Anda di halaman 1dari 3

ETIKA BISNIS

DARI FILM THE GIVER

1. Apakah anda setuju bahwa akar dari seluruh masalah etika adalah emosi/sifat
dasar manusia; dan oleh karena itu harus dihilangkan?
Ya, saya setuju bahwa akar dari seluruh masalah etika adalah emosi/sifat dasar
manusia. Emosi adalah perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu.
Emosi adalah reaksi terhadap seseorang atau kejadian. Emosi ada dua, emosi positif
yaitu dapat ditunjukkan kerika merasa senang mengenai sesuatu, kemudian ada emosi
negatif yaitu pada saat marah kepada seseorang ataupun takut terhadap sesuatu. Nah,
emosi yang menyebabkan masalah etika biasanya adalah emosi negatif yaitu emosi
kemarahan atau ketakutan. Mengapa? Karena biasanya seseorang marah karena tidak
puas akan hidupnya atau marah karena tidak bisa seperti orang lain makanya
melakukan suatu penyimpangan etika (misalnya mencuri atau fraud). Kemudian takut,
manusia biasanya takut akan masa depannya,takut jika di masa depan tidak dapat
membiayai hidupnya atau hidup dengan nyaman dan inilah akar dari perilaku
penyimpangan etika.
Emosi tidak bisa dihilangkan, emosi adalah hal mutlak yang dimiliki oleh manusia,
merupakan sifat dasar manusia. Emosi hanya dapat dikendalikan, terutama emosi
negatif seperti marah atau takut tadi. Benteng agama dan keyakinan diri adalah salah
satu cara untuk mengendalikan emosi. Disaat manusia sudah merasa emosi seperti
marah atau takut hendaknya mengingat akan Tuhannya, karena dengan begitu ia akan
bisa mengendalikannya, karena pada dasarnya Tuhan tidak menyenangi amarah.
Bahkan saat emosi senang manusia juga harus mengingat Tuhannya yaitu dengan cara
bersyukur karena semua-semuanya adalah rizki dari Tuhan.
Dengan mengendalikan emosinya tentu saja manusia juga bisa dapat menjalankan
etika dengan benar. Kemudian tentu saja akuntan juga dapat beretika dengan baik.
Melakukan apa yang diyakini benar, dan agama adalah penuntun bagi keyakinan
tersebut. Jadi kesimpulannya emosi tidak dapat dihilangkan tapi bisa deikendalikan
dengan adanya keyakinan akan agama dan tunduk patuh pada Tuhannya.
2. Setelah melihat film tersebut, jika kode etik akuntan harus merumuskan sifat
etis manusia (baca: akuntan), sifat seperti apa yang perlu dituliskan pada kode
etik akuntan?

Pada di film The Giver diceritakan bahwa semua orang dibuat setara tanpa ada
perbedaan sedikitpun dan semua adalah hitam putih. Semua diatur, jam tidur, jam
makan, pekerjaan, bahkan siapa yang jadi orangtua kita diatur oleh Tetua yaitu yang
membuat peraturan. Jika dikonotasikan dengan dunia akuntansi kita maka kode etik
akuntan kita adalah peraturan dan Tetua adalah IAI. Menurut saya, justru hal tersebut
membuat hidup menjadi sangat membosankan. Saat Jonas diberi kenangan oleh
pemberi dapat membuat wawasannya lebih luas bahkan ketika kenangan itu pahit.
Kemudian dalam film tersebut dikatakan juga oleh pemberi bahwa keyakinan akan
mampu untuk melihat lebih jauh, maksudnya disini adalah melihat sesuatu yang tidak
bisa dilihat dengan mata telanjang tetapi dapat dilihat oleh mata hati yaitu cinta dan
empati terhadap orang lain.
Sifat yang ingin saya tambahkan pada kode etik akuntan adalah keyakinan akan
adanya Tuhan. Meskipun pada film tidak menyebut kata Tuhan sedikitpun tapi
karena Indonesia adalah negara yang mempunyai sila KeTuhanan yang Maha Esa
maka menurut saya hal tersebut perlu untuk dicantumkan dalam kode etik akuntan.
Seperti yang kita ketahui, bahwa kode etik kita mengadopsi sepenuhnya dari kode etik
yang disusun oleh IFAC, maka dari itu harus disesuaikan dulu dengan norma dan
budaya negara kita. Salah satunya dengan menambahkan aspek religiusitas. Seperti
yang telah saya sebutkan di jawaban nomor satu diatas, bahwa untuk mengendalikan
emosi manusia perlu membentengi dirinya dengan keyakinan agama.
Kode etik yang disusun IFAC dan diadopsi oleh IAI dibuat berdasarkan pemikiran
manusia, tidak berdasarkan keyakinannya. Jadi seperti pada kasus KAP Madia
Subakti, yang menurut Madia etis namun tidak menurut IAI. Padahal etis adalah hal
yang berasal dari keyakinan bukan peraturan. Seperti cerita dalam film, menurut
peraturan komunitas hal yang dilakukan Jonas (dalam mengungkap kebenaran)
dianggap melanggar padahal menurut kita hal tersebut etis. Sehingga komunitas
menganggap pembunuhan itu etis karena ketidaktahuannya dan tidak ada keyakinan
dalam dirinya.
Selain itu, sifat keyakinan akan adanya Tuhan akan membuat akuntan lebih jujur
dalam menjalankan pekerjaannya. Hal tersebut juga akan mengurangi adanya fraud,
serta kecurangan-kecurangan lainnya. Menurut saya, terlalu profesional seperti yang
terdapat dalam kode etik juga tidak terlalu baik, kita juga harus bisa berempati
terhadap orang lain, jangan hanya diri sendiri yang dipikirkan. Kemudian, ada yang
rancu dalam kode etik akuntan, yaitu adanya menjaga kerahasiaan klien serta
mementingkan kepentingan publik. Lantas bagaimana jika rahasia klien adalah

sesuatu yang berbahaya bagi publik? Seperti dalam film tetua merahasiakan semua
kenangan dari komunitas dan hal tersebut justru membahayakan komunitas, seperti
membunuh atau dibunuh, namun mereka tidak menyadarinya.
Oleh karena itu, saya berharap kedepannya akan ada aspek religiusitas ini di dalam
kode etik. Karena seperti yang kita ketahui sebenarnya kode etik yang sekarang belum
berhasil membuat akuntan lebih jujur mengingat masih banyaknya fraud baik yang
ketahuan maupun tidak ketahuan. Saya berharap generasi muda saat ini juga mulai
bisa yakin pada dirinya, meningkatkan iman dan taqwanya, serta dapat
mengendalikan emosinya.

Anda mungkin juga menyukai