Anda di halaman 1dari 14

REFERAT

PEMERIKSAAN PADA TUBERCULOSIS

CUT VANESSA
1102010061

PEMBIMBING :
Dr. Syafrizal Sp.P

Pendahuluan
Penyakit pada sistem pernafasan merupakan masalah yang sudah umum terjadi di masyarakat.
Dan TB paru merupakan penyakit infeksi yang menyebabkan kematian dengan urutan atas
atau angka kematian (mortalitas) tinggi, angka kejadian penyakit (morbiditas), diagnosis dan
terapi yang cukup lama. Penyakit ini biasanya banyak terjadi pada negara berkembang atau
yang mempunyai tingkat sosial ekonomi menengah ke bawah.
Di Indonesia TB paru merupakan penyebab kematian utama dan angka kesakitan dengan
urutan teratas setelah ISPA. Indonesia menduduki urutan ketiga setelah India dan China dalam
jumlah penderita TB paru di dunia.
Dalam mendiagnosa TB, diperlukan berbagai keterampilan bagi dokter dalam menganamnesa,
melakukan pemeriksaan fisik dan penunjang untuk menegakkan diagnosis. Sekarang, sudah
banyak pemeriksaan yang dapat menegakkan diagnosis TB. Seorang dokter harus dapat
menentukan pemeriksaan terbaik yang tidak merugikan bagi pasien.
Berikut pemeriksaan-pemeriksaan yang dapat menunjang diagnosis untuk TB.

1. Pemeriksaan sputum BTA


Cara pengambilan dahak 3 kali (SPS):
- Sewaktu / spot (dahak sewaktu saat kunjungan)
- Pagi ( keesokan harinya )
- Sewaktu / spot ( pada saat mengantarkan dahak pagi)
atau setiap pagi 3 hari berturut-turut.
Bahan pemeriksaan/spesimen yang berbentuk cairan dikumpulkan/ditampung
dalam pot yang bermulut lebar, berpenampang 6 cm atau lebih dengan tutup berulir,
tidak mudah pecah dan tidak bocor. Apabila ada fasilitas, spesimen tersebut dapat
dibuat sediaan apus pada gelas objek (difiksasi) sebelum dikirim ke laboratorium.
Bahan pemeriksaan hasil BJH, dapat dibuat sediaan apus kering di gelas objek, atau
untuk kepentingan biakan dan uji resistensi dapat ditambahkan NaCl 0,9% 3-5 ml
sebelum dikirim ke laboratorium.
Spesimen dahak yang ada dalam pot (jika pada gelas objek dimasukkan ke dalam kotak
sediaan) yang akan dikirim ke laboratorium, harus dipastikan telah tertulis identitas
pasien yang sesuai dengan formulir permohonan pemeriksaan laboratorium.
Pemeriksaan bakteriologi dari spesimen dahak dan bahan lain (cairan pleura, liquor
cerebrospinal, bilasan bronkus, bilasan lambung, kurasan bronkoalveolar /BAL, urin,
faeces dan jaringan biopsi, termasuk BJH) dapat dilakukan dengan cara
- Mikroskopik
- Biakan
Cara pewarnaan Ziehl Nielsen
Pada dasarnya prinsip pewarnaan mycobacterium yang dinding selnya tahan
asam karena mempunyai lapisan lemah atau lilin sehingga sukar ditembus cat. Oleh

pengaruh phenol dan pemanasan maka lapisan lemak dapat ditembus cat basic fuchsin.
Pada pengecatan Ziehl Neelsen setelah BTA mengambil warna dari basic fuchshin
kemudian dicuci dengan air mengalir, lapisan lilin yang terbuka pada waktu dipanasi
akan merapat kembali karena terjadi pendinginan pada waktu dicuci. Sewaktu dituangi
dengan asam sulfat dan alkohol 70% atau HCI alkohol, warna merah dari basic fuchsin
pada BTA tidak akan dilepas/luntur.Bakteri yang tidak tahan asam akan melepaskan
warna merah, sehingga menjadi pucat atau tidak bewarna. Akhirnya pada waktu dicat
dengan Methylien Blue BTA tidak mengambil warna biru dan tetap merah, sedangkan
bakteri yang tidak tahan asam akan mengambil warna biru dari Methylien Blue.
Pemeriksaan mikroskopik:
Mikroskopik biasa
:
Mikroskopik fluoresens:

pewarnaan Ziehl-Nielsen
pewarnaan auramin-rhodamin (khususnya untuk screening)

lnterpretasi hasil pemeriksaan dahak dari 3 kali pemeriksaan ialah bila :


3 kali positif atau 2 kali positif, 1 kali negatif = BTA positif
1 kali positif, 2 kali negatif = ulang BTA 3 kali, kemudian
bila 1 kali positif, 2 kali negatif = BTA positif
bila 3 kali negatif = BTA negatif
Interpretasi pemeriksaan mikroskopis dibaca dengan skala IUATLD (rekomendasi
WHO).
Skala IUATLD (International Union Against Tuberculosis and Lung Disease) :
- Tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang pandang, disebut negatif
- Ditemukan 1-9 BTA dalam 100 lapang pandang, ditulis jumlah kuman yang ditemukan
- Ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapang pandang disebut + (1+)
- Ditemukan 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut ++ (2+)
- Ditemukan >10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut +++ (3+)
1. Pemeriksaan Kultur Sputum
Pemeriksaan biakan kuman:
Pemeriksaan biakan M.tuberculosis dengan metode konvensional ialah dengan cara :
- Egg base media: Lowenstein-Jensen (dianjurkan), Ogawa, Kudoh
- Agar base media : Middle brook
Melakukan biakan dimaksudkan untuk mendapatkan diagnosis pasti, dan dapat
mendeteksi Mycobacterium tuberculosis dan juga Mycobacterium other than
tuberculosis (MOTT). Untuk mendeteksi MOTT dapat digunakan beberapa cara, baik
dengan melihat cepatnya pertumbuhan, menggunakan uji nikotinamid, uji niasin maupun
pencampuran dengan cyanogen bromide serta melihat pigmen yang timbul
Pada identifikasi M. tuberculosis, pemeriksaan dengan media biakan lebih sensitive
dibandingkan dengan pemeriksaan mikroskopis. Pemeriksaan biakan dapat mendeteksi
10 1000 mycobacterium/ml. Tidak semua basil tahan asam yang diasingkan
Lowenstein-Jensen atau Ogawa adalah Mycobacterium tuberculosis. Perlu dilakukan
diindentifikasi lebih lengkap untuk membedakan spesies. Dasar dari pemeriksaan

identifikasi adalah waktu pertumbuhan, pembentukan pigmen, tes biokimia dan suhu
pertumbuhan.
Ciri-ciri utama Mycobacterium dan kelompok MOTT (Mycobacterium other than
tuberculosis) / kelompok runyon di media Ogawa adalah ada media Ogawa menunjukan
sifatnya yang kering, rapuh, permukaan tidak rata, pertumbuhan eugenik dan warna
kekuning kuningan. Ketahanan asamnya ada, tingkat pertumbuhan lambat, pigmentasi
lebih dari 99% negatif dan tes niasin lebih dari 90% positif.
Pemeriksaan identifikasi dengan menggunakan media Ogawa ini memberikan
sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi dan dipakai sebagai alat diagnostik pada
program penanggulangan TB. Identifikasi mycobacterium dimulai dengan menilai waktu
pertumbuhan, warna pigmen, morfologi koloni dan hasil pewarnaaan BTA.
Langkah awal untuk identifikasi pada media padat adalah: Seleksi Koloni: Keberadaan
satu atau lebih jenis koloni diamati. Penampilan kasar, halus cembung, halus menyebar,
halus dengan tepi berkeriput, kasar transparan, kasar keruh dan sebagainya
dideskripsikan; Pigmen paska inkubasi di tempat gelap (kuning, orange, kuning muda,
kuning-orange) diamati. Jika tak berpigmen, sebut sebagai buff; Jika terdapat lebih
dari satu jenis koloni, dilakukan subkultur untuk tiap jenis koloni dan diamati hal-hal
tersebut diatas.
Pewarnaan BTA dengan Ziehl Neelsen. Meyakinkan tidak ada pencemaran. Kecepatan
pertumbuhan. Rapid grower akan tumbuh dalam 7 hari atau kurang, sedangkan slow
grower akan tumbuh setelah 7 hari (tidak selalu jelas batasnya); Pencahayaan
Mikobakterium yang termasuk photokromogen akan menghasilkan pigmen jika
dipaparkan cahaya. Namun pigmen hanya optimal jika koloni kuman terpisah. Jika
pertumbuhannya sangat padat, pigmen tak akan muncul; Dilakukan uji biokimia tertentu
pada koloni murni.
Morfologi koloni M. tuberculosis pada media Ogawa adalah ebagai berikut: kasar,
kering, rapuh, tengah bertumpuk dengan tepi berjejas tipis; adang-kadang tipis dan
menyebar. Hari tumbuh 12 28 hari dan tidak berpigmen baik pada tempat yang
terang maupun gelap (buff).
Bila terdapat kontaminasi pada kultur, dilaporkan segera dan diulangi pembuatan
kultur. Bila kultur positif dan pertumbuhan dinilai sebagai M. tuberculosis, dilaporkan
segera pada pihak yang berkepentingan. Pada minggu ke 4 dapat dibuat laporan
sementara. Pada minggu ke 8 dibuat laporan akhir.
Metode :
ahan sputum dipindahkan sebanyak 1 ml ke dalam tabung reaksi. dituangkan lebih
kurang 4 ml larutan NaOH 4%, simpan tabung tersebut dalam inkubator pada suhu
37oC selama 15 menit untuk melarutkan spesimen.
Kemudian diaduk perlahan-lahan agar homogen. Dipipet 0,1 ml bahan pemeriksaan
yang sudah di olah pada dua buah tabung kultur/pembiakan yang berisi madia ogawa
3%, menyebar rata di atas permukaan setiap media. Letakkan tabung-tabung pada rak
miring dengan tutup yang dikendorkan.
Simpan pembenihan yang sudah ditanami pada inkubator 37oC. Tutuplah tabung
dengan baik ketika permukaan media kering, kemudian inkubasi sampai sekurangkurangnya 4 minggu.

Amati koloni yang tumbuh, Mycobacterium tuberculosis positif jika pada permukaan
media terdapat pertumbuhan koloni yang berwarna kunung atau orange. Selanjutnya
koloni ini digunakan untuk pemeriksaan kultur dengan menggunakan bahan uji
Kumpulkan sputum penderita (sputum pagi) lakukan homogenasi dan
dekontaminasi dengan Natrium Hidroksida 4%, aduk selama 2 menit. Tindakan ini
dilakukan untuk membunuh kuman lain selain Mycobacterium.
Tambahkan NaCl fisiologis untuk pengenceran dan aduk hingga rata, biarkan 30
menit.
Dengan menggunakan pipet, ambil 2cc suspensi dan masukkan ke dalam media
Ogawa 3%.
Inkubasi pada suhu 35C - 37C dan hindarkan terkena cahaya matahari.
Setelah di inkubasi 5 7 hari, media yang telah ditanami mulai di baca dan catat
hari pertama pertumbuhan koloni semenjak penanaman.
Jika setelah 8 minggu tidak terlihat pertumbuhan maka kultur di anggap negatif dan
boleh di buang.
Cara kultur resistensi :
Untuk mendapatkan konsentrasi INH (0.1, 1.0, 5.0) dilakukan prosedur berikut
1 mg INH dilarutkan dalam 10 ml Aquadest steril sehingga didapatkan konsentrasi
INH 100 ug/ml (larutan A).
INH 0.1 ug : 0.1 ml larutan A (konsentrasi 100 ug/ml) + 100 ml medium.
INH 1 ug : 1 ml larutan A + 100 ml medium.
INH 5 ug : 5 ml larutan A + 100 ml medium.
Untuk mendapatkan konsentrasi Rifampicin (2.0, 10.0, 50.0 ug) dilakukan prosedur
berikut :
10 mg Rifampicin dilarutkan dalam 10 ml Aquadest steril, sehingga didapatkan
konsentrasi Rifampicin 1000 ug/ml (larutan B).
Rif 2.0 ug : 0.2 ml larutan B + 100 ml medium.
Rif 10 ug : 1 ml larutan B + 100 ml medium.
Rif 50 ug : 5 ml larutan B + 100 ml medium.
Untuk mendapatkan konsentrasi Ethambutol (1.0, 5.0, 10.0 ug/ml) dilakukan prosedur
berikut :
10 mg Ethambutol dilarutkan dalam 10 ml Aquadest steril, sehingga didapatkan
konsentrasi Ethambutol 1000 ug/ml (larutan C).
Eth 1.0 ug : 0.2 ml larutan C + 100 ml medium.
Eth 5.0 ug : 0.5 ml larutan C + 100 ml medium.
Eth 10 ug : 1 ml larutan C + 100 ml medium.
Untuk mendapatkan konsentrasi Pyrazinamid (30, 150, 750 ug/ml) dilakukan prosedur
berikut :
100 mg Pyrazinamid dilarutkan dalam 10 ml Aquadest steril, sehingga didapatkan
konsentrasi Ethambutol 10.000 ug/ml (larutan D).
P 30 ug
: 0.3 ml larutan D + 100 ml medium.
P 150 ug : 1.5 ml larutan D + 100 ml medium.
P 750 ug : 7.5 ml larutan D + 100 ml medium.
Suspensi Kuman
Suspensi kuman di buat dengan prosedur berikut :

Ambil 1 o'se koloni kuman dari medium Ogawa 3% dan masukkan ke dalam NaCl
fisiologis, aduk hingga homogen, hingga dicapai kekeruhan dengan standart Mc Farland
I (larutan A).
Lakukan pengenceran 1/1000, dengan cara mengambil 0.01 ml larutan A dan
masukkan ke dalam 10 ml NaCl fisiologis, sehingga didapatkan kuman dengan
konsentrasi pengenceran 1/1000 (larutan B), larutan ini akan digunakan sebagai
kontrol.
Untuk larutan obat, digunakan suspensi kuman dengan pengenceran 1/100, di
lakukan dengan cara mengambil 0.1 ml larutan A dan masukkan ke dalam 10 ml NaCl
fisiologis (larutan C).
Pada medium kontrol, masukkan 2 tetes suspensi kuman dengan konsentrasi
1/1000 (larutan B) dan pada medium obat masukkan 2 tetes suspensi kuman dengan
konsentrasi 1/100 (larutan C).
Lihat pertumbuhan kuman.
Tingkat resistensi di hitung berdasarkan perbandingan antara jumlah koloni yang
tumbuh pada medium kontrol dengan medium tanpa obat (metoda proporsional).
pelaporan hasil biakan menurut WHO, Technic Guide 67 adalah :
(-)
: tidak ada pertumbuhan
(1+)
: 1 200 koloni
(2+)
: dari media tertutup oleh 200 500 koloni
(3+)
: dari media tertutup oleh hampir seluruh koloni, 500 2000 koloni
(4+)
: media tertutup seluruhnya oleh koloni, lebih dari 2000 koloni

2. Pemeriksaan BACTEC
Dasar teknik pemeriksaan biakan dengan BACTEC ini adalah metode radiometrik. M
tuberculosis memetabolisme asam lemak yang kemudian menghasilkan CO2 yang akan
dideteksi growth indexnya oleh mesin ini. Sistem ini dapat menjadi salah satu alternatif
pemeriksaan biakan secara cepat untuk membantu menegakkan diagnosis dan
melakukan uji kepekaan (dikutip dari 13)
Bentuk lain teknik ini adalah dengan menggunakan Mycobacteria Growth Indicator Tube
(MGIT).
3. Pemeriksaan PCR TB
Pemeriksaan PCR adalah teknologi canggih yang dapat mendeteksi DNA, termasuk
DNA M.tuberculosis. Salah satu masalah dalam pelaksanaan teknik ini adalah
kemungkinan kontaminasi. Cara pemeriksaan ini telah cukup banyak dipakai, kendati
masih memerlukan ketelitian dalam pelaksanaannya.

Hasil pemeriksaan PCR dapat membantu untuk menegakkan diagnosis sepanjang


pemeriksaan tersebut dikerjakan dengan cara yang benar dan sesuai standar
internasional.
Apabila hasil pemeriksaan PCR positif sedangkan data lain tidak ada yang menunjang
ke arah diagnosis TB, maka hasil tersebut tidak dapat dipakai sebagai pegangan untuk
diagnosis TB
Pada pemeriksaan deteksi M.tb tersebut diatas, bahan / spesimen pemeriksaan dapat
berasal dari paru maupun ekstraparu sesuai dengan organ yang terlibat.

4. Pemeriksaan ELISA
Teknik ini merupakan salah satu uji serologi yang dapat mendeteksi respons humoral
berupa proses antigen-antibodi yang terjadi. Beberapa masalah dalam teknik ini
antara lain adalah kemungkinan antibodi menetap dalam waktu yang cukup lama. Anti
gen yang digunakan pada ELISA ada beberapa macam, mulai dari yang paling kasar
termasuk kompleks anti gen dari M. tuberculosis, yang agak kasar seperti Bacille
Calmette-Guerin (BCG) dan purified protein derivate (PPD). Anti gen setengah murni
(dengan cara kimiawi / imunologi) contohnya antara lain anti gen 5, anti gen 6, LAM,
glicolipid dan membran plasma sampai yang paling murni yaitu anti gen 10 kD - 85
kD.(8)Anti gen komersial yang digunakan untuk tes serologi dewasa ini antara lain : IgG
anti TB kompleks (38 kD), IgG Mycobacterium sp. (LPS dan 38 kD), IgA anti TB (kp90), Mycodot (LAM), Dot-EIA/PAP-TB (polipeptid sitoplasma polimer) dan TB-Dot
(polimer dan 38 kD).
Penelitian tentang pemeriksaan serologik dengan menggunakan metode ELISA telah
dilaporkan oleh beberapa peneliti.(1,6,7,12) Dari penelitian tersebut di peroleh hasil
sensitivitas dan spesifisitas yang cukup tinggi, yakni anti gen 60 IgG (80,77% dan
88,4%), 38 kD IgG (64,21 dan 80,74%), Kp 90 IgA (62,58 dan 66,3%), (6) Anti gen 5
(89% dan 94%-100%),(7) Anti gen A60 IgG (73,8 dan 96,1%), anti gen A 60 IgA (69
dan 93,6%),(3)anti gen LAM (60%-70% dan 90%-100%).
Prinsipnya adalah Bila kita mau mendeteksi antigen :
Ag(serum) + AbE = kompleks Ag-AbE dicuci
Kemudian dilakukan inkubasi dengan substrat kromogenik yang semula tidak
berwarna menjadi berwarna bila dihidrolisis oleh enzim. Intensitas warna yang terjadi
warna yang terjadi diukur dengan fotometer/ spektrofotometer kadar antigen
Hidrolisis oleh enzim berlangsung dalam waktu tertentu. Reaksi berhenti jika
ditambahkan asam atau basa kuat. Reaksi harus berlangsung dalam keadaan optimal
dimana kadar reaktan, temperature, dan masa inkubasi sudah ditetapkan secara
eksperimental.
ELISA terdiri atas 3 metode, yaitu :
a. Metode kompetitif :
Umumnya untuk menentukan antigen. Ab spesifik dilekatkan pada partikel dan
dicampur bersama Antigen. Kemudian tambahkan serum Antigen lain untuk
bersaing mengikat antibodi di atas. Membentuk kompleks Antigen-AntibodiAntigen.

b. Non kompetitif :
Menentukan hanya Antibodi atau Antigen.
c. Metode Sandwich :
Menentukan antibody dan antigen : Ag-Ab-Anti Ab* = antibody yang dicari
Abs-Ag-Ab* = antigen yang dicari
5. Pemeriksaan ICT
Uji Immunochromatographic tuberculosis (ICT tuberculosis) adalah uji serologi untuk
mendeteksi antibodi M.tuberculosis dalam serum. Uji ICT merupakan uji diagnostik TB
yang menggunakan 5 antigen spesifik yang berasal dari membran
sitoplasma M.tuberculosis, diantaranya antigen M.tb 38 kDa. Ke 5 antigen tersebut
diendapkan dalam bentuk 4 garis melintang pada membran immunokromatografik (2
antigen diantaranya digabung dalam 1 garis) disamping garis kontrol. Serum yang
akan diperiksa sebanyak 30 ml diteteskan ke bantalan warna biru, kemudian serum
akan berdifusi melewati garis antigen. Apabila serum mengandung antibodi IgG
terhadap M.tuberculosis, maka antibodi akan berikatan dengan antigen dan
membentuk garis warna merah muda. Uji dinyatakan positif bila setelah 15 menit
terbentuk garis kontrol dan minimal satu dari empat garis antigen pada membran.
6. Pemeriksaan Mycodot
Uji ini mendeteksi antibodi antimikobakterial di dalam tubuh manusia. Uji ini
menggunakan antigen lipoarabinomannan (LAM) yang direkatkan pada suatu alat
yang berbentuk sisir plastik. Sisir plastik ini kemudian dicelupkan ke dalam serum
pasien, dan bila di dalam serum tersebut terdapat antibodi spesifik anti LAM dalam
jumlah yang memadai sesuai dengan aktiviti penyakit, maka akan timbul perubahan
warna pada sisir dan dapat dideteksi dengan mudah
7. Pemeriksaan PAP TB
Uji ini merupakan salah satu jenis uji yang mendeteksi reaksi serologi yang
terjadi. Dalam menginterpretasi hasil pemeriksaan serologi yang diperoleh, para klinisi
harus hati hati karena banyak variabel yang mempengaruhi kadar antibodi yang
terdeteksi. Hasil uji PAP TB dinyatakan patologis bila terdapat titer 1 : 10.000. Hasil
positif palsu kadang didapatkan pada pasien reumatik, kehamilan, dan masa 3 bulan
revaksinasi BCG.
8. Pemeriksaan IgG
Uji IgG adalah salah satu pemeriksaan serologi dengan cara mendeteksi antibodi IgG
dengan antigen spesifik untuk Mycobacterium tuberculosis.Uji IgG berdasarkan
antigen mikobakterial rekombinan seperti 38 kDa dan 16 kDa dan kombinasi lainnya
akan menberikan tingkat sensitiviti dan spesifisiti yang dapat diterima untuk
diagnosis. Di luar negeri, metode imunodiagnosis ini lebih sering digunakan untuk
mendiagnosis TB ekstraparu, tetapi tidak cukup baik untuk diagnosis TB pada anak.
Saat ini pemeriksaan serologi belum dapat dipakai sebagai pegangan untuk

diagnosis.

9. Analisis cairan pleura


Pemeriksaan analisis cairan pleura dan uji Rivalta cairan pleura perlu dilakukan pada
pasien efusi pleura untuk membantu menegakkan diagnosis. Interpretasi hasil analisis
yang mendukung diagnosis tuberkulosis adalah uji Rivalta positif dan kesan cairan
eksudat, serta pada analisis cairan pleura terdapat sel limfosit dominan dan glukosa
rendah
10.Pemeriksaan Histopatologi
Pemeriksaan histopatologi dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis TB.
Pemeriksaan yang dilakukan ialah pemeriksaan histopatologi. Bahan jaringan dapat
diperoleh melalui biopsi atau otopsi, yaitu :
Biopsi aspirasi dengan jarum halus (BJH) kelenjar getah bening (KGB)
Biopsi pleura (melalui torakoskopi atau dengan jarum abram, Cope dan Veen
Silverman)
Biopsi jaringan paru (trans bronchial lung biopsy/TBLB) dengan bronkoskopi, trans
thoracal needle aspiration/TTNA, biopsi paru terbuka).
Otopsi
Pada pemeriksaan biopsi sebaiknya diambil 2 sediaan, satu sediaan dimasukkan ke
dalam larutan salin dan dikirim ke laboratorium mikrobiologi untuk dikultur serta sediaan
yang kedua difiksasi untuk pemeriksaan histologi.
11. Pemeriksaan darah
Pemeriksaan ini kurang mendapat perhatian karena hasilnya kadang meragukan, tidak
sensitif, dan juga tidak spesifik. Pada saat TB baru aktif akan didapatkan leukosit yang
sedikit meninggi dengan hitung jenis pergeseran ke kiri. Jumlah limfosit masih di bawah
normal. Laju Endap Darah mulai meningkat. Bila penyakit mulai sembuh, leukosit
kembali kea rah normal.
Hasil pemeriksaan juga didapatkan anemia ringan dengan gambaran normokrom dan
normositer, gamma globulin meningkat, kadar natrium darah menurun. Pemeriksaan
tersebut di atas nilainya juga tidak spesifik.
12. Uji Tuberkulin
Ada beberapa cara melakukan uji tuberkulin, namun sampai sekarang cara
mantoux lebih sering digunakan. Lokasi penyuntikan uji mantoux umumnya pada
bagian atas lengan bawah kiri bagian depan, disuntikkan intrakutan(ke dalam kulit).
Penilaian uji tuberkulin dilakukan 4872 jam setelah penyuntikan dan diukur
diameter dari
pembengkakkan
atau
yang
biasa
disebut
indurasi
:

Uji tuberkulin hanya berguna untuk menentukan adanya infeksi TB, sedangkan
penentuan sakit TB perlu ditinjau dari klinisnya dan ditunjang foto torak. Pasien
dengan hasil uji tuberkulin positif belum tentu menderita TB. Adapun jika hasil uji
tuberkulin negatif, maka ada tiga kemungkinan, yaitu tidak ada infeksi TB, pasien
sedang
mengalami
masa
inkubasi
infeksi
TB,
atau
terjadi
alergi.
Penilaian hasil uji tuberculin test :
1. Pembengkakan (Indurasi) : 04 mm,uji mantoux negatif.
Arti klinis : tidak ada infeksi Mikobakterium tuberkulosa
2. Pembengkakan (Indurasi) : 39 mm,uji mantoux meragukan.
Hal ini bisa karena kesalahan teknik, reaksi atau silang dengan Mikobakterium
atipik setelah vaksinasi BCG.
3. Pembengkakan (Indurasi) : = 10 mm,uji mantoux positif.
Arti klinis : sedang atau pernah terinfeksi Mikobakterium tuberkulosa
13. Pemeriksaan Radiologis
.
Pada saat ini pemeriksaan radiologis dada merupakan cara yang praktis yang praktis
untuk menemukan lesi tuberkulosis. Pemerikasaan ini memang membutuhkan biaya
lebih dibandingkan pemeriksaan sputum, tetapi dalam beberapa hal ia memberikan
keuntungan seperti pda tuberkulosis anak-anak dan tuberkulosis milier. Pada kedua hal
diatas diagnosis dapat diperoleh melalui pemeriksaan radiologis dada sedangkan
pemeriksaan sputum hampir selalu negatif.
Lokasi lesi tuberkulosis umumnya di daerah apeks paru ( segmen apikal lobus atas atu
segemen apikal lobus bawah) tetapi dapt pula mengenai lobus bawah (bagian inferior)
atau di daerah hilus menyerupi tumor paru (misalnya pada tuberkulosis endobronkial).
Pada awal penyakit saat lesi masih merupakan sarang-sarang pneumonia, gambara
radiologi berupa bercak-bercak seperti awandan dengan batas-batas yang tidak tegas.
Bila lesi sudah diliputi jaringan ikat maka bayangan terlihat berupa bulatan dengan batas
yang tegas. Lesi ini dikenal sebagai tuberkuloma.
Gambaran tuberkulosis milier terlihat berupa bercak-bercak halus yang umumnya
tersebar merata pada seluruh lapangan paru.
Gambaran radiologis lain yang sering menyertai tuberkulosis paru adalah penebalan
pleura (pleuritis), masa cairan di bagian bawah paru (efusi pleura/empiema), bayangan
hitam radio-lusen di pinggir paru atau pleura (pneumothoraks).
Pada suatu foto dada sering didapatkan bemacam-macam bayangan sekaligus (pada
tuberkulosis yang sudah lanjut) seperti infiltrat, garis-garis fibrotik, kalsifikasi, kavitas
(non sklerotik maupun sklerotik) maupun antelekstasis dan empisema.
Pemeriksaan khusus yang kadang-kadang juga diperlukan adalah bronkografi, yakni
untuk melihat kerusakan bronkus atau paru yang disebabkan oleh tuberkolosis.
Pemeriksaan ini umumnya dilakukan bila pasien akan menjalani pembedahan paru.

Pemeriksaan radiologis dada yang lebih canggih saat ini sudah banyak dipakai di rumah
sakit rujukan adalah Computed Tomography Scanning (CT Scan). Pemeriksaan ini lebih
superior dibanding radiologis biasa. Perbedaan densitas jaringan terlihat lebih jelas dan
sayatan dapat dibuat transversal.
Pemeriksaan lain yang lebih canggih lagi adalah Magnetic Resonance Imaging(MRI).
Pemeriksaan MRI ini tidak sebaik CT Scan, tetapi dapat mengevaluasi proses-proses
dekat apeks paru, tulang belakang, perbatasan dada-perut. Sayatan bila dibuat
transversal, sagital dan koronal.
Gambaran radiologi yang di curigai lesi TBC aktif
- Bayangan berawan atau nodular di segmen apical dan posterior lobus atas
paru dan segmen superior lobus bawah
- Kavitas, terutama lebih dari satu di kelilingi bayangan berawan atau noduler
- Bayangan bercak miler
- Efusi pleura unilateral
Gambaran radiologi yang di curigai lesi TB inaktif
- Fibrotik pada segmen apikal dan posterior lobus atas
- Kalsifikasi atau fibrotik
- Fibrothoraks dan atau penebalan pleura
Indikasi Pemeriksaan Foto Toraks
Pada sebagian besar TB paru, diagnosis terutama ditegakkan dengan pemeriksaan
dahak secara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks. Namun pada kondisi
tertentu pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi sebagai
berikut:
- Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. Pada kasus ini
pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk mendukung diagnosis TB paru BTA
positif.
- Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 3 spesimen dahak SPS
pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan
setelah pemberian antibiotika non OAT(non fluoroquinolon
- Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat yang
memerlukan penanganan khusus (seperti: pneumotorak, pleuritis eksudativa,
efusi perikarditis atau efusi pleural) dan pasien yang mengalami hemoptisis berat
(untuk menyingkirkan bronkiektasis atau aspergiloma)
Luas lesi yang tampak pada foto toraks untuk kepentingan pengobatan dapat
dinyatakan sebagai berikut (terutama pada kasus BTA negatif) :

Lesi minimal , bila proses mengenai sebagian dari satu atau dua paru dengan luas tidak
lebih dari sela iga 2 depan (volume paru yang terletak di atas chondrostemal junction
dari iga kedua depan dan prosesus spinosus dari vertebra torakalis 4 atau korpus
vertebra torakalis 5), serta tidak dijumpai kavitas
14. Pemeriksaan Fisis
Pemeriksaan pertama terhadap keadaan umum pasien mungkin ditemukan konjungtiva
mata atau kulit yang pucat karena anemia, suhu demam subfebris, badan kurus atau
berat badan menurun. Pada pemeriksaan fisis pasien sering tidak menunjukkan suatu
kelainan terutama pada kasus-kasus dini atau yang sudah terinfiltrasi secara
asimtomatik. Demikian juga bila sarang penyakit terletak di dalam akan sulit
menemukan kelainan pada pemeriksaan fisik karena hantaran suara yang lebih dari 4
cm ke dalam paru sulit dinilai secara palpasi, perkusi, dan auskultasi.
Tempat kelainan lesi TB paru yang paling dicurigai adalah apeks paru. Bila ada infiltrate
yang luas, maka didapatkan perkusi redup dan auskultasi suara bronchial. Mungkin
akan didapatkan suara napas tambahan berupa ronki basah kasar dan nyaring. Tapi bila
infiltrate ini diliputi penebalan pleura, maka akan didapatkan suara vesikuler melemah.
Bila terdapat kavitas, suara perkusi akan hipersonor atau timpani dan auskultasi
memberikan suara amforik.
Pada TB yang lanjut dengan fibrosis luas sering ditemukan atrofi dan retraksi otot
interkostal. Bagian paru yang sakit akan menciut dan menarik isi mediastinum atau paru
lainnya. Paru yang sehat akan menjadi lebih hiperinflasi.
Bila jaringan fibrotik amat luas yakni lebih dari setengah jumlah jaringan paru, akan
terjadi pengecilan daerah aliran darah paru dan selanjutnya meningkatkan tekanan arteri
pulmonalis kanan (hipertensi pulmonal) diikuti gejala kor pulmonal dan gagal jantung
kanan maka dari itu akan ditemukan takipnea, takikardia, sianosis, right ventricular lift,
right atrial gallop, murmur Graham steel, bunyi P2 yang mengeras, tekanan vena
jugularis yang meningkat, hepatomegali, ascites, dan edema.
Bila TB mengenai pleura, sering terbentuk efusi plera. Paru yang sakit akan tertinggal
dalam pernapasan. Perkusi memberikan suara pekak. Auskultasi memberikan suara
lemah atau tidak terdengar sama sekali.
Dalam penampilan klinis, TB paru sering asimptomatik dan penyakit baru dicurigai
dengan didapatkan kelainan radiologis dada dan uji tuberculin positif
15. Pemeriksaan TB MDR dengan menggunakan GeneXpert/
Adalah metode baru untuk mendeteksi resistensi terhadap Rifampisin pada TB MDR
dengan cepat. Pemeriksaan ini mendeteksi sekuens DNA yang spesifik pada M. Tb dan
resistensi rifampisin dengan cara CR. Pemeriksaan ini memurnikan dan
mengkonsentrasikan basil MTb dari sampel sputum, mengisolasi materi genomnya dari
bakteri denga sonikasi dan membagi DNA nya dengan PCR. Proses ini mengidentifikasi
semua yang berhubungan dengan mutasi yang menyebabkan resistensi Rifampisin
pada gen RNA polymerase beta dalam genom M TB menggunakan probe fluorescent
yang disebut molecular beacons. Hasilnya diperoleh dari sputum yang tidak diproses

dalam 90 menit dengan sedikit efek pencemaran. Sensitifitas metode ini sebesar 88%
dan spesifisitasnya 98%. Tetapi pada smear yang negatif, Xpert ini hanya 67% dan 98%
Prosedur pemeriksaan GeneXpert :
Gen Xpert memiliki 4 bagian dari cartridge : cartridge body, berupa wadah transparan
valve body, berupa katup yang berisi tabung, foot, bagian bawah cartridge dan lid atau
penutup. Di dalamnya terdapat banyak tabung terpisah berisi reagen. Sampel
dimasukkan pada bagian khusus sampel pada cartridge kemudian tutup menggunakan
lid. setelah itu ada alat berupa plunger/probe yang dimasukkan ke dalam lubang pada
valve. kemudian valve berputar dan plungernya memindahkan cairan sampel ke dalam
tabung dalam valve.Setelah itu plunger dan valve memindahkan sampel ke area aktif
pemeriksaan yang dapat memisahkan organisme dari sampel cairan. Organismenya
terperangkap di dalam sebuah filter. Setelah itu valve berputar untuk memasukkan
reagen berbeda. Dan terjadi proses sonikasi dimana materi genetiknya diperoleh dan
langsung dianalisa.
Positif palsu pada pemeriksaan PCR GeneXpert MTB/RIF dapat disebabkan karena
terlambatnya probe yang menempel pada target. Penyebab lain spesifisitas yang
rendah pada penelitian ini adalah banyaknya sampel yang tidak tumbuh pada media
kultur. Terdapat 12 sampel yang pada pemeriksaan PCR GeneXpert MTB/ RIF
menunjukkan positif M. tuberculosis namun ternyata tidak tumbuh pada saat dikultur,
sehingga tidak dapat dianalisis. Sampel yang tidak tumbuh pada media kultur ini dapat
disebabkan penderita tersangka MDR-TB ini sedang menjalani terapi TB yang
menyebabkan viabilitas M. tuberculosis berkurang sehingga tidak dapat tumbuh dalam
media kultur.
16. Scanning
Pemeriksaan CT Scan dilakukan untuk menemukan hubungan kasus TB inaktif/stabil
yang ditunjukkan dengan adanya gambaran garis-garis fibrotik ireguler, pita parenkimal,
kalsifikasi nodul dan adenopati, perubahan kelengkungan beras bronkhovaskuler,
bronkhiektasis, dan emifesema perisikatriksial. Sebagaimana pemeriksaan Rontgen
thoraks, penentuan bahwa kelainan inaktif tidak dapat hanya berdasarkan pada temuan
CT scan pada pemeriksaan tunggal, namun selalu dihubungkan dengan kultur sputum
yang negatif dan pemeriksaan secara serial setiap saat. Pemeriksaan CT scan sangat
bermanfaat untuk mendeteksi adanya pembentukan kavasitas dan lebih dapat
diandalkan daripada pemeriksaan Rontgen thoraks biasa

DAFTAR PUSTAKA
1. Sudoyo, Aruw. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid 2 Edisi IV. Jakarta:
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.
2. Soeparman dan sarwono Waspadji. 1990. Ilmu Penyakit Dalam jilid 2. Jakarta : Balai
Penerbit FKUI.
3. Patil, N. 2013. Initial experience with GeneXpert MTB/RIF assay in the Arkansas
Tuberculosis Control Program. Australas Med Journal.
4. www.klikpdpi.co.id