Anda di halaman 1dari 9

BAB 9

SISTEM INTEGUMEN
TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM :
Mahasiswa mampu memahami dan mengkomunikasikan tentang system
integument.
TUJUAN PEMEBELAJARAN KHUSUS :
1. 1.mahasiswa dapat menggambarkan dan menjelaskan anatomi kulit.
2. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang fungsi kulit.
3. Mahasiswa dapat menjelaskan fungsi kulit sebagai pengatur suhu tubuh.
9.1 ANATOMI KULIT
kebanyakan kontak kita dengan lingkungan luar dilakukan melalui kulit.
Kulit merupakan organ yang paling berat, sekitar 16 persen berat badan total. Kulit
menutupi dan melindungi permukaan tubuh dan bersambungan dengan selaput lender
yang melaui isi rongga-rongga dan lubang-lubang tubuh.
Kulit terdiri atas dua bagian, yaitu epidermis dan dermis (Gambar 9.1)
9.1.1 Epidermis
epidermis berlapis-lapis terdiri atas sel-sel pipih (skuamus kompleks). Lapisan
epidermis terdiri atas (dari luar ke dalam) :
1) Stratum corneum (lapisan tanduk), disebut juga kulit ari. Sel-sel tipis, datar,
seperti sisik, dan terus menerus mengelupas, dan diganti oleh sel dibawahnya.
Proses ini berjalan terus menerus selama hidup kita. Protoplasma selnya
berubah menjadi sejenis protein yang disebut keratin, dan berfungsi menahan
air (water proof).
2) Stratum lucidum : sel-sel jernih dan terdiri atas beberapa lapis.
3) Stratum granulosum : terdiri atas 2-3 lapis sel yang bentuknya pipih yang
diduga merupakan peraliahan antara stratum germinativum dan sel-sel stratum
corneum pada permukaan kulit.
4) Stratum germinativum : terdiri atas dua lapisan, yaitu :
a. Stratum spinosum, sel-selnya Nampak berduri, karena adanya fibrilfibril halus yang menyambung satu dengan yang lain.
b. Stratum basalis, merupakan bagian yang paling bawah dari stratum
germinativum. Sel-selnya terus-menerus membelah membuat sel-sel
baru. Pigmen kulit terdapat pada stratum germinativum ini.

Epidermis tidak berisi pembuluh darah, akan tetapi serabut saraf yang halus di antara
bagian sel-sel sebalah dalam. Papilla corium berleku-lekuk, dan lekukan ini diikuti
oleh epidermis yang ada di atasnya, sehingga nampak bagai garis-garis pada
permukaan epidermis. Pada ujung jari tampak garis-garis ini sebagai ukiran yang
jelas, yang pada setiap orang berbeda.
9.1.2 Corium (dermis)
dermis terdiri atas dua lapis jaringan, yaitu :
1) Lapisan papilaris , terletak pada bagian atas dengan permukaan berlekuklekuk yang terdiri atas papil-papil kecil berbentuk kerucut. Lekukan-lekukan
ini diikuti oleh epidermis yang ada diatasnya. Lapisan ini terdiri dari jaringan
ikat yang berisi jaringan saraf dan penuh dengan pembuluh darah dan limfe,
kelenjar-kelenjar, serta folikel rambut.
2) Lapisan retikularis, terletak di sebelah dalam, terdiri atas jaringan fibrosa dan
beberapa serabut elastis. Pada lapisan ini terdapat jaringan adipose dan
kelenjar keringat. Lapisan retikuler dihubungkan dengan bagian bawah kulit
oleh jaringan sub cutaneous yang terdiri atas jaringan ikat areolar dengan
perkecualian di beberapa tempat berisi sel-sel lemak.
JARINGAN HIPODERMIS (subcutaneous)
Lapisan ini bukan merupakan bagian dari kulit. Lapisan ini terdiri atas
jaringan penyambung yang menghubungkan kulit secara longgar dengan organ-organ
yang berdekatan, memungkinkan kulit bergeser terhadap organ-organ tersebut. Pada
hypodermis terdapat sel-sel lemak, jumlah dan ukurannya berbeda-beda menurut
daerah tubuh dan keadaan nutrisi individu.
Pembuluh darah dan pembuluh limfe dalam kulit
Arteri yang memberi darah pada kulit membentuk anyaman dalam
subcutaneous dan mengirim cabang kapiler-kapiler darah ke folikel rambut dan

glandula sudorifare (kelenjar keringat). Kapiler darah pada kulit banyak sekali,
sehingga mampu menampung sebagian besar darah dari tubuh. Jumlah darah yang
mengisi

pembuluh-pembuluh

ini

bervariasi

tergantung

dari

melebar

dan

menyempitnya pembuluh darah tersebut. Pembuluh darah yang melebar disebut


vasodilatasi, dan yang menyempit disebut vasokontriksi. Melebar dan menyempitnya
pembuluh darah diatur oleh saraf vasomotoris.
Terdapat pula anyaman-anyaman pembuluh limfe pada permukaan corium.
Pembuluh-pembuluh ini berhubungan satu dengan yang lain, dan pada pembuluh
limfe pada sub cutaneous.
Persarafan kulit
Pada kulit terdapat ujung-ujung saraf porifer, yaitu :
1) Serabut saraf motoris, yang mengatur pelebaran

pembuluh

darah

(vasodilatator) dan penyempitan pembuluh darah (vasokonstriktor), serta saraf


motoris yang menginervasi musculus arrector (arector pilorum).
2) Ujung saraf yang merupakan reseptor dingin (benda Krause) dan reseptor
panas (benda ruffini).
3) Ujung saraf yang merupaka indera peraba (benda meissner) dan indera
tekanan (benda pacini).
4) Indera untuk merasakan sakit dan nyeri, terdiri atas sejumlah reseptor
diperkirakan lebih dari 2.000.000, yang merupakan ujung saraf bebas.
5) Serabut saraf sekretoris yang tersebar menuju kelenjar-kelenjar.
Organ tambahan kulit
1) Kuku
Kuku terdiri atas jaringan epidermis yang menanduk dan jernih, merupakan
lempengan yang keras di atas ruas jari terakhir. Tiap-tiap kuku melekat pada
corium yang mengalami modifikasi menjadi matrik/dasar kuku. Pada bagian
akhir dasar kuku kulit merupakan lipatan yang didalamnya terdapat akar kuku.
Pertumbuhan memanjang kuku disebabkan oleh pembelahan sel-sel lunak
pada stratum germinativum pada akar kuku.
2) Rambut (pili)
Rambut merupakan struktur tipis bertanduk yang berasal dari invaginasi epitel
epidermis. Warna dan ukurannya berbeda-beda menrut ras, usia, seks, dan
daerah tubuh. Rambut hampir terdapat pada semua permukaan tubuh. Rambut
tumbuh secara diskontinyu dan mempunyai periode pertumbuhan dan diikuti
oleh periode istirahat. Pertumbuhan ini tidak terjadi secara serentak diseluruh
bagian tubuh walaupun pada daerah yang sama. Jenis pertumbuhan ini dikenal
dengan pertumbuhan mosaik. Lama periode pertumbuhan dan periode

istirahat tidak sama, sesuai dengan daerah tubuh. Pertumbuhan rambut pada
daerah tubuh tertentu seperti kulit kepala, wajah, dan pubis, sangat
dipengaruhi oleh hormon-hormon seks (khususnya androgen), hormone
adrenal dan tiroid. Pertumbuhan rambut tidak dipengaruhi oleh seringnya
potong rambut atau cukur.
Bagian rambut yang terdapat dalam folikel rambut disebut akar
rambut, dan yang menjlur keluar/permukaan kulit disebut batang rambut.
Rambut terdiri atas : kulikula, cortex, dan medulla. Medulla merupakan
lapisan sel yang paling dalamyang sering kali berisi ruang udara. Rambut
halus menutupi seluruh permkaan tubuh, kecuali pada : tapak kaki, tapang
tangan, dan ruas jari terakhir. Rambut tidak punya pembuluh darah, nutrisi
didapat dari pembuluh darah papilla pada corium.
Musculus arrector adalah otot rambut yang menghubungkan corium
dengan folikel rambut, dan menyebabkan rambut dapat tegak bila otot tersebut
berkontraksi. Kontraksi otot ini juga menyebabkan tertariknya folikel ke atas,
mendorong sekresi kelenjar sebaseus ke permukaan kulit.
3) Kelenjar-kelenjar kulit
a. Kelenjar sebasea
Kelenjar sebasea ditemukan tertanam pada dermis hamper semua
bagian tubuh kecuali pada daerah yang tidak berambut. Merupakan kelenjar
majemuk alveolar (kelenjar asiner). Sekresinya disebut sebum, umumnya
disekresikan pada bagian atas folikel rambut, kecuali pada daerah seperti bibir
salurannya bermuara langsung pada epidermis.
Sebelum terdiri dari campuran kompleks lipid yang antara lain
mengandung trigliserida, asam lemak bebas, kolesterol. Factor utama yang
mengatur kelenjar sebasea pada laki-laki adalah testosterone testis, dan pada
wanita oleh gabungan androgen ovarium dan adrenal. Aliran kelenjar sebasea
adalah kontinyu, dan gangguan pada sekresi dan aliran normal aebum
merupakan salah satu alas an akan timbulnya jerawat.
Sekresi kelenjar sebasea ini juga menyebabkan kulit menjadi fleksibel.
Kelenjar ini merupakan jaringan protektif pada permukaan kulit, dan juga
mencegah absorpsi dan penguapan air dari kulit.
b. Kelenjar keringat (glandula sudoriferae)
Kelenjar keringat menurakan kelenjar tubuler bergelung dengan ujung
buntu. Terletak dalam jaringan hypodermis, dikelilingi oleh pleksus kapiler

darah. Kelenjar ini menghasilkan keringat, dan dikeluarkan melalui saluran


yang membuka ke luar.
Komposisi keringat :
Keringat tidak berwarna, seperti air, mengandung garam (terutama NaCl), dan zat-zat
anorganic lain seperti darah, tetapi dalam konsentrasi yang lebih rendah. Zat organic
yang terkandung sama dengan dalam urin, antara lain : urea, asam urin, kreatinin, dan
fenol sulfat. Keringat biasanya bereaksi asam (pH = 5,65), dan berbau khas.
PERPIRASI ( pengeluaran air )
Dalam keadaan biasa, pengeluaran air ( keringat ) melalui permukaan tubuh
tidak dapat dirasakan , dan hal ini disebut insensible perspiration Jika lebih banyak
keringat yang keluar dari permukaan tubuh, akan terjadi penguapan yang dapat
dirasakan, oleh karena itu disebut perspirasi sensibel (sensible perspiration).
Jumlah sekresi keringat dalam 24 jam bervariasi , kira-kira 480-600 cc sehari.
Tetapi sekresi ini dapat meningkat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain :
meningkatkan suhu ,kelembaban udara , kondisi darah , latihan otot , rasa sakit ,
nervous , bahan kimia tertentu (misal : nikotin,pilocarpie ), dan oleh penyakit tertentu
( misal : malaria, tuberkulosis ).
WARNA KULIT
Warna kulit disebabkan oleh pigmen yang terdapat dalam stratum
germinativum . Orang kulit putih juga mempunyai pigmen dalam kulitnya, tetapi
tidak seberapa banyak .makin banyak pigmen , makin hitam warna kulit .Orang bulai
kulitnya ( albino ) tidak mempunyai pigmen pada rambut , iris mata . Orang bulai
selalu memincingkan matanya untuk mengurangi silau. ( apa sebabnya?).
9.2 FUNGSI KULIT
Adapun fungsi kulit adalah :
1) Melindungi sel/jaringan yang terletak dibawahnya terhadap pengaruh luar, antara
lain :
a. Melindungi jaringan terhadap faktor mekanis , misal pukulan
b. Melindungi kulit terhadap zat-zat kimia
c. Mencegah penguapan air karena pengaruh suhu lingkungan
d. Mencegah masuknya kuman-kuman penyakit.

2) Mengatur suhu tubuh.


3) Berfungsi sebagai alat ekskresi,karena kulir mengeluarkan sisa-sisa metabolisme
yang larut dalam keringat.
4) Bersifat sebagai indera peraba ,reseptor dingin ,reseptor panas,reseptor
tekanan,reseptor rasa sakit dan nyeri.
5) Sebagai tempat cadangan zat makanan (zat lemak).
9.2.1 Kulit sebagai pengatur suhu tubuh
Berdasarkan dari pengaturan suhu tubuh, hewan dapat dibagi atas
homoiothermic dan poikilothermic. Manusia termasuk homoiothermic, sebab
mempunyai suhu tubuh yang konstan, meskipun suhu lingkungan lebih tinggi atau
lebih rendah dari suhu tubuh.
Suhu tubuh normal,bila diukur per oral adalah 36,70C dan 370C dan kira-kira
0,60C lebih tinggi bila diukur per rektal.
Pengaturan suhu tubuh
Panas

secara

terus

menerus

dibentuk

dalam

tubuh

sebagai

hasil

metabolisme,dan panas tubuh juga secara terus-menerus dilepaskan ke lingkungan


.Ketika kecepatan pembentukan panas tepat sama dengan kehilangan panas , maka
orang tersebut dapat dikatakan dalam keseimbangan panas. Tetapi jika keduanya
melewati keseimbangan , panas tubuh, dan juga suhu tubuh akan jelas meningkat atau
menurun.
Faktor-faktor yang penting memegang peranan dalam menentukan kecepatan
pembentukan panas, antara lain : (1). Kecepatan metabolisme basal semua sel tubuh,
(2).peningkatan kecepatan metabolisme yang disebabkan oleh aktivitas otot termasuk
menggigil, (3). Peningkatan metabolisme oleh hormon tiroksin, (4). Peningkatan
metabolisme yang disebabkan oleh epinefrin, norepinefrin, dan perangsangan saraf
simpatis, dan (5).peningkatan metabolisme yang disebabkan oleh peningkatan suhu
sel-sel tubuh.
Beberapa cara kehilangan panas dari tubuh meliputi : (1). Radiasi, (2).
Konduksi, dan (3). Evaporasi.
Radiasi
Kehilangan panas melalui radiasi berarti kehilangan panas dalam bentuk
gelombang infra merah , suatu jenis gelombang elektromagnetik. Tubuh juga

menerima pancaran gelombang panas dari benda-benda di lingkungan tubuh. Bila


suhu tubuh lebih besar dari suhu lingkungan, kuantitas panas yang dipancarkan keluar
dari tubuh lebih besar dari yang dipancarkan ke tubuh.
Konduksi
Sebagian kecil panas hilang dari tubuh melalui konduksi langsung dari
permukaan tubuh ke benda-benda lain.
Konveksi
Kehilangan panas melalui konveksi adalah pemindahan panas dari tubuh
melalui konveksi udara. Sebenarnya, pertama-tama panas harus dikonduksi ke udara
kemudian dibawa melalui aliran konveksi.
Pusat pengaturan suhu tubuh
Hampir seluruh mekanisme pengaturan suhu tubuh diatur oleh mekanisme
persarafan umpan balik, dan hampir semua mekanisme ini terjadi melalui pusat
pengaturan suhu yang terletak pada hipotalamus.
Pada hipotalamus terdapat area preoptik yang mengandung sejumlah besar
neuron yang sensitif terhadap panas. Daerah ini diduga berfungsi sensor untuk
mengontrol suhu tubuh.
Selain neuron peka panas, di hipotalamus juga ditemukan neuron-neuron yang
peka terhadap dingin, yang meningkatkan kecepatan kerjanya jika terpapar oleh
dingin.
Apabila area preoptik dipanaskan, kulit dengan segera mengeluarkan banyak
keringat, sementara pada waktu yang sama pembuluh darah kulit di seluruh tubuh
mengalami dilatasi. Hal ini merupakan reaksi cepat untuk menyebabkan tubuh
kehilangan panas. Di samping itu, pembentukan panas tubuh yang berlebihan
dihambat.
Reseptor suhu pada kulit
Pada kulit terdapat reseptor dingin dan reseptor panas, di mana reseptor dingin
jauh lebih banyak dari pada reseptor panas. Oleh karena itu deteksi suhu perifer lebih
banyak mendeteksi suhu sejuk dan dingin dari pada suhu hangat.
Reseptor suhu dalam hanya ditemukan pada bagian tertentu tubuh, sebagian
besar di medula spinalis, di viscera abdominal, atau di vena-vena besar. Reseptor
dalam lebih banyak terpapar oleh suhu inti tubuh dari pada suhu permukaan tubuh.

Reseptor dalam juga lebih banyak mendeteksi suhu dingin baik di kulit maupun dalam
tubuh, hal ini kemungkinan untuk mencegah terjadinya hiportemia, yaitu rendahnya
suhu tubuh.
Mekanisme pengaturan suhu tubuh
Sewaktu area hipotalamus mendeteksi bahwa suhu terlalu panas atau terlalu
dingin, hipotalamus akan memberikan prosedur menurunkan atau meningkatkan suhu
tubuh.
Mekanisme penurunan suhu tubuh
1) Vasodilatasi
Pada hampir seluruh area tubuh, pembuluh darah cenderung berdilatasi. Hal
ini disebabkan oleh hambatan dari pusar simpatis pada hipotalamus posterior
yang menyebabkan vasokonstriksi. Vasodilatasi penuh akan meningkatkan
kecepatan pemindahan panas ke kulit sebanyak delapan kali lipat.
2) Berkeringat
Dengan berkeringat maka tubuh kehilangan panas secara evaporasi ketika
suhu tubuh meningkat di atas suhu kritis 370C.
3) Penurunan pembentukan panas
Mekanisme yang menyebabkan terbentuknya panas berlebihan, seperti
menggigil dan termogenesis kimia, dihambat dengan kuat.
Mekanisme peningkatan suhu
Ketika tubuh terlalu dingin, sistem pengaturan tubuh mengadakan prosedur
yang berlawanan, yaitu :
1) Vasokonstriksi kulit si seluruh tubuh
Hal ini disebabkan oleh rangsangan pusat simpatis hipotalamus posterior.
2) Piloereksi, artinya rambut berdiri pada akarnya. Mekanisme ini tidak terlalu
penting pasa manusia, tapi pada hewan, berdirinya rambut memungkinkan mereka
untuk membentuk lapisan tebal isolator udara di dekat kulit sehingga pelepasan
panas ke lingkungan dapat ditekan.
3) Peningkatan pembentukan panas
Pembentukan panas oleh sistem metabolisme meningkat dengan :
(a) Menggigil, (b) rangsangan simpatis pembentukan panas, dan (c) sekresi
tiroksin.

Ransangan simpatis atau sekresi epinefrin dan norepinefrin serta hormon


tiroksin akan dapat menyebabkan meningkatnya kecepatan metabolisme
seluler degnan cepat. (silahkan saudara diskusikan mengapa peningkatan
metabolisme seluler dan menggigil dapat meningkatkan pembentukan panas!.)
9.2.2 Kulit sebagai organ ekskresi
Kulit sebagai organ ekskresi, karena pada kulit terdapat kelanjar
keringat. Kelenjar keringat mensekresikan sejumlah ampas metabolisme tubuh
(baca kembali di depan!).
SOAL LATIHAN
1. Buatlah gambar anatomi kulit, lengkap dengan keterangannya dan fungsi
dari masing-masing bagian!.
2. Jelaskan bahwa kulit memegang peranan dalam mengatur suhu tubuh.
Bagian kulit mana sajakah yang berperan membantu pengaturan suhu
tubuh!.
3. Kapan suhu tubuh dikatakan dalam keadaan keseimbangan panas?.
4. Jelaskan fungsi kulit!.