Anda di halaman 1dari 19

PEGADAIAN SYARIAH

Tugas untuk memenuhi mata kuliah Ekonomi Syariah

Oleh :
NAMA

: M.RIZAL ARBY

NIM

: DIA013279

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS MATARAM
2015

BAB I
PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Sampai saat ini masih ada kesan dalam masyarakat, kalau seseorang pergi ke
pegadaian untuk menjamin sejumlah uang dengan cara menggadaikan barnag, adalah
aib dan seolah kehidupan orang tersebut sudah sangat menderita. Karena itu banyak
diantara masyarakat yang malu menggunakan fasilitas pengadaian. Lain halnya jika kita
pergi ke sebuah Bank, di sana akan terlihat lebih prestisius, walaupun dalam prosesnya
memerlukan waktu yang relatif lebih lama dengan persyaratan yang cukup rumit.
Bersamaan dengan berdirinya dan berkembangnya bank, BMT, dan asuransi yang
berdasarkan prinsip syariah di Indonesia, maka hal yang mengilhami dibentuknya
pegadaian syariah atau rahn lebih dikenal sebagai produk yang ditawarkan oleh Bank
syariah, dimana Bank menawarkan kepada masyarakat dalam bentuk penjaminan
barang guna mendapatkan pembiayaan.
Oleh karena itu dibentuklah lembaga keungan yang mandiri yang berdasarkan
prinsip syariah. Adapun dalam makalah ini akan dijelaskan secara lengkap mengenai
pegadaian syariah mulai dari pengertian, dasar hukum, rukun, perbedaan dan
persamaan gadai syariah dengan gadai konvensional dan lain-lain.

BAB II
PEMBAHASAN
A. pengertian pegadaian syariah
Pegadaian adalah merupakan tempat di mana masyarakat yang membutuhkan uang
tunai bisa datang meminjam uang dengan barang-barang pribadi sebagai jaminannya.
Mungkin masyarakat masih ingat dengan slogan pegadaian saat ini, Mengatasi
Masalah Tanpa Masalah. Jika nasabah meminjam uang tunai ke bank, selain itu
nasabah juga harus memiliki agunan, prosesnya juga bisa memakan waktu berhari-hari,
karena pengajuan kredit perlu dianalisa terlebih dahulu oleh bagian kredit di bank
tersebut. Tapi di Pegadaian simpel dan mudah prosesnya, hanya meninggalkan barang
pribadi dan menunjukkannya di loket penaksir.
Di loket penaksir tersebut barang akan dinilai oleh petugasnya. Dan petugasnya
akan memberi tahukan mengenai berapa nilai gadai dari barang tersebut. Nilai gadai
adalah nilai yang menggambarkan tentang berapa batas jumlah uang yang bisa
dipinjam dengan menggunakan barang yang bersangkutan. Bila setuju, maka setelah
itu datang ke loket kredit dan mendapatkan uang tunai yang bisa dipinjam, tentunya
yang sesuai dengan nilai gadai barang. Bagusnya, proses ini tidak memakan waktu
berhari-hari. Di sinilah kelebihan pegadaian.
Mudah memang, tapi tentunya semua itu tidak gratis. Artinya masih ada beban
yang harus dibayar. Khusus untuk pegadaian konvensional dikenakan beban bunga
yang harus dibayar setiap 15 hari jika memang berniat untuk menebusnya kembali.
Beban bunga itu bervariasi, tergantung dari nilai pinjaman. Untuk pinjaman Rp 5.000
hingga Rp 40.000 dikenakan bunga 1,25%. Untuk pinjaman Rp 40.100 hingga Rp
150.000 dikenakan bunga 1,5%, sedangkan untuk pinjaman di atas Rp 150.100
dikenakan bunga 1,75%. Akan tetapi jika pada pegadaian syariah hanya dikenakan
beban bunga tiap harinya Rp 900,00 akan tetapi beban yang diberikan kepada nasabah
juga tergantung pada barang yang menjadi jaminan, beban yang dibebankan kepada
nasabah dipergunakan untuk merawat barang yang dijadikan jaminan dan

mengansuransikan barang yang dijaminkan karena semata untuk menjaga barang


tersebut jika terjadi force majeur.
Lalu jika nasabag tidak mampu menebus kembali barang tersebut, pegadaian
akan melelang barang tersebut. Lelang adalah proses penjualan barang di mana
barang yang bersangkutan akan dijual kepada penawar yang berani membeli dengan
harga tertinggi. Tentu saja lelang tersebut akan dilakukan dengan sepengetahuan
pemiliknya.

B. Prinsip Dasar Syariah

Al-quran dan hadis


Firman Allah,
Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak
memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang
oleh yang berpiutang. (QS. Al-Baqarah : 2 : 283)
Dari Aisyah r.a., Nabi S.A.W. bersabda:
sesungguhnya Rasulullah S.A.W. pernah membeli makanan seorang Yahudi dan Nabi
menggadaikan sebuah baju besi kepadanya (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah r.a., Nabi S.A.W. bersabda:
Tidak terlepas kepemilikan barang gadai dari pemilik yang menggadaikannya. Ia
memperoleh manfaat dan menanggung resikonya.(HR. Asya-SyafiI, Al-Daruquthni dan
Ibnu Majah)

Nabi S.A.W. bersabda :


Tunggangan (kendaraan) yang digadaikan boleh dinaiki dengan menanggung biayanya
dan binatang ternak yang digadaikan dapat diperah susunya dengan menanggung
biayanya. Bagi yang menggunakan kendaraan dan memerah susu wajib menyediakan
biaya perawatan dan pemeliharaan. (HR. Jamaah kecuali Muslim , NasaI dan Bukhari)
Fatwa DSN
Landasan ini kemudian diperkuat dengan Fatwa Dewan Syariah Nasional no 25/DSNMUI/III/2002 tanggal 26 Juni 2002 yang menyatakan bahwa pinjaman dengan
menggadaikan barang sebagai jaminan utang dalam bentuk rahn diperbolehkan
dengan ketentuan sebagai berikut :

Ketentuan Umum :

1. Murtahin (penerima barang) mempunya hak untuk menahan Marhun (barang)


sampai semua utang rahin (yang menyerahkan barang) dilunasi.
2. Marhun dan manfaatnya tetap menjadi milik Rahin. Pada prinsipnya marhun
tidak boleh dimanfaatkan oleh murtahin kecuali seizin Rahin, dengan tidak
mengurangi nilai marhun dan pemanfaatannya itu sekedar pengganti biaya
pemeliharaan perawatannya.
3. Pemeliharaan dan penyimpanan marhun pada dasarnya menjadi kewajiban
rahin, namun dapat dilakukan juga oleh murtahin, sedangkan biaya dan
pemeliharaan penyimpanan tetap menjadi kewajiban rahin.
4. Besar biaya administrasi dan penyimpanan marhun tidak boleh ditentukan
berdasarkan jumlah pinjaman.
5. Penjualan marhun

a. Apabila jatuh tempo, murtahin harus memperingatkan rahin untuk segera melunasi
utangnya.
b. Apabila rahin tetap tidak melunasi utangnya, maka marhun dijual paksa/dieksekusi.
c. Hasil Penjualan Marhun digunakan untuk melunasi utang, biaya pemeliharaan dan
penyimpanan yang belum dibayar serta biaya penjualan.
d. Kelebihan hasil penjualan menjadi milik rahin dan kekurangannya menjadi kewajiban
rahin.

Ketentuan Penutup

1. Jika salah satu pihak tidak dapat menunaikan kewajibannya atau jika terjadi
perselisihan diantara kedua belah pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui
Badan Arbritase Syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.
2.

Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari

terdapat kekeliruan akan diubah dan disempurnakan sebagai mana mestinya.

Fatwa Dewan Syariah Nasional No : 25/DSN-MUI/III/2002


Tentang RAHN menetapkan :
Pinjaman dengan menggadaikan barang sebagai jaminan hutang dalam bentuk Rahn
dibolehkan dgn ketentuan sbb:
1. Murtahin (penerima barang) mempunyai hak untuk menahan marhun (barang)
sampai dengan hutang rahin (yg menyerahkan barang) dilunasi
2. Barang tidak boleh dimanfaatkan oleh murtahin tanpa seizin rahin

3. Ongkos dan biaya penyimpanan barang gadai (marhun ) ditanggung oleh


penggadai (rahin). ongkos yang dimaksud besarnya tidak boleh didasarkan pada
besarnya pinjaman .
4. Murtahin tidak dpt melunasi hutang, maka marhun dijual paksa/Dilelang
Fatwa DSN no 26/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn Emas Menetapkan :
1. Rahn Emas dibolehkan berdasarkan prinsip Rahn (lihat Fatwa DSN nomor :
25/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn),
2. Ongkos dan Biaya Penyimpanan barang (Marhun) ditanggung oleh penggadai
(Rahin).
3. Ongkos sebagai mana dimaksud dalam butir b besarnya didasarkan pada
pengeluaran yang nyata-nyata diperlukan.
4. Biaya penyimpanan barang (Marhun) dilakukan berdasarkan akad ijarah.

Fungsi dan tujuan lembaga

Visi:

pada tahun 2013 pegadaian menjadi champion dalam embiayaan mikro dan kecil
berbasis gadai syariah dan fiducia bagi masyarakat menengah ke bawah

Misi:

Membantu program pemerintah meningkatkan kesejahteraan rakyat khususnya


golongan menengah ke bawah dengan memberikan solusi keuangan yang terbaik
melalui penyaluran pinjaman skala mikro, kecil dan menengah atas dasar hukum gadai

dan fidusia . Memberikan manfaat kepada pemangku kepentingan dan melaksanakan


tata kelola perusahaan yang baik secara konsisten. Melaksanakan usaha lain dalam
rangka optimalisasi sumber daya.
Perjalanan Misi Perusahaan Perum Pegadaian :
Misi Pegadaian sebagai suatu lembaga yang ikut meningkatkan perekonomian dengan
cara memberikan uang pinjaman berdasarkan hukum gadai kepada masyarakat kecil,
agar terhindar dari praktek pinjaman uang dengan bunga yang tidak wajar ditegaskan
dalam keputusan Menteri Keuangan No. Kep-39/MK/6/1/1971 tanggal 20 Januari 1970
dengan tugas pokok sebagai berikut:
1. Membina perekonomian rakyat kecil dengan menyalurkan kredit atas dasar
hukum gadai kepada
2. Para petani, nelayan, pedagang kecil, industri kecil, yang bersifat produktif Kaum
buruh / pegawai negeri yang ekonomi lemah dan bersifat konsumtif
3. Ikut serta mencegah adanya pemberian pinjaman yang tidak wajar, ijon,
pegadaian gelap, dan praktek riba lainnya.
4. Disamping menyalurkan kredit, maupun usaha-usaha lainnya yang bermanfaat
terutama bagi pemerintah dan mayarakat
5. Membina pola perkreditan supaya benar-benar terarah dan bermanfaat dan bila
perlu memperluas daerah operasinya.
Dengan seiring perubahan status perusahaan dari Perjan menjadi Perum pernyataan
misi perusahaan dirumuskan kembali dengan pertimbangan jangan sampai misi
perusahaan itu justru membatasi ruang gerak perusahaan dan sasaran pasar tidak
hanya masyarakat kecil dan golongan menengah saja maka terciptalah misi
perusahaan Perum Pegadaian yaitu ikut membantu program pemerintah dalam upaya
meningkatkan kesejahteraan masyarakat golongan menengah kebawah melalui

kegiatan utama berupa penyaluran kredit gadai dan melakukan usaha lain yang
menguntungkan.
Bertolak dari misi Pegadaian tersebut dapat dikatakan bahwa sebenarnya Pegadaian
adalah sebuah lembaga dibidang keuangan yang mempunyai visi dan misi bagaimana
masyarakat mendapat perlakuan dan kesempatan yang adil dalam perekonomian.

C.

Sejarah Berdirinya Pegadaian


Pegadaian syariah pertama kali berdiri di Jakarta dengan nama Unit Layanan Gadai
Syariah (ULGS) cabang Dewi Sartika pada bulan Januari 2003. Menyusul kemudian
pendirian ULGS di Surabaya, Makasar, Semarang, Surakarta dan Yogyakarta pada
tahun yanng sama hingga September 2003. Masih pada tahun yang sama pula, empat
kantor cabang pegadaian di Aceh menjadi pegadaian syariah.

D.

Dasar Hukum Gadai (Rahn)


Gadai hukumnya jaiz (boleh) menurut al-Kitab , as- Sunah, dan ijma (Sabiq, 1996

1.

Al- Quran
Ayat Al-Quran yang dapat dijadikan sebagai dasar hukum perjanjian gadai adalah
Qs. Al- Baqarah 283 :
.......
Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak
memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang
(oleh yang berpiutang)....(Qs. Albaqarah :283)

2.

As- Sunnah
Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. pernah membeli makanan dengan berutang dari
seorang Yahudi, dan Nabi menggadaikan sebuah baju besi kepadanya.(Hadis Nabi
riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah r.a.,)

Selain dari hadis tersebut, Nabi Bersabda yaitu:


Tunggangan (kendaraan) yang digadaikan boleh dinaiki dengan menanggung
biayanya dan binatang ternak yang digadaikan dapat diperah susunya dengan
menanggung biayanya. Bagi yang menggunakan kendaraan dan memerah susu wajib
menyediakan biaya perawatan dan pemeliharaan . (HR Jamaah, kecuali muslim dan
An-Nasai).
3.

Ijma
Mengenai dalil ijma ummat Islam sepakat (ijma) bahwa secara garis besar akad
rahn (gadai / penjaminan utang) diperbolehkan. Pemberi gadai boleh memanfaatkan
barang gadai secara penuh sepanjang tidak mengakibatkan berkurangnya nilai barang
gadai tersebut.

E.

Rukun dan Syarat Gadai (Rahn)


Dalam perjanjian gadai akan sah apabila memenuhi rukun serta syarat sahnya
gadai, diantaranya yaitu:

1.

Orang yang bertransaksi (Akid )


Syarat yang harus dipenuhi bagi orang yang akan melakukan transaksi gadai yaitu
rahin (pemberi gadai) dan murtahin (penerima gadai) adalah orang yang telah dewasa,
berakal serta dalam melakukan gadai merupakan keinginan sendiri.

2.

Ijab qabul (sigha )


Ijab qabul ini dapat dilakukan dengan lisan ataupun tulisan, asalkan didalamnya
terkandung maksud adanya perjanjian gadai diantara para pihak yang akan melakukan
perjanjian.

3.

Adanya barang yang digadaikan (Marhun)


Barang yang akan digadaikan harus memenuhi syarat diantaranya yaitu dapat
diserah terimakan, merupakan barang yang bermanfaat, barang merupakan milik
penggadai, kepemilikan jelas, tidak bersatu dengan orang lain, harta yang tetap
ataupun yang dapat dipindahkan, serta barang tersebut dikuasai oleh penggadai.

4.

Utang (Marhun bih)

Syarat dari utang ini yaitu harus jelas yang diketahui oleh rahin maupun murtahin,
utang harus lazim pada waktu akad serta dapat dimanfaatkan.
Secara umum barang gadai harus memenuhi beberapa syarat, antara lain:
a)

Harus diperjual belikan

b)

Harus berupa harta yang bernilai

c)

Marhun harus bisa dimanfaatkan secara syariah

d)

Harus diketahui keadaan fisiknya, maka piutang tidak sah untuk digadaikan harus
berupa brang yang diterima secera langsung.

e)

Harus dimiliki oleh rahin (peminjam atau penggadai) setidaknya harus seizin
pemiliknya.

F.

1.

Ketentuan Umum Gadai (Rahn)

Murtahin (penerima barang) mempunyai hak untuk menahan barang sampai semua
utang rahin (yang menyerakan barang) dilunasi

2.

Marhun dan manfaatnya tetap menjadi milik rahin.pada prisip marhun tidak boleh
dimanfaatkan oleh murtahin kecuali seizin rahin dengan tidak mengurangi nilai marhun
dan pemanfaatannya sekedar pengganti biaya pemeliharaan perawatannya

3.

Pemeliharaan dan penyimpanan marhun pada dasarnya menjadi kewajiban rahin


namun dapat dilakukan juga oleh murtahin, sedangkan biaya dan pemeliharaan
penyimpanan tetap menjadi kewajiban rahin

4.

Besar biaya administrasi dan penyimpanan marhun tidak boleh ditentukan


berdasarkan jumlah pinjaman

5.

Penjualan marhun:

a)

Apabila jatuh tempo murtahin harus memperingatkan rahin untuk segera melunasi
hutangnya

b)

Apabila rahin tetap tidak melunasi hutangnya maka marhun tetap dijual paksa atau
dieksekusi

c)

Hasil penjualan marhun digunakan untuk melunasi hutang, biaya pemeliharaan dan
penyimpanan yang belum dibayar serta biaya penjualan

d)

Kelbihan hasil penjualan menjadi milik rahin dan kekurangannya menjadi kewajiban
rahin.

G.

Akad Perjanjian Gadai (Rahn)

1.

Akad Al-Qardhul Hasan


Akad ini dilakukan pada kasus nasabah yang ingin menggadaikan barangnya untuk
kebutuhan konsumtif. Dengan demikian nasabah (rahin) akan memberikan biaya upah
atau fee kepada pegadaian atau murtahin yang telah menjaga atau merawat barang
gadai (marhun)

2.

Akad Al-Mudharabah
Akad dilakukan untuk nasabah yang menggadaikan jaminannya untuk menambah
modal usaha (pembiyaan investasi dan modal kerja) dengan demikian rahin akan
memberikan bagi hasil berdasarkan keuntungan kepada murtahin sesuai kesepakatan,
sampai modal yang dipinjam terlunasi

3.

Akad Bai Al-Muqayadah


Akad ini dapat dilakukan jika rahin yang menginginkan menggadaikan barangnya
untuk keperluan produkif, artinya dalam menggadaikan, rahin tersebut menginginkan
modal kerja berupa pembelian barang, sedangkan barang jaminan yang dapat
dijaminkan untuk akad ini adalah barang-barang yang dapat dimanfaatkan atau tidak
dapat dimanfaatkan oleh rahin atau murtahin. Dengan demikian, murtahin akan
memberikan barang yang sesuai denga keinginan rahin atau rahin akan memberikan
mark up kepada murtahin sesuai dengan kesepakatan pada saat akad berlangsung
sampai bats waktu yang telah ditentukan.

H.

Aspek Pendirian Pegadaian Syariah


Dalam mewujudkan sebuah pegadaian yang ideal dibutuhkan beberapa aspek
pegadaian. Adapun aspek-aspek pendirian pegadaian syariah tersebut antara lain :

1.

Aspek Legalitas

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No 10 Tahun 1990 tentang berdirinya


lembaga gadai yang berubah dari bentuk perusahaan jawatan menjadi perusahaan
umum pegadaian pasal 3 ayat (1a). Menyebutkan bahwa perum pegadaian adalah
badan usaha tunggal yang diberi wewenang untuk menyalurkan uang pinjaman atas
dasar hukum gadai. Kemudian misi dari perum pegadaian disebutkan dalam pasal 5
ayat 2b, yaitu pencegahan praktek ijon, riba, pinjaman tidak wajar lainnya.
2.

Aspek Permodalan
Modal yang dibutuhkan cukup besar, karena selain untuk dipinjamkan ke nasabah
juga untuk investasi untuk penyimpanan barang gadai. Permodalan diperoleh dengan
sistim bagi hasil seperti pengumpulan dana dari beberapa orang (musyarakah) atau
dengan mencari sumber dana (shahibul maal), seperti bank atau perorangan untuk
mengelola perusahaan gadai syariah (mudharabah)

3.

Aspek Sumber Daya Manusia


SDM pegadaian syariah harus memahami filosofi gadai dan sistem operasionalisasi
gadai syariah. SDM selain mampu menangani masalah taksiran barang gadai,
penentuan instrumen pembagian rugi laba atau jual beli, menangani masalah-masalah
yang dihadapi nasabah yang berhubungan penggunaan uang gadai, juga berperan aktif
dalam siar Islam dimana pegadaian itu berada.

4.

Aspek Kelembagaan
Sifat kelembagaan mempengaruhi keefektifan sebuah perusahaan gadai dapat
bertahan. Sebagai lembaga yang relatif belum banyak dikenal masyarakat, pegadaian
syariah perlu mensosialisasikan posisinya sebagai lembaga yang berbeda dengan
gadai konvensional. Hal ini guna memperteguh guna keberadaannya sebagai lembaga
yang terdiri untuk memberikan kemashlahatan bagi masyarakat.

5.

Aspek Sistem dan Prosedur


Sistem dan prosedur gadai syariah harus sesuai dengan prinsip-prinsip syariah
dimana keberadaannya menekankan akan pentingnya gadai syariah. Oleh karena itu
gadai syariah merupakan representasi dari suatu masyarakat dimana gadai itu berada,
maka sistem dan prosedural gadai syariah berlaku fleksibel asals sesuai dengan prinsip
gadai syariah.

6.

Aspek Pengawasan

Yaitu harus diawasi dengan Dewan Pengawas Syariah agar operasionalisasi gadai
syariah sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.

I. Mekanisme Operasional Lembaga


Implementasi operasi Pegadaian Syariah hampir bermiripan dengan Pegadaian
konvensional. Seperti halnya Pegadaian konvensional, Pegadaian Syariah juga
menyalurkan uang pinjaman dengan jaminan barang bergerak. Prosedur untuk
memperoleh kredit gadai syariah sangat sederhana, masyarakat hanya menunjukkan
bukti identitas diri dan barang bergerak sebagai jaminan, uang pinjaman dapat
diperoleh dalam waktu yang tidak relatif lama (kurang lebih 15 menit saja). Begitupun
untuk melunasi pinjaman, nasabah cukup dengan menyerahkan sejumlah uang dan
surat bukti rahn saja dengan waktu proses yang juga singkat.
Di samping beberapa kemiripan dari beberapa segi, jika ditinjau dari aspek landasan
konsep; teknik transaksi; dan pendanaan, Pegadaian Syariah memilki ciri tersendiri
yang implementasinya sangat berbeda dengan Pegadaian konvensional.
Mekanisme operasional pegadaian syariah merupakan implementasi dari konsep dasar
rahn yang telah ditetapkan oleh para ulama fiqh. Secara teknis, pelaksanaan atau
kegiatan pegadaian syariah adalah:
1. Jenis barang yang digadaikan
2. Perhiasan: emas, perak, mutiara, intan dan sejenisnya.
3. Peralatan rumah tangga: perlengkapan dapur, perlengkapan makan/minum,
perlengkaan bertanam, dan sebagainya.
4. Biaya Kendaraam: sepeda ontel, sepeda motor, mobil, dan sebagainya.
1. Biaya-biaya yang dikenakan dalam pegadaian syariah mepliputi biaya
administrasi dan biaya penyimpanan barang gadai.

Adapun biaya administrasi tersebut meliputi:


1. Biaya riil yang dikeluarkan, seperti ATK, perlengkapan, dan biaya tenaga kerja
2. Besarnya biaya ditetapkan berdasarkan SE tersendiri
3. Dipungut di muka pada saat pinjaman dicairkan
Adapun akad dalam pegadaian syariah:

Akad Rahn. Rahn yang dimaksud adalah menahan harta milik si peminjam
sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya, pihak yang menahan
memperoleh jaminan untuk mengambil kembali seluruh atau sebagian
piutangnya. Dengan akad ini Pegadaian menahan barang bergerak sebagai
jaminan atas utang nasabah / Rahin.

Akad Ijarah. Yaitu akad pemindahan hak guna atas barang dan atau jasa
melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan
atas barangnya sendri. Melalui akad ini dimungkinkan bagi Pegadaian untuk
menarik Biaya Ijarah atas penyimpanan dan pemeliharaan barang bergerak milik
nasabah / Rahin yang telah melakukan akad

Melalui akad Rahn, Nasabah (Rahin) mendapat pembiayaan / pinjaman (qard)


pada akad ini nasabah dibebani biaya administrasi untuk menutup cost proses
pencairannya. (fee penaksiran barang, pengganti ATK, dll) kemudian sebagai
jaminannya, nasabah menyerahkan barang bergerak dan selanjutnya Pegadaian
menyimpan dan merawatnya di tempat yang telah disediakan oleh Pegadaian.
Akibat yang timbul dari proses penyimpanan adalah timbulnya biaya-biaya yang
meliputi nilai investasi tempat penyimpanan, biaya perawatan dan keseluruhan
proses kegiatannya. Atas dasar ini dibenarkan bagi Pegadaian mengenakan
biaya (biaya ijarah) kepada nasabah sesuai jumlah yang disepakati oleh kedua
belah pihak.

Beberapa kesepakatan dalam akad:

1. Jangka waktu pinjaman dan penyimpanan barang untuk satu periode


ditetapkan selama maksimum 120 hari atau Empat bulan .
2. Nasabah dibebani untuk membayar biaya ijarah sebesar Rp 80,- ( delapan puluh
rupiah ) untuk setiap kelipatan taksiran Rp 10.000,- per 10 hari yang dibayar
bersamaan pada saat melunasi atau mengangsur pinjaman.
3. Membayar biaya administrasi yang besarnya ditetapkan oleh Pegadaian pada
saat pencairan uang pinjaman. (Rp 1.000 s.d Rp 60.000)

J.

Sistem Pelaporan dan Pengawasan

Sistem pelaporan merupakan hal yang sangat penting baik perusahaan maupun
lembaga. Pelaporan dilakukan untuk mengetahui hasil dan perkembangan setiap
harinya. Pelaporan yang dilakukan dalam setiap perusahaan dan lembaga dilakukan
setiap harinya. Pelaporan yang dilakukan oleh para pegawai dan devisi-devisi, yang
mana mereka melaporkan hasil pekerjaan yang telah dilakukan, kemudian laporan
tersebut akan diberikan kepada atasan sehingga atasan dapat mengetahui
perkembangan pada lembaga dan perusahaan tersebut. Keberadaan pengawas
sayariah dalam setiap lembaga keuangan yang berlabel syariah amat dibutuhkan, tidak
terkecuali pegadaian syariah.
Dalam surat keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) No. Kep-98/MUI/2001 bahwa
mekanisme kerja DPS antara lain:

Melakukan pengawasan secara periodic pada LKS di bawah pengawasannya.

Berkewajiban mengusulkan pengembangan LKS kepada pimpinan lembaga


yang bersangkutan dan kepada DSN

Melaporkan perkembangan produk dan operasional LKS yang diawasinya


kepada DSN sekurang-kurangnya 2 kali dala 1 tahun anggaran

Merumuskan permasalahan-permasalahan yang memerlukan DSN.

Menteri keuangan menunjuk dewan pengawas syariah yang anggotanya diangkat dan
diberhentikan oleh presiden atas usus menteri BUMN/keuangan. DPS bertugas
mengawasi operasional pegadaian syariah dan produk-produk agar sesau dengan
ketentuan syariah. DPS biasanya diletakkan pada posisi setingkat dewan komisaris. Di
samping itu, DPS juga harus memuat laporan berkala (biasanya setiap tahun) bahwa
pegadaian yang diawasinya telah berjalan sesuai dengan ketentuan syariah

K.

Operasional Pegadaian Syariah


Implementasi operasi pegadaian syariah hampir sama dengan pegadaian
konvensional. Seperti halnya pegadaian konvensional, pegadaian syariah juga
menyalurkan uang pinjaman dengan jaminan barang berrgerak. Prosedur untuk
memperoleh gadai syariah sangat sederhana yaitu, masyarakat harus menunjukkan
bukti identitas diri dan barang bergerak seperti jaminan, lalu uang pinjaman dapat
diperoleh dalam waktu yang tidak relatif lama (kurang lebih 15 menit). Begitupun untuk
melunasi pinjaman, nasabah cukup dengan menyerahkan sejumlah uang dan surat
bukti rahn saja denggan waktu proses yang jauh singkat.

I.

Persamaan dan Perbedaan Pegadaian Syariah dan Konvensional


Persamaan
a. Hak Gadai atas pinjaman uang

Perbedaan
.a. Rahn dalam

hukum

islam

dilakukan secara suka rela atas


dasar tolong menolong sedangkan
gadai

menurut

disamping

hukum

perdata,

berprinsip

tolong

menolong juga menarik keuntungan


dengan cara menarik bunga atau
sewa modal
b. Adanya jaminan sebagai jaminan .b. Dalam hukum perdata hak gadai
utang

hanya berlaku pada benda yang


bergerak, sedangkan dalam hukum
islam , rahn berlaku pada seluruh
benda baik yang bergerak maupun

yang tidak bergerak


c. Tidak boleh mengambil manfaat .c. Dalam rahn tidak ada istilah
barang yang digadaikan
bunga
d. Biaya barang yang digadaikan .d. Gadai menurut hukum perdata
ditanggung oleh para pemberi gadai dilaksanakan

melalui

suatu

lembaga yang diindonesia disebut


perum pegadaian, Rahn menurut
islam dapat dilaksanakan tanpa
lembaga.
e. Apabila batas waktu pinjaman uang
habis,

barang

yang

boleh dijual atau dilelang

digadaikan

BAB III
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Rahn merupakan suatu akad utang piutang dengan menjadikan barang yang
mempunyai nilai harta menurut pandangan syara sebagai jaminan, hingga orang yang
bersangkutan boleh mengambil utang. Pegadaian syariah pertama kali berdiri di Jakarta
dengan nama Unit Layanan Gadai Syariah (ULGS) cabang Dewi Sartika pada bulan
Januari 2003
Adapun perbedaan dan persamaan pegadaian syariah dengan pegadaian
konvensional yaitu pegadaian syariah juga menyalurkan uang pinjaman dengan
jaminan barang bergerak. Prosedur untuk memperoleh gadai syariah sangat sederhana
yaitu, masyarakat harus menunjukkan bukti identitas diri dan barang bergerak seperti
jaminan, lalu uang pinjaman dapat diperoleh dalam waktu yang tidak relatif lama
(kurang lebih 15 menit). Begitupun untuk melunasi pinjaman, nasabah cukup dengan
menyerahkan sejumlah uang dan surat bukti rahn saja denggan waktu proses yang
jauh singkat.