Anda di halaman 1dari 8

MODUL STASE ORTHOPAEDI DAN TRAUMATOLOGI

PERIODE Januari - Februari 2015

PENATALAKSANAAN KONSERVATIF
FRAKTUR COLLES

Disusun oleh :
dr. Naomi Lalisang
PPDS Ilmu Bedah

Pembimbing :
dr. Syaiful Anwar Hadi, SpOT(K)

DEPARTEMEN ORTHOPAEDI DAN TRAUMATOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA
JAKARTA
JANUARI-FEBRUARI 2015

PENDAHULUAN
Fraktur radius distal adalah fraktur terbanyak yang ditemukan di IGD, sekitar 3%
dari seluruh kunjungan di IGD (Larsen and Lauritsen). 1 Yang disebut fraktur colles
ada fraktur radius distal dengan kominutif, angulasi serta displacement ke distal,
pemendekan aspek radius serta dapat diserta fraktur prosesus styloid os ulna.
Banyak kemajuan yang dicapai dibanding saat waktu pertama kali fraktur Colles
dideskripsikan, mulai dari etiologi, diagnosis, klasifikasi sampai tata laksana.
Fraktur radius distal awalnya dianggap sebagai dislokasi pergelangan tangan
sampai sekitar abad-18. Petit pertama kali mengungkapkan kemungkinan adanya
fraktur pada kondisi ini, yang kemudian dinyatakan dalam literatur pertama kali
oleh Abraham Colles pada 1814. Literatur ini bukanlah suatu ilustrasi melainkan
pemikiran Colles mengapa kondisi ini merupakan suatu fraktur dan bukan
semata-mata dislokasi. Tulisan ini kemudian mendapat konfirmasi radiologis oleh
Beck dan Cotton.2
Fraktur colles sering mengenai perempuan usia pertengahan dan tua yang jatuh
dengan posisi telapak tangan teregang (outstretched palm) dengan 1/3 fraktur
hanya ekstraartikular dan sisanya melibatkan intraartikular. 3 Insiden fraktur
Colles pada perempuan meningkat enam kali lipat pada rentang usia 35-39 tahun
dan 60-64 tahun. Insiden ini lebih rendah pada laki-laki. Perempuan dan laki-laki
dengan osteoporosis cenderung berisiko lebih tinggi untuk mengalami fraktur
Colles dibandingkan mereka yang memiliki struktur tulang yang normal. Clayton
menyatakan

bahwa

BMD

yang

lebih

rendah

berkorelasi

dengan

fraktur

intraartikuler yang lebih berat serta lebih berpotensi mengalami instabilitas dini
setelah reduksi tertutup.4 Dias menyatakan bahwa benturan pada pasien dengan
osteoporosis menimbulkan kerusakan yang lebih hebat dengan perubahan posisi
yang lebih nyata.
ANATOMI
Regio antebrachii terdiri dari dua tulang, radius dan ulna, yang berhubungan satu
sama lain melalui membran interosseus. Os radius merupakan tulang panjang
berbentuk silinder, di mana caput radius merupakan suatu intraartikuler dengan
tiga permukaan: sigmoid notch,

scaphoid

fossa dan

lunate

fossa yang

berhubungan dengan caput ulnaris, os scaphoid, dan os lunatum. Permukaan


palmar dari ujung distal radius berbentuk datar, sedang permukaan dorsalnya
konveks dengan satu struktur tuberkulum Lister sebagai jangkar dari tendon
extensor pollicis longus. Pengukuran normal radiologis distal radius yaitu 11
volar tilt, 22 inklinasi radial, 11 12 mm tinggi radial. Sigmoid notch berartikulasi

dengan caput ulnaris pada distal

radioulnar

joint (DRUJ) yang disokong

beberapa ligamen dengan penyokong utamanya triangular fibrocartilage complex


(TFCC).

Paska

fraktur,

ligamen-ligamen

ini

memfasilitasi

reduksi

lewat

ligamentotaxis.

Gambar 1: Anatomi

antebrachii5

MEKANISME TRAUMA
Mekanisme
trauma

pada fraktur colles

pada

disebabkan

karena

umumnya
jatuh

dorsofleksi.
sumbu

oleh

dengan

posisi

tangan

Tekanan

timbul

searah

lengan

dengan

panjang

dari

posisi pergelangan tangan ekstensi, menyebabkan sisi distal fraktur bergeser ke


dorsal, membengkok ke sisi radial, dan memendek 1. Selain itu bisa juga
disebabkan oleh karena trauma langsung pada distal radius. Benturan pada
lengan bawah posisi pronasi akan diteruskan terutama pada sisi radial, sedang
benturan pada posisi supinasi diteruskan terutama pada sisi ulnar. Hampir semua
fraktur

distal

radius

(kecuali

dorsal

rim

avulsion

fractures)

bisa

disebabkan

oleh

hiperekstensi

pergelangan

tangan.6 Fractur

terjadi

pada

dorsifleksi

antara

40-90O;

semakin

derajatnya, semakin kecil gaya yang dibutuhkan untuk menyebabkan fraktur.


.

Gambar 2 : Mekanisme Trauma Fraktur Colles

TAMPILAN KLINIS

kecil

Pada fraktur Colles, tampak adanya supinasi dengan deviasi radial, penonjolan
distal radius ke sisi dorsal dengan depresi di depannya dan edema. Secara
umum, tampilan klasiknya adalah deformitas dinner-fork, walaupun begitu
tampilan ini tidak selalu ditemukan.

Gambar 3: dinner-fork

deformity

Jika terdapat angulasi

ke

dorsal

dengan

fragmen proksimal yang jelas, dapat terjadi kompresi nervus medianus yang
menyebabkan gejala seperti Carpal Tunnel syndrome. Reduksi fraktur dengan
elevasi lengan atas biasanya akan mengurangi nyeri. Harus diperhatikan juga
akan cedera pada jaringan lunak, terutama di daerah palmar dan ulnar, serta
cedera pada tendon, terutama tendon extensor pollicis longus. Tendon dapat
ruptur secara akut atau ruptur spontan belakangan.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Foto rontgen postero-anterior (PA), lateral dan oblique dari lengan bawah yang
cedera harus dilakukan. Foto rontgen oblique akan menampilkan keterlibatan
intra-artikular yang tidak tampak pada PA dan lateral. Foto rontgen oblique pada
posisi semisupinasi dan semipronasi dapat menampilkan gambaran facet dorsal
serta prosesus styloid radius. 1 Apabila ada gejala, bahu dan siku juga harus
dievaluasi secara radiologis. Foto kontralateral dapat membantu menilai sudut
normal variasi ulnar dan sudut scapholunate. Gambaran normal radial inclination
sekitar 23 derajat (13-30 derajat), radial length sekitar 11 mm (8-18mm) , volar
tilt : sekitar 11-12 derajat (0-28 derajat).
PENATALAKSANAAN
Penentuan tatalaksana dari fraktur Colles dilakukan setelah penentuan stabilitas
dari fraktur. Penentuan faktor ini sangat penting karena tatalaksana konservatif
pada fraktur yang tidak stabil akan gagal dan menyebabkan hilangnya radial
length,

hilangnya

carpal

alignment

serta

articular

incongruity,

dapat

menyebabkan kekakuan jari. Ini semua sering berujung pada tindakan operasi
subakut atau osteotomi korektif untuk mengembalikan aligment dan fungsi.
Kriteria untuk fraktur tidak stabil:
Fraktur terbuka
Fraktur terpuntir dengan displaced (Jupiter-Fernandez tipe II)

Fraktur intra artikular dengan kominutif, displaced dan impaksi (JupiterFernandez tipe III)
Fraktur dislokasi (Jupiter-Fernandez type IV)
Fraktur dengan kominutif di metafisis dan diafisis (Jupiter-Fernandez type
V)
Fraktur dengan kompresi nervus, sindroma kompartemen, cedera multipel
Lafontaine menyebutkan adanya lima parameter instabilitas fraktur: 7
1.
2.
3.
4.
5.

Angulasi ke dorsal lebih dari 20 derajat


Dorsal comminution
Fraktur radiokarpal intraartikular
Fraktur ulna
Usia lebih dari 60 tahun

Pasien dengan tiga atau lebih parameter diindikasikan untuk terapi pembedahan.
McKenney

menyatakan

bahwa

60%

fraktur

dengan

displacement

akan

mengalami malunion jika hanya ditatalaksana dengan reduksi tertutup. 8 Faktor


prediktor untuk hilangnya reduksi setelah pemasangan cast adalah usia tua,
dorsal

comminution dan kenaikan ulnar variance (>3 mm). Hilangnya reduksi

disebabkan adanya resting muscular tension, kontraksi involunter otot serta


pergerakan jari.
Pasien dengan beberapa faktor instabilitas harus diedukasi akan adanya
kemungkinan kegagalan atau hilangnya reduksi. Pasien muda atau pasien yang
masih aktif juga harus diedukasi akan pilihan untuk terapi pembedahan dini.
Pasien dengan radial

shortening

dan dorsal

comminution,

terutama jika

berusia >60 tahun, yang memilih untuk tidak menjalani operasi harus
diobservasi setiap minggu dengan foto rontgen.
Secara umum, fraktur Colles yang baik ditatalaksana secara konservatif adalah
fraktur dengan karakteristik:
1. Fraktur stabil dengan undisplaced atau minimally-displaced
2. Fraktur bending
3. Fraktur intraartikular tanpa adanya sela antar fragmen fraktur
Secara radiologis, kriterianya adalah:
1. Dorsal tilt kurang dari 10o
2. Sela antar fragmen intraartikular kurang dari 1 mm
3. Ulnar variance 3 mm
Reduksi Tertutup
Tujuan dari reduksi tertutup adalah mereduksi fraktur dan mempertahankan
posisinya tanpa fleksi berlebihan dari sendi pergelangan tangan. Fleksi palmar
ekstrim dengan deviasi ulnar (posisi Cotton-Loder) efektif dalam mengembalikan

posisi volar, namun tidak bisa dipertahankan jangka lama karena menekan
nervus medianus.
Teknik reduksi tertutup:
Dilakukan anestesi infiltrasi hematoma, blok aksilla atau bius umum
Lengan bawah ditraksi dengan fingertrap sebesar 2,5-5 kg
Setelah 5-10 menit, fragmen distal kemudian didorong ke tempat asalnya
dengan cara menekan dorsum saat memanipulasi pergelangan tangan ke
posisi fleksi, deviasi ulna, dan pronasi dengan tujuan mereduksi korteks
palmar dan untuk mempertahankan inklinasi palmar. Traksi kemudian
dilepaskan.
Pada fraktur dengan dorsal displacement dan angulation, dilakukan traksi
dan hiperekstensi fraktur untuk disimpaksi fragmen fraktur, diikuti dengan
manuver traksi-fleksi
Posisi lengan dipertahankan dengan menggunakan sugar tong splints dari
bawah siku hingga leher metakarpal. Posisi lengan saat dibidai harus
normal sampai sedikit fleksi, deviasi ulnar 20-30o, serta posisi rotasi netral.
Jika terdapat fraktur intraartikular tanpa displacement, teknik yang
digunakan sama, namun harus berhati-hati untuk tidak menimbulkan
displacement dengan cara menggunakan traksi lebih banyak

Gambar 4: Reduksi
Paska pembidaian,

Tertutup
pasien

diedukasi

melakukan

latihan

untuk

jari

exercise,

six-

mengangkat

pack
lengannya,

tidak

memfleksikan

siku

digital

>90o

untuk

mencegah gangguan sirkulasi dan peregangan nervus ulnaris. Tangan dapat


digunakan untuk aktivitas ringan. Jika fraktur stabil, setelah dua atau tiga
minggu,

splint

dapat

diganti

menjadi

gips

metakarpal, mid-diafisis radius dan apex fraktur.

dengan

three-point

bending:

Gambar 5: Pemasangan 3-point contact cast

Gambar 6: Six-pack digital exercise


Gips dipertahankan sampai enam minggu setelah cedera. Dalam follow up, harus
diperhatikan juga fungsi nervus serta ada/tidaknya cedera tendon, baik akut
maupun lanjut, ditandai dengan nyeri di daerah tuberkulum Lister. Adanya
deviasi radial menandakan adanya malunion dengan inklinasi ke radius pada
distal radius. Edema, rotasi lengan bawah, nyeri pada pergerakan serta kekuatan
genggaman juga harus dimonitor.
Tatalaksana konservatif untuk fraktur Colles adalah suatu metode yang baku dan
lazim digunakan di seluruh dunia. Sebagian besar fraktur Colles ditatalaksana
dengan

metode

ini,9

namun

pasien

harus

diberikan

edukasi

mengenai

keuntungan dan kerugian dari fraktur Colles. Keuntungan dari terapi konservatif
adalah tidak mengganggu sekuens penyembuhan luka normal, tidak perlu
menjalani

pembedahan

serta

dapat

langsung

menggunakan

tangannya.

Kerugiannya adalah pergelangan tangan harus dibidai selama 4-6 minggu,


panjang radius serta angulasi radial tidak dapat kembali sepenuhnya serta tidak
dapat mengatasi pemendekan tulang yang disebabkan kominutif dari metafisis
radius distal. Jika fraktur terjadi intraartikular dengan sela antar fragmen cukup
besar, gips juga tidak dapat kehilangan reduksinya sehingga perlu monitor lebih
ketat dengan kemungkinan membutuhkan pembedahan.

Daftar Pustaka

Larsen CF, Lauritsen J. Epidemiology of acute wrist trauma. Int J Epidemiol. 1993; 22:911916
Beck C: Colles fracture and the Roentgen-rays. Med News 1898; 72:230g
3
Vogt MT, Cauley JA, Tomaino MM, Stone K, Williams JR, Herndon JH. Distal Radius Fractures in Older
Women: A 10-Year Follow-Up Study of Descriptive Characteristics and Risk Factors. The Study of
Osteoporotic Fractures. J Amer Geriatric Soc. 2002; 50:97103
4
Clayton RAE, Gaston MS, Ralston SH, Court-Brown CM, McQueen MM. Association between decreased
bone mineral density and severity of distal radial fractures. J Bone Joint Surg Am. 2009;91 : 613619
5
Thompson, Jon C. Netters Concise Orthopaedic Anatomy. 2nd ed. Saunders Elsevier, 2010, hal 139-180
6
Pechlaner S, Kathrein A, Gabl M, et al. Distal radius fractures and concomitant lesions. Experimental
studies concerning the pathomechanism.Handchir Mikrochir Plast Chir2002; 34 : 150e7
7
Lafontaine M, Hardy D, Delince PH: Stability assessment of distal radius fractures, Injury20 : 208210, 1989g
8
MacKenney PJ, McQueen MM, Elton R: Prediction of instability in distal radius fractures, J Bone Joint
Surg Am88 : 1944-1951, 2006g
9
Chung KC, Shauver MJ, Birkmeyer JD. Trends in the United States in the treatment of distal radial
fractures in the elderly. J Bone Joint Surg Am. 2009Aug;91(8):1868-73
2