Anda di halaman 1dari 25

Elemen Mesin 2

Transmisi Sabuk Gigi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Transmisi
Transmisi adalah suatu alat untuk meneruskan tenaga dan putaran dari
poros satu ke poros yang lain dan dibantu dengan alat yang sesuai kebutuhan ,
misalnya alat itu adalah rantai, sabuk, kopling, dll.
2.2 Jenis Transmisi
2.2.1 Transmisi Langsung
Transmisi langsung digunakan untuk menyalurkan tenaga dan putaran
pada jarak yang dekat and posisi yang segaris antara poros penggerak dengan
yang digerakkan. Sistem ini sering disebut

dengan transmisi roda gigi,

karena cara kerjanya kontak secara langsung antara elemen poros penggerak
dengan yang digerakan.
Kelebihan / keuntungan transmisi langsung yaitu :

tidak terjadi slip.


dapat memindahkan daya yang besar.
dapat digunakan untuk putaran tinggi dan tepat.
ringkas tidak memerlukan tempat yang luas.
dapat memindahkan daya dengan putaran stabil.
Kelemahan dari transmisi langsung yaitu :

perlu ketelitian tinggi dalam perencanaannya, sampai perawatannya.


Biaya pembuatan yang cukup mahal.
Contoh transmisi langsung yaitu roda gigi dan kopling dapat dilihat pada

gambar berikut :

(a)
Gambar 2.1 (a) Roda gigi dan (b) Kopling

2.2.2 Transmisi Tak Langsung


Kelompok 3
2

(b)

Elemen Mesin 2

Transmisi Sabuk Gigi

Pada transmisi ini tidak terjadi kontak elemen poros dengan poros yang
digerakkan melainkan melalui elemen suatu transmisi yang menghubungkan
kedua poros. Transmisi ini digunakan jika kedua poros letaknya saling
berjauhan.
Kelebihan / keuntungan transmisi tak langsung yaitu :
1. meneruskan daya antara poros yang berjauhan.
2. tidak perlu ketelitian yang tinggi dalam perencanaan.
3. biaya pembuatan dan perewatannya cukup murah.
Kelemahan transmisi tak langsung yaitu :
1. memerlukan tempat yang lebih luas.
2. lebih sering terjadi slip.
3. tidak dapat digunakan dengan putaran tinggi.
Contoh dari transmisi tak langsung yaitu sabuk dan rantai, dapat dilihat
dari gambar berikut :

(a)

(b)
Gambar 2.2 (a) Sabuk dan (b) Rantai

2.3 Transmisi Sabuk


Transmisi

sabuk

merupakan

salah

satu

jenis

sistem

transmisi.

Tenaga/daya/momen puntir yang ditransmisikan dari poros yang satu keporos


yang lain melalui sebuah belt yang melingkar pada puli yang terpasang pada
poros. Kedudukan poros yang satu dengan poros yang lain dapat sejajar
ataupun menyilang. Kemampuan transmisi dari sistem ini sangat ditentukan
oleh karakter gesekan antara sabuk dan permukaan puli. Oleh sebab itu
besarnya gaya tegang dalam sabuk (yang mengakibatakan tegangan tarik)
menentukan besarnya momen puntir yang dapat ditransmisikan.
Kelompok 3
3

Elemen Mesin 2

Transmisi Sabuk Gigi

2.3.1 Keuntungan dan Kerugian


Keuntungan Dari Sistem Transmisi Belt (dibandingkan dengan sistem
transmisi roda gigi atau rantai) :
1.
2.
3.
4.
5.

Tidak berisik.
Dapat menerima dan meredam beban kejut.
Jarak poros tidak tertentu.
Dipandang dari segi konstruksi dan pembuatan, mudah dan murah.
Hanya memerlukan sedikit perawatan (tanpa menggunakan pelumas).
Kerugian dari system transmisi Belt adalah sebagai berikut :
1. Slip yang terjadi mengakibatkan rasio angka putaran tidak konstan.
2. Diukur dari besarnya tenaga yang ditransmisikan, system transmisi
sabuk memerlukan dimensi/ukuran yang lebih besar daripada system
3.
4.
5.
6.

transmisi roda gigi maupun rantai.


Umurnya pendek / mudah aus.
Terjadi sliding / tidak akurat.
Efisiensi rendah.
Kapasitas daya kecil.

2.3.2 Pembagian Transmisi Sabuk


Transmisi sabuk dapat dibagi atas tiga kelompok yaitu :
a. Kelompok yang pertama : sabuk rata dipasang pada puli silinder dan
meneruskan momen antara dua poros yang jaraknya dapat sampai 10
(m) dengan perbandingan putaran antara 1/1 sampai 6/1.
b. Kelompok yang kedua : sabuk dengan penampang trapesium dipasang
pada puli dengan alur dan meneruskan momen antara dua poros yang
jaraknya dapat sampai 5 (m) dengan perbandingan putaran antara 1/1
sampai 7/1 .
c. Kelompok yang ketiga sabuk dengan gigi yang digerakkan dengan
sproket pada jarak pusat sampai mencapai 2 (m), dan meneruskan
putaran secara tepat dengan perbandingan antara 1/1 sampai 6/1.
2.3.3 Faktor Faktor Transmisi Daya
Sebagian besar transmisi sabuk menggunakan sabuk V karena mudah
penanganannya dan harganyapun murah. Kecepatan sabuk direncanakan
untuk 10 sampai 20 (m/s) pada umumnya, dan maksimum sampai 25 (m/s).
Daya maksimum yang dapat ditransmisikan kurang lebih sampai 500 (kw).

Kelompok 3
4

Elemen Mesin 2

Transmisi Sabuk Gigi

Sabuk atau tali yang digunakan untuk mengirimkan daya dari satu poros
yang lain melalui katrol yang berputar di kecepatan yang sama atau pada
kecepatan yang berbeda . Jumlah daya ditransmisikan tergantung pada
faktor-faktor berikut :
1. kecepatan pada sabuk
2. kekencangan sabuk pada puli
3. hubungan antara sabuk dan puli kecil
4. kondisi pemakaian sabuk.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam merancang suatu transmisi
sabuk adalah :
1. Poros harus sejajar untuk menyamakan tegangan tali.
2. Puli tidak harus saling berdekatan didalam kontak dengan puli yang
lebih kecil atau mungkin yang besarnya sama.
3. puli tidak harus terpisah jauh karena sabuk akan menjadi beban pada
poros. Ini mengakibatkan pergesekan pada bearing.
4. Panjangnya sabuk cenderung untuk mengayun dari sisi ke sisi
menyebabkan sabuk bergerak keluar jalur dari puli yang mana
membentuk lengkungan pada sabuk.
5. Kekencangan sabuk harus sesuai jadi kelonggaran akan meningkatkan
contak kinerja pada puli.
6. Untuk memperoleh hasil yang baik dengan sabuk datar, jarak
maksimum antara poros tidak boleh melebihi dari 10 meter dan
minimum tidak boleh kurang dari 3-5 kali diameter puli terbesar.
Berikut ini adalah berbagai faktor penting yang harus diperhatikan dalam
pemilihan belt drive, yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Kecepatan mengemudi dan didorong shaft.


Rasio pengurangan kecepatan.
Kekuatan yang akan dikirim.
Pusat jarak antara poros.
Persyaratan berkendara positif.
Poros tata letak.
Ruang yang tersedia.
Kondisi pelayanan.

2.3.4 Jenis Belt Drives


Kelompok 3
5

Elemen Mesin 2

Transmisi Sabuk Gigi

Sabuk drive biasanya digolongkan ke dalam tiga kelompok berikut:


1.Light drives
Ini digunakan untuk mengirimkan kekuatan kecil pada kecepatan belt
sampai sekitar 10 m / s mesin sebagai in agricultural dan peralatan
mesin kecil.
2. Medium drives
Ini digunakan untuk mengirimkan kekuatan media pada kecepatan
belt lebih dari 10 m/s sampai dengan 22 m/s.
3. Heavy drives
Ini digunakan untuk mengirimkan kekuatan besar pada kecepatan belt
diatas 22 m/s keatas , seperti pada kompresor dan generator.
2.3.5 Jenis-Jenis Transmisi Sabuk :
1. Transmisi Sabuk Lurus
Kebanyakan jenis transmisi sabuk ini dipakai untuk puli yang berputar
dengan arah yang sama dan poros dimana

puli tersebut terpasang

mempunyai garis sumbu yang sejajar dan horizontal, tetapi dapt juga
diapakai untuk poros vertical, maupun miring.
a. Transmisi sabuk tanpa penegang
Akibat beratnya sendiri, sabuk tidak perlu diberi gaya tegang (gaya
tarik) lagi. Ini dipakai untuk poros dengan kedudukan horizontal dan
yang memiliki jarak poros (La)>5m. Untuk tujuan ini, maka sisi
tegang/tarik darisabuk diletakkan dibagian bawah.
b. Transmisi sabuk mulur
Karena sabuk lebih pendek dari pada jarak poros La, maka sewaktu
dipasang pada puli sabuk menjadi bertambah panjang secara elastic.
Sistem ini dipakai untuk jarak poros La<5m dan juga untuk
porosdengan kedudukan vertical

maupun miring. Pemeriksaan

tegangan pada sabuk ini harus selalu dilakukan jika terdapat


kelembaban udara dan temperatur yang berubah-ubah.
c. Transmisi sabuk dengan puli penegang
Puli penegang menekan sisi kendor dari sabuk didekat puli kecil dari
luar dan dengan demikian sudut lilit/kontak menjadi bertambah besar.
Kelompok 3
6

Elemen Mesin 2

Transmisi Sabuk Gigi

Puli penegang ini bekerja atas dasar beratnya sendiri atau kerena kerja
sebuah pegas.

Penggantian arah putaran pada system ini tidak

mungkin (harus dihindari).


d.transmisi sabuk dengan elemen penegang lain
Selain berupa puli, elemen penegang dapat berupa :
1. Baut
2. Bandul pemberat
3. Momen puntir balik
4. Sistem SESPA
2. Transmisi sabuk silang
Semakin lama senkin jarang pemakain transmisi sabuk silang untuk
arah putaran puli yang berlawanan dan puli terletak pada sumbu yang
sejajar, karena disamping pembebanan puli yang itdak menguntungkan
akibat gaya puntir

tambahan, bagian tepi dari sabuk juga cepat aus,

teruatam pada sabuak rata yang lebar. Untuk keperluan sumbu poros dari
puli yang bersilangan dengan sembarangan sudut, maka diperlukan rol
pemandu sabuk rata. Untuk menghindarkan lepasnya sabuk dari puli,
maka bagian sabuk dari sisi tarik harus lurus, sedangkan pada sisi kendor
dapat miring.Transmisi sabuk juga dapat di rancang:
a. Sebagai transmisi henti-kerja dengan semacam mekanisme seperti
roda gigi geser.Biasanya, untuk tujuan henti-kerja dipasangka
sebuah kopling yang langsung disambung dengan puli.
b. Sebagai transmisi dengan angka putaran bertingkat.Biasanya sabuk
dipindahkan dari pasangan puli yang satu ke yang lain dengan
tangan/ manual setelah dikendorkan lebih dahulu.
2.3.6 Jenis Sabuk
Meskipun ada banyak jenis sabuk digunakan hari ini, namun berikut ini
adalah penting dari sudut pandang subjek:
1.Sabuk Datar
Sabuk datar seperti ditunjukkan pada Gambar (a), banyak digunakan
di pabrik-pabrik dan bengkel, di mana jumlah sedang daya yang akan
dikirim, dari satu katrolyang lain ketika duapuli tidak lebih dari 8
meter terpisah.

Kelompok 3
7

Elemen Mesin 2

Transmisi Sabuk Gigi

2.V-belt
Sabuk V-belt seperti ditunjukkan pada Gambar (b), banyak digunakan
di pabrik-pabrik dan bengkel, di mana sejumlah besar daya yang akan
dikirim, dari satu katrol yang lain, ketika dua puli sangat dekat satu
sama lain.
3.Sabuk melingkar atau tali.
Sabuk melingkar atau tali seperti ditunjukkan pada Gambar (c) pada
umumnya digunakan pada thefactories dan lokakarya, dimana
sejumlah besar daya yang akan dikirim, dari satu katrol yang lain,
ketika dua puli lebih dari 8 meter terpisah.
Gambar dari tiga jenis sabuk diatas dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 2.3 Jenis Sabuk

4. Sabuk Gigi
Transmisi sabuk gilir bekerja atas dasar gesekan belitan dan
mempunyai beberapa keuntungan karena murah harganya, sederhana
konstruksinya, dan mudah untuk mendapatkan perbandingan putaran
yang diinginkan. Transmisi tersebut telah banyak digunakan dalam
semua bidang industri, seperti mesin-mesin pabrik, otomobil, mesin
pertanian, alat kedokteran, mesin kantor, alat-alat listrik, dll. Namun
transmisi sabuk (flat)tersebut mempunyai kekurangan dibandingkan
dengan transmisi rantai dan roda gigi, yaitu terjadinya slip antara
sabuk dan puli, sehingga transmisi ini tidak dapat dipakai bilamana
dikehendaki putaran tetap atau perbandingan transmisi yang tetap.
Melihat kekurangan diatas maka dikembangkan transmisi sabuk gilir
timing belt. Untuk perhitungan gaya dan tegangan yang bekerja dan
prinsip kerjanya sama dengan transmisi sabuk flat dan transmisi sabuk
V. secara telti di permukaan sebelah dalam dari sabuk. Karena sabuk
gilir dapat melakukan transmisi mengait seperti roda gigi atau rantai,
Kelompok 3
8

Elemen Mesin 2

Transmisi Sabuk Gigi

maka gerakan dengan perbandingan putaran yang tetap dapat


diperoleh.
Hal penting yang harus diperhatikan pada sabuk gigi yaitu :
1. Pada penggunaan sabuk biasa (flat & V belt) masih terjadi slip antara
sabuk dan puli, sehingga putaran yang dihantarkan menjadi tidak
konstan. Oleh karena itu, untuk mengatasi hal tersebut maka
digunakanlah sabuk gigi, dengan gigi pada permukaannya. (lihat
gambar 2.4).
2. Sabuk gigi dibuat dari karet neopren atau plastik poliuretan, dengan
inti dari serat gelas atau kawat baja.
3. Kecepatan maksimum sabuk gigi = 35 m/s

Gambar 2.4 Sabuk Gigi

4. Daya yang ditransmisikan oleh sabuk gigi harus dikalikan dengan faktor
koreksi demi keamanan penggunaannya.
5. Bahan puli dan profil gigi harus tahan terhadap tarikan maksimum,
seperti besi cor kelabu (FC 20-30) dan baja karbon konstruksi, untuk
puli yang berukuran besar dapat digunakan baja rol konstruksi
2.4 Perencanaan Sabuk Gigi
2.4.1 Rasio Reduksi
Dalam perencanaan sabuk gigi diawali dengan mencari rasio

reduksi

menggunakan rumus:

i =

n1
n2

Dimana :
i = Rasio Reduksi
N1 = Banyak putaran Mesin 1
N2 = Banyak putaran Mesin 2
Kelompok 3
9

...(2.1)

Elemen Mesin 2

Transmisi Sabuk Gigi

2.4.2 Daya koreksi (pd)


Pd=( fc+f ' c ) P .(2.2)

Dimana : P = daya yang ditransmisikan [kW]


fc = faktor koreksi karena beban (lihat tabel 2.1)
f c = faktor koreksi karena peningkatan putaran dan
Jika dipengaruhi oleh kerja khusus (lihat tabel 2.2) dan pemilihan sabuk gigi
berdasarkan putaran puli kecil dan daya rencana dapat dilihat berdasarkan
gambar 2.1.

Tabel 2.1 Faktor koreksi daya karena variasi beban

Kelompok 3
10

Elemen Mesin 2

Transmisi Sabuk Gigi

Tabel 2.2 Faktor koreksi tambahan karena peningkatan putaran dan kerja khusus

Gambar 2.1 Diagram pemilihan sabuk gigi

Kelompok 3
11

Elemen Mesin 2

Transmisi Sabuk Gigi

2.4.3 Perhitungan torsi

T=

p
n .(2.3)

Dimana : T = Torsi
P = Daya
n = Putaran Poros
2.4.4 Bahan poros
Dalam pemilihan bahan poros digunakan rumus:

Dimana :
Kelompok 3
12

T .r
j (2.4)

= Torsi

Elemen Mesin 2

Transmisi Sabuk Gigi

= Jari jari lingkaran

m + T
= 16 T3 .(2.5)
d

2.4.5 Diameter Poros


2

Dalam penentuan diameter poros didapatkn dengan menggunakan rumus


. Sedangkan nilai d yang didapatkan ini nantinya kita bisa mendapatkan
Faktor keamanan dari masing masing diameter mesin atau yang digunakan
yaitu dengan menggunakan rumus berikut:

d=

Dimana :

5 . 1T
x cb x kt
maks

1/ 3

..(2.6)

cb = Beban Timbang
kt = Beban Lentur

2.4.6 Pemilihan Sabuk


Pemilihan sabuk dilakukan dengan dngan melihat tabel 2.3. Pemilihan
ini dilihat dari kolom penggunaan sabuk.
Tabel 2.3 Tipe Ukuran dan Pemakaian Sabuk

Kelompok 3
13

Elemen Mesin 2

2.4.7

Transmisi Sabuk Gigi

Pemilihan Jumlah Gigi


a. Jumlah Gigi
Pemilihan jumlah gigi dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.4 Jumlah gigi puli minimum yang diizinkan
Putara
n

XL

puli

Penampang Sabuk
XH
XXH

kecil
(rpm)
3500
1750
1160
870

12
10
10

16
14
12

20
18
16

26
24
22

26
24
22

Jumlah gigi puli besar (z2)


Z 2=Z 1 i ..(2.7)

Dimana :

z1 = jumlah gigi puli kecil


i = perbandingan putara6

b. Diameter Pully
Diameter pully kecil ( dp ) didapatkan dengan menggunakan rumus
dp=p

z1
(2.8)

p = jarak bagi utk penampang sabuk gigi [mm]


Diameter jarak bagi puli besar (Dp)

Kelompok 3
14

Elemen Mesin 2

Transmisi Sabuk Gigi

dp=

pz 2
....(2.9)

c. Panjang Keliling

Lp=

Z 1+Z 2
+ ( 2Cp )
2

Dimana :
Cp =

( Z 2Z 1 )
+[
]2 / Cp.(2.10)
6.28

Jarak sumbu poros C


=
jarak bagi gigi
p

(2.11)

Cp bisa dalam bentuk pecahan untuk memudahkan perhitungan.


2.4.8

Jarak Antar Sumbu Poros


Setelah dicocokkan dengan tabel 3.5, maka ada kemungkinan panjang

sabuk berubah, sehingga jarak antar porosnya pun menjadi berubah. Karena
itu maka diperlukan koreksi/penyesuaian pada Cp, dengan persamaan :
1
Cp=
4

[(

Z 1+Z 2
z 1+ z 2 2 2
L
+ (L
)+
( z 2z 1)2
2
2
9.86

(2.12)

Karena Cp berubah nilainya, maka jarak antar poros (C) menjadi


berubah juga, dimana :
c=Cp p .(2.13)

2.4.9

Daya yang Ditransmisikan ke Sabuk


Daya yang dapat ditransmisikan per inchi lebar sabuk gigi (Po)

ditampilkan dalam tabel 3.6. Pada tabel 3.6 ini hanya terbatas pada sabuk
gigi tipe L dan H, untuk tipe-tipe yang lain dapat dilihat pada buku referensi
lain. Untuk mencari Po, diperlukan jumlah putaran puli kecil (n1), dan
jumlah gigi puli kecil (z1). Bila diperlukan dapat digunakan interpolasi.

Kelompok 3
15

Elemen Mesin 2
Tabel

2.5

Kelompok 3
16

Transmisi Sabuk Gigi


Nomer

nominal,

jumlah

gigi

dan

panjang

sabuk

gigi

standar

Elemen Mesin 2

Transmisi Sabuk Gigi

Tabel 2.6 Kapasitas daya yang ditransmisikan setiap inchi lebar sabuk gigi
Dalam satuan kW

2.4.10 Sudut Kontak


Kelompok 3
17

Elemen Mesin 2

Transmisi Sabuk Gigi

=180

57/( Dpdp)
.(2.14)
C

2.4.11 Jumlah Gigi


Yaitu jumlah gigi sabuk yang terkait pada gigi puli. Semakin banyak gigi
yang terkait akan semakin baik, karena nilai JGT yang kecil akan
memperpendek umur sabuk. Nilai JGT dihitung berdasarkan persamaan :
JGT =

z
360 1 .(2.15)

Jika JGT kurang dari 6, maka perlu dilakukan koreksi dalam perhitungan
faktor lebar gigi. Faktor koreksi untuk berbagai nilai JGT ditabelkan dalam
tabel 3.7
Tabel 2.7 Faktor koreksi untuk berbagai JGT

2.4.12 Faktor Koreksi


Pd
fw =
Po ft .(2.16)
Setelah mendapatkan fw, kemudian lihat gambar 5.3 untuk menentukan
lebar sabuk standar. Perlu diperhatikan bahwa satuannya adalah 1/100 inci.
Misal, bila angka lebar sabuk yang ditunjukkan pada gambar adalah 100,
maka artinya lebar sabukadalah 1 inci, dan seterusnya.
2.4.13 Factor Lebar Gigi (fw)
wb=25.4 lebar sabuk standar (mm) ..(2.17)
Dimana Wb dalam satuan [mm], dan lebar sabuk standar dalam satuan
[inci].Bisa dilihat pada gambar 2.3.

Kelompok 3
18

Elemen Mesin 2

Transmisi Sabuk Gigi

Gambar 2.3 Lebar sabuk gigi standar

Kelompok 3
19

Elemen Mesin 2

Transmisi Sabuk Gigi

BAB III
PERENCANAAN SABUK GIGI
3.1 Kasus
Sebuah mesin gerinda digerakkan oleh motor listrik AC (momen tinggi)
dengan daya 2,2 kW 1450 rpm, poros penggerak 24 mm diameter poros yang
digerakkan 28 mm dan berputar pada 1000 rpm jarak antara sumbu 430
mm.pilih pully dan sabuk gilir yang sesuai.Batasan mesin dianggap bekerja 8
jam / hari dan diameter luas dan lebar pully harus lebih kecil dari 100mm dan
40 mm
3.2 Penyelesaian
3.2.1 Penghitungan Rasio Reduksi
Dari persamaan (2.1) rasio reduksi (i) dapat dihitung sebagai berikut :
Motor
P = 2.2 kw
N1= 1450 rpm
Dp1= 24 mm
Mesin Gerinda
Dp2= 28 mm
N2= 1000 rpm
i =

n1
n2

1450
1000

= 1.45

3.2.2 Pengitungan Daya Koreksi (pd)


Dari tabel 2.1, dperoleh factor koreksi (fc)=1.5,karena tergolong mesin
perkakas maka Untuk factor koreksi tambahan dilihat dari tabel 2.2,dengan

Kelompok 3
20

Elemen Mesin 2

Transmisi Sabuk Gigi

rasio reduksi (i)=1.45 diperoleh fc=0.1 dan kerja 8 jam/hari tergolong


penganggur diperoleh fc=0.2
Lalu fc dijumlahkan dan dikalikan dengan daya
fc (total) = 1,5+0,1+0,2 = 1,8.
Dari persamaan (2.2) diperoleh daya Koreksi sebagai berikut :
Pd = fc x P = 1,8 x 2,2 = 3,96 kW
3.2.3 Perhitungan torsi
dari persamaan (2.3) dilakukan perhitungan torsi pada motor dan gerinda
sebagai berikut :
9.74 10 5

T pada motor =

9.74 10 5

9.74 10 5

gerinda

pd
n1
3.96
=2660 kg . mm
T
1450

pada

pd
n1

3.96
= 9.74 x 105 1450

= 3860 kg . mm

3.2.4 Bahan poros


Dari persamaan (2.4) Bahan poros bisa dipilih sesuai dengan spesifikasi
perancangan dan berapa tegangan yang diizinkan.
T .r
=
j
=

T d /2
3.14 d 4 /32

16 T
3.14 d 3

3.2.5 Diameter Poros

Dari persamaan (2.5) dapat dihitung

m2+ T 2
= 16 T3
d

maks=

16 T
T2 =
3
d

maks sebagai berikut :

16 T
d3

Dari persamaan 2.6 bisa dihitung diameter poros sebagai berikut :


Kelompok 3
21

Elemen Mesin 2

16 T
tmaks

d =

d=

Transmisi Sabuk Gigi

[
[
[

5.1 T
maks

5.1T
maks

5.1 T
maks

5.1 T
x cb x kt
maks

d=
d1 =
d1 =

1 /3

1/ 3

5.1 x 2660
x 2x 2
4.83
5.1 x 3860
x 2x 2
4.83

1/ 3

]
]

= 22.4 mm 24 mm

1/ 3

= 28.3 mm 28 mm

Hasil perhitungan diameter poros mendekati dengan diameter poros pada


soal.
3.2.6 Pemilihan Sabuk
Pada tabel 2.3 karena tergolong mesin perkakas maka digunakan sabuk
tipe H dengan nilai = 12.70
3.2.7 Pemilihan Jumlah Gigi
a. Jumlah gigi
p = 12.70 mm
z1 = jumlah gigi kepenggerak
z2 = jumlah gigi yang digerakkan
Pada tabel 2.4 diperoleh z1 = 18
Dari persamaan 2.7 bisa dihitung jumlah gigi z2 sebagai berikut :
i =

n1
n2

z1
z2

z2 = i z1
1.45 18=2.51 26
b. Diameter pully
Dari persamaan 2.8 dan 2.9 bisa dihitung diameter pully sebagai
berikut :
p x z1
dp =

T1 dp = p zi

Kelompok 3
22

12.7 x 18
3.14

= 72.77 mm

Elemen Mesin 2

Transmisi Sabuk Gigi

p x z2

dp =

12.7 x 26
3.14

= 105.11 mm

c. Panjang keliling (L)


Dari persamaan 2.10 bisa dihitung panjang keliling sebagai berikut :
2
z1 + z2
( z 1z 2 ) / 6.28
L=
+ 2Cp +
2
Cp

==

18+ 26
2

430
+ 2 12.7

( 1826 ) /6.28
430/ 12.7

= 89.77 90

Dilihat pada tabel 2.5 di peroleh sabuk 450 H karena L bernilai 90


3.2.8 Jarak Antar Sumbu Poros
Dari persamaan 2.11 bisa dihitung harga Cp sebagai berikut :
Cp = c / p = 33.85
Untuk menghutung Cp lebih teliti bisa digunakan persamaan 2.12 sebagai
berikut :
1
4

Cp =

{(

) (

z +z
L 1 2 +
2

z1 + z2 2
2
L

z 1 + z 2 )2
(
2
9.86

= 33.98

Untuk memeriksa jarak antar poros bisa digunakan persamaan 2.13 sebagai
berikut :
C = Cp x p
= 33.98 x 12.7 = 431.55 (disoal 430 mm)
3.2.9 Daya yang Ditransmisikan ke Sabuk
Pada tabel 2.6
Z1 = 20 maka Po = 3.6 (1400)
Po = 4.11 (1600)
Z1 = 22 maka Po = 3.95 (1400)
Po = 4.51 (1600)
Interpolasi
2018
3.6x
z

= 18

2220
3.953.6
Po = 3.25 (1400)
Po = 4.71 (1600)

Kelompok 3
23

Elemen Mesin 2

Transmisi Sabuk Gigi

= 18

Po = 3.25 (1400)

Po = 3.71 (1600)
x3.25
14501400
3.713.25 = 16001400
jadi x=3.36
3.2.10 Sudut Kontak
Untuk menghitung sudut kontak bisa digunakan persamaan 2.14 sebagai
berikut :

( Dp dp )
c

= 1800 57
1800 57

( 105.1172.77 )
431.55

= 175.70

3.2.11 Jumlah Gigi


Untuk menghitung julah gigi dapat digunakan persamaan 2.15 sebagai
berikut :
JGT =

Q+ z 1
360

= 8.8

Jumlah gigi diperoleh 8.8


3.2.12 Faktor Koreksi
Dari tabel 2.7 dilihat nilai JGT 8.8 maka diperoleh harga factor koreksi
ft = 1.0
3.2.13 Factor Lebar Gigi (fw)
Dari persamaan 2.16 bisa dihitung factor lebar gigi sebagai berikut :
Fw =

Pd
po ft

3.96
3.36 x 1

= 1.18

Pada gambar 2.3 dengan factor lebar gigi = 1.18 diperoleh wb = 1.5 inchi.
3.2.14 Lebar gigi standar
Dari persamaan 2.17 bisa dihitung lebar gigi standar sebagai berikut:
Wb = 1.5 inchi
= 1.5 x 25.4 = 38.1 mm
3.2.15 Lebar gigi pully
Dari gambar 2.3 bisa diperoleh lebar gigi pully sebagai berikut :
Lebar gigi pully
Kelompok 3
24

= wb x 1.3

Elemen Mesin 2

Transmisi Sabuk Gigi

= 38.1 x 1.3 = 49.5 mm

BAB 1V
PENUTUP

Setelah melakukan perhitungan dan perencanaan sabuk gigi pada mesin


gerinda diperoleh kwsimpulan :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Jenis sabuk
Nomer sabuk
Panjang sabuk
Lebar sabuk
Jumlah gigi puli kecil
Jumlah gigi puli besar
Jarak antar poros

Kelompok 3
25

: sabuk gigi tipe H


: 465 H
: 93 gigi; 1181,1 mm
: 1,5 inchi; 38,1 mm
: 20
: 29
: 434,594 mm