Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN KASUS

TUMOR MEDIASTINUM

PENYUSUN:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

ABDUL HAMID AMIR LUBIS


(110100190)
WYNNE PUTRADANA
(110100293)
DEVINQA ADHIMAH AMANDA
(110100155)
DAHLIANA JESSICA ARISTY
(110100196)
ABDURRAHMAN HUZAIFI LUBIS
(110100021)
JESSELYN ANGELLEE
(110100054)
IDA KATARINA
(110100059)
HELENA HOTMONICA HASTUTI(110100268)
RONI ABIMANYU
(110100181)

DEPARTEMEN PULMONOLOGI
DAN ILMU KEDOKTERAN RESPIRASI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
2015
KATA PENGANTAR

ii

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
berkat dan rahmat-Nya sehingaa penulis dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul Tumor
Mediastinum.
Selama penulisan laporan kasus ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan arahan oleh
berbagai pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. Delores atas bimbingan dan
ilmu yang diberikan kepada penulis selama penyelesaian Laporan Kasus ini.
Penulis menyadari bahwa laporan kasus ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi materi
aupun tata cara penulisannya. Oleh karena itu, penulis memohon maaf dan mengharapkan saran dan
kritik yang dapat membangun untuk menyempurnakan Laporan Kasus ini. Akhir kata, penulis
mengucapkan terima kasih dan semoga Laporan Kasus ini dapat berguna bagi kemajuan ilmu
kedokteran kedepannya.

Medan, April 2015

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR..................................................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN............................................................................................................... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..................................................................................................... 2
2.1. Anatomi...................................................................................................................... 2
2.2. Epidemiologi.............................................................................................................. 2
2.3. Etiologi....................................................................................................................... 3
2.4. Diagnosis.................................................................................................................... 3
2.5. Klasifikasi Tumor Mediastinum................................................................................ 7
2.6. Penatalaksanaan......................................................................................................... 8
2.7. Evaluasi Pengobatan.................................................................................................. 12
2.8. Prognosis.................................................................................................................... 13
BAB III LAPORAN KASUS......................................................................................................... 14
BAB IV KESIMPULAN................................................................................................................ 24
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................................... 25

BAB 1
PENDAHULUAN
Tumor mediastinum adalah tumor yang terdapat di dalam mediastinum. Mediastinum berisi
jantung, pembuluh darah besar, trakea, timus, kelenjar getah bening dan jaringan ikat. Rongga ini
sempit dan tidak dapat diperluas, sehingga pembesaran tumor akan menekan organ di sekitarnya dan
dapat menimbulkan kegawatan yang mengancam jiwa.1
Tumor mediastinum disebabkan oleh berbagai variasi kista dan tumor, dan bervariasi
tergantung usia dan lokasi tumor di rongga mediastinum. Pada orang dewasa, timoma dan limfoma
merupakan jenis tumor paling sering pada lesi anterior, pembesaran KGB dan tumor vascular paling
sering pada lesi medial, dan tumor neurogenik dan abnormalitas esofagus adalah yang paling sering
di posterior. Pada anak-anak, tumor mediastinum paling sering adalah tumor neurogenik dan kista. 10
Data frekuensi tumor mediasinum di Indonesia antara lain didapat dari SMF Nedah Toraks
RS Persahabatan Jakarta dan RSUD Dr. Sutomo Surabaya. Pada tahun 1970-1990 di RS
Persahabatan dilakukan operasi terhadap 137 kasus, jenis tumor yang ditemukan adalah 32,2%
teratoma, 24% timoma, 8% tumor syaraf, 4,3% limfoma. Data RSUD Dr. Soetomo menjelaskan
lokasi tumor pada mediastinum anterior 67% kasus, mediastinum medial 29% dan mediastinum
posterior 25,5%. Dari kepustakaan luar negeri diketahui bahwa jenis yang banyak ditemukan pada
tumor mediastinum anterior adalah limfoma, timoma dan germ cell tumor.3

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA TUMOR MEDIASTINUM
2.1.

Anatomi
Tumor mediastinum adalah tumor yang terdapat di mediastinum yaitu rongga imaginer di
antara paru kiri dan kanan. Mediastinum berisi jantung, pembuluh darah besar, trakea, timus,
kelenjar getah bening dan jaringan ikat. Rongga mediastinum terbagi atas 3 bagian, yaitu
mediastinum anterior, medial, dan superior.

Gambar 2.1. Pembagian Rongga Mediastinum1


2.2.

Epidemiologi
Dari data RS Persahabatan tahun 1970 1990 telah dilakukan operasi tumor mediastinum

sebanyak 137 penderita, dengan jenis teratoma 44 kasus (32,1%), timoma 33 (24%) dan tumor saraf
11 kasus (8%).2 Dari 103 penderita tumor mediastinum, timoma ditemukan pada 57,1% kasus, tumor
sel germinal 30%, limfoma, tumor tiroid dan karsinoid masing-masing 4,2%.3
Bacha dkk4 dari Perancis, melakukan pembedahan terhadap 89 pasien tumor mediastinum
dan terdiri dari 35 kasus timoma invasif, 12 karsinoma timik, 17 sel germinal, 16 limfoma, 3 tumor
saraf, 3 karsinoma tiroid, 2 radiation induced sarcoma dan 1 kasus mesotelioma mediastinum.
Penelitian retrospektif dari tahun 1973 sampai dengan 1995 di New Mexico, USA mendapatkan 219
pasien tumor mediastinum ganas yang diidentifikasi dari 110.284 pasien penyakit keganasan primer,
jenis terbanyak adalah limfoma 55%, sel germinal 16%, timoma 14%, sarkoma 5%, neurogenik 3%

dan jenis lainnya 7%. Berdasarkan gender ditemukan perbedaan yang bermakna. Sembilan puluh
empat persen tumor sel germinal adalah laki-laki, 66% tumor saraf berjenis kelamin perempuan,
sedangkan jenis tumor lainnya 58% ditemukan pada laki-laki. Berdasarkan umur, penderita limfoma
dan timoma ditemukan pada penderita umur dekade ke-5, tumor saraf pada dekade pertama,
sedangkan sel germinal ditemukan pada umur dekade ke-2 sampai ke-4. 5 Evaluasi selama 25 tahun
terhadap 124 pasien tumor mediastinum didapatkan umur tengah pasien adalah 35 tahun. Pasien
yang datang dengan keluhan 66% dan 90% dari kasus adalah tumor ganas dengan jenis terbanyak
timoma yaitu 38 dari 124 (31%), sel germinal 29/124 (23%), limfoma 24/124 (19%) dan tumor saraf
15/124 (12%).
Empat puluh tujuh kasus dari 91 kasus mengalami kekambuhan (recurrence) setelah reseksi
komplet atau respons terhadap terapi, dengan masa tengah kekambuhan 10 bulan. 6 Marshal
menganalisis 24 kasus tumor mediastinum yang dibedah di RS Persahabatan tahun 2000 2001,
mendapatkan laki-laki lebih banyak daripada perempuan (70,8% dan 29,2%) dengan jenis terbanyak
adalah timoma , 50% dari 24 penderita.7 Timoma merupakan kasus terbanyak di mediastinum
anterior 8 sedangkan limfoma dan tumor saraf biasanya pada mediastinum medial dan posterior. 9
2.3.

Etiologi
Jenis tumor mediastinum sering berkaitan dengan lokasi tumor dan usia penderita. Pada anak-

anak tumor mediastinum yang sering ditemukan berlokasi di mediastinum posterior dengan jenis
terbanyak tumor saraf (neurogenic tumor). Sedangkan pada orang dewasa lokasi tumor banyak
ditemukan di mediastinum anterior dengan jenis terbanyak limfoma atau timoma, jenis tumor
terbanyak pada mediastinum medial adalah tumor vascular dan pembesaran KGB. Tumor neurogenik
dan abnormalitas esofagus adalah jenis terbanyak tumor pada mediastinum posterior.1
Diagnosis10,11

2.4.

Secara umum diagnosis tumor mediastinum ditegakkan sebagai berikut:


A. Gambaran Klinis
1. Anamnesis
Tumor mediastinum sering tidak memberi gejala dan terdeteksi pada saat dilakukan foto
toraks. Untuk tumor jinak, keluhan biasanya mulai timbul bila terjadi peningkatan
ukuran tumor yang menyebabkan terjadinya penekanan struktur mediastinum,
sedangkan tumor ganas dapat menimbulkan gejala akibat penekatan atau invasi ke
struktur mediastinum.
Gejala dan tanda yang timbul tergantung pada organ yang terlibat,

batuk, sesak atau stridor muncul bila terjadi penekanan atau invasi pada trakea
dan/atau bronkus utama,

disfagia muncul bila terjadi penekanan atau invasi ke esofagus

sindrom vena kava superior (SVKS) lebih sering terjadi pada tumor mediastinum
yang ganas dibandingkan dengan tumor jinak,

suara serak dan batuk kering muncul bila nervus laringel terlibat, paralisis diafragma

timbul apabila penekanan nervus frenikus

nyeri dinding dada muncul pada tumor neurogenik atau pada penekanan sistem syaraf.

2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik akan memberikan informasi sesuai dengan lokasi, ukuran dan
keterbatasan organ lain, misalnya telah terjadi penekanan ke organ sekitarnya.
Kemungkinan tumor mediastinum dapat dipikirkan atau dikaitkan dengan beberapa
keadaan klinis lain, misalnya miastenia gravis mungkin menandakan timoma atau
limfadenopati mungkin menandakan limfoma.
B. Prosedur Radiologi
Komponen massa jaringan, tingkat vaskularisasi, dan hubungan dengan struktur mediastinal
dinilai oleh computed tomography (CT) atau magnetic resonance imaging (MRI) adalah
ujung tombak diagnosis radiologi. Aplikasi khusus di MRI telah dikembangkan selama
beberapa tahun terakhir dalam rangka untuk mengidentifikasi secara akurat komponen dari
massa mediastinum. Kemungkinan keganasan dari massa mediastinum dipengaruhi oleh
simtomatologi dan usia pasien, dengan mempertimbangkan riwayat klinis dan manifestasi,
posisi anatomi dan rincian tertentu.
Berikut ini adalah berbagai prosedur radiologi yang dapat digunakan.
1. Foto toraks
Dari foto toraks PA/ lateral sudah dapat ditentukan lokasi tumor, anterior, medial atau
posterior, tetapi pada kasus dengan ukuran tumor yang besar sulit ditentukan lokasi yang
pasti.
2. Tomografi
Selain dapat menentukan lokasi tumor, juga dapat mendeteksi klasifikasi pada lesi, yang
sering ditemukan pada kista dermoid, tumor tiroid dan kadang-kadang timoma. Teknik ini
semakin jarang digunakan.
3. CT-Scan toraks dengan kontras

Selain dapat mendeskripsi lokasi juga dapat mendeskripsi kelainan tumor secara lebih
baik dan dengan kemungkinan untuk menentukan perkiraan jenis tumor, misalnya
teratoma dan timoma. CT-Scan juga dapat menentukan stage pada kasus timoma dengan
cara mencari apakah telah terjadi invasi atau belum. Perkembangan alat bantu ini
mempermudah pelaksanaan pengambilan bahan untuk pemeriksaan sitologi. Untuk
menentukan luas radiasi beberapa jenis tumor mediastinum sebaiknya dilakukan CT-Scan
toraks dan CT-Scan abdomen.
4. Flouroskopi
Prosedur ini dilakukan untuk melihat kemungkinan aneurisma aorta.
5. Ekokardiografi
Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi pulsasi pada tumor yang diduga aneurisma.
6. Angiografi
Teknik ini lebih sensitif untuk mendeteksi aneurisma dibandingkan flouroskopi dan
ekokardiogram.
7. Esofagografi
Pemeriksaan ini dianjurkan bila ada dugaan invasi atau penekanan ke esofagus.
8. USG, MRI dan Kedokteran Nuklir
Meski jarang dilakukan, pemeriksaan-pemeriksaan terkadang harus dilakukan untuk
beberapa kasus tumor mediastinum.
C. Prosedur Endoskopi
1. Bronkoskopi harus dilakukan bila ada indikasi operasi
Tindakan bronkoskopi dapat memberikan informasi tentang pendorongan atau penekanan
tumor terhadap saluran napas dan lokasinya. Di samping itu melalui bronkoskopi juga
dapat dilihat apakah telah terjadi invasi tumor ke saluran napas. Bronkoskopi sering dapat
membedakan tumor mediastinum dari kanker paru primer.
2. Mediastinokopi
Tindakan ini lebih dipilih untuk tumor yang berlokasi di mediastinum anterior.
3. Esofagoskopi
4. Torakoskopi diagnostik
D. Prosedur Patologi Anatomi
Beberapa tindakan, dari yang sederhana sampai yang kompleks perlu dilakukan untuk
mendapatkan jenis tumor antara lain:
1. Pemeriksaan Sitologi

Prosedur diagnostik untuk memperoleh bahan pemeriksaan untuk pemeriksaan sitologi


ialah :

biopsi, jarum halus (BJH) atau fine needle aspiration biopsy (FNAB), dilakukan bila
ditemukan pembesaran KGB atau tumor supervisial.

punksi pleura bila ada efusi pleura

bilasan atau sikatan bronkus pada saat bronkoskopi

biopsi aspirasi jarum, yaitu pengambilan bahan dengan jarum yang dilakukan bila
terlihat masa intrabronkial pada saat prosedur bronkoskopi yang amat mudah
berdarah, sehingga biopsi amat berbahaya

biopsi transtorakal atau transthoracal biopsy (TTB) dilakukan bila massa dapat
dicapai dengan jarum yang ditusukkan di dinding dada dan lokasi tumor tidak dekat
pembuluh darah atau tidak ada kecurigaan aneurisma. Untuk tumor yang kecil
(<3cm>, memiliki banyak pembuluh darah dan dekat organ yang berisiko dapat
dilakukan TTB dengan tuntunan flouroskopi atau USG atau CT Scan.

2. Pemeriksaan Histologi
Bila BJH tidak berhasil menetapkan jenis histologis, perlu dilakukan prosedur di bawah
ini:

Biopsi KGB yang teraba di leher atau supraklavikula


Bila tidak ada KGB yang teraba, dapat dilakukan pengangkatan jaringan KGB yang
mungkin ada di sana. Prosedur ini disebut biopsi Daniels.

Biopsi mediastinal, dilakukan bila dengan tindakan di atas hasil belum didapat

Biopsi eksisional pada massa tumor yang besar

Torakoskopi diagnostik

Video-assisted thoracic surgery (VATS)


Dilakukan untuk tumor di semua lokasi, terutama tumor di bagian posterior.

E. Prosedur Laboratorium
Hasil pemeriksaan laboratorium rutin sering tidak memberikan informasi yang berkaitan
dengan tumor.

LED kadang meningkat pada limfoma dan TB mediastinum.

Uji tuberkulin dibutuhkan bila ada kecurigaan limfadenitis TB

Pemeriksaan kadar T3 dan T4 dibutuhkan untuk tumor tiroid.

Pemeriksaan a-fetoprotein dan b-HCG dilakukan untuk tumor mediastinum yang


termasuk kelompok tumor sel germinal, yakni jika ada keraguan antara seminoma atau
nonseminoma. Kadar a-fetoprotein dan b-HCG tinggi pada golongan nonseminoma.

F. Tindakan Bedah
Torakotomi eksplorasi untuk diagnostik bila semua upaya diagnostik tidak berhasil
memberikan diagnosis histologis.
G. Pemeriksaan Lain
EMG adalah pemeriksaan penunjang untuk tumor mediastinum jenis timoma atau tumortumor lainnya. Kegunaan pemeriksaan ini adalah mencari kemungkinan myastenia gravis
atau myesthenic reaction.
2.5.

Klasifikasi Tumor Mediastinum10


Klasifikasi tumor mediastinum dikemukakan oleh Rosenberg menurut organ asal dan jenis

histologinya sebagai berikut.

Tabel 2.1. Klasifikasi Tumor Mediastinum

2.6.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan untuk tumor mediastinum yang jinak adalah pembedahan sedangkan untuk

tumor ganas, tindakan berdasarkan jenis sel kanker. Tumor mediastinum jenis limfoma Hodgkin's
maupun non Hondgkin's diobati sesuai dengan protokol untuk limfoma dengan memperhatikan
masalah respirasi selama dan setelah pengobatan. Penatalaksanaan tumor mediastinum nonlimfoma
secara umu adalah multimodality meski sebagian besar membutuhkan tindakan bedah saja, karena
resisten terhadap radiasi dan kemoterapi tetapi banyak tumor jenis lain membutuhkan tindakan
bedah, radiasi dan kemoterapi, sebagai terapi adjuvant atau neoadjuvan.
Syarat untuk tindakan bedah elektif adalah syarat umum, yaitu pengukuran toleransi
berdasarkan fungsi paru, yang diukur dengan spirometri dan jika mungkin dengan body box. Bila
nilai spirometri tidak sesuai dengan klinis maka harus dikonfirmasi dengan analis gas darah. Tekanan
O2 arteri dan Saturasi O2 darah arteri harus >90%.
Syarat untuk radioterapi dan kemoterapi adalah:

Hb > 10 gr%
leukosit > 4.000/dl
trombosit > 100.000/dl
Tampilan (performance status) >70 Karnofsky

Jika digunakan obat antikanker yang bersifat radiosensitaizer maka radio kemoterapi dapat
diberikan secara bersamaan (konkuren). Jika keadaan tidak mengizinkan, maka kombinasi radiasi
dan kemoterapi diberikan secara bergantian (alternating: radiasi diberikan di antara siklus
kemoterapi) atau sekuensial (kemoterapi > 2 siklus, lalu dilanjutkan dengan radiasi, atau radiasi lalu
dilanjutkan dengan kemoterapi). Selama pemberian kemoterapi atau radiasi perlu diawasi terjadinya
melosupresi dan efek samping obat atau toksisitas akibat tindakan lainnya.

a.

b.

A. Tumor Timus
1. Klasifikasi Histologis10
Timoma (klasifikasi Muller Hermelink)
- Tipe medular
- Tipe campuran
- Tipe kortikal predominan
- Tipe kortikal
Karsinoma timik
- Derajat rendah (Low grade)
- Derajat tinggi (High grade)
Karsinoma timik dan Oat Cell Carcinoma
2. Staging berdasarkan Sistem Masanoka12
Stage I

Makroskopik: berkapsul
Mikroskopik: tidak tampak invasi ke kapsul

Stage II

Invasi secara makroskopik ke jaringan lemak sekitar pleura mediastinal


atau invasi ke kapsul secara mikroskopik

Stage III

Invasi secara makroskopik ke organ sekitarnya

Stage IVA

Penyebaran ke pleura atau perikard

Stage IVB

Metastasis limfogen atau hematogen

3. Penatalaksanaan Timoma10
Stage I

Extended thymo thymecthomy (ETT) saja

Stage II

ETT, dilanjutkan dengan radiasi, untuk radiasi harus diperhatikan


batas-batas tumor seperti terlihat pada CT sebelum pembedahan

Penatalaksanaan timoma tipe medular stage I - II lebih dahulu dibedah, selanjutnya


kemoterapi.
Stage III

ETT dan extended resection dilanjutkan radioterapi dan kemoterapi

Pada stage III diberikan kemo/radioterapi neoadjuvant.


Stage IVA

Debulking dilanjutkan dengan kemoterapi dan radioterapi


Penatalaksanaan timoma tipe medular stage IVA dapat diberikan
kemoradioterapi adjuvant 2 siklus dilanjutkan radiasi 4000 cGy, diikuti
debulking dan kemoterapi siklus berikutnya.

Stage IVB

Kemoterapi dan radioterapi dilanjutkan dengan debulking


Penatalaksanaan timoma tipe medular stage IVB bersifat paliatif, yaitu
kemoterapi dan radioterapi paliatif.

Pada timoma tipe campuran, penatalaksanaan disesuaikan dengan tipe histologik yang
dominan.
4. Penatalaksanaan Karsinoma Timik
Penatalaksanaan untuk tumor ini adalah multi-modaliti sama dengan penatalaksanaan
untuk kanker di paru.
5. Penatalaksanaan Karsinoid Timik dan Oat Cell Carcinoma
Penatalaksaan untuk tumor ini adalah pembedahan, dan karena sering invasif maka
direkomendasikan radiasi pascabedah untuk kontrol local. Akan tetapi, karena
tingginya kekerapan metastasis, kemoterapi diharapkan dapat meningkatkan angka
ketahanan hidup. Kemoterapi yang diberikan hampir sama dengan kemoterapi untuk
kanker paru jenis karsinoma sel kecil (KPKSK), yakni cisplatin + etoposid sebanyak 6
siklus.
Oat cell carcinoma di mediastinum mempunyai prognosis lebih baik dibandingkan
dengan oat cell carcinoma di paru.

10

Pada setiap kasus timoma, sebelum bedah harus terlebih dahulu dicari tanda
myastenia gravis atau myestenic reaction. Apabila sebelum tindakan bedah
ditemukan, dilakukan plasmaferesis terlebih dahulu dengan tujuan mencuci antibodi
pada plasma darah penderita, paling cepat seminggu sebelum operasi. Kesan yang
menampakkan myesthenic reaction sebelum pembedahan harus terlebih dahulu
diobati sebagai myastenia gravis.
B. Tumor Sel Germinal
1. Klasifikasi Histologi10
a.Seminoma
b.
Nonseminoma
- Karsinoma embrional
- Koriokarsinoma
- Yolk sac carcinoma
c.Teratoma
- Jinak (benign)
- Ganas (malignant)
Dengan unsur sel germinal
Dengan unsur nongerminal
Immature
2. Penatalaksanaan Seminoma
Seminoma adalah tumor yang sensitif terhadap radiasi dan kemoterapi. Tidak ada
indikasi bedah untuk tumor jenis ini. Kemoterapi diberikan setelah radiasi selesai
tetapi respons terapi akan lebih baik dengan cara kombinasi radio-kemoterapi. Bila
ada kegawatan napas, radiasi diberikan secara cito, dilanjutkan dengan kemoterapi
cisplatin based.
3. Penatalaksanaan Tumor Mediastinum Nonseminoma
Tumor-tumor yang termasuk kedalam kelompok nonseminoma bersifat radioresisten,
sehingga tidak direkomendasikan untuk radiasi. Pilihan terapi adalah kemoterapi 6
siklus. Evaluasi dilakukan setelah 3 - 4 siklus menggunakan petanda tumor b-HCG
dan a-fetoprotein serta foto toraks PA dan lateral, kemudian menjaga algoritma pada
gambar 2.2. berikut.

11

Gambar 2.2. Penatalaksanaan Tumor Sel Germinal Nonseminoma


4. Penatalaksanaan Teratoma Jinak
Penatalaksanaan teratoma jinak adalah pembedahan, tanpa adjuvant. Pemeriksaan
batas reseksi harus menyeluruh, agar tidak ada tumor yang tertinggal dan
kemungkinan akan berkembang menjadi ganas.
5. Penatalaksanaan Teratoma Ganas
Karena teratoma ganas terkadang mengandung unsur lain maka terapi multimodaliti
(bedah+kemoterapi+radioterapi) memberikan hasil yang lebih baik. Pemilihan terapi
didasarkan pada unsur yang terkandung di dalamnya dan kondisi penderita. Regimen
kemoterapi untuk teratoma ganas antara lain cisplatin, vinkristin, bleomisin dan
methotrexate, etoposid, daktinomisin dan siklofosfamid. Penatalaksanaan teratoma
ganas dengan unsur germinal sama dengan penatalaksanaan seminoma.
Pada teratoma, perlu diingat beberapa hal penting:
a.
b.
c.
d.

Teratoma matur pada orang tua tidak selalu berarti jinak


Teratoma immatur pada anak-anak tidak selalu ganas
Teratoma matur pada anak-anak sudah pasti jinak
Teratoma imatur pada orang tua sudah pasti ganas

C. Tumor Neurogenik
1. Klasifikasi Histologi
a.Berasal dari saraf tepi (peripheral nerves)
- Neurofibroma

12

Neurilemoma (Schwannoma)
Neurosarkoma
b.
Berasal dari ganglion simpatik (symphatetic ganglia)
- Ganglioneuroma
- Ganglioneuroblastoma
- Neuroblastoma
c.Berasal dari jaringan paraganglionik
- Fakreomasitoma
- Kemodektoma (paraganglioma)
2. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan untuk semua tumor neurogenik adalah pembedahan, kecuali
neuroblastoma. Tumor ini radiosensitif sehingga pemberian kombinasi radio
kemoterapi akan memberikan hasil yang baik. Pada neurilemona (Schwannoma),
mungkin perlu diberikan kemoterapi adjuvan, untuk mencegah rekurensi.
D. Tumor Mesenkimal dan Tumor Endokrin
Tumor jenis ini jarang ditemukan sehingga penatalaksanaannya sangat spesifik.
Catatan : Pada semua tindakan debulking, tumor mediastinum harus disiapkan pemasangan
stent trakeobronkial, untuk mencegah terjadinya kolaps bronkus setelah pembedah selesai.
2.7.

Evaluasi Pengobatan10
Evaluasi efek samping kemoterapi dilakukan setiap akan memberikan siklus kemoterapi
berikut dan/atau setiap 5 fraksi radiasi (1000 cGy). Evaluasi untuk respons terapi dilakukan
setelah pemberian 2 siklus kemoterapi pada hari pertama siklus ke-3 atau setelah radiasi 10
fraksi (200cGy) dengan atau foto toraks. Jika ada respons sebagian partial response (PR) atau
stable disease (SD), kemoterapi dan radiasi masih dapat dilanjutkan. Pengobatan dihentikan
bila terjadi progressive disease (PD).

2.8.

Prognosis
Banyak faktor yang menentukan prognosis penderita timoma. Masaoka menghitung umur
tahan hidup 5 tahun berdasarkan staging penyakit, 92,6% untuk stage I, 85,7% untuk stage II,
69,6% untuk stage III dan 50% untuk stage IV.13 Bambang dkk mendapatkan faktor-faktor
yang bermakna mempengaruhi prognosis penderita timoma pascareseksi di RS. Persahabatan
yaitu staging, jenis tindakan, histopatologi dan reaksi myastenia. Dari 31 penderita timoma
yang dibedah di RS Persahabatan didapatkan umur tahan hidup (year survival) untuk tahun
pertama sebesar 58,44%, tahun kedua 43,29%, tahun ketiga sampai dengan tahun kelima
30,9%, sedangkan median survival adalah 16,2 bulan. Penderita dengan reaksi myastenia
mempunyai angka tahan hidup 5 tahun (74%) sedangkan yang tidak hanya mempunyai umur
tahan hidup 2 tahun (11,8%).14

13

BAB 3
LAPORAN KASUS
Status Pasien
Anamnese Pribadi
Nama

: Zainabun

Suku

:-

Umur

: 77 tahun

Agama

: Islam

Jenis Kelamin

: Perempuan

Alamat

: Jalan Selimakuta No.32 Pematang

Status Perkawinan

: Janda

Pekerjaan

: Pensiunan

Siantar
Tanggal Masuk: 10 April 2015

Anamnese Penyakit
Keluhan Utama

Sesak nafas

Keluhan Tambahan

Nyeri dada kanan

Telaah

Os mengalami sesak nafas (+) sejak 1 bulan ini, memberat dalam 1


minggu terakhir. DOE (+), PND (-), OP (+). Sesak napas disertai nyeri
seperti tertusuk di dada kanan sejak 1 bulan ini, VAS 3, durasi 2 menit,
frekuensi 2x1. Oleh karena kedua keluhan ini, os mengaku tidak dapat
tidur telentang dalam 1 bulan terakhir. Kaki bengkak (+) sejak 2 bulan ini.
Dijumpai lemah tungkai bagian kanan. Os memiliki riwayat hipertensi
sejak 5 tahun terakhir dan riwayat stroke 6 tahun yang lalu. Os memiliki
riwayat merokok dengan jumlah 1 bungkus per hari.

Riwayat Penyakit Terdahulu :

Hipertensi (+), DM (+), Hiperkolesterolemia (-), Stroke (+)

Riwayat Penggunaan Obat

Tidak jelas

Pemeriksaan Fisik Diagnostik


Status Presens
Keadaan Umum

Keadaan Penyakit

Sensorium

CM lemah

Dispnoe

: (+)

Tekanan Darah

140/90 mmHg

Anemia

: (-/-)

Nadi

106 x/i

Oedema

: (+/+) di kaki

Pernafasan

24 x/i

Sianosis

: (-/-)

Temperature

37C

Ikterus

: (-/-)

Keadaan Gizi

14

RBW = 50/ (1,61)2


= 19,29 kg/m2
Kesan : Normoweight

TB

= 161cm

BB

= 50kg

KU/KP/KG : Baik/Sedang/Normoweight

Status Lokalisata
Kepala
Mata

: Dalam batas normal

Telinga: Dalam batas normal


Hidung

: Dalam batas normal

Mulut

: Dalam batas normal

Leher
TVJ

: R+2 cmH2O

Pembesaran KG

: (-)

Toraks Depan
Inspeksi
Bentuk

: Simetris

Pergerakan

: Fusiformis

Palpasi
Lap. Paru Atas

: SF kiri > kanan

Lap. Paru Tengah

: SF kiri > kanan

Lap. Paru Bawah

: SF kiri > kanan

Perkusi
Lap. Paru atas

: sonor kiri dan kanan

Lap. Paru Tengah

: sonor kiri dan kanan

Lap. Paru Bawah

: sonor kiri dan kanan

Batas Paru Hati

: kosta 5 dan 6

Peranjakan

: (-)

Paru

Jantung
Batas Atas Jantung

: ICS II

Batas Kiri Jantung

: Linea Axillaris Anterior Sinistra

Batas Kanan Jantung : Linea Parasternal Dextra


Auskultasi

15

Lap. Paru

Kanan

Atas

SP

: Vesikuler melemah

SP

: Vesikuler

ST

: Wheezing (+)

ST

: Wheezing (+)

SP

: Vesikuler melemah

SP

: Vesikuler

ST

: Wheezing (+)

ST

: Wheezing (+)

SP

: Vesikuler melemah

SP

: Vesikuler

ST

: Wheezing (+)

ST

: Wheezing (+)

Tengah
Bawah

Kiri

Toraks Belakang
Inspeksi
Bentuk

: Simetris

Pergerakan

: Fusiformis

Palpasi
Lap. Paru Atas

: SF kiri > kanan

Lap. Paru Tengah

: SF kiri > kanan

Lap. Paru Bawah

: SF kiri > kanan

Perkusi
Lap. Paru Atas

: sonor kiri = kanan

Lap. Paru Tengah

: sonor kiri = kanan

Lap. Paru Bawah

: sonor kiri = kanan

Auskultasi
Lap. Paru

Kanan

Atas

SP

: Vesikuler melemah

SP

: Vesikuler

ST

: Wheezing (+)

ST

: Wheezing (+)

SP

: Vesikuler melemah

SP

: Vesikuler

ST

: Wheezing (+)

ST

: Wheezing (+)

SP

: Vesikuler melemah

SP

: Vesikuler

ST

: Wheezing (+)

ST

: Wheezing (+)

Tengah
Bawah

Kiri

Abdomen
Hepar/Lien/Renal

: tidak teraba

Anggota gerak atas/bawah

: akral hangat, oedema pada kedua-dua kaki

Pemeriksaan Penunjang
Foto Toraks

16

Kesan :
-

Sinus costophrenicus kanan lancip, dan

sisi kiri tertutup oleh LV


Diafragma kanan licin dan sisi kiri

tertutup oleh LV
Tampak konsolidasi homogen di lapangan

paru bagian medial kanan


Tampak infiltrat di kedua lapangan paru

(kanan>kiri)
CTR > 50% (Kardiomegali, LVH) dengan

aorta elongasi
Trakea di tengah
Tulang-tulang dan soft tissue baik

Differential Diagnosis

: Susp. Tumor mediastinum + HTN Stage I+Post stroke


Susp. Tumor paru kanan+HTN Stage I+Post Stroke

Medikamentosa

: O2 2-3 L/I nasal kanul


IVFD NaCl 0,9% 20 gtt/i
Inj.Ceftriaxone 1 g/12 jam
Inj.Ketorolac 30 mg/8 jam
Inj. Furosemid 20mg/12 jam
Valsartan 1x80mg
Neb.Combivent 2,5 mg/8 jam
Neb.Pulmicort 1 mg/8 jam

Rencana Penjajakan Diagnostik

: USG Abdomen, Spirometri, CT Scan Thorax

Hasil Pemeriksaan Lab


1. Darah Lengkap

: Hemoglobin 11,4 g%
Hematokrit 5,2 %
Leukosit

10,81 x 103/mm3

Trombosit

325 x 103/mm3

Hitung Jenis 63/26/9/4/1 (N)37-80/(L)20-40/(M)2-8/(E)1-6/(B)0-1)


2. Elektrolit

: Na/K/Cl 141/3,7/110 mEq/L (N: 135-155/3,6-5,5/96-106)

3. RFT

: Ureum 82,83 mg/dL (N: <71 mg/dL)


Kreatinin 2,28 mg/dL (N: 0,50-0,90 mg/dL)

4. LFT

: LDH 36 U/L (N:240-480 U/L)

5. Faal Hemostatis

: D-dimer 814 ng/mL (N: <500 ng/mL)

6. Tumor Marker

: AFP (Alfa Feto Protein) 1,47 ng/mL (N: 0-15)


Beta-HCG Darah 7 mIU/mL
Neuron Spesific Enolase (NSE) 22.19 ng/mL (N: 15.7 17.0 ng/mL)

7. Enzim Jantung

: CK-MB 14 U/L (N: 7-25 U/L)

8. KGD ad. Random : Glukosa Darah (sewaktu) 114,00 mg/dL (N: <200 mg/dL)
9. AGDA

: pH 7,410 (N: 7,35-7,45)


pCO2 28,1 mmHg (N: 38-42)
pO2 161,4 mmHg (N: 85-100)
Total CO2 18,2 mmol/L (N: 19-25)

Bikarbonat (HCO3) 17,4 mmol/L (N: 22-26)


Kelebihan basa (BE) -6,2 mmol/L (N: (-2) (+2))
Saturasi O2 99,4% (N: 95-100)
Kesan : Alkalosis repiratorik dengan kompensasi penuh
10. Kultur Sputum (-)
Hasil Biakan
11. Kultur Cairan Pleura (-)
Hasil Biakan

FOLLOW UP PASIEN
Tanggal
S
10/04/2015 Sesak nafas (+)
Nyeri dada kanan

O
Sensorium : CM lemah

A
Susp. Tumor

O2 2-3 L/i

TD : 80/60 mmHg

Mediastinum

IVFD NaCl 0,9% 20 gtt/i

Inj Ceftriaxon 1 g/12 jam IV (H1)

Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam IV

Inj. Ranitidine 50 g/12 jam IV

Neb. Combivent 2,5 g/8 jam

R/ USG abdomen, Spirometri, CT

HR : 58 x/i
RR : 24 x/i
T : 360C
SP : vesikuler melemah di lap.atas-tengah
ST : wheezing (+/+) ronkhi (-)

11/04/2015 Sesak nafas (+)


Nyeri dada kanan

Sensorium : CM lemah

Susp. Tumor

Scan thorax
O2 2-3 L/i

TD : 90/60 mmHg

Mediastinum

IVFD NaCl 0,9% 20 gtt/i

Inj Ceftriaxon 1 g/12 jam IV (H2)

Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam IV

Inj. Ranitidine 50 g/12 jam IV

Neb. Combivent 2,5 g/8 jam

HR : 60 x/i
RR : 24 x/i
T : 370C
SP : vesikuler melemah di lap.atas-tengah
ST : wheezing (+/+) ronkhi (-)

12/04/2015 Sesak nafas (+)


Nyeri dada kanan

Sensorium : CM lemah

Susp. Tumor

O2 2-3 L/i

TD : 80/60 mmHg

Mediastinum

IVFD NaCl 0,9% 20 gtt/i

Inj Ceftriaxon 1 g/12 jam IV (H3)

Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam IV

Inj. Ranitidine 50 g/12 jam IV

Inj. Dexamethason 5 mg/8 jam IV

HR : 62 x/i
RR : 24 x/i
T : 370C
SP : ekspirasi memanjang
ST : wheezing (+/+) ronkhi (-)

(H1)

14/04/2015 Sesak nafas (+)


berkurang
Nyeri dada kanan

Neb. Combivent 2,5 g/8 jam

Neb. Pulmicort 10 g/8 jam

Sensorium : CM lemah

PPOK Eksaserbasi

R/ Konsul PPOK
O2 2-3 L/i

TD : 80/60 mmHg

+ Susp. Tumor

IVFD NaCl 0,9% 20 gtt/i

HR : 58 x/i

Mediastinum

Inj Ceftriaxon 1 g/12 jam IV (H4)

Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam IV

Inj. Ranitidine 50 g/12 jam IV

Inj. Dexamethason 5 mg/8 jam IV

RR : 22 x/i
SaO2 : 98%
T : 360C
SP : ekspirasi memanjang

(H2)

ST : wheezing (+/+) ronkhi (-)

Neb. Combivent 2,5 g/8 jam

Neb. Pulmicort 1 g/8 jam

15/04/2015 Sesak nafas (+)


Nyeri dada kanan

Sensorium : CM lemah

PPOK Eksaserbasi

O2 2-3 L/i

TD : 100/60 mmHg

+ Susp. Tumor

IVFD NaCl 0,9% 20 gtt/i

HR : 78 x/i

Mediastinum

Inj Ceftriaxon 1 g/12 jam IV (H5)

Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam IV

Inj. Ranitidine 50 g/12 jam IV

Inj. Dexamethason 5 mg/8 jam IV

RR : 24 x/i
SaO2 : 96%
T : 35,40C
SP : ekspirasi memanjang

(H3)

ST : wheezing (+/+) ronkhi (-)

16/04/2015 Sesak nafas (+)


Nyeri dada kanan

Neb. Combivent 2,5 g/8 jam

Sensorium : CM lemah

PPOK Eksaserbasi

Neb. Pulmicort 1 g/8 jam


O2 2-3 L/i

TD : 110/70 mmHg

+ Susp. Tumor

IVFD NaCl 0,9% 20 gtt/i

HR : 68 x/i

Mediastinum

Inj Ceftriaxon 1 g/12 jam IV (H6)

Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam IV

Inj. Ranitidine 50 g/12 jam IV

Inj. Dexamethason 5 mg/8 jam IV

RR : 28 x/i
T : 36,70C
SP : ekspirasi memanjang
ST : wheezing (+/+) ronkhi (-)

(H4)

Inj. Cefotaxim 1 g/8 jam IV (H1)

Neb. Combivent 2,5 g/8 jam

Neb. Pulmicort 1 g/8 jam

17/04/2015 Sesak nafas (+)


Nyeri dada kanan

Sensorium : CM lemah

PPOK Eksaserbasi

O2 2-3 L/i

TD : 110/70 mmHg

+ Susp. Tumor

IVFD NaCl 0,9% 20 gtt/i

HR : 68 x/i

Mediastinum

Inj Ceftriaxon 1 g/12 jam IV (H7)

Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam IV

Inj. Ranitidine 50 g/12 jam IV

Inj. Dexamethason 5 mg/8 jam IV

RR : 28 x/i
T : 36,70C
SP : ekspirasi memanjang
ST : wheezing (+/+) ronkhi (-)

(H5)

Inj. Cefotaxim 1 g/8 jam IV (H2)

Neb. Combivent 2,5 g/8 jam

Neb. Pulmicort 1 g/8 jam

BAB 4
KESIMPULAN

Zubaidah, 77 tahun, dengan keluhan sesak napas sejak Maret 2015 dan memberat sejak 1
minggu terakhir, disertai nyeri dada kanan sejak 1 bulan ini. Berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang lainnya, pasien tersebut didiagnosis dengan
Susp.Tumor Mediastinum + HTN Stage I + Post Stroke .

DAFTAR PUSTAKA
1. Light, R.W. Mediastinal and Pleural Disorders. In: The Merck Manual Of Diagnosis and
Therapy. Porter, R.S., and Kaplan, J.L. 19 th edition. Whitehouse Station, NJ. 2011.p.19934.
2. Busroh ID. Tumor Mediastinum: tata laksana dan beberapa data. PIT IKABI, Jogjakarta,
4-6 Juli 1991.h. 1-14.
3. Hudoyo A, Danna S, Siregar CA, Jusuf A, Yudanarso D. Tumor mediastinum di RSUP
Persahabatan (1988-1992). Recent Advances in Respiratory Medicine Simposia.
Konverensi Kerja Nasional VII PDPI. Bandung, 1995.
4. Bacha EA, Chapelier AR, Macchiarini P, Fadel E, Dartevelle PG. Surgery for invasive
mediastinal tumors. Ann Thorac Surg 1998; 66(1): 234-9.
5. Temes R, Chavez T, Mapel D, Ketai L, Crowell R, Key C, et al. Primary mediastinal
malignancies: finding in 219 patients. West J Med 1999; 170(3): 161-6.
6. Whooley BP, Urschel JD, Antkowiak JG, Takita H. Primary tumors of the mediastinum. J
Surg Oncol 1999; 70(2): 95-9.
7. Marshal. Jenis dan distribusi massa mediastinum serta permasalahan operasinya di RS.
Persahabatan Jakarta. Tesis program studi ilmu bedah toraks kardiovaskuler Indonesia.
Jakarta, 2002.
8. Strollo DC. Primary mediastinal tumors. Part I. Tumor anterior mediastinum. Chest 1997;
112: 511-22.
9. Strollo DC, Rosado-dechristenson Ml, Jett JR. Primary mediastinal tumors. Part II. Tumor
of the middle and posterior mediastinum. Chest 1997; 112: 1344-57.
10. Tumor Mediastinum (Tumor Mediastinum Nonlimfoma) Pedoman Diagnosis &
Penatalaksanaan di Indonesia. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2003.
11. Juanpere, S., et al. A diagnosis approach to the mediastinal masses. In: Insight Imaging
(2013) 4:29-52. DOI 10.1007/s13244-012-0201-0
12. Marino M, Muller-Hermelink HK. Thymoma and thymic carcinoma: relation of thymoma
epithelial cells to the cortical and meddulary differentiation of thymus. Virchows archive.
A Pathological Anatomy and Histology 1985; 407(2): 119-49.
13. Masaoka A, Monden Y, Nakahara K, Tanioka T. Follow-up study oh thymomas with
special reference to their clinical stages. Cancer 1981; 48(11): 2485-92.

14. Bambang D. Pemantauan angka tahan hidup penderita timoma yang dibedah di RS.

Persahabatan dengan tinjauan atas faktor-faktor yang mempengaruhi. Tesis Bagian


Pulmonologi FKUI, Jakarta. 2000.