Anda di halaman 1dari 10

Organisasi Kemasyarakatan (ORMAS) sebagai organisasi diakar rumput dan masyarakat

pada umumnya sering sekali menerima kebijakan pemerintah tanpa tahu alasannya dan
seolah-olah suara mereka tidak didengar lagi oleh para pemerintah selaku pembuat kebijakan.
Seharusnya kebijakan pemerintahan yang berupa kebijakan publik harus berpihak pada
kepentingan masyarakat. Permasalahan tersebut muncul karena ormas atau masyarakat pada
umumnya tidak mempunyai akses yang cukup untuk mendengarkan, mempertimbangkan dan
menyuarakan aspirasi mereka ketika formulasi sebuah kebijakan dibuat.
Padahal sesunguhnya cita-cita negara Republik Indonesia yang tertuang didalam alinea ke
empat pembukaan UUD 1945 yang menyatakan bahwa :Kemudian dari pada itu untuk
membentuk suatu pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa
Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan
umum, mencerdaskan kehidupan bangsa...
Berdasarkan pernyataan tersebut diatas, cita-cita berdirinya bangsa ini adalah memajukan
kesejahteraan masyarakat. Namun, kesejahteraan masyarakat tersebut tidak akan tercapai
tanpa adanya kemauan yang tulus dari pemerintah untuk meningkatkan partisipsi masyarakat
sejak perencanaan pembangunan itu sendiri.
Hak dan Kewajiban Ormas
Organisasi Kemasyarakatan (ORMAS) mempunyai hak dan kewajiban untuk mewujudkan
partisipasi mayarakat didalam proses perencanaan dan pengawasan pembangunan yang
dijamin oleh konstitusi. Apalagi kalau mengingat era demokrasi dewasa ini proses partisipasi
publik merupakan tolok ukur bagi pemerintah dalam pelaksanaan pemerintahan yang baik
(Good Governance). Kriteria kepemerintahan yang baik (Good Governance) adalah sebagai
berikut :
(i) Partisipasi, menunjuk pada keikutsertaan seluruh warga negara dalam pengambilan
keputusan;
(ii) Penegakan hukum atau peraturan, penegakan hukum harus diterapkan secara adil dan
tegas.;
(iii) Transparansi, seluruh proses pemerintahan dapat diakses dengan publik;
(iv) Responsif, lembaga pemerintah harus selalu tanggap terhadap kepentingan public;
(v) Konsensus, Pemerintah harus dapat menjembatani perbedaan kepentinggan demi
tercapainya konsensus antar kelompok.,
(vi) Keadilan, kesetaraan pelayanan bagi seluruh warga;
(vii) Efektifitas dan efisiensi, merujuk pada proses pemerintahan yang dapat mencapai tujuan
dan menggunakan dana seoptimal mungkin;
(viii) Akuntabel, seluruh proses pemerintah harus dapat dipertanggungjawabkan visi strategis
pemerintah.
Berdasarkan delapan (8) kriteria good governance tersebut diatas, maka dapat disimpulkan
bahwa partisipasi dan transparansi publik merupakan elemen yang penting bagi pencapaian
tujuan pembangunan dan demokratisasi nasional.
Maka peran ORMAS harus dapat membantu Pemerintah agar mampu melaksanakan
berbagai macam regulasi yang menjamin partisipasi masyarakat didalam pembangunan

mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan sampai dengan pengawasan. Regulasi tersebut
antara lain:
(i) Undang-undang No 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan menyampaikan pendapat dimuka
umum,
(ii) Undang-undang No 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang bersih dan bebas
dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme; dan
(iii) Undang-Undang No 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.
Apabila kita cermati partisipasi masyarakat sampai saat ini hanya menjadi formalisme belaka,
banyak input, keluhan, laporan dan lain sebagainya hanya bisa ditampung tanpa ada tindak
lanjut. Oleh karena peran ormas perlu ditingkatkan dalam memberikan masukan kepada
pemerintah agar ada proses aktualiasasi partisipasi masyarakat di dalam proses perencanaan
kebijakan publik.
Proses Perumusan Kebijakan Publik
Apabila kepentingan publik adalah sentral, makapemerintah selaku administrator publik
(eksekutif) harus profesional yang proaktif adalah mutlak, yaitu administrator yang selalu
berusaha meningkatkan responbilitas obyektif dan subyektif terhadap aspirasi masyarakat
didalam membuat kebijakan publik.
Selain itu didalam proses pembuatan kebijakan publik, administraror tidak boleh bersikap
hampa nilai (value free) tetapi harus sarat dengan nilai (value laden). Hal tersebut dapat
diartikan bahwa eksekutif dan legislatif harus lebih banyak memperhatikan kepentingan
publik, sehingga pengertian publik dalam pengambilan kebijakan publik menjadi lebih
bermakna. Oleh karena itu suatu kebijakan memuat tiga elemen yaitu:
(i) identifikasi dari tujuan yang ingin dicapai,
(ii) taktik atau strategi yang diarah untuk mencapai tujuan yang diinginkan;
(iii) penyediaan berbagai input untuk memungkinkan pelaksanaan secara nyata dari taktik
atau strategi yang mempunyai tujuan atau berorientasi pada kepentingan seluruh masyarakat.
Proses Perumusan Kebijakan Publik
Ada enam langkah dalam perumusan kebijakan publik ini, yaitu:
(1) Perumusan Masalah. Perumusan Kebijakan Publik itu harus dengan benar, hal ini kan
sangat membantu di dalam menentukan sifat proses kebijakannya
(2) Penyusunan agenda pemerintah, dengan skala prioritas.;
(3) Perumusan Usulan Kebijakan merupakan langkah yang ketiga dalam proses perumusan
kebijakan publik yaitu perumusan usulan-usulan kebijakan publik (policy proposals).;
(4) Pengesahan Kebijakan Public adalah suatu proses kolektif, pembuat keputusan bisa
sekaligus berfungsi sebagai pengesahan keputusan tersebut. Legitimasi (pengesahan) oleh
seseorang atau badan yang berwenang menjadi kebijakan (policy decision) yang sah
(legitimate;
(5) Pelaksanaan Kebijakan. Pemerintah bukan hanya dalam perumusan kebijakan publik saja,
tetapi juga mempunyai tugas dan kewajiban dalam pelaksanaan kebijakan publik tersebut
sehingga suatu kebijakan publik akan menjadi efektif bila dilaksanakan dan mempunyai
dampak positif bagi anggota-anggota masyarakat,

(6) Penilaian Kebijakan publik. Penilaian kebijakan adalah merupakan langkah terakhir dari
suatu proses kebijakan. Penilaian kebijakan dapat dilakukan pada fase perumusan masalah;
formulasi usulan kebijakan; implementasi; legitimasi kebijakan dan seterusnya.
Kesimpulan
Peran Organisasi Kemasyarakatan beserta masyarakat lainnya dalam pengambilan kebutuhan
kebijakan publik perlu terus ditingkatkan dan sesungguhnya sudah direspon oleh pemerintah
melalui serangkaian regulasi yang menjamin peran serta aktif masyarakat antara lain
diluncurkannya UU No. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
memberikan landasan bagi peran serta atau partisipasi aktif masyarakat di dalam perencanaan
pembangunan nasional.
Namun, di dalam implementasinya kebijakan tersebut dilapangan ditemukan banyak kendala
baik yang berasal dari masyarakat, partai politik, pemerintah maupun sistem perencanaan
pembangunan itu sendiri. Oleh peningkatan peranan Organisasi Kemasyarakatan (ORMAS)
untuk memperkuat aktualiasi peran serta masyarakat di dalam perencanaan pembangunan
harus terus digalakan dan diperbaiki secara komprehensif.

berdasarkan Pengalaman JARI dan CIFOR maka dapat dikumpulkan pelajaran


dan hikmah sebagai berikut:
Pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat masih bersifat kasuistis, jangka
pendek dan cenderung dilakukan oleh kelompok-kelompok kecil atau bahkan
perorangan.
Pengawasan masyarakat yang dilakukan kebanyakan mengarah kepada
pengawasan keuangan terutama bertujuan untuk melihat penyimpangan dalam
pembelanjaan. Sebagian yang lain melakukan pengawasan terhadap prosedur kerja
dan kebijakan pemerintahan.
Permasalahan utama yang dihadapi oleh masyarakat adalah:
Tidak adanya jalur dan mekanisme yang efektif termasuk ketiadaan panduan
resmi bagi masyarakat dalam melakukan pengawasan (pencarian data, dan
penyampaian hasil pengawasan)
Sulit untuk mendapatkan data dan informasi. Walaupun peraturan perundangan
mewajibkan pemerintah untuk terbuka, juga memberikan hak pada masyarakat
untuk mendapatkan data dan informasi, tetapi hal tersebut tidak sepenuhnya terjadi
dalam kenyataan. Beberapa metode yang biasanya digunakan oleh masyarakat ntuk
mencari data adalah: perkawanan dengan petugas pemerintah, dengar pendapat
atas inisiatif masyarakat, tekanan, misalnya lewat demonstrasi, perkawanan dengan
wartawan, mengikuti rapat-rapat pemerintah (hanya terjadi pada pemerintah daerah
yang terbuka)
Sulitnya menggalang dukungan masyarakat luas. Hal ini diakibatkan oleh strategi
komunikasi yang belum efektif. Beberapa metode yang biasanya digunakan untuk
menyampaikan hasil pengawasan adalah: angkat lewat media dan LSM, aksi masa,
litigasi (pengadilan), hearing dan sharing dengan DPRD, mengirimkan surat.
Lemahnya kelembagaan masyarakat sehingga daya tekan dalam menyampaikan
hasil pengawasan juga lemah
Tidak ada perlindungan hukum bagi masyarakat yang menyampaikan hasil
pengawasan, misalnya terhadap ancaman pemecatan kerja.
Hal-hal yang memudahkan pelaksanaan pengawasan masyarakat:
Pemerintah secara eksplisit meminta masyarakat mengawasi proyek
Papan pengumuman proyek
Media untuk dapat mengakses kepala daerah, misalnya seperti Open House.
Untuk dapat melakukan pengawasan dengan baik, berikut adalah beberapa
keterampilan yang dianjurkan untuk dimiliki masyarakat:
Strategi komunikasi dan komunikasi efektif
Pengumpulan data dan investigasi
Analisis data dan informasi
Penguatan kelembagaan kelompok.

Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi masyarakat untuk melakukan


pengawasan:
Adanya organisasi masyarakat yang kuat dan dipercaya oleh anggotanya sendiri
Adanya kebebasan berpendapat dan menyampaikan hasil pengawasan tanpa
tekanan, ancaman dan rasa takut dari pihak manapun
Memiliki kepentingan langsung terhadap sesuatu yang diawasi

3. Kesimpulan
Ada beberapa syarat agar pengawasan masyarakat dapat berjalan efektif, yaitu:
(1) Hak masyarakat untuk mendapatkan data dan informasi terutama informasi
tentang pendanaan dan spesifikasi proyek (kerangka acuan kerja). Seluruh pihak
yang terlibat baik pemerintah maupun pihak ketiga (kontraktor) harus mendukung
transparansi data dan informasi.
(2) Jalur dan mekanisme yang efektif bagi masyarakat untuk menyalurkan umpan
balik, termasuk menjalankan perlindungan hukum bagi para saksi.
(3) Prosedur yang menjamin adanya kepastian tindak lanjut dari umpan balik yang
disampaikan oleh masyarakat. Kepastian tidak harus selalu setuju dengan laporan
masyarakat, tetapi pertama-tama harus ada tanggapan atas laporan tersebut. Jika
disetujui maka harus ada jaminan tindak lanjut untuk merespon laporan tersebut,
jika tidak disetujui maka harus ada alasan yang juga tertulis dan disampaikan
kepada masyarakat. Jaminan tersebut harus diakui dalam sistem hukum.
(4) Adanya pengakuan atas temuan masyarakat.
(5) Membangun kesadaran dan motivasi serta keterampilan dan pengetahuan
masyarakat dalam melakukan pengawasan baik sebagai kelompok-kelompok
kepentingan maupun sebagai pribadi

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terdapat tiga wilayah yang saling
berinteraksi dan memiliki peran yang seimbang, yaitu negara (state),
masyarakat sipil (civil society), dan pasar (market) . Menurut Jimly
Asshiddiqie, ketiga domain kekuasaan tersebut memiliki logika dan hukumnya
sendiri -sendiri. Ketiganya harus berjalan seiring dan sejalan,sama-sama kuat
dan sama-sama saling mengendalikan satu sama lain, tetapi tidak boleh
saling mencampuri atau dicampuradukkan.
Jika kekuasaan negara terlalu dominan,demokrasi tidak akan tumbuh karena
selalu didikte dan dikendalikan oleh negara. Jika kekuasaan pasar terlalu
kuat, melampaui kekuatan civil society dan negara, berarti kekuatan uang
atau kaum kapitalis yang menentukan dalam kehidupan bermasyarakat dan
bernegara. Demikian pula jika kekuasaan yang dominan adalah civil society
sedangkan negara dan pasar lemah, maka yang akan terjadi adalah situasi
chaos, messy,government-less, tanpa arah yang jelas.
Masyarakat sipil mengacu kepada pengertian kehidupan masyarakat yang
beradab, memiliki ikatan dan norma sendiri yang berbeda dengan ikatan dan
norma dalam negara maupun pasar. Masyarakat sipil adalah para warga yang
saling berasosiasi untuk mencapai berbagai tujuan dengan berlandaskan
Pada orientasi untuk kebaikan bersama. Masyarakat sipil merupakan suatu
arena yang berbeda dari negara dan pasar di mana anggota masyarakat
berkelompok dan berinteraksi satu dengan lainnya untuk mendefinisikan,
menyatakan dan mendorong nilai-nilai, hak, dan kepentingan mereka.
Masyarakat sipil bukan saja berbeda dengan negara ataupun pasar, tetapi
keberadaannya dapat mendahului keberadaan suatu negara.
Dalam konteks bernegara, masyarakat sipil adalah wujud interaksi antar
warga negara. Dalam statusnya sebagai warga negara, memiliki hak yang
harus dipenuhi oleh negara serta memiliki kekuatan untuk mencapai tujuan
bersama yang telah dinyatakan di dalam konstitusi. Tujuan bernegara, tidak
selalu harus atau bahkan tidak selalu dapat dicapai oleh institusi dan
Penyelenggara negara. Pencapaian tujuan bernegara membutuhkan peran
bersama antara masyarakat sipil, negara, dan pasar. Peran masyarakat sipil
tidak hanya sekadar berpartisipasi dalam penyelenggaraan negara, tetapi
juga mengurus dan membangun dirinya sendiri

Agar masyarakat sipil dapat berkembang dan berdinamika sesuai dengan


hukum dankarakteristik yang dimiliki, harus dilakukan dengan mendorong dan
memfasilitasi upaya-upaya yang mereka lakukan, dengan sedikit mungkin
melakukan intervensi yang bersifat memaksa. Intervensi yang terlalu kuat
terhadap masyarakat sipil akan berakibat padaterjadinya menegarakan
masyarakat sipil seperti yang terjadi pada masa Orde Baru.
Halitu akan memadamkan dinamika sosial, memasung kreativitas, dan
menimbulkanketergantungan masyarakat sipil terhadap negara. Akibatnya,
masalah-masalah kebangsaan yang seharusnya dapat diselesaikan
masyarakat sipil menjadi terbengkalai dan menjadibeban berat negara.
Salah satu bentuk organisasi masyarakat sipil adalah organisasi
kemasyarakatan(ORMAS) sebagai organisasi yang dibentuk oleh anggota
masyarakat warga negaraIndonesia secara sukarela berdasarkan kesamaan
tertentu dan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam UU Nomor 8 Tahun 1985
disebutkan bahwa Organisasi Kemasyarakatan adalah organisasi yang
dibentuk oleh anggota masyarakat Warganegara Indonesia secara sukarela
atas dasar kesamaan kegiatan, profesi, fungsi, agama, dan kepercayaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa, untuk berperanserta dalam pembangunan
dalam rangka mencapai tujuan nasional dalam wadah Negara Kesaruan
Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.
Sejarah menunjukkan bahwa peran ORMAS lebih luas jika dibandingkan
dengan peran yang ditentukan dalam UU Keormasan. ORMAS dibentuk tidak
hanya untukberperanserta dalam pembangunan yang dilakukan oleh negara,
tetapi juga dapat berperan melaksanaan pembangunan itu sendiri, bahkan
tanpa harus membebani negara.
Dalam sejarah Indonesia ORMAS telah lahir sejak sebelum kemerdekaan dan
menjadi kekuatan perjuangan meraih kemerdekaan.
ORMAS menghimpun kekuatan rakyat dan membangun Nasionalisme
kemerdekaan Indonesia.Pada masa kemerdekaan,berbagai ORMAS telah
mengisi kemerdekaan denganmembangun dan mendorong terwujudnya
masyarakat adil dan makmur. Berbagai ORMAS secara mandiri
menyelenggarakan pendidikan yang mencerdaskan bangsa, menyediakan
layanan kesehatan, serta berbagai bentuk pemberdayaan masyarakat yang
lain. ORMASjuga memiliki andil besar dalam menjaga ketertiban dan
kedamaian, menumbuhkan budaya musyawarah dalam menyelesaikan
berbagai konflik antar anggota masyarakat
.

Definisi Controlling atau pengawasan dan pengendalian (wasdal) adalah proses untuk
mengamati secara terus menerus pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana kerja yang
sudah disusun dan mengadakan koreksi jika terjadi. Controlling atau pengawasan adalah
fungsi manajemen dimana peran dari personal yang sudah memiliki tugas, wewenang dan
menjalankan pelaksanaannya perlu dilakukan pengawasan agar supaya berjalan sesuai
dengan tujuan, visi dan misi perusahaan. Di dalam manajemen perusahaan yang modern
fungsi control ini biasanya dilakukan oleh divisi audit internal. Pengawasan merupakan
fungsi manajemen yang tidak kalah pentingnya dalam suatu organisasi. Semua fungsi
manajemen yang lain, tidak akan efektif tanpa disertai fungsi pengawasan. Dalam hal ini,
Louis E. Boone dan David L. Kurtz (1984) memberikan rumusan tentang pengawasan
sebagai: the process by which manager determine wether actual operation are consistent
with plans. Sementara itu, Robert J. Mocker sebagaimana disampaikan oleh T. Hani
Handoko (1995) mengemukakan definisi pengawasan yang di dalamnya memuat unsur
esensial proses pengawasan, bahwa: pengawasan manajemen adalah suatu usaha sistematik
untuk menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan tujuan perencanaan, merancang
sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah
ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan, serta
mengambil tindakan koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya
perusahaan dipergunakan dengan cara paling efektif dan efisien dalam pencapaian tujuantujuan perusahaan. Dengan demikian, pengawasan merupakan suatu kegiatan yang berusaha
untuk mengendalikan agar pelaksanaan dapat berjalan sesuai dengan rencana dan memastikan
apakah tujuan organisasi tercapai. Apabila terjadi penyimpangan di mana letak penyimpangan
itu dan bagaimana pula tindakan yang diperlukan untuk mengatasinya. Selanjutnya
dikemukakan pula oleh T. Hani Handoko bahwa proses pengawasan memiliki lima tahapan,
yaitu: a. penetapan standar pelaksanaan; b. penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan; c.
pengukuran pelaksanaan kegiatan nyata; d. pembandingan pelaksanaan kegiatan dengan
standar dan penganalisaan penyimpangan-penyimpangan; dan e. pengambilan tindakan
koreksi, bila diperlukan. 2. Prinsip Pengawasan 1. Pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan
harus dimengerti oleh staf dan hasilnya mudah diukur. Misalnya tentang waktu dan tugastugas pokok yang harus diselesaikan oleh staf. 2. Fungsi pengawasan harus difahami
pimpinan sebagai suatu kegiatan yang sangat penting dalam upaya mencapai tujuan
organisasi. 3. Standar unjuk kerja harus dijelaskan kepada seluruh staf karena kinerja staf
akan terus dinilai oleh pimpinan sebagai pertimbangan untuk memberikan reward kepada
mereka yang dianggap mampu bekerja. 3. Manfaat Pengawasan Bila fungsi wasdal
dilaksanakan dengan tepat, organisasi akan memperoleh manfaat berupa: 1. Dapat
mengetahui sejauh mana program sudah dilaukan oleh staf, pakah sesuai dengan standar atau
rencana kerja, apakah sumberdaya telah digunakan sesuai dengan yang telah ditetapkan.
Fungsi wasdal akan meningkatkan efisiensi kegiatan program. 2. Dapat mengetahui adanya
penyimpangan pada pemahaman staf dalam melaksanakan tugas-tugasnya. 3. Dapat
mengetahui apakah waktu dan sumber daya lainnya mencukupi kebutuhan dan telah
dimanfaatkan secara efisien. 4. Dapat mengetahui sebab-sebab terjadinya penyimpangan. 5.
Dapat mengetahui staf yang perlu diberikan penghargaan, dipromosikan atau diberikan
pelatihan lanjutan. 4. Proses pengawasan Terdapat tiga langkah penting dalam proses
pengawasana manajerial yaitu: Mengukur hasil/prestasi yang telah dicapaioleh staf atau
organisasi Membandingkan hasil yang telah dicapai dengan tolok ukur. Memperbaiki

penyimpangan-penyimpangan yang terjadi sesuai dengan faktor-faktor penyebabnya, dan


menggunakan, dan menggunakan faktor tersebut untuk menetapkan langkah-langkah
intervensi. 5. Obyek Pengawasan Dalam melaksanakan fungsi pengawasan manajerial, ada
lima jenis obyek yang perlu dijadikan sasaran pengawasan. Obyek yang menyangkut
kuantitas dan kualitas barang atau jasa. Pengawasan ini bersifat fisik. Keuangan Pelaksanaan
program dilapangan Obyek yang bersifat strategis Pelaksanaan kerja sama dengan sektor lain
yang terkait. 6. Jenis-jenis Pengawasan Pengawasan fungsiomal (struktural). Fungsi
pengawasan ini melekat pada seseorang yang menjabat sebagai pimpinan lembaga.
Pengawasan publik. Pengawasan ini dilakukan oleh masyarakat. Pengawasan non fungsional.
Pengawasan ini biasanya dilakukan oleh badan-badan yag diberikan wewenang untuk
melakukan pengawasan seperti DPR, BPK, KPK, dan lain-lain. 7. Prinsip Pokok Fungsi
pengawasan adalah aktivitas yang mengusahakan agar pekerjaan-pekerjaan terlaksana sesuai
dengan rencana yang ditetapkan atau hasil yang dikehendaki. Untuk dapat menjalankan
pengawasan, perlu diperhatikan 2 prinsip pokok, yaitu: 1. Adanya Rencana 2. Adanya
instruksi-instruksi dan pemberian wewenang kepada bawahan. Dalam fungsi pengawasan
tidak kalah pentingnya adalah sosialisasi tentang perlunya disiplin, mematuhi segala
peraturan demi keselamatan kerja bersama. Sosialisasi perlu dilakukan terus menerus, karena
usaha pencegahan adalah penting untuk mendapat perhatian. Pengawasan dan pengendalian
(controlling) sebagai fungsi manajemen bila diikerjakan dengan baik, akan menjamin bahwa
semua tujuan dari setiap orang atau kelompok konsisten dengan tujuan jangka pendek
maupun jangka panjang. Hal ini membantu menyakinkan bahwa tujuan dan hasil tetap
konsisten satu sama lain dengan dalam organisasi. Controlling berperan juga dalam menjaga
pemenuhan (kompliansi) aturan dan kebijakan yang esensial. Proses pengendalian mulai
dengan perencanaan dan pembangunan tujuan penampilan kerja. Tujuan penampilan
didefinisikan dan standar-standar untuk mengukurnya disusun. Ada 2 tipe standar: Standar
out-put (keluaran): mengukur hasil-hasil tampilan dalam istilah kuantitas, kualitas, biaya atau
waktu. Standar in-put (masukan): mengukur usaha-usaha kerja yang masuk ke dalam tugas
penampilan. 8. Pengukuran Penampilan Aktual Pengukuran harus cukup akurat untuk
menyorot penyimpangan atau variasi. Tanpa pengukuran, pengendalian yang efektif tidaklah
mungkin ada. Pengukuran dilakukan dengan membandingkan hasil dengan tujuan dan
standar. Perbandingan dari tampilan aktual dengan tampilan yang diharapkan membangun
kebutuhan untuk bertindak. Cara untuk membuat perbandingan meliputi:
Historis/relatif/rancang-bangun Benchmarking 9. Pengendalian Efektif Pengendalian terbaik
dalam organiasasi adalah berorientasi pada strategi dan hasil, dapat dipahami, mendorong
pengendalian diri (self-control), berorientasi secara waktu dan eksepsi, bersifat positif, setara
dan objektif, fleksibel. Tipe-tipe pengendalian (awal) preliminary, kadang-kadang disebut
kendali feedforward, hal ini harus dipenuhi sebelum suatu perkerjaan dimulai. Kendali ini
menyakinkan bahwa arah yang tepat telah disusun dan sumber-sumber yang tepat tersedia
untuk memenuhinya. Tipe-tipe pengendalian (saat ini) concurrent berfokus pada apa yang
sedang terjadi selama proses. Kadang-kadang disebut kendali steering, kendali ini memantau
operasi dan aktivitas yang sedang berjalan untuk menjamin sesuatunya telah sedang
dikerjakan dengan tepat. Tipe-tipe pengendalian (akhir) post-action; kadang-kadang disebut
kendali feedback , kendali ini mengambil tempat setelah suatu tindakan dilengkapi. Kendali
akhir berfokus pada hasil akhir, kebalikan dari input dan aktivitas. Manajer memiliki 2
pilihan luas dengan memperhatikan pengendalian. Mereka dapat mengandalkan orang-orang
untuk melatih pengendalian diri (internal) atas tingkah lakunya sendiri. Alternatif lain,
manajer dapat mengambil tindakan langsung (external) untuk mengendalikan tingkah laku
orang lain. Pengendalian internal memberikan individu yang termotivasi untuk melatih
pengendalian diri dalam memenuhi harapan pekerjaan. Potensi untuk pengendalian diri
dikembangkan ketika orang yang mampu memiliki tujuan tampilan yang jelas dan dukungan

sumber-sumber yang tepat. Pengendalian eksternal terjadi melalui supervisi personal dan
penggunaan sistem administrasi formal antara lain sistem penilaian penampilan, sistem
kompensasi dan keuntungan, sistem disiplin kepegawaian, dan management-by-objectives
(manajemen berdasar tujuan). Kompensasi dan keuntungan dari sistem pengawasan dan
pengendalian yang baik adalah: Akan menarik orang berbakat dan mempertahankannya di
dalam organisasi. Memotivasi orang untuk menggunakan usaha maksimum dalam
pekerjaannya.

Menyadarkan
nilai
dari
kontribusi
penampilannya.
Copy and WIN : http://bit.ly/copynwin