Terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri, posisi duduk dimana kaki tidak
terbebani dengan berat tubuh dan posisi stabil selama bekerja. Sedangkan
posisi berdiri dimana posisi tulang belakang vertikal dan berat badan
tertumpu secara seimbang pada dua kaki.
10

2. Proses Kerja
Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan posisi waktu
bekerja dan sesuai dengan ukuran anthropometrinya. Harus dibedakan
ukuran anthropometri barat dan timur.
3. Tata Letak Tempat Kerja
Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas kerja.
Sedangkan simbol yang berlaku secara internasional lebih banyak
digunakan daripada kata-kata.
4. Mengangkat Beban
Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni, dengan kepala,
bahu, tangan, punggung, dll. Beban yang terlalu berat dapat menimbulkan
cedera tulang punggung, jaringan otot dan persendian akibat gerakan yang
berlebihan.
Semua pekerja secara kontinyu harus mendapat supervisi medis
teratur. Supervisi medis yang biasanya dilakukan terhadap pekerja antara
lain :
1 Pemeriksaan sebelum bekerja
Bertujuan untuk menyesuaikan dengan beban kerjanya.
2 Pemeriksaan berkala
Bertujuan untuk memastikan pekerja sesuai dengan pekerjaannya dan
mendeteksi bila ada kelainan.
3 Nasehat
Harus diberikan tentang hygiene dan kesehatan, khususnya pada wanita
muda dan yang sudah berumur.

I.5.2.KESEHATAN KERJA
Program kesehatan kerja berupa upaya promotif, preventif, kuratif,
rehabilitatif. Promosi kesehatan merupakan ilmu pengetahuan dan seni yang
membantu seseorang untuk mengubah gaya hidup menuju kesehatan yang

11

optimal, yaitu terjadinya keseimbangan kesehatan fisik, emosi, spiritual dan


intelektual. Tujuan promosi kesehatan di tempat kerja adalah terciptanya
perilaku dan lingkungan kerja sehat juga produktivitas yang tinggi. Tujuan
dari promosi kesehatan adalah:

Mengembangkan perilaku kerja sehat

Menumbuhkan lingkungan kerja sehat

Menurunkan angka absensi sakit

Meningkatkan produktivitas kerja

Menurunnya biaya kesehatan

Meningkatnya semangat kerja


Tahapan dalam pelaksanaan promosi kesehatan di tempat kerja melalui
delapan langkah yaitu:
a. Komitmen Manajemen
Bukti

adanya

komitmen

menajemen

adalah

adanya

aspek

pengembangan dan penerapan kebijakan yang ditanda tangani oleh


pemegang kekuasaan tertinggi dan komunikasi dengan seluruh
pekerja dan perwakilannya. Bukti tambahan dengan dsediakannya
tenaga, waktu, dan kebutuhan lainnya untuk promosi kesehatan.
b. Koordinasi
Diperlukan

adanya

tim

untuk

implementasi.

Tim

ini

bekerja

mengumpulkan sumber-sumber yang dibutuhkan, memastikan waktu


dan tempat untuk bertemu, membuat anggaran dan perlengkaoan
yang dibutuhkan.
c. Penjajagan Kebutuhan
Tugas pertama untuk tim yang telah dibentuk adalah melakukan
penilaian terhadapt kondisi sekarang yang dibutuhkan tempat kerja
dan pekerja, kondisi

yang

akan

mungkin terjadi

di tempat

pekerjaannya. Metode pengumpulan data adalah: review dokumen,


walk-though inspection, monitoring dan survelens, diskusi
d. Prioritas
Setelah data terkumpul, saatnya menentukan masalah yang menajadi
prioritas berdasarkan pentingnya dan urgensi
12

e. Perencanaan
Memiliki

tahap

perencanaan

program

pengembangan

dan

implementasi pada meningkatkan aktivitas pekerja. Perencanaan


harus memiliki tujuan jangka pajang sehingga pada masa mendatang
dapat ditentukan tingkat keberhasilannya.
f. Pelaksanaan
g. Evaluasi
h. Perbaikan
Perubahan berdasarkan evaluasi hasil, perbaikan program yang telah
diimplementasikan atau menambah program.

13

Tahapan Pelaksanaan

Komitmen Manajemen
Perbaikan

Koordinasi
Komitmen Manajemen
Keterlibatan Pekerja

Evaluasi

Etika dan Penilaian

Pelaksanaan

Penjagaan kebutuhan

Prioritas
Perencanaan

Upaya preventif dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit akibat


kerja yang disebabkan oleh alat/ mesin dan masyarakat yang berada di
sekitar

lingkungan kerja ataupun penyakit menular umumnya yang bisa

terjangkit pada saat melakukan pekerjaan yang diakibatkan oleh pekerja.


Upaya preventif diperlukan untuk menunjang kesehatan optimal pekerja
agar didapat kepuasan antara pihak pekerja dan perusahaan sehingga
menimbulkan keuntungan bagi kedua belah pihak. Aplikasi upaya preventif
diantaranya pemakaian alat pelindung diri dan pemberian gizi makanan bagi
pekerja.
Upaya kuratif merupakan pelayanan yang diberikan kepada pekerja
yang telah mengalami gangguan kesehatan akibat kerja. Pelayanan
diberikan meliputi pengobatan terhadap penyakit umum maupun penyakit
akibat kerja.

14

Pelayanan rehabilitatise merupakan program pemulihan pekerja yang


mengalami cedera karena kecelakaan atau penyakit akibat kerja sehingga
pekerja dapat berfungsi kembali secara fisik, mental, social, keterampilan
bekerja dan ekonomi. Proses ini dimulai sesaat setelah terjadi kecelakaan
atau penyakit akibat kerja dan berlangsung hingga pekerja pulih dan mampu
bekerja kembali. Unsur perencanaan terdiri dari 3 unsur yaitu:
a. Unsur sumber daya manusia
Hal terpenting pada perencanaan sumber daya manusia dalam
program rehabilitasi tempat kerja adalah terbentuknya komite
bersama atau tim antara pekerjaan dan manajemen meliputi wakilwakil dari serikat pekerja, manajemen keselamatan dan kesehatan
kerja, bagian produksi dan keungan.
b. Unsur operasional
unsur operasional terdiri dari kegiatan, pelayanan dan atau intervensi
secara rehabilitasi medis, rehabilitasi kerja dan rehabilitasi psikososial
pada saat dan sesudah terjadi kecelakaan atau penyakit akibat kerja.
Sesaat setelah terjadi kecelakaan terdapat upaya meliputi: strategi
intervensi dini, perawatan dan pengobatan khusus, rehabilitasi kerja
dan psikososial dengan pemulihan secara bertahap dan modifikasi
kerja.

Upaya

sesudah

terjadi

kecelakaan

adalah

pelayanan

mempertahankan kinerja pekerjaan cacat.


c. Unsur komunikasi
Unsur komunikasi dalam perencanaan program rehabilitasi di tempat
kerja

meliputi:

komunikasi

internal

antara

pekerja,

manager,

supervisior, dan serikat pekerja dan komunikasi eksternal oleh


petugas kesehatan, badan kompensasi dan masyarakat. Dalam
perencanaan
kesepakatan
menjadi

komunikasi
komunikasi

prosedur

atau

diperlukan
yang

suatu

kemudian

kegiatan

komitmen

akan

komunikasi

atau

dikembangkan
berdasarkan

kesepakatan tersebut.

15

16

Menurut Permennakertrans No. 03/Men/1982

Memberikan bantuan kepada Tenaga Kerja dalam penyesuaian diri

dengan pekerjaannya
Melindungi Tenaga Kerja thd setiap gangguan kesehatan yang timbul

dari pekerjaan atau lingkungan kerja


Meningkatkan kesehatan badan, kondisi mental (rohani) dan

kemampuan fisik tenaga kerja


Memberikan pengobatan dan perawatan serta rehabilitasi bagi
Tenaga Kerja yang sakit

Pelayanan

Kesehatan

kerja

adalah

Pelayanan

Kesehatan

yang

dilakukan untuk pencegahan, diagnosa, menangani kecelakaan kerja atau


penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan serta pemberian rehabilitasi
terhadap pekerja yang mengalami kecelakaan atau penyakit di tempat kerja.
Salah satu lembaga K3 di perusahaan, sebagai sarana perlindungan tenaga
kerja terhadap setiap gangguan kesehatan yang timbul dari pekerjaan atau
lingkungan kerja
Sarana penyelenggaraan upaya kesehatan kerja yang bersifat
komprehensif (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif)
Diatur dalam Permennakertrans NO. 03 Tahun 1982
Tugas Pokok Pelayanan Kesehatan Kerja
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Pemeriksaan kesehatan TK (awal, berkala, khusus)


Pembinaan & pengawasan atas penyesuaian pekerjaan thd TK
Pembinaan & pengawasan terhadap lingkungan kerja
Pembinaan & pengawasan perlengkapan sanitair
Pembinaan & pengawasan perlengkapan kesehatan TK
Pencegahan dan pengobatan thd. penyakit umum & PAK
Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K)
Pendidikan kesehatan untuk TK dan latihan untuk petugas P3K
Memberikan nasehat mengenai perencanaan dan pembuatan tempat
kerja, pemilikan alat pelindung diri yang diperlukan dan gizi serta

penyelenggaraan makan di tempat kerja


10. Membantu usaha rehabilitasi akibat kecelakaan atau PAK
11. Pembinaan dan pengawasan thd TK dgn kelainan tertentu dalam
kesehatannya
12. Memberikan laporan berkala tentang PKK kepada pengurus
Hak dan Kewajiban

17

1.Setiap tenaga kerja berhak mendapatkan Pelayanan Kesehatan Kerja.


2.Pengurus wajib memberikan Pelayanan Kesehatan Kerja sesuai dengan
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
CARA

PENYELENGGARAAN

PELAYANAN

KESEHATAN

KERJA

Permennakertrans No. 03/1982


Diselenggarakan sendiri oleh pengurus :

Poliklinik perusahaan
Rumah sakit perusahaan

Diselenggarakan melalui pengadaan ikatan/kerja sama dengan dokter atau


pelayanan kesehatan lain :

JPK (Jaminan Pelayanan Kesehatan Kerja) Jamsostek


Dokter praktek swasta
Puskesmas
Poliklinik swasta
Rumah sakit
Dan lain-lain

Diselenggarakan secara bersama antar beberapa perusahaan :

Rumah sakit pekerja


Poliklinik kawasan industri
Dan lain-lain

Program / Kegiatan harus bersifat komprehensif, meliputi :


1.
2.
3.
4.

Pencegahan (Preventif)
Pembinaan (Promotif)
Pengobatan (Kuratif)
Pemulihan (Rehabilitatif)

UPAYA PREVENTIF
a. Px. Kes Awal, Berkala, Khusus
b. Penempatan/pemindahan TK sesesuai kondisi kesehatan
Tenaga Kerja
c. Penerapan higiene dan sanitasi
d. Penerapan prinsip ergonomi kerja
18

e. Prosedur kerja aman (SOP)


f. APD/PPE
g. Pelaporan PAK
h. Pemantauan & pengendalian Ling kerja & alat2 produksi
i. Pemberian makanan sesuai kebutuhan gizi
j. Vaksinasi
UPAYA PROMOTIF
a.
b.
c.
d.
e.

Pendidikan & pelatihan kesehatan kerja atau K3


Safety talk, safety meeting, dll
Olah raga/senam kesegaran jasmani
Program bebas rokok, bebas HIV/AIDS atau IMS di tempat kerja
Bahan KIE (Komunikasi, Informasi & Edukasi) kesehatan kerja

UPAYA KURATIF
a. Pemberian P3K
b. Pengobatan, perawatan Tk yang sakit
c. Operasi Dll.
UPAYA REHABILITATIF
a.
b.
c.
d.

Pemberian prothese dan orthose


Fisiotherapi
Konsultasi psikologis
Dll.

Dilaksanakan melalui Lembaga Kesehatan Kerja :

Pelayanan Kesehatan Kerja


Permennaker No. 03/1982 Pelayanan Kesehatan Kerja
Permennaker No. 01/1998 Peny. PKK dg Manfaat baik dari
PKD Jamsostek

P2K3
Permenaker no 4 tahun 1987
P2K3 Serta Tata Cara Penunjukkan Ahli Keselamatan Kerja

19

PJK3 bidang Kesehatan Kerja


Permenaker No.04/Men/1995

Jasa pemeriksaan kesehatan

TK dan pengujian lingkungan kerja


Dilaksanakan oleh SDM yang memiliki kompetensi kesehatan kerja :

Dokter kesehatan kerja :


Permennakertrans No. Per. 01/Men/1976 .. Dokter perusahaan
wajib pelatihan hiperkes & KK
UU No. 1/ 1970 pasal 8, Permennakertrans No. Per. 02/Men/1980 .
Dokter pemeriksa kesehatan TK, dibenarkan oleh direktur
Permennakertrans Per. 03/Men/1982..dokter pemeriksa kesehatan
TK sebagai dipimpin & dijalankan (penanggung jawab) PKK

Paramedis Perusahaan :
Permennaker No. 01/1979 .. Wajib Latihan Hyperkes

Petugas P3K:
UU No.1/1970 pasal 3 (e)
Permenaker No.03/1982

Petugas Penyelenggara Makanan di Tempat Kerja:


PMP No. 7 Th 1964 psl 8

SARANA PENYELENGGARAAN PELAYANAN KESEHATAN KERJA DI


PERUSAHAAN
No
A.
1

Jenis Sarana
SARANA DASAR :
Ruangan :
a. Ruang tunggu
b. Ruang periksa
c. Ruang/almari obat
d. Kamar mandi dan WC

Perlengkapan Medis :
20

a. Tensimeter dan stetoskop


b. Termometer
c. Sarung tangan
d. Alat bedah ringan (minor set)
e. Lampu senter
f. Obat-obatan
g. Sarana/ Perlengkapan P3K
h. Tabung oksigen dan isinya
3

Perlengkapan umum:
a. Meja dan kursi
b. Tempat tidur pasien
c. Wastafel
d. Timbangan badan
e. Meteran/pengukur tinggi badan
f. Kartu status
g. Register pasien berobat

21

B.
1

SARANA PENUNJANG :
Alat Pelindung Diri (APD)

Alat evakuasi : tandu, ambulance/ kendaraan pengangkut korban, dll.

Peralatan penunjang diagnosa : spirometer, audiometer dll.


Peralatan pemantau/pengukur lingkungan kerja : sound level meter,
lux meter, gas detector dll.

PELAYANAN KESEHATAN KERJA DI PERUSAHAAN


No Pelayanan
1. Pelayanan

Keterangan
Pembinaan kepada tenaga kerja minimal 1 bulan sekali

kesehatan preventif

Pengawasan dan pembinaan lingkungan kerja minimal 2

bulan sekali
Memberikan pelayanan kuratif dan rehabilitatif selama

dan promotif
2.

Pelayanan
kesehatan

kuratif

hari kerja dan selama

dan rehabilitatif

ada shift kerja dengan 500 orang tenaga kerja atau lebih

Pelayanan oleh dokter perusahaan setiap hari kerja

Pelayanan oleh paramedis/ perawat dapat dilakukan


setiap hari kerja

I.5.3 Gizi Kerja


Landasan Teori Gizi Kerja
Gizi Kerja adalah ilmu yang mempelajari secara khusus gizi pada
tenaga kerja dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi
status gizi yang berhubungan dengan lingkungan kerja. Pemenuhan
kecukupan gizi para pekerja secara kualitas dan kuantitas amat penting,
karena dengan tercukupinya gizi pekerja diharapkan dapat meningkatkan
taraf kesehatan tenaga kerja sehingga tercapai tingkat produktivitas dan
efisiensi kerja yang setinggi-tingginya.
Status gizi mempunyai korelasi positif dengan kualitas fisik manusia.
Makin baik status gizi seseorang semakin baik kualitas fisiknya. Ketahanan
dan kemampuan tubuh untuk melakukan pekerjaan dengan produktifitas
yang memadai akan lebih dipunyai oleh individu dengan status gizi baik.
22

Selain itu, peranan gizi dengan produktifitas juga ditunjukkan oleh Darwin
Karyadi (1984) dalam penelitiannya dimana dengan penambahan gizi terjadi
kenaikan produktifitas kerja. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa para
penyadap getah yang tidak menderita anemia memiliki produktifitas 20%
lebih tinggi daripada yang menderita anemia.
Pemenuhan gizi kerja di perusahaan tercakup dalam program
pengelolaan makan yang dimulai dari rencana perencanaan menu hingga
penyajiannya dengan memperhatikan kecukupan kalori dan zat gizi,
pemilihan jenis dan bahan makanan, santasi tempat pengolahan dan tempat
penyajian, waktu dan teknis penyajian bagi tenaga kerja. Hal ini diatur dalam
Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. SE. 01/Men/1979
tentang pengadaan kantin dan ruang makan. Penyelenggaraan makan ini
dapat dilakukan oleh perusahaan sendiri atau bekerja sama dengan
perusahaan jasa boga.
Kecukupan gizi kerja seseorang ditentukan oleh usia, jenis kelamin,
berat badan, tinggi badan, aktivitas fisik, dan kondisi fisiknya. Selain
mempertimbangkan faktor kuantitas yaitu jumlah kalori yang mencukupi,
perlu diperhatikan pula faktor kualitas yaitu komposisi nutrisi. Selain itu
beberapa kondisi di lingkungan kerja juga menjadi pertimbangan dalam
pemenuhan gizi kerja. Contohnya
Efek dari gizi kerja yang kurang bagi pekerja adalah :

Pekerja tidak bekerja dengan maksimal

Pertahanan tubuh terhadap penyakit berkurang

Kemampuan fisik pekerja yang berkurang

Berat badan pekerja yang berkurang atau berlebihan

Reaksi pekerja yang lamban dan apatis,

Pekerja tidak teliti

Efisiensi dan produktifitas kerja berkurang

I.5.4 Pencegahan HIV AIDS dan Narkoba


23

HIV dan AIDS merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah
besar di dunia termasuk di Indonesia. Laporan WHO terkait HIV/AIDS tahun
2012 mencatat ada 35,3 Juta orang hidup dengan HIV (ODHA) dan sekitar
3,5 juta orang telah meninggal karena AIDS. Sedangkan di Indonesia,
terlaporkan berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes)
hingga bulan Maret 2014, tercatat sebanyak 134.042 orang telah terinfeksi
HIV, dengan angka AIDS 54.231 orang dan kematian mencapai 9.615 jiwa.
DASAR HUKUM
Berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi
Republik indonesia Nomor : KEP.68/MEN/IV/2004 tentang pencegahan dan
penanggulangan HIV/AIDS di tempat kerja tertuang dalam pasal 1-7.
MANFAAT
Perusahaan yang secara efektif mencegah dan mengelola HIV dan AIDS di
tempat kerja akan tumbuh lebih kuat:
HIV dan AIDS lebih berdampak pada orang dewasa usia kerja yaitu sektor
produktif dari angkatan kerja. Dengan demikian, kasus HIV dan AIDS yang
tidak ditangani akan mempunyai dampak yang sangat negatif terhadap
dunia kerja: menurunkan produktivitas, menganggu siklus produksi,
mengurangi ketersediaan tenaga kerja dan ketrampilan, meningkatkan biaya
buruh, mengurangi hak-hak karyawan, dsb.
Tempat kerja adalah landasan yang ideal untuk menangani masalah HIV
dan AIDS:perusahaan dapat meningkatkan kesadaran pada karyawan
mereka,

memerangi

diskriminasi

dan

stigmatisasi,

meminimalisir

penyebaran HIV dan AIDS di kalangan tenaga kerja mereka yang sudah ada
dan yang berpotensi menjadi karyawan mereka, serta memperkenalkan
program perawatan dan dukungan bagi karyawan mereka.
Memerangi HIV dan AIDS di tempat kerja akan meningkatkan citra
perusahaan dikalangan karyawan, pemasok dan masyarakat.

24

Kesaksian atas dukungan dan penghormatan yang diberikan pihak


perusahaan. Kepada karyawan yang mengalami penyakit mematikan akan
memperkuat semangat juang, loyalitas dan produktivitas karyawan.
KAIDAH PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN HIV/AIDS
1. Pengakuan HIV dan AIDS sebagai suatu isu di Tempat Kerja
2. Non-Diskriminasi
3. KesetaraanJender
4. Lingkungan Kerja yang Sehat
5. Dialog Sosial untuk Keberhasilan Pelaksanaan Kebijakan serta Program
HIV dan AIDS
6. Tidak ada Skrining untuk Tujuan Penyingkiran dari Pekerjaan atau Proses
Kerja
7. Kerahasiaan
8. Kelanjutan Hubungan Kerja
9. Pencegahan
10.Perawatan dan Dukung

25

BAB II
PELAKSANAAN
II.1. Tanggal dan Waktu Pengamatan
Waktu
Kegiatan kunjungan perusahaan ini dilakukan pada hari Kamis, 16 April
2015, pukul 14.00 16.00 WIB.
II.2. Lokasi Pengamatan
Tempat
Kegiatan dilaksanakan di PT. Martina Berto, Pulo Kambing 2 No. 1, Pulo
Gadung, Jakarta Timur.

Dokumentasi

Peserta Hiperkes dan Keselamatan Kerja Yayasan Soedjoko Kuswadji


Bersaudara
Periode 13 20 April 2015

26

BAB III
HASIL PENGAMATAN
III.1.ERGONOMI
1. Sikap Kerja
Hasil pengamatan mengenai sikap kerja dari tenaga kerja didapatkan
sudah sesuai dengan aspek ergonomis yang benar, dapat dilihat dengan
adanya:
a. Tidak terdapat tenaga kerja atau pegawai yang mengangkat
barang di ruang kerjanya dikarenakan semua proses produksi
dijalankan dengan mesin.|
b. Hampir semua karyawan tidak menggunakan kursi dengan
sandaran
c. Terdapat ketidaksesuaian antara tinggi kursi dan meja dengan
postur tubuh karyawan
d. Tinggi tangga mesin tidak sesuai dengan tinggi tenaga kerja
2. Cara Kerja
Cara kerja yang kami amati ada dua sisi yaitu : posisi kerja dan
proses kerja. Tugas karyawan dibagi dalam dua bagian, yaitu bagian office
dan manufacturing. Bagian office bekerja dalam posisi duduk melakukan
pekerjaan administratif berhubungan dengan komputer, menulis, membaca,
dan lainnya. Sedangkan bagian manufacturing dibagi menjadi beberapa
bagian, yaitu:
a. Produksi, yang mencakup bagian liquid, dry, decorative, dan lipstick
b. Warehouse, yang mencakup bagian raw material dan packaging
c. Engineering
Posisi kerja pada masing-masing bagian bervariatif, sebagian besar
dalam posisi duduk. Dari hasil pengamatan yang dilakukan, pekerja duduk
dalam posisi agak membungkuk karena ketidaksesuaian tinggi meja, kursi,
dan antropometri pekerja. Posisi ini terus dipertahankan selama jam kerja
karena pekerjaan yang dilakukan bersifat repetitif dan kontinu. Hal ini juga
terjadi pada pekerja yang dalam posisi berdiri membungkuk, namun posisi

27

ini

hanya

dipertahankan

sementara,

karena

hanya

terjadi

saat

mengendalikan mesin dan berpindah-pindah ke tempat lainnya.


3. Beban Kerja
Beban kerja pada tenaga kerja masih dalam batas normal, yaitu 8
jam/hari (istirahat makan siang selama 1 jam), libur pada hari Sabtu dan
Minggu serta hari libur nasional, dengan jam kerja :
- Karyawan bagian produksi : pukul 07.00-15.30 wib
Bila lembur bisa sampai pukul 21.00 wib
- Karyawan kantor : pukul 08.00-17.00 wib
Aktivitas operasional pekerja bagian office dilakukan setiap hari Senin
Jumat. Aktivitas operasional pekerja bagian produksi dibagi menjadi 1 shift
rata-rata berdurasi kerja 8 jam dengan istirahat makan selama 1 jam dan 2
kali waktu snack masing-masing selama 15 menit.
Dari hasil pengamatan tersebut, beban kerja sudah cukup dan
pelaksanaannya sudah sesuai di lapangan. Istirahat makan juga sudah
dirasa cukup, yakni 1 jam. Adanya istirahat snack (15 menit) diperlukan agar
para karyawan tidak terlalu jenuh bekerja. Selain itu, para karyawan dapat
melaksanakan sholat ataupun menggunakan waktu istirahat yang singkat
untuk sekedar melemaskan otot-otot yang lelah setelah bekerja.
4. Lokasi Kerja
Umumnya lokasi bekerja di gedung manufactur PT. Martina Berto,
Tbk. Untuk ruangan tertutup disediakan pendingin (AC) di seluruh ruangan.
Pencahayaan di setiap ruangan terlihat sudah cukup baik dengan dibantu
oleh cahaya matahari yang masuk dari jendela-jendela besar yang
mengelilingi ruang produksi.

III.2.KESEHATAN KERJA
In-House Clinic
Tersedia fasilitas in-house clinic yang disediakan oleh perusahaan
bagi para karyawan. Klinik ini mempertugaskan 3 (tiga) orang dokter yang
28

bekerja selama jam kantor (Senin Jumat pukul 08.00 15.00, libur pada
hari kamis) dibantu oleh beberapa orang perawat.
Menurut informasi narasumber, penyakit yang paling sering dijumpai
di kalangan para karyawan yang berobat antara lain ISPA, Faringitis,
gastritis,

demam,

tipus,

sakit

kepala,

diare,

reumatik,

gangguan

pendengaran dan alergi (kulit). Penyakit akibat kerja jarang dijumpai.


Kecelakaan kerja yang pernah terjadi cukup ringan, misalnya tersayat pisau
cutter dan dapat langsung ditangani di tempat. Di in-house clinic ini, apabila
ada kasus-kasus yang perlu penanganan lebih lanjut, disiapkan rujukan ke
RS terdekat, antara lain RS Harapan Jayakarta dan RS Antam Medika.
PT Martina Berto Tbk menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan
untuk tenaga kerja berupa asuransi AVIVA, poliklinik yang praktek setiap 5
hari dalam seminggu, bekerja sama dengan 1 rumah sakit, pada pekerja
bagian produksi dilakukan medical check-up dan rontgen 2x setahun serta
program olahraga. PT. Martina Berto juga memiliki program kesehatan untuk
karyawannya yang mayoritas adalah wanita. Oleh karena itu, terdapat
beberapa program kesehatan yang diterapkan perusahaan ini untuk
karyawati tersebut antara lain program laktasi dan program KB (KB Suntik
dan KB pil).
III.3 Kantin dan Gizi Kerja
Perusahaan PT Martina Berto Tbk mengadakan kerja sama dengan
beberapa catering untuk pemenuhan kebutuhan gizi para pekerjanya. Setiap
makanan yang dibagikan kepada para karyawan, makanan tersebut sudah
melalui proses pengujian sampel. Perusahaan ini menetapkan setiap
pekerja mendapatkan makanan dengan minimal 1400 kkal dengan menu
satu kali makan besar diantaranya nasi, lauk, sayur, dan buah, serta dua kali
makanan selingan. Makanan yang diberikan setiap harinya bervariasi.
Setiap satu minggu sekali diberikan makanan ekstra seperti bubur kacang
hijau, cendol, cocktail dan lain sebagainya. Sebelum dan setelah makan
siang karyawan diberikan snack makanan.
Perusahaan ini mempunyai tiga kantin, yaitu dua kantin di lantai tiga
gedung A dan satu kantin di lantai dasar gedung B. Tiap harinya para
29

pekerja diberikan tiga waktu istirahat. Sekitar pukul setengah sepuluh, para
pekerja diperbolehkan istirahat 15 menit untuk makan makanan selingan.
Waktu istirahat siang selama 60 menit untuk makan besar, dan sore hari
diperbolehkan istirahat 15 menit untuk makan makanan selingan. Kapasitas
kantin di gedung A cukup untuk 200-250 pekerja, sedangkan di gedung B
sekitar 150 pekerja. Setelah 60 menit, pekerja yang sudah istirahat itu
ikemudian diganti dengan pekerja lainnya.
III.4 Pencegahan HIV AIDS dan Narkoba
Berdasarkan hasil pengamatan dan data dari PT. Martina Berto, Tbk data
yang didapatkan bahwa tidak terdapat data mengenai HIV/AIDS di
perusahaan ini. Kemudian tidak adanya upaya promosi kesehatan terkait
HIV/AIDS. Upaya promosi kesehatan yang dilakukan di PT. Martina Berto,
Tbk hanya mengenai kanker servix dan tidak dilakukan secara teratur,
begitu pula dengan skrining atau pemeriksaan terkait penyakit HIV/AIDS
walaupun perlu ditekankan bahwa pemeriksaan HIV/AIDS harus dilakukan
secara sukarela dan rahasia.
Prinsip prinsip kunci dari ILO tentang HIV/AIDS dan dunia kerja yang
berlaku bagi semua aspek pekerjaan dan semua tempat kerja, termasuk
sektor kesehatan :
a. Isu tempat kerja
HIV/AIDS adalah isu tempat kerja, karena dia mempengaruhi angkatan
kerja, dan karena tempat kerja dapat memainkan peran vital dalam
membatasi penularan dan dampak epideminya.
b. Non diskriminasi
Tidak ada diskriminasi terhadap pekerja berdasarkan status HIV yang
nyata atau di curigai.
c. Kesetaraan gender
Hubungan gender yang lebih setara dan pemberdayaan wanita adalah
penting untuk mencegah penularan HIV dan membantu masyarakat
mengelola dampaknya.
30

d. Lingkungan kerja yang sehat


Tempat kerja harus meminimalkan resiko pekerjaan, dan disesuaikan
dengan kesehatan dan kemampuan bekerja.
e. Dialog sosial
Kebijakan dan program HIV/ AIDS yang sukses membutuhkan
kerjasama dan saling percaya antara pengusaha, pekerja dan
pemerintah.
f. Tidak boleh melakukan skrining untuk tujuan rekrument
Tes HIV ditempat kerja harus dilaksanakan secara sukarela dan
rahasia, tidak boleh digunakan untuk menskrining pelamar atau
pekerja.
g. Kerahasiaan
Akses kepada data perseorangan, termasuk status HIV pekerja, harus
dibatasi oleh aturan dan kerahasiaan.
h. Melanjutkan hubungan pekerjaan
Pekerja dengan penyakit yang berkaitan dengan HIV harus dibolehkan
bekerja dalam kondisi yang sesuai selama dia mampu secara medik.
i. Pencegahan
Mitra sosial yang mempunyai posisi unik untuk mempromosikan upaya
pencegahan melalui informasi, pendidikan dan dukungan bagi
perubahan perilaku.
j. Kepedulian dan dukungan
Pekerja berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang terjangkau.

III. 5 Fasilitas kesehatan dan Sarana P3K


Hasil penemuan kami di lapangan menunjukkan bahwa fasilitas
kesehatan yang dimiliki oleh PT. Martina Berto sudah tersedia, namun belum
disediakan dengan cukup baik oleh perusahaan, yaitu berupa :

Belum tersedianya fasilitas kesehatan minimal yang tercantum


dalam tabel 1.

31

o Tidak terdapat ruang tunggu yang memungkinkan karena


ukuran klinik yang tidak terlalu luas.
o Tempat tidur periksa yang tidak dikondisikan sesuai dengan
kebutuhan

emergensi

(sebaiknya

berada

ditengah

ruangan).
o Alat-alat untuk keadaan emergensi seperti Ambu bag, pipa
guedel, laringngoskop, dan alat penunjang lainnya tidak
ditemukan, hanya didapatkan Oksigen.
o Tidak ditemukannya alat sterilisator untuk alat-alat medis.

Belum tersedianya fasilitas pendukung untuk fasilitas kesehatan


seperti,
o Tidak tesedianya ambulance untuk mobilisasi pasien untuk
rujukan, yang saat ini disediakan sebagai pengganti
merupakan mobil dinas perusahaan.
o Kotak P3K yang jarang ditemukan pada tempat yang
dikunjungi tampak tidak diisi sesuai dengan checklist yang
terdapat pada kotak P3K.
o Petugas P3K tiap bagian tidak ditemukan pada saat
kunjungan dilakukan.

Jam operasional dari fasilitas kesehatan tidak diberlakukan sesuai


dengan jam kerja tenaga kerja. Jam kerja dokter dimulai pukul
08.00 hingga 14.00, sedangkan tenaga kerja hingga pukul 15.30.
Tidak ada shift malam pada tempat ini.

32

Sumber: KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PEMBINAAN PENGAWASAN


KETENAGAKERJAAN NOMOR KEP. 22/DJPPK/V/2008.

Sumber: KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PEMBINAAN PENGAWASAN


KETENAGAKERJAAN NOMOR KEP. 22/DJPPK/V/2008.

33

III.6 Personil Kesehatan


Berdasarkan hasil pengamatan yang kami lakukan di PT. Martina
Berto, jumlah personil kesehatan di perusahaan ini berjumlah 3 orang
dokter dan 4 orang paramedis. Sertifikasi tenaga medis pada perusahaan
ini dikatakan lengkap oleh salah seorang dokter yang kami wawancarai,
namun tidak ada data berupa bukti sertifikat yang dapat menunjang hal
tersebut.
PT. Martina Berto memiliki jumlah pekerja sebanyak lebih dari 4000
orang, Sesuai dengan PERMENAKERTRANS RI No. 03/MEN/1982, maka
pengadaan Pelayanan Kesehatan diadakan tergantung pada jumlah tenaga
kerja & tingkat bahayanya yaitu apabila jumlah tenaga kerja lebih dari 500
orang, harus mempunyai klinik dan dokter yang praktek setiap hari, dan bila
mempunyai 3 shift, klinik melayani dalam setiap shift. Klinik di perusahaan
ini tidak memberikan pelayanan medis setiap hari yaitu hanya empat kali
perminggu dan tanpa dokter pada hari kamis, sabtu, dan minggu , selain itu
shift pelayananya hanya satu kali.
Jam kerja tenaga medis di perusahaan ini selama 8,5 jam yaitu dari
pukul 07.00 15.30 WIB selama 5 hari kerja. Apabila ada tenaga kerja yang
membutuhkan pelayanan medis, PT. Martina Berto sudah bekerjasama
dengan Rumah Sakit Antam Medika dan Rumah Sakit Harapan Jayakarta
sehingga para kayawan dan tenaga kerja yang membutuhkan pelayanan
medis dapat dirujuk ke Rumah Sakit Tersebut. Sebagaimana yang di
syaratkan dalam peraturan perundangan klinik perusahaan juga sebagai
tempat P3K sehingga dibutuhkan tenaga medis yang penuh bekerja pada
jam kerja pabrik 24 jam.
PT. Martina Berto setiap sekali dalam setahun mengadakan pelatihan
untuk para petugasnya yaitu berupa pelatihan Pertolongan Pertama Pada
Kecelakaan (P3K), namun pelatihan ini tidak diberikan kepada semua
pekerja, hanya petugas P3K saja yang mendapatkan pelatihan ini. Ketika
kami lakukan pengamatan tidak ada satu pun petugas P3K yang berada di
masing - masing divisi kerja.

34

Selain itu, perusahaan ini juga mengadakan screening P2HIV kepada


setiap karyawan yang direkrut yaitu pada masa awal - awal kerja. Dokumen
Inform consent dan tim konseling test HIV AIDS belum dapat diperlihatkan.
Tampaknya belum ada unit kerja khusus yang bertugas membuat
program Pencegahan HIV AIDS dan Narkoba. Hal tersebut tampak jelas dari
pengamatan sepintas tidak adanya poster mengenai HIV AIDS dan
Narkoba.
Perusahaan ini juga mengadakan program pelatihan pemadaman
kebakaran kepada para petugas kebakaranya setiap sekali dalam setahun.

III. 7 Penyakit Akibat Kerja


Tidak didapatkan adanya penyakit akibat kerja

35

BAB IV
PEMECAHAN MASALAH
No

Unit Kerja

Permasalahan

Penangangan

.
1.

Bagian

Tenaga kerja duduk Pekerja

diberi Kursi

Filling

dikursi dan tidak ada waktu

untuk dengan kursi yang

Lipstick

sandaran

sehingga melakukan

terlihat membungkuk.

stretching

Saran
diganti

terdapat
untuk sandarannya

mengobati

sehingga

kelelahan otot

bisa

pekerja

meluruskan

punggungnya dan
tidak
membungkuk dan
Duduk

sesuia

ergonomi

2.

Klinik

Belum

tersedianya Melengkapi

Modifikasi

fasilitas minimal yang minimal alat-alat ruangan dengan


dibutuhkan dan tata emergensi
ruang

dan sekat agar dapat

pemeriksaan kebutuhan

yang kurang sesuai

standart lainnya.

memberikan
ruang lebih untuk
ruang tunggu dan
tata letak
ruang
pemeriksaan
sebaiknya
dimodifikasi untuk
keadaan

3.

Fasilitas

Kotak P3K yang tidak Petugas P3K

emergensi.
Dilakukan

pendukung

diawasi

pemantauan

pemakaian, berkewajiban

36

4.

Operasional

penggantian isi dan memantau

dalam

ketersediannya.

kondisi kotak

penggunaan

P3K.

perawatan

Kurangnya
operasional
yang

tidak

dan
untuk

kotak P3K.
waktu Menambah waktu Sebaiknya
klinik operasional
sesuai klinik.

dengan pabrik.

penambahan
dokter/paramedik
untuk

membantu

tugas klinik

5.

Kesehatan
Kerja

6.

Kesehatan
Kerja

Tidak

memiliki

data

Membuat data
atau keeping
yang valid mengenai
record dari
penyakit HIV/AIDS di
pekerja yang
memiliki penyakit
PT.Martina Berto, Tbk
HIV/AIDS
Tidak dilakukannya
Melakukan
tindakan-tindakan
kegiatan promosi
dalam upaya
kesehatan terkait
pencegahan
HIV/AIDS di
HIV/AIDS di kalangan
tempat kerja
tenaga kerja

Dibuatkan
keeping record

Dilakukan promosi
kesehatan secara
menyeluruh terkait
penyakit

dan

penularan
HIV/AIDS

37

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
V.1. KESIMPULAN
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan standar kerja
yang harus dipenuhi oleh suatu perusahaan guna menciptakan tempat kerja
yang aman, efisien dan produktif dengan mengendalikan berbagai resiko
yang berkaitan dengan kegiatan kerja. Ruang lingkup K3 terdiri dari aspek
tenaga kerja, sistem kerja, sarana dan prasarana perusahaan. PT. Martina
Berto Tbk sebagai perusahaan yang memiliki tenaga kerja yang banyak
telah menerapkan K3, namun pelaksanaannya masih diperlukan beberapa
perbaikan dan digalakkan.
Pelayanan medis pada PT. Martina Berto tidak sesuai dengan
ketentuan yang berlaku. Tidak adanya bukti sertifikat hiperkes, K3, ATLS,
dan ACLS pada dokter di PT. Martina Berto, sehingga kelayakan dan
kompetensi tenaga medis yang bekerja di PT. Martina Berto tidak dapat
dinilai. Pelatihan P3K tidak diberikan kepada semua pekerja dan karyawan.
PT Martina Berto Tbk menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan
untuk tenaga kerja berupa asuransi AVIVA, poliklinik yang praktek setiap 5x
dalam seminggu, bekerja sama dengan rumah sakit, pada pekerja bagian
produksi dilakukan

medical check-up dan rontgen 2x setahun, program

senam serta penyuluhan kesehatan.


Pengaturan alat dan ruang lingkup kerja pada PT Martina Berto cukup
baik. Beban kerja dari tenaga kerja selama 8 jam/hari. Sebagian besar
pekerja bekerja dengan posisi duduk. Instruksi penggunaan, cara kerja
mesin dan cara pengendalian bahaya sudah tertera dengan baik di setiap
mesin, tetapi untuk pelaksanaannya tergantung perilaku para pekerjanya
masing-masing, masih ditemukan adanya perilaku kerja yang tidak sesuai
dengan ergonomi.
Penyakit terbanyak yang dikeluhkan adalah ISPA, gastritis, faringitis,
demam, tifoid, diare, reumatik, gangguan pendengaran dan alergi. Penyakit
akibat kerja jarang dikeluhkan.
Perusahaan PT Martina Berto Tbk mengadakan kerja sama dengan
catering untuk pemenuhan kebutuhan gizi para pekerjanya, menetapkan
38

setiap pekerja mendapatkan makanan dengan minimal 1400 kkal dengan


menu satu kali makan besar diantaranya nasi, lauk, sayur, dan buah, serta
dua kali makanan selingan. Perusahaan ini mempunyai tiga kantin dan
setiap harinya para pekerja diberikan tiga waktu istirahat.
V.2.SARAN
Sebaiknya dokter yang bekerja merupakan dokter tetap perusahaan
yang telah mendapatkan pelatihan K3 yang dapat bekerja setiap hari (sesuai
jam kerja karyawan perusahaan) serta dapat menjalankan 12 program
sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja.
Masker yang digunakan karyawan masih dirasakan kurang sesuai
dengan jenis potensi bahaya di tempat kerja, sehingga perlu diperhatikan
pemberian masker lebih sesuai dengan potensi bahaya di tempat kerja
(bahaya kimia).
Pengawasan tenaga kerja yang tidak menggunakan APD dengan
baik (sarung tangan, masker, dan sepatu khusus) pada pekerja laboratorium
sehingga dapat terpapar langsung dengan zat kimia. Oleh karena itu
disarankan dilakukan pengawasan yang lebih ketat.
Sikap tenaga kerja ada yang tidak ergonomis, seperti terlalu
membungkuk karena tidak terdapat sandaran pada kursi. Dalam jangka
waktu

yang

lama,

hal

ini

dapat

menyebabkan

gangguan

pada

muskuloskeletal. Oleh karena itu disarankan untuk menyediakan kursi yang


memiliki sandaran dan sesuai dengan postur tubuh dan cara kerja karyawan
dengan harga terjangkau.
Adanya sanksi (misalnya peringatan) terhadap pekerja yang tidak
sesuai dengan standar operasional khususnya mengenai penggunaan alat
pelindung diri. Promosi tentang sikap kerja yang ergonomis, kesehatan dan
keselamatan kerja

39

BAB VI
PENUTUP
Kegiatan produksi industri memiliki potensi bahaya baik bagi
tenaga kerja maupun konsumen penggunanya. Potensi bahaya yang
muncul dapat berasal dari bahan baku, cara kerja dari tenaga kerja, proses
produksi, beban kerja yang berat dan monoton yang dapat menimbulkan
munculnya penyakit akibat kerja yang dapat berakhir menjadi kecacatan
bahkan kematian. Berdasarkan UU No.1 tahun 1970 setiap perusahaan
wajib menjalankan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan kerja
(SMK3) yang

bertujuan untuk meningkatkan produktivitas pekerja serta

mengurangi kerugian yang ditimbulkan oleh masalah terkait K3 berupa


kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Untuk itu perlu dilakukan identifikasi
potensi bahaya ditempat kerja serta manajemen penanganannya oleh
tenaga kesehatan yang memiliki pengetahuan SMK3. SMK3 sendiri dapat
diterapkan dengan tetap memperhatikan asas ekonomi perusahaan
sehingga aplikasinya dapat menguntungkan semua pihak.

40