Anda di halaman 1dari 8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pemeriksaan
Penegakan diagnosis dan rencana perawatan merupakan hal yang sangat penting
dilakukan oleh dokter gigi kerana hal tersebut akan mempengaruhi ketepatan dan
keberhasilan perawatan yang dilakukan terhadap pasien. Dalam menegakkan diagnosis dan
membuat rencana perawatan maka terdapat 4 tahap yang dapat dilakukan oleh seorang dokter
gigi, disingkat SOAP yakni S (Pemeriksaan Subyektif), O (Pemeriksaan Obyektif), A
(Assessment), dan P (Treatment Planning) (Bakar, 2004).
2.1.1 Pemeriksaan Subyektif
Pemeriksaan subyektif setidak-tidaknya berkaitan dengan tujuh (7) hal, yakni identitas
pasien, keluhan utama, present illness, riwayat medik, riwayat dental, riwayat keluarga, dan
riwayat sosial (Bakar, 2004).
2.1.2 Pemeriksaan Obyektif
Pemeriksaan obyektif dilakukan secara umum ada dua macam, yaitu pemeriksaan
ekstra oral dan pemeriksaan intra oral.
1. Pemeriksaan ekstra oral
Pemeriksaan ekstra oral ini betujuan untuk melihat penampakan secara umum dari
pasien, misalnya pembengkakan di muka dan leher, pola skeletal, kompetensi bibir.
Hal ini dapat dilakukan dengan cara palpasi limfonodi, otot-otot mastikasi dan
pemeriksaan TMJ (temporo mandibular joint).
2. Pemeriksaan intra oral

Pemeriksaan intra oral merupakan pemeriksaan yang dilakukan dalam rongga mulut.
Pemeriksaan intra oral berkaitan dengan gigi dan jaringan sekitar (jaringan linak
maupun jaringan keras) (Bakar, 2004).
2.1.3 Pemeriksaan Penunjang
Perawatan lain yang juga harus dilakukan adalah berupa pemeriksaan radiografi
dental. Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat kedalaman karies dan kondisi jaringan keras
sekitarnya sehingga dapat ditentukan apakah gigi pasien yang mengalami karies tersebut bisa
langsung ditambal atau dilakukan perawatan endodonti terlebih dahulu. Selain itu perawatan
ini juga bertujuan untuk melihat keadaan tulang alveolar karena umumya pasien yang
mengalami diabetes mellitus akan mengalami resorbsi pada tulang alveolarnya (Bakar, 2004)
2.2 Pengertian Gingivitis
Gingivitis adalah akibat proses peradangan gusi. Biasanya disebabkan oleh plak, dan
tanpa plak penyakit gusi tidak dapat terjadi. Ini berarti, dapat disembuhkan bilang rajin
membersihkan semua plak dari gigi-giginya (Besford, 1996).
Gingivitis adalah peradangan pada gusi yang ditandai adanya perubahan bentuk dan
warna pada gusi, atau gingivitis adalah salah suatu gangguan gigi berupa pembengkakan atau
radang pada gusi (gingiva) (Besford, 1996).
2.2.1 Macam-Macam Gingivitis
Gingivitis terdiri dari 5 macam yaitu (Rosad, 2009) :
1. Gingivitis Marginalis adalah Peradangan gingiva bagian marginal yang merupakan
stadium awal dari penyakit periodontal
2. Gingivitis Pubertas adalah gingivitis yang sering terjadi pada anak-anak usia pubertas,
yang ditandai dengan gejala gingiva mengalami perubahan warna menjadi merah
sampai kebiru-biruan, konsistensi gingiva berubah menjadi lunak atau oedematous,

licin dan berkilat dan permukaan gingiva, terutama papila interdental yang terlibat
terlihat licin dan berkilat.
3. Gingivitis Pregnancy adalah gingivitis yang sering terjadi pada ibu hamil biasanya
ditandai dengan gejala gingiva cenderung mudah berdarah, baik karena iritasi
mekanis maupun secara spontan, gingiva biasanya mengalami perubahan warna
menjadi merah terang sampai merah kebiru-biruan dan konsistensi gingiva bebas dan
gingiva interdental adalah lunak dan getas (mudah tercabik).
4. Scorbutic Gingivitis adalah merupakan gingivitis yang terjadi karena defisiensi
vitamin C, ditandai adanya hiperplasi atau ulserasi dan berwarna merah terang atau
merah menyala.
5. Anug (Acute Necrotizing Ulcerative Gingivitis) merupakan satu-satunya gingivitis
yang akut, terjadi sangat mendadak dan cepat meluas. Biasanya terjadi pada masa
pergantian gigi di mana anak mempunyai oral hygiene buruk. Nama lain dari Anug
adalah Vincents Gingivitis atau Trench Mouth (Daliemunthe, 2008).
2.2.2 Faktor-Faktor Penyebab Gingivitis
Faktor-faktor etiologi penyakit gingiva dapat diklasifikasikan dengan berbagai cara.
Berdasarkan keberadaannya, faktor-faktor tersebut dapat di klasifikasikan atas :
1. Faktor Etiologi
1) Plak dental/plak bakteri adalah deposit lunak yang membentuk biofilm
yang menumpuk kepermukaan gigi atau permukaan keras lainnya di
rongga mulut seperti restorasi lepasan dan cekat.
2) Kalkulus dental adalah massa terkalsifikasi yang melekat kepermukaan
gigi asli maupun gigi tiruan. Biasanya kalkulus terdiri dari plak bakteri
yang telah mengalami mineralisasi. Berdasarkan lokasi perlekatannya
dikaitkan dengan tepi gingiva, kalkulus dental dapat dibedakan atas
kalkulus suprangingiva dan subgingiva.
3) Material alba adalah deposit lunak, bersifat melekat, berwarna kuning atau
putih keabu-abuan, dan daya melekatnya lebih rendah di bandingkan plak
dental.

4) Stein dental adalah deposit berpigmen pada permukaan gigi.


5) Debris/sisa makanan (Daliemunthe, 2008).
2. Faktor Etiologi Sistemik :
1) Genetik.
2) Nutrisional.
3) Hormonal misalnya : kehamilan dan diabetes.
4) Hematologi/penyakit darah misalnya : anemia dan leukemia.
5) Obat-obatan misalnya : dilantin, fenitoin, dan DPH.

2.3 Acute Necrozing Ulcerative Gingivitis (ANUG)


2.3.1 Definisi
Ulcerative necrozing ulcerative gingivitis (ANUG) dikenal juga sebagai Vincents
syndrome dan trench mouth, adalah peradangan destruktif yang terjadi pada gusi akibat
infeksi bakteri; yang berkembang akut progresif cepat. ANUG bisa terjadi pada keadaan
mulut bebas dari penyakit gingiva, bisa juga tumpang tindih dengan penyakit gingiva kronis
yang telah ada. Lesi berbentuk seperti kawah (ulkus) pada bagian proksimal dengan daerah
nekrosis yang luas, ditutupi / tidak ditutupi lapisan pseudomembran berwarna putih keabuabuan.

Gambar. Gambaran klinis ANUG pada daerah palatum keras (Leao et al., 2007)

2.3.2 Etiologi

Stres dan perokok berat adalah faktor risiko utama untuk ANUG. Selain stress dan
merokok, faktor risiko lain yang meningkatkan angka kejadian ANUG adalah kebersihan
mulut yang buruk, gizi kurang, infeksi pada rongga mulut dan tenggorokan dan sistem imun
yang lemah seperti pada pasien HIV/AIDS. Semua faktor risiko tersebut mendorong
peningkatan pertumbuhan bakteri penyebab ANUG. ANUG disebabkan oleh infeksi bakteri,
termasuk bakteri anaerob seperti P. intermedia, Fusobacterium, dan spirochaeta seperti
Borrelia serta Treponema (American Academy of Periodontology, 2010).
2.3.3.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Gejala dan Tanda


Nyeri gusi berat, walau tidak ada penekanan pada gusi
Gusi bengkak, merah, dan mudah berdarah
Gingival berkeratin, gaung luka diantara gigi dan gusi
Mulut berbau
Demam (jarang terjadi)
Pembesaran limfonodi di kepala, leher, atau rahang (Mayoclinic, 2010).

2.3.4 Diagnosis
Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis dengan ditemukannya gejala dan tanda yang
timbul pada ANUG, pemeriksaan fisik rongga mulut. Perbedaan antara ANUG dengan
penyakit gusi yang lain yaitu:
1. Pada ANUG, nyeri dirasakan dengan sangat walaupun tidak ada penekanan pada
gusi.
2. Segitiga lancip gusi di antara kedua gigi tidak lagi lancip, melainkan mendatar

2.3.5

atau menurun, bahkan menghilang.


3. ANUG berkembang lebih cepat dibanding perkembangan penyakit gusi yang lain.
4. Pada pemeriksaan foto rontgen, processus alveolaris terkikis atau hilang.
Diagnosis Banding
Necrotizing Ulcerative Gingivitis harus dibedakan dari kondisi lain yang mirip

denganya seperti akut herpetik gingivostomatitis, kronik periodontal poket, desquamatif


gingivitis, streptococcal gingivostomatitis, aphtous stomatitis, gonococcal gingivostomatitis,
difteri dan lesi sifilis, lesi gingival tuberkulosa, candidiasis, agranulositosis, dermatosa
(pemfigus, eritema multiforme, dan lichen planus), dan stomatitis venenata.

2.3.6 Prognosis baik


Dijumpai satu atau beberapa keadaan berikut :
1. Dukungan tulang yg tinggal masih adekuat
2. Etiologi dapat dikontrol
3. Terciptanya pemeliharaan gigi geligi
Koopertaif pasien adekuat
2.3.7 Penatalaksanaan
Perawatan ANUG mencakup:
1. Penyingkiran inflamasi akut, disertai perawatan penyakit gingiva atau periodontal
kronis yang bertumpang tindih dengan lesi ANUG maupun yang berada pada
daerah lainnya di rongga mulut.
2. Penyingkiran simtom toksik seperti demam dan malaise.
3. Koreksi kondisi sistemik yang turut berperan dalam memicu maupun
perkembangan perubahan pada gingiva.
2.4 Evaluasi/Edukasi
Pengenalan cara-cara sehari-hari yang efektif dalam menjaga oral hygiene seperti :
1. sikat gigi
Semua orang sudah tahu tentunya cara yang satu ini, mungkin juga sudah
dilakukan setiap hari. Jadi yang penting disini adalah pengenalan teknik sikat gigi
yang tepat, memotivasi untuk sikat gigi secara teratur dan pemilihan pasta gigi
dengan tepat. Teknik sikat gigi yang secara horizontal adalah lazim dikenal umum,
dan itu merupakan suatu kesalahan karena dengan cara demikian lambat laun
dapat menimbulkan resesi gingival dan abrasi gigi. Lebih lanjut lagi, penyakitpenyakit periondontal akan lebih mudah terjadi. Pemilihan bulu sikat yang halus
juga penting supaya tidak melukai gusi. Hendaknya sikat gigi diganti sekurangkurangnya tiap sebulan sekali, dengan demikian bulu sikat masih tetap efektif
dalam membersihkan gigi. Pasta gigi berfluoride selayaknya dipilih karena dari
penelitian kandungan fluoride tersebut mampu menurunkan angka karies melalui
2 hal ; mengeliminasi dental plak yang merupakan cikal bakal karies serta

suplemen topikal fluoride bagi gigi sebagai mineral protektif penting terhadap
karies.
2. Kumur-kumur antiseptik( Oral Rinse)
Terdapat berbagai bahan aktif yang sering digunakan sebagai kumur-kumur. Yang
dijual bebas umumnya berasal dari minyak tumbuh-tumbuhan seperti metal
salisilat ( seperti pada produk Listerine ), sedangkan yang perlu diresepkan dokter
adalah chlorhexidine 0.20 % ( seperti pada produk minosep) dan H2O2 1.5 % atau
3.0 %. Kumur-kumur yang lebih murah dan cukup efektif adalah dengan air
garam hangat. Sebenarnya kumur-kumur lebih diperlukan pada penyakit-penyakit
gusi dan periodontal sedangkan dalam penggunaan sehari-hari tidak terbukti
dalam mencegah karies,apalagi jika penggunaannya tidak diawali dengan sikat
gigi. Jadi penting untuk diketahui bahwa kumur-kumur bukanlah pengganti sikat
gigi dan sikat gigi masih menjadi upaya pencegahan terpenting dari penyakitpenyakit gigi, khususnya karies. Bahkan jika kumur-kumur terlalu sering
digunakan akan menyebabkan flora normal mulut akan mati dan merangsang
pertumbuhan candida serta juga membuat mulut dan menjadi kering seperti
terbakar.
3. Dental floss atau benang gigi
Akhir-akhir ini cara ini mulai banyak diperkenalkan , dan cukup ampuh untuk
membersihkan di sela-sela gigi. Tapi teknik harus dimengerti dengan tepat karena
jikalau tidak, alih-alih mencegah penyakit periodontal, yang terjadi malah melukai
gusi dan membuat radang.
4. Pembersih lidah
Juga mulai banyak digunakan, baik untuk membersihkan dorsum lingual yang
seringkali luput kita bersihkan saat sikat gigi. Tumpukan debris di dorsum lidah
penuh dengan kuman-kuman oportunis serta candida yang bermukim sebagai flora
normal maupun transient. Penjelasan mengenai cara lagi-lagi diperlukan.
5. Kontrol ke dokter gigi secara teratur

Diperlukan sebagai salah satu upaya preventif, karena merekalah ahlinya dan
terkadang kita sendiri seringkali luput mengamati perubahan pada gigi dan gusi
yang masih kecil. Bagi mereka yang pernah menderita penyakit periodontal
disarankan untuk kontrol secara teratur ke dokter gigi setiap 3 bulan sekali.