Anda di halaman 1dari 29

MASALAH CAKUPAN

PROGRAM
IMUNISASI

Latar Belakang
Secara global, 20 persen bayi yang lahir
setiap tahunnya tidak mendapatkan
imunisasi dasar yang dapat melindungi
mereka dari berbagai penyakit mematikan
yang sebenarnya dapat dicegah melalui
imunisasi
Penyakit campak masih tetap menghantui
negara-negara Asia

Setiap tahunnya, satu dari lima anak atau


sekitar 19 juta anak-anak di seluruh dunia
tidak terjangkau pelayanan imunisasi
Program imunisasi juga masih menjadi
masalah di Indonesia, karena sejak 2006,
Indonesia termasuk sebagai salah satu dari
enam negara yang teridentifikasi memiliki
jumlah tertinggi anak-anak yang tidak
terjangkau imunisasi

Menurut Mdecins Sans Frontires (MSF) atau


Dokter Lintas Batas, sekitar 70 persen dari
anak-anak di Kongo, India, Nigeria, Ethiopia,
Indonesia, dan Pakistan belum terjangkau
program imunisasi rutin tersebar
Rencana Aksi Vaksinasi Global senilai 10
milyar dolar AS akan sulit tercapai jika
masalah-masalah utama pelaksanaan program
imunisasi rutin masih belum terpecahkan

Cakupan imunisasi di Indonesia masih di


bawah angka 80 persen
Hal ini merupakan pertanda bahwa
masyarakat Indonesia belum menyadari
manfaat yang diberikan imunisasi bagi
kesehatan

Jika dibandingkan dengan negara


tetangga seperti Malaysia yang cakupan
imunisasinya mencapai lebih dari 90
persen
Hal ini menandakan bahwa kesadaran
mereka terhadap manfaat dan fungsi
imunisasi tidak lagi dipersoalkan termasuk
masalah kandungan vaksin

Target cakupan imunisasi belum tercapai,


perlu peningkatan upaya preventif dan
promotif seiring dengan upaya kuratif dan
rehabilitatif
Akibat dari cakupan Universal Child
Imunization (UCI) yang belum tercapai akan
berpotensi timbulnya kasus-kasus Penyakit
yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi
(PD3I) di beberapa daerah risiko tinggi yang
selanjutnya dapat mengakibatkan
munculnya wabah

Untuk menekan angka kesakitan dan


kematian akibat PD3I perlu upaya
imunisasi dengan cakupan yang tinggi
dan merata

Berdasarkan data Kementerian


Kesehatan, cakupan Universal Child
Immunization (UCI) tahun 2010 adalah
75,3 persen. Tahun 2011, pencapaian UCI
turun menjadi 74,1 persen
UCI ialah cakupan imunisasi lengkap
pada bayi (0-11 bulan) minimal 80 persen

Indonesia menargetkan semua desa dan


kelurahan mencapai UCI 100 persen
tahun 2014
Program imunisasi dasar itu mencakup
BCG, hepatitis B, DPT-HB, polio, dan
campak

Masalah pencatatan
Data cakupan imunisasi di Indonesia
sangat bervariasi bergantung dari mana
dan oleh siapa survei tersebut dilakukan
(78%-90%)
Pencatatan yang dilaksanakan kurang
akurat sehingga menghasilkan data yang
kurang akurat pula

Catatan pada KMS atau Buku Catatan


Kesehatan Anak tidak diisi dengan baik
oleh petugas kesehatan yang melakukan
imunisasi dan tidak disimpan dengan baik
oleh orang tua, sehingga sulit diketahui
apakah imunisasi anaknya sudah lengkap
atau belum

Masalah cakupan
Masalah besar lain, cakupan imunisasi
berbeda antar daerah
Tahun 2010, ada 17 provinsi dengan
cakupan UCI di bawah 80 persen
Cakupan provinsi seperti Papua Barat,
Maluku Utara, dan Aceh bahkan di bawah
60 persen tetapi cakupan imunisasi DKI
Jakarta, Bali, Sumatera Barat, dan Jawa
Tengah di atas 80 persen

Riset Kesehatan Dasar 2010


menyebutkan, Papua mempunyai
cakupan terendah untuk semua jenis
imunisasi, yakni BCG (53,6 persen),
campak (47,1 persen), dan polio 4 (40,5
persen)

Beda cakupan imunisasi antar wilayah


juga masih besar meski rata-rata UCI
desa/kelurahan tingkat provinsi sudah
tinggi, masih ada kabupaten-kabupaten
yang cakupannya rendah
Hal ini membuat kejadian luar biasa
penyakit-penyakit yang bisa dicegah
dengan imunisasi seperti campak dan
polio masih terjadi di sejumlah daerah

Disparitas cakupan imunisasi antar


daerah rawan menyebabkan merebaknya
penyakit berbahaya yang dapat dicegah
dengan imunisasi, seperti difteri, campak,
batuk rejan, dan polio
Akibat yg lain : kesakitan dan kecacatan
anak akibat penyakit yang bisa dicegah
dengan imunisasi menjadi sulit diturunkan

Guna mempercepat pencapaian UCI di


semua desa/kelurahan, pemerintah
mengadakan Gerakan Akselarasi
Imunisasi Nasional UCI

Penyebab Masalah
Cakupan
masih rendah dan belum meratanya
cakupan imunisasi dasar lengkap bagi
anak usia di bawah lima tahun antara lain
disebabkan oleh perbedaan komitmen
pemerintah daerah dalam mendukung
pelaksanaan program imunisasi

Sebagian pemerintah daerah kurang


memberikan perhatian dan dukungan pada
pelaksanaan program imunisasi
Ketersediaan dan kemampuan sumber daya
mensukseskan program juga berbeda antar
daerah
juga dengan ketersediaan dana operasional,
serta fasilitas dan infrastruktur pelayanan
kesehatan yang memadai

pengetahuan masyarakat tentang


pentingnya imunisasi untuk anak juga
masih rendah di beberapa daerah
sehingga masih ada orang tua yang tidak
membawa anaknya ke fasilitas kesehatan
untuk mendapatkan imunisasi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa


faktor yang berpengaruh terhadap
kejadian drop out imunisasi ini adalah :
pengetahuan ibu tentang imunisasi DPT,
faktor jumlah anak balita, faktor kepuasan
ibu terhadap pelayanan petugas
imunisasi, faktor keterlibatan pamong
dalam memotovasi ibu dan faktor jarak
rumah ke tempat pelayanan imunisasi

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit


dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes
Tjandra Yoga Aditama, mengatakan
hambatan terberat program imunisasi
antara lain kondisi geografis, tenaga
kesehatan yang berpindah-pindah, dan
kampanye negatif imunisasi. Akibatnya,
terjadi drop out imunisasi

Laporan kasus akibat


cakupan imunisasi yg
kurang

Sekretaris Satuan Tugas Imunisasi


Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak
Indonesia Soedjatmiko mencontohkan,
tahun 2009-2011 ada 5.818 penderita
campak yang dirawat di rumah sakit.
Sebanyak 16 penderita meninggal.
Di Garut, Brebes, dan Sulawesi Tengah
muncul kejadian luar biasa (KLB) campak

Tiga tahun belakangan, penderita difteri di


Jawa Timur meningkat pesat sehingga
ditetapkan sebagai KLB. Penderita
mencapai ratusan orang per tahun.
Padahal, tahun 2000 tidak ada kasus
difteri. Tahun 2001 muncul 18 kasus dan
terus bertambah hingga April 2012
mencapai 1.859 kasus dengan 100
kematian menurut catatan Kemenkes

Di Jawa Timur, 40 persen kasus difteri


terjadi pada orang tidak diimunisasi, 40
persen penderita diimunisasi tetapi tidak
lengkap, dan 20 persen tidak ada data,
kata Soedjatmiko

Mayoritas vaksin yang tersedia saat ini


diberikan dalam bentuk suntikan yang
membutuhkan bantuan petugas
kesehatan yang telah terlatih, dimana hal
ini masih menjadi kendala utama di
negara-negara dengan keterbatasan
jumlah petugas kesehatan

Untuk bisa mendapatkan paket vaksinasi


lengkap, bayi/anak-anak harus mendatangi
ke pusat-pusat imunisasi sebanyak lima kali
dalam 12 bulan pertama kehidupan mereka
Hal ini masih menjadi masalah besar bagi
anak-anak yang tinggal di wilayah-wilayah
negara berkembang yang terisolasi serta
sulit dijangkau, atau mereka yang
terkendala masalah biaya transportasi

vaksin juga harus disimpan dalam


temperatur dingin yang merupakan salah
satu masalah logistik terbesar untuk
menjangkau negara-negara berkembang
dengan iklim panas tanpa sistem
penyimpanan pendingin dan akes aliran
listrik yang memadai

Adanya negative campaign sebagai


gerakan anti imunisasi yang marak akhirakhir ini telah menyebabkan banyak orang
tua menolak anaknya diimunisasi