Anda di halaman 1dari 34

TUGAS MAKALAH

DIETETIKA DASAR
TBC (Tuberculosis)

Disusun Oleh

Kelompok 3
1. Ayu Asmara Kesumawati
PO.71.31.1.13.02
2. Diana Shinta

PO.71.31.1.13.00

3. Dwita Leliana

PO.71.31.1.13.008

4. Enggi Febriyanti
PO.71.31.1.13.011
5. Ike Surya Dewi

PO.71.31.1.13.014

6. Lita Asriana
PO.71.31.1.13.017
7. Nia Yulia Sari

PO.71.31.1.13.0

Dosen Pembimbing :

1.Muzakar, SST, MPH


2.Susyani, SsiT, M.Kes
3.Rusnelly,SST,M.Si

POLTEKKES KEMENKES PALEMBANG


JURUSAN GIZI
TAHUN AKADEMIK 2014/2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, sehingga kami dapat
menyelesaikan

tugas

(Tuberculosis).Motivasi

makalah
dari

Dietetika

pembuatan

Dasar

makalah

mengenai
ini

adalah

TBC
untuk

memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen dan untuk memenuhi


kewajiban sebagai mahasiswa yang sumbernya penulis dapatkan dari
berbagai sumber yang berhubungan dengan TBC (Tuberculosis). Meskipun
penulis menyadari bahwa ada banyak kekurangan karena keterbatasan
ilmu yang dimiliki.
Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan yang kami
hadapi. Namun, kami menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan
makalah ini tidak lain berkat bantuan, dorongan dan bimbingan dari dosen
dan teman-teman sekalian.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan
pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi kami sehingga
tujuan yang diharapkan dapat tercapai. Apabila banyak kekurangan dari
makalah

ini

harap

dimaklumi,

karena

kami

masih

dalam

tahap

pembelajaran.

Palembang, Mei 2015

Penyusun

DAFTAR ISI
Kata Pengantar...............................................................ii
Daftar isi........................................................................iii
BAB
1.1.
1.2.
1.3.

I PENDAHULUAN.......................................................1
Latar Belakang......................................................................1
Rumusan Masalah.................................................................4
Tujuan....................................................................................4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...............................................5


2.1. Definisi TBC (Tuberculosis).......................................................5
2.2. Etiologi dan Patogenesis..........................................................5
2.3. Klasifikasi Penyakit dan Tipe Penyakit.....................................8
2.4. Epidemiologi............................................................................10
2.5. Tanda-tanda dan Gejala Klinis..................................................11
2.6. Diagnosis Tuberkulosis.............................................................12
2.7. Pengobatan Tuberkulosis ........................................................14
2.7.1. Pengobatan Tuberkulosis Pada Pasien Dengan Keadaan Khusus
........17
2.7.2. Efek Samping
OAT....................
.20
BAB III HUBUNGAN KEBUTUHAN GIZI DAN TUBERKULOSIS. 22
3.1. Kurangnya Asupan Makanan....................................................22
3.1.1. Kurang Energi dan Zat Gizi Mikro..................................23
3.1.2. Kurang Zat Gizi Mikro...................................................
23
3.2. Peran Gizi Dalam Penyembuhan Pasien Tuberkulosis .............23
3.2.1. Penatalaksanaan Diit......................................................23
3.3. Interaksi OAT dan Makanan....................................................26
BAB IV PENUTUP.............................................................27
4.1. Kesimpulan.............................................................................27
Daftar Pustaka................................................................28

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Penyakit tuberkulosis paru (TBC) adalah suatu infeksi yang
disebabkan

oleh

bakteri

mycrobacterium

tuberculosis.

Mikroorganisme Mycobacterium tuberkulosis yang mengenai


paru - paru manusia tetapi dapat juga mengenai organ maupun
jaringan lain seperti kulit, mata, kelenjar limfe, tulang, selaput
otak dan organ lainnya (insidensi sebesar 20%). Bakteri ini
dikenal sebagai bakteri Batang Tahan Asam (BTA). Transmisi
penyakit TBC terjadi di udara yaitu melalui droplet yang
dihasilkan oleh penderita TBC paru yang infeksius.
Tuberkulosis

dapat

dibagi

menjadi

tuberkulosis

paru,

ekstraparu, atau keduanya. 80% kasus baru TB umumnya adalah


tuberkulosis paru (TBC), tetapi jika disertai dengan infeksi HIV,
tuberkulosis

dapat

bermanifestasi

sebagai

TB

paru

dan

ekstraparu secara bersamaan, sekitar 2/3 pasien HIV dengan


tuberkulosis memiliki baik TBC paru maupun TB ekstraparu
ataupun TB ekstraparu sendiri (Raviglione, 2008). Di Indonesia,
TBC adalah penyebab kematian kedua setelah penyakit jantung.
Selain itu Indonesia adalah negara ketiga di dunia yang
mempunyai penderita TBC terbanyak setelah Cina dan India.
Pada tahun 1998 diperkirakan TB di China, India dan Indonesia
adalah 1.828.000, 1.414.000, dan 591.000 kasus. Bedasarkan
survey kesehatan rumah tangga 1985 dan survey kesehatan
nasional 2001, TB menempati ranking 3 sebagai penyebab
tertinggi kematian di Indonesia. Pravelensi nasional terakhir TB
diperkirakan 0,24%. (Asril Bahar, 2006)
Sekitar 1/3 populasi dunia sudah terinfeksi oleh basil TB, 510% orang yang terinfeksi basil TB (tanpa infeksi HIV) akan
menjadi infeksius dan menimbulkan gejala. Menurut WHO,
1

jumlah terbesar penderita baru TB terdapat di Asia Tenggara,


dengan jumlah 35% dari keseluruhan kasus secara global.
Indonesia merupakan negara ketiga terbesar dalam jumlah kasus
TB di dunia. Setiap tahunnya, jumlah kasus baru TB di Indonesia
bertambah 25% dan sekitar 140.000 kematian di Indonesia
setiap tahunnya disebabkan oleh TB (WHO, 2008).
Berdasarkan data Badan Kesehatan dunia (WHO) tahun 2012,
jumlah pasien tuberkulosis di Indonesia sekitar 450.000 dan pada
saat ini Indonesiaberada di urutan ke 4dari 22 negara di dunia
yang mempunyai beban Tuberkulosis tertinggi. Penyebab utama
meningkatnya beban masalah Tuberkulosis antara lain adalah
kemiskinan seperti pada negara-negara sedang berkembang;
perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dunia dan
perubahan struktur umur kependudukan serta dampak pandemi
HIV. Saat ini prevalensi TB pada pasien HIV sangat meningkat
baik nasional maupun global, sehingga penatalaksanaan gizi
pada pasien TB-HIV juga perlu mendapat perhatian.
Sumber penularan penyakit TBC adalah pederita TBC dengan
BTA (+). Apabila penderita TBC batuk, berbicara, atau bersin
dapat menularkan kepada orang lain. Tetapi faktor resiko yang
berperan penting dalam penularan penyakit TBC diantaranya
faktor

kependudukan

dan

faktor

lingkungan.

Faktor

kependudukan diantaranya adalah jenis kelamin, umur, status


gizi, dan kondisi sosial ekonomi. Sedangkan faktor lingkungan
diantaranya lingkungan dan ketinggian wilayah, untuk lingkungan
meliputi

kepadatan

pencahayaan,

suhu,

penghuni,
kelembaban,

lantai

rumah,

dan

ketinggian

ventilasi,
wilayah

(Ahmadi, 2005). Penyakit TB Paru yang juga dipengaruhi oleh


faktor lingkungan terutama lingkungan dalam rumah serta
perilaku penghuni dalam rumah yang tidak memenuhi syarat
dapat menjadi faktor risiko sumber penularan berbagai penyakit
infeksi terutama ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) dan TB
Paru (Depkes, 2007).
2

Selain itu penyebab semakin meningkatnya beban masalah


Tuberkulosis tersebut adalah peningkatan potensi kegagalan
program Tuberkulosis antara lain karenatatalaksana kasus yang
tidak sesuai standar. Salah satu penyebabnya adalah diagnosis
dan paduan obat yang tidak standar serta peranan terapi dietetik
yang belum memadai. Dalam rangka mencapai target Millenium
Development Goals (MDGs) pada tahun 2015 yakni prevalensi
penyakit Tuberkulosis turun 50% dari data survei prevalensi tahun
1990 sebesar 448 per 100.000 penduduk menjadi sebesar 224
per 100.000 penduduk. Untuk itu dibutuhkan upaya percepatan
pengendalian Tuberkulosis (TB) di Indonesia, antara lain melalui
upaya pelayanan gizi yang berkualitas bagi pasien Tuberkulosis.
Bila dikaitkan dengan status gizi bahwa gizi merupakan faktor
pendukung
Tuberkulosis,

bagi

penanggulangan

maka

gizi

yang

penyakit

seimbang

infeksi

dapat

seperti

membantu

mempercepat proses penyembuhan penyakit Tuberkulosis.


Risiko komplikasi, termasuk kematian pada pasien Tuberkulosis
dipengaruhi oleh status gizi secara individual. Status gizi dan
utilisasi/penggunaan zat gizi menjadi terganggu akibat adanya
infeksi. Selain itu dengan adanya infeksi, kebutuhan zat gizi
menjadi meningkat karena tubuh memerlukan energi untuk
melawan penyakit.
Adanya ketidakmampuan memenuhi kebutuhan zat gizi yang
meningkat akan mengakibatkan tubuh mengalami defisiensi/
kekurangan zat gizi terutama energi dan protein. Karena itulah
tubuh

menggunakan

cadangan

energi

yang

menyebabkan

penurunan berat badan, lemah dan status gizi menurun. Oleh


karena

itu

kebutuhan

bahan

makanan

yang

mengandung

antioksidan seperti vitamin C, vitamin E dan karoten meningkat.


Antioksidan sangat dibutuhkan untuk melindungi paru dari proses
inflamasi akibat asap rokok dan polutan lainnya yang juga menjadi
faktor risiko terjadinya penyakit Tuberkulosis itu sendiri. Obat anti
tuberkulosis (rimfampisin dan INH) dan beberapa obat lini kedua

dapat mengganggu absorpsi zat gizi apabila diminum bersamaan


dengan makanan.
Kondisi
diatas

menunjukkan

pentingnya

perencanaan

kebutuhan gizi dan pemantauan terhadap asupan makanan serta


status gizi pasien, disamping pemantauan terhadap pengobatan
Tuberkulosis.Untuk itu disusun Pedoman Pelayanan Gizi Pada
Pasien

Tuberkulosis,

pengetahuan
memberikan

dan

dengan

harapan

keterampilan

pelayanan gizi

dapat

petugas

bagi pasien

meningkatkan

kesehatan

dalam

Tuberkulosis

untuk

meningkatkan kualitas hidupnya.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan data prevalensi TBC di Indonesia, TBC merupakan
penyebab kematian kedua setelah penyakit jantung. Selain itu
Indonesia adalah Negara ketiga di dunia yang mempunyai
penderita TBC terbanyak setelah Cina dan India. Pada tahun 1998
diperkirakan TB di China, India dan Indonesia adalah 1.828.000,
1.414.000, dan 591.000 kasus. Bedasarkan survey kesehatan
rumah tangga 1985 dan survey kesehatan nasional 2001, TB
menempati ranking 3 sebagai penyebab tertinggi kematian di
Indonesia.Maka penulis tertarik untuk membahas TBC pada
makalah kali ini.
1.3.
a.
b.
c.
d.

Tujuan
Untuk mengetahui
Untuk mengetahui
Untuk mengetahui
Untuk mengetahui
untuk pasien TBC

apa itu TBC


bagaimana penularan penyakit TBC
diet untuk penyakit TBC
bagaimana bentuk makanan yang sesuai

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi TBC (Tuberculosis)
Tuberkulosis

adalah

penyakit

menular

langsung

yang

disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, yang sebagian


besar (80%) menyerang paru-paru. Mycobacterium tuberculosis
termasuk basil gram positif, berbentuk batang, dinding selnya
mengandung komplek lipida-glikolipida serta lilin (wax) yang sulit
ditembus zat kimia. Umumnya Mycobacterium tuberculosis
menyerang paru dan sebagian kecil organ tubuh lain. Kuman ini
mempunyai sifat khusus, yakni tahan terhadap asam pada
pewarnaan, hal ini dipakai untuk identifikasi dahak secara
mikroskopis. Sehingga disebut sebagai Basil Tahan Asam (BTA).
Mycobacterium

tuberculosis

cepat

mati

dengan

matahari

langsung, tetapi dapat bertahan hidup pada tempat yang gelap


dan lembab. Dalam jaringan tubuh, kuman dapat dormant
(tertidur

sampai

beberapa

tahun).

TB

timbul

berdasarkan

kemampuannya untuk memperbanyak diri di dalam sel-sel


fagosit.
2.2. Etiologi dan Patogenesis
5

Penyebab penyakit Tuberkulosis adalah kuman Tuberkulosis


yang disebut Mycobacterium Tuberculosis, dimana sebagian
besar menyerang paru yang disebut Tuberkulosis paru, selain itu
dapat juga mengenai organ tubuh lainnya diluar paru atau
disebut Tuberkulosis ekstraparu.
Sumber penularan adalah penderita TB BTA positif pada
waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke
udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Droplet yang
mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar
selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet
tersebut terhirup kedalam saluran pernafasan. Jadi penularan TB
tidak

terjadi

melalui

perlengkapan

makan,

baju,

dan

perlengkapan tidur.
Setelah kuman TB masuk ke dalam tubuh manusia melalui
pernafasan, kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru
kebagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem
saluran limfe, saluran nafas, atau penyebaran langsung ke
bagian-bagian tubuh lainnya. Daya penularan dari seorang
penderitaditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan
dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan
dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan
dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut
dianggap tidak menular. Kemungkinan seseorang terinfeksi TB
ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya
menghirup udara tersebut.
Secara klinis, TB dapat terjadi melalui infeksi primer dan
paska primer. Infeksi primer terjadi saat seseorang terkena
kuman TB untuk pertama kalinya. Setelah terjadi infeksi melalui
saluran pernafasan, di dalam alveoli (gelembung paru) terjadi
peradangan. Hal ini disebabkan oleh kuman TB yang berkembang
biak dengan cara pembelahan diri di paru. Waktu terjadinya

infeksi hingga pembentukan komplek primer adalah sekitar 4-6


minggu.
Kelanjutan infeksi primer tergantung dari banyaknya kuman
yang masuk dan respon daya tahan tubuh dapat menghentikan
perkembangan kuman TB dengan cara menyelubungi kuman
dengan jaringan pengikat. Ada beberapa kuman yang menetap
sebagai persister atau dormant, sehingga daya tahan tubuh
tidak dapat menghentikan perkembangbiakan kuman, akibatnya
yang bersangkutan akan menjadi penderita TB dalam beberapa
bulan.

Pada

infeksi

primer

ini

biasanya

menjadi

abses

(terselubung) dan berlangsung tanpa gejala, hanya batuk dan


nafas berbunyi. Tetapi pada orang-orang dengan sistem imun
lemah dapat timbul radang paru hebat, ciri-cirinya batuk kronik
dan bersifat sangat menular. Masa inkubasi sekitar 6 bulan.
Infeksi paska primer terjadi setelah beberapa bulan atau
tahun setelah infeksi primer. Ciri khas TB paska primer adalah
kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi
pleura.
Seseorang yang terinfeksi kuman TB belum tentu sakit atau
tidak menularkan kuman TB. Proses selanjutnya ditentukan oleh
berbagai

faktor

risiko

.Kemungkinan

untuk

terinfeksi

TB,

tergantung pada :

Kepadatan droplet nuclei yang infeksius per volume udara


Lamanya kontak dengan droplet nuklei tsb
Kedekatan dengan penderita TB
Risiko terinfeksi TB sebagian besar adalah faktor risiko
eksternal, terutama adalah faktor lingkungan seperti rumah tak
sehat, pemukiman padat & kumuh. Sedangkan risiko menjadi sakit
TB, sebagian besar adalah faktor internal dalam tubuh penderita
7

sendiri yg disebabkan oleh terganggunya sistem kekebalan dalam


tubuh penderita seperti kurang gizi, infeksi HIV/AIDS, pengobatan
dengan immunosupresan dan lain sebagainya.
Pada penderita TB sering terjadi komplikasi dan resistensi.
Komplikasi berikut sering terjadi pada penderita stadium lanjut:
1. Hemoptisis berat (pendarahan dari saluran nafas bawah) yang
mengakibatkan

kematian

karena

syok

hipovolemik

atau

tersumbatnya jalan nafas.


2. Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial
3.

Bronkietaksis

(pelebaran

bronkus

setempat)

dan

fibrosis

(pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif)


pada paru.
4. Pneumotorak (adanya udara didalam rongga pleura) spontan:
kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru.
5. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian,
ginjal dan sebagainya.
6. Insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency).
Penderita yang mengalami komplikasi berat perlu perawatan di
rumah sakit. Penderita TB paru dengan kerusakan jaringan luas
yang telah sembuh (BTA Negatif) masih bisa mengalami batuk
darah. Keadaan ini seringkali dikelirukan dengan kasus kambuh.
Pada kasus seperti ini, pengobatan dengan OAT tidak diperlukan,
tapi cukup diberikan pengobatan simtomatis. Bila perdarahan
berat,penderita harus dirujuk ke unit spesialistik. Resistensi
terhadap OAT terjadi umumnya karena penggunaan OAT yang
tidak sesuai. Resistensi dapat terjadi karena penderita yang
menggunakan obat tidak sesuai atau patuh dengan jadwal atau
dosisnya. Dapat pula terjadi karena mutu obat yang dibawah
standar.

Resistensi ini menyebabkan jenis obat yang biasa dipakai


sesuai pedoman pengobatan tidak lagi dapat membunuh kuman.
Dampaknya,

disamping

kemungkinan

terjadinya

penularan

kepada orang disekitar penderita, juga memerlukan biaya yang


lebih mahal dalam pengobatan tahap berikutnya.
2.3. Klasifikasi Penyakit dan Tipe Penderita
Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe penderita tuberkulosis
memerlukan
suatu definisi kasus yang memberikan batasan baku setiap
klasifikasi dan tipe penderita. Penentuan klasifikasi penyakit dan
tipe penderita penting dilakukan untuk menetapkan panduan
OAT yang sesuai dan dilakukan sebelum pengobatan dimulai.
Ada empat hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan
definisi-kasus, yaitu:
o Organ tubuh yang sakit: paru atau ekstra paru;
o Hasil pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung: BTA
positif atau BTA negatif;
o Riwayat pengobatan sebelumnya: baru atau sudah pernah
diobati;
o Tingkat keparahan penyakit: ringan atau berat.
Berdasarkan tempat/organ yang diserang oleh kuman, maka
tuberkulosis dibedakan menjadi Tuberkulosis Paru, Tuberkulosis
Ekstra Paru.
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang
jaringan parenchym paru, tidak termasuk pleura (selaput paru).
Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak, TB Paru dibagi dalam:
1) Tuberkulosis Paru BTA Positif.
Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya

BTA positif.
1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto
rontgen dada menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif.
9

2) Tuberkulosis Paru BTA Negatif


Pemeriksaan 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif dan foto
rontgen dada menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif. TB Paru
BTA Negatif Rontgen Positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan
penyakitnya, yaitu bentuk berat dan ringan. Bentuk berat bila
gambaran

foto

rontgen

dada

memperlihatkan

gambaran

kerusakan paru yang luas (misalnya proses "far advanced" atau


millier), dan/atau keadaan umum penderita buruk.
Tuberkulosis

Ekstra

Paru

adalah

tuberkulosis

yang

menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya pleura,


selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar lymfe,
tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat
kelamin, dan lain-lain. TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada
tingkat keparahan penyakitnya, yaitu:
1) TB Ekstra Paru Ringan
Misalnya: TB kelenjar limphe, pleuritis eksudativa unilateral,
tulang (kecuali tulang belakang), sendi, dan kelenjar adrenal.
2) TB Ekstra Paru Berat
Misalnya: meningitis, millier, perikarditis, peritonitis, pleuritis
eksudativa duplex, TB tulang belakang, TB usus, TB saluran
kencing dan alat kelamin.
Sedangkan berdasarkan riwayat pengobatan penderita, dapat
digolongkan atas tipe; kasus baru, kambuh, pindahan, lalai, gagal
dan kronis.
Kasus Baru adalah penderita yang belum pernah diobati
dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu
bulan (30 dosis harian).
Kambuh

(Relaps)

adalah

penderita

tuberkulosis

yang

sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan


telah dinyatakan sembuh, kemudian kembali lagi berobat dengan
hasil pemeriksaan dahak BTA positif.
10

Pindahan

(Transfer

In)

adalah

penderita

yang

sedang

mendapat pengobatan di suatu kabupaten lain dan kemudian


pindah berobat ke kabupaten ini. Penderita pindahan tersebut
harus membawa surat rujukan / pindah (Form TB. 09).
Lalai

(Pengobatan

setelah

default/drop-out)

adalah

penderita yang sudah berobat paling kurang 1 bulan, dan


berhenti 2 bulan atau lebih, kemudian datang kembali berobat.
Umumnya penderita tersebut kembali dengan hasil pemeriksaan
dahak BTA positif.
Gagal adalah penderita BTA positif yang masih tetap positif atau
kembali menjadi positif pada akhir bulan ke 5 (satu bulan
sebelum akhir pengobatan) atau lebih; atau penderita dengan
hasil BTA negatif Rontgen positif menjadi BTA positif pada akhir
bulan ke 2 pengobatan. Kronis adalah penderita dengan hasil
pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulang
kategori 2.
2.4. Epidemiologi
Di Indonesia tahun 2001 diperkirakan 582 ribu penderita
baru atau 271 per 100 ribu penduduk, sedangkan yang
ditemukan BTA positif sebanyak 261 ribu penduduk atau 122 per
100 ribu penduduk, dengan keberhasilan pengobatan diatas 86
% dan kematian sebanyak 140 ribu.
Jumlah penderita di Indonesia ini merupakan jumlah
persentase ketiga terbesar di dunia yaitu 10 %, setelah India 30
% dan China 15 %. Risiko penularan setiap tahun (Annual Risk of
Tuberculosis Infection = ARTI) di Indonesia dianggap cukup tinggi
dan bervariasi antara 1-3 %. Pada daerah dengan ARTI sebesar 1
%, berarti setiap tahun diantara 1000 penduduk, 10 (sepuluh)
orang akan terinfeksi. Sebagian besar dari orang yang terinfeksi
tidak akan menjadi penderita TB, hanya sekitar 10% dari yang
terinfeksi yang akan menjadi penderita TB. Dari keterangan
11

tersebut diatas, dapat diperkirakan bahwa pada daerah dengan


ARTI 1%, maka diantara 100.000 penduduk rata-rata terjadi 100
(seratus)

penderita

tuberkulosis

setiap

tahun,

dimana

50

penderita adalah BTA positif.


Penularan TB sangat dipengaruhi oleh masalah lingkungan,
perilaku

sehat

kesehatan.

penduduk,

ketersediaan

sarana

pelayanan

Masalah lingkungan yang terkait seperti masalah

kesehatan yang berhubungan dengan perumahan, kepadatan


anggota keluarga, kepadatan penduduk, konsentrasi kuman,
ketersediaan cahaya matahari, dll. Sedangkan masalah perilaku
sehat antara lain akibat dari meludah sembarangan, batuk
sembarangan, kedekatan anggota keluarga, gizi yang kurang
atau tidak seimbang, dll. Untuk sarana pelayanan kesehatan,
antara lain menyangkut ketersediaan obat, penyuluhan tentang
penyakit dan mutu pelayanan kesehatan.
Masalah lain yang muncul dalam pengobatan TB adalah
adalah adanya resistensi dari kuman yang disebabkan oleh obat
(multidrug resistent organism). Kuman yang resisten terhadap
banyak obat tersebut semakin meingkat. Di Amerika tahun 1997
resistensi terhadap INH mencapai 7,8 % dan resisten terhadap
INH dan Rifampisin 1,4 %. Secara umum angka ini di Amerika
pada median 9,9 % kuman dari penderita yang menerima obat
anti TB. Kejadian resistensi ini sudah banyak ditemukan di negara
pecahan Uni soviet, beberapa negara Asia, Republik Dominika,
dan Argentina.
2.5. Tanda-tanda dan Gejala Klinis
Gejala TB pada orang dewasa umumnya penderita mengalami
batuk dan berdahak terus-menerus selama 3 minggu atau lebih,
batuk darah atau pernah batuk darah. Adapun gejala-gejala lain
dari TB pada orang dewasa adalah sesak nafas dan nyeri dada,
badan lemah, nafsu makan dan berat badan menurun, rasa

12

kurang enak badan (malaise), berkeringat malam, walaupun


tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari sebulan.
Pada anak-anak gejala TB terbagi 2, yakni gejala umum dan
gejala khusus. Gejala umum, meliputi :

Berat badan turun selama 3 bulan berturut-turut tanpa sebab yang


jelas dan tidak naik dalam 1 bulan meskipun sudah dengan

penanganan gizi yang baik.


Demam lama atau berulang tanpa sebab yang jelas (bukan tifus,
malaria atau infeksi saluran nafas akut) dapat disertai dengan

keringat malam.
Pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang tidak sakit, paling

sering di daerah leher, ketiak dan lipatan paha.


Gejala dari saluran nafas, misalnya batuk lebih dari 30 hari (setelah
disingkirkan sebab lain dari batuk), tanda cairan di dada dan nyeri

dada.
Gejala dari saluran cerna, misalnya diare berulang yang tidak
sembuh dengan pengobatan diare, benjolan (massa) di abdomen,
dan tanda-tanda cairan dalam abdomen.
Gejala Khusus, sesuai dengan bagian tubuh yang diserang, misalnya

:
TB kulit atau skrofuloderma
TB tulang dan sendi, meliputi :
Tulang punggung (spondilitis) : gibbus
Tulang panggul (koksitis): pincang, pembengkakan di pinggul
Tulang lutut: pincang dan atau bengkak
TB otak dan saraf
Meningitis dengan

gejala

kaku

kuduk,

muntah-muntah

dan

kesadaran menurun.
Gejala mata
Conjunctivitis phlyctenularis
Tuburkel koroid (hanya terlihat dengan funduskopi)
Seorang anak juga patut dicurigai menderita TB apabila:
13

Mempunyai sejarah kontak erat (serumah) dengan penderita TB


BTA positif.
Terdapat reaksi kemerahan cepat setelah penyuntikkan BCG
(dalam 3-7 hari).
2.6. DiagnosisTuberkulosis
Diagnosis

TB

paru

pada

orang

dewasa

yakni

dengan

pemeriksaan sputum atau dahak secara mikroskopis. Hasil


pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya 2 dari 3
spesimen

SPS BTA hasilnya positif. Apabila hanya 1 spesimen

yang positif maka perlu dilanjutkan dengan rontgen dada atau


pemeriksaan SPS diulang.
Pada orang dewasa, uji tuberkulin tidak mempunyai arti dalam
diagnosis, hal ini disebabkan suatu uji tuberkulin positif hanya
menunjukkan bahwa yang bersangkutan pernah terpapar dengan
Mycobacterium tubeculosis. Selain itu, hasil uji tuberkulin dapat
negatif meskipun orang tersebut menderita TB. Misalnya pada
penderita HIV (Human Immunodeficiency Virus), malnutrisi berat,
TB milier dan morbili.
Sementara diagnosis TB ekstra paru, tergantung pada organ
yang terkena. Misalnya nyeri dada terdapat pada TB pleura
(pleuritis),
limfadenitis

pembesaran
TB

dan

kelenjar

limfe

pembengkakan

superfisialis

tulang

belakang

pada
pada

Sponsdilitis TB. Seorang penderita TB ekstra paru kemungkinan


besar juga menderita TB paru, oleh karena itu perlu dilakukan
pemeriksaan dahak dan foto rontgen dada.
Secara umum diagnosis TB paru pada anak didasarkan pada:
Gambaran klinik
Meliputi gejala umum dan gejala khusus pada anak.
Gambaran foto rontgen dada Gejala-gejala yang timbul
adalah:
Infiltrat dengan pembesaran kelenjar hilus atau paratrakeal
Milier
14

Atelektasis/kolaps konsolidasi
Konsolidasi (lobus)
Reaksi pleura dan atau efusi pleura
Kalsifikasi
Bronkiektasis
Kavitas
Destroyed lung
Uji tuberkulin
Uji ini dilakukan dengan cara Mantoux (penyuntikan dengan
cara intra kutan) Bila uji tuberkulin positif, menunjukkan
adanya infeksi TB dan kemungkinan ada TB aktif pada anak.
Namun, uji tuberkulin dapat negatif pada anak TB berat
dengan energi (malnutrisi, penyakit sangat berat, pemberian
imunosupresif, dan lain-lain).
Reaksi cepat BCG
Bila dalam penyuntikan BCG terjadi reaksi cepat (dalam 3-7
hari) berupa kemerahan dan indurasi > 5 mm, maka anak
tersebut telah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis.
Pemeriksaan mikrobiologi dan serologi
Pemeriksaan BTA secara mikroskopis langsung pada anak
biasanya dilakukan dari bilasan lambung karena dahak sulit
didapat pada anak. Pemeriksaan serologis seperti ELISA, PAP,
Mycodot dan lain-lain, masih memerlukan penelitian lebih
lanjut untuk pemakaian dalam klinis praktis.
Respons terhadap pengobatan dengan OAT Kalau dalam 2
bulan menggunakan OAT terdapat perbaikan klinis, akan
menunjang atau memperkuat diagnosis TB.
2.7. Pengobatan Tuberkulosis
Pengobatan Tuberkulosis bertujuan untuk menyembuhkan
pasien,
mencegah
kematian,
mencegah
kekambuhan,
memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya
resistensi kuman Mycobacterium Tuberculosis terhadap Obat Anti
Tuberkulosis (OAT).
Tabel 1. Jenis dan Sifat OAT
JENIS OAT
Isoniasid (H)
Rifampisin (R)

SIFAT
Bakterisid
Bakterisid
15

Pirazinamid (Z)
Streptomisin (S)
Etambutol (E)

Bakterisid
Bakterisid
Bakteriostatik

Paduan OAT yang digunakan di Indonesia:


a. OAT Kategori 1: OAT Kombinasi Dosis Tetap (KDT) dan OAT
Kombipak
b. OAT Kategori 2: OAT KDT dan OAT Kombipak
c. OAT Kategori Anak: OAT KDT Anak dan OAT Kombipak Anak
Penggunaan OAT Kategori 1, sebagai berikut:
OAT Kategori 1 diberikan kepada:
1. Pasien baru Tuberkulosis paru BTA positif.
2. Pasien baru Tuberkulosis paru BTA negatif
gambaran foto toraks spesifik Tuberkulosis.
3. Pasien baru Tuberkulosis ekstraparu.

dengan

Tabel 2a. Dosis paduan OAT KDT Kategori 1

Berat
Badan
30 37
kg
38 54
kg
55 70
kg
71 kg

Tahap Awal
tiap hari selama
56 hari RHZE
(150/75/400/275)

Tahap Lanjutan
3 kali seminggu
selama 16 minggu
RH (150/150)

2 tablet 4 KDT

2 tablet 2 KDT

3 tablet 4 KDT

3 tablet 2 KDT

4 tablet 4 KDT

4 tablet 2 KDT

5 tablet 4 KDT

5 tablet 2 KDT

Tabel 2b. Dosis paduan OAT Kombipak untuk Kategori


1

Tahap
Pengo
batan

Lama
Dosis per hari / kali
Peng Tablet Kaplet
Tablet
o
batan Isonias Rifampis Pirazina
id
in
mid
@300
@ 450
@ 500
mg
mg
mg

Table Jumlah
hari/
t
Etamb
kali
u
menela
tol @ n obat
250
16

mg

Awal
Lanjuta
n

2
Bln
4
Bln

56

48

OAT Kategori 2
Paket OAT ini diberikan untuk pasien Tuberkulosis paru BTA positif
yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan
Tuberkulosis, yaitu:
1. Pasien kambuh.
2. Pasien setelah mengalami kegagalan dalam pengobatan
sebelumnya.
3. Pasien dengan pengobatan setelah default (putus berobat).
Tabel 3a. Dosis untuk paduan OAT KDT Kategori 2

Berat
Badan

3037
kg

3854
kg

5570
kg

71 kg

Tahap Awal
tiap hari
RHZE (150/ 75/ 400/ 275) +
S
Selama 56
Selama 28
hari
hari
2 tab 4 KDT
2 tab 4 KDT
+ 500 mg
Streptomisin
inj.
3 tab 4 KDT
3 tab 4 KDT
+ 750 mg
Streptomisin
inj.
4 tab 4 KDT
4 tab 4 KDT
+1000 mg
Streptomisin
inj.
5 tab 4 KDT
5 tab 4 KDT
+ 1000 mg
Streptomisin
inj.

Tahap Lanjutan
3 kali seminggu
RH (150/150) +
E(275)
selama 20 minggu
2 tab 2 KDT
+ 2 tab Etambutol

3 tab 2 KDT
+ 3 tab Etambutol

4 tab 2 KDT
+ 4 tab Etambutol

5 tab 2 KDT
+ 5 tab Etambutol

Tabel 3b. Dosis paduan OAT Kombipak untuk Kategori 2


17

Dosis per hari/kali

Tahap
Pengo
batan

Awal
Lanjut
an

Lam
a
Peng
o
bata
n

2
Bln
4
Bln

Jumla
h
hari/kali
menela
n obat

Tablet
Isonias
id
@
300mgr
1

Kaplet
Rifampi
sin
@ 450
mgr
1

Tablet
Pirazina
mid
@ 500
mgr
3

Tablet
Etambut
ol
@ 250
mgr
3

56

48

OAT Kategori Anak


Prinsip dasar pengobatan Tuberkulosis pada anak adalah
minimal 3 macam obat pada fase awal selama 2 bulan,
kemudian 2 macam obat pada fase lanjutan selama 4 bulan
sehingga total waktu pemberian adalah 6 bulan. Dosis OAT
memerlukan perhitungan yang tepat sesuai dengan berat
badan dan diberikan setiap hari.
OAT pada anak dapat diberikan dalam bentuk:
1. Obat Kombinasi Dosis Tetap (KDT) Anak
2. Obat Kombipak Anak
3. Obat Lepas masing-masing jenis obat
Keterangan: Dosis dan bentuk OAT diuraikan sesuai Pedoman
Nasional Pengendalian Tuberkulosis (terlampir).
Tabel 4a. Dosis OAT anak dalam bentuk Kombipak
Berat
Badan
(kg)

Kombipak tahap awal


1sachet: R150,H100,
Z400
2bulan, tiap hari

5-9

sachet

Kombipak tahap
lanjutan
1 sachet: R150,
H100
4 bulan, tiap hari
sachet

10-14

1 sachet

1 sachet

15-19

1 sachet

1 sachet

20-32

2 sachet

2sachet

18

Tabel 4b. Dosis OAT anak dalam bentuk KDT


(Formula IDAI)
Berat
Badan
(Kg)
5-9

2 bulan tiap
hari R75,
H50, Z150
1 tablet

4 bulan tiap
hari R75, H50
1 tablet

10-14

2 tablet

2 tablet

15-19

3 tablet

3 tablet

20-32

4 tablet

4 tablet

Bila BB < 5 kg, tidakmenggunakan OAT KDT Anak, tetapi


menggunakan obat lepas dengan dosis dihitung berdasarkan
BB.
OAT Anak KDT tidak boleh diberikan setengah dosis tablet
(tidak boleh dibelah).
Perhitungan pemberian tablet di atas sudah memperhatikan
kesesuaian dosis per kg BB.
Pada anak obesitas yang mengalami Tuberkulosis (harus
diyakinkan diagnosis Tuberkulosis pada anak yang obesitas
karena biasanya Tuberkulosis menyebabkan gangguan
kenaikan BB) maka dosis yang diberikan adalah berdasarkan
BB ideal.
(Catatan: untuk pemutakhiran dosis OAT dewasa maupun

OAT
Anak agar mengacu kepada panduan terbaru Tuberkulosis)
2.7.1. Pengobatan Tuberkulosis Pada Pasien Dengan Keadaan
Khusus
Semua orang dengan daya tahan tubuh rendah (lanjut
usia, pasien diabetes melitus, HIV, gizi buruk, dan lain-lain) yang
kontak dengan pasien Tuberkulosis perlu mendapat perhatian,
kondisi komorbid tersebut lebih mudah tertular Tuberkulosis
dibandingkan populasi umum. Dalam hal lain, kondisi komorbid
tersebut dapat mempengaruhi respons atau hasil pengobatan
Tuberkulosis.
Keadaan khusus pada pasien
diperhatikan adalah sebagai berikut:

Tuberkulosis

yang

perlu

1. Ibu hamil
19

Pada prinsipnya pengobatan Tuberkulosis pada ibu hamil tidak


berbeda dengan pengobatan Tuberkulosis pada umumnya.
Semua jenis OAT aman untuk ibu hamil, kecuali golongan
aminoglikosida (streptomisin dan kanamisin). Streptomisin
tidak dapat dipakai pada ibu hamil karena bersifat permanent
ototoxic dan dapat menembus barier plasenta. Keadaan ini
akan mengakibatkan terjadinya gangguan pendengaran dan
keseimbangan yang menetap pada bayi yang akan
dilahirkannya. Perlu dijelaskan kepada ibu hamil bahwa
keberhasilan pengobatan sangat penting artinya supaya
proses kelahiran dapat berjalan lancar dan bayi yang akan
dilahirkan terhindar dari kemungkinan penularan Tuberkulosis.
2. Ibu menyusui dan bayinya
Pada prinsipnya pengobatan Tuberkulosis pada ibu menyusui
tidak berbeda dengan pengobatan pada umumnya. Semua
jenis OAT aman untuk ibu menyusui. Seorang ibu menyusui
yang menderita Tuberkulosis harus mendapat paduan OAT
secara adekuat. Pemberian OAT yang tepat merupakan cara
terbaik untuk mencegah penularan kuman Tuberkulosis
kepada bayinya. Ibu dan bayi tidak perlu dipisahkan dan bayi
tersebut dapat terus disusui dengan memperhatikan
pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI). Ibu memakai
masker selama masih berpotensi menularkan dan bayi diberi
obat profilaksis (INH). Pengobatan pencegahan dengan INH
diberikan kepada bayi tersebut sesuai dengan berat
badannya.
3. Pasien Tuberkulosis Perempuan pengguna kontrasepsi
Rifampisin berinteraksi dengan kontrasepsi hormonal (pil KB,
suntik KB, susuk KB), sehingga dapat menurunkan efektivitas
kontrasepsi tersebut. Seorang perempuan pasien Tuberkulosis
sebaiknya menggunakan kontrasepsi non-hormonal atau
kontrasepsi yang mengandung estrogen dosis tinggi (50
mcg).
4. Pasien Tuberkulosis dengan HIV/AIDS
Dalam pengobatan pasien koinfeksi TB-HIV perlu diketahui
beberapa hal diantaranya; saat pemberian OAT dan ARV,
paduan obat yang tepat, efek samping OAT dan ARV,
kemungkinan timbulnya reaksi sindrom pulih imun,
monitoring yang baik dan teliti, serta meyakinkan kepatuhan
pasien
dan
mampu
menatalaksana
pasien
yang
kepatuhannya buruk.
20

Prinsip pengobatan TB-HIV adalah OAT disegerakan dan ARV


diberikan dalam waktu 2-8 minggu setelah toleransi OAT baik
tanpa melihat nilai CD4.
Pemberian OAT pada pasien Tuberkulosis dengan HIV sama dengan
pasien Tuberkulosis umumnya.
5. Pasien Tuberkulosis dengan hepatitis akut
Pemberian OAT pada pasien Tuberkulosis dengan hepatitis
akut dan atau ikterus klinis ditunda sampai hepatitis akutnya
mengalami penyembuhan. Bila pengobatan Tuberkulosis
sangat diperlukan dapat diberikan streptomisin (S) dan
Etambutol (E) maksimal 3 bulan sampai hepatitisnya
menyembuh dan dilanjutkan dengan Rifampisin (R) dan
Isoniasid (H) selama 6 bulan.
6. Pasien Tuberkulosis dengan kelainan hati kronik
Bila ada kecurigaan gangguan faal hati, dianjurkan
pemeriksaan faal hati sebelum pengobatan Tuberkulosis.
Kalau SGOT dan SGPT meningkat lebih dari 3 kali OAT tidak
diberikan dan bila pengobatan telah berlangsung, harus
dihentikan. Kalau peningkatannya kurang dari 3 kali,
pengobatan dapat dilaksanakan atau diteruskan dengan
pengawasan ketat. Pada pasien dengan kelainan hati,
Pirazinamid (Z) tidak boleh digunakan. Paduan OAT yang
dapat dianjurkan adalah 2 RHES/ 6 RH atau 2 HES/ 10 HE.
7. Pasien Tuberkulosis dengan gagal ginjal
Isoniazid (H), Rifampisin (R) dan Pirazinamid (Z) dapat di
ekskresi melalui empedu dan dapat dicerna menjadi senyawa
yang tidak toksik. OAT jenis ini dapat diberikan dengan dosis
standar pada pasien-pasien dengan gangguan ginjal.
Streptomisin dan etambutol diekskresi melalui ginjal, oleh
karena itu hindari penggunaannya pada pasien dengan
gangguan ginjal. Apabila fasilitas pemantauan faal ginjal
tersedia, etambutol dan streptomisin tetap dapat diberikan
dengan dosis yang sesuai dengan faal ginjal.
8. Pasien Tuberkulosis dengan Diabetes Melitus (DM)
Pasien Tuberkulosis dengan DM, harus dilakukan regulasi gula
darah secara baik. Perlu diperhatikan bahwa penggunaan
Rifampisin akan mengurangi efektivitas obat anti diabetes
oral, misalnya sulfonil urea sehingga dosis obat anti diabetes
perlu ditingkatkan. Pada pasien diabetes melitus sering terjadi
21

komplikasi retinopati diabetik, oleh karena itu hati-hati


memberikan etambutol, karena dapat memperberat kelainan
tersebut.
9. Pasien Tuberkulosis yang membutuhkan kortikosteroid
Kortikosteroid hanya digunakan pada keadaan khusus atau
yang membahayakan jiwa pasien seperti: a.Meningitis
Tuberkulosis,
b. Tuberkulosis milier dengan atau tanpa gejala-gejala meningitis,
c. Tuberkulosis dengan pleuritis eksudativa,
d. Tuberkulosis dengan perikarditis konstriktiva.
Prednison diberikan dengan dosis 30-40 mg per hari,
kemudian diturunkan secara bertahap. Lama pemberian
disesuaikan dengan jenis penyakit dan kemajuan
pengobatan.
10.

Indikasi operasi

a.Tuberkulosis paru
Reseksi paru perlu dipikirkan pada:
1) Pasien batuk darah berat yang tidak dapat diatasi dengan
cara konservatif,
2) Pasien dengan fistula bronkopleura dan empiema yang tidak
dapat diatasi secara konservatif,
3) Pasien Tuberkulosis MDR dengan kelainan paru yang
terlokalisasi.
c. Tuberkulosis ekstraparu
Pasien Tuberkulosis ekstraparu dengan komplikasi, misalnya
pasien Tuberkulosis tulang yang disertai kelainan neurologis.
2.7.2. Efek Samping OAT
1. Efek samping ringan, yang menyebabkan perasaan tidak
nyaman. Gejala ini sering dapat ditanggulangi dengan
memberikan
obat-obat
simptomatik
atau
obat
sederhana. Kadang-kadang efek samping menetap
beberapa waktu selama pengobatan. Dalam hal ini,
pemberian OAT dapat diteruskan.
2. Efek samping berat yaitu efek samping yang dapat
membahayakan pasien sampai berakibat fatal. Pada
pasien dengan efek samping berat pemberian OAT harus
dihentikan dan pasien segera drujuk ke dokter spesialis
atau dikirim ke RS rujukan.
Tabel 5a. Efek samping OAT yang ringan
Efek Samping

Penyebab

Penatalaksanaan
22

Tidak
ada
nafsu
makan,
mual,
gangguan lambung

Rifampisin

Semua
OAT
diminum
malam
sebelum tidur

Nyeri Sendi

Pirazinamid

Beri Aspirin

Kesemutan s/d rasa


terbakar di kaki

Isoniasid

Warna
kemerahan
pada
air seni (urine)

Rifampisin

Beri vitamin B6
(piridoxin) 100
mg per hari.
Tidak perlu diberi
apaapa, tapi perlu
penjelasan kepada
pasien.

Tabel 5b. Efek samping OAT yang berat


Penyebab
(kemungkinan
)

Efek Samping
Gatal
kemerahan
kulit
Gangguan
pendengaran
Gangguan
keseimbangan

dan

Semua
jenis OAT
Streptomisin
Streptomisin

Ikterus
tanpa Hampir
semua OAT
penyebab lain
Bingung
dan
muntahmuntah
(permulaan ikterus
karena obat)

Hampir
semua obat

Gangguan
Etambutol
penglihatan
Purpura dan renjatan
Rifampisin
(syok)

Penatalaksanaa
n
Merujuk
ke
Pedoman Nasional
Pengendalian TB.
Streptomisin
dihentikan.
Streptomisin
dihentikan.
Hentikan
semua
OAT sampai ikterus
menghilang.
Hentikan
semua
OAT,
segera lakukan uji
fungsi hati.
Hentikan
Etambutol.
Hentikan
Rifampisin.

(Catatan: Penatalaksanaan efek samping OAT merujuk pada Buku


Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis tahun 2011)

23

BAB III
HUBUNGAN KEBUTUHAN GIZI DENGAN TUBERKULOSIS

3.1. Kurangnya Asupan Makanan


Pada orang terinfeksi kuman Mycobacterium Tuberculosis
terjadi gangguan sistem kekebalan pada tubuh. Gangguan sistem
kekebalan tubuh pada kondisi yang parah akan menyebabkan
penurunan status gizi yang dapat disebabkan oleh karena
kurangnya asupan makanan yang disebabkan oleh anoreksia,
malabsorpsi, dan meningkatnya penggunaan zat gizi dalam
tubuh.
Status gizi yang menurun

sering dijumpai pada pasien

Tuberkulosis termasuk kehilangan lean body mass yang ditandai


dengan penurunan berat badan. Penyakit Tuberkulosis biasanya
berhubungan dengan rendahnya kadar mikronutrient serum
seperti Zinc, Vitamin A, Vitamin C, Vitamin D, Vitamin E.

24

Bagan 1. Peran Gizi pada Pasien Tuberkulosis

Anoreksia menyebabkan asupan makan menurun


Malabsorpsi menyebabkan penyerapan zat gizi menurun
Metabolisme meningkat menyebabkan kebutuhan meningkat

Tuberkulosis

Malnutrisi

Imunitas menurun
Progresivitas penyakit
meningkat
gkat
Mortalitas menin

Edukasi
OAT

GIZI

TATALAKSANA
TUBERKULOSIS

3.1.1. Kurang Energi dan Zat Gizi Mikro


Kurang energi dan zat gizi makro (protein, lemak, dan
karbohidrat) merupakan faktor risiko berkembangnya
Tuberkulosis Laten menjadi Tuberkulosis Aktif yang berkaitan
dengan sistem imunitas tubuh dan status gizi, serta
mempermudah terjadinya infeksi Tuberkulosis Primer/baru.
Beberapa tanda dan gejala utama antara lain kelaparan,
anemia, hilangnya protein dan jaringan otot serta lemak
tubuh. Anoreksia, kaheksia dan tubuh yang lemah dapat
meningkatkan risiko Tuberkulosis dan sebaliknya Tuberkulosis
dapat memperburuk status gizi. Pada pasien dengan TB-HIV
sering disertai diare yang dapat menyebabkan kehilangan zat
gizi makro dan mikro. Kurang energi dan protein akan
menurunkan imunitas sehingga dapat merusak efektivitas
protektif vaksin BCG.
3.1.2. Kurang Zat Gizi Mikro
Kekurangan energi dan zat gizi makro menyebabkan
defisiensi Zinc, vitamin A, vitamin C, vitamin D dan Fe, serta
mengakibatkan kerusakan imunitas sel yang sangat kritis
untuk melawan Tuberkulosis. Zat gizi mikro tersebut juga
sangat penting pada pencegahan resistensi OAT.
25

Pada pasien Tuberkulosis umumnya ditemukan gejala


anemia, namun pemberian Fe tidak dianjurkan. Beberapa
penelitian
melaporkan
bahwa
pemberian
Fe
dapat
menyebabkan multiplikasi kuman Tuberkulosis, sehingga
memperberat penyakit.
3.2. Peran Gizi Dalam Penyembuhan Pasien Tuberkulosis
Pada Tuberkulosis terjadi peningkatan Resting Energy
Expenditure (REE) karena metabolisme meningkat, sehingga
kebutuhan energi, protein dan zat gizi mikro akan meningkat.
Pemenuhan energi, protein dan zat gizi mikro tersebut perlu
diperhatikan, mengingat pada pasien Tuberkulosis seringkali
terjadi gangguan gastrointestinal, baik karena penyakitnya
maupun efek dari OAT serta penurunan nafsu makan yang
akan berdampak pada asupan makanan. Selain itu penurunan
konsentrasi zat gizi mikro akan berdampak pula terhadap
imunitas pasien Tuberkulosis, sehingga pasien lebih rentan
terhadap reaktivasi penyakit dan risiko komplikasi.
3.2.1. Penatalaksanaan Diit
Penatalaksanaan Diet TBC :
1. Tujuan Terapi Diet
Terapi diit bertujuan memberikan makanan secukupnya guna
memperbaiki dan mencegah kerusakan jaringan tubuh lebih
lanjut serta memperbaiki status gizi agar penderita dapat
melakukan aktifitas normal.
Terapi untuk penderita kasus Tuberkulosis Paru menurut (Almatsier
Sunita, 2006) adalah :
a. Energi diberikan sesuai

dengan

mencapai berat badan normal.


b. Protein tinggi untuk mengganti

keadaan
sel

penderita
sel

yang

untuk
rusak

meningkatkan kadar albumin serum yang rendah (75 100 gr).


c. Lemak cukup 15 25 % dari kebutuhan energi total.
d. Karbohidrat cukup sisa dari kebutuhan energi total.
e. Vitamin dan mineral cukup sesuai kebutuhan total.
Macam diit untuk penyakit TBC :
a. Diit Tinggi Energi Tinggi Protein 1 (TETP) Energi : 2600 kkal, protein
100 gr (2 gr/kg BB).
b. Diit Tinggi Energi Tinggi Protein II (TETP II) Energi 3000 kkal, protein
125 gr (2,5 gr/kg BB).
26

Penderita dapat diberikan salah satu dari dua macam diit Tinggi
Energi Tinggi Protein (TETP) sesuai tingkat penderita. Dapat dilihat
dibawah ini bahan makanan yang dianjurkan dan tidak dianjurkan pada
penderita tuberculosis.
Syarat Diet :
-

Energi tinggi
Karbohidrat cukup (60 70 % total energi)
Protein tinggi (75 100 gr/hari) 2 2,5 gr/kg BBI
Lemak cukup (20 25 % total energi)
Vitamin dan mineral cukup, terutama vitamin C dan Fe (Minimal

sesuai KGA).
Bentuk makanan sesuai kemampuan pasien
Makanan mudah cerna
Makanan tidak merangsang

Tabel 1 : Bahan Makanan yang Dianjurkan dan Tidak Dianjurkan

Bahan

Dianjurkan

Tidak Dianjurkan

Makanan
Sumber

Nasi,

Karbohidrat

hasil olahan tepung seperti banyak minyak kelapa

roti,

makaroni

dan Dimasak

dengan

cake, farcis, puding, pastry atau santan kental


dan dodol, ubi, karbohidrat
sederhana
Sumber protein

seperti

gula

pasir
Daging sapi, ayam, ikan, Dimasak

dengan

telur, susu, dan hasil olahan banyak minyak kelapa


Sumber

seperti keju dan yogurt.


protein Semua jenis kacang

nabati

kacang dan hasil olahannya

Sayuran

seperti tempe dan tahu


Semua
jenis
sayuran
sepeti

bayam,

daun

singkong,

buncis,
kacang
27

panjang,

labu

siam

dan

wortel. Direbus, ditumis dan


Buah buahan

kukus
Semua jenis segar seperti :
pepaya, semangka, melon,
pisang, buah kaleng, buah

Minuman

kering dan jus buah.


Soft drink, madu, sirup, teh, Minuman rendah kalori

dan kopi encer


Lemak dan minyak Minyak goreng,

mentega, Sayuran yang kental

margarin santan
3.3. Interaksi OAT dengan Asupan Makanan
1. INH
Absorpsi INH akan berkurang apabila pemberiannya
diberikan bersamaan dengan makanan oleh sebab itu
sebaiknya INH dikonsumsi sebelum atau 2 jam setelah
makan.
Pemberian INH sebaiknya disertai dengan suplementasi
vitamin B6 sehubungan adanya gangguan metabolisme
energi pada defisiensi vitamin B6 dan untuk mencegah
neuritis. Pemakaian INH akan mengganggu metabolisme
vitamin D, serta dapat menurunkan absorpsi kalsium dan
fosfor.
INH dapat menyebabkan gangguan gastroinstestinal,
drug induced hepatitis atau hepatitis imbas obat dengan
keluhan mual muntah dan kuning (jaundice). Kejadian diatas
akan meningkat pada kelompok risiko usia lebih dari 65 tahun,
pengguna alkohol, kehamilan, dll.
2. Rifampisin
Rifampisin dapat menyebabkan anoreksia, gangguan
gastro
intestinal,
bersifat
hepatotoksik
dan
dapat
menyebabkan drug induced hepatitis.
3. Pirazinamid
Pirazinamid dapat menyebabkan anoreksia, mual,
muntah, bersifat hepatotoksik dan dapat menyebabkan drug
induced hepatitis.
4. Etambutol

28

Etambutol dapat menyebabkan mual, namun dapat


diberikan
dengan
atau
bersama
makanan,
tetapi
pemberiannya tidak bersamaan dengan obat antasida.
5. Obat Anti Tuberkulosis Lini Kedua (OAT untuk TB-MDR),
a. Paraaminosalisilic acid:
Paraaminosalisilic acid bersama yogurt, juice tomat,
jeruk dan apel akan meningkatkan bioavaibilitas dalam
bentuk granul, memperlambat absorpsi dan mencegah
efek toksik hepar.
b. Sikloserin
Sikloserin jangan diberikan bersama makanan karena
dapat menurunkan absorpsi terutama makanan yang
berlemak.

BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Tuberkulosis

adalah

penyakit

menular

langsung

yang

disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, yang sebagian besar


(80%) menyerang paru-paru. Sumber penularan adalah penderita TB
BTA positif pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan
kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Tetapi,

29

penularan TB tidak terjadi melalui perlengkapan makan, baju, dan


perlengkapan tidur.
Terapi untuk penderita kasus Tuberkulosis Paru menurut
(Almatsier Sunita, 2006) adalah : Energi diberikan sesuai dengan
keadaan penderita untuk mencapai berat badan normal, Protein tinggi
untuk mengganti sel sel yang rusak meningkatkan kadar albumin
serum yang rendah (75 100 gr), Lemak cukup 15 25 % dari
kebutuhan energi total, Karbohidrat cukup sisa dari kebutuhan energi
total, Vitamin dan mineral cukup sesuai kebutuhan total. Sedangkan,
Macam diit untuk penyakit TBC adalah Diit Tinggi Energi Tinggi Protein
1 (TETP) Energi : 2600 kkal, protein 100 gr (2 gr/kg BB) dan Diit Tinggi
Energi Tinggi Protein II (TETP II) Energi 3000 kkal, protein 125 gr (2,5
gr/kg BB).

DAFTAR PUSTAKA

Available

at

http://www.slideshare.net/poebeb/52887349-

sapdiettbcdiakses pada tanggal 12 Mei 2015


Pedoman Pelayanan Gizi Pada Pasien Tuberkulosis, Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia 2014
httpstaff.ui.ac.idsystemfilesusersretno.astimaterialpatodiagklas.pdf
30

httprepository.usu.ac.idbitstream123456789312875Chapter%20I.pdf
httprepository.usu.ac.idbitstream123456789310574Chapter%20II.pdf
httpwww.health.nsw.gov.auInfectioustuberculosisDocumentsLanguagefact
sheet-ind.pdf
httplib.ui.ac.idfilefile=digital125833-S-5761-Faktor%20risikoPendahuluan.pdf

31