Anda di halaman 1dari 3

I. Asal muasal Tahun Gajah.

July 23, 2011 by Vien AM

Adalah Abrahah, yang hidup jauh sebelum Islam lahir. Ia adalah


seorang penguasa Habasyah (Ethiopia) yang berhasil menguasai
Yaman, sebuah negri yang sekarang ini berada di semenanjung
selatan Arabia. Di negri jajahan barunya ini ia membangun
sebuah gereja besar yang dinamainya Qullais. Abrahah
membangun gereja tersebut bukan semata-mata sebagai tempat
ibadah umat Nasrani. Ia mempunyai maksud lain.
Hal ini terlihat jelas dalam surat yang dikirimkannya kepada raja
Habasyah ketika itu yaitu Najasyi ( Negus).
Baginda, kami telah membangun sebuah gereja yang tiada taranya
sebelum itu. Kami tidak akan berhenti sebelum dapat mengalihkan
perhatian
orang-orang
Arab
kepadanya
dalam
melakukan
peribadatan yang selama ini mereka adakan di Kabah .
Ketika itu Kabah di Mekkah memang sudah merupakan pusat
peribadatan terbesar di semenanjung Arabia. Mendengar berita ini,
seorang Arab yang menjadi penjaga Kabah sengaja mendatangi
Qullais dengan maksud mempermalukan Abrahah. Ia dikabarkan
mengotori bagian-bagian penting gereja megah tersebut dengan tinja.
Tentu saja tindakan tersebut membuat Abrahah marah besar. Ia
bersumpah akan membalas perbuatan kotor tersebut dengan
menghancurkan Kabah yang dari semula memang sudah dibencinya.
Maka berangkatlah Abrahah dengan membawa pasukan gajahnya yang
besar menuju Mekkah.
Pasukan Abrahah adalah pasukan yang amat kuat dan sangat ditakuti
musuh. Selama perjalanan pasukan ini berhasil menaklukan orangorang yang berusaha melawannya. Hingga akhirnya sampailah ia di
gerbang kota Mekkah tanpa perlawanan yang berarti.
Di tempat ini ia berhadapan dengan penguasa Mekkah yaitu Abdul
Mutthalib bin Hasyim, seorang pemuka Quraisy yang disegani. Ialah

yang selama ini bertanggung jawab terhadap Kabah termasuk


pelaksanaan ibadat haji yang telah dikenal sejak dahulu kala. Abrahah
mengatakan bahwa kedatangannya ke Mekkah bukan untuk
memerangi penduduk Mekkah melainkan untuk menghancurkan
Kabah. Ia juga menambahkan apabila mereka tidak melawan maka ia
tidak akan menumpahkan darah.
Kami tidak berniat hendak memerangi Abrahah karena kami tidak
memiliki kekuatan untuk itu. Rumah suci itu ( Kabah) adalah milik
Allah yang dibangun oleh nabi Ibrahim as. Jika Allah hendak
mencegah penghancurannya itu adalah urusan Pemilik Rumah suci itu
tetapi jika Allah hendak membiarkannya dihancurkan orang maka
kami tidak sangggup mempertahankannya, begitu jawaban diplomatis
Abdul Mutthalib.
Dengan demikian pasukan Abrahahpun mustinya tanpa hambatan
dapat melaksanakan keinginan menggebu-gebu pemimpin mereka
untuk menghancurkan bait Allah. Sementara itu Abdul Mutthalib
sebagai pemimpin Mekkah hanya dapat memerintahkan penduduk
untuk segera pergi dan berlindung.
Namun apa yang kemudian terjadi? Dari balik persembunyian di
tebing-tebing tinggi batu cadas yang mengelilingi kota Mekkah,
penduduk dengan mata kepala sendiri dapat menyaksikan betapa
ribuan burung kecil bernama Ababil berterbangan cepat menuju
Kabah. Sementara itu ada laporan bahwa gajah-gajah yang dibawa
pasukan Abrahah itu mogok. Ketika gajah dihadapkan kea rah Kabah,
ia segera bersimpuh dan tidak mau berdiri. Dan ketika ia dihadapkan
ke arah Yaman, ia segera lari tergopoh-gopoh.
Yang lebih mencengangkan lagi, burung-burung kecil tersebut masingmasing membawa 3 buah batu kecil. Satu di paruh dua lainnnya di
kaki kanan dan kiri mereka. Anehnya walaupun batu-batu tersebut
sebenarnya hanya sebesar biji gandum namun ketika mengenai tubuh
orang yang dijatuhinya iapun binasa!

Dalam keadaan panik pasukan Abrahah berlarian kian kemari. Banyak


diantara mereka yang meninggal dunia. Sementara Abrahah sendiri
dalam keadaan luka parah di gotong pasukannya kembali ke negrinya.
Darah dan nanah terus mengucur dari sekujur tubuh dan kepalanya. Ia
wafat begitu tiba d Shana karena jantungnya pecah hingga
mengeluarkan banyak darah dari hidung dan mulutnya.
Beberapa tahun kemudian peristiwa yang makin membuat harum
nama bani Quraisy sebagai penjaga Kabah yang dilindungi Tuhannya
ini diabadikan-Nya dalam salah satu surat Al- Quranul Karim, yaitu
surat Al-Fiil yang berarti gajah. Surat ke 105 ini diturunkan di Mekkah.
Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah
bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan
tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka`bah) itu sia-sia? Dan Dia
mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong yang
melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang
terbakar lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan
(ulat).
Tahun di waktu terjadi peristiwa tersebut kemudian dinamakan tahun
Gajah. Tahun ini bersamaan dengan tahun 571 M. Di tahun inilah
Rasulullah Muhammad saw dilahirkan