Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH

FISIOLOGI PASCA PANEN

Penanganan Pasca Panen Tanaman Hias

DI SUSUN OLEH
1

NAMA
ILHAM

NIM
12 54211 020

MARDIA SATA

12 54211 0

DARWIS

12 54211 0

MARWA

12 54211 0

SAHIR

12 54211 0

AGROTEKNOLOGI
SEKOLAH TINGGI ILMU PERTANIAN
YAYASAN PERGURUAN ISLAM MAROS
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami haturkan kehadirat Allah SWT yang mana telah
memberi rahmat dan hidayah-Nya sehingga dalam proses penyelesaian
makalah ini dapat terselesaikan tanpa suatu halangan dan rintangan yang
cukup berarti.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan
kita Rasululllah Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya
yang telah membimbing kita dari jalan kegelapan menuju jalan islami.
Adapun judul dari makalah ini adalah Penanganan Pasca Panen
Tanaman Hias yang merupakan tugas Fisiologi Pasca Panen.
Tak lupa kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada semua pihak yang telah bersusah payah membantu hingga
terselesaikannya penulisan makalah ini. Semoga semua bantuan di catat
sebagai amal sholeh dihadapan Allah SWT.
Kami menyadari, walaupun kami telah berusaha semaksimal
mungkin dalam menyusun makalah sederhana ini, tetapi masih banyak
kekurangan yang ada didalamnya. Oleh karena itu, segala tegur sapa
sangat kami harapkan demi perbaikan makalah ini. Kami berharap akan
ada guna dan manfaatnya makalah ini bagi semua pihak.
Amin.
Maros, 30 April 2015

Penulis

ii

DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ........................................................................... i
KATA PENGANTAR ............................................................................ ii
DAFTAR ISI ........................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................... 1
A. Latar Belakang ......................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................... 3
C. Tujuan ...................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .............................................................. 4
A. Tinjaun Umum .......................................................................... 4
B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penanganan
Pasca Panen Tanaman Hias ................................................... 5
C. Penanganan Pasca Panen Tanaman Hias Bunga
Potong ...................................................................................... 5
D. Tanda-Tanda dan Gejala Yang Menurunkan Kualitas ............. 7
E. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Senesen .......................... 9
F. Indeks Kematangan ................................................................. 16
G. Hama dan Penyakit Tanaman Pasca Panen ........................... 17
H. Perubahan Kimia Fisik Selama Pematangan .......................... 20
I. Kualitas Tanaman Hias dan Bunga Potong ............................. 21
BAB III PENUTUP .............................................................................. 30
A. Kesimpulan .............................................................................. 30
B. Saran ....................................................................................... 31
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 32

iii

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Saat ini tanaman hias merupakan salah satu komoditas agribisnis
yang cukup berarti di Indonesia. Hal tersebut didasari karena jenisnya
dapat ditanam pada areal yang relatif sempit dan mempunyai nilai
ekonomi yang tinggi dan diterima masyarakat. Tanaman hias dinikmati
konsumen dalam bentuk keindahannya, maka dari itu tuntutan terhadap
kualitasnya sangat tinggi. Membudidayakan berbagai jenis tanaman hias
dapat menjadi usaha agrobisnis yang sangat prospektif baik bagi
masyarakat maupun negara. Masyarakat baik di daerah pedesaan
maupun perkotaan mempunyai kecenderungan untuk tinggal di tempat
atau lingkungan yang nyaman dan segar. Keadaan ini dapat tercipta
dengan adanya tanaman hias. Kehadiran tanaman hias baik di lingkungan
rumah tinggal, perkotaan maupun di lingkungan taman-taman rekreasi
banyak memberikan pengaruh yang positif. Kesadaran masyarakat akan
pentingnya

lingkungan

hidup

yang

segar

dapat

mempengaruhi

meningkatnya permintaan tanaman hias.


Indonesia mempunyai kekayaan alam yang tak ternilai banyaknya,
termasuk berbagai jenis tanamannya. Di antara jenis-jenis tanaman
tersebut, ada yang digolongkan ke dalam tanaman hias. Pada dasarnya,
suatu tanaman disebut tanaman hias karena memiliki keindahan.
Penilaian terhadap keindahan suatu tanaman memang sangat relatif.
Akan tetapi, secara umum keindahan tanaman terletak pada kedua
organnya, yaitu daun atau bunganya. Dari sinilah muncul istilah tanaman
hias bunga dan tanaman hias daun (Annonimous, 1992).
Relatif sedikit informasi pengetahuan tentang fisiologi dan teknologi
penanganan pascapanen tanaman hias bila dibandingkan dengan
tanaman buah maupun sayuran. Hal ini dikarenakan organ tanaman atau
organ

panenan

yang

kebanyakan

berupa

pucuk

bunga

dengan

sekumpulan petal adalah merupakan sistim yang sangat berbeda dengan

organ tanaman lainnya dalam hal proses-proses senesen. Waktu antara


kematangan dengan senesen dan kematian sangatlah pendek bila
dibandingkan organ lainnya seperti buah dan daun.

Ada dua perbedaan

mendasar dalam hal penanganan pascapanen dan fisiologi daripada


senesen pada tanaman hias bila dibandingkan dengan produk-produk
pertanian lainnya. Perbedaan tersebut meliputi :
1. Tanaman hias (bunga potong baik berdaun maupun sedikit berakar,
dan hias daun potong) merupakan organ yang sangat komplek bila
dibandingkan dengan biji, buah, dan kebanyakan sayuran. Biji dan
buah merupakan sekumpulan beberapa unit morfologi termasuk
sepal, petal, androcium, gymnocium, tangkai, dan kadangkala
beberapa daun. Masing-masing unit memiliki morfologi dan fisiologi
yang berbeda satu sama lainnya. Mereka semua saling berinteraksi
dalam proses fisiologi keseluruhan atau keutuhan bunga potong
tersebut.
2. Kebanyakan buah dan sayuran dipanen setelah mencapai stadia
perkembangan yang sempurna atau perkembangan penuh. Teknik
penanganan pascapanen dari pada buah dan sayuran adalah
secara

langsung

ditujukan

untuk

penundaan

senesen

dan

mempertahankan produk tetap dalam keadaan segar.


Pada kebanyakan bunga atau tanaman hias potong terdapat dua
stadia fisiologi yang berbeda. Stadia pertama, adalah pertumbuhan dan
perkembangan kuncup bunga (flower bud) hingga stadia mekar penuh.
Stadia kedua, adalah kematangan, senesen, dan kemudian kelayuan. Jadi
penanganan pascapanen mencakup hal-hal yang ditujukan untuk
perangsangan pertumbuhan stadia pertama, dan penghambatan proses
metabolisme pada stadia kedua.

B.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dari makalah


ini adalah sebagai berikut :
1. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penanganan pasca
panen tanaman hias.
2. Bagaimana kualitas tanaman hias dan bunga potong.
3. Perubahan apa saja yang terjadi pada saat pasca panen.
4. Bagaimana pengaruh hama dan penyakit tanaman pada saat pasca
panen.
5. Bagaimana proses seneses dan pematangan bunga potong dan
factor apa saja yang mempengaruhi seneses.
6. Bagaimana penanganan pasca panen tanaman hias bunga potong.
C.

Tujuan
berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari penulisan
makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi
penanganan pasca panen tanaman hias.
2. Untuk mengetahui Bagaimana kualitas tanaman hias dan bunga
potong.
3. Untuk mengetahui Perubahan apa saja yang terjadi pada saat
pasca panen.
4. Untuk mengetahui Bagaimana pengaruh hama dan penyakit
tanaman pada saat pasca panen.
5. Untuk mengetahui Bagaimana proses seneses dan pematangan
bunga potong dan factor apa saja yang mempengaruhi seneses.
6. Untuk mengetahui Bagaimana penanganan pasca panen tanaman
hias bunga potong

BAB II
PEMBAHASAN
A.

Tinjauan Umum
Tanaman hias mencakup semua tumbuhan, baik berbentuk terna,
merambat, semak, perdu, ataupun pohon, yang sengaja ditanam orang
sebagai komponen taman, kebun rumah, penghias ruangan, upacara,
komponen riasan/busana, atau sebagai komponen karangan bunga.
Bunga potong pun dapat dimasukkan sebagai tanaman hias. Dalam
konteks umum, tanaman hias adalah salah satu dari pengelompokan
berdasarkan fungsi dari tanaman hortikultura. Bagian yang dimanfaatkan
orang tidak semata bunga, tetapi kesan keindahan yang dimunculkan oleh
tanaman ini. Selain bunga (warna dan aroma), daun, buah, batang,
bahkan pepagan dapat menjadi komponen yang dimanfaatkan. Sebagai
contoh, beberapa ranting tumbuhan yang mengeluarkan aroma segar
dapat diletakkan di ruangan untuk mengharumkan ruangan dapat
menjadikannya sebagai tanaman hias.
Tanaman hias dikelompokkan ke dalam 4 (empat) kelompok yakni;
1) bunga potong, 2) daun potong, 3) tanaman hias pot, dan 4) tanaman
hias untuk pertamanan lansekap. Kelompok tanaman hias bunga potong
umumnya lebih banyak diminati karena bernilai ekonomis tinggi dengan
warna bunga yang menarik dan volume bunga yang dapat mencapai
jumlah yang besar.
Tanaman hias yang bernilai ekonomis sebagai bunga potong harus
memenuhi persyaratan yakni :
1. berwarna indah, mulus, bersih, tidak bernoda dan baunya wangi
2.
3.
4.
5.

tidak menyengat.
bunga dapat bertahan lama setelah dipotong.
tangkai bunga cukup panjang dan kuat.
bunga tidak mudah rusak dalam pengepakan dan.
bunga dihasilkan oleh tanaman yang subur dan mudah berbunga
tanpa mengenal musim.
Beberapa jenis bunga potong yang terkenal di indonesia adalah

anggrek, krisan, mawar, anyelir, gladiol, gerbera dll. Untuk mengurangi


kehilangan hasil yang disebabkan oleh kerusakan yang sering timbul

setelah panen pada tanaman hias seperti layu, patahnya batang dan
daun, serta lepasnya kelopak bunga, maka diperlukan perhatian khusus
pada penanganan pasca panennya agar produk mempunyai fase hidup
atau daya simpan yang lama.
merupakan

suatu

kegiatan

penanganan pasca panen bunga

yang

memberikan

perlakuan-perlakuan

terhadap bunga, setelah bunga tersebut dipanen sampai bunga itu


diterima oleh konsumen.
Umumnya penanganan pasca panen tanaman hias lebih banyak
dilakukan untuk kelompok tanaman hias bunga potong dibanding dengan
kelompok tanaman hias yang lain, hal ini karena pertimbangan nilai
ekonomis bunga potong dengan warna yang menarik dan volume bunga
potong yang dapat mencapai jumlah besar saat dilakukan pengiriman atau
pemasarannya.
Penanganan pasca panen tanaman hias khususnya bunga potong
bertujuan untuk :
1. memperkecil respirasi.
2. memperkecil transpirasi.
3. mencegah infeksi atau luka.
4. memelihara estetika.
5. memperoleh harga yang tinggi.
B.

Faktor-Faktor

yang

Mempengaruhi

Penanganan

Pasca

Panen

Tanaman Hias
Untuk menerapkan penanganan pasca panen tanaman hias bunga
potong secara baik dan benar, maka perlu diketahui faktor-faktor yang
mempengaruhi pasca panennya yakni :
1. Kematangan bunga (flower maturity).
2. Persediaan bahan makanan.
3. Temperatur.
4. Persediaan air.
5. Pertumbuhan mikroorganisme.
6. Kualitas air.
7. Etilen.
8. Kerusakan mekanis.
9. Penyakit.
C.

Kualitas Tanaman Hias dan Bunga Potong

Kualitas diartikan sebagai beberapa hal yang membuat sesuatu itu


bernilai atau unggul. Kata kualitas digunakan dalam berbagai aspek
penilaian seperti kualitas pasar, kualitas pengiriman, kualitas internal, dan
kualitas penampilan. Oleh Staby et.al. (1980) kualitas diartikan sebagai
indikator komoditi bunga yang berhubungan dengan keindahan dan/atau
kegunaannya. Sedangkan Kramer dan Twigg (1982) mengartikan kualitas
sebagai perpaduan beberapa karakter indikator kualitas yang dapat
diterima oleh konsumen.
Kualitas tanaman hias potong (bunga ataupun daun) merupakan
kombinasi dari ciri-ciri, sifat, dan nilai harga yang mencerminkan nilai
tanaman hias tersebut. Komponen kualitas bagi tanaman hias adalah
kualitas dalam penampilan atau kenampakan. Komponen tersebut
meliputi beberapa aspek yang mencakup ukuran, bentuk, warna, kilap,
cacat, keamanan, dan umur.
Kesemua aspek kualitas di atas dirangkum dalam suatu aspek
kualitas yang lebih umum, meliputi umur bunga, perubahan selama
penanganan, dan pemasaran. Akan tetapi, kualitas bunga potong dan
sekaligus tanaman hias pot ditentukan oleh konsumen komoditi
bersangkutan. Unsur kualitas tersebut mencerminkan kualitas penampilan
di pasar, dan terdiri atas unsur ukuran, bentuk, kebersihan permukaan,
warna, dan kondisi atau tingkat kesegaran.
Ukuran optimum produk berubah menurut waktu dan bergantung
pada kemampuan atau daya beli konsumen. Di saat sekarang ini,
konsumen cenderung memerlukan ukuran kecil sampai sedang terhadap
bunga potong maupun tanaman hias pot.

Mode penggunaan bunga

potong juga mempengaruhi ukuran yang diminta oleh konsumen. Bunga


potong dengan tangkai yang terlalu panjang atau bunga dengan ukuran
besar, dan bunga potong (hias daun) dengan ukuran yang besar
nampaknya tidak cocok digunakan untuk rangkaian bunga atau sebagai
dekorasi dalam ruangan.
Kriteria untuk menentukan kualitas sangat menentukan kriteria
tingkat kematangan saat panen. Hal ini berbeda untuk setiap negara

maupun kelompok masyarakat tertentu, mereka memiliki kriteria tersendiri.


Namun kebanyakan masyarakat menyukai bunga potong, terutama bunga
potong mawar, pada saat stadia kuncup. Anyelir dan krisan umumnya
disukai bilama sudah mekar penuh. Khususnya di negara-negara Eropa,
bunga potong yang disukai bila dalam keadaan stadia kuncup.
Kerusakan fisik karena insekta, patogen ataupun akibat kerusakan
lainnya yang nampak pada permukaan bunga atau tanaman hias akan
mengurangi nilai kualitasnya. Produk berkualitas tinggi seharusnya bersih
dan bebas hama-penyakit, kerusakan fisik lainnya, dan bebas sisa-sisa
atau residu pestisida.
Warna merupakan komponen utama dan mempengaruhi daya tarik
konsumen. Untuk mempertahankan agar warna berkualitas tinggi,
beberapa senyawa kimia diaplikasikan dengan cara penyemprotan
ataupun perendaman pangkal bunga potong. Karakter fisik dan anatomi
seperti kerapuhan dan kekuatan fisik berhubungan dengan tekstur dan
berkaitan langsung dengan kualitas keseluruhan yang dipertahankan.
Berikut beberapa karakter yang mempengaruhi kualitas suatu
bunga potong,
1. Ukuran dan bentuk akhir bunga.
2. Perkembangan kuncup dan kuncup-kuncup lateral lainnya.
3. Perubahan berat segar bunga.
4. Ketegaran dan kesegaran bunga disaat sampai pada konsumen.
5. Perubahan warna petal (mahkota bunga), ini merupakan penilaian
bersifat objektif.
6. Kekuatan atau kekokohan tangkai bunga (pedikel).
7. Pencoklatan atau penguningan batang ataupun daun.
D.

Perubahan Kimia Fisik Selama Pematangan


1. Perubahan struktur
Gejala kehilangan berat segar jaringan bunga merupakan hal yang
jelas pada stadia akhir senesen. Kehilangan air akan terjadi pada proses
penuaan

menunjukkan

kehilangan

integritas

membran

sehingga

meningkatkan permeabilitas dan kebocoran.


Perubahan mikroskopik yang dapat dilihat pada senesen daun
adalah perubahan pada kloroplas. Kloroplas akan kehilangan tepung

(amilum) karena diubah menjadi gula. Jadi penundaan atau perlambatan


proses senesen daun berhubungan dengan penurunan peptida hydrolase
pada daun arau penundaan laju pembentukannya.
2. Perubahan biokimia
Respirasi dan hidrolisis enzimatik pada komponen sel merupakan
dua kejadian biokimia dan metabolisme yang terjadi selama senesen
bunga, terutama organ petal. Peningkatan aktivitas enzim peroksidase
sehubungan dengan peningkatan kadar peroksida yang terlibat dalam
perangsangan senesen dan perangsangan pembentukan etilen. Selama
periode senesen bunga, terjadi penurunan kandungan amilum atau
tepung, polisakarida dinding sel, protein dan asam nukleat. Namun terjadi
peningkatan aktivitas ribonuklease. Karena kejadian-kejadian ini, gejala
yang dapat dilihat pada petal adalah perubahan warna dari merah menjadi
biru.
3. Perubahan metabolisme
Laju respirasi pada kebanyakan bunga potong biasanya memuncak
pada saat mekar bunga, dan kemudian menurun selama proses
pematangan dan senesen. Kemudian terdapat puncak kedua yang sangat
singkat dan kemudian menurun kembali. Upaya penundaan senesen pada
bunga biasanya ditujukan pada penundaan tercapainya puncak kedua
respirasi

tersebut.

Dalam

aplikasinya,

penundaan

tersebut

dapat

menggunakan larutan sukrose sebagai bahan larutan vas ataupun dengan


cara penyemprotan ke seluruh bagian bunga potong. Ketidak-pekaan
respirasi terhadap sianida akan meningkat pada beberapa bunga. Hal ini
menunjukkan

pembentukan

radikal-radikal

bebas

dengan

potensialoksidasi yang tinggi akan merangsang senesen. Hal ini juga


menyebabkan organ akan sangat peka terhadap etilen.
4. Perubahan pigmen
Proses hilangnya warna merupakan gejala umum kebanyakan
senesen beberapa bunga potong. Dua komponen utama pigmen pada
bunga seperti karotenoid dan anthosianin bertanggung jawab terhadap
warna-warna bunga. Kandungan kedua pigmen tersebut akan berubah
8

selama perkembangan dan pematangan organ-organ tanaman, termasuk


pula bunga. Perubahan warna pada petal yang sedang mengalami
senesen sangat dipengaruhi oleh perubahan pH vakuola. Proses
perubahan warna petal bunga yang semulanya berwarna merah
disebabkan penuaan dan peningkatan pH. Hal ini dikarenakan selama
proses perubahan tersebut berlangsung, perusakan protein terjadi
sehingga meningkatkan kandungan amonia bebas tidak dapat dihindari.

E.

Hama dan Penyakit Tanaman Pasca Panen


Berikut ini beberapa jenis hama yang sering menyerang tanaman
hias beserta cara penangulangannya.
1. Kutu Putih (Mealy Bugs)
Kutu putih merupakan hama

yang

paling

banyak

ditemui

menyerang tanaman hias. Kehadirannya cukup mudah dideteksi. Mereka


bergerombol di batang, daun, ketiak daun, bawah daun sampai pucuk
daun. Disebut kutu putih karena warnanya yang terlihat putih karena
adanya semacam serbuk berwarna putih yang menyelimuti tubuhnya.
Kutu putih menghisap cairan daun, sehingga menyebabkan daun
menjadi kisut. Kutu putih juga mengeluarkan semacam cairan madu
yang lama kelamaan akan berubah menjadi jelaga berwarna hitam di
permukaan daun. Selain mengakibatkan kerusakan pada tanaman, kutu
putih juga bisa menularkan virus dari tanaman yang satu ke tanaman yang
lain.
Beberapa hobiis sering kesulitan memberantas kutu putih. Hal ini
diakibatkan adanya semacam lapisan lilin yang menyelimuti tubuh si kutu.
Lapisan lilin ini melindungi tubuh kutu putih termasuk dari serangan
insektisida. Cara sederhana yang sering dilakukan adalah dengan
menyemprotkan larutan detergen cair dengan dosis satu sendok makan
detergen cair dengan satu liter air. Setelah di semprot dengan cairan
detergen, maka lapisan lilin pada kutu putih akan hilang, dan warna kutu
berubah menjadi kekuningan. Ini menandakan bahwa perisai si kutu
sudah hilang. Sekarang giliran insektisida beraksi menumpas si kutu.

Insektisida yang umum digunakan seperti Decis, Curacron, Confidor,


Rumba, dll dosis 2 ml/Liter. Penyemprotan insektisida bisa diulang
seminggu kemudian, sampai serangan hilang. Satu hal yang perlu diingat,
agar media tanam tidak terkontaminasi dengan larutan detergen yang
bersifat alkalis, maka sebaiknya setelah treatmen ini, media tanam diganti
dengan yang baru dan steril.
2. Root Mealy Bugs
Root Mealy Bugs berbentuk seperti kutu putih, tetapi hidup
menempel pada akar tanaman. Tanaman yang terserang akan menjadi
kurus, kerdil, daun menjadi kecil dan layu. Untuk mengetahui serangan
hama ini, maka perlu mencabut tanaman dari media. Penanganan yang
umum dilakukan adalah dengan menyemprotkan insektisida sistemik
seperti Confidor, supracide dengan dosis seperti aturan yang tertera
(umumnya 2 ml/Liter). Untuk menjamin bahwa serangan root mealy bugs
bisa diberantas dengan tuntas, maka perlu melakukan penggantian media
tanam.
3. Ulat
Dua macam ulat yang biasa menyerang tanaman hias adalah
Spodoptera yang menyerang daun dan Noctuidae yang memakan batang.
Serangan spodoptera ditandai dengan adanya daun yang robek/rusak.
Sedangkan serangan Noctuidae lebih sulit dideteksi, karena mereka
menggorok batang tanaman dari dalam, yang bisa berakibat fatal.
Pada tahap serangan ringan, penanggulangan dengan manual,
yaitu membunuh ulat yang tampak. Tetapi apabila serangan sudah mulai
serius, maka digunakan insektisida seperti Decis, Confidor, Curacron,
dosis 2 ml/Liter.
4. Belalang
Gejala serangan

belalang

hampir

mirip

dengan

serangan

Spodoptera. Belalang mempunyai kemampuan untuk berpindah kedaun


atau tanaman lain dengan cepat, sehingga serangannya dengan mudah
bisa berpindah-pindah

10

Pada serangan ringan, penanggulangan bisa dilakukan dengan


memungut dan membuang belalang yang tampak, tetapi pada serangan
yang serius, maka pemakaian insektisida seperti Decis, Confidor,
Curacron dll dengan dosis 2 ml/Liter tidak bisa dihindarkan.
5. Tungau (Thrips)
Tungau berbentuk seperti lintah dengan ukuran yang kecil dan
melekat kuat dibalik daun serta pelepah tanaman. Thrips akan menghisap
cairan tanaman sehingga akan membuat daun mengkerut, menguning,
kisut dan bahkan akhirnya mati.
Pada serangan ringan, penanggulangan bisa dilakukan dengan
mengerik kumpulan thrips dengan kuku atau alat lain.Tetapi pada
serangan yang serius, maka digunakan insektisida seperti Decis, Confidor,
Curacron dll dengan dosis 2 ml/Liter.
6. Keong Tanpa Cangkang
Hama ini berbentuk seperti siput yang berukuran kecil dan tidak
mempunyai cangkang. Gejala serangan hampir mirip dengan serangan
ulat atau belalang, tetapi dalam area yang lebih kecil karena pergerakan
keong yang lambat. Keong tanpa cangkang aktif dimalam hari, makanya
pengendalian

mekanis

bisa

dilakukan

dimalam

hari.

Sedangkan

pengendalian secara kimia bisa dilakukan dengan aplikasi insektisida


Mesurol dengan dosis 2 ml/Liter.
7. Aphid
Aphid adalah serangga kecil yang berbentuk seperti buah pear
dengan warna hijau atau coklat. Aphid menghisap cairan tanaman,
sehingga

menyebabkan

daun

menjadi

keriting,

tanaman

menjadi

terhambat pertumbuhannya dan menjadi kerdil. Aphid juga mengeluarkan


cairan seperti madu yang akan berubah menjadi jelaga hitam.
Pengendaliannya sama dengan hama yang lain

yaitu

menggunakan penyemprotan insektisida seperti Decis, Confidor, Curacron


dll dengan dosis 2 ml/Liter.

8. Spider Mite
11

Seperti namanya hama ini adalah keluarga laba-laba yang


berbentuk kecil. Spider Mite juga menghisap cairan pada tanaman.
Serangan hama ini mengakibatkan daun berwarna kuning, kemudian
muncul bercak-bercak pada bagian yang dihisap cairannya.
Serangan Spider mite secara besar bisa mengakibatkan daun habis
dan tanaman mati. Spider mite lebih kebal terhadap insektisida. Untuk itu
disarankan menggunakan akarisida seperti Kelthane sesuai dosis
dikemasannya.
9. Fungus Gnats
Adalah serangga yang berbentuk seperti nyamuk berwarna hitam.
Larvanya yang berbentuk seperti cacing hidup didalam media tanam dan
sering makan akar halus tanaman. Fungus Gnat dewasa merusak
seludang bunga, dengan gejala seranganmunculnya bintik-bintik hitam
pada seludang bunga.
Pada fase masih menjadi larva, maka penanganannya dilakuakn
dengan menaburkan Nematisida seperti Furadan G ke media tanam.
Sedangkan pada fase dewasa, dilakukan penyemprotan insektisida
seperti Decis, Confidor, Curacron dll dengan dosis 2 ml/Liter.
10. Cacing
Cacing yang

sering

menjadi

hama

adalah

Cacing

liang

(Radhopolus Similis) yang menghisap cairan pada akar tanaman. Gejala


tanaman yang terserang hama ini adalah tanaman menjadi lambat tumbuh
dan kerdil serta menghasilkan bunga yang kecil. Untuk mengatasinya
digunakan Nematisida seperti Furadan G yang ditaburkan pada media
tanam sesuai aturan yang tertera dalam kemasan.
Demikianlah sepuluh hama yang sering dijumpai menyerang
tanaman hias. Tindakan terbaik adalah melakukan pencegahan sebelum
hama menyerang tanaman, yaitu dengan sering mengontrol tanaman dan
perkembangannya.
penggantian

media

Penggunaan
tanam

media

secara

tanam

terjadwal,

yang
menjaga

steril

serta

kebersihan

lingkungan tempat tanaman diletakkan, serta menjauhkan tanaman yang


sudah terindikasi mendapat serangan.

12

Apabila serangan hama sudah terjadi, untuk skala serangan awal,


cara manual/mekanis lebih dianjurkan. Sedangkan apabila serangan
sudah memasuki tahap serius, maka penggunaan insektisida, akarisida
dan nematisida tidak terelakkan lagi. Dosis yang dianjurkan adalah seperti
yang tertera pada kemasan, atau umumnya bisa menggunakan dosis 2
ml/Liter untuk yang berbentuk cair. Dan dosis 2 Gr/Liter untuk yang
berbentuk powder. Sedangkan Nematisida seperti Furadan G yang
berbetuk butiran disesuaikan dengan lebar dan volume pot/media tanam.
Aplikasi pestisida pada tanaman hias sebaiknya digunakan secara
bijak, mengingat dampak negative yang bisa ditimbulkan. Karena
umumnya

tanaman

hias

diletakkan

berdekatan

dengan

manusia,

disamping juga pertimbangan akan adanya kemungkinan serangga


menjadi semakin kebal dengan insektisida yang digunakan.
Sedangkan berikut ini adalah beberapa Penyakit pada tanaman
hias :
1. Busuk Akar
Penyakit ini ditandai dengan daun yang menjadi pucat lalu busuk,
batang yang berlubang dan layu, serta akarnya berwarna coklat
kehitaman. Busuk akar disebabkan karena media yang terlalu lembap
sehingga menyebabkan cendawan cepat berkembang. Tanggulangi busuk
akar dengan mengganti media baru yang lebih porous, lalu potong bagian
akar yang busuk dan oleskan fungisida pada bekas potongan. Bisa juga
dengan menyemprotkan fingisida Previcur N dosis 1 ml/l dengan frekuensi
2 minggu sekali.
2. Layu Fusarium
Gejala serangan ditandai dengan tulang daun yang pucat berubah
warna menjadi cokelat keabuan lalu tangkainya membusuk. Penyababnya
adalah media yang selalu basah sehingga media tanam jadi ber-pH
rendah. Kondisi tersebut membuat cendawan fusarium oxysporium
leluasa berkembang. Penyakit ini dapat ditanggulangi dengan cara
mengganti media tanam. Dapat juga dengan menyiramkan fungisida

13

Derosol 500 SC dosis 1,5 ml/l setiap 2 minggu. Bisa juga diatasi dengan
menyemprotkan fungsida Folicur 25 WP 1-2 g/l atau Folocur 250 EC 1-2
ml/l atau Delsane MX 200 dosis1 g/l. Penyakit ini dapat dicegah dengan
menyiramkan Folicur 250 EC dengan konsentrasi 2 ml/l setiap 2 minggu
sekali.
3. Layu Bakteri
Dari namanya tentu dapat diketahui bahwa penyakit tanaman
disebabkan oleh bakteri. Layu bakteri ditandai dengan daun dan batang
yang melunak serta bau yang tak sedap. Untuk mencegahnya, media
tanam harus tetap dijaga agar tidak terlalu basah dan lingkungan sekitar
tidak terlalui lembap. Atasi layu fusarium dengan menyemprotkan
bakterisida Agrept dosis 1-2 ml/l atau Starner dosis 1 g/l setiap 2 minggu
sekali.
4. Bercak Daun
Penyakit ini disebabkan oleh cendawan. Sesuai namanya, penyakit
ini ditandai dengan adanya bercak daun yang lama kelamaan akan
membusuk. Bercak daun ini dapat diatasi dengan langsung memotong
daun yang busuk. Dapat juga menyemprotkan fungisida folicur 25 WP
dosis 1-2 g/l atau folicur 250 EC dosis 1-2 ml/l. Selain itu, dapat juga
dengan menggunakan Score dosis 1 cc/l. Frekuensi penyemprotan 2
minggu sekali. Pupuk berkadar kalsium tinggi juga dapat membantu
F.

mengatasi penyakit ini.


Indeks Kematangan
1. Senesen dan Kematangan Pada Bunga Potong
Senesen merupakan salah satu tahapan perkembangan biologis.
Proses ini merupakan salah satu seri perubahan menuju kematian suatu
organisme. Menurut Sacher, senesen diartikan sebagai stadia akhir dari
suatu organ yang tidak dapat balik dan mengawali proses perusakan selsel, dan akhirnya kematian organ tersebut. Sedangkan menurut Leopold,
senesen adalah sebagai proses perusakan yang merupakan penyebab
alami daripada kematian suatu organ.

14

Kematangan komoditi panenan yang dalam hal ini bunga potong


merupakan faktor penting dalam kegiatan penanganan pascapanen.
Dalam fisiologi pascapanen istilah matang sangat berbeda dengan istilah
masak. Matang diartikan sebagai stadia pertumbuhan dan perkembangan
yang lengkap atau stadia yang akan menjamin penyelenggaraan proses
pemasakan. Para ahli teknologi pascapanen mendefinisikan matang
sebagai stadia pada saat komoditi mencapai fase perkembangan yang
cukup setelah panenan dan penanganan pascapanen dan kualitasnya
masih dapat diterima oleh konsumen.
Didasari atas pengertian tersebut, maka tingkat kematangan
komoditi hortikultura sangat penting karena akan mempengaruhi kualitas
jual komoditi bersangkutan. Namun demikian sangatlah sulit untuk
menentukan tingkat kematangan pada suatu tanaman hias bunga potong.
Hal ini dikarenakan kebanyakan pada bunga potong, stadia yang nampak
secara mata telanjang (visual) merupakan hal yang menentukan kualitas
bunga tersebut. Sebagai contoh, saat stadia kuncup pada kebanyakan
jenis bunga merupakan saat panen yang baik karena pada saat itu
merupakan kualitas yang baik juga diperoleh. Namun bila dilihat secara
fisiologis, stadia kematangan pada saat tersebut belum tercapai. Jadi
nampaknya dari kedua proses yang berbeda tersebut di atas, senesen
merupakan hal penting bagi penanganan pascapanen bunga potong
ataupun tanaman hias pot. Menghambat senesen merupakan tujuan
utama dalam teknologi pascapanen bunga potong.
G.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Senesen


1. Suhu
Laju perkembangan dan senesen bunga potong maupun tanaman
hias pot sangat dipengaruhi oleh suhu respirasi dan laju peningkatan suhu
yang diakibatkan kegiatan respirasi tersebut menyebabkan proses
perusakan dipercepat. Hal ini dapat terjadi pada pengepakan, karena
kurangnya fasilitas pendinginan. Pengaruh suhu pendinginan akan
nampak bilamana suhu pendinginan di bawah 12,5 CO . Pada keadaan
suhu tersebut, chilling injury akan terjadi.
15

2. Air
Tanaman hias termasuk bunga potong sangat peka terhadap
kekeringan. Hal ini dikarenakan permukaan volume yang tinggi. Sedapat
mungkin air yang hilang selama periode pascapanen dapat digantikan
dengan air atau larutan dalam vas. Kelembaban relatif yang tinggi selama
penyimpanan dan pengangkutan dapat mengurangi cekaman air.
Pergerakan air di dalam batang atau tangkai bunga potong sangat
tergantung pada komposisi larutan dalam vas. Larutan yang bersifat asam
bergerak lebih cepat dibandingkan larutan yang bersifat netral atau basa.
3. Pemberian Karbohidrat
Tidak seperti buah dan syuran, bunga dapat dipotong sebelum
matang pada saat stadia kuncup. Hal ini sering secara komersial
dilakukan pada mawar dan gladiol. Tetapi untuk anyelir, bunga dipanen
saat mendekati mekar penuh, namun masih dapat dipanen pada stadia
kuncup untuk tujuan penyimpanan yang lebih panjang.
Berat kering bunga mawar yang berkembang penuh lebih berat
dua kali lipat dari bunga yang dipanen saat kuncup. Semakin berat bunga
tersebut, semakin banyak sumber karbohidrat tersimpan.

Batang atau

tangkai bunga tidak dapat sepenuhnya memasok semua bahan yang


diperlukan untuk menambah berat kering. Maka perlu adanya tambahan
senyawa yang berasal dari larutan vas. Karena memasok karbohidrat
untuk perkembangan dan respirasi sangat penting bagi kualitas dan lama
hidup bunga dalam vas, maka cadangan yang cukup merupakan hal
penting harus diperhatikan dalam penanganan komoditi panenan ini.
Penambahan gula pada larutan vas akan memperpanjang umur bunga
potong. Hal ini disebabkan kandungan protein pada bunga potong
dihambat penghancurannya. Penghambatan dikarenakan gula menjaga
mitokondria, sehingga perusakan terhadap struktur dan fungsi sel dapat
dihindari.
4. Kondisi Pertumbuhan

16

Kondisi prapanen yang sangat menentukan kualitas bunga potong


adalah pertumbuhannya selama dilapang. Hal ini berkaitan dengan
kandungan karbohidrat pada batang atau tangkai bunga. Semakin banyak
persediaan karbohidrat semakin baik kualitas bunga potong tersebut.
Faktor prapanen yang sangat mempengaruhi kualitas bunga potong
disebutkan oleh beberapa peneliti adalah cahaya. Kuncup bunga yang
terbentuk pada tanaman yang tumbuh pada kondisi intensitas cahaya
rendah, bunga potongnya akan berumur pendek bila dibandingkan
dengan kuncup bunga yang diperoleh dari tanaman yang tumbuh pada
kondisi penyinaran penuh.
Selain cahaya, faktor prapanen lainnya adalah suhu. Penurunan
suhu lingkungan selama pertumbuhannya (kurang lebih tiga minggu
sebelum

panen)

akan

mengurangi

umur

bunga

potong

yang

dihasilkannya. Pengaruh suhu ini berkaitan dengan meningkatnya


kandungan senyawa-senyawa phenolik pada daun. Pada suhu rendah,
jumlah air yang diserap
akan berkurang,

hal

inilah

yang

menyebabkan

beberapa senyawa phenolik tersebut meningkat.


suhu

selama

pertumbuhan

atau

selama

kandungan

Kondisi cahaya dan

masa

prapanen,

juga

mempengaruhi pigmentasi, terutama pada warna petal. Hal ini disebabkan


tidak lengkapnya proses perubahan kloroplas menjadi kromoplas.
5. Kondisi Penyimpanan
Pemakaian atau pembongkaran karbohidrat yang tertimbun terjadi
selama respirasi. Demikian pula halnya dengan potongan tanaman seperti
bunga potong, respirasi terus berlangsung sehingga karbohidrat tertimbun
terus dibongkar. Respirasi akan semakin cepat bilamana suhu lingkungan
tinggi. Oleh karena itu dengan mengatur suhu sekitar penyimpanan akan
dapat mengatur kecepatan atau tingkat respirasi itu sendiri. Hal ini berarti
pula dapat mengatur pemakaian atau pembongkaran karbohidrat yang
tersimpan pada organ bunga dan tangkainya.
6. Patogen
17

Faktor atau kondisi yang sangat efektif mempengaruhi kualitas


bunga potong adalah adanya infeksi patogen, baik semasa pertumbuhan
di lapang maupun setelah panen.

Akan semakin jelek pengaruhnya

bilamana patogen tersebut bersifat vascular dalam menginfeksinya. Jamur


yang sering menginfeksi jaringan petal selama penyimpanan adalah
Botrytis cinerea, yang berwarna abu-abu. Jamur ini akan tumbuh baik
pada keadaan penyimpanan bersuhu rendah dan disertai keadaan
kelembaban udara yang tinggi.
7. Zat pengatur tumbuh
Ada beberapa laporan hasil penelitian yang menjelaskan bahwa
etilen dapat merusak bunga, seperti senesen awal dan kelayuan pada
petal (mahkota bunga).
H.

Tanda-Tanda dan Gejala Yang Menurunkan Kualitas


Beberapa gejala yang sering muncul pada bunga potong yang
dapat menurunkan kualitas bunga atau merusak bunga adalah :
1. Menggulungnya helaian petal ke arah dalam. Gejala ini sering
disebut sebagai bunga yang tidur (pada anyelir).
2. Layu dan menggulungnya helaian petal ke arah dalam.
3. Layu pada sepal bagian ujung (terjadi pada anggrek).
4. Perangsangan pembentukan anthosianin.
Peningkatan konsentrasi etilen hingga 5001.000 ppm akan
menyebabkan tingkat bunga tidur meningkat. Hal ini dapat dikurangi
ataupun dihindari dengan penambahan karbon dioksida lebih dari 2
persen dalam ruang simpan.

Pemberian etilen ternyata tidak akan

merangsang senesen pada bunga yang masih belum mekar. Bila organ
tersebut terluka secara fisik, etilen endogen akan meningkat dengan
cepat. Kemudian setelah beberapa saat yang sangat singkat, etilen
tersebut menurun tanpa memberikan efek senesen pada organ bunga
potong. Akan tetapi bila pemberian etilen dilakukan terhadap bunga yang
telah cukup matang atau dengan keadaan setelah mekar, etilen sangat
efektif merangsang senesen. Jadi dengan tingkat kematangan yang
berbeda, organ bunga potong memiliki respon yang berbeda terhadap
kehadiran etilen tersebut.
18

Ada beberapa faktor atau keadaan yang merangsang atau


meningkatkan kepekaan jaringan bunga potong atau bunga-bunga pada
tanaman pot terhadap etilen. Faktor tersebut meliputi :
1. Suhu.
2. Cekaman air.
3. Genetik.
Dalam kaitannya dengan faktor genetik, etilen yang diproduksi oleh
jaringan atau organ bunga terkandung pada gen-gen yang mengendalikan
pertumbuhan dan perkembangan komponen bunga. Stilus memproduksi
etilen lebih banyak dibandingkan bagian-bagian lain dari bunga. Pollen
(butir sari) yang memproduksi auksin, lebih banyak merupakan sumber
perangsang bagi stigma (kepala putik) untuk memproduksi etilen.
Konsentrasi sitokinin alami (endogen) pada petal bunga mawar
menurun dengan semakin tuanya organ tersebut. Konsentrasi tersebut
lebih rendah pada jenis-jenis atau kultivar yang berumur pendek
dibandingkan berumur panjang. Pemberian sitokinin dari luar ternyata
dapat menunda senesen pada beberapa jenis tanaman hias. Pemberian
sitokinin juga menghambat kehilangan berat kering bunga-bunga yang
telah matang. Selain itu juga, sitokinin dapat merangsang penyerapan air
melalui pemeliharaan keutuhan sel-sel. Konsentrasi sebesar 5 persen
atau 5 ppm kinetin, dapat memperpanjang umur bunga potong anyelir dan
mawar pada vas.
Giberellin dapat

juga

meningkatkan

ukuran

bunga

dan

memperpanjang umur bunga pada vas (umur vas). Hal ini nampak nyata
pada bunga potong anyelir.
Auksin memegang peranan pada proses senesen bunga poinsettia.
Penghambatan senesen tersebut berkaitan dengan produksi etilen. Akan
tetapi kemampuan petal bunga berespon terhadap IAA merupakan fungsi
umur fisiologis.
Asam absisi berperan juga pada proses senesen bunga, dan
konsentrasi asam absisi endogen meningkat dengan semakin layunya
petal bunga. Asam absisi mempersingkat umur bunga dan bersamaan
dengan itu merangsang difusi etilen dan gas-gas lain yang mendukung
pengaruh negatif daripada asam absisi.
19

I.

Penanganan Pasca Panen Tanaman Hias Bunga Potong


kualitas atau mutu bunga potong tergantung pada penampilan dan
daya tahan kesegarannya. Bunga potong dengan mutu unggul (prima)
tentu memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan dengan bunga potong
bermutu rendah. Untuk mempertahankan mutu bunga potong tetap prima
perlu memperhatikan beberapa perlakuan terutama saat bunga siap
panen sampai pada pemanfaatnya oleh konsumen. Terdapat beberapa
aspek dan tahapan proses dalam upaya perlakuan pascapanen tanaman
hias sehingga komoditi tersebut masih dalam keadaan berkualitas baik
sampai pada konsumen. Tahapan dan aspek-aspek tersebut meliputi :
1. Aspek Bercocok Tanam (Prapanen)
Dalam bercocok tanam tanaman hias yang ditujukan untuk
pemanenan bagian-bagian hias yang dipotong (hias potong), tentunya
harus memperhatikan aspek lingkungan yang sangat menentukan kualitas
organ panenan tersebut. Cahaya dan suhu merupakan unsur iklim atau
cuaca yang sangat berperan sebagai faktor tumbuh dalam menghasilkan
bunga berkualitas baik. Perubahan suhu yang tidak tiba-tiba merupakan
kondisi suhu yang menguntungkan, daripada suhu yang berubah secara
drastis.
2. Kematangan Komoditi Saat Panen
Kematangan tanaman hias (organ bunga) merupakan suatu faktor
penting, dan kematangan dapat diketahui dengan memperhatikan dan
memperkirakan ukuran tanaman ataupun tingkat perkembangan (derajat
membukanya kuncup bunga). Sebagai contoh, pada mawar, keadaan
kuncup merupakan stadia yang baik dan pada stadia ini kebanyakan
tanaman mawar tahan terhadap penyakit fisiologis. Sedangkan bila
perkembangan lewat dari keadaan kuncup atau telah telah mekar
sebagian, kualitas bunga yang diperoleh rendah dan umur vas sangat
singkat. Pemanenan sebaiknya dilakukan sewaktu bunga mengandung
banyak air, yaitu sekitar pukul 06.00 08.00. Walaupun demikian panenan
juga dapat dilakukan pada pukul 16.00 17.00. Pada saat tersebut,

20

penyerapan air yang dilakukan oleh tanaman berlangsung lebih banyak


daripada penguapannya. Jika pemanenan dilakukan pada siang hari,
dikhawatirkan tanaman sudah mulai melakukan metabolisme aktif
sehingga daya tahan bunga terhadap kelayuan menjadi rendah.
3. Teknik Panenan
Panen tanaman hias (bunga potong) umumnya dilakukan secara
manual. Penggunaan alat-alat mekanik sangat sedikit, hanya pada alatalat pengangkutan dan alat pengikat (penyatu) satuan-satuan potongan
(tangkai) bunga. Tujuan panenan adalah untuk mengumpulkan komoditi
pada tingkat kematangan yang baik, dengan kerusakan dan kehilangan
hasil yang rendah, secepat mungkin, dan biaya murah. Alasan ini yang
membuat panenan secara manual lebih cenderung dipilih untuk tanaman
hias terutama bunga potong. Keuntungan-keuntungan panenan secara
manual meliputi :
a. Pemanen dapat memilih tingkat kematangan yang tepat
sehingga memungkinkan penentuan grade yang tepat, dan
pemanenan dapat secara berulang.
b. Pemanen dapat menangani komoditi dengan tingkat kerusakan

yang rendah.
c. Laju panenan dapat dengan mudah ditingkatkan dengan
penambahan tenaga kerja.
d. panenan secara manual bermodal kecil.
Masalah utama panenan secara manual terpusat pada tenaga
kerja. Penyediaan tenaga kerja merupakan masalah bagi petani. Tenaga
kerja dapat sangat mahal pada sat musim panen serentak. Meskipun
demikian, kualitas merupakan aspek yang sangat penting demi suksesnya
pemasaran bungan potong. Hal inilah yang menyebabkan sistim panen
secara manual tetap sebagai pilihan utama.
4. Grading
Pengelompokan komoditi ke dalam klas atau kelompok kualitas
tertentu,

merupakan

menentukan
baku. Society

tujuan

pada

klas kualitas hingga


of

American

tahapan
kini

belum

Florist mencoba
21

grading
ada

ini.

Kesulitan

patolan

menentukan

yang

beberapa

patokan kualitas bunga potong bagi anggota-anggotanya. Kualitas bunga


didasari atas kuncup dan mekarnya bunga, kekuatan tangkai, kualitas
daun, lurus dan panjangnya tangkai bunga. Didasari atas pengertian
kualitas yang telah dibahas didepan, maka untuk menentukan kualitas
suatu komoditi memerlukan kriteria tersendiri. Kriteria tersebut mencakup
beberapa aspek, yaitu :
a. Aspek kuantitatif, yang meliputi berat, panjang tangkai, jumlah
daun, ukuran bunga, dan ukuran daun.
b. Aspek kualitatif, yang meliputi bebas hama-penyakit, bebas
kerusakan mekanik, dan kondisi bunga.
c. Aspek yang tersembunyi dan menyangkut perasaan. Aspek ini
biasanya dinilai dari penampilan (aspek keindahan), dan warna
serta ukuran.
5. Bunching (Pengikatan)
Bunga-bunga biasanya dipasarkan dalam bentuk ikatan atau
rangkaian 10 25 tangkai, walaupun beberapa konsumen dan jenis
bunga dipasarkan dalam bentuk 1 tangkai atau kuntum bunga saja.
Kebanyakan pengikatan rangkaian bunga dilakukan secara manual.
Kemudian, ikatan tersebut biasanya dibungkus kertas atau plastik
polyethylene.
6. Packaging (Pengepakan) dan Penyimpanan
Bunga-bunga potong umumnya dipak dengan menggunakan kotak
kertas panjang, dan pada bagian atasnya diberikan lapisan. Ukuran kotak
pak biasanya 50 cm x 30 cm. Untuk beberapa jenis tanaman hias (bunga)
yang besar seperti gladiol, sering menggunakan pak khusus dari bahan
kayu kamfer yang dilapisi lilin. Ikatan beberapa potong bunga biasanya
dipak secara individu (satu pak satu tangkai bunga potong). Untuk jenisjenis yang kecil, pengepakan sering langsung terdiri dari beberapa ikatan
dalam satu pak. Untuk pengepakan akhir, anatara sususan/lapisan bunga
diberikan lapis pengaman berupa kertas koran ataupun plastik isolator.
Bila pak yang digunakan cukup besar. Biasanya dibuatkan rak-rak dari

22

kayu tipis. Hal ini bertujuan untuk melindungi bunga dari benturanbenturan fisik.
Cara penyimpanan bunga potong tergantung pada jenis bunga.
Cara-cara penyimpanan yang umum dilakukan untuk kebanyakan jenis
bunga potong antara lain dengan merendam tangkai bunga ke dalam air,
pemberian perlakuan kimia, ataupun dengan cara perlakuan pendinginan.
Teknologi sederhana yaitu dengan cara merendam tangkai bunga ke
dalam air yang bersih. Contoh ini banik bagi anyelir. Namun untuk
anthurium dan gladiol akan menguntungkan bilamana tangkai bungabunga tersebut direndam dalam air yang hangat (30 35OC) selama dua
menit sebelum dikemas. Untuk bunga potong krisan, sebaiknya direndam
dalam larutan pengawet (Chrysal 5 gr/l). Selama perendaman, bungabunga tersebut disimpan pada ruang dingin dengan kelembaban udara
cukup tinggi. Dengan perlakuan kimia, kuntum bunga anyelir dapat
dipertahankan tetap dalam stadia kuncup selama dalam penyimpanan.
Kuncup tersebut kemudian diperlakukan dengan sukrosa untuk tujuan
memekarkan kembali.
7. Pengaturan suhu pascapanen
Pada dasarnya pengaturan suhu untuk tanaman hias adalah
perlakuan pendinginan (cooling). Teknik-teknik cooling yang biasa
diterapkan pada tanaman hias ataupun bunga potong meliputi :
a. Forced air-free cooling
Teknik pendinginan menggunakan tekanan udara. System ini
bekerja karena adanya perbedaan tekanan yang menyebabkan
udara mengalir melalui ventilasi kontainer. Dicapainya pendinginan
yang cepat karena adanya kontak antara udara dingin dengan
produk yang hangat.
b. Room Cooling
Merupakan metode pendinginan yang luas pemakaiannya,
yaitu dengan memasukkan tanaman hias atau bunga potong ke
dalam ruangan penyimpanan. Ke dalam ruang simpan dialirkan

23

udara dingin dan diatur agar bergerak secara horisontal mengenai


tanaman hias atau bunga potong yang ada di dalam kontainer atau
tempat penyimpanan.
c. Vacuum Cooling
Melalui metode ini, pendinginan diperoleh dengan cara
mengurangi tekanan atmosfir di dalam ruangan yang besar, kuat,
dan terbuat dari baja. Penurunan tekanan atmosfir juga mengurangi
tekanan uap air berkurang, maka produk akan berevaporasi. Untuk
mengurangi

kehilangan

berat,

selama

periode

pendinginan

dilakukan penyemprotan air secara halus ke dalam ruangan.


d. Package Icing
Cara ini merupakan cara pendinginan dengan memasukkan es
ke dalam kontainer atau kotak pak penyimpanan. Jumlah es yang
diberikan tergantung pada suhu awal produk. Es-es yang
dimasukkan ke dalam wadah penyimpanan berupa bongkahbongkah es, pecahan es, atupun air es yang disemprotkan ke
permukaan

produk

sesaat

setelah

dimasukkan.

Pekerjaan

pendinginan metode ini dilakukan secara manual. Pendinginan atau


pengaturan suhu rendah ditujukan untuk menunda senesen. Jadi
memperpanjang umur komoditi dalam simpanan.
Perlakuan pendinginan biasanya dilakukan selama periode
simpan atau pengumpulan sesaat setelah panen, dan selama
perjalanan sehingga nantinya bila sampai pada pasar, komoditi
masih dalam keadaan segar.

8. Pengaturan Air
Air yang cukup merupakan faktor yang sangat penting dalam
penanganan pascapanen bunga potong ataupun tanaman hias lainnya.
Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam pengaturan air:
a. Bucket (ember-wadah) Syndrome
Tanpa pendinginan yang cukup, bunga potong tidak mungkin
diipertahankan tetap segar. Dahulu untuk menyediakan air yang
cukup atau mempertahankan kelembaban, ke dalam kontainer

24

dimasukan ember-ember berisi air. Kini dengan adanya pengaturan


secara modern penggunaan ember telah ditinggalkan. Dengan
menggunakan ember-ember berisi air, kelembaban tidak dapat
diatur, dan air yang berada di dalam kontainer terlalu banyak
sehingga mengurangi ruang simpan.
b. Kualitas air
Air dapat mempengaruhi pH dan bahan-bahan terlarut dalam
air vas sehingga mempengaruhi umur vas bunga potong tersebut.
Airpun mempengaruhi kualitas bunga potong sejak tanaman masih
di lapangan atau masih dalam periode pertumbuhan. Oleh karena
itu ada upaya memperbaiki kualitas air. Secara sederhana
penambahan asam yang cukup, dapat menurunkan pH hingga 3
3,5. Asam sitrat merupakan asam yang baik untuk mengatur pH air
tanpa efek yang membahayakan bila penambahan asam tersebut
berlebihan.
Garam 8-hydroxyquinoline

dan

aluminium

sulfat

umumnya

digunakan sebagai bahan aktif bakterisida pada bunga-bunga potong.


Disamping itu, bahan-bahan tersebut dapat sebagai bahan penurun
kemasaman larutan vas.
Untuk masa mendatang, kemungkinan digunakan penanganan
kering pada bunga potong akan dilakukan. Pada sitim ini bunga-bunga
tidak diletakkan dalam air. Keuntungan lain metode kering ini adalah
memperpanjang umur simpan dalam vas, efisien dalam penggunaan alat
pendingin dan ruang pendingin, dan mengurangi biaya pananganan
pascapanen.
9. Pemberian karbohidrat
Pemberian senyawa-senyawa karbohidrat pada bunga potong
bertujuan memperpanjang umur vas. Bahan-bahan komersial sebagai
sumber karbohidrat adalah Floralife, Oasis, Florever, dan Vivalafleur.
Penambahan karbohidrat yang cukup pada beberapa bunga potong
selama 24 jam dalam larutan sukrosa segera setelah panen dapat
memperpanjang umur vas. Berikut beberapa bahan karbohidrat yang

25

sering digunakan sebagai bahan memperpanjang umur vas bunga


potong :
a. 1,5 persen sukrose ditambahkan 320 ppm asam sitrat dapat
digunakan sebagai larutan vas untuk mawar.
b. 1,5 persen sukrose ditambahkan 320 ppm asam sitrat dan 25
ppm silver nitrat dapat digunakan sebagai larutan vas gladiol
dan anyelir.
c. 1,5 persen sukrose ditambahkan 250 ppm 8-hydroxy-quinoline
sitrat dapat digunakan sebagai larutan vas kebanyakan jenis
bunga.
d. 20 persen sukrose ditambahkan 250 ppm 8-hydroxy-quinoline
sitrat digunakan sebagai larutan untuk merendam gladiol
selama 24 jam.
e. 10 persen sukrose ditambahkan 200 ppm physan dapat
digunakan sebagai larutan merangsang membukanya kuncup
f.

anyelir.
2 persen sukrose ditambahkan 200 ppm physan dapat
digunakan sebagai larutan perangsang membukanya kuncup

krisan.
Dapat dikatakan bahwa penggunaan bahan aktif larutan vas bunga
potong, tingkat konsentrasinya berbeda untuk masing-masing varietas
ataupun jenis tanaman. Biasanya, konsentrasi di atas 1,5 persen dapat
menyebabkan terbakarnya daun-daun bunga potong mawar, tetapi
pengaruhnya sangat kecil pada anyelir.
Dari beberapa hasil penelitian, dilaporkan bahwa penambahan
karbohidrat sebagai sumber gula pada larutan vas, ternyata merangsang
kerja sitokinin endogen untuk menunda senesen bunga, dan menghambat
etilen dalam merangsang kelayuan (senesen). Hal ini berkaitan dengan
meningkatnya kekebalan jaringan atau organ terhadap etilen atau
menunda pembentukan etilen alami.
Hasil penelitian lainnya menjelaskan bahwa sukrose meningkatkan
ke-seimbangan air pada jaringan bunga potong. Ini berkaitan dengan
pengaruh gula pada proses membuka dan menutupnya stomata dan
pengurangan kehilangan air. Kemudian, setelah pemberian gula mencapai

26

ke kuntum bunga, terjadi peningkatan dalam keseimbangan air.


Keseimbangan air ini berkaitan pula dengan menurunnya konsentrasi
asam absisi endogen.
10. Pengatur tumbuh
Penanganan pascapanen komoditi hortikultura termasuk tanaman
hias dan bunga potong selalu melibatkan pengaruh etilen. Akan tetapi
teknologi untuk mengurangi etilen pada ruang simpan, pak, dan areal atau
ruang penanganan jarang dilakukan terhadap tanaman hias dan bunga
potong. Padahal, kontaminasi etilen pada semua tingkatan proses
pascapanen bunga potong adalah umum atau selalu ada.
Secara umum, untuk memperpanjang umur bunga potong dengan
pengaturan ruang simpan dan pak penyimpanan dirasa sudah cukup.
Penghilangan etilen membutuhkan teknologi yang cukup mahal. Upaya
memperpanjang umur simpan bunga potong yang sering dilakukan petani
produsen adalah dengan menggunakan senyawa anti etilen seperti ion
silver. Perendaman bunga potong pada larutan silver atau thiosulfat
setelah panen dapat menghambat pembentukan etilen endogen maupun
menghambat pengaruh etilen eksogen, sehingga kuncup-kuncup bunga
masih dapat dipertahankan dalam keadaan tidur untuk beberapa waktu
lamanya.

27

BAB III
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Tanaman hias mencakup semua tumbuhan, baik berbentuk terna,
merambat, semak, perdu, ataupun pohon, yang sengaja ditanam orang
sebagai komponen taman, kebun rumah, penghias ruangan, upacara,
komponen riasan/busana, atau sebagai komponen karangan bunga.
Bunga potong pun dapat dimasukkan sebagai tanaman hias. Dalam
konteks umum, tanaman hias adalah salah satu dari pengelompokan
berdasarkan fungsi dari tanaman hortikultura. Bagian yang dimanfaatkan
orang tidak semata bunga, tetapi kesan keindahan yang dimunculkan oleh
tanaman ini.
Untuk menerapkan penanganan pasca panen tanaman hias bunga
potong secara baik dan benar, maka perlu diketahui faktor-faktor yang
mempengaruhi pasca panennya yakni :
1. Kematangan bunga (flower maturity).
2. Persediaan bahan makanan.
3. Temperatur.
4. Persediaan air.
5. Pertumbuhan mikroorganisme.
6. Kualitas air.
7. Etilen.
8. Kerusakan mekanis.
9. Penyakit.
Perubahan kimia fisik selama pematangan diantaranya, Perubahan
struktur, Perubahan biokimia, Perubahan metabolism, dan Perubahan
pigmen. Senesen merupakan salah satu tahapan perkembangan biologis.
Proses ini merupakan salah satu seri perubahan menuju kematian suatu
organisme. Kematangan komoditi panenan yang dalam hal ini bunga
potong

merupakan

faktor

penting

dalam

kegiatan

penanganan

pascapanen. Dalam fisiologi pascapanen istilah matang sangat berbeda


dengan istilah masak. Matang diartikan sebagai stadia pertumbuhan dan
perkembangan

yang

lengkap

atau

penyelenggaraan proses pemasakan.

28

stadia

yang

akan

menjamin

Terdapat beberapa aspek dan tahapan proses dalam upaya


perlakuan pascapanen tanaman hias sehingga komoditi tersebut masih
dalam keadaan berkualitas baik sampai pada konsumen. Tahapan dan
aspek-aspek tersebut meliputi :
1. Aspek Bercocok Tanam (Prapanen)
2. Kematangan Komoditi Saat Panen
3. Teknik Panenan
4. Grading
5. Bunching (Pengikatan)
6. Packaging (Pengepakan) dan Penyimpanan
7. Pengaturan suhu pascapanen
8. Pengaturan Air
9. Pemberian karbohidrat
10. Pengatur tumbuh
B.

Saran
Sebaiknya dalam setiap penulisan makalah mahasiswa lebih aktif
dalam penyusunan makalah agar makalah yang dihasilkan dapat sesuai
dengan harapan. Dalam setiap penyusunan makalah sebaiknya dilakukan
pengaplikasian dari materi yang di susun, agar apa yang telah di susun
tidak menjadi sesuatu yang sia-sia belaka.

29

DAFTAR PUSTAKA
http://www.academia.edu/4038084/BAB_9_Paska_Panen_Hias
fp.unram.ac.id/...PascapanenHortikultura/BAB-9-Paska-Panen-Hias.pdf
http://pertanian457.blogspot.com/2011/11/penanganan-pasca-panentanaman-hias.html
http://www.academia.edu/8345861/PROSPEK_PENGEMBANGAN_TANA
MAN_HIAS
http://bloggerlibra-library.blogspot.com/2011/10/pasca-panen-tamanhias.html
https://www.scribd.com/doc/67012479/Makalah-Tanaman-Hias-Cepet
http://s3.amazonaws.com/ppt-download/makalahhorti-141223065736conversion-gate01.docx?response-contentdisposition=attachment&Signature=e8yQcw1X5zP0wV62%2B57BSIaSBM
M
%3D&Expires=1431352518&AWSAccessKeyId=AKIAIA7QTBOH2LDUZR
TQ
http://id.wikipedia.org/wiki/Tanaman_hias
https://www.google.co.id/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=10&ved=0CFkQFjAJ&url=http
%3A%2F%2Ffp.unram.ac.id%2Fdata%2FDR.Bambang%2520B
%2520Santoso%2FFisiologiTeknologiPascapanen%2FPENANGANAN
%2520PASKA%2520PANEN-bungaPotong%2520%255BCompatibility
%2520Mode
%255D.pdf&ei=yrFQVdrNHIOB8gWupoG4DQ&usg=AFQjCNH3NOxbBYn
hs4tPm211PLHgH3Dp4A&sig2=OmeExVDhj5vlOcUQDvl4lQ&bvm=bv.928
85102,d.dGc&cad=rja

30