Anda di halaman 1dari 13

Dea Anggiri Isdar

DIV Teknik Perawatan dan Perbaikan Gedung

2.2.

Lokasi Proyek
Proyek Hotel Harper Pasteur dibangun di kawasan Pasteur Bandung yang
merupakan lokasi strategis di kota Bandung. Kawasan ini memiliki
aksesibilitas sangat mudah baik ke luar kota ataupun ke pusat kota, karena
berlokasi hanya 1,2 Km di depan gate tol Pasteur dan tidak jauh dengan
Bandara Hussein Sastranegara. Di sekitar hotel juga terdapat beberapa agen
shuttle bus ataupun taxy yang dapat memudahkan wisatawan kembali ke
tempat asalnya atau sekedar ingin mengelilingi Bandung.

Gambar 2.2. Denah Lokasi Proyek


(Google Maps)

2.3.

Tujuan Proyek
Tujuan proyek adalah pembangunan hotel sebagai tempat tinggal
sementara bagi para pendatang baik untuk kepentingan wisata maupun
kepentingan lain seperti bisnis, kantor, dan sebagainya. Pembangunan hotel ini
juga bertujuan untuk memembuka lapangan kerja baru bagi penduduk kota
Bandung.

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Bandung

Dea Anggiri Isdar


DIV Teknik Perawatan dan Perbaikan Gedung

2.4.

Kondisi Proyek
Kondisi proyek pada awal Praktik Kerja Lapangan (PKL) sedang
melaksanakan pekerjaan sub-structure tahap 1, yaitu pekerjaan galian tanah
pondasi dan pekerjaan jangkar. Soldier pile sebagai dinding penahan tanahnya
telah selesai dilaksanakan dengan beberapa perubahan didalamnya. Pada awal
perencanaan soldier pile akan dilaksanakan sebanyak 42 titik, dengan
diameter masing-masing 600 mm dan tinggi 1200 mm. Tetapi setelah proses
pelaksanaan ditemukan beberapa kendala yaitu kondisi lahan yang tidak
memungkinkan untuk dilakukan pengeboran tersebut, sehingga hanya
terlaksana 32 titik soldier pile. Berikut gambar soldier pile yang sedang
dilakukan pembobokan agar memiliki ketinggian yang sama.

Gambar 2.3. Pembobokan Soldier Pile

Proyek ini direncanakan menggunakan raft sebagai pondasinya. Di bawah


pondasi raft akan dipasang beberapa titik jangkar yang berfungsi sebagai
perkuatan pondasi raft terhadap gaya geser. Diantara pondasi raft terdapat
pondasi yang untuk sementara akan digunakan sebagai pondasi tower crane.

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Bandung

Dea Anggiri Isdar


DIV Teknik Perawatan dan Perbaikan Gedung

Oleh karena itu, proses penggalian difokuskan pada lokasi pondasi tower
crane seperti pada Gambar 2.4.

Gambar 2.4. Lokasi Galian Pondasi Tower Crane

Di lokasi penggalian tanah terdapat genangan air dan lumpur, hal ini
mengharuskan kontraktor melakukan proses dewatering untuk mengeringkan
galian tersebut. Pengeringan lokasi galian ini dilakukan dengan proses semi
dewatering, yaitu menggunakan pompa submersible. Pekerjaan ini dilakukan
dengan meletakan pompa di dalam air, lalu memompa air ke drainase samping
proyek untuk dialirkan ke drainase depan JL. Dr. Djunjunan.
Metode ini dilaksanakan karena genangan air pada proyek tidak terlalu
besar. Kondisi muka air tanah yang berada dibawah elevasi galian
mengakibatkan genangan air yang ada di proyek diduga berasal dari resapan
air hujan, bukan dari muka air tanah asli. Lokasi penggalian yang sedang
dilakukan proses dewatering terdapat pada gambar berikut.

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Bandung

Dea Anggiri Isdar


DIV Teknik Perawatan dan Perbaikan Gedung

10

Gambar 2.5. Proses Dewatering pada Lokasi Penggalian

2.5. Data Proyek


2.5.1. Data Umum Proyek
Nama Proyek
Pemberi Tugas
Manajemen Konstruksi
Konsultan Arsitektur
Konsultan Struktur
Konsultan M/E
Konsultan Quantity Surveyor
Kontraktor Utama
Lingkup Pekerjaan
Lokasi
Luas Total Bangunan
Luas Lahan
Jumlah Bangunan
Waktu Pelaksanaan
2.5.2. Data Teknis Proyek
a. Struktur Bangunan
b. Mutu Beton
-

Soldier Pile
Jangkar/penjangkaran
Pondasi raft

: Proyek Hotel Harper By Aston Bandung


: PT. Lumbung Pasteur Prakarsa
: PT. Rasya Anugrah Pratama
: PT. Bias Tekno Art Kreasindo
: PT. Anugrah Multi Cipta Karya
: PT. Metakom Pranata
: PT. Cipta Pratama Costindo
: PT. Wijaya Karya Bangunan Gedung
: Persiapan, Struktur, Arsitektur, Plumbing
: JL. Dr. Djunjunan No. 162 Pasteur
Bandung
: 15.285 m2 (terdiri dari 2 lantai
basement dan 10 lantai + atap)
: Tahap 1 : 2.481 m2
Tahap 2 : 1.392 m2
: 1 Bangunan Utama Hotel 10 lantai +
2 Basement + Atap
: 365 Hari waktu kalender
: Konstruksi beton bertulang
: K-300
: K-300
: K-350

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Bandung

Dea Anggiri Isdar


DIV Teknik Perawatan dan Perbaikan Gedung

11

c. Mutu Baja Tulangan :


- BJTP 24 untuk

2.6.

12 mm

: 2400 kg/cm2

- BJTD 39 untuk D > 10 mm

: 3900 kg/cm2

Struktur Organisasi dan Hubungan Kerja Proyek


Struktur organisasi proyek adalah hubungan dua orang atau lebih yang
bersama-sama melaksanakan pekerjaan dengan kemampuan dan keahliannya
untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan. Struktur organisasi proyek
menggambarkan pemisahan kegiatan pekerjaan antara satu organisasi dengan
organisasi lainnya. Kesuksesan sebuah proyek sangat tergantung dari kerja
sama pihak-pihak tersebut. Pada gambar berikut akan dijelaskan hubungan
kerja setiap pihak yang terlibat dalam proyek pembangunan Hotel Harper
Pasteur.

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Bandung

Dea Anggiri Isdar


DIV Teknik Perawatan dan Perbaikan Gedung

12

Gambar 2.6. Hubungan Kerja Proyek Hotel Harper Pasteur


(PT. Wijaya Karya Bangunan Gedung)

Adapun uraian mengenai hubungan kerja antara para pihak penyelenggara


konstruksi pada proyek pembangunan Hotel Harper Pasteur adalah sebagai
berikut :
a. Pemilik Proyek Dengan Konsultan Perencana
Pemilik Proyek/Owner terlebih dahulu berkonsultasi dengan konsultan
perencana untuk merencanakan proyek yang akan dibangun, lalu konsultan
perencana membuat desain sesuai permintaan Owner.
b. Pemilik Proyek Dengan Konsultan Manajemen Konstruksi
Konsultan

Manajemen Konstruksi diberi kepercayaan oleh Owner

untuk mewakili Owner dalam pengawasan pekerjaan fisik yang


dilaksanakan

oleh

Kontraktor.

Konsultan

Manajemen

Konstruksi

bertanggung jawab dalam mengawasi pekerjaan fisik Kontraktor serta


memberikan hasil pengawasan tersebut kepada Owner.
c. Pemilik Proyek Dengan Kontraktor
Kontraktor diberi kepercayaan oleh Owner untuk mengatur dan
melaksanakan pekerjaan di lapangan. Jika terjadi perubahan-perubahan di
lapangan kontraktor wajib berkoordinasi dengan Owner ataupun Konsultan
Manajemen Konstruksi. Kontraktor mempertanggungjawabkan hasil
pekerjaannya kepada Owner.

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Bandung

Dea Anggiri Isdar


DIV Teknik Perawatan dan Perbaikan Gedung

13

d. Konsultan Manajemen Konstruksi Dengan Kontraktor


Konsultan Manajemen Konstruksi sebagai wakil Owner mengawasi
pekerjaan Kontraktor agar pelaksanaan sesuai dengan persetujuan pada
dokumen kontrak.
e. Kontraktor dengan Sub-Kontraktor
Sub-kontraktor dipilih dan dipekerjakan oleh Kontraktor untuk
melakukan bagian dari pekerjaan atas nama Kontraktor. Sub-kontraktor
akan bertanggung jawab sepenuhnya kepada Kontraktor dan secara hukum
tidak mempunyai hubungan dengan Owner, karena Kontraktor masih tetap
bertanggung jawab sepenuhnya

untuk pelaksanaan pekerjaan kepada

Owner.
2.6.1. Struktur Organisasi Kontraktor
Kontraktor merupakan lembaga atau perusahaan yang melaksanakan
suatu proyek konstruksi dengan kontrak tertentu. Kontraktor bertanggung
jawab langsung pada Pemilik Proyek/Owner atas segala pekerjaan yang
dilakukan di lapangan. PT. Wijaya Karya Bangunan Gedung selaku
Kontraktor Utama dalam proyek pembangunan Hotel Harper Pasteur memiliki
struktur organisasi yang dapat dilihat pada Gambar 2.7.

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Bandung

Dea Anggiri Isdar


DIV Teknik Perawatan dan Perbaikan Gedung

14

Gambar 2.7. Struktur Organisasi Kontraktor Utama


(PT. Wijaya Karya Bangunan Gedung)

Fungsi dan tanggung jawab dari masing-masing pihak kontraktor tersebut


dapat dibedakan sebagai berikut :
Manajer/Kepala Proyek
Manajer/Kepala Proyek adalah pihak yang yang diangkat oleh Direksi
atau pejabat yang diberi wewenang untuk itu dan bertanggung jawab langsung
kepada Direksi. Fungsi utama Manajer/Kepala Proyek yaitu menupayakan
pencapaian laba secara efisien dan efektif serta mewakili perusahaan dalam
membina hubungan yang saling menguntungkan dengan pemilik proyek

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Bandung

Dea Anggiri Isdar


DIV Teknik Perawatan dan Perbaikan Gedung

15

dan/atau pihak lain di luar perusahaan. Sesuai dengan fungsi utamanya,


Manajer/Kepala Proyek memiliki beberapa tanggung jawab antara lain :
a.
b.
c.
d.

Terlaksananya peran sebagai Project Representative;


Terlaksananya pengendalian Project Scorecard;
Tercapainya sasaran penjualan, produksi dan laba;
Terlaksanya pengelolaan sumber daya proyek secara efisien dan efektif

e.

dengan berpedoman pada biaya, mutu dan waktu yang telah disepakati;
Terlaksanya pekerjaan konstruksi untuk menghasilkan produk bermutu
dengan metode yang efisien dan efektif serta memenuhi persyaratan

f.

ikatan kerja yang telah disepakati oleh pemilik proyek dan perusahaan;
Terlaksanya pengupayaan hasil lebih bagi perusahaan dalam setiap

g.

kegiatan pelaksanaan proyek;


Terlaksananya peningkatan kemampuan sumber daya manusia dalam
bidang manajemen dan/atau teknis yang meliputi keahlian dan

h.

ketrampilan;
Terlaksananya pemasukan penerimaan dengam memperhatikan prinsip-

i.

prinsip nilai waktu dari uang;


Terlaksananya penyelesaian laporan pertanggng jawaban proyek secara

j.

berkala dan laporan proyek selesai;


Terlaksananya pembinaan hubungan baik antara proyek dengan

k.

lingkungannya;
Terupayanya terhimpunnya informasi mengenai pasar dalam lingkup

proyeknya;
l. Terlaksananya penerapan Sistem Manajemen Mutu WIKA;
m. Terlaksanaya pembinaan bawahan yang menjadi tanggung jawab sesuai
dengan arah perkembangan perusahaan.
Safety Health Environment

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Bandung

Dea Anggiri Isdar


DIV Teknik Perawatan dan Perbaikan Gedung

16

Unit SHE yang dipimpin oleh SHE Manajer adalah pihak yang diangkat
oleh Direksi atau pejabat yang diberi wewenang untuk itu serta bertanggung
jawab langsung kepada Manajer Proyek. Fungsi utama Unit SHE yaitu
terselenggaranya tugas perencanaan dan pengendalian Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3) lingkup pekerjaan proyek. Sesuai dengan fungsi
utamanya, SHE Manajer memiliki beberapa tanggung jawab antara lain :
a. Terumuskannya system Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di
seluruh
b.
c.
d.
e.

pelaksanaan

pekerjaan

proyek,

beserta

upaya

penegakan/pelaksanaannya bagi seluruh organ proyek;


Terlaksananya tertib administrasi berkaitan dengan penerapan K3;
Terselenggaranya evaluasi K3 secara berkala;
Terlaksananya Sistem Manajemen Mutu WIKA;
Terlaksananya pembinaan bawahan yang menjadi tanggung jawabnya
sesuai dengan arah perkembangan perusahaan.

Site Engineer
Site Engineer adalah pihak yang diangkat oleh Direksi atau pejabat yang
diberi wewenang untuk itu, serta bertanggungjawab langsung kepada Manajer
Proyek. Fungsi utama Site Engineer yaitu merumuskan rencana kerja dan
metoda kerja serta pengendalian pelaksanaan proyek. Sesuai dengan fungsi
utamanya, Site Engineer memiliki beberapa tanggung jawab antara lain :
a.

Tersajinya rencana kerja proyek secara lengkap dan rinci, sehingga dalam

b.

pelaksanaanya tidak terdapat penyimpangan dari rencana kerja;


Terselenggaranya evaluasi kesesuaian jadwal tiap paket dengan kontrak
yang diserahkan oleh sub kontraktor, dengan jadwal induk/jadwal rinci

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Bandung

Dea Anggiri Isdar


DIV Teknik Perawatan dan Perbaikan Gedung

17

beserta upaya pemutahirannya (up date) secara berakala melalui


c.
d.

peninjauan terhadap kemajuan proyek;


Terselengaranya fungsi perancangan dan teknis proyek;
Tersusunnya rekomendasi upaya peningkatan prestasi agar proyek selesai

e.
f.

sesuai rencana serta meninjau penyimpangan teknis yang terjadi;


Terselenggaranya tertib adminstrasi di bidang teknis;
Terselenggaranya kegiatan mentoring pelaksanaan pekerjaan proyek
secara teliti, baik yang menyangkut perubahan design, volume maupun

g.

pengembangan metode konstruksi;


Tersusunnya pola pengendalian baik dalam hal pengendalian progres fisik

h.
i.

maupun yang menyangkut metode pelaksanaan;


Terlaksananya Sistem Manajemen Mutu WIKA.
Terlaksananya pembinaan bawahan yang menjadi tanggung jawabnya
sesuai dengan arah perkembangan perusahaan.

Kasie Keuangan dan Administrasi


Kasie Keuangan dan Administrasi adalah pihak diangkat oleh Direksi
atau pejabat yang diberi wewenang untuk itu serta bertanggung jawab
langsung kepada Manajer Proyek. Fungsi utama Kasie Keuangan dan
Administrasi yaitu mengelola fungsi keuangan, akuntansi, pengelolaan
sumber daya manusia, manajemen perkantoran mutakhir, pengelolaan fungsi
umum dan pergudangan lingkup proyek dalam rangka menunjang peningkatan
produktifitas sumber daya manusia dan tingkat laba proyek. Sesuai dengan
fungsi utamanya, Kasie Keuangan dan Administrasi memiliki beberapa
tanggung jawab antara lain :
a. Terlaksananya pengelolaan keuangan proyek secara efisien dan efektif;
b. Tersajinya informasi tentang proses pencairan tagihan proyek;
c. Terlaksananya pencairan tagihan proyek;
Laporan Praktik Kerja Lapangan
Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Bandung

Dea Anggiri Isdar


DIV Teknik Perawatan dan Perbaikan Gedung

18

d. Terlaksananya pembayaran kepada sub kontraktor, supplier, dan lain-lain


sesuai dengan komitmen yang telah disepakati, termasuk pelaksanaan
sebagai Wajib Pungut Pajak;
e. Tersedianya sistem informasi/laporan keuangan proyek kepada divisi dan
unit kerja terkait lainnya;
f. Terselenggaranya upaya peningkatan efisiensi dan efektivitas biaya di
proyek;
g. Terlaksananya rencana dan monitor anggaran biaya dan penerimaan
bulanan berdasarkan program kerja bulanan;
h. Terlaksananya proses akuntansi secara tertib;
i. Terlaksananya fungsi personalia yang menjadi tanggung jawabnya;
j. Terlaksananya fungsi manajemen pergudangan dan perkantoran proyek
yang meliputi kegiatan sekretariat dan rumah tangga;
k. Terlaksananya Sistem Manajemen Mutu WIKA.

Manajer Konstruksi
Manajer Konstruksi adalah pihak diangkat oleh Direksi atau pejabat yang
diberi wewenang untuk itu serta bertanggung jawab langsung kepada Manajer
Proyek. Fungsi utama

Manajer Konstruksi yaitu mengelola fungsi

terselenggaranya pengelolaan konstruksi dan proses produksi secara efisien


dan efektif di proyek. Sesuai dengan fungsi utamanya, Manajer Konstruksi
memiliki beberapa tanggung jawab antara lain :
a. Tersusunnya rencana kerja rinci sesuai target produksi yang sudah
ditetapkan, termasuk rencana pendayagunaan sumber daya yang
menjadi tanggung jawabnya;

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Bandung

Dea Anggiri Isdar


DIV Teknik Perawatan dan Perbaikan Gedung

19

b. Terselenggaranya produksi sesuai jadwal, spesifikasi, mutu dan biaya


yang telah direncanakan;
c. Terkelolanya pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan rencana kerja,
metode kerja, dan gambaran kerja, termasuk pengkoordinasian dengan
seluruh sub kontraktor;
d. Terkendalinya kemajuan pekerjaan (produktivitas), serta melaksanakan
koordinasi pekerjaan mingguan sesuai dengan prosedur yang berlaku;
e. Terdeteksinya
kemungkinan-kemungkinan
adanya
pekerjaan
tambah/kurang;
f. Terlaksananya program-program yang terkait dengan safety engineering
yang sudah ditetapkan;
g. Terlaksananya Sistem Manajemen Mutu WIKA.

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Bandung