Anda di halaman 1dari 16

BAB II

PEMBAHASAN
Bioteknologi reproduksi yang akhir-akhir ini sedang berkembang pesat adalah
teknologi TE yang mencakup produksi, penanganan dan transfer embrio. Produksi embrio
dapat dilakukan secara in vivo maupun in vitro. Pemanfaatan teknologi ini pada mulanya
dipergunakan dalam perdagangan ternak, terutama yang pada waktu itu dilindungi
(Situmorang, 2004). Perkembangan bioteknologi embrio memberikan peluang untuk
optimalisasi proses perkembangan sebagai upaya meningkatkan manfaat tanpa mengganggu
proses fisiologis pertumbuhan. Perkembangan bioteknologi yang sangat pesat mulai dikenal
dengan upaya perekayasaan embrio yaitu suatu upaya manipulasi proses perkembangan untuk
mendapatkan manfaat yang lebih baik. Dari penelitain-penelitian yang telah dilakukan,
ternyata perekayasaan tanpa mengganggu proses perkembangan normal hanya dapat
dilakukan pada periode gametogenesis, fertilisasi, pembelahan embrio dan blastulasi
(Boediono, 2010).
2.1 Pengertian Transfer Embrio
Transfer embrio adalah suatu teknik dimana embrio (fertilized ova) dikoleksi dari alat
kelamin ternak betina menjelang nidasi dan ditransplantasikan ke dalam saluran reproduksi
betina lain untuk melanjutkan kebuntingan hingga sempurnah, seperti konsepsi,
implantasi/nidasi dan kelahiran. Dengan berkembangnya teknik transfer embrio, dimana
betina dapat memberikan banyak keturunan sehingga menghasilkan hasil genetik yang cepat
sebagai komplementer terhadap program IB.
Teknologi stimulasi/superovulasi dan transfer embrio (multiple ovulation and embryo
transfer, MOET) pada ternak memungkinkan untuk mendapatkan jumlah ovulasi lebih
banyak dari normal, selanjutnya setelah dilakukan inseminasi ataupun kawin alamiah akan
dihasilkan embrio lebih dari normal. Pada hewan unipara (hewan beranak satu, misalnya sapi,
kerbau, kuda) perkembangan lebih dari dua embrio dalam uterus akan menimbulkan
permasalahan kesulitan melahirkan (distokia), kelainan perkembangan bahkan sampai pada
kematian anak pralahir. Upaya mempertahankan perkembangan embrio unggul hasil
fertilisasi in vivo dapat dilakukan dengan koleksi embrio tahap praimplantasi (biasanya tahap
blastosis) untuk selanjutnya dilakukan transfer pada induk/betina resipien (surogete mother)
dengan kondisi yang disesuaikan dengan tahapan perkembangan embrio. Dengan demikian
embrio dengan kualitas baik yang dihasilkan dari oosit asal induk/betina unggul yang
difertilisasi dengan sperma asal pejantan unggul dapat dilahirkan oleh induk/betina resipien.

Sementara itu induk/betina unggul tidak perlu bunting, bahkan dapat dilakukan program
superovulasi dan transfer embrio pada siklus berikutnya (Gambar 1)

Pada teknik TE diperlukan betina donor yang pada pelaksanaannya akan mengalmi
superovulasi dengan bantuan preparat FSH sehingga akan mengakibatkan timbulnya berahi.
Selanjutnya dilakukan perkawinan dengan pejantan bermutu melalui program IB. Hasil
perkawinan tersebut akan menghasilkan embrio yang berkualitas 7 hari post IB.. berikut
adalah skema tentang transfer embrio :

Pada proses koleksi embrio, dalam setiap koleksi dilanjutkan dengan identifikasi
embrio dengan tujuan untuk pembekuan embrio (konservasi embrio) atau untuk segera
ditransfer dalam bentuk embrio segar ke resipien. Betina resipien terlebih dahulu mengalami
proses Penyerentakan berahi dengan betina donor dengan menggunakan hormon
Prostaglandin. Keberhasilan teknik TE ini sangat bergantung kepada :
1. Donor, sebagai produksi embrio transferable
2. Resipien, dengan laju kebuntingan tinggi dan konsisten
3. Prosedur, jadwal, teknik dan peralatan
4. Sumber daya manusia, harus terampil
5.
2.2 Perekayasaan Proses Fertilisasi
Pada proses koleksi embrio dapat dilakaukan dengan cara In vItro (Fertilisasi diluar
tubuh induk) atau dengan In vivo ( fertilisasi didaalam tubuh induk).
a. Produksi Embrio Secara In Vivo
Produksi embrio secara in vivo juga dikenal dengan teknologi Multiple Ovulation
Embrio Transfer (MOET). Teknologi ini sudah sangat luas diaplikasikan dalam dua
dasawarsa terakhir ini Tujuan dari teknologi ini adalah untuk menghasilkan embrio yang
banyak dalam satu kali siklus. Hal ini dapat dicapai dengan penyuntikan hormon
gonadotrophin (FSH, PMSG) secara intra muscular pada siklus berahi hari ke 10.
Penyuntikan PMSG dilakukan satu kali penyuntikan sedang FSH diberikan umumnya 2 x
sehari dengan interval waktu 12 jam selama 3-5 hari pemberian. Secara umum dilaporkan
jumlah embrio yang tertampung lebih tinggi dengan pemberian FSH dibanding PMSG.
Beberapa penelitian menunjukkan pemberian hCG atau penyuntikan FSH tunggal pada siklus
berahi hari 1 dapat meningkatkan jumlah embrio yang tertampung . Saat ini produksi embrio
dapat mencapai 30 embrio/koleksi, tetapi rata-rata hanya sekitar 57 embrio/koleksi yang
layak untuk ditransfer atau dibekukan. Sehingga seekor sapi (donor) secara teoritis dapat
menghasilkan 2030 embrio per tahun. Donor yang memberikan respons yang baik pada
perlakuan superovulasi pertama juga memberikan respons yang sama pada superovulasi yang
berikutnya.
2.2.1 Managemen Donor
1. Seleksi Donor
Dalam seleksi donor hal yang perlu diperhatikan adalah :

Nilai genetik sangat diutamakan yang merupakan kemampuan memindahkan atau

menurunkan nilai atau karakter yang baik


Harus berdasarkan kepada :

Superioritas genetik
Kemampuan reproduksi
Nilai pasar atau ekonomi dari keturunannya
Kondisi kesehatan
Adapun seleksi untuk superioritas genetik ditujukan kepada :
Maternal breeding value
Yearling breeding value
Weaning breeding value
Untuk sapi perah ditunjukkan dengan produksi susu yang tinggi
Klasifikasi score yaitu berupa konformasi
2. Kesehatan Ternak Donor
Kriteria calon betina donor adalah harus benar-benar sehat, karena apabila kesehatan
menurun akan mempengaruhi proses superovulasi yang akan menurun juga sebagai akibat
kondisi reproduksi yang menurun. Dengan demikian betina donor mutlak sehat setelah
melalui beberapa pengujian sebagai berikut :
a) Test darah
b) Vaksinasi
c) Kondisi reproduksi normal melalui pengujian dengan palpasi rektal
3. Makanan/Pakan Ternak Donor
Terdapat korelasi positif antara kondisi tubuh dengan pakan yang baik (rasional),
karena dengan kondisi pakan yang jelek akan mempengaruhi tingkat fertilitas sehingga akan
menurunkan tingkat fertilitas. Dengan demikian diperlukannya kondisi tubuh yang optimal
yang didukung dengan kondisi pakan yang baik dan seimbang.
4. Siklus Berahi Donor
Salah satu kunci utama keberhasilan Transfer embrio (TE) adalah deteksi berahi,
dimana siklus berahi harus setepat mungkin. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah lamanya
siklus berahi harus normal dan teratur, karena apabila siklus berahi abnormal akan
berpengaruh terhadap proses superovulasi. Dalam melaksanakan deteksi berahi sebaiknya
dilakukan dari 2 siklus berahi yang berturut-turut dan biasanya dilakukan pada pagi hari (jam
06.00 am) dan sore hari (jam 06.00 pm). Dari pelaksanaan deteksi tersebut di atas diharapkan
untuk menghindari abnormalitas siklus berahi misalnya adanya kejadian silent heat.

2.2.2 Managemen Resipien


1. Seleksi Resipien
Resipien yang ideal adalah betina-betina yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
a)
b)
c)
d)

Bebas penyakit
Fertilitas teruji
Kemampuan memelihara anak
Tidak ada gejala distokia
Bila ditinjau dari segi bangsa atau breed, tidak merupakan masalah karena adanya

crossbreed memberikan tingkat fertilitas yang lebih baik.


2. Kesehatan ternak Resipien
Calon resipien harus melaksanakan beberapa pengujian terhadap hal-hal berikut:
a)
b)
c)
d)

Kesehatan
Status reproduksi
Diterapkannya sistem karantina
Dilakukan pemeriksaan routine setiap hari terhadap gejala penyakit, kenaikan suhu
tubuh dengan hati-hati, karena akan mempengaruhi fertilitas yang pada akhirnya akan
menyebabkan abortus.

2.2.3. Managemen Resipien dan Donor


1. Deteksi Berahi
Penyerentakan berahi dilaksanakan antara donor dan resipien dengan tepat sehingga
akan menunjang akan keberhasilan program TE. Selain itu visual observasi merupakan faktor
utama yang perlu diperhatikan, yakni melalui:
a) Deteksi estrus pasca IB (Inseminasi Buatan) pada pagi dan sore hari selama 30 menit
b) Teknik TE yang harus dilaksanakan tepat waktu dengan timbulnya gejala berahi yang
akan menghasilkan grade berahi sinkronisasi
Intensitas pengamatan sebaiknya dilakukan satu hari sebelum dan sesudah berahi, dan
setiap hari dilakukan 5 kali pengamatan yaitu pada jam 06.00; 10.00; 14.00; 18.00 dan jam
22.00. Pelaksanaan deteksi berahi dilakukan dengan hati-hati dan tepat, karena keserentakan
berahi antara resipien dan donor sangat berpengaruh terhadap keberhasilan TE. Dari hasil
penelitian menunjukkan bahwa laju keberhasilan akan lebih baik apabila resipien berahi
dalam 1 (satu) hari donor. Bagan berikut menunjukkan program TE yang dilaksanakan antara
resipien dan donor

b. Produksi Embrio Secara In Vitro


Produksi embrio secara in vitro mencakup 3 aspek utama yaitu pematangan sel telur
(IVM), pembuahan sel telur (IVF) dan pembiakan embrio (IVC) secara in vitro. Teknologi
IVM/IVF/IVC sudah berkembang dengan pesat. Pada kondisi dimana oosit dan sperma dapat
dikoleksi dengan jumlah dan kualitas yang cukup baik, fertilisasi in vitro secara konventional
bisa dilakukan dengan menggabungkan oosit dengan sejumlah sperma dan dilakukan
inkubasi selama periode tertentu sampai terjadi fertilisasi. Pada produksi hewan ternak,
produksi embrio secara in vitro dapat dilakukan dengan memanfaatkan: a) oosit hasil aspirasi
(ovum pick up) dari betina unggul, atau b) memanfaatkan oosit yang dikoleksi dari betina
sesaat setelah dipotong di rumah potong hewan. Oosit yang didapat dilakukan pematangan
secara in vitro (in vitro maturation, IVM), selanjutnya fertilisasi (in vitro fertilization, IVF)
dilakukan dengan menggabungkan oosit matang dengan sperma dari pejantan unggul. Zigot
hasil fertilisasi akan tumbuh menjadi embrio setelah dilakukan kultur secara in vitro (in vitro
culture, IVC). Selanjutnya embrio hasil produksi in vitro dapat ditransfer pada induk/betina
resipien, sehingga memungkinkan untuk didapatkan anak yang berasal dari oosit yang
dikoleksi dari induk yang sudah dipotong di rumah potong hewan

2.3 Tahapan Transfer Embrio


Tahapan yang dilakukan dalam transfer embrio adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Sinkronisasi estrus antara resipien dan donor


Superovulasi (multiple Ovulation)
Fertilitasi
Koleksi EmbriO
Evaluasi Embrio
Transfer Embrio

1) Sinkronisasi Estrus
Pada program TE, berahi sinkronisasi dilakukan dengan menggunakan PGF2
(Prostaglandin). Namun dalam penggunaannya terutama pada resipien sebelum ini harus
terlebih dahulu dilakukan pemeriksaandilakukan treatment PGF2 secara pelpasi rektal
untuk memastikan adanya Korpus luteum (Corpus luteum). ini adalah melisiskan. Hal ini
disebabkan daya guna preparat hormon PGF2 Korpus luteum. Dengan demikian bila
resipien dengan korpus luteum positif , dan diharapkan berahi akan timbul 48 maka dapat
dilakukan penyuntikan PGF2 96 jam post injeksi. Akan tetapi masih dimungkin bila
treatment tersebut dilakukan tanpa dilakukan pemeriksaan palpasi rectal, dengan catatan
dilakukan 2 kali penyuntikan PGF2 dengan program penyuntikan sebagai berikut :

Pemberian PGF2, pada resipien sebaiknya satu hari lebih cepat dari pada donor, hal
tersebut disebabkan pada donor berahi akan timbul 36 60 jam setelah penyuntikan PGF2 ,
sedangkan pada resipien berahi timbul 48 96 jam setelah penyuntikan PGF2.
2) Superovulasi pada Donor
Pada sapi potong, superovulasi dilakukan 9 hari post berahi (9 14 hari post berahi)
dengan melakukan penyuntikan preparat hormon FSH sebagai berikut :
Hari ke 9 :

Pagi 5 mg FSH i.m.


Sore 5 mg FSH i.m.

Hari ke 10:

Pagi 4 mg FSH i.m. ,

Palpasi rectal, bila korpus luteum positif suntik dengan 15 mg PGF2 secara
i.m.
Sore 4 mg FSH i.m.
Hari ke 11:

Pagi 3 mg FSH i.m.


15 mg PGF2 , i.m.
Sore 3 mg FSH i.m.

Hari ke 12 :

Pagi 2 mg FSH i.m.


Sore 2 mg FSH i.m.

Hari ke 13:

Berahi pada donor dan resipien

Selanjutnya dilakukan IB pada donor pada 12 24 jam setelah standing heat, dengan
interval 2 kali IB yaitu IB pertama 12 jam post berahi dan IB ke dua 24 jam post berahi.
Pelaksanaan superovulasi pada sapi perah secara prosedural adalah sama dengan pada sapi
potong, hanya dosis FSH yang berbeda yaitu :
FSH

I dengan dosis pagi dan sore sebanyak 6 6 mg


II dengan dosis 5 5 mg
III dengan dosis 4 4 mg
IV dengan dosis 3 3 mg

3) Fertilisasi atau Perkawinan


Fertilisasi dapat dilakukan dengan cara inseminasi buatan. Inseminasi Buatan
umumnya dilakukan pada donor 12 24 jam pasca standing heat karena dari hasil penelitian
dihasilkan laju fertilitas yang cukup tinggi. Adapun pelaksanaan IB dilakukan 2 kali sebagai
berikut :

Yang perlu diperhatikan adalah biasanya efek atau pengaruh superovulasi tersebut
memberikan kepekaan yang tinggi sehingga faktor kebersihan (hygiene) harus diperhatikan
dalam artian prosedur dilakukan dengan aseptik.

4) Koleksi Embrio
Koleksi embrio dapat dilakukan 2 cara atau metode, yaitu :
1. Tanpa pembedahan (Non surgery/non operatif/Transcervical)
2. Dengan pembedahan (Surgery/operatif ) pada Fossa Para Lumbal (kiri/kanan)
Metode Non surgery lebih popular di Eropa, Jepang, Asia (Indonesia) dan Brazil,
sedangkan metode surgery biasa digunakan di USA.
Tahap Pelaksanaan
Adapun tahap pelaksanaan koleksi embrio terdiri dari :
1. Tahap persiapan hewan donor
2. Tahap persiapan peralatan dan bahan
3. Tahap pelaksanaan koleksi embrio
Tahap persiapan hewan donor Hewan donor yang dapat digunakan adalah donor pada
7 8 hari post berahi dan persiapan tersebut meliputi :

Ditempatkan dalam kandang pemaksa


Rambut pada pangkal ekor yang panjang digunting
Lakukan pencucian dengan sabun antiseptik
Lakukan pembilasan dengan alcohol 70%
Lakukan anestise Epidural dengan menggunakan 2 5 ml Lidocain Chloride 2 %
Pada ruang antar vertebra yaitu: tulang sacrum terakhir dan tulang coccygea
pertama
Faeces dikeluarkan dari dalam rectum hingga kosong
Dalam rectum ada udara, dikeluarkan dengan menggunakan pompa isap
Vulva dan vagina
Dicuci bersih dan dikeringkan dengan handuk
Sterilisasi atau desinfeksi dengan alkohol 70 %

Tahap persiapan alat dan bahan


Alat-alat yang diperlukan adalah :

Cervical expander, yaitu alat untuk membuka canalis cervicalis


Mucus remover, yaitu alat untuk membersihkan canalis cervicalis dari lendir atau

mucus
Foley catheter (two way) berukuran 16 20 G (tergantung ukuran canalis cervicalis)

terdiri dari 3 saluran yaitu :


Saluran masuk media flushing
Saluran keluar media hasil flushing
Saluran penggembung balon kecil
Tabung media
Tabung penampung hasil flushing embrio
Injeksi spuit :
Pengisap media hasil flushing

Penekan/pengisap balon pada foley catheter


Sedangkan bahan-bahan yang diperlukan terdiri dari :
Modified Dulbeccos Phosphat Buffered Saline (M-PBS) dengan komposisi:

PBS
Metal salt (NaCl dan Ca Cl2)
Glucose/Dextrose
Sodium Pyruvate
Penicilline
Streptomycin
Bovine Serum Albumin (BSA)

(-) 9,8 g
1,0 ml (PBS +)
1,0 g
0,036 g
100.000 IU
100 mg
3,0 mg

Larutan ini dibuat dalam volume 1 Liter.


Tahap pelaksanaan Koleksi Embrio
Teknik Transcervical

Pelaksana atau teknisi bekerja dengan tangan kiri di dalam rektum, yang bertujuan untuk:
1. Estimasi jumlah korpus luteum, folikel dan ukuran ovarium
2. Manipulasi atau menuntun pemasukan alat ke dalam cervix dan uterus
3. Manipulasi pelaksanaan koleksi embrio
Cervical expander dimasukkan ke dalam vagina hingga ke dalam lumen cervix.
Dianjurkan memakai mucous remover untuk mengeluarkan lendir yang terdapat banyak

di dalam lumen cervix.


Disesuaikan dengan ukuran lumen cervix, masukkan two way Foley catheter hingga

masuk ke dalam cornua uteri


Catheter memanipulasi ke dalam uterus (cornua superovulasi terjadi). Balon terletak 5

cm di bawah bifurcatio uteri.


Hati-hati jangan sampai melukai pada saat memasukan catheter
Pegang uterus dalam posisi lurus
Isi balon catheter dengan udara 10 15 x sehingga ketegangan balon cukup
Ketegangan balon sedemikian rupa sehingga menekan dinding uterus, sehingga media

flushing tidak akan masuk ke dalam corpus uteri


Hati-hati dalam memanipulasi ketegangan balon karena dapat menyebabkan ruptura
endometrium sehingga terjadi perdarahan. Volume udara balon untuk Heifer adalah 12

16 ml, sedangkan untuk Calves adalah 16 20 ml


Melalui inlet tube masukkan media flushing (M-PBS) pada suhu 370C dalam botol

sebanyak 1 Liter.
Tekan uterus hingga mencapai ukuran seperti dalam keadaan bunting 40 60 hari.
Uterus di masase dan diaduk media yang masuk, melalui pemijitan per rectal sehingga

ova atau fertilized egg terlepas dari endometrium


Drainage atau pencucian sebanyak 8 10 kali sebanyak 400 500 ml per uterus

Hasil flushing kemudian dilakukan isolasi embrio dengan cara filtrasi (Emcon, Immuno

system)
Diperoleh 40 50 ml flushing (70 Filter) dan tetap dalam filter
Tuangkan ke dalam gelas petri (2 3 buah)
Lakukan isolasi atau pencarian embrio dengan bantuan mikroskop stereoskopik
(invected microscope)
5) Evaluasi Embrio
Embrio diklasifikasi dan disimpan dalam storage medium pada suhu 15 - 250C

selama tidak lebih dari 5 jam.Selanjutnya dilakukan pemisahan embrio tersebut menjadi 2
bagian sesuai dengan tujuannya yaitu untuk ditrans plantasi atau ditransfer ke betina
resipien atau dilakukan pembekuan embrio (freezing embryo).
Dalam melakukan evaluasi embri o dengan menggunakan mikroskop dengan
pembesaran

100 200 kali dengan melihat criteria sebagai berikut :

Perkembangan sel (Cell stage development)


Morphologi
Kualitas embrio
Umumnya sebagian besar embrio terkoleksi pada tahap perkemba ngan yang sama,

dimana tahap perkembangan embrio tersebut terdiri dari :

3 hari post berahi


4 hari post berahi
5/6 hari
7 hari

: 4 8 sel
: 8 16 sel
: Morula
: Blastocyst

Selain itu ada cirri-ciri khas pada tahapan morula yang dapat dibedakan yaitu :
Morula merupakan embrio dengan jumlah sel 32 sel, dengan ci rri-ciri blastomer
individual dan sulit dibedakan satu dengan lainnya. Kondisi Blastomer seperti
massa dari sel- sel.
Compact Morula, ditandai dengan :
Blastomer individual menggumpal ( agglutinated) membentuk massa padat
dari sel-sel
Massa embrio mengisi 60 70 % ruangan perivitelline, dimana ruang
perivitelline lebih besar dari tahapan morula
Blastocyst dini (Early blastocyst) :
o Memiliki ruangan berisi cairan Blastocoele
o Pada tahapan ini memungkinkan membedakan Trophoblast dan Inner Cell
Mass (ICM)
o Ruang perivitelline sempit tetapi ada

Blastocyst :
o Differensiasi jelas bagian luar Trophoblast
o Inner cell mass mengisi sebagian besar ruang perivitelline
Expanded Blastocyst
o Diameter keseluruhan meningkat(1,2 1,5 kali)
o Zona Pellucida menipis (1/2 kali), dan terkadang collapsed
o Inner cell mass jelas dan kompak
Hatched Blastocyst
o Merupakan embrio yang telah terlepas dari Zona Pellucida
o Bentuknya spheris dan lebih besar
o Identifikasi pada saat ini lebih sulit

6) Transfer Embrio

a) Teknik transfer embrio pada Sapi dan Kerbau


Teknik transfer embrio (TE) pa da Sapi dan Kerbau awalnya mel alui proses
laparotomy atau metode surgery (dengan pembedahan)dengan anesthesia umum atau local.
Tetapi sejak tahun 197 8, dilakukan metode tanpa pembedahan yakni transfer embrio melalui
transcervical.
Pada metode transcervical tersebut, mula-mula akan dilakukan palpasi rectal
pada resipien untuk mengetahui apak ah pada ovarium terdapat Korpu s luteum.
Selanjutnya dilakukan anesthesia epidural untuk induced to prevent straining selama proses
transfer berlangsung. Embrio yang telah disimpan dal am straw (0,25 ml Straw) dalam
keadaan steril dimasukkan kedalam Transfer Gun (Cassou) dan dilindungi dengan plasti k
penutup yang steril. Langkah selanjutnya Transfer Gun masuk ke dalam vagina dan melalui
cervix dengan bantuan tangan o perator melalui palpasi rektal akan menuntun Transfer
Gun memasuki tanduk uterus bagian ipsilateral dengan Korpus Luteum. Embrio
didesposisikan ke dalam tanduk uterin.
b) Teknik transfer embrio pada Domba dan Kambing
Pada Domba dan Kambing umumnya t ransfer embrio dilakukan dengan cara
pembedahan atau laparotomy dibawah anesthesia umum atau local. Dengan melakukan
penyayatan mi dventral, embrio dapat ditrans fer disertai satu sedikit medium lansgung
ke dal am oviduct, diman a ujung dari pipet kapiler yang mengandung embrio disisipkan
melalui infundibulum untuk mendesposisikan embrio ke dalam ampulla.

Cara lain adalah apabila transfer embrio di arahkan langsungke uterus, maka tanduk
uterus ditusuk dengan jarum tumpul, selanjutnya pipet kapiler disisipkan ke dalam
lumen uterus. Proses tersebut dapat dilakukan dengan teknik laparoscopy
2.4 Katagori Kualitas Embrio
Kualitas embrio ditentukan dengan parameter :
1. Bentuk
2. Warna
3. Jumlah sel kompak
4. Jumlah sel degenerasi dan terlepas (extruded)
5. Jumlah dan ukuran vesicle
Adapun criteria dari kualitas embrio tersebut adalah sebagai berikut :

A Excellent (Istimewa)
Embrio ideal, morphologi sempu rna dalam perke mbangannya pada setiap
tahapan (normal typical)
A Good (Bagus)
Terdapat kelainan pada beberap a sel blastomer (extruded), be ntuk tidak
seragam, terdapat beberapa ves icle (10 20 % tidak seragam dan tidak

beraturan)
C Poor (Kurang)
Terdapat sejumlah besar blastomer extruded, degenerasi, ukuran berbeda dan vesicle

banyak. Tampak masih hidup (50 % tidak seragam dan tidak beraturan)
D Non Transferable Embryo
Sel degenerasi total, sel terlalu muda (2 32 sel) atau unfertilized ova (UFO)
2.5 Splitting Embrio

Teknologi lain yang dapat digunakan untuk optimalisasi produksi embrio adalah
dengan teknik splitting yaitu memotong embrio menjadi dua bagian yang sama. Potongan
embrio yang dihasilkan dalam proses splitting selanjutnya disebut demi embrio. Teknik
splitting embrio dilaporkan telah dilakukan pada ternak domba, kambing dan ternak sapi.
Dengan melakukan splitting pada embrio, diharapkan akan mampu meningkatkan jumlah
embrio yang dapat ditransfer kepada sapi resipien sehingga pada akhirnya akan
meningkatkan persentase kebuntingan per embrio utuh yang dihasilkan. Namun karena untuk
efisiensi teknis sebagian besar embrio yang diproduksi disimpan dalam bentuk embrio beku,
perlu dikaji apakah embrio beku masih memungkinkan untuk dilakukan splitting. Splitting
embrio dilakukan sesuai dengan metode (Gambar 1). Demi embrio hasil splitting dicuci
dengan media kultur CR1aa dan diinkubasi dalam inkubator CO2 5% pada suhu 38,5o C.

Pengamatan dilakukan terhadap morfologi demi embrio yaitu bentuk embrio, keberadaan
ICM, trofoblas, reekspansi blastosoel dan jumlah sel hidup selama 3 jam setelah proses
splitting.

DAFTAR PUSTAKA
Boediono, Arif. 2010. Bioteknologi Embrio. Institut Pertanian Bogor.
Imron, M, dkk. 2007. Viabilitas Demi Embrio Sapi In Vitro Hasil Splitting Embrio Segar dan
Beku. JITV. Vol 12 (2) : 118-123
Rasad, Siti Darojah. 2009. Transfer Embrio. Fakultas Peternakan, Universitas Padjajaran.
Situmorang, Polmer dan Endang Triwulaningsih. 2004. Aplikasi Dan Inovasi Teknologi
Transfer Embrio (Te) Untuk Pengembangan Sapi Potong. Balai Penelitian Ternak,
Po Box 221, Bogor.