Anda di halaman 1dari 31

ANALISIS SISTEM PENERANGAN DAN SUPLAI DAYA CADANGAN

DI RUMAH SAKIT MAHYUZAHRA INDERALAYA OGAN ILIR

PROPOSAL TUGAS AKHIR

Oleh
RISNA DIANA
03111004020

FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2015

Lembar Pengesahan
STUDI ANALISIS PENERANGAN DAN SUPLAI DAYA CADANGAN
DI RUMAH SAKIT MAHYUZAHRA INDERALAYA OGAN ILIR
PROPOSAL TUGAS AKHIR

Oleh
RISNA DIANA
03111004020

Inderalaya, Januari 2015


Pembimbing I

Ir. H. Hairul Alwani HA, MT.


NIP

Mengetahui
Ketua Jurusan Teknik Elektro

Ir. Sariman MS
NIP.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Motor induksi tiga fasa adalah suatu mesin listrik yang mengubah energi listrik menjadi
energi mekanik berupa putaran motor dengan prinsip prinsip induksi elektromagnetik.
Prinsip prinsip induksi elektromagnetik ini membuat motor induksi mempunyai sifat
saturasi atau kejenuhan, yaitu suatu keadaan di mana pada titik tertentu, arus listrik yang
dihasilkan tidak sebanding dengan kenaikan tegangan yang diberikan pada motor, dan
bahkan akan cenderung tetap. Karena sifat kejenuhan tersebut, maka motor induksi
dikelompokkan ke dalam jenis beban tak linier. Di dalam sistem tenaga listrik, beban
tak linier menghasilkan suatu harmonisa, yaitu gelombang yang mempunyai frekuensi
dengan kelipatan frekuensi dasarnya. Pengaruh harmonisa ini pada sistem tenaga listrik
(sisi pemasok) adalah meningkatnya impedansi jaringan saluran transmisi sehingga
meningkatkan rugi-rugi tembaga dan fluks. Pada transformator daya akan menyebabkan
meningkatnya rugi-rugi besi, arus bocor dan stress pada isolasi sehingga akan
mengakibatkan pemanasan berlebihan pada transformator daya. Pada sisi beban
(konsumen listrik), pengaruh harmonisa menyebabkan peralatan listrik akan bekerja
dengan tidak semestinya.
Studi tentang harmonisa pada motor induksi tiga fasa sebenarnya
telah banyak
dilakukan. Namun kajian tentang harmonisa selama ini lebih banyak
pada akibat yang
ditimbulkan harmonisa pada sistem tenaga listrik yang dihasilkan oleh
motor induksi,
atau kinerja motor induksi itu sendiri jika diberikan suatu tegangan
yang mengandung
harmonisa, bukan dititik beratkan pada motor induksi sebagai
penghasil harmonisa.

Kajian tentang harmonisa pada motor induksi tiga fasa khususnya tipe rotor sangkar
tupai yang dititik beratkan pada sisi beban (motor induksi) dapat dilakukan dengan cara
menganalisa apakah tingkat harmonisa (THD) yang ditimbulkan oleh motor induksi tiga
fasa tersebut dipengaruhi oleh faktor faktor seperti rating daya motor, tegangan yang
diberikan atau kecepatan putar motor. Penelitian ini perlu dilakukan untuk mengetahui
faktor dominan yang mempengaruhi tingkat harmonisa yang dihasilkan oleh motor
induksi tiga fasa tersebut. Dengan diketahuinya faktor faktor yang mempengaruhi
tingkat harmonisa (THD) pada motor induksi tiga fasa, sektor industri sebagai pengguna
beban jenis ini dapat melakukan suatu langkah-langkah tertentu untuk mengurangi
tingkat harmonisa yang dihasilkannya . Sehingga sektor industri dapat menekan tingkat
harmonisa yang disumbangkan ke sistem tenaga listrik karena penggunaan motor
induksi tiga fasa tipe rotor sangkar tupai secara luas, di mana 70% beban listrik di
industri adalah motor induksi tiga fasa .

1.2

Tujuan Penulisan
Tujuan dari studi analisis sistem sistem penerangan dan suplai daya cadangan di

Rumah Sakit MAHYUZAHRA Inderalaya ini, adalah:


1.
Menganalisa pengaruh tegangan masukan yang diberikan motor induksi tiga fasa
tipe rotor sangkar tupai terhadap tingkat harmonisa (THD) yang ditimbulkannya
1.3

Perumusan Masalah
Salah satu ukuran baik tidaknya suatu bangunan terlebih lagi rumah sakit dapat

dinilai dari sistem penerangannya, sistem proteksi dan juga kontinuitas pelayanan daya
listrik di rumah sakit. Namun, yang menjadi kendala saat ini adalah kurangnya perhatian
dari pihak-pihak terkait dalam mengelola sistem penerangan, baik itu penentuan titik
cahaya ataupun kuat cahaya yang tidak sesuai dengan ruangan yang berbeda-beda pada
rumah sakit. Begitu juga dalam penyediaan daya cadangan yang diperlukan rumah sakit

untuk mensuplai beban yang tidak boleh terputus daya listriknya atau beban yang boleh
terputus daya listriknya dengan toleransi waktu yang sangat singkat. Oleh karena itu
solusi yang tepat adalah memepelajari dan mengalisa sistem kelistrikannya telah sesuai
atau tidak dengan standar yang berlaku.

1.4

Manfaat penulisan
Manfaat yang dapat diambil dari tugas akhir ini adalah :
1. Manfaat untuk penulis adalah dapat memperalajari, memahami dan menganalisa
sistem sistem penerangan dan

suplai daya

cadangan

di Rumah

Sakit

MAHYUZAHRA Indralaya.
2. Manfaat untuk rumah sakit, dengan adanya studi analisis sistem penerangan dan
suplai daya cadangan ini, maka diharapkan rumah sakit dapat menerima masukan
yang bermanfaat untuk dapat membenahi sistem sistem penerangan dan suplai daya
cadangan yang belum sesuai dengan aturan yang berlaku dan memelihara sistem
sistem penerangan dan suplai daya cadangan yang telah sesuai dengan aturan PUIL
2000 agar dapat mencapai tingkatan yang lebih baik lagi.
1.5

Pembatasan Masalah
Sesuai dengan judul tugas akhir maka penulis hanya akan membahas dan

menganalisa masalah perhitungan beban, sistem penerangan dan sistem pelayanan daya
listrik cadangan pada Rumah Sakit MAHYUZAHRA Inderalaya atau lebih tepatnya
adalah sebagai berikut :
1. Mengitung efesiensi penerangan pada setiap ruangan yang terdapat Di
Rumah Sakit MAHYUZAHRA Inderalaya
2. Menghitung Intensitas Penerangan pada setiap ruangan yang terdapat Di
Rumah Sakit MAHYUZAHRA Inderalaya
3. Menghitung jumlah armatur pada setiap ruangan yang sesuai dengan Aturan
PUIL 2000

4. Menghitung dan menetukan tata letak titik cahaya pada setiap ruangan sesuai
dengan aturan yang berlaku.
5. Menghitung kapasitas generator yang harus di pasang pada Rumah Sakit
MAHYUZAHRA
6. Menganalisa Intensitas Penerangan pada setiap ruangan yang terdapat Di
Rumah Sakit MAHYUZAHRA Inderalaya dengan intensitas penerangan
yang sesuai dengan aturan PUIL 2000.
7. Menganalisa Jumlah Armatur pada setiap ruangan yang terdapat Di Rumah
Sakit MAHYUZAHRA Inderalaya dengan hasil perhitungan armatur yang
sesuai dengan aturan PUIL 2000.
1.6

Metodelogi Penulisan
Penulisan tugas akhir ini menggunakan beberapa metode penelitian, yaitu:
1. Metode Pengumpulan Data
Mengumpulkan data atau informasi konkrit yang berhubungan tentang sistem
kelistrikan pada Rumah Sakit MAHYUZAHRA Inderalaya dan selanjutnya
menganalisa ketepatan sistem yang telah terpasang dengan mengacu Peraturan
Umum Instalasi Listrik (PUIL) tahun 2000.
2. Studi literatur
Mengumpulkan bahan-bahan literatur yang berkaitan dengan pedoman efisiensi
listrik, yaitu perhitungan beban, perhitungan peralatan pengaman, perhitungan
kapasitas suplai generator cadanaga dan mekanisme pengaturan beban dari bukubuku reverensi, jurnal, artikel, internet dan lain-lain

3. Bimbingan atau konseling


Melakukan konsultasi dan diskusi tentang topik tugas akhir ini dengan dosen,
teman-teman sesama nmahasiswa dan pihak yang menganangi sistem kelistrikan di
rumah sakit tersebut.
1.7

Sistematika Penulisan

Tahap pembahasan dalam tugas akhir ini disusun secara sistematis dari
pembahasan umum sampai pada pembahasan inti. Adapun sistematika penulisan tugas
akhir ini adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini merupakan pendahuluan yang berisi tentang latar belakang masalah,
tujuan penulisan, perumusan masalah, manfaat penulisan, pembatasan masalah,
metodelogi penulisan, dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab ini membahas teori yang berkaitan dengan penilitian yang nantinya
dapat menjadi landasan dalam perhitungan dan pembahasan masalah.
BAB III METODELOGI
Dalam bab ini menguraikan langkah-langkah penelitian yang hendak ditempuh,
meliputi penetapan tempat dan waktu penelitian, penepatan obyek penelitian, penetapan
variabel penelitian, metode pengumpulan data dan teknik analisa data.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini berisikan tentang hasil dari studi rewinding stator dan
pengetesannya serta solusi yang sesuai dengan standart IEC dan EU
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini merupakan bab penutup yang berisi mengenai kesimpulan dan
saran dari analisa dan uraian yang telah dibahas sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Sistem Penerangan dan armatur[1]


1.1.1 Sistem Penerangan[1]
Penyebaran cahaya dari suatu sumber cahaya tergantung pada kontruksi sumber
cahaya itu sendiri dan pada kontruksi armature yang digunakan. Kontruksi armaturearmaturnya antara lain ditentukan oleh :
a. Cara pemasangannya pada dinding atau langit-langit.
b. Cara pemasangan fiting di dalam armatur
c. Perlindungan sumber cahanya

d. Penyesuaian bentuknya dengan lingkaran


e. Penyebaran cahayanya.
Sebagian besar cahaya yang ditangkap oleh mata, tidak dating langsung dari
sumber cahaya, tetapi setelang di pantulkan oleh lingkungan.
Karena besarnya luminansi sumber-sumber cahaya modern, cahaya langsung
dari sumber cahaya biasanya akan menyilaukan mata. Karena itu bahan-bahan armature
harus dipilih sedemikian rupa sehingga sumber cahanya terlindung dan cahanya terbagi
secara tepat.
Berdasarkan pembagian flux cahayanya oleh sumber cahaya dan armatur yang
digunakan, maka sistem penerangan dapat dibedakan menjadi:

No.
1.

Sistem Penerangan

Langsung ke Bidang Kerja

Penerangan Langsung

90 100%

Terutama Penerangan Langsung

60 90%

2.
3.

Penerangan Campuran atau Penerangan


40 60%
Difus

4.
Terutama Penerangan Tak Langsung

10 40%

Penerangan Tak Langsung

0 10%

5.

Cahaya yang diarahkan kebawah, dianggap sebagai diarahkan langsung ke


bidang kerja. Armatur yang terutama dimaksudkan sebagai hiasan disebut ornament.
1.1.2 Armatur [1]
Armatur-armatur lampu dapat dibagi menurut beberapa cara, yaitu :
1. Berdasarkan sifat penerangannya, atas armatur untuk penerangan langsung, sebagian
besar langsung, difus, sebagian besar tak langsung dan tak langsung.
2. Berdasarkan kontruksinya, atas armatur biasa, kedap tetesan air, kedap air, kedap
letupan debu dan kedap letupan gas.

3. Berdasarkan penggunaanya, atas armature untuk penerangan dalam, penerangan


luar, penerangan industri, penerangan dekorasi, dan armature yang ditanam di
dinding atau langit-langit dan yang ditanam.
4. Berdasarkan bentuknya, atas armature balon, pinggan, rok, gelang, armature
pancaran lebar dan pancaran terbatas, kemudian armature kandil, palung dan
armature jenis lain untuk lampu-lampu bentuk tabung.
5. Berdasarkan cara pemasangannya, atas armature langit-langit, dinding, gantung,
berdiri, armatur gantung memakai pipa dan armature gantung memakai kabel.
Bentuk sumber cahaya dan armatur harus sedemikian rupa sehingga tidak
menyilaukan mata. Baying-bayang harus ada, sebab baying-bayang ini diperlukan untuk
dapat melihat benda-benda sewajarnya. Akan tetapi bayang-bayang itu tidak boleh
terlalu tajam.
Selain itu kontruksi armature harus sedemikian rupa ada cukup sirkulasi udara
untuk menyingkirkan panas yang ditimbulkan oleh sumber cahaya. Karena itu harus ada
cukup banyak lubang di bagian bawah dan dibagian atas armature. Suhu armature
sekali-kali tidak boleh menjadi sedemikian tinggi hingga dapat menimbulkan kebakaran
atau merusak isolasi.
a. Penerangan Langsung
Efesiensi penerangan langsung sangat bai. Cahaya yang dipancarkan sumber
cahaya seluruhnya diarahkan kebidang yang harus diberi penerangan, langit-langit
hampir tidak ikut berperan. Akaan tetapi sistem penerangan ini menimbulkan bayingbayang yang tajam. Keberatan ini dapat dikurangi dengan menggunakan sumber-sumber
cahaya bentuk tabung (Lampu TL).
Kalau digunakan penerangan langsung, harus diusahakan supaya cahanya tidak
langsung mengenai mata.

Penerangan langsung terutama digunakan di ruangan-ruangan yang tinggi,


misalnya di bengkel dan pabrik, dan untuk penerangan luar.
Armatur-armatur yang digunakan untuk penerangan langsung adalah armatur
pancaran lebar (gambar 2.1) dan armatur pancaran terbatas (gambar 2.2).

Gambar 2.1. Armatur pancaran lebar.

Gambar 2.2 Armatur pancaran terbatas.

Armatur pancaran lebar digunakan untuk penerangan umum dalam bengkelbengkel, untuk penerangan setempat misalnya diatas mesin-mesin perkakas, digunakan
armature pancaran terbatas.
Untuk penerangan industri dengan lampu bentuk tabung digunakan armature
bentuk palung ( gambar 2.3). untuk penerangan luar dapat digunakan armature rok
(gambar 2.4)

Gambar 2.3. Armatur Palung

Gambar 2.4 Armatur rok

Gambar 2.5 memperlihatkan sebuah armature kedap air untuk penerangan jalan

Gambar 2.6 memperlihatkan sebuah armature untuk dipasang pada dinding atau
langit-langit. Armatur ini cocok untuk lampu kaca tempa, dan digunakan untuk
penerangan etalase. Untuk keperluan ini dapat juga digunakan lampu-lampu cermin.

Gambar 2.5 Armatur kedap air

Gambar 2.6 Armatur dinding (tidak ditanam)

Gambar 2.7 Armatur langit-langit (ditanam)


Gambar 2.7 memperlihatkan sebuah armature untuk ditanam dalam langit-langit.
Arah cahayanya dapat diatur dan dapat ditujukan ke suatu titik tertentu. Jadi aksen
penerangan dapat diletakkan di tempat-tempat yang dikehendaki.
b. Terutama penerangan langsung
Efisiensi penerangan yang sebagian besar langsung ini juga cukup baik
dibandingkan penerangan langsung, pembentukan bayang-bayang dan kilaunya agak
kurang. Sejumlah kecil cahaya dipancarkan ke atas; karena itu kesan mengenai ukuran
ruangannya menjadi lebih baik. Seolah-olah langit-langitnya lebih tinggi. Sistem

penerangan ini digunakan di gedung-gedung ibadah, untuk tangga dalam rumah, gang
dan sebagainya. Contoh : armatur dengan pelindung dari kawat baja belapis seng.
c. Penerangan difus
Efisiensi penerangan difus lebih rendah daripada efisiensi kedua sistem yang
telah dibahas diatas. Sebagian dari cahaya sumber-sumber cahaya sekarang diarahkan
ke dinding dan langit-langit. Pembentukan bayang-bayang dan kilaunya banyak
berkurang. Penerangan difus digunakan di ruangan-ruangan kantor dan di tempattempat kerja. Contoh : armatur balon, armatur gantung memakai pipa.
d. Terutama penerangan tak langsung
Bayang-bayang dan kilau yang timbul pada sistem penerangan ini hanya sedikit.
Sebagian besar dari cahaya sumber-sumber cahaya sekarang diarahkan ke atas. Karena
itu langit-langit dan dinding-dinding ruangan harus diberi warna terang. Penerangan
sebagian besar tak langsung digunakan di rumah-rumah sakit, di ruangan baca, tokotoko dan di ruang tamu. Contoh : armatur dinding, armatur gantung berbentuk ssgelang.
e. Penerangan tak langsung
Pada sistem penerangan tak langsung cahayanya dipantulkan oleh langit-langit
dan dinding-dinding. Warna langit-langit dan dinding-dinding ini harus terang. Bayangbayang hampir tidak ada lagi. Penerangan tak langsung antara lain digunakan di
ruangan-ruangan untuk membaca, menulis dan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan
halus lainnya.
1.1.3 Satuan-satuan Penerangan[1]
1.1.3.1 Fluks Cahaya[1]
Fluks cahaya yang dipancarkan oleh sumber cahaya ialah seluruh jumlah
cahaya yang dipancarkan dalam satu detik. Setiap sumber cahaya yang memancar
sama kuat ke setiap arah dinamakan sumber cahaya segaram. Kalau sumber cahaya
itu dimisalkan sebuah lampu pijar ditempatkan dalam relektor, maka cahayanya
akan diarahkan, tetapi jumlahnya atau fluks cahayanya tetap. Sehingga intensitas

cahaya adalah fluks cahaya persatuan sudut ruang yang dipancarkan ke suatu arah
tertentu, yang dinyatakan dengan rumus :

I=
(cd)

(2-1)
Untuk menentukan jumlah fluks cahaya dengan satuan lumen dapat
dinyatakan dalam bentuk persamaan berikut ini:
= . I

.. (2-

2)
Dimana :
=

Fluks (Lumen, lm )

Sudut ruang (steredian, Sr)


I Intensitas Cahaya (Candela, Cd)

1.1.3.2 Intensitas Penerangan[1]


Besarnya fluks cahaya yang jatuh pada satu meter perssegi dari suatu bidang
disebut intensites penerangan. Intensitas penerangan dillambangkan dengan E dan
1

satuan lux.
lux = 1 lumen per m2
Jika suatu bidang yang luasnya A m2 diterangi dengan fluks cahaya maka
intensitas penerangan rata-rata dibidang itu adalah sebesar :
Er =

(2-3)
Dimana :

...

Er = Intensitas penerangan rata-rata (lux)


= Fluks cahaya (lm)
A = Luas permukaan (m2)
Intensitas penerangan Ep disuatu titik p umumnya tidak sama setiap titik dari
bidang itu.
Jika intensitas penerangan di suatu bidaang adalah suatu sumber cahaya
dengan intensitas (I) berbanding dengan kuadrat dari jarak antara sumber cahaya
dan bidang itu.
Intensitas penerangan di titik p dapat dicari dengan persamaan berikut :
I
2
r

Ep =

(2-

4)
Dimana :
Ep = Intensitas penerangan di suatu titik p yang diterangi (lux)
I = Intensitas cahaya (cd)
r = jarak dari sumber cahaya ke titik p (m)

1.1.3.3 Luminasi[1]
Luminasi adalah ukuran untuk terang suatu benda. Lumanisi yang terlalu
besar akan menyilaukan mata, seperti misalnya lampu pijar tanpa armatur.
Luminasi L suatu sumber cahaya atau suatu permukaan yang memantulkan
cahaya ialah intensitas cahayanya dibagi luas permukaan semunya. Dalam bentuk
rumus :

I
As

L =

(2-5)
Dimana :
L = Luminasi (cd/cm2)
I = Intensitas cahaya (cd)
As = Luas semu permukaan (cm2)
1.1.4

Faktor Faktor yang Mempengaruhi Penentuan Titik Cahaya

2.1.4.1 Indeks Ruangan[1]


Indeks ruang atau indeks k menyatakan perbandingan antara ukuran-ukuran
utama suatu ruangan berbentuk bujur sangkar yang dapat dirumuskan:
k=

pxl
h (p +l)

(2-6)
Dimana :
p = panjang ruangan dalam suatu satuan meter (m)
l = lebar ruangan (m)
h = tinggi sumber cahaya diatas bidang kerja (m)
Sedangkan untuk mencari tinggi sumber cahaya diatas bidang kerja dapat
digunakan rumus :
h=hrhk . (2-

6)
Dimana :
h = tinggi sumber cahaya diatas bidang kerja (m)

hr = tinggi ruangan (m)


hk = tinggi bidang kerja (m)
Kalau nilai k yang diperoleh tidak terdapat dalam tabel, efisiensi
penerangannya dapat ditentukan dengan interpolasi, dimana jika nilai k = 4,5 maka
nilai untuk diambil nilai tengah diantara nilai-nilai k = 4 dan k = 5. Untuk k yang
melebihi 5, diambil nilai untuk k = 5, sebab untuk k diatas 5 efesiensi
penerangannya hampir tidak berubah lagi.
Berikut adalah rumus interpolasi untuk menentukan efisiensi penerangan
dengan nilai indeks ruangan yang diperoleh tidak terdapat dalam table :
=1+

(k k 1 )
(k 2k 1)

( 21 ) ... (2-

7)
Dimana :
= Efisiensi penerangan
k

= Indeks ruangan
Nilai

k1

, dan

k2

dipeoleh dari table efesiensi penerangan.

2.1.4.2 Faktor-Faktor Refleksi[1]


Faktor-faktor refleksi r dan rp masing-masing menyatakan bagian yang
dipantulkan dari flux cahaya yang diterima oleh dinding dan langit-langit dan
kemudian mencapai bidang kerja. Factor refleksi semua bidang pengukuran atau
bidang kerja, ditentukan oleh refleksi lantai dan refleksi bagian diding antara bidang
kerja dan lantai.
Umumnya untuk rm diambil 0,1. Langit-langit dan dinding arna terang
memantulkan 50% - 70% dan yang berarna gelap 10% - 20%.

Pengaruh dinding dan langit-langit pada sistem penerangan langsung jauh


lebih kecil daripada pengaruhnya pada system-sistem penerangan lainnya. Sebab
cahaya yang jatuh di langit-langit dan dinding hanya sebagian kecil saja dari fluks
cahaya.
Dalam tabel-tabel 2 sampai dengan 6 efesiensi penerangan diberikan untuk
tiga nilai rp yang berbeda.
Jika terjadi silau karena cahaya yang dipantulkan dapat dihindari dengan

cara:
Menggunakan bahan yang tidak mengkilap untuk bidang kerja
Menggunakan sumber-sumber cahaya yang permukaanya luas dan luminasinya

rendah.
Menerapkan atau mengatur tata letak armature lampu yang sesuai dengan sistem
penerangannya.

2.1.4.3 Faktor Penyusutan atau Faktor Depresiasi[1]


Factor penyusutan atau factor depresiasi (d) adalah :

d=

E dalam keadaan dipakai


E dalam keadaan baru .............

(2-8)
Intensitas penerangan (E) dalam keadaan dipakai adalah intensitas
penerangan rata-rata suatu instalasi dengan lampu-lampu dan arm,atur-armatur yang
daya gunanya telah berkurang karena kotor, sudah lama dipakai atau oleh karena
sebab lain. Untuk mendapatkan efesiensi penerangan dalam keadaan dipakai nilai
rendemen yang ada harus dikalikan lagi dengan factor depresiasinya.
Ada tiga factor pengotoran, yaitu :
1. Pengotoran ringan
2. Pengotoran biasa

3. Pengotoran berat
Pengotoran ringan terjadi di toko-toko, kantor-kantor dan gedung-gedung
sekolah yang berada didaerah-daerah yang hamper tak berdebu.
Pengotoran berat akan terjadi di ruangan-ruangan dengan debu banyak atau
pengotoran lainnya, misalnya diperusahan cor, pertambangan, pemintalan dan
sebagainya.
Pengotoran biasa terjadi diperusahaan-perusahaan lainnya.
Disamping pengaruh pengotoran dalam factor depresiasi telah juga
diperhitungkan pengaruh usia lampu. Pengaruh ini tergantung pada nyala untuk
lampu TL diperhitungkan 1500 jam nyala per tahun, lampu pijar 500 jam nyala per
tahun. Kalau intensitas penerangannya menurun sampai 205 di baah yang
seharusnya, lampu-lampu ini sebaiknya dilakukan kelompok demi kelompok supaya
tidak menganggu kegiatan perusahaan.

1.1.5

Penentuan Jumlah Titik Cahaya[1]


Penentuan titik cahaya dipengaruhi beberapa factor. Faktor ini harus

diperhatikan agar didapat penerangan yang baik. Faktor-faktor yang menetukan dan
mempengaruhi titik cahaya yaitu :
a. Dimensi ruang.
b. Faktor refleksi
c. Intensitas cahaya (lux)
d. Kuat penangaran (lm)
e. Sistem penerangan.
f. Efisiensi penerangan
g. Faktor refleksi
Adapun langkah-langkah yang diperlukan untukan jumlah lampu adalah sebagai
berikut :
1. Menentukan jenis lampu dan armature yang digunakan.
2. Menetukan factor refleksi berdasarkan arna dinding, langit-langit dan lantai.

Warna putih dan arna sangat muda = 0,7


Warna muda = 0,5
Warna terang = 0,3
Warna gelap = 0,1
3. Menentukan indeks bentuknya
4. Menentukan efisiensi ruangan dari table dengan nilai k, rp, r dan rm
5. Menentukan intensitas penerangan suatu ruangan yang diperlukan dengan
menggunakan table.
6. Menentukan jumlah armature lampu, dipergunakan persamaan :
ExA
0=
x d .
(2-9)
Jumlah armature lampu (n) :

ExA
n= 0
=
arm x x d ...
arm
(2-10)
Dimana :
E = Intensitas Penerangan (lux)
A = luas ruangan (m2)
= Fluks cahaya (lumen)
= efisiensi penerangan
d = factor depresiasi
1.1.6

Penentuan Tata Letak Titik Lampu[1]


Dalam penentuan tata letak titik cahaya, kontruksi langit-langit ruangan dan

penempatan bidang kerja juga turut mempengaruhi. Di atas bidang kerja tidak boleh ada
bayang-bayang yang mengganggu.
Tujuan penentuan tata letak titik cahaya adalah :
1. Untuk menghasilkan luminasi yang diinginkan
2. Menciptakan interior yang indah

Luas suatu ruangan yang akan dipasang titik cahaya, harus dihitung dengan
ukuran bujur sangkar. Bila sebagian dari ruangan tersebut digunakan untuk keperluan
lain, maka luas ruangan tersebut tetap dihitung dari panjang dan lebar bujur sangkar.
Kalau kemudian ternyata di tempat tersebut tidak mungkin dipasang titik cahaya, maka
titik cahaya tersebut dapat ditiadakan. Untuk menetukan jarak antar titik cahaya, dapat
menggunakan persamaan sebagai berikut :
e
75
h

.................. (2-

11)
Dimana :
e = jarak antara titik cahaya
h = tinggi titik cahay ke bidang lampu
Sedangkan jarak dari diding ke lampu adalah sebesar setengah jarak antara
lampu (1/2 e).

1.2 Sistem pelayanan Daya listrik Cadangan[2]


Sistem pelayanan daya listrik cadangan adalah system pelayanan daya listrik
yang menggunakan sumber daya listrik cadangan untuk menyuplai daya listrik ke beban
apabila suplai daya listrik utama terputus.
Dalam penentuan suatu system daya listrik cadangan atau suatu system
kelistrikan asa beberapa hal yang harus diperhatikan diantaranya adalah :
1. Keandalan
Keandalan adalah kemampuan pengendalian system terhadap kondisi-kondisi
darurat yang mungkin terjadi.
2. Keselamatan
Keselamatan adalah keamanan system tersebut terhadap manusia dan peralatan yang
dipakai
3. Fleksibilitas

Fleksibilitas adalah hal yang berkaitan dengan beberpa kemungkinan penyusutan


peralatan yang dipakai.
4. Rencana perluasan.
Rencana perluasan adalah masalah yang berkaitan dengan penambahan kapasitas
beban terpasang dan beban puncak pada aktu mendaatang.
5. Perawatan
Perawatan adalah masalah yang berkaitan dengan kemungkinan terjadinya
kerusakan pada sistem atau peralatan.
1.2.1 Sumber listrik cadangan (Genset)[3]
Generator Set (Genset) digunakan untuk menyuplai daya darurat apabila terjadi
gangguan. Ada beberapa factor yang harus dipertimbangkan dalam memilih genset :
1. Jenis Mesin
2. Kapasitas Genset
3. Kontrol Transfer Beban
Kapasitas genset harus disesuaikan dengan kapasitas terpasang. Hal ini
memungkinkan agar genset tidak kelebihan beban saat beban sedang maksimum.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1

Persiapan
1) Lokasi Rumah Sakit MAHYUZAHRA Inderalaya : Jalan Lintas Timur KM.
35,5 Indralaya, Kab. Ogan Ilir, Inderalaya.

2) Waktu pengambilan data direncanakan pada hari kerja selama satu bulan.
Hal ini dilakukan untuk mendapatkan data yang dibutuhkan untuk
mendukung penyusunan tugas akhir ini.
3) Objek penelitian adalah sistem penerangan dan suplai daya cadangan pada
setiap ruangan di Rumah Sakit MAHYUZAHRA Inderalaya.
3.2 Flowchart Penilitian
Mulai

Observasi
Lapangan
Pengumpulan data ( Panjang, Lebar, Tinggi, Jumlah Armature,
Jenis Lampu, Faktor refleksi)

Perhitungan
data
Analisis data
dari hasil
perhitungan
Kesimpulan dan
Saran

Gambar 3.1 Flowchart penelitian


3.3

Rencana waktu Penelitian

Selesai

Tabel 3.1 Tabel rencana penelitian


No

Uraian Kegiatan
Penelitian

1
2
3
4
5
6

Jadwal Penelitian
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

Studi Literatur
Observasi Lapangan
Proposal Skripsi
Pengumpuan Data
Pengolahan Data
Penulisan Skripsi

3.4 Rencana Tabel Penelitian

Table 3.2 Rencana Tabel Penelitian Sistem Penerangan


No
1

Nama Ruang
Lantai 1
Lobby
A. R. Promosi
B. R. Pendaftaran
C. Lobby
Instalasi Farmasi dan
Pengelohan Limbah
A. Instalasi Farmasi
B. Instalasi
Pengolahan

LImbah (IPL)
Instlasi Gawat Darurat
(IGD)
A. R. Observasi
B. R. Bedah
C. R. Non Bedah
D. R. Perawat
E. Koridor
Instalasi Radiologi
A. R.
pemotretan
B.
C.

Radiologi
Kamar Gelap
R. Adm. dan Baca

Hasil Radiologi
Ruang Adm, Rekam
Medik

dan

Gudang

Obat
A. R.Administrasi
B. R. Rekam Medik
C. Gudang Obat
D. Koridor
E. WC
Ruang Prakter Dokter
A. R. Praktek Dokter
B.

Penyakit Dalam
R. Prakter Dokter

C.

Anak
R. Praktek Dokter

D.

Bedah
R. Praktek Dokter

Patologi
E. Ruang Menyusui
F. R. Tunggu Pasien
Ruang Perawatan
A. Ruang Perawatan

P
(m)

L
(m)

A
2

(m )

Jumlah

Jenis

Faktor

(m)

Armatur

Lampu

refleksi

Kelas III LakiB.

Laki
Ruang Perawatan
Kelas

III

Perempuan
C. WC
Instalasi Laboratorium
dan Bank Darah
A. R. Laboratorium

9
10

11

Dan Bank Darah


Ruang Jenazah
Instalasi Gizi
A. R. Konsultasi Gizi
B. R. Dapur
C. Koridor
Instalasi
Patologi
Anatomi
A. R. Patologi

12

13

14

Anatomi
B. WC
C. Koridor
Perawatan Anak
A. Ruang Pasien
B. WC
C. Koridor
Ruang Neonatus
A. R. Bayi 1
B. R. Bayi 2
C. R. Kebersihan
D. R. Noenatus
E. Koridor
R. Icu
R. Kebidanan
R. Ginekologi
A
R. ICU
B. WC
C. Koridor
D. R. VK
E. R. Pemulihan

15

pasca melahirkan
F. WC
Instalasi Bedah Sentral

16

& CSSD
A. R. Operasi
B. R. CSSD
C. R. Oksigen
D. Koridor
Paviliun Umar
Khatab
A. R. Pasien (11)

Bin

17

18
19.

B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.

R. Pasien (10)
R. Pasien (9)
R. Pasien (8)
R. Pasien (7)
R. Pasien (6)
R. Pasien (5)
R. KIA/KB (4)
R. Praktek Dokter

J.

Mata (3)
R.
Rehabilitas

K.

Medik (2)
R. Praktek Dokter

L.
M.
N.
O.
R.

Gigi (1)
R. Perawat
Koridor 1.
Koridor 2.
Koridor 3
Keuangan

Anggaran.
Lantai 2
Lobby Atas
A. Lobby
B. R. Perawat
Perkantoran
A. R. Direktur
B.
C.
D.
E.
F.
G.

20

&

&

Wakil Direktur
WC 1
R. Komite Medik
R. Yayasan
R. Pertemuan
WC 2
R. Pelayanan

Medik
H. Koridor
Paviliun Ustman Bin
Affan
A. R. Pasien (201)
B. WC 1
C. R. Pasien (202)
D. R. Pasien (203)
E. R. Pasien (204)
F. R. Pasien (205)
G. WC 2
H. R. Pasien (206)
I.
R. Pasien (207)
J.
R. Pasien (208)
K. R. Pasien (209)
L. Koridor 1.
M. Koridor 2
N. Koridor 3

3.5 Rumus yang Digunakan Untuk Perhitungan


1. Rumus intensitas penerangan rata-rata

Er = A ....
(3-1)
Dimana :
Er = Intensitas penerangan rata-rata (lux)
= Fluks cahaya (lm)
A = Luas permukaan (m2)
2. Rumus intensitas penerangan di suatu titik p.
I
Ep = r 2 ... (32)
Dimana :
Er = Intensitas penerangan di suatu titik p yang diterangi (lux)
I = Intensitas cahaya (cd)
r = jarak dari sumber cahaya ke titik p (m)
3. Rumusan umum untuk indeks bentuk.
pxl
k=
h (p +l) ... (3-3)
Dimana :
p = panjang ruangan dalam suatu satuan meter (m)
l = lebar ruangan (m)
h = tinggi sumber cahaya diatas bidang kerja (m)
4. Rumus faktor depresiasi :
d=

E dalam keadaan dipakai


E dalam keadaan baru ........ (3-

4)
Dimana :

5.

E = Intensitas Penerangan (lux)


d = factor penyusutan / depresiasi
Rumus menentukan jumlah armature.

ExA
n= 0
=
arm x x d ...........(3arm
5)
Dimana :
E = Intensitas Penerangan (lux)
A = luas ruangan (m2)
= Fluks cahaya (lumen)
= efisiensi penerangan
d = factor depresiasi
6. Rumus Efisiensi penerangan
(k k 1 )

=1+
(k 2k 1) ( 2 1 ) ... (27)
Dimana :
= Efisiensi penerangan
k

= Indeks ruangan
Nilai

k1

, dan

k2

dipeoleh dari table efesiensi penerangan.

7. Rumus untuk menetukan jarak antara titik cahaya,


e
75
h

........ (3-6)

Dimana :
e = jarak antara titik cahaya
h = tinggi titik cahaya ke bidang kerja

8. Rumus untuk menentukan jarak dari diding ke lampu adalah setengah jarak antara
lampu (1/2 e).
9. Rumus menghitung kapasitas generator
P x faktor demand
P = out
.......... (3-7)

Dimana :
P = Daya Aktif masukan (watt)
Pout

= Daya Aktif keluaran (watt)

faktor demand

= factor kebutuhan beban (%)

= efisiensi (%)

Dan,
S =

P
cos ........ (3-8)

Dimana :
S = Daya Semu masukan (VA)
P = Daya Aktif masukan (watt)

cos = faktor daya


3.6 Analisa Data
Setelah mendapatkan hasil perhitungan data, Penulis melakukan analisa terhadap
data-data tersebut. Analisa ini dilakukan dengan cara membandingkan data yang
sebenarnya dengan data hasil perhitungan yang telah sesuai aturan PUIL 2000.

DAFTAR PUSTAKA

[1] P. Van Harten, E. Setiaan. Ir.1983. Instalasi Listrik Arus Kuat Jilid 2. Bina Cipta :
Bandung.
[2] Mardhiani, Amalia. 2006. Skripsi Evaluasi Sistem Penarangan di Rumah Sakit Siti
Khadijah Palembang.. Inderalaya: Universitas Sriwijaya.
[3] Iqbal, Ahmad. 2013. Skripsi Evaluasi Sistem Kelistrikan Ruangan Operasi pada
Rumah Sakit

Internasional

Siloam

Sriwijaya

Palembang..

Inderalaya:

Universitas Sriwijaya.
[4] Akbar, Aidil. 2013. Skripsi Perencanaan Sistem Kelistrikan Instalansi Gaat Darurat
(IGD) Yang Baru Pada RS.RK Charitas Palembang. Inderalaya: Universitas
Sriwijaya.
[5] Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000 (PUIL 2000 ). Jakarta

1.2.2

Uniteruptible poer supply (UPS)


UPS sebagai sumber daya listrik yang khusu untuk melayani beban
listrik khusus yang membutuhkan daya listrik yang tidak boleh
terputus ataupun kualitas kelistrikan yang tinggi, dll.
Beban listrik khusus ini antara lain