Anda di halaman 1dari 3

SISTEM PENGAWASAN TERHADAP PEMERINTAH: HARAPAN

UNTUK YANG LEBIH BAIK


Oleh: Laras Qsithina Putri

Dalam berbagai mass media, perkuliahan ataupun proses belajar-mengajar, maupun


percakapan sehari-hari, sering disebutkan bagaimana Indonesia masih dalam tahap
berkembang atau dalam kata lain adalah sebuah negara berkembang (developing country).
Jika berbicara mengenai developing country, pasti negara-negara maju seperti Amerika
Serikat, Inggris, dan negara-negara lain yang telah terkenal akan kemajuannya dalam segala
aspek, akan ikut dibahas pula. Keadaan masyarakat dan pembangunan di developed countries
ini kemudian dijadikan perbandingan dengan keadaan yang di Indonesia.
Negara-negara maju tersebut dapat dianggap telah selesai dalam menangani remehtemeh masalah negaranya dalam bidang kesejahteraan. Meskipun secara de facto, memang
masih banyak warga yang tak memiliki rumah (homeless people) di negara-negara maju
seperti Amerika Serikat, student loan yang mencekik para mahasiswa di negara-negara barat
yang memiliki konsep tersebut, dan lain sebagainya, namun di dalam teori, negara-negara
seperti Amerika Serikat tersebut telah diakui sebagai negara maju. Dan memang, apabila
dibandingkan secara kasar dengan Indonesia, pekerjaan rumah Pemerintah Indonesia dalam
membenahi masalah kesejahteraan dapat dikatakan masih terbilang lebih banyak.
Menurut saya, status negara kita yang masih sebagai developing country itu adalah
salah satu faktor terbesar dalam kurangnya rasa pengawasan terhadap pemerintah di
Indonesia. Karena masalah yang dihadapi dan harus diatasi oleh Pemerintah Indonesia
banyak, dalam merumusukan suatu kebijakan, fokus utama masih besar di ranah perencanaan
dan pelaksanaan. Perencanaan dan pelaksanaan tersebut ditujukan untuk mengatasi masalah
dan problema yang ada. Namun dalam tahap pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan
yang dilakukan pemerintah, saya merasa masih kurang kesadaran baik dari pemerintah dan
rakyat sendiri dalam melakukannya. Hal ini dapat dilihat dari belum adanya undang-undang
mengenai sistem pengawasan nasional yang dibentuk dan diberlakukan setelah sekian lama
negara ini merdeka. Rancangan undang-undang siswanas yang kabarnya sedang digarap pun
tak kunjung ada kabarnya kembali. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)
sebagai salah satu badan pelaksana fungsi pengawasan fungsional pun dasar hukum
pembentukannya hanya berupa inpres. Di sisi lain terdapat Badan Pengawas Keuangan
(BPK) yang pembentukannya diamanatkan dalam konstitusi, namun dari segi pengisian ketua
sangat dipenuhi unsur politis yang menyebabkan pengisian ketua BPK lebih seperti bagi-bagi
jabatan antar parpol yang memiliki suara banyak di DPR.
Dari sisi psikologis, seseorang ketika mendengar kata pengawasan akan merasa
awas, awas segala gerak-geriknya akan diawasi, awas gerak-geriknya akan dikritisi dan
menimbulkan masalah bagi dirinya. Hal ini menyebabkan sebagian besar orang menilai
pengawasan sebagai suatu mekanisme untuk mengorek kesalahan-kesalahan dan seakan
alergi terhadap suatu lembaga atau badan pengawas.

|1

PERBAIKAN UNTUK MASALAH SISTEM PENGAWASAN PEMERINTAH DI


INDONESIA
Sistem pegawasan terhadap perbuatan aparatur pemerintah yang terdapat di Indonesia
yakni antara lain: (i) pengawasan melekat; (ii) pengawasan fungsional; (iii) pengawasan
politis; (iv) pengawasan yudisial; (v) pengawasan eksternal pemerintah atau Ombudsman;
(vi) pengawasan oleh Lembaga Negara Independen; dan (vii) pengawasan masyarakat.
Di dalam sistem pengawasan melekat, perbaikan yang dapat dilakukan antara lain
adalah memperjelas tugas pokok dan fungsi (tupoksi) untuk tiap-tiap bagian dalam suatu
badan pemerintahan. Dengan tupoksi tersebut, diharapkan setiap pegawai dalam tiap badan
tersebut dapat dievaluasi berdasarkan tupoksi badan tersebut. Form evaluasi kerja tahunan
yang dilakukan oleh atasan dalam sistem pengawasan melekat sebaiknya disinkronkan
dengan tupoksi, serta diminimalisir opsi penilaian yang sifatnya kualitatif sehingga dapat
dihindari rasa pilih kasih atasan terhadap bawahan. Hasil evaluasi pengawasan melekat ini
dapat dilakukan crosscheck dengan hasil pengawasan jenis lain, misalnya dengan evaluasi
pengawasan fungsional dan pengawasan masyarakat.
Sistem lainnya yang dapat diperbaiki adalah dalam aspek pengawasan yang dilakukan
oleh Lembaga Negara Independen (LNI). Lembaga-lembaga Negara Independen yang
menjalankan fungsi pengawasan ini harus dirampingkan, dengan cara disortir dan diseleksi
apakah semua badan-badan tersebut memang relevan dan dibutuhkan, serta sejauh mana
keefektifan pengawasan yang dilakukan terhadap lembaga-lembaga tersebut. Untuk LNI yang
konteks pengawasannya searah dan sejalan (misalnya: Dewan Pers dengan Komisi Penyiaran
Indonesia, Komnasham dengan Komisi Perlindungan Anak dan Wanita).
Peradilan Tata Usaha Negara dan Ombudsman juga merupakan kedua badan
pengawasan yang bagus dan bisa disinkronkan pengawasannya satu sama lain. Untuk kasuskasus yang dapat diselesaikan oleh Ombudsman, hendaknya diadukan kepada Ombudsman
dulu supaya dapat diselesaikan melalui jalur non-ligitasi terlebih dahulu. Selain itu,
Ombudsman juga dapat membuka pos-pos di tempat-tempat pelayanan publik yang cukup
ramai dan cukup vital diperlukan adanya pos pengaduan. Di lingkup yang lebih luas,
masyarakat juga harus diberikan penyuluhan hukum terkait hak-hak dan kewajibankewajiban yang mereka miliki ketika berurusan dengan pemerintah, terutama untuk
masyarakat-masyarakat di daerah yang cukup statis perkembangannya.
SISTEM PENGAWASAN INDONESIA YANG LEBIH BAIK DAN TERINTEGRASI
Masalah-masalah dalam sistem pengawasan terhadap pemerintahan Indonesia,
menurut saya adalah masalah-masalah yang bersifat sistemik. Saling kait-terkait antar bidang
baik dari segi lembaga yang melaksanakan fungsi pengawasan tersebut maupun dari segi
keilmuan yang harus digunakan untuk memecahkan masalah-masalah tersebut. Masalah yang
ada juga saling berhubungan, masalah yang satu mempengaruhi masalah yang lain dan atau
masalah yang satu menimbulkan masalah yang lain. Hal ini menyebabkan perbaikan untuk
sistem pengawasan pemerintah di Indonesia juga harus menyeluruh dan terintegrasi. Kajian
perumusan kebijakan untuk menyelesaikan permasalahan dalam sistem pengawasan
pemerintah di Indonesia ini harus melibatkan antarbidang keilmuan, dan dalam aplikasi hasil

|2

perumusan kebijakan untuk menyelesaikan masahal ini pun semua pihak harus concern dan
sadar untuk melaksanakannya.
Salah satu harapan terbesar akan adanya sistem pengawasan terhadap pemerintah di
Indonesia ada di UU Siswanas, yang rancangan undang-undangnya masih dalam tahap
pembahasan. Sebagai manusia, kita memang tidak akan pernah bisa menciptakan suatu
kesempurnaan. Produk hukum sebagai hasil cipta dari akal pikiran manusia pun mustahil
rasanya untuk bisa benar-benar seratus persen sempurna tanpa loophole. Demikian pula
dengan UU Siswanas yang akan datang ini, ekspektasi utama untuk UU ini adalah mampu
menciptakan sistem pengawasan terhadap perbuatan aparatur negara yang sistemis dan
terintegrasi, serta mampu mennyelesaikan permasalahan-permasalahan dalam berbagai jenis
pengawasan terhadap perbuatan aparatur negara.
Di pembukaan, saya menyinggung mengenai faktor psikologis yang menyebabkan
mindset orang Indonesia masih kurang ikhlasuntuk diawasi. Terkait masalah tersebut,
alangkah lebih baiknya jika dalam kurikulum pendidikan untuk generasi muda di Indonesia,
diberikan kegiatan pembelajaran yang menimbulkan kesadaran akan pentingnya pengawasan
dalam implementasi suatu rencana. Misalnya, jika guru memberikan suatu tugas kelompok,
kelompok-kelompok tersebut harus didorong untuk membuat rencana kerja, dan setiap
pertemuan atau setiap minggu memberikan progress report terkait tugas mereka dimana
kemudian guru memberikan feedback serta saran dan masukan terhadap kelangsungan tugas
mereka tersebut
Kemudian, akan lebih baik jika sanksi yang diatur tidak hanya melulu sanksi pidana.
Seperti dalam Undang Nomor 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara di mana
menerapkan sanksi berupa publikasi di media cetak untuk pejabat tata usaha negara yang
belum melaksanakan putusan Peradilan Tata Usaha Negara yang harus dilakukannya. Sanksi
yang bersifat sosial tersebut menurut saya sangat menarik untuk diterapkan lebih luas
terhadap tindak pidana yang mungkin diatur dalam UU Siswanas mendatang. Sanksi sosial
seperti publikasi di media masa dan aspek pengawasan masyarakat jika dipadukan akan
menjadi social control yang baik. Namun dalam penerapan sanksi yang bersifat sosial ini,
harus diperhatikan dan diatur juga mengenai jenis-jenis tindakan pidana yang dapat dikenai
sanksi ini, agar kesalahan-kesalahan kecil dalam administrasi atau pelayanan publik tidak
langsung diumumkan ke khalayak umum.
Dengan Undang-Undang Sistem Pengawasan Nasional yang tak kunjung keluar,
diharapkan dibalik itu ada perencanaan yang matang terkait sistem pengawasan terhadap
pemerintah untuk ke depan. Pemerintah diharapkan dapat menggunakan momentum ini untuk
menyusun pengaturan yang benar-benar akomodatif terhadap problem-problem dalam sistem
pengawasan yang telah ada, dan mampu memberikan sistem pengawasan nasional yang
terintegrasi sehingga dapat mendukung terciptanya pemerintahan yang bersih, transparan, dan
akuntabel.

|3