Anda di halaman 1dari 18

TINJAUAN PUSTAKA

FISIOLOGI LAKTASI
Pada masa hamil, terjadi perubahan pada payudara, dimana ukuran payudara bertambah
besar. Untuk mempersiapkan payudara agar pada waktunya dapat memberikan ASI, estrogen
akan mempersiapkan kelenjar dari saluran ASI dalam bentuk poliferasi, deposit lemak, air dan
elektrolit, jaringan ikat semakin banyak dan miopitel di sekitar kelenjar mammae semakin
membesar.sedangkan progesterone meningkat kematangan kelenjar mammae dengan hormone
lain. Bersamaan dengan membesaranya kehamilan perkembangan dan persiapan untuk
memberikan ASI semakin tampak, payudara semakin membesar, puting susu semakin menonjol
pembuluh darah semakin tampak, dan areola mammae makin hitam. Pada kehamilan lima bulan
lebih, kadang-kadang dari ujung putting mulai keluar cairan yang disebut kolostrum. Sekresi
cairan tersebut karena pengaruh hormone laktogen dari plasenta dan hormone prolaktin dari
kelenjar hipofise. Produksi cairan tidak berlebihan karena meski selama hamil kadar prolaktin
cukup tinggi pengaruhnya di hambat oleh estrogen. Setelah partus, pengaruh penekanan dari
estrogen dan progesterone terhadap hipofisis hilang. Timbul pengaruh hormon - hormon hipofisis
kembali, antara lain lactogenic hormone. (prolaktin) yang akan dihasilkan pula. Mamma yang
telah dipersiapkan pada masa hamil terpengaruhi, dengan akibat kelenjar-kelenjar susu
berkontraksi, sehingga pengeluaran air susu dilaksanakan. Pada seorang wanita menyusui
( laktasi ) kedua dan selanjutnya cenderung lebih baik dari pada yang pertama, menunjukan
bahwa seperti halnya pada semua fungsi reproduksi, di perlukan trial runs ( latihan) sebelum
mencapai kemampuan yang optimal. Pada umumnya wanita yang lebih muda kemampuanya
lebih baik dari pada yang tua.

A. PENGERTIAN LAKTASI
Laktasi adalah suatu proses produksi, sekresi, dan pengeluaran ASI yang membutuhkan
calon ibu yang siap secara psikologi dan fisik, kemudian bayi yang telah cukup sehat untuk
menyusu, serta produksi ASI yang telah disesuaikan dengan kebutuhan bayi, dimana volume ASI
500-800 ml/hari. Ketika bayi menghisap payudara, hormon yang bernama oksitosin membuat
ASI mengalira dari dalam alveoli melalui saluran susu menuju ke reservoir susu yang berlokasi
dibelakang aerola lalu ke dalam mulut bayi. Pengaruh hormonal bekerja melalui dari bulan

ketiga kehamilan dimana tubuh wanita memproduksi hormon yang menstimulasi munculnya ASI
dalam sistem payudara. ASI adalah suatu emulsi lemak dalamlarutan protein, laktosa, dan garamgaram organik yang disekresikan oleh kedua belah kelenjar payudara ibu, sebagai makanan
utama bagi bayi. Perawatan payudara dimulai dari kehamilan bulan 7-8 memegang peran penting
dalam menentukan berhasilnya menyusui bayi. Dengan perawatan payudara yang baik, ibu tidak
perlu khawatir bentuk payudaranya akan cepat berubah sehingga kurang menarik dan puting
tidak akn lecet sewaktu dihisap bayi.
B. HORMON YANG MEMPENGARUHI LAKTASI
Hormon-hormon yang mempengaruhi pembentukan ASI adalah Sebagai berikut : Mulai dari
bulan ketiga kehamilan, tubuh wanita memproduksi hormon yang menstimulasi munculnya ASI
dalam sistem payudara:
1. Progesteron: mempengaruhi pertumbuhan dan ukuran alveoli. Tingkat progesteron dan
estrogen menurun sesaat setelah melahirkan. Hal ini menstimulasi produksi secara besar-besaran.
2. Estrogen: menstimulasi sistem saluran ASI untuk membesar. Tingkat estrogen menurun saat
melahirkan dan tetap rendah untuk beberapa bulan selama tetap menyusui[9]. Karena itu,
sebaiknya ibu menyusui menghindari KB hormonal berbasis hormon estrogen, karena dapat
mengurangi jumlah produksi ASI. Follicle stimulating hormone (FSH). Luteinizing hormone
(LH)
3. Prolaktin: berperan dalam membesarnya alveoil dalam kehamilan. Prolaktin merupakan suatu
hormon yang disekresi oleh glandula pituitari. Hormon ini memiliki peran penting untuk
memproduksi ASI, dan meningkat selama kehamilan. Peristiwa lepas atau keluarnya plasenta
pada ahir proses persalinan akan membuat kadar estrogen dan progesteron berangsur-angsur
menurun sampai tingkat dapat dilepaskan dan diaktifkanya prolaktin. Peningkatan prolaktin akan
menghambat ovulasi. Kadar paling tinggi adalah ada malam hari dan penghentian pertama
pemberian air susu dilakukan pada malam hari.
4. Oksitosin: mengencangkan otot halus dalam rahim pada saat melahirkan dan setelahnya,
seperti halnya juga dalam orgasme. Setelah melahirkan, oksitosin juga mengencangkan otot
halus di sekitar alveoli untuk memeras ASI menuju saluran susu. Oksitosin berperan dalam
proses turunnya susu let-down / milk ejection reflex.

5. Human placental lactogen (HPL): Sejak bulan kedua kehamilan, plasenta mengeluarkan
banyak HPL, yang berperan dalam pertumbuhan payudara, puting, dan areola sebelum
melahirkan.Pada bulan kelima dan keenam kehamilan, payudara siap memproduksi ASI. Namun,
ASI bisa juga diproduksi tanpa kehamilan (induced lactation).
C. SIKLUS LAKTASI
1. Laktogenesis stadium 1 ( kehamilan ) : penambahan dan pembesaran lobulus alveolus.
2. Laktogenesis stadium 2 ( ahir kehamilan 2-3 hari postpartum ) : produksi ASI
3. Laktogenesis stadium 3 ( galaktopoeisis ) : mulai 40 hari setelah berhenti menyusui.
D. PROSES PEMBENTUKAN LAKTOGENESIS
Laktogenesis I :Pada fase terakhir kehamilan, payudara wanita memasuki fase Laktogenesis I.
Saat itu payudara memproduksi kolostrum, yaitu berupa cairan kental yang kekuningan. Pada
saat itu, tingkat progesteron yang tinggi mencegah produksi ASI sebenarnya. Tetapi bukan
merupakan masalah medis apabila ibu hamil mengeluarkan (bocor) kolostrum sebelum lahirnya
bayi, dan hal ini juga bukan indikasi sedikit atau banyaknya produksi ASI sebenarnya nanti.
Laktogenesis II:Saat melahirkan, keluarnya plasenta menyebabkan turunnya tingkat hormon
progesteron, estrogen, dan HPL secara tiba-tiba, namun hormon prolaktin tetap tinggi. Hal ini
menyebabkan produksi ASI besar-besaran yang dikenal dengan fase Laktogenesis II.Apabila
payudara dirangsang, level prolaktin dalam darah meningkat, memuncak dalam periode 45
menit, dan kemudian kembali ke level sebelum rangsangan tiga jam kemudian. Keluarnya
hormon prolaktin menstimulasi sel di dalam alveoli untuk memproduksi ASI, dan hormon ini
juga keluar dalam ASI itu sendiri. Penelitian mengindikasikan bahwa level prolaktin dalam susu
lebih tinggi apabila produksi ASI lebih banyak, yaitu sekitar pukul 2 pagi hingga 6 pagi, namun
level prolaktin rendah saat payudara terasa penuh.Hormon lainnya, seperti insulin, tiroksin, dan
kortisol, juga terdapat dalam proses ini, namun peran hormon tersebut belum diketahui. Penanda
biokimiawi mengindikasikan bahwa proses laktogenesis II dimulai sekitar 30-40 jam setelah
melahirkan, tetapi biasanya para ibu baru merasakan payudara penuh sekitar 50-73 jam (2-3 hari)
setelah melahirkan. Artinya, memang produksi ASI sebenarnya tidak langsung setelah
melahirkan.Kolostrum dikonsumsi bayi sebelum ASI sebenarnya. Kolostrum mengandung sel

darah putih dan antibodi yang tinggi daripada ASI sebenarnya, khususnya tinggi dalam level
immunoglobulin A (IgA), yang membantu melapisi usus bayi yang masih rentan dan mencegah
kuman memasuki bayi. IgA ini juga mencegah alergi makanan . Dalam dua minggu pertama
setelah melahirkan, kolostrum pelan pelan hilang dan tergantikan oleh ASI sebenarnya.
Laktogeneses III :Sistem kontrol hormon endokrin mengatur produksi ASI selama kehamilan
dan beberapa hari pertama setelah melahirkan. Ketika produksi ASI mulai stabil, sistem kontrol
autokrin dimulai. Fase ini dinamakan Laktogenesis III. Pada tahap ini, apabila ASI banyak
dikeluarkan, payudara akan memproduksi ASI dengan banyak pula. Penelitian berkesimpulan
bahwa apabila payudara dikosongkan secara menyeluruh juga akan meningkatkan taraf produksi
ASI. Dengan demikian, produksi ASI sangat dipengaruhi seberapa sering dan seberapa baik bayi
menghisap, dan juga seberapa sering payudara dikosongkan.
E. REFLEK LAKTASI
Pada proses laktasi terdapat dua reflek yang berperan, yaitu refleks prolaktin dan reflek saliran
yang timbul akibat perangsangan puting susu dikarenakan isapan bayi.
1. Refleks prolaktin
2. Refleks saliran (let down reflek)
Reflek-reflek Menyusui pada Ibu dan Bayi
Pada saat menyusui akan terjadi beberapa refleks pada ibu an bayi yang penting pengaruhnya
terhadap kelancaran menyusui. Refelks yang terjadi pada ibu yaitu rangsangan yang terjadi
sewaktu bayi menghisap puting susu diantaranya:
1. REFLEKS PROLAKTIN
Refleks prolaktin : (rangsangan ke otak untuk mengeluarkan hormon prolaktin), hormon ini akan
merangsang sel-sel kelenjar payudara untuk memproduksi ASI. makin sering bayi menghisap,
makinbanyak prolaktin yang lepas makin banyak pula ASI yang diproduksi. maka cara yang
terbaik mendapatkan ASI dalam jumlah banyak adalah menyusui bayi sesering mungkin atau
setidaknya menempelkan putting susu ibu pada mulut bayi untuk bisa dihisap bayinya.
Pascapersalinan, yaitu saat lepasnya plasenta dan berkurangnya fungsi korpusluteum maka
estrogen dan progesterone juga berkurang. Hisapan bayi akan merangsang puting susu dan

kalang payudara, karena ujung-ujung saraf sensoris yang berfungsi sebagai reseptor mekanik.
Rangsangan ini dilanjutkan ke hipotalamus melalui medulla spinalis hipotalamus dan akan
menekan pengeluaran factor penghambat sekresi prolactin dan sebaliknya merangsang
pengeluaran factor pemicusekresi prolaktin akan merangsang hipofise anterior sehingga keluar
prolaktin. Hormon ini merangsang sel-sel alveoli yang berfungsi untuk membuat air susu.
Kadar prolaktin pada ibu menyusui akan menjadi normal 3 bulan setelah melahirkan sampai
penyapihan anak dan pada saat tersebut tidak akan ada peningkatan prolaktin walau ada isapan
bayi, namun pengeluaran air susu tetap berlangsung.
Pada ibu nifas yang tidak menyusui, kadar prolaktin akan menjadi normal pada minggu ke 2 3.
Sedangkan pada ibu menyusui prolaktin akan meningkat dalam keadaan seperti : stress atau
pengaruh psikis, anastesi, operasi dan rangsangan puting susu.
2. REFLEKS ALIRAN (ALIRAN (LET DOWN REFLEK)
Bersamaan dengan pembentukan prolaktin oleh hipofise anterior, rangsangan yang berasal dari
isapan bayi dilanjutkan kehipofise posterior (neurohipofise) yang kemudian dikeluarkan
oksitosin.
Melalui aliran darah, hormon ini menuju uterus sehingga menimbulkan kontraksi. Kontraksi dari
selakan memeras air susu yang telah terbuat, keluar dari alveoli dan masuk kesistem duktus dan
selanjutnya mengalir melalui duktus lactiferus masuk kemulut bayi.
Faktor-faktor yang meningkatkan let down adalah : melihat bayi, mendengarkan suara bayi,
mencium bayi, memikirkan untuk menyusui bayi.
Faktor-faktor yang menghambat reflek let down adalah stress, seperti: keadaan bingung/ pikiran
kacau, takut dan cemas.
Refleks Oksitosin
Refleks oksitosin : (rangsangan ke otak untuk mengeluarkan hormon oksitosin), hormon ini akan
memacu sel-sel otot yang mengelilingi jaringan kelenjar susu dan saluranya unutk berkontraksi,
sehingga memeras air susu keluar menuju putting susu. Ibu perlu mewaspadai bahwa tekanan
karena kontraksi otot ini kadang-kadang begitu kuat sehingga air susu keluar dari putting
menyembur, ini bisa membuat bayi tersedak. Refleks oksitosin dipengaruhi oleh pikiran,
perasaan, dan sensasi ibu. biasanya perasaan ibu bisa merangsang pengeluaran ASI secara

refleks, tetapi kadang-kadang juga menghambatnya. Perasaan yang bisa menghentikan refleks
oksitosin misalnya, khawatir, sedih, atau takut akan sesuatu. ibu kesakitan pada saat menyusui
atau merasa malu. Refleks ini bisa muncul pada saat sang ibu mendengar bayinya menangis,
melihat foto bayinya atau sedang teringat pada bayinya berada jauh. Manfaaat refleks oksitosin
lainya adalah membantu lepasnya plasenta dari rahim ibu dan menghentikan perdarahan
persalinan.
Pengeluaran ASI (Oksitosin)
Apabila bayi disusui, maka gerakan menghisap yang berirama akan menghasilkan rangsangan
saraf yang terdapat pada glandulapituitaria posterior, sehingga keluar hormon oksitosin. Hal ini
menyebabkan sel-selmiopitel di sekitar alveoli akan berkontraksi dan mendorong ASI masuk
dalam pembuluh ampula. Pengeluaran oksitosin selain dipengaruhi oleh isapan bayi, juga oleh
reseptor yang terletak pada duktus. Bila duktus melebar, maka secara reflektoris oksitosin
dikeluarkan oleh hipofisis.
Refleks yang penting dalam mekanisme hisapan bayi
1. Refleks menangkap (rooting refleks)
2. Refleks menghisap (Sucking Refleks)
3. Refleks menelan (Swallowing Refleks)
1. RefleksMenangkap (Rooting Refleks)
Timbul saat bayi baru lahir tersentuh pipinya, dan bayi akan menoleh kearah sentuhan. Bibir bayi
dirangsang dengan papilla mamae, maka bayi akan membuka mulut dan berusaha menangkap
puting susu.
2. RefleksMenghisap (Sucking Refleks)
Refleks ini timbul apabila langit-langit mulut bayi tersentuh oleh puting. Agar puting mencapai
palatum, maka sebagian besar areola masuk kedalam mulut bayi. Dengan demikian sinus
laktiferus yang berada di bawah areola, tertekan antara gusi, lidah dan palatum sehingga ASI
keluar.

3. RefleksMenelan (Swallowing Refleks)


Refleks ini timbul apabila mulut bayi terisi oleh ASI, maka ia akan menelannya.
F. PROSES PRODUKSI AIR SUSU
1. Saat bayi menghisap, sejumlah sel saraf di payudara ibu mengirim pesan ke hipotalamus.
2. Ketika menerima pesan itu, hipotalasmus melepas rem proklaktin.
3. Untuk memulai menghasilkan ASI, prolaktin yang dihasilkan kelenjar pituitari merangsang
kelenjar-kelenjar susu di payudara.
G. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI ASI
Produksi ASI dapat meningkat atau menurun tergantung pada stimulasi pada kelenjar payudara
terutama pada minggu pertama laktasi.
1. Frekuensi Penyusuan
Pada studi 32 ibu dengan bayi prematur disimpulkan bahwa produksi ASI akan optimal dengan
pemompaan ASI lebih dari 5 kali per hari selama bulan pertama setelah melahirkan. Pemompaan
dilakukan karena bayi prematur belum dapat menyusu (Hopkinson et al, 1988 dalam ACC/SCN,
1991). Studi lain yang dilakukan pada ibu dengan bayi cukup bulan menunjukkan bahwa
frekuensi penyusuan 10 3 kali perhari selama 2 minggu pertama setelah melahirkan
berhubungan dengan produksi ASI yang cukup (de Carvalho, et al, 1982 dalam ACC/SCN,
1991). Berdasarkan hal ini direkomendasikan penyusuan paling sedikit 8 kali perhari pada
periode awal setelah melahirkan. Frekuensi penyusuan ini berkaitan dengan kemampuan
stimulasi hormon dalam kelenjar payudara.
2. Berat Lahir
Prentice (1984) mengamati hubungan berat lahir bayi dengan volume ASI. Hal ini berkaitan
dengan kekuatan untuk mengisap, frekuensi, dan lama penyusuan dibanding bayi yang lebih
besar. Berat bayi pada hari kedua dan usia 1 bulan sangat erat berhubungan dengan kekuatan
mengisap yang mengakibatkan perbedaan intik yang besar dibanding bayi yang mendapat

formula. De Carvalho (1982) menemukan hubungan positif berat lahir bayi dengan frekuensi dan
lama menyusui selama 14hari pertama setelah lahir.
Bayi berat lahir rendah (BBLR) mempunyai kemampuan mengisap ASI yang lebih rendah
dibanding bayi yang berat lahir normal (> 2500 gr). Kemampuan mengisap ASI yang lebih
rendah ini meliputi frekuensi dan lama penyusuan yang lebih rendah dibanding bayi berat lahir
normal yang akan mempengaruhi stimulasi hormon prolaktin dan oksitosin dalam memproduksi
ASI.
3. Umur Kehamilan saat Melahirkan
Umur kehamilan dan berat lahir mempengaruhi intik ASI. Hal ini disebabkan bayi yang lahir
prematur (umur kehamilan kurang dari 34 minggu) sangat lemah dan tidak mampu mengisap
secara efektif sehingga produksi ASI lebih rendah daripada bayi yang lahir tidak prematur.
Lemahnya kemampuan mengisap pada bayi prematur dapat disebabkan berat badan yang rendah
dan belum sempurnanya fungsi organ.
4. Stres dan Penyakit Akut
Ibu yang cemas dan stres dapat mengganggu laktasi sehingga mempengaruhi produksi ASI
karena menghambat pengeluaran ASI. Pengeluaran ASI akan berlangsung baik pada ibu yang
merasa rileks dan nyaman.. Penyakit infeksi baik yang kronik maupun akut yang mengganggu
proses laktasi dapat mempengaruhi produksi ASI.
5. Konsumsi Rokok
Merokok dapat mengurangi volume ASI karena akan mengganggu hormon prolaktin dan
oksitosin untuk produksi ASI. Merokok akan menstimulasi pelepasan adrenalin dimana adrenalin
akan menghambat pelepasan oksitosin. Studi Lyon,(1983); Matheson, (1989) menunjukkan
adanya hubungan antara merokok dan penyapihan dini meskipun volume ASI tidak diukur secara
langsung. Meskipun demikian pada studi ini dilaporkan bahwa prevalensi ibu perokok yang
masih menyusui 6 12 minggu setelah melahirkan lebih sedikit daripada ibu yang tidak perokok
dari kelompok sosial ekonomi sama, dan bayi dari ibu perokok mempunyai insiden sakit perut
yang lebih tinggi. Anderson et al (1982) mengemukakan bahwa ibu yang merokok lebih dari 15

batang rokok/hari mempunyai prolaktin 30-50% lebih rendah pada hari pertama dan hari ke 21
setelah melahirkan dibanding dengan yang tidak merokok.
6. Konsumsi Alkohol
Meskipun minuman alkohol dosis rendah disatu sisi dapat membuat ibu merasa lebih rileks
sehingga membantu proses pengeluaran ASI namun disisi lain etanol dapat menghambat
produksi oksitosin. Kontraksi rahim saat penyusuan merupakan indikator produksi oksitosin.
Pada dosis etanol 0,5-0,8 gr/kg berat badan ibu mengakibatkan kontraksi rahim hanya 62% dari
normal, dan dosis 0,9-1,1 gr/kg mengakibatkan kontraksi rahim 32% dari normal (Matheson,
1989).
7. Pil Kontrasepsi
Penggunaan pil kontrasepsi kombinasi estrogen dan progestin berkaitan dengan penurunan
volume dan durasi ASI (Koetsawang, 1987 dan Lonerdal, 1986 dalam ACC/SCN, 1991),
sebaliknya bila pil hanya mengandung progestin maka tidak ada dampak terhadap volume ASI
(WHO Task Force on Oral Contraceptives, 1988 dalam ACC/SCN, 1991). Berdasarkan hal ini
WHO merekomendasikan pil progestin untuk ibu menyusui yang menggunakan pil kontrasepsi.
Ada dua cara untuk mengukur produksi ASI yaitu penimbangan berat badan bayi sebelum dan
setelah menyusui; dan pengosongan payudara. Kurva berat badan bayi merupakan cara termudah
untuk menentukan cukup tidaknya produksi ASI (Packard, 1982). Dilihat dari sumber zat gizi
dalam ASI maka ada 3 sumber zat gizi dalam ASI yaitu : 1) disintesis dalam sel secretory
payudara dari precursor yang ada di plasma; 2) disintesis oleh sel-sel lainnya dalam payudara; 3)
ditransfer secaralangsung dari plasma ke ASI (Butte, 1988). Protein, karbohidrat, dan lemak
berasal dari sintesis dalam kelenjar payudara dan transfer dari plasma ke ASI, sedangkan vitamin
dan mineral berasal dari transfer plasma ke ASI. Semua fenomena fisiologi dan biokimia yang
mempengaruhi komposisi plasma dapat juga mempengaruhi komposisi ASI. Komposisi ASI
dapat dimodifikasi oleh hormon yang mempengaruhi sintesis dalam kelenjar payudara (Vaughan,
1999).
Aspek gizi ibu yang dapat berdampak terhadap komposisi ASI adalah intik pangan aktual,
cadangan gizi, dan gangguan dalam penggunaan zat gizi. Perubahan status gizi ibu yang
mengubah komposisi ASI dapat berdampak positif, netral, atau negatif terhadap bayi yang

disusui. Bila asupan gizi ibu berkurang tetapi kadar zat gizi dalam ASI dan volume ASI tidak
berubah maka zat gizi untuk sintesis ASI diambil dari cadangan ibu atau jaringan ibu. Komposisi
ASI tidak konstan dan beberapa faktor fisiologi dan faktor non fisiologi berperan secara
langsung dan tidak langsung. Faktor fisiologi meliputi umur penyusuan, waktu penyusuan, status
gizi ibu, penyakit akut, dan pil kontrasepsi. Faktor non fisiologi meliputi aspek lingkungan,
konsumsi rokok dan alkohol (Matheson, 1989).
H. KEUNGGULAN DAN MANFAAT ASI
ASI mengandung semua zat gizi yang diperlukan bayi dalam 4 6 bulan pertama kehidupan.
Keunggulan ASI dibanding susu formula adalah :
1. ASI praktis, ekonomis,dan hygienis.
2. Mengandung semua bahan / zat gizi yang diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan
bayi.
3. Dapat diberikan dimana aja dan kapan saja dalam keadaan segar, bebas bakteri dan suhu yang
sesuai,tanpa penggunaan alat bantu.
4. Bebas dari kesalahan dalam penyediaan / takaran.
5. Problem kesulitan pemberian makanan pada bayi jauh lebih sedikit daripadea bayi yang
mendapat susu formula buatan.
6. Mengandung imunoglobulin.
7. Mencegah terjadinya keadaan gizi salah.
a) Manfaat Asi Untuk Bayi
1. Nutrisi yang sesuai untuk bayi
2. Mengandung zat protektif
3. Mempunyai efek psikologis yang menguntungkan
4. Menyebabkan pertumbuhan yang baik
5. Mengurangi kejadian karies dentis

6. Mengurangi kejadian maloklusi


b) Manfaat Asi Untuk Ibu
1. Aspek kesehatan ibu
Isapan bayi pada payudara akan merangsang terbentuknya oksitosin oleh kelenjar
hipofisis.Oksitosin membantu involusi dan mencegah terjadinya perdarahan pasca persalinan
2. Aspek keluarga berencana
Menyusui secara murni(eksklusif) dapat menjarangkan kehamilan.Ditemukan rerata jarak
kelahiran ibu yang menyusui adalah 24 bulan,sedangkan yang tidak menyusui 11 bulan.
3. Aspek psikologi
Keuntungan menyusui bukan hanya bermanfaat untuk bayi,tetapi juga untuk ibu. Ibu akan
merasa bangga dan diperlukan,rasa yang dibutuhkan oleh semua manusia.
Manfaat Asi Untuk Keluarga
1. Aspek ekonomi
ASI tidak perlu beli,sehingga dana yang seharusnya digunakanunuk membeli susu formula dapat
digunakan untuk keperluan lain.
2. Aspek psikologi
Kebahagiaan keluarga bertambah,karena kelahiran lebih jarang,sehingga suasana kejiwaan ibu
baik dan dapat mendekatkan hubungan bayi dengan keluarga.
3. Aspek kemudahan
Menyusui sangat praktis,karena dapat diberikan dimana saja.keluarga tidak erlu repo
menyiapkan air masak,botol dan dot yang harus selalu di bersihkan.
c) Manfaat Asi Untuk Negara
1. Menurunkan angka kesakitan dan kematian anak

Adanya faktor protektif dan nutrien yang sesuai dalam ASI mnjamin status gizi bayi baik serta
kesakitan dan kematian menurun.
2. Mengurangi subsidi untuk rumah sakit
Subsidi untuk rumah sakit berkurang,karena rawat gabung akan meperpendek lama rawat inap
ibu dan bayi,serta mengurangi biaya yang di perlukan untuk perawatan anak sakit
3. Mengurangi devisa untuk membeli susu formula
Jika semua ibu menyusui,maka pengeluaran devisa yang seharusnya di pergunakan untuk
membeli susu formula dapat di tabung sebagai kekayaan nasional.
4. Meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa
Anak yang mendapat ASI dapat tumbuh kembang secara optimal, sehingga kulitas generasi
penerus bangsa akan terjamin.
d) Kerugian Air Susu Buatan/Formula
Air susu buatan/formula mempunyai beberapa kerugian yaitu:
1. pengenceran yang salah
Pengenceran yang salah dapat diartikan 2 hal yaitu melarutkan susu formula lebih encer dari
seharus nya atau lebih pekat dari seharus nya.keduanya akan menimbulkan masalah pada bayi
dan anak.penyebabnya adalah anturan yang tertera pada label kaleng susu formula tidak dapat di
mengerti oleh ibu-ibu.
2. kontaminasi mikroorganisme
Pembuatan susu formula di rumah tidak menjamin bebas dari kontaminasi mikroorganisme
patogen.
3. Menyebabkan alergi
Kejadian alergi susu sapi bukannya tidak jarang, prevalensinya dilaporkan antara 0,5 -1 %.
Tetapi tidak banyak petugas kesehatan yang menyadari.

4. Susu sapi dapat menyebabkan diare kronis


Ada dugaan bahwa diare akut dapat berlanjut menjadi kronis pada anak yang minum susu
sapi.Diduga kerusakan mukosa usus yang terjadi pada diare akut menyebabkan terjadinya akut
menyebabkan terjadinya diare kronis melalui mekanisme peningkatan absorsi antigen melalui
mukosa yang rusak yang selanjutnya terjadi sensitisasi terhadap protein susu sapi dan dan terjadi
enteropati yang akhirnya akan memperberat kerusakan mukosa.
5. Penggunaan susu formula dengan indikasi yang salah
Saat ini banyak susu formula yang beredar dipasaran.Ada diantaranya yang digunakan untuk
penyakit tertentu atau keadaan tertentu.
6. Tidak Mempunyai manfaat ASI
Dari uraian manfaat ASI di atas dapatlah dikatakan bahwa kekurangan lain dari susu formula
adalah, bahwa susu formula tidak mempunyai manfaat seperti halnya ASI.
Jadi air susu buatan / formula :
1. Nutriennya tidak sesempurna ASI
2. Tidak mengandungzat protektif
3. Mudah menimbulkan alergi
4. Lebih mudah menimbulkan karies dentis
5. Lebih mudah menimbulkan maloklusi
6. Kurang menimbulkan efek psikologis yang menguntungkan
7. Tidak merangsang involusi rahim
8. Tidak berefek men4jarangkan kehamilan
9. Tidak mengurangi insiden karsinoma mammae
10. Tidak praktis
11. Tidak ekonomis

12. Bagi negara menambahkan beban anggaran yang harus dikeluarkan untuk membeli susu
formula, biaya perawatan ibu dan anak.
I. PERSIAPAN LAKTASI SEJAK DINI
Persiapan menyusui perlu dilakukan seawal mungkin pada setiap wanita hamil dan para ibu
hendaknya mengetahui upaya-upaya yang seharusnya dilakukan untuk meningkatkan pemberian
ASI/ menyusui.
Klinik Antenatal Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam klinik Antenatal bagi ibu hamil adalah :
1. Gizi ibu hamil
Dari konsumsi zat gizi yang masuk kedalam tubuh serta cadangan yang ada pada wanita hamil
dan menyusui akan digunakan untuk aktivitas dan metabolisme tubuh ibu, dan proses
pembentukan ASI, nilai kalori serta zat gizi dari ASI itu sendiri.
2. Perilaku ibu hamil.
a. Kecukupan istirahat
Wanita hamil sebaiknya tidur minimal 8 jam sehari, kegiatan dan gerakannya sehari hari harus
memperhatikan perubahan fisik dan mental yang terjadi pada dirinya. Diantara waktu tersebut
harus adawaktu untuk istirahat (santai) guna melemaskan otot-otot.
b. Tidak merokok, minum alkohol, kopi, soda.
Termasuk menjauhi asap rokok dari orang lain.minuman kopi dan minuman soda dapat
mengurangi kemampuan usus untuk menyerap kalsium dan zat besi.
3. Obat-obatan
Pemakaian obat-obatan selama hamil hanya atas petunjuk bidan atau dokter, terutama menjelang
persalinan perlu diperhatikan, agar tidak berpengaruh terhadap laktasi.
4. keluhan lain
Adanya keluhan lain, misalnya sakit gigi /mulut, infeksi lainya.

5. Hygiene personal dan lingkungan.


Kebersihan diri dan pakaian yang nyaman perlu mendapat perhatian untuk menjaga kesehatan
.pilihlah pakaian yang longgar ,ringan dan mudah menyerap keringat.
6. Pendukung
Sebaiknya selama 3 bulan terakhir kehamilan, seorang ibu telah menentukan dokter yang akan
mengawasinya persalinan anaknya. Kerjasama antara tenaga penolong persalinan dan dokter
anak juga harus di bina.
J. PERAWATAN PAYUDARA
Demi keberhasilan menyusui, payudara memerlukan perawatan sejak dini secara teratur
.Perwatan selama kehamilan bertujuan agar selama menyusui kelak produksi asi cukup.tidak
terjadi kelainan pada payudara dan payudara tetap baik setelah menyusui. Pada umumnya wanita
dalam kehamilan 6-8 minggu akan mengalami pembesaran payudara,akan lebih
padat,kenyal,kencang,sakit dan tampak jelas di permukaan kulit adanya gambaran pembuluh
darah yang bertambah serta melebar. kelenjar Montgomery pada daerah areola tampak lebih
nyata dan menonjol. Perawatan Payudara antara lain :
1. Pemakaian BH yang tepat,sebaiknya ibu hamil harus memakai bra yang tepat dan ukuran yang
sesuai dapat menopang perkembangan payudara.
2. Latihan otot-otot yang menopang payudara.
3. Hygiene payudara
Kebersihan/hygiene payudara juga harus di perhatikan ,khususnya daerah papila dan aerola pada
saat mandi sebaiknya papila dan areola tidak di sabuni.untuk menghindari keadan kering dan
kaku akibat hilangnya lendir pelumas yang dihasilkan kelenjar Montgomery.Areola dan papila
yang kering akan memudahkan terjadinya lecet dan infeksi.

K. LANGKAH-LANGKAH MENYUSUI YANG BAIK DAN BENAR


Langkah-langkah menyusui yang baik dan benar meliputi hal-hal berikut :
1. Persiapan mental dan fisik ibu menyusui
Ibu yang akan menyusui harus dalam keadaan tenang. Bila perlu minum segelas air sebelum
menyusui. Hindari menyusui dalam keadaan lapar dan haus. Sediakan tempat dengan peralatan
yang diperlukan, seperti kursi dengan sandaran punggung dan sandaran tangan, bantal untuk
menopang tangan yang menggendong bayi.
2. Hygiene personal ibu menyusui
Sebelum menggendong bayi untuk menyusui, tangan harus dicuci bersih. Sebelum menyusui,
tekan daerah areola di antara telunjuk dan ibu jari sehingga keluar 2-3 tetes ASI, kemudian
dioleskan ke seluruh puting dan areola. Cara menyusui yang terbaikadalah bila ibu melepaskan
BH dari kedua payudara.
3. Menyusui bayi sesuai dengan permintaan bayi
Susukan bayi sesuai dengan kebutuhannya (on demand), jangan dijadwalkan. Biasanya
kebutuhan terpenuhi dengan menyusui tiap 2-3 jam sekali. Setiap kali menyusui, lakukanlah
pada kedua payudara kiri dan kanan secara bergantian, masing-masing sekitar 10 menit.
Mulailah dengan payudara sisi terakhir yang disusui sebelumnya.
4. Periksa ASI sampai payudara terasa kosong.
Setelah selesai menyusui, oleskan ASI lagi seperti awal menyusui tadi. Biarkan kering oleh udara
sebelum kembali memakai BH. Langkah ini berguna untuk mencegah lecet.
5. Membuat bayi bersendawa setelah menyusui harus selalu dilakukan, untuk mengeluarkan
udara dari lambung supaya bayi tidak kembung dan muntah. Bila terjadi keadaad lecet pada
puting dan atau sekitarnya, sebaiknya ibu tetep menyusui dengan mendahului pada puting yang
tidak lecet. Sebelum diisap, puting yang lecet dapat diolesi es untuk mengurangi rasa sakit. Yang
lebih penting dari kejadian ini adalah mencari penyebab lecet tersebut yang tentunya harus
dihindari.

Keadaan engorgement (payudara bengkak) yang sering terjadi pada payudara yang elastisitasnya
kurang. Untuk mengatasinya, kompres payudara dengan handuk hangat kira-kira 4-5 menit,
kemudian dilakukan masase dari tepi ke arah puting hingga ASI keluar. Setelah itu baru bayi
disusukan. Jangan berhenti menyusui dalam keadaan ini. Apabila bayi telah menyusu dengan
benar ,maka akan memperlihatkan tanda-tanda sebagai berikut :
1. Bayi tampak tenang Badan.
2. Bayi menempel pada perut ibu.
3. Mulut bayi terbuka lebar.
4. Dagu bayi menempel pada payudara ibu.
5. Sebagian areaola masuk kedalam mulut bayi,areola bawah lebih banyak masuk.
6. Bayi nampak menghisap dengan ritmen perlahan-lahan.
7. Puting susu tidak terasa nyeri.
8. Telinga dan lengan bayi terletak pada stu garis lurus.
9. Kepala bayi agak menengandah.

DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 2008. Manajemen Laktasi. Jakarta
Rochmawati, lusa. 2009. Fisiologi Laktasi. 2 Maret 2013. www. Lusa.web.id.
Marimbi, Hanum. 2011. Biologo Reproduksi. Nuha Medika
Marmi, S.ST.2011.Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas.Pustaka Pelajar.
Bote, 2009. ASI dan Laktasi . 2 Maret 2013. Betofilia.com.