Anda di halaman 1dari 18

Anatomi Pelvis

1.
2.
3.

Dua os coxae : os ilii, os ischii, dan os pubis


Os sacrum
Os coccyges
a.
b.

Os sacrum
Os coccyges

c.
d.
e.

Os inominatum (ilium, iscium, dan pubis)


Pelvis major (panggul besar, pelvis spurium)
Pelvis minor (panggul kecil, pelvis verum)
1)
2)
3)

6/12/15

Dua articulation sacroiliaca


Symphisis pubis
Articulation sacrococcygea

Adi Setiawan S.Kep

Pengertian
Fraktur
adalah
terputusnya
kontinuitas tulang yang ditandai oleh
rasanyeri,
pembengkakan,
deformitas,
gangguan
fungsi,
pemendekan, dan krepitasi.
Fraktur pelvis berhubungan dengan
injuri arteri mayor, saluran kemih
bagian
bawah,
uterus,
testis,
anorektal dinding abdomen, dan
tulang belakang.
6/12/15

Adi Setiawan S.Kep

Manifestasi Klinis
pembengkakan, deformitas serta perdarahan subkutan
sekitar panggul. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas
tulang yang ditandai oleh rasanyeri, pembengkakan,
deformitas, gangguan fungsi, pemendekan, dan
krepitasi.

Etiologi

Trauma langsung: benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur


pada tempat tersebut.
Trauma tidak langsung: bilamana titik tumpul benturan dengan
terjadinya fraktur berjauhan.
Proses penyakit: kanker dan riketsia.
Compresion force: klien yang melompat dari tempat ketinggian
dapat mengakibatkan fraktur kompresi tulang belakang.
Muscle (otot): akibat injuri/sakit terjadi regangan otot yang kuat
sehingga dapat menyebabkan fraktur (misal; elektrik shock dan
tetani).

6/12/15

Adi Setiawan S.Kep

Klasifikasi

Tile classification of pelvic injury


Kombinasi antara mekanisme injury dan stabilitas
Tipe A : stable pelvic fracture
Tipe A1 : pelvis intak.
Tipe A2 : nondisplaced pelvic fracture
Tipe A3 : fraktur jenis transverse pada sacrum dan coccygeus.
Pelvis intak.
Tipe B : rotationally unstable, vertically stable fractures
Tipe B1 : anterior-posterior kompresi injury. Pada tipe B1 merupaan
jenis fraktur open-book fraktur pelvis, yang terbagi dalam tiga
bagian :
Stage 1 : diastasis simfisis pubis <2,5cm
Tidak ada hubungan dengan pelvis bagian posterior
Stage 2: diastasis simfisis pubis >2,5cm
Unilateral injury pelvis bagian posterior
Stage 3 : diastasis simfisis pubis >2,5cm
Bilateral injury pelvis bagian posterior

6/12/15

Adi Setiawan S.Kep

Tipe B2 : lateral kompresi injury (ipsilateral). Terjadi fraktur rami


anterior. Bagian posterior hancur.
Tipe B3 : kompresi lateral (kontralateral). Pada anterior lesi
mayor biasanya berada pada sisi yang berlawanan dari sisi
posterior lesi, tetapi dapat terjadi fraktur di keempat rami. Efek
yang terjadi berupa hemipelvis pada rotasi anterior dan superior.
Injury tipe ini biasanya disebabkan oleh pukulan secara
lamgsung pada puncak iliac.
Tipe C : rotationally and vertically unstable fractures
Tipe C1 : ipsilateral anterior dan posterior injury
Tipe C2 : bilateral hemipelvic disruption
Tipe C3 : jenis fraktur pelvis mana saja yang berhubungan
dengan fraktur acetabular

6/12/15

Adi Setiawan S.Kep

Young and burgess classification


Mekanisme injury
Kompresi anteroposterior
Kompresi lateral
Vertical shear
Mekanisme gabungan / kombinasi

Bucholz classification
Bucholz classification ditentukan berdasarkan keparahan dari
injury pelvis posterior.
Tipe 1 : melibatkan injury pada bagian anterior dengan injury
pelvs posterior stabil atau intak.
Tipe 2 : melibatkan injury pelvis anterior yang berhubungan
dengan bagian yang berpindah dari sendi SacroIliaca; ligament
SacroIliaca posterior tetap intak.
Tipe 3 : melibatkan perpindahan lengkap dari sendi SacroIliaca
dengan dislokasi hemipelvis.

6/12/15

Young and burgess classification


Mekanisme injury
Kompresi anteroposterior
Kompresi lateral
Vertical shear
Mekanisme gabungan / kombinasi

Adi Setiawan S.Kep

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan radiologis:
Setiap penderita trauma panggul harus dilakukan
pemeriksaan radiologis dengan prioritas pemeriksaan
rongent posisi AP.
Pemeriksaan rongent posisi lain yaitu oblik, rotasi interna
dan eksterna bila keadaan umum memungkinkan.

Pemeriksaan urologis dan lainnya:

Kateterisasi
Ureterogram
Sistogram retrograd danpostvoiding
Pielogram intravena
Aspirasi diagnostik dengan lavase peritoneal

6/12/15

Adi Setiawan S.Kep

Penatalaksanaan

Tindakan operatif bila ditemukan kerusakan alat-alat dalam rongga


panggul
Stabilisasi fraktur panggul, misalnya:
Fraktur avulsi atau stabil diatasi dengan pengobatan konservatif
seperti istirahat, traksi, pelvic sling
Fraktur tidak stabil diatasi dengan fiksasi eksterna atau dengan
operasi

6/12/15

Adi Setiawan S.Kep

Berdasarkan klasifikasi Tile:


Fraktur Tipe A: istirahat ditempat tidur, traksi tungkai bawa,
hmenggunakan penopang (4-6 minggu)
Fraktur Tipe B:
Fraktur tipe openbook : <2.5cm, beristirahat ditempat tidur, kain
gendongan posterior atau korset, >2.5cm miring dan menekan ala
ossis ilii menggunakan fiksasi luar dengan pen pada kedua ala
ossis ilii.
Fraktur tipe closebook : Beristirahat ditempat tidur (6 minggu) tanpa
fiksasi apapun bisa dilakukan, akan tetapi bila ada perbedaan
panjang kaki >1.5cm atau terdapat deformitas pelvis reduksi
dengan menggunakan pen pada krista iliaka.
Fraktur Tipe C
dilakukan reduksi dengan traksi kerangka yang dikombinasikan
fiksator luar dan perlu istirahat ditempat tidur (10 minggu) Kalau
reduksi belum tercapai reduksi secara terbuka dan mengikatnya
dengan satu atau lebih plat kompresi dinamis.

6/12/15

Adi Setiawan S.Kep

Komplikasi
1.

2.

Komplikasi segera
a. Trombosis vena ilio femoral
b. Robekan kandung kemih
c. Robekan uretra
d. Trauma rektum dan vagina
e. Trauma pembuluh darah besar
f.
Trauma pada saraf
1) Lesi saraf skiatik
2) Lesi pleksus lumbosakralis
Komplikasi lanjut
a. Pembentukan tulang heterotrofik
b. Nekrosis avaskuler
c. Gangguan pergerakan sendi serta osteoartritis sekunder
d. Skoliosis kompensator

6/12/15

Adi Setiawan S.Kep

Diagnosa Keperawatan
Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri (biologi,
kimia, fisik, psikologis), kerusakan jaringan
Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan
kehilangan integritas struktur tulang, gangguan
metabolisme sel, kerusakan muskuloskletal dan
neuromuskuler, nyeri.
Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan
jaringan dan peningkatan paparan lingkungan,
prosedur infasif, pertahanan primer yang tidak
adekuat (kerusakan kulit, trauma jaringan)

6/12/15

Adi Setiawan S.Kep

6/12/15

Adi Setiawan S.Kep

6/12/15

Adi Setiawan S.Kep

6/12/15

Adi Setiawan S.Kep

6/12/15

Adi Setiawan S.Kep

6/12/15

Adi Setiawan S.Kep

6/12/15

Adi Setiawan S.Kep

6/12/15

Adi Setiawan S.Kep