Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN TUTORIAL

SKENARIO 2 Blok Genitourinaria


Kelompok 3
Ria Renta Uli Sirait

1018011094

Mia Febriani P

1018011077

Gindi Cinintia A

1018011062

Komang Indra S

1018011069

Faddly Hendarsyah

1018011058

Zaky Faris Maulana

1018011006

Kurnia Putra W

1018011070

Elvi Yana

1018011057

Rizni Fitriana

1018011097

Amelia Sagita P

1018011108

Ucha Clarinta

1018011100

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2013

KATA PENGANTAR

Assalammualaikum wr. wb.


Alhamdulillah, puji dan syukur kami ucapkan atas ke hadirat Tuhan Yang
Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat
menyusun Laporan skenario 2 ini.
Selanjutnya, kepada dosen-dosen yang terlibat dalam Blok Genitourinaria,
kami ucapkan terima kasih atas segala pengarahannya sehingga laporan ini dapat
kami susun dengan cukup baik.
Kami menyadari banyak kekurangan dalam penulisan laporan ini, baik
dari segi isi, bahasa, analisis, dan sebagainya. Oleh karena itu, kami ingin
meminta maaf atas segala kekurangan tersebut, hal ini disebabkan karena masih
terbatasnya pengetahuan, wawasan, dan keterampilan kami. Selain itu, kritik dan
saran dari pembaca sangat kami harapkan, guna untuk kesempurnaan laporan ini
dan perbaikan untuk kita semua.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat dan dapat memberikan wawasan
berupa ilmu pengetahuan untuk kita semua.
Wassalammualaikum wr. wb.
Bandar Lampung, Mei 2013

Tim Penulis

DAFTAR ISI

Kata
Pengantar ......................................................................................
................ i
Daftar
Isi ...................................................................................................
............ ii
A.Step
1 ....................................................................................................
1
B. Step
2 ...................................................................................................
1
C. Step
3 ...................................................................................................
1
D. Step
4 ...................................................................................................
3
E. Step
5 ...................................................................................................
7
F. Step
6 ...................................................................................................
8
G. Step
7 ...................................................................................................
8

STEP 1
Piuria => Leukosit di dalam urin. Dikatakan leukosit jika jumlahnya 5 dalam 1
lapang pandang.
STEP 2
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Apa yang terjadi pada Tn. X


Diagnosis banding, Pemeriksaan penunjang
Cara mendiagnosis Tn. X
Etiologi
Patogenesis penyakit
Faktor resiko penyakit
Penatalaksanaan
Komplikasi

STEP 3
1. - Gonorhae
- Tn. X menderita infeksi saluran kemih (Traktus Gonorhae) karena
2.

Gonorhae
Uretritis

DD
Non-Specific Urethritis
Sipilis
Chlamydia

3. Diagnosis
Anamnesis
Pemeriksaan Fisik
o Inspeksi
Pemeriksaan Penunjang
o Bakteriologi
4. Etiologi
Gonorhae => Nisseria Gonorhae
Spesies Nisseria Gonorhae :
Nisseria Gonorhae mempunyai
Nisseria Meningitidis

Pili, virulensi tinggi

Nisseria Paramis
tidak ada
Nisseria Katralis

Pili

5. Patogenesis
Proses Adesi
Inflamasi
Invasi
Nisseria Gonorhae mengeluarkan antigen dan protein 1, 2, dan 3.
Gonokokus bias menyebabkan infeksi pada mata. Pada genital bisa
menginfeksi pada membrane mukus dan bisa menginvasi. Infeksi yang
ditimbulkan berulang dan lama.
Faktor Pendukung Infeksi :

Pertahanan tubuh manusia


Imunoglobulin G dan A

6. Faktor resiko Gonorhae :


- PSK
- Ganti-ganti pasangan
- Usia tua lebih rentan
- Jenis kelamin, wanita lebih sering terutama pada masa Pra-pubertas,
seiring bertambahnya usia gejalanya dapat terlihat. Sedangkan pria
-

gejalanya terlihat.
Hormon pada wanita
Homoseks, ditularkan melalui hubungan seks dari anus

7. Penatalaksanaan
- Medikamentosa
Infeksi tunggal
Infeksi + komplikasi
- Edukasi
8. Komplikasi
GONORHAE :
- Genitalia eksterna
Pria : Epididimis, prostat, dan Tysonitis

Wanita : PID, salpingitis, abses tuba dan jika hamil bayinya


bisa mengalami artritis.

STEP 4
1. - Gonorhae
- Tn. X menderita infeksi saluran kemih (Traktus Gonorhae) karena Gonorhae
- Uretritis
2. DD

Chlamidia, sama-sama menyebabkan ISK & mengeluarkan sekret.


Non-Spesifik Uretritis, masa inkubasi lama sedangkan Gonorhae
2-5 hari.

Gonorhae pada kelamin Infeksi saluran kemih :

E. coli
Pseudomonas aeruginosa

Pemeriksaan penunjang : Mikrobiologi


1. Cara mendiagnosa
Anamnesa : demam, menggigil, terasa panas 2 hari yang lalu,
gejala muncul 2-5 hari dan nyeri saat berkemih.
Pemeriksaan fisik : discharge, riwayat kontak seksual
Pemeriksaan lab urin :
Bakteriuria presentasi hasil :
- 100.000
- 100.000 dan leukositosis
- 100.000 asimptomatik
- 100.000 simptomatik
Piuria, tanda inflamasi. Jika (+) tanpa bakteriuria (kanker)
Mikrobiologi : Diploccocus (+)
Media kultur :
- transport
- pertumbuhan
Pemeriksaan darah : bila dicurigai HIV
Pemeriksaan osidatif : osidasi dari Tetrametil, lalu dicampur dengan
biakan Gonorhae, difermentasi menggunakan
glukosa, laktosa, dan sukrosa.
2.
3. Patogenesis

ISK
ISK terjadi pada saat mikroorganisme masuk ke dalam saluran kemih dan
berkembang biak didalam media urin. Mikroorganisme masuk ke dalam
saluran kemih melalui cara :
Ascending
Hematogen
Limfogen
Langsung dari organ sekitar yang sebelumnya telah terinfeksi
Sebagian besar mikroorganisme memasuki saluran kemih melalui cara
ascending. Kuman penyebab ISK pada umumnya adalah kuman yang
berasal dari flora normal usus dan hidup didalam introitus vagina,
prepusium penis, kulit perineum dan sekitar anus.
Masuknya kuman secara ascending ke dalam saluran kemih :

Kolonisasi kuman di uretra


Masuknya kuman melalui uretra ke buli-buli
Penempelan kuman-kuman pada dinding buli-buli
Masuknya kuman melalui ureter ke ginjal

Terjadinya ISK karena ketidakseimbangan antara mikroorganisme


penyebab infeksi (uropatogen) sebagai agent dan epitel saluran kemih
sebagai host. Gangguan keseimbangan ini disebabkan oleh karena
pertahanan tubuh dari host yang menurun atau karena virulensi agent
meningkat.
GONORHAE

Pili dan protein 1, 2, dan 3


Pili membantu menurunkan respon imun sedangkan protein 1 dan
3 membuat pori sehingga penetrasi ke ruang sub epitel.
Invasi neutrophil
Pertahanan tubuh PH dan osmolaritas urin, antibodi Ig G dan Ig A
yang berperan menahan dan membunuh. Jika antibodi tersebut
gagal menahan maka terjadi infeksi.

4.
5. Penatalaksanaan
- Medikamentosa dengan dosis yang adekuat
Gonorhae tanpa komplikasi, antibiotik gol. Cepalosporin
Gonorhae dengan komplikas, antibiotik gol. Quinolon
- Edukasi

Tujuannya mengurangi faktor resiko dan sebaiknya dilakukan bersama


pasangannya.
6. Komplikasi
- Pseudomonas dengan Staphylococcus => ISK bag. atas : Pielonefritis
akut
Usia lanjut
Uncomplicated
Complicated
Faktor resiko
Kebersihan genital eksterna yang kurang
Tidak BAK sebelum melakukan hubungan seks
Golongan ISK

Pada batu ginjal obstruksi saluran kemih


Wanita menopause
Penderita HIV
Pembesaran prostat
Tysonitis
Urethritis
Epididimis
Prostatitis
Torsio testis

STEP 5
1. Infeksi Saluran Kemih
2. Penyakit menular seksual lain
3. Pertahanan tubuh lokal terhadap bakteri
4. Interpretasi Bakteri Count
5. Jelaskan urosepsis

6. Mikrobiologi yang menyebabkan ISK (khas) dan penyakit menular seksual

STEP 6

STEP 7
1. Infeksi saluran kemih (ISK) adalah infeksi bakteri yang terjadi pada saluran
kemih. Walaupun terdiri dari berbagai cairan, garam, dan produk buangan,
biasanya urin tidak mengandung bakteri. Jika bakteri menuju kandung kemih
atau ginjal dan berkembang biak dalam urin, terjadilah ISK.
Jenis ISK yang paling umum adalah infeksi kandung kemih yang sering juga
disebut sebagai sistitis. Gejala yang dapat timbul dari ISK yaitu perasaan

tidak enak berkemih. Tidak semua ISK menimbulkan gejala, ISK yang tidak
menimbulkan gejala disebut sebagai ISK asimtomatis.

Penyebab
ISK dapat disebabkan oleh kebiasaan yang tidak baik (kurang minum, menahan
kemih), kateterisasi, dan penyakit kelainan lain serta berhubungan dengan gonta
ganti pasangan yang kita tidak tahu juga kalau pasangan itu membawa bakteri dari
pasangan lain. Terutama kalau sistem ketahanan tubuh sudah berkurang, apa saja
jenis bakteri akan sangat gampang sekali masuk ke dalam tubuh selain gaya hidup
yang kurang sehat, terlalu banyak mengkonsumsi vitamin c dosis tinggi, dan
mengkonsumsi kopi manis, dan susu sebagi pemicu terjadinya ISK karena urine
yg melewati saluran kemih mengandung asam urat sehingga hal ini dapat memicu
terjadinya batu ginjal pada saluran kemih yg dapat menyebabkan peradangan pada
saluran kantung kemih.

Macam-macam ISK
ISK primer
Berdasarkan adanya gejala sistemik, ISK primer dibagi menjadi dua:
1. ISK lokal, diterapi dengan antibiotika lokal.
2. ISK dengan gejala sistemik, diterapi dengan antibiotika sistemik.
Antibiotika yang sering digunakan yaitu amoksisilin.
ISK sekunder
ISK ini merupakan akibat dari penyakit atau kelainan yang lain. ISK berulang
merupakan pertanda dari ISK sekunder, karena penanganan ISK yang tidak tepat.
Penatalaksanaan ISK sekunder sesuai dengan penyebab ISK tersebut. Penyebab
ISK sekunder biasanya adalah obstruksi saluran kemih (seperti batu saluran
kemih, pembesaran prostat, dan striktur uretra).

Macam-macam ISK (infeksi saluran kemih) :


1.

uretritis (uretra)

2.

sistisis ( kandung kemih )

3.

pielonefritis ( ginjal )

Gambaran klinis
1.

2.

Uretritis biasanya memperlihatkan gejala :


a.

Mukosa memerah dan oedema

b.

Terdapat cairan eksudat yang purulent

c.

Adanya ulserasi pada uretra

d.

Adanya rasa gatal yang menggelitik

e.

Morning sign

f.

Adanya nanah saat miksi

g.

Nyeri pada saat miksi

h.

Kesulitan untuk memulai miksi

i.

Nyeri pada abdomen bagian bawah

Sistisis biasanya memperlihatkan gejala :


a.

Disuria ( nyeri pada waktu berkemih )

b.

Peningkatan frekuensi padasaat berkemih, karena kapasitas vesikel


urinaria menurun.

3.

c.

Perasaan ingi berkemih

d.

Adanya sel-sel darah putih dalam urine

e.

Nyeri puggung bawah atau suprapublic

f.

Demam yang disertai adanya darah dalam urine pada kasus yang parah

Pielonefritis akut biasanya memperlihatkan gejala :


a.

Demam

b.

Menggigil

c.

Nyeri pinggang

d.

Disuria

Pielonefritis

kronik

mungkin

memperlihatkan

gambaran

mirip

dengan

pielonefritis akut, tetapi dapat juga menimbulkan hipertensi dan akhirnya dapat
menyebarkan gagal ginjal.
Komplikasi
1.

Pembentukan abses ginjal atau perirenal

2.

Gagal ginjal

Pemeriksaan diagnostik
Urinalisis
a.

Leukosirea atau piuria terdapat kurang dari 5/lpb sedimen air kemih

b.

Hematuria 5 samapi 10 eritrosit/lpb sendimen air kemih

Bakteriologis
a.

Mikroskopis satu bakteri lapangan padang minyak emersi

b.

Biakan bakteri 102-103 organisme koliform/mL urine plus piueia.

c.

Tes kimiawi tes reduksi griess nitrate berupa perubahan warna pada uji carik

Terapi penyakit infeksi saluran kemih


1.

Terapi antibiotik untuk membunuh bakteri gram positif maupun gram negatif.

2.

Apabila pielonefritis kroniknya disebabkan oleh obstruksi atau refluksi, maka


diperlukan penatalaksanaan spesifik untuk mengatasi masalah-masalh
tersebut menjadi operatif.

3.

Di anjurkan untuk sering minum dan buang air kecil sesuai kebutuhan untuk
membilas mikroorganisme yang mungkin naik ke uretra, untuk wanita harus
membilas dari depan kebelakang untuk menghindari kontaminasi lubang
uretra oleh bakteri dari feces.

Pencegahan

ISK dapat dicegah dengan banyak minum dan tidak menahan kemih, sebagai
upaya untuk membersihkan saluran kemih dari kuman. Penderita ISK dengan
disuria cenderung untuk menahan kemih, padahal menahan kemih itu sendiri
dapat memperberat ISK.seyogyanya banyak mengkonsumsi air minum 8 gelas
sehari atau 2,5liter dalam sehari sehingga dapat mengurangi resiko terkena ISK.
Untuk mengurangi risiko ISK pada kateterisasi, perlu kateterisasi yang tepat. Halhal yang perlu diperhatikan dalam kateterisasi antara lain jenis kateter, teknik dan
lama kateterisasi.

2. Penyakit Menular Seksual


Penyakit menular seksual adalah penyakit yang menyerang manusia dan
binatang melalui transmisi hubungan seksual, seks oral dan seks anal. Penyakit
menular seksual juga dapat ditularkan melalui jarum suntik dan juga kelahiran dan
menyusui. Infeksi penyakit menular seksual telah diketahui selama ratusan tahun.
Beberapa jenis Penyakit Menular Seksual yang paling umum:

Penyakit Menular Seksual Klamidia


Chlamydia trachomatis adalah salah satu dari tiga spesies bakteri dalam
genus Chlamydia, famili Chlamydiaceae, kelas Chlamydiae, filum
Chlamydiae, domain Bacteria.C. trachomatis adalah agen chlamydial
pertama yang ditemukan dalam tubuh manusia. Klamidia adalah bakteri
berbentuk bola. Banyak orang yang terinfeksi klamidia tidak memiliki
gejala sehingga tidak menyadarinya. Hal ini meningkatkan risiko menular
ke pasangan dan berkembang kronis menjadi radang panggul. Bila timbul
gejala, Klamidia dapat ditandai dengan keluarnya cairan dari penis/vagina,
rasa gatal di kelamin, dan rasa sakit saat buang air kecil dan berhubungan
seks. Klamidia dapat diobati dengan antibiotik.

Penyakit Menular Seksual Herpes genitalis.

Herpes genital biasanya disebabkan oleh virus herpes simpleks (HSV)


Tipe II. Lesi herpes ditemukan baik di bagian luar maupun dalam alat
kelamin, di sekitar anus dan rongga mulut. Virus terus berada di dalam
ganglia saraf. Dengan pertahanan tubuh yang baik, kemunculan gejala
dapat ditekan. Bila sistem kekebalan tubuh buruk, infeksi dapat kambuh.
Saat ini dikenal dua macam herpes yakni herpes zoster dan herpes
simpleks. Kedua herpes ini berasal dari virus yang berbeda. Herpes zoster
disebabkan oleh virus Varicella zoster. Zoster tumbuh dalam bentuk ruam
memanjang pada bagian tubuh kanan atau kiri saja. Jenis yang kedua
adalah herpes simpleks, yang disebabkan oleh herpes simplex virus
(HSV). HSV sendiri dibedakan menjadi dua jenis, yaitu HSV-1 yang
umumnya menyerang bagian badan dari pinggang ke atas sampai di sekitar
mulut (herpes simpleks labialis), dan HSV-2 yang menyerang bagian
pinggang ke bawah. Sebagian besar herpes genitalis disebabkan oleh HSV2, walaupun ada juga yang disebabkan oleh HSV-1 yang terjadi akibat
adanya hubungan kelamin secara urogenital, atau yang dalam bahasa
sehari-hari disebut dengan oral seks, serta penularan melalui tangan.

Penyakit Menular Seksual HIV/AIDS


AIDS adalah Penyakit Menular Seksual paling berbahaya yang disebabkan
infeksi HIV (human immunodeficiency virus). Virus ini hadir di semua
cairan tubuh, terutama terkonsentrasi di air mani dan darah. Penularan
HIV terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh yang mengandung virus
ini. Infeksi HIV/AIDS tidak bisa disembuhkan sampai saat ini, tapi
diagnosis dini sangat penting. Semakin cepat diketahui adanya infeksi
HIV, semakin terlindungi calon pasangan Anda dan semakin tepat
perawatan medis dapat diberikan untuk meningkatkan kualitas hidup dan
memperpanjang harapan hidup pasien.

Penyakit Menular Seksual Kutil Kelamin


Kutil kelamin disebabkan oleh virus papiloma manusia (HPV). Kutil
biasanya hadir di penis atau vulva dan juga dapat terjadi di sekitar dubur
atau rongga mulut. Kutil kelamin dapat diobati dengan krim khusus dan

pembedahan. Beberapa vaksin yang melindungi dari kanker serviks juga


dapat mencegah virus penyebab kutil kelamin.

Penyakit Menular Seksual Sifilis (raja singa)


Sifilis adalah penyakit kelamin menular yang disebabkan oleh bakteri
spiroseta, Treponema pallidum. Penularan biasanya melalui kontak
seksual, tetapi ada beberapa contoh lain seperti kontak langsung dan
kongenital sifilis (penularan melalui ibu ke anak dalam uterus).

3. Pertahanan tubuh lokal terhadap bakteri


Respons imun adalah respons tubuh berupa suatu urutan kejadian yang
kompleks terhadap antigen, untuk mengeliminasi antigen tersebut. Respons
imun ini dapat melibatkan berbagai macam sel dan protein, terutama sel
makrofag, sel limfosit, komplemen, dan sitokin yang saling berinteraksi secara
kompleks. Mekanisme pertahanan tubuh terdiri atas mekanisme pertahanan
non spesifik dan mekanisme pertahanan spesifik.
Ketika bakteri masuk ke dalam tubuh, maka sistem imun dalam tubuh akan
otomatis menjalankan suatu mekanisme untuk mempertahankan tubuh dari
serangan bakteri.

Mekanisme pertahanan tubuh ada 2 yaitu, mekanisme non spesifik dan


mekanisme spesifik.
1.

Mekanisme Pertahanan Non Spesifik

Mekanisme pertahanan non spesifik disebut juga komponen nonadaptif


atau innate, atau imunitas alamiah, artinya mekanisme pertahanan yang tidak
ditujukan hanya untuk satu jenis antigen, tetapi untuk berbagai macam
antigen. Innate immunity terdiri dari barier fisik dan barier mikrobiologis (flora

normal), komponen fase cair, dan konstituen seluler (Hirsch & Zee, 1999).
Imunitas alamiah sudah ada sejak bayi lahir dan terdiri atas berbagai macam
elemen non spesifik. Jadi bukan merupakan pertahanan khusus untuk antigen
tertentu. Contoh mekanisme pertahanan non spesifik tubuh kita adalah kulit
dengan kelenjarnya, lapisan mukosa dengan enzimnya, serta kelenjar lain
dengan enzimnya seperti kelenjar air mata. Demikian pula sel fagosit (sel
makrofag, monosit, polimorfonuklear) dan komplemen merupakan komponen
mekanisme pertahanan non spesifik.
a.

Permukaan tubuh, mukosa dan kulit

Permukaan tubuh merupakan


mikroorganisme.

Bila

pertahanan

penetrasi

pertama terhadap penetrasi

mikroorganisme

terjadi

juga,

maka

mikroorganisme yang masuk akan berjumpa dengan pelbagai elemen lain dari
sistem imunitas alamiah.
b.

Kelenjar dengan enzim dan silia yang ada pada mukosa dan kulit

Produk kelenjar menghambat penetrasi mikroorganisme, demikian pula silia


pada mukosa. Enzim seperti lisozim dapat pula merusak dinding sel
mikroorganisme.
c.

Komplemen dan makrofag

Jalur alternatif komplemen dapat diaktivasi oleh berbagai macam bakteri


secara langsung sehingga eliminasi terjadi melalui proses lisis atau fagositosis
oleh makrofag atau leukosit yang distimulasi oleh opsonin dan zat kemotaktik,
karena sel-sel ini mempunyai reseptor untuk komponen komplemen (C3b) dan
reseptor kemotaktik. Zat kemotaktik akan memanggil sel monosit dan
polimorfonuklear ke tempat mikroorganisme dan memfagositnya.
d.

Protein fase akut

Protein fase akut adalah protein plasma yang dibentuk tubuh akibat adanya
kerusakan jaringan. Hati merupakan tempat utama sintesis protein fase akut. Creactive protein (CRP) merupakan salah satu protein fase akut. Dinamakan
CRP oleh karena pertama kali protein khas ini dikenal karena sifatnya yang
dapat mengikat protein C dari pneumokok. Interaksi CRP ini juga akan
mengaktivasi komplemen jalur alternatif yang akan melisis antigen.
e.

Sel natural killer (NK) dan interferon

Sel NK adalah sel limfosit yang dapat membunuh sel yang dihuni virus atau sel
tumor. Interferon adalah zat yang diproduksi oleh sel leukosit dan sel yang
terinfeksi virus, yang bersifat dapat menghambat replikasi virus di dalam sel
dan meningkatkan aktivasi sel NK.
2. Mekanisme Pertahanan Spesifik
Mekanisme pertahanan tubuh spesifik atau disebut juga komponen adaptif atau
imunitas didapat adalah mekanisme pertahanan yang ditujukan khusus terhadap
satu jenis antigen, karena itu tidak dapat berperan terhadap antigen jenis lain.
Bila pertahanan non spesifik belum dapat mengatasi invasi mikroorganisme
maka imunitas spesifik akan terangsang. Mekanisme pertahanan spesifik
adalah mekanisme pertahanan yang diperankan oleh sel limfosit, dengan atau
tanpa bantuan komponen sistem imun lainnya seperti sel makrofag dan
komplemen.
Imunitas spesifik hanya ditujukan terhadap antigen tertentu yaitu antigen yang
merupakan ligannya. Di samping itu, respons imun spesifik juga menimbulkan
memori imunologis yang akan cepat bereaksi bila host terpejan lagi dengan
antigen yang sama di kemudian hari. Akan terbentuk antibodi dan limfosit
efektor yang spesifik terhadap antigen yang merangsangnya, sehingga terjadi
eliminasi antigen. Sel yang berperan dalam imunitas didapat ini adalah sel yang
mempresentasikan antigen (APC = antigen presenting cell = makrofag) sel
limfosit T dan sel limfosit B. Sel limfosit T dan limfosit B masing-masing
berperan pada imunitas selular dan imunitas humoral. Sel limfosit T akan
meregulasi respons imun dan melisis sel target yang dihuni antigen. Sel
limfosit B akan berdiferensiasi menjadi sel plasma dan memproduksi antibodi
yang akan menetralkan atau meningkatkan fagositosis antigen dan lisis antigen
oleh komplemen, serta meningkatkan sitotoksisitas sel yang mengandung
antigen yang dinamakan proses antibody dependent cell mediated cytotoxicy
(ADCC). Limfosit berperan utama dalam respon imun diperantarai sel.
Limfosit terbagi atas 2 jenis yaitu Limfosit B dan Limfosit T.
3. Interpretasi bakteri Count

Perhitungan Jumlah Mikroba Secara Langsung


Cara ini dipakai untuk menentukan jumlah mikroba dihitung secara
keseluruhan, baik yang mati atau yang hidup.
Berbagai cara perhitungan mikroba secara langsung menggunakan:
1.

Menggunakan Kamar Hitung (Counting Chamber)


Perhitungan ini dapat menggunakan hemositometer. Peteroff Hauser
Bacteria Counter atau alat-alat lain yang sejenis. Dasar perhitungannya ialah
dengan menempatkan satu tetes suspense bahan atau biakanmikroba pada alat
tersebut ditutup dengan gelas penutup kemudian diamati dengan mikroskop
yang perbesarannya tergantung pada besar kecilnya mikroba. Dengan
menentukan jumlah sel rata-rata tiap petak (ruangan) yang telah diketahui
volumenya, dari alat tersebut dapat ditentukan jumlah sel mikroba tiap cc.
Prinsip dari perhitungan Petroff-Hauser yaitu melakukan perhitungan
dengan pertolongan kotak-kotak skala, di mana dalam setiap ukuran skala
seluas 1 mm2 terdapat 25 buah kotak besar dengan luas 0,04 mm 2, dan setiap
kotak besar terdiri dari 16 kotak kecil. Alat haemocytometer digunakan di
bawah mikroskop, sisinya mempunyai ukuran 0,05 mm. Sedangkan satu
kotak sedang berukuran nilai 0,2 mm. Dan tebal nya adalah 0,1 mm. Jumlah
sel per mL sampel dapat dihitung sebagai berikut:

1.

Jumlah sel dalam 25 kotak besar = Jumlah sel per kotak besar 25 kotak

2.

Jumlah sel per mm3 sampel = Jumlah sel dalam 25 kotak besar (1/0,02)

3.

Jumlah sel per ml sampel = Jumlah sel per mm3 sampel 103

1.

= Jumlah sel per kotak besar 25 kotak (1/0.02)x 10^3

4.

Jumlah sel per ml sampel = Jumlah sel per kotak besar 25 kotak 50
103
Misalnya : didapatkan jumlah mikroba yang mau dihitung 12 sel mikroba,
maka jumlah sel per ml sampel adalah: 12 1,25 106 = 1,5 107.
Hemasitometer adalah metode perhitungan secara mikroskopis. Ruang
hitung terdiri dari 9 kotak besar dengan luas 1 mm. Satu kotak besar di
tengah, dibagi menjadi 25 kotak sedang dengan panjang 0,05 mm. Satu kotak

sedang dibagi lagi menjadi 16 kotak kecil. Dengan demikian satu kotak besar
tersebut berisi 400 kotak kecil. Tebal dari ruang hitung ini adalah 0,1 mm. Sel
bakteri yang tersuspensi akan memenuhi volume ruang hitung tersebut
sehingga jumlah bakteri per satuan volume dapat diketahui.
Kelebihan perhitungan sel dengan menggunakan hemasitometer
adalah dapat menghitung jumlah sel yang hidup maupun yang mati,
tergantung dari pewarna yang digunakan. Misalnya. Bila pewarna trypan blue
dicampurkan kedalam larutan sel maka sel yang hidup tidak akan berwarna
dan sel yang mati akan berwarna biru. Kelebihan lainnya adalah morfologi sel
dapat diamati, dapat mengevaluasi homogenitas dan data mendeteksi.

2.

Menggunakan Cara Pengecatan dan Pengamatan Mikroskopik


Pada cara ini mula-mula dibuat preparat mikroskopik pada gelas
benda, suspensi bahan atau biakan mikroba yang telah diketahui volumenya
diratakan diatas gelas benda pada suatu luas tertentu. Setelah itu preparat
dicat dan dihitung jumlah rata-rata sel mikroba tiap bidang pemandangan
mikroskopik. Luas bidang pemandangan mikroskopik dihitung dengan
mengukur garis tengahnya. Jadi jumlah mikroba yang terdapat pada gelas
benda seluruhnya dapat dihitung. Dengan perhitungan dapat diperoleh jumlah
mikroba tiap cc bahan/cairan yang diperiksa.
Cara yang hampir sama dan biasa dipakai untuk menghitung jumlah
bakteri , ialah dengan mencampurkan 1 cc biakan bakteri dengan 1 cc darah
manusia. Setelah homogen dibuat preparat mikroskopik. Dari perbandingan
jumlah rata-rata jumlah sel bakteri dan jumlah sel darah merah dalam tiap
bidang pemandangan, jumlah bakteri tiap cc dapat dihitung ,sebab darah
manusia yang normal mengandung 5 juta sel darah merah tiap
cc.Perbandingan darah dengan bakteri yaitu 1:1.

3.

Menggunakan Filter Membran


Mula-mula disaring sejumlah volume tertentu suatu suspensi bahan
atau biakan mikroba, kemudian disaring dengan filter membran yang telah

disterilkan terlebih dahulu. Dengan menghitung jumlah sel rata-rata tiap saat
satuan luas pada filter membran, dapat dihitung jumlah sel dari volume
suspense yang disaring. Jika perhitungan secara biasa susah, perlu dilakukan
pengecatan pada filter membran, kemudian filter membran dijenuhi dengan
minyak imersi supaya tampak transparan.
Keuntungan metode

ini

ialah pelaksanaannya

cepat

dan

tidak

memerlukan banyak peralatan.


Kelemahannya sebagai berikut:
a)

Sel-sel mikroba yang telah mati tidak dapat dibedakan dari

sel yang hidup. Karena itu keduanya terhitung. Dengan kata lain hasil yang
diperoleh ialah jumlah total sel yang ada di dalam populasi. Pada beberapa
macam sel eukariotik, penambahan zat warna tertentu (misalnya biru metilen
sebanyak 0,1 %) pada sampel yang akan dihitung dapat membedakan sel
hidup dari sel mati. Pada sel khamir misalnya baik sel hidup maupun sel mati
akan menyerap biru metilen namun hanya sel hidup mampu mereduksi zat
warna tersebut secara enzimatik menjadi tidak berwarna; jadi sel-sel mati
akan tampak biru.
b)
mikroskop,

Sel-sel yang berukuran kecil sukar dilihat di bawah


seperti

bakteri

karena

ketebalan

hemasitometer

tidak

memungkinkan digunakannya lensa obyektif celup minyak, sehingga kalau


tidak teliti tidak terhitung. Hal ini biasanya diatasi dengan cara mewarnai sel
sehingga menjadi lebih mudah dilihat.
c)

Untuk mempertinggi ketelitian, jumlah sel di dalam suspensi

harus cukup tinggi, minimal untuk bakteri 10 6 sel/mL. Hal ini disebabkan
dalam setiap bidang pandang yang diamati harus terdapat sejumlah sel yang
dapat dihitung
d)

Tidak dapat digunakan untuk menghitung sel mikroba di

dalam bahan yang banyak mengandung debris atau ekstrak makanan, karena
hal tersebut akan mengganggu dalam perhitungan sel.
e)

Kelemahan lain adalah sulitnya menghitung sel yang

berukuran sangat kecil seperti bakteri karena ketebalan hemasitometer tidak

memungkinkan digunakannya lensa obyektif celup minyak. Hal ini biasanya


diatasi dengan cara mewarnai sel sehingga menjadi lebih mudah dilihat.
Kadang-kadang sel cenderung bergerombol sehingga sukar membedakan selsel individu. Cara mengatasinya ialah mencerai-beraikan gerombolan sel-sel
tersebut dengan menambahkan bahan anti gumpal seperti dinatrium etilen
diamin tetraasetat dan Tween 80 sebanyak 0,1 %.

Perhitungan Jumlah Mikroba Secara Tidak Langsung


Jumlah mikroba dihitung secara keseluruhan baik yang mati atau yang
hidup atau hanya untuk menentukan jumlah mikroba yang hidup saja, ini
tergantung cara-cara yang digunakan.
Untuk menentukan jumlah miroba yang hidup dapat dilakukan setelah
larutan bahan atau biakan mikroba diencerkan dengan factor pengenceran
tertentu dan ditumbuhkan dalam media dengan cara-cara tertentu tergantung
dari macam dan sifat-sifat mikrobanya.
Perhitungan jumlah mikroba secara tidak langsung ini dapat dilakukan
dengan:
1.

Menggunakan Centrifuge
Harus ditutup kapas supaya tidak terkontaminasi bakteri lain. Caranya
adalah 10 cc biakan cair mikroba dipusingkan dengan menggunakan
centrifuge biasa dan digunakan untuk dipertanggungjawabkan, maka
kecepatan dan waktu centrifuge harus diperhatikan. Setelah diketahui volume
mikroba keseluruhannya , maka dapat dipakai untuk menentukan jumlah selsel mikroba tiap cc, yaitu dengan membagi volume mikroba keseluruhan
dengan volume rata-rata tiap sampel. Dengan kecepatan 3500-6000 rpm dan
dengan waktu 5-10 menit.

2.

Berdasarkan kekeruhan (turbiditas/turbidimetri)


Turbidimetri merupakan metode yang cepat untuk menghitung jumlah
bakteri dalam

suatu

larutan menggunakan

spektrofotometer.

Bakteri

menyerap cahaya sebanding dengan volume total sel (ditentukan oleh ukuran

dan jumlah). Ketika mikroba bertambah jumlahnya atau semakin besar


ukurannya dalam biakan cair, terjadi peningkatan kekeruhan dalam biakan.
Kekeruhan dapat disebut optical density (absorbsi cahaya, biasanya diukur
pada panjang gelombang 520 nm 700 nm). Untuk mikroba tertentu, kurva
standar dapat memperlihatkan jumlah organisme/ml (ditentukan dengan
metode hitungan cawan) hingga pengukuran optical density (ditentukan
dengan spektrofotometer).
Dasar penentuan cara ini adalah jika seberkas sinar dilakukan pada
suatu suspensi bakteri, maka makin pekat (keruh) suspensi tersebut makin
besar intensitas sinar yang diabsorbsi, sehingga intensitas sinar yang
diteruskan makin kecil.
Untuk

keperluan

ini digunakan

alat-alat

seperti

fotoelektrik,

turbidimeter, elektrofotometer,spektrofotometer, nefelometer, dan alat-alat


lainyang sejenis. Alat-alat tersebut menggunakan sinar monokromatik dengan
panjang gelombang tertentu.
3.

Menggunakan Perhitungan Elektronik (Elektronic Counter)


Alat ini dapat digunakan untuk menentukan beribu-ribu sel tiap detik
secara tepat. Prinsip kerja alat ini yaitu adanya gangguan-gangguan pada
aliran ion-ion (listrik) yang bergerak diantara dua electrode. Penyumbatan
sementara oleh sel mikroba pada pori sekat yang terdapat diantara kedua
electrode itu menyebabkan terputusnya aliran listrik. Jumlah pemutusan aliran
tiap satuan waktu dihubungkan dengan kecepatan aliran cairan yang
mengandung mikroba merupakan ukuran jumlah mikroba dalam cairan
tersebut.

4.

Berdasarkan Analisa Kimia


Cara ini didasarkan atas hasil analisa kimia sel-sel mikroba. Makin
banyak sel-sel mikroba, makin besar hasil analisa kimianya secara kuantitatif.
Yang dipakai sebagai dasar penentuan umumnya kandungan protein,
asam-asam nukleat (DNA dan RNA) atau fosfor dari asam-asam nukleat.

5.

Berdasarkan Berat Kering


Cara ini terutama digunakan untuk penentuan jumlah jamur benang
misalnya dalam industry mikrobiologi.Kenaikan berat kering suatu mikrobia
berarti juga kenaikan sintesa dan volume sel-sel yang dipakai untuk
menentukan jumlah mikrobia.

6.

Menggunakan Cara Pengenceran


Cara pengenceran ini dipakai untuk menentukan jumlah mikroba yang
hidup saja Dasar perhitungannya adalah dengan mengencerkan sejumlah
volume tertentu suatu suspense bahan atau biakan mikroba secara bertingkat,
setelah diinokulasikan ke dalam medium dan diinkubasikan, dilihat
pertumbuhan mikrobanya. Misalnya suatu seri pengenceran dengan kelipatan
sepuluh pada pengenceran 1:10000 , tetapi pada pengenceran 1:100000 tidak
ada pertumbuhan, berarti secara teoritis jumlah mikroba pada suspense bahan
atau biakan mikroba antara 10000 dan 100000 tiap cc per ml sampel.

7.

Menggunakan Cara Most Probable Number (MPN)


Menggunakan media cair, contoh laktosa broth. Prinsip metode ini
adalah menggunakan media cair di dalam tabung reaksi dan menggunakan
tabung durham (untuk melihat gas). Perhitungan dilakukan berdasarkan
jumlah tabung yang positif yaitu ditumbuhi mikroba setelah diinkubasi pada
suhu dan waktu tertentu. Pengamatan tabung yang positif dilihat dengan
mengamati timbulnya kekeruhan atau terbentuk gas di dalam tabung durham
(tabung kecil dengan posisi terbalik). Metode MPN biasanya dilakukan untuk
pengujian air minum, dengan 3-5 seri tabung.
Prosedurnya dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu:
Tahap 1: Uji pendahuluan (presumtif)
Dimasukkan sampel ke dalam 3 seri tabung yang telah berisi laktosa browth
(media) dan 3 seri tabung durham, dengan rincian: seri pertama berisi 10 ml,
seri kedua berisi 1 ml, dan seri ketiga berisi 0,1 ml. Diinkubasi pada suhu
35C-37C selama 24 jam. Dihitung jumlah tabung yang positif yaitu

terbentuknya gas dan kekeruhan pada tabung durham. Fermentasi laktosa


menjadi asam dan gas (1/10 sebagian tabung durham).
Tahap 2: Uji penegasan (konfirmasi untuk bakteri non fekal dan fekal)
Untuk bakteri non fekal (contoh:Enterobacter aeroginas), suspensi yang
positif dari uji presumtif ditanam pada media BGLBB(Briliant Green Lactosa
Bile Broth), diinkubasi pada suhu 36C selama 24 jam,sedangkan untuk
bakteri fekal (contoh: E. Coli) diinkubasi padasuhu 44,5C selama 24 jam.
Tahap 3: Uji lengkap (Complete Test)
Yaitu dengan menggunakan media spesifik, misalnya dengan media endo agar
(untuk Enterobacter aeroginas) dan eosin metilen blue(untuk E.Coli).
Keuntungan:
a) Dapat dibuat sangat peka dengan penggunaan volume inokulum yang
berbeda-beda
b) Bahan-bahan dapat dipersiapkan untuk tugas lapangan
c) Media pertumbuhan selektif dapat digunakan untuk menghitung jenis
mikroba yang diinginkan diantara jenis-jenis lain yang ada di dalam bahan
pangan/sampel tersebut
Kerugian:
a) Dibutuhkan banyak pengulangan untuk memperoleh hasil yang lebih teliti.
b) Untuk analisa air digunakanlaktosa broth,sedangkan bakteri asam laktat
pada susu digunakan BGLBB (Briliant Green Lactosa Bile Broth)
8.

Menghitung Dengan Metode Cawan


Prinsip metode ini adalah sel mikroba yang masih hidup ditumbuhkan
padamedia agar padat, maka sel mikroba tersebut akan berkembangbiak dan
membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa
mikroskop. Sebaiknya jumlah koloni mikroba yang tumbuh dan dapat
dihitung berkisar antara 30-300 koloni. Metode cawan dengan jumlah koloni

yang tinggi (>300) sulit untuk dihitung sehingga kemungkinan kesalahan


perhitungan sangat besar. Pengenceran sampel membantu untuk memperoleh
perhitungan jumlah yang benar, namun pengenceran yan terlalu tinggi akan
mengahasilkan jumlah koloni yang rendah/menghancurkan koloni. Metode
perhitungan cawan merupakan cara yang paling sensitif untuk menghitung
jumlah mikroba.
Keuntungan:
a)

Hanya sel yang hidup yang dapat dihitung.

b)

Beberapa jenis mikroba dapat dihitung sekaligus.

c)

Digunakan untuk isolasi & identifikasi mikroba


Kerugian:

a)

Hasil perhitungan tidak menunjukkan jumlah sel mikroba yang sebenarnya


karenabeberapa sel yang berdekatan membentuk satu koloni.

b)

Media dan kondisi yang berbeda menghasilkan nilai yang berbeda pula.

c)

Mikroba yang tumbuh harus pada media padat dan membentuk koloni yang
kompak,jelas serta tidak menyebar.

d)

Memerlukan persiapan dan waktu inkubasi beberapa hari sehingga


pertumbuhankoloni baru dapat dihitung

9.

Berdasarkan Jumlah Koloni


Cara ini paling umum digunakan untuk perhitungan jumlah
mikroba. Dasarnya adalah membuat suatu seri pengenceran bahan dengan
kelipatan 10 dari masing-masing-masing pengenceran diambil 1 cc dan dibuat
taburan dalam Petridis (pour plate) dengan medium agar yang macam dan
caranya tergantung pada macamnya mikroba. Setelah diinkubasikan dihitung
jumlah koloni tiap Petridis dari masing-masing pengenceran. Dari jumlah
koloni tiap Petridis dapat ditentukan jumlah bakteri tiap cc atau gram bahan,
yaitu dengan mengalikan jumlah koloninya dengan pengenceran yang
dipakai.
jumlah koloni bakteri yang didapat x pengenceran

Misalnya jika pengenceran yg dipakai 103 dan koloni yang didapat 45 koloni
bakteri, maka bakteri tiap cc adalah
45 koloni bakteri x 103 = 45.000 bakteri.
Untuk membantu menghitung jumlah koloni dalam Petridis dapat
digunakan colony counter yang biasanya dilengkapi dengan register
elektronik. Pada perhitungan dengan cara ini diperlukan beberapa syarat yang
harus dipenuhi, antara lain:
a)

Jumlah koloni tiap Petridis 30-300.


Jika memang tidak ada yang memenuhi syarat, dipilih yang jumlahnya
mendekat 300.

b)

Tidak ada koloniyang menutup lebih besar dari setengah luas Petridis,
koloni tersebut dikenal sebagai speader

c)

Perbandingan jumlah bakteri dari hasil pengenceran yang berturut-turut


antara pengenceran yang lebih besar dengan pengenceran sebelumnya, jika
sama atau lebih kecil dari 2 hasilnya dirata-rata, tetapi jika lebih besar dari 2
yang dipakai jumlah mikroba dari hasil pengenceran sebelumnya.

d)

Jika dengan pengulangan pemeriksaan (duplo) setelah memenuhi syarat


hasilnya dirata-rata

4. Urosepsis
Urosepsis disebabkan oleh invasi mikroorganisme yang berasal dari saluran kemih
yang kemudian menimbulkan respon kompleks melalui sintesis mediator endogen
yang selanjutnya menimbulkan berbagai respon klinis. Kejadian sepsis di AS
berkisar 750.000 kasus/tahun dan mengakibatkan 250.000 kematian/tahun. 50%
kasus sepsis bermula dari saluran kemih.
Urosepsis

disebabkan

oleh

bakteri

gram

negatif

(seperti Escherichia

coli, 52%;Enterobacteriaceae, 22%; Pseudomonas aeruginosa, 4%), bakteri gram


positif (seperti Enterococcus Sp, 5%; Staphylococcus aureus, 10%).
Patofisiologi

Secara garis besar kejadian sepsis dapat disimpulkan dengan rangkaian proses:
-

Perfusi yang buruk pada kulit dan organ internal dengan berkurangnya
gradien oksigen arteri vena, akumulasi laktat (asisdosis metabolik) dan

anoksia
Aktivasi komplemen dan kaskade pembekuan darah
Aktivasi limfosit B dan T
Aktivasi netrofil sehingga meningkatkan aktivitas kemotaksis
Meningkatnya permeabilitas kapiler (sindrom kebocoran

hemokonsentrasi, berkurangnya volume darah dalam sirkulasi


Akumulasi netrofil pada paru yang melepaskan protease dan oksigen radikal

kapiler),

bebas yang akan mengubah permeabilitas alveolar-kapiler sehingga


meningkatkan transudasi cairan, ion, dan protein kedalam ruang intersitial
-

dan pada akhirnya terjadi acute respiratory distress syndrome (ARDS)


Depresi myocard, hipotensi
Percepatan apoptosis sel limfosit dan sel-sel epitel saluran perccerna
Disseminated intravascular coagulation (DIC)
Kegagalan fungsi hepar, ginjal dan paru-paru.

Sistem Klasifikasi
Klasifikasi ini berupa :
1. Kriteria I : terdapat bukti infeksi (kultur darah yang positif) atau secara klinis
terduga infeksi.
2. Kriteria

II

: terpenuhinya

kriteria systemic

inflammatory

syndrome (SIRS)
-

Suhu tubuh 38C atau 36C

Nadi 90 kali/menit

Frekuensi pernapasan 20 kali/menit

Leukosit 12x109 /l atau 4 x109/l

Alkalosis respiratori PaCO2 32 mmHg

Netrofil immature > 10%

3.

Kriteria III : Multiple organ dysfunction syndrome (MODS)

response

Cardiovascular : tekanan darah sistolik 90 mmHg, ataumean arterial blood


pressure 70 mmHg setelah dilakukan resusistasi cairan yang adekuat
Ginjal : produksi urin < 0,5 ml/kgBB per jam setelah dilakukan resusistasi cairan
Pernapasan : PaO2 75 mmHg atau rasio PaO2/FiO2 250
Hematologi : angka trombosit <80x109 atau terjadi penurunan angka trombosit
sebanyak 50% dibandingkan 3 hari sebelumnya
Asidosis metabolik : pH 7,30 atau base deficit 5 mm/l, level laktat dalam
plasma > 1,5 kali diatas normal
Otak : somnolen, bingung, melawan/marah, koma
Faktor Risiko Urosepsis
Faktor predisposisi untuk terjadinya urosepsis meliputi usia lanjut, diabetes
mellitus, keganasan, cachexia, immunodefesiensi, radioterapi, terapi sitostatik,
uropathy obrtuktif (striktur uretra, BPH) kanker prostat, urolitiasis, penyakit
inflamasi (pyelonefritis, prostatitis akut, epididimitis, abses ginjal, abses
paranefrik), dan infeksi nosokomial pasca pemasangan kateter, endoskopi atau
biopsi prostat.
5. Mikrobiologi Sistem Urogenital
Infeksi Saluran Kemih (Isk)
-

Penyakit yang sering mengenai manusia (10% pernah mengalami min satu
kali)

Hospital Acquired infection (lebih sering; 35%)

Penyebab sepsis krn gram negatif pasien di RS

ISK adalah komplikasi pada penyakit (Diabetes, transplantasi ginjal, Ginjal


,gangguan anatomis saluran kemih)

Insidens
-

Insidens: pria (usia >60 thn= gangguan prostat)

Wanita dapat mengalami sepanjang hidupnya

Usia 5-17 thn: insidens 1-3%

Lebih 17 thn menjadi10-20% (50% Wanita usia 20-40 mengalami infeksi


berulang -dlm setahun-)

Sexual intercourse

Kehamilan (karena factor anatomis dan hormonal)

Jenis kelamin Wanita lebih sering mengalami ISK karena menurut lokasi
anatomis (urethra lebih pendek) dan Dekat daerah perirektal (basah, lembab,
banyak mikroorganisme)

Bakteri penghuni Urethra (bagian distal)


-

Staphylococcus coagulase negatif (CNS; tidak termasuk Staphylococcus


saphrophyticus)

Streptococcus Viridans dan yang nonhemolitik

Lactobacilli

Diphteroids (Corynebacterium spp.)

Neisseria spp. Nonpatogenik

Coccus anaerob

Proponibacterium spp

Basil gram negatif yang anaerob

Mycobacterium spp. & Mycoplasma yang comensal

Dikatakan terjadi Infeksi saluran kemih apabila terdapat kolonisasi bakteri dalam
urine (bakteriuria) dan adanya invasi bakteri. Karena pada normalnya urine itu
steril dan bebas hama.
Kriteria bakteriuria bila terdapat 100.000 (105) atau > per 1 ml urine porsi tengah,
steril Atau 2 kali pemeriksaan ditemukan bakteri sama.

Penyebab ISK
-

Community Acquired: E.coli (UPEC), Klebsiella, Staf saprophyticus,


enterococci, enterobacteriaceae lainnya

Hospital Acquired: E.coli, Klebsiella spp., Proteus spp., Staphylococci,


enterobacteriaceae, Pseudomonas aerogenosa, enterococci dan candida

Lainnya : G- bacilli (acinetobacter), alcaligenes spp., pseudomonas spp.,


Citrobacter, Gard.vaginalis, Aerococcus urinae, Strepto b hemolitycus.

Bakteri lain yang jarang ditemukan dalam urin (Salmonella : indikator dini
pada demam tifoid, Corynebacterium, Leptospira, Hemophylus influenza,
Mycobacterium, Chlamydia, Ureaplasma urealyticum, Campylobacter)

Virus dan parasit bukan patogen sal kemih(Trich vaginalis dpt ditemukan dlm
urin)

Enterobacteriaceae Escherechia coli

Staph. saphrophyticus dan Streptococcus grup D

Infeksi ulang/Inf. noso : Proteus spp, Serratia spp dan Pseudomonas spp,

Penderita diabetes: Serratia marcescens

Wanita dgn diabetes atau penderita dng kateter tetap: (Candida albicans)

Penyebaran hematogen : M. tuberculosis, Strept. pyogenes, Staph. aureus,


Corynebacterium dan Lactobacilli

Lanjutan inf. sal. kelamin: Neisseria gonorrhoea, Treponema pallium,


Chlamydia dan (Trichomonas).

Bakteri

anaerob:

jarang.

Bakteri

anaerob

paling

genusBacteroides terutama B. fragilis.


-

Kontaminan: Staphylococcusepidermidis dan Streptococcus yang


mikroaerofilik.

banyak: