Anda di halaman 1dari 10

1.

LED
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari LED)

LED

Diode pancaran cahaya (bahasa Inggris: light-emitting diode; LED) adalah


suatu semikonduktor yang memancarkan cahaya monokromatik yang tidak koheren ketika diberi
tegangan maju.
Gejala ini termasuk bentuk elektroluminesensi. Warna yang dihasilkan bergantung pada bahan
semikonduktor yang dipakai, dan bisa jugaultraviolet dekat atau inframerah dekat.
Daftar isi
[sembunyikan]

1 Teknologi LED
o

1.1 Fungsi fisikal

1.2 Emisi cahaya

1.3 Polarisasi

1.4 Tegangan maju

1.5 Sirkuit LED

1.6 Substrat LED

1.7 LED biru dan putih


2 Produsen terkemuka dunia

Teknologi LED[sunting | sunting sumber]


Fungsi fisikal[sunting | sunting sumber]
Sebuah LED adalah sejenis diode semikonduktor istimewa. Seperti sebuah diode normal, LED
terdiri dari sebuah chip bahan semikonduktor yang diisi penuh, atau di-dop, dengan ketidakmurnian
untuk menciptakan sebuah struktur yang disebut p-n junction. Pembawa-muatan
- elektron dan lubang mengalir ke junction dari elektrode dengan voltase berbeda. Ketika elektron
bertemu dengan lubang, dia jatuh ke tingkat energi yang lebih rendah, dan melepas energi dalam
bentuk photon.

Emisi cahaya[sunting | sunting sumber]


Panjang gelombang dari cahaya yang dipancarkan, dan oleh karena itu warnanya, tergantung dari
selisih pita energi dari bahan yang membentuk p-n junction. Sebuah diode normal, biasanya terbuat
dari silikon atau germanium, memancarkan cahaya tampak inframerah dekat, tetapi bahan yang
digunakan untuk sebuah LED memiliki selisih pita energi antara cahaya inframerah dekat, tampak,
dan ultraungu dekat.

LED dalam aplikasi sebagai alat penerangan lampu langit-langit

Polarisasi[sunting | sunting sumber]


Tak seperti lampu pijar dan neon, LED mempunyai kecenderungan polarisasi. Chip LED
mempunyai kutub positif dan negatif (p-n) dan hanya akan menyala bila diberikan arus maju. Ini

dikarenakan LED terbuat dari bahan semikonduktor yang hanya akan mengizinkan arus listrik
mengalir ke satu arah dan tidak ke arah sebaliknya. Bila LED diberikan arus terbalik, hanya akan
ada sedikit arus yang melewati chip LED. Ini menyebabkan chip LED tidak akan mengeluarkan
emisi cahaya.
Chip LED pada umumnya mempunyai tegangan rusak yang relatif rendah. Bila diberikan tegangan
beberapa volt ke arah terbalik, biasanya sifat isolator searah LED akan jebol menyebabkan arus
dapat mengalir ke arah sebaliknya.

Tegangan maju[sunting | sunting sumber]


Karakteristik chip LED pada umumnya adalah sama dengan karakteristik diode yang hanya
memerlukan tegangan tertentu untuk dapat beroperasi. Namun bila diberikan tegangan yang terlalu
besar, LED akan rusak walaupun tegangan yang diberikan adalah tegangan maju.
Tegangan yang diperlukan sebuah diode untuk dapat beroperasi adalah tegangan maju (Vf).

Sirkuit LED[sunting | sunting sumber]


Sirkuit LED dapat didesain dengan cara menyusun LED dalam posisi seri maupun paralel. Bila
disusun secara seri, maka yang perlu diperhatikan adalah jumlah tegangan yang diperlukan seluruh
LED dalam rangkaian tadi. Namun bila LED diletakkan dalam keadaan paralel, maka yang perlu
diperhatikan menjadi jumlah arus yang diperlukan seluruh LED dalam rangkaian ini.
Menyusun LED dalam rangkaian seri akan lebih sulit jika warna LED berbeda-beda, karena tiap
warna LED yang berlainan mempunyai tegangan maju (Vf) yang berbeda. Perbedaan ini akan
menyebabkan bila jumlah tegangan yang diberikan oleh sumber daya listrik tidak cukup untuk
membangkitkan chip LED, maka beberapa LED akan tidak menyala. Sebaliknya, bila tegangan yang
diberikan terlalu besar akan berakibat kerusakan pada LED yang mempunyai tegangan maju relatif
rendah.
Pada umumnya, LED yang disusun secara seri harus mempunyai tegangan maju yang sama atau
paling tidak tak berbeda jauh supaya rangkaian LED ini dapat bekerja secara baik. Jika LED
digunakan untuk indikator pada voltase lebih tinggi dari operasinya dirangkai seri dengan resistor
untuk menyesuaikan arus agar tidak melampaui arus maksimum LED, kalau arus maksimum
terlampau LED jadi rusak.

Substrat LED[sunting | sunting sumber]


Pengembangan LED dimulai dengan alat inframerah dan merah dibuat dengan gallium arsenide.
Perkembagan dalam ilmu material telah memungkinkan produksi alat denganpanjang
gelombang yang lebih pendek, menghasilkan cahaya dengan warna bervariasi.
LED konvensional terbuat dari mineral inorganik yang bervariasi, menghasilkan warna sebagai
berikut:

aluminium gallium arsenide (AlGaAs) - merah dan inframerah

gallium aluminium phosphide - hijau

gallium arsenide/phosphide (GaAsP) - merah, oranye-merah, oranye, dan kuning

gallium nitride (GaN) - hijau, hijau murni (atau hijau emerald), dan biru

gallium phosphide (GaP) - merah, kuning, dan hijau

zinc selenide (ZnSe) - biru

indium gallium nitride (InGaN) - hijau kebiruan dan biru

indium gallium aluminium phosphide - oranye-merah, oranye, kuning, dan hijau

silicon carbide (SiC) - biru

diamond (C) - ultraviolet

silicon (Si) - biru (dalam pengembangan)

sapphire (Al2O3) - biru

LED biru dan putih[sunting | sunting sumber]

Sebuah GaN LED ultraviolet

LED biru pertama yang dapat mencapai keterangan komersial menggunakan substrat galium nitrida
yang ditemukan oleh Shuji Nakamuratahun 1993 sewaktu berkarir di Nichia Corporation di Jepang.
LED ini kemudian populer di penghujung tahun 90-an. LED biru ini dapat dikombinasikan ke LED
merah dan hijau yang telah ada sebelumnya untuk menciptakan cahaya putih.

LED dengan cahaya putih sekarang ini mayoritas dibuat dengan cara melapisi substrat galium
nitrida (GaN) dengan fosfor kuning. Karena warna kuning merangsang penerima warna merah dan
hijau di mata manusia, kombinasi antara warna kuning dari fosfor dan warna biru dari substrat akan
memberikan kesan warna putih bagi mata manusia.
LED putih juga dapat dibuat dengan cara melapisi fosfor biru, merah dan hijau di substrat ultraviolet
dekat yang lebih kurang sama dengan cara kerja lampu fluoresen.
Metode terbaru untuk menciptakan cahaya putih dari LED adalah dengan tidak menggunakan fosfor
sama sekali melainkan menggunakan substrat seng selenida yang dapat memancarkan cahaya biru
dari area aktif dan cahaya kuning dari substrat itu sendiri.

2.

LCD
Penampil kristal cair (Inggris: liquid crystal display; LCD) adalah suatu jenis media
tampilan yang menggunakan kristal cair sebagai penampil utama. LCD sudah digunakan
di berbagai bidang misalnya dalam alatalat elektronik seperti televisi, kalkulator ataupun layar komputer. Kini LCD mendominasi
jenis tampilan untuk komputer meja maupun notebook karena membutuhkan daya listrik
yang rendah, bentuknya tipis, mengeluarkan sedikit panas, dan memiliki resolusi tinggi.

Pada LCD berwarna semacam monitor, terdapat banyak sekali titik cahaya (piksel) yang terdiri dari
satu buah kristal cair sebagai sebuah titik cahaya. Walau disebut sebagai titik cahaya, kristal cair ini
tidak memancarkan cahaya sendiri. Sumber cahaya di dalam sebuah perangkat LCD adalah lampu
neon berwarna putih di bagian belakang susunan kristal cair.
Titik cahaya yang jumlahnya puluhan ribu bahkan jutaan inilah yang membentuk tampilan citra.
Kutub kristal cair yang dilewati arus listrik akan berubah karena pengaruh polarisasi medan
magnetik yang timbul dan oleh karenanya akan hanya membiarkan beberapa warnaditeruskan
sedangkan warna lainnya tersaring.

Gambaran umum[sunting | sunting sumber]


Setiap piksel dari sebuah LCD biasanya terdiri dari sebuah lapisan molekul yang berjajar di antara
dua elektrode transparan, dan dua filter terpolarisasi, sumbu transmisi yang (kebanyakan) saling
tegak lurus.

3.

Panel surya
Panel surya adalah alat yang terdiri dari sel surya yang
mengubah cahaya menjadi listrik. Mereka disebut surya atas Matahari atau "sol" karena
Matahari merupakan sumber cahaya terkuat yang dapat dimanfaatkan. Panel surya
sering kali disebut sel photovoltaic, photovoltaic dapat diartikan sebagai "cahaya-listrik".
Sel surya atau sel PV bergantung pada efek photovoltaic untuk menyerap energi
Matahari dan menyebabkan arus mengalir antara dua lapisan bermuatan yang
berlawanan.

Jumlah penggunaan panel surya di porsi pemroduksian listrik dunia sangat kecil, tertahan oleh biaya
tinggi per wattnya dibandingkan dengan bahan bakar fosil - dapat lebih tinggi sepuluh kali lipat,
tergantung keadaan. Mereka telah menjadi rutin dalam beberapa aplikasi yang terbatas seperti,
menjalankan "buoy" atau alat di gurun dan area terpencil lainnya, dan dalam eksperimen lainnya
mereka telah digunakan untuk memberikan tenaga untuk mobil balap dalam kontes
seperti Tantangan surya dunia di Australia.
Sekarang ini biaya panel listrik surya membuatnya tidak praktis untuk penggunaan sehari-hari di
mana tenaga listrik "kabel" telah tersedia. Bila biaya energi naik dalam jangka tertentu, atau bila
penerobosan produksi terjadi yang mengurangi ongkos produksi panel surya, ini sepertinya tidak
akan terjadi dalam waktu dekat.
Pada 2001 Jepang telah memasang kapasitas 0,6 MWp tenaga surya puncak, sementara
itu Jerman memilik 0,26 MWp danAmerika Serikat 0,16 MWp. Pada saat ini tenaga listrik surya
seluruh dunia kira-kira sama dengan yang diproduksi oleh satukincir angin bear. Di AS biaya
pemasangan panel surya ini telah jatuh dari $55 per watt puncak pada 1976 menjadi $4 per watt
peak di 2001.

4.

LDR

Sensor Cahaya LDR (Light Dependent Resistor) adalah salah satu jenis resistor yang dapat mengalami
perubahan resistansinya apabila mengalami perubahan penerimaan cahaya. Besarnya nilai hambatan
pada Sensor Cahaya LDR (Light Dependent Resistor) tergantung pada besar kecilnya cahaya yang
diterima oleh LDR itu sendiri. LDR sering disebut dengan alat atau sensor yang berupa resistor yang
peka terhadap cahaya. Biasanya LDR terbuat dari cadmium sulfida yaitu merupakan bahan

semikonduktor yang resistansnya berupah-ubah menurut banyaknya cahaya (sinar) yang mengenainya.
Resistansi LDR pada tempat yang gelap biasanya mencapai sekitar 10 M, dan ditempat terang LDR
mempunyai resistansi yang turun menjadi sekitar 150 . Seperti halnya resistor konvensional,
pemasangan LDR dalam suatu rangkaian sama persis seperti pemasangan resistor biasa. Simbol LDR
dapat dilihat seperti pada gambar berikut. Simbol Dan Fisik Sensor Cahaya LDR (Light Dependent
Resistor) Aplikasi Sensor Cahaya LDR (Light Dependent Resistor) Sensor Cahaya LDR (Light Dependent
Resistor) dapat digunakan sebagai : Sensor pada rangkaian saklar cahaya Sensor pada lampu otomatis
Sensor pada alarm brankas Sensor pada tracker cahaya matahari Sensor pada kontrol arah solar cell
Sensor pada robot line follower Dan masih banyak lagi aplikasi rangkaian elektronika yang menggunakan
LDR (Light Dependent Resistor) sebagai sensor cahaya. Karakteristik Sensor Cahaya LDR (Light
Dependent Resistor) Sensor Cahaya LDR (Light Dependent Resistor) adalah suatu bentuk komponen
yang mempunyai perubahan resistansi yang besarnya tergantung pada cahaya. Karakteristik LDR terdiri
dari dua macam yaitu Laju Recovery dan Respon Spektral sebagai berikut : Laju Recovery Sensor
Cahaya LDR (Light Dependent Resistor) Bila sebuah Sensor Cahaya LDR (Light Dependent Resistor)
dibawa dari suatu ruangan dengan level kekuatan cahaya tertentu ke dalam suatu ruangan yang gelap,
maka bisa kita amati bahwa nilai resistansi dari LDR tidak akan segera berubah resistansinya pada
keadaan ruangan gelap tersebut. Na-mun LDR tersebut hanya akan bisa menca-pai harga di kegelapan
setelah mengalami selang waktu tertentu. Laju recovery meru-pakan suatu ukuran praktis dan suatu kenaikan nilai resistansi dalam waktu tertentu. Harga ini ditulis dalam K/detik, untuk LDR tipe arus harganya
lebih besar dari 200K/detik(selama 20 menit pertama mulai dari level cahaya 100 lux), kecepatan tersebut
akan lebih tinggi pada arah sebaliknya, yaitu pindah dari tempat gelap ke tempat terang yang
memerlukan waktu kurang dari 10 ms untuk mencapai resistansi yang sesuai den-gan level cahaya 400
lux. Respon Spektral Sensor Cahaya LDR (Light Dependent Resistor) Sensor Cahaya LDR (Light
Dependent Resistor) tidak mempunyai sensitivitas yang sama untuk setiap panjang gelombang cahaya
yang jatuh padanya (yaitu warna). Bahan yang biasa digunakan sebagai penghantar arus listrik yaitu
tembaga, aluminium, baja, emas dan perak. Dari kelima bahan tersebut tembaga merupakan penghantar
yang paling banyak, digunakan karena mempunyai daya hantaryang baik (TEDC,1998) Prinsip Kerja
Sensor Cahaya LDR (Light Dependent Resistor) Resistansi Sensor Cahaya LDR (Light Dependent
Resistor) akan berubah seiring den-gan perubahan intensitas cahaya yang mengenainya atau yang ada
disekitarnya. Dalam keadaan gelap resistansi LDR seki-tar 10M dan dalam keadaan terang sebe-sar
1K atau kurang. LDR terbuat dari ba-han semikonduktor seperti kadmium sul-fida. Dengan bahan ini
energi dari cahaya yang jatuh menyebabkan lebih banyak mua-tan yang dilepas atau arus listrik
meningkat. Artinya resistansi bahan telah men-galami penurunan.

5.

Dioda foto

Dioda foto adalah jenis dioda yang berfungsi mendeteksi cahaya. Berbeda dengan diode biasa,
komponen elektronika ini akan mengubah cahaya menjadi arus listrik. Cahaya yang dapat dideteksi
oleh diode foto ini mulai dari cahaya infra merah, cahaya tampak, ultra ungusampai dengan sinar-X.
Aplikasi diode foto mulai dari penghitung kendaraan di jalan umum secara otomatis, pengukur
cahaya pada kamera serta beberapa peralatan di bidang medis.

Simbol dari diode foto

Alat yang mirip dengan Dioda foto adalah Transistor foto (Phototransistor). Transistor foto ini
pada dasarnya adalah jenis transistor bipolar yang menggunakan kontak (junction) base-collector
untuk menerima cahaya. Komponen ini mempunyai sensitivitas yang lebih baik jika dibandingkan
dengan Dioda Foto. Hal ini disebabkan karena elektron yang ditimbulkan oleh foton cahaya pada
junction ini di-injeksikan di bagian Base dan diperkuat di bagian Kolektornya. Namun, waktu
respons dari Transistor-foto secara umum akan lebih lambat dari pada Dioda-Foto.

6.

Foto transistor

Phototransistor merupakan suatu jenis transistor yang sangat peka terhadap cahaya
yang ada disekitarnya. Ketika basis menangkap cahaya maka collector akan terhubung
dengan emitter dalam hal ini transistor bekerja. Prinsip kerja phototransistor sama
seperti transistor pada umumnya dengan kata lain phototransistor akan bekerja seperti
saklar dengan parameter cahaya untuk mendapatkan kondisi on dan off. Ketika cahaya
dengan frekuensi diatas frekuensi ambang suatu bahan semikonduktor transistor pada
daerah basisnya, maka terbentuklah pasangan elektron dan hole (lubang) sehingga
menyebabkan arus seolah-olah mengalir masuk kedalam basis.Besarnya arus ini
bergantung kepada besarnya intensitas cahaya yang diberikan kepadanya. Daerah
utama dari terbentuknya arus ini adalah daerah persambungan kolektor dan basis.
Berikut ini adalah simbol phototransistor.

Prinsip Kerja Sensor Photo Transistor Sambungan antara basis dan kolektor, dioperasikan dalam catu
balik dan berfungsi sebagai fotodioda yang merespon masuknya sinar dari luar. Bila tak ada sinar yang
masuk, arus yang melalui sambungan catu balik sama dengan nol. Jika sinar dari energi photon cukup
dan mengenai sambungan catu balik, penambahan pasangan hole dan elektron akan terjadi dalam
depletion region, menyebabkan sambungan menghantar. Jumlah pasangan hole dan elektron yang
dibangkitkan dalam sambungan akan sebanding dengan intensitas sinar yang mengenainya. Sambungan
antara basis emitor dapat dicatu maju, menyebabkan piranti ini dapat difungsikan sebagai transistor
bipolar konvensional. Arus kolektor dari phototransistor diberikan oleh : Terminal basis dari photo
transistor tidak membutuhkan sambungan (no connect) untuk bekerja. Jika basis tidak disambung dan
VCE adalah positif, sambungan basis kolektor akan berlaku sebagai fotodioda yang dicatu balik. Arus
kolektor dapat mengalir sebagai tanggapan dari salah satu masukan, dengan arus basis atau masukan
intensitas sinar L1.

Contoh Rangkaian Dasar Sensor Photo Transistor Komponen ini memiliki sifat yang sama dengan

transistor yaitu menghasilkan kondisi cut off dan saturasi. Perbedaannya adalah, bilamana pada
transistor kondisi cut off terjadi saat tidak ada arus yang mengalir melalui basis ke emitor dan kondisi
saturasi terjadi saat ada arus mengalir melalui basis ke emitor maka pada phototransistor kondisi cut off
terjadi saat tidak ada cahaya infrared yang diterima dan kondisi saturasi terjadi saat ada cahaya infrared
yang diterima. Kondisi cut off adalah kondisi di mana transistor berada dalam keadaan OFF sehingga
arus dari collector tidak mengalir ke emitor. Pada rangkaian gambar diatas, arus akan mengalir dan
membias basis transistor Q2 C9014. Kondisi saturasi adalah kondisi di mana transistor berada dalam
keadaan ON sehingga arus dari collector mengalir ke emitor dan menyebabkan transistor Q2 tidak
mendapat bias atau OFF. Phototransistor ST8-LR2 memiliki sudut area 15 derajat dan lapisan pelindung
biru yang melindungi sensor dari cahaya-cahaya liar. Pada phototransistor yang tidak dilengkapi dengan
lapisan pelindung ini, cahaya-cahaya liar dapat menimbulkan indikasi-indikasi palsu yang terkirim ke CPU
dan mengacaukan proses yang ada di sana. Aplikasi komponen ini sebagai sensor peraba adalah

digunakan bersama dengan LED Infrared yang dipancarkan ke permukaan tanah. Apabila permukaan
tanah atau lantai berwarna terang, maka sinyal infrared akan dikembalikan ke sensor dan diterima oleh
ST8-LR2. Namun bila permukaan tanah atau lantai berwarna gelap, maka sinyal infrared akan diserap
dan
hanya
sedikit
atau
bahkan
tidak
ada
yang
kembali.

Fototransistor dapat diterapkan sebagai sensor yang baik, karena memiliki kelebihan
dibandingkan dengan komponen lain yaitu mampu untuk mendeteksi sekaligus
menguatkannya dengan satu komponen tunggal. Fototransistor memiliki sambungan
kolektor basis yang besar dan dengan cahaya karena cahaya dapat membangkitkan
pasangan lubang elektron. Dengan diberi prasikap maju, cahaya yang masuk akan
menimbulkan arus pada kolektor.
Bahan utama dari fototransistor adalah silikon atau germanium sama seperti pada
transistor jenis lainnya. Fototransistor juga memiliki dua tipe seperti transistor yaitu tipe
NPN dan tipe PNP. Fototransistor sebenarnya tidak berbeda dengan transistor biasa,
hanya saja fototransistor ditempatkan dalam suatu material yang transparan sehingga
memungkinkan cahaya (cahaya inframerah) mengenainya (daerah basis), sedangkan
transistor biasa ditempatkan pada bahan logam dan tertutup. Simbol dari fototransistor
seperti pada terlihat pada gambar simbol fototransistor.
Fototransistor memiliki beberapa karakteristik yang sering digunakan dalam
perancangan, yaitu:
1 Dalam rangkaian jika menerima cahaya akan berfungsi sebagai resistan.
2 Dapat menerima penerimaan cahaya yang redup (kecil).
3 Semakin tinggi intensitas cahaya yang diterima, maka semakin besar pula resistan
yang dihasilkan.
4 Memerlukan sumber tegangan yang kecil.
5 Menghantarkan arus saat ada cahaya yang mengenainya.
6 Penerimaan cahaya dilakukan pada bagian basis.
7 Apabila tidak menerima cahaya maka tidak akan menghantarkan arus.
Berdasarkan tanggapan spektral, sifat sifat dan cara kerja dari fototransistor tersebut,
maka perubahan cahaya yang kecil dapat dideteksi. Oleh karena itu fototransistor
digunakan sebagai detektor cahaya yang peka, terutama terhadap cahaya inframerah.