Anda di halaman 1dari 10

Jamur Paru Aspergillosis

A.

Defenisi Aspergillosis

Aspergillosis adalah sebuah spectrum dari penyakit manusia dan


binatang yangdisebabkan oleh anggota dari genus Aspergillus. Ini
termasuk (1) mikotoksikosis karena menelan makanan yang
terkontaminasi; (2) alergi dan sekuele terhadap keberadaan konidia
atau pertumbuhan sementara dari organisme pada lubang-lubang
tubuh; (3)kolonisasi tanpa perluasan pada akvitas yang belum
terbentuk dan jaringan yang rusak;(invasive), peradangan,
granulomatosa, penyakit narcotizing pada paru, dan organ-organ
lain; dan jarang sekali (5) sistemik dan penyakit diseminata yang
mematikan. Jenis penyakit dan beratnya bergantung pada status
fisiologi dari hospes dan spesies Aspergillus yang terlibat. Agen
penyebab bersifat kosmopolitan dan
diantaranya Aspergillus fumigatus, A. flavus, A. niger, A. nidulans dan
A. terreus.
Aspergillosis merupakan infeksi opurtunistik, paling sering terjadi pada
paru-paru, dan disebabkan oleh spesies Aspergillus yaitu A. Fumigatus,
jamur yang terutama ditemukan pada pupuk kandang dan humus.
Spora spesies ini dapat diisap masuk ke dalam paru-paru dan
menyebabkan infeksi kronik atau aspergillosis diseminata, jika terjadi
infeksi paru invasif oleh Aspergillus. Bronkopulmonari aspergillus
alergik dapt terjadi pada orang yang alergi terhadap Aspergillus. Pasien
yang mengalami bronkopulmonari aspergillosis alergik mengalami
asma dan diobati dengan prednisolon untuk mengobati bunyi nafas
mengi, dan antijamur (mis, itrakonazol dan amfoterizin) untuk
mengobati infeksi. ( Holland, 2009)
Bentuk yang paling umum adalah alergi bronchopulmonary
aspergillosis, pulmonary aspergilloma dan invasif aspergillosis.
Kebanyakan manusia menghirup spora Aspergillus setiap hari, namun
aspergillosis umumnya hanya berkembang pada individu yang
immunocompromised (imun rendah), kebanyakan jenis jamur
Aspergillus yang paling umum menyerang adalah Aspergillus
fumigatus.
B.

Sejarah aspergillosis

Infeksi aspergillus pada manusia pertama kali ditemukan pada


pertengahan tahun 1800. Pada tahun 1729, Micheli di Florence
menemukan genus aspergillus untuk pertama kali. Pada tahun yang
sama dalam Nova Geneva Plantarum, ia menggambarkan bentuk
kepala cinidia aspergillus yaitu kepala spora menyebar dari bagian
tengah menyerupai aspergillum yang digunakan untuk memercikkan
air suci. (Bennet. 1992)

Pada tahun 1842, Rayer dan Montagne mengidentifikasi Aspergillus


candidus dari pundi-pundi udara burung dan sejak itu
diketahui Aspergillus dapat menyebabkan penyakit pada spesies avian.
(Bennet. 1992)
Pada tahun 1859, Cramer melaporkan Aspergillus niger pada kasus
infeksi telinga dan pada tahun 1863, Fresenius
mengidentifikasi Aspergillus fumigatus yang diisolasi dari bronchus.
(Bennet. 1992)
Pada tahun 1938, Dave melaporkan kasus fungus ball (pulmonary
aspergilloma) yang disebabkan Aspergillus . pada tahun 1952, Hinson
dan kawan-kawan melaporkan reaksi alergik terhadap Aspergillus yang
menimbulkan allergic bronchopulmonary aspergillosis. (Bennet. 1992)
Pada tahun 1926, Tom dan Church menemukan 69
spesies Aspergillusselanjutnya pada tahun 1945, Thom dan Raper
menemukan 80 spesies Aspergillusdan pada tahun 1965 Raper dan
Fennel menemukan sebanyak 151 spesiesAspergillus. (Bennet. 1992)
C.

Epidemiologi Aspergillosis

Aspergillosis sangat jarang. Karena aspergillosis bukanlah infeksi


dilaporkan, kejadian tepat sulit untuk menentukan, namun data
berbasis populasi dari San Francisco menunjukkan tingkat 1 sampai 2
kasus per 100.000 orang per tahun.
Kasus pertama ABPA didiagnosis di Inggris pada tahun 1952 dan kasus
pertama di Amerika Serikat ditemukan pada tahun 1968. Di Medan
(Indonesia) kasus tersangka ABPA pernah pula dilaporkan pada tahun
1987.
Aspergillosis dapat mengenai semua ras dan ke dua jenis kelamin
dengan perbandingan yang sama dan dapat mengenai semua jenis
usia.
Insiden invasif aspergillosis pada pasien immunokompromais yang
beresiko tinggi yaitu:
1.
Pasien neutropenia (disebabkan hematologic malignancy ataupun
mendapat kemoterapi) :7%
2.

Pasien leukemia akut :5% - 20%

3.

Penerima transplantasi sumsum tulang belakang: 10% - 20%

4.

Penerima transplantasi organ (ginjal, hati, jantung) : 5% - 15%

5.

Pasien AIDS : 1% - 9%

Dari laporan diketahui bahwa lingkungan rumah sakit sering


terkontaminasi dengan spora Aspergillus, kontaminasi ini dapat
dijumpai pada:
1.
Kontruksi rumah sakit, dimana dijumpai peningkatan jumlah
spora aspergillus pada sistem ventilasi.
2.
Daerah sekitar kateter intravena (menjadi jalan
masuknya Aspergillus).
3.

Penggunaan plester.

4.

Penggunaan amboard.

5.

Penutupan kulit secara oklusif.

D.

Etiologi Aspergillosis

Aspergillus adalah umum di lingkungan, sehingga kebanyakan


orangmenghirup spora jamur setiap hari. Hal ini mungkin
mustahil untuk sepenuhnya
menghindari menghirup spora Aspergillus beberapa. Bagi orangorang dengan sistem kekebalan tubuh yang sehat, hal ini
tidak menyebabkan kerusakan, dan sistem kekebalan
tubuh mampu menyingkirkan spora. Tapi untuk orang dengan
sistem kekebalan yang lemah, menghirup spora Aspergillus dapat
menyebabkan infeksi. Penelitian telah menunjukkan
bahwa aspergillosis invasif dapat terjadi selama renovasi bangunan
atau konstruksi. Wabah infeksi kulit Aspergillus telah dilacak ke
perangkat biomedis terkontaminasi. Aspergillosis tidak dapat
menyebardari orang ke orang atau antara manusia dan hewan.
Jenis-jenis jamur aspergillus
Beberapa spesies Aspergillus menyebabkan penyakit serius pada
manusia. yang paling umum adalah spesies patogenik
menyebabkan Aspergillus fumigatusdan Aspergillus flavus. Aspergillus
flavus menghasilkan aflatoxin yang bersifat racun dan karsinogen, dan
yang dapat berpotensi mengkontaminasi makanan. Yang paling sering
menyebabkan alergi penyakit Aspergillus fumigatus dan Aspergillus
flavus.
Aspergillus fumigates bersifat parasit yang menyebabkan penyakit
pada saluran pernapasan unggas, Aspergillus flavus penghasil
aflatoksin yang diduga sebagai penyebab penyakit kanker hati. Kapang
ini benyak terdapat pada kacang tanah dan makanan yang terbuat
darinya, Aspergillus niger menghasilkan asam sitrat, Aspergillus
oryzae untuk merombak zat pati dalam pembuatan minuman
berakohol, Aspergillus nidulan parasit pada telinga menyebabkan
outomikosis,Aspergillus soyae untuk pembuatan kecap.

Spesies Aspergillusmerupakan moulds saprophyte yang sering dijumpai


di tanah, air dan tumbuh-tumbuhan yang membusuk. Lebih dari 200
spesiesAspergillus telah di identifikasi dan Aspergillus fumigatus
merupakan penyebab infeksi pada manusia yang terbanyak dimana
>90% menyebabkan invasif dan non-infasif aspergillosis. Aspergillus
flavus menyebabkan invasif aspergillosis sebanyak 10%
sedangkan aspergillus niger dan Aspergillus terreus sebanyak 2%.
(Dumasari. 2008)
1.

Aspergillus fumigatus

Aspergillus fumigatus adalah jamur yang termasuk dalam kelas


Ascomycetes yang mudah diisolasi dari lingkungan udara. Jamur ini
dapat ditemukan di mana-mana pada tumbuh-tumbuhan yang telah
membusuk.
Aspergillus fumigatus merupakan patogen manusia terpenting dan
penyakit yang terjadi pada orang dengan penurunan sistem imun
(imunosupresi) serta pasien dengan penyakit paru dasar. Terdapat tiga
jenis patologi pada penyakit paru: alergi, kolonisasi dan invasi. (davey.
2006)
Aspergillus fumigatus memiliki tangkai-tangkai panjang (konidiofor),
konidiofora berseptat atau nonseptat yang muncul dari sel kaki, pada
ujung konidiofor muncul sebuah gelembung, keluar dari gelembung ini
muncul sterigma, pada sterigma muncul konidiumkonidium yang
tersusun berurutan mirip bentuk untaian mutiara yang mendukung
kepalanya yang besar (vesikel). Di kepala ini terdapat spora yang
membangkitkan sel hasil dari rantai panjang spora. Aspergillus
fumigatus ini mampu tumbuh pada suhu 37C.
2.

Aspergillus Flavus

Aspergillus flavus adalah jamur yang biasa di jumpai pada makanan,


dimana Aspergillus flavus menghasilkan aflatoksik yang berbahsa bagi
tubuh yang dapat menyebabkan kanker hati.
Aflatoksin adalah kumpulan dari senyawa-senyawa yang mempunyai
kemiripan satu sama lain dengan sedikit perbedaan pada komposisi
kimiawinya dan diproduksi olehAspergillus flavus dan A. parasiticus.
Dikenal ada empat jenis aflatoksin yaitu B1, B2, G1 dan G2
Faktor predisposisinya termasuk neutropenia yang berkepanjangan,
terutama pada pasien leukemia atau pada penerima
transplantasisumsum tulang, terapi kortikosteroid, kemoterapi
sitotoksik dan pasien dengan AIDSatau penyakit granulomatosa kronis.
Gejala klinis dapat menyerupai pneumonia bakteri akut dan termasuk
demam, batuk, nyeri pleura, dengan infark hemoragik
atau bronkopneumonia yang tidak terlalu tampak. Pasien yang khas
biasanya mengalamigranulositopenia dan menerima antibiotika

spektrum luas untuk demam yang tidak dapat dijelaskan. Gambaran


radiologi tidak spesifik dan tes untuk presipitasi serumantibodi
biasanya juga negatif. Pengenalan klinis merupakan hal yang esensial
karenaini adalah bentuk yang paling lazim dari aspergillosis pada
pasien yang mengalami penurunan daya tahan tubuh.
E.

Petogenesis Aspergillosis

ABPA diawali oleh salah satu sebab, yaitu terperangkapnya


miseliaAspergillus spp dalam plug 4atho penderita asma atau
kolonisasi Aspergillus spppada saluran pemafasan (bronchial
tree) penderita asma. Material 4athogene dariAspergillus spp tersebut
merangsang produksi 4athogen IgE, IgG, IgA dan mensensitisasi
limfosit. Asma patogen pada sebagian ABPA melibatkan degranulasi
sel mast dan melepaskan IgE yang mengakibatkan peningkatan
resistensi jalan udara. Terjadinya bronkiektasis yang dikaitkan dengan
kelainan ini diduga akibat pembentukan kompleks-imun di dalam jalan
udara proksimal. Reaksi tanggap-kebal (immune-response) ini dapat
dilihat pada individu-individu yang terpapar antigen. Berdasarkan studi
imunofluorensi terhadap pathog kulit dari penderita tersebut diatas
ternyata menunjukkan deposisi IgG, IgM, IgA dan komplemen. Pada
beberapa penderita telah dibuktikan pula bahwa penyakit saluran
pernafasan tersebut disebabkan oleh hipersensitivitas lambat (delayed
hypersensitivity). Jadi pathogenesis ABPA ini tergantung pada reaksi
imunologik tipe I dan III dan mungkin pula tipe IV.
F.

Manifestasi Klinis Aspergillosis

Berbagai jenis aspergillosis dapat menyebabkan gejala yang


berbeda. Gejala lain bisa berkembang jika infeksi menyebar di
luar paru-paru. Ketika aspergillosisinvasif menyebar di luar paruparu, dapat menyebabkan gejala di hampir setiap organ. Jika Anda
memiliki gejala yang menurut Anda terkait
dengan aspergillosis,hubungi dokter Anda.
Sebagian pasien asma alergi terhadap Aspergillus spp. Serangan asma
timbul bila spora jamur terhirup. Hasil test kulit positif, namun reaksi
positif ini tidak berhubungan dengan makin buruknya penyakit, kecuali
bila disertai oleh aspergilosis bronkopumonarl alergika (allergic
bronchopulmonary aspergillosis[ABPA]). (davey. 2006)

Gambar: Aspergillosis
Manifestasi klinis dan keparahan dari aspergillosis mencerminkan
status imunologi pasien. Perlindungan terbaik adalah sistem kekebalan
tubuh yang kuat. Penyebaran Aspergillus dalam tubuh menunjukkan
istirahat, atau kekurangan dalam, pertahanan tuan rumah. Agen
imunosupresif dan perkembangan medis lainnya telah menciptakan
ceruk ekologi baru untuk aspergilli tumbuh pada orang dengan sistem
kekebalan yang terganggu, di mana mereka dapat menyebabkan
infeksi serius dan sering fatal. Aspergilosis invasif, dengan tingkat
kematian yang tinggi petugas, telah menjadi semakin umum sebagai
jumlah host rentan meningkat. Penerima sumsum tulang merupakan
populasi rentan. Sayangnya, resistensi obat terhadap obat antijamur
dikenal menjadi lebih umum. Sebagai penyakit telah menjadi lebih
umum, ada kebutuhan besar untuk memperluas jumlah obat anti jamur
yang aman dan lebih dapat diandalkan.
Diagnosis awal infeksi Aspergillus invasif masih sulit. Hal ini biasanya
didasarkan pada isolasi dan identifikasi berikutnya spesies dari
spesimen klinis yang sesuai dan / atau deteksi karakteristik septate
hifa di bagian jaringan biopsi berikut. Sayangnya, aspergillosis
disebarluaskan sering tidak terdiagnosa sampai nekropsi. Masalah lain
yang berkembang adalah meningkatnya jumlah spesies menyebabkan
aspergillosis invasif pada pasien transplantasi organ. Banyak aspergilli
ini 'non-fumigatus' yang resisten terhadap obat yang biasa biasanya
digunakan untuk mengobati aspergillosis. A. flavus, spesies kedua yang
paling umum terlibat dalam aspergillosis invasif, adalah penyebab
paling umum infeksi superfisial.
1.

aspergilosis bronkopumonarl alergika

komplikasi asma yang jarang terjadi ini ditemukan pada 10% kasus
asma yang sulit mendasari sekitar 50% eosinophilia paru di Inggris.

Inhalasi spora aspergillus menyebabkan reaksi imun hipersensitivitas


dengan mediator IgG dan IgE, yang pada gilirannya menyebabkan
infiltrasi eosinofilik padat pada jaringan paru, penyumbtana mukus dan
kolaps distal. Respons peradangan kronis pada dinding saluran
pernafasan menyebabkan destruksi jaringan dan bronkiektasis. Masih
belum jelas mengapa hanya sebagian pasien asma yang disertai ABPA,
namun diduga ada predisposisi nfiltr (davey. 2006)
a.

Gambaran klinis

Penderita biasanya adalah orang dengan riwayat asma. Gejalanya


berupa perburukan asma disertai sputum infiltra, demam dan sesak
nafas. Tampak nfiltrate transien pada foto toraks. Pada penyakit
bronkiektasis kronis, terjadi produksi sputum purulent yang banyak
disertai hemoptisis.
b.

Pemeriksaan penunjang

ABPA harus dipertimbangkan pada penderita asma dengan hasil foto


abnormal serta jumlah eosinophil yang tinggi.

Tes kulit: hasil tes kulit terhadap Aspergillus spp. Harus positif
(atau kenaikan IgE spesifik dalam serum) untuk menegakkan diagnosis.

Tes darah: jumlah eosinofil meningkat, terutama pada episode


akut. IgE serum sangat meningkat. Antibody pemicu (IgE) dijumpai
padda 70%.

Pemeriksaan sputum: hifa jamur bisa dijumpai dalam sputum.

Foto toraks : nfiltrate perihilar transien (berganti-ganti) dijumpai


selama serangan akut. Bisa terjadi kolaps lobus atau segmental akibat
sumbatan bronkus. Pada penyakit kronis bisa terjadi kontraksi lobus
atas, fibrosis dan bronkiektasis.
2.

Aspergiloma

Merupakan misetoma atau bola jamur yang merupakan sekumpulan


jamur.
a.

Etiologi dan pathogenesis

Organisme penyebabnya adalah A. fumigatus di Inggris dan A. nigerdi


AS. Spora tumbuh dalam kavitas yang telah ada dalam paru, seringkali
(24%) akibat TB, oleh karena itu lebih banyak dijumpai di daerah apeks
paru. Dua puluh persen kasus memiliki banyak kavitas. Spora
berkembang biak dan tumbuh jamur berbentuk bola yang mengisi
kavitas. Terjadi reaksi imunologis terhadap proses ini. Pada umumnya
terdapat antibody pemicu (IgG) dan pada 50% kasus disertai hasil tes
kulit positif terhadap Aspergillus spp. (davey. 2006)
b.

Gambaran klinis

Biasanya asimtomatik dan ditemukan secara kebetulan saat


melakukan pemeriksaan foto toraks. Gejala tersering yang timbul
adalah hemoptisis, ditemukan pada 75 %, kadang-kadang masif,
membutuhkan embolisasi atau pembedahan. Walaupun jarang,
kadang-kadang disertai gejala sistemik berupa penurunan berat badan,
demam dan malaise. Gejala penyakit paru yang mendasari juga
seringkali ditemukan. (davey. 2006)
c.

Pemeriksaan penunjang

Kombinasi gambaran radiologis (opasitas padat dengan halo atau


bentuk sabit di sekelilingnya) dan adanya antibody pemicu bisa
menegakkan diagnosis. Pada pasien dengan penyakit paru yang berat,
dilakukan reseksi bedah untuk mengambil misetoma atau seluruh
lobus. Sepuluh persen kasus tidak perlu diobati dan bisa sembuh
sendiri. Kadang-kadang terjadi kematian akibat hemoptisis masif.
Penyakit invasif memiliki tingkat kesembuhan lebih buruk. (davey.
2006)
3.

Aspergillosis invasif

Sinusitis aspergilus
Sinusitis yang tidak responsive terhadap terapi pada pasien polip nasi
seringkali ditemukan disebabkan oleh Aspergillus spp., dan bisa
disertai ABPA. Histologi dan imunologinya sangat mirip dengan ABPA.
(davey. 2006)
Aspergillosis kronis yang menidurkan
Adalah sebuah bentuk infeksi yang kurangnyeri dan lambat untuk
berubah, bentuk semi-invasif yang terlihat pada pasienyang
mengalami penurunan daya tahan tubuh yang ringan, khususnya bagi
merekayang memiliki riwayat penyakit paru. Diabetes mellitus,
sarkoidosis dan terapidengan glukokortikoid dosis rendah dapat
menjadi faktor predisposisi lain. Gejalayang lazim termasuk demam,
batuk dan produksi sputum; presipitasi serum antibodi positif juga
dapat dideteksi.

Aspergillosis Diseminata
Penyebaran hematogenik ke organ dalam lain dapat terjadi, terutama
pada pasien dengan penurunan daya tahan tubuh yang berat atau
ketagihan obat intravena. Absesdapat terjadi di otak (aspergillosis
otak), ginjal (aspergillosis ginjal), jantung(endokarditis, miokarditis),
tulang (osteomielitis), saluran pencernaan. Lesi mata(keratitis mikotik,
endoftalmitis dan aspergilloma orbital) dapat juga terjadi, baik sebagai
hasil dari penyebaran atau setelah trauma setempat atau
pembedahan.

Aspergillosis kutaneus
Aspergillosis kutaneus adalah manifestasi yang jarang yang biasanya
merupakanhasil penyebaran dari infeksi paru primer pada pasien yang
mengalami penurunandaya tahan tubuh. Meskipun demikian, kasus
aspergillosis kutaneus primer jugaterjadi, biasanya sebagai hasil dari
trauma atau kolonisasi. Lesi bermanifestasisebagai papul yang
eritematosa atau makula dengan nekrosis sentral yang progresif.
G.

PENGOBATAN

Prinsip pengobatan yang disebabkan oleh jamur Aspergillus fumigatus


adalah dengan menghilangkan jamur dan sporanya yang terdapat
dalam tubuh.
Penanganan bergantung pada jenis dan beratnya infeksi dan pada
status imunologi dari pasien. Aspergillosis alergi biasanya dikontrol
dengan menggunakan prednison karenaefektif untuk mengurangi
gejala. Aspergilloma atau bola jamur dari paru membutuhkanreseksi
pembedahan, biasanya sebuah lobektomi untuk memastikan eradikasi
yanglengkap. Terapi dari bentuk infeksi yang lebih invasif biasanya
membutuhkan toleransiyang lebih baik dan dosis setinggi 3-5 mg/kg
per hari yang diberikan tanpa efek samping yang serius. Itraconazole
[400 mg/hari] sering digunakan sebagai terapi tambahan atauuntuk
terapi pemeliharaan untuk mencegah kekambuhan Richardson and
Warnock 1993).
Kortikosteroid oral (prednisolon) merupakan terapi utama. Pemberian
obat ini memperbaiki kontrol asma dan menghambat
pertumbuhan Aspergillus spp.Steroid inhalasi tidak
mempengaruhi Aspergillus spp., namun digunakan bersama
bronkodilator, sebagai bagian dari terapi menyeluruh pada asma.
Diperlukan fisioterapi dan kadang-kadang bronkospi untuk
menghilangkan sumbatan mukus. Obat anti jamur itralkonazol bisa
menurunkan dosis steroid yang dibutuhkan. ABPA biasa berlanjut
menjadi bronkiektasis. (davey. 2006)
Penderita ABPA diobati sesuai proses penyakitnya, karena ABPA terjadi
akibat proses hipersensitivitas, maka respon alergi harus dikurangi.
Meskipun ABPA terjadi karena pemakaian kortikosteroid terus-menerus,
namun pengobatannya juga menggunakan kortikosteroid, namun
dengan oral, bukan lagi inhalasi. ABPA yang kronik memerlukan
antijamur semisal itraconazole yang dapat mempercepat hilangnya
infiltrat. ABPA yang berbarengan dengan sinusitis alergik fungal
memerlukan tindakan operasi jika terdapat polip obstruktif. Kadangkadang dapat juga dibilas dengan amfoterisin untuk mempercepat
peyembuhan.
H.

PENCEGAHAN

Sulit untuk menghindari menghirup tingkat normal spora


Aspergillus. Bagi orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang
lemah atau penyakit paru-paru parah, ada beberapa langkah yang
dapat diambil untuk membantu mengurangieksposur, termasuk:
1.
Pakailah masker ketika dekat atau di lingkungan berdebu seperti
lokasi konstruksi.
2.
Hindari aktivitas yang melibatkan kontak dekat dengan tanah
atau debu, sepertipekerjaan halaman atau berkebun.
3.
Gunakan langkah-langkah perbaikan kualitas udara seperti
filter HEPA.
4.
Minum obat antijamur profilaksis jika dianggap perlu
oleh penyedia layanan kesehatan Anda.
5.
Bersihkan luka kulit dengan sabun dan air, terutama
jika cedera telah terkena tanah atau debu