Anda di halaman 1dari 22

REFERAT

PENATALAKSANAAN BPH

Disusun oleh:

Sri Wahyudi
NIM. G4A013004

PROGRAM PROFESI DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
SMF ILMU BEDAH RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
PURWOKERTO
2015

LEMBAR PENGESAHAN
REFERAT
PENATALAKSANAAN BPH
Oleh:
Sri Wahyudi
NIM. G4A013004

Disusun dalam rangka memenuhi tugas kepaniteraan klinik


Program Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal
Soedirman SMF Ilmu Bedah RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo,
Purwokerto

Telah dipersentasikan pada tanggal

Juni 2015

Mengesahkan,

dr. Tri Budiyanto, Sp.U.


Pembimbing

BAB I
PENDAHULUAN
Kelenjar prostat adalah salah satu organ genital pria yang terletak di inferior
kandung kemih, di depan rectum dan membungkus uretra pars prostatica. Volume
prostat bertambah sesuai dengan bertambahnya usia (Nickel, 2013). Pembesaran
prostat benigna atau lebihdikenal sebagai BPH sering diketemukan pada pria
lanjur usia lanjut1. Istilah benign prostatic hyperplasia merupakan istilah
histopatologis, yaitu terdapat hiperplasia sel-sel stroma dan sel-sel epitel kelenjar
prostat1,2,3. Hiperplasia prostat benigna terjadi 70% pada pria diatas 60 tahun dan
meningkat menjadi 90% pada usia 80 tahun. 1,4. Akibat dari pembesaran kelenjar
prostat dapat menyebabkan terjadinya obstruksi, 1,5. Obstruksi ini lama kelamaan
dapat menimbulkan perubahan struktur vesika urinaria dan ginjal sehingga
menyebabkan komplikasi pada saluran kemih atas maupun bawah.
Keluhan pada pasien BPH sering berupa

LUTS (lower urinary tract

symptoms) yang terdiri atas gejala obstruksi (voiding symptoms) atau iritasi
(storage symptoms) yang meliputi: frekuensi miksi meningkat, urgensi, nokturia,
pancaran miksi lemah dan sering terputus-putus (intermitensi), dan merasa tidak
puas sehabis miksi, dan pada dapat tahap selanjutnya terjadi retensi urine1,2,4.
Office of Health Economic Inggris mengeluarkan proyeksi prevalensi BPH
bergejala di Inggris dan Wales beberapa tahun ke depan7, dimana diperkirakan
jumlanya akan meningkat menjadi satu setengah kalinya pada tahun 2031.
Terdapat

beberapa

faktor

yang

diduga

berperan

dalam

proliferasi/pertumbuhan jinak kelenjar prostat, tetapi pada dasarnya BPH tumbuh


pada pria yang menginjak usia tua dan masih mempunyai testis yang masih

berfungsi normal menghasilkan testosterone, selai itu juga terdapat pengaruh


hormon (estrogen, prolaktin), diet tertentu, mikrotrauma, dan faktor-faktor
lingkungan diduga berperan dalam proliferasi sel-sel kelenjar prostat secara tidak
langsung. Faktor-faktor tersebut mampu mempengaruhi sel-sel prostat untuk
mensintesis protein growth factor, yang selanjutnya protein tersebut berperan
dalam memacu terjadinya proliferasi sel-sel kelenjar prostat. Fakor-faktor yang
mampu meningkatkan sintesis protein growth factor dikenal sebagai faktor
ekstrinsik sedangkan protein growth factor dikenal sebagai factor intrinsik yang
menyebabkan hiperplasia kelenjar prostat3.
Terapi yang diberikan pada pasien BPH tergantung pada tingkat keluhan
pasien, komplikasi yang terjadi, sarana yang tersedia, dan pilihan pasien4. Di
berbagai daerah di Indonesia kemampuan melakukan diagnosis dan modalitas
terapi pasien BPH tidak sama karena perbedaan fasilitas dan sumber daya manusia
di tiap-tiap daerah.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. ANATOMI KELENJAR PROSTAT


Prostat adalah organ genitalia pria yang terletak di bawah dari buli-buli, di
depan rektum dan membungkus uretra posterior. Bentuknya seperti buah
kemiri dengan ukuran 4x3x2,5 cm dan beratnya kurang lebih 20 gram .
Prostat memiliki kapsula fibrosa yang padat dan dilapisi oleh jaringan ikat
prostat sebagai bagian fascia pelvis visceralis.

Sumber : K. OH, William (2000) Gambar 2.1. Organ prostat pada pria
Kelenjar prostat terbagi menjadi 5 lobus yaitu lobus medius, 2 lobus
lateralis, lobus anterior dan lobus posterior.

Arteri-arteri untuk prostat

terutama berasal dari arteria vesicalis inferior dan arteria rectalis media,

cabang arteria iliaca interna. Vena-vena bergabung membentuk plexus


venosus prostaticus.
B. DEFINISI BPH
Benign

prostatic

hypertophi

adalah

pertumbuhan

nodul-

nodul

fibroadenomatosa majemuk dalam prostatdimulai dari bagian periuretral


sebagai proliferasi yang terbatas dan tumbuh menekan kelanjar normal yang
tersisa (wilson).

Benigna Prostat Hiperplasi adalah perbesaran prostat,

kelenjar prostat membesar, memanjang kearah depan ke dalam kandung kemih


dan menyumbat aliran urine, dapat mengakibatkan hidronefrosis dan
hidroureter (Brunner & Suddarth, 2000).
C. ETIOPATOGENESIS
Penyebab BPH belum jelas, terdapat beberapa teori yang menjelaskan
terjadinya BPH diantaranya yaitu:
1. Teori DHT (dihidrotsosteron)
Testosteron dengan bantuan enzim 5- -reductase dikonversikan menjadi
DHT yang merangsang pertumbuhan kelenjar prostat.
2. Teori Reawakening
Jaringan kembali seperti perkembangan pada masa emgriologik (jaringan
periuretral tumbuh libih cepat dibandingan dengan jaringan di sekitarnya).
Teori ini berdasarkan kemampuan stroma untuk merangsang pertumbuhan
epitel.
3. Teori stem cell hypothesis

Teori ini berasumsi bahwa pada kelenjar prostat selain berhubungan denan
stroma dan epitel juga ada hubungan antara jenis sel sel yang ada dalam
jaringan prostat. Stem sel akan berkembang menjadi apliflying, dan
kemudian berubah menjadi sel trasit yang terantung secara mutlak pada
androgen.
4. Teori growth factor
Teori berdasarkan interaksi antara unsur epitel dan

stroma,factor

pertumbuhan dibuat oleh stroma yang dipengaruhi androgen. Adanya


ekspresi perlebihan epidermis growth factor dan atau fibroblast growth
factor atau adanya penurunan ekspresi transforming growth factor- b akan
menyebabkan ketidak seimbangan pertumbuhan prosta dan menghasilkan
pertumbuhan prostat.
Factor

penting

yang

berpengaruh

dalam

BPH

adalah

dihidrotestosteron, dan penuaaan. Dihidrotestosteron berasala dari


testosteron dengan bantuan enzim 5- reductase. Di dalam sitoplasma
prostat ditemukan reseptor dihidrotestosteron dimana reseptor ini akan
meningkat dengan bantuan estrogen. DHT akan berikatan d engan reseptor
membentih kompleks DHT- reseptor yang kemudian masuk keinti sel dan
mempengaruhi RNA dan akan merangsang sintesis protein sehingga terjadi
proliferase

sel.

Dengan

bertambahnya

umur

terdapa

gangguan

keseimbangan hormone testosterone dan estrogen. Hormone estrogen lebih


tinggi dan akan mempengaruhi prostat.

Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen uretra pars


prostatica dan akan menghambat aliran urin sehingga meningkatkan
tekanan di kantung kemih. Untuk mengeluarkan urin kantung kemih harus
berkontraksi terus menerus sehingga akan menyebabkan perubahan
anatomi kantung kemih tersebut berupa hipertrofi otot detrusor trabekulasi
selula, sakula dan diventrikel kantung kemih. Pada fase penebaln otot
detrusor akan menimbulkan gejala Lower Urinary Track Symptoms
(LUTS).
Semakin meningkatnya retensi uretra maka otot detrusor masuk ke
fase dekompensasi dan tidak dapat berkontraksi lagi. Sehingga terjadi
retensi urin. Tekanan dikantung kemih akan meningkatkan pada kesua
ureter sehingga dapat menimbulkan terjadinya refluks vesico-ureter.
Apabila berlangsung lama dan terus menerus makan akan menyebabkan
terjadinya hidroureter, hidronefrosis dan pada akhirnya gagal ginjal.
D. KLASIFIKAS
Organisasi kesehatan dunia (WHO) menganjurkan klasifikasi
untuk menentukan berat gangguan miksi yang disebut WHO
Prostate Symptom Score (PSS), yang terdiri dari:

1.

Derajat ringan: skor 07,

2. Derajat sedang: skor 819


3. Derajat berat: 19
Tabel 1. Derajat penyakit BPH (Sumber: Sjamsuhidajat dkk,
2012).

Derajat
I
II
III
IV

Colok Dubur
Penonjolan prostat,
batas atas mudah
diraba
Penonjolan prostat
jelas, batas atas
dapat dicapai
Batas atas prostat
tidak dapat diraba

Sisa Volume Urin


<50 mL

Retensi urin total

50100 mL
>100 mL

E. MANIFESTASI KLINIS
1. Anamnesis
Gejala klinis hanya terjadi sekitar 10% pada laki-laki yang mengidap
kelainan ini. Hal ini dikarenakan BPH mengenai bagian dalam prostat,
manifestasinya yang tersering adalah gejala obstruksi saluran kemih bawah
(Kumar dkk., 2007), selain itu juga BPH akan menimbulkan gejala pada
saluran kemih bagian atas, dan gejala di luar saluran kemih.
a) Keluhan pada saluran kemih bagian bawah
1) Gejala obstruksi meliputi : Retensi urin (urin tertahan dikandung
kemih sehingga urin tidak bisa keluar), sulit memulai miksi
(hesitansi)), pancaran miksi lemah (poor stream), (kencing
terputus-putus(Intermiten),

mengejan

saat

buan

air

kecil

(starining), menetes pada akhir miksi (terminal dribbling), dan rasa


tidak puas setelah miksi (incomplete emptying)
2) Gejala iritasi meliputi : Frekuensi, nokturia, urgensi (perasaan
ingin miksi yang sangat mendesak) dan disuria (nyeri pada saat
miksi).
b) Gejala pada saluran kemih bagian atas

Keluhan akibat hiperplasi prostat pada sluran kemih bagian atas berupa
adanya gejala obstruksi, seperti nyeri pinggang, benjolan dipinggang
(merupakan tanda dari hidronefrosis), atau demam yang merupakan
tanda infeksi atau urosepsis.

c) Gejala diluar saluran kemih


Pasien datang diawali dengan keluhan penyakit hernia inguinalis atau
hemoroid. Timbulnya penyakit ini dikarenakan sering mengejan pada
saat miksi sehingga mengakibatkan tekanan intraabdominal.
2. Pemeriksaan fisik
Colok dubur atau digital rectal examina-tion (DRE) merupakan
pemeriksaan yang penting pada pasien BPH, disamping pemerik-saan fisik
pada regio suprapubik untuk mencari kemungkinan adanya distensi bulibuli. Dari pemeriksaan colok dubur ini dapat diperkirakan adanya
pembesaran prostat, konsistensi prostat, dan adanya nodul yang merupakan
salah satu tanda dari keganasan prostat5,13.
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Urinalisis

Pemeriksaan urinalisis dapat mengungkapkan adanya leukosituria dan


hematuria. BPH yang sudah menimbulkan komplikasi infeksi saluran
kemih, batu buli-buli atau penyakit lain yang menimbulkan keluhan
miksi, di antara-nya: karsinoma buli-buli in situ atau striktura uretra.
Pada pasien BPH yang sudah mengalami retensi urine dan telah memakai
kateter, pemeriksaan urinalisis tidak banyak manfaatnya karena

seringkali telah ada leukosituria maupun eritostiruria akibat pemasangan


kateter.
2. Pemeriksaan fungsi ginjal

Obstruksi infravesika akibat BPH menyebabkan gangguan pada traktus


urinarius bawah ataupun bagian atas. Dikatakan bahwa
gagal ginjal akibat BPH terjadi sebanyak 0,3-30% dengan rata-rata
13,6%.
3. Pemeriksaan PSA (Prostate Specifi Antigen)

PSA disintesis oleh sel epitel prostat dan bersifat organ specific tetapi
bukan cancer specific. Serum PSA dapat dipakai untuk meramalkan
perjalanan penyakit dari BPH. Makin tinggi kadar PSA makin cepat
laju pertumbuhan prostat. Kadar PSA di dalam serum dapat
mengalami peningkatan pada keradangan, setelah manipulasi pada
prostat (biopsi prostat atau TURP), pada retensi urine akut,
kateterisasi, keganasan prostat, dan usia yang makin tua. Rentang
kadar PSA yang dianggap normal berdasarkan usia adalah:
a)
b)
c)
d)

40-49 tahun: 0-2,5 ng/ml


50-59 tahun:0-3,5 ng/ml
60-69 tahun:0-4,5 ng/ml
70-79 tahun: 0-6,5 ng/ml

Sebagian

besar

guidelines

yang

disusun

diberbagai

negara

merekomendasikan pemerik-saan PSA sebagai salah satu pemeriksaan


awal pada BPH.
4. Catatan harian miksi (voiding diaries)

Voiding diaries saat ini dipakai secara luasuntuk menilai fungsi traktus
urinarius bagian bawah dengan reliabilitas dan validitas yang

cukup baik. Pencatatan miksi ini sangat berguna pada pasien yang
mengeluh nokturia sebagai keluhan yang menonjol. Dengan mencatat
kapan dan berapa jumlah asupan cairan yang dikonsumsi serta kapan
dan berapa jumlah urine yang dikemihkan dapat diketahui seorang
pasien Sebaiknya
5. Uroflometri

Uroflometri adalah pencatatan tentang pancaran urine selama proses


miksi secara elektronik. Pemeriksaan ini ditujukan untuk mendeteksi
gejala obstruksi saluran kemih bagian bawah yang tidak invasif. Dari
uroflometri

dapat

diperoleh

informasi

mengenai

volume

miksi,pancaran maksimum (Qmax), pancaran rata-rata (Qave), waktu


yang dibutuhkan untuk mencapai. Hasil uroflometri tidak spesifik
menunjukkan penyebab terjadinya kelainan pancaran urine,
sebab pancaran urine yang lemah dapat disebabkan kelemahan otot
detrusor.
6. Pemeriksaan residual urine

Residual urine atau post voiding residual urine (PVR) adalah sisa
urine yang tertinggal di dalam buli-buli setelah miksi. Jumlah residual
urine ini pada orang normal adalah 0,09-2,24 mL dengan rata-rata
0,53 mL. Beberapa negara terutama di Eropa merekomendasikan
pemeriksaan PVR sebagai bagian dari pemeriksaan awal pada BPH
dan untuk memonitor setelah watchful waiting. Karen variasi
intraindividual yang cukup tinggi, pemeriksaan PVR dikerjakan lebih
dari satu kali dan sebaiknya dikerjakan melalui melalui USG.
Transabdominal
10

7. Pencitraan traktus urinarius


Pencitraan traktus urinarius pada BPH meliputi pemeriksaan terhadap
traktus urinarius bagian atas maupun bawah dan pemeriksaan prostat.
USG, ternyata bahwa 70-75% tidak menunjukkan adanya kelainan
pada saluran kemih bagian atas;edangkan yang menunjukkan
kelainan, hanyasebagian kecil saja (10%) yang membutuhkan
penanganan berbeda dari yang lain.
8. Uretrosistoskopi
Pemeriksaan ini secara visual dapat mengetahui keadaan uretra
prostatika dan bulibuli. Terlihat adanya pembesaran prostat, obstruksi
uretra dan leher buli-buli, batu buli-buli, trabekulasi buli-buli, selule,
dan divertikel bulibuli. Uretrosistoskopi dikerjakan pada saat akan
dilakukan tindakan pembedahan untuk menentukan perlu dilakukan
TUIP, TURP atau prostektomi terbuka. Disamping itu pada kasus yang
disertai dengan hematuria atau dugaan danya karsinoma buli-buli
sistoskopi sangat membantu dalam mencari lesi pada buli.
9. Pemeriksaan urodinamika
Kalau pemeriksaan uroflometri hanya dapat menilai bahwa pasien
mempunyai pancaran urin yang lemah tanpa dapat menerangkan
penyebabnya, pemeriksaan uro-dinamika (pressure flow study) dapat
mem-bedakan pancaran urine yang lemah itu disebabkan karena

11

obstruksi leher buli-buli dan uretra atau kelemahan kontraksi otot


detrusor.

G. KOMPLIKASI

H. PENATALAKSANAAN

Tujuan terapi pada pasien BPH adalah mengembalikan kualitas hidup pasien. Terapi yang
ditawarkan pada pasien tergantung pada derajat keluhan, keadaan pasien, maupun kondisi
obyektif kesehatan pasien yang diakibatkan oleh penyakitnya. Pilihannya adalah mulai dari:
tanpa terapi (watchful waiting), medikamentosa, dan (3) terapi intervensi. Di Indonesia,
tindakan Transurethral Resection of the prostate (TURP) masih merupakan pengobatan
terpilih untuk pasien BPH.
Tabel 1 Pilihan Terapi pada Hiperplasia Prostat Benigna

Observasi
Watchful
waiting

Medikamentos
a

Terapi intervensi
Pembedahan

Antagonis
adrenergik
Inhibitor
reduktase5
Fitoterapi

Prostatektomi
terbuka
Endourologi:
TURP
TUIP
TULP
Elektrovaporis
asi

Invasive
miimal
TUMT
HIFU
Stent uretra
TUNA
ILC

a. Watchful waiting
Watchful waiting artinya pasien tidak mendapatkan terapi apapun tetapi
perkembangan penyakitnya keadaannya tetap diawasi oleh dokter. Pilihan
tanpa terapi ini ditujuka untuk pasien BPH dengan skor IPSS dibawah 7,

12

yaitu keluhan ringan yang tidak menggangu aktivitas sehari-hari. Beberapa


guidelines masih menawarkan watchful waiting pada pasien BPH bergejala
dengan skor sedang (IPSS 8-19). Pasien dengan keluhan sedang hingga berat
(skor IPSS > 7), pancaran urine melemah, dan terdapat pembesaran prostat >
30 gram tentunya tidak banyak memberikann respon terhadap watchful
waiting.
Pada watchful waiting ini, pasien tidak mendapatkan terapi apapun dan
hanya diberi penjelasan mengenai sesuatu hal yang mungkin dapat
memperburuk keluhannya, misalnya :
1) Jangan banyak minum dan mengkonsumsi kopi atau alkohol setelah
makan malam
2) Kurangi konsumsi makanan atau minuman yang menyebabkan iritasi pada
buli-buli (kopi atau cokela
3) Batasi
penggunaan
obat-obat

influenza

yang

mengandung

fenilpropanolamin,
4) Kurangi makanan pedas dan asin,
5) Jangan menahan kencing terlalu lama5.
Setiap 6 bulan, pasien diminta untuk datang kontrol dengan ditanya dan
diperiksa tentang perubahan keluhan yang dirasakan, IPSS, pemeriksaan laju
pancaran urine, maupun volume residual urine. Jika keluhan miksi bertambah
jelek daripada sebelumnya, mungkin perlu difikirkan untuk memilih terapi
yang lain.

b. Medikamentosa
Pasien BPH bergejala biasanya memer-lukan pengobatan bila telah mencapai
tahap tertentu.

13

Pada saat BPH mulai menyebabkan perasaan yang mengganggu, apalagi


membahayakan
kesehatannya,

direkomen-dasikan

pemberian

medikamentosa.

Dalam

menentukan pengobatan
perlu

diperhatikan

beberapa

hal,

yaitu

dasar

pertimbangan

terapi

medikamentosa, jenis obat yang digunakan, pemilihan obat, dan evaluasi


selama pemberian obat. Dengan memakai skoring IPSS dapat ditentukan kapan
seorang pasien memer-lukan terapi. Sebagai patokan jika skoring >7 berarti
pasien perlu mendapatkan terapi medikamentosa atau terapi lain. Tujuan terapi
medikamentosa adalah berusaha untuk:
1) Mengurangi resistensi otot polos prostat sebagai komponen dinamik
2) Mengurangi volume prostat sebagai kom-ponen statik.
Jenis obat yang digunakan adalah:
1) Antagonis adrenergik reseptor yang dapat berupa:
a) Preparat non selektif: fenoksibenzamin
b) Preparat selektif masa kerja pendek: prazosin, afluzosin, dan
c)

indoramin
Preparat selektif dengan masa kerja lama: doksazosin, terazosin, dan
tamsulosin

Penggunaaan antagonis alfa 1 adrenergenik karena secara selektif dapat


mengurangi obstruksi pada buli-buli tanpa merusak kontraktilitas detrusor.
Obat ini menghambat reseptor-reseptor yang banyak ditemukan pada otot
polos di trigonum, leher vesika, prostat, dan kapsul prostat sehingga terjadi
relakasi didaerah prostat. Obat-obat golongan ini dapat memperbaiki
keluhan miksi dan laju pancaran urin. Hal ini akan menurunkan tekanan
pada uretra pars prostatika sehingga gangguan aliran air seni dan gejala-

14

gejala berkurang. Biasanya pasien mulai merasakan berkurangnya keluhan


dalam 1-2 minggu setelah ia mulai memakai obat. Efek samping yang
mungkin timbul adalah pusing, sumbatan di hidung dan lemah. Ada obatobat yang menyebabkan ekasaserbasi retensi urin maka perlu dihindari
seperti antikolinergenik, antidepresan, transquilizer, dekongestan, obatobat
ini mempunyai efek pada otot kandung kemih dan sfingter uretra.
2) Inhibitor 5 redukstase
Obat yang dipakai adalah finasteride (proscar) dengan dosis 1X5 mg/hari.
Obat golongan ini dapat menghambat pembentukan DHT sehingga prostat
yang membesar akan mengecil. Namun obat ini bekerja lebih lambat dari
golongan alfa bloker dan manfaatnya hanya jelas pada prostat yang besar.
Efektifitasnya masih diperdebatkan karena obat ini baru menunjukkan
perbaikan sedikit, 28 % dari keluhan pasien setelah 6-12 bulan pengobatan
bila dilakukan terus menerus, hal ini dapat memperbaiki keluhan miksi dan
pancaran miksi. Efek samping dari obat ini diantaranya adalah libido
impoten dan gangguan ejakulasi.
3) Fitofarmaka
Penggunaan fitoterapi yang ada di Indonesia antara lain eviprostat.
Substansinya misalnya pygeum africanum, saw palmetto, serenoa repeus.
Efeknya diharapkan terjadi setelah pemberian selama 1- 2 bulan dapat
memperkecil volum prostat.

c. Terapi intervensi

15

Terapi intervensi dibagi dalam 2 golongan, yakni teknik ablasi jaringan prostat
atau
pembedahan dan teknik instrumentasi alternatif. Yang termasuk ermasuk ablasi
jaringan prostat adalah: pembedahan terbuka, TURP, TUIP, TUVP, laser
prostatektomi. Sedangkan teknik instrumentasi alternatif adalah interstitial
laser coagulation, TUNA, TUMT, dilatasi balon, dan stent uretra. . Terapi
pembedahan

dibagi

menjadi

pembedahan

terbuka

dan

pembedahan

endourologi.
1) Pembedahan terbuka, beberapa teknik operasi prostatektomi terbuka yang
biasa digunakan adalah :
a) Prostatektomi suprapubik
Adalah salah satu metode mengangkat kelenjar melalui insisi abdomen.
Insisi dibuat dikedalam kandung kemih, dan kelenjar prostat diangat dari
atas. Teknik demikian dapat digunakan untuk kelenjar dengan segala
ukuran, dan komplikasi yang mungkin terjadi ialah pasien akan
kehilangan darah yang cukup banyak dibanding dengan metode lain,
kerugian lain yang dapat terjadi adalah insisi abdomen akan disertai
bahaya dari semua prosedur bedah abdomen mayor.
b) Prostatektomi perineal
Adalah suatu tindakan dengan mengangkat kelenjar melalui suatu insisi
dalam perineum. Teknik ini lebih praktis dan sangat berguan untuk biopsy
terbuka. Pada periode pasca operasi luka bedah mudah terkontaminasi
karena insisi dilakukan dekat dengan rectum. Komplikasi yang mungkin
terjadi dari tindakan ini adalah inkontinensia, impotensi dan cedera rectal.
c) Prostatektomi retropubik

16

Adalah tindakan lain yang dapat dilakukan, dengan cara insisi abdomen
rendah mendekati kelenjar prostat, yaitu antara arkus pubis dan kandung
kemih tanpa memasuki kandung kemih.Teknik ini sangat tepat untuk
kelenjar prostat yang terletak tinggi dalam pubis. Meskipun jumlah darah
yang hilang lebih dapat dikontrol dan letak pembedahan lebih mudah
dilihat, akan tetapi infeksi dapat terjadi diruang retropubik.
2)

Pembedahan endourologi, pembedahan endourologi transurethral dapat


dilakukan dengan memakai tenaga elektrik diantaranya:
a) Transurethral Prostatic Resection (TURP)
Merupakan tindakan operasi yang paling banyak dilakukan, reseksi
kelenjar prostat dilakukan dengan transuretra menggunakan cairan irigan
(pembilas) agar daerah yang akan dioperasi tidak tertutup darah. Indikasi
TURP ialah gejala-gejala sedang sampai berat, volume prostat kurang dari
90 gr.Tindakan ini dilaksanakan apabila pembesaran prostat terjadi dalam
lobus medial yang langsung mengelilingi uretra. Setelah TURP yang
memakai kateter threeway. Irigasi kandung kemih secara terus menerus
dilaksanakan untuk mencegah pembekuan darah. Manfaat pembedahan
TURP antara lain tidak meninggalkan atau bekas sayatan serta waktu
operasi dan waktu tinggal dirumah sakit lebih singkat.Komplikasi TURP
adalah rasa tidak enak pada kandung kemih, spasme kandung kemih yang
terus menerus, adanya perdarahan, infeksi, fertilitas.
b) Transurethral Incision of the Prostate (TUIP)
Adalah prosedur lain dalam menangani BPH. Tindakan ini dilakukan
apabila volume prostat tidak terlalu besar atau prostat fibrotic. Indikasi
dari penggunan TUIP adalah keluhan sedang atau berat, dengan volume

17

prostat normal/kecil (30 gram atau kurang). Teknik yang dilakukan adalah
dengan memasukan instrument kedalam uretra. Satu atau dua buah insisi
dibuat pada prostat dan kapsul prostat untuk mengurangi tekanan prostat
pada uretra dan mengurangi konstriksi uretral. Komplikasi dari TUIP
adalah pasien bisa mengalami ejakulasi retrograde (0-37%).
PROGNOSIS

18

BAB III
KESIMPULAN

19

DAFTAR PUSTAKA

20