Anda di halaman 1dari 14

PENDAHULUAN

Demam dengue adalah penyakit yang terutama terdapat pada anak remaja
atau orang dewasa, dengan tanda-tanda klinis demam, nyeri otot dan/atau nyeri
sendi yang disertai leukopenia, dengan/tanpa ruam (rash) dan limfadenopati,
demam bifasik, sakit kepala yang hebat, nyeri pada pergerakan bola mata, rasa
mengecap yang terganggu, trombositopenia ringan dan bintik-bintik perdarahan
(petekie) spontan. Indonesia merupakan negara endemik dengue dan merupakan
negara dengan kasus dengue tertinggi di Asia Tenggara. 1
Di Asia Tenggara, hingga tahun 2009, tingkat morbiditas dengue
meningkat sangat pesat. Di Indonesia, 156.052 kasus infeksi dengue ditemukan
pada tahun 2009. Tingkat

mortalitas akibat infeksi dengue di Indonesia

diperkirakan sebesar 1%.


Demam Dengue dan Demam Berdarah Dengue disebabkan oleh virus
dengue yang termasuk kelompok B Arthropod Borne Virus (Arboviroses) yang
sekarang dikenal sebagai genus Flavivirus, famili Flaviviridae, dan mempunyai 4
jenis serotipe, yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4. Terdapat tiga faktor yang
memegang peranan pada penularan pada penularan infeksi virus dengue, yaitu
manusia, virus, dan vektor perantara. Virus dengue ditularkan kepada manusia
melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. 2
Diagnosis infeksi dengue saat ini dapat ditegakkan dengan dua cara yaitu
melalui gejala klinis dan melalui diagnosis laboratorium. Diagnosis laboratorium
merupakan gold standart yang menjadi pijakan diagnosis infeksi penyakit ini.

Pengobatan infeksi dengue bersifat suportif. Deteksi dini terhadap adanya


perembesan plasma dan penggantian cairan yang adekuat akan mencegah
terjadinya syok. Pemberian cairan kristaloid, pengganti plasma, tranfusi darah,
dan obat-obatan simtomatis dilakukan atas indikasi yang tepat.

LAPORAN KASUS

Seorang pasien Ny.AS, 28 tahun, Suku Minahasa, alamat Ranowangko


Jaga 2, agama Kristen protestan, pekerjaan ibu rumah tangga masuk rumah sakit
Prof Dr. R. D. Kandou tanggal 24 Oktober 2013 dengan keluhan utama demam
sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit. Demam bersifat tinggi dan terus menerus
hampir sepanjang hari. Demam turun dengan obat penurun panas, kemudian
demam naik lagi. Demam tidak disertai dengan menggigil. Pasien juga mengeluh
nyeri ulu hati, mual, dan penurunan nafsu makan. Sakit kepala terutama
dibelakang kedua mata dan juga sakit semua otot tubuh juga dirasakan pasien.
Pasien tidak ada keluhan batuk, sesak nafas dan muntah. Buang air kecil dan
buang air besar seperti biasa. Riwayat penyakit jantung, paru-paru, liver, ginjal,
kencing manis dan darah tinggi tidak ada. Dalam keluarga hanya pasien yang sakit
seperti ini. Pasien tidak merokok dan minum alkohol. Tetangga pasien ada yang
sakit demam berdarah.
Pada pemeriksaan fisik, keadaan umum pasien tampak sakit sedang
dengan kesadaran compos mentis, berat badan 59 kg, tinggi badan 165 cm, indeks
massa tubuh (IMT) 21,6 kg/m2. Tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 92 x/menit,
pernafasan 22 x/menit dan suhu badan 38,30C. Pada pemeriksaan kepala didapati
rambut tidak rontok, konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik, lidah tidak kotor,
tonsil besarnya normal dan faring tidak hiperemis. Tidak ada pembesaran kelenjar
getah bening dan trakea letak di tengah. Pada pemeriksaan dada tampak simetris
dalam keadaan statis dan dinamis, stem fremitus kiri sama dengan kanan, sonor
kiri dan kanan, batas paru hati pada sela iga VI kanan dengan peranjakan

diafragma 2 cm, tidak terdapat ronkhi serta tidak terdapat wheezing. Pemeriksaan
jantung iktus kordis tidak tampak dan tidak teraba, batas kiri jantung pada 2 jari
medial dari sela iga V garis midklavikula kiri dan batas kanan jantung pada sela
iga IV garis parasternalis kanan, suara jantung I dan II dalam batas normal,
teratur, tidak ada bising dan gallop. Pada pemeriksaan abdomen datar, lemas,
tidak ada nyeri tekan pada epigastrium, hati dan limpa tidak teraba, bising usus
normal. Ekstremitas hangat, tidak ada edema, tes rumple leede positif, tidak ada
petekie.
Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 24 Oktober 2013 didapatkan Hb
11,4 g/dL, hematokrit 33,1%, eritrosit

4,68 x 106/L; leukosit 4.600/L;

trombosit 78.000/L. SGOT 22; SGPT 31; dan pemeriksaan DDR malaria negatif.
Pada pemeriksaan IgM anti dengue negatif dan IgG antidengue positif.
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorium pasien
didiagnosis sebagai demam dengue. Dan pasien di terapi dengan pemberian IVFD
Ringer lactat 32 tetes/menit, paracetamole 500 mg tablet setiap 8 jam, domperidon
10 mg tablet tiap 8 jam dan ranitidin 150 mg tablet setiap 12 jam. Pasien
direncanakan untuk pemeriksaan darah lengkap kontrol, DDR serial dan urinalisis
lengkap.
Pada perawatan hari kedua, demam hari ke-4, pasien masih panas. Mual
dan muntah tidak ada. Pada pemeriksaan fisik, keadaan umum pasien tampak sakit
sedang dengan kesadaran compos mentis. Tekanan darah 130/80 mmHg, nadi 90
x/menit, pernafasan 22 x/menit dan suhu badan 38,0 0C. Hasil pemeriksaan
laboratorium didapatkan Hb 11,2 g/dL; hematokrit 33,1%; eritrosit 4,44 x 10 6/L;
leukosit 5.400/L; trombosit 99.000/L. Pada pemeriksaan DDR malaria negatif.

Dan pasien di terapi dengan pemberian IVFD Ringer lactat 32 tetes/menit,


paracetamole 500 mg tablet tiap 8 jam, domperidon 10 mg tablet tiap 8 jam dan
ranitidin 150 mg tablet setiap 12 jam.
Pada perawatan hari ketiga, demam hari ke-5, pasien sudah tidak panas.
Pada pemeriksaan fisik, keadaan umum pasien tampak sakit sedang dengan
kesadaran compos mentis. Tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 78 x/menit,
pernafasan 20 x/menit dan suhu badan 36,80C. Dan pasien di rencanakan untuk aff
infus, serta diberikan paracetamole 500 mg tablet kalau panas.
Pada perawatan hari kelima pasien sudah tidak panas, bisa makan dan
minum seperti biasa. Pada pemeriksaan fisik, keadaan umum pasien tampak sakit
sedang dengan kesadaran compos mentis. Tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 72
x/menit, pernafasan 20 x/menit dan suhu badan 36,6 0C. Pasien boleh rawat jalan
dan kemudian disarankan untuk kontrol di poliklinik penyakit dalam.

PEMBAHASAN
Demam dengue disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui
gigitan nyamuk Aedes aegypty dan Aedes albopictus. Infeksi salah satu serotipe
virus dengue yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4 akan menimbulkan antibodi
terhadap serotipe yang bersangkutan, sedangkan antibodi yang terbentuk terhadap
serotipe lain sangat kurang, sehingga tidak dapat memberikan perlindungan yang
memadai terhadap serotipe lain tersebut. Menurut data dari WHO pada tahun
2009 kasus dengue di Indonesia dilaporkan berjumlah 156.052 kasus, terdapat

peningkatan

jumlah

kasus

dalam

tahun

sebelumnya.

Pada infeksi virus dengue terdapat gejala asimtomatik maupun simtomatik,


dari manifestasi klinisnya dapat dibedakan menjadi demam yang tidak khas (viral
syndrome), demam dengue baik dengan perdarahan maupun tanpa perdarahan,
demam berdarah dengue baik dengan syok maupun tanpa syok dan expanded
dengue syndrome.

Demam dengue memiliki manifestasi klinis yaitu demam 2-7 hari, sakit
kepala, nyeri dibelakang kedua mata, nyeri otot dan nyeri sendi serta memiliki
riwayat tinggal di daerah dimana terdapat kasus demam dengue. Hal ini sesuai
dengan yang ditemukan pada pasien dan memenuhi beberapa kriteria, yaitu
demam akut sejak 3 hari yang lalu, sakit kepala terutama dibelakang kedua mata,
pasien juga mengeluhkan nyeri otot dan pasien juga mengaku bahwa tetangga
pasien ada yang sakit demam berdarah. Pada pemeriksaan fisik demam dengue
dapat di temukan adanya ruam dan uji rumple leede positif. Pada pasien ini tidak
di temukan adanya ruam, namun pemeriksaan uji rumple leede didapatkan positif.
3,4,5,6,7,8

Pemeriksaan laboratorium demam dengue dapat ditemukan adanya


leukopenia (<5000uL/mm3), trombositopenia (<150.000/mm3), peningkatan
hematokrit (5-10%) dan juga di ikuti pemeriksaan IgG dan IgM positif. Hal ini
sesuai dengan hasil laboratorium pada pasien ini yaitu ditemukan trombositopenia
yaitu trombosit 78.000/L, leukopenia yaitu leukosit 4.600/L, Hb 11,4 g/dL,
hematokrit 33,1%, eritrosit 4,68 x 106/L, dan IgG anti dengue positif pada saat
demam hari ke-3, hal ini menandakan bahwa pasien telah terinfeksi virus dengue
sebelumnya dan bila terdapat peningkatan empat kali lipat menandakan bahwa
pasien ini terinfeksi sekunder oleh virus dengue.3,4,5,6

Pada pengobatan demam dengue terlebih dahulu dilakukan rehidrasi cairan


yaitu dengan pemberian cairan kristaloid berupa NaCl 0,9% karena terjadi
trombositopenia dan juga untuk mengganti cairan karena sebelumnya pasien
muntah, diberikan tetesan 32 gtt untuk maintenance berdasarkan berat badan ideal
pasien yaitu (165-100)-10%(165-100) = 58,5 Kg. Berdasarkan tabel dibawah
cairan yang dibutuhkan setiap hari sebanyak 2300ml.

Pada gejala simptomatik untuk panas dapat diberikan paracetamol 500 mg tablet
setiap 8 jam, ranitidin 150 mg tablet tiap 12, dan domperidon 10 mg tablet tiap 8
jam bila mual.5,6,7

Diagnosis cepat terhadap ada atau tidaknya infeksi dengue pada pasien
yang menderita demam sangat penting karena menentukan prognosis penyakit.3
Prognosis demam dengue dapat beragam, dipengaruhi oleh adanya
antibodi yang didapat secara pasif atau infeksi sebelumnya. Pada DBD, kematian
telah terjadi pada 40-50% pasien dengan syok, tetapi dengan penanganan intensif
yang adekuat kematian dapat di tekan <1% kasus. Keselamatan secara langsung
berhubungan dengan penatalaksanaan awal dan intensif. Pada kasus yang jarang,
terdapat kerusakan otak yang disebabkan syok berkepanjangan atau perdarahan
intrakranial.

9,10

Pada Pasien ini prognosis dubia ad bonam karena penanganan

yang segera pada pasien ini, saat pasien terdiagnosis demam dengue dari
anamnesis dan pemeriksaan fisik.

Lampiran
Tabel diagnosis dengue fever.6
Diagnosis probable, yaitu demam yang diikuti oleh dua atau lebih:
Gejala Klinis
Laboratorium
Sakit kepala
Leukopenia ( 5000 uL/mm3)
Nyeri retro-orbital

Trombositopenia (<150.000/mm3)

Myalgia

Peningkatan hematokrit (5-10%)

Nyeri Tulang
Rash
Manifestasi perdarahan
Diikuti minimal satu dari dibawah ini:
Terjadi di daerah dimana Tes serologi suportif dari satu sampel serum: titer antibody
terdapat kasus dengue fever IgG 1280 pada tes inhibisi hemaglutinasi,
terkonfirmasi

yang dapat

dibandingkan dengan tes ELISA, atau tes antibody IgM

yang positif
Untuk konfirmasi diagnosis dengue fever, kasus probable diikuti minimal satu di bawah
ini:
Isolasi virus dengue dari serum, CSS, atau sampel otopsi
Deteksi virus dengue atau antigen dalam jaringan, serum atau cairan serebrospinal dengan
immunochemistry, immunofluorescence atau ELISA
Deteksi virus dengue menggunakan PCR
Peningkatan empat kali lipat dari serum IgG (dari tes inhibisi hemaglutinasi) atau
peningkatan IgM antibody virus dengue

Tabel klasifikasi infeksi dengue dan derajat DBD.6


DF / DHF

Grad

Gejala dan Tanda

Laboratorium

Demam dengan dua dari hal berikut:

leukopenia (WBC 5000

e
DF

Sakit kepala.

sel/mm3).

Nyeri Retro-orbital.

Trombositopenia (trombosit

myalgia.

<150 000 sel/mm3).

Arthtralgia / nyeri tulang.

Meningkatnya hematokrit

Ruam.

(5% - 10%).

manifestasi perdarahan.

DHF

Tidak ada bukti kehilangan

Tidak ada bukti kebocoran plasma.


plasma
Demam dan manifestasi perdarahan (uji Trombositopenia <100 000 sel /
tourniquet positif) dan bukti kebocoran mm3; HCT meningkat 20%

DHF

DHF

II

plasma
Seperti derajat I ditambah pendarahan Trombositopenia <100 000 sel /

III

spontan
mm3; HCT meningkat 20%
Seperti derajat I atau II ditambah Trombositopenia <100 000 sel /
kegagalan

peredaran

darah mm3; HCT meningkat 20%

(nadi lemah, tekanan nadi sempit

DHF

IV

( 20 mmHg), hipotensi, gelisah).


Seperti derajat III ditambah syok yang Trombositopenia <100 000 sel /
mendalam dengan tekanan darah dan mm3; HCT meningkat 20%
nadi tidak dapat diukur
DAFTAR PUSTAKA

1. Mansjoer A, Triyanti K, Safitri R, Wardhani WI, Setiowulan W. Kapita


Selekta Kedokteran. Jilid 2, edisi ketiga. Media Aesculapius Fakultas
Kedokteran UI. Jakarta: 2001.
2. Sutaryo. Perkembangan Patogenesis DBD. Dalam: Hadinegoro SRH, Satari
HI. Editor. Demam Berdarah Dengue: Naskah Lengkap. Balai Penerbit FKUI.
Jakarta; 1999.

3. Suhendro, Nainggolan L, Chen K, Pohan HT. Demam Berdarah Dengue.


Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II. FKUI. Jakarta. 2007.
4. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. Panduan
Pelayanan Medik. FK UI. Jakarta. 2006.
5. Harijanto, P .N. Demam Dengue dan Demam Berdarah Dengue. Bahan Ajar.
FK UNSRAT. Manado. 2011.
6. WHO. Comprehensive Guidlines for Prevention and Control of Dengue and
Dengue Haemorrhagic Fever. 2011.
7. Lakumar F. Fluid management in dengue fever and dengue haemorrhagic
fever. Available from http://www.paedlk.com/uploads/pdf/Fluid-managementin-dengue-and-Dengue-haemorrhagic-fever.pdf Diakses tanggal 2 November
2013.

8. Chandra A. Demam berdarah dengue: epidemiologi, pathogenesis dan factor


resiko penularan. Cermin Dunia Kedokteran Indonesia. Vol 2:2010.
9. Depkes RI. Tatalaksana Demam Dengue dan Demam Berdarah Dengue di
Indonesia. Available from : http://www.depkes.go.id/downloads Diakses
tanggal 2 November 2013.

10. Amir R. Dengue fever: prevention and management. Available at


http://www.crph.org.pk/symposium/Dengue_Fever_Prevention_and_Manage
ment.pdf Diakses tanggal 2 November 2013.

Responsi Umum

DEMAM DENGUE

Oleh:
Alfrid Robot 070111220
Vivi Mamangkey 070111255
Pembimbing:
dr. Eko Surachmanto, Sp.PD-KAI

BAGIAN/SMF ILMU PENYAKIT DALAM


FAKULTAS KEDOKTERAN
BLU RSUP PROF. Dr. R.D. KANDOU
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2013